Anda di halaman 1dari 16

PENGGUNAAN ANTI LEUKOTRIEN DALAM TERAPI RINITIS ALERGI

Puguh Setyo Nugroho, Dwi Reno Pawarti

Dep/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Bedah Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo Surabaya

PENDAHULUAN
Prevalensi rinitis alergi (RA) reseptor yang sensitif terhadap
akhir-akhir ini cenderung meningkat antagonis leukotrien yang dipakai
sehingga dapat menyebabkan pada terapi RA. Terapi RA dengan
timbulnya dampak negatif terhadap anti leukotrien belakangan ini
produktivitas kerja serta kualitas berkembang karena dinilai cukup
hidup bagi penderitanya. RA sering besar manfaatnya. Anti leukotrien
dianggap hanya penyakit yang terdiri dari dua macam yakni
sederhana dan mampu diatasi sendiri penghambat sintesis leukotrien dan
oleh penderitanya sehingga menjadi antagonis reseptor leukotrien, ada
penyakit yang kurang tertangani atau satu jenis inhibitor sintesis leukotrien
bahkan tidak tertangani sama sekali.1 dan tiga antagonis reseptor
3
Tujuan terapi RA adalah leukotrien.
untuk mengontrol gejala semaksimal Tujuan penulisan referat ini
mungkin dengan meminimalkan efek adalah menjelaskan peran
samping yang mengganggu. penggunaan anti leukotrien dalam
Modalitas terapi yang dapat penatalaksanaan RA.
digunakan antara lain dengan
menghindari alergen (allergen Pembentukan Leukotrien
avoidance), farmakoterapi, Leukotrien adalah asam
imunoterapi sampai pembedahan. lemak tak jenuh yang mengandung
Pemilihan terapi disesuaikan dengan karbon, dilepaskan selama proses
kepentingan penderita, termasuk juga inflamasi. Leukotrien LTA4, LTB4,
ada tidaknya penyakit alergi lainnya LTC4, LTD4 dan LTE4
karena RA sering disertai dengan dimetabolisme melalui jalur 5-
penyakit alergi lainnya, misalnya lipoksigenase sebagai respon
asma. Beberapa studi telah terhadap paparan alergen dan dapat
menunjukan bahwa RA, asma dan menyebabkan inflamasi, kenaikan
rinosinusitis sering terjadi produksi mukus dan bronko
bersamaan. Salah satu modalitas konstriksi. Leukotrien, prostaglandin
farmakoterapi adalah penggunaan dan tromboksan merupakan bagian
anti leukotrien yang juga digunakan dari grup asam lemak yang disebut
untuk terapi asma.1,2 eikosanoid. Leukotrien diturunkan
Manusia memiliki dua kelas melalui aktivasi berbagai tipe sel di
reseptor leukotrien dalam reaksi membran perinuklear yang
alergi yaitu CysLTs R-1 dan CysLTs memisahkan nukleus dari sitoplasma.
R-2. CysLTs R-1 merupakan Asam arakidonat sendiri juga

51
merupakan subtrat dari siklo- selanjutnya komposisi tersebut akan
oksigenase yang aktivitasnya berkurang atau berubah menjadi
menghasilkan prostaglandin dan leukotrien A4
tromboksan (gambar 1). 3,4

Gambar 1.
Jalur metabolisme asam arakidonat dan contoh-contoh dari beberapa
jaringan target dari prostanoid dan leukotrien. PLA2 = phospholipase A2,
COX = cyclooxygenase, 5-LOX = 5-lipoxygenase, TXA2 = thromboxane A2,
PGE2 = prostaglandin E2, PGI2 = prostaglandin I2, LT= leukotriene (A4, B4,
C4, D4, E4), VSMC = vascular smooth muscle cells, CNS = central nervous
system, VEGF = vascular endothelial growth factor, MO = macrophages.4

Sintesa leukotrien dihasilkan (LTA4) karena pengaruh hidrolase


oleh aktivitas enzim 5-lipoksigenase LTA4 diubah menjadi LTB4,
terhadap asam arakidonat bebas , sedangkan enzim sintase
tetapi harus berikatan dulu dengan (glutathione-S-tranferase)
protein membran yang disebut 5- mengubahnya menjadi LTC4
lipoxigenase activating protein selanjutnya enzim transpeptidase
(FLAP). Interaksi asam arakidonat mengubah LTC4 menjadi LTD4 dan
dengan FLAP dan 5-lipoksigenase LTD4 diubah menjadi LTE4 oleh
menghasilkan komposisi 5- enzim dipeptidase (gambar 2). 3
hydrokxyperoxy-eiocosatertraenoic
acid (5-HPETE) yang tak stabil,

52
Ketiga leukotrien yaitu LTC4,

Gambar 2. Proses pembentukan leukotrien.3

Ketiga leukotrien yaitu LTC4, Peran Leukotrien Dalam


LTCD4 dan LTE4 berpengaruh pada Patofisiologi Rinitis Alergi
inflamasi, bronko konstriksi dan Dalam patofisiologi RA leukotrien
hyperresponsivness sehingga dengan berperan bersama dengan mediator
demikian leukotrien juga merupakan inflamasi lainnya yaitu pada reaksi
mediator penting pada RA dan asma alergi fase cepat (RAFC) saat
(gambar 3).3 terjadinya paparan ulang pada

Gambar 3. Efek leukotrien pada RA dan asma.5

53
penderita atopik yang sudah adhesinya pada endotel pembuluh
mengalami sensitasi oleh alergen darah yang akan memperberat
yang sama, pada reaksi ini akan gejala.6
terjadi ikatan alergen dengan Ig E Manusia memiliki dua kelas
spesifik baik yang di permukaan sel reseptor leukotrien dalam reaksi
mast maupun basofil sehingga alergi yaitu CysLTs R-1 dan
menyebabkan degranulasi sel mast CysLTs R-2. CysLTs R-1
dan mengeluarkan mediator kimia merupakan reseptor yang sensitif
(preformed mediator) seperti terhadap antagonis leukotrien yang
histamin, tryptase, bradikinin, selain dipakai pada pengobatan RA.7
itu juga terbentuk mediator lipid Reseptor CysLTs dikenal
(newly formed mediators) seperti sebagai slow-reacting substances of
prostaglandin D2 (PGD2), leukotrien anaphylaxis (SRS-A), memainkan
C4 (LTC4) dan platelet activating peran penting dalam inflamasi
factor (PAF). RAFC menimbulkan terutama pada asma dan RA.
gejala gatal hidung, bersin-bersin, Penelitian yang dilakukan Sarau et al
pilek encer dan juga gejala pada pada tahun 1999 yang dikutip oleh
mata. Peran leukotrien selain pada Metters KM dan Kathleen.7
RAFC juga berperan pada reaksi Penelitian tersebut menunjukkan
alergi fase lambat (RAFL) yang bahwa efek biologis CysLTs
terjadi antara 4 – 6 jam setelah dimediasi melalui G protein-coupled
paparan alergen dan menetap antara reseptors dan CysLTs juga
24 – 48 jam. RAFL dipengaruhi oleh mempengaruhi mobilisasi kalsium.
oleh faktor-faktor inflamasi, sel mast CysLTs reseptor diklasifikasikan
dan basofil yang berupa faktor menjadi dua jenis CysLT-1 reseptor
kemotaktik, PAF, sitokin dan juga (CysLTs R-1) dan CysLT-2 reseptor
eosikanoid. Faktor kemotaktik sel (CysLTs R-2). CysLTs R-1 terdapat
menyebabkan infiltrasi sel eosinofil, pada makrofag, sel paru , otot polos,
sel mast, limfosit, basofil, neutrofil eosinofil dalam darah perifer ,
dan makrofag ke dalam mukosa basofil, monosit, sel B dan sel induk
sedangkan efek PAF dan eosikanoid CD34+ . Reseptor CysLTs R-2
meningkatkan resistensi saluran terdapat pada sel Purkinje hepar, sel
nafas, hidung buntu, gatal dan pilek. kromafin adrenal , otak dan leukosit
PAF juga dapat menarik eosinofil, di pembuluh darah termasuk
neutrofil dan meningkatkan eosinofil (gambar 4). 7

Gambar 4. Leukotrien sebagai mediator inflamasi pada RA.8


54
Studi yang dilakukan oleh penting dalam patofisiologi RA dan
Figueroa et al pada tahun 2003 yang asma. CysLTs dapat menyebabkan
dikutip oleh Sharma dan bronko konstriktor yang ampuh
9
Mohammed. Studi tersebut memiliki kekuatan 100-1000 kali
menggunakan sampel lavage nasal lebih kuat dari histamin,
yang didapatkan dari pasien RA menyebabkan vasokonstriksi,
musiman fase aktif untuk memeriksa peningkatkan permeabilitas vaskular
ekspresi CysLTs R-1 dan CysLTs R- yang dapat menyebabkan
2 dalam sel inflamasi. Studi pengeluaran makromolekul dalam
menunjukkan bahwa baik CysLTs R- plasma ke saluran napas. CysLTs
1, mRNA CysLTs R-2 dan protein juga merangsang sekresi lendir dan
didapatkan pada 70-90% dari menghambat pembersihan oleh
eosinofil nasal lavage, 50% dari sel- mukosiliar. LTD4 dan LTE4
sel mononuklear dan 30% dari sel merupakan chemoattractants yang
mast. Dilaporkan 40% dari neutrofil ampuh dan spesifik untuk eosinofil
hanya didapatkan mRNA CysLTs R- yang juga menyebabkan mobilisasi
1 dan protein, sedangkan untuk eosinofil ke mukosa saluran nafas
mRNA CysLTs R-2 tidak oleh karena itu CysLTs memiliki
9
didapatkan. peran penting dalam patofisiologi
CysLTs adalah mediator pro RA dan asma (gambar 5).9
inflamasi yang memainkan peran

Gambar 5. Pengaruh leukotrien dalam RA dan asma.10

55
Penatalaksanaan Rinitis Alergi penatalaksanaan RA berdasarkan dari
Penatalaksanaan RA yang berbagai studi randomized controlled
selama ini dipakai adalah yang trial. Penatalaksanaan RA yang
direkomendasikan oleh the Allergic direkomendasikan adalah
Rinitis and its Impact on Asthma menghindari alergen, farmakoterapi,
(ARIA), merupakan suatu workshop imunoterapi spesifik, edukasi dan
yang diselenggarakan oleh panel pembedahan. Penatalaksanaan RA
pakar yang bekerja sama dengan juga direkomendasikan dilakukan
WHO. Workshop tersebut dengan bertahap, berdasarkan pada
menghasilkan pedoman berat ringan penyakit (gambar 6).11

Diagnosis rinitis alergi

Gambar 6. Algoritma penatalaksanaan RA.11

56
Farmakoterapi pada Rinitis Alergi menghilangkan atau mengurangi
Allergen avoidance masih gejala bersin, rinore serta hidung
merupakan upaya utama dalam buntu banyak digunakan dan laku
penatalaksanaan RA akan tetapi keras karena dalam waktu singkat
dalam prakteknya tidak mudah dapat mengatasi masalah walaupun
dilaksanakan sehingga terapi yang hanya sementara. Jenis obat telah
populer adalah farmakoterapi. digunakan pada terapi RA seperti
Farmakoterapi merupakan antihistamin, dekongestan,
pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid, stabilisator sel
medikamentosa. Medikamentosa mastosit, obat anti kolinergik dan
yang sangat dibutuhkan penderita leukotrien modifiers dengan
adalah medikamentosa yang dapat pengaruhnya masing-masing
mengurangi gejala dan bekerja cepat. terhadap berbagai gejala RA (tabel
Obat-obatan yang dapat 1).2,12

Tabel 1. Farmakoterapi.2

Tabel 2. Efek terapi.11

57
Pemilihan obat perlu
mengacu pada keluhan yang Penelitian yang dilakukan
dirasakan oleh penderita sehingga oleh Okuba K dan Baba K15 pada
dapat dipilih obat yang sesuai dengan tahun 2008 dengan menggunakan
kebutuhan baik berupa obat tunggal metode double blind clinical study
maupun kombinasi (tabel 2). 2,11 untuk membandingkan efek terapi
monteluklast 5 mg, monteluklast 10
Penggunaan Anti Leukotrien mg dan plasebo pada 942 pasien
Dalam Terapi Rinitis Alergi yang dibagi secara randomized ke
Antileukotrien bertujuan dalam 3 kelompok yaitu kelompok
untuk menghambat kerja leukotrien plasebo, kelompok monteluklast 5
sebagai mediator inflamasi yakni mg dan kelompok 10 mg.
dengan cara memblokade reseptor Menggunakan penilaian terhadap
leukotrien atau menghambat sintesa skor hidung buntu, rinore dan bersin
leukotrien, dengan demikian didapatkan hasil yang signifikan
diharapkan gejala akibat proses antara pemberian monteluklast
inflamasi pada RA maupun asma dengan plasebo dan tidak ada
dapat ditekan. Tiga obat anti perbedaan signifikan antara
leukotrien yang pernah dilaporkan pemberian monteluklast 5 mg dengan
penggunaannya yakni dua antagonis 10 mg (gambar 8).15
reseptor yaitu zafirlukast dan
montelukast serta satu inhibitor
lipoksigenase yaitu zileuton (gambar
7). 9,13

Gambar 7. Kerja anti leukotrien.14

58
Gambar 8. Grafik stastistik perbandingan monteluklast 5 mg, monteluklast
10 mg dan plasebo 15

Penelitian lain yang mg masing-masing diberikan selama


16
dilakukan Mucha et al 2 pekan. Penilain intervensi terapi
membandingkan monteluklast dilakukan dengan kuisioner pada pre
sebagai anti leukotrien dengan tes sebelum intervensi dan kuisioner
pseudoefedrin dalam terapi RA post test setelah intervensi terhadap
musiman. Menggunakan metode keluhan hidung buntu, nasal peak
double blind dan randomized inspiratory flow (NPIF), dan diurnal
terhadap 58 penderita RA yang dan nocturnal rhinoconjuctivitis
dibuktikan dengan riwayat RA dan quality of life (QOL). Didapatkan
tes kulit yang positif. Penderita setelah intervensi tidak ada
dibagi secara acak menjadi 2 perbedaan yang signifikan antara
kelompok. Kelompok 1 diberikan kedua kelompok tersebut dalam
pseudoefedrin 240 mg sekali pada keluhan hidung buntu, nasal peak
pagi hari sedangkan kelompok 2 inspiratory flow (NPIF), dan diurnal
diberikan monteluklast sodium 10 dan nocturnal rhinoconjuctivitis
quality of life (QOL) (gambar 9). 16

Gambar 9. Grafik pemberian monteluklast dan pseudoefedrin 16


59
Studi perbandingan yang evaluasi eosinofil. Didapatkan hasil
dilakukan oleh Teet et al yang selama puncak musim polen, pada
dikutip oleh Pullerits T et al 17 siang hari FPANS kombinasi
membandingkan glukokortikoid intra loratadin dan montelukast secara
nasal, antileukotrien, kombinasi bermakna lebih efektif daripada
antileukotrien dan antihistamin plasebo dan montelukast, juga
dalam terapi RA musiman. Tujuan didapatkan tidak ada perbedaan yang
penelitian tersebut adalah untuk signifikan antara pemberian
mengetahui keuntungan terapi kombinasi antara monteluklast dan
glukokortikoid intra nasal, antihistamin dengan FPANS. Gejala
antileukotrien , kombinasi pada malam hari didapatkan FPANS
antileukotrien dan antihistamin. secara signifikan lebih efektif
Metode yang digunakan adalah daripada pengobatan lain, sedangkan
double blind, randomized study pada kombinasi montelukast dan
62 pasien RA, penderita dibagi loratadin, montelukast saja tidak
secara acak menjadi 4 kelompok. memberikan pencegahan gejala
Kelompok 1 diberikan terapi signifikan dibandingkan dengan
glukokortikoid intra nasal dengan plasebo. Didapatkan peningkatan
fluticasone propionate aqueous nasal jumlah eosinofil epitel secara
spray (FPANS) dosis 200 Âμg/hari, signifikan lebih rendah untuk pasien
kelompok 2 diberikan montelukast yang dirawat dengan FPANS
dosis 10 mg /hari sebagai dibandingkan dengan semua
antileukotrien, kelompok 3 diberikan kelompok perlakuan lainnya.
montelukast dan dikombinasi dengan Kesimpulan dari penelitian tersebut
loratadin dosis 10 mg /hari sebagai adalah pasien dengan RA musiman,
antihistamin, dan kelompok 4 dengan glukokortikoid intra nasal lebih
plasebo. Penderita diminta untuk efektif (gambar 10).17

Gambar 10.
Grafik perbandingan
FPANS, monteluklast,
monteluklast dan
loratadin, plasebo 17

mencatat gejala hidung buntu, gatal, Montelukast adalah


rinore dan bersin sebelum dan antagonis cysteinyl leukotriene
selama musim. Biopsi spesimen reseptors (CysLTs R) yang telah
hidung juga dilakukan untuk dikembangkan terutama untuk

60
terapi asma bronkial. Mekanisme Kerja Monteluklast
Montelukast telah dipasarkan Cysteinyl leukotriene (LTC4,
untuk pasien dewasa dan anak LTD4, LTE4) adalah produk dari
dengan asma bronkial sejak metabolisme asam arakidonat dan
tahun 1997. Berdasarkan dapat dilepaskan dari berbagai sel
mekanisme kerja montelukast termasuk sel mast dan eosinofil.
juga diharapkan tidak hanya Eikosanoid mengikat cysteinyl
efektif untuk terapi asma leukotriene tersebut ke cysteinyl
bronkial tetapi juga untuk terapi leukotriene reseptors (CysLTs R).
RA, maka penggunaan Reseptor cysLT type-1 (CysLTs R1)
monteluklast sebagai terapi RA ditemukan pada jalan nafas termasuk
telah dilakukan pada pasien sel otot polos , makrofag dan sel pro
dengan RA musiman dan RA inflamasi lainnya termasuk eosinofil
perennial dan kegunaannya telah dan sel mieloid. CysLTs mempunyai
dibuktikan dalam berbagai studi hubungan terhadap patofisiologi
di atas.15 Obat ini juga telah terjadinya asma dan RA, pada asma
direkomendasikan oleh Food and leukotrien menimbulkan efek udim
Drug Administration (FDA) pada jalan nafas, kontraksi sel otot
untuk pengobatan RA, di bawah polos dan aktivitas selular yang
ini akan dijelaskan tentang berhubungan dengan proses
monteluklast dalam pengobatan inflamasi sedangkan pada RA
RA.13 CysLTs dikeluarkan dari mukosa
hidung setelah adanya alergen yaitu
selama reaksi alergi fase cepat, fase
Sifat Kimia Monteluklast lambat dan berhubungan dengan
Sodium monteluklast secara keluhan penderita RA yaitu dapat
kimia dideskripsikan sebagai [R- menimbulkan resistensi kavum nasi
(E)]-1-[1-[3-[2-(7-chloro-2- sehingga terjadi obstruksi kavum
quinolinyl) ethenyl phenyl]-3-[2-(1- nasi. Montelukast yang digunakan
hydroxy-1-ethylethyl) phenyl per oral mempunyai komposisi aktif
propylthiomethyl] yang memiliki afinitas yang tinggi
cyclopropaneacetic acid, dan selektif untuk mengikat reseptor
18
monosodium salt. CysLTs R1, dimana montelukast
Rumus kimianya yaitu juga dapat menghambat fungsi
C35H35ClNNaO3S dengan berat fisiologis LTC4 di reseptor antagonis
molekul 608 mikrogram (gambar CysLT R1.7,9
19
11).

Gambar 11. Rumus kimia monteluklast.18

61
Farmakokinetik Monteluklast penurunan metabolisme monteluklast
Montelukast cepat diserap, sampai 41 %, pada penderita dengan
setelah pemberian 10 mg tablet pada gangguan ginjal cukup aman karena
orang dewasa, didapatkan kadar monteluklast dieskresikan hanya
puncak monteluklast dalam plasma sedikit melalui urin.18
(C max) dicapai dalam waktu 3 - 4
jam (T max) dengan bioavailabilitas Distribusi
64%. Bioavailabilitas dan C max Montelukast lebih dari 99%
tidak dipengaruhi oleh makan diikat oleh protein plasma. Volume
sedangkan untuk pemberian tablet steady state distribusi montelukast
kunyah 5-mg pada dewasa, C max rata-rata 8 sampai 11 liter. Percobaan
dicapai setelah 2 – 2,5 jam setelah pada tikus didapatkan distribusi
pemberian dengan bioavailabilitas minimal pada pembuluh darah sawar
73% bila diberikan sebelum makan otak.18
dan 63% bila diberikan setelah
makan. Pemberian tablet kunyah 4 Metabolisme
mg, C max dicapai setelah 2 jam Montelukast hampir
setelah pemberian sebelum makan seluruhnya dimetabolisme di hepar.
pada pasien anak usia 2 - 5 tahun. Penelitian dengan dosis terapi tidak
Monteluklast granul 4 mg didapatkan sisa metabolisme
bioequivalent dengan 4 mg tablet monteluklast di plasma pada pasien
kunyah dalam pemberian sebelum dewasa dan anak.19
makan. Pemberian setelah makan Studi in vitro menggunakan
menurunkan C max sebesar 35 % mikrosom liver manusia menunjukan
dan memperpanjang T max dari 2.3 ± bahwa sitokrom P450 3A4 dan 2C9
1.0 jam menjadi 6.4 ± 2.9 jam.13 terlibat dalam metabolisme
Pemberian monteluklat pada montelukast. Penelitian klinik
penderita RA disarankan diberikan terhadap efek monteluklast yang
pada waktu pagi atau sore sebelum dapat menghambat kerja sitokrom
atau sesudah makan. 13 P450 3A4 (contoh: ketokonazol,
Farmakokinetik monteluklast eritromisin) dan 2C9 (contoh:
antara laki-laki dan perempuan flukonazol) pada farmakokinetik
sedangkan untuk pengaruh tidak dapat dibuktikan, berdasarkan
pemberian monteluklast pada ras hasil penelitian in vitro pada
belum ada penelitian yang mikrosom liver manusia, konsentrasi
menjelaskan.18,19 plasma pada dosis terapi
Pemberian monteluklat 10 mg monteluklast tidak menghambat
dosis tunggal per oral didapatkan sitokrom P450 3A4, 2C9, 1A2, 2A6,
bioavaibilitas yang sama antara 2C19 dan 2D6, akan tetapi secara in
penderita berusia tua dan muda, akan vivo menunjukan montelukast
tetapi waktu paruh monteluklast merupakan penghambat yang kuat
sedikit memanjang pada usia tua.18 untuk sitokrom P450 2C8.18,19
Pemberian monteluklast pada
pasien dengan kelainan hepar dengan Eliminasi
derajat ringan sampai sedang dan Monteluklast memiliki
penderita sirosis didapatkan plasma clearance rata-rata 45

62
mL/menit untuk orang dewasa sehat. Efek pada eosinofil di dalam
Menggunakan radiolabeled pada pembuluh darah perifer yang
pemberian monteluklast per oral diperiksa dalam uji klinis, pada
selama 5 hari didapatkan 86% pada pasien penderita asma umur 2 tahun
feses dan 0.2% pada urin.18 atau lebih yang diberikan
monteluklast terjadi penurunan
Interaksi Obat berarti eosinofil darah tepi dari 15 %
Montelukast 10 mg yang menjadi 9 %.18
diberikan sekali sehari tidak Efek terapi montelukast yang
memberikan pengaruh terhadap optimal untuk asma bila diberikan
farmakokinetik teofilin yang pada malam hari tanpa
diberikan secara intra vena, memperhatikan sebelum atau setelah
farmakokinetik warfarin, makan, sedangkan RA khususnya
farmakokinetik digoxin, konsentrasi yang musiman, montelukast
plasma terfenadin.18 diberikan pada pagi atau sore hari
Montelukast 10 mg yang tanpa memperhatikan sebelum atau
diberikan sekali sehari tidak setelah makan.18
memberikan pengaruh terhadap
konsentrasi plasma obat kontrasepsi Efek Samping Monteluklast
oral seperti norethindrone 1 mg atau Efek samping pada pasien
etinil estradiol 35 mcg juga tidak yang sering timbul sakit perut atau
mempengaruhi plasma konsentrasi usus, depresi, mulas, kelelahan,
prednison atau prednisolon.18 hidung tersumbat, demam, flu, batuk,
infeksi saluran pernapasan atas, ruam
Farmakodinamik Monteluklast , sakit kepala pusing sedangkan efek
Montelukast menghambat yang jarang terjadi peningkatan
cysteinyl leukotriene reseptors yang kecenderungan perdarahan, reaksi
berada di jalan nafas dengan alergi mengantuk, kesemutan,
kemampuannya untuk menghambat kejang, palpitasi, hidung berdarah,
bronkokonstriksi dengan diare, gangguan pencernaan, radang
menghambat LTC4 pada penderita pankreas , mual, muntah, hepatitis,
RA dan asma.13 memar nyeri, sendi, nyeri otot dan
kram otot (tabel 3). 18
Tabel 3. Efek samping penggunaan monteluklast. 18

63
Indikasi Pemberian Monteluklast pembedahan. Salah satu modalitas
Indikasi pemberian farmakoterapi adalah penggunaan
monteluklast adalah sebagai anti leukotrien.
13
berikut:
- Mengurangi gejala RA jenis Anti leukotrien bertujuan
musiman pada dewasa dan anak untuk menghambat kerja leukotrien
usia 2 tahun ke atas dan RA sebagai mediator inflamasi yakni
jenis perenial pada penderita dengan cara memblokade reseptor
dewasa dan anak usia 6 bulan ke leukotrien atau menghambat sintesa
atas. leukotrien , dengan demikian
- Profilaksis dan pengobatan asma diharapkan gejala akibat proses
pada penderita dewasa dan anak. inflamasi pada rinitis alergi maupun
- Mencegah bronco konstriksi asma dapat ditekan. Tiga obat
pada penderita usia 15 tahun ke antileukotrien yakni dua antagonis
atas. reseptor yaitu zafirlukast dan
montelukast serta satu inhibitor
Kontra Indikasi Monteluklast lipoksigenase yaitu zileuton.
Hipersensitif terhadap
13
kandungan obat ini. Montelukast adalah antagonis
cysteinyl leukotriene reseptors
Dosis Monteluklast (CysLTs R) yang direkomendasikan
Dewasa diberikan 10 mg oleh FDA untuk terapi rinitis alergi.
sebelum tidur, anak-anak 6 tahun Penelitian menunjukkan bahwa
sampai 14 tahun diberikan 5 mg monteluklast memiliki manfaat lebih
sebelum tidur, Anak-anak 2 tahun dibandingkan dengan plasebo dan
sampai 5 tahun diberikan 4 mg memiliki manfaat yang sama dengan
sebelum tidur. 13 loratadin untuk farmakoterapi rinitis
alergi khususnya rinitis alergi
RINGKASAN musiman. Kombinasi montelukast
Terapi rinitis alergi bertujuan dengan loratadin memiliki efektifitas
untuk mengontrol gejala semaksimal yang sama dengan penggunaan
mungkin dengan meminimalkan efek glukokortikoid intra nasal, selain itu
samping, berbagai modalitas terapi monteluklast memiliki efektifitas
dapat digunakan, mulai dengan yang sama dengan pseudoefedrin
menghindari alergen (allergen untuk mengurangi efek hidung
avoidance), farmakoterapi, buntu.
imunoterapi sampai terapi

64
DAFTAR PUSTAKA
1 Krouse JH. Allergic and non 21, 2009.
allergic rhinitis. In: Bailey BJ, 5 Howarth PH, Okuda M,
Johson JT, Newland SD, eds. Claesson HE, Dahlén SE,
Head and neck surgery Dworski R. Cysteinyl
th
otolaryngology 4 eds. leukotrienes are important
Philadelphia: Lippincott mediators of airway
Williams and Wilkins, 2006: inflammation and allergy
351-62. symptoms. 1994. Available
2 Shah SB, Emanuel IA. from :
Nonallergic & allergic rhinitis. http://a248.e.akamai.net/7/248/8
In: Lalwani AK, eds. Current 47/20060502095303/www.sing
diagnosis & treatment in ulair.ae/images/impt_of_leukotr
otolaryngology head and neck ienes/role_of_leuk.gif. accesed
surgery. 5th eds. New York: Mc November 21, 2009.
Graw Hill Medical, 2008: 264- 6 Pawarti DR. Diagnosis rinitis
72. alergi. Dalam: Wiyadi HMS,
3 Engels F, Nijkamp FP. Herawati S, Harmadji S,
Pharmacological inhibition of Pawarti DR ed. Naskah lengkap
leukotriene actions. 1998. alergi imunologi rinologi recent
Available from advances and update
http://www.springerlink.com/co management of allergic
ntent/g71388570p4151l2/fulltex rhinosinusitis.
t.pdf. accesed September 1, Departemen/SMF Ilmu
2009. Kesehtan THT-KL FK UNAIR
4 Totten J, Brown HM, LeRoy – RSU Dr Soetomo, 2009: 1-15.
BE. Nonsteroidal anti 7 Metters KM. Leukotriene
inflammatory drug (NSAID) receptors. 1995. Available from
toxicity in dogs and cats: :
pathophysiology, diagnosis and http://www.sciencedirect.com/sc
monitoring. 2004. Available ience?_ob=ArticleURL&_udi=
from : B6T8M-40T9NDS-
http://images.google.co.id/imgre W&_user=10&_rdoc=1&_fmt=
s?imgurl=http://www.vet.uga.ed &_orig=search&_sort=d&_doca
u/vpp/CLERK/totten/fig01.jpg& nchor=&view=c&_searchStrId=
imgrefurl=http://www.vet.uga.e 1114026965&_rerunOrigin=goo
du/vpp/CLERK/totten/index.ph gle&_acct=C000050221&_versi
p&usg=__EtrCF4_Mfb_jDIJqxx on=1&_urlVersion=0&_userid=
L4RdMq828=&h=485&w=576 10&md5=c9c823fe1026633571f
&sz=50&hl=id&start=13&tbnid ad7199d974df0. accesed
=J- November 21, 2009.
8cp5ZGeLTUuM:&tbnh=113&t 8 Evans JF. The Cysteinyl
bnw=134&prev=/images%3Fq leukotriene (CysLT) pathway in
%3DLeukotriene%26gbv%3D2 allergic rhinitis. 2005. Available
%26ndsp%3D20%26hl%3Did% from :
26sa%3DN. accesed November http://ai.jsaweb.jp/fulltext/05402

65
0187/img/054020187_f01.gif. leukotriene pathway and
accesed November 21, 2009. potential targets. 2002.
9 Sharma JN, Mohammed LA. Available from:
The role of leukotrienes in the http://img.medscape.com/fullsiz
pathophysiology of e/migrated/444/395/444395.fig2
inflammatory disorders: Is there .jpg. accesed November 21,
a case for revisiting leukotrienes 2009.
as therapeutic targets?. 2006. 15 Okubo K, Baba K. Therapeutic
Available from: effect of montelukast, a
http://www.springerlink.com/co cysteinyl leukotriene receptor 1
ntent/y59l2l22730nr434/fulltext. antagonist, on japanese patients
pdf. accesed September 1, with seasonal allergic rhinitis.
2009. Allergology International, 2008;
10 Salvi SS. The Anti- 57 :247-55.
inflammatory effects of 16 Mucha SM, Tineo M, Naclerio
leukotriene modifying drugs. RM, Baroody FM. Comparison
2001. Available from: of monteluklast and
http://chestjournal.chestpubs.org pseudoephedrine in the
/content/119/5/1533/F1.large.jp treatment of allergic rhinitis.
g. accesed November 21, 2009. Arch Otolaryngology Head and
11 Bousquet J, Cauwenberge P, Surgurey, 2006; 132: 164-172.
Bond C, Bousquet H, Canonica 17 Pullerits T et al. Comparison of
GW, Howarthet P et al, a nasal glucocorticoid,
Management of allergic rhinitis. antileukotriene, and a
2003. Available from combination of antileukotriene
www.whiar.org/docs/ARIA_Pha and antihistamine in the
rm_PG.pdf. accesed September treatment of seasonal allergic
1, 2009. rhinitis. 2002. Available from:
12 Plaut M, Valentine MD. http://linkinghub.elsevier.com/re
Allergic rhinitis. 2005. trieve/pii/S0091674902000088.
Available from: acces on November 21st 2009.
http://content.nejm.org/cgi/conte 18 Baroody FM. Monteluklast
nt/full/353/18/1934. accesed sodium. 2009. Available from
September 1, 2009. http://129.128.185.122/drugban
13 Scow DT, Luttermoser GK, k2/drugs/DB00471/fda_labels/1
Dickerson KS. Leukotriene 5. accesed September 1, 2009.
inhibitors in the treatment of 19 Ramakrishnan R, Migoya E,
Allergy and Asthma.2007. Knorr B. A population
Available from: pharmacokinetic model for
http://www.aafp.org/afp/200701 montelukast disposition in
01/65.html accesed September adults and children. 2005.
1, 2009. Available from:
14 Wechsler ME, Israel E. http://cat.inist.fr/?aModele=affic
Pharmacogenetics of treatment heN&cpsidt=16803974. accesed
with leukotriene modifiers: the November 21, 2009.

66