Anda di halaman 1dari 21

SISTEM PELAYANAN KESEHATAN DAN

KEBIJAKAN ERA OTONOMI DAERAH

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

1. ANIS FATUR ROHMAH (16.02.11.06)


2. FEBRIANA T (16.02.11.19)
3. NADHIA CLARINDHA M (16.02.11.32)
4. SAYYIDATUN N (16.02.11.46)

PSIK 3A

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ANNUR

TAHUN AJARAN 2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
kemudahan bagi kami sebagai penyusun untuk dapat menyelesaikan tugas ini
tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Komunitas 1,
yang mana dengan tugas ini kami sebagai mahasiswa dapat mengetahui lebih jauh
dari materi yang diberikan dosen pengampu.
Makalah yang berjudul tentang “Sistem Pelayanan Kesehatan dan
Kebijakan Era Otonomi Daerah”. Mengenai penjelasan lebih lanjut kami
memaparkannya dalam bagian pembahasan makalah ini.
Dengan harapan makalah ini dapat bermanfaat, maka kami sebagai penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyelesaian makalah ini. Saran dan kritik yang
membangun dengan terbuka kami terima untuk meningkatkan kualitas makalah
ini.

Purwodadi, November 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 2
C. Tujuan ...................................................................................... 2
D. Manfaat ................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI .......................................................................... 4
A. Pengertian Sistem Kesehatan di Indonesia .............................. 4
B. Pelayanan Kesehatan di Indonesia........................................... 5
C. Otonomi Daerah ....................................................................... 6
D. Undang – Undang Kesehatan di Indonesia .............................. 7
E. Kebijakan Kesehatan di Indonesia........................................... 9
BAB III KASUS ................................................................................................. 13
BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................. 14
BAB V PENUTUP ........................................................................................ 16
A. Kesimpulan ............................................................................. 16
B. Saran ....................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 17

iii
i
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem kesehatan adalah suatu jaringan penyedia pelayanan
kesehatan (supply side) dan orang-orang yang menggunakan pelayanan
tersebut (demand side) di setiap wilayah, serta negara dan organisasi yang
melahirkan sumber daya tersebut, dalam bentuk manusia maupun dalam
bentuk material. Sistem kesehatan tidak terbatas pada seperangkat institusi
yang mengatur, membiayai, atau memberikan pelayanan, namun juga
termasuk kelompok aneka organisasi yang memberikan input pada
pelayanan kesehatan, utamanya sumber daya manusia, sumber daya fisik
(fasilitas dan alat), serta pengetahuan/teknologi (WHO SEARO, 2000).
Seiring dengan diberlakukannya undang-undang otonomi daerah,
maka berbagai aturan main di daerah terjadi perubahan paradigma, bahkan
perubahan paradigma tersebut hampir di setiap lini kehidupan di daerah,
termasuk diantaranya perubahan paradigma pelayanan publik di daerah.
Paradigma kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah yang
berorientasi pada kepuasan pelanggan, memberikan arah tejadinya
perubahan atau pergeseran paradigma penyelenggaraan pemerintahan, dari
paradigma rule government bergeser menjadi paradigma good governance.
Pemerintah daerah dalam menjalankan monopoli pelayanan publik,
sebagai regulator (rule government) harus mengubah pola pikir dan
kerjanya dan disesuaikan dengan tujuan pemberian otonomi daerah, yaitu
memberikan dan meningkatkan pelayanan yang memuaskan masyarakat.
Untuk terwujudnya good governance, dalam menjalankan pelayanan
publik, Pemerintah Daerah juga harus memberikan kesempatan luas
kepada warga dan masyarakat, untuk mendapatkan akses pelayanan
publik, berdasarkan prinsip - prinsip kesetaraan, transparansi, akuntabilitas
dan keadilan.

1
Dalam era otonomi daerah sekarang ini tantangan yang dihadapi
oleh birokrasi pemerintah Indonesia cukup berat. Masa transisi sistem
pemerintahan daerah yang ditandai dengan keluarnya UU No. 22 Th. 1999
sebagaimana diubah dengan UU No. 32 Th. 2004 telah membawa
beberapa perubahan yang mendasar. Pertama, daerah yang tadinya
sebelum berlakunya UU No. 22 Th. 1999, otonomi yang dimiliki
pemerintah daerah hanyalah otonomi nyata dan bertanggung jawab saja,
tetapi dengan berlakunya UU No. 22 Th. 1999 menjadi otonomi luas,
nyata dan bertanggung jawab.
Di era otonomi daerah ini, pemerintah berulang kali mengeluarkan
kebijakannya dalam bidang kesehatan. Hal ini dapat terlihat dari fakta –
fakta yang ada dan kita rasakan sekarang. Kebijakan – kebijakan tersebut
di keluarkan tidak sembarang saja, melalui proses panjang dan alot.
Melalui berbagai pemikiran yang di pikirkan oleh pemerintah. Maka dari
itu kebijakan di keluarkan oleh pemerintah dengan seksama dan
berdasarkan dasar – dasar pemikiran yang kuat.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
“ Bagaimana Pelaksanaan Sistem Pelayanan kesehatan dan Kebijakan Era
Otonomi Daerah”

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana system kesehatan era otonomi daerah
di Indonesia
2. Untuk mengetahui bagai mana pelayanan kesehatan era otonomi
daerah di Indonesia
3. Untuk mengetahui bagaimana Undang – Undang kesehatan era
otonomi daerah di Indonesia

2
4. Untuk mengetahui bagaimana kebijakan era otonomi daerah di
Indonesia

D. MANFAAT
1. Bagi tenaga kesehatan
Makalah ini bisa menjadi bahan diskusi dalam setiap kebijakan yang
diterapkan pemerintah dan juga sebagai dasar pemikiran dalam
melakukan program kesehatan.
2. Bagi mahasiswa
Sebagai bahan diskusi di kalangan mahasiswa dan juga sebagai refensi
bila sustu saat nanti mendapatkan tugas yang berkaitan dengan isi
makalah ini.
3. Bagi masyarakat
Sebagai bahan bacaan dan juga tambahan pengetahuan umum yang
bisa untuk di diskusikan.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN SISTEM KESEHATAN DI INDONESIA


Sistem kesehatan adalah suatu jaringan penyedia pelayanan
kesehatan (supply side) dan orang-orang yang menggunakan pelayanan
tersebut (demand side) di setiap wilayah, serta negara dan organisasi yang
melahirkan sumber daya tersebut, dalam bentuk manusia maupun dalam
bentuk material. Sistem kesehatan tidak terbatas pada seperangkat institusi
yang mengatur, membiayai, atau memberikan pelayanan, namun juga
termasuk kelompok aneka organisasi yang memberikan input pada
pelayanan kesehatan, utamanya sumber daya manusia, sumber daya fisik
(fasilitas dan alat), serta pengetahuan/teknologi (WHO SEARO, 2000).
Organisasi ini termasuk universitas dan lembaga pendidikan lain, pusat
penelitian, perusahaan kontruksi, serta serangkaian organisasi yang
memproduksi teknologi spesifik seperti produk farmasi, alat dan suku
cadang.
WHO mendefinisikan sistem kesehatan sebagai seluruh kegiatan
yang mana mempunyai maksud utama untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan. Mengingat maksud tersebut di atas, maka termasuk
dalam hal ini tidak saja pelayanan kesehatan formal, tapi juga non formal,
seperti halnya pengobatan tradisional. Selain aktivitas kesehatan
masyarakat tradisional seperti promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit, peningkatan keamanan lingkungan dan jalan raya, pendidikan
yang berhubungan dengan kesehatan merupakan bagian dari sistem.
Sistem kesehatan paling tidak mempunyai empat fungsi pokok yaitu:
Pelayanan kesehatan, pembiayaan kesehatan, penyediaan sumber daya dan
stewardship/ regulator. Fungsi-fungsi tersebut akan direpresentasikan
dalam bentuk sub-subsistem dalam sistem kesehatan, dikembangkan
sesuai kebutuhan. Masing-masing fungsi/subsistem akan dibahas
tersendiri. Di bawah ini digambarkan bagaimana keterkaitan antara fungsi-

4
fungsi tersebut dan juga keterkaitannya dengan tujuan utama Sistem
Kesehatan.

B. PELAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA


Pelayanan kesehatan dapat diperoleh mulai dari tingkat puskesmas,
rumah sakit, dokter praktek swasta dan lain-lain. Masyarakat dewasa ini
sudah makin kritis menyoroti pelayanan kesehatan dan profesional tenaga
kesehatan. Masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang baik dari
pihak rumah sakit, disisi lain pemerintah belum dapat memberikan
pelayanan sebagaimana yang diharapkan karena adanya keterbatasan-
keterbatasan, kecuali rumah sakit swasta yang berorientasi bisnis, dapat
memberikan pelayanan kesehatan dengan baik. Untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan dibutuhkan tenaga kesehatan yang trampil dan
fasilitas rumah sakit yang baik, tetapi tidak semua rumah sakit dapat
memenuhi kriteria tersebut sehingga meningkatnya kerumitan system
pelayanan kesehatan dewasa ini. Salah satu penilaian dari pelayanan
kesehatan dapat kita lihat dari pencatatan rekam medis atau rekam
kesehatan. Dari pencatatan rekam medis dapat mengambarkan kualitas
pelayanan kesehatan yang diberikan pada pasien, juga meyumbangkan hal
penting dibidang hukum kesehatan, pendidikan, penelitian dan akriditasi
rumah sakit.
Yang harus dicatat dalam rekam medis mencakup hal-hal seperti di bawah
ini;
1. Identitas Penderita dan formulir persetujuan atau perizinan.
2. Riwayat Penyakit.
3. Laporan pemeriksaan Fisik.
4. Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan dokter
yang berwenang.
5. Catatan Pengamatan atau observasi.
6. Laporan tindakan dan penemuan.
7. Ringkasan riwayat waktu pulang.

5
8. Kejadian-kejadian yang menyimpang
(Sistem pelayanan kesehatan)
Rekam medis mengandung dua macam informasi yaitu;
1. Informasi yang mengandung nilai kerahasiaan, yaitu merupakan
catatan mengenai hasil pemeriksaan, diagnosis, pengobatan,
pengamatan mengenai penderita, mengenai hal tersebut ada
kewajiban simpan rahasia kedokteran.
2. Informasi yang tidak mengandung nilai kerahasiaan suatu hal yang
harus diingat bahwa berkas catatan medik asli tetap harus disimpan
di rumah sakit dan tidak boleh diserahkan pada pasien, pengacara
atau siapapun. Berkas catatan medik tersebut merupakan bukti
penting bagi rumah sakit apabila kelak timbul suatu perkara,
karena memuat catatan penting tentang apa yang telah dikerjakan
dirumah sakit. Catatan medik harus disimpan selama jangka waktu
tertentu untuk dokumentasi pasien. Untuk suatu rumah sakit rekam
medis adalah penting dalam mengadakan evaluasi pelayanan
kesehatan, peningkatan efisiensi kerja melalui penurunan
mortalitas, morbiditas dan perawatan penderita yang lebih
sempurna. Pengisian rekam medis serta penyelesaiannya adalah
tanggung jawab penuh dokter yang merawat pasien tersebut,
catatan itu harus ditulis dengan cermat, singkat dan jelas. Dalam
menciptakan rekam medis yang baik diperlukan adanya kerja sama
dan usaha-usaha yang bersifat koordinatif antara berbagai pihak
yang samasama melayani perawatan dan pengobatan terhadap
penderita. (http://sumberpencarianartikel.com/)

C. OTONOMI DAERAH
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Secara harfiah, otonomi daerah berasal dari kata otonomi dan

6
daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos.
Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undang-undang,
sehingga dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau
kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri.
Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai
batas-bataswilayah.

D. UNDANG-UNDANG KESEHATAN DI INDONESIA


1. Undang – undang Kesehatan
a. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang – undang Otonomi Daerah
a. Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, Pasal 18 ayat 1-7, Pasal 18A ayat 1-2, Pasal 18B ayat
1-2.
b. Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang
Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan, pembagian,
dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan,
serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah dalam
Kerangka NKRI.
c. Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang
Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi
Daerah.
d. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
e. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah.
f. UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Revisi UU No. 32 Tahun 2004).
3. Undang – Undang Praktik Kedokteran
a. Undang – Undang No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran. Pasal 1, Pasal 41 ayat 1, Pasal 46 ayat 1, Pasal
48 ayat 1-3, Pasal 51, Pasal 66, Pasal 67 dan 68, Pasal 69,

7
Pasal 73 ayat 1-2, Pasal 75 ayat 1-3, Pasal 76, Pasal 77,
Pasal78, Pasal 79A-C, Pasal 80 ayat 1.
4. Peraturan Menteri Kesehatan
a. PERMENKES No. 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas.
b. PERMEENKES No. 59 Tahun 2014 tentang Standard
Tarif JKN.
c. PERMENKES No. 28 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Program JKN.
d. PERMENKS No. 27 Tahun 2014 tentang Juknis Sistem
INA CBGs (1).
e. PERMENKES No. 19 Tahun 2014 tentang Penggunaan
Dana Kapitasi JKN.
f. PERMENKES 472 tentang Penetapan Kuasa Pengguna
Anggaran di Lingkungan Kemenkes.
g. PERMENKES 473 tentang Pelimpahan Wewenang dan
Tanggung jawab Kemenkes di tingkat Kab/Kota tahun
2014.
h. PERMENKES 474 tentang Pelimpahan Wewenang dan
Tanggung jawab Kemenkes di tingkat Provinsi tahun
2014.
i. PERMENKES No. 55 Tahun 2018 tentang Tata Cara
Pengelolaan Hibah Langsung Dalam Bentuk
Uang/Barang/Jasa/Surat Berharga melalui Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara di Lingkungan
Kementerian Kesehatan .
j. PERMENKS No. 64 Tahun 2018 tentang Izin Edar Alat
Kesehatan, Alat Kesehatan Diagnostik In Vitro dan
Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga.
k. PERMENKS No. 61 Tahun 2018 tentang Petunjuk
Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik
Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2018.

8
l. PERMENKS No. 54 Tahun 2018 tentang
Penanggulangan Pemasungan Pada Orang dengan
Gangguan Jiwa.
m. PERMENKS No. 63 Tahun 2018 tentang Cara Uji
Klinik Alat Kesehatan yang Baik.
n. PERMENKS No. 12 Tahun 2017 tentang
Penyelenggaraan Imunisasi.
o. PERMENKS No. 13 Tahun 2017 tentang Penanganan
Pengaduan Masyarakat Terpadu di Lingkungan
Kementerian Keseshatan.
p. PERMENKS No. 7 Tahun 2017 tentang Penggunaan
Logo Kementerian Keseshatan
q. PERMENKS No. 73 Tahun 2017 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

E. KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA


1. Definisi
Analisisi kebijakan kesehatan adalah apapun pilihan pemerintah
untuk melakukan atau tidak, dalam mengambil kebijakan di bidang
kesehatan berlandaskan atas manfaat yang optimal yang akan
diterima oleh masyarakat.
2. Kebijakan Kesehatan di Indonesia
a. Visi : Departemen kesehatan sebagai penggerak
pembangunan kesehatan menuju terwujudnya indonesia
sehat
b. Misi :
1) Memantapkan manajemen kesehatan yang dinamis
dan akuntabel
2) Meningkatkan kinerja dan mutu upaya kesehatan
3) Memberdayakan masyarakat dan daerah

9
4) Melaksanakan pembangunan kesehatan yang
berskala nasional

c. Tujuan
Terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil
guna dan berdaya guna dalam rangka mencapai derajat
kesehatan masyarakat setinggi-tingginya Tujuan tersebut
dicapai melalui pembinaan, pengembangan dan
pelaksanaan serta pemantapan fungsi-fungsi administrasi
kesehatan yang didukung oleh sistem informasi kesehatan,
ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan serta hukum
kesehatan
d. Sasaran
1) Tersedianya berbagai kebijakan dan pedoman, serta
hukum kesehatan yang menunjang pembangunan
kesehatan
2) Terbentuk dan terselenggaranya sistem informasi
manajemen kesehatan yang ditunjang oleh sistem
informasi manajemen kesehatan daerah
3) Terlaksananya dan termanfaatkannya hasil
penelitian dan pengembangan kesehatan dalam
mendukung pembangunan kesehatan
4) Terselenggaranya promosi kesehatan dalam rangka
pemberdayaan masyarakat dan pengembangan
perilaku sehat
5) Terselenggaranya advokasi dan pengawasan oleh
perorangan, kelompok dan masyarakat dibidang
kesehatan
6) Terselenggaranya sistem surveilans dan
kewaspadaan dini serta penanggulangan kejadian
luarbiasa

10
7) Tersedianya pembiayaan kesehatan yang cukup ,
adil, berdaya guna dan berhasil guna
8) Tersedianya tenaga kesehatan yang bermutu secara
mencukupi dan distribusinya merata.
3. Program Kesehatan Yang Terkait Dengan Kebijakan Kesehatan
a. Kebijakan program promosi kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat
b. Kebijakan program lingkungan sehat
c. Kebijakan program upaya kesehatan
d. Kebijakan program pelayanan kesehatan
e. Kebijakan program upaya kesehatan perorangan
f. Kebijakan program pencegahan dan pemberantasan
penyakit
g. Kebijakan program perbaikan gizi masyarakat
h. Kebijakan program sumber daya kesehatan
i. Kebijakan program kebijakan dan manajemen
pembangunan kesehatan
4. Kebijakan kesehatan Indonesia dibuat berdasarkan keputusan-
keputusan sebagai berikut:
a. PERPRES nomor 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional
b. TAP MPR RI VII tahun 2001 tentang Visi Indonesia Masa
Depan.
c. Undang-undang No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.
d. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
kewenangan pemerintah dan kewenangan Propinsi sebagai
Daerah Otonom.
e. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

11
f. Keputusan Menteri Kesehatan RI. No 574/ Men.Kes.
`/SK/IV/2000 tentang Pembangunan Kesehatan Menuju
Indonesia sehat tahun 2010.
g. Keputusan Menteri Kesehatan RI. No 1277/Men.
Kes/SK/X/2001 tentang Susunan organisasi dan Tata Kerja
Departemen Kesehatan.

12
BAB III

KASUS

A. CONTOH KASUS

Di Desa Tamansari Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga


ditemukan 3 warga yang terkena DBD (Demam Berdarah Dengue) yaituintan
(8 th) RT.01 RW.02 pada 9 januari 2018, badrun (9 th) RT 02 RW 08 pada
tanggal 26 Desember 2017. Serta susanti (5 th) RT 01 RW 05 ditanggal pada
31 Januari 2018.

B. KRONOLOGIS KEJADIAN
Dimusim penghujan banyak sekali genangan-genangan air, tempat yang
lembab,dan pinggiran daerah yang kumuh. Hal ini dapat mempercepat
perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk termasuk jenis nyamuk Aedes
Aegypti dan Aedes Albocpictus. Termasuk dirumah warga pedesaan yang
memiliki ventilasi yang kurang bagus makakesempaytan berkembangnya
nyamuk lebih besar.
Desa tamansari Karangmoncol sudah 5 th ini tidak ada himbauan ataupun
kunjungan dari kesehatan masyarakat dan perawat. Dan para warga di desa
ini masih belum punya pengetahuan yang lebih mengenai lingkungan
sehat seperti; membuang sampah sembarangan, selokan tidak pernah
dibersihkan dan jarang melakukan 3m (menutup, menguras, menimbun)
sehingga penyebaran nyamuk Aedes Aegypti dan nyamuk Aedes
Albopictus

13
BAB IV

PEMBAHASAN

Purbalingga, Ditemukanya 3 Kasus Demam Berdarah Dengau (DBD) di


Desa Tamansari Kecamatan Karangmoncol, Dinas Kesehatan (Dikes) Purbalingga
langsung mengadakan fogging. Data dari Dinkes 3 penderita DBD menimpa
intan (8 th) RT.01 RW.02 pada 9 Januari 2018, badrun (9 th) RT 02 RW 08 pada
tanggal 26 Desember 2017. Serta susanti (5 th) RT 01 RW 05 ditanggal pada 31
Januari 2018.

Staf Dikes, Abidin Soleh mengatakan fogging dilakukan 2 kali pertama


Rabu (14/2), kemudian yang kedua akan dilaksanakan kembali satu minggu
kedepan yakni pada Rabu (21/2). Sebelum dilakukan foging Dinkes juga telah
melakukan sosialisasi prafogging yang berisi terkait dengan kewaspadaan
masyarakat terkait dengan bahaya DBD.

“ DBD merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty


yang bisa menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian. Untuk itu perlu
upaya pemutusanpenularan dengan fogging dan diteruskan dengan PSN seminggu
sekali oleh warga,” katanya saat melakukan fogging, Rabu (14/2).

Terpisah Kabid Pencegahan dan pengendalian Penyakit (P2P) Dinas


Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga mengatakan mangatakan fogging bisa
dilakukan jika memenuhi beberapa kriteria antaralain ditemukan penderita DBD
sebanyak 1 atau lebih penderita. Kemudian ditemukan jentik lebih dari 5 persen
dari rumah/bangunan yang diperiksa.

“Setelah memenuhi kreteria tersebut baru dilakukan koordinasi dengan


desa dan puskesmas setempat, kemudian baru dilakukan fogging,”katanya.

Semedi menambahkan mengantisipasi musim penghujan Dinkes telah


melakukan beberapa sosialiasai kepada masyarakat terkait genangan air yang
beresiko menjadi sarang nyamuk Aedes aegypty. Untuk persediaan obat tidak ada
maslah, penderita DBD bisa ditangani di Puskesmas jika memerlukan rawat inap.

14
“Jika Puskesmas tidak mampu dikarenakan adanya kompilkasi penyakit
lainnya bisa langsung di rujuk di RSUD Goeteng Taroena Dibrata. Jika ada tanda-
tanda DBD pada saudara, temen atau tetangga agar segera malakukan pengobatan
di Puskesmas atau unit kesehatan lainnya, sehingga bisa kita tindak lanjuti
dilapangan ,” katanya. (PI-2)

15
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
WHO mendefinisikan sistem kesehatan sebagai seluruh kegiatan yang
mana mempunyai maksud utama untuk meningkatkan dan memelihara
kesehatan. Pelayanan kesehatan dapat diperoleh mulai dari tingkat
puskesmas, rumah sakit, dokter praktek swasta dan lain-lain. Dan ada
banyak kebijakan – kebijakan yang mengatur tentang kesehatan. Undang –
undang yang mengatur tentang kesehatan diatur UU No. 36 Tahun 2009.

B. SARAN
1. Bagi perawat komunitas
Bagi perawat komunitas, perlu memahami tentang system pelayanan
dan kebijakan era otonomi daerah yang sesuai dengan aturan
pelayanan kesehatan sehingga dapat melakukan pelayanan kesehatan
yang baik dan bermutu.
2. Bagiklien
Untuk klien serta keluarga agar dapat secara mandiri berpartisipasi,
meningkatkan dan memelihara kesehatan dan perilaku, agar tujuan
dari program pembangunan kesehatan bisa berjalan dengan
semestinya.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://sumberpencarianartikel.com/aspek-hukum-dalam-pelayanan-kesehatan/

http://kebijakankesehatanindonesia.net/?q=node/481

http://sumberpencarianartikel.com/

http://eprints.undip.ac.id/6253/1/Kebijakan_Kesehatan

17

Anda mungkin juga menyukai