Anda di halaman 1dari 27

Alika Rizki (1102015017)

LI I. MM Masalah Gizi Lebih dan Gizi Buruk pada Anak

Menurut Unicef pada BBC Indonesia (31 Maret 2016), Anak yang mengalami
hambatan pertumbuhan pada usia dini berisiko lebih besar untuk mengalami
kelebihan berat badan dikemudian hari.

Faktor yang mempengaruhi status gizi lebih pada balita adalah karakteristik ibu
(umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan tempat tinggal), berat badan lahir
besar (makrosomia), keturunan obesitas,pemberian susu formula, pola makan balita,
perilaku pemberian makan oleh orang tua, pengetahuan ibu, dan persepsi
ibu.Dampak gizi lebih menimbulkan kelainan bentuk dan ukuran tulang,
ketidakseimbangan,maupun rasa nyeri ketika berdiri, berjalan, maupun berlari,
selain itu anak yang mengalami obesitas kurang percaya diri dan depresi.

Risiko kelebihan berat badan, juga dipicu oleh banyaknya anak mengonsumsi
'makanan tak bergizi atau ‘junk food’ dan minuman cepat saji. Selain itu juga dengan
melakukan kegiatan dengan pengeluaran energi yang rendah dan pola asuh yang
salah.

 Fast food.
Dapat berperan dalam peningkatan berat badan.Produk fast food seringkali
mengandung gula, lemak serta porsi yang tinggi, selain itu juga palatabilitas
(derajat kesukaan terhadap makanan) dan konsentrasi energi yang tinggi.
Karena alasan ini tidaklah mengherankan bahwa mengonsumsi fast food
telah dihubungkan dengan meningkatnya resiko peningkatan berat badan
dan rendahnya kualitas diet pada anak, remaja, dan orang dewasa. (Schroder
et al., 2007). Hal ini juga dipengaruhi dari banyak nya program tv yang
menayangkan tentang makanan cepat saji. Kelompok peneliti Universitas
Limerick Irlandia telah menonton berjam-jam acara TV BBC dan TV
pemerintah Irlandia RTE. Mereka menemukan 48% dari gambar makanan
yang muncul adalah tentang makanan yang tidak sehat seperti coklat dan
permen, sementara minuman berkadar gula muncul dalam 25% gambar
minuman.

 Mie Instan
Cina mengonsumsi 44 miliar unit mie instan setiap tahun, disusul Indonesia
dengan 14,5 miliar bungkus. Sehingga Indonesia menjadi negara peringkat 2
yang mengkonsumsi Mie instan.

 Sedentary Behaviour.
Sedentary behavior merupakan kegiatan dengan pengeluaran energi pada
tingkat 1.0-1.5 metabolic equivalent units (METs) (Pate et al., 2008).
Sedentary behaviour mengacu pada aktivitas yang tidak meningkatkan
pengeluaran energi secara substansial di atas keadaan istirahat, mencakup
kegiatan seperti tidur, duduk, berbaring dan menonton televisi maupun
bentuk hiburan berbasis layar lainnya. Terlalu banyak duduk (Sedentary
behaviour) dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbahaya seperti

1
Alika Rizki (1102015017)

obesitas, atherosklerosis, fraktur karena usia, serta diabetes (Zhu et al.,


2017). Aktivitas fisik dan gaya hidup tidak aktif atau kurang bergerak,
memberi kontribusi signifikan terhadap meningkatnya prevalensi penyakit
kronis seperti diabetes dan kondisi jantung.

 Pola asuh yang salah


Seperti orang tua jarang mengakui bahwa bobot tubuh anak mereka
sejatinya sudah melampaui batas normal. Padahal, kondisi tersebut punya
dampak yang membahayakan bagi kesehatan. Dalam kajian yang dilansir
British Journal of General Practice, sebanyak 2.976 keluarga di Inggris
ditanyai mengenai bobot tubuh anak mereka. Dari jumlah tersebut, hanya
empat orang tua yang mengira anak mereka kelebihan berat badan.

Gizi lebih diketahui dengan cara melakukan pengukuran secara langsung


menggunakan indeks antropometri berat badan (BB) menurut umur (U). Indeks
antropometri menggunakan data baku WHO-NCHS indeks BB/U, yang disajikan
dengan skor simpang baku (Standard deviation score= z) (Supariasa, 2002).

Faktor penyebab gizi buruk dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu penyebab


langsung dan penyebab tidak langsung.
 Penyebab langsung gizi buruk meliputi kurangnya jumlah dan kualitas
makanan yang dikonsumsi dan menderita penyakit infeksi
 Penyebab tidak langsung gizi buruk yaitu ketersediaan pangan rumah tangga,
kemiskinan, pola asuh yang kurang memadai dan pendidikan yang rendah
(Departemen Gizi dan Matematika Univ. Diponegoro,2013).

Selain itu Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) juga merupakan faktor yang
dapat berpengaruh terhadap kejadian gizi buruk. Hal ini dikarenakan bayi yang
mengalami BBLR akan mengalami komplikasi penyakit karena kurang matangnya
organ, menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan gizi saat balita

Menurut dr Saptawati Bardosono, Msc, spesialis gizi klinik dan dosen Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak
menderita gizi buruk, antara lain:

 Ekonomi
Salah satu faktor yang paling dialami oleh banyak keluarga di Indonesia
adalah masalah ekonomi yang rendah. Ekonomi yang sulit, pekerjaan, dan
penghasilan yang tak mencukupi, dan mahalnya harga bahan makanan
membuat orangtua mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi
anak. Padahal, usia 1-3 tahun merupakan masa kritis bagi anak untuk
mengalami masalah gizi buruk.

 Sanitasi
Kondisi rumah dengan sanitasi yang kurang baik akan membuat kesehatan
penghuni rumah, khususnya anak-anak, akan terganggu. Sanitasi yang buruk
juga akan mencemari berbagai bahan makanan yang akan dimasak.

2
Alika Rizki (1102015017)

 Pendidikan Orangtua seharusnya menyadari pentingnya memenuhi


kebutuhan akan kecukupan gizi anak. Namun tingkat pendidikan yang rendah
membuat orangtua tidak mampu menyediakan asupan yang bergizi bagi
anak-anak mereka. "Ibu merupakan kunci dari pemenuhan gizi anak-anak,
dan kunci untuk mengatasi gizi buruk," kata Saptawati. Ketidaktahuan akan
manfaat pemberian gizi yang cukup pada anak akan membuat orangtua
cenderung menganggap gizi bukan hal yang penting.

 Perilaku orangtua Orangtua sering mengganggap bahwa mereka tahu segala


sesuatu, sehingga tidak menyadari bahwa mereka masih membutuhkan
bimbingan dari para ahli medis dalam mengatasi masalah gizi dan kesehatan.
"Ada persepsi yang salah dari para orangtua ketika mereka datang ke
posyandu. Seringkali mereka malas datang karena takut diceramahi dan
dimarahi dokter tentang masalah gizi," ujarnya. Perilaku orangtua yang
seperti ini membuat anak akan terus berada dalam kondisi gizi buruk dan
menyebabkan anak menjadi sering sakit. (Kompas,2012).

Status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang dapat menghambat
pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berpikir. Balita yang menderita gizi
buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga sepuluh persen. Dampak
paling buruk dari gizi buruk yaitu kematian pada umur yang sangat dini. (Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 2017).

Pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) bertujuan memelihara dan


meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, jugs kegiatan yang bersifat
kuratif dan rehabilitatif. Upaya kesehatan wajib di puskesmas yaitu promosi
kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga
berencana, perbaikan gizi dan pemberantasan penyakit menular.

Sedangkan kegiatan penanggulangan balita gizi buruk di puskesmas meliputi :

 Penjaringan balita KEP (Kurang Energi Protein) yaitu kegiatan penentuan ulang
status gizi balita berdasarkan berat badan dan perhitungan umur balita yang
sebenarnya dalam hitungan bulan pada saat itu dengan cara penjaringan yaitu
balita dihitung kembali umurnya dengan tepat dalam hitungan bulan, balita
ditimbang berat badannya dengan menggunakan timbangan dacin, berdasarkan
hasil perhitungan umur dan hasil pengukuran BB tersebut tentukan status gizi
dengan KMS atau standar antropometri.
 Kegiatan penanganan KEP meliputi program PMT (Pemberian Makanan
Tambahan) yaitu upaya intervensi bagi balita yang menderita KEP untuk
mencukupi kebutuhan zat gizi balita agar meningkat status gizinya sampai
mencapai gizi baik (pita hijau dalam KMS), pemeriksaan dan pengobatan yaitu
pemeriksaan dan pengobatan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit
penyerta guna diobati seperlunya sehingga balita KEP tidak semakin berat
kondisinya.

3
Alika Rizki (1102015017)

Terkait masalah gizi ini, asuhan keperawatan bertujuan memberikan bimbingan


kepada keluarga balita KEP agar mampu merawat balita KEP sehingga dapat
mencapai status gizi yang baik melalui kunjungan rumah dengan kesepakatan
keluarga agar bisa dilaksanakan secara berkala, suplementasi gizi untuk jangka
pendek. Suplementasi gizi meliputi: pemberian sirup zat besi; vitamin A (berwarna
biru untuk bayi usia 6-1 1 bulan dosis 100.000 IU dan berwarna merah untuk balita
usia 12-59 bulan dosis 200.000 IU); kapsul minyak beryodium, adalah larutan yodium
dalam minyak berkapsul lunak, mengandung 200 mg yodium diberikan 1x dalam
setahun.

Pelayanan rutin yang dilakukan di puskesmas berupa 10 langkah penting yaitu:1)


Mengatasi dan mencegah hipoglikemia, 2) Mengatasi dan mencegah hipotermia, 3)
Mengatasi dan mencegah dehidrasi, 4) Mengoreksi gangguan keseimbangan
elektrolit, 5) mengobatai atau mencegah infeksi, 6) memulai pemberian makanan, 7)
Fasilitasi tumbuh kejar (catch up growth), 8) koreksi defisiensi nutrien mikro, 9)
melakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental, 10) siapkan dan
rencanakan tindak lanjut setelah sembuh. Dalam proses pelayanan KEP berat atau
gizi buruk terdapat tiga fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.
Petugas dituntut terampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase.
(Indonesian Public Health, 2016).

LI II. MM Gaya Hidup pada Anak yang Tidak Mencerminkan Perilaku Tidak Sehat

Perilaku sehat yang diajarkan sejak dini akan membentuk pola hidup sehat di
kemudian hari. Anak akan terbiasa dengan perilaku sehat yang tidak mudah hilang
pada tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila anak telah memiliki pola hidup
sehat, maka mereka akan:
 Terbebas dari serangan berbagai macam penyakit yang sering terjadi pada
anak, seperti diare, demam, batuk/ pilek, campak. TBC, infeksi telinga, dan
penyakit kulit.
 Terlindungi dari potensi kecelakaan yang selalu ada di lingkungan sekitar
mereka, seperti terjatuh, tenggelam, keracunan, tertusuk benda tajam atau
duri.

4
Alika Rizki (1102015017)

 Berbagai kemampuan yang dimiliki anak akan tergali dan dapat


dikembangkan dengan baik, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang
optimal.

Kelompok anak usia 2—4 tahun memiliki kemampuan belajar yang sangat cepat.
Anak belajar dari bagaimana orang dewasa memperlakukan mereka. Jika ibu-ayah
membiasakan perilaku sehat sejak dini, maka anak pun akan terbiasa dengan
perilaku sehat tersebut.

1. Menjaga Kebersihan Lingkungan


Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat kerja atau
bermain, dan sarana umum. Kegiatan paling sederhana yang dapat dilakukan
anak adalah membuang sampah pada tempatnya; meletakkan sepatu pada
tempatnya; meletakkan peralatan makan yang kotor pada tempatnya;
menggunakan alas kaki jika hendak keluar rumah; menutup mulut pada saat
batuk dan bersin; menjauhi asap rokok, asap dapur, asap pembakaran
sampah, asap kendaraan bermotor; membersihkan mainan; serta buang air
besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) di WC.

2. Menjaga Kebersihan Diri


Kebersihan diri adalah kebersihan anggota tubuh dan pakaian.Seperti :
a. Mandi
Kegiatan mandi dilakukan minimal 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan
sore.
b. Kebersihan Telinga
Bersihkan telinga bagian luar setiap hari dengan menggunakan waslap
pada saat mandi. Jangan lupa membersihkan bagian belakang telinga.
Hindari membersihkan lubang telinga bagian dalam karena dapat
membahayakan. Sesungguhnya kotoran telinga dapat keluar dengan
sendirinya ketika kita mengunyah makanan.
c. Perawatan Gigi
Gosok gigi secara teratur 2 kali sehari, pada pagi dan malam sebelum
tidur.
d. Mencuci Tangan
Kuman dan virus dapat bertahan hidup hingga 2 jam diatas permukaan
kulit, meja, gagang pintu, mainan, dan lainlain.Kebersihan tangan yang
tidak terpelihara dengan baik dapat menyebabkan penyakit seperti diare,
batuk, pilek, dan demam. Agar kebersihan tangan tetap terjaga, anak
sebaiknya diajarkan mencuci tangan setiap kali setelah ke WC, bermain,
dan berpergian, juga sebelum makan.
e. Kebersihan Kaki
Kebersihan kaki dapat dipelihara dengan membiasakan mencuci kaki
setiap kali usai bepergian, sehabis mengenakan sepatu berlama-lama,
ketika hendak naik ke tempat tidur atau saat akan berangkat tidur.

5
Alika Rizki (1102015017)

f. Ganti Baju
Ajari anak mengganti baju yang sudah dipakai saat keluar rumah. Begitu
pun baju yang sudah dipakai seharian. Meski tampaknya tidak kotor
tetapi di situ banyak sekali debu,keringat, dan kotoran yang menempel.
g. Kebutuhan Gizi
Kebiasaan makan terbina pada usia 2—3 tahun. Hal-hal yang harus
diperhatikan :
 Biasakan anak (juga seluruh anggota keluarga) setiap hari
mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terdiri atas makanan
pokok (nasi, mi, bihun), lauk (daging, ikan, ayam, tahu, tempe),
sayuran, dan buah.
 Tidak memaksa anak untuk makan, tetapi jadikanlah waktu makan
sebagai saat yang menyenangkan.
 Perhatikan cara penyajian makanan. Jangan langsung diberikan
makanan dalam porsi besar, lebih baik sedikit dulu sehingga nanti
ia minta tambah.
 Bagi anak, yang penting bukanlah jumlah yang dimakan,
melainkan apa yang akan dia makan.
 Anak-anak menyukai makanan yang disajikan dalam piring atau
mangkok, dengan sendok yang sama setiap kali makan.
 Selera dan pilihan makanan anak tidak menentu. Anak mungkin
mau makan makanan yang sama selama 3 hari berturut, setelah
itu dia tidak mau memakannya lagi.
h. Kebutuhan Tidur dan Beraktivitas
Seiring dengan bertambahnya usia, kebutuhan tidur seseorang semakin
berkurang. Jika sewaktu bayi, sebagian besar waktu anak dihabiskan
dengan tidur, maka sekarang tidak lagi. Malah, setelah usia 3 tahun,
kebanyakan anak tidak lagi tidur siang. Adanya perubahan kebutuhan
tidur ini disebabkan anak telah “berubah” menjadi sosok yang sangat
aktif. Ini terjadi karena anak tengah mengembangkan seluruh
kemampuan yang ada di dalam dirinya, termasuk memuaskan
rasa ingin tahunya yang besar.

3. Mencegah Kecelakaan
Kecelakaan menyebabkan lebih banyak kematian pada anak usia 1-4 tahun.
Faktor utama meningkatnya kecelakaan pada anak adalah perkembangan
pergerakan yang cepat dan tidak disadarinya bahaya dalam lingkungan.
Kecelakaan yang sering terjadi pada anak adalah jatuh, tenggelam, tertelan
benda asing, luka bakar dan tertusuk duri tanaman atau benda tajam. Agar
anak terhindar dari kecelakaan, ibu ayah harus melindungi anak dari bahan
dan benda berbahaya seperti obat-obatan, sabun, detergen, minyak tanah,
racun serangga, mercon, pisau, colokkan listrik, kabel, kompor, setrikaan,
termos air panas, dan lainnya. Hindari anak bermain dekat sumur, kolam,
sungai, dan jalan raya. Minta anak menggunakan alas kaki pada saat keluar
rumah.

(Kementrian Pendidikan Nasional, 2011)

6
Alika Rizki (1102015017)

LI III. MM KLB dan Wabah penyakit berdasarkan Morbilitas & Mortalitas

Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB) :


 Kep. Dirjen PPM&PLP No.451-I/PD.03.04/1991 Pedoman Penyelidikan
Epidemiologi dan Penanggulangan KLB - Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah
timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara
epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.

 UU : 4 Tahun 1984 - kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau


meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara
epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Klasifikasi

o Menurut deskripsi

 Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu.


Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah (lamanya KLB
berlangsung), yang digambarkan dalam suatu kurva epidemik.
Kurva epidemik adalah suatu grafik yang menggambarkan frekuensi kasus
berdasarkan saat mulai sakit (onset of illness) selama periode wabah. Kurva ini
digambarkan dengan axs horizontal adalah saat mulainya sakit dan sebagai axis
vertikal adalah jumlah kasus.
Kurva epidemik dapat digunakan untuk tujuan :
a. Menentukan / memprakirakan sumber atau cara penularan penyakit dengan
melihat tipe kurva epidemik tersebut (common source atau propagated).
b. Mengidentifikasikan waktu paparan atau pencarian kasus awal (index case).
Dengan cara menghitung berdasarkan masa inkubasi rata-rata atau masa
inkubasi maksimum dan minimum.

 Deskripsi Kasus Berdasarkan Tempat


Tujuan menyusun distribusi kasus berdasarkan tempat adalah untuk mendapatkan
petunjuk populasi yang rentan kaitannya dengan tempat (tempat tinggal, tempat
pekerjaan). Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber
penularan. Agar tujuan tercapai, maka kasus dapat dikelompokan menurut daerah
variabel geografi (tempat tinggal, blok sensus), tempat pekerjaan, tempat
(lingkungan) pembuangan limbah, tempat rekreasi, sekolah, kesamaan hubungan
(kesamaan distribusi air, makanan), kemungkinan kontak dari orang ke orang atau
melalui vektor (CDC, 1979; Friedman, 1980).

 Deskripsi KLB Berdasarkan Orang


Teknik ini digunakan untuk membantu merumuskan hipotesis sumber penularan
atau etiologi penyakit.Orang dideskripsikan menurut variabel umur, jenis kelamin,
ras, status kekebalan, status perkawinan, tingkah laku, atau kebudayaan setempat.
Pada tahap dini kadang hubungan kasus dengan variabel orang ini tampak jelas.
Keadaan ini memungkinkan memusatkan perhatian pada satu atau beberapa

7
Alika Rizki (1102015017)

variabel di atas. Analisis kasus berdasarkan umur harus selalu dikerjakan, karena dari
age spscific rate dengan frekuensi dan beratnya penyakit. Analisis ini akan berguna
untuk membantu pengujian hipotesis mengenai penyebab penyakit atau sebagai
kunci yang digunakan untuk menentukan sumber penyakit

o Menurut Penyebab:
1. Toksin
a. Entero toxin, misal yang dihasilkan oleh Staphylococus aureus,
Vibrio, Kholera, Eschorichia, Shigella.
b. Exotoxin (bakteri), misal yang dihasilkan oleh Clostridium
botulinum, Clostridium perfringens.
c. Endotoxin.
2. Infeksi : Virus, Bacteri, Protozoa, Cacing.
3. Toksin Biologis: Racun jamur, Alfatoxin, Plankton, Racun ikan, Racun
tumbuh-tumbuhan
4. Toksin Kimia
Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam-logam
lain cyanida.
Zat kimia organik: nitrit, pestisida.
Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan sebagainya

o Menurut Sumber KLB


1. Manusia, ex: jalan napas, tenggorokan, tangan, tinja, air seni,
muntahan, seperti Salmonella, Shigella, Staphylococus, Streptoccocus,
Protozoa, Virus Hepatitis.
2. Kegiatan manusia, ex : Toxin biologis dan kimia (pembuangan tempe
bongkrek, penyemprotan, pencemaran lingkungan, penangkapan ikan
dengan racun).
3. Binatang, ex : binatang piaraan, ikan, binatang mengerat, contoh :
Leptospira, Salmonella, Vibrio, Cacing dan parasit lainnya, keracunan
ikan/plankton
4. Serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya), ex : Salmonella, Staphylokok,
Streptokok.
5. Udara, ex : Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran udara.
6. Permukaan benda-benda/alat-alat, ex : Salmonella.
7. Air, ex : Vibrio Cholerae, Salmonella.
8. Makanan/minuman, misal : keracunan singkong, jamur, makanan
dalam kaleng.
Kriteria
KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya,
maka untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui
Keputusan Dirjen PPM & PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman
Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB telah menetapkan kriteria kerja
KLB yaitu :

8
Alika Rizki (1102015017)

1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.


2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan,
tahun)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali
lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun
sebelumnya.
6. Case Fatality Rate dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu
menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode
sebelumnya.
7. Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan
kurun waktu/tahun sebelumnya.
8. Beberapa penyakit khusus : Kholera, “DHF/DSS”, (a)Setiap peningkatan kasus
dari periode sebelumnya (pada daerah endemis). (b)Terdapat satu atau lebih
penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut
dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9. Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita: Keracunan makanan,
Keracunan pestisida.
Pencegahan

 Pencegahan Primordial
Untuk Menghindari kemunculan dari adanya faktor resiko. Pencegahan
primordial memerlukan peraturan yang tegas dari yang berwenang untuk
tidak melakukan hal-hal yang akan menjadikan faktor risiko bagi timbulnya
penyakit tertentu.
 Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada faktor penyebab,
lingkungan serta pejamu. Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab
bertujuan untuk mengurangi atau menurunkan pengaruh penyebab serendah
mungkin dengan usaha antara lain: desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi,
penyemprotan insektisida dalam rangka menurunkan dan menghilangkan
sumber penularan.
 Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua ini meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang
tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah
timbulnya wabah, serta untuk mencegah proses penyakit lebih lanjut serta
mencegah terjadinya akibat samping atau komplikasi.

9
Alika Rizki (1102015017)

 Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)


Mencegah jangan sampai mengalami cacat atau kelainan permanen,
mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian
akibat penyakit tersebut. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi

Penanggulangan
Penaggulangan KLB Adalah kegiatan yg dilaksanakan utk menangani
penderita, mencegah perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian
baru pada suatu KLB yg sedang terjadi.
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-
KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan
KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang
dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung
sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan
status kesehatan masyarakat

Tujuan penanggulangan KLB :


 Mengenal dan mendeteksi sedini mungkin terjadinya klb
 Melalukan penyelidikan Epidemiologi KLB
 Memberikan petunjuk dalam mencari penyebab dan diagnose klb
 Memberikan petunjuk pengiriman dan penanggulangan klb
 Mengembangkan sistem pengamatan yang baik dan menyeluruh, dan
menyusun perencanaan yang mantap untuk penanggulangan KLB
 Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk
tindakan karantina.
 Pencegahan dan pengendalian.
 Pemusnahan penyebab penyakit.
 Penanganan jenazah akibat wabah.
 Penyuluhan kepada masyarakat.
 Upaya penanggulangan lainnya

Upaya Penanggulangan KLB :


 Penyelidikan epidemiologis
 Pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderita termasuk
tindakan karantina
 Pencegahan dan pengendalian
 Pemusnahan penyebab penyakit
 Penanganan jenazah akibat wabah
 Penyuluhan kepada masyarakat
Indikator Program penanggulangan KLB adalah :
 Terselenggaranya system kewaspadaan dini KLB di unit-unit pelayanan
wilayan puskesmas, kabupaten/kota, propinsi dan nasional.
 Deteksi dan respon dini KLB
 Tidak terjadi KLB besar.

10
Alika Rizki (1102015017)

Indikator Keberhasilan Penanggulangan KLB :


 Menurunnya frek KLB
 Menurunnya jumlah kasus pada setiap KLB
 Menurunnya jumlah kematian pada setiap KLB
 Memendeknya periode KLB
 Menyempitnya penyebarluasan wilayah KLB
Tim penanggulangan KLB
 Terdiri dari multi disiplin atau multi lintas sektor, bekerjasama dalam
penanggulangan KLB.
 Salah satu anggota tim kesehatan adalah perawat (sebagai anggota
masyarakat maupun sebagai petugas disarana kesehatan).
 Perawat dapat terlibat langsung di Puskesmas atau Rumah sakit.
Penanggulangan pasien saat KLB :
 Jangka pendek
o Menemukan dan mengobati pasien
o Melakukan rujukan dengan cepat
o Malakukan kaporasi sumber air dan disinfeksi kotoran yang tercemar
o Memberi penyuluhan tentang hygiene dan sanitasi lingkungan
o Melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektoral
 Jangka panjang
o Memperbaiki faktor lingkungan
o Mengubah kebiasaan tidak sehat menjadi sehat
 Pelatihan petugas
Upaya penaggulangan KLB DBD :
 Pengobatan/ perawatan penderita
 Penyelidikan epidemiologi
 Pemberantasan vector
 Penyuluhan kepada mayarakat
 Evaluasi/ penilaian penanggulangan KLB
Prosedur Penanggulangan KLB
1. Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan
Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh
lainnya :
a. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan
logistik.
b. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
c. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
d. Memperbaiki kerja laboratorium
e. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

11
Alika Rizki (1102015017)

Tim Gerak Cepat (TGC)


Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan
dan penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita
puskesmas atau data penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan :
 Pengamatan : Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.
Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota
keluarga
Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga
tercemari dan sebagai sumber penularan
 Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi
penyebarannya
Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita
yang ditemukan di lapangan.
 Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga
 Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan
secara lengkap.

2. Pembentukan Pusat Rehidrasi


Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan
pengobatan.
Tugas pusat rehidrasi :
a. Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang
berkunjung.
b. Melakukan pencatatan nama , umur, alamat lengkap, masa inkubasi,
gejala diagnosa dsb.
c. Memberikan data penderita ke Petugas TGC
d. Mengatur logistik
e. Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.
f. Penyuluhan bagi penderita dan keluarga
g. Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).
h. Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang
diinfus, tdk diinfus, rawat jalan, obat yang digunakan dsb.

Pengertian Wabah
1) Wabah merupakan kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi
keadaaan lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka (UU NO 4 TAHUN 1984).
2) Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang
sejumlah besar orang didaerah luas (KBBI : 1989).
3) Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah
meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit
(Depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981).

12
Alika Rizki (1102015017)

4) Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada


penduduk suatu daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah biasa (Benenson :
1985)
5) Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa
penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau
kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan yang jumlahnya lebih
banyak dari keadaan biasa. (Last : 1981)
Di Indonesia pernyataan adanya wabah hanya boleh ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan
Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu
serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global
(pandemi). Kejadian atau peristiwa dalam masyarakat atau wilayah dari suatu
kasus penyakit tertentu yang secara nyata melebihi dari jumlah yang
diperkirakan.

CONTOH WABAH :
1. Polio
Polio (juga disebut poliomyelitis) adalah penyakit menular yang telah
menghancurkan populasi manusia di belahan bumi Barat di paruh kedua
abad ke-20. Walaupun polio telah menjangkiti manusia sejak zaman kuno,
wabah yang paling luas terjadi di paruh pertama 1900-an sebelum
vaksinasi dibuat oleh Jonas Salk, dan telah tersedia secara luas pada tahun
1955.
2. Cacar (variola vera)
Cacar adalah penyakit menular yang serius dan kadang-kadang fatal. Tidak
ada obat khusus untuk penyakit cacar. Yang ada hanya pencegahan
melalui vaksinasi. Ada dua bentuk klinis dari cacar. Variola mayor (besar)
adalah bentuk parah dan paling umum, ditandai dengan ruam kulit yang
luas dan demam tinggi. Secara historis, variola besar memiliki tingkat
kematian keseluruhan sekitar 30%, namun, perdarahan yang terjadi bisa
berakibat fatal. Variola minor. merupakan bentuk kurang umum dari
cacar. Jenis ini kurang parah, dengan angka kematian historis dari 1% atau
kurang.
3. Kolera
Adalah suatu infeksi usus halus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio
cholerae. Gejala utamanya adalah diare dan muntah. Penularan terutama
melalui air minum atau mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Keparahan diare dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi dan
ketidakseimbangan elektrolit.

Untuk Mengukur Masalah Kematian ( Angka Kematian / Mortalitas )


Dewasa ini di seluruh dunia mulai muncul kepedulian terhadap ukuran kesehatan
masyarakat yang mencakup penggunaan bidang epidemiologi dalam menelusuri
penyakit dan mengkaji data populasi. Penelusuran terhadap berbagai faktor yang
mempengaruhi status kesehatan penduduk paling baik dilakukan dengan

13
Alika Rizki (1102015017)

menggunakan ukuran dan statistik yang distandardisasi, yang hasilnya kemudian


juga disajikan dalam tampilan yang distandardisasi.
Mortalitas merupakan istilah epidemiologi dan data statistik vital untuk Kematian.
Dikalangan masyarakat kita, ada 3 hal umum yang menyebabkan kematian, yaitu :
a. Degenerasi organ vital & kondisi terkait.
b. Status penyakit.
c. Kematian akibat lingkungan atau masyarakat ( bunuh diri, kecelakaan,
pembunuhan, bencana alam, dsb.)

Macam – macam / jenis angka kematian (Mortality Rate/Mortality Ratio) & angka
kesakitan (morbidity rate) dalam Epidemiologi antara lain :

PENGUKURAN ANGKA KESAKITAN/ MORBIDITAS


1. INCIDENCE RATE
Incidence rate adalah frekuensi penyakit baru yang berjangkit dalam
masyarakat di suatu tempat / wilayah / negara pada waktu tertentu

Incidence Rate (IR):


Jumlah penyakit baru
--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

2. PREVALENCE RATE
Prevalence rate adalah frekuensi penyakit lama dan baru yang berjangkit
dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu
- PR yang ditentukan pada waktu tertentu (misal pada Juli 2000) disebut Point
Prevalence Rate
- PR yang ditentukan pada periode tertentu (misal 1 Januari 2000 s/d 31
Desember 2000) disebut Periode Prevalence Rate

Prevalence Rate (PR):


Jumlah penyakit lama + baru
--------------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

3. ATTACK RATE
Attack Rate adalah jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang
berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu
tertentu
Attack Rate (AR):
Jumlah penyakit baru
--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko
(dalam waktu wabah berlangsung)

14
Alika Rizki (1102015017)

PENGUKURAN MORTALITY RATE

1. CRUDE DEATH RATE


CDR adalah angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama satu
tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Rumus: CDR (Crude Death Rate)


Jumlah semua kematian
--------------------------------- k
Jumlah semua penduduk

2. SPECIFIC DEATH RATE


SDR adalah jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu selama satu
tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Rumus: SDR (Specific Death Rate)


Jumlah kematian penyakit x
----------------------------------- k
Jumlah semua penduduk

3. CASE FATALITY RATE


CFR adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk
menentukan kegawatan/ keganasan penyakit tersebut

CFR (Case Fatality Rate):


Jumlah kematian penyakit x
------------------------------------ x 100%
Jumlah kasus penyakit x

4. MATERNAL MORTALITY RATE


MMR = AKI = Angka kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu oleh sebab
kehamilan/ melahirkan/ nifas (sampai 42 hari post partum) per 100.000
kelahiran hidup

MMR (Maternal Mortality Rate):


Jumlah kematian Ibu
------------------------------ x 100.000
Jumlah kelahiran hidup

5. INFANT MORTALITY RATE


IMR = AKB = angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi (umur
<1tahun) per 1000 kelahiran hidup

15
Alika Rizki (1102015017)

IMR (Infant Mortality Rate):


Jumlah kematian bayi
----------------------------- x 1000
Jumlah kelahiran hidup

6. NEONATAL MORTALITY RATE


NMR = AKN = Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi sampai
umur < 4 minggu atau 28 hari per 1000 kelahiran hidup

NMR (Neonatal Mortality Rate):


Jumlah kematian neonatus
------------------------------------ x 1000
Jumlah kelahiran hidup

7. PERINATAL MORTALITY RATE


PMR = AKP = angka Kematian Perinatal adalah jumlah kematian janin umur
28 minggu s/d 7 hari seudah lahir per 1000 kelahiran hidup

PMR (Perinatal Mortality Rate):


Jumlah kematian perinatal
---------------------------------- -x 1000
Jumlah kelahiran hidup

LI IV. MM Masalah Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya dalam Mengakses Pelayanan
Kesehatan

Pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan masyarakat Tantangan berat yang


masih dirasakan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia adalahsebagai berikut.

1. Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta
penyebaran penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah.
2. Tingkat pengetahuan masyarakat yang belum memadai terutama pada golongan
wanita.
3. Kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, dan perilaku yang
kurang menunjang dalam bidang kesehatan.
4. Kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan.Aspek
sosial budaya yang berhubungan dengan kesehatanAspek soaial budaya yang
berhubungan dengan kesehatan anatara lain adalah faktorkemiskinan, masalah
kependudukan, masalah lingkungan hidup, pelacuran dan homoseksual.

Komunikasi

Komunikasi kesehatan disebut juga promosi kesehatab. Karena komunikasie


merupakan kegiatan untuk mgnondisikan fakktor-faktor predisposisi. Kurangnya

16
Alika Rizki (1102015017)

pengetahuan, dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, adanya


tradisi, kepercayaan yang negative tentang penyakit, makanan, lingkungan, dan
sebagainya, mereka tidak berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu
maka diperlukan komunikasi, pemberian informasi-informasi tentang kesehatan.
Untuk berkomunikasi yang efektif para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu
komunikasi, termasuk media komunikasinya.

Pola Pikir

Perilaku pencarian Pengobatan (Health Seeking Behavior) adalah pola atau perilaku
pencarian pelayanan kesehatan di masyarakat. Dua hal yang perannya kuat dalam
menentukan pengambilan keputusan tentang pengobatan.
 Pertama adalah persepsi mereka terhadap penyakit.
Orang yang mempesepsikan penyakitnya sebagai penyakit ringan cenderung
untuk memilih pengobatan sendiri (self medication) misalnya dengan
mencari obat di warung atau apotik, orang yang mengganggap penyakit
mereka serius, biasanya tiga hari sampai seminggu tidak sembuh cenderung
untuk memilih datang ke dokter atau layanan kesehatan, tetapi mereka yang
menganggap penyakitnya sangat serius atau kronis seperti diabetes, stroke
dan hipertensi justru memilih pengobatan alternatif baik itu tabib,
pengobatan herbal, maupun dukun.

 Kedua adalah persepsi mereka tentang layanan kesehatan profesional.


Mereka yang mempersepsikan bahwa pengobatan profesional sulit untuk
dijangkau, mahal dan tidak efektif cenderung untuk lari ke pengobatan
sendiri dan pengobatan alternatif. Pada penderita penyakit kronis yang
sifatnya degeneratif seperti penyakit diabetes dan darah tinggi atau strok,
tampaknya kebanyakan mengangap bahwa penyembuhan melalui usaha
medis adalah sia-sia.

Kebiasaan

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan.
Bentuk dari perilaku tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan
respon internal dan hanya dapat dilihat oleh diri sendiri sedangkan perilaku aktif
dapat dilihat oleh orang lain. Masyarakat memiliki beberapa macam perilaku
terhadap kesehatan. Perilaku tersebut umumnya dibagi menjadi dua, yaitu perilaku
sehat dan perilaku sakit :
 Perilaku sehat yaitu perilaku seseorang yang sehat dan meningkatkan
kesehatannya tersebut. Perilaku sehat mencakup perilaku-perilaku dalam
mencegah atau menghindari dari penyakit dan penyebab penyakit atau
masalah, atau penyebab masalah (perilaku preventif). Contoh dari perilaku
sehat ini antara lain makan makanan dengan gizi seimbang, olah raga secara
teratur, dan menggosok gigi sebelum tidur.

17
Alika Rizki (1102015017)

 Perilaku sakit. Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit atau telah
terkena masalah kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau
pemecahan masalah kesehatannya. Perilaku ini disebut perilaku pencarian
pelayanan kesehatan (health seeking behavior). Perilaku ini mencakup
tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila terkena masalah kesehatan
untuk memperoleh kesembuhan melalui sarana pelayanan kesehatan seperti
puskesmas dan rumah sakit.
Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang
berhubungan dengan kesehatan menjadi tiga, yaitu:
1. Perilaku kesehatan
Hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatannya.
Contoh : memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang dapat
mencegah penyakit.
2. Perilaku sakit
Segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang
merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya
atau rasa sakit.
Contoh : pengetahuan individu untuk memperoleh keuntungan.
3. Perilaku peran sakit
Segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang
sakit untuk memperoleh kesehatan.

Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma
sehat :

 Paradigma sakit adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit


adalah tempatnya orang sakit. Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk
ke rumah sakit. Ini adalah paradigma yang salah yang menitikberatkan
kepada aspek kuratif dan rehabilitatif.
 Paradigma sehat Menitikberatkan pada aspek promotif dan preventif,
berpandangan bahwa tindakan pencegahan itu lebih baik dan lebih murah
dibandingkan pengobatan.

Penanggulangan
Sangat penting untuk sosialisasi dengan bentuk yang lebih dapat dimengerti serta
mencakup semua kepercayaan dan aspek tiap masyarakat sehingga masyarakat
dapat menerti dan memahami maksud arti dari sosialisasi tersebut dan dapat
menerapkan nya kedalam kehidupan sehari hari mereka sehingga perilaku kesehatan
mereka menjadi lebih baik.

Dampak
Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well
being , merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:
1. Environment atau lingkungan.

18
Alika Rizki (1102015017)

2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan


dengan ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi
penduduk, dan sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif,
promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang
paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan
masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat
dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti kelas social, perbedaan suku bangsa dan
budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis),
bergantung dari variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda
di kalangan pasien.

Teori klasik H. L. Bloom menyatakan bahwa ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat
kesehatan secara berturut-turut, yaitu:
1) gaya hidup (life style);
2) lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya);
3) pelayanan kesehatan; dan
4) faktor genetik (keturunan).
Keempat determinan tersebut saling berinteraksi dan mempengaruhi status
kesehatan seseorang.

Puskesmas sebagai pemberi pelayanan primer yang menjadi andalan utama


pelayanan bagi masyarakat, belum mampu memberikan pelayanan bagi daerah
terpencil perbatasan dan kepulauan. Wilayah kerja puskesmas cukup luas, secara
geografi sebagian sulit dijangkau, jumlah penduduk sedikit, tersebar dalam
kelompok-kelompok kecil yang saling berjauhan. Sarana transportasi sangat terbatas
dengan biaya mahal baik darat, sungai, laut maupun udara. Status kesehatan
masyarakat dan cakupan pelayanan kesehatan di daerah terpencil perbatasan masih
rendah.

Penggunaan puskesmas di daerah terpencil antara lain dipengaruhi oleh akses


pelayanan yang tidak hanya disebabkan masalah jarak, tetapi terdapat dua faktor
penentu (determinan) yaitu determinan penyediaan yang merupakan faktor-faktor
pelayanan, dan determinan permintaan yang merupakan faktor-faktor pengguna
(Timyan Judith, et al, 1997).

 Determinan penyediaan terdiri atas organisasi pelayanan dan infrastruktur


fisik, tempat pelayanan, ketersediaan, pemanfaatan dan distribusi petugas,
biaya pelayanan serta mutu pelayanan.
 Determinan permintaan yang merupakan faktor pengguna meliputi
rendahnya pendidikan dan kondisi sosial budaya masyarakat serta tingkat
pendapatan masyarakat yang rendah atau miskin.

19
Alika Rizki (1102015017)

Kebutuhan primer agar memperoleh akses pelayanan yang efektif adalah


tersedianya fasilitas dan petugas, jarak dan finansiil terjangkau serta masalah sosial
budaya yang dapat diterima oleh pengguna.

Kendala yang ada adalah jarak tempat tinggal pengguna dari tempat pelayanan,
kekurangan alat-alat dan persediaan di tempat pelayanan, kekurangan dana untuk
biaya transportasi, dan kekurangan dana untuk biaya pengobatan.

Selain faktor sarana dan prasarana transportasi, masih banyak faktor-faktor lain yang
belum terungkap dengan jelas terkait dengan keterjangkauan pelayanan yang dapat
membantu menyelesaikan masalah tersebut misalnya seperti sulitnya pembangunan
infrastruktur di daerah pedalaman.

Karena sulitnya untuk menjangkau fasilitas kesehatan, akhirnya satu-satunya jalan


untuk memperoleh pelayanan pengobatan yang termudah adalah pergi ke dukun.
Diperlukan perhatian khusus dari Kementerian Kesehatan bersama-sama dengan
pemerintah daerah untuk mengatasi masalah tersebut.

Selain itu tingkat pendidikan masyarakat umumnya masih rendah, serta kendala
terbatasnya sarana informasi, maka frekuensi promosi kesehatan harus lebih sering
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang kompeten di bidangnya. Untuk itu
anggaran yang diberikan kepada puskesmas di daerah terpencil perbatasan harus
mempunyai standar yang berbeda di bandingkan dengan daerah yang lain.

(Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 2012).

LI V. MM Sistem Rujukan Kesehatan Masyarakat

Definisi

Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau
masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dan satu unit ke unit yang lebih
lengkap / rumah sakit) untuk horizontal (dari satu bagian lain dalam satu unit).
Rujukan adalah sesuatu yang digunakan pemberi informasi (pembicara) untuk
menyokong atau memperkuat pernyataan dengan tegas. Rujukan mungkin
menggunakan faktual ataupun non faktual. Rujukan faktual terdiri atas kesaksian,
statistik contoh, dan obyek aktual. Rujukan dapat berwujud dalam bentuk bukti.
Nilai-nilai, dan/atau kredibilitas. Sumber materi rujukan adalah tempat materi
tersebut ditemukan.

UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyebutkan :


 KEWAJIBAN DOKTER adalah merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang
mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan (Pasal 51)
 KETENTUAN PIDANA adalah kurungan paling lama satu tahun atau denda paling
banyak Rp. 50.000.000, setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja tidak
memenuhi kewajiban tersebut (Pasal 79)

20
Alika Rizki (1102015017)

Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang melaksanakan


pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit atau
masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau
secara horizontal (antara unit-unit setingkat kemampuannya)

Bentuk Pelayanan Kesehatan


Pada sistem rujukan masyarakat, yang dirujuk tidak hanya pasien saja tetapi masalah
kesehatan lain, teknologi, sarana, bahan laboratorium dll. Terdapat 3 bentuk
pelayanan kesehatan di Indonesia :
a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan
dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau
promosi kesehatan. Pelayanan yang diperlukan untuk kelompok ini bersifat
pelayanan kesehatan dasar (basic health service). Bentuk Pelayanan ini di
Indonesia adalah puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling, dan
Balkesmas. Pelayanan tipe ini lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat
dasar, dilakukan bersama masyarakat dan dimotori oleh :
 Dokter Umum (Tenaga Medis)
 Perawat Mantri (Tenaga Paramedis)
Primary health care pada pokoknya ditujukan kepada masyarakat yang
sebagian besar bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang
berpenghasilan rendah di perkotaan. Pelayanan kesehatan sifatnya berobat
jalan (Ambulatory Services)

b. Pelayanan Kesehatan tingkat kedua (secondary health service)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh
pelayanan kesehatan primer. Bentuk pelayanan ini misalnya Rumah Sakit tipe
C, dan memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis. Pelayanan
kesehatan sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient
services). Pelayanan kesehatan dilakukan oleh :
 Dokter Spesialis
 Dokter Subspesialis terbatas

c. Pelayanan Kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services)


Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien
yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder.
Pelayanan sudah kompleks dan memerlukan tenaga-tenaga super spesialis,
contoh di Indonesia seperti Rumah sakit tipe A dan B. Pelayanan kesehatan
sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan rawat inap
(rehabilitasi). Pelayanan kesehatan dilakukan oleh :
 Dokter Subspesialis
 Dokter Subspesialis Luas

21
Alika Rizki (1102015017)

Jenis-jenis rujukan

 Rujukan Medis(rujukan pasien, dan rujukan laboratorium)


o Berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan pasien, mencakup rujukan konsultasi medis dan bahan-
bahan pemeriksaan.
o Upaya penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan. berlaku
untuk pelayanan kedokteran (Medical Service). Sama halnya dengan
rujukan kesehatan. Maka rujukan ini dibedakan dengan tiga macam
yaitu :
 Rujukan penderita : Konsultasi penderita untuk keperluan
diagnosis, pengobatan, tindakan operatif dan lain- lain yang disebut
transfer of patien.
 Pengetahuan : Mendatangkan atau mengirimkan tenaga yang lebih
kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu pelayanan
pengobatan setempat disebut transfer of knowlwdge/ personel.
 Bahan- bahan pemeriksaan : Pengiriman bahan (spesimen) untuk
pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap disebut transfer of
spesimen.

 Rujukan Kesehatan (rujukan iptek dan keterampilan yaitu pengalihan


pengetahuan dan keterampilan)
o Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan
peningkatan kesehatan (promosi). Rujukan ini mencakup rujukan
teknologi, sarana dan operasional.
o pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public
health service). Adapun rujukan kesehatan ini dibedakan atas ti ga macam
yakni rujukan tekhnologi, sarana, dan operasional.

 Rujukan Manajemen(pengiriman informasi guna kepentingan monitoring


semua kegiatan pelayanan kesehatan diperlukan sistem informasi)

Tujuan rujukan

a. Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan


rehabilitatif
b. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif.
i. Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-
baiknya.
ii. Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan
laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lengkap
fasilitasnya.
iii. Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (Transfer
knowledge and skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat
pendidikan dan daerah perifer.

22
Alika Rizki (1102015017)

Manfaat rujukan
1. Dari sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan (Police Maker) :
o Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai
macam peralatan kedokteran pada setiap pelayanan kesehatan.
o Memperjelas system pelayanan kesehatan, krena terdapat hubungan
kerja antara berbagai sarana kesehatan yang tersedia.
o Memudahkan administrasi pada setiap aspek perencanaan.
2. Dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (Health Consumer) :
o Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan
yang sama secara berulang- ulang.
o Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah
diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang setiap sarana kesehatan.
3. Dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyedia pelayanan kesehatan (Health
Provider) :
o Memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan dengan berbagai akibat
positif lainnya seperti semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi.
o Membantu peningkatan ketrampilan dan pengetahuan yakni melalui
kerjasama yang terjalin.

23
Alika Rizki (1102015017)

o Memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana


kesehatan mempunyai tugas dan kewajiban tertentu.

Bentuk rujukan Berdasarkan Tingkatannya


1. Pelayanan kesehatan tiongkat pertama (primer)  Diperlukan untuk
masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk
meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.
Contohnya : Puskesmas,Puskesmas keliling, klinik.
2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( sekunder)  Diperlukan untuk
kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak
dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.
Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D. Pelayanan kesehatan
diberikan oleh dokter spesialis terbatas.
3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tersier)  Diperlukan untuk kelompok
masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan
kesehatan sekunder.
Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B. Pelayan kesehatan
diberikan oleh dokter subspesialis luas.

Jenjang Pelayanan Kesehatan


Berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan maka jenjang pelayanan kesehatan
dibedakan atas lima, yaitu:
1. Tingkat rumah tangga
Pelayanan kesehatan oleh individu atau oleh keluarga sendiri.

2. Tingkat masyarakat
Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong mereka sendiri,
misalnya: posyandu, polindes, POD, saka bakti husada, dan lain-lain.
3. Fasilitas pelayanan tingkat pertama
Upaya kesehatan tingkat pertama yang dilakukan puskesmas dan unit
fungsional dibawahnya, praktek dokter swasta, bidan swasta, dokter
keluarga dan lain-lain.
4. Fasilitas pelayanan tingkat kedua
Upaya kesehatan tingkat kedua (rujukan spesial) oleh balai: balai
pengobatan penyakit paru (BP4), balai kesehatan mata masyarakat
(BKMM), balai kesehatan kerja masyarakat (BKKM), balai kesehatan
olah raga masyarakat (BKOM), sentra pengembangan dan penerapan
pengobatan tradisional (SP3T), rumah sakit kabupaten atau kota,
rumah sakit swasta, klinik swasta, dinas kesehatan kabupaten atau
kota, dan lain-lain.
5. Fasilitas pelayanan tingkat ketiga
Upaya kesehatan tingkat ketiga (rujukan spesialis lanjutan atau
konsultan) oleh rumah sakit provinsi atau pusat atau pendidikan,
dinas kesehatan provinsi dan departemen kesehatan.

24
Alika Rizki (1102015017)

Jalur rujukan terdiri dari dua jalur, yakni:


 Rujukan upaya kesehatan perorangan
1. Antara masyarakat dengan puskesmas
2. Antara puskesmas pembantu atau bidan di desa dengan puskesmas
3. Intern petugas puskesmas atau puskesmas rawat inap
4. Antar puskesmas atau puskesmas dengan rumah sakit atau fasilitas
pelayanan lainnya.
 Rujukan upaya kesehatan masyarakat
1. Dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten atau kota
2. Dari puskesmas ke instansi lain yang lebih kompeten baik intrasektoral
maupun lintas sektorali
3. Bila rujukan ditingkat kabupaten atau kota masih belum mampu
menanggulangi, bisa diteruskan ke provinsi atau pusat (Trihono,
2005).

LI VI. MM Pandangan Islam terhadap KLB

Penanggulangan KLB dalam syariat islam

Nabi tidak memerintahkan mereka untuk mengucilkan para pengidap penyakit lepra
tersebut. Tetap bergaul seperti biasa, namun waspada dan antisipatif. Hadis Nabi di
atas adalah dalam konteks tersebut, bukan dalam rangka mengukuhkan opini
masyarakat kala itu bahwa suatu penyakit mutlak bisa menular secara alamiah.Jika
kita melihat hal ini dari konteks tauhid, sesungguhnya tidak ada penyakit menular
dari atau melalui apapun secara alamiah. Jelas-jelas Nabi pernah menyatakan, “Tidak
ada penyakit menular (‘adwa).” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Bahkan, dalam satu
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi
pernah menemani makan salah seorang sahabat penderita lepra bernama Mu’aiqib
bin Abi Fathimah, tanpa memiliki kekhawatiran yang berlebihan.

LI VII. MM Hukum Islam Dalam Menjaga Kesehatan dan Berobat

Anjuran Menjaga Kesehatan


Sudah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan
tidak terkena penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak
dini diupayakan agar orang tetap sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat
adalah lebih baik daripada meminum obat saat sakit. Dalam kaidah ushuliyyat
dinyatakan:
Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, aku pernah datang menghadap Rasulullah SAW,
saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan
baca dalam doaku, Nabi menjawab: Mintalah kepada Allah ampunan dan
kesehatan, kemudian aku menghadap lagipada kesempatan yang lain saya
bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca
dalam doaku. Nabi menjawab: “Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah saw
mintalah kesehatan kepada Allah, di dunia dan akhirat.” (HR Ahmad, al-
Tumudzi, dan al-Bazzar).

25
Alika Rizki (1102015017)

Berbagai upaya yang mesti dilakukan agar orang tetap sehat menurut para
pakar kesehatan, antara lain, dengan mengonsumsi gizi yang yang cukup,
olahraga cukup, jiwa tenang, serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang
dapat menjadikannya terjangkit penyakit. Hal-hal tersebut semuanya ada dalam
ajaran Islam, bersumber dari hadits-hadits shahih maupun ayat al-Quran.

Hukum menjaga kebersihan


Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 57 yang bermaksud: “Makanlah
dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah
mereka menganiaya Kami, melainkan mereka menganiaya diri mereka sendiri”.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dan apa yang terdapat di
mukabumi; dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, kerana
sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Surah Al-Baqarah,
ayat 168)
“Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orang yang membersihkan dirinya” (QS Al
A’la ayat : 14 )

Dalam Islam, kebersihan adalah bersifat global atau luas. Artinya kebersihan itu
meliputi semua aspek dalam Islam. Barangsiapa benar-benar dapat mengamalkan
kebersihan yang global secara Islam ini maka oleh Allah mereka dijanjikan
kemenangan baik di dunia terlebih lagi di akhirat.

Anjuran Berobat

Dalam Islam, berobat termasuk tindakan yang dianjurkan. Dalam berbagai riwayat
menunjukkan bahwa Nabi pernah berobat untuk dirinya sendiri, serta pernah
menyuruh keluarga dan sahabatnya agar berobat ketika sakit. Diantara teknik
pengobatan yang dilakukan Nabi adalah menggunakan cara-cara tertentu sesuai
dengan perkembangan zaman saat itu.

Perintah berobat dalam Islam juga dapat dipahami dari informasi yang dipahami
sebagai salah satu bentuk perintah. Diantara cara berobat Nabi yang dianjurkannya
sebagaimana banyak disebutkan dalam hadits adalah dengan cara berbekam (al-
Hijamah = cupping), yang dulu dikerjakan secara bedah dengan besi panas. Dalam
kedokteran, al-Hijamah dipahami sebagai pengeluaran darah dengan menoreh
pembuluh darah. Secara umum teknik pengobatan di zaman Nabi ada 3, seperti
disebutkan dalam hadits shahih yang artinya :

“Pengobatan ada 3 cara, meminum madu, berbekam, dan mencasnya dengan api,
dan aku melarang mencas dengan api.” (HR al-Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad)

Juga dinyatakan dalam hadits yang secara khusus menyuruh agar berobat, antara
lain hadits Nabi yang artinya :
“Dari Usamat bin Syarik, seorang laki-laki dari kaumnya berkata, datang seorang
dusun kepada Rasulullah saw dan bertanya : Ya Rasulallah, manusia yang bagaimana
yang baik? Nabi menjawab : ‘Yang terbaik akhlaknya diantara mereka’, kemudian dia

26
Alika Rizki (1102015017)

bertanya lagi, Ya Rasulallah apakah kami mesti berobat? Nabi menjawab :


Berobatlah, sebab, Allah tidak menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan
obatnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang
yang tidak mengetahuinya.” (HR Ahmad)

Hukum berobat dalam islam


1. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan alasan
adanya perintah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat dan asal
hukum perintah adalah wajib, ini adalah salah satu pendapat madzhab Malikiyah,
Madzhab Syafi’iyah, dan madzhab Hanabilah.
2. Pendapat kedua mengatakan sunnah/ mustahab, sebab perintah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk berobat dan dibawa kepada hukum sunnah karena ada
hadits yang lain Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan bersabar,
dan ini adalah madzhab Syafi’iyah.
3. Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena terdapat
keterangan dalil- dalil yang sebagiannya menunjukkan perintah dan sebagian lagi
boleh memilih, (ini adalah madzhab Hanafiyah dan salah satu pendapat madzhab
Malikiyah).
4. Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar dengan
sakitnya, Imam Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu
Mas’ud, Abu Darda radhiyallahu ‘anhum, dan sebagian para Tabi’in.
5. Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat
tawakkalnya dan lebih baik berobat bagi yang lemah tawakkalnya, perincian ini dari
kalangan madzhab Syafi’iyah.

27