Anda di halaman 1dari 20

ISTIRAHAT DAN TIDUR

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP


BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setiap orang membutuhkan istirahat dan tidur agar mempertahankan status,
kesehatan pada tingkat yang optimal. Selain itu proses tidur dapat memperbaiki berbagai sel
dalam tubuh. Pemenuh kebutuhan istirahat dan tidur terutama sangat penting bagi orang
yang sedang sakit agar lebih cepat sembuh memperbaiki kerusakan pada sel. Apabila
kebutuhan istirahat dan tidur tersebut cukup, maka jumlah energi yang di harapkan dapat
memulihkan status kesehatan dan mempertahankan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari
terpenuhi.
Selain itu, orang yangmengalami kelelahan juga memerlukan istirahat dan tidur
lebih dari biasanya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud istirahat ?
2. Jelaskan konsep anatomi hipotalamus?
3. Konsep irama sirkadian?
4. Apa yang dimaksud tidur?
5. Bagaimana tahapan tidur ?
6. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tidur?

C. TUJUAN
Setelah mempelajari dan membahas makalah ini maka di harapkan :
1. Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai konsep kebutuhan istirahat dan
tidur.
2. Mengetahui bagaimana tahapan tidur dan factor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan
tidur
3. dapat melakukan tindakan keperawatan yang tepat sesuai dengan prosedur
yang berlaku.
BAB II PEMBAHASAN
I. ISTIRAHAT
A. Pengertian Istirahat
Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang
berakibat badan menjadi lebih segar.
B. Konsep anatomi hipotalamus
Hipotalamus merupakan bagian ujung anterior diensefalon dan di depan
nucleus interpedunkularis. Hipotalamus terbagi dalam berbagai inti dan dareah inti.
Hipotalamus terletak pada anterior dan inferior thalamus. Berfungsi mengontrol dan
mengatur system saraf autonom, Pengaturan diri terhadap homeostatic, sangat kuat
dengan emosi dan dasar pengantaran tulang, Sangat penting berpengaruh antara
system syaraf dan endokrin.
Hipotalamus juga bekerjasama dengan hipofisis untuk mempertahankan
keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh melalui peningkatan
vasokonstriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar
hipofisis. Hipotalamus juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan. Sebagai
pengatur tidur, tekanan darah, perilaku agresif dan seksual dan pusat respons
emosional (rasa malu, marah, depresi, panic dan takut).
fungsi dari hipotalamus antara lain adalah:
1. Mengontrol suhu tubuh
2. Mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin
3. Mengontrol asupan makanan
4. Mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior
5. Menghasilkan hormon-hormon hipofisis posterior
6. Mengontrol kontraksi uterus pengeluaran susu
7. Pusat koordinasi sistem saraf otonom utama, kemudian mempengaruhi semua otot
polos, otot jantung, sel eksokrin
8. Berperan dalam pola perilaku dan emosi Peran hipotalamus
Pengaturan hipotalamus terhadap nafsu makan terutama bergantung pada
interaksi antara dua area : area “makan” lateral di anyaman nucleus berkas
prosensefalon medial pada pertemuan dengan serabut polidohipotalamik, serta “pusat
rasa kenyang:’ medial di nucleus vebtromedial. Perangsangan pusat makan
membangkitkan perilaku makan pada hewan yang sadar, sedangkan kerusakan pusat
makan menyebabkan anoreksia berat yang fatal pada hewan yang sebenarnya sehat.
Perangsangan nucleus ventromedial menyebabkan berhentinya makan,
sedangkan lesi di regio ini menyebabkan hiperfagia dan bila persediaan makan
banyak, sindrom obesitas hipotalamik.
Hubungan hipotalamus dengan fungsi otonom
a. Hubungan aferen dan eferen hipotalamus
Jalur aferen dan eferen utama dari dan ke hipolamus sebagian besar tidak
bermielin. Banyak serabut menghubungkan hipotalamus dengan systemlimbic.
Juga terdapat hubungan penting antara hipotalamus dengan nucleus-nucleus di
tegmentum mesensefalon, pons dan rhombensefalon. Neuron penghasil
norepinefrin yang badan selnya berada di rhombensefalon berujung di berbagai
bagian yang berbeda di hipotalamus. Neuron paraventrikel yang mungkin
mengeluarkan oksitoksin dan vasopressin sebaliknya menuju ke rhombensefalon
dan berakhir di hipotalamus ventral. Terdapat system neuron penghasil dopamine
intrahipotalamus yang badan selnya terdapat di nucleus arkuata dan berujung pada
atau dekat kapiler yang membentuk pembuluh portal di eminensia mediana.
Neuron penghasil serotonin berproyeksi ke hipotalamus dari nucleus rafe.
b. Hubungan dengan kelenjar hipofisis
Terdapat hubungan saraf antara hipotalamus dan lobus posterior kelenjar
hipofisis serta hubungan vascular antara hipotalamus dengan lobus anterior.
Secara embriologis, hipofisis posterior muncul sebagai besar ventrikel ketiga.
Hipofisis posterior sebagian besar tersusun dari berbagai ujung akson yang
muncul dari badan sel di nucleus supraoptik di hipofisis posterior melalui traktus
hipotalamohipofisis.
c. Hubungan dengan fungsi otonom
Bertahun-tahun yang lalu, Sherrington menyebutkan hipotalamus sebagai
“ganglian utama sisten otonom”. Perangsangan hipotalamus menimbulkan
respons otonom, tetapi hipotalamus sendiri tampaknya tidak terpengaruh oleh
pengaturan fungsi viseral yang dilakukannya. Sebaliknya, respons otonom yang
ditimbulkan di hipotalamus merupakan bagian dari fenomena yang lebih
kompleks seperti makan dan bentuk emosi lain seperti marah. Sebagai contoh ,
perangsangan terhadap berbagai bagian hipotalamus, terutama dareah lateral,
menyebabkan pelepasan muatan dan peningkatan sekresi medulla adrenal seperti
lepas-muatan simpatis massal yang di jumpai pada hewan yang terpajan stress.
d. Hubungan dengan tidur zona tidur
prosensefalon basal mencakup sebagian dari hipotalamus. Bagian-bagian
ini serta fisiologi keseluruhan dari keadaan tidur dan terjaga dibakar.
e. Hubungan dengan fenomena siklik
Sel pada tumbuhan dan hewan mengalami fluktuasi ritnis dalam berbagai
fungsinya yang lamanya sekitar 24 jam, yang disebut bersifat sirkadian. Pada
mamalia,termasuk manusia , sebagain besar sel memiliki irama sirkadian. Dalam
hati, irama ini dipengaruhi oleh pola asupan makanan,tetapi pada hampir semua
sel lain irama diselaraskan oleh sepasang nucleus suprakiasmatik (SCN), satu di
tiap-tiap sisi di atas kiasma optikum.

C. Irama Sirkadian
Irama sirkadian tidur merupakan salah satu dari beberapa irama intrinsik tubuh
yang diatur oleh hipotalamus. Jalur rethinohypothalamic memberikan rangsang secara
langsung terhadap nucleus suprachiasma. Penurunan irama sirkadian sebelum pagi
hari diperkirakan berguna untuk membantu otak agar tetap tidur selama semalam
sehingga terjadi restorasi penuh dan mencegah kebangkitanprematur. Siklus suhu
tubuh juga terjadi dibawah kendali hipothalamus. Peningkatan suhu tubuh terjadi
sepanjang siang hari dan penurunan terjadi sepanjang malam. Suhu puncak dan
penurunannya diperkirakan mencerminkan irama tidur. Orang yang aktif di malam
hari memiliki puncak suhu tubuh di malam hari sementara mereka yang menempatkan
diri untuk aktif pada pagi hari memiliki puncak suhu tubuh pada awal malam. Individu
normal yang sehat memiliki variasi sirkadian pada arus puncak ekspirasi maksimal
(PEFR) yaitu mencapai puncaknya pada sore hari dan nilai terendah pada pukul empat
dini hari. Besarnya perubahan PEFR lebih tinggi pada penderita asma dibandingkan
individu normal. Paru dan organ efektor lainnya menunjukkan variasi bentuk dan
waktu respon sirkadian yang jelas. Kadar kortisol dan epinefrin pada penderita asma
akan menunjukkan nilai terendah sekitar tengah malam sampai pukul 05.00 pagi.

II. TIDUR
A. Pengertian Tidur
Tidur adalah suatu keadaan relative tanda sadar yang penuh, ketenangan tanpa
kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing
menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda.
B. Fisiologis Tidur
Tidur adalah suatu periode istirahat bagi tubuh berdasarkan atas kemauan serta
kesadaran dan secara utuh atau sebagian fungsi tubuh yang akan dihambat atau
dikurangi. Tidur juga digambarkan sebagai suatu tingkah laku yang ditandai dengan
karakteristik pengurangan gerakan tetapi bersifat reversible terhadap rangsangan dari
luar.
Tidur dibagi menjadi dua tahap secara garis besarnya yaitu :
1. Fase rapid eye movement (REM) disebut juga active sleep.
2. Fase nonrapid eye movement (NREM) disebut juga quiet sleep.
Non Rapid Eye Movement merupakan keadaan aktif yang terjadi melalui
osilasi antara talamus dan korteks. Tiga sistem utama osilasi adalah kumparan
tidur, delta osilasi, dan osilasi kortikal lambat. Kumparan tidur merupakan sebuah
cirri tahap tidur NREM yang dihasilkan dari hiperpolarisasi neuron GABAnergic
dalam nukleus retikulotalamus. Hiperpolarisasi ini menghambat proyeksi neuron
kortikotalamus. Sebagai penyebaran diferensiasi proyeksi kortikotalamus akan
kembali ke sinkronisasi talamus. Gelombang delta dihasilkan oleh interaksi dari
retikulotalamus dan sumber piramidokortikal sedangkan osilasi kortikal lambat
dihasilkan di jaringan neokorteks oleh siklus hiperpolarisasi dan depolarisasi

Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu
diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi
secara bergantian antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16-20
jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur
diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa.

C. Tahapan Tidur
EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level otak,
otot, dan aktivitas mata. Normalnya, tidur dibagi menjadi dua yaitu nonrapid eye
movement (NREM) dan rapid eye movement (REM). Selama masa NREM seseorang
terbagi menjadi empat tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur.
Sedangkan tahapan REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur
berakhir.
1. Tahapan Tidur NREM
a. NREM tahap 1
1) Tingkat transisi
2) Merespons cahaya
3) Berlangsung beberapa menit
4) Mudah terbangun dengan rangsangan
5) Aktifitas fisik, tanda fital, dan metabolisme menurun
6) Bila terbangun terasa sedang bermimpi
b. NREM tahap II
1) Periode suara tidur
2) Mulai relaksasi otot
3) Berlangsung 10-20 menit
4) Fungsi tubuh berlangsung lambat
5) Dapat dibangunkan dengan mudah
c. NREM Tahap III
1) Awal tahap dari keadaan tidur nynyak
2) Sulit dibangunkan
3) Relaksasi otot menyeluruh
4) Tekanan darah menurun
5) Berlansung 15-30 menit
d. NREM TAHAP IV
1) Tidur nyenyak
2) Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif
3) Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun
4) Sekresi lambung menurun
5) Gerak bola mata cepat

2. Tahapan tidur REM


a. lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM
b. Pada orang dewasa normal NREM yaitu 20-25% dari tidur malamnya
c. Jika individu terbangun pada tidur REM, maka biasanya terjadi mimpi
d. Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga berperan dalam
belajar,
e. Memori dan adaptasi.

3. Karakteristik tidur REM


a. Mata : cepat tertutup dan terbuka.
b. Otot-otot : kejang otot kecil, otot besar imobilisasi.
c. Pernapasan : tidak teratur, kadang dengan abnea.
d. Nadi : cepat dan iriguler.
e. Tekanan darah : meningkat atau fluktuasi.
f. Sekresi gaster : meningkat.
g. Metabolisme : meningkat, temperatur tubuh naik.
h. elombang otak : EEG aktif.
i. Siklus tidur : sulit dibangunkan.

D. Pola Tidur Normal (neonates-lansia)


1. Neonatus sampai dengan 3 bulan
a. Kira-kira membutuhkan 16 jam/hari
b. Mudah berespon terhdap stimulus
c. Pada minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM
2. Bayi
a. Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam
b. Usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kira-kira tidur 14 jam/hari
c. Tahap REM 20-30%.
3. Toddler
a. Tidur 10-12 jam/hari
b. Tahap REM 25%
4. Prasekolah
a. Tidur 11 jam pada malam hari
b. Tahap REM 20%
5. Usia sekolah
a. Tidur 10 jam pada malam hari
b. Tahap REM 18,5%
6. Remaja
a. Tidur 8,5 jam pada malam hari
b. Tahap REM 20%
7. Dewasa muda
a. Tidur 7-9 jam/hari
b. Tahap REM 20-25%
8. Usia dewasa pertengahan
a. Tidur ± 7 jam/hari
b. Tahap REM 20%
9. Usia tua
a. Tidur ± 6 jam/hari
b. Tahap REM 20-25%
c. Tahap NREM IV menurun dan kadang-kadang absen
d. Sering terbangun pada malam hari

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan Tidur


1. Penyakit
Seseorang yang mengalami sakit memrlukan waku tidur lebih banyak dari
normal. Namaun demikian , keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau
tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gagguan pernapasan seperti asma,
bronkitis, penyakit kardiosvaskular,dan pnyakit persarafan.
2. Lingkungan
Pasien yang biasanya tidur dalam lingkungan tenang dan nyaman, kemudian
terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.
3. Motivasi
Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan
untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.
4. Kelelahan
Kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari tahap REM.
5. Kecemasan
Pada keadaan cemas seorang mungkin meningkatkan saraf simpatis
sehingga mengganggu tidurnya.
6. Alkohol
Alkohol menekan REM secara normal,seseorang yang tahan minum alkohol
dapat ,mengakibatkan insomania dan lekasa marah.
7. Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidut antara lain:
a. Diuretik : menyebabkan insomnia
b. Antidepresan : menyupresi REM
c. Kafein : meningkatkan saraf simpais
d. Beta-bloker : menimbulkan insomnia
e. Narkotika : menyupresi REM
8. Nutrisi
Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan yang merupakan asam
amino dari protein yang dicerna seperti keju,susu,daging dan ikan tuna dapat
mampercepat terjadinya ptoses.

F. Masalah atau gangguan Tidur


1. Insomnia
Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa
kesulitan untuk tidur ataukesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang
terbangun dari tidur tapi merasa belumcukup tidur dapat di sebut mengalami
insomnia (japardi 2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk
mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas.
Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat tidur/kurang tidur karena orang
yang menderita insomniasering dapat tidur lebih lama dari yang mereka pikirkan,
tetapi kualitasnya berkurang.
Jenis insomnia yaitu :
a. Insomnia insial adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat memulai
tidur.
b. insomnia intermiten adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat
mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur.
c. insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi.
Beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia yaitu rasa
nyeri, kecemasan,ketakutan, tekanan jiwa kondisi, dan kondisi yang tidak
menunjang untuk tidur.
2. Somnambulisme
Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup
adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk
di tempat tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah
laku berjalan dalam beberapa menit dankembali tidur (Japardi 2002). Lebih
banyak terjadi pada anak-anak, penderita mempunyai resikoterjadinya cidera.
3. Enuresis
Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada
anak-anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum
jelas, namun ada bebrapa faktor yangmenyebabkan Enuresis seperti gangguan
pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku.
4. Narkolepsi
Merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak
terkendali untuk tidur, dapat dikatakan pula bahwa Narkolepsi serangan
mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur pada setiap saat di mana
serangn mengantuk tersebut datang. Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi
di duga terjadi akibat kerusakan genetika sistem saraf pusat di mana periode REM
tidak dapat di kendalikan. Serangan narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila
terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-alat
yang berputar-putar atau berada di tepi jurang.
5. Night Terrors
Adalah mimpi buruk, umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih,
setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan
ketakutan.
6. Mendengkur
Disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di
hidung dan mulut. Amandelyang membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor
yang turut menyebabkan mendengkur.Pangkal lidah yang menyumbat saluran
nafas pada lansia. Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila
dilewati udara pernafasan.
ASUHAN KEPERAWATAN

Gangguan pola tidur adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami, perubahan
jumlah/kualitas pola tidur dan istirahat sehubungan dengan keadaan biologis atau kebutuhan
emosi.

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat tidur
a. kuantitas (lama tidur) dan kualitas watu tidur di siang dan malam hari.
b. Aktivitas dan rekreasi yang di lakukan sebelumnya.
c. Kebiasaan/pun saat tidur.
d. Lingkungan tidur.
e. Dengan siapa paien tidur.
f. Obat yang di konsumsi sebelum tidur.
g. Asupan dan stimulan.
h. Perasaan pasien mengenai tidurnya.
i. Apakah ada kesulitan tidur.
j. Apakah ada perubahan tidur.
2. Gejala Klinis
a. Perasaan Lelah.
b. Gelisah.
c. Emosi.
d. Apetis.
e. Adanya kehitaman di daerah sekitar mata bengkak.
f. Konjungtin merah dan mata perih.
g. Perhatian tidak fokus.
h. Sakit kepala.
3. Penyimpangan Tidur.
Seperti telah dijelaskan pada bab oembahasan di atas, gangguan tidur yang
mungkin terjadi adalah
a. Insomnia
b. Somnabulisme.
c. Enuresis.
d. Narkolepsi
e. Nightmare dan Night Terrors (mimpi buruk).
f. Apnea / tidak bernapas dan Mendengkur.
B. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat dari gangguan pola istirhat tidur
diantaranya yaitu :
1. Gangguan pola tidur b/d kerusakan transfer oksigen, gangguan metabolisme, kerusakan
eliminasi, pengaruh obat, imobilisasi, nyeri pada kaki, takut operasi, lingkungan yang
mengganggu.
2. Cemas b/d ketidak mampuan untuk tidur, henti nafas saat tidur, (sleep apnea) dan
ketidak mampuan mengawasi prilaku.
3. Koping individu tidak efektif berhubungan denganINSOMNIA .
4. Gangguan ukaran gas berhubungan henti nafas saat tidur.
5. Potensial cedera berhubungan dengan Semnambolisme.
6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangn tidur hipersomia.
C. INTERVENSI
1) Tujuan :
Mempertahankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam batas normal.
2) Rencana Tindakan :
a. Lakukan identifikasi fsktor yang mempengaruhi masalah tidur.
b. Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat mengganggu tidur.
c. Tingkatkan aktivitas pada siang hari.
d. Coba untuk memicu tidur.
e. Kurangi potensial cedera selama tidur
f. Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika di perlukan.

D. IMPLEMENTASI.
Tindakan keparawatan pada orang dewasa :
1. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur.
a. Bila terjadi pada pasien rawat inap, masalah tidur di hubungkan dengan lingkungan
rumah sakit, maka
1) Libatkan pasien dalam pembuatan jadwal aktivitas.
2) Berikan obat analgesik sesuai prosedur.
3) Berikan linngkungan yang suportif.
4) Jelaskan dan berikan dukungan pada pasien agar tidak takut akan cemas.
b. Bila faktor Insomnia, maka :
1) Anjurkan pasien memakan makanan yang berprotein tinggi sebelum tidur.
2) Anjurkan pasien tidur pada waktu sama dan hindari tidur pada waktu siang dan
sore hari.
3) Anjurkan pasien tidur saat mengantuk.
4) Anjurkan pasien mennghindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum
tidur.
5) Anjurkan pasien menggunakan teknik pelepasan otot serta meditasi sebelum
tidur.
c. Bila terjadi somnabulisme, maka :
1) Berikan rasa aman pada diri pasien.
2) Bekerjasama dengan diazepam dalam tindakan pengobatan..
3) Cegah timbulnya cidera.
d. Bila terjadi enuresa, maka :
1) Anjurkan pasien mengurangi minum beberapa jam sebelum tidur.
2) Anjurkan pasien melakukan pengosongan kandungan kemih sebelum tidur.
3) Bangunkan pasien pada malam hari untuk buang air kecil.
e. Bila terjadi Narkolepsi, maka :
1) Berikan obat kelompok Amfetamin /kelomppok Metilfenidat hidroklorida
(ritalin) untuk mengendalikan narkolepsi.
2) Mengurangi distraksi lingkungan dan hal yang mengganggu tidur.
a) Tutup pintu kamar pasien .
b) Pasang kelambu/garden tempat tidur.
c) Matikan pesawat telapon.
d) Bunyikan musik yang lembut.
e) Redupkan atau matikan lampu.
f) Kurangi jumlah stimulus.
g) Tempatkan pasien dengan kawan sekamar yang cocok.
3) Meningkatkan aktivitas pada siang hari.
a) Buat jadwal aktivitas yang dapat menolong pasien.
b) Usahakan pasien tidak tidur pada siang hari.
4) Membuat Pasien untuk memicu tidur.
a) Anjurkan pasien mandi sebelum tidur.
b) Anjurkan pasien minum susu hangat.
c) Anjurkan pasien membaca buku.
d) Anjurkan pasien menonton televisi.
e) Anjurkan pasien menggosok gigi sebelum tidur.
f) Anjurkan pasien embersihkan muka sebelum tidur.
g) Anjurkan pasien membersihkan tempat tidur.
5) Mengurangi potensial cedera sebelum tidur.
a) Gunakan cahaya lampu malam.
b) Posisikan tempat tidur yang rendah.
c) Letakkan bel dekat pasien.
d) Ajarkan pasien untuk meminta bantuan.
e) Gantungkan selang drainase di tempat tidur dan cara memindahkannya bila
pasien memekainnya.
6) Memberi pendidikan kesehatan dan rujukan.
a) Ajarkan rutinitas jadwal tidur di rumah.
b) Ajarkan pentingkan latihan reguler ± ½ jam.
c) Penerangan tentang efek samping obat hipnotik.
d) Lakukan rujukan segera bila gangguan tidur kronis.
Tindakan Keperawatan Pada Anak :
A. Masa Neonatus dan bayi.
1. Beri sprei kering dan tebal untuk menutupi perlak.
2. Hindarkan pemberian bantal yang terlalu banyak.
3. Atur suhu ruangan menjadi 18˚-21˚C pada malam dan 15,5˚-18˚C pada siang.
4. Berikan cahaya lampu yang lembut.
5. Yakinkan bayi merasa nyaman dan kering.
6. Berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi.
B. Masa Anak
1. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
2. Tempel jadwal tidur
3. Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
4. Dukung aktivitas ”pereda ketegangan” seperti bercerita.
C. Masa Sebelum Sekolah
1. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
2. Tempel jadwal tidur.
3. Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
4. Dukung aktivitas ”pereda ketegangan” seperti bercerita.
5. Sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur.
6. Berikan rasa aman dan nyaman.
7. Nyalakan lampu agak terang.
D. Masa Sekolah
1. Mengingatkan waktu istirahat dan tidur karena umumnya banyak beraktivitas.
E. Masa Remaja
1. Usia ini sering memrlukan waktu sebelum tidur cukup lama untuk berias dan
membersihkan diri
F. Masa Dewasa (Muda, Paruh Baya, dan Tua)
1. Bantu melepaskan ketegangan sebelum tidur.
a. Berikan hiburan.
b. Kurangi rasa nyeri.
c. Bersihkan tempat tidur.
2. Membuat lingkungan menjadi aman serta dekat dengan perawat.
a. Berikan selimut sehingga tidak kedinginan.
b. Anjurkan pasien latihan relaksasi.
c. Berikan makan ringan atau susu hangnt sebelum tidur.
d. Berikan obat sedaktif sesuai program terapi kolaboratif.
e. Bantu pasien mendapatkan posisi tidur yang nyaman.
E. EVALUASI
1. Klien menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur dengan
meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
2. Klien melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta klien
melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
3. Klien melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu
dengan mengobservasi ekspresi dan prilaku nonverbal pada saat klien terjaga.
4. Pola tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah 10
jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang di butuhkan semua orang.
Setiap individumempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Dengan pola
istirahat dan tidur yang baik, benar, dan teratur akan memberikan efek yang baik terhadap
kesehatan, yaitu efek fisiologis terhadap sistem syaraf yang di perkirakan dapat
memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan diantara susunan saraf, serta berefek
terhadap struktur tubuh dengan memulihkankesegaran dan fungsi organ tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Wartonah, tarwoto. 2011. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan .Jakarta: Salemba
Medika

Brunner and Suddarth, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, volume 2.
Jakarta : EGC.
http://uad.ac.id/memahami-tidur-dan-irama-sirkadian

http://ibnufajarew.blogspot.com/2013/05/fisiologi-tidur.html

http://kumpulanasuhankeperawatanlengkap.blogspot.ae/2013/06/askep-istirahat-tidur.html