Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN MINI PROJECT

Penyuluhan Hipertensi dan Pembagian Buku Kontrol Tekanan Darah bagi


Penderita Hipertensi sebagai Upaya Peningkatan Program Pencegahan
Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Bontomatene Kab. Kepulauan
Selayar, Sulawesi Selatan Tahun 2017

Disusun oleh :

dr. Akbar Eka Putra

dr. Anastasia Pamela Juan

dr. Bernita Kusumanti

dr. Dzulfadhil Syamsir

dr. Ibrahim Machmud

dr. Maria Noviati Elvina

dr. Nurmalasari Amira

dr. Reski Harlianty Harli

dr. Saifullah

Pembimbing :

dr. Ika Hartati

NIP. 19810829 200903 2006

PUSKESMAS BONTOMATENE
KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
PROGRAM DOKTER INTERNSIP
PERIODE FEBRUARI 2017
LEMBAR PENGESAHAN

Dengan disertakannya lembar pengesahan ini, laporan mini project yang berjudul
“ Penyuluhan Hipertensi dan Pembagian Buku Kontrol Tekanan Darah bagi
Penderita Hipertensi sebagai Upaya Peningkatan Program Pencegahan Hipertensi
di Wilayah Kerja Puskesmas Bontomatene Kabupaten Kepulauan Selayar,
Sulawesi Selatan Tahun 2017” adalah benar disusun oleh dokter internsip
Kabupaten Kepulauan Selayar periode Februari 2017

Selayar, 21 Januari 2018

dr. Saifullah
Ketua Rombongan Dokter Internsip Kab. Kep. Selayar
Periode Februari 2017

Pembimbing

dr. Ika Hartati


NIP. 19810829 200903 2006

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur atas kehadirat Allah Subhanahu Wa


Ta’ala atas berkat dan limpahan rahmat-Nya hingga saya dapat menyelesaikan
laporan mini project yang berjudul “Penyuluhan Hipertensi dan Pembagian
Buku Kontrol Tekanan Darah bagi Penderita Hipertensi sebagai Upaya
Peningkatan Program Pencegahan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas
Bontomatene Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan Tahun 2017”.
Laporan ini merupakan proses pembelajaran, khususnya untuk menyelesaikan
Program Internsip Dokter Indonesia. Dengan adanya makalah laporan ini saya
mengharapkan dapat menjadi referensi dan menambah pengetahuan, baik bagi
pembaca dan bagi penulis.
Bila terdapat kekurangan dalam makalah ini, sangat diharapkan saran dan
kritikan pembaca agar selanjutnya menjadi lebih baik. Terima kasih.

Selayar, 21 Januari 2018

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL..........................................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN..................................................................................ii

KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..................................................................................................1


1.2 Tujuan...............................................................................................................3
1.3 Manfaat.............................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Definsi Hipertensi..........................................................................................5
2.1.2 Epidemiologi Hipertensi................................................................................6
2.1.3 Etiologi Hipertensi.........................................................................................6
2.1.4 Komplikasi Hipertensi................................................................................... 7
2.1.5 Evaluasi .........................................................................................................8
2.1.6 Penatalaksanaan.............................................................................................8
BAB III METODE KEGIATAN
3.1 Bentuk Kegiatan................................................................................................11
3.2 Lokasi dan Waktu Kegiatan..............................................................................11
3.3 Alur Kegiatan....................................................................................................12
BAB IV GAMBARAN UMUM KOMUNITAS SASARAN
4.1 Keadaan Geografis............................................................................................13
4.2 Kondisi Demografi............................................................................................14
4.3 Sarana Kesehatan .............................................................................................15
4.4 SDM Puskesmas Bontomatene ........................................................................16
4.5 Data Primer Penyakit Terbanyak .................................................................... 16
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan Pembahasan............................................................................................18
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ......................................................................................................19
6.2 Saran ................................................................................................................19
BAB VII DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka .......................................................................................................20
BAB VIII LAMPIRAN
Lampiran ...............................................................................................................21
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi secara umum dapat didefinisikan sebagai tekanan darah yang
meningkat secara kronis; di Indonesia, seperti dalam Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013 oleh Kementerian Kesehatan, kriteria yang digunakan adalah
JNC VII 2003, yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau
diastolik ≥ 90 mmHg.i Berdasarkan data dari Riskesdas 2013, prevalensi
hipertensi pada populasi ≥ 18 tahun di Indonesia adalah 25.8%, dimana terdapat
0.1% yang minum obat sendiri (tanpa diagnosis tenaga kesehatan). Ditemukan
juga 0.7% populasi yang mempunyai tekanan darah normal tetapi meminum obat
hipertensi.1

Hipertensi sering disebut sebagai silent killer, dimana tidak ada gejala
yang muncul sehingga tekanan darah yang tinggi sering tidak disadari oleh pasien
hingga muncul komplikasi. Di dunia, hipertensi diperkirakan menyebabkan 7.5
juta kematian, yang merupakan 12.8% dari seluruh kematian. Selain itu, hipertensi
menyebabkan 57 juta disability-adjusted-life-years (DALY), yang merupakan
3.7% dari seluruh DALY di dunia. Menurut Direktur Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, hipertensi dengan komplikasi merupakan penyebab kematian kelima
terbesar di Indonesia pada semua umur.2

Hipertensi tidak hanya menjadi beban medis, tetapi juga merupakan sebuah
beban pada ekonomi negara dan dunia. Sebuah studi oleh Eric Finkelstein
menemukan bahwa hipertensi menyebabkan beban ekonomi sebesar 1.36 miliar
rupiah pada tahun 2010, yang terdiri dari biaya dari pasien sendiri (out-of-pocket)
dan beban tidak langsung; jumlah ini menyebabkan hipertensi menjadi penyakit
tidak menular dengan beban ekonomi terbesar kedua di Indonesia setelah penyakit
jantung. Pada tahun 2020, jumlah ini diperkirakan akan meningkat 46.1% menjadi

1
1.99 miliar rupiah.3
Hipertensi berhubungan dengan faktor risiko yang beragam. Berdasarkan studi
yang menggunakan dari Riskesdas menemukan faktor risiko yang memiliki
hubungan bermakna dengan hipertensi di Indonesia antara lain adalah usia tua,
merokok, kurangnya perilaku hidup sehat seperti aktivitas fisik, rendahnya
pendidikan dan pengetahuan, dan obesitas.4 Faktor lain yang telah diidentifikasi
mempengaruhi hipertensi adalah akses ke layanan kesehatan5, akses jaminan
kesehatan6, dan keadaan ekonomi keluarga7. Berbagai penelitian telah
menunjukkan bahwa pendidikan dan literasi memiliki hubungan yang kuat dengan
kesadaran terhadap kesehatan. Analisis oleh Pandit et al menemukan literasi dan
pengetahuan mengenai kesehatan merupakan suatu faktor prediksi kontrol tekanan
darah.8 Di Indonesia, angka literasi masih mengkhawatirkan; Indonesia
menempati tempat ke-60 dari 61 negara yang dinilai literasinya dalam penelitian
oleh Central Connecticut State University, Amerika Serikat. 9 Rendahnya
pendidikan dan literasi dapat menjadi suatu penghambat dalam edukasi kesehatan,
yang dapat berkontribusi pada tingkat pengetahuan penyakit dan kontrol penyakit,
terutama penyakit tidak menular yang kronis.10 Berikutnya, faktor sosioekonomi
seperti akses jaminan kesehatan, akses ke layanan kesehatan, dan status ekonomi
juga perlu diperhatikan. Studi oleh Li di Amerika Serikat menemukan
peningkatan cakupan asuransi kesehatan nasional untuk orang dewasa dengan
hipertensi dapat meningkatkan treatment rate sebesar 5.1%, mengurangi kejadian
penyakit jantung koroner sebesar 111.000 kejadian, dan mengurangi kejadian
stroke sebesar 63.000 kejadian.6 Data dari The National Healthcare Quality
Reports tahun 2012 menemukan asuransi kesehatan adalah faktor terpenting
dalam akses kesehatan.5 Kesulitan masyarakat dalam mengakses layanan
kesehatan dapat menyebabkan menurunnya kepatuhan untuk kontrol ke dokter
dan mendapatkan pelayanan. Biaya transportasi yang tinggi untuk mengunjungi
fasilitas kesehatan berhubungan bermakna dengan apakah pasien tersebut
mengunjungi dokternya untuk kontrol rutin.5 Christiani melaporkan bahwa di
Indonesia, status ekonomi yang rendah memiliki hubungan yang signifikan
dengan risiko yang lebih tinggi untuk hipertensi. 7 Faktor-faktor di atas sangat
mungkin memiliki korelasi antara satu dan yang lain, seperti rendahnya status

2
ekonomi akan berkontribusi kepada rendahnya pendidikan, dan dengan
memperbaiki status pendidikan, status ekonomi masyarakat akan dapat diperbaiki
sehingga masyarakat lebih mampu menjaga kesehatan.7
Berdasarkan daftar 10 penyakit terbanyak UPTD Puskesmas Bontomatene
tahun 2016, hipertensi menduduki tingkat ke 3 penyakit terbanyak. Dan
berdasarkan wawancara dengan pasien pada saat pelayanan kesehatan di
Puskesmas didapatkan gambaran bahwa masih rendahnya tingkat kepatuhan
pasien dalam pengobatan hipertensi untuk mencapai tekanan darah yang
terkontrol. Dalam program puskesmas keliling didapatkan tidak adanya catatan
medis berkelanjutan setiap pasien, sehingga untuk mengetahui data tekanan darah
pasien sebelumnya sulit didapatkan oleh tenaga kesehatan. Oleh karena itu kami
melakukan sebuah mini project dengan tema hipertensi yang terdiri dari kegiatan
penyuluhan hipertensi serta pembagian buku kontrol tekanan darah yang
didalamnya terdapat edukasi serta kolom catatan tekanan darah dan pengobatan
yang didapat oleh pasien guna membantu memantau keterkontrolan tekanan darah
pasien.

1.2 Tujuan Kegiatan


Jangka Panjang
Terdapat program pemantauan tekanan darah yang berkelanjutan

Jangka Pendek
1. Masyarakat mengetahui bahayanya hipertensi jika tidak terkontrol dan
pentingnya kepatuhan dalam berobat hipertensi
2. Masyarakat bersedia mengikuti pemantauan dengan menggunakan
buku kontrol tekanan darah
3. Terdapat media cetak informasi mengenai hipertensi dan buku
pemantauan tekanan darah untuk masyarakat penderita hipertensi

1. 3 Manfaat Kegiatan
1. Penggunaan buku kontrol diharapkan dapat menjadi data acuan untuk
tenaga kesehatan dalam melakukan pengobatan kepada penderita
hipertensi yang berkelanjutan

3
2. Selama penggunaan buku kontrol, masyarakat khususnya penderita
semakin paham pentingnya pemantauan tekanan darah untuk mencapai
kondisi tekanan darah terkontrol
3. Sebagai bahan masukan bagi berbagai instansi atau pihak terkait lainnya
dalam mengaplikasikan tindakan pendidikan kesehatan berupa tindakan
preventif terhadap penyakit kardiovaskuler khususnya hipertensi.
4. Sebagai media pembelajaran dan pengalaman berharga bagi kami dokter
internship dalam rangka menambah wawasan pengetahuan serta
pengembangan diri khususnya dalam usaha kesehatan masyarakat

BAB II

4
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1 Definisi
Hipertensi adalah peningkatan persisten tekanan darah lebih dari atau sama
dengan 140/90 mmHg.11 Peningkatan bukanlah bersifat transien atau hanya karena
peningkatan diurnal dari tekanan darah normal sesuai sirkadian(pagi sampai siang
tekanan darah meningkat, malam hari tekanan darah menurun, tetapi masih dalam
variasi normal), melainkan peningkatan yang menetap minimal 2 kali
pemeriksaan dalam 2 kali kunjungan berbeda.11.12 Berdasarkan The Eight Report of
The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure (JNC-8), tekanan darah orang dewasa dibagi
sebagai berikut.13

Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah13

Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik


Normal <120 <80
Pre Hipertensi 120-139 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥160 ≥100

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua, yakni (1) hipertensi


primer atau disebut juga hipertensi esensial yakni hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya, dan (2) hipertensi sekunder yang didasari oleh penyakit tertentu.11

Apabila tekanan darah sistolik mencapai lebih dari 180 mmHg dan
tekanan darah diastolic mencapai lebih dari 120 mmHg, maka disebut dengan
keadaan krisis hipertensi. Krisis hipertensi dibagi menjadi dua berdasarkan ada
atau tidaknya kerusakan organ target, yakni hipertensi urgensi (tanpa kerusakan
organ target) dan hipertensi emergensi (dengan kerusakan organ target). Gangguan
organ target yang dimaksud antara lain adalah gangguan jantung, ginjal, mata, dan
neurologi. Krisis hipertensi termasuk dalam kondisi kegawatdaruratan medis dan
membutuhkan penatalaksanaan segera.14

5
2.1.2 Epidemiologi
Berdasarkan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI atau
IFLS) yang ke 4 pada tahun 2007-2008, dari sejumlah 9755 responden didapatkan
prevalensi hipertensi sebanyak 47,8%, dengan 70% diantaranya tidak
terdiagnosis. Prevalensinya lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki,
dengan perbandingan 52,3% dan 43,1%. Pada studi tersebut juga dinyatakan
bahwa prevalensi hipertensi dan tingginya tekanan darah pada pengukuran
semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Didapatkan angka
hipertensi pada individu yang tinggal di perkotaan lebih tinggi dibandingkan
pedesaan (49,8% dibandingkan dengan 46,4%). Di negara dengan pendapatan
menengah kebawah ditemukan bahwa kewaspadaan dan kepedulian terhadap
tekanan darah di masyarakat hanya sekitar 37%. Hampir 50% dari penduduk
berusia 40 tahun ke atas di Indonesia memiliki hipertensi. Pada populasi yang
telah terdiagnosis dan menjalani pengobatan, presentase hipertensi yang terkontrol
masih rendah, berkisar pada angka 25-40%.15

2.1.3 Etiologi
Penyakit hipertensi adalah penyakit multifaktorial yang timbul karena interaksi
faktor-faktor tertentu seperti di bawah ini.11
a. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti diet, asupan garam, obesitas,
stress, merokok; faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti ras dan
genetik.
b. Sistem saraf simpatis
c. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi
d. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin,
angiotensin dan aldosteron.

6
Gambar 1. Faktor-faktor yang berpengaruh pada pengendalian tekanan darah1

2.1.4 Komplikasi
Hipertensi dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi baik akibat
langsung maupun tidak langsung antara lain adanya autoantibodi terhadap
reseptor AT1, angiotensin II, stress oksidatif, down regulation dari ekspresi nitrit
oxide synthase, dll. Komplikasinya yakni kerusakan organ target sebagai berikut.11
a. Otak: stroke, transient ischemic attack
b. Jantung: hipertrofi ventrikel kiri,angina atau infark miokardium, gagal
jantung
c. Penyakit ginjal kronis
d. Penyakit arteri perifer
e. Retinopati

2.1.5 Evaluasi
Evaluasi bertujuan untuk menilai pola hidup dan identifikasi faktor-faktor
kardiovaskular lainnya atau menilai adanya penyakit penyerta yang
mempengaruhi prognosis dan menentukan pengobatan, mencari penyebab

7
kenaikan tekanan darah, dan menentukan ada tidaknya kerusakan organ target dan
penyakit kardiovaskular. Evaluasi pasien hipertensi dengan melakukan anamnesis
tentang keluhan pasien, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu dan
penyakit keluarga, pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang.11

2.1.6 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan pasien hipertensi adalah sebagai berikut.11

 Target tekanan darah <140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi (diabetes,
gagal ginjal proteinuria) <130/80 mmHg
 Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular
 Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria

Penatalaksanaan hipertensi terdiri dari terapi farmakologis dan


nonfarmakologis. Terapi nonfarmakologis sebagai berikut.11-13

 Menghentikan merokok
 Menurunkan berat badan berlebih
 Menurunkan konsumsi alkohol berlebih
 Latihan fisik
 Menurunkan asupan garam
 Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak

Penatalaksanaan farmakologis diberikan tergantung dari derajat hipertensi


pasien. Berikut tabel penatalaksanaan sesuai ESH/ESC Guidelines for the
management of arterial hypertension.

Tabel 2. Penatalaksanaan Hipertensi

8
Penatalaksanaan krisis hipertensi membutuhkan pendekatan yang lebih
agresif namun perlahan dibandingkan dengan penatalaksanaan hipertensi
umumnya. Penurunan tekanan darah yang diharapkan adalah penurunan secara
perlahan hingga 160/100 mmHg lalu dilanjutkan hingga ke batas normal dalam
beberapa hari dengan meneruskan pengobatan yang diresepkan, dan dapat
dilakukan pada seting poliklinik. Untuk hipertensi urgensi dapat digunakan
regimen antihipertensi oral dengan pemantauan tekanan darah selama 12 hingga
48 jam. Terapi antihipertensi oral pilihan yang digunakan antara lain adalah
labetolol, klonidin, dan kaptopril. Hindari penggunaan obat antihipertensi oral
dosis tinggi dan juga penggunaan antihipertensi parenteral yang terlalu agresif,
sebab dapat menyebabkan hipoperfusi pada otak, jantung, mata dan ginjal yang
dapat menyebabkan iskemia.

Sedangkan untuk penatalaksanaan hipertensi emergensi harus segera


dipantau secara intensif misalnya di instalasi gawat darurat, dengan menggunakan
obat antihipertensi parenteral dengan titrasi dan pemantauan ketat terhadap
tekanan darah seiring dengan pemberian antihipertensi parenteral. Sama dengan

9
hipertensi urgensi, target penurunan tekanan darah bukanlah batas normal tekanan
darah, melainkan penurunan secara efisien dalam hitungan menit hingga jam
menuju kurang dari 20-25% pada jam pertama dan dilanjutkan hingga 160/110
mmHg pada jam ke 2-6 apabila keadaan pasien stabil, dan penurunan hingga batas
normal pada 24-48 jam berikutnya. Agen antihipertensi parenteral yang dapat
digunakan adalah golongan antihipertensi dengan kerja cepat, antara lain labetalol,
esmolol, fenoldopam, clevidipine, nitroprusida (dengan waspada), dan
nikardipin.14

BAB III

10
METODE KEGIATAN

3.1 Bentuk Kegiatan


Kegiatan Mini Project ini meliputi penyuluhan kesehatan mengenai hipertensi
menggunakan media poster, pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan
kesehatan lainnya yang dilakukan bersamaan dengan puskesmas keliling.
Masyarakat yang mempunyai riwayat dan yang baru terdeteksi sebagai
pederita Hipertensi di lingkup Puskesmas Bontomatene Kabupaten
Kepulauan Selayar di berikan buku kontrol tekanan darah. Buku kontrol
tekanan darah ini tidak hanya berisi kolom catatan tekanan darah pasien
berserta obat yang didapatkannya tapi juga berisikan konten edukasi dan
upaya preventif bagi pasien penderita hipertensi. Pada tahap awal ini kami
melakukan edukasi melalui penyuluhan, dialog interaktif serta pembagian
media informasi berupa poster untuk di pajang di beberapa tempat strategis.
Untuk tahapan selajutnya pasien yang telah mendapatkan buku kontrol di
sarankan untuk memeriksakan tekanan darahnya secara rutin baik di
Puskesmas atau pun di Puskesmas keliling atau di tempat pelayanan
kesehatan lainnya dengan menggunakan buku krontrol ini untuk mengetahui
tekanan darah pasien berkala, efektifitas pengobatan dan perkembagan
penyakit hipertensi pada pasien.

3.2 Lokasi dan Waktu Kegiatan


Mini Project ini dilakukan pada bulan November – Desember 2017 di
semua lokasi puskesmas pembantu yang masuk dalam lingkup kerja Puskesmas
Bontomatene yang terdiri dari : Desa Barat Lambongan, Maharraya, Onto,
Batangmata Sapo, Tamalanrea, Bontona Saluk. Kegiatan ini di laksanankan
bersamaan dengan program puskesmas keliling agar efektifitas, efisiensi waktu
serta cakupan program pelayanan ini bisa maksimal pada masyarakat. Pustu, aula
desa, masjid menjadi tempat kegiatan ini dipilih karena faktor kemudahan
masyarakat untuk menjangkau tempat tersebut.

Pengumpulan data primer dan data


3.3 Alur Kegiatan sekunder mengenai masalah kesehatan
yang membutuhkan intervensi
tambahan diluar program Puskesmas
yang sudah ada
11
Perumusan intervensi yang dapat dilakukan dan konsultasi
dengan pembimbing internsip di Puskesmas
Puskemaskesehatanperangkat desa

Pelaksanaan kegiatan

Penyuluhan tentang Pemeriksaan kesehatan


penyakit hipertensi

Screening penyakit hipertensi


Dialog dan Tanya jawab

Penegakan diangnosa dan


Pembagian poster terapi

Pembagian buku kontrol bagi


penderita hipertensi

Edukasi

BAB IV

12
GAMBARAN UMUM KOMUNITAS SASARAN KEGIATAN

4.1 Keadaan Geografis

Puskemas Bontomatene merupakan salah satu dari dua Puskesmas


dalam wilayah kecamatan Bontomatene dan merupakan unit pelaksana teknis
Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar. Puskesmas Bontomatene
berdiri sejak tahun 1975. Puskesmas Bontomatene terletak di ibu kota
kecamatan dengan wilayah kerja meliputi 5 desa dan 2 kelurahan.

Rata-rata waktu tempuh masyarakat ke Puskesmas Bontomatene: 0,05


jam terdekat dan terjauh 0,5 jam. Adapun letak batas - batas wilayah kerja
Puskesmas Bontomatene adalah sebagai berikut:

 Sebelah utara berbatasan dengan Desa Bungaiya, Desa Kayu Bau


 Sebelah timur berbatasan dengan Laut Flores
 Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Buki
 Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar

Luas wilayah kerja Puskesmas Bontomatene seluruhnya dapat dilihat pada


tabel berikut :

NO KELURAHAN LUAS (KHa)

1. Batangmata 12,52

2. Tamalanrea 9,21

3. Onto 12,35

4. Bontona Saluk 11,40

5. Bantangmata sapo 12,45

6. Maharayya 13,25

7. Barat Lambongan 5,75

Tabel 4.1. Luas wilayah kerja Puskesmas Bontomatene

4.2 Kondisi Demografi

Data yang bisa ditampilkan untuk melihat keadaan demografi


wilayah Puskesmas Bontomatene adalah :

13
a. Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk disini adalah jumlah orang yang menempati suatu


wilayah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Kepadatan penduduk didasarkan
padada jumlah penduduk dan luas wilayah. Jumlah penduduk wialayh kerja
puskesmas Bontomatene adalah 7471 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3566
jiwa dan perempuan 3895 jiwa. Kepadatan penduduk dapat dilihat dari
berbagai indikator diantaranya : distribusi penduduk menurut jenis kelamin,
pekerjaan, dan keompok umur. Dari hal-hal di atas dapat terlihat bahwa
kepadatan penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bontomatene,
Seperti diuraikan berikut ini :

1. Distribusi penduduk berdasarkan Jenis Kelamin

Distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan banyaknya KK di wilayah kerja


UPTD Puskesmas Bontomatene Tahun 2016

JUMLAH PER JENIS KELAMIN


JUMLAH
NO. KELURAHAN LAKI – TOTAL
PEREMPUAN KK
LAKI

1. Batangmata 654 703 1357 424

2. Tamalanrea 370 399 769 231

3. Onto 454 518 972 280

4. Bontona Saluk 698 835 1533 483

Bantangmata
5. 498 530 1028 295
sapo

6. Maharayya 408 387 795 220

Barat
7. 484 523 1007 274
Lambongan

Jumlah 3566 3895 7471 2244


Tabel 4.2 Sumber : Pendataan Tahun 2016

2. Distribusi penduduk menurut pekerjaan

14
Penduduk di wilayah kerja UPTD Puskemas Bontomatene yang banyak
7471 jiwa yang tersebar di 7 (tujuh) Desa / Kelurahan dengan kepadatan
yang berbeda-beda sebagian besar bermata pencaharian sebagai pegawai
negeri, pedagang, petani, peternak, nelayan, pertukangan, buruh harian,
dll.

4.3 Sarana Kesehatan

Data Sarana fisik yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bontomatene
semuanya dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat. UPTD Puskemas
Bontomatene dalam Bontomatene dalam melaksanakan kegiatan baik
promotif, preventif, dan rehabilitatif ditunjang oleh sarana- sarana pelayanan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 4.3 Data Sarana Pelayanan Kesehatan

No. Desa / Kelurahan Puskesmas Pustu Poskesdes Polindes Posyandu


1. Batangmata 1 - - - 2
2. Batangmata Sapo - 1 1 - 3
3. Tamalanrea - 1 - - 2
4. Onto - 1 1 - 3
5. Bontona Saluk - 1 - - 6
6. Barat Lamongan - - - 1 3
7. Maharayya - - 1 - 2
Jumlah 1 4 3 1 21
Tahun 2016 Di wilayah Kerja UPTD Puskesmas Bontomatene

4.4 Sumber Daya Manusia Di Puskesmas Bontomatene

Jumlah Sumber daya manusia ataupun tenaga kesehatan yang terdapat


di Puskesmas Bontomatene hingga tahun 2016 adalah sebanyak 72 orang
dengan berbagai spesifikasi dan disiplin pendidikan, yang terdiri dari :

15
Kualifikasi Jumlah Tenaga
Kepala Puskesmas 1
Dokter umum 1
Dokter gigi 1
Perawat gigi 1
Perawat 19
Bidan 29
Farmasi 1
Petugas Gizi 2
Sanitarian 3
Promkes 1
Laboratorium 2
Tenaga Administrasi 7
Loket 1
Cleaning Service 1
Sopir 2
Jumlah 72
Tabel 4.4 Sumber Daya Manusia Di UPTD Puskesmas Bontomatene

4.5 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)

Tabel 4.5 Daftar 10 penyakit terbanyak UPTD Puskesmas Bontomatene


tahun 2016

No. Nama Penyakit Jumlah


1. RA 1902
2. ISPA 1802
3. Hipertensi 1687
4. Dyspepsia 1201
5. DM 765
6. Common Cold 603
7. Cephalgia 594
8. Dermatitis Kontak Alergi 522
9. Febris 310
10. ILI 241

16
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Mini project ini berhasil melakukan penyuluhan kesehatan mengenai


hipertensi di 6 Desa yang termasuk lingkup kerja Puskesmas Bontomatene

17
yaitu : Desa Barat Lambongan, Maharraya, Onto, Batangmata Sapo,
Tamalanrea, Bontona Saluk. Selama kegiatan penyuluhan berlangsung,
antusiasme masyarakat cukup tinggi yang ditandai dengan keaktifan para
peserta terutama pada sesi tanya – jawab seusai materi dipaparkan.
Penggunaan media berupa poster membantu memudahkan peserta memahami
materi yang disampaikan yaitu mengenai hipertensi.

Buku kontrol yang di berikan pada penderita hipertensi sebanyak 50


yang tersebar di 6 desa. Dengan adanya buku kontrol ini di harapkan agar
digunakan pasien setiap kali datang ke pusat layanana kesehatan, agar tenaga
kesehatan dapat melihat perjalanan penyakit pasien, efektifitas pengobatan
serta menjadi bacaan edukasi tentang penyakit hipertensi

Hasil dari kegiatan ini dilampirkan dalam bentuk bukti visual


pelaksanaan kegiatan (lampiran). Program ini merupakan program
berkelanjutan maka dari itu peran serta masyarakat saja tidak cukup, harus di
barengi kegigihan tenaga kesehatan yang berada di barisan terdepan dalam
upaya kesehatan masyarakat, sehingga program ini akan kita jumpai
kebermanfaatannya di tahun-tahun yang akan datang.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

18
Kegiatan Mini Project tentang penyakit hipertensi ini mendapatkan
perhatian yang cukup tinggi dari masyarakat dan dukungan dari
Puskesmas Bontomatene. Penyuluhan yang dilaksanakan sebagai
rangkaian dari kegiatan puskesmas keliling menjadi sarana yang sangat
baik bagi para peserta untuk memperoleh informasi dan mengemukakan
pertanyaan seputar materi terkait. Pembagian poster dan buku kontrol
diharapkan dapat menjadi media promosi kesehatan upaya meningkatkan
program pencegahan hipertensi di Puskesmas Bontomatene dan guna
menyukseskan program pemerintah menuju Indonesia sehat

6.2 Saran
- Kegiatan penyuluhan seperti ini diharapkan untuk dapat dilaksanakan
secara berkala dan lebih terintegrasi dengan cakupan sasaran lebih luas
agar seluruh lapisan masyarakat dapat menjangkau informasi terkait
penyakit hipertensi
- Media promosi cetak seperti poster, leaflet, spanduk, flipchart dan
sebagainya agar diadakan dan disebarkan secara merata sebagai bentuk
promosi kesehatan
- Pemanfaatan buku kontrol yang sudah disebarkan kepada penderita
hipertensi dapat terus berjalan serta diharapkan program buku kontrol ini
dapat dikembangkan sehingga dapat mencakup seluruh penderita
hipertensi yang masuk ruang lingkup kerja Puskesmas Bontomatene.

BAB VII

DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan


RI. Riset kesehatan dasar 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2013.
2. World Health Organization. Global health observatory data: raised blood
pressure.http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalen
ce_text/en/
3. Finkelsten E, Chay J, Bajpaj S. The economic burden of self-reported and

19
undiagnosed cardiovascular diseases and diabetes on indonesian household.
PLoS One 2014; 9(6): e99572.
4. Ekowati R, Tuminah S. Prevalensi hipertensi dan determinannya di
Indonesia. Maj Kedokt Indon. 2009;59(12):580-7.
5. Fang J, Yang Q, Ayala C, Loustalot F. Disparities in access to care among
US adults with self-reported hypertension. Am J Hypertens.
2014;27(11):1377-86.
6. Li S, Bruen BK, Lantz PM, Mendez D. Impact of health insurance
expansions on nonelderly adults with hypertension. Prev Chronic Dis.
2015;12:E105.
7. Christiani Y, Byles JE, Tavener M, Dugdale P. Assessing socioeconomic
inequalities of hypertension among women in Indonesia’s major cities. J
Hum Hypertens. 2015;29(11):683-8.
8. Pandit A, Tang J, Bailey S, et al. Education, literacy and health: mediating
effects on hypertension knowledge and control. Patient Educ Couns 2009;
75(3): 381–5.
9. Central connecticut State University. World’s most literate nations ranked.
http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data (accessed 10 September 2016).
10. Education Policy and Data Center. Indonesia core USAID education
profile.
https://www.epdc.org/sites/default/files/documents/Indonesia_coreusaid.pdf
(accessed 10 September 2017).
11. Yogiantoro M. Hipertensi Esensial. Edisi ke-1. Jakarta: Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016.
12. Mancia G, Fagard R, Narkiewicz K. 2013 ESH/ESC Guidelines for the
management of arterial hypertension. Eur Heart J 2013; 34: 2159–219.
13. James P, Oparil S, Carter B. 2014 Evidence-Based Guideline for the
management of high blood pressure in adults report from the panel
members appointed to the eigth joint national committee (JNC 8). JAMA.
14. Rodriguez M, Kumar S, De Caro M. Hypertensive Crisis. Cardiol Rev
2010; 18(2): 102–7.
15. Hussain M, Mamun A, Huxley R. Prevalance, awareness, treatment and
control of hypertension in indonesian adults aged > 40 years: finding from
the indonesia family life survey. PLoS One; 11(8): e0160922.
16. Egan B, Lackland D, Cutler N. Awareness, knowledge and attitudes of
older americans about high blood pressure implications for health care
policy, education and research. Arch Intern Med 2003; 163(6): 681–7.

BAB VIII

LAMPIRAN

20
21
i