Anda di halaman 1dari 21

PANDANGAN KEPRIBADIAN DARI TIMUR

A. STUDI PSIKOLOGI TIMUR


Agama timur sebenarnya banyak berisi psikologi. Sebagai contoh ajaran
Budha banyak berisi psikologi. Buddhisme diajarkan oleh Budha Gautama 536 –
483 SM di India. Sesudah Buddha Gautama wafat lalu terjadilah aliran-aliran
Buddhisme, misalnya Mahayana dan Hinayana.
Beberapa ajaran Buddhisme di luar India antara lain ialah”
1. Di Asia Tenggara berkembanglah aliran The-ravada.
2. Buddhisme di Cina bernama Cha’an atau Jen.
3. Buddhisme Jepang dan Korea disebut Zen.
4. Di Tibet disebut Sekti.
5. Di Indonesia disebut Buddha.

Dalam dunia agama islam, tokoh-tokoh yang mempelajari ilmu pengetahuan


termasuk psikologi adalah gerakan sufisme. Pada bangsa Yahudi, kelompok
Kabbalis memperhatikan transformasi psikologis.
Abhidhamma dapat dipandang sebagai teori kepribadian dan juga sebagai
buku psikologi asia. Psikologi Asia ini telah hidup 2000 tahun. Banyak teori
meditasi Barat diambilkan dari meditasi trasnsendental, Zen, dan sebagainya.
Penulis-penulis Barat dan Yunani kuno telah dipengaruhi oleh filsafat timur.
Di antara tokoh barat yang telah mempunyai perhatian kepada masalah
kebudayaan dan ajaran timur, antara lain ialah:

a. Raja Alexander 356 – 323 SM


Raja Alexander mendirikan kerajaan-kerajaan di India Utara. Teknologi
dan ide-ide telah melintasi Erasia.

b. Plotinus 205 – 270


Teori Plotinus, bahwa orang dapat berkembang ke arah kesempurnaan
dengan memisahkan “jiwanya” yakni kesadaran yang mengamati melalui
panca indera, tetapi tidak termasuk panca indera itu sendiri dari tubuhnya.
Dengan berbuat demikian, seseorang melampaui kesadaran tentang dirinya
sendiri, waktu dan tempat, untuk mengalami ketunggalan tak terlukiskan
dalam suatu keadaan ekstase.

Psikologi barat berakar pada tradisi positivitas dan pada umumnya para
psikolog beralih perhatian pada hal berbeda dengan para penganut agama.
Abad ke 19 filsafat timur kurang berpengaruh pada pemikir barat, tetapi
penulis-peenulis transendentalis seperti Emerson dan Thoreu serta puisi
Walt Whitman, diresapi oleh konsep-konsep dan kata-kata Timur.

c. Thorndike
Edward Lee Thorndike dari USA, tertarik pada agama-agama timur. Dia
bersahabat dengan Swami Vivekananda yang mengadakan perjalanan ke
USA dan memberi ceramah agama pada kongres I agama-agama di dunia
1893. Tahn 1896 Thorndike menulis buku Varieties of Religions
Experience.

Para sarjana psikologi barat mulai tertarik ke timur, mungkin karena


meningkatnya frekuensi pengalaman-pengalaman di luar kesadaran
(ekstase) seperti apa yang dialami oleh Bucke. Cara timur sering
membingungkan. Psikologi timur banyak menaruh perhatian pada alam
kesadaran dan hukum-hukum yang mengatur perubahannya. Mereka juga
mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelas.

d. Ahli yang lain


Sarjana psikologi barat modern yang dipandang tahu psikologi timur
adalah C.G. Jung, karena Jung bersahabat dengan Henrich Zimmer,
seorang ahli timur. Jung juga memberi kata pengantar buku-buku yang
ditulis D.T. Suzuki, sarjana Zen (1974), dan Richard Wilhem (1962),
penerjemah bebas I Ching dan naskah-naskakh lain yang berisi ajaran Tao
dari Cina. (Fudayanto, 2003)

B. TEORI KEPRIBADIAN ABHIDHAMMA


Abhidhamma telah berkembang 15 abad yang lalu, merupakan wawasan-
wawasan dari Buddha Guatama. Buddhisme sendiri berkembang menjadi
beberapa aliran, diantaranya ialah aliran Mahayana dan Hinayana. Di antara
tokohnya, Bhikku Nyanaponika, sarjana Buddhisme modern.

1. Unsur-unsur Kepribadian
Dalam Abhidhamma kata “kepribadian” serupa dengan konsep atta, atau
diri (self) menurut konsep barat. Menurut Abhidhamma tidak ada diri yang
bersifat kekal atau abadi, benar-benar kekal, yang ada hanyalah sekumpulan
proses impersonal yang timbul dan menghilang. Kepribadian terbentuk dari
perpaduan antara proses-proses impersonal ini. Apa yang nampak sebagai diri,
tidak lain adalah bagian keseluruhan jumlah bagian-bagian tubuh, yakni pikiran,
penginderaan, hawa nafsu dan sebagainya. Satu-satunya benang yang
berkesinambungan atau bersambung-menyambung dalam jiwa adalah bhava
kesinambungan kesadaran dari waktu ke waktu. Kata kesinambungan adalah
istilah jawa, artinya sambung-menyambung.
Setiap momen yang berturut-turut dalam kesadaran manusia, dibentuk
oleh momen sebelumnya, dan pada gilirannya akan menentukan momen-momen
yang berikutnya. Bhavalah yang menghubungkan momen kesadaran yang satu
dengan momen kesadaran berikutnya. Jadi semua proses kejiwaan manusia itu
berkesinambungan.
Menurut Abhidhamma, bahwa kepribadian manusia itu sama seperti
sungai memiliki bentuk yang tetap, seolah-olah satu identitas, walaupun tidak
setetes airpun tidak berubah seperti pada momen sebelumnya. Dalam pandangan
ini “tidak ada aktor terlepas dari aksi, tidak ada subjek sadar di balik kesadaran”
(dalam kata-kata Buddha, Samyutta-Nikaya, 1972, 135; Hall, p. 237; dalam
Fudayanto, 2003).
Sama seperti jika bagian-bagian kereta yang dirangkaikan, maka
terbentuklah “kereta perang”. Demikian juga pengertian tentang ada. Ada muncul
bila agrerat-agreratnya hadir.
Fokus studi psikologi Abhidhamma adalah rangkaian peristiwa, yakni
hubungan terus-menerus antara keadaan-keadaan jiwa dan objek-objek indera,
misalnya perasaan birahi (keadaan jiwa) pada seorang wanita cantik (objek
indera). Keadaan-keadaan jiwa itu selalu berubah dari momen ke momen, dan
perubahan itu ternyata sangat cepat.
Metode dasar yang dipakai untuk meneliti perubahan yang sangat banyak
dalam jiwa adalah introspeksi, yakni suatu observasi teliti dan sistematik yang
dilakukan oleh seseorang terhadap pengalamannya sendiri. Tanpa introspeksi
yang diteliti orang dapat mengira bahwa suatu keadaan jiwa seperti hawa nafsu
dapat berlangsung tanpa putus-putus dalam jangka waktu lama, tetapi menurut
Abhidhamma tidaklah demikian halnya.

Objek psikologi Abhidhamma adalah:


a. Penginderaan dari panca indera.
b. Pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam.
c. Setiap keadaan jiwa terdiri dari atas sekumpulan sifat-sifat jiwa, yang
disebut faktor-faktor jiwa. Sifat-sifat jiwa misalnya, cinta, benci, adil,
bengis, sosial, dan sebagainya.

Abhidhamma menemukan 53 kategori faktor kejiwaan. Yang lain menemukan


175 macam.

Prinsip-prinsip keadaan jiwa dapat dikemukakan sebagi berikut:


a. Setiap keadaan jiwa hanya sebagian kecil kumpulan faktor yang hadir.
b. Kualitas-kualitas keadaan jiwa ditentukan jiwa oleh faktor-faktor mana yang
digabungkan.
c. Abhidhamma yakin, bahwa setiap keadaan jiwa berasal dari pengaruh
biologis dan pengaruh dari momen psikologi sebelumnya.
d. Setiap keadaan jiwa pada gilirannya menentukan kombinasi khusus faktor-
faktor dalam keadaan jiwa berikutnya.

Faktor-faktor jiwa itu berperanannya sebagai:


a. Faktor jiwa sebagai kunci menuju karma (menurut istilah barat), kamma
menurut istilah Pali, istilah Pali, istilah teknis bagi Abhidhamma. Artinya,
karma adalah prinsip bahwa setiap perbuatan dimotivasikan oleh keadaan-
keadaan jiwa yang melatarbelakanginya.
b. Menurut psikologi timur, bahwa suatu tingkah laku pada hakikatnya secara
moral adalah netral.
c. Sifat moral tingkah laku ditinjau dari motif-motif yang melatarbelakangi
orang untuk melakukan perbuatan itu.
d. Perbuatan seseorang memiliki campuran faktor-faktor jiwa negatif.
e. Dhammapada adalah kumpulan sajak yang dahulu diucapkan oleh Buddha
Gautama, mulai tentang ajaran Karma atau Kamma.
f. Intinya: Bahwa segala apa yang ada pada manusia adalah sebagai akibat yang
dipikirkannya, dan dibentuk oleh pikirannya juga.

Jika orang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat, maka pikiran sakit
akan mengikutinya, sama seperti roda yang mengikuti lembu yang menariknya.
Sebaliknya, jika kita berbicara atau bertindak dengan pikiran murni, maka
kebahagiaan akan mengikutinya, sama seperti bayang-bayang yang tidak pernah
meninggalkannya. (Babbit, 1965, p. 3, Hall, 240; dalam Fudayanto, 2003).

2. Dinamika kepribadian
Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah
laku, baik yang nampak maupun tidak nampak, terjadi karena interaksi antara
faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Jika terjadi dominasi dari faktor-faktor
sehat atau tidak sehat tertentu, akan menghasilkan tipe-tipe kepribadian atau
tingkah laku tertentu pada individu yang bersangkutan (Fudayanto, 2003).
Beberapa contoh interaksi berbagai faktor jiwa dan bagaimana perilaku yang
terjadi, atau menyebabkan sifat-sifat tingkah laku tertentu, adalah sebagai berikut:
a. Kelompok faktor tidak sehat yang terdiri dari ketamakan, kekirian, irihati,
dan kemuakan di lawan oleh faktor-faktor seperti ketidak-terikatan
(alobha), adosa (ketidak-muakan), tatramajjhata (tidak memihak), dan
passadhi (sikap tenang), mencerminkan ketenangan fisik dan jiwa yang
terjadi karena berkurangnya perasaan-perasaan keterikatan.
b. Sikap-sikap alobha, adosa, tatramajjhata, dan passadhi menggantikan sikap
rakus, atau sebaliknya, sikap menolak, dengan sikap penuh perhatian
terhadap apa saya yang mungkin timbul dalam kesadaran orang
menyebabkan timbulnya sikap menerima apa adanya.
c. Faktor-faktor tidak sehat seperti sikap egoisme, iri hati, kemuakan,
menyebabkan orang hau atau mendambakan pekerjaan yang terpandang,
tinggi dan mewah, atau irihati terhadap orang lain yang mempunyai
pekerjaan.
d. Sebaliknya, sikap-sikap tenang, bebas, ketidakmuakan, netral,
menyebabkan orang menimbang keuntungan-keuntungan berupa upah dan
prestasi dengan keinginan-keinginan seperti tekanan dan ketegangan yang
lebih besar, menilai secara adil. Sikap netral memandang seluruh situasi
dengan tenang.
e. Jika faktor-faktor kegembiraan (ahuta), luwes atau fleksibel (muduta), dan
kecakapan (paqunnata) muncul pada perilaku, maka seseorang akan
berpikir dan bertindak dengan leluasa dan mudah, mewujudkan
ketrampilan-ketrampilannya secara maksimal.
f. Faktor tersebut menekan faktor-faktor konstraksi dan kebekuan yang tidak
sehat itu, yang menguasai jiwa dalam keadaan-keadaan tertentu seperti
depresi. Dalam keseharian faktor sehat tersebut menyebabkan orang dapat
menyesuaikan diri secara fisik dan psikis terhadap keadaan-keadaan yang
senantiasa berubah, menghadapi tantangan-tantangan manapun yang
mungkin timbul.
3. Psikodinamika Abhidhamma
Psikodinamika dapat terjadi karena interaksi antarfaktor jiwa dengan
mekanisme sebagai berikut:
a. Faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat.
b. Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara sepasang
fsktor-faktor sehat dan tidak sehat.
c. Kehadiran yang satu menekan daktor tandingannya.
d. Dalam beberapa hal satu faktor sehat akan menghambat sekumpulan
faktor tidak sehat, misalnya ketidakterikatan mampu secara sendirian
menghambat ketamakan, kekikiran, iri hati, dan kemuakan.
e. Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan faktor
tandingan secara keseluruhan, misalnya jika terdapat delusi, maka tidak
satupun faktor baik dapat timbul hadir bersamanya.
f. Kamma, sesorang sebagai penentu, apakah ia akan mengalami keadaan
jiwa sehat atau keadaan jiwa tidak sehat.
g. Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis
dan pengaruh-pengaruh situasi di samping juga merupakan pindahan
pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. Biasanya berupa sebagai suatu
kelompok, entah positif atau negatif (baik atau buruk).
h. Dalam setiap keadaan jiwa tertent, faktor yang membentuk keadaan jiwa
tersebut muncul dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda.
i. Faktor apa saja yang paling kuat, akan menentukan seseorang mengalami
dan bertindak dalam suatu momen tertentu.
j. Walaupun mungkin semua faktor buruk hadir, namun keadaan yang
dialami akan sangat berbeda, tergantung pada apakah, misalnya ketamakan
atau kebekuan yang mendominasi jiwa.
k. Hierarki kekuatan dan faktor-faktor tersebuat menentukan apakah keadaan
spesifik itu akan menjadi positif atau negatif.
l. Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul dalam
keadaan jiwa seseorang, maka faktor tersebut akan menjadi sifat
kepribadian.
m. Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada
seseorang, menemukan sifat-sifat kepribadiannya.

4. Tipe-Tipe Kepribadian
Mengenai bagaimana timbulnya beberapa tipe kepribadian menurut
Abhidhamma adalah sebagai berikut :
1. Bahwa tipe-tipe kepribadiam menurut Abhidamma, secara langsung
diturunkan dari prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan
yang berbeda-beda. Jika jiwa seseorang tetap dikuasai oleh suatu faktor,
maka hal ini akan menentukan kepribadian, motif-motif dan tingkah
lakunya.
2. Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor jiwa dan
pengaruh faktor-faktor jiwa dan pengaruh faktor-faktor tersebut pada
tingkah laku. Motif itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk mencari
sesuatu atau menjauhinya. Keadaan-keadaan jiwa membimbing kepada
perbuatannya. Misalnya, jiwa manusia dikuasai oleh ketamakan, hal ini
akan menjadi menonjol, dan orang akan bertingkah laku sesuai dengan
motif tadi, yakni berusaha memperolehobjek ketamakannya. Jika egoisme
merupakan suatu faktor jiwa yang kuat, maka orang tersebut akan berbuat
dengan cara-cara selalu untuk meningkatkan dirinya. Dalam artian ini,
setiap tipe kepribadian menjadi tipe motifnya juga.
3. Buku Visuddhimagga (Budhhaghosa, 1976) merupakan pedoman untuk
meditasi sesuai dengan ajaran Abhidhamma abad kelima Masehi. Dalam
pedoman ini ada bagian yang untuk mengenal tipe-tipe utama kepribadian,
karena setiap orang harus diperlakukan sesuai dengan sifat-sifatnya. Salah
satu metode untuk yang disarankan guna menilai tipe kepribadian adalah
dengan menngamati secara seksama cara berdiri dan bergerak.
Misalnya:
a. Orang yang kuat nafsunya atau senang pada kenikmatan, jalannya anggun.
b. Orang yang penuh kebencian suka menyeret kakinya jika berjalan.
c. Pada orang yang dikuasai oleh delusi, jika berjalan cepat langkahnya.
Tipe-tipe manusia menurut Visudhimangga antara lain ialah:
1. Tipe orang suka kenikmatan: berpenampilan menarik, sopan dan
menjawab dengan hormat jika disapa. Jika tidur mereka mengatur tempat
tidurnya secara cermat, membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, dan tak
banayk bergerak waktu tidur.

Mereka melakukan tugas-tugas mereka dengan seni, rapi, sangat berhati-


hati. Mereka berpakaian rapi dan bagus. Jika makan mereka menyukai makanan
yang empuk dan disajikan dengan cara mewah, mereja najan perlahan-lahan,
sedikit-sedikit dan sangat menikmati cita rasa.
Jika melihat objek yang menyenangkannya, mereka akan berhati-hati
untuk menganguminya, terpesona oleh tindakan, dan tidak memperhatikan
kekurangannya. Jika mereka meninggalkan objek yang indah dengan rasa sesal.
Segi negatifnya: suka berlagak, suka menipu, tamak, tidak mudah puas, penuh
nafsu, dan sembrono.
Deskripsi lain pada tipe orang suka kenikmatan, sifat-sifatnya antara lain
ialah:
a. Penginapan (rumah) gubug dari rumput yang tidak dibersihkan.
b. Harus penuh kotoran, kelewar, bobrok, terlalu tinggi atau telalu rendah.
c. Keadaan sekitar gelap, terancam oleh harimau dan singa.
d. Jalannya berlumpur dan tidak rata.
e. Tempat tidur dan tempat duduk penuh dengan tinggi (kutu busuk).
f. Pondok itu jelek, jorok dipandang, dan menjijikkan.
1. Tipe orang pembenci: berdiri dengan kaku, tempat tidur tidak dibereskan
dengan seranpangan dan tergesa-gesa, berdiri dengan tegang, dan marah
jika dibangunkan.
Jika bekerja, mereka kasar dan sembrono, jika menyapu berbunyi keras dan
gaduh. Berpakaian ketat dan tidak rapi. Senang pada makanan pedas dan asam,
makan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan cita rasa, tidak suka makanan
hambar. Mereka tidak tertarik pada objek-objek yang indah, memperhatikan
kekuangan sampai yang kecil-kecil, sementara mengabaikan kebaikan-
kebaikannya, sering marah, penuh kebencian, kejam, mudah iri dan kikir.

2. Tipe orang delusi, dapat dideskripsikan sebagai berikut:


a. Pakaiannya compang-camping, benangnya bersliweran, kasar seperti
rami, berat dan tidak enak dipakai.
b. Mangkuknya dari tanah liat yang buruk atau mangkuk logam yang
berat, bentuknya tidak serasi, memuakkan, tidak rata, tidak ada di desa
sekitarnya.
c. Desa yang cocok adalah desa yang tidak teratur, orangnya lalu-lalang
seolah-olah tidak melihatnya.
d. Orang yang menyalaminya adalah orang-orang yang kasar, kotor, tak
sedap dipandang mata, makanan kotor, berbau dan menjijikkan.
e. Makannya bubur yang telah hancur, dadih (langit-langit susu), bubur
yang asam, kari dari sayuran tua-tua, atau apa saja asak dapat mengisi
perut. Mengisi mulut sepenuh-penuhnya, ceroboh, mengotori nuka
(dalam Jawa gabres).
f. Cara berdiri seenaknya, suka tidur terlentang, bangun lamban, suka
menggerutu, banyak keluh kesah, tempat tidur tidak rapi.
g. Sebagai pekerja mereka tidak trampil, jorok, mereka menyapu dengan
kaku dan serampangan, tidak bersih.
h. Mereka tidak mempunyai ide baik atau jelek pada benda, percaya saja
apa yang dikatakan oleh orang lain, lalu turut memuja atau mencelanya.
i. Sering berkelakukan malas, kaku, kacau, mudah menyerah, dan
bingungan, dapat juga keras kepala dan bandel.

Kondisi optimal untuk meditasi bagi orang tersebut. tujuannya untuk


melatih mengalahkan gejala-gejala psikologis yang dominan dengan demikian
menjadikan jiwa mereka seimbang, sehingga dapat disebut manusia yang
harmonis. Sebaliknya, kondisi-kondisi untuk tipe orang penuh kebencian,
semuanya dibuat serba seenak dan semudah mungkin. Bagi tipe delusi, segala
sesuatunya harus dibuat sederhana dan jelas, menyenangkan serta enak, seperti
kondisi untuk tipe penuh kebencian. (Fudayanto, 2003).

Untuk tipe kasus di atas, lingkungan disesuaikan dengan tipe-tipe manusia dengan
maksud menghambat faktor-faktor jiwa yang bias atau tidak sehat.

Tentang Mimpi
Abhidhamma mengatakan bahwa mimpi aalah sifat istimewa lain dari arahat.
Ada empat macam tipe mimpi pada manusia, yakni:
1. Tipe pertama, mimpi yang disebabkan oleh sejenis gangguan pada organ
atau otot, dan biasanya menyangkut suatu perasaan fisik yang
menakutkan, misalnya jatuh, terbang, atau dikejar-kejar harimau.
Bermacam-macam mimpi buruk termasuk tipe mimpi ini.
2. Tipe kedua, mimpi yang ada hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan orang pada siang harinya, dan menggemakan pengalaman-
pengalaman yang sudah berlalu tersebut. mimpi semacam ini kerap terjadi.
3. Tipe ketiga, mimpi tentang suatu peristiwa aktual sebagai mana peristiwa
itu terjadi, mirip dengan prinsip sinkronitas pada pendapat C.G.Jung.
4. Tipe keempat, mimpi yang bersifat waskita (clairvoyant), suatu ramalan
yang tepat tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Jika seorang
arahat bermimpi maka mimpinya itu selalu bersifat waskita (Van Aung,
1972).

Sang Buddha sendiri mahir dalam menginterpretasikan lambang-lambang


dalam mimpinya, meskipun tidak ada sistem yang formal untuk analisis simbolik
dalam Abhidhamma. Buddha Gautama juga mengalami sederetan mimpi sebelum
menerima pencerahan atau sinar Buddha. Mimpinya tersebut meramalkan
pencerahan Buddha Gautama dalam mendapatkan boddhi.
Tingkat kepribadian arahat pada Abhidhamma tidak ada dalam teori
kepribadian psikologi barat. Tingkat arahat merupakan hal yang cukup umum
pada psikologi timur, terutama dalam ajaran olah kejiwaan di Indonesia. Maka
arahat dapat dikatakan semacam Santo di masyarakat barat, yakni presikat bagi
rohaniawan kristiani. Pada arahat sangat istimewa, merupakan prototipe
kepribadian orang yang tidak ada pada kepribadian dan prototipe di Barat.
Perubahan kepribadian yang radikal pada taraf arahat semacam itu
melampaui tujuan-tujuan dan harapan-harapan dari psikoterapi barat. Konsep
arahat merupakan suatu yang ideal bagi kebanyakan orang, terasa terlampau baik
untuk diwujudkan.
Arahat sebagai model pribadi sehat ia kekurangan banyak sifat yang
mereka asumsikan intrinsik dalam kodrat manusia. Mungkin idea pribadi arahat
semakna dengan konsep Malow atau Rogers sebagai pribadi yang dapat
teraktualisasi penuh.
Menurut pendapat penulis, pribadi arahat yang mencapai nirvana memang
sevara kualitatif lebih tinggi dari pada pribadi ideal yang teraktualisir model
Maslow, sebab pribadi arahat telah melampaui dunia fenomenal ini, jadi sudah
transendental. Sedang konsep Maslow, pribadi yang teraktualisir penuh masih
maslah duniawi ini. Itupun tidak ada contoh yang nyata. Jadi teoritis ideal,
Dalam ajaran agama lain tidak ada ajaran kejiwaan seperti samadi dalam
Buddhisme. Dan memang, kegaiatan samadi atau meditasi tidak seperti kegaiatan
semalam tadi, tetapi memerlukan latihan-latihan yang serius dan lama. Contohnya
adalah Buddha Gautama dan para Bhikku pengikutnya.

C. Teori Kepribadian Jen dari Hsu


Francis L.K. Hsu adalah warga negara USA keturunan Cina. Ia adalah
sarjana fisafat, antropologi, kesustraan Cina klasik dan psikologi. Dengan
keahlian dalam ilmu-ilmu tersebut Hsu menyusun konsep kepribadian timur
sebagai alternatif dari konsep kepribadian menurut psikologi barat (Eropa dan
Amerika). Teorinya disebut teori kepribadian Jen dari sastra Cina, yang berarti
manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian. Konsep tersebut
ditulis dalam majalah American Anthropologist Vol. 73 tahun 1971 dengan judul
Psychological Homeostatis and Jen (pp. 23-24).
Konsep kepribadian selaras untuk menganalisis jiwa manusia masyarakat
timur, misalnya Cina, Jepang, Asia, termasuk Indonesia (Koetjaraningrat, 1992, p.
129; dalam Fudayanto, 2003).
Struktur kepribadian dan jiwa manusia timur digambarkan sebagai
lingkran-lingkaran yang konsentris. Tiap-tiap lingkaran menggambaarkan suatu
alam kehidupan jiwa manuisa dengan berbagai macam isinya, yakni persepsi,
tanggapan, pengetahuan, ingatan, sampai pada keinginan-keinginan dan nafsu-
nafsu manusia.
Konsep kepribadian timur ini bermaksud untuk menganalisis jaringan
terkait antara jiwa manusia (individu) dan lingkungan sosial budayanya. Hal ini
untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa (kepribadian) manusia itu, hanya
sebagai suatu subjek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi, lepas
dari masyarakat dan budayanya. Sering juga hal ini disebut pendekatan individual.
Dan memang hanpir semua pendekatan barat itu, bersifat pendekatan individual,
sesuai dengan faham yang dianut oleh bangsa barat, ialah faham individualisme
dan liberalisme. Maka pendekatan kepribadian timur adalah pendekatan
sosiokultural, karena manusia adalah makhluk sosial budaya.
Hsu menggambarkan lingkungan alam kehidupan jiwa atau kepribadian
manusia itu ada delapan lingkaran konsentris. Lingkaran-lingkaran tersebut hanya
tehnis untuk analisis, tentu kenyataannya tidak sistematis, sehingga gambaran-
gambaran yang mengelilingi atau mengitari individu.

1. Lingkaran ke 7 sebagai pusatnya, jadi paling dalam, untuk


menggambarkan kehidupan jiwa yang tidak disadari. Isi dari bagian
lingkaran ke 7 ini ialah sema cipta, rasa, karsa, yang semula disadari,
tetapi lalu ditekan atau didesak masuk ke dalam tidak sadaran, lama-lama
menjadi tidak disadari.
2. Lingkaran ke 6 yang terletak di luar lingkaran ke 7, tetapi sepusat dengan
lingkaran ke 7 tadi, merupakan lapisan bawah sadar atau subsadar. Lapisan
ini berbatasan dengan lingkaran berikutnya, yakni lingkaran ke 5. Lapisan
ke 6 ini isinya sama denhan lapisan ke 7, hanya berbeda tingkat ketidak-
sadarannya. Maka kedua lingkaran tersebut disebut sebagai lapisan tidak
sadar. Dua lapisan paling dalam ini mirip dengan konsep Sigmund Freud,
lapisan das Es atau the Id.

Bagan : Psiko-sosiogram Manusia menurut Hsu


Keterangan gambar:
7. Lingkaran lapisan tidak sadar.
6. Lingkaran lapisan bawah sadar. Nomor 7 dan nomor 6 mirip dengan
konsep Sigmund Freud.
5. Lingkaran lapisan kesadaran yang tidak ditanyakan.
4.. Lingkran lapisan hubungan akrab atau karib. Nomor 4 dan nomor 3
menggambarkan konsep manusia berjiwa selaras.
3. lingkaran lapisan hubungan akrab atau karib. Nomor 4 dan nomor 3
menggambarkan konsep manusia berjiwa selaras.
2. lingkaran lapisan hubungan berguna, ada manfaatnya.
1. lingkaran lapisan hubungan jauh.
0. lingkaran dunia luar.
3. lingkaran ke 5 adalah menggambarkan lapisan kesadaran jiwa, tetapi tidak
dinyatakan. Isinya kesadaran mengenai pikiran-pikiran dan gagasan-
gagasan yang disadari penuh oleh individu yang bersangkutaan, tetapi
tidak pernah ditanyakan kepada orang lain siapa pun, jadi tetap disimpan
saja dalam kesadaran. Mengapa isi kesadaran tersebuttidak pernah
dinyatakan kepada orang lain, mungkin ada beberapa alasan, antara lain
ialah:
a. Ia takut salah atau takut dimarahi orang lain, atau malu, karena
mempunyai maksud jahat.
b. ia enggan menyatakannya, karena tidak yakin akan mendapat
respons yang baik, atau takut ditolak.
c. ia malu karena takut ditertawakan oleh orang lain.
d. ia tidak mempunyai atau tidak menemukan kata-kata atau
perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan tadi kepada
orang lain.
4. lingkaran lapisan ke 4, disebut lapisan kesadaran yang dinyatakan.
Isinya adalah pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, perasaan-perasaan, dan
sebagainya yang dapat dinyatakan secara terbuka kepada orang lain,
dan dapat diterima dengan mudah oleh sesamanya. Misalnya, rasa
simpati, kegembiraan, kemarahan, pendapat, gagasan, keinginan, dan
sebagainya. Jadi isi lapisan ke 4 ini adalah bahan-bahan untuk
berkomunikasi dengan siapapun, baik di rumah, di sekolah, di tempat
kerja, di masyarakat, dan sebagainya.

5. lingkaran ke 3, disebut lapisan lingkaran hubungan karib atu hubungan


akrab, disebut juga sebagai intimate society. Lapisan ini berisi konsepsi-
konsepsi tentang orang-orang, binatang atau benda-benda yang oleh si
individu diajak bergaul dan berkomunikasi secara mesra dan karib
secara intim. Pergaulan karib ini biasanya dapat dipakai sebagai tempat
berlindung, tempat mencurahkan isi hati, tempat untuk menghilangkan
tekanan batin, ataupun kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi.
Pendukung dari lapisan hidup yang dihadapi. Pendukung dari lapisan ke
3 hidup kejiwaan ini misaknya orang tua, sahabat, karib, saudara, teman
dekat, dan sebagainya. Bahkan ada individu yang berhubungan karib
dengan hewan, misalnya anjing, kucing, kuda, burung, yang biasanya
disebut sebagai hewan kesayangan atau dalam bahasa Jawa di sebut
klangenan.

Hubungan psikologis akrab ini juga diperlukan untuk membangun hubungan


cinta dan kemesraan termasuk untuk dapat berbakti secara penuh dan mutlak,
pada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar dalam
kehidupan manusia. Hubungan kebaktian terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini
membuat hidup manusia menjadi seimbang dengan kehidupan duniawi (kehartaan
benda), sehingga tumbuhlah suasana dan pola hidup yang selaras, seimbang,
yakni hidup yang harmonisa.
Lingkaran kejiawaan yang ke 3 ini sebagai dasar kehidupan kerohanian
manusia dan bersama dengan lingkungan hidup jiwa ke 4 menjadi dasar untuk
membangun kehidupan pribadi yang aman tentram, harmonis, stabil sekaligus
dinamis. Atau disebut juga suasana homeostatis psikologis.
6. Lingkungan hidup kejiwaan dengan hubungan kegunaan, digambarkan
dengan lingkaran ke 2. Hubungan kegunaan ini misalnya hubungan antara
penjual dan pembeli di pasar atau di toko, hubungan antara tukang dan
mandor di tempat kerja bangunan, hubungan tersebut telah selesai setelah
penjual menyerahkan barang kepada pembelinya dan pembeli telah
membayar harga barangnya. Pada hubungan kegunaan ini tidak perlu
disertai cinta dan kemesraan. Tetapi, memang dapat terjadi, karena
hubungan jual beli tadi lalu terbentuk persahabatan yang karib. Maka hal
ini lalu masuk pada lingkaran kejiwaan ke 3 tadi.
Hubungan kegunaan dengan benda-benda dan hewan juga begitu, tidak
perlu sampai pada hubungan karib.
7. Lingkaran nomer 1 sebagai gambaran lingkaran hubungan jauh, terdiri dari
pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia,benda-benda,
pengetahuan, adat, dan sebagainya. Jarang sekali mempunyai pengaruh
langsung kepada kehidupan seseorang dalam sehari-harinya. Biasanya
orang merasa masa bodoh atau cuek saja terhadap lingkungan hubungan
jauh ini. Lingkungan hubungan jauh tidak banyak menarik perhatian orang
awam.
8. Lingkaran nomer 0, lingkaran yang paling luar dapat disebut sebagai
lingkungan dunia luar. Isinya terdiri dari pikiran-pikran, ataupun
anggapan-anggapan, yang mirip dengan isi pada lingkaran nomer 1. Hanya
perbedaannya ialah:
a. Isi kejiwaan dalam lingkaran nomer 1 adalah hal-hal di luar
masyarakat individu yang bersangkutan, tetapi masih dalam
lingkungan bangsa dan negaranya. Misalnya, masih dalam wilayah
Indonesia.
b. Isi kejiwaan dalam lingkaran nomer 0 telah terletak di luar masyarakat
dan negara bangsa dan individu yang bersangkutan.
Gambar lingkaran-lingkaran konsentris tersebut di atas disebut sosio-
psikogram, yang menggambarkan struktur kejiwaan atau kepribadian manusia
timur yang dikemukakan oleh Hsu. Daerah lingkaran 4 dibuat denga garis lebih
tebal dari lingkaran lainnya. Garis tebal tersebut menunjukkan batas dari alam
jiwa seseorang yang dalam psikologi disebut kepribadian atau personalitas
seseorang.
Sebagian besar isi kejiwaan manusia, misalnya pengetahuan,
pengertiannya tentan adat istiadat, kebudayaan, lingkungan, nilai-nilai dan norma,
pandangan hidup, menurut psikologi barat terkandung dalam kepribadian
manusia. Hal inilah yang menjadi konsep ego atau aku manusia. Hsu berpendapat,
bahwa manusia masih memerlukan suatu daerah isi jiwa tambahan, untuk
memuaskan suatu kebutuhan kejiwaan yang bersifat mendasar dalam hidupnya.
Daerah isi jiwa pada lingkaran nomer 7, 6, 5 dan 4 adalah menggambarkan
kepribadian manusia. Dan daerah isi jiwa pada lingkaran nomer 3 merupakan
daerah tambahan yang mendasar tadi, berisi kejiwaan mengenai hubungan cinta
dan kemesraan, dan juga rasa untuk dapat berbakti secara penuh dan mutlak,
merupakan kebutuhan yang hakiki, mendasar dan fundamental, dan kehidupan
manusia.
Dengan konsep psiko-sosiogram tersebut di atas, Hsu mengusulkan atau
mengajukan konsep kepribadian timur sebagai alternatif dari konsep kepribadian
barat. Konsep kepribadian timur ini adalah konsep Jen, konsep kepribadian
menurut ajaran agama Buddha di Cina, dalam kebudayaan Cina. Jen berarti
manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian adalah manusia yang
dapat menjaga keseimbangan hubungan antara diri kepribadiannya dengan
lingkungan sekitarnya, terutama lingkungan sekitarnya yang paling dekat dan
paling serius, kepada siapa dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan dan
baktinya.
Dalam bagian psikososiogram, daerah lingkaran nomer 4 dan nomer 5
digambarkan dengan garis-garis arsiran yang sedikit memasuki daerah-daerah
lingkaran nomer 5 dan nomer 2, untuk menggambarkan konsep Jen atau alam jiwa
dari manusia yang berjiwa selaras ini. Kedua lingkaran itu adalah daerah-daerah
dalam seseorang yang ada dalam suatu keadaan psikologi, yang oleh Hsu disebut
Psychological Homeostatis, Homeostatis Psikologis, kestabilan psikologis.
Menurut Prof. Dr. Koentharaningrat, konsep Hsu mengenai “alam jiwa
manusia yang selaras” seperti terurai di atas, adalah merupakan konsep psikologi
yang amat penting. (Koentjaraningrat, 1992, p.130).
Menurut hemat penulis, konsep manusia selaras memang ada
hubungannya dengan pandangan pancasila terhadap manusia. Dan dapat dipakai
sebagai bahan banding untuk menyusun konsep Kepribadian Bangsa Indonesia
sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya, yakni manusia yang berjiwa dan semangat
Pancasila. Hal ini pantas disajikan dalam buku tersendiri.

D. Teori Kepribadian Kramadangsa

Hidup kejiwaan manusia : Kepribadian


Ada orang mengusahakan pengetahuan diri manusia atau pengetahuan
tentang kepribadian manusia, biasa disebut psikologi kepribadian. Istilah dalam
bahasa Jawa yang dipakai oleh Ki Ageng Suryomentaram, ialah pengawikan
pribadi atau pengetahuan diri sendiri. Masalah yang akan dibahas mengenai
kejiwaan manusia di sini adalah pengawikan pribadi dan struktur kejiwaan
manusia.

1. Pengawikan Pribadi
Mulai jaman kuno, orang telah mengetahui, bahwa manusia itu terdiri dari raga
dan jiwa. Pembagian ini biasa disebut dikotomi manusia. Dalam ajaran Pancasila
disebut dwitunggal jiwa dan raga manusia.
Raga adalah bagian manusia yang nampak, berwujud kebendaan, bervolume
dan memakan tempat. Jiwa adalah bagian manusia yang tidak kelihatan, jadi
abstrak. Walaupun jiwa itu tidak kelihatan, tetapi jiwa itu ada. Adanya jiwa itu
ditunjukkan oleh adanya rasa. Dan yang dimaksudkan dengan rasa adalah segala
gerak dalam batun, yang meliputi perasaan-perasaan, gagasan atau pikiran dan
keinginan. Kemudian Ki Ageng Suryimentaram menyamakan jiwa dengan rasa,
bahwa jiwa adalah rasa.
Selanjutnya, dengan pengawikan pribadi manusia itu dioperasionalisasikan
dalam hidup sehari-hari untuk mencapai pengahayatan hidup yang sehat, benar,
tepat, rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Maka manfaat pengawikan
pribad itu dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Memahami kehidupan jiwanya sendiri dan orang lain.
b. Memahami rasa diri sendiri dan rasa orang lain.
c. Untuk melaksanakan hidup secara sehat, tepat dan benar sehingga dapat
dipertanggungjawabnkan.
d. Untuk mengatasi konflik-konflik yang terjadi, sehingga pengawikan pribadi
dapat disebut revolusi jiwa sehat.
e. Dengan revolusi jiwa sehat maka manusia dapat mencapai rasa bebas, adalah
pembebasan batin atau jiwa manusia.
f. Dengan tercapainya kebebasan batin sebagai tujuan utama maka dapat untuk
membangun hidup yang benar, sehat, bahagia, tentram, damai, urip mulya.
g. Akhirnya, dengan pengawikan pribadi yang benar akan merupakan
pengembangan akal bdui yang sehat, relaistis, rasional, artinya berpedoman
apa yang ada sekarang, di sini, yang dihadapi dan diperlukan.
Struktur Kejiwaan Manusia
Dengan menelusuri uraian-uraian Ki Ageng Suryomentaram, maka secara
garis besar mengenai struktur kejiwaan manusia dapat disajikan sebagai berikut:
a. Keinginan : sebagai asal-usul yang bersifat abadi. Dari keinginan ini lalu
tumbuhlah:
b. Rasa hidup, yang menjadi pendorong semua tindakan manusia. Rasa hiduo ini
mendiferensiasi fungsional koordinatif dalam kemampuan-kemampuan Rasa,
Cipta dan Karsa, untuk melaksanakan tugas hidup dan meneruskan jenis
manusia.
c. Dalam hidup ini di dunia ini manusia dengan Rasa Aku Kramadangsa
melakukan pengembangan akal budi dalam bidang-bidang:
1. Rasa senang dan rasa susah
2. Rasa sama
3. Rasa damai
4. Rasa tabah
5. Rasa iri dan sombong
6. Rasa sesal dan khawatir
7. Rasa bebas.

Objek –objek yang digagas oleh Kramadangsa terutama ialah:


1. Semat, menyangkut kekayaan.
2. Drajat, ialah kehormatan.
3. Kramat, ialah kekuasaan

Dengan memahami penjelasan Ki Ageng Suryomentaram tersebut di atas,


dapat ditarik kesimpulan, bahwa sifat-sifat alami itu tidak dapat diubah. Jika ada
keinginan untuk mengubah sifat-sifat alami atau hukum alam, maka akan
mengalami kesukaran dan jatuh ke dalam konflik-konflik. Sebaliknya, semakin
orang dapat mengikuti hukum alam, semakin akan mendapat kebebasan, dan
semakin selaras hidupnya.
Referensi
Fudyartanto, Ki. (2003). Psikologi Kepribadian Timur. Yogyakarta : Penerbit
Pustaka Pelajar.