Anda di halaman 1dari 184

Daftar Isi PLTM Lau Gunung

DAFTAR ISI

BAB I PEKERJAAN PERSIAPAN

BAB III PEKERJAAN TANAH

BAB III PEKERJAAN BETON

BAB IV PEKERJAAN PASANGAN

BAB V PEKERJAAN JALAN

BAB VI PEKERJAAN HIDROMEKANIKAL

BAB VII PEKERJAAN BAJA

BAB VIII PEKERJAAN PEMBANGKIT LISTRIK

BAB IX PEKERJAAN BANGUNAN FASILITAS

BAB X PEKERJAAN DRAINASE

BAB XI PEKERJAAN TUNNEL & BANGUNAN BAWAH TANAH

BAB XII PEKERJAAN LAIN - LAIN

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant DI - 1
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

SPESIFIKASI UMUM

1. DISKRIPSI PEKERJAAN
1.1 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan pekerjaan ini adalah untuk pembangunan PLTM Lau Gunung di
Kabupaten Dairi, Propinsi Sumatera Utara.

1.2 Lokasi Pekerjaan

Lokasi pekerjaan adalah di daerah di aliran sungai Lau Gunung di Desa Pamah, Kecamatan
Tanah Pinem , Kabupaten Dairi, Propinsi Sumatera Utara.

1.3 Gambaran Umum Pekerjaan

Dalam rangka peningkatan penyediaan tenaga listrik di Indonesia serta dalam usaha
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, Pemerintah membuat program
peningkatan pembangunan pembangkit listrik alternatif non minyak antara lain dengan
memanfaatkan potensi sumberdaya alam berupa air sungai yang banyak terdapat di
seluruh Indonesia.

Untuk maksud tersebut diupayakan pembangunan pembangkit listrik tenaga air oleh pihak
swasta. Tenaga listrik yang dihasilkan dari pembangkit yang dibangun oleh pihak swasta
nantinya akan dimanfaatkan oleh PT. PLN (Persero) guna memenuhi kebutuhan tenaga
didaerah setempat melalui suatu perjanjian jual beli tenaga listrik – PPA (Power Purchase
Agreement) - antara PT. PLN (Persero) dengan pihak swasta tersebut.

Upaya tersebut akan dilaksanakan oleh PT. Inpola Meka Energi, yaitu optimalisasi sumber
energi primer dengan memanfaatkan sumber daya air dan lahan yang tersedia di sungai
Lau Gunung untuk pembangkit listrik tenaga air.

1.4 Periode Konstruksi

Waktu penyelesaian konstruksi PLTM Lau Gunung dilaksanakan selama 2 tahun.

2. LINGKUP PEKERJAAN

Penyedia Jasa (Kontraktor) harus menyiapkan dan menyediakan material, pekerja dan
peralatan yang diperlukan selama pelaksanaan dan penyelesaian serta saat pemeliharaan
seluruh pekerjaan, sesuai dengan kontrak dan ijin dari Direksi Teknik (Direksi).

Secara garis besar lingkup pekerjaan dapat diuraikan seperti di bawah ini.

(1) Pekerjaan Persiapan


(2) Pekerjaan Saluran Pengelak
(3) Pekerjaan Bangunan Bendung, Intake dan Saluran Transisi

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 1
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

(4) Pekerjaan Bangunan Sandtrap


(5) Pembangunan Tunnel
(6) Pembangunan Vertical Shaft
(7) Pembangunan Penstock
(8) Pembangunan Power House dan Tailrace
(9) Pekerjaan Pembangkit (turbin dan generator)
(10) Pekerjaan Jalur Transmisi

Pekerjaan Persiapan terdiri dari pekerjaan : mobilisasi dan demobilisasi, penyelidikan


geologi, jalan kerja, bangunan fasilitas dan perbaikan jalan selama periode konstruksi.
Pekerjaan Saluran Pengelak terdiri dari : pembuatan cofferdam dan dewatering
Pekerjaan Bangunan Bendung, Intake dan Saluran Saluran Transisi terdiri dari pekerjaan :
pembersihan lahan, galian tanah, galian batuan lapuk, galian batu, timbunan tanah, beton
lantai kerja, beton K225, beton cyclop, tulangan, bekisting, pasangan batu kali, rip-rap,
wiremash M10, pipa drain PVC 2”, handraill, pintu intake, pintu pembilas, trashrack, mistar
ukur, waterstop, tangga monyet.
Bangunan Sand Trap terdiri dari pekerjaan: pembersihan lahan, galian tanah, galian batuan
lapuk, galian batu, timbunan tanah, beton lantai kerja, beton K225, beton cyclop, tulangan,
bekisting, rip-rap, handraill, pintu pengatur, pintu pembilas, waterstop.
Pekerjaan Tunnel terdiri dari pekerjaan : pembersihan lahan, galian tanah, galian batuan
lapuk, galian batu, beton lantai kerja, beton K225, tulangan, bekisting, shotcrete dengan
wiremesh M4, pembuatan tunnel diameter 3,50 m termasuk finishing, sub drainage.
Pekerjaan Vertikal Shaft terdiri dari pekerjaan : pembersihan lahan, galian tanah, galian
batuan lapuk, galian batu, timbunan tanah, beton lantai kerja, beton K225, tulangan,
pembuatan vertical shaft diameter 5,00 m termasuk finishing, steel grating galvanized,
Pagar BRC, shotcrete dengan wiremash M4, side drain.
Pekerjaan Penstock terdiri dari pekerjaan : penstock diameter 2,25 m terbuka dan
ditimbun , elbow diameter 2,25 m, reducer, anchor block, baja tulangan.
Gedung Power House dan Tailrace terdiri dari pekerjaan : pembersihan lahan, galian tanah,
galian batuan lapuk, galian batu, timbunan tanah, beton lantai kerja, beton K225, tulangan,
bekisting, pasangan batu, pekerjaan atap, gounding system, travelling crane, shotcrete,
pagar BRC.
Pekerjaan Pembangkit terdiri dari pekerjaan : turbin dan generator (2 x 7.50 MW)
Pekerjaan Jalur Transmisi terdiri dari pekerjaan : kabel transmisi termasuk tiang dan
assesoris lainnya.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 2
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

4 GAMBAR DAN MODIFIKASI GAMBAR

4.1 Gambar-Gambar Yang Harus Disiapkan Oleh Direksi


Direksi menyiapkan “Gambar Kontrak Pelaksanaan” yang merupakan bagian dalam
Dokumen Pelelangan. Gambar Kontrak tersebut hanya dipakai/berlaku untuk pelelangan
saja, bukan merupakan gambar pelaksanaan.
Setelah penandatanganan Kontrak, Penyedia Jasa harus menyiapkan “Gambar Pelaksanaan
/ Construction Drawing dan Shop Drawing” yang akan dipakai sebagai pedoman untuk
penyelesaian pelaksanaan pekerjaan tersebut.

4.2 Gambar-Gambar Yang Harus Disiapkan Oleh Penyedia Jasa


Penyedia Jasa harus menyiapkan dan menyerahkan gambar-gambar pelaksanaan kepada
Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
Gambar-gambar pelaksanaan nantinya dipakai sebagai pedoman untuk penyelesaian
pelaksanaan pekerjaan.
(1) Gambar Pelaksanaan
Setelah menerima gambar Kontrak yang merupakan bagian dalam Dokumen
Pelelangan, Penyedia Jasa harus memeriksa kembali gambar tersebut dan meminta
penjelasan kepada Direksi Pekerjaan apabila ada hal-hal yang kurang jelas.
Selanjutnya Penyedia Jasa menyiapkan Gambar Pelaksanaan/Construction Drawing
sebelum melaksanakan pekerjaan untuk mendapat persetujuan dari Direksi.
Gambar Kontrak yang ada dalam Dokumen Pelelangan dipakai sebagai dasar
penyiapan Gambar Pelaksanaan.
(2) Gambar Kerja
Penyedia Jasa harus membuat Gambar Kerja / Construction Drawing dan Shop Drawing
yang lebih detail dari pada Gambar Pelaksanaan apabila diperlukan.
Gambar kerja ini harus disetujui terlebih dulu oleh Direksi sebelum melaksanakan
pekerjaan untuk selanjutnya dipakai sebagai pedoman pelaksanaan.
Untuk pekerjaan hidromekanikal (misal : pekerjaan pintu), gambar kerjanya terdiri
dari gambar detail dimensi/ukuran, pemasangan, fabrikasi.
Untuk pekerjaan beton misalnya perlu ditambahkan gambar-gambar kerja yang
membantu penyelesaian pekerjaan tersebut seperti gambar bekisting, gambar
penulangan, construction joint, water stop, anchor bar, dowel bar, pipa drainasi,
gambar pelaksanaan pengecoran dan sebagainya.
(3) Gambar Pelaksanaan Terbangun (As-Built Drawing)
Selama periode pelaksanaan, Penyedia Jasa harus menyiapkan “Gambar Pelaksanaan
Terbangun atau Pasca Konstruksi” untuk berbagai macam item pekerjaan.
Gambar tersebut harus menunjukkan perubahan yang telah disetujui yang mungkin
telah diadakan atas gambar kontrak sampai gambar menunjukkan kondisi setelah
dibangun yang benar dari setiap item pekerjaan permanen. Gambar Pelaksanaan
Terbangun akan diperiksa setiap bulan di lapangan oleh pengawas lapangan dan jika
ternyata tidak memuaskan dan belum diperbaiki, perbaikan harus dilakukan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 3
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

selambat-lambatnya selama 6 (enam) hari kerja setelah pemeriksaan bersama


pengawas lapangan.
Jika semua bagian pekerjaan tetap yang ditunjukkan dalam setiap Gambar Kontrak,
Gambar Pelaksanaan Terbangun telah disetujui oleh Direksi harus ditanda tangani
bersama oleh Direksi dan Penyedia Jasa. Gambar Pelaksanaan Terbangun harus dibuat
dari kertas yang dapat direproduksi yang bermutu tinggi supaya dapat dibuat copy
yang dapat dibaca.
(4) Spesifikasi, Brosur dan Data untuk Peralatan dan Material.
Penyedia Jasa harus menyerahkan spesifikasi, manual, brosur dan data yang lengkap
untuk material dan peralatan yang akan disediakan sesuai dengan Kontrak pada Direksi
untuk disetujui.
Persetujuan atas spesifikasi, brosur dan data tidak akan membebaskan Penyedia Jasa
dari setiap tanggung jawab yang berkaitan dalam Kontrak.

4.3 Hak-hak untuk Merubah Gambar dan Disain


Perubahan disain dapat dilakukan bila ditemui kondisi-kondisi seperti terdapat informasi
tambahan mengenai pondasi atau kondisi-kondisi lain yang diperoleh dari hasil pekerjaan
penggalian, pengujian lebih lanjut atau cara lainnya.

5 PENGUKURAN DAN PERSIAPAN

Sebelum pekerjaaan dimulai, Penyedia Jasa harus melakukan pengukuran guna penentuan
batas-batas daerah kerja, elevasi galian, elevasi timbunan, elevasi dasar bengunan, elevasi
kemajuan pelaksanaan dan lain-lain pengukuran, baik pengukuran baru maupun ulangan.
Masing-masing pengukuran harus disesuaikan dengan rencana yang telah ada.
Atas permintaan Direksi, Penyedia Jasa harus melaksanakan pengukuran ulang atau
pengecekan/pemeriksaan terhadap hasil pengukuran yang telah dilakukan, baik oleh
Direksi maupun oleh Penyedia Jasa sendiri.
Seluruh pekerjaan harus selalu diikuti selama pelaksanaan serta harus menentukan tempat
kedudukan titik-titik guna pedoman pelaksanaan.
Tempat kedudukan titik-titik hasil pengukuran harus ditandai dengan kayu atau beton pada
bagian-bagian yang penting. Patok tersebut harus mudah ditemukan kembali atau
dikontrol.
Semua hasil pengukuran harus dilaporkan dan disetujui oleh Direksi guna pelaksanaan
pekerjaan selanjutnya.
Untuk pembuatan gambar-gambar detail dari hasil pengukuran ini selanjutnya berlaku
ketentuan yang disebutkan pada paragraf pertama di atas.
Setelah setiap bagian pekerjaan selesai, secara berurutan harus diadakan pengukuran
ulang, guna penyesuaian terhadap rencana semula.
Selama masa pemeliharaan berlangsung, Penyedia Jasa harus melakukan pengukuran
terhadap perubahan-perubahan yang timbul pada bagian-bagian bangunan sebanyak 3
(tiga) kali yang masing-masing dilakukan pada awal, pertengahan dan akhir masa
pemeliharaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 4
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

Bila menurut Direksi masih ada bagian-bagian yang kurang dan perlu adanya penambahan-
penambahan pengukuran maka Penyedia Jasa berkewajiban menyelesaikannya dan tidak
berhak menuntut kompensasi tambahan yang melebihi harga yang telah disetujui dalam
Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

6 RENCANA KERJA, JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN DAN LAPORAN KEMAJUAN


PEKERJAAN

6.1 Rencana Kerja dan Mutu Proyek (RKM-P)


Penyedia Jasa harus menyerahkan Rencana Kerja dan Mutu Proyek (RKM-P) yang meliputi
: Ringkasan Proyek, jadwal pelaksanaan (Kurva-S) dan ketergantungan (Barchart Planning),
Organisasi Proyek, Pengendalian Mutu dan SMK3-L
Rencana Kerja dan Mutu Proyek (RKM-P) harus mendapatkan persetujuan dari Direksi
sebelum pelaksanaan, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender terhitung sejak
tanggal diterbitkannya Surat Pernyataan diterimanya penawaran.
Rencana Kerja dan Mutu Proyek (RKM-P) dibuat oleh Penyedia Jasa dengan dasar dari
gambar-gambar perencanaan. Rencana Kerja yang ada dalam Dokumen Lelang hanya
dipakai sebagai bahan pertimbangan Penyedia Jasa untuk pembuatan Rencana Kerja dan
Mutu Proyek (RKM-P).
Kegiatan yang ditunjukkan dalam Rencana Kerja dan Mutu Proyek (RKM-P) harus mencakup
selain dari pelaksanaan pekerjaan tetap dan sementara, selang waktu yang perlu untuk
persiapan dan persetujuan gambar, pengadaan dan pengiriman material dan peralatan ke
lapangan, hari-hari libur umum dan hari besar keagamaan.
Bila ada perubahan pada Rencana Kerja dan Mutu Proyek (RKM-P), Penyedia Jasa harus
memperoleh persetujuan secara tertulis sebelum membuat suatu perubahan Rencana
Kerja dan Penyedia Jasa harus menyerahkan Rencana Kerja yang telah diperbaiki kepada
Direksi.
6.2 Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan dan Masa Pemeliharaan
Pekerjaan harus sudah dimulai selambat-lambatnya tujuh (tujuh) hari kalender terhitung
sejak tanggal diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja.
Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan adalah 730 (tujuh ratus tiga puluh) hari kalender.
Sedangkan masa pemeliharaan untuk pekerjaan ini ditetapkan selama 180 (seratus
delapan puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal penyerahan pekerjaan yang pertama
kali (selesai 100%) kepada Direksi.
Penyerahan atas hasil pekerjaan harus dilakukan sesuai dengan jadwal waktu berakhirnya
setiap bagian pekerjaan seperti yang dicantumkan pada Daftar Kuantitas dan Harga
Pekerjaan.
6.3 Hari Kerja dan Jam Kerja
Sebelum memulai pelaksanaan, Penyedia Jasa akan memberitahukan kepada Direksi
tentang pengaturan jam kerja normal dan waktu kerja yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan, dimana jam kerja dan waktu kerja ini harus mendapat
persetujuan dari Direksi.
Penyedia Jasa diperkenankan menyelesaikan pekerjaan melampaui jadwal yang
ditentukan. Jika hal ini tidak dapat dihindarkan karena menyangkut pengamanan terhadap

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 5
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

kehidupan peralatan dan keamanan terhadap pekerjaan. Untuk keadaan khusus seperti ini
Penyedia Jasa harus memberitahukan kepada Direksi.

6.4 Laporan dan Rapat Kemajuan Pekerjaan


(1) Laporan Kemajuan Bulanan

Penyedia Jasa, sebelum tanggal 5 (lima) tiap bulan atau setiap waktu yang ditentukan
Direksi harus menyerahkan 5 (lima) copy laporan kemajuan bulanan dalam bentuk
yang dapat diterima oleh Direksi yang memberikan rincian kemajuan pekerjaan
selama bulan sebelumnya.
Laporan harus mencakup pada hal-hal berikut :
(a) Gambaran pekerjaan secara umum yang dilakukan pada periode yang sedang
dilaporkan pada setiap kegiatan utama termasuk masalah-masalah yang ada di
lapangan.
(b) Total persentase semua pekerjaan yang telah diselesaikan sampai pada bulan
yang dilaporkan dan juga total persentase seluruh jadwal yang diprogram untuk
diselesaikan sampai akhir bulan yang dilaporkan dengan komentar seperlunya
mengenai kemajuan tersebut.
(c) Persentase sebenarnya dari setiap item pekerjaan utama yang diselesaikan dan
juga persentase yang direncanakan untuk pekerjaan itu dengan komentar
seperlunya mengenai kemajuan tersebut.
(d) Jadwal kegiatan yang akan dimulai dalam 1 (satu) bulan berikutnya dengan
tanggal mulai dan tanggal selesai yang direncanakan.
(e) Daftar tenaga lokal yang dipekerjakan selama pelaksanaan pekerjaan.
(f) Daftar peralatan dan material yang ada dilapangan yang digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan termasuk yang tiba atau dipindahkan dari lapangan.
(g) Total kuantitas pekerjaan yang dilakukan pada pekerjaan tetap untuk item berikut
tetapi tidak terbatas pada :
 total kuantitas pekerjaan tanah seperti: galian, timbunan, timbunan kembali
 total kuantitas pekerjaan bangunan seperti: beton, tulangan, tunnel,
pasangan batu, dll
 total kuantitas pekerjaan drainasi seperti galian , pasangan batu, beton,dll
 total kuantitas pekerjaan jalan
 dan lain-lain

(h) Item pokok dari pekerjaan sementara yang dilaksanakan selama jangka waktu
yang dilaporkan.
(i) Daftar jumlah pembayaran yang telah diterima sampai tanggal itu dan jumlah
tagihan kemajuan yang telah diserahkan tetapi belum dibayar.
(j) Hal-hal lainnya yang dapat diminta dalam Kontrak atau pernyataan mengenai
hal-hal yang timbul dari, atau berkaitan dengan pelaksanaan kerja selama
bulan pelaporan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 6
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

(2) Laporan Kemajuan Harian

Penyedia Jasa harus mempersiapkan laporan harian untuk tiap pekerjaan yang diminta
oleh Direksi dengan format yang telah disetujui oleh Direksi.

Laporan berisi tentang kondisi cuaca, kegiatan staf dan tenaga kerja di lapangan,
material di lokasi, material yang dipesan, pekerjaan yang dipersiapkan, tes
laboratorium, kecelakaan dan semua informasi yang berhubungan dengan kemajuan
pekerjaan.

(3) Dokumentasi / Foto

Penyedia Jasa harus menyerahkan dokumentasi berupa foto dan video selama jangka
waktu kontrak.

Pengambilan foto dan video tersebut dilakukan pada beberapa titik yang tetap dari
awal kegiatan, pelaksanaan pekerjaan dan pada akhir kegiatan penyelesaian proyek.

Foto-foto tersebut harus dilampirkan pada Laporan Kemajuan Pekerjaan Bulanan


sesuai yang tercantum dalam Kontrak.

Foto dan video tersebut harus dilengkapi keterangan ringkas dan tanggal pengambilan.
Biaya untuk pembuatan foto dan video tersebut tidak dilakukan secara terpisah tetapi
sudah termasuk dalam harga satuan maupun Lump Sum berbagai item pekerjaan
yang ada dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

(4) Rapat Kemajuan Pekerjaan

Rapat bersama antara Direksi dan Penyedia Jasa perlu diadakan seminggu sekali
dalam waktu yang telah disepakati bersama. Tujuan rapat ini adalah membicarakan
kemajuan pekerjaan, pekerjaan yang direncanakan untuk dikerjakan minggu
berikutnya dan masalah-masalah yang perlu diselesaikan.

7 PEKERJAAN SEMENTARA

7.1 Jalan Masuk Sementara

Penyedia Jasa harus menyediakan jalan masuk sementara apabila tidak ada jalan masuk
yang memadai yang disetujui oleh Direksi. Sebagai tambahan, Penyedia Jasa juga harus
menyediakan fasilitas jembatan penghubung bila diperlukan.

Pekerjaan jalan masuk yang akan menjadi jalan akses / access road harus sesuai dengan
spesifikasi dan gambar. Pekerjaan access road dilakukan pembayaran terpisah dengan
mengacu spesifikasi dan BoQ

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 7
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

7.2 Pagar Sementara

Penyedia Jasa membangun, memelihara dan memindahkan pagar sementara yang telah
disetujui untuk menutup daerah pekerjaan serta seluruh daerah di lapangan yang perlu dan
sesuai dengan syarat-syarat kontrak dan atas persetujuan Direksi.

7.3 Kantor Lapangan, Bengkel dan Barak Karyawan

Penyedia Jasa harus membuat Kantor Lapangan minimal 90 m2 dengan atap asbes
gelombang dinding dapat semi permanen yang terbuat dari multiplek dan pasangan batu
bata dalam keadaan baru, yang harus dilengkapi dengan ventilasi / jendela, pintu serta
peralatan kantor sepenuhnya (kursi, meja dan perlengkapan kantor).

Gudang dan bengkel harus dibangun minimal 130 m2 semi permanen dengan atap dari
asbes gelombang kuda-kuda kayu, dinding terbuat dari multiplek dan pasangan batu bata,
serta dilengkapi dengan ventilasi/jendela, pintu serta perlengkapan lain yang dibutuhkan.

Penyedia Jasa juga harus membuat barak karyawan minimal 65 m2 semi permanen dengan
atap asbes gelombang dinding yang terbuat dari multiplek dan pasangan batu bata dalam
keadaan baru, yang harus dilengkapi dengan ventilasi/jendela, pintu serta segala
perlengkapan yang dibutuhkan seperti kamar tidur lengkap dengan tempat tidur, kamar
mandi dan dapur.

Penyedia Jasa juga harus membuat bangunan laboratorium minimal 25 m2 semi permanen
dengan atap asbes gelombang, dinding yang terbuat dari multiplek dan pasangan batu bata
dalam keadaan baru, yang harus dilengkapi dengan ventilasi/jendela, pintu serta segala
perlengkapan yang dibutuhkan alat untuk laboratorium beton dan mekanika tanah

Setelah selesainya pelaksanaan pekerjaan, Kantor lapangan, gudang, bengkel, barak


karyawan dan laboratorium tersebut menjadi milik Direksi atau dibongkar sesuai arahan
Direksi.

Biaya pembuatan Kantor Lapangan, bengkel, barak karyawan , bangunan sementara dan
laboratorium Penyedia Jasa sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan pada item
pekerjaan yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

7.4 Pelayanan Kesehatan dan Medis

Penyedia Jasa harus menyediakan perlengkapan untuk pos “Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan” yang secukupnya pada daerah pelaksanaan dan harus mempunyai pegawai
yang memenuhi syarat untuk memberikan Pertolongan Pertama bila terjadi kecelakaan
dengan segera.

Penyedia Jasa harus bertanggung jawab pada setiap karyawan/pekerja yang mendapat
kecelakaan pada saat pelaksanaan pekerjaan dan dibawa ke poliklinik atau Rumah Sakit
terdekat, dan semua biaya yang timbul menjadi beban Penyedia Jasa.

7.5 Sistem Pengadaan Air

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 8
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

Selama pelaksanaan proyek dibutuhkan air yang akan dipergunakan dilapangan maupun
di bangunan-bangunan sementara.

Untuk mencukupi kebutuhan air bersih tersebut Penyedia Jasa diharuskan menyiapkan
sistem pengadaan air bersih (yang tidak mengandung zat-zat kimia yang berbahaya) melalui
sumur-sumur, atau sistem pengadaan air lainnya yang disetujui Direksi.

Biaya pengadaan, operasional dan pemeliharaan sistem pengadaan air bersih selama
pelaksanaan konstruksi sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan pada item pekerjaan
yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

7.6 Fasilitas Sanitasi

Penyedia Jasa harus menyediakan, memasang, mengoperasikan, memelihara dan


kemudian membersihkan dengan cara pengolahan yang memadai untuk pembuangan
kotoran dari bangunan sementara termasuk kantor lapangan, mesh karyawan dan lain-lain,
yang dibangun oleh Penyedia Jasa. Penyedia Jasa juga harus membangun, mengoperasikan
dan merawat fasilitas kamar kecil (WC) sementara di lokasi lengkap dengan kloset, tempat
buang air kecil dan tempat untuk cuci tangan yang memadai, septik tank, parit penyerapan
atau instalasi pembuangan kotoran lainnya untuk bangunan sementara.

Penyedia Jasa harus menyerahkan untuk mendapat persetujuan Direksi tidak lebih dari tiga
puluh (30) hari setelah menandatangani Kontrak mengenai detail rencana dan pokok
persoalan kepada Direksi agar disetujui untuk dimulainya pekerjaan tersebut.

Biaya pengadaan, operasional dan pemeliharaan fasilitas sanitasi selama pelaksanaan


konstruksi sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan pada item pekerjaan yang
tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

7.7 Sistem Tenaga Listrik

Selama pelaksanaan proyek tersebut Penyedia Jasa diharuskan mempersiapkan sistem


pengadaan tenaga listrik baik untuk penerangan maupun peralatan lainnya.

Biaya pengadaan, operasional dan pemeliharaan sistem tenaga listrik sudah termasuk
dalam harga satuan pekerjaan untuk item pekerjaan yang tercantum dalam Daftar
Kuantitas dan Harga.

7.8 Sistem Telekomunikasi

Penyedia Jasa diharuskan mempersiapkan dan memasang sistem telekomunikasi di kantor


lapangan.

Penyedia Jasa harus mengatur pemasangan sambungan telepon yang berhubungan dengan
sistem telekomunikasi dan dimungkinkan untuk dioperasikan secara otomatis melalui panel
pengatur (switch board) yang mampu melayani tidak kurang dari 10 (sepuluh) saluran pada
sistem jaringan telepon intern. Panel pengatur tersebut harus dioperasikan selama 24 jam
setiap hari, selama jangka waktu kontrak dan dihubungkan ke setiap lokasi kantor pada
daerah kontrak.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 9
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

Biaya operasional dan pemeliharaan sistem telekomunikasi selama pelaksanaan konstruksi


sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan untuk item pekerjaan yang tercantum dalam
Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

7.9 Pemindahan Bangunan dan Fasilitas Sementara

Atas dasar permintaan dari Direksi, Penyedia Jasa mungkin memerlukan untuk
mempertahankan beberapa fasilitas dan bangunan sementara di lokasi. Pada akhir dari
konstruksi, Penyedia Jasa akan merundingkan dengan Direksi, tentang pemindahan
bangunan-bangunan sementara.

7.10 Perlengkapan Pengaman

Pada setiap pelaksanaan pekerjaan Penyedia Jasa berkewajiban melindungi dan


mengamankan manusia dan peralatan dari kemungkinan kecelakaan. Untuk keperluan ini,
Penyedia Jasa harus membuat pagar-pagar pengaman, lampu penerangan pada tempat-
tempat pelaksanaan dan dilengkapi dengan tanda-tanda pada tempat-tempat yang
berbahaya, pemadam kebakaran dan lampu tanda kebakaran yang diletakkan pada tempat
yang strategis dalam daerah pelaksanaan.

Penyedia Jasa harus membuat peraturan-peraturan yang diperlukan untuk melindungi


umum dan karyawan yang bekerja pada tempat pelaksanaan. Penyedia Jasa harus
membentuk satuan pengaman dan jadwal pertemuan bagi satuan pengaman yang teratur
dengan Direksi, pengawas dan pihak-pihak yang berkepentingan. Semua yang menyangkut
perlengkapan pengaman harus sesuai dengan petunjuk dari Direksi.

Bila terjadi kecelakaan, Penyedia Jasa berkewajiban :

a. Segera melaporkan kepada Direksi tentang macam kecelakaan, kematian atau kerugian
lainnya.
b. Laporan bulanan harus dilengkapi dengan akibat yang ditimbulkan karena adanya
kecelakaan.
8. PEMELIHARAAN

Selama masa pemeliharaan Penyedia Jasa akan bertanggung jawab untuk memperbaiki dan
memelihara seluruh pekerjaan yang disebutkan dalam kontrak ini dan tercantum dalam
Sertifikat Pemeliharaan.

Pekerjaan yang dibutuhkan selama masa pemeliharaan tidak terbatas pada penimbunan,
pembuatan saluran-saluran, jalan, pintu, jembatan dan bagian-bagian pekerjaan lain.

Penyedia Jasa tidak bertanggung jawab atas pengendapan yang terjadi pada tanggul,
saluran, kecuali apabila hal itu terjadi karena kelalaian Penyedia Jasa.

Tidak ada tambahan biaya untuk pekerjaan pemeliharaan. Biaya yang dibutuhkan selama
masa pemeliharaan harus sudah dimasukkan dalam harga satuan masing-masing item
pekerjaan yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 10
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

9. UJI / TES LABORATORIUM

Penyedia Jasa harus menyediakan laboratorium untuk pengujian beton dan pengujian
tanah, yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Pengujian tanah dan beton sesuai
dengan SNI pada NSPM Kimpraswil 2002 atau standar “concrete manual type B” USBR, JIS
seperti yang dipakai untuk menguji agregat, slump, pencampuran beton, tegangan beton
untuk pengujan tanah sesuai dengan standar “Earth manual type B” USBR, seperti analisa
grain size, pengujian-pengujian kandungan air, specific gravity, pemadatan, atterberg limit,
sounding, CBR dan field density test. Bangunan laboratorium harus dibangun sesuai dengan
standar “Earth manual type C” USBR atau standar lain yang semacam atau sesuai saran
Direksi, yang berhak memerintahkan pengujian ulang, jika diperlukan.

Pelaksanaan pengujian harus sesuai dengan seluruh kode, pengaturan dan standar yang
ditentukan. Personil yang bertugas pada pengujian bahan-bahan harus tenaga yang telah
mempunyai pengalaman yang cukup dan telah mengenal baik tentang pengujian bahan-
bahan yang disyaratkan dan tenaga tersebut harus mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Direksi.

10 QUARRY DAN BORROW AREA


10.1 Pekerjaan Quarry untuk Beton dan Filter

Penyedia Jasa harus bertanggung jawab untuk menyediakan agregat untuk beton dan filter
dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Penyelidikan yang dilaksanakan untuk
mengetahui agregat kasar dan agregat halus diperoleh dari daerah sekitar area proyek,
dengan persetujuan Direksi.
Jika Penyedia Jasa menghendaki untuk mendapatkan agregat beton dan filter, dan material
pasangan dari sumber lain, Penyedia Jasa harus membuat rencananya, mendapat surat ijin
dari pejabat berwenang, dan membayar semua biaya.
10.2 Borrow Area dan Batuan Quarry untuk Material Timbunan

Kuantitas yang besar dalam pekerjaan borrow area dan penggalian material tanah harus
dipenuhi untuk timbunan tanggul. Menurut penyelidikan, material tanah bisa diperoleh
dari borrow area seperti yang telah digunakan olen Penyedia Jasa.

Bila Penyedia Jasa berkeinginan untuk memperoleh material timbunan dari daerah lain
selain borrow area dan quarry site seperti yang telah disetujui, Penyedia Jasa harus
membuat rencananya, mendapat surat ijin dari pejabat berwenang, dan membayar semua
biaya yang dibutuhkan, walaupun demikian Direksi akan membantu Penyedia Jasa dalam
membuat rencana dan mendapat surat ijin dari pejabat berwenang.

11 MATERIAL DAN BAHAN PABRIKAN YANG HARUS DILENGKAPI OLEH PENYEDIA JASA
11.1 Umum
Penyedia jasa akan melengkapi semua material dan bahan pabrikan yang diperlukan untuk
penyelesaian dari pekerjaan kecuali jika tidak disebutkan dalam Kontrak. Material yang
akan menjadi bagian dari keseluruhan pekerjaan harus baru dan sesuai dengan spesifikasi.
Bila diperlukan, material yang tidak tercantum dalam spesifikasi, harus disesuaikan dengan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 11
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

ketentuan terbaru yang berlaku baik standar nasional maupun internasional yang disetujui
oleh Direksi.
Bila ada bagian yang terpisah dan termasuk sebagian perlengkapan dari material, hal itu
harus dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan. Biaya untuk peralatan,
pengiriman dan penyimpanan termasuk pengaturannya, harus dimasukkan dalam harga
satuan yang dicantumkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.
Penyedia Jasa akan menginformasikan kepada Direksi manakala ia menyediakan material
dan bahan pabrikan yang tidak sesuai dengan standard seperti tersebut di atas, dan akan
memperoleh persetujuan secara tertulis dari Direksi standard lain yang sepadan.

11.2 Bahan Pabrikan untuk Konstruksi


Penyedia Jasa akan menyediakan semua bahan pabrikan untuk konstruksi yang diperlukan
untuk penyelesaian dan pelaksanaan dari pekerjaan secara efisien.
Direksi boleh menginstruksikan Penyedia Jasa untuk menyediakan bahan pabrikan
tambahan, jika menurut pertimbangannya adalah penting bagi pelaksanaan dari pekerjaan.
Hal tersebut sesuai dengan Kontrak. Penyediaan bahan pabrikan tambahan seperti itu
menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
Penyedia Jasa akan menyediakan semua bahan pabrikan secara lengkap dan akan
memelihara kecukupan persediaan untuk memastikan efisien pelaksanaan dari pekerjaan.
11.3 Material Pengganti
Penyedia Jasa harus berusaha untuk memperoleh material yang ditetapkan, tetapi
manakala material yang ditetapkan tidak tersedia di luar kendali dari Penyedia Jasa,
material pengganti mungkin dapat digunakan, dengan ketentuan bahwa semua material
pengganti yang akan digunakan harus mendapat persetujuan secara tertulis dari Direksi.
Harga satuan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan tidak akan disesuaikan untuk
memungkinkan adanya peningkatan di dalam biaya antara material pengganti dan material
yang sebenarnya.
11.4 Pemeriksaan Bahan Pabrikan dan Material
Kelengkapan bahan milik Penyedia Jasa yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan
harus diinspeksi, diperiksa dan ditest seperti yang tercantum dalam Kontrak. Untuk
memberi waktu yang cukup guna mengadakan inspeksi, pemeriksaan dan test, Penyedia
Jasa akan menyerahkan bahan pada Direksi, pada saat diterbitkannya Surat Perintah Mulai
Kerja (S.P.M.K), termasuk gambar dan bukti-bukti lain yang penting dan menyerahkan
secara tertulis.

Bila tidak ada inspeksi, pemeriksaan dan test bahan, Penyedia Jasa tidak boleh mengurangi
tanggung jawab dalam penyerahan bahan yang diperintahkan untuk memenuhi syarat-
syarat Spesifikasi.

11.5 Peralatan Kerja


Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ini, Penyedia Jasa membeli peralatan baru dan harganya
dimasukkan dalam nilai biaya penawaran, maka setelah pekerjaan selesai, Penyedia Jasa
harus menyerahkan peralatan tersebut kepada Pemberi Tugas dalam keadaan baik dan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 12
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

lengkap. Bila ternyata ada kerusakan/hilangnya peralatan tersebut pada saat pekerjaan
telah selesai maka Penyedia Jasa harus memperbaiki /menggantinya dengan peralatan
yang sama dalam keadaan baru.

Bila dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut, Penyedia Jasa menggunakan peralatan dan
material milik Pemberi Tugas, maka harga kontrak harus sudah diperhitungkan nilai/harga
sewa pemakaian peralatan/material tersebut.

Penyedia Jasa harus menyediakan peralatan kerja yang diperlukan dengan jenis, kondisi
maupun jumlah peralatan kerja yang sesuai dengan daftar peralatan kerja yang dilampirkan
di dalam Surat Penawaran, sejak pekerjaan dimulai sampai dengan waktu penyerahan
pekerjaan yang terakhir.

Apabila dipandang perlu, sewaktu-waktu Direksi dapat meminta tambahan peralatan yang
digunakan dalam rangka mengejar keterlambatan kemajuan pekerjaan yang mungkin
terjadi dan Penyedia Jasa harus segera menyediakan.

Apabila ternyata jenis, kondisi dan jumlah peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan tidak sesuai dengan daftar peralatan kerja yang dilampirkan dalam Surat
Penawaran, maka Penyedia Jasa harus segera melengkapi/mengganti. Tidak dipenuhinya
pasal ini, maka Penyedia Jasa akan dicatat mempunyai conduite yang kurang baik dan akan
dikenakan sanksi administrasi yang akan ditentukan kemudian oleh Pemberi Tugas atau
Direksi.

Peralatan yang disediakan Penyedia Jasa harus dalam keadaan baik dan siap pakai. Jika
sewaktu-waktu terjadi kerusakan peralatan Penyedia Jasa harus segera mengganti dengan
peralatan lain yang siap pakai.

11.6 Rencana Transportasi Material dan Peralatan


Bersamaan dengan penyerahan jadwal pelaksanaan konstruksi, Penyedia Jasa harus
melengkapi dengan suatu program lengkap untuk transportasi peralatan, bahan konstruksi
dan material, yang ditunjukkan secara detail mengenai rute dan urutan transportasi dan
pengiriman sampai tempat untuk memenuhi ketentuan jadwal pelaksanaan konstruksi
yang diusulkannya. Penyedia Jasa harus tetap memberitahu menyangkut kedatangan
peralatan, bahan pabrikan dan material di lapangan.

11.7 Standar dan Spesifikasi


Perencanaan bahan, fabrikasi, testing, inspeksi dan penampilan harus mengikuti Standard
atau spesifikasi yang digunakan di negara dimana peralatan tersebut dibuat.

Material dan peralatan yang diajukan harus menurut keadaan terbaru atau perubahan
terbaru dari standard-standard dan Spesifikasi dalam waktu 30 hari sebelum tanggal
pembukaan, termasuk amandemen atau penambahan.

Dalam keaadaan dimana ada perbedaan antara Spesifikasi, standard atau code yang
diperlukan dengan spesifikasi yang disetujui, maka spesifikasi yang disetujui yang
digunakan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 13
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

Referensi-referensi untuk Standard dan Spesifikasi terhadap bahan dan peralatan,


khususnya produksi pabrik bisa dipertimbangkan, bahwa untuk bagian-bagian yang sejenis,
Penyedia Jasa bisa mengusulkan kemungkinan Standard atau Spesifikasi yang setara untuk
bahan atau peralatan yang ada dalam Kontrak. Untuk keadaan seperti ini Penyedia Jasa
harus mengirim Standard dan spesifikasi yang lengkap dengan disertai keterangan dan
data-data dari peralatan yang dimaksud untuk mendapat persetujuan Direksi. Jika waktu
pengiriman dan kemungkinan-kemungkinan kegagalan dalam pelaksanaan serta mengubah
material atau peralatan yang diussulkan, sebelum disetujui Direksi, maka hal itu merupakan
resiko Penyedia Jasa.

Referensi yang digunakan untuk Standard dan Spesifikasi untuk bahan dan peralatan harus
sesuai dengan SNI pada NSPM Kimpraswil 2002 yang berlaku atau “American Society for
Testing and Material” (ASTM).

Referensi-referensi untuk Standard dan spesifikasi yang biasa digunakan di Indonesia


antara lain adalah :

PBI : Peraturan Beton Bertulang Indonesia

SNI : Standar Nasional Indonesia pada NSPM Kimpraswil 2002.

ASTM : American Society for Testing and Material

JIS : Japan Industrial Standard

USBR : United States Bureau of Reclamation

11.8 Pengemasan
Semua bahan, material dan peralatan harus dikemasi untuk pengangkutan ke Lokasi,
sedemikian sehingga agar terlindungi dari kondisi-kondisi iklim yang akan mempengaruhi
selama pemindahan dan dalam penyimpanan di lapangan.

Semua bahan pabrikan, material dan peralatan yang mana terjadi kerusakan atau
memburuk selama penyimpanan atau pengangkutan akan ditolak oleh Direksi dan
Penyedia Jasa akan memindahkan bahan pabrikan, material dan peralatan yang ditolak
seperti itu dari Lokasi secepat mungkin.

12. KEMUNGKINAN FASILITAS DILUAR DAERAH PEKERJAAN

Untuk penggunaan areal di luar daerah pelaksanaan Penyedia Jasa harus membuat rencana
sendiri mengenai fasilitas yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan. Lokasi
yang digunakan sebagai daerah kerja harus atas persetujuan dari Direksi.

Pemberi tugas tidak bertanggung jawab atas pengaturan dan penggunaan daerah diluar
daerah pelaksanaan dan fasilitas.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 14
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

13. LAIN-LAIN

13.1 Patok Duga dan Batas Luar

Patok duga permanen telah ditetapkan oleh Direksi dan ditunjukkan pada gambar. Data
acuan seperti patok duga akan dikirimkan kepada Penyedia Jasa pada saat Surat Perintah
Mulai Kerja dikeluarkan.

Penyedia Jasa boleh menetapkan patok duga tambahan sementara untuk kenyamanannya
tetapi masing-masing patok duga sementara yang dibentuk akan disain dan penempatan
harus disetujui oleh Direksi.

Penyedia Jasa harus bertanggung jawab dalam penempatan batas luar lokasi dari semua
acuan penunjuk pada lokasi. Semua itu harus sesuai dengan gambar atau seperti yang
diarahkan oleh Direksi.

13.2 Pekerjaan yang Harus di Jaga Terhindar dari Air

Kecuali jika yang ditetapkan di sini atau yang diperintahkan oleh Direksi, Penyedia Jasa akan
menjaga pekerjaan dengan drainasi yang baik sampai sertifikat pemeliharaan dikeluarkan
dan akan dipastikan bahwa sepanjang dapat dipraktekkan menurut pengertian Direksi
semua pekerjaan dilaksanakan dalam kondisi kering. Area yang digali diharapkan dengan
kondisi drainasi yang baik dan dijaga dari kedudukan air.

Penyedia Jasa akan membangun dan memelihara semua cofferdam sementara, mata air
dan pekerjaan lain, dan akan menyelesaikan semua pemompaan yang mungkin diperlukan
untuk membebaskan pekerjaan dari air manakala pembangunan konstruksi sedang
dilaksanakan. Semua pekerjaan sementara seperti itu harus dipindahkan secara bersamaan
atas persetujuan Direksi manakala pekerjaan telah selesai.

13.3 Peledakan

Penyedia Jasa tidak boleh menggunakan segala bahan ledak tanpa mendapatkan ijin
secara tertulis dari pihak berwenang terkait. Penggunaan dan penyimpanan dari semua
bahan peledak dalam suatu gudang senjata harus tunduk kepada persetujuan pihak
berwenang terkait dan harus disetujui oleh Direksi.

Penyedia Jasa lebih lanjut akan menyusun biaya untuk perlengkapan keselamatan dari milik
Direksi, Direksi dan personil Penyedia Jasa untuk perlindungan masyarakat umum dan
orang lain selama pelaksanaan peledakan. Ketika peledakan diijinkan harus dilaksanakan
dengan keras sesuai dengan peraturan tertulis yang sebelumnya telah disetujui oleh
Direksi.

13.4 Pengamanan dan Perlindungan Terhadap Api

(1) Pengamanan
Penyedia Jasa harus mengambil semua tindakan pencegahan dari kemungkinan
terjadinya kematian atau luka-luka pada pekerja atau pihak lain dan harus melakukan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 15
Spesifikasi Umum PLTM Lau Gunung

tindak pengamanan sebagaimana mestinya dalam pekerjaan sesuai dengan


permintaan Direksi.

Penyedia Jasa harus mengambil semua tindakan pencegahan guna mencegah


kerusakan pada lokasi atau lokasi lain yang disekitar lokasi. Penyedia Jasa harus selalu
mematuhi semua peraturan pencegahan kecelakaan dan peraturan keselamatan.

Penyedia Jasa akan melaporkan kepada Direksi semua kecelakaan yang berakibat
kematian atau luka-luka serius yang terjadi pada siapapun, di lokasi atau sebagai akibat
pelaksanaan Penyedia Jasa.

(2) Perlindungan Terhadap Kebakaran


Penyedia Jasa harus mengambil tiap-tiap tindakan pencegahan untuk mencegah dari
kebakaran yang terjadi pada lokasi. Penyedia Jasa harus mematuhi peraturan dan
hukum yang berkenaan dengan kebakaran dan instruksi dari Direksi berkenaan
dengan pencegahan kebakaran.

Penyedia Jasa harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengatasi kebakaran


yang terjadi pada lokasi, di manapun sumber kebakaran itu terjadi. Penyedia Jasa
harus menggunakan semua peralatan dan sekuat tenaga untuk melawan api sampai
pada batas dari peralatannya dan mengerahkan semua yang ada di lapangan,
mencakup peralatan dan tenaga kerja yang ada.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant SU - 16
Persiapan PLTM Lau Gunung

BAB I

PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1 MOBILISASI DAN DEMOBILISASI PERALATAN


Penyedia harus dapat menyediakan peralatan yang diperlukan untuk pembangunan PLTM
Lau Gunung

Penyedia harus menyerahkan jadwal penggunaan peralatan kepada direksi paling lambat
satu minggu setelah dikeluarkan Surat Perintah Mulai Kerja

Pembayaran mobilisasi dan demobilisasi peralatan disesuaikan dengan jadwal mobilisasi


dan demobilisasi peralatan.

1.2 JALAN MASUK SEMENTARA


Jika jalan masuk sementara menuju ke lokasi pekerjaan tidak tersedia atau jalan masuk
sementara (pintas) untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi tidak ada, maka Penyedia
Jasa harus membuatkan jalan masuk sementara menuju lokasi pelaksanaan pekerjaan
konstruksi atau jalur jalan pintas sementara atas persetujuan dari Direksi dan atas biaya
Penyedia Jasa.

1.3 FASILITAS PENYEDIA JASA SEMENTARA


Penyedia jasa harus menyediakan sendiri fasilitas sementara pada lokasi pekerjaan untuk
menunjang kegiatannya, sebelum kantor lapangan, barak kerja dan fasilitas lainnya
selesai dibangun.

1.4 FASILITAS KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN


Penyedia jasa harus melakukan kesepakatan dengan Direksi Teknik (Direksi) untuk
pembuatan dan pengoperasian dari keselamatan kerja dan kesehatan kerja serta
Lingkungan (K3L) termasuk unit pertolongan pertama dan dilakukan oleh sarana
kendaraan ambulan saat pekerja mengalami sakit dapat dirawat di rumah sakit di kota
terdekat.

1.5 BANGUNAN FASILITAS DI LAPANGAN


Penyedia jasa harus membangun barak kerja dan kantor lapangan pada lokasi yang
ditunjukkan oleh Direksi Teknik dengan dimensi seperti petunjuk Direksi Teknik.

Penyedia jasa harus membangun penyediaan air bersih meliputi pembuatan sumur bor
kedalaman secukupnya, pengadaan dan pemasangan pompa air, pipa, saringan,
penampungan/reservoir, sistem perpipaan distribusi dan semua kelengkapan untuk
penyediaan pengoperasian, pemeliharaan sistem air bersih di lokasi yang disetujui oleh
Direksi Teknik.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant I-1
Persiapan PLTM Lau Gunung

Penyedia Jasa harus membangun penyediaan sarana penerangan dan operasi lapangan
yaitu menyediakan instalasi listrik dengan penyambungan saluran PLN atau dengan
genset untuk bangunan fasilitas beserta sistem penerangan.

Penyedia Jasa harus membangun penyediaan sarana telekomunikasi meliputi pengadaan,


pemasangan dan pemeliharaan Handy Talky (HT), beserta peralatannya, yang dipasang di
kantor lapangan dan kantor pusat.

1.6 JALAN HANTAR/MASUK


Penyedia jasa harus menyerahkan untuk mendapat persetujuan dari Direksi Teknik usulan
rencana dan gambar (construction drawing) dari pekerjaan jalan hantar / masuk, proteksi
tebing, drainasi dan gorong-gorong.

Pelaksanaan pekerjaan jalan hantar/masuk akan dilaksanakan berdasar kebutuhan


mengacu spesifikasi teknik pada Bab Pekerjaan Jalan.

1.7 PENGELAKAN SUNGAI


Penyedia harus menyediakan semua bahan, tenaga kerja dan peralatan yang diperlukan
selama pelaksanaan dan pemeliharaan pekerjaan pengendalian sungai.

Penyedia jasa bertanggunjawab untuk mengembangkan metode pengelakan secara


terperinci, dan harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

1.8 PENGERINGAN (DEWATERING)


Setelah pengelakan sungai perlu dipersiapkan sistem pengeringan (dewatering) terutama
pada galian pondasi bendung.

Perencanaan sistem pengurasan harus memperhitungkan debit pengurasan, penurunan


muka air yang diinginkan, jenis dan jumlah serta penempatan pompa harus direncanakan
sebelum penggalian dimulai. Semakin lengkap dan akurat data geohidrologis yang
diperoleh akan memberikan hasil perencanaan yang tepat.

Pengujian pemompaan (pumping test) perlu dilakukan untuk memperoleh nilai kelulusan
air (k) lapangan terutama pada aluvial, dan evaluasi efisiensi pemompaan berkaitan
rencana penurunan muka air tanah secara berkeseimbangan.

1.9 PELAPORAN DAN PENGGAMBARAN HASIL PEKERJAAN


Penyedia jasa harus membuat laporan, gambar konstruksi, gambar as-built drawing,
dokumentasi pelaksanaan pekerjaan dan yang harus disetujui oleh Direksi teknik. Pada
pembuatan seluruh dokumen, laporan, surat-menyurat, pengembalian laporan,
pembuatan laporan, penggambaran gambar konstruksi dan gambar as-built drawing dan
lain sebagainya, tidak dilakukan pembayaran secara terpisah. Laporan hasil pekerjaan
kepada direksi teknik dan pemilik pekerjaan termasuk penggambaran, dokumentasi dari
hasil pemotretan dan file rekaman akan menjadi milik dari pemilik pekerjaan/owner.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant I-2
Persiapan PLTM Lau Gunung

1.10 PEMBAYARAN PEKERJAAN


(a) Mobilisasi, jalan sementara, fasilitas sementara,
Pembayaran untuk mobilisasi, jalan sementara, yang diperlukan pada pasal ini
dilakukan secara terpisah.
(b) Bangunan Fasilitas
Pengukuran untuk pembayaran dihitung menurut harga satuan untuk per m2
(meter persegi) untuk bangunan barak , kantor lapangan dan bangunan
laboratorium . Seluruh pembiayaan pekerjaan pembangunan barak kerja dan
kantor lapangan, harus mengacu pada spesifikasi umum dan sudah termasuk
didalam satuan harga satuan pada daftar kuantitas dan harga pekerjaan.
Pembayaran untuk barak kerja dan kantor lapangan tersebut didasarkan pada
harga satuan per m2 (meter persegi) seperti yang tercantum dalam daftar kuantitas
dan harga pekerjaan dan sesuai dengan yang disyaratkan, termasuk perabot dan
peralatan kantor yang diadakan oleh penyedia jasa, penyediaan sarana air bersih,
telekomunikasi, fasilitas kesehatan, listrik dan penerangan. Biaya penyedia jasa
dalam melaksanakan pengadaan dan perawatan sarana air bersih, telekomunikasi,
listrik, fasilitas kesehatan, perabot dan peralatan kantor untuk pelaporan dan
penggambaran serta alat laboratorium beton dan mekanika tanah juga sudah
termasuk dalam harga satuan masing-masing pekerjaan pada daftar kuantitas dan
harga pekerjaan.

(c) Jalan Hantar/Masuk dan Gorong-gorong


Pembayaran untuk pekerjaan jalan hantar/masuk, jembatan dan gorong-gorong
didasarkan pada harga satuan tiap jenis pekerjaan seperti yang tercantum dalam
daftar kuantitas dan harga pekerjaan dan sesuai dengan yang disyaratkan.

(d) Pengelakan sungai (coffering dan dewatering)


Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan pengelakan sungai dilakukan dalam
satuan Lump Sum sesuai dengan yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant I-3
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

BAB II

PEKERJAAN TANAH

2.1. UMUM
Yang dimaksud dengan pekerjaan tanah adalah semua pekerjaan sebagai berikut:

- Pembersihan lahan

- Galian tanah biasa

- Galian batu lapuk

- Galian batu

- Timbunan kembali selected material dipadatkan

Penyedia harus menyerahkan rencana yang terperinci tentang pelaksanaan pekerjaan


penggalian dan/atau penimbunan untuk setiap macam kegiatan sebelum kegiatan
dilaksanakan.

Apabila menurut hasil investigasi geologi menunjukkan bahwa semua material yang digali
tidak cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan timbunan, maka material tersebut harus
dibuang di tempat pembuangan (spoil bank).

Apabila menurut pendapat Pengawas Pekerjaan, material galian itu memenuhi syarat,
maka material tersebut harus ditumpuk pada daerah yang tepat untuk kemudian
digunakan dan diangkut langsung ke tempat pelaksanaan sesuai dengan petunjuk
Pengawas Pekerjaan.

2.1.1 Tanah Dasar


i) Definisi
Tanah dasar adalah bagian dari susunan badan jalan yang terletak pada batas
permukaan tanah (di bawah jalan).

ii) Pekerjaan Tanah

Seluruh pekerjaan penggalian dan penimbunan yang akan diperlukan untuk


membentuk permukaan tanah dasar (subgrade) sampai mencapai permukaan
kelandaian memanjang dan melintang sebagaimana yang tercantum dalam
gambar-gambar, harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang
tercantum spesifikasi ini.

iii) Persiapan Pekerjaan Tanah Dasar (Subgrade) dan Pelaksanaannya

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 1
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

Tanah dasar (subgrade) harus dirapihkan dan digilas sesuai dengan permukaan
kelandaian dan kemiringan melintang sesuai gambar. Tidak ada kelandaian atau
kemiringan melintang menyimpang lebih dari ± 15 mm tiap 3 meter panjang jika
dibandingkan dengan gradien dan kemiringan melintang yang sebenarnya.

Jika Rekanan menganggap bahwa pekerjaan persiapan tanah dasar (subgrade)


telah selesai, pengujian kepadatan akan dilakukan sesuai petunjuk
Direksi/Pengawas Pekerjaan dengan mesin gilas berkapasitas 6800 kg. Tingkat
kepadatan tanah dasar (sub grade) minimum adalah CBR 6%.

Tiap bahan yang mengalami keluluhan atau tidak memenuhi syarat yang secara
jelas terjadi selama pemadatan harus dikeluarkan dan diganti dengansirtu atau
bahan hasil galian berbatu lainnya yang sesuai dengan petunjuk Direksi/Pengawas
Pekerjaan. Tingkat kepadatan tanah dasar diminta memenuhi persyaratan .

iv) Perlindungan dan Pemeliharaan tanah dasar

Rekanan harus bertanggung jawab terhadap perlindungan dan pemeliharaan tanah


dasar sepanjang waktu pelaksanaan dan terutama sekali dalam musim penghujan.

Rekanan atas biaya sendiri harus mempersiapkan semua peralatan sementara yang
diperlukan untuk melindungi tanah dasar tetap dalam keadaan kering dan menjaga
gradasi jalan serta menjamin tidak ada genangan air.

Bila menurut Direksi/Pengawas Pekerjaan bahwa Rekanan tidak memenuhi


persyaratan dalam spesifikasi ini maka Rekanan harus memperbaiki pekerjaan
tersebut dengan tidak ada tambahan biaya.

Selama musim penghujan Rekanan harus mempersiapkan peralatan yang


diperlukan untuk menghindari rusaknya tanah dasar. Rekanan harus memperbaiki
kembali semua tanah dasar yang rusak dengan tidak ada tambahan biaya.
2.2. PEKERJAAN PEMBERSIHAN
Seluruh daerah yang dibersihkan adalah daerah yang sesuai dengan gambar atau petunjuk
Pengawas Pekerjaan. Pada dasarnya pekerjaan ini terdiri dari pembersihan pohon-pohon,
tanam-tanaman, kayu-kayu, akar-akar, semak belukar, sampah dan bahan yang tidak
terpakai pada daerah yang ditentukan Pengawas Pekerjaan.

Material yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan harus dibakar atau dibuang ke
tempat yang telah disetujui Pengawas Pekerjaan. Pohon-pohon diluar daerah tersebut di
atas, tidak boleh ditebang tanpa persetujuan Pengawas Pekerjaan. Semua yang ditebang
dan laku dijual dari hasil pekerjaan pembersihan tetap menjadi milik pemilik.

Semua material yang akan dibakar harus ditumpuk dengan rapi dan bila keadaan sudah
memungkinkan kemudian dibakar seluruhnya. Pembakaran harus sedemikian rupa,

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 2
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

dengan resiko akibat akibat pembakaran sekecil mungkin, dan waktunya harus mendapat
persetujuan Pengawas Pekerjaan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pembakaran ini harus dilaksanakan secara sempurna sehingga semua menjadi abu.
Penyedia harus berhati-hati sekali agar api tidak menjalar keluar daerah penebangan dan
perlengkapan pemadam kebakaran yang memenuhi syarat harus tersedia setiap saat
pada tempat-tempat yang menurut Pengawas Pekerjaan perlu diberi alat pemadam
kebakaran.

2.3. PEKERJAAN GALIAN


2.3.1 Umum
Seluruh pekerjaan galian harus dilaksanakan menurut ukuran dan kedalaman yang
ditunjukkan dalam gambar, atau menurut ukuran dan kedalaman sebagaimana
diperintahkan oleh Pengawas Pekerjaan. Ukuran, kedalaman dan batas-batas penggalian
harus ditunjukkan kepada Pengawas Pekerjaan lebih dahulu, sebelum memulai pekerjaan
penggalian pada setiap tempat.

Penyedia harus bertanggung jawab akibat penggalian lebih (over excavation) dan
Penyedia wajib menimbun dan memadatkan kembali dengan bahan timbunan atau
mengisi ruang kelebihan galian dengan beton sesuai dengan garis rencana atau menurut
pengarahan Pengawas Pekerjaan. Biaya atas penggalian lebih, penimbunan kembali,
pengisian dengan material beton atau cara lainnya akibat kesalahan penggalian
merupakan tanggung jawab Penyedia.

Hasil galian yang layak untuk bahan timbunan harus diangkut ke tempat penimbunan
sementara (stock pile) atau tempat lain sesuai dengan pengarahan Pengawas Pekerjaan.
Hasil galian yang tidak layak untuk bahan timbunan harus dibuang ke tempat
pembuangan (spoil bank) yang telah ditentukan. Penyedia wajib meratakan dan
merapikan spoil bank. Biaya meratakan dan merapikan spoil bank sudah termasuk di
dalam harga pekerjaan galian terbuka.

Penentuan jenis tanah galian akan ditentukan sesuai dengan kenyataan di lapangan dan
dibuat berita acara yang ditandatangani oleh Pengawas Pekerjaan, Konsultan dan
Penyedia Jasa sebagai dasar dalam pendataan dan pembuatan gambar as built drawing.

Keamanan kemiringan lereng galian open-cut pada lapisan tanah harus dijaga oleh
Penyedia.

Pada setiap pekerjaan penggalian, Penyedia wajib mengendalikan dan menguras air agar
tempat penggalian tetap kering untuk mengantisipasi keruntuhan formasi galian akibat
air.

2.3.2 Galian Tanah Biasa


Pekerjaan galian tanah biasa (common soil) adalah berupa penggalian pada seluruh jenis
tanah residual (residual soil) dan bukan klasifikasi batuan lapuk ataupun batu. Galian
tanah biasa dapat dilakukan dengan segala jenis peralatan mekanis tanpa memerlukan
proses ripping atau breaking.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 3
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

Jenis material yang termasuk didalam kategori tanah (common soil) adalah batuan
dengan tingkat pelapukan V dan VI. Jenis material ini diantaranya meliputi semua residual
soil yang umumnya disebut "tanah", tanah liat (clay), lanau (silt), pasir, kerikil, cobble.

2.3.3 Galian Batuan Lapuk


Pekerjaan galian pada batuan lapuk (weathered rock) adalah berupa penggalian pada
massa batuan dengan tingkat pelapukan III dan IV seperti halnya bahan pasir dan batu
(sirtu) yang telah mengalami proses konsolidasi dan sementasi, cadas. Material ini
umumnya tidak dapat digali begitu saja dengan peralatan mekanis tanpa digaruk (ripping)
terlebih dahulu dengan excavator / bulldozer sekelas Caterpillar D-7 dilengkapi single
shank ripper excavator yang setara atau alat lain yang sejenis.

2.3.4 Galian Batu


Pekerjaan galian batu (rock) adalah berupa penggalian pada massa batuan dengan tingkat
pelapukan I dan II. Jenis material ini tidak dapat digaruk (ripping) dengan bulldozer sekelas
Caterpillar D-8 dilengkapi single shank ripper, atau alat sejenis.

Massa batuan dengan tingkat pelapukan I dan II hanya dapat dipotong dengan
menggunakan drilling dan blasting, drilling dan wedging atau barring atau menggunakan
rock breaker (excavator & hydraulic breaker 1,3 ton). Apabila digunakan rock breaker,
umumnya produktifas kerjanya cukup rendah dan menimbulkan suara nyaring akibat
benturan antara ujung breaker dengan batuan keras.

Boulder atau potongan batuan yang volume butirannya lebih besar dari 1 m3 dapat
dikategorikan sebagai galian batu.

2.3.5 Pembuangan Material Galian yang Tidak Dipakai


Material yang tidak cocok untuk dipakai pada bangunan, harus diangkut dan dibuang ke
spoil bank.

Timbunan pembuangan spoil bank, harus diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu aliran sungai maupun pelaksanaan pekerjaan serta tidak mengganggu
bangunan atau sarana yang sudah ada, misalnya irigasi, jalan dan lain-lain.

Bila diperlukan, sesuai saran dari Pengawas Pekerjaan, timbunan pembuangan harus
diratakan dan dibentuk untuk drainasi, perlindungan dari erosi dan tepinya diatur supaya
bagus.

Semua biaya yang timbul dalam penyediaan spoil bank menjadi kewajiban penyedia jasa

Perubahan lokasi atau adanya tambahan-tambahan ke daerah pembuangan sesuai


dengan keinginan Penyedia harus dilakukan atas biaya Penyedia dan harus disetujui oleh
Pengawas Pekerjaan.

Penyedia harus menyerahkan kepada Pengawas Pekerjaan untuk disetujui mengenai


usulan daerah-daerah pembuangan material, selain yang sudah disetujui Pengawas
Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 4
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

2.4. PEKERJAAN TIMBUNAN TANAH KEMBALI SELECTED MATERIAL DIPADATKAN


Pekerjaan yang termasuk dalam timbunan terdiri dari pekerjaan pengadaan material
timbunan, stock pile, pengangkutan, pengaturan kadar air, penempatan,
penebaran/penghamparan, pemadatan, pengujian dan perawatan terhadap hasil
pekerjaan timbunan.

2.4.1 Penyiapan Pondasi


a) Pada tempat yang telah disediakan untuk pekerjaan timbunan, harus disiapkan dan
mendapatkan persetujuan direksi teknik untuk sekurang-kurangnya 100 m ke
depan dari penempatan lapisan timbunan.
b) Penyiapan pondasi dilaksanakan pembersihan, stripping dan perataan.
c) Petyiapan pondasi dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dan persetujuan direksi.

2.4.2 Penghamparan
Lapisan material harus dihampar di tempat timbunan dengan merata. Tebal maksimum
lapisan tidak boleh melebihi 30 cm atau sesuai dengan ketentuan dari hasil uji coba
timbunan dengan toleransi 5 cm sebelum dipadatkan, kecuali diperintahkan lain oleh
direksi teknik. Kelembaban dalam material timbunan harus tersebar secara merata
dengan rentang kadar air yang disyaratkan.

Batu dengan dimensi yang lebih besar dari 10 cm harus dibuang dari lokasi pekerjaan.

Material dihampar pada elevasi permukaan yang merata yang akan menghasilkan tebal
padat yang diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan. Bila akan dilaksanakan tiap
bagian tanggul dengan beda elevasi, maka harus dengan persetujuan direksi.

Lapisan harus dihampar dan dibentuk dengan metode yang disetujui yang tidak
menyebabkan pemisahan partikel agregat kasar dan partikel agregat halus (segregasi).
Material yang tersegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan bahan yang
bergradasi baik.

Lebar penghamparan di bagian tepi harus dilebihkan minimal 0.50 m apabila dengan
pertimbangan bahwa bagian tepi yang sebenarnya, akan mendapatkan pemadatan sesuai
persyaratan, kemudian pada akhir pemadatan, kelebihan lebar 0,50 m ini akan dipotong
kembali sesuai dengan dimensi dalam gambar.

2.4.3 Pemadatan
Segera setelah penghamparan dan pembentukan akhir, masing-masing lapis harus
dipadatkan menyeluruh dengan peralatan pemadatan yang sesuai dan memadai yang
disetujui oleh direksi, dengan jumlah lintasan yang memadai hingga kepadatan paling
sedikit 90 % dari kepadatan kering maksimum menurut standar proctor.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 5
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

Pemadatan dilakukan hanya apabila kadar air dari material timbunan berada dalam
rentang ± 3% dari kadar air optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang
dihasilkan dengan metode D pada SNI 03-1971-1990.
Pemadatan harus dimulai dalam arah memanjang, sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit kearah sumbu. Pemadatan harus dilanjutkan sampai seluruh permukaan
menjadi rata dan padat. Overlap antara bagian yang sudah padat dan bagian yang belum
padat adalah 30 cm.
Seluruh permukaan akhir timbunan yang terekspos harus cukup rata dan harus memiliki
kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran air permukaan yang bebas.

2.4.4 Perapihan Pemadatan


Kemiringan akhir harus dipotong dan dirapikan dengan backhoe, dengan kemiringan /
slope dan dimensi akhir harus sesuai dengan gambar.
Material timbunan yang dimensinya lebih besar dari 10 cm harus disingkirkan dari lereng.
Elevasi akhir harus sesuai dengan gambar dan disetujui oleh direksi teknik sesuai dengan
toleransi.

2.4.5 Kendali Mutu


a) Persetujuan awal material timbunan
Penyedia jasa harus mengajukan persetujuan awal dari pemakaian material
timbunan kepada direksi untuk mendapatkan persetujuan, meliputi lokasi sumber
material / borrow area, jenis material, hasil uji laboratorium paling sedikit 3 (tiga)
contoh yang mewakili dari masing-masing material yang diusulkan, dengan jenis
pengujian sesuai dengan perintah direksi.

b) Perubahan material timbunan


Bila ada perubahan pada material timbunan yang diusulkan dari borrow area baik
jenis , lokasi sumbernya dan metode produksinya, maka Penyedia Jasa harus
melakukan pengujian ulang material timbunan. Sebelum material tersebut dipakai
timbunan harus disetujui oleh Direksi. Pengujian material timbunan dari borrow
area seperti tercantum di butir a) juga harus dilaksanakan oleh penyedia jasa
dengan interval 1 x uji/test setiap 100.000 m3 pelaksanaan timbunan.

c) Uji kepadatan dan kadar air di lapangan


Uji kepadatan dan kadar air dari bahan yang dipadatkan di lapangan harus secara
rutin dilakukan oleh penyedia jasa, dengan menggunakan SNI 03-2828-1992.
Bila penyedia jasa akan menggunakan metode lain, maka harus diajukan terlebih
dahulu kepada direksi untuk mendapatkan persetujuan. Pengujian harus dilakukan
sampai keseluruhan kedalaman pada setiap lapis tersebut pada lokasi yang
ditetapkan oleh direksi, tetapi tidak boleh berselang lebih dari 100 m.
Pengujian kepadatan dan kadar air dari bahan yang dipadatkan harus dilakukan
setiap hari, yaitu pagi untuk uji kadar air material timbunan dan sore untuk uji
kepadatan timbunan pada waktu pelaksanaan pekerjaan penimbunan. Pengujian
harus dilakukan sampai keseluruhan kedalaman dari lapis tersebut pada lokasi yang
ditetapkan oleh direksi.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 6
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

2.4.6 Uji Coba Untuk Timbunan


a) Umum
Sebelum pelaksanaan timbunan tanggul dilakukan, maka harus dilakukan “uji coba
timbunan di lapangan” terlebih dahulu untuk mengevaluasi syarat-syarat
penyiapan pondasi, pengupasan tanggul lama, penghamparan material yang
diperlukan serta kapabilitas pemadatan. Rencana harus diajukan kepada direksi,
meliputi metode pelaksanaan uji coba timbunan, material yang dipakai, peralatan,
uji material serta pengukuran ketebalan lapis timbunan.
Pekerjaan uji timbunan meliputi hal-hal sebagai berikut:

(1) Material timbunan yang memerlukan uji laboratorium


(2) Lingkup Pengujian
(a) Cara-cara dan peralatan yang diusulkan penyedia jasa dalam hal
penggalian, pengangkutan penanganan dan pemadatan material.
(b) Nilai parameter material timbunan
(c) Efek ketebalan.
(d) Efek sesudah dilewati pemadat dan pemadatannya.
(e) Jumlah lintasan pemadatan dan masalah lain yang dianggap perlu oleh
direksi.
Proses pekerjaan penggalian, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan
harus ditentukan untuk menetapkan prosedur pelaksanaan yang akan
menghasilkan material dengan gradasi dan tingkat kepadatan seperti yang
disyaratkan dalam spesifikasi.

(3) Jadwal pengujian


Pelaksanaan uji lapangan dan produksi material harus dikoordinasikan dan
dijadual sedemikian rupa untuk menjamin selesainya pengujian dan
evaluasinya, agar hasilnya dapat digunakan sebagai metode yang
dipergunakan untuk timbunan yang sebenarnya di lapangan dan agar sesuai
dengan spesifikasi yang ditentukan.

(4) Pengujian
Penyedia jasa akan melaksanakan pengujian gradasi, kepadatan dan
pengujian kadar air, serta melaksanakan pengukuran ketebalan tiap lapis dan
pelaksanaan evaluasi uji lapangan / field test. Penyedia jasa harus segera
melaporkan hasil uji coba timbunan kepada direksi untuk keperluan
pelaksanaan timbunan selanjutnya.

b) Peralatan
Semua peralatan untuk melaksanakan uji coba timbunan ini harus disediakan
penyedia jasa dan diajukan kepada direksi, antara lain peralatan yang diperlukan
untuk penggalian, pemrosesan, stock pilling, pengangkutan, penempatan,

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 7
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

penghamparan, kontrol kadar air dan pemadatan pada uji lapangan. Alat
penghampar, pemadat dan pemercik yang dipakai harus sama jenisnya dengan
dipakai pada pelaksanaan timbunan, kecuali ada saran lain dari direksi.
Pemakaian alat lain harus sudah seijin direksi, dan telah menunjukkan kemampuan
yang sama dengan alat yang disyaratkan, seperti yang ditentukan pada pengujian
dasar.

c) Pelaksanaan Uji Timbunan di Lapangan (Field test)


(1) Sumber material
Material untuk pelaksanaan uji lapangan harus didapat dari lokasi yang sudah
disetujui direksi.

(2) Pemilihan material


Penggalian material timbunan di lokasi borrow area harus dilakukan dengan
cara-cara yang sesuai dengan prosedur penggalian, agar gradasi material
bahan uji lapangan tersebut memenuhi peryaratan. Dalam hal akan
melakukan penggalian dengan prosedur yang dimodifikasi, maka diperlukan
pengujian tambahan untuk mengevaluasi prosedur yang dimodifikasi
tersebut.
Apabila lokasi borrow area diganti dari lokasi yang sudah disetujui, maka
harus dilakukan pengujian lagi untuk mendapat persetujuan direksi.

(3) Persiapan landasan / pondasi


Penyiapan landasan / pondasi pada setiap lokasi uji timbunan, maka
landasan harus dibersihkan dari tumbuhan dan semua sisa bangunan dan
benda lainnya.
Daerah untuk pengujian harus dikupas, diratakan dan dibersihkan serta
dipadatkan, permukaan yang cukup kering untuk pengujian, semuanya harus
sesuai saran dari direksi.

(4) Penghamparan
Material harus ditempatkan dan dihamparkan pada lapisan yang merata
diseluruh daerah uji lapangan. Ketebalan zona ini harus sesuai dengan saran
direksi. Ukuran ketebalan lapisan maksimum yang diijinkan untuk bagian
timbunan yang harus dipadatkan tidak boleh melampaui ketebalan lapisan
yang disarankan.
Setelah masing-masing daerah timbunan dihampari material dengan
ketebalan yang merata, harus ditempatkan “grid system” di atas permukaan
uji timbunan seperti saran direksi. Pelat baja harus diletakkan pada
perpotongan grid di atas luasan, dan lokasinya diberi tanda dengan cat.

(5) Kontrol kelembaban.


Kontrol kelembaban dilakukan di lokasi timbunan. Tingkat kelembaban harus
disesuaikan, melalui proses seperti yang disetujui direksi dengan batas-batas
variasi dari nilai optimum ± 3%.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 8
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

(6) Pemadatan
Pemadatan dilaksanakan dengan melewatkan alat pemadat seperti yang
disyaratkan di atas hamparan material. Setiap bagian field test harus dilewati
alat pemadat agar tercapai tingkat kepadatan yang diinginkan.
Semua peralatan untuk uji lapangan ini (alat angkut, penghamparan,
pemercik air, pemadat, dll) harus dilewatkan di atas timbunan dengan
merata, ek lalu lintas peralatan yang agar tidak terjadi pemadatan yang
berlebihan diantara bagian uji lapangan tersebut. Bila ada bagian yang
menunjukkan efek lalu-lintas yang berlebihan, maka harus dibongkar dan
ditimbun kembali sebelum dimulainya pelaksanaan pemadatan. Permukaan
bagian atas timbunan yang rata harus dikasarkan agar memperoleh kondisi
yang cukup kering sesudah dipadatkan.

(7) Pengujian
Penyedia jasa harus mengambil contoh material timbunan yang terpadatkan
untuk diadakan uji kepadatan dan kadar air. Pengujian tersebut dilaksanakan
pada setiap lapis ketebalan dan pada setiap jumlah lintasan pemadatan.
Penyedia jasa juga akan melaksanakan perbaikan, penyesuaian atau
modifikasi mengenai cara-cara pelaksanaan dan kadar air sehingga uji coba
timbunan dianggap memadai, untuk memperoleh informasi dan data
pengujian yang diperlukan, tanpa ada biaya tambahan bagi penyedia jasa.
Pengujian laboratorium dan lapangan dilaksanakan sesuai dengan yang
disyaratkan dalam spasifikasi ini. Pengujian dengan cara lain harus mendapat
persetujuan dari direksi.
Monitoring selama uji lapangan (elevasi permukaan lapisan timbunan, uji
lapangan, uji laboratorium dan pemotretan / dokumentasi serta penyusunan
laporan) harus dibuat sesuai dengan yang disarankan oleh Direksi. Tidak ada
mata pembayaran tersendiri bagi semua tahapan pelaksanaan uji timbunan
di lapangan ini.

2.5. GALIAN DENGAN PELEDAKAN


2.5.1 Umum
Apabila akan digunakan bahan peledak, dalam menangani bahan peledak maupun
melaksanakan pekerjaan peledakan, Penyedia harus hati-hati sekali untuk melindungi
serta menjaga keamanan manusia, pekerjaan dan harta benda.

Lokasi dan rencana gudang bahan peledak, metode pengangkutan bahan peledak,
pemakaian bahan peledak harus diatur sedemikian rupa sehingga mencegah timbulnya
kecelakaan, dan harus sesuai dengan undang-undang dan peraturan Negara Republik
Indonesia dan sesuai dengan petunjuk Pengawas Pekerjaan.

Penyedia harus bertanggung jawab apabila sampai terjadi kecelakaan yang menimbulkan
kematian, luka atau kerusakan harta benda yang disebabkan karena pekerjaan peledakan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 9
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

Semua biaya untuk ijin bahan peledakan dan penanganan bahan peledak, pelaksanaan
peledakan sudah diperhitungkan oleh Penyedia dan sudah termasuk dalam harga satuan
yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan untuk pekerjaan
penggunaan bahan peledak dan peledakannya.

Penyedia harus memiliki tenaga juru ledak yang bersertifikat untuk melaksanakan
pekerjaan peledakan.

2.5.2 Penanganan Bahan Peledak


Penyedia harus menyediakan fasilitas pelindung untuk keamanan tempat penyimpanan
berang-barang dan supaya bahan peledak terhindar dari pencurian. Diijinkan adanya
tempat penyimpanan bahan peledak dan detonator di luar gudang senjata/mesiu.

Penyedia harus mempunyai catatan inventarisasi untuk penyimpanan dan pengembalian


seluruh bahan peledak termasuk detonator, yang sewaktu-waktu dapat dilihat oleh
Pengawas Pekerjaan. Penyedia bertanggung jawab sepenuhnya atas gudang
penyimpanann dan bahan peledak apabila terjadi kerusakan atau kehilangan. Dan bila
terjadi kehilangan atau pencurian bahan peledak tersebut, harus diberitahukan pada
Pengawas Pekerjaan.

2.5.3 Pekerjaan Peledakan


Untuk semua pelaksanaan peledakan, kedalaman dan ukuran lubang serta ukuran dan
ciri-ciri muatan harus direncanakan lebih dahulu untuk mendapat persetujuan dari
Pengawas Pekerjaan. Bahan peledak untuk setiap peledakan, dengan kuantitas dan
kekuatan yang ditentukan, haruslah sedemikian rupa sehingga lokasi-lokasi yang
diledakkan tidak diluar batas galian.

Kalau pekerjaan galian mendekati akhir galian, maka kedalaman lubang untuk peledakan
dan banyaknya bahan peledak yang dipakai per lubang harus dikurangi sesuai dengan
petunjuk Pengawas Pekerjaan.

Untuk galian pondasi pada konstruksi beton, untuk mencegah kehancuran sisi samping
dan dasar dari pondasi batuan segera sebelum penempatan material beton, pondasi
batuan harus selesai digali sampai pada garis formasi yang diperlukan dengan alat tangan
atau cara lain yang disetujui Pengawas Pekerjaan.

Peledakan baru diijinkan untuk dilaksanakan bila sudah dibuat perlindungan terhadap
manusia, pekerjaan dan milik umum maupun pribadi. Sekalipun Pengawas Pekerjaan atau
wakilnya sudah menyetujui pelaksanaan pekerjaan ini, Penyedia tidak lepas tanggung
jawab seperti yang tertera di atas.

Pengawas Pekerjaan tidak mengijinkan peledakan yang dapat merusak pekerjaan dan bila
terjadi kerusakan material di luar batas pekerjaan galian yang dikehendaki, maka biaya
perbaikan menjadi tanggung jawab Penyedia.

Penyedia harus menyerahkan uraian secara detail mengenai metode dan prosedur
pelaksanaan pekerjaan galian kepada Pengawas Pekerjaan, untuk disetujui, paling lambat

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 10
Pekerjaan Tanah PLTM Lau Gunung

30 (tiga puluh) hari sebelum pekerjaan galian dimulai, dengan menggunakan teknik pre-
splitting.

2.5.4 Rencana Pengamanan dalam Menangani Bahan Peledak dan Pekerjaan Peledakan
Tindakan pengamanan secara detail mencakup seluruh aspek penanganan bahan peledak
dan dalam melakukan peledakan sebaiknya dipersiapkan dan diajukan oleh Penyedia
kepada Pengawas Pekerjaan untuk mendapat persetujuan paling sedikit enam puluh (60)
hari kalender sebelum Penyedia membawa semua bahan peledakan ke lokasi.
Penggunaan bahan peledak, dan tindakan pengamanan secara umum diambil untuk
mencegah kecelakaan relatif untuk bahan peledak dan pekerjaan peledakan.

2.6. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


2.6.1 Pembersihan lahan
Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan pembersihan, tebas, tebang dan cabut
tunggul dilakukan dalam satuan meter persegi (m2) seperti yang tercantum dalam Daftar
Kuantitas dan Harga. Pembayaran sudah termasuk biaya tenaga kerja, material dan
peralatan yang digunakan untuk pekerjaan tersebut.

2.6.2 Pekerjaan galian


Pengukuran dan pembayaran pekerjaan galian dihitung dalam satuan meter panjang
tergali dengan + 10 cm kelebihan galian yang dipersyaratkan (overbreak) dalam galian
dengan peledakan sesuai garis rencana seperti yang tercantum dalam Daftar Kuantitas
dan Harga

Harga satuan untuk material galian sudah termasuk biaya pengangkutan dan
pembuangan ke spoil bank.

2.6.3 Pekerjaan Timbunan Kembali Selected Material Dipadatkan


Pengukuran dan pembayaran semua jenis pekerjaan timbunan dihitung dalam satuan
meter kubik sesuai garis rencana seperti yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan
Harga

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant II - 11
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

BAB III

PEKERJAAN BETON

3.1 UMUM
Tujuan dari spesifikasi ini adalah syarat-syarat tentang pekerjaan beton mulai dari
pekerjaan persiapan, perawatan dan pekerjaan konstruksi yang terkait dengan
penggunaan beton bertulang, beton masif (mass concrete), mortar, dan semua material
yang dapat dicampur dengan semen, agregat halus dan kasar, dan air.

Semua pekerjaan beton harus dilaksanakan sesuai spesifikasi umum dan spesifikasi teknik
dan gambar yang disetujui Pengawas Pekerjaan. Semua pekerjaan beton dilaksanakan
atas ijin dan persetujuan dari Pengawas Pekerjaan.

Sebelum pelaksanaan pekerjaan atau alat apa saja yang dipakai untuk pemprosesan,
penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan penentuan proporsi bahan beton,
pencampuran dan pengangkutan serta penempatan beton dan mortar, Kontraktor harus
menyerahkan flow chart, gambar dan penjelasan tertulis agar ada penetapan yang baik
bagi rencananya dalam memproduksi dan menetapkan beton dan mortar yang terkait
dengan pekerjaan dalam spesifikasi ini. Hal ini harus dilakukan sebelum memulai pertama
kali melakukan pekerjaan ini.

Semua pekerjaan harus memperoleh persetujuan dari Pengawas Pekerjaan. Kontraktor


tidak berhak memperoleh biaya tambahan atas segala peralatan, cara maupun adanya
material campuran serta tata cara pelaksanaan pembuatan beton dan penempatan beton
yang diperlukan seperti yang disyaratkan pada spesifikasi.

Jadi pada prinsipnya bahwa semua kegiatan pelaksanaan pembetonan harus didahului
dengan kegiatan trial mix design untuk mengetahui jumlah komposisi material yang akan
dipakai beserta sifat-sifat fisik material tersebut. Semua hal yang menyangkut trial mix
design adalah menjadi beban dan tanggung jawab Kontraktor.

3.2 SEMEN DAN BAHAN PENCAMPUR


3.2.1 Semen
Semen yang dipakai pada pekerjaan ini harus berkualitas sama dengan semen Portland,
tipe biasa seperti standart JIS R 5210 atau yang disarankan ASTM C 150 dan atau yang
disarankan oleh Pengawas Pekerjaan.

Sebelum pemesanan semen, Kontraktor harus memberitahukan kepada Pengawas


Pekerjaan mengenai detail semen yang akan dibeli dan menyerahkan sertifikat pengujian
kepada Pengawas Pekerjaan.

Kontraktor harus menangani dan menyediakan fasilitas penyimpanan yang memadai


untuk semen, dan harus dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada semen yang mati
/ rusak. Bila Pengawas Pekerjaan berpendapat bahwa ada semen mati/rusak di tempat

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 1
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

penyimpanan maka tempat penyimpanan harus dibersihkan dari bahan semen yang mati
atau rusak tersebut.

Semen yang dikirim dalam kantong-kantong harus diangkut dengan cara yang sudah
disetujui Pengawas Pekerjaan dan disimpan di gudang yang dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak menyerap kelembaban. Fasilitas penyimpanan diatur sedemikian rupa
sedemikian rupa sehingga mudah bagi Pengawas Pekerjaan untuk melakukan inspeksi dan
mengidentifikasi pengiriman semen.

Semen harus disimpan di gudang yang lantainya lebih dari 30 cm dari permukaan tanah,
sedemikian pengaturannya sehingga yang masuk lebih dulu nanti dikeluarkan lebih dulu.
Diantara tumpukan semen harus ada cukup ruang. Dalam satu tumpukan tidak
ditempatkan lebih dari 13 kantung, atau kurang dari 13 kantung seperti saran Pengawas
Pekerjaan, kalau jangka waktu penggudangan lebih dari 60 hari. Biaya gudang semen
sudah termasuk dalam harga kontrak pekerjaan beton.

Semen yang sudah disimpan selama 90 hari atau lebih tidak dibenarkan dipakai untuk
pekerjaan ini, kecuali bila hasil pengujian cukup memuaskan untuk dipakai pekerjaan ini.

Kontraktor harus menjamin bahwa cukup ada persediaan (stock) semen. Pada hari
pertama setiap bulan harus memberitahu kepada Pengawas Pekerjaan mengenai data
sebagai berikut :

(1). Persediaan semen yang ada di lokasi pada setiap akhir bulan.
(2). Pengiriman semen yang diterima bulan itu
(3). Semen yang dipakai bulan itu
(4). Semen yang dibuang atau hilang bulan itu dan alasannya.
(5). Data lain yang diperlukan Pengawas Pekerjaan

3.2.2 Bahan Pencampur (Admixture)


Kontraktor harus menyediakan bahan tambahan beton (bahan pencampur) untuk
menyempurnakan pelaksanaan pekerjaan beton dan mortar bila diminta oleh Pengawas
Pekerjaan. Bahan pencampur tipe air entraining atau tipe set retarding dibenarkan dipakai
bila ada persetujuan Pengawas Pekerjaan.

Semua pengujian untuk bahan pencampur harus dilakukan Kontraktor atas biayanya
sendiri dan hasil uji harus diserahkan kepada Pengawas Pekerjaan untuk mendapat
persetujuan.

Kalau yang dipakai lebih dari satu bahan pencampur, setiap bahan pencampur harus
dibatch pada batchernya sendiri dan ditambahkan ke air pencampurnya secara terpisah,
sebelum dimasukkan ke mixer.

Banyaknya campuran pada setiap pencampuran beton dan di bagian pekerjan mana akan
memakainya, harus memperoleh persetujuan dahulu dari Pengawas Pekerjaan. Semua

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 2
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

biaya insidentil pemakaian admixture, sudah tercakup dalam harga satuan yang
disyaratkan pada harga kontrak.

Bahan pencampur dalam bentuk cair atau powder untuk beton harus disimpan di gudang
yang bisa mencegah penyerapan air. Gudang tersebut harus diatur sedemikian sehingga
material yang dipergunakan dalam urutan seperti waktu datangnya material tersebut di
lokasi. Bila ada bahan pencampur yang sudah kadaluwarsa, containernya harus ditandai
dengan jelas. Untuk menjamin kelancaran pembuatan beton maka harus ada cukup
persediaan bahan pencampur di gudang.

3.3 AGREGAT
3.3.1 Umum
Untuk agregat yang halus yang akan dipergunakan campuran beton dibiarkan kering
setidaknya selama 2 jam dan kemudian ditangani sedemikian sehinga pasir yang dibawa
ke instalasi pencampuran kelembabannya relatif seragam. Bila permukaan tumpukan
pasir yang akan dibawa langsung ke instalasi pencampuran lebih kering atau lebih basah
daripada tumpukan pasir, penanganannya tidak memperhitungkan kondisi permukaan
pasir tersebut.

Biaya untuk menghasilkan agregat yang diperlukan sudah termasuk pada harga satuan
yang tercantum pada harga kontrak untuk beton dimana dipakai agregat. Harga satuan
tersebut harus termasuk semua biaya Kontraktor dalam melaksanakan penggalian,
penanganan, pemrosesan, pengujian, pengangkutan dan penyimpanan material.
Kontraktor tidak berhak mendapatkan biaya tambahan untuk material yang terbuang
yang berasal dari lokasi sumber agregat, termasuk material dengan ukuran lebih besar
atau lebih kecil yang harus diseleksi atau dibuang.

3.3.2 Agregat Halus


Istilah “agregat halus” dimaksudkan untuk memberi istilah agregat dengan partikel
maksimum 5 mm. Kontraktor harus melaksanakan pengujian untuk mengontrol agregat
halus, dan menyediakan / memasang fasilitas untuk keperluan pengujian tersebut.

Agregat halus harus terdiri atas fragmen batuan keras, padat, tahan lama dan “uncoated”
dengan gradasi memadai dan harus relatif bebas kotoran, debu, atau zat organik lain atau
material lain yang tidak diperlukan.

Kelembaban agregat halus yang akan dipakai untuk campuran beton, harus diuji terlebih
dahulu oleh Kontraktor untuk memperoleh persetujuan dari Pengawas Pekerjaan.

Pengujian tersebut akan diserahkan dengan standar JIS A-5308 atau ASTM C-33 meliputi:

 Gradasi
 Spesific gravity
 Absorbtion
 Decantation
 Soundness
 Organic impurities

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 3
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

3.3.3 Agregat Kasar


Istilah agregat kasar dipakai untuk agregat yang ukuran minimalnya 5 mm digradasikan
mulai dari 5 mm sampai ukuran terbesar. Agregat kasar untuk beton harus disediakan
Kontraktor, berasal dari sumber-sumber material dari lokasi yang sudah disetujui oleh
Pengawas Pekerjaan. Kontraktor harus menyediakan dan memasang fasilitas yang sesuai
untuk melakukan pengujian contoh sample, sebelum memulai pekerjaan beton untuk
memperoleh persetujuan Pengawas Pekerjaan.

Agregat Kasar yang digunakan adalah agregat dari batu pecah untuk meningkatkan
kemampuan kuat tekan beton.

Agregat kasar harus bersih, keras, tidak lapuk, berbentuk baik, padat, uncoated dan bebas
dari partikel yang panjang atau “flat”, zat-zat organik atau material lain yang mengganggu
kualitas beton.

Pengujian tersebut diatas akan disesuaikan dengan standar JIS A-5308 atau ASTM C-33,
meliputi :

 Gradasi
 Specific gravity
 Absorbtion
 Decantation
 Soundness
 Abrasion (Los Angeles)

3.4 AIR
Air yang dipakai untuk beton dan mortar untuk pencucian agregat dan untuk curing beton
harus betul-betul bersih dan bebas dari lumpur, zat-zat organik, alkali, garam-garaman,
asam dan kotoran lain. Fasilitas penyimpanan air yang memadai harus disediakan oleh
Kontraktor baik untuk operasi pembuatan beton maupun untuk water curing secara
menerus.

Sarana transportasi untuk air yang dianggap perlu oleh Pengawas Pekerjaan harus
disediakan oleh Kontraktor.

3.5 CAMPURAN BETON


3.5.1 Komposisi
Beton terdiri atas semen portland, air, agregat halus dan kasar, dan bisa ditambahkan pula
bahan pencampur, semua dicampur dan diaduk sampai mencapai konsistensi yang tepat.
Untuk proyek ini yang lokasi dan kondisi yang selalu dipengaruhi oleh garam, maka
komposisi campuran beton harus ditambah bahan pencampur (admiture) tahan air
garam, terkecuali Pengawas Pekerjaan menentukan lain.

3.5.2 Proporsi Pencampuran


Perbandingan untuk proporsi campuran air dan semen yang tepat harus memperoleh
persetujuan Pengawas Pekerjaan agar beton mempunyai “workability”, kepadatan,

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 4
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

impermeabilitas dan keawetan (durability) serta kekuatan, tanpa mempergunakan semen


terlalu banyak.

Untuk memperoleh kekutan tekan yang disyaratkan beton pada gambar sample maka
80% dari total hasil kekuatan kompresif harus sama atau lebih besar dengan kekuatan
desain yang disyaratkan, dimana hubungan berikut ini dipakai untuk menentukan
minimum kekuatan kompresif rata-rata :

f 'c
f av 
1  0,842 V

dimana :

fav = tegangan tekan rata-rata minimum yang diperlukan

f’c = tegangan tekan yang direncanakan

V = koefisien variasi yang dinyatakan dengan desimal

Kontraktor harus memberitahukan kepada Pengawas Pekerjaan bila akan mengadakan


perubahan mengenai proporsi pencampuran, dan harus menyerahkan kepada Pengawas
Pekerjaan alternatif tersebut untuk mendapatkan persetujuan. Kontraktor tidak berhak
untuk mendapatkan biaya tambahan bila ada penambahan proporsi pencampuran.

3.6 KELAS BETON DAN MUTU PEKERJAAN.


Kelas-kelas beton yang dipergunakan dalam pekerjaan dan batas dari bahan pokok tiap
kelas harus mengikuti Standar Nasional Indonesia NI - 2 PBBI - 1971, sebagai pendekatan
berdasarkan pengalaman komposisi masing-masing kelas seperti dibawah ini :

Berat minimum Berat maksimum


Ukuran maksimum
Kelas PC air Pemakaian
kerikil (cm)
tiap m3 beton (kg) Tiap kg PC (kg)

A (K-225) 20 400 (8,0 zak) 0,55 Beton bertulang

B (K-225) 40 350 (7,0 zak) 0,55 Beton bertulang

C (K-175) 20 325 (6,5 zak) 0,55 Beton bertulang

D (K-175) 40 300 (6,0 zak) 0,55 Beton bertulang

E (K-125) 20 275 (5,5 zak) 0,55 Beton massa

F (K-125) 40 250 (5,0 zak) 0,55 Lantai kerja

G (K-125) 80 225 (4,5 zak) 0,55 Beton siklop


Catatan : 1 zak = 50 kg

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 5
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

Bila dipandang perlu oleh Direksi, perbandingan campuran beton akan ditentukan /
diperbaiki selama pekerjaan berlangsung. Kontraktor tidak boleh merubah perbandingan
campuran beton atau sumber dari bahan-bahan tanpa mendapat persetujuan terlebih
dahulu dari Direksi.

Penggunaan semen dengan berat minimal dalam analisa adalah tersebut diatas
sementara bahan lainnya adalah proposional dan aplikasi penggunaan akan ditetapkan
berdasarkan hasil mix design concrete oleh laboratorium yang ditunjuk. Untuk
memproduksi beton Kontraktor diharuskan menggunakan pengaduk mekanis (concrete
mixer / molen) minimal ukuran 250 liter dan juga dilengkapi dengan concrete vibrator
pada saat pengecoran sebagai pemadat.

3.7 PENGUJIAN BETON DAN MATERIAL BETON


Banyaknya air yang dipakai pada beton harus diatur dalam batas-batas yang sudah
ditentukan, untuk memperoleh konsistensi beton yang baik, dengan mempertimbangkan
pula bila memakai bahan pencampur dan agregat maupun semen yang diperlukan.

Slump test harus dilakukan pada beton yang disimpan, tetapi sebelum beton
dikonsolidasi. Pengawas Pekerjaan mungkin memerlukan sedikit slump bila beton dengan
slump lebih sedikit seperti itu bisa segera berkonsolidasi di tempatnya, dengan vibrasi.
Pemakaian sarana penanganan atau pengangkutan seperti buckets, chutes, hoppers
diperkenankan selama tidak mengurangi kualitas beton secara keseluruhan. Dalam
pekerjaan ini tinggi slump yang diijinkan adalah 10 (+ / -) 2 cm.

Sebelum dimulainya pekerjaan beton permanen, Kontraktor harus malaksanakan trial mix
atau setiap beton seperti yang dsyaratkan dibawah pengawasan Pengawas Pekerjaan,
dengan memakai semua bahan dan alat yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan
ini. Trial mix harus berlangsung terus sampai beton mencapai persyaratan yang diminta.

Untuk pelaksanaan trial mix tidak ada biaya tambahan, sudah termasuk pada harga satuan
pada Daftar Volume Pekerjaan.

Pengambilan sampel dan pengujian material beton, beton baru dan keras, harus dilakukan
Kontraktor dibawah pengarahan Pengawas Pekerjaan, sesuai dengan standar JIS atau
ASTM atau semacamnya.

Kontraktor harus melakukan sampling dan pengujian beton secara rutin untuk menentuan
kuat tekan dan slump. Banyaknya dilakukan setidaknya satu seri pengujian pada
campuran maksimum 40 m3.

Pengujian slump dilakukan pada setiap campuran yang datang dan akan dipergunakan
untuk pengecoran pada pekerjaan beton satu seri pengujian kuat tekan maksudnya
adalah sebagai berikut :

 Satu seri pengambilan sample dilakukan pada setiap kali pengecoran, satu kali
untuk volume maksimum 40 m3, pada setiap type concrete yang sama.
 Satu kali pengambilan sample terdiri dari 6 (enam) buah beton uji (kubus).

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 6
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

 Pengujian kuat tekan dilakukan pada hari ke 7 dan 28 masing-masing dengan 3 buah
beton uji.
Pengawas Pekerjaan berhak meminta kepada Kontraktor untuk melakukan pemeriksaan
uji material beton, beton baru dan beton keras bila dianggap perlu, dan Kontraktor harus
membantu Pengawas Pekerjaan untuk melaksanakan pemeriksaan uji. Disamping itu
Pengawas Pekerjaan berhak pula menolak campuran beton yang akan dipergunakan, bila
kurang memenuhi syarat yang diminta. Sedang Kontraktor diwajibkan untuk mematuhi
dan memperbaiki campuran beton, sesuai petunjuk Pengawas Pekerjaan tanpa meminta
imbalan jasa.

Tegangan tekan beton harus ditentukan dengan tes silinder yang tingginya 30 cm dan
diameternya 15 cm. beton yang mengandung agregat yang lebih kasar dari 40 mm
dibuang dan diayak untuk menghilangkan partikel yang lebih besar sebelum pemakaian
silinder.

Kontraktor harus menyediakan alat-alat, fasilitas, material dan tenaga kerja yang
diperlukan untuk membuat, menangani dan membuang sisa-sisa sample yang diuji seperti
yang disyaratkan.

Kontraktor harus menanggung semua biaya dan biaya apa saja yang terkait dengan
penyediaan fasilitas sampling, tenaga kerja dan sample, dan tidak berhak mendapatkan
biaya tambahan bila ada kelambatan atau biaya dalam penyediaan sample.

Untuk sample material yang diuji, tidak ada pembayaran khusus, tetapi biaya
pemeliharaan dan operasi laboratorium di lapangan dan untuk pengujian material beton,
termasuk dalam biaya lump sum seperti tercantum dalam Daftar Harga Satuan Pekerjaan.

Kontraktor harus menyediakan laboratorium di lapangan, alat-alat laboratorium serta


ruangan yang mendapatkan persetujuan dan semua biaya yang terkait dengan
penyediaan ruangan termasuk dalam biaya lain-lain untuk laboratorium lapangan.

3.8 BATCHING
Bila Kontraktor mempergunakan batching plant, Kontraktor harus memasang,
memelihara dan mengoperasikan alat batching untuk menentukan dan mengontrol
ketelitian batas-batas banyaknya material, termasuk air, semen, bahan pencampur,
agregat halus dan agregat kasar yang dipakai pada beton.

Banyaknya air, semen agregat halus dan kasar harus memperoleh persetujuan Pengawas
Pekerjaan dengan cara menimbang. Banyaknya bahan pencampur “air entraining” harus
ditentukan dengan mengukur volume pada dispenser atau ditimbang dengan alat lain.

Alat untuk membawa material yang dicampur dari batcher atau hopper ke mixer harus
dibuat, dipelihara dan dioperasikan sedemikian hingga tidak ada pengotoran material
campuran atau overlap batch. Alat yang tidak sesuai dengan persyaratan ini harus diubah
atau ganti dengan alat yang sudah disetujui Pengawas Pekerjaan.

Konstruksi alat untuk mengetahui ketelitian penimbangan atau pengukuran harus dengan
skala kapasitas ketelitian 0.4%. Alat tersebut harus bisa langsung disetel untuk

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 7
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

mengetahui atau untuk memberikan perubahan-perubahan pada proporsi campuran


beton.

Alat batching harus dipelihara dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga ketidaktelitian
dalam memasukkan dan mengukur material tidak lebih dari 1% air atau bahan pencampur
air entraining dan 3% semen dan agregat. Semen dan air akan ditimbang pada container
tersendiri dan masing-masing beratnya terlihat pada timbangan.

Kontraktor harus mempergunakan timbangan pengujian standart atau alat penunjang


yang lain untuk memeriksa pengoperasian hasil kerja setiap timbangan atau alat ukur
yang lain, melakukan pengujian secara periodik dengan melakukan pengukuran-
pengukuran yang terkait dengan operasi batching, pengujian tersebut harus dilaksanakan
dengan hadirnya Pengawas Pekerjaan dan pengujiannya harus cukup untuk membuktikan
ketelitian alat ukur. Kontraktor harus melakukan penyetelan, perbaikan atau penggantian
pengukuran atau bila diminta oleh Pengawas Pekerjaan.

Cara bekerja pengoperasian pada alat batching ini harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi kebocoran bila katub (valve) ditutup. Sesudah pengaliran, sejumlah
campuran air harus masih tetap di pencampur (batcher) air.

Alat batching harus dioperasikan dan dipelihara sedemikian rupa sehinggga kalau ada
tambahan debu pada waktu pengukuran dan pengaliran campuran material, bisa dicegah.

Hopper untuk menimbang dibuat sedemikian rupa sehingga mudah menghilangkan


material yang berlebihan beratnya dengan toleransi seperti disyaratkan disini.

3.9 PENCAMPURAN
Bahan beton harus dicampur dengan baik pada mixer, dengan ketentuan perbedaan hasil.

Beton yang dipakai untuk bangunan permanen tidak boleh dicampur dengan tangan.
Untuk bangunan sementara, maka percampuran harus mendapat persetujuan Pengawas
Pekerjaan bila akan memakai cara manual.

Kapasitas Mixer (m3) Waktu Mencampur (menit)

3 sampai 2 2,5

2 sampai 1,5 2

1,5 atau kurang 1,5

Waktu khusus untuk pencampuran harus ditentukan sesudah melaksanakan pengujian


efisiensi mixer, yang didasarkan atas perbandingan sampel yang diambil mulai dari
pengaliran campuran yang pertama sampai terakhir.

Lamanya pencampuran minimal seperti yang disyaratkan, tergantung kepada kondisi

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 8
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

material yang dimasukkan ke mixer, sedemikian rupa sehingga memudahkan efisiensi


pencampuran dan memudahkan operasi mixer dengan percepatan yang ditetapkan.

Pengawas Pekerjaan mempunyai hak untuk menentukan waktu untuk pencampuran atau
batas-batas ukuran batch kalau operasi pengisian dan mixing gagal menghasilkan batch
beton yang sesuai dengan yang diperlukan dan dengan pencampuran yang baik.
Campuran beton begitu lepas dari mixer harus rata komposisi dan konsistensinya.

Tidak diperbolehkan adanya penambahan air untuk memperoleh konsistensi beton yang
diperlukan. Beton yang tertahan pada mixer lebih dari 1,0 jam mixer, harus dibuang.
Dalam hal ini Kontraktor tidak berhak menuntut ganti rugi atas hal tersebut.

Mixer yang pada waktu tertentu tidak memenuhi persyaratan harus segera diperbaiki
atau diganti. Mixer harus diisi sesuai dengan kapasitas mixer tersebut atau sesuai dengan
ukuran batch, yang ditentuhan sesuai dengan persyaratan. Mixer tidak boleh diisi lebih
dari kapasitas yang ditentukan kecuali atas pengarahan Pengawas Pekerjaan.

3.10 PERSIAPAN PENGECORAN BETON


(a). Umum
Pengecoran beton belum bisa dilaksanakan sampai pemasangan bekisting
dirampungkan dulu oleh Kontraktor dan sudah disetujui Pengawas Pekerjaan.

Pengecoran beton tidak dilakukan sewaktu turun hujan atau pada air yang
menggenang.

Fasilitas komunikasi antara peralatan pencampur dan lokasi pengecoran harus


disediakan, dioperasikan dan dipelihara oleh Kontraktor.

(b). Persiapan untuk Pengecoran


Sebelum dilakukan pengecoran, semua permukaan dimana beton akan dicor, harus
dibersihkan dari minyak, lumpur, zat organik, potongan potongan kayu, fragmnen
batuan dan reruntuhan atau batuan lepas atau material berbahaya lainnya, dengan
menggunakan “high velocity air-water jet” atau alat lain seperti disarankan
Pengawas Pekerjaan.

Semua permukaan bekisting dan material yang melekat dengan mortar kering atau
beton yang ditempatkan lebih dulu, harus bersih sebelum sekeliling beton yang
berdekatan ditempatkan.

Permukaan pondasi batuan harus dilembabkan dengan baik sebelum beton


ditempatkan, dan air yang menggenang harus dihilangkan.

Permukaan tanah atau pondasi pasir dan kerikil dimana beton akan ditempatkan
harus bebas dari air yang menggenang atau air yang mengalir, perca-perca kayu
atau material lainnya yang dianggap mencemari. Bagi pondasi dan tanah atau
kenikil, maka kondisinya harus lembab sebelum beton ditempatkan.

Permukaan “construction joint” yang berhubungan dengan pengecoran beton

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 9
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

baru, harus dengan cara yang disetujui Pengawas Pekerjaan. Pembersihan ini harus
terdiri dari penghilangan semua adukan semen atau mortar yang mengering dan
dari segala kotoran. Permukaan sambungan dan beton lama dimana beton baru
harus ditempatkan, harus dikasarkan dengan mengelupas (chipping) atau dengan
cara lain lalu dibiarkan lembab dimana jangka waktunya ditentukan Pengawas
Pekerjaan, sebelum menambahkan beton baru.

Selanjutnya sebelum beton dituangkan, maka permukaan yang akan dicor tersebut
dituangkan mortar terlebih dahulu untuk mendapatkan lapisan sambungan yang
baik antara permukaan lama dengan beton yang baru dituang.

Permukaan “constraction joint” harus dibersihkan betul-betul terhadap tambahan


beton atau material yang lain, dengan mengerik, mengelupas atau dengan cara lain
yang disetujui Pengawas Pekerjaan. Sambungan akan diberi “coat of compound”
seperti saran Pengawas Pekerjaan, untuk mencegah pengikatan dengan beton yang
ditempatkan pada sisi sambungan yang lain.

(c). Suhu Beton pada Waktu Penempatan


Suhu beton pada waktu pengecoran tidak boleh melebihi 35o C. Bila perlu,
Kontraktor mempertahankan suhu beton dibawah 35o C saat pengecoran beton
dan Kontraktor harus memakai cara yang efektif seperti pendinginan agregat,
mendinginkan air pencampur, penambahan potongan as ke air pencampur
tersebut, penempatan di malam hari atau cara apa saja yang disarankan Pengawas
Pekerjaan.

Bila beton di cor pada saat cuaca yang sedemikian rupa sehingga suhu beton
melampaui 35o C, Kontraktor harus menggunakan “water-reducing admixture”,
tipe set retarding, untuk mengurangi efek yang kurang baik bagi beton, yang
disebabkan suhu tinggi.

(d). Alat untuk Pengangkutan dan Pengecoran Beton


Cara dan alat yang dipakai untuk mengangkut dan mengecor beton dan waktu yang
hilang selama pengangkutan tidak boleh menyebabkan segregasi agregat kasar,
turunnya slump sampai lebih dan 25 mm atau hilangnya kandungan udara sebelum
konsolidasi, sampai lebih dan 1% pada waktu beton di cor pada pekerjaan.

Bila beton diangkut dan atau dicor dengan alat seperti dibawah ini, alat tersebut
harus dipasang dan ditangani sebagai berikut :

 Agitator Truck
Kecepatan drum yang bergerak harus antara 2 sampai 4 putaran per menit.
Volume campuran beton di drum tidak dibenarkan, bila melebihi volume
yang disarankan pabriknya atau melampaui 70% volume drum. Truk untuk
mengangkutnya harus disetujui Pengawas Pekerjaan. Internal antara
memasukkan air ke drum pencampur dan mengeluarkan beton dari agitator
tidak boleh melebihi 1,0 jam. Pada interval ini, campuran harus terus

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 10
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

digerakkan dengan kecepatan tersebut diatas.

 Non-Agitator Truck
Body non-agitator truck harus halus dan kedap air, dan harus ada tutup bila
diperlukan untuk melindunginya dan air hujan.

Non-agitator truk harus membawa beton ke lokasi pekerjaan, yaitu beton


yang dicampur dengan baik dan rata. Beton dianggap rata pencampurannya
bila sampel dan seperempat beban, mempunyai slump 10 (+/- 2) cm.
Pengecoran beton harus rampung dalam 1,0 jam sesudah memasukkan air
pencampur ke semen dan agregat. Selama proses pengecoran, apabila
digunakan concrete mixer, jarak antara truk mixer satu dengan berikutnya
maximal 1 jam.

 Chutes/Talang
Secara garis besar pengangkutan beton dengan mempergunakan chute tidak
dibenarkan, kacuali bila ada saran dari Pengawas Pekerjaan. Bila disetujui,
chute harus punya potongan (profil) dengan sudut bulat dan kemiringannya
harus sedemikian sehingga beton mengalir dengan lancar tanpa ada
segregasi. Ujung chute bawah harus dilengkapi dengan drop chute, yang
tingginya tidak lebih dari 1,5 m untuk mencegah adanya segregasi dan beton
yang jatuh. Chute harus terlindung dari sinar matahari langsung.

 Concrete Pump dan Placer


Pipa pengangkut harus dipasang sehingga mudah memindahnya. Sebelum
memulai operasi pump atau placer, kira-kira 1 m3 mortar dengan proporsi
air, admixture, semen dan agregat halus yang sama, seperti yang ditentukan
untuk pencampuran beton biasanya, harus dilewatkan melalui pipa

3.11 PENGECORAN
Kontraktor harus selalu konsultasi dengan Pengawas Pekerjaan mengenai waktu
pelaksanaan pengecoran beton. Pengecoran beton harus dilaksanakan dengan disaksikan
Pengawas Pekerjaan.

Beton harus ditempatkan langsung ke posisi akhir dan tidak boleh sampai mengalir
sehingga menyebabkan segregasi. Cara dan alat-alat yang dipakai dalam pengecoran
beton pada bekisting harus sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan agregat kasar
yang dipisahkan dan tumpukan beton. Kontraktor harus mempunyai cara untuk
membatasi dan mengontrol beton yang tidak bisa dipakai, sehingga tidak menyebabkan
segregasi atau keras yang dapat mengenai besi tulangan dan bekisting yang sudah dirakit.
“Vertical free drip of failing concrete” tidak melebihi 1,5 meter.

Semua beton yang dibentuk, kecuali beton lining untuk bangunan di bawah tanah, harus
ditempatkan pada lapisan horisontal yang ketebalannya tidak melebihi 40 cm.

Pemberi tugas mempunyai hak untuk meminta kedalaman lapisan lebih kecil apabila
lapisan baton setebal 40 cm tidak bisa dicor sesuai dengan persyaratan spesifikasi. Tinggi

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 11
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

satu angkutan penempatan baton haruslah seperti yang disarankan Pengawas Pekerjaan
atau seperti pada Gambar.

Bila beton ditempatkan secara monolitis di sekitar opening dengan dimensi vertikal lebih
besar dan 60 cm, atau bila beton pada decks, lantai, pelat, balok atau bagian bangunan
yang lain diletakkan secara monolitis dengan beton penyanggah, maka harus diikuti
petunjuk sebagai barikut :

a). Pengecoran beton harus ditunda tidak kurang dari satu jam atau tidak lebih dari 3
jam dibagian atas opening dan di bagian bawah level, di bawah decks, lantai, pelat,
kayu, girder dan bagian bangunan yang lain, bila yang dipakai bevel, dan di bagian
bawah bangunan bila bukan level yang dipakai, tetapi pengecoran bisa pula ditunda
lama bila unit vibrating tidak bisa menembus beton dengan cepat, dangan berat
sendiri sebelum pengecoran beton ditunda atau menuruti saran Pengawas
Pekerjaan.
Bila konsolidasi beton ditempatkan sesudah penundaan di atas, unit vibrating harus
menembus dan menggetarkan kembali beton yang ditempatkan sebelum
penundaan.

b). 60 cm atau lebih dari beton yang ditempatkan sebelum penundaan harus
ditempatkan dengan slump yang rendah dan Kontraktor harus merasa yakin bahwa
konsolidasi beton sudah terlaksana dengan baik.
c). Permukaan beton dimana terjadi kelambatan harus dibersihkan dan bebas dan
kotoran bila pengecoran beton dimulai sesudah kelambatan.
d). Beton yang ditempatkan di atas opening dan di dek, lantai balok, girder dan bagian-
bagian semacamnya, harus ditempatkan dengan harapan konsolidasi beton
tersebut terlaksana dengan baik.
e). Untuk pekerjaan tersebut Kontraktor tidak berhak mendapatkan biaya tambahan
melebihi harga satuan seperti tercantum dalam Daftar Volume Pekerjaan.

3.12 KONSOLIDASI
Masing-masing lapisan beton harus segera dikonsolidasi dengan alat yang memadai
sehingga beton menjadi padat sampai densitas maksimum dan tertutup bagi semua
permukaan bekisting dan material yang berdekatan. Lapisan beton berikutnya tidak dicor
dulu sampai lapisan yang dicor sebelumnya sudah bagus keadaannya seperti spesifikasi
yang disyaratkan.

Secara garis besar, beton harus dikonsolidasi dengan listrik atau pemasangan dengan
tenaga pneumatik, internal-type vibrators, yang operasinya dengan kecepatan setidaknya
7.000 putaran per menit bila dicelupkan ke beton. “Vibrating head” harus dimasukkan ke
beton secara vertikal, setidaknya 5 cm kedalam lapisan dibawahnya. Bila sukar
menggunakan internal vibrator, beton bisa dikonsolidasi dengan “external-type form
vibrator” atau dipadatkan dengan “hand plunger” sesuai saran dan Pengawas Pekerjaan.

Konsolidasi beton pada bagian bagian bangunan yang nantinya akan tampak harus
dengan “immersion-type vibrator” yang bisa pula dipakai sebagai alat yang bisa

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 12
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

membantu, dan disarankan Pengawas Pekerjaan, dan bisa menggunakan “heavy-duty


form vibrator”. Form vibrator ini harus dipasang kuat-kuat pada bekisting pada saat
operasi tetapi vibrator harus bisa segera dibongkar dan dipasang lagi ke posisi lain pada
bekisting dan harus beroperasi dengan kecepatan sedikitnya 8.000 putaran/menit.

Harus hati-hati sekali dalam pelaksanaan pekerjaan di atas sehingga vibrasinya bisa
sistimatis dan pada interval tertentu sehingga zone dan pengaruhnya overlap dan beton
menjadi betul-betul padat.

Di daerah dimana baru saja ditempatkan beton yaitu pada setiap lapisan yang
ditempatkan labih dulu dan beton sudah mengeras, harus dilakukan vibrasi yang lebih dan
biasanya; vibrator menambus dalam sekali dengan interval pendek di sepanjang
hubungan ini. Hubungan ‘vibrating head” dengan parmukaan bekisting harus dihindari.

3.13 PEMBASAHAN BETON ( CONCRETE CURING )


Syarat-syarat pembasahan harus amat diperhatikan setiap saat, pada cuaca yang panas
dan kering karena ada bahaya keretakan lebih besar. Karena itu Kontraktor harus benar-
benar mematuhi persyaratan seperti berikut ini.

Kontraktor harus melindungi semua baton dan benda - benda yang bisa merusak atau
membahayakan karena pengeringan mendadak, atau pembebanan mendadak atau
karena shock atau vibrasi, sampai beton betul-betul keras sehingga bisa mencegah
kerusakan. Bila memungkinkan, permukaan beton yang selesai harus dilindungi dan sinar
matahari langsung setidaknya 3 hari sesudah pengecoran.

Semua beton harus dibasahi dengan air atau “membrane curing” sesuai dengan
persyaratan spesifikasi disini, kecuali bila beton cetak adalah “steam cured” dengan cara
yang sudah disetujui Pengawas Pekerjaan. Permukaan beton untuk “construction joint’
pelaksanaan harus dibasahi dengan air.

Permukaan dinding, atau pelat atau tiang teratas yang tidak dibekisting harus
dilembabkan dengan material yang dibasahi dengan air atau dengan cara lain yang efektif
pada saat beton menjadi keras, sehingga cukup bisa mencegah kerusakan yang
disebabkan oleh air. Permukaan-permukaan ini dan kemiringan yang tajam serta
permukaan vertikal yang dibekisting harus betul-betul lembab, sebelum dan pada saat
pembongkaran yaitu dengan mengairi permukaan yang dibekisting dan dibiarkan
mengalir turun antara bekisting dan muka beton yang dibekisting. Prosedur ini diikuti
dengan “water curing” atau “membrane curing”, dengan syarat-syarat sebagai berikut :

(a). Water Curing


Beton yang dibasahi dengan air harus tetap basah setidaknya 14 hari sesudah
pangecoran beton, atau sampai tertutup dengan “fresh concrete” yaitu dengan
menutupinya dengan bahan yang sudah dibasahi dengan air atau dengan cara pipa
penyemprot atau penyemprot mekanis atau dengan “porous hoze” atau cara lain
yang disarankan Pengawas Pekerjaan, sehingga semua permukaan terus menerus
dalam keadaan basah, dan air yang dipakai untuk curing memenuhi syarat-syarat
untuk air campuran beton. Water curing harus ditangani sedemikian rupa sehingga

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 13
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

mencegah terbentuknya noda pada permukaan beton yang akan tampak terus.

(b). Membrane Curing


Membrane curing harus dengan menggunakan “white pigmented curing
compound” yang membentuk selaput yang menahan air di permukaan beton, dan
permukaan yang akan tampak seterusnya nanti diberi “grey pigmented curing
compound”. Curing compound tidak dipakai pada permukaan dimana diperlukan
pekerjaan finishing. Curing compound dipakai pada permukaan beton, dengan
menyemprotkan pada satu lapisan (coat) sehingga pada semua bagian selaputnya
amat rata, dengan luas permukaan yang harus ditutupi. Bila perlu dilakukan “coat
of curing compound” kedua kali.

Bila “curing compound’ dipakai pada permukaan beton yang tidak dibekisting,
pamakaian bahan campurannya harus dimulai segera setelah operasi finishing
selesai.

Bila “curing compond” dipakai pada permukaan beton yang dibekisting, permukaan
harus dilembabkan dengan sedikit menyemprotkan air setelah bekisting dibongkar
dan harus tetap basah sehingga permukaan tidak lagi rnenyerap kelembaban lebih
banyak. Segera apabila kelembaban di permukaan “film hilang tapi permukaan
masih sampai lembab, harus dipergunakan “curing compound”, yang mungkin
dipergunakan pada permukaan yang luas, dimana bahan campuran diletakkan pada
tepi, sudut-sudut dan di tempat yang kasar dan permukaan yang dibekisting.

Sesudah pemakaian “curing compound’ selesai dan lapisan telah kering bila
disentuh, maka dilakukan perbaikan di permukaan baton. Setiap perbaikan,
sesudah difinishing, harus dilembabkan dan dilapisi curing compound”, sesuai
dengan persyaratan.

Peralatan dan cara yang dipakai untuk penanganan “curing compound” harus
disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

Lalu lintas Kontraktor dan operasi lainnya harus sedemikian rupa sehingga
mencegah kerusakan pelapisan “curing compound” selama 28 hari sesudah
pemakaian “curing compound”. Bisa tidak mungkin karena adanya operasi dalam
pelaksanaan, maka untuk mencegah lalu lintas yang melewati parmukaan yang
baru dilapisi dengan “curing compound”, “membrane” harus dilindungi dengan
menutupinya dengan pasir yang tebalnya tidak kurang dan 25 cm, atau dengan cara
lain. Penutupan untuk tujuan melindungi permukaan ini, tidak ditempatkan dulu
sampai “sealing membrane” betul-betul kering. Sebelum penerimaan pekerjaan
akhir, Kontraktor harus menghilangkan semua pasir tersebut dengan cara yang
sudah disetujui Pengawas Pekerjaan. Bila ada kerusakan pada “sealing membrane”
yang mengelupas dan permukaan beton sesudah 26 hari dipakai, maka harus
diperbaiki tanpa ditunda lagi, dengan cara yang sudah disetujui Pengawas
Pekerjaan.

Sebelum melakukan tipe “curing compound” yang diusulkan untuk pengambilan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 14
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

sampel dan pangetesan harus memohon persetujuan Pengawas Pekerjaan.


Kontraktor harus menyediakan, tanpa biaya dan Pembeni Tugas fasilitas-fasilitas
dan bantuan yang diperlukan untuk pengambilan sampel dan pengetesan “curing
compound”. Petunjuk yang disediakan pabrik harus diikuti, yaitu dalam
penyimpanan, pencampuran dan pemakaian “curing compound” tersebut.

Selain menyemprot dengan “membrane curing”, lembaran plastik bisa juga dipakai,
terutama curing pada pelat dan bentuk konstruksi. Dalam hal semacam ini, segera
setelah beton mengeras dan terhindar dari kerusakan, permukaan harus disemprot
sedikit dengan air lalu ditutup dengan lembaran plastik putih, setebal 4-6 milimeter.
Lembaran tersebut harus kedap udara dan anti uap (vaporproof) untuk mencegah
hilangnya kelembaban kedap udara, harus dilakukan dengan hati-hati, dengan
memukul mukul pinggirnya dan memperkuatnya (sealing). Macam selaput tersebut
harus dijaga minimum selama 14 hari.

Semua “construction joint” harus terus menerus lembab, yaitu dengan “water
curing” dan waktu ke waktu sampai tertutup beton. Bila dianggap perlu
mengadakan penundaan pengecoran beton baru diatas construction joint, maka
curing untuk melembabkan permukaan sambungan harus dihentikan pada saat
curing dianggap kadaluwarsa, tetapi bila curing dihentikan, harus dimulai lagi dalam
48 jam sebelum pengecoran beton baru pada sambungan itu.

Bila pengasaran bagian beton yang membuka belum dilaksanakan sampai curing
menjadi kadaluwarsa, maka permukaan bagian yang membuka harus terus dalam
keadaan lembab setidaknya 4 jam sebelum pengisiannya (filling).

Biaya penyediaan dan pemakaian semua material untuk pelembaban (curing)


beton, harus termasuk dalam harga satuan seperti tercantum dalam Daftar Volume
Pekerjaan.

3.14 FINISHING
Penyelesaian persyaratan untuk finishing permukaan beton, harus seperti yang tertera
pada gambar, atau seperti spesifikasi disini. Bila panyelasaiannya tidak dijelaskan
definisinya disini atau pada Gambar, finishing yang dipakai haruslah seperti yang
disyaratkan bagi pemnukaan semacam, seperti saran Pengawas Pekerjaan.

Pekerjaan akhir/finishing dan permukaan beton hanya dilaksanakan oleh tenaga yang
terampil. Kontraktor harus selalu berkonsultasi kepada Pengawas Pekerjaan kapan
dilaksanakan finishing beton, Finishing beton harus dilakukan sesuai petunjuk Pengawas
Pekerjaan.

3.15 PERBAIKAN PERMUKAAN BETON YANG CACAT ATAU RUSAK


Beton yang cacat atau rusak karena sebab-sebab tertentu harus dibongkar dan diganti
dengan beton lain oleh Kontraktor dan biayanya ditanggung Kontraktor sendiri. Alinemen
yang tidak teratur karena kurangnya finishing pada permukaan, tonjolan bekisting atau
cacat yang lain harus diperbaiki dan biaya di tanggung oleh Kontraktor. Sebelum
pekerjaan akhir diterima, Kontraktor harus membersihkan semua permukaan beton yang

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 15
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

tampak, yang dilapisi semen, mortar atau grout dan sernua noda, sesuai dengan saran
Pengawas Pekerjaan.

Perbaikan pada beton harus dilakukan oleh tenaga yang terampil. Kontraktor harus terus
berkonsultasi dengan Pengawas Pekerjaan, kapan perbaikan beton harus dilaksanakan.

Kontraktor harus membetulkan semua cacat pada permukaan beton, untuk menghasilkan
permukaan yang sesuai dengan persyaratan yang dikehendaki.

Beton yang rusak karena sebab-sebab tertentu, dan beton yang retak atau cacat dan
karena depresi permukaan yang eksessif, harus digali dan dibentuk lagi sehingga
permukaan mempunyai garis batas seperti yang disyaratkan, harus dibongkar dan diganti
dengan mortar kering atau beton seperti disarankan disini.

Pembongkaran beton yang rusak dilakukan dengan mengkasarkan permukaan yang


terbuka. Luas dan dimensi pengkasaran harus seperti yang disarankan Pengawas
Pekerjaan. Lubang yang dikelupas tepi tepinya harus tajam dan terkunci (keyed) dan harus
diisi sampai betas-batas yang diperlukan, dengan mortar atau beton, seperti pengarahan
Pengawas Pekerjaan.

Bila yang dipakai untuk pengisian adalah beton, lubang yang dikelupas tidak lebih dan 8
cm dalamnya.

Mortar untuk penambalan (patching) harus terdiri dan satu bagian semen, 2 bagian pasir
beton biasa dan air secukupnya, sehingga sesudah bahan-bahan dicampur, mortar akan
menyatu bila dipadatkan dengan tenaga manusia. Mortar harus baru pada saat dituang
dan mortar yang tak berguna dalam waktu 2 jam sesudah disiapkan, harus dibuang.
Sebelum pemakaian mortar, permukaan dimana mortar harus disikat, dilembabkan lalu
digosok dengan sedikit mortar, dengan sikat kawat.

Bila pembukaan yang dikelupas lebih dari 3 cm dalamnya, mortar harus dipakai pada
lapisan yang tebalnya tidak lebih dan 2 cm untuk menghindari pengantongan (sagging).
Sesudah tiap lapisan dilaksanakan, permukaannya harus dikasarkan dengan
menggantinya dengan sekop sehingga ikatan dengan lapisan berikutnya efektif.

Finishing lapisan-lapisan terakhir harus-halus yaitu dengan cetok agar membentuk


permukaan halus dengan beton disekelilingnya, dengan menambah sedikit air
kepermukaan tambahan sudah jadi sehingga finishing menjadi halus, tetapi selain untuk
ini tidak diperbolehkan menambah air lagi. Semua penambahan di permukaan yang
tampak, harus bersih dan halus dan harus sedapat rnungkin berwarna sama dengan beton
penggabungnya. Semua tambalan harus terikat betul-betul ke permukaan opening yang
dikelupas, harus baik dan tidak retak atau mengkerut.

Pengisian dengan beton harus dipergunakan untuk lubang yang meluas ke bagian beton,
untuk lubang yang lebih besar dan 1 m2 dan lebih dalam dan 10 cm dan untuk lubang pada
penulangan yang luasnya lebih dan 500 cm2 yang melintas di atas penulangan yang paling
dekat dengan permukaan. Kelas beton harus seperti yang disarankan oleh Pengawas
Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 16
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

Pembayaran tidak dilakukan untuk beton yang perlu ditempatkan diluar garis batas galian,
seperti misalnya galian yang lebih atau karena alasan lain, kecuali ada persetujuan
Pengawas Pekerjaan. Semua biaya pembuangan sisa beton atau mortar harus ditanggung
Kontraktor.

3.16 PEKERJAAN TULANGAN


Penulangan / pembesian harus diletakan seperti yang ditunjukkan pada gambar atau
tempat yang ditunjuk oleh Pengawas Pekerjaan
Sambungan harus diletakkan dan ditunjukan pada gambar atau atas saran dan
persetujuan Pengawas Pekerjaan. Pemborong dapat memindahkan lokasi penyambungan
serta tidak dapat diperhitungkan untuk pembayaran
Kecuali ditentukan lain, jarak antar tulangan dihitung dari as ke as tulangan.
Pemeriksaan tulangan/pembesian dilakukan sesuai dengan kebutuhan akan ukuran
diameter, bentuk, panjang, letak sambungan dan jumlah terpasang
Sebelum pelaksanaan pengecoran / pembetonan, semua permukaan tulangan /
pembesian pokok maupun penyangga harus bersih dari karat besi, kotoran, lemak/gemuk
atau bahan asing yang menurut pendapat Pengawas Pekerjaan harus dibersihkan.
Tulangan yang berkarat dan sulit untuk dihilangkan harus diganti dengan yang baru.
Kedudukan tulangan dipertahankan dengan menggunakan kawat pengikat dengan
diameter tidak kurang dari 0,90 mm, yang diikatkan pada tulangan penyangga dan
tulangan antara. Bahan penyangga, penggantung, tulangan antara dapat dibuat dari
beton atau bahan lain yang disetujui Pengawas Pekerjaan
Engineer dan Pengawas Pekerjaan pekerjaan berhak menolak tulangan yang sudah mulai
berkarat yang dianggap dapat mengurangi kuat tarik baja. Penyikatan baja dengan sikat
baja dapat dilakukan dalam kadar yang minimum.

3.17 PEKERJAAN BEGESTING DAN PERANCAH TERMASUK PEMBONGKARAN


Kontraktor harus menyerahkan usulan tentang cara pelaksanaan begesting dan perancah
yang baik untuk mendapat persetujuan Pengawas Pekerjaan
Material yang dipakai untuk begesting dan perancah apakah dari baja atau kayu harus
mendapat persetujuan Pengawas Pekerjaan
Begesting yang dipakai pada alur air dan untuk beton yang akan tampak harus ditutup
dengan multi plek tebal minimum 12 mm dan harus bebas dari semua cacat yang
menghasilkan noda pada permukaan beton
Sebelum pemakaian ulang, papan begesting harus dibersihkan, lubang-lubang harus
disumbat dan bila perlu di permukaan dilapisi lagi.
Begesting dan perancah harus kaku dan kokoh dengan memasang dina bolt pada
pekerjaan dinding untuk menahan tekanan saat pengecoran dan proses pengerasan
beton. Begesting diangkat / dibongkar secara hati-hati setelah beton mengeras dan cukup
kuat menahan beban dengan aman dan permukaan beton tetap bagus serta mendapat
persetujuan dari Pengawas Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 17
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

3.18 WATERSTOP PVC TYPE D, W 240 mm


Jenis waterstop harus disediakan Kontraktor dan ditempatkan pada posisi seperti dalam
gambar atau seperti pengarahan dari Pengawas Pekerjaan.

Waterstop harus memenuhi persyaratan JIS K 6773 atau standar lain yang disetujui
Pengawas Pekerjaan seperti ditunjukkan pada Gambar dan terlebih dahulu harus disetujui
Pengawas Pekerjaan.

Untuk jalur waterstop yang harus ditempatkan pada contraction joint, harus diperhatikan
betul-betul agar terpasang dengan tepat. Yang harus lebih diperhatikan adalah pengisian
beton pada jalur bagian atas dan bagian bawah pada diameter vertikal. Dalam mencetak
beton di bawah harus waterstop pada titik-titik yang kritis ini, beton harus divibrasi betul-
betul sehingga bisa mengalir dengan arah sejajar dengan sambungan. Dan waterstop
harus divibrasi, bila cukup berat untuk menahan vibrasi tanpa ada kerusakan atau
pemindahan.

Kontraktor harus menyediakan hasil pengujian dari pabrik untuk setiap penahan air yang
dikirim ke lapangan dan apabila diminta oleh Direksi harus mengadakan percobaan
terhadap penahan air tersebut untuk mendapatkan keyakinan akan mutu barang
tersebut

3.18.1 Sambungan Waterstop

Banyaknya sambungan pada waterstop harus sesedikit mungkin, dan semua sambungan
dan belokan harus dibuat sesuai dengan Gambar atau sesuai dengan saran Direks.
Banyaknya sambungan yang lurus harus dibuat seminimal mungkin dan semua
sambungan “T”, “Cross” dan “L” harus buatan dari pabrik atau dibuat di bengkel
Kontraktor yang berada di lapangan, sesuai saran dari Pengawas Pekerjaan. Peralatan
yang dipakai untuk membuat sambungan (di bengkel lapangan) pada waterstop adalah
polivinil klorid yang disetujui Pengawas Pekerjaan.

Semua sambungan harus dibuat di bawah alat pengontrol suhu seperti spesifikasi pabrik
sedemikian rupa sehingga menjamin hal-hal sebagai berikut:

Bahwa material tidak rusak karena panas, tegangan atau karena pemakaian material
semen

Bahwa sambungan mempunyai kekuatan tarik (tensile stress) tidak kurang dari 80% yang
diperlukan material

Sambugan kedap air dan perkuatan (rib) dan bola tengah (central bulb), harus cocok betul
dan rata.

3.18.2 Penyimpanan dan Pemasangan

Semua waterstop harus disimpan di suatu tempat yang cukup dingin dan tidak dibenarkan
diletakkan di tempat terbuka dan kena sinar matahari. Semua waterstop harus disimpan
sedemikian rupa sehingga memudahkan sirkulasi udara secara bebas.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 18
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

Kontraktor harus menyediakan penyanggah dan pelindung pada waktu pekerjaan sedang
dilaksanakan, untuk melindungi waterstop dari kerusakan atau menjadi melngkung.

Waterstop harus dipasang dengan lebar yang sama dengan material yang dipasang pada
beton, pada masing-masing sisi sambungan. Beton harus ditempatkan secara hati-hati
dan divibrasi di sekitar waterstop, untuk meyakinkan pengikatan yang sempurna antara
beton dan semua daerah disekitar waterstop dipasang. Sesudah pemasangan, dan
sebelum dipasang pada beton, waterstop harus dilindungi dari sinar matahari langsung.

Waterstop harus mempunyai kekuatan yang memadai sehingga tetap berada di posisinya
pada waktu pembetonan. Tipe waterstop haru sesuai dengan lokasi bangunan di mana
waterstop dipasang dan polanya harus sedemikian rupa sehingga beton bisa ditempatkan
di sekitarnya dengan konsolidasi yang baik, tidak ada bagian yang kosong atau rongga-
rongga.

Waterstop yang dipakai pada setiap lokasi, sudah termasuk setidak-tidaknya satu jalur
paku yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga efisiensi penutup (seal) tidak teranggu,
dan mempunyai ketebalan minimum 5 mm seperti yang distujui Pengawas Pekerjaan.
Lebar penutup harus dalam toleransi 120 mm dari lebar nominal jalur paku.

3.19 JOINT FILLER dan JOINT SEALANT

3.19.1 Bahan

a. Joint filler
Bahan pengisi sambungan (joint filler) harus dari jenis kenyal yang tidak dikeluarkan
pracetak (premoulded non-extruding resilient type), sesuai dengan AASHTO M153 -
84 atau AASHTO M213 - 81.

b. Joint sealant
Bahan untuk penutup sambungan horisontal harus sesuai dengan AASHTO M173 - 84
: Hot Poured Elastic Sealer, Sebagai alternatif, penutup dari bitumen karet yang dicor
panas seperti Expandite Plastic Grade 99 atau yang sejenis dapat digunakan dengan
persetujuan dari Pengawas Pekerjaan Pekerjaan. Sambungan vertikal dan miring
harus ditutup dengan sambungan Expandite Plastic, dempul bitumen, Thioflex 600
dua bagian persenyawaan polysulfida, atau bahan sejenis yang disetujui oleh
Pengawas Pekerjaan Pekerjaan.

Persenyawaan dasar sambungan (joint priming compound) harus sebagaimana yang


disarankan oleh pabrik bahan penutup yang dipilih untuk digunakan.

Bahan sambungan untuk dasar (primer) dan penutup (sealer) sambungan harus
dicampur dan digunakan sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 19
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

3.19.2 Pengajuan Kesiapan Kerja

Kontraktor harus menyerahkan rincian dari semua bahan pengisi (filler) sambungan dan
penutup (sealant) yang diusulkan untuk digunakan untuk mendapat persetujuan dari
Pengawas Pekerjaan Pekerjaan.

Bilamana sambungan jenis patent yang diusulkan, maka Kontraktor harus menyerahkan
rincian sambungan yang lengkap untuk mendapat persetujuan dari Pengawas Pekerjaan
Pekerjaan, termasuk gambar kerja dan sertifikat pabrik pembuatnya untuk produk dan
bahan yang digunakan di dalamnya. Rincian setiap modifikasi terhadap pekerjaan struktur
harus juga diserahkan.

3.19.3 Perbaikan Atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Bahan pengisi sambungan (joint filler) yang belum mengisi celah sambungan sampai
penuh sebelum penutupan (sealing) harus dikeluarkan dan diisi kembali dengan bahan
pengisi sampai penuh.

Penutup (sealant) yang gagal mengeras, mengalir atau bergelembung harus dikeluarkan
dan diganti.

Sambungan jenis patent yang dan rusak sebelum, selama atau sesudah pemasangan yang
disebabkan oleh kelalaian dalam penanganan, penyimpanan, pemasangan atau operasi
selanjutnya di lapangan harus dikeluarkan dan diganti.

Semua sambungan tersebut harus diperiksa pada saat tiba di tempat kerja dan setiap
kerusakan harus dilaporkan secara tertulis kepada Pengawas Pekerjaan Pekerjaan.
Bagaimanapun juga, Kontraktor harus bertanggungjawab untuk melindungi dan menjaga
keamanan sambungan tersebut selama periode Kontrak.

3.19.4 Penyimpanan Bahan

Bahan sambungan yang dikirim ke lapangan harus disimpan, ditutupi, pada landasan di
atas permukaan tanah. Bahan ini harus selalu dilindungi dari kerusakan dan bilamana
ditempatkan harus bebas dari kotoran, minyak, gemuk atau benda-benda asing lainnya.

3.19.5 Pelaksanaan

Sambungan harus dibentuk dengan akurat memenuhi garis dan elevasi sebagaimana yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan
Pekerjaan. Bahan pengisi sambungan harus digunakan dalam lembaran yang sebesar
mungkin. Luas yang lebih kecil dari 0,25 m2 harus dibuat dalam satu lembaran. Bahan
tersebut harus dipotong dengan perkakas yang tajam untuk memberikan tepi yang rapi.
Tepi yang kasar atau tidak teratur tidak diperkenankan. Bahan tersebut harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga terpasang dengan kokoh dalam rongga dan
terekat dengan baik pada satu tepi dari beton, menggunakan paku tembaga, jika perlu,
untuk memastikan bahwa bahan tidak terlepas selama operasi pelaksanaan berikutnya
atau pergerakan dari struktur. Bahan pengisi (filler) sambungan tidak boleh diisi sampai

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 20
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

melebihi rongga yang seharusnya diisi dengan penutup (sealant) kecuali bilamana
lembaran bahan pengisi yang terpisah digunakan sebagai cetakan. Ukuran celah
sambungan ekspansi harus sesuai dengan temperatur rata-rata pada saat pemasangan.
Temperatur ini harus ditentukan sesuai dengan pengaturan yang disetujui oleh Pengawas
Pekerjaan Pekerjaan. Penutup sambungan harus sedikit cembung atau sedikit cekung
terhadap permukaan sambungan pada saat mengeras. Penutup sambungan harus
dikerjakan sampai penyelesaian yang halus dengan menggunakan sebuah spatula atau
alat yang sejenis. Pencampuran, penggunaan dan perawatan semua bahan jenis patent
harus memenuhi ketentuan pabrik pembuatnya.

3.20 DOWEL BAR


Kontraktor harus memasang dowel bar besi U22 di bungkus dengan PVC AW ¾” pada satu
ujungnya pada setiap sambungan pembetonan atau sesuai dengan yang terdapat di
dalam gambar.

Dowel bar dipasang dengan interval jarak setiap 0,75 - 1 meter dari as ke as atau sesuai
dengan gambar.

Pemasangan dowel bar harus mendapat persetujuan dari Pengawas Pekerjaan pekerjaan

3.21 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


3.21.1 Beton
Pengukuran untuk pembayaran setiap kelas beton yang diperlukan untuk dicor langsung
ke permukaan galian, dilakukan sesuai dengan garis batas dimana pembayaran untuk
galian dilakukan.

Pengukuran untuk pembayaran setiap kelas beton dilakukan sesuai dengan garis batas
kerapian konstruksi, seperti tercantum pada Gambar, kecuali bila tercantum dalam
spesifikasi.

Pengukuran untuk pembayaran beton pengisi (back concrete) dilakukan sesuai dengan
volume beton aktual yang ditempatkan pada lokasi yang memerlukan pengisian.

Dalam mengukur beton untuk pembayarannya, volume semua bagian yang membuka,
bagian yang ceruk (recess), saluran, pipa, pekerjaan kayu (woodwork) dan pekerjaan baja
yang masing-masing lebih besar 0,05 m2 pada potongan melintang, maka harus dikurangi
pembayarannya.

Kecuali tercantum dalam spesifikasi, pembayaran setiap kelas beton di berbagai bagian
pekerjaan, dilakukan berdasarkan harga satuan per meter kubik seperti yang tercantum
dalam Daftar Volume Pekerjaan, dimana harga satuan tersebut termasuk semua biaya,
peralatan, tenaga kerja, dan material yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan,
termasuk juga biaya untuk pemasangan dowelbar.

Pembayaran setiap kelas beton sudah termasuk biaya beton (semen, agregat, air dan
bahan pencampurnya), “batching”, pencampuran, pengangkutan, penempatan, curing
blockouts, joints, pengetesan dan pekerjaan lain yang terkait, seperti yang tercantum

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 21
Pekerjaan Beton PLTM Lau Gunung

dalam spesifikasi termasuk juga biaya untuk pemasangan dan pembongkaran begesting
dan perancah.

3.21.2 Tulangan
Pengukuran untuk pembayaran baja tulangan dilakukan berdasarkan berat besi
terpasang, sesuai dengan daftar tulangan yang dibuat oleh Kontraktor dan sudah disetujui
Pengawas Pekerjaan. Besi penyangga dan besi antara tidak termasuk yang dapat dibayar.
Pembayaran untuk pengadaan dan perakitan penulangan dilakukan setiap kg terpasang,
oleh karena itu dalam harga satuan harus sudah mencakup ongkos untuk upah tenaga,
bahan, peralatan bantu, penyiapan gambar rinci, kawat pengikat atau penyangga lain
serta pembersihan dan pekerjaan lain yang terkait sebelum pelaksanaan pengecoran
3.21.3 Begesting dan Perancah Termasuk Pembongkaran
Pengukuran dan pembayaran untuk begesting dan perancah tidak dihitung secara
terpisah namun termasuk dalam pembayaran untuk item bekisting dalam m2 terpasang.
3.21.4 Waterstop PVC Type D, W 240 mm
Pengukuran untuk pembayaran untuk penyediaan dan penempatan waterstop, dilakukan
berdasarkan panjang waterstop yang berada di tempat, tanpa ada pembayaran untuk
overlap pada sambungan, celah dan perpotongan. Waterstop yang dipasang oleh
Kontraktor pada contraction joint pada lokasi yang lain dari yang tercantum pada gambar
atau sesuai saran Pengawas Pekerjaan, tidak dilakukan pengukuran untuk
pembayarannya.
Pembayaran untuk penyediaan dan pemasangan waterstop dilakukan berdasarkan harga
satuan per meter panjang (m’) seperti tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga
Pekerjaan, dimana harga satuan tersebut termasuk biaya penyediaan semua material,
tenaga kerja dan peralatan yang diperlukan untuk melasanakan pekerjaan ini.
3.21.5 Joint Filer dan Joint Sealant
Pengukuran (untuk pembayaran) untuk penyediaan dan pemasangan pengisi sambungan
dilakukan pada tempat dipasangnya pengisi sambungan.

Pembayaran untuk pekerjaan joint filler dilakukan dalam satuan m2 (meter persegi)
sedangkan pembayaran untuk pekerjaan joint sealant dilakukan dalam satuan m’ (meter
panjang) seperti yang ditawarkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, dan harga
satuan tersebut termasuk biaya semua tenaga kerja, peralatan dan material yang
diperlukan.

3.21.6 Dowel Bar


Pengukuran dan pembayaran dowelbar dilakukan dalam m’

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant III - 22
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

BAB IV

PEKERJAAN PASANGAN

4.1 PEKERJAAN PASANGAN BATU


4.1.1 Umum
Pasangan batu pada umumnya digunakan sebagai pondasi atau dinding bangunan yang
menahan beban vertikal atau horizontal relatif tidak terlalu besar, biasa juga digunakan
sebagai dinding atau pelindung saluran yang ada di sepanjang jaringan irigasi. Pasangan
batu merupakan satu kesatuan yang kuat (tidak mudah lepas) dari susunan batu
kali/gunung atau batu bata yang diatur sedemikian rupa dengan perekat dan mengisi
rongga antar batu berupa mortar. Pengisian mortar di bagian belakang dinding/talud
pasangan batu harus rata dengan permukaan batu sesuai garis rencana. Pasangan batu
harus mempunyai sifat kedap air, dalam arti tidak bocor bila pasangan batu digunakan
sebagai penahan air, misalnya sebagai dinding saluran, bak penampung air atau lainnya.

4.1.2 Bahan-Bahan
 Semen
Semen yang dipakai dalam pekerjaan ini harus semen Portland Cement dari
perusahaan yang disetujui Pemberi Kerja dan secara umum memenuhi Standar
Nasional Indonesia NI-8 dan pasal 3.2. NI-2 PBI 71 atau ASTM C150 atau standar
lain yang diakui oleh pemerintah Indonesia.

Sertifikat tes oleh pabrik harus disertakan pada saat pengiriman pesanan. Tipe
semen yang lain dapat digunakan untuk keperluan khusus jika diperintahkan oleh
Pemberi Kerja.

Kontraktor harus menyediakan contoh semen yang berada di gudang lapangan


atau dari pabrik yang dapat diusulkan Pemberi Kerja untuk dites. Semen lain yang
menurut pendapat Pemberi Kerja tidak baik, sebagian atau seluruhnya harus
ditolak dan Kontraktor harus memindahkan ke luar daerah pekerjaan.

 Batu
Semua batu yang dipakai pada pekerjaan batu yang ditunjukkan dalam gambar
rencana seperti pasangan batu, pasangan batu kosong, bronjong dan lainnya,
haruslah batu yang bersih dan keras (berat jenis > 2,4), tahan lama dan homogen,
ukuran batu berkisar antara 20 cm hingga 30 cm atau menurut persetujuan
Pemberi Kerja. Batu harus bersih dari campuran zat besi, noda-noda lobang pasir,
cacat atau ketidaksempurnaan lainnya, paling lama satu jam sebelum dipasang
batu harus dibasahi air. Batu tersebut harus diambil dari sumber yang disetujui
oleh Pemberi Kerja.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 1
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

 Pasir
Kualitas pasir yang digunakan untuk pasangan batu harus sama dengan yang
disyaratkan untuk pekerjaan beton yaitu :

- berat jenis antara 2,50 ~ 2,65


- modulus kehalusan 2,30 ~ 3,10
- kadar lumpur lebih kecil dari 5 %
Dengan batasan diatas, pasir haruslah mempunyai gradasi yang baik dan
kekerasan yang memungkinkan untuk menghasilkan mortar yang baik.

 Air
Air yang dipakai untuk membuat, merawat dan membuat mortar harus dari
sumber yang disetujui oleh Pemberi Kerja dan memenuhi pasal 9 standar Nsional
Indonesia (NI-3 PUBI serta pada waktu pemakaian, air harus terhindar dari bahan-
bahan yang bisa mengotori air dalam jumlah berapa saja yang dapat :

- Mempengaruhi waktu permulaan pengerasan dari semen yang melebihi


dari 30 menit, atau mengurangi kekuatan dari percobaan kubus lebih dari
20% apabila dites sesuai standar ASHTO T26.
- Menghasilkan perubahan warna atau pemekaran permukaan mortar yang
sedang mengeras.
- Menunjukkan reaksi agregat alkali.
Air harus bebas dari hidrokarbon dan larutan bahan organik, larutan bahan
organik tidak boleh lebih dari 500 bagian untuk tiap satu juta bagian dalam berat.
Kontraktor harus mengadakan percobaan bagi air yang diusulkannya untuk
dipakai dan harus menyerahkan catatan-catatan mengenai percobaan tersebut
pada Pemberi Kerja untuk persetujuannya sebelum meletakkan pekerjaan beton
pada pekerjaan tetap. Kontraktor harus membuat percobaan yang teratur dari air
beton dan mortar dalam suatu pola dan frekuensi yang disetujui oleh Pemberi
Kerja dan harus memberi kepada Pemberi Kerja salinan catatan dari tiap hasil
percobaan.

4.1.3 Mortar
Mortar untuk pasangan batu terdiri dari PC dan pasir dengan perbandingan 1 : 3 atau 1 :
4 seperti yang disebutkan dalam gambar rencana untuk masing-masing pekerjaan.

Perbandingan yang dimaksud adalah perbandingan berat semen dan berat pasir dalam
kondisi jenuh kering permukaan (saturated surface dry). Apabila tidak ada catatan
khusus pada gambar atau perintah tertulis dari Pemberi Kerja, maka mortar yang
dimaksud adalah perbandingan 1 : 4,

Secara khusus untuk 1 m3 pasangan batu dengan perbandingan 1 : 3 berat semen


adalah sekitar 200 kg (4,0 zak) dan pasangan batu 1 : 4 berat semen adalah sekitar 160
kg (3,2 zak) dan jumlah pasir adalah proporsional.

Untuk menghasilkan campuran yang betul-betul merata, maka campuran bahan mortar
harus menggunakan mesin pencampur (concrete mixer). Kapasitas minimum mesin

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 2
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

pencampur (molen) adalah bahwa dalam satu kali pencampuran bisa menampung 1
(satu) zak semen 50 kg ditambah bahan lain sesuai perbandingan.

Dalam satu kali pencampuran mortar, Kontraktor tidak diijinkan menggunakan bahan
semen kurang dari 1 (satu) zak semen 50 kg. Pengadukan mortar dalam mesin
pencampur paling tidak dilakukan selama 15 menit. Tempat penampungan mortar hasil
pengadukan harus terbuat dari kotak kayu atau seng atau bahan lain yang tidak
mempengaruhi kualitas mortar selama dalam penampungan.

4.1.4 Contoh Pekerjaan


Pada permulaan pekerjaan pasangan batu, Kontraktor harus membuat contoh pasangan
batu sehingga mutu dan wujudnya disetujui oleh Pemberi Kerja. Semua pekerjaan harus
mengacu pada contoh dengan kualitas sama atau lebih baik dari contoh yang disetujui.

Kontraktor harus membuat contoh pada setiap lokasi bangunan dan pembuatannya
dihadiri oleh Pemberi Kerja dimana contoh ini merupakan salah satu bagian konstruksi,
sehingga pekerjaan berikutnya harus berorientasi pada contoh tersebut.

4.1.5 Pelaksanaan dalam Cuaca Buruk dan Perawatan


Dalam melaksanakan pekerjaan pasangan batu dalam cuaca yang tidak menguntungkan
dan dalam melindungi dan merawat pekerjaan yang telah selesai, Kontraktor harus
memenuhi persyaratan yang sama seperti yang ditentukan untuk beton.

Pekerjaan pasangan batu tidak boleh dilaksanakan pada waktu hujan deras atau hujan
yang cukup lama sehingga mengakibatkan mortar larut, kecuali jika menggunakan atap
pelindung tahan air. Mortar yang telah dipasang dan larut karena hujan deras dibuang
dan diganti sebelum pekerjaan pasangan selanjutnya diteruskan. Pelaksanaan pada
cuaca terik juga harus menggunakan atap pelindung sinar matahari agar mortar tidak
mengering terlalu cepat yang berakibat retaknya pasangan batu, siaran atau plesteran.
Pasangan batu yang dikerjakan pada cuaca yang terik harus diikuti dengan perawatan
(curing) dengan cara menyiram secara rutin, atau menutup dengan karung basah atau
bahan lain, paling tidak 3 hari terus menerus.

Tidak ada pembayaran khusus untuk pembuatan atap pelindung dan perawatan
pasangan batu.

4.1.6 Saringan Kerikil dengan Pembagian Butir Tertentu


Saringan kerikil dengan pembagian butir tertentu harus terdiri dari bahan yang
mengandung silikat, bersih, keras dan tahan lama serta bebas dari lapisan yang melekat,
seperti tanah liat.

Bahan itu tidak boleh mengandung besi belerang, batu bara, mika atau batu lempung
atau bahan-bahan lainnya yang berpori atau rapuh yang menurut pendapat Pemberi
Kerja akan mengurangi kekuatan atau ketahanan dari saringan bila kena air atau bahan-
bahan lain.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 3
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

Kerikil harus terdiri dari butiran bulat dan harus mempunyai pembagian butir
sedemikian sehingga memenuhi syarat-syarat dibawah ini :

- Yang berukuran 50% berada antara 5 sampai 8 kali dari bahan yang ia lindungi.
- Keseragaman harus sama dengan bahan yang ia lindungi, dimana yang dimaksud
dengan "Keseragaman" ialah perbandingan antara yang berukuran 60% dengan
yang berukuran x persen dari suatu bahan seperti ditentukan dalam pasal ini
adalah ukuran lubang ayakan yang meloloskan x persen dari contoh bahan yang
diayak.

Kontraktor harus mengadakan pengujian terhadap pembagian butir jika Pemberi Kerja
membutuhkannya untuk menyakinkan bahwa syarat-syarat spesifikasi tetap diikuti.

4.1.7 Sambungan Gerak Sederhana


Apabila diperintahkan atau tertera dalam gambar sambungan gerak sederhana harus
dibuat/dipasang pada bagian pasangan batu yang tidak direncanakan untuk maksud
tahan air. Umumnya sambungan gerak sederhana disambungkan bilamana terdapat
suatu penyambungan dengan bangunan lama yang akan mempunyai tingkat penurunan
(settlement) yang berbeda.

Sambungan gerak sederhana harus dibentuk dengan memasang susunan batu yang
terdiri dari batu berfungsi sebagai filter dibelakang pasangan batu pada sambungan,
setinggi sambungan tadi.

Filter ini harus terdiri dari batu dan kerikil terpilih dan baik untuk menahan hilangnya
atau hanyutnya bahan filter, serta ada bagian luar harus diberi lapisan penutup ijuk
setebal 3 cm atau gantex sive membrane yang diijinkan.

4.1.8 Urugan di belakang Pasangan Batu


Sebelum mengurug bagian belakangnya, pasangan batu harus sudah diyakini tidak bocor
dan mortar sudah rata permukaan batu sesuai gambar rencana.

Pengurugan tidak boleh dilakukan sebelum mendapat persetujuan Pemberi Kerja.

Untuk urugan dari bahan material lolos air (pasir kasar dan gravel) pemadatan dilakukan
dengan cara menggenangi urugan sampai jenuh dan memadatkan dengan pemadatan
tangan (hand tamping) jika air sudak kering, bila bahan urugan berupa tanah acak
(random fill), maka pemadatan harus dilakukan dengan pemadatan tangan (hand
tamping) sampai pemadatan 90% standar proctor.

Pembayaran urugan dibalik pasangan batu dibayar dalam satuan meter kubik urugan
yang dikerjakan sesuai dengan gambar rencana.

4.2 PEKERJAAN SIARAN DAN PLESTERAN


Pasangan batu pada permukaan yang terlihat (exposed) harus menyatukan batu-batu
yang dipasang dengan paling sedikit satu batu pengikat untuk tiap-tiap meter persegi.
Pekerjaan ini harus naik secara bersama-sama dengan pasangan bagian dalam agar

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 4
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

supaya batu pengikat dapat dipasang dengan sebaik-baiknya. Batu untuk permukaan
harus terpilih dan diletakkan dengan hati-hati sehingga tebalnya mortar tidak kurang
dari pada rata-rata 1 cm. Semua pekerjaan batu pada permukaan yang terlihat harus
disiar atau diplester sesuai dengan gambar rencana atau sesuai dengan pengarahan
Pemberi Kerja.

Mortar untuk siaran berupa campuran 1 PC : 2 Pasir lolos saringan No. 8 dengan
permukaan siaran diaci, pekerjaan siaran dapat dibagi atas :

- Siar tenggelam (masuk ke dalam 1 cm)


- Siar rata (rata dengan muka batu)
- Siar timbul (timbul dengan tebal 1 cm, lebar 2 cm)
Apabila tidak ada catatan khusus pada gambar atau perintah tertulis dari Pemberi Kerja,
maka siaran yang dimaksud adalah siar timbul.

Mortar plesteran berupa campuran semen dan pasir lolos saringan No. 8 dengan tebal
2cm dengan penbedaan macam pekerjaan plester dan berat semen minimum untuk per
m2 adalah sebagai berikut :

a. Plesteran
- Mortar 1 PC : 3 Pasir, permukaan diaci, berat semen 8.0 kg (0.16 zak)
- Mortar1 PC : 3 Pasir, permukaan tanpa diaci, berat semen 6,5 kg (0.13 zak)
b. Siaran
- Mortar 1 PC : 2 Pasir untuk siaran, berat semen 5.0 kg (0.10 zak).
Apabila tidak ada catatan khusus pada gambar atau perintah tertulis dari Pemberi Kerja
maka plesteran yang di maksud adalah 1 PC : 3 pasir dengan permukaan diaci.

Sebelum pekerjaan siaran dan plesteran dimulai semua bidang permukaan batu dan
sambungan diantara batu harus dibersihkan dari kotongan dan sisa-sisa mortar lepas.
Pembersihan dilakukan dengan menggunakan sikat kawat hingga permukaan mortar
menjadi kasar dan setelah itu disiram sampai semua kotoran dan sisa mortar lepas
bersih dari permukaan.

4.3 PIPA PERESAPAN (WHEEP HOLE)


Tembok penahan, talud miring dan tembok kepala harus dilengkapi dengan pipa
peresapan yang berfungsi untuk mengeluarkan air tanah.

Pipa peresapan harus dibuat dari pipa PVC sepanjang tebal pasangan batu ditambah 5
cm dengan diameter sekitar 2 inch dan paling tidak satu buah untuk setiap 2 m2
permukaan atau sesuai dengan pengarahan Pemberi Kerja.

Setiap ujung pemasukan pipa PVC harus dilengkapi dengan saringan seperti dalam
gambar. Saringan terbuat dari lapisan ijuk yang membungkus lubang pipa, dan dikelilingi
kerikil dan pasir serta pada bagian terluar ditutup dengan ijuk.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 5
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

4.4 BRONJONG
Bronjong harus disediakan dan dipasang berdasarkan garis potong dan ketebalan,seperti
pada Gambar dan seperti saran dari Pengawas Pekerjaan.

Bronjong harus terbuat dari batu berdiameter 20 cm dan anyaman kawat dengan mata
jaring 10 cm, dan diameter 3 mm. Pemberi Kerja harus menyerahkan contoh batu bulat
dan anyaman kawat tiga puluh (30) hari sebelum bronjong dipasang.

Bronjong tidak dipadatkan tetapi harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga hasilnya
kokoh, rata dan ketebalannya seperti yang disyaratkan. Untuk memperoleh hasil seperti
tersebut di atas, maka penempatannya harus dikerjakan dengan tangan.

Batuan harus diutamakan yang bulat dibanding bersudut. Perakitan harus membuat jala
kawat baja bersudut enam triple-twisted dengan mentaati BS 1052. Kawat tersebut
harus digalvanisir seperti yang ditetapkan di dalam) BS 443 sebelum di rangkai menjadi
jala. Ketebalan kawat dan ukuran jala sebagai berikut:

UkuranJala
Diameter Kawat
Uraian
Minimum (mm) (cm)

Kotak bronjong 2 x 1 x 0.5 3 8 x 10

Bronjong harus mempunyai sekat rongga dalam dari jala yang sama seperti rakitan
tertutup.

Ditengah bronjong harus diberi kawat yang kuat berdiameter 3 mm agar memberi suatu
sambungan berlanjut sepanjang tepi yang bersebelahan.

Jika bronjong ditempatkan di atas kain saringan, perlindungan harus diambil untuk
menghindari sobeknya kain selama pembuatan.

Batu harus ditempatkan di dalam bronjong sedemikian rupa untuk menghindari


kerusakan rakitan. Ruang kosong harus diisi dan penutup diregangkan dengan ketat di
atas dan dengan aman kawat diletakkan pada tempatnya.

Ukuran bronjong harusseperti yang ditunjukkanpadagambaratau yang diperintaholeh


Engineer.

4.5 PASANGAN BATU BATA


Seluruh pasangan bata, dinding bata, paving bata dan pasangan bata kosong yang perlu
dibangun menurut spesifikasi ini dan seluruh maksud yang bertalian yang mungkin
ditentukan oleh Pengawas Pekerjaan, harus terdiri dari bahan-bahan yang diperincikan
disini. Syarat-syarat dan ketentuan yang dinyatakan disini akan berlaku untuk semua
pekerjaan bata, kecuali kalau syarat-syarat dan ketentuan seperti itu dibuat oleh
Pengawas Pekerjaan untuk seatu pekerjaan tertentu.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 6
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

4.5.1 Material
 Batu Bata
Segala batu bata adalah batu bata yang sesuai dengan ketentuan dari standar
Indonesia untuk batu bata N.I. 10.

Tanah yang dipakai untuk membuat batu bata, harus dipilih dengan hati-hati dan
harus dari tanah liat. Tanahnya harus tidak mengandung kapur dalam jumlah yang
tidak dapat diterima, kerikil, pasir kasar atau bahan-bahan organis lainnya.
Lumpur tidak boleh melampaui 0.3%.

Batu bata kelas I (satu) harus dibuat dari tanah yang baik, bersih dari endapan
garam. Seharusnya dibakar terus-menerus tanpa diberi belirang, rat, berbentuk
dan berukuran sama dengan pinggiran yang tajam dan persegi (siku), dengan
permukaan yang sejajar dan berwarna merah tua atau perunggu.

Batu bata yang baik harus padat dalam pembuatan dan jika dipukul akan
mengeluarkan suara yang nyaring dan harus bersih dari retakan, pecah, pempilan-
gempilan, batu dan kapur.

Daya tekan rata-rata dari lima buah batu bata yangmermutu tidak boleh kurang
dari 100 kg/cm2.

Batu bat kelas II (dua) harus dibakar sama baiknya, seperti batu bata kelas I (satu)
atau sedikit kematangan, tetapi tidak mengaca dibagian manapun dan harus
bersuara nyaring bila dipukul. Perbedaan sedikit dalam ukuran bentuk ataupun
warna dapat diterima, tetapi tidak sedemikian sehingga mengakibatkan jalannya
yang tidak tertentu atau tidak rata bila digunakan.

Daya tekan rata-rata dari lima buah batu bata yang bermutu tidak boleh kurang
dari 80 kg/cm2.

Batu bata kelas III (tiga) harus sama dengan batu bata kelas II (dua). Daya tekan
rata-rata dari lma buah batu bata yang bermutu tidak boleh kurang dari 60kg/cm2.

 Semen
Semua semen adukan untuk pekerjaan bata harus sesuai dengan syarat-syarat
dan ketentuan yang dinyatakan untuk semen Portland dalam Bab III.

 Pasir
Semua pasir untuk pekerjaan bata harus sesuai dengan syarat-syarat dan
ketentuan yang dinyatakan untuk pasir dalam Bab III.

 Air
Air yang dipergunakan untuk adukan, bebas dari bahan-bahan lumpur, bahan-
bahan organik, alkali, garam dan kotoran-kotoran lain dan harus ditest dan
disetujui oleh Engineer.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 7
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

4.5.2 Komposisi Adukan


Adukan untuk pekerjaan bata harus terdiri dari satu bagian semen banding tiga bagian
pasir (keadaan lepas), kecuali bila ditentukan dan diperintahkan lain oleh Pengawas
Pekerjaan, dengan air yang cukup untuk mendapatkan kekentalan yang sesuai untuk
pemakaian.

Jika diperintahkan oleh Pengawas Pekerjaan untuk menambah daya pengerjaan maka
kapur pasangan atau semen merah yang disetujui Pengawas Pekerjaan, dapat
ditambahkan dalam adukan tetapi tidak boleh lebih dari 25% dari ukuran semen kering.

4.5.3 Pengadukan Spesi/Adukan


Cara dan perlengkapan yang dipakai untuk mengaduk campuran adalah sedemikian rupa
sehingga mudah untuk memastikan dengan tepat dan mengontrol banyaknya tiap-tiap
bagian yang dimasukkan ke dalam campuran mesin pengaduk (mixer) maka lamanya
waktu pengadukan, setelah semua bahan-bahan sudah di dalam mixer, (kecuali untul
jumlah penuh air) tidak boleh kurang dari dua menit.

Spesi/adukan akan dicampur hanya jika adukan tidak dipakai dalam waktu 30 menit
setelah penambahan air harus dibuang. Pencampuran ulangan adukan tidak
diperkenankan. Palung dan ember adukan harus dibersihkan dan harus dicuci setiap
akhir kerja setiap hari.

4.5.4 Pelaksanaan Pemasangan Bata


Cara dan perlengkapan untuk pengangkutan bata dan adukan sedemikian rupa sehingga
tidak akan merusak bata atau akan menunda pemakaian adukan.

Semua pekerjaan bata mulai dipasang setelah permukaan disiapkan dengan baik sesuai
dengan spesifikasi dan perintah Pengawas Pekerjaan.

Bata tidak boleh dipasang pada waktu hujan yang cukup deras atau cukup
menghanyutkan adukan dari bata. Adukan yang telah dihamparkan yang luluh oleh
hujan harus disingkirkan dulu dan diganti sebelum meneruskan pekerjaan.

Pekerja-pekerja tidak diperkenankan berdiri di atas pekerjaan bata sebelum pasangan


bata mengeras sepenuhnya.

Semua bata yang dipergunakan untuk pekerjaan bata harus dibasahi dengan air antara
tiga sampai empat jam sebelum dikerjakan dengan cara yang terjamin sehingga setiap
bata benar-benar basah. Semua bata harus bebas dari air yang melekat padanya ketika
dipasang.

4.5.5 Penyelesaian Dan Penyempurnaan


Semua bata harus dipasang dengan baik dan rata, sambungan sama rata, sudut persegi,
garis-garis vertikal lurus dan permukaan yang baik, kecuali jika ditunjukkan lain dari
gambar atau atas petunjuk Pengawas Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 8
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

Pekerjaan bata (batu merah) yang dibangun untuk jalan air harus menurut Standar
pekerjaan terbaik yang bisa didapat dan bata-bata yang ditolak harus dipindahkan atas
biaya Pemberi Kerja. Untuk bagian yang dilalui air pekerjaan bata harus diselesaikan
selicin mungkin.

4.5.6 Perawatan (Curing)


Semua pekerjaan bata yang memakai spesi/adukan harus dirawat dengan air (water
curing) atau cara-cara lain yang disetujui leh Pengawas Pekerjaan.

Jika perawatan dilakukan dengan air, pekerjaan bata harus tetap basah paling tidak
selama 14 hari, kecuali ditentukan dilain bagian dari spesifikasi ini dengan menutupinya
dengan bahan yang menyerap air atau alat pipa yang berlobang-lobang, alat penyiram
dengan menggenanginya atau cara lain yang disetujui yang menyebabkan permukaan
yang dirawat (cured) selalu basah. Air yang digunakan harus memenuhi ketentuan-
ketentuan spesifikasi air.

4.5.7 Perbaikan Pekerjaan Bata


Jika setelah penyelesaian pekerjaan bata, ternyata bahwa bata keluar dari garis atau
tidak datar, atau tidak sesuai dengan garis tingkatan yang ditunjukkan pada gambar atau
mununjukkan permukaan yang rusak, harus dibuang dan diganti atas biaya Pemberi
Kerja, kecuali Pengawas Pekerjaan mengijinkan secara tertulis, untuk menambal atau
mengganti daerah yang rusak.

4.6 PASANGAN BATU KOSONG/RIP-RAP


Pasangan batu kosong biasanya digunakan untuk melindungi bidang saluran diatas muka
air atau untuk menahan bantuan langsun galian ditempat-tempat tertentu.

Pasangan batu kosong terdiri dari batu pecah yang bila disusun sedemikian rupa akan
saling mengikat dan semuanya cocok satu sama lain. Batu yang digunakan harus
mempunyai berat jenis > 2.4 dan mempunyai ukuran tidak kurang dari 50 cm.

Batu- batu harus diberi landasan pasir dan ijuk diletakkan pada dasar alamiah
sedemikian rupa sehingga permukaan yang telah selesai merupakan bidang yang benar-
benar rata dan indah.

Untuk bidang yang luas, atas permintaan tertulis Pemberi Kerja dimungkinkan pasangan
batu kosong ini akan dijepit kerangka (frame) yang terbuat dari pasangan batu atau
beton. Pasangan batu kosong ini dimungkinkan juga digunakan sebagai parit pembuang
ditempat-tempat yang ditunjukkan dalam gambar atau atas permintaan Pemberi Kerja.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 9
Pekerjaan Pasangan PLTM Lau Gunung

4.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


4.7.1 Pasangan Batu
Pengukuran untuk pekerjaan pasangan akan dibuat berdasarkan volume pekerjaan
pasangan yang benar-benar dilaksanakan sesuai garis atau kuantitas dan ketebalan yang
ditunjukkan pada gambar atau atas saran Engineer.

Pembayaran untuk pekerjaan pasangan akan dibuat dalam harga satuan per meter kubik
(m3) yang dikontrakkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, yang mana harga
satuan tersebut sudah meliputi semua biaya material, tenaga kerja, peralatan dan
persiapan untuk penempatan, pembuatan dan penyelesaian pekerjaan pasangan.

4.7.2 Siaran dan Plesteran


Pembayaran pekerjaan siaran dan plesteran dihitung dalam satuan meter persegi.

4.7.3 Pipa Peresapan / Wheep Hole


Pembayaran pekerjaan pipa peresapan dilakukan dalam satuan buah yang dikerjakan
sesuai dengan perintah tertulis Pemberi Kerja.

4.7.4 Bronjong
Pengukuran untuk pembayaran bronjong, dilakukan berdasarkan batas garis dan
tingkatan serta ketebalan seperti tercantum pada Gambar atau seperti saran dari
Pengawas Pekerjaan.

Pembayaran bronjong didasarkan harga satuan per m3 (meter kubik) seperti tercantum
pada Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, dimana harga satuan tersebut termasuk
biaya semua pekerjaan yang diperlukan dalam pengadaan, pembuatan dan penempatan
bronjong.

4.7.5 Pekerjaan Pasangan Bata


Pengukuran dan pembayaran untuk segala pekerjaan bata yang dimintakan sesuai
spesifikasi-spesifikasi ini akan dilaksanakan menurut harga satuan per m2 (meter
persegi) yang ditawarkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan.

4.7.6 Pasangan Batu Kosong


Pembayaran pasangan batu kosong dihitung dalam satuan meter kubik terpasang sesuai
dengan gambar rencana.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IV - 10
Pekerjaan Jalan PLTM Lau Gunung

BAB V

PEKERJAAN JALAN

5.1 UMUM
Pemberi Kerja harus membangun jalan seperti tercantum dalam gambar dan sesuai
dengan saran dari Pengawas. Pemberi Kerja bertanggung jawab atas perencanaan,
pelaksanaan dan pemeliharaan berbagai konstruksi jalan permanen dan sementara.

Macam pekerjaan yang terkait dengan konstruksi jalan seperti pengontrolan dan
pembuangan air, penggalian dan timbunan kembali, timbunan, drainasi, pekerjaan beton,
sub base/base course dan lapisan penetrasi, guard railing dan sebagainya, harus sesuai
dengan spesifikasi yang tercantum pada bab ini dan bab lain yang berkaitan dengan
masalah ini.

Pekerjaan jalan untuk PLTM Lau Gunung terdiri dari :

- Jalan ke kiri Bendung, L = 266 m

- Jalan ke kanan Bendung, L = 76 m

- Relokasi jalan, L = 250 m

- Jalan ke Surge Tank, L = 1,820 m

- Jalan ke Power House, L = 1,510 m

- Jalan ke Inlet Penstock ke Inlet Tunnel, L = 355 m

5.2 PENGENDALIAN LALU LINTAS


Pengendalian Lalu Lintas harus memenuhi ketentuan Seksi 1.8 Pemeliharaan dan
Pengaturan Lalu Lintas.

5.3 PEKERJAAN TIMBUNAN JALAN


5.3.1 Material Timbunan
Pekerjaan timbunan untuk jalan inspeksi permanen dilaksanakan pada lokasi mengikuti
trase dan dimensi yang sesuai dengan gambar atau menurut petunjuk Pemberi Kerja.

Material timbunan untuk jalan inspeksi, sedapat mungkin harus berasal dari hasil galian
ditempat lain atau kemungkinan dari borrow area sesuai dengan perintah Pemberi Kerja.

Material timbunan jalan inspeksi harus merupakan campuran bahan dengan batas-batas
gradasi sebagai berikut :

 Diameter butir maksimum 30 (tiga puluh) centimeter

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant V-1
Pekerjaan Jalan PLTM Lau Gunung

 Material harus mengandung bahan halus dengan batasan minus ayakan No. 4 (4.76
mm) mencapai tidak kurang dari 50% (limah puluh persen).
 Fraksi butiran lebih kecil dari lolos ayakan No. 200 (0.074 mm) tidak kurang dari
10% (sepuluh persen) dan tidak lebih dari 50% (lima puluh persen).
5.3.2 Timbunan Pilihan (Selected Material)
Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai “Timbunan Pilihan” bila digunakan pada
lokasi atau untuk maksud dimana timbunan pilihan telah ditentukan atau disetujui secara
tertulis oleh Pemberi Kerja. Seluruh timbunan lain yang digunakan harus dipandang
sebagai urugan biasa.

Timbunan yang diklasifikasikan sebagai Timbunan Pilihan harus terdiri dari bahan tanah
atau cadas yang memiliki persyaratan untuk timbunan biasa dan sebagai tambahan harus
memiliki sifat tertentu tergantung dari maksud penggunaannya sesuai perintah Pemberi
Kerja.

Bila digunakan dalam keadaan dimana pemadatan dalam keadaan jenuh atau banjir tidak
dapat dihindari, material timbunan pilihan haruslah pasir atau kerikil atau bahan berbutir
bersih lainnya dengan Index plastisitas maksimum 6%.

Bila digunakan pada lereng atau pekerjaan stabilisasi timbunan atau pada situasi lainnya
dimana kuat geser penting tetapi dijumpai kondisi pemadatan normal dan kering,
timbunan pilihan dapat berupa pada (weathered rock) atau kerikil berlempung bergradasi
baik atau lempung berpasir atau lempung dengan plastisitas rendah. Tepi dari bahan yang
dipilih dan disetujui oleh Pemberi Kerja akan tergantung pada kecuraman dari lereng yang
akan dibangun atau dibuang, atau pada tekanan yang akan dipikul.

5.3.3 Kontrol Kadar Air dan Kepadatan


Apabila tidak disebutkan lain atau atas perintah Pemberi Kerja, kadar air bahan timbunan
jalan selama dan setelah proses pemadatan, sesuai ASTM Standard D2216, adalah
berkisar antara minus 4% (empat persen) sampai dengan plus 2% (dua persen) terhadap
kadar air optimum (OMC) yang diperoleh dari pemeriksaan Standard Compaction Test
yang dilakukan menurut ASTM Standard D698 dan kadar air material ini harus merata
pada seluruh material yang digelar.

Metode peningkatan atau pengurangan kadar air material timbunan jalan mendekati
kadar air optimum sebelum pemadatan adalah merupakan tanggung jaab Kontraktor
yang harus memperoleh persetujuan Pemberi Kerja terlebih dahulu. Penyesuaian kadar
air bahan timbunan harus dilaksanakan di sumbernya seperti di lokasi galian, borrow atau
stockpile sebelum material tersebut diangkut ke lokasi timbunan. Penambahan air
ditempat timbunan hanya diperkenankan atas seijin Pemberi Kerja dan harus
menggunakan kendaraan penyemprot atau alat semacam yang disetujui.

Kadar air optimum material dan kadar air sebenarnya di tempat timbunan jalan harus diuji
oleh Pemberi Kerja dengan mengambil contoh secara acak. Apabila kadar air material
timbunan yang diuji dari contoh-contoh tersebut tidak masuk di dalam kisaran spesifikasi,

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant V-2
Pekerjaan Jalan PLTM Lau Gunung

maka Kontraktor wajib memperbaiki kembali pekerjaan timbunan dengan cara yang
disetujui Pemberi Kerja.

Setiap lapis timbunan badan jalan harus dipadatkan sehingga diperoleh kepadatan
seragam pada seluruh lapisan sampai mencapai 92% (sembilan puluh dua persen) dari
kepadatan kering maksimum yang diperoleh dari pengujian Standard compaction Test
(ASTM Standard D698).

5.3.4 Penghamparan dan Pemadatan


Material timbunan tidak boleh dihamparkan sebelum pondasinya dipersiapkan dengan
baik dan memperoleh persetujuan Pemberi Kerja. Penimbunan harus dilaksanakan
mengikuti bidang-bidang lapisan arah horizontal selebar bidang kerja sesuai dengan
kemiringan rencana pada setiap level. Bidang kerja penimbunan tidak boleh diperlebar
dengan cara menimbunkan material lepas dari atas.

Tebal lapis timbunan sebelum pemadatan tidak boleh lebih dari 30 cm (tiga puluh
centimeter) dan setiap lapis harus dipadatkan sampai kepadatan yang diminta dengan
menggunakan pemadat roda getar (vibratory tamping roller) atau alat pemadat lain yang
disetujui Pemberi Kerja. Keterangan rinci mengenai jenis dan ukuran alat pemadat yang
akan dipergunakan Kontraktor harus dikirimkan kepada Pemberi Kerja untuk memperoleh
persetujuan sebelum pekerjaan dilaksanakan.

Kegiatan Kontraktor yang meliputi mengangkut, menghampar dan memadatkan bahan


timbunan jalan harus dilaksanakan agar menghasilkan distribusi dan gradasi material yang
baik diseluruh bagian timbunan. Munculnya rock pocket dan rock clusters yang dapat
menggangu jalannya operasi pemadatan harus dihindari. Lintasan kendaraan atau alat di
atas timbunan harus dialihkan ke rute lain agar diperoleh kepadatan yang merata di
seluruh bidang kerja.

Bobot alat pemadat berikut kecepatan dan jumlah lintasannya harus ditentukan
sedemikian agar dicapai tingkat kepadatan yang dikehendaki. Lintasan pemadat
berikutnya harus bertumpang tindih (overlapped) selebar minimum 50 cm (luma puluh
centimeter). Apabila digunakan lebih dari satu pemadat di satu bidang kerja, maka semua
alat pemadat harus dari jenis berukuran sama. Apabila menggunakan pemadat getar
ditarik traktor, maka traktor harus memiliki daya secukupnya saat drum pemadat diisi
penuh.

Jika Pemberi Kerja menilai permukaan yang telah dipadatkan terlampau kering atau
terlalu halus, maka lapisan itu perlu dibasahi atau dikasarkan dengan guru, scarifier atau
alat yang sesuai sampai dengan kedalaman tertentu agar terjadi ikatan yang lebih baik
dengan lapis berikutnya.

Jika Pemberi Kerja menilai permukaan lapisan yang dipadatkan terlalu basah, maka bagian
teratas tersebut perlu dibuang dan dijemur setelah digaruk dengan garu atau scarifier
atau alat lain untuk mengurangi kadar airnya sampai batas yang diperkenankan. Lapisan
itu kemudian dipadatkan kembali sampai tingkat kepadatan yang diinginkan sebelum
lapisan berikutnya dihamparkan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant V-3
Pekerjaan Jalan PLTM Lau Gunung

Bila Kontraktor berkehendak mengurangi jumlah lintasan pemadat untuk mencapai


kepadatan yang diinginkan, maka Pemberi Kerja akan mengadakan uji kepadatan
lapangan sesuai dengan ASTM Standard D1556, untuk verifikasi.

Selesai pemeriksaan itu Pemberi Kerja harus menyampaikan hasilnya kepada Kontraktor
dam, dengan memperhatikan kepadatan yang dihasilkan, Pemberi Kerja akan mengijinkan
Kontraktor melanjutkan penghamparan dan pemadatan lapis berikutnya.

Dalam segala hal, seluruh urugan pilihan harus, bila diuji sesuai dengan AASHTO T193,
memiliki CBR paling sedikit 10% (sepulu persen) setelah 4 (empat) hari perendaman bila
dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum sesuai dengan AASTHO T99.
Apabila timbunan akan dilaksanakan pada bangunan seperti headwall culvert, wingwall
dan semacamnya, metode pemadatan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak
menimbulkan tekanan berlebihan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan konstruksi.
Pada tempat-tempat tersebut Kontraktor harus menggunakan stampaer (hand operated
vibrating plate compactor) atau alat sejenis sesuai persetujuan Pemberi Kerja.

Timbunan badan jalan harus dilaksanakan menurut trase dan sub-grade line menurut
gambar atau atas petunjuk Pemberi Kerja dan harus dirapikan (trimmed) dengan toleransi
 3 centimeter dalam setiap 5 meter. Bagian subgrade line yang telah selesai dikerjakan
harus dilindungi kerusakan lalu lintas kendaraan, terlampau kering atau retak. Kerusakan
akibat kelalaian Kontraktor harus diperbaiki sesuai perintah Pemberi Kerja tanpa
tambahan biaya.

5.4 BADAN JALAN, MACADAM


Perkerasan jalan masuk baru (new access road) menggunakan AWCAS (All Weather
Compacted Aggregates) dengan kepadatan seperti yang disyaratkan. Lebar perkerasan
adalah 3.0 m dengan bahu jalan 1 meter di kiri dan 1 meter di kanan atau sesuai dengan
gambar rencana atau sesuai yang diinstruksikan oleh Direksi/Pengawas Pekerjaan.
Rekanan harus melakukan penghamparan material sirtu atau material hasil galian yang
berbatu dan melakukan pemadatan lapisan dengan tebal total 25 cm padat dan dilapisi
agregat halus 5 cm atau sesuai yang tertera di dalam gambar.

Jika pelaksanaan pekerjaan mengganggu atau merusak jalan yang ada Rekanan harus
memperbaikinya sesuai dengan kondisi semula.

Rute jalan harus sesuai dengan gambar-gambar dan tidak ada perubahan-perubahan
tanpa pemberitahuan pemberi Direksi/Pengawas Pekerjaan tugas secara tertulis.

Setelah Pekerjaan selesai jalan tersebut harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas


Pekerjaan atau jalan tersebut harus dibongkar dan daerah itu dipulihkan sesuai dengan
ketentuan yang ada atau seperti diperintahkan Direksi/Pengawas Pekerjaan.

Harga satuan untuk pekerjaan jalan masuk baru (new access road) sudah termasuk
pengadaan material AWCAS atau sirtu atau bahan hasil galian berbatu, pekerjaan tanah
dasar.galian, timbunan, penghamparan, pemadatan, pengadaan peralatan,dan pekerjaan
penyelesaian sesuai rencana kerja pekerjaan jalan masuk baru (new access road) yang

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant V-4
Pekerjaan Jalan PLTM Lau Gunung

telah disetujui Direksi/Pengawas Pekerjaan. Satuan untuk pekerjaan ini adalah meter
panjang.

5.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan jalan pada PLTM Lau Gunung dihitung
dalam satuan :

a. Sub Base Course dalam meter kubik terpasang sesuai dengan gambar rencana.
b. Base Course dalam meter kubik terpasang sesuai dengan gambar rencana
c. Surface Course dalam meter persegi terpasang sesuai dengan gambar rencana

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant V-5
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

BAB VI

PEKERJAAN HIDROMEKANIKAL

6.1. LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup pekerjaan hidromekanikal PLTM meliputi desain, pabrikasi, suplai, testing,
pengerjaan akhir, pengecatan, pengepakan untuk expor, asuransi, pengapalan,
penyerahan/ pemasukan ke lokasi pekerjaan, pengangkutan, instalasi/ pemasangan,
testing di lokasi pekerjaan dan tes fungsi serta catudaya dari semua peralatan
hidromekanikal yang terdiri dari :

 Hidromekanikal di bendung meliputi :


- Pintu penguras
- Pintu intake
- Trashrack
 Hidromekanikal di kantung lumpur meliputi :
- Pintu pengatur
- Pintu pembilas lumpur
 Hidromekanikal di penstock meliputi :
- Penstock
- Treefurcation
- Reducer
Pengangkeran, plat-plat perapat yang diperlukan untuk memasang peralatan hidro-
mekanikal pada pekerjaan beton primer (tahap-1) supaya memungkinkan untuk
penyetelan, dan menempatkan bagian-bagian yang tertanam, bersama-sama dengan
komponen-komponen angker harus di suplai oleh Kontraktor agar dapat masuk
sebelumnya (lebih awal), hal ini akan diatur pada saat proses kontrak.

Harga kontrak juga harus sudah termasuk untuk suplai, memasang semua peralatan
listrik dan alat kontrol sebagaimana tercakup dalam lingkup pekerjaan. Semuanya itu
sesuai dengan spesifikasi, yang akan dilengkapi dengan gambar dan jadual pelelangan.

6.2. TEGANGAN KERJA DAN PERENCANAAN


Perencanaan, dimensi dan bahan-bahan untuk semua bagian tidak boleh mengalami
kerusakan akibat dari kondisi-kondisi yang paling tidak menguntungkan ataupun akibat
lendutan-lendutan maupun vibrasi yang disebabkan atau ditimbulkan karena pengaruh
pengoperasian peralatan. Penataan mekanisme struktur harus dibuat sedemikian rupa
agar dihindarkan terhadap penumpukan debu atau karat yang mungkin terjadi.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 1
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Semua bagian yang akan dilepas atau dapat dilepas untuk keperluan pemeliharaan atau
penggantian harus dipegang pada tempat dengan pengikat yang tidak dapat korosi.
Jenis, bahan dan ukuran semua pengikat harus dipilih agar aman terhadap beban
maksimum yang mungkin terjadi, layak dan aman dalam pengoperasian, bebas dari
tegangan yang tidak diinginkan, pengeringan yang memadai serta lain-lain yang perlu
untuk suatu peralatan yang memenuhi syarat.

Perlu di ketahui bahwa gambar-gambar dalam tender hanya merupakan gambar/tipikal


secara umum dari peralatan dan ukuran-ukuran yang ada bukan merupakan yang pasti
secara detail dari peralatan yang harus disediakan. Gambar-gambar tersebut hanya
menunjukkan garis besar dari struktur peralatan yang akan dipasang. Setiap ada
perubahan perletakan pengecoran dari bagian-bagian yang tertanam dalam beton, yang
ditetapkan oleh Kontraktor harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

6.3. INSTRUKSI/PETUNJUK KEPADA STAF PROYEK


Selama pekerjaan pemasangan dilokasi pekerjaan, Kontraktor harus memberi
instruksi/petunjuk kepada staf Proyek yang ditunjuk oleh Pemberi kerja yang nantinya
secara penuh akan bertanggung jawab dalam pelaksanaan untuk penyetelan,
pengoperasian dan pemeliharaan peralatan. Tentunya instruksi/ petunjuk tersebut
harus di berikan oleh tenaga yang ahli dalam bidangnya.

Biaya yang diperlukan untuk melakukan instruksi tersebut harus sudah termasuk dalam
harga kontrak.

6.4. SATUAN UKURAN


Dalam semua surat menyurat, perencanaan teknis serta semua gambar, harus
menggunakan satuan dalam Metris. Namun demikian bila ada dokumen/ phamplet yang
sudah tercetak dengan menggunakan satuan bukan Metris, maka hendaknya agar
ditambahkan ukuran persamaan dalam metris sebagai tambahan.

6.5. PENTANAHAN
Semua peralatan listrik harus di lengkapi/ dipasang pentanahan secara menyeluruh
dengan memasang plat tembaga dan disuplai oleh Kontraktor. Konduktor tembaga
pentanahan harus di hitung berdasarkan arus listrik maksimum akibat adanya
kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi (ground fault current) dan harus
menggunakan proteksi dalam rangkaian listrik serta mempunyai ukuran minimum 8
milimeter persegi dan bila memungkinkan harus dimasukkan dalam pipa konduit dengan
konduktor.

6.6. PERUBAHAN BAHAN ATAU PERALATAN


Kontraktor tidak boleh mengadakan perubahan terhadap peralatan-peralatan atau
bahan-bahan yang tergabung dalam peralatan sebagaimana dicantumkan dalam
spesifikasi tanpa ada persetujuan tertulis dari Pengawas Pekerjaan. Dalam hal ada
perubahan atau penggantian yang tidak dapat dihindarkan bisa dilakukan asal dari pihak
Pemberi kerja tidak keberatan terhadap perubahan/penggantian tersebut dan tidak
akan ada penambahan harga kontrak.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 2
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

6.7. LABEL DAN PLAT NAMA


Semua label, data dan plat nama dan plat instruksi pada panel-panel dan peralatan
harus ditulis dalam Bahasa Indonesia.

6.8. GAMBAR-GAMBAR, DOKUMEN-DOKUMEN YANG HARUS DISUPLAI OLEH


KONTRAKTOR
Sebelum memulai pekerjaan pabrikasi peralatan, kriteria desain, kalkulasi/ perhitungan,
ukuran-ukuran gambar dan diagram yang menunjukkan semua detail dari peralatan dan
bahan-bahan yang akan dipakai, harus diserahkan kepada Pengawas Pekerjaan dan
Pemberi Kerja untuk mendapatkan persetujuan. Semua gambar dan kalkulasi desain
harus diserahkan dalam waktu sebagaimana dijelaskan dalam uraian dibawah terhitung
mulai tanggal penunjukan kontrak dan harus disediakan waktu kelonggaran yang cukup
untuk mengadakan perubahan-perubahan yang perlu dibuat oleh Kontraktor bila
diperlukan dan diinstruksikan oleh Pengawas Pekerjaan, tanpa mengakibatkan
kelambatan pelaksanaan pekerjaan/ kontrak. Apabila diminta oleh Pengawas Pekerjaan,
Kontraktor harus mengadakan perubahan-perubahan gambar atas biaya Kontraktor dan
seselanjutnya untuk diserahkan dan mendapatkan persetujuan Pengawas Pekerjaan.

Pada waktu Kontraktor menyiapkan jadual pelaksanaan pekerjaan sebagaimana diminta,


Kontraktor harus menyediakan waktu tambahan yang diperlukan untuk mendapatkan
persetujuan gambar dan hendaknya dicantumkan dalam jadual tersebut. Untuk setiap
persetujuan tersebut diperlukan waktu kurang lebih 6 (enam) minggu. Pada dasarnya
klaim atau perpanjangan waktu akibat kelambatan penyerahan gambar kepada
Pengawas Pekerjaan atau kelambatan yang disebabkan karena gambar yang belum
disetujui oleh Pengawas Pekerjaan tidak dapat disetujui.

Setelah gambar dan dokumen disetujui oleh Pengawas Pekerjaan, Kontraktor harus
menyerahkan sejumlah gambar dan dokumen yang diperlukan kepada Pengawas
Pekerjaan dan Pemberi Kerja.

Dalam hal ini harus di pahami, bahwa persetujuan gambar dan dokumen tidak berarti
Kontraktor terlepas dari tanggung jawabnya sehubungan dengan kontrak pekerjaan.

Setelah semua pekerjaan yang di kontrakkan selesai, satu set gambar negative lengkap
yang sebelumnya telah disetujui harus diserahkan bersama-sama dengan gambar
cetakan yang telah disetujui oleh Pengawas Pekerjaan dan Pemberi kerja dalam bentuk
buku/dijilid dan juga arsip gambar dan dokumen yang telah disimpan dalam Compact
Disk (CD) melalui Pengawas Pekerjaan.

Jumlah gambar dan data yang harus diserahkan kepada Pemberi Kerja dan Pengawas
Pekerjaan adalah sebagai berikut :

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 3
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Pemberi Pengawas
Uraian
Kerja Pekerjaan

Selama pelaksanaan pekerjaan

Gambar dan dokumen untuk mendapat persetujuan 2 set 3 set

Gambar dan dokumen yang sudah disetujui 3 set 3 set

Setelah pekerjaan selesai

Gambar dalam bentuk file dalam Compact Disk (CD) 1 set (CD) 2 set (CD)

Gambar negative 1 set 2 set

Gambar cetak dalam bentuk buku/dijilid 4 set 2 set

Semua hasil inspeksi dan data tes dalam bentuk buku/dijilid 4 set 2 set

Laporan pekerjaan dalam bentuk foto 2 set 2 set

Spesifikasi akhir yang telah disetujui perhitungan/kalkulasi dan daftar 4 set 2 set
bahan
2 set 2 set
Rekaman video dalam bentuk CD

Kontraktor harus menyediakan gambar-gambar dan dokumen-dokumen dalam batas


waktu sebagaimana ditetapkan dibawah terhitung dari tanggal surat kesanggupan
(Letter of Acceptance).

(1) Dalam waktu 2 (dua) bulan

Gambar detail yang berkaitan dengan pekerjaan sipil antara lain block-outs untuk
kerangka pengarah, pondasi peralatan dan lain sebagainya.

(2) Dalam waktu 5 (lima) bulan

Semua gambar-gambar lain dan dokumen kecuali gambar tersebut pada (1)

Apabila ada permintaan dari Pengawas Pekerjaan untuk memperbanyak gambar-


gambar, dokumen dan data maka hal tersebut harus disediakan oleh dan atas biaya
Kontraktor.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 4
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

6.9. INSTRUKSI/PETUNJUK PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN


Kontraktor harus mengajukan kepada Pengawas Pekerjaan untuk mendapatkan
persetujuan instruksi/petunjuk secara umum cara pemasangan, pengoperasian dan
pemeliharaan peralatan dengan referensi khusus serta pengembangannya.
Instruksi/petunjuk harus disampaikan dalam waktu secepatnya setelah ada persetujuan
gambar-gambar.

Instruksi/petunjuk harus diserahkan kepada Pengawas Pekerjaan untuk mendapatkan


persetujuan dengan cara yang sama seperti halnya persetujuan gambar dan setelah
persetujuan akhir harus disiapkan dan disampaikan sebanyak 7 (tujuh) dan 3 (tiga) copy
masing-masing kepada Pengawas Pekerjaan dan Pemberi kerja. Kontraktor harus
menjamin agar pengawas pelaksana pekerjaan instalasi/pemasangan yang bertugas
dilokasi pekerjaan harus mempunyai satu copy.

Copy instruksi/petunjuk yang diserahkan untuk mendapatkan persetujuan harus


disiapkan dalam Bahasa Inggris. Setelah ada persetujuan akhir instruksi/petunjuk
tersebut harus diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia atas biaya Kontraktor dan
selanjutnya disampaikan kepada Pengawas Pekerjaan dan Pemberi Kerja.

Instruksi/petunjuk harus memuat secara detail prosedur pemasangan, penyetelan


pengoperasian, cara melepas setiap komponen, sistim dan mekanisme harus dijelaskan
serta digambarkan secara rinci. Pemeliharaan setiap komponen harus diuraikan,
termasuk frekwensi pemeriksaan dan pelumasan dan lain-lain informasi yang
diperlukan.

Instruksi/petunjuk harus memuat secara terpisah dan dalam bab yang secara lengkap
menguraikan tentang prosedur operasi untuk mengatur/penyetelan pintu-pintu, katup-
katup dan peralatan lainnya yang terkait dan harus memuat gambar-gambar skema dan
informasi lengkap agar dapat dengan mudah dipahami.

Dalam menyiapkan instruksi/petunjuk, Kontraktor harus memper-timbangkan agar


dapat dengan mudah dipahami bagi operator yang belum berpengalaman dengan
peralatan tersebut.

Instruksi/petunjuk harus memuat daftar gambar-gambar yang dipakai, rekomendasi


suku cadang dan daftar bagian-bagian setiap komponen atau item dari peralatan. Daftar
bagian-bagian harus memuat code pabrik, nomer seri dan cara membuat
pesanan/order. Daftar bagian-bagian tersebut harus detail hanya untuk peralatan yang
disuplai dan tidak hanya memuat referensi secara umum atau uraian peralatan dengan
model yang sama tetapi secara detail berbeda.

6.10. PETUNJUK PEMASANGAN


Petunjuk pemasangan harus diserahkan dengan cara yang sama seperti halnya cara
pengoperasian dan instruksi/petunjuk pemeliharaan setelah persetujuan akhir masing-
masing harus disiapkan dan diserahkan sebanyak 7 (tujuh) dan 3 (tiga) copy kepada
Pengawas Pekerjaan dan Pemberi Kerja.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 5
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Petunjuk cara pemasangan harus diuraikan secara detail mengenai prosedur perakitan
pemasangan, penggunaan peralatan yang dipakai untuk instalasi/ pemasangan dan alat
ukur yang diperlukan.

6.11. STANDAR DAN PENGERJAAN


(1) Umum

Semua bahan yang digunakan harus baru, kelas satu, dan yang umum digunakan
serta sesuai dengan sifat-sifatnya. Semua bahan harus memenuhi standar
Japanese Internasional Standard (JIS) terbitan terbaru kecuali ditetapkan lain atau
atas persetujuan Pengawas Pekerjaan.

Semua pengerjaan harus klas tertinggi untuk menjaga kehalusan dan bebas dari
getaran pada waktu dioperasikan dalam segala kondisi dan desain, dimensi dan
bahan-bahan untuk semua bagian harus baik tidak boleh terpuntir, aus atau rusak
akibat kondisi kerja yang berat.

Semua bagian harus sesuai dengan dimensi sebagaimana tercantum dalam


gambar-gambar yang telah disetujui. Semua sambungan, permukaan yang dipakai
sebagai patokan/pedoman dan komponen-komponen yang berkaitan harus
dikerjakan dengan mesin dan semua pengecoran permukaan tempat mur harus
bersih.

Semua tanda pengerjaan mesin harus ditunjukkan dalam gambar yang disetujui.
Semua sekrup, baut-baut tanam, mur dan ulir pipa harus memenuhi
syarat/standar JIS terbaru atau standar international yang memuat komponen
tersebut dan semua harus memenuhi syarat standar ukuran metris.

(2) Standar

Japanese Standards, yang diterbitkan oleh Japanese Standard Association telah


digunakan untuk semua spesifikasi. Standar Nasional atau International apabila
memenuhi syarat atau yang ekivalen/sama dengan Japanese Standard yang
diterbitkan saat ini dan dapat diterima atas opini Pengawas Pekerjaan.

Dalam hal terjadi dokumen kontrak bertentangan sebagian atau seluruhnya


dengan standar-standar/code di atas, maka Dokumen Kontrak yang harus
digunakan.

Semua peralatan listrik, bahan dan detail instalasi, harus memenuhi syarat dan
revisi terbaru dari code/standar berikut dimana dapat dipakai/cocok :

(a) Japanese Industrial Standard (JIS)

(b) Japanese Electro-Technical Committee’s Standards (JEC)

(c) Japanese Engineering Standards (JES)

(d) Japanese Electric Machine Industry Association Standards (JEM)

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 6
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(e) Japanese Cable makers Assoitiation Standards (JCS)

(f) International Electrotechnical Commission (IEC)

(g) Badan yang secara hukum syah bertindak sebagai instalator

(h) Kode-kode lokal yang berlaku

(3) Perakitan di pabrik (Bengkel)

Semua peralatan harus dirakit di pabrik sebelum dikirim dan Kontraktor harus
menguji peralatan tersebut untuk menunjukkan kepada Pengawas Pekerjaan
bahwa peralatan tersebut berikut komponen-komponennya memenuhi
persyaratan. Semua pengujian harus dilaksanakan dengan kondisi operasi sejauh
mungkin mendekati operasi yang normal sebagaimana mestinya. Untuk semua
bagian-bagian yang dibongkar harus diberi tanda-tanda dan diberi pen
sebagaimana diminta untuk menjamin agar nantinya perakitan dilapangan dapat
dilaksanakan dengan benar.

(4) Pengecoran

Semua hasil pengecoran harus merata, padat, cetakan terisi penuh, kwalitasnya
merata dan dengan kondisi bebas dari lubang-lubang, bintik-bintik, pengkerutan,
retak, cacat-cacat lainnya serta memenuhi syarat kebersihan untuk pemakain.

Sebelum pengerjaan akhir dengan mesin semua barang cor harus diperiksa
terlebih dahulu terhadap kemungkinan adanya cacat-cacat sebagaimana diuraikan
diatas.

Barang-barang yang dicor tidak boleh diperbaikai, ditambal atau dilas tanpa
persetujuan dari Pengawas Pekerjaan. Dalam hal ada ijin hanyalah untuk cacat-
cacat ringan yang tidak akan mempengaruhi kekuatan, penggunaan atau
kemampuan pengerjaan dengan mesin.

Apabila terdapat pemisahan karena adanya bahan lain pada tempat yang kritis
pada barang cor akan menyebabkan barang tersebut ditolak. Dalam hal ada
perubahan bentuk penampang, maka agar bagian yang membentuk sudut harus
dibulatkan dengan radius sebesar mungkin.

Semua permukaan yang tidak dikerjakan dengan mesin dan kelihatan setelah
peralatan dipasang, harus diupayakan agar kelihatan baik sebelum dicat.

(5) Barang cetakan

Barang yang dicetak harus sesuai dengan JIS-G-3201, SF 50 atau yang ekivalen
yang disetujui. Ingot harus dicetak dalam cetakan yang terbuat dari metal, dengan
pengerjaan klas satu dan harus bebas dari cacat-cacat yang dapat mempengaruhi
kekuatan dan ketahanannya termasuk sambungan, pipa, cacat, retak, putus,
kropos, berbintik-bintik dan kelebihan bahan bukan dari metal.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 7
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Apabila terjadi suatu perubahan bentuk penampang maka bagian yang


membentuk sudut harus dibulatkan dengan radius sebesar mungkin. Semua
permukaan barang cetakan harus halus dan bebas dari bekas-bekas yang
disebabkan karena alat cetak.

(6) Material/ Bahan

Semua material dan peralatan yang disediakan atau dibuat untuk pekerjaan
konstruksi harus sesuai dengan standard khas yang terkait menunjuk pada
spesifikasi teknis. Dimana standard bantu suatu material, peralatan dan konstruksi
tidak tercantum dalam spesifikasi, harus disesuaikan pada Standard Indonesia
yang paling baru dan betul, atau pada Standard of the American Society for
Testing and Materials (dikenal Standard ASTM).

Standard-standard tersebut haruslah merupakan standard yang sah, yang harus


mendapat persetujuan sebelumnya dari Pengawas Pekerjaan (Engineer). Jika
Kontraktor menggunakan standard lain atau spesifikasi untuk material, peralatan
atau prosedur konstruksi, Kontraktor harus mengajukan kopi-kopi lengkap baik
dari standard maupun semua spesifikasi yang diusulkan, dan data dari material,
peralatan, atau bagian pekerjaan dalam bahasa Indonesia untuk persetujuan
Pengawas Pekerjaan (Engineer).

Sehubungan dengan sistem satuan ukuran dapat menggunakan sistem matrik


teknik (sistem cgs) atau Standard International System (SI System), yang
merupakan satuan ukuran harus digunakan seperti yang diminta. Bahan yang
digunakan untuk konstruksi bangunan baja harus baru dan kwalitas tinggi, dan
diseleksi sepenuhnya atas dasar detailed drawings yang diajukan Kontraktor dan
telah mendapat persetujuan Pengawas Pekerjaan (Engineer) atau yang ekivalen
seperti pada tabel berikut:

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 8
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

a) Baja
Plat baja untuk struktur utama dari peralatan JIS G 3106, SM 41 B
and/or SM 50 B, atau JIS
G 3101,

SS 41 bila desain
memenuhi dan disetujui
Pengawas Pekerjaan

Pipa baja JIS G 3106, SM 41 B


atau
- pipa baja untuk pipa konduit
JIS G 3101, SS 41 bila
desain memenuhi dan
disetujui Pengawas
Pekerjaan

- Pipa yang sudah jadi Finished pipe JIS G 3454, STPG 38 or

JIS G 3457, STPY 41

- Pipa patusan dan pipa udara JIS G 3454, STPG 38

Plat baja untuk struktur umum untuk peralatan a.l JIS G 3101, SS 41
auxilary parts, such as tangga, platforms, plat penutup,
angker, dll, atau bila disetujui oleh Engineer

Baja profil (Steel sections) JIS G 3192

Baut baja, mur dan washers JIS B 1180, B 1181 and;

B 1256

High-strength steel hexagon bolts, hexagon nuts and JIS B 1186


plain washers

Spring lock washers JIS B 1251

Baja tahan karat, plat, batangan dll. JIS G 4304, G 4305,

G 4306, and G4307

Corrosion-resisting clad steel plates JIS G 3601

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 9
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

b) Bahan Tuangan (Casting)

Besi tuang(Iron castings) JIS G 5501, FC 20

Baja tuang (to be fully annealed) JIS G 5101, SC 42

High tensile strength carbon steel castings and low JIS G 5111, SC Mn Cr 3 B
alloy steel castings

Bronze castings JIS H 5111, BC 2

Phosphor bronze castings JIS H 5113, PB C2

c) Bahan Tempaan (Forgings)

Baja karbontempaan (Carbon Steel Forgings) JIS G 3201, SF 50

d) Bahan Pelengkap (Miscellaneous Materials)

Self-lubricating bearings JIS H 5102, high strength


brass casting, HBSC 4
(min HB 210) base with
solid lubricant.

Kawat baja / Stranded wire rope (galzanized) JIS G 3525 : konstruksi 6


 37

Wire rope fittings Manufacturer’s standard


fittings for the type of
wire rope used

Rails JIS E 1101

Light rail JIS E 1103

Pipa conduit untuk kabel listrik JIS C 8305

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 10
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(7) Plat baja dengan pola persegi (Checkered plate)

Pola plat yang dapat disetujui pemakaiannya adalah yang berbentuk profil
menonjol. Semua ujung-ujungnya yang akan disambung agar dipotong sedemikian
rupa agar polanya dapat bersambung satu sama yang lain secara menerus.

(8) Pengerjaan mesin

(a) Umum

Semua toleransi dan ukuran-ukuran untuk berbagai metal fit antara bagian
yang datar dan berbentuk silinder harus sesuai/memenuhi Japanese
Industrial Standards atau ekivalen yang disetujui untuk klas metal fit yang
diperlukan.

Pengerjaan mesin harus memberikan kelonggaran untuk penempatan


bantalan sehingga permukaannya benar-benar rapat. Permukan bantalan
harus benar-benar kontak secara penuh. Permukaan bidang luncur bantalan
harus dihaluskan dengan teliti untuk menjaga agar pada waktu dirakit dapat
beroperasi dengan baik. Bagian-bagian yang dikerjakan dengan mesin harus
dilaksanakan dengan hati-hati dan teliti. Semua lubang yang dibor dan
dibaut harus ditempatkan secara teliti dan dibor dengan menggunakan mal
(templates).

(b) Pengerjaan akhir permukaan

Tanda-tanda/kode pengerjaan akhir harus dicantumkan dalam gambar


pabrikasi dari Kontraktor dan harus memenuhi Japanese Industrial
Standards atau ekivalen. Untuk mengetahui pengerjaan permukaan
tersebut sesuai dengan spesifikasi dapat ditentukan dengan cara meraba
dan diperiksa secara visual dan dicocokan dengan contoh standar kekasaran
berdasarkan standar yang telah ditetapkan diatas.

(c) Permukaan yang tidak memerlukan pengerjaan akhir.

Secara praktis sejauh mungkin semua pekerjaan supaya diatur agar semua
hubungan dan sambungan dapat cocok tanpa pengerjaan akhir. Namun
demikian apabila ada perbedaan yang cukup besar/menyolok pada
sambungan yang tidak memerlukan pengerjaan akhir, maka perlu diadakan
pemotongan atau penghalusan atau pekerjaan mesin agar di peroleh
sambungan yang sebaik-baiknya. Permukaan yang tidak memerlukan
pengerjaan akhir harus benar-benar lurus dan ukuran-ukurannya sesuai
dengan yang ada dalam gambar, namun demikian apabila ada bagian yang
menonjol harus dipotong dan bagian yang berbintik-bintik harus
dihilangkan. Dalam hal ada sedikit lekukan atau lobang yang tidak
mempengaruhi kekuatan atau penggunaannya dapat diisi/ditambal dengan
persetujuan Pengawas Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 11
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(d) Pasak dan alur pasak

Pasak dan alur pasak harus memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum


dalam Japanese Industrial Standrards (JIS) atau ekivalen yang disetujui
Pengawas Pekerjaan (Engineer), kecuali ditetapkan lain.

(e) Pen dan lubang pen

Lubang pen harus dibor sesuai dengan ukuran, halus dan lurus dan pada
sudut kanan terhadap garis hati dari barang tersebut. Pembuatan lubang
harus dilaksanakan setelah barang tersebut di hubungkan/dipasang pada
pondasi yang kuat. Pen harus di buat dari baja yang di keraskan dan di
tempatkan dengan benar. Roda-roda utama atau rollers untuk pintu harus
dipasang dengan pen yang dapat dilepas dan mempunyai bantalan dengan
pelumasan sendiri dan ring kuningan.

(f) Pelumasan

Sebelum dirakit, semua permukaan bantalan, journal dan alur oli harus
dibersihkan dan diberi pelumasan dengan oli atau gemuk yang telah
disetujui. Sebelum dioperasikan, setiap system pelumasan harus diperiksa
terlebih dahulu. Sebelum dirakit bantalan yang dapat melumasi sendiri
harus di bersihkan dengan kain lap dan digemuki dengan minyak pelumas
yang telah disetujui. Bahan pelarut (solvent) tidak boleh digunakan pada
bantalan yang dapat melumasi sendiri. Spesifikasi minyak pelumas yang
telah disetujui harus dicantumkan dalam buku petunjuk operasi dan
pemeliharaan.

(g) Keseimbangan (balancing)

Semua bagian yang berputar harus benar-benar seimbang baik secara statis
maupun dinamis, sehingga pada waktu berputar pada kecepatan normal
dan pada setiap beban sampai pada beban terbesar, tidak akan terjadi
getaran akibat ada ketidak seimbangan dan peralatan harus beroperasi
dengan suara normal/wajar.

(9) Karet perapat (rubber seals)

Karet perapat harus dicetak dari bahan yang bermutu tinggi, neoprene
compound. Polymer dasar harus menggunakan karet murni, co-polymer dari
butadine dan styrene, atau campurannya. Campuran harus berisi tidak karang dari
70% dalam volume dari polymer dasar, dan sisanya harus terdiri dari bahan-bahan
pengeras (reinforcing carbon black zincoxide accelerators), antioxidants
vulcanizing agents dan atau plasticisers. Compound tersebut harus mempunyai
sifat-sifat phisik sebagai berikut :

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 12
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Sifat-Sifat Batasan

Tegangan tarik 210 kg/cm2

Perpanjangan 450% (minimum)

Kekerasan Durameter (shore type A) 50 - 70

Berat jenis 1,1 - 1,3

Penyerapan air (700 C dalam waktu 48 jam) 5% (maks.dari berat)

Pemampatan (dalam % dari total defleksi asli 30% (maksimum)

Tegangan tarik setelah oxygen bomb aging dalam 80% dari tegangan tarik
waktu 48 jam pada 700 C sebelum ageing

(10) Pekerjaan pengelasan

Semua pengelasan harus di kerjakan dengan salah satu cara, manual, shield
metalic arc welding, atau otomatis dengan submerged arc welding. Kontraktor
harus mengajukan prosedur pengelasan untuk mendapatkan persetujuan
Pengawas Pekerjaan, dan setelah prosedur pengelasan tersebut disetujui,
Kontraktor harus mencatat dalam gambar khusus yang selanjutnya akan menjadi
salah satu gambar/dokumen kontrak. Simbul pengelasan harus di tunjukkan
dalam semua gambar Kontraktor dimana pengelasan diperlukan.

Toleransi yang diizinkan adalah ± 0.5 mm dari dimensi yang dicantumkan dalam
gambar, kecuali ada ketentuan lain. Untuk potongan yang berbentuk silindris
ketentuan adalah:

- Ujung potongan silindris harus ± 1,5 mm dari axis potongan tersebut. Panjang
section untuk setiap bagian harus dalam + 10 mm dari yang digambar.

- Max deviasi dari setiap potongan yang lurus tidak melebihi 5 mm untuk setiap
panjang 12 m.

- Pada butt joint, root gap dalam batas:


1,5-2,5 mm untuk ketebalan sampai 10 mm
3,0-6,0 mm untuk ketebalan diatas 12 mm
Meter-meter yang cocok harus disediakan untuk menunjukkan besarnya arus dan
voltase pengelasan selama pekerjaan las berlangsung.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 13
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Kecuali ditetapkan lain dalam spesifikasi semua bagian yang memerlukan


pekerjaan pengelasan harus dilaksanakan seluruhnya sebelum pengerjaan akhir.

Semua sambungan las harus dibuat secara menerus dan kedap air. Ukuran tebal
las minimum tidak boleh kurang dari 4,5 mm.

Semua las yang cacat harus di adakan pemotongan (chipping) sampai pada metal
dan setelah di perbaiki harus diperiksa dengan menggunakan serbuk magnit
(magnit fliux) atau ultrasonic, hal ini untuk mengecek apakah semua cacat-cacat
pada las tersebut benar-benar telah diperbaiki.

Semua plat yang akan disambung dengan las harus dipotong dengan cermat.
Ukuran dan bentuk dari ujung-ujung yang akan disambung harus sedemikan rupa
agar bagian yang akan berfusi dapat sepenuhnya merembes. Bagian ujung-
ujungnya supaya di bentuk agar dapat menampung berbagai kondisi
pengegelasan. Pada jarak 25 mm dari ujung plat yang akan dilas harus bersih dari
debu, gemuk dan harus dibersihkan sampai mengkilap.

(11) Kualifikasi prosedur pengelasan

Teknik pengelasan yang akan dipergunakan, penampilan dan kwalitas hasil


pengelasan serta metode yang akan dipakai untuk perbaikan terhadap
kerusakan/cacat, harus memenuhi standar American Welding Society (AWS) D.1.1
atau ekivalen yang disetujui Pengawas Pekerjaan.

(12) Kualifikasi tukang las (welder qualification)

Semua tukang las dan operator las yang ditugaskan untuk melaksanakan
pekerjaan las harus mampu serta lulus tes dalam pelaksanaan pengelasan dengan
posisi mendatar maupun tegak, dalam jangka waktu 6 bulan sebelumnya, baik
untuk tukang las maupun operator las harus memenuhi syarat standar JIS Z-3801
atau standar ekivalen yang disetujui. Kontraktor harus menyampaikan kepada
Pengawas Pekerjaan, copy/rekaman sertifikat dan laporan hasil pengujian/tes
phisik contoh las dari tes kualifikasi.

Apabila pihak Pengawas Pekerjaan berpendapat pada suatu pekerjaan las


meragukan salah seorang tukang las, maka terhadap yang bersangkutan harus
diadakan tes kualifikasi ulang. Semua biaya yang diperlukan untuk melaksanakan
tes ulang tersebut, sepenuhnya ditanggung oleh Kontraktor.

(13) Kawat las

Kawat las yang digunakan harus memenuhi syarat standar JIS Z - 3211 atau 3212
atau ASTM 7018 jenis yang dilapisi dengan kadar hidrogen rendah untuk
bertegangan tinggi (hight strength) atau ekivalen yang disetujui.

Logam jenis baja anti karat (stainless steel), yang dipakai dalam aliran air yang
direncanakan untuk proteksi pukulan (pitting) harus menggunakan jenis baja
campuran chromium- nickel. Jenis dan komposisi kimia dan nomer standar JIS dari

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 14
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

kawat las yang akan dipakai untuk memenuhi persyaratan tersebut harus disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

(14) Bahan sampel inspeksi dan testing.

Bahan-bahan, bagian-bagian dan barang-barang rakitan yang akan dipakai untuk


pelaksanaan pekerjaan harus diuji terlebih dahulu, kecuali ditetapkan lain sesuai
dengan cara yang terbaik yang biasa dipakai di pasaran untuk jenis dan klas
tertentu suatu pekerjaan.

Apabila pabrik menghendaki untuk memakai bahan yang ada dalam persediaan
yang telah di pabrikasi secara khusus untuk peralatan yang akan di suplai, maka
harus menunjukkan bukti-bukti, bahwa bahan tersehut memenuhi persyaratan
dengan cara menjelaskan tes terhadap bahan-bahan tersebut. Sertifikat yang
menyatakan komposisi kimia (mill test report) dari bahan plat atau profil dapat
diterima sebagai bukti dokumen tes. Sebagai tambahan bila dalam spesifikasi
menyatakan bahwa harus dilakukan tes sifat-sfat mekanis harus dilakukan, maka
semua bahan harus dites di pabrik terlebih dahulu sebelum dipakai untuk
pelaksanaan pekerjaan, dan setiap bahan yang cacat harus ditolak.

Tes yang harus disaksikan oleh Pengawas Pekerjaan dan pengecekan bahan dapat
dilakukan dipabrik pembuat oleh inspektor yang ditunjuk oleh Pengawas
Pekerjaan, untuk menyaksikan pelaksanaan pengetesan bahan atau melaksanakan
pengecekan bahan, kecuali ditetapkan lain. Dalam hal tes-tes tersebut dilakukan
maka sejauh mungkin diatur agar tidak menganggu kegiatan pabrik. Kontraktor
harus memenuhi permintaan inspektor baik mengenai cara tes maupun perbaikan
kerusakan akibat kesalahan pembuatan.

Semua barang cor yang mempunyai berat 226,8 kg (500 pounds) atau lebih harus
mempunyai kupon dari hasil tes yang telah dibuat berdasarkan barang contoh
yang disiapkan.

Jumlah, ukuran dan lokasi pengetesan dari barang contoh harus mendapat
persetujuan Pengawas Pekerjaan. Dalam hal ditemukan bahan yang cacat/rusak
dan berdasarkan spesifikasi harus ditolak, maka sekali di tolak selanjutnya tidak
boleh dipakai pada bagian manapun dari pekerjaan tersebut.

Bahan contoh (specimen) yang akan dites untuk bahan konstruksi lainnya atas
permintaan Pengawas Pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor.

Kekuatan patah, batas elastisitas, kekenyalan, kekerasan dan lain-lain, akan


ditetapkan berdasarkan hasil tes bahan contoh.

Kontraktor harus menyediakan secara cuma-cuma semua bahan contoh


(specimen), pelapisan, pemotongan dan pengerjaan mesin sampai pada ukuran,
bentuk dan dimensi sesuai petunjuk Pengawas Pekerjaan. Pelaksanaan
pengetesan dilakukan oleh dan atas biaya Kontraktor dan dilaksanakan atas
petunjuk Pengawas Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 15
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Bahan tes yang dinyatakan ditolak harus dibuat tahan lama dan akan menjadi
milik Pemberi kerja. Semua laporan hasil tes harus diserahkan kepada Pengawas
Pekerjaan. Kontraktor harus menyampaikan kepada Pengawas Pekerjaan
sebagaimana diminta, sertifikat hasil tes yang menyatakan analisa komposisi
kimia dan sifat-sifat phisik dari bahan-bahan yang akan di gunakan.

Ketidak hadiran Pengawas Pekerjaan dalam inspeksi tidak berarti bahwa


Kontraktor lepas dari tanggung jawabnya untuk menyerahkan bahan dan
pengerjaan untuk dapat diterima oleh Pengawas Pekerjaan.

6.12. PERALATAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL


Dalam perencanaan peralatan untuk menggerakkan pintu yang harus disediakan atau
dipersiapkan antara lain:

a) Roda Gigi
Semua roda gigi dibuat dengan menggunakan mesin perkakas bubut, frais, bor,
potong, skrap dan lain-lain dengan bahan yang dipilih minimal adalah sebagai
berikut:

Wheels : Rolled or forged steel

Pinions : Rolled or forged steel

Worm Wheels : Steel with bronze rims

Worms : Steel or forged

Apabila menggunakan worm gearing (transmisi ulir) inilah yang menggerakkan


pertama kali dan direncanakan dengan menggunakan penggerak secara manual
maupun motor yang dilengkapi dengan oil tight removable housings dengan
lubrication oil plug, drain cock dan oil level indicator.

Temperatur pada bak oil perlu dipasang thermometer dan tertera tidak lebih dari
40 centigrade dari temperatur atmosfer.

Semua roda gigi dan pinion dilengkapi dengan penutup dari baja atau metal
pelindung sebagai pengaman.

b) Ropes, Drums dan Sheaves


Pesawat pengangkat yang menggunakan kawat (wire rope) harus galvanise,
flexible dengan type fiber core dan internal lubricant.

Faktor keamanan dari kawat pengangkat beban yang bekerja tidak akan melebihi
8, maximum hoist motor torque  90% yield strength.

Penggulung kawat (rope drum) dibuat dari baja tuang (cast steel) atau pabrik baja
dengan mesin alur. Pembuatan alur di alat penggulung (drum) harus sama dengan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 16
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

diameter kawat dan diperkirakan cukup untuk menggulung kawat pada waktu alat
yang diangkat naik. Bagian akhir dari kawat harus berada di bagian luar drum dan
di klem.

Diameter minimum pitch circle penggulung kawat dan sheaves  19 D dan 17 D


untuk konstruksi lilitan kawat 6  37. Diameter minimum pitch circle sama dengan
sheave tidak lebih dari 10 D.

Jumlah lapisan kawat yang digulung pada drum cukup 2 (second layers) lapis.

Rope sheaves berbentuk Vee-groove dengan sudut 52 dan groove depth 1.5 
diameter kawat.

c) Coupling
Dipasang coupling atau flexible gear type coupling untuk memudahkan
pemindahan gigi pada saat poros digerakkan/ diputar.

d) Bantalan (Bearing)
Untuk kecepatan poros rendah menggunakan bahan bronze bushed bearing dan
untuk kecepatan tinggi menggunakan ball atau roller bearing.

e) Spie dan alur spie (Keys dan Keyways)


Keys dan Keyways direncanakan/ dipilih yang memadai (standard).

f) Pasak/Pengunci (Dowels)
Gear boxes dan bearing, mempunyai alur untuk tempat pasak dipasang.

g) Alat pemutar manual (Hand Operation Devices)


Peralatan ini sebagai pelengkap apabila kondisi electrical system tidak berfungsi
atau aliran listrik padam dan tenaga penggerak untuk 10 kg/ orang, dan diameter
handle 300  600 mm atau dengan penempatan pada ketinggian 600  800 mm
dari dasar.

h) Batang Ulir (Screw Spindles)


Diameter screw spindle minimal 50 mm. Screw spindle dibuat dari baja anti karat
dan dibentuk oleh mesin potong dengan trapreoridal thread sepanjang yang
diperlukan.

i) Posisi Indikator Mekanikal


Tipe Posisi Indikator mekanikal dirakit secara mekanis, dengan penunjuk (dial
type)  300 tingkat dari posisi penuh. Pelat penunjuk dibuat dari stainless steel
atau brass atau dari bahan anti karat yang terlindung dari debu atau cuaca. Dan
diletakkan tegak/ berdiri dan mudah dibaca secara akurat.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 17
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

j) Motor
Semua motor yang dipilih untuk motor dengan poros datar tenaga putaran tinggi,
arus rendah, squirrel cage, indicator type, full voltage starting, weatherproof dan
totally enclosed.

Pemilihan kapasitas motor diperoleh dari JIS C 4210 atau 30 minutes rating,
temperatur 40 C udara luar. Kapasitas motor dapat diuji dengan hasil
perhitungan 100% dari beban maksimum pengangkat atau dapat dipilih 200% 
300%.

WV
Qp 
6.12  

Dimana:

Qp : Out put motor (Kw)

W : Beban maksimum mengangkat (ton)

(termasuk kerugian-kerugian)

V : Hoisting speed (m/min)

 : Total efisiensi bagian mekanikal

Semua bantalan motor biasanya ball atau roller type dengan perapat pelumas
dalam (grease seal). Rumah bantalan dilumasi dengan grease.

k) Motor Brakes
Rem suatu motor dipasang dengan type spring-applied dan AC solenoid release.
Dengan kapasitas  150% beban penuh dari motor itu sendiri. Rem motor dipilih
secara otomatis dan tenaga motor cut off.

l) Electric Cables dan Wiring


Kontraktor akan bertanggung jawab untuk pemasangan kawat (wiring), dan
melengkapi kabel kontrol dan kabel tenaga (power cables) yang akan diperlukan
untuk operasional. Semua kawat/ kabel untuk kabinet-kabinet kontrol
dimasukkan dalam PVC atau ke dalam rak-rak kabel (Cables duct), supaya
terlindung. Semua penyambungan kabel akan dilakukan hanya pada terminal
block atau studs.

Semua kabel yang diluar antara kabel-kabel kontrol, motors. Limit Switches, dan
lain-lain dengan multicore copper, cross-linked polyethyline insulated, dibungkus
PVC (Type CV), 600 volt grade cable.

Kontraktor akan mengirim dan memasang semua saluran kabel dan bahan-bahan
yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 18
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

m) Motor Starter
Semua motor starter akan disesuaikan secara langsung untuk menghidupkan
motor, dengan 3-phase, tipe induksi, over current relays untuk overload
phenomenon dan manual resetting, open-phase relays dan undervoltage.

Over current relays akan disetel di lapangan dengan motor arus beban penuh.
Untuk control voltage adalah 230 Volt, AC.

n) Kabinet dan panel control (Control Cabinets and Panels)


Kabinet dan panel kontrol dibuat dari bahan dengan tebal 2.3 mm, dengan
menggunakan konstruksi penguat.

Semua indikator untuk meter-meter dan lampu kontrol dilengkapi dengan kunci
untuk membuka dan menutup jendela/ pintu panel, lampu kontrol menyala atau
mati secara otomatis. Konstruksi kabinet dan panel harus tahan cuaca, debu dan
vermin-proof.

Kontraktor akan memasang instrumen, kabel kontrol termasuk semua


penyambungan listrik dan penyambungan kabel lengkap dengan pemasangannya.

o) Kotak pembagi arus (Power Distribution Panel)


Power distribution Panel dibuat dari pelat baja ukuran 2.3 mm, kuat, konstruksi
penahan dan dibagian bawah ada saluran/ channel untuk mengirim kabel-kabel ke
tempat yang diperlukan.

Kabel-kabel dan kawat akan disalurkan ke sebelah bawah atau atas persetujuan
Pengawas Pekerjaan (Engineer)

Dipasang juga space heating elements dan thermostatic control di setiap panel.

Power Distribution panel diisi dengan circuit breakers termasuk spare feeder.

Pilot light dipasang di luar di jendela/ pintu panel sebagai tanda untuk mengetahui
pada saat dikunci, jendela/ pintu panel akan terbuka atau tertutup.

p) Konduit (Conduits)
Saluran baja akan digalvanize di bagian luar dan dalam. Tebal plat baja minimum
2.3 mm dan bagian sebelah dalam minimum diameter 16 mm.

q) Saklar pembatas (Limit Switches)


Limit Switches harus tahan air termasuk mudah dipasang, dan terprotek dari sifat
kerusakan atau bahan baja tahan karat.

r) Lampu indikasi (Indicating Lights)


Lampu indikator dibuat dari filament dengan tipe lensa plastic berwarna yang
kuat menyala, tahan getaran.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 19
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Lampu penerangan (Lighting Fixtures)

Perlengkapan penerangan komplit dengan lampu. Fluorescent fitting masuk AC


230 Volt, 50 Hz dan sebuah ballast atau ballast of high power factor, juga lamp
holder untuk standard lokal.

Mercury flood lighting fixlures juga di pasang sesuai kebutuhan.

s) Relay elektrikal (Electrical Relays)


Electrical relays digunakan untuk kontrol dan alarm. Dan yang lain dipakai untuk
protections circuit pada saat menghentikan hubungan arus agar berhenti
(pressure contacts).

t) Equipment Wiring dan Wiring Accessories


Gambar wiring diagram dilihat di bagian belakang kabinet dan menunjukkan
semua terminal-terminal selector switches, relays, contractors, terminal blocks
dan lain-lain.

Circuit dipasang dengan dikelompokkan bersama dengan terminal block (di AC


Circuit).

Pengaturan standar phasa di panel adalah R – S – T - N dan R – N - S dari kiri ke


kanan, dari atas ke bawah dan dari depan ke belakang untuk AC – 3 phase dan
satu phase circuit dan N – P dari kiri ke kanan, P – N dari atas ke bawah/dasar dan
di depan ke belakang untuk DC polatority.

Semua relays, instruments, buses dan equipment meliputi 3 phase circuit diatur
dan disambung dengan standard phase arrangement.

Semua warna kabel listrik agar mengikuti standar berikut:

Circuit Warna

Trafo tegangan/Voltage transformers Merah

Trafo arus/Current transformers Hitam

Arus bolak-balik/AC circuit Kuning

Arus searah/DC circuit Biru Blue

Arde/Grounding circuit Hijau dengan strip kuning

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 20
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Phase and Polarity Warna

AC, 3-phasa, Phasa-1 Merah Red

Phasa-2 Kuning Yellow

Phasa-3 Hitam

AC, 1-phasa, Kawat-1 Merah

Kawat-2 Kuning

Neutral Hitam

Arde/Grounded Hijau dengan strip kuning

DC, positive Merah

negative Biru

Contoh : untuk secondary wiring, terminations dan terminal blocks yang dikirim oleh
Kontraktor harus mendapat persetujuan Pengawas Pekerjaan lebih dahulu.

6.13. SUPLAI KELISTRIKAN PERMANEN


Tenaga listrik permanen yang akan disuplai untuk peralatan listrik permanen harus
adalah sebagai berikut :

Arus bolak balik 3 phasa, 4 kawat, 50 Hz

Tegangan antara phasa dengan phasa...............380 Volt

Tegangan antara phasa dan netral.....................220 Volt

Fluktuasi/Variasi tegangan................................

Fluktuasi/Variasi frekuensi..................................

Titik netral.....................................................dihubungkan dengan arde

Suplai jaringan listrik 3-phasa harus digunakan untuk sirkit tenaga dan satu phasa
digunakan untuk suplai kejaringan penerangan, indikasi, motor kontrol dan sirkit tenaga
listrik kecil.

6.14. PROTEKSI, PEMBERSIHAN DAN PENGECATAN


(1) Umum

Semua bagian yang seluruhnya akan tertanam dalam beton harus dibersihkan dan
diberi proteksi dengan cement wash atau cara yang disetujui sebelum penyerahan
dari pabrik pembuat. Sebelum di pasang, semua permukaan harus dibebaskan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 21
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

dari karat dan dibersihkan dari debu dan partikel-partikel yang tidak diinginkan.
Pembersihan tersebut tidak boleh mempengaruhi kekuatan atau pengoperasian
dan fungsi dari peralatan.

Semua bagian yang akan dikerjakan dengan mesin atau permukaan bantalan
harus dibersihkan dan dicegah dari korosi, dengan memberikan cairan anti debu
atau lapisan plastik sebelum penyerahan dari pabrik pembuat. Apabila yang
terakhir ini tidak dapat dilaksanakan maka bagian tersebut dapat dilapisi dengan
gemuk yang mempunyai titik cair yang tinggi. Setelah selesai pemasangan bagian-
bagian tersebut harus dibersihkan dengan zat pelarut (solvents) dan selanjutnya
dilap atau dipolis sampai mengkilap.

Semua warna akhir dari peralatan harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan
setelah ada kesepakatan dengan Pemberi kerja, sehingga dalam hal ini Kontraktor
harus mengajukan suatu rencana pemberian warna untuk peralatan dan harus
menyerahkan kepingan/potongan contoh warna. Kepingan contoh warna
tersebut harus merupakan lampiran daftar warna yang disetujui untuk setiap
peralatan yang akan dilaksanakan di lokasi pekerjaan.

Semua peralatan harus dicat sebagaimana di tetapkan di bawah. Pengecetan


peralatan harus meliputi persiapan permukaan, aplikasi cat, proteksi dan
pengeringan lapisan cat, begitu juga suplai semua alat, tenaga dan bahan yang
diperlukan untuk seluruh pekerjaan pengecetan.

Kontraktor harus menyediakan jumlah cat yang cukup, baik untuk pengecatan di
lapangan maupun untuk perbaikan pengecatan yang telah di laksanakan di pabrik
pembuat .

Cat yang dipakai harus hasil produksi pabrik cat yang mempunyai reputasi cukup
baik dan pemilihannya harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

(2) Persiapan permukaan

Semua oli, parafin, gemuk dan kotoran lain harus dibersihkan dari permukaan
yang akan dicat dengan menggunakan bahan pelarut (solvents). Semua bekas/sisa
pengelasan kerak dan bahan/kotoran-kotoran lainnya harus dibersihkan dengan
semprotan pasir (shot or sand blasting) hingga mencapai warna “putih” metal.
Bagian dalam dari pipa baja harus dibersihkan dengan semprotan pasir sampai
mencapai standar yang berlaku dalam perdagangan. Harus diadakan perhatian
khusus untuk membersihkan pada bagian sudut-sudut yang menyiku. Apabila ada
debu atau beberapa permukaan menjadi kotor dalam periode pembersihan dan
pengecatan, maka pembersihan ulang harus dilakukan dengan cara dan tingkat
pengerjaan yang sama.

Selama pekerjaan pembersihan dan pengecatan sedang ber-langsung pada bagian


permukaan yang tidak dicat harus dilindungi dengan memberi penutup disekitar
lokasi tersebut. Harus dipilih cara yang menguntungkan untuk menghilangkan
semua oli dan uap yang datang dari saluran udara pada peralatan blasting.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 22
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Semua persiapan permukaan harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan, sebelum


pekerjaan pengecetan dilaksanakan.

(3) Prosedur pelaksanaan

Setiap pelaksanaan pengecatan lapisan cat harus memenuhi syarat,


permukaannya halus dan rata. Cat harus diaduk secara merata, disaring dan dijaga
agar kekentalannnya sama selama pekerjaan pengecatan di laksanakan.
Pengecatan tidak boleh dilaksanakan bila temperatur logam atau udara sekitarnya
mencapai suhu dibawah 100 C. Pada waktu pengecetan berlangsung, permukaan
yang akan dicat harus bebas dari uap air/embun. Pengecetan harus dilaksanakan
dengan menggunakan alat penyemprot atau dengan kuas. Setiap pengecetan
harus memberi kesempatan agar lapisan cat tersebut kering/mengeras terlebih
dahulu secara keseluruhan sebelum pengecetan lapisan berikutnya dimulai.

(4) Permukaan yang tidak boleh dicat

Perunggu, kuningan, permukaan gigi, permukaan logam yang telah dilakukan


pengerjaan akhir, permukaan yang kontak dengan bagian yang menggelinding
atau meluncur setelah dirakit di lapangan dan kabel baja tidak boleh di cat.

Semua permukaan baja tahan korosi untuk bantalan dan bagian-bagian yang telah
dilakukan pengerjaan akhir dengan mesin tidak boleh di cat. Setelah pembersihan,
pada permukaan harus dilapisi dengan lembaran plastik yang diberi perekat,
sehingga akan melindungi permukaan tersebut dari kerusakan akibat benturan
kecil dan terhadap korosi selama pengiriman dan penyimpanan dilokasi
pekerjaan. Lapisan tersebut harus dilepas sebelum peralatan dipasang dilapangan.

(5) Skedul pengecatan

Pengecatan harus dilaksanakan sebagai berikut :

(i) Semua permukaan berikut yang termasuk dalam skedul pengecatan berikut
harus dicat dengan cat dasar dan menggunakan cat yang memadai dengan
pengecatan yang baik (compactable with the painting scheme).

(ii) Cat jenis tar epoxy atau sejenis Jotun Jotamastic 87 dengan total ketebalan
lapisan cat dan dalam keadaan kering 0.25 - 0.30 mm, untuk dilakukan pada
item-item sebagai berikut :

(a) Permukaan yang terbuka pada kerangka pengarah.

(b) Semua daun pintu

(c) Permukaan bagian dalam konduit baja dan katup-katup.

(d) Saringan sampah

(iii) Cat jenis epoxy resin, dengan total ketebalan lapisan cat 0.15 - 0.25 mm
harus dilaksanakan pada item-item sebagai berikut :

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 23
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(a) Katup-katup yang tidak tertanam dalam beton.

(b) Roda gigi penggerak

(c) Semua penutup dan kerangka.

(iv) Cat jenis asphalt emulsion dengan total ketebalan lapisan cat 0.25 - 0.35
mm atau cat jenis tar epoxy atau sejenis Jotun Jotamastic 87 dengan total
ketebalan lapisan cat dan dalam keadaan kering 0.20 - 0.25 mm untuk
permukaan bagian luar konduit baja

(v) Semua permukaan logam yang tidak memerlukan pengerjaan akhir kecuali
yang telah disebutkan diatas, harus dicat jenis alkyt resin enameled atau cat
sejenis yang disetujui Pengawas Pekerjaan. Total ketebalan cat ini termasuk
cat dasar harus mencapai 0,12 - 0,15 mm.

Daftar Rekomendasi Ketebalan per lapisan :

Ketebalan Lapisan Ketebalan film Kering Ketebalan Film Basah Pulasan Teori Rata-
dan Pulasan Rata- Rata (m2/ltr)
(m) (m)
Rata
Grade Standar :
- Minimum 150 180 5,5
- Maksimum 300 365 2,7
- Tipikal 200 245 4,1

Peralatan yang umum diperdagangkan harus dicat sesuai dengan standar dari
pabrik pembuat. Semua permukaan logam yang telah dilakukan pengerjaan akhir
termasuk sekrup dan ulir yang terbuka selama transportasi atau sedang
menunggu pemasangan harus dibersihkan dan diberi lapisan cat yang dapat larut
dalam bensin, compound yang dapat mencegah karat/kotoran.

6.15. PENGEPAKAN
Semua barang harus dipak dengan baik atau diberi proteksi agar tidak rusak selama
dalam pengiriman dari pabrik sampai di lokasi pekerjaan.

Setiap krat atau peti harus berisi sebuah daftar barang yang dimasukkan ke dalam
amplop yang anti air dan copy/rekaman dalam rangkap 3 (tiga) harus disampaikan
kepada Pengawas Pekerjaan sebelum pengiriman barang. Semua peti harus diberi tanda
yang jelas untuk mempermudah pengenalan terhadap daftar barang.

Semua peti, pak dan lain-lain harus diberi tanda yang jelas di bagian luar dan
menjelaskan total berat, dimana letak berat barang serta penempatan sling yang benar
dan identifikasi lain berkenaan dengan dokumen pengapalan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 24
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Pengawas Pekerjaan berhak untuk memeriksa dan menyaksikan peralatan dan


pengepakan sebelum barang dikirim. Kontraktor harus bertanggung jawab secara
keseluruhan dan menjamin pengepakan barang yang memadai untuk pemindahan dan
pengecekan, tidak akan terlepas dari tanggung jawab untuk setiap kehilangan atau
kerusakan yang diakibatkan karena kesalahan pengepakan.

Semua bahan pengepak adalah milik Kontraktor dan agar memuaskan pihak Pengawas
Pekerjaan, maka bahan pengepak tersebut harus dibuang dari lokasi proyek dalam
waktu secepatnya.

6.16. PERAKITAN DAN TESTING DI PABRIK


(1) Daun pintu dan kerangka pengarah

Pintu harus dirakit di pabrik dalam posisi yang mendekati seperti pemasangan di
lapangan. Pada waktu dirakit, daun pintu harus diperiksa dimensinya, toleransi,
ketilitian kelurusannya. Setiap ditemukan kesalahan serta ketidak lurusan harus
segera dibetulkan sebagaimana mestinya. Karet perapat harus dipasang pada
tempatnya selama perakitan di pabrik. Bagian yang dihubungkan satu dengan
yang lain harus diberi tanda yang jelas sebelum dibongkar untuk pengiriman. Jalur
lintasan roda utama, rel pengarah samping, permukaan perapat, kerangka
pengarah bagian atas (lintel) dan bagian bawah (sill) harus diperiksa kerataannya
dengan menggunakan penggaris dan pengukur tusuk (feeler gauge).

Semua dimensi dari kerangka pengarah, yang berkaitan dengan dimensi daun
pintu, harus diperiksa dan apabila ditemukan kesalahan dan ketidak lurusan harus
dibetulkan sebagaimana mestinya.

(2) Roda gigi penggerak dan panel kontrol

Roda gigi penggerak harus dirakit secara lengkap di pabrik dan dites sebagai
berikut :

(i) Tes beban 125 % beban kerja yang aman

(ii) Tes jalan pada kecepatan normal

Semua bagian harus dites pada kondisi operasi normal maka untuk
menjamin kehalusan operasi dan catu dayanya, untuk itu agar semua
kerenggangan dan toleransi yang diperlukan telah disediakan sehingga
tidak mengakibatkan bengkokan pada bagian yang berputar. Semua
bantalan harus diperiksa secara teliti. Semua gemuk pelumasan dan oli
yang diperlukan harus disediakan untuk keperluan tes catudaya. Setiap
ada cacat atau terjadi pengoperasian yang tidak normal harus diperbaiki
dan semua tes harus diulang kembali.

6.17. PEMASANGAN DAN TESTING DI LAPANGAN


(1) Kerangka pengarah (Guide Frame)

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 25
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Kerangka pengarah harus dirakit dalam block-out sesuai dengan gambar final yang
telah disetujui dan diupayakan agar kerataan dan tingkat toleransi masih dalam
batas yang telah ditetapkan dalam spesifikasi, selanjutnya diikat dengan kuat dan
aman ditempatnya. Baut penyetel kelurusan atau perlengkapan lainnya harus
digunakan untuk memasang kerangka pengarah sehingga diperoleh posisi final
yang akurat. Hubungan antara kerangka pengarah, angker dan perlengkapan
lainnya harus disetel, selanjutnya dikencangkan. Pengecekan akhir posisi dan
kelurusan harus dilaksanakan sebelum pengelasan untuk menahan kerangka
pengarah tetap kuat pada posisinya pada saat pengecoran blockout sedang
dilaksanakan.

Angker pengikat tambahan harus disediakan seperlunya untuk menjamin


kelurusan yang diperlukan. Harus dijaga dengan ketat dan sebaik-baiknya agar
alur pengarah roda dan permukaan karet perapat harus terletak dalam bidangnya
yang benar dan dalam batas toleransi seluruh panjang alur dapat dicapai sesuai
dengan yang telah ditetapkan dalam spesifikasi.

Pengecoran dalam blockout tidak boleh dilaksananakn sebelum kerangka


pengarah secara lengkap, benar dan kuat dirakit. Selama pengecoran
berlangsung, batas-batas deviasi kelurusan harus awasi/diperiksa dan apabila ada
indikasi perubahan toleransi harus secepatnya diambil langkah-langkah
perbaikannya.

(2) Daun pintu (Gate Leaf)

Daun pintu lengkap dengan karet perapat harus dirakit dan dipasang sesuai
dengan gambar final yang telah disetujui.

Semua sambungan-sambungan harus kedap air pada bagian bawah pintu, pada
waktu dipasang harus dalam posisi lurus/rata untuk menjaga kerapatan, sehingga
karet perapat selalu menekan rapat pada permukaan kerangka ambang (sill) yang
tertanam dalam beton. Daun pintu bagian samping harus benar-benar lurus
sehingga karet perapat akan selalu menekan rapat pada permukaan kerangka
perapat yang tertanam dalam beton. Daun pintu harus dirakit dan dites di pabrik
agar memenuhi toleransi yang telah ditetapkan dalam spesifikasi.

Uraian serta sket secara mendetail metode/cara pemasangan pintu harus


diserahkan kepada Pengawas Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan. Namun
demikian persetujuan yang diberikan tidak melepas tanggung jawab Kontraktor
dari tanggung jawabnya untuk mencapai toleransi sebagaimana diuraikan di atas.

(3) Roda gigi pengangkat dan panel kontrol

Selama perakitan, semua permukaan bantalan, journal, alur gemuk dan oli harus
dibersihkan dengan baik dan dilumasi dengan oli atau gemuk yang disetujui.
Sebelum pengoperasian dilaksanakan, semua sistim pelumasan harus diperiksa
oleh Kontraktor.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 26
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Peralatan roda gigi pengangkat harus seluruhnya dirakit dan dipasang sesuai
dengan gambar final yang telah disetujui. Teromol kabel baja harus diletakkan dan
disetel dalam posisinya dengan benar terhadap perlengkapan kabel baja yang
dipasang pada daun pintu.

Setelah peralatan roda gigi pengangkat dipasang dan sebelum kabel baja
dipasang, peralatan pengangkat harus dicoba untuk dioperasikan dan diperiksa
terhadap pengoperasian yang benar.

Setelah tes tersebut selesai dilaksanakan, kabel baja harus dipasang dan
dihubungkan dengan daun pintu dan selanjutnya daun pintu dites, dimana semua
kontrol seperti saklar pembatas, penunjuk kedudukan dan lain-lain harus disetel
dan dites untuk pengoperasian yang benar. Setiap ditemukan cacat atau operasi
yang tidak normal selama tes berlangsung, harus segera dibetulkan dan semua
tes harus diulang kembali.

6.18. INSTRUKSI/PETUNJUK PROSEDUR TESTING


Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas Pekerjaan untuk mendapatkan
persetujuan suatu instruksi prosedure testing yang menguraikan semua tes yang harus
dilaksanakan, selama atau secepatnya setelah penyerahan gambar. Prosedur tersebut
harus menjelaskan urutan dari tes, persiapan peralatan, dan prosedure operasi dan
diikuti uraian secara detail prosedur-prosedur tes yang harus dilaksanakan. Prosedur ini
harus diserahkan untuk mendapat persetujuan dan diserahkan dalam cara yang sama
sebagimana untuk persetujuan gambar.

6.19. PENGETESAN (TESTING)


(1) Umum

Selama pelaksanaan pekerjaan dan setelah pemasangan setiap peralatan,


Kontraktor harus melaksanakan serangkaian tes sebagaimana telah diuraikan
dalam instruksi/ prosedur tes untuk mengetahui ketelitian pada perakitan dan
untuk membuktikan kelengkapan bahan dan pengerjaannya.

Testing dan laporan hasil pengetesan harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.
Tidak akan ada bagian pekerjaan yang dapat diterima sebelum Pengawas
Pekerjaan menyatakan lengkap dan puas terhadap hasil tes.

Laporan/catatan hasil pengetesan, data, lembar perhitungan dan photo-photo


(bila ada), harus diserahkan kepada Pengawas Pekerjaan sebanyak 3 (tiga) copy
dalam waktu 2 (dua) minggu setelah tes dilaksanakan.

(2) Tes Kebocoran

Tes kebocoran air akan dilaksanakan bersamaan dengan the watery test,
kebocoran air maksimum yang diizinkan setiap pintu dan balok bendung terlepas
dari tekanan hidrolik yang akan diperoleh sebagai berikut:

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 27
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(a) Angka kebocoran air maksimum setiap pintu untuk 1 meter seal (perapat)
adalah 0,2 liter/ detik dan total kebocoran adalah 5 liter/detik.

(b) Angka kebocoran air maksimum setiap balok bendung (stop log) untuk 1
meter seal (perapat) adalah 0,2 liter/ detik dan total kebocoran adalah 0,1
liter/ detik dan total kebocoran adalah 10 liter/detik.

(c) Angka kebocoran air maksimum setiap pintu intake untuk 1 meter seal
(perapat) adalah 0,1 liter/ detik dan total kebocoran adalah 2 liter/detik.

(d) Angka kebocoran air maksimum setiap outlet valve/guard valve untuk 1
meter seal (karet perapat) adalah 200 cc/ 30 menit.

6.20. SUKU CADANG DAN ALAT-ALAT


Kontraktor harus melengkapi daftar rekomendasi suku cadang seperti dalam daftar
berikut.

(1) Pintu Pengambilan

(i) 1 (satu) set karet perapat (yang belum dilubangi)

(ii) 100 % lampu indikasi dan sekering

(iii) 1 (satu) set kontaktor tetap dan yang bergerak untuk saklar-saklar dan relai-
relai.

(iv) 1 (satu) set kabel baja

(2) Pintu Darurat Keluaran

(i) 1 (satu) set karet perapat (yang belum dilubangi)

(ii) 100 % lampu indikasi dan sekering

1 (satu) set kontaktor tetap dan yang bergerak untuk saklar-saklar dan relai-
relai.

(iv) 1 (satu) set kabel baja

(3) Pintu sorong

(i) 200 % sekat perapat

(ii) 200 % perapat untuk pengangkat hidrolis

(iii) 100 % lampu indikasi dan sekering

(iv) 1 (satu) set kontsktor tetap dan yang bergerak untuk saklar-saklar dan relai-
relai.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 28
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(4) Suku cadang lainnya yang direkomendasikan oleh pabrik

(5) Alat-alat/kunci

(i) 1 (satu) set standard hand tool untuk pekerjaan mesin

(ii) 1 lot alat-alat khusus (special tools) yang diperlukan

Setiap suku cadang yang disuplai harus dipak atau diatur sedemikian rupa agar cocok
untuk penyimpanan di lokasi pekerjaan dalam waktu tidak kurang dari 2 (dua) tahun dan
setiap suku cadang harus diberi tanda yang jelas mengenai uraian kegunaannya pada
bagian luar pak/bungkusnya

Suku cadang yang diserahkan harus dimasukan dalam gudang yang ditunjuk oleh
Pemberi kerja dan penyerahan tidak akan dianggap lengkap sampai pembukaan peti
oleh Kontraktor dan isinya dicek oleh orang yang ditunjuk oleh Pemberi kerja dan isi
barang dimasukkan kembali dalam peti oleh Kontraktor sehingga Pengawas Pekerjaan
akan menyatakan puas atau akan menetapkan untuk dipasang pada unit yang
bersangkutan.

6.21. PERENCANAAN BEBAN DAN TEGANGAN RENCANA


6.21.1 Beban Rencana
Beban-beban yang bekerja pada peralatan hidromekanikal dipengaruhi oleh banyak
factor baik dalam kondisi normal maupun di atas beban normal, seperti pada uraian
berikut :

(1) Pintu Klep Baja


a) Beban Tekanan Air Statis

Beban air statis akan berpengaruh sekali pada pembedaan air di bagian hulu
dan hilir pintu.

b) Beban Sedimentasi

Beban dari sedimen akan dipengaruhi oleh kedalaman dari sedimentasi


lumpur/pasir di depan pintu.

Beban sedimentasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Ps = 0.5  Ce  W1(H12-H22)  B

dimana :

Ps : Beban Sedimentasi (t)

Ce : Koefisien tekanan sedimen = 0.4 – 0.6

W1 : Berat Sedimen dengan formula

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 29
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

W1 : W – (l – v) Wo (t/m3),

W : Berat jenis sedimen = 1.6 t/m3

v : Ratio density sedimentas = 0.3

Wo : Unit weight of water= 1.0 t/m3

H1 : Kedalaman air

H2 : Kedalaman sedimen

c) Beban Sendiri Pintu

Besarnya beban sendiri bergantung dari kondisi pintu itu sendiri.

d) Beban Angin

Beban perencanaan angin diperhitungkan adalah 300 kg/m2 pada luas


proyeksi tegak yang dipakai dalam tipe-tipe konstruksi hidromekanikal dan
yang akan dipengaruhi beberapa faktor.

- Permukaan tempat yang datar : 1.2

- Permukaan Silindrikal : 0.7

- Untuk lattice member, (sisi depan) : 1.6

- Untuk lattice member, (sisi belakang) : 1.2

e) Beban yang Bekerja pada Peralatan


Beban ini diuraikan pada masing spesifikasi detail pada bab ini.

i) Variasi tekanan air dan gaya vibrasi dipengaruhi oleh aliran air yang
terjadi.

ii) Semua beban ditentukan pada saat pintu dinaikkan dengan hoist
(pengangkat) terjadi kelebihan beban (overload) atau kondisi pintu
terjepit.

(2) Alat Pengangkat (Hoist)

a) Alat angkat stationer (Stationary Type Hoist)


Alat pengangkat tipe stationer direncanakan dengan perhitungan sebagai
berikut:

- Berat pintu sendiri dan tambahan pemberat pintu jika ada.

- Kerugian gesek terhadap rotasi atau gesekan (sliding).

- Kerugian gesek terhadap perapat (seal rubber).

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 30
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

- Kerugian gesek terhadap sedimen, jika ada.

- Gaya apung (Buoyancy.)

- Uplift dan down pull force.

- Kerugian akibat kelebihan beban (over load hoist) atau kondisi pintu
terjatuh.

Semua kerugian-kerugian pintu pada saat pintu dinaikkan atau diturunkan


mempunyai kelonggaran (allowance)  25% juga termasuk pintu yang
menggunakan spindle hoist/ alat pengangkat batang ulir.

b) Alat angkat gerak (Movable Type Hoist)

Movable type hoist direncanakan dengan perhitungan sama seperti di atas


dan ditambah dengan beban-beban lain sebagai berikut:

 Horizontal inertia force/ centrifugal force.


 Wind load. 40 kg/m2 kondisi beban angin rendah.
- 300 kg/m2 pada posisi storing.

 Braking load dan friction load yang lain.


 Seismic load (seismic intensity) 0.12.

(3) Pipa Baja (Steel Pipe)

a) Kondisi Kosong
Selain berat sendiri, tekanan dari luar (external pressure) antara lain terdiri
dari:

 Tinggi air dihitung dari center line dari pipa baja sampai elevasi pada
concrete deck.
 Beban angin, pengaruh temperatur.
 Beban geser akibat tumpuan pada saddle support dan anchor block
 Buckling pressure
 Gaya gempa
b) Kondisi isi air
 Tekanan dalam (internal pressure) terdiri dari tekanan statis (static head)
dan tekanan water hammer.
 Tegangan bergantung variasi temperatur.
 Tegangan lain seperti pada kondisi kosong
(4) Peralatan Lain

a) Footpath, Balcony Floor, Platform, etc

- Beban penuh 500 kg/m2

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 31
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

b) Tangga (Step of Ladder)

- Beban tegak 180 kg

c) Pagar besi (Handrail)

- Beban datar 30 kg

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 32
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

6.21.2 Tegangan Perencanaan


a) Bagian/suku struktur baja

Tegangan yang diijinkan pada pembebanan normal untuk anggota baja struktur harus
mengikuti table berikut.
SS 41 dan SM 41 SM 50
Bahan Baja
Tebal < 40 mm Tebal < 40 mm

i) Teganganan tarik aksial 1.200 kg/cm2 1.600 kg/cm2

(per luas penampang untuk 0 <(l/r)<110 untuk 0<(l/r) <90


bersih)

ii) Tegangan tekan aksial 1.100-0,048.(l/r)2 kg/cm2 1.500-0,09.(l/r)2 kg/cm2

Untuk (l/r) >110 Untuk (l/r) >110

6.350.000 / (l/r)2 kg/cm2 6.350.000 / (l/r)2 kg/cm2

Dimana

l : panjang tekuk . (cm)

r: jari-jari giratori minimum


dari penampang

Plat lempengan 1.100 kg/cm2 1.500 kg/cm2

iii) Tegangan lentur

Tegangan lentur tarik 1.200 kg/cm2 1.600 kg/cm2

(Per luas penampung


bersih)

Tegangan lentur tarik 1.100-0,5. (l/b)2 kg/cm2 1.500-0,9. (l/b)2kg/cm2

untuk (l/b) < 30 untuk (l/b) < 30

Dimana :

l : panjang flens (cm)

b : lebar flens (cm)

Untuk flens tekan 1.100 kg/cm2 1.500 kg/cm2

dilas langsung atau di-


keling dalam hal sebagai

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 33
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

SS 41 dan SM 41 SM 50
Bahan Baja
Tebal < 40 mm Tebal < 40 mm
plat penutup

iv) Tegangan geser 700 kg/cm2 900 kg/cm2

(per luas penampang


kotor)

Catatan : Untuk SM 41 lebih tebal dari 40 mm, tegangan harus dikalikan dengan 0,92

Untuk SM 50 lebih tebal dari 40 mm, tegangan harus dikalikan dengan 0,94

Tegangan yang diijinkan untuk kondisi beban lebih dapat diambil 50 % lebih tinggi dari
kondisi pada beban normal. Tebal minimum bagian struktur baja utama adalah 8
millimeter. Perbandingan kerampingan tekuk kritis untuk bagian tekan utama adalah
120, sedang untuk bagian tekan kedua adalah 150, perbandingan tersebut di atas untuk
bagian tarik pertama adalah 200 dan bagian tarik kedua adalah 240.

b) Tegangan pada beton

Tegangan yang diijinkan pada beton untuk tegangan tekan (bearing) adalah 52 kg/cm2,
untuk tegangan geser adalah 5,5 kg/cm2 sedang untuk tegangan tekan (compressisive)
adalah 60 kg/cm2 kecuali ditetapkan lain dalam spesifikasi.

c) Bagian-bagian mesin

Semua bagian mekanis dari pintu dan peralatan angkat yang mendapat beban pada
kondisi normal atau beban pada kondisi dengan kapasitas rata-rata harus didesain
berdasarkan kondisi-kondisi sebagai berikut:
(i) Tegangan tarik yang diijinkan

Tegangan tarik yang dinginkan adalah tegangan hancur atau tegangan petak di
lilitkan dengan faktor keamanan, dimana diambil yang lebih kecil.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 34
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Bahan Faktor angka keamanan

Tegangan Lumer Tegangan Patah

Baja dirol atau dicetak 2,5 5

Baja dirol atau dicetak untuk baut 4 6

Baja cor 3 6

Perunggu atau kuningan yang di rol 4 8

Perunggu atau Kuningan yang dicor 5 10

Besi cor - 10

(ii) Tegangan tekan yang diijinkan

Tegangan tekan yang diijinkan adalah sama dengan tegangan tarik yang diijinkan
kecuali tegangan tekan yang diijinkan untuk besi cor adalah 3 (tiga) kali dari
tegangan tarik yang diijinkan.

(iii) Tegangan geser yang diijinkan

Tegangan geser yang diijinkan adalah 3/4 (tiga per empat) dari tegangan tarik yang
diijinkan untuk semua bahan, kecuali tegangan geser yang diijinkan untuk besi cor
adalah sama dengan tegangan tarik yang diijinkan.

Tegangan-tegangan rencana tidak boleh melebihi 90 % dari tegangan lumer bahan


yang dipakai pada pembebanan yang terjadi pada break-down locked motor torque
dari motor peralatan pengangkat, mana yang lebih besar.

d) Beban akibat gempa bumi

Tegangan pada pintu harus dicek untuk menjamin bahwa tegangan yang diijinkan tidak
melebihi ketika beban pintu pada kondisi normal dikombinasi dengan beban akibat
gempa bumi dengan kecepatan percepatan mendatar sebesar 0,15 g dalam setiap arah
termasuk gaya yang dipengaruhi oleh gempa bumi pada waduk. Pada perhitungan
tekanan hidrodinamis air pada permukaan depan pintu karena gempa bumi, harus
menggunakan rumus Westergaard sebagi berikut :

7
P max  .w.k h. y
8
7
Pd  .w.k .h1 / 2 . y 3 / 2
12

dimana :
Pmax : Tekanan hidrodinamis air pada y dalam t/m2

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 35
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Pd : Total beban hidrodinamis dari permukaan air waduk pada y dalam t/m2

w : Berat jenis air dalam t/m3

y : Kedalaman pada setiap titik dalam m

k : Koefisien intensitas gempa bumi arah mendatar 0,15

h : Kedalaman air dalam waduk = 12.00 m

Pada waktu pengecekan tegangan pintu pada kondisi beban kombinasi, maka dapat
ditambahkan 30 % pada tegangan yang diijinkan.

e) Korosi yang Diijinkan

Korosi yang diizinkan untuk peralatan, dan konstruksi baja akan ditentukan sebagai
berikut:

Peralatan/ Konstruksi Baja Korosi yang diizinkan


Tebal plat untuk stoplog, bonetted slide gate 2,0
Semua bagian trshracks yang terrendam air 2,0
Plat pipa pengambilan 2,0

f) Koefisien Gesek (Coefisient of Friction)

Koefisien gesek penting dalam perencanaan alat pengangkat dan tidak kurang dari nilai
tersebut di bawah ini :

Static Friction Kinetic Friction


Material
(Starting) Sliding or Rolling

Metal seals 0.6 0.4


Rubber seals
Brass-faced seals 1.5 0.7
Fluoro-carbon faced seals 0.5 0.2
Self-lubricating bearings
Roller wheel bearings 0.2 0.1
Sediment between steel and sand
0.2 0.1
Steel on stainless steel
0.02 0.01

0.3 -

0.5 -

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 36
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

g) Efisien Mekanikal (Mechanical Efficiency)

Efisiensi mekanikal penting dalam perencanaan kapasitas motor dan tidak kurang dari
nilai tersebut di bawah ini :

Bagian Efisiensi Mekanikal


Sheave having plain bearing (per each) 0.95

Sheave having roller bearing (per each) 0.98

Drum 0.95

Spur gear and level gear

One set of wheel and pinnion (open) 0.95

One set of wheel and pinion (oil bath) 0.97

Cyclo speed reducer

Reduction ratio 1/59 to 1/11 0.8 to 0.85

Reduction ratio 1/121 ti 1/87 0.65 to 0.75

Sprocket by chain driving (per each) 0.95

Worm gear

Self-lock type 0.5

Anti-selflock type 0.75

Spindle 0.2 to 0.4

6.22. PERAKITAN DAN UJI (SHOP ASSEMBLY and TEST)


Setiap pintu lengkap dengan seals dan pelat bantalan harus dirakit di bengkel sebelum
dibawa ke lapangan. Selama perakitan daun pintu akan diperiksa dimensi, toleransi dan
akurasinya apakah sudah sesuai dengan gambar kerja atau kelurusannya (alignment).
Jika kedapatan ada kesalahan (error) dan tidak sesuai (misallignment) harus dibetulkan
dan diadakan periksa ulang. Seal harus diletakkan dengan tepat pada support/tumpuan
selama perakitan di bengkel. Setelah selesai perakitan dengan benar akan dikirim ke
lapangan.

Sealing frames, track frames, side frames, front guide frames dan sill beam untuk guide
frames akan diperiksa dengan alat straight edge dan feeler gauges. Semua dimensi
untuk guide frames harus disesuaikan dengan dimensi stop log yang akan diperiksa dan
bila ada kesalahan atau misalignment akan dikoreksi.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 37
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(1) Monorail Hoist dan Lifting Beam


Monorail hoist dan lifting beam akan rakit/ditata di bengkel perakitan dan di tes
sampai memuaskan. Semua unit harus dites pada tingkat kecepatan dengan beban
dan dicek saat tertutup termasuk clearances dan tolerances saat bergerak. Semua
bantalan harus dicek dengan benar. Semua pelumasan grease dan oli dicek tentang
performance-nya untuk dilengkapi.

Jika ada kerusakan atau kerewelan/macet selama beroperasi harus diperbaiki oleh
Kontraktor dan diperiksa bersama Pemberi Kerja (Engineer).

Item-item yang harus diperiksa selama pengoperasian monorail hoist dan lifting
beam adalah sebagai berikut:

a) Kecepatan naik, turun dan jalan.


b) Temperatur bantalan, motor dan reducer saat naik.
c) Adanya noise dan vibration tidak normal (abnormal).
d) Operasi dari limit switches.
e) Penunjukan, seluruh performance dari kotak kontrol.
f) Operasional lifting beam yang memuaskan.
(2) Slot Covers
Setiap slot cover termasuk side, point dan back guide roller agar dirakit di bengkel
dalam posisi yang benar, kemudian dikirim/ dipasang di lapangan.

Selama perakitan, setiap slot cover akan diperiksa/cek dimensi, toleransi dan
akurasi mengenai alignment (kelurusan). Jika error dan ditemukan mis alignment
harus diadakan perbaikan dan dicek ulang. Setelah selesai pengukuran saat
perakitan dengan benar akan dikirim ke lapangan.

6.23. PEMASANGAN DAN UJI LAPANGAN


(1) Kerangka Pengarah / Guide Frames
Guide frames akan dipasang di blockouts berdasarkan petunjuk gambar kerja yang
telah disetujui oleh injinir dan diukur mengenai kelurusan, toleransi di tempat
pemasangan. Alignment bolt atau kebutuhan lain yang dibutuhkan untuk
pemasangan guide frame harus cocok/ sesuai posisinya secara akurat.

Penyambungan antara guide frame anchor material dan pelurusan (alignment


devices) akan disetel pada posisi tempat pembetonan blockout.

Pembetonan blockout menunggu selesai penyetelan guide frame menempel di


dinding blockout. Setelah pembetonan, akan di cek alignment dan toleransinya
guide frame dan sudut frame pada slot cover akan dipasang setelah konstruksi
pekerjaan sipil stop log selesai.

(2) Stop Log


Setiap stop log lengkap dengan seals, dan pelat bantalan akan dipasang dan disetel
menurut petunjuk di gambar kerja.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 38
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Karet perapat (rubber seals) akan dipasang sangat kuat pada daun stop log dan
diatur agar dapat menempel pada guide slot dan sealing frame di guide frame.
Kontraktor harus memperhatikan toleransi yang diperlukan menurut persyaratan
toleransi.

(3) Monorail Hoist, Lifting Beam dan Storage Wagon


- Sebelum pemasangan, semua permukaan bantalan, journal dan saluran- saluran
grease dan oil harus bersih/ dibersihkan dan sistem pelumasan harus mendapat
persetujuan injinir saat menggunakan oil atau grease.
- Setelah selesai pemasangan, diperiksa sistem pelumasan yang akan diisi dan
dipersiapkan oleh kontraktor.
- Monorail hoist, lifting beam dan storage wagon harus disiapkan juga semua suku
cadang yang akan dirakit atau dipasang pada saat pemeliharaan.
(4) Tutup celah (Slot Cover)
Kerangka sudut akan dipasang di blockout sesuai petunjuk pada gambar kerja yang
sudah disetujui, dan diperiksa kelurusan dan angka toleransi di tempat yang diukur.
Mensejajarkan baut-baut atau lain-lain yang dibutuhkan/ diperlukan pada saat
pemasangan agar supaya dalam pengukuran posisinya lebih akurat. Penyambungan
antara kerangka sudut, material anchor dan mensejajarkan akan diatur dengan
teliti posisinya dengan betonan di tempat blockout. Tambahan penguat untuk
mensejajarkan dapat diberikan jika diperlukan. Setelah pekerjaan pembetonan,
penyetelan dan pengukuran toleransi selesai akan dicek/ diperiksa kembali
(inspeksi lapangan).

6.24. UJI / TES SAAT PENYELESAIAN PEKERJAAN (TESTS ON COMPLETION)


6.24.1. Macam Tes
Setelah pekerjaan pemasangan selesai di lapangan, tes akan dilaksanakan oleh
kontraktor sesuai dengan prosedur tes. Jika ada kesalahan atau kurang memuaskan
pihak Pemberi Kerja/ injinir harus di tes ulang. Pelaksanaan tes akan mengikuti prosedur
tes yaitu tes awal (preliminary tests) dan tes operasional (operation tests) sebagai
berikut:

(1) Tes Awal


Pada saat tes awal akan termasuk, tetapi tidak akan membatasi ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:

a) Inspeksi pengukuran kerapatan (sealing) semua seals dengan menggunakan


alat feeler gauge.
b) Tes daya tahan/ perlawanan isolasi (Insulation resistance tests) semua
pemasangan dan penyambungan kawat/ kabel di lapangan.
c) Inspeksi semua pemasangan komponen-komponen secara memuaskan.
(2) Tes Operasional
Pelaksanaan tes operasional akan termasuk tetapi tidak membatasi ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 39
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

a) Pengukuran kecepatan operasional.


b) Pengecekkan kebocoran air.
c) Pengecekkan batas berjalan dan batas setting.
d) Pengecekkan operasional secara memuaskan pada kondisi kering dan diairi.
Setelah lengkap tes operasional, kontraktor akan menyimpan stop log pada dogging
device (tempat parkir).

(3) Toleransi

Pada saat pabrikasi dan pemasangan pintu agar mengikuti petunjuk sebagai
berikut:

Pengukuran Toleransi (mm)


Lebar pintu 6

Tinggi pintu 5

Kedalaman pintu 4

Beda panjang diagonal 67

Jarak tengah–2 roda utama (main wheels) 6

Jarak antara side roller 6 Jila ada


8
Jarak antara tengah–2 sheave
8
Jarak antara side seal rubber
5
Jarak antara bottom seal dan top seal

Toleransi ini tidak disediakan/dibuat oleh Kontraktor sendiri, tetapi persetujuan


Pemberi Kerja (Engineer)

6.24.2. Perakitan dan Tes


(1) Pintu dan Kerangka Jalan / Guide Frame
Pintu termasuk karet perapat, track shoe dan lugs untuk Bonneted Slide Gate akan
dirakit dalam pabrik/bengkel peralatan dengan penyetelannya/perakitan di lapangan.
Setelah perakitan selesai, pintu diperiksa dimensinya, toleransi dan keakuratan
kelurusan (alignment). Apabila ditemukan ketidak sesuaian (error) dan misalignment
perlu dikoreksi secepatnya. Karet perapat harus kokoh, dalam penjepitan pada
support dan dirakit di pabrik/bengkel peralatan pintu.

Track frame, front frame, sealing frame, sill beam dan guide frame akan diperiksa
mengenai kelurusan/perataan dengan alat feeler gauge. Juga termasuk pemeriksaan
dimensinya dan jika ditemukan ada ketidak sesuaian (error) atau misalignment
sebelum dikirim untuk dipasang harus diperbaiki terlebih dahulu.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 40
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

(2) Alat Pengangkat (Hoist)


Alat pengangkat akan dilengkapi di bengkel perakitan dan dites mengenai
performancenya. Semua unit harus dites secara normal dalam kecepatan operasinya
dan diperiksa clearance dan toleransi pada waktu digerakkan.

Semua bantalan (bearing) diperiksa dengan teliti. Penggunaan pelumas dan grease
juga dites. Yang akan dites antara lain:

- Kecepatan buka dan tutup.


- Voltage dan current pada motor listrik
- Temperatur yang terdapat di bantalan, motor dan reducer.
- Kontak roda gigi.
- Bunyi dan vibrasi.
- Alat pengangkat beroperasi secara manual.
- Limit switch saat dioperasikan.
- Torque switch
- Kabinet kontrol dan panel.
Hasil pengukuran dan tes harus dilakukan bersama-sama antara Kontraktor dan
Pemberi Kerja (Engineer)

6.24.3. Pemasangan dan Tes Lapangan


(1) Guide Frames
Pemasangan kerangka jalan pada blockouts mengikuti petunjuk pada gambar kerja
yang telah mendapat persetujuan Pemberi Kerja (Engineer). Dalam pengukuran
untuk kelurusan, toleransi termasuk penempatan bolt (baut) akan diperiksa di
lapangan.

Penyambungan antara kerangka jalan dan anchor harus disetel pada posisi yang
ditentukan dengan benar sebelum blockout di beton.

(2) Pintu
Daun pintu lengkap dengan karet perapat, dan pemasangan track shoe akan dipasang
sesuai dengan gambar kerja yang telah mendapat persetujuan Pemberi Kerja
(Engineer). Kedudukan dasar pintu pada sill beam harus diperiksa untuk penyetelan
karet perapat secara akurat dan rata permukaan.

Selama pemasangan diperiksa apakah toleransi yang dibutuhkan sudah benar dan
dengan teliti.

(3) Alat Pengangkat


Sebelum dipasang, semua permukaan bantalan, journal, pelumasan (grease & oil)
sudah cukup/ diisi. Sistem pelumasan dalam pengisian dan kebutuhan pelumas
menjadi tanggungan kontraktor. Dalam penyetelan/ pemasangan spindle mengenai
kelurusan harus benar dan sambungan-sambungannya jangan sampai melengkung.

Setelah memasang alat pengangkat, sambungan-sambungan spindle (batang ulir)


diteliti/ diperiksa saat dioperasikan, dilanjutkan dengan sistem elektrikal tes lokal dan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 41
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

remote beberapa saat, semua kontrol-kontrol misalnya limit switch, electromagnetic


brakes dan posisi indikator di setel/ adjusted dan di tes operasinya.

6.24.4. Tes Lengkap (Tests on Completion)


Setelah pekerjaan pemasangan lengkap di lapangan, tes akan diajukan oleh kontraktor
berupa lembaran-lembaran/ laporan prosedur tes.

Jika ditemukan kerusakan/ cacat atau tidak benar/ salah selama tes operasi akan diperiksa
kembali dan tes diulang. Prosedur tes pendahuluan dan tes operasional sebagai berikut:

(1) Tes Pendahuluan


Tes pendahuluan akan mengikuti tetapi tidak melampaui batas-batas:

a) Inspeksi pengukuran dengan feeler gauge secara memuaskan pada perapat atau
seluruh perapat (seals).
b) Insulation resistance test pada semua pemasangan kabel-kabel penyambungan
elektrikal.
c) Penempatan limit switches, indikator dan peralatan kontrol.
d) Inspeksi pemasangan semua komponen secara memuaskan.

(2) Tes Operasi


a) Pengukuran kecepatan operasi.
b) Pemeriksaan konsumsi arus tenaga listrik dari motor elektrik.
c) Pemeriksaan indikator yang akurat, penempatan limit dan alarm signal dan lain-
lain.
d) Pemeriksaan kebocoran air pada saat pintu ditutup.
e) Pemeriksaan pengoperasian alat pengangkat secara manual.
f) Pemeriksaan pintu secara memuaskan pada saat dioperasikan kondisi kering dan
diairi.
6.25. GATE VALVE
Semua valve harus sesuai dengan diameter, jumlah dan type seperti yang diminta
didalam Daftar Kuantitas Pekerjaan. Dan untuk semua ukuran valve harus berasal dari
pabrik yang sama kecuali ada persetujuan lain dari Pengawas.

Semua valve harus ada name plate yang mencantumkan merk/nama pabrik, tekanan
kerja, diameter, arah aliran pada body valve.

Semua valve harus menggunakan sambungan flange, dan Pemberi Kerja harus
melengkapi accessories sambungannya seperti mur, baut, gasket dan flange sambungan.
Jumlah accessories yang harus disediakan dan ikut diserahkan dilebihkan 15 % (lima
belas persen) untuk cadangan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 42
Pekerjaan Hidromekanikal PLTM Lau Gunung

Gate valve bodynya terbuat dari cast iron atau ductile iron, non rising stem type. Gate
valve harus sesuai dengan standard AWWA C500 atau standard international lainnya
yang sama atau lebih baik.

Semua permukaan besi yang berhubungan dengan air dan tanah harus di coating
dengan coal tar epoxy atau yang sejenis kecuali material non corrosive. Bahan coating
harus non toxic. Ketebalan coating 0.4 mm.

6.26. AIR VALVE


Air valve harus beroperasi otomatis dalam hal sebagai berikut :

- Dapat melepas udara selama pengaliran air dalam pipa.


- Dapat memasukkan udara pada saat kondisi dibawah tekanan atau selama
penggelontoran.
- Dapat melepas udara saat ada udara terjebak di dalam pipa.
- Aman terhadap vakum.
Air valve harus double orifice valve dengan flange. Dan setiap air valve harus disertai
isolation gate valve yang lengkap dengan flange, baut, mur, ring baut dan gasket.

Katup Udara (Ventil) atau Air Release Valve harus diuji dengan tekanan 1 bar diatas
tekanan kerja dan tidak menunjukkan gejala kebocoran dan juga tidak terjadi kebocoran
apabila tekanan minimum 0,1 bar.

6.27. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Kecuali jika satuan pengukuran lain seperti panjang atau jumlah item disediakan pada
Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, pengukuran untuk pembayaran untuk pekerjaan
hidromekanikal dilakukan berdasarkan bobot item dalam set (atau unit) dan dipasang
sesuai dengan Spesifikasi dan Gambar atau seperti persetujuan Pemberi Kerja. Di mana
harga satuan harus termasuk kompensasi penuh untuk semua biaya, tenaga kerja,
peralatan dan material untuk suplai dan pemasangannya, termasuk fabrikasi bengkel
dan perakitan, galvanizing dan/atau pengecatan; pengepakan (packing), pengiriman
(shipping), transportasi dan asuransi; perakitan dan pemasangan di lapangan;
pemboran, grouting dan beton sekunder bagi “anchorage”, termasuk uji atau test dan
semua pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pemasangan.

Cara pembayaran untuk pekerjaan hidromekanikal adalah sebagai berikut :

 Material on site = 30 %
 Pemasangan/erection = 50 %
 Trial/ uji coba = 20 %

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VI - 43
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

BAB VII

PEKERJAAN BAJA

7.1. LINGKUP PEKERJAAN


Bagian ini terdiri dari pengadaan tenaga kerja, material, peralatan dan “tool” dan kinerja
semua pekerjaan yang diperlukan untuk pekerjaan seperti tampak dalam Gambar atau
seperti petunjuk Pengawas Pekerjaan dan ditentukan sbb :

- steel handrails and quardrails

- steel steps

- enameled aluminium staff gauge

- pekerjaan baja lainnya

7.2. GAMBAR DAN DOKUMEN YANG HARUS DIADAKAN OLEH KONTRAKTOR


Sebelum pembuatan di pabrik dimulai , Kontraktor harus menyerahkan kepada
Konsultan untuk mendapatkan persetujuan, gambar-gambar dan diagram yang
menunjukkan semua detail dan item pekerjaan baja yang harus disediakan dan
dipasang, bersama sama dengan, salinan kriteria desain, penghitungan desain dan
spesifikasi material jika diminta oleh Konsultan. Gambar-gambar dan dokumen tersebut
merupakan bagian dari Dokumen Kontrak.

Gambar, detail desain dan spesifikasi harus disampaikan sebelum jadwal permulaan
pembuatan (manufacture) dalam batas waktu seperti tercantum di sini, dan harus ada
toleransi waktu memadai untuk membuat modifikasi disain jika dianggap perlu dan
mendapa pengarahan dari Konsultan.

(i) Dalam waktu 3 bulan setelah SPMK (Notice to Proceed)

Gambar detail yang terkait dengan semua pekerjaan konstruksi yang diperlukan
pada pekerjaan beton, termasuk semua “recesses, blockouts dan embeded
anchorages” yang diperlukan.

(ii) Dalam waktu 6 (enam) bulan setelah SPMK;

Semua gambar perencanaan dan gambar konstruksi serta dokumen, kecuali yang
ada pada (i) di atas.

(iii) Selama Pelaksanaan

Tambahan salinan gambar perencanaan yang dipilih dan/atau desain detail serta
gambar pemasangan harus disediakan oleh Kontraktor tanpa ada tambahan biaya,
jika diperlukan atau atas pengarahan dari Konsultan pada waktu pelaksanaan dan
pemasangan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 1
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

Jika diperlukan modifikasi terhadap detail disain, spesifikasi dan gambar oleh Konsultan
atau oleh Pemberi Kerja, harus dilaksanakan dan atas biaya Kontraktor, dan semua
modifikasi terhadap detail disain, spesifikasi dan gambar harus disampaikan sebelumnya
untuk mendapatkan persetujuan akhir.

7.3. STANDAR DAN SATUAN PENGUKURAN


Kecuali jika ditentukan secara khusus di sini, atau kecuali jika mendapatkan arahan atau
persetujuan dari Konsultan, Standar dan Satuan Pengukuran adalah Standar ASTM dan
untuk pengukuran, Sistim Metrik untuk Teknik.

7.4. MATERIAL
Material yang harus disediakan oleh Kontraktor dalam Paragraf ini harus sesuai dengan
standard berikut :

Material Standard

Item Baja:

Structural Steel ASTM A 36 “Specification for Structural


Steel”

Hot-Rolled Steel Bars ASTM A 575 “Specification for Merchant


Quality Rot-Rolled Carbon Steel Bars”

Pipes ASTM A 120 “Specification for Pipe steel,


Black and Hot-Dipped Zinccoated, welded
and Seamless, for Ordinary Use”

Chain-Link Fence Fabric ASTM A 392 “Specification for Zink Coated


Steel Chain-Link Fence Fabric” Class 2 Zink
Coating

Barbed Wire ASTM A 121 “Specification for Zinc Coated


(Galvanized) Steel Barbed Wire”, Class 2 Zink
Coating

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 2
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

Item Aluminium :

Aluminium Shims,

Plates and Sheets ASTM B 209, “Specification for Aluminium


Alloy Sheet and Plate”. Shims-alloy 990A,
Condition D (11000), Plated ang Sheets Alloy
GS 11A, Condition 6 (6061-T6)

Aluminium Pipe ASTM B 241, “Specification for Aluminium


Alloy Pipe”, Alloy GS 11A, or GS 10A,
Condition T832 (6063-T6)

Aluminium Casting ASTM B 108, “Specification for Aluminium-


Base Alloy permanent Mold Castings, Alloy
SG 70A< Condition T6 (356-T6) or

ASTM B 26, “Specification for Aluminium-


Base Alloy Sand Casting”, Alloy SG 70,
Conditions T6 (356-T6)

Aluminium Fasteners ASTM B 221, “Specification for Aluminium-


Alloy Extruded Bars, Rods and Straps”, or

ASTM B 211, “Specification for Aluminium-


Alloy Bars, Rods and Wire”, all alloy CG42A,
(2024-T4 with No. 205)

Aluminium Filler Metal ASTM B 285, “Specification for Aluminium


and Aluminium-Alloy Welding Rods and Bar
Electrodes” Alloy R-85B or E85B

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 3
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

Item lainnya :

Galvanized Anchor Bolts, ASTM A 307, “Standard Nuts and Washers


Specification for Law-Carbon Steel Externally
and Internally Threaded Standard Fasteners,
Zinc Coated”.

Copper ASTM B 100 “Specification for Rolled Copper


Alloy. Bearing and Expansion Plates and
Sheets for Bridge and Other Structural Use”

Brass ASTM B 36 “Specification for Brass Plate,


Sheet, Strip and Rolled Bar”

Semua perangkat keras dan peralatan (fittings) harus standar dan diproduksi oleh
perusahaan yang mempunyai reputasi.

Material yang secara khusus tidak ditentukan di atas, harus sesuai dengan spesifikasi
terbaru ASTM atau standar lain yang disetujui Konsultan.

Apabila material yang diambil adalah lain dari spesifikasi material, Kontraktor harus
menyerahkan daftar material yang sama mutunya dengan Standard ASTM.

7.5. FABRIKASI
Semua mutu pekerjaan harus sesuai dengan “best modern shop” dan praktek di
lapangan.

Semua pekerjaan baja sedapat mungkin diupayakan dirakit di bengkel untuk


memudahkan penelitian detail desain sesuai dengan Workshop Drawing.

Jika memungkinkan, baja di-insulasi untuk mencegah “electrolyses” karena kontak


dengan logam yang tidak sama dan untuk mencegah korosi karena kontak antara baja
dan beton. Pemasangan harus dengan cara pengecatan bitumin atau dengan cara lain
yang disetujui.

Pengencangan (fastering), angker dan fasilitas yang diperlukan untuk pembuatan


(fabrication) dan pemasangan pekerjaan item ini harus disediakan. Pengencangan yang
tampak harus dibuat se minimum mungkin. Tutup kayu tidak diijinkan. Pengelasan harus
sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Paragraf 10 dari Spesifikasi teknik ini.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 4
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

7.6. Galvanising
Kecuali jika ditentukan lain, semua bagian baja yang kecil dan pelengkapnya (jika bukan
dari stainless stell), seperti “washer”, baut, sekerup, mur dan “lock-nuts” harus
digalvanis sesuai dengan standar yang telah disetujui. Baja dan pipa untuk bangunan dan
lain lainnya harus digalvanis jika ditunjukkan pada Gambar atau seperti yang ditentukan.

Komponen harus digalvanis setelah ada kesimpulan dari semua operasi/pengerjaan dari
pemotongan, pembengkokan, pengelasan dan permesinan di pabrik. Semua komponen
yang d-“hot-dip galvanized” harus dibersihkan dengan hati-hati dari karat, mengelupas
, bagian yang dilas kurang rapat (welding slag), kotoran, minyak, pelumas dan zat asing
lainnya. Bagian yang melengkung dan bengkok yang harus diperbaiki setelah
galvanising, harus dipres atau dilaminating. Material yang tidak bisa diluruskan tanpa
merusak galvanis, harus ditolak.

“Hot-dip galvanizing” hanya boleh dilaksanakan dengan seng asli dari “blast furnace”
(keaslian 98%) dan tebal lapisan dari seng adalah :

- untuk sekerup, mur, washer dsb minimal 60 mikron

- untuk suku cadang lainnya minimal 60 mikron

Finishing galvanis yang rusak harus diperbaiki di Lapangan seperti ketentuan dari
Fabrikan dan disetujui Konsultan.

7.7. PEMASANGAN PEKERJAAN BAJA


7.7.1. Umum
Kontraktor harus memasang item pekerjaan baja di lokasi dan dengan cara seperti
tercantum di sini, ditunjukkan pada Gambar atau diarahkan oleh Konsultan.

Kecuali jika tampak dalam Gambar atau mendapat pengarahan dari Konsultan,
pekerjaan baja yang dipasang pada beton harus sedemikian rupa yaitu pada waktu
beton primer sedang diletakkan, di mana pekerjaan pemasangan baja harus dipasang
setelah pekerjaan beton primer selesai, “recesses atau blockout” harus dilaksanakan
pada beton dan pekerjaan baja harus di-grout di tempat atau dipasang pada pekerjaan
beton tahap II. Pemasangan pekerjaan baja pada beton, formasi dan pembuatan
blockout, grouting dan penempatan beton sekunder serta pekerjaan terkait lainnya
harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan pada sub bab 7.13.
Permukaan dari semua pekerjaan baja yang dipasang pada atau kontak dengan beton
harus dibersihkan dengan baik dari kelupasan, karatan, kotoran minyak dan cat dan
material asing lain yang akan mengurangi ikatan antara pekerjaan baja yang dipasang
dengan grout atau beton. Pekerjaan baja harus diletakkan secara akurat dan dengan
alinemen sesuai dengan toleransi yang disarankan Konsultan atau seperti ditunjukkan
pada Gambar dan harus kokoh dan aman pada posisi yang benar selama pemasangan
dan setting beton.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 5
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

7.7.2. Pipa Baja untuk Handrails dan Guardrails


Kontraktor harus mensuplai dan memasang pipa baja untuk handrails dan guardrails,
termasuk “posts dan safety chains” di sepanjang tangga, “walkway” dan platform untuk
bekerja seperti ditunjukkan pada Gambar atau yang disarankan Konsultan dan harus
menyediakan semua pipa, fittings, baut, “drive pins” engsel dan pelengkap lainnya yang
diperlukan untuk menyelesaikan pemasangan.

Handrails dan guardrails yang harus dipasang pada beton harus betul betul terakit dan
terpasang pada waktu beton diletakkan; atau seperti saran dari Konsultan, handrails dan
guardrails, harus dipasang pada waktu tertentu setelah pekerjaan beton primer pada
blockout selesai, terbentuk atau lobang telah dibor pada beton untuk pemasangan di
tempat ini.

Kecuali jika ditentukan lain, semua handrails dan guardrails harus digalvanis dan
pengecatan harus dilaksanakan sesuai yang ditunjukkan pada Gambar atau sesuai saran
dari Konsultan.

7.7.3. “Steel Step-Irons and Ladders Rungs”


Kontraktor harus menyediakan steel step-irons dan ladders rungs sesuai yang
ditunjukkan pada Gambar atau sesuai saran dari Konsultan.

Steel step-irons dan ladders rungs harus dipasang pada posisi yang ditentukan dan
dihubungkan dengan penempatan beton primer. Semua pekerjaan baja harus di “hot-
dip-galvanized.”.

7.7.4. “Hatches”, Tutup (Covers) dan Jeruji (Gratings)


“Hatches” termasuk tutup terkontrol dari baja ( checkered steel covers), jeruji
(gratings), kerangka (frames) dan kerangka yang terpasang (embeded frames) serta
angker (anchorages) harus disuplai dan dipasang seperti ditunjukkan pada Gambar.
Pelat penutup harus dari pelat baja (checkered steel plates) dengan sudut baja penguat
yang dilas ( welded reinforcing steel angles) atau “channel” seperti ditunjukkan pada
Gambar.

Pelat penutup (cover plate) harus dilengkapi selot pengangkat (lifting slots), dan jika
diletakkan, jarak ruangan antara cover plate dan frame tidak lebih dari 1,5 mm pada
tiap sisinya.

Hatches harus tahan air (water proof) dan sesuai dengan peraturan kebakaran , minimal
F60, dan harus mempunyai kapasitas beban yang berhubungan dengan “traffic load”
daerah sekitarnya.

Jeruji baja (steel gratings) harus tipe yang disetujui dan harus disuplai lengkap dengan
“steel angle frames” seperti ditunjukkan pada Gambar dan disetujui Konsultan.

Frame untuk hatches, covers dan gratings harus diangker ke beton dengan “steel blots”
atau “straps” dengan jarak maksimum 60 cm.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 6
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

Kecuali jika ditentukan lain pada Gambar atau disarankan oleh konsultan, semua steel
hatches, covers, dan gratings termasuk perlengkapan untuk menaikkan frame, harus
tipe “hot-dip-galvanized”.

7.7.5. Penutup dan Kerangka dari Besi Cor (Cast Iron Covers and Frame)
Penutup dan kerangka dari besi cor harus disuplai dan dipasang seperti ditunjukkan
pada Gambar atau disarankan oleh Konsultan.

Penutup dari baja cor harus diproduksi dari pabrik yang telah disetujui dan harus
mempunyai kapasitas pembebanan yang berhubungan dengan “traffic load” daerah
sekitarnya.

7.7.6. Pekerjaan Baja Lainnya


Pekerjaan baja yang lain harus disediakan dan dipasang seperti ditunjukkan pada
Gambar atau sesuai dengan saran dan dari Konsultan. Item dari Pekerjaan baja yang
lain termasuk tetapi tidak terbatas pada :

Item seperti itu harus disuplai dalam kuantitas yang ditentukan dalam Gambar atau
sesuai dengan saran dan dari Konsultan dan harus sesuai dengan spesifikasi yang
dibuat oleh Konsultan atau sesuai dengan saran dan dari Konsultan.

7.8. PEMBERSIHAN, PENGECATAN DAN PERLINDUNGAN


7.8.1. Umum
Semua bagian pekerjaan baja yang sebelumnya dibuat di pabrik yang nantinya dipasang
pada beton, harus dibersihkan dan dilindungi dengan cara “cement wash” atau dengan
cara lain yang disetujui Konsultan sebelum dikirim dari bengkel pabrik. Sebelum
dipasang, harus dikeringkan dulu dan dibersihkan dari segala karat dan zat zat yang
melekat. Perlindungan dan pembersihan tidak boleh sampai merusak dan
mempengaruhi kekuatan dan fungsi bagian (parts).

Semua bagian suku cadang yang dikerjakan dengan mesin (machined parts) atau
permukaan penahan harus dibersihkan dan dilindungi terhadap karat dengan
menggunakan “lacquer” pelindung terhadap karat atau “peelable adhesive plastic film”,
sebelum dikirim dari bengkel pabrik. Jika hal ini dirasa tidak praktis atau tidak cocok,
maka parts harus ditutup dengan pelumas. Sebelum perakitan, semua parts harus
dibersihkan dengan bahan mudah larut dan dilap.

Semua pekerjaan baja harus dicat seperti disyaratkan di sini. Pengecatan pekerjaan baja
termasuk juga menyiapkan semua permukaan, penggunaan cat, perlindungan dan
pengeringan lapisan cat dan juga penyediaan peralatan, tenaga kerja serta material yang
diperlukan untuk seluruh pekerjaan pengecatan.

Harus tersedia cat yang cukup untuk pengecatan di lapangan dan pemilihan cat atas
dasar persetujuan Pengawas Pekerjaan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 7
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

Semua cat dan lapisan protektif harus diproduksi dari pabrik yang mempunyai reputasi
dan sebelumnya harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan.

Pengecatan harus dilaksanakan pada lingkungan yang bersih, kering dan bebas dari debu
dan bila perlu, sebelumnya kondisi suhu dan kelembaban dikontrol untuk pengeringan
cat atau untuk lapisan pelindung permanen. Sarana yang efektif harus disediakan untuk
menghilangkan minyak dan kelembaban dari udara dengan alat pengompres udara yang
digunakan pada “shot blasting”, “sand blasting” dan “air cleaning” dan untuk penerapan
penyemprotan cat dan lapisan pelindung.

Semua cat dan lapisan pelindung harus diterapkan benar-benar sesuai dengan petunjuk
(manual) pabrik.

7.8.2. Penyiapan Permukaan


Semua lacquer pelindung atau lapisan plastik, pelumas, minyak, parafin, kerak, kotoran
dan benda asing lainnya harus dihilangkan dari permukaan yang akan dicat dengan
menggunakan bahan pelarut yang disetujui atau metode pembersihan yang disetujui.

Semua “spatter” yang telah dilas, “slag”(berkerak), “burr”, kerak yang terlepas dan
benda asing lainnya harus dihilangkan dari komponen baja yang akan dicat dengan
menyikatnya (wire brushing), “shotblusting atau sand blasting”. Permukaan dalam pipa
dan komponen berlobang harus dibersihkan secara mekanik atau di “sand blasted” ke
standard komersial. Harus memperhatikan pembersihan semua sudut dan “corvering
angles”. Jika terbentuk karat atau permukaan yang bersih atau bahkan menjadi
terkontaminasi di interval antara pembersihan dan pengecatan, maka harus dibersihkan
lagi sampai ke standar yang sama . Semua persiapan permukaan harus mendapatkan
persetujuan dari Konsultan sebelum pengecatan atau pemberian lapiran protektif.

7.8.3. Prosedur Pemakaian


Pemakaian cat dan lapisan pelindung harus dilaksanakan dengan menyikat (brushing)
atau menyemprotkan. Cat harus diaduk rata benar-benar, disaring dan dibiarkan dalam
konsistensi yang sama selama pemakaian. Cat tidak boleh dipakai jika suhu permukaan
yang akan dicat, cat atau udara sekitarnya di bawah 100 C atau di atasnya, atau seperti
yang ditetapkan dalam Pabrik Manual. Permukaan yang akan dicat harus kering dan
bebas dari debu pada waktu pengecatan.

7.8.4. Permukaan Tidak Dicat


Kecuali jika ditentukan secara khusus, semua stainless steel, perunggu, kuningan dan
baja galvanis serta permukaan anti korosi lainnya, tidak diijinkan untuk dicat atau diberi
lapisan.

Semua stainless steel, perunggu, kuningan dan baja galvanis serta permukaan anti
korosi lainnya untuk bantalan (bearing), permukaan gigi (gear teeth), permukaan mesin
pada kontak rolling atau geser setelah perakitan (assembly) dan bagian permesinan lain
yang serupa tidak dicat. Setelah pembersihan selesai, permukaan tersebut harus dilapisi
dengan “protective lacquer”, “adhesive plastic film”, pelumas (heavy grease) atau cara

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 8
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

lain untuk melindungi permukaan dari korosi dan kerusakan kecil karena pengiriman
dan penggudangan di lapangan. “Protective film“ harus segera dikelupas sebelum
pembersihan akhir di lapangan dan peralatan dipasang.Semua permukaan yang tidak
dicat harus diberi pelindung selama pengecatan atau pembersihan untuk mencegah
kerusakan atau kontaminasi.

Kecuali jika ditentukan sebelumnya atau disarankan oleh Konsultan, semua permukaan
yang di-finish tanpa pengecatan termasuk semua pengencang (fastener), sekerup, drat
dan semacamnya yang tampak selama pengangkutan atau selama menunggu untuk
dipasang, harus bersih dan diberi lapisan bensin karena mudah menguap yang
mempunyai komposisi mencegah karat.

7.8.5. Jadwal Pengecatan


Detail persyaratan semua pengecatan termasuk tipe cat, metode yang diterapkan,
banyaknya pelapisan, warna akhir semua peralatan harus sesuai dengan Gambar,
disebutkan secara rinci pada Spesifikasi, atau seperti disarankan atau disetujui oleh
Konsultan dengan konfirmasi dengan Pemberi Kerja. Kontraktor harus menyerahkan
jadwal pengecatan untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan, item pekerjaan baja
yang harus dicat termasuk tipe cat, metode pemakaian, dan warna yang diusulkan ,
termasuk “color chip” contoh cat untuk tiap tipe finish yang digunakan dalam
pengiriman oleh pabrik atau di lapangan.

Kecuali jika ditentukan atau tercakup dalam pedoman pabrik, semua permukaan baja
yang dicat harus dilapisi dengan primer sebelum pengecatan atau pemakaian lapisan
pelindung.

Kecuali jika ditentukan lain atau disarankan oleh Konsultan, semua permukaan baja/besi
yang tidak diberi finishing , kecuali komponen yang digalvanis, bagian yang dipasang
atau yang dilindungi dengan cara lain yang disetujui, harus dicat dengan “phathalic acid
resin paint”, alkyed resin enamel atau cat lain. Total ketebalan pengecatan tersebut
termasuk lapisan primer, 0,12 – 0,15 mm.

Peralatan “commercial” harus dicat sesuai dengan standard pabrik yang berlaku.

7.9. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Kecuali jika satuan pengukuran lain seperti panjang atau jumlah item disediakan pada
Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, pengukuran untuk pembayaran untuk pekerjaan
baja dilakukan berdasarkan bobot item dalam ton (atau kilogram) dan dipasang sesuai
dengan Spesifikasi dan Gambar atau seperti persetujuan atau saran dari Konsultan.

Pembayaran untuk penyediaan dan pemasangan pekerjaan baja dilakukan berdasarkan


harga satuan per ton (atau kilogram) atau harga satuan lain yang di-tenderkan pada
Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, di mana harga satuan harus termasuk kompensasi
penuh untuk semua biaya, tenaga kerja, peralatan dan material untuk suplai dan
pemasangannya, termasuk fabrikasi bengkel dan perakitan, galvanizing dan/atau
pengecatan; pengepakan (packing), pengiriman (shipping), transportasi dan asuransi;

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 9
Pekerjaan Baja PLTM Lau Gunung

perakitan dan pemasangan di lapangan; pemboran, grouting dan beton sekunder bagi
“anchorage”, dan semua pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pemasangan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VII - 10
Pekerjaan Pembangkit Listrik PLTM Lau Gunung

BAB VIII

PEKERJAAN PEMBANGKIT LISTRIK

8.1. UMUM
- Konstanta:

Percepatan gravitasi ……………………… 9,78 m/det2

Berat Jenis air ……………………… 995 kg/m3

Temperatur air ……………………… 15-25 °C

- Satuan : sistem SI

- Kondisi iklim tropis

- Tidak ada tambahan besaran resiko terhadap gempa (no increased seismic risk)

- Air dalam keadaan polusi yang normal (jangan menambah kandungan bahan
padat, bahan kimia yang bersifat agresif)

- Peralatan dipasang pada kondisi air pada polusi normal untuk mencegah
kerusakan.

8.2. PENGECATAN
Cara pengecatan untuk perlindungan terhadap perubahan lingkungan iklim tropis yang
diusulkan agar dapat melindungi permukaan selama minimum 10 tahun.

8.3. PELUMASAN
Minyak pelumas harus memenuhi standard ISO.

8.4. STANDARDS
Peralatan harus didesain, dipabrikasi, dan diawasi serta memenuhi standard
internasional seperti yang ditentukan dalam ISO dan IEC.

8.5. BAGIAN INLET


Bagian inlet berbentuk kerucut, terbuat dari baja dilas, flens pada sisi valve serta dilas
masuk ke dalam bagian penstock.

8.6. BUTTERFLY VALVE


Butterfly valve dioperasikan menggunakan servomotor hidrolis untuk membuka dan
berfungsi sebagai counter-weight dengan by-pass dan valve manual serta valve spiral
yang digerakkan dengan tenaga listrik.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VIII - 1
Pekerjaan Pembangkit Listrik PLTM Lau Gunung

Butterfly valve diatur dengan menggunakan sensor terbatas yang memberi tanda
(signal) posisi-posisi seberapa katup terbuka / tertutup.

Butterfly valve didesain dengan dilas sedemikian sehingga disc dengan karet sealing
dapat diganti sampai pada stailess steel saddle.

Pivots ditempatkan pada bearing yang secara otomatis melumasi dirinya sendiri.
Penyediaan Butterfly Valve termasuk juga penyediaan alat penyambung, sealing, bolts,
material anchoring, switch dan pressure gauge hulu.

Termasuk peralatan-peralatan:

 Butterfly valve
 Servomotor yang bergerak satu arah , dipasang linier langsung pada badan
servomotor
 Counterweight
 Unit Oil hydraulic
 Bypass

8.7. ALAT PENYAMBUNG (ASSEMBLY JOINT)


Assembly joint dipasang antara inlet valve dan turbin.

8.8. PENGURASAN PENSTOCK (PENSTOCK DEWATERING)


Satu unit pipa penguras pipa penstock (sebagian tertanam/partly embedded) untuk
mengosongkan pipa penstock di bagian hulu dari valve utama, termasuk valve spiral
yang dioperasikan dengan tangan (secara manual), anchor, sealing dan alat
penyambung/penghubung.

8.9. TURBIN
Turbin tipe Francis spiral horizontal, yang secara langsung disambungkan horizontal
dengan synchronous generator. Runner menggantung ke shaft generator, semua beban
dari turbin dipindahkan ke bearing generator. Turbin didesain untuk dioperasikan
paralel dengan saluran listrik yang ada di lokasi.

Bagian-bagian utama dari setiap turbin:

- Runner dibuat dari stailess steel COR 13.4 yang secara dinamis seimbang,
ultrasonic, penetrasi celup serta telah melalui test-test secara mekanikal.
- Spiral casing dengan stay vanes, pelat baja yang dilas diatur dengan flens inlet,
penutup untuk pemeliharaan, kaki anchor serta pengukur tekanan. Pelat anchor
dan baut-baut juga termasuk yang harus disediakan.
- Penutup turbin adalah pelat baja yang dilas, dengan bodi yang berbentuk radial
untuk keperluan sealing pada shaft bushing dari bahan stainless steel yang
didinginkan dengan filtrasi air, pengukur tekanan air di bawah penutup turbin.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VIII - 2
Pekerjaan Pembangkit Listrik PLTM Lau Gunung

- Kedudukan pengantar vane pivot menggunakan cincin (rings) pintu kecil (wicket
gate) yang didesain dengan bushing yang melumasi sendiri (self-lubricated
bushings).
- Pintu kecil (wicket gate) dibuat dengan secara presisi (tepat) dengan
menggunakan peralatan mesin. Vane penghantar dibuat dari bahan stainless
steel, pengontrol mekanisme / penghubung pengungkit dan kedudukan batang
penarik dalam bearing yang melumasi sendiri (self-lubricated bearing), regulating
ring serta servomotor hidrolis yang bergerak ganda (double-acting) dengan posisi
transmitter.
- Shaft bushing pelindung dibuat dari bahan stainless steel.
- Pelat anchor untuk kaki spriral casing, termasuk pengatur dan baut anhor dan
landasan pelat baja.
- Draft tube dibuat dari pelat baja yang dilas terdiri dari inlet cone yang diatur
dengan flens (flange) dan penutup pemeliharaan (maintenance cover),
lengkungan yang disesuaikan dengan flens dan outlet cone yang disesuaikan
dengan flens pada pada bagian inlet, anchor colar, dan bagian dari anchor.
- Pipa drainasi untuk air bocoran dipasang ke arah tailrace.
- Saklar (switch) terapung untuk turbin saat tergenang.
- Material-material anchor, baut-baut and sealing .

8.10. GOVERNOR
Governor hidrolis (hydraulic governor) terdiri dari tanki dengan pompa oli untuk roda
gigi yang dijalankan dengan motor listrik yang didesain dengan katup (valve) pengaman
tidak bisa balik (satu arah), tanki oli berisi nitrogen bertekanan, actuator utama yang
proporsional untuk pengatur pintu kecil turbin, distributor pengaman, pengunci (brake)
distribusi oli, elektro magnit, sirkuit hidrolis untuk mengontrol servo motor dari butterfly
valve yang mempunyai pompa roda gigi yang dijalankan oleh listrik.

Unit pompa dilengkapi dengan komponen hidrolis, peralatan sensor kontrol otomatis,
kotak (box) terminal, tempat oli untuk menangkap oli yang jatuh pada saat perbaikan
dan kelebihan oli.

Seperangkat pipa penghubung oli hidrolis dan slang bertekanan untuk pintu kecil (wicket
gate) dan servomotor hidrolis dari butterfly valve.

8.11. PERALATAN TAMBAHAN


8.11.1 Sistem Air Pendingin
Air pendingin diambil dari hulu inlet penstock dari butterfly valve menggunakan katup-
katup pengurang tekanan untuk menurunkan tekanan air dan disain menggunakan filter
dan anker untuk mensupply air pendingin ke kotak corong peralatan (shaft stuffing box)
dan peralatan pendingin oli pelumas.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VIII - 3
Pekerjaan Pembangkit Listrik PLTM Lau Gunung

8.11.2 Air Bocoran


Peralatan untuk mengeringkan air bocoran dari kotak corong peralatan (shaft stuffing
box). Air dialirkan ke tailrace dengan pipa plastik, termasuk tambahan debit aliran air
yang ada yang terjadi.

8.12. GENERATOR
Unit horizontal tiga-phase sinkronous generator, langsung terhubung dengan turbin
Francis horizontal dengan pendingin udara. Turbin runner menggantung dihubungkan
langsung ke shaft generator, semua beban dari turbin diteruskan ke bearing dari
generator. Bearingnya bertipe gelincir (slide) dengan tekanan oli yang berasal dari
sistem pelumasan oli. Lingkup pengadaan barang meliputi:

- generator
- excitation
- AVR
- Neutral ground cubicle

8.13. KERANGKA (FRAME)


Kerangka anchor yang umum digunakan untuk turbin dan generator termasuk bahan
(material) anchor. Kerangka (frame) dibuat dari bahan baja dengan konstruksi las,
ditanam ke dalam pekerjaan sipil menggunakan anchor yang memadai..

8.14. BAGIAN ELEKTRIKAL (ELECTRICAL PART)


Sebuah pengendali (pengontrol) bagian elektrikal dari rumah pembangkit (power
station) dengan turbin Francis beroperasi parallel secara otomatis penuh pada rumah
pembangkit dan menjamin pengendalian (control) secara aman semua peralatan
termasuk peralatan utama sebagai berikut:

8.14.1. Sistem Pengendalian (Control System)


Perangkat keras dari system pengendalian (HW of Control System)

Sistem pengendalian turbin termasuk pengatur turbin (turbine governor) yang bekerja
dan diatur dengan pemograman secara digital. Perangkat keras (HW) system
pengendalian akan dipasang pada DT papan saklar (DT switchboard)

8.14.2. Perangkat lunak dari system pengendalian (SW of Control System)


Perangkat lunak (SW) dari system pengendalian turbin termasuk perangkat lunak (SW)
dari pengatur turbin secara digital yang tersedia untuk menjamin bahwa pengoperasian
turbin adalah secara otomatis (menghidupkan dan mematikan secara otomatis, secara
otomatis mati ketika terjadi keadaan darurat karena kehilangan beban mendadak,
pengendali ketika terjadi getaran tambahan dan peralatan teknik dianostik). Sistem
pengendali turbin direncanakan (didesain) bisa bekerja bersamaan dengan system
pengendali eksitasi (excitation control system).

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VIII - 4
Pekerjaan Pembangkit Listrik PLTM Lau Gunung

8.14.3. Proteksi aliran listrik (Electric protections)


Peralatan-peralatan akan dilengkapi dengan peralatan proteksi (pengaman) termasuk:

- terhadap tegangan berlebih dan terhadap tegangan terlalu rendah (over voltage
and under voltage protection)
- terhadap arus berlebih dan arus pendek (over current and shortcut protection)
- terhadap frekuensi berlebih dan frekuensi rendah (over frequency and under
frequency protection)
- terhadap arus vector (vector protection)
- terhadap arus balik (reverse power protection)
- terhadap beban tak seimbang (unbalanced load protection)
8.14.4. Sistem Pengendali Eksitasi (Excitation Control System)
Sistem pengendali eksitasi terdiri dari:

- Pengendali pengubah getaran IGBT (pulse-controlled IGBT converter)


- display operator (operator’s display)
- peralatan sinkronisasi otomatis (automatic synchronizing device)
- pengendali eksitasi secara digital (the digital excitation controller)

8.15. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan pembangkit dilakukan berdasarkan bobot
item dalam set (atau unit) dan dipasang sesuai dengan Spesifikasi dan Gambar atau
seperti persetujuan Direksi. Jenis dan bobot item akan ditentukan kemudian
berdasarkan kesepakatan antara pemilik pekerjaan dengan penyedia jasa.

Harga satuan harus termasuk kompensasi penuh untuk semua biaya, tenaga kerja,
peralatan dan material untuk suplai dan pemasangannya, termasuk fabrikasi bengkel
dan perakitan, galvanizing dan/atau pengecatan; pengepakan (packing), pengiriman
(shipping), transportasi dan asuransi; perakitan dan pemasangan di lapangan;
pemboran, grouting dan beton sekunder bagi “anchorage”, termasuk uji atau test dan
semua pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pemasangan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant VIII - 5
Pekerjaan Bangunan Fasilitas PLTM Lau Gunung

BAB IX

PEKERJAAN BANGUNAN FASILITAS

9.1. LINGKUP PEKERJAAN


Lokasi rumah/kantor yang disediakan oleh Kontraktor harus dekat dengan desa dan
dilintasi oleh jalur PLN sehingga bangunan dapat dipasangi aliran listrik (masing-masing
minimal 1300 watt) atau disesuaikan dengan kebutuhan serta atas persetujuan tertulis
dari Pengawas Pekerjaan.
Kontraktor harus mengadakan tenaga kerja, peralatan dan material untuk bangunan
rumah sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknis ini.
Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor harus mengajukan gambar kerja atau
design modifikasi untuk persetujuan Pengawas Pekerjaan.
Pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan sesuai dengan kontrak gambar rencana detail,
rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) yang telah disyahkan dan ketentuan dalam rapat
penjelasan pekerjaan (anwijzing) serta petunjuk-petunjuk Pengawas Pekerjaan.
Segala penyimpangan yang dilakukan oleh pihak Kontraktor tanpa seijin Pengawas
Pekerjaan akan dibongkar dan disesuaikan dengan rencana semula sedangkan biaya untuk
itu menjadi beban Kontraktor.

9.2. PEKERJAAN PERSIAPAN


Lokasi tanah bangunan harus dibersihkan dari pohon-pohon dan atau semak-semak
sebelum pekerjaan dimulai.
Muka lantai dianggap sebagai titik 0.00 dalam penentuan level pekerjaan.
Pemasangan Bouwplank harus dibuat sebelum pekerjaan dimulai. Bouwplank harus
diwaterpas dan siku benar. Bouwplank harus dipasang pada patok-patok yang kuat dan
ditanam dalam tanah sedalam sampai tidak bisa digerak-gerakkan. Setelah bouwplank
dipasang, Pemborong wajib melaporkan terlebih dahulu kepada Pengawas Pekerjaan
untuk diperiksa.
Pekerjaan persiapan (pembersihan pohon dan semak) di lokasi base camp tidak dibayar
terpisah melainkan sudah termasuk dalam penawaran Kontraktor

9.3. PEKERJAAN TANAH


Lapisan tanah humus setebal minimum 10 cm harus dikeluarkan dari bangunan. Untuk
pondasi dilakukan penggalian tanah menurut ukuran-ukuran yang dinyatakan dalam
gambar rencana/detail dan disesuaikan dengan keadaan tanah setempat dengan galian
sampai tanah keras yang disetujui Pengawas Pekerjaan. Tanah dibawah lantai harus
diratakan sebelum diuruk pasir.
Tanah bekas galian hanya boleh dipakai untuk menguruk bagian luar bangunan, dan
kelebihannya untuk perataan halaman atau diangkut keluar pekarangan menurut

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IX - 1
Pekerjaan Bangunan Fasilitas PLTM Lau Gunung

petunjuk Pengawas Pekerjaan. Segala sesuatu tidak terlepas dari keadaan tanah
setempat dan petunjuk atau keputusan Pengawas Pekerjaan.
Pekerjaan penggalian tanah pada lokasi base camp tidak dibayar terpisah melainkan
sudah termasuk dalam penawaran Kontraktor untuk keseluruhan pekerjaan di base
camp.

9.4. PEKERJAAN PONDASI DAN URUGAN PASIR


Sebagai lantai kerja pondasi diurug pasir bersih setebal 10 cm dan kemudian diatasnya
dipasang batu kosong (aanstamping) dan disiram dengan pasir.
Didalam seluruh lantai bangunan diurug pasir bersih, disiram air sampai padat. Tebal
minimum urugan pasir 10 cm.
Pondasi rumah dibuat dari pasangan batu kali dengan mortar 1 : 4, sebelum batu
dipasang harus disiram air bersih. Spesifikasi pasangan batu untuk rumah tetap
mengikuti spesifikasi dalam bab Pasangan Batu.

9.5. PEKERJAAN BETON BERTULANG


Seluruh pekerjaan beton bertulang untuk sloof, ringbalk dan kolom dibuat dengan
campuran adukan 1 pc : 2 psr : 3 krl. Dalam pelaksanaannya, seluruh ukuran-ukuran
konstruksi beton baik pembesian maupun penampang harus sesuai dengan gambar
konstruksi beton. Setiap perubahan harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan. Spesifikasi
beton harus tetap mengacu pada spesifikasi pada bab Pekerjaan Beton.
Seluruh pembesian harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Pengawas Pekerjaan
sebelum dilakukan pengecoran. Untuk penyanggah besi beton dibuat beton deking
dengan adukan 1 pc : 2 psr, ukuran 5 x 5 cm, tebal 2,5 cm. Pengadukan beton harus
menggunakan mesin pengaduk beton mekanis.
Bila terjadi kesalahan sehingga merugikan konstruksi karena pemborong mengabaikan
perintah/petunjuk Pengawas Pekerjaan, maka seluruh kesalahan tersebut menjadi
tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan yang salah harus dibongkar dan dicor ulang
dengan mortar yang sama sesuai dengan petunjuk/perintah Pengawas Pekerjaan tanpa
ada penggantian biaya.
Setiap bagian pekerjaan beton harus disiram air setelah 6 (enam) jam selesai dicor dan
selama proses pengerasannya, dijaga agar tetap basah. Begesting untuk sloof, kolom
dan ringbalk baru dapat dilepas setelah umur beton 168 jam (tujuh hari).

9.6. PEKERJAAN TEMBOK DAN PLESTERAN


Seluruh pasangan tembok dari batu bata bermutu baik, tidak hancur jika direndam dan
berukuran sama. Mutu batu bata yang akan dipakai harus terlebih dahulu disetujui oleh
Pengawas Pekerjaan/Pengawas Lapangan yaitu sebagai berikut :
Semua bata harus baik dan bermutu kelas I dan sesuai ketentuan SNI NI-10. Batu bata
tersebut harus merah matang, keras, utuh, kuat lurus dengan sudut tajam-tajam.
Sebelum dipasang Batu bata harus direndam dalam air sampai tidak lagi mengeluarkan
gelembung udara (jenuh).

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IX - 2
Pekerjaan Bangunan Fasilitas PLTM Lau Gunung

Pasir untuk pasangan tembok harus cukup besar dan keras butirnya, harus homogen,
dengan ketentuan maksimum 0,5 mm. Oleh karena itu pasir harus diayak. Pasir harus
bersih dari kotoran organis.
Pasangan tembok kedap air (trasraam) dikerjakan mulai dari 15 cm dibawah permukaan
pondasi sampai 20 cm diatas permukaan lantai, khusus untuk KM/WC 50 cm diatas
permukaan lantai. Pasangan dan Plesteran tembok kedap air (trasram) terdiri dari
adukan 1 pc : 2 psr. Pasangan tembok lainnya dikerjakan dengan adukan 1 pc : 4 psr,
kemudian diaci rata dan licin.

9.7. PERAWATAN DAN PENGHALUSAN TEMBOK


Dinding tembok yang telah terpasang harus setiap hari disiram dengan air selama atap
bangunan belum selesai dipasang. Dinding-dinding tembok harus diaci dengan saus
semen Portland, sebelum dicat tembok harus diplamir putih dan dihaluskan dengan
kertas gosok
Semua dinding dicat vinyl warna putih dengan cat tembok mutu baik minimum sebanyak
3 (tiga) kali atau sampai warna cat merata.

9.8. PEKERJAAN KOSEN, DAUN PINTU DAN JENDELA


Semua kosen dan rangka daun pintu dibuat dari kayu kualitas baik atau jenis kayu lain
dengan kualitas kelas I setempat yang telah kering dan tidak retak-retak. Contoh jenis
kayu yang akan dipakai harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan sebelum diangkut
ketempat pekerjaan.
Daun pintu dilapisi teakwood pada kedua sisinya, kecuali sisi dalam pintu WC/KM dilapisi
triplek dan seng licin jenis BJLS 0.20. Semua pemasangan teakwood, triplek dilekat
dengan lem aica aibon dan dipaku.
Hubungan tiang kosen dengan lantai memakai neut beton dengan dook diameter 1/2".
Tinggi neut beton 15 cm. Pekerjaan kayu pada kusen dan daun pintu harus halus dan
rapi, pekerjaan yang kurang rapi akan ditolak oleh Pengawas Pekerjaan.
Semua bidang kayu sebelum dipasang harus dimeni dengan cat meni, angker-angker
kosen dipasang dari besi diameter 1/2" dengan panjang 13 cm dan dibengkokan 90°
pada jarak 5 cm. Jarak masing-masing angker kurang lebih 0.80 m untuk tiang-tiang
kosen yang menempel pada tembok.
Semua kaca mati dari kaca bening tebal 5 mm. Semua kosen dicat warna coklat tua
dengan kualitas cat ICI atau setara, sedang daun pintunya diplitur warna coklat kayu.

9.9. KUDA-KUDA, ATAP, PEKERJAAN BESI DAN LIJSTPLANK


Konstruksi kuda-kuda rangka atap dari kayu kuat, awet dan lurus dari jenis kelas II. Jenis
kayu yang akan dipakai harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Pengawas
Pekerjaan.
Plafon dibuat dari Triplek 3 mm, rangka plafon dibuat dari kayu kelas II, dimana satu sisi
dari kayu yang menjadi tempat menempel Triplek Plafon harus di ketam rata.
Penutup dibuat dari genteng dan bubungan buatan lokal. Beugel-beugel dan baut
penguat harus dari besi bermutu baik.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IX - 3
Pekerjaan Bangunan Fasilitas PLTM Lau Gunung

Lijsplank dari papan ukuran 2,5/20 dicat sewarna dengan kosen, jika tidak didapat kayu
ukuran tersebut diatas, papan dapat disambung sehingga mencapai ukuran tersebut.

9.10. ALAT-ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


Tiap daun pintu digantung pada 3 (tiga) buah engsel nylon buatan dalam negeri dengan
mutu setaraf ARCH.
Setiap daun pintu tunggal dan ganda dilengkapi dengan satu pasang kunci tanam 2 x
putaran.
9.11. PEKERJAAN LANTAI
Seluruh lantai bangunan dan teras terbuat dari keramik putih ukuran 30 x 30 cm
berkwalitas baik, kecuali lantai kamar mandi dan tempat cuci digunakan tegel abu-abu
bergaris ukuran 20 x 20 cm.
Bak mandi terbuat dari fiberglass kapasitas 0,50 m3 yang ditopang oleh pasangan batu
bata diplester dan dicat.
9.12. PEKERJAAN CAT
Seluruh dinding tembok dan plafon, semuanya dicat dengan bahan vinil acrilic warna
putih (atau sesuai petunjuk direksi pekerjaan) bermutu baik minimal 3 lapis. Kosen-
kosen, daun pintu, daun jendela, jelusi kayu dan lis pinggir plafond dicat dengan cat kayu
kualitet No. 1 atau setara dengan produk ICI. Warna ditentukan kemudian dan
prosesnya sebagai berikut : 1 x menie, 1 x plamuur, 1 x cat dasar, 1 x cat mengkilap.
Setelah lapisan pertama kering dan diampelas, baru dilakukan pengecetan lapisan
berikutnya.
Daun-daun pintu Teakwood dipelitur dan rangka daun pintu kaca dicat 3 kali sampai
mengkilap.
Semua pekerjaan cat harus menghasilkan warna yang merata, bila masih ada bagian
yang belum sempurna harus diulangi lagi sampai warna merata.
9.13. INSTALASI LISTRIK
Instalasi listrik dipasang dari titik lampu sampai meteran (instalasi luar). Jenis lampu,
Jumlah lampu, schakelar dan stop kontak menurut notasi gambar detail titik lampu atau
atas saran dan persetujuan tertulis dari Pengawas Pekerjaan pekerjaan.
Semua kabel-kabel jaringan instalasi listrik yang melalui tembok harus dimasukan dalam
pipa PVC (Pail Vinyl Cloride) dan ditanam dalam tembok. Kabel jaringan instalasi listrik
menggunakan kabel sesuai standar PLN.
Pipa-pipa instalasi yang melalui tembok sudah harus dipasang sebelum tembok
diplester.
9.14. PEMASANGAN ARUS LISTRIK
Kontraktor wajib memasang arus listrik pada bangunan tersebut diatas. Kontraktor wajib
mengajukan permohonan dan memenuhi semua persyaratan PLN, dengan Arus sebesar
minimal 1300 watt serta mampu untuk memenuhi kebutuhan listrik.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IX - 4
Pekerjaan Bangunan Fasilitas PLTM Lau Gunung

9.15. PAGAR TANAMAN (PAGAR HIDUP)


Pemagaran dilakukan dengan menanam tanaman yang biasa digunakan oleh masyarakat
setempat untuk pagar tanaman. Jenis tanaman harus dipilih dari jenis tanaman lokal,
kuat dan mudah tumbuh.
Pembuatan pagar hidup ini dianjurkan dilakukan pada saat musim hujan, atau bila
dilakukan saat musim kering Kontraktor harus melakukan penyiraman sampai tanaman
diyakini oleh Pengawas Pekerjaan dapat benar-benar tumbuh.
Diameter tanaman tidak kurang dari 10 cm dengan tinggi tanaman 1,80 m. Bagian
tanaman yang masuk kedalam tanah adalah 30 cm dan jarak penanaman tidak lebih dari
15 cm.
Setelah penanaman kemudian pagar diapit dengan bambu (utuh tidak dibelah) sebelah
luar dan dalam yang diikat dengan tali diameter ¼ inci dengan jarak pengikatan per 2
meteran, digapit secara vertikal sebanyak tiga susun.

9.16. PENYEDIAAN AIR BERSIH.


Bangunan di lokasi base camp jaga harus dilengkapi dengan prasarana penyediaan air
bersih. Penyediaan air bersih dapat disediakan dengan cara :
a. Penyambungan ke PDAM setempat.
Semua biaya yang berkaitan dengan biaya penyambungan sudah termasuk dalam
harga rumah.

b. Pembuatan sumur permanen.


Sumur dibuat permanen, dilengkapi dengan pompa listrik kapasitas minimal 30
ltr/menit, tandon air 1000 ltr dari bahan fiberglas yang disangga konstruksi rangka
baja dan lengkap dengan pemipaannya.

Sumur air harus digali pada saat musim kemarau dengan kedalaman minimum
1.00 m di bawah muka air tanah. Seluruh dinding sumur dilapisi dengan beton
buis bertulang diameter 0.80 m, tebal 10 cm. Bibir sumur dibuat dari pasangan
batu bata diplester, tinggi 0.80 m dari muka lantai, dalam 0.30 m dari muka lantai.
Sumur dilengkapi dengan tiang beton bertulang 10 x 10 cm, kerek timba, tali dan 2
timba karet isi 7,5 liter.

Sumur harus dilengkapi dengan lantai cuci dari batu kali yang diplester ukuran 1.8
x 1.8 m, sehingga disekitar sumur tidak becek.

Bila air sumur dinilai oleh Pengawas Pekerjaan tidak memenuhi syarat maka
Kontraktor harus menyediakan fasilitas penyaringan air bersih kapasitas rumah
tangga.

9.17. WC, SEPTIK TANK DAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH.


WC yang dibuat adalah dari jenis WC jongkok, sedangkan septik tanknya dari batu bata,
terdiri dari dua ruangan dengan ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan dalam 1.5 m dan
ditutup oleh plat beton dilengkapi dengan pipa gas buang diameter 1.5 inchi dimana

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IX - 5
Pekerjaan Bangunan Fasilitas PLTM Lau Gunung

pada ujung ruang kedua dibuat pipa air resapan, terbuat dari PVC yang ditanam dengan
ijuk dan pasir kerikil. Posisi septictank minimum berjarak 10 m dari sumur.
Jaringan pipa pembuangan air limbah harus dibuat sedemikian rupa sehingga air limbah
tidak mempengaruhi mutu air sumur, disamping itu air limbah tidak boleh menganggu
lingkungan sekitarnya.
9.18. PAGAR KAWAT BERDURI DAN PINTU GERBANG
Pemagaran dilakukan dengan pagar kawat berduri dengan tiang kayu klas 2 ukuran 10 x
10 cm atau kayu bulat diameter 12.50 cm, tinggi tiang 1.2 m, jarak antar tiang 3.00 m.
Pada setiap sudut bidang tanah, tiang diperkuat dengan tiang miring 45˚ sehingga kuat
terhadap gaya resultante kawat pagar. Pondasi tiang pagar harus dicor beton ukuran 20
x 20 cm, tinggi 30 cm, bagian tiang yang masuk pondasi harus diangker dengan besi
diameter 10 mm.
Kawat berduri baru boleh dipasang setelah cor beton tiang telah kuat, minimum setelah
3 hari yaitu dengan memaku, yaitu terdiri dari 6 baris kawat duri.
Pintu Gerbang dibuat dari kayu kelas II, terdiri dari rangka dan susunan kayu arah
vertikal, yaitu terdiri dari 2 daun.

9.19. SUMUR UNTUK RUMAH


Sumur dibuat permanen, terletak dibelakang rumah dekat ke kamar mandi/WC,
sehingga mudah terjangkau dari kamar mandi dan tempat cuci.
Sumur air harus digali pada saat musim kemarau dengan kedalaman minimum 1.00 m di
bawah muka air tanah.
Seluruh dinding sumur dilapisi dengan beton buis bertulang diameter 0.80 m, tebal 10
cm. Bibir sumur dibuat dari pasangan batu bata diplester, tinggi 0.80 m dari muka lantai,
dalam 0.30 m dari muka lantai.
Sumur dilengkapi dengan tiang beton bertulang 10 x 10 cm, kerek timba, tali dan 2 timba
karet isi 7,5 liter.
Sumur harus dilengkapi dengan lantai cuci dari batu kali yang diplester ukuran 1.8 x
1.8m, sehingga disekitar sumur tidak becek.

9.20. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan bangunan fasilitas dalam satuan m2.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant IX - 6
Pekerjaan Drainase PLTM Lau Gunung

BAB X

PEKERJAAN DRAINASE

10.1. UMUM

Pekerjaan drainase terdiri dari saluran galian tanah, saluran pipa dari plastik (PVC),
saluran dari beton pracetak (U-Gutter, U-ditch), saluran dari pasangan, bangunan
pertemuan, perletakan pompa, gorong-gorong dan pintu air sebagai bagian dari
bangunan drainase yang permanen.
Pemberi Kerja Jasa harus mengajukan gambar pelaksanaan, metode pelaksanaan, cara
penyambungan dan contoh material untuk persetujuan Pemberi Kerja Teknik (Pemberi
Kerja) sebelum pekerjaan dimulai.
Pemberi Kerja Jasa harus menyediakan pengadaan material yang diperlukan untuk
pekerjaan drainase, beton precast, pipa, kistdam serta pintu yang dipakai yang telah
disetujui oleh Pemberi Kerja.
Untuk menghindari saluran yang tersumbat pada waktu pekerjaan dilaksanakan,
Pemberi Kerja Jasa harus memasang dengan hati-hati, dan bila ada saluran yang
tersumbat atau terhalang oleh sesuatu sebelum penyerahan pekerjaan, harus
dibersihkan sesuai pengarahan dari Pemberi Kerja atau diganti dan biaya ditanggung
Kontraktor. Tidak diijin-kan ada material yang rusak yang dipakai untuk pekerjaan ini.

10.2. KISTDAM

Apabila pada pekerjaan pasangan pada saluran drainase, lining atau perkuatan tebing
terdapat aliran atau genangan air yang mengganggu pelaksanaan pekerjaan, maka harus
dipasang kistdam (coffering) yang terbuat dari sesek dan trucuk bambu diisi dengan
tanah setempat sehingga kedap. Gambar dan metode pelaksanaan kistdam serta
pengeringannya harus diajukan untuk persetujuan Pemberi Kerja.
Kistdam harus dipasang dengan kokoh sehingga kuat menahan tekanan air maupun
tanah sekitarnya.
Sebelum memulai pekerjaan pasangan di saluran drainase, lining atau perkuatan tebing,
kistdam harus selesai. Pengeringan / dewatering selama pelaksanaan bangunan yang
dilindungi kistdam harus dilaksanakan sehingga kondisi lokasi telah dipompa dan selalu
kering serta disetujui oleh Pemberi Kerja.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant X-1
Pekerjaan Drainase PLTM Lau Gunung

10.3. SALURAN DENGAN PIPA PLASTIK (PVC)

Semua saluran yang terbuat dari pipa plastik (PVC) dengan kualitas bahan AW, harus
dilengkapi dan dipasang sesuai yang terdapat pada gambar dan saran Pemberi Kerja.
Pipa-pipa ini harus diletakkan sesuai dengan garis dan tingkatan yang sudah ditentukan.
10.4. SALURAN DENGAN PIPA BAJA

Semua saluran yang terbuat dari pipa baja dengan kualitas bahan memenuhi SII, harus
dilengkapi dan dipasang sesuai yang terdapat pada gambar dan saran Pemberi Kerja.
Pipa-pipa ini harus diletakkan sesuai dengan garis dan tingkatan yang sudah ditentukan.
10.5. SALURAN DENGAN BETON ATAU BETON PRACETAK

Pemberi Kerja Jasa melaksanakan pembuatan saluran-saluran dengan beton bertulang


cor setempat (insitu) dengan mutu beton sesuai dengan Gambar atau beton pracetak di
lokasi dan dimensi sesuai dengan Gambar atau atas perintah Pemberi Kerja, dengan
spesifikasi teknik seperti tercantum pada Bab Struktur Bangunan, Sub Bab Beton.
Bentuk dari saluran beton pracetak adalah U–Gutter atau U–Ditch atau bentuk lain
dengan mutu beton minimal K225. Apabila saluran tertutup dengan beton cover
pracetak harus dengan mutu beton minimal K225.
Apabila saluran tertutup dengan beton cor setempat harus dengan mutu beton minimal
K225.
10.6. SALURAN DENGAN PASANGAN BATU

Pemberi Kerja Jasa harus melaksanakan pembuatan saluran dengan pasangan,


plesteran, siaran, weep hole dan pekerjaan lain yang terkait, dimana harus sesuai
dengan spesifikasi teknik seperti tercantum pada Bab Struktur Bangunan, Sub Bab
Pasangan Batu
Semua saluran yang terbuat dari pasangan batu harus dibuat seperti terlihat pada
Gambar atau seperti yang disarankan Pemberi Kerja.
Material filter dari kerikil harus terdiri dari kerikil alam yang sudah dipilih atau batuan
yang ditumbuk, dengan ukuran yang telah ditetapkan oleh Pemberi Kerja.
10.7. SALURAN DENGAN GALIAN TANAH

Pemberi Kerja Jasa harus melaksanakan pembuatan saluran-saluran dengan Galian


Tanah dan timbunan tanah tanggul sesuai Bab Pekerjaan Tanah pada spesifikasi ini.
Semua saluran yang terbuat dari galian tanah harus dibuat seperti terlihat pada Gambar
atau seperti yang disarankan Pemberi Kerja.
10.8. BANGUNAN PERSILANGAN DAN PERTEMUAN

Pemberi Kerja Jasa harus melaksanakan pekerjaan bangunan persilangan dan


pertemuan sesuai lokasi dan dimensi, pada Gambar atau atas perintah Pemberi Kerja.
Item pekerjaan terdiri dari pekerjaan tanah penggalian, penimbunan atau penimbunan
kembali sesuai spesifikasi teknik pada Bab Pekerjaan Tanah, serta pekerjaan

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant X-2
Pekerjaan Drainase PLTM Lau Gunung

pembetonan, pasangan batu dan lainnya sesuai spesifikasi teknik pada Bab Struktur
Bangunan.
10.9. PEKERJAAN PINTU DAN STOPLOG PADA SALURAN DRAINASE

Pintu air dengan tipe pintu sorong baja dan stoplog kayu harus dibuat dan dipasang
dengan lebar, panjang dan mutu material seperti yang ditetapkan dalam Gambar dan
harus dipasang seperti terdapat pada gambar atau sesuai perintah dari Pemberi Kerja.
Pada bagian tepi pintu harus diberi karet perapat. Sistem pengangkat dengan single atau
dobel spindel harus dipasang sesuai dengan dimensi di gambar. Sebelum pintu dikirim
ke lokasi, harus diadakan pemeriksaan pada material, fabrikasi dan pengecatan oleh
Pemberi Kerja. Kondisi cat pintu setelah terpasang harus disetujui oleh Pemberi Kerja
dan pada waktu commissioning test harus disaksikan dan disetujui Pemberi Kerja.

10.10. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

10.10.1. Saluran dengan Pipa Plastik (PVC)


Pengukuran dan pembayaran untuk pengadaan dan pemasangan pipa plastik (PVC)
untuk saluran drainase, dilakukan sesuai diameter pada Gambar dan berdasarkan harga
satuan per meter panjang (m1) yang dicantumkan pada Daftar Kuantitas dan Harga
Pekerjaan, dan harga satuan tersebut termasuk biaya pengadaan, Pemberi Kerjaan dan
pemasangan yang diperlukan dalam pekerjaaan ini. Sedang pembayaran untuk
pekerjaan tanah, penggalian, dan timbunan kembali dilakukan secara terpisah.
10.10.2. Saluran dengan Pipa Baja
Pengukuran dan pembayaran untuk pengadaan dan pemasangan pipa baja untuk
saluran drainase, dilakukan sesuai diameter pada Gambar dan berdasarkan harga satuan
per meter panjang (m1) yang dicantumkan pada Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan,
dan harga satuan tersebut termasuk biaya semua pengadaan , Pemberi Kerjaan material
dan pemasangan yang diperlukan dalam pekerjaaan ini. Sedang pembayaran untuk
pekerjaan tanah, penggalian, dan timbunan kembali dilakukan secara terpisah.
10.10.3. Pengadaan dan Pemasangan Beton Pracetak
Pengukuran dan pembayaran untuk pengadaan, Pemberi Kerjaan dan pemasangan
beton pracetak (U-Gutter atau U-Ditch) untuk saluran drainase, dilakukan berdasarkan
harga satuan per buah sesuai dengan dimensi yang dicantumkan pada Daftar Kuantitas
dan Harga Pekerjaan, dan harga satuan tersebut termasuk biaya pengadaan, Pemberi
Kerjaan, transportasi dan pemasangan beton pracetak yang diperlukan dalam
pekerjaaan ini. Sedang pembayaran untuk penggalian saluran drainase, pemasangan
sesek bambu, trucuk bambu, dolken gelam, dan timbunan tanah dilakukan secara
terpisah.
10.10.4. Saluran dengan Pasangan Batu dan Beton
Pekerjaan saluran dengan pasangan batu, siaran, plesteran pada saluran drainase
dibayar sesuai spesifikasi seperti tercantum pada Bab Struktur Bangunan, Sub Bab
Pasangan Batu,

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant X-3
Pekerjaan Drainase PLTM Lau Gunung

Pekerjaan saluran dengan beton, tulangan, bekisting pada saluran drainase dibayar
sesuai spesifikasi seperti tercantum pada Bab Struktur Bangunan, Sub Bab Pekerjaan
Beton
Sedang pembayaran untuk penggalian saluran drainase dan timbunan kembali dilakukan
secara terpisah sesuai spesifikasi seperti tercantum pada Bab Pekerjaan Tanah.
10.10.5. Saluran dengan Galian Tanah
Pengukuran dan pembayaran pekerjaan galian tanah dan timbunan tanah, pada saluran
drainase dibayar sesuai spesifikasi seperti tercantum pada Bab Pekerjan Tanah.
10.10.6. Bangunan Persilangan dan Pertemuan
Pembayaran untuk pengukuran pembuatan bangunan persilangan dan pertemuan
dilaksanakan berdasarkan masing-masing item pekerjaan seperti tercantum pada Daftar
Kuantitas dan Harga Pekerjaan, untuk pekerjaan tanah sesuai spesifikasi seperti
tercantum pada Bab Pekerjan Tanah.
Untuk pekerjaan beton dan pasangan sesuai spesifikasi seperti tercantum pada Bab
Pekerjaan Beton Bab Pekerjaan Pasangan.
10.10.7. Pintu Baja dan Stoplog Saluran Drainase
Pembayaran untuk pembuatan dan pemasangan pintu sorong baja dan stoplog kayu
dilakukan dengan harga satuan per buah yang terpasang seperti pada Daftar Kuantitas
dan Harga Pekerjaan, dan mencakup biaya material, tenaga dan peralatan untuk desain,
fabrikasi, pengangkutan dan pemasangan serta commissioning test pintu baja dan
stoplog.
10.10.8. Kistdam
Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan kistdam, dilakukan sesuai dimensi pada
Gambar dan berdasarkan harga satuan per meter panjang (m1) yang dicantumkan pada
Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan, dan harga satuan tersebut termasuk biaya semua
pengadaan tenaga verja, peralatan dan material, pemasangan, pengeringan/dewatering
selama pelaksanaan bangunan yang dilindungi kistdam dan pekerjaan lain yang
diperlukan dalam pekerjaan kistdam.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant X-4
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
BAB XI 

TUNNEL DAN BANGUNAN BAWAH TANAH 

11.1. Lingkup 

PLTM  Lau  Gunung  akan  mengalirkan  debit  dari  Sungai  Lau  Gunung  dan  menyalurkan  air 
melalui  Headrace  Tunnel  dengan  panjang  sekitar  1.715  km.  Pada  outlet  Tunnel,  terdapat 
Valve  House  yang  mengatur  debit  air  yang  mengalir  pada  penstocks  menuju  powerhouse. 
Surge shaft dapat di temukan pada hilir tunnel. 

Dasar  tunnel  inlet  akan  berada  pada  EL  399.97  m  dan  penstock  guard  valve  portal  akan 
berada pada EL 392.42 m. Luas penampang yang di gali dari tunnel sekitar 18.483 m2. 

Kondisi  geoteknik  yang  diperkirakan  selama  penggalian  tunnel  telah  di  jelaskan  pada  hasil 
investigasi  lokasi  untuk  tahap  studi  kelayakan  proyek.  Kondisi  penerowongan  yang 
diperkirakan sepanjang perencanaan sepanjang tunnel telah ditentukan dari data investigasi 
lokasi  dan  kedalaman  yang  diperkirakandisepanjang  tunnel.  Kondisi  penerowongan  yang 
diperkirakan diklasifikasikan menjadi 'kelas penunjang terowongan (tunnel support classes)', 
distribusi  yang  diharapkan  dari  yang  tercermin  dalam  Daftar  Harga  yang  terdapat  pada 
bagian 7 dari dokumen lelang. 

Pekerjaan yang tercakup  dalam spesifikasi ini terdiri dari semua  kegiatan,  dan operasi yang 


diperlukan  untuk  desain,  penggalian,  penunjang,  linning  dan  pembuangan  bahan,  buatan 
manusia  atau  terjadi  secara  alami,  untuk  pembangunan  headrace  tunnel  dan  terkait  shaft 
dan setiap struktur bawah tanah lainnya untuk proyek PLTM Lau Gunung. 

11.2. Definisi 

Pekerjaan  bawah  tanah.Segala  pekerjaan  di  dalam  tanah  termasuk  tunnels,  adits,  shafts, 
niches dan galleries. 

Portal. Bagian permukaan di saat pengerjaan penerowongan di mulai dan berakhir. 

Face. Bagian pekerjaan bawah tanah yang terdepan. 

Forward Area. Bagian dimana penunjang awal akan dipasang. 

Tunnel  Support.  Penunjang  utama  dan  permanen  yang  diperlukan,  keduanya  harus 
ditentukan oleh penilaian massa batuan. 

Primary  Support(Penunjang  Utama).  Dipasang  oleh  Kontraktor  untuk  memfasilitasi 


penggalian/konstruksi  terowongan.  Penunjang  Utama  harus  dipasang  sesuai  dengan 
klasifikasi massa batuan dan sesuai kelas penunjang. 

Secondary  Support(Dukungan  Sekunder).  Biasanya  mencakup  shotcrete  tambahan,  invert 


beton,  dan  diinstal  selama  konstruksi  untuk  membentuk  bagian  dari  penunjang  permanen 
(permanent support). 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 1 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Permanent  Support(atauPelapisan  Akhir).Biasanya  mencakup  lapisan  beton  untuk  pondasi 
tanpa  perkuatan  atau  bertulang  yang  memenuhi  persyaratan  proyek  seperti  umur  desain, 
daya  tahan  dan  kemudahan  perawatan.  Penunjang  permanen  dapat  mencakup  penunjang 
primer dan sekunder untuk memenuhi persyaratan selama operasi proyek. 

Forepole.  Papan  runcing  atau  batang  baja  yang  berbasis  timber  atau  steel  sets  sebagai 
penunjang penggalian sementara. 

Overbreak.  Setiap  volume  penggalian  yang  melampaui  profil  terowongan  yang  dirancang 
dengan batas toleransi + 10 cm. 

Drift. Sebuah terowongan kecil yang dibangun menjelang terowongan utama. 

Pressure Grouting. Injeksi grout dalam lubang di bawah tekanan apapun. 

Fissure Grouting. Pengeboran dan pressure grouting (dengan grout semen) dari lubang bor 
ke dalam rongga yang terjadi secara alami atau rongga berdekatan dengan pekerjaan. 

Consolidating Grouting. Pengeboran dan pressure grouting (dengan grout semen) dari 
lubang bor dalam material batuan, termasuk batuan retak, dalam rangka konsolidasi dan 
menstabilkan tanah dan menutup air tanah. 

Contact Grouting. Pressuregrouting (dengan grout semen) ruang tidak terisi diluar lapisan 
permanen terowongan untuk menghasilkan kontak langsung dengan lapisan dan massa 
batuan sekitar. 

Pre‐Excavation Grouting (Pre‐Grouting). Grouting sebelum tahap face oleh pengeboran dan 
injeksi grout semen ke dalam tanah. 

Post‐Excavation Grouting (Post‐Grouting). Grouting di setiap tempat di sepanjang sisi yang 
tergali dari terowongan dengan injeksi grout semen ke dalam tanah. 

Grout. Bahan tahan lama, seperti campuran air, semen dan pasir, disuntikkan sebagai bubur 
atau cair ke dalam rekahan masuk ke massa batuan. 

Rock Bolt. Unsur penguatan terdiri dari bar baja, suatu jangkar mekanik, atau grouting, dan 
plate dan mur untuk penurunan tegangan. 

Shotcrete. Beton pneumatik yang diterapkan ke permukaan pada kecepatan tinggi. 

Mesh‐Reinforced shotcrete. Wire mesh dilas tetap dalam posisi dan terbungkus dengan 
beton yang disemprotkan sesuai dengan spesifikasi tersebut. 

Binder. Jumlah total semen dan bahan semen di shotcrete yang disemprotkan. 

Semen. Bahan sesuai dengan ASTM C150 atau AS 3972, termasuk semen Portland dan semen 
campuran. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 2 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Cover. Jarak antara bagian luar tulangan dan permukaan permanen terdekat dari shortcrete 
atau  elemen  beton,  atau  antara  bagian  luar  tulangan  dan  titik  terdekat  pada  permukaan 
penerimanya. 

Curing. Kontrol suhu dan kelembaban di shotcrete atau beton sampai bahan tersebut telah 
mengembangkan sifat‐sifatnya diperlukan. 

11.3. Penggalian Di Bawah Tanah 
11.3.1. Lingkup 

Spesifikasi  ini  menjelaskan  metode  penggalian  yang  akan  digunakan  untuk  membentuk 
Lau Gunung headrace tunnel dan Surge Shaft. 

Penggalian  headrace  tunnel  harus  dilakukan  dengan  pengeboran  danmetode  ledakan. 


Penggalian  surge  shaft  harus  dilakukan  oleh  penggalian  mekanis  konvensional  dan/atau 
dengan bor dan ledakan teknik sesuai dengan materi yang ditemukan. 

Pemilihan metode konstruksi dan desain lapisan terowongan dan shaft harus kompatibel 
dengan  penggunaan  utama  dari  struktur  ini,  kondisi  tanah  dan  air  tanah,  kedalaman 
terowongan  /  shaft,  kedekatan  fasilitas  dan  layanan  lainnya,  dan  urutan  dan  waktu 
kegiatan konstruksi. 

Kontraktor  harus  memberikan  perbaikan  tanah  atau  cara  lain  yang  dapat  diterima 
dukungan  tanah  di  penggalian  Portal  sebagaimana  disyaratkan  untuk  mencegah 
ketidakstabilan  tanah,  dan  tempat  lain  yang  dianggap  perlu  oleh  Pemberi  Kerja. 
Kontraktor  harus  bertanggung  jawab  untuk  penyediaan  dan  tindakan  untuk  menjaga 
stabilitas  semua  lereng  tanah  dan  batuan  yang  berdekatan  yang  terkena  dampak 
pekerjaan bawah tanah. 

Bahan galian dan air yang dihilangkan dari terowongan dan shaft harus dikendalikan dan 
dibuang  dalam  perilaku  yang  memenuhi  semua  kriteria  lingkungan,  erosi  dan 
pengendapan.  Desain  dari  terowongan  bertanggung  jawab  atas  penyusunan  semua 
pengajuan yang diminta oleh otoritas hukum yang relevan. 

11.3.2. Metode Pekerjaan 

Metode Pekerjaan untuk penerowongan dan konstruksi shaft harus gambaran terperinci 
tentang  aspek  teknis  konstruksi.  Kegiatan  konstruksi  penting  harus  diidentifikasi  dan 
dijelaskan  sebelum  memulai  setiap  pekerjaan  penerowongan,  Kontraktor  harus 
mempersiapkan dan menyediakan laporan metode berikut: 

 Metode  Usulan  dan  peralatan  untuk  menggali  portal,  terowongan  dan  shaft, 
termasuk rincian metodologi peledakan, dan sistem keamanan untuk penggunaan 
bahan peledak. 
 Metode  Usulan  untuk  penyediaan  peralatan  /  jasa  untuk  mendukung  pekerjaan 
penggalian,  termasuk  sistem  ventilasi,  air  /  sistem  udara  tekan,  sistem  drainase, 
sistem pencahayaan, sistem komunikasi, sistem mucking, dll 
 Metode Usulan, untuk survei, dan kontrol penyelarasan terowongan / shaft. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 3 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
 Metode  Usulan  dan  peralatan  untuk  penanganan,  pengangkutan,  penempatan, 
mendirikan dan memelihara penunjang utama. 
 Usulan  metode,  untuk  pengeboran  lubang  pemeriksaan,  dan  prosedur 
pemantauan bor dan peralatan. 
 Metode  Usulan,  untuk  evaluasi  jenis  massa  batuan,  kelas  pendukung  batuan 
persyaratan grouting, persyaratan pemantauan batuan dll 
 Usulan  metode  dan  peralatan,  untuk  pengukuran  arus  masuk  terowongan,  dan 
masuknya penyelidikan lubang, dan tekanan. 
 Usulan  metode  dan  peralatan,  untuk  grouting  terowongan  yang  berpotensi 
outflow kebocoran jalur. 
 Metode  Usulan  dan  peralatan  untuk  transportasi  dan  pembuangan  bahan  yang 
digali  dari  pekerjaan  bawah  tanah  (pembuangan  merusak).  Hal  ini  harus 
mencakup desain rinci dari semua area pembuangan. 

Laporan Metode meliputi prosedur yang akan diterapkan dalam hal arus masuk air tanah 
yang tinggi atau gagalnya peralatan pengurasan. 

Semua  laporan  metode  harus  disetujui  oleh  Perwakilan  Pemberi  Kerja  sebelum 
dimulainya pekerjaan penggalian. 

11.3.3. Keselamatan dan Stabilitas Galian 

Kontraktor harus bertanggung jawab atas keselamatan  dan keamanan penggalian setiap 
saat  selama  pembangunan  pekerjaan,  sesuai  dengan  Kesehatan  dan  Keselamatan 
Rencana. 

Keselamatan  dalam  pekerjaan  bawah  tanah  harus  memenuhi  BS  6164:  2001,  pada 
spesifikasi  kontrak  dan  Hukum  Republik  Indonesia.  Apabila  terdapat  kontradiksi, 
persyaratan lebih berat harus dipenuhi. 

Tanggung jawab Kontraktor untuk menentukan urutan penggalian dan untuk menetapkan 
kategori  tanah  penunjang.  Kontraktor  harus  sepenuhnya  mempertimbangkan  ground 
stand up time. 

Tanah  penunjang  awal  yang  dibutuhkan  harus  dipasang  sesegera  mungkin  setelah 
penggalian  dan  merusak  pengangkatan  pada  face.  Panjang  bagian  yang  tidak  didukung 
dan waktu untuk elemen aplikasi akan ditentukan oleh Kontraktor dan diberikan kepada 
Pemberi Kerja untuk diperiksa sebelum penggalian apapun. 

Pemantauan  dan  instrumentasi  harus  dilakukan  untuk  mengamati  perilaku  tanah,  untuk 
memverifikasi  kinerja  tanah  penunjang,  untuk  membantu  dalam  waktu  yang  tepat  dari 
penutupan lingkaran tanah penunjang, dan untuk lebih membantu dalam pemilihan tanah 
penunjang. 

Kontraktor  harus  membuka  babak  penggalian  baru,  hanya  setelah  lengkapnya 


pemasangan  unsur  penunkang  yang  diperlukan  dari  babak  sebelumnya,  dan  selama 
jangka  tidak  melebihi  durasi  maksimum  penggalian  yang  tidak  didukung  diindikasikan 
untuk masing‐masing kelas terowongan penunjang.  
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 4 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Kontraktor  harus  memastikan  bahwa  setiap  peralatan  yang  menggunakan  sinar  laser 
harus  diposisikan  sedemikan  rupa  sehingga  tidak  ada  bahaya  yang  dibuat  yang  bisa 
melukai penglihatan orang di sekitar peralatan tersebut.  

Galian  dan  pemasangan  tanah  penunjang  harus  dilakukan  untuk  mencegah  pergerakan 
tanah  atau  subsidence  dan  rusaknya  pekerjaan  yang  berdekatan,  untuk  memastikan 
bahwa  permukaan  terbuka  tersebut  adalah  sestabil  mungkin  dan  overbreak  yang  dijaga 
seminimum  mungkin.  Semua  permukaan  penggalian  harus  secara  teratur  diperiksa  dan 
material lepas dibuang atau diamankan. Penggalian harus, setiap saat, ditunjang dengan 
baik. 

Apabila  penggalian  dihentikan,  atau  selama  penghentian  diperpanjang  siklus  penggalian 


normal,  setiap  tanah  lunak  yang  terbuka  atau  batuan  lapuk  harus  dilindungi  oleh  close 
timbering, waling dan strutting dan backfilling dari setiap rongga dengan adukan semen, 
grout dan shotcrete.  

11.3.4. Ventilasi 

Kontraktor harus memberikan dan menjaga ventilasi yang memadai dalam semua bagian 
dari pekerjaan bawah tanah. Dalam semua bagian dari pekerjaan bawah tanah, atmosfir 
terhirup oleh orang‐orang ini harus mengandung tidak kurang dari 20% oksigen dan tidak 
boleh  mengandung  konsentrasi  zat  pencemar.  Konsentrasi  kontaminan  yang  mudah 
terbakar  tidak  akan  melebihi  10%  dari  batas  ledak  rendah  (konsentrasi  peledak 
minimum). Tingkat kontaminan harus dijaga dalam batas yang ditentukan dalam BS 6164: 
2001. 

Hanya  pengeboran  basah  boleh  digunakan.  Bila  memungkinkan,  pengeboran  harus 


dilakukan  dengan  menggunakan  bit  berongga  dengan  air  yang  terus  menerus  untuk 
mengurangi debu. Masker debu yang sesuai harus dipakai dalam pekerjaan bawah tanah 
oleh personil yang terkait sesuai kebutuhan. 

Di semua pekerjaan bawah tanah, Kontraktor harus mempertahankan standar kemurnian 
udara yang dibutuhkan berdasarkan bab ini, yaitu udara segar harus dipasok oleh ventilasi 
untuk  terowongan  sesuai  dengan  BD  6164:  2001.  Semua  ventilasi  digunakan  selama 
konstruksi  harus  menggunakan  material  yang  tidak  mudah  terbakar.  Untuk  setiap  orang 
yang bekerja di lokasi konstruksi bawah tanah, jumlah minimum 3 m3/menit udara segar 
harus  disediakan.  Untuk  peralatan  bertenaga  diesel  yang  bekerja  di  lokasi  konstruksi 
bawah  tanah,  kuantitas  minimum  udara  segar  yang  disediakan  harus  3  m3/menit  untuk 
setiap kW daya peralatan tersebut, selain persyaratan personel. 

Kontraktor  dapat  menggunakan  sistem  ventilasi  alternatif.  Sistem  alternatif  tersebut 


harus  memenuhi  semua  kriteria  yang  ditetapkan  dalam  bab  ini  dan  harus  menjaga 
kemurnian udara sekurang‐kurangnya sama dengan yang disediakan oleh sistem ventilasi 
yang dijelaskan sebelumnya. 

Mesin  berbensin  tidak  diperkenankan  dalam  pekerjaan  bawah  tanah.  Langkah‐langkah 


khusus juga harus dilakukan untuk meminimalkan efek khususnya asap. Langkah‐langkah 
ini harus mencakup, tetapi tidak akan terbatas pada, efisien, dan dipelihara dengan baik 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 5 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
washer  pembuang  asap  (scrubber)  untuk  semua  mesin  pembakaran  internal  yang 
digunakan dalam pekerjaan bawah tanah, dan semprotan air untuk bertindak pada semua 
tumpukan lumpur setelah peledakan. 

Penggalian  terowongan  harus  dilengkapi  dengan  sistem  pemantauan  lingkungan  yang 


mendeteksi kadar gas yang berpotensi berbahaya. Sistem harus diatur dengan batas yang 
dapat  disesuaikan  dan  harus  memiliki  sinyal  peringatan  tingkat  pertama,  seperti  lampu 
dan  klakson,  dan  tingkat  kedua  dengan  penutup  otomatis.  Gas  yang  akan  dimonitor 
meliputi metana, oksigen, karbon dioksida dan karbon monoksida. 

Sarana  menangani  peledakan  meliputi  ventilasi  ekstraksi  langsung  setelah  peledakan 


untuk mengeluarkan nitrogen oksida, bersama‐sama dengan persetujuan terkompresi jet 
pesawat ke face untuk memecah asap. 

Dalam  jarak  3  meter  dari  titik  pembuangan  asap  dari  mesin  pembakaran  internal, 
konsentrasi asap lebih dari 5 mg/l asap nitrous, 50 mg/l karbon monoksida dan 5.000 mg/l 
karbon  dioksida  akan  diizinkan  asalkan  tidak  ada  operator  pabrik  atau  pekerja  lainnya 
tinggal dalam jangkauan kelebihan konsentrasi. 

Atmosfer terowongan akan diawasi oleh Kontraktor untuk memeriksa kesesuaian dengan 
persyaratan  tersebut.  Kontraktor  harus  menyimpan  catatan  akurat  dari  pemantauan 
tersebut dan catatan tersebut harus tersedia untuk diperiksa oleh Pemberi Kerja seperti 
yang diminta. 

Ventilasi harus segera ditingkatkan jika diperlukan karena hasil monitoring atau informasi 
lain  untuk  mengukur  kecepatan  udara,  dan  Draeger  Gas  Detector  Model  19/31,  atau 
detektor gas lain yang setara. 

11.3.5. Pencahayaan dan Tenaga Listrik 

Kontraktor  berlaku,  menyediakan,  menghubungkan  dan  menjaga  pasokan  listrik  sendiri 


selama  pelaksanaan  pekerjaan.  Semua  instalasi  listrik  dan  kabel  harus  memenuhi 
persyaratan Undang‐Undang Republik Indonesia dan memenuhi standar berikut. 

  AS 1042: Direct acting indicating electrical measurement instruments and accessories 
  AS 1243: VTs for measurement and protection 
  AS 1243: CTs for measurement and protection 
  AS 1300: Couplers 
  AS 1824: Insulation co‐ordination 
  AS 1939: Enclosures 
  AS 1972: Electric cables – UG mines 
  AS 2595: Electrical equipment for coal mines 
  AS 3000: Electrical Wiring Rules 
AS 3008: Electrical installations. Cables for alternating voltages up to and including0.6/1kV 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 6 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Semua kabel listrik terpasang terowongan harus memiliki sifat tahan api sesuai dengan BS 
6164. Semua peralatan listrik yang digunakan di bawah tanah harus disesuaikan  dengan 
pengoperasian ketika terendam air. 

Kontraktor harus memberikan penyuluhan kepada semua bidang pekerjaan bawah tanah. 
Pada  face,  dan  daerah  di  mana  pekerjaan  sedang  berlangsung,  atau  inspeksi  harus 
dilakukan,  pencahayaan  khusus  yang  memadai  harus  disediakan.  Standar  minimum 
pencahayaan  diperlukan  dalam  terowongan  selain  pada  face  harus  setara  dengan  satu 
bola  lampu  100  watt  per  delapan  meter  dari  panjang  keseluruhan  terowongan,  dan 
standar  pencahayaan  tersebut  harus  dijaga  setiap  saat  untuk  jarak  sepuluh  meter  dari 
face. 

Pemasangan kabel dari jalur pasokan untuk penerangan listrik, dan listrik ke berbagai titik 
harus  dipasang  dengan  benar,  dipelihara  dan  terpasang  erat  di  tempat.  Sirkuit  terpisah 
harus disediakan untuk penerangan dan daya keperluan. Kabel lapis baja harus digunakan 
untuk  memberikan  perlindungan  yang  memadai  dari  kerusakan  mekanis.  Tindakan 
pencegahan  khusus  harus  diambil  untuk  menjaga  isolasi  dari  pencahayaan  dan  kabel 
listrik  dalam  kondisi  baik  untuk  mencegah  suatu  arus  pendek  dalam  setiap  bagian  dari 
sistem kabel.  

Setiap  kali  beban  peledakan  sedang  dipersiapkan  semua  kabel  listrik  harus  dihilangkan 
karena  jarak  minimal  yang  disyaratkan  adalah  15  meter  dari  face.Dua  baterai  yang 
dioperasikan lampu tangan dengan daya minimum 20 watt harus disediakan pada setiap 
face  dan  portalserta  disimpan  dalam  keadaan  baik  untuk  keadaan  darurat  dan 
pemeriksaan pekerjaan bawah tanah. 

11.3.6. Komunikasi 

Kontraktor harus memasang dan memelihara sistem komunikasi antara pekerjaan bawah 
tanah,  dan  kantor  Kontraktor,  dan  harus  memastikan  bahwa  sistem  tersebut  berkerja 
setiap saat. 

Pergantian baru tidak diperkenankan untuk memulai pekerjaan sistem komunikasi bawah 
tanah yang rusak atau tidak bekerja dalam kondisi yang memuaskan. 

Terlepas  dari  jenis  sistem  komunikasi  yang  terpasang,  stasiun  komunikasi  bawah  tanah 
harus  selalu  dijaga  dalam  radius  100  meter  dari  permukaan  face  terjauh,  pada  interval 
tidak melebihi 200 m sepanjang terowongan dan di portal. 

Stasiun Portal harus dijaga setiap saat ketika pekerjaan berjalan dalam pekerjaan bawah 
tanah. 

11.3.7. Air yang Terkompresi dan Kebutuhan Air 

Kontraktor  harus  memasang  dan  memelihara  persediaan  udara  terkompresi  ke  muka. 
Pasokan  udara  tekan  harus  memiliki  kapasitas  yang  cukup  untuk  memecah  /  menyebar 
ledakan  asap  (berikut  peledakan  di  face  terowongan),  dan  untuk  menyalakan  peralatan 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 7 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
penggalian  bertenaga  udara.  Selang  fleksibel  dan  nozel  harus  disediakan  untuk 
memungkinkan memecah / menyebar ledakan asap. 

Kontraktor  harus  memasang  dan  memelihara  pasokan  air  ke  wajah.  Pasokan  air  harus 
memiliki  kapasitas  yang  memadai  untuk  membasahi  permukaan  batuan  (untuk 
memfasilitasi inspeksi. Selang fleksibel dan nozel harus disediakan untuk memungkinkan 
air untuk disemprotkan di mana saja hingga 30 m kembali dari face. 

11.3.8. Galian Terowongan 

Umum  
Galian Terowongan dilakukan menggunakan bor, dan penggalian teknik ledakan. Bor dan 
penggalian  dengan  ledakan  melibatkan  pengeboran  lubang  ledakan  dalam  material  sub‐
permukaan  dan  pembuangan  bahan  galian,  penunjang  bukaan  bawah  tanah  dan 
pengeboran, serta pemeriksaan pemantauan lubang.  
Dimensi  dan  metode  penggalian  untuk  bor  dan  ledakan  terowongan  adalah  sebagai 
berikut: 

 Excavataion profile (for constructability)   Horsehoe 3.4 metres wide x 3.5 metres 
high 
 Minimum finished cross‐sectional area    About 7.5 m2 
 Length            Approximately 1.770 metres as 
determined 
by site conditions 

 Grade            About 0.1% 
 Method of excavation        Drill and blast 
 

Peralatan 
Kontraktor harus: 

• Menggunakan  peralatan  untuk  menggali  terowongan  yang  mampu  melakukan 


penggalian  secara  efektif  dalam  berbagai  kondisi  tanah  untuk  menyelesaikan 
pekerjaan tepat waktu. 
• Menyediakan penampungan air dan peralatan pompa untuk menangani air yang 
memasuki terowongan selama penggalian. 
• Menyediakan  peralatan  yang  mampu  menjelang  grouting,  dan  setelahnya,  face 
untuk menutup jalan dan / atau mengkonsolidasikan batuan retak. 
 

Pelaksanaan 
Kontraktor harus: 

• Menjaga  kondisi  kerja  yang  bersih  dan  aman  di  dalam  penggalian  terowongan. 
Semua mack, grout, tumpahan, dll, dan bahan lain yang tidak langsung digunakan 
dalam pekerjaan, akan dihilangkan. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 8 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
• Menjadi bertanggung jawab atas keselamatan penggalian, perlindungan personil 
di terowongan, dan kerusakan properti akibat operasi penggalian. 
 
 

Persiapan 
Kontraktor harus: 

Sebelum  maju  pada  putaran  pertama,  kontraktor  harus  memastikan  bahwa  penggalian 
untuk Portal terowongan telah didukung sesuai dengan Desain Gambar yang persetujuan. 

Penggalian 
Dengan  memperhatikan izin minimum yang diperlukan untuk tujuan hidrolik,  kontraktor 
harus  menentukan  dimensi  penggalian  untuk  mengizinkan  pembangunan  lapisan  akhir 
untuk batas toleransi, ketebalan minimum, dan jarak minimum yang tertera pada Gambar 
Desain yang telah disetujui, dan dengan memperhatikan konvergensi, dan usulan metode 
konstruksi, dan toleransi. 
A‐lines  adalah  garis  di  mana  tidak  ada  bahan  apapun  dan  tidak  ada  penunjang  selain 
rockbolt,hardware  dan  steelsupport  permanen  yang  diijinkan.  Untuk  rockbolt,hardware 
dan steelsupport permanen. 
B‐lines adalah batas diluar pengukuran untuk penggalian yang akan dilakukan dengan B‐
garis terlepas dari apakah  batasan penggalian jatuh sebenarnya di dalam atau  di luar B‐
garis (overbreak). 
Kontraktor harus memvariasikan panjang bor dan agar sesuai dengan kondisi tanah yang 
berlaku  dan  meminimalkan  gangguan  terhadap  batuan  sekitarnya,  harus  memenuhi 
pembatasan  terhadap  panjang  dan  ditentukan  dalam  Sub‐Bab  11.3.9.  kontraktor  harus 
menggunakan  teknik  facesupport,  sesuai  dengan  kondisi  tanah  yang  berlaku,  untuk 
meminimalkan hilangnya tanah dan untuk menjaga stabilitas penggalian. 
Penggalian  tidak  boleh  dilanjutkan  sampai  penunjang  utama  telah  dipasang  pada  face, 
seperti yang ditunjukkan dalam Sub‐Bab 11.4. 
Muck  Bays  dan  penggalian  lainnya  yang  dilakukan  oleh  kontraktor  untuk  keperluan 
konstruksi  harus  didukung  sesuai  dengan  spesifikasi  ini  dan  Gambar  Desain  yang  telah 
disetujui. 
Arus masuk berlebihan dari lubang ledakan 
Jika,  selama  pekerjaan  terowongan,  aliran  air  tanah  membentuk  suatu  lubang  ledakan 
melebihi  1  l/s,  maka  pekerjaan  terowongan  harus  dihentikan,  dan  Pemberi  Kerja 
diberitahu. 
Scaling dan Stabilisasi 
Semua  batuan  pada  potongan  face  yang  longgar,  menggantung,  atau  yang  menciptakan 
kondisi  yang  berpotensi  berbahaya,  harus  dihapus  atau  distabilkan  selama  atau  setelah 
selesainya  penggalian  di  setiap  putaran,  dan  Kontraktor  harus  memeriksa  sisi  dan  atap 
terowongan  dan  shaft  dan  akan  membersihkan  fragmen  yang  longgar  dan  tidak  aman 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 9 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
atau memblokir yang bisa sewaktu‐waktu jatuh dan menyebabkan cedera atau kerusakan. 
Pemeriksaan  ini  harus  dilakukan  untuk  jarak  tidak  kurang  dari  50  meter  kembali  dari 
permukaan  setelah  setiap  operasi  peledakan  dan  untuk  semua  bagian  lain  dari 
terowongan pada interval mingguan. Pengeboran putaran berikutnya tidak akan diizinkan 
sampai  pekerjaan  ini  telah  selesai.  Suatu  daftar  pemeriksaan  ini  harus  disimpan  sebagai 
bagian dari rencana kesehatan dan keselamatan. 
Survei Terowongan 
Selama penggalian dan sebelum instalasi lapisan akhir, kontraktor harus menjaga penanda 
survei chainage yang memadai sesuai dengan ketentuan Sub‐Bab 11.3.13. 
Pemetaan Geologi 
Kontraktor  harus  menyediakan  akses  ke  penggalian  face,  atap,  invert,  dan  sidealls 
terowongan  untuk  memungkinkan  pemetaan  geologi    dilaksanakan  sesuai  dengan 
ketentuan Sub‐Bab 11.3.14 dan Sub‐Bab 11.8. 
Overbreak 
Kontraktor  harus  menggali  terowongan  sedekat  mungkin  dengan  garis  dan  tingkat  yang 
diperlukan dan overbreak harus dijaga seminimum mungkin. Apabila overbreak lebih dari 
0.5m terjadi, kontraktor benar‐benar wajib mengisi kekosongan dengan shotcrete, grout 
semen atau grouting rockfill dan secara struktural menghubungkan massa pengisi ke baut 
rock.  Pembayaran  untuk  penggalian  akan  termasuk  penimbunan  overbreak,  di  mana 
diperlukan. 
11.3.9. Galian Shaft 

Metode Pekerjaan 
Metode Pekerjaan untuk penggalian shaft, dan penunjang harus disediakan seperti yang 
dijelaskan dalam Sub‐Bab 11.3.2 di atas.  
Konstruksi  
Shaft  harus  vertikal  tanpa  proyeksi  batuan,  atau  shotcrete  dalam  garis  jarak  bebas 
minimum.  
Penggalian  dan  pemasangan  penunjang  bawah  tanah  harus  dilakukan  untuk  mencegah 
pergerakan  tanah  atau  subsidence  dan  untuk  memastikan  bahwa  permukaan  terbuka 
stabil  dan  overbreak  yang  dijaga  seminimum  mungkin.  Semua  permukaan  penggalian 
harus  secara  teratur  diperiksa  dan  material  lepas  dibuang  atau  diamankan.  Penggalian 
harus benar didukung setiap saat.  
Apabila belum shotcrete, dinding shaft harus sistematis dilindungi oleh kawat pengaman 
jala dilakukan dengan surfaceanchors. Batuan penguatan dan shotcrete boleh digunakan 
untuk mengamankan potongan tidak stabil. Semua potongan tidak baik berorientasi pada 
shaft harus dibaut.  
Semua  tanah  dukungan  harus  ditempatkan  dalam  tiga  putaran  penggalian  permukaan 
kerja.  Kontraktor  harus  menyediakan  akses  ke  dinding  dan  penggalian  face  pada 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 10 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
shaftuntuk  memungkinkan  pemetaan  geologi  yang  terkena  dilaksanakan  sesuai  dengan 
ketentuan Sub‐Bab 11.8. 
 
 
11.3.10. Bahan Peledak 

Umum  
Galian  oleh  bahan  peledak  harus  dilakukan  sesuai  umum  dengan  BS  6164:  2001. 
Pengeboran,  peledakan  dan  pola  pengisian  harus  dirancang  oleh  Kontraktor  untuk 
menghasilkan jumlah  minimum  gangguan pada massa batuan sekitar penggalian, flyrock 
minimum dan pembatasan yang berlebihan minimum. 
Personil 
Kontraktor  harus  mengirimkan  resume  kerja  (Curriculum  Vitae)  dari  'ahli  peledakan' 
bahwa ia mengusulkan untuk mempekerjakan. Ahli peledakan harus memiliki pengalaman 
minimal 10 tahun relevan dalam pekerjaan bawah tanah, termasuk pengukuran tekanan 
batuan settlement, terowongan konvergensi dan teknik peledakan terkendali. Peledakan 
pengawasan  dipekerjakan  oleh  Kontraktor  untuk  pekerjaan  bawah  tanah  wajib  memiliki 
minimal  5  tahun  pengalaman  dalam  mengawasi  pembebanan  dan  pengurangan  biaya 
untuk  penggalian  terowongan  dan  wajib  memiliki  semua  lisensi  yang  diperlukan  / 
pendaftaran dan izin yang dibutuhkan oleh otoritas terkait setempat atau lainnya. 
Bahan Peledak 
Bahan  Peledak  dan  agen  peledakan  yang  digunakan  dalam  penggalian  terowongan  dan 
shaft  harus  tahan  air  dan  memiliki  peringkat  kelas  fume  yang  cocok  untuk  digunakan 
dengan sistem ventilasi kontraktor. Bahan peledak  yang dirancang dan diproduksi untuk 
peledakan harus yang digunakan dalam lubang perimeter. 
Peralatan Pemantauan 
Kontraktor  harus  menyediakan  personil  dan  peralatan  untuk  memonitor  peledakan 
overpressure  (noise),  dan  tingkat  getaran  tanah  untuk  memastikan  kesesuaian  dengan 
keterbatasan tertentu dan untuk mengkompilasi catatan. 
Tanah  peralatan  pemantauan  getaran  harus  memiliki  respon  frekuensi  datar  2.0‐200  Hz 
dan akurat,0.01‐100 mm per detik. 
Peralatan pemantauan Airblast overpressure wajib memiliki respon frekuensi  datar 2.0 ‐ 
200Hz dan akurat 80‐140 dbl tingkat suara puncak secara keseluruhan. 
Untuk operasi peledakan yang berdekatan dengan yang baru ditempatkan atau shotcrete 
muda,  kecepatan  puncak  partikel  maksimum,  diukur  pada  permukaan  shotcrete,  harus 
terbatas pada berikut (Tabel 11.1): 
Tabel 11.1: Maximum Peak Particle Velocities for Shortcrete 

Shotcrete  Maximum Peak Particel Velocity 
(days)  (mm/s) 
3  10
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 11 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
4‐7  35
>7  110
 

 
Eksekusi 
Kontraktor  harus  bertanggung  jawab  atas  keselamatan  operasi  blasting,  perlindungan 
personil  di  terowongan,  dan  kerusakan  properti  atau  pekerjaan  berdekatan  disebabkan 
oleh  operasi  peledakan  yang  tidak  terkontrol  secara  memadai.  Kontraktor  harus 
menggunakan  prosedur,  covers  dan  pintu  ledakan  yang  memberikan  penekanan  efektif 
terhadap kebisingan dan getaran dan menggunakan langkah‐langkah pengurangan lainnya 
yang  diperlukan  untuk  memenuhi  batas  yang  ditentukan  dan  untuk  perlindungan  para 
pekerja blasting. 

Semua  pekerjaan  blasting  harus  dilakukan  dengan  menggunakan  pengeboran  perimeter 


terkontrol  dan  teknik  untuk  mengontrol  geometri,  dan  untuk  meminimalkan  kerusakan 
pada  profil  penggalian  akhir  dan  meminimalkan  overbreak  blasting.  Kontrol  perimeter 
teknik  blasting  harus  dilengkapi,  tapi  tidak  terbatas  pada,  pra‐pemisahan  atau  teknik 
blasting  halus  dan  wajib  menggunakan  bahan  peledak  yang  khusus  diproduksi  untuk 
tujuan tersebut. 

Kontraktor  harus  melakukan  blasting  terkontrol  sehingga  sebisa  mungkin  permukaan 


ledakan yang menunjukkan bidang rekahan teratur tanpa kembali jeda. Permukaan harus 
ditingkatkan  untuk  menghilangkan  semua  longgar  dan  berongga  batuan  untuk 
meninggalkan  permukaan  utuh  yang  solid.  Perhatian  khusus  akan  diperlukan  dengan 
prosedur seperti di batu yang sangat retak. 

Jika  sewaktu‐waktu  metode  pengeboran  dan  blasting  tidak  menghasilkan  profil  seragam 
dan  face  geser  tanpa  overbreak,  kontraktor  harus  melakukan  tes  lebih  lanjut  sampai 
teknik  didirikan  yang  menghasilkan  profil  penggalian  dalam  +/‐  100  mm  diukur 
berdasarkan penampang . 

Setiap lapisan penunjang utama selesai atau lapisan permanen harus dilindungi terhadap 
kerusakan dari blasting dan setiap lapisan itu menjadi rusak harus diganti. 

Setelah ledakan sudah ditembakkan, yang ditembak penembak  yang bertanggung jawab 
langsung  terhadap  peledakan  pada  putaran  dan  personil  di  bawah  pengawasan 
langsungnya  wajib  membuat  pemeriksaan  hati‐hati  untuk  menentukan  bahwa  semua 
bahan  peledak  telah  meledak  sebelum  orang  lain  diperbolehkan  untuk  kembali  ke 
operasi. 

Flyrock Control 
Kawat  baja  dan/atau  ban  karet  blasting  mats  harus  ditempatkan  di  atas  wajah  atau 
breakouts untuk meledak yang diperlukan untuk melindungi tanah instrumentasi, utilitas, 
personil dan peralatan dari flyrock.  

 
 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 12 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Sistem Deteksi Petir  
Kontraktor harus memasang deteksi dan alarm petir otomatis sistem yang disetujui diluar 
portal masing‐masing terowongan yang digunakan untuk akses ke wajah bekerja selama 
operasi  pengeboran  dan  blasting.  Ketika  aktivitas  listrik  atmosfer  di  sekitar  portal 
mencapai  tingkat  berbahaya  dan  alarm  diaktifkan,  semua  operasi  blasting  harus 
ditangguhkan sampai aktivitas listrik mencapai tingkat yang aman.  

Penyimpanan Bahan Peledak  
Kontraktor  harus  bertanggung  jawab  untuk  memperoleh  semua  lisensi  dan  persetujuan 
yang  diperlukan  untuk  pengangkutan,  penyimpanan  dan  penggunaan  bahan  peledak  di 
lokasi.  

Kontraktor  harus  menyediakan  penjaga  keamanan  sesuai  dengan  Undang‐Undang 


Republik Indonesia untuk menjamin keamanan personil. 

Dokumentasi Kontrol kualitas  
Kontraktor harus mempersiapkan dan memberikan kepada pemberi kerja, berikut kualitas 
dokumentasi kontrol sebelum memulai operasi peledakan di lokasi:  

• Semua lisensi yang diperlukan dan izin untuk peledakan;  
• Nama dan ringkasan pengalaman pengawas blasting; dan  
• Prosedur Peledakan, termasuk transportasi dan penyimpanan bahan peledak. 
11.3.11. Kontrol Air Sementara 

Kontraktor harus menyediakan, membangun, memelihara dan mengoperasikan pekerjaan 
intercepting  seperti  menggunakandrainase  gravitasi  dan  pompa  bila  perlu  untuk 
mengontrol air yang masuk atau terakumulasi dalam pekerjaan bawah tanah yang dapat 
menyebabkan  gangguan  atau  penundaan  perkembangan  normal  dari  pekerjaan  bawah 
tanah  atau  terowongan  mempengaruhi  stabilitas/keamanan  shaft.  Air  dihilangkan  dari 
pekerjaan  bawah  tanah  harus  dibuang  ke  aliran  air  yang  ada  lokasi  sesuai  dengan 
persyaratan  peraturan  perundang‐undangan  Republik  Indonesia.  Sebelum  dibuang  ke 
badan air melalui sistem drainase, drainase air terowongan harus melewati: 
• Kolam untuk pengendapan lumpur, oleh kontraktor, dan 
• Peralatan pengukur debit dengan tujuan record 
Kontraktor  harus  menyediakan,  mengoperasikan  dan  memelihara  sistem  pompa  untuk 
mempertahankan  pekerjaan  bawah  tanah  dalam  kondisi  untuk  memfasilitasi  konstruksi 
terowongan. Peralatan, bahan, dan daya harus tersedia termasuk suku cadang yang sesuai 
dan daya cadangan untuk menangani air dan untuk mencegah kerusakan pada pekerjaan. 
Kontraktor harus ada di tempat rencana antisipasi dan cadangan yang memadai dalam hal 
aliran air yang tinggi atau kerusakan peralatan. 
11.3.12. Permanent Tunnel Drainase 

Kontraktor  harus  memasang  outlet  drainase  permanen  di  portal  hilir  tunel  untuk 
memungkinkan  arus  debit  dari  terowongan  selama  pemeliharaan.  Outlet  terdiri  atas 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 13 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
sebuah  pipa  pembuangan  baja  dan  katup  dengan  diameter  tidak  kurang  dari  300  mm. 
Drain pipa harus diposisikan sehingga menguras invert terowongan langsung. Katup harus 
terletak  di  lokasi  yang  dapat  diakses,  di  luar  terowongan.  Katup  harus  dapat  dikunci 
secara  positif  untuk  mencegah  operasi  oleh  orang  yang  tidak  berhak.  Pipa  saluran  air 
wajib  dibuang  ke  saluran  terbuka  yang  akan  menyebabkan  debit  dan  dialirkan  ke  anak 
sungai  yang  sudah  ada  yang  memiliki  kapasitas  yang  memadai  untuk  membawa  aliran 
penuh pipa tersebut. 
Susunan pipa drainase terowongan tetap harus dengan persetujuan Perwakilan Pemberi 
Kerja. 
11.3.13. Setting Out dan Survei 

Kontrol Keselarasan 
Untuk  keperluan  kontrol  terowongan  survei,  stasiun  pendukung  instrumen  survei,  dan 
benchmarks levelharus disediakan oleh kontraktor pada tidak lebih dari 150 jarak meter, 
dan  stasiun  survei  instrumen  ini  harus  tetap  ke  dinding  terowongan  dan  sesuai 
menguatkan untuk memberikan pendukung yang aman untuk instrumen survei. 
Lantai  tanda  survei  harus  diatur  di  lantai  terowongan  dan  terdiri  dari  kuningan  yang 
atasnya datar terdiri dari 150 mm secara aman grouting ke dalam lubang vertikal di invert, 
sehingga  berdiri  dan  tidak  lebih  dari  50  mm  serta  tidak  kurang  dari  25  mm.  Benchmark 
harus  ditempatkan  di  posisi  yang  menyediakan  akses  mudah  dan  perlindungan  dari 
kerusakan.  Benchmark  harus  ditempatkan  berdekatan  dengan  kurung  pendukung 
instrumen survei. 
Brackets  Survey  dan  lantai  tanda  survei  harus  diganti  dalam  waktu  24  jam  karena  akan 
hilang atau rusak selama konstruksi. 
Survei Penggalian  
Jarak  berkurang  (dalam  meter)  di  setiap  terowongan  harus  ditandai  tidak  kurang  dari 
interval 10 meter.  
Setelah  instalasi  penunjang  utama,  permukaan  internal  dari  terowongan  harus  disurvei 
pada  interval  rata‐rata  kurang  dari  5  meter.  Apabila  survei  menunjukkan  bagian 
terowongan berada di luar titik toleransi yang ditentukan, sebagaimana ditentukan dalam 
Sub‐Bab  11.4.5  dari  spesifikasi  ini,  survei  rinci  harus  dilakukan  pada  jarak  rata‐rata  satu 
meter  membujur  sepanjang  bagian  tersebut  dan  lebih  panjang  25  meter  di  setiap  sisi 
bagian.  
Survei terdiri atas pengukuran berikut:  
a) Definisi  posisi  horizontal  dan  vertikal  dalam  koordinat  tiga  dimensi  tidak  kurang 
dari  lima  (5)  atau  lebih  dari  sembilan  (9)  poin  normal  terhadap  sumbu 
terowongan pada setiap interval tertentu di atas;  
b) Tingkat di Crown dan invert;  
c) Jarak horizontal (meterages) di bukaan dan setiap fitur salients lainnya. 
 
Survei Standar 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 14 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Metode survei dan peralatan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 
a) Pipa  dan  keterpusatan  instrumen  dan  sasaran  monumen  survei  dengan  standar 
deviasi penggantian tidak melebihi: 
• Pelat Instrumen braket sumbu + 0.2mm 
• Di atas tanda lantai + 1.0mm 
• Di bawah tanda lantai + 2.0mm 
b) Mengukur sudut horizontal atau arah dengan standar deviasi (SD) dari rata‐rata tidak 
melebihi 3 detik busur; 
c) Mengukur  jarak  dengan  deviasi  standar  pengukuran  individual  dari  5  mm  +  5  ppm 
atau lebih baik; dan 
d) Mengukur tingkat bench mark dengan standar deviasi (SD) dari kenaikan sepanjang 
garis meratakan antara dua tanda bench tidak melebihi S3 dengan jarak S di km dan 
standar deviasi (SD) di mm. 
Pengamatan ditolak apabila deviasi standar mereka melebihi dua kali yang ditentukan di 
atas. 
11.3.14. Pemetaan Geologi 

Pemetaan  geologi  berkelanjutan  dari  permukaan  bebatuan  di  terowongan  harus 


dilakukan  oleh  kontraktor  (yaitu  setelah  setiap  putaran  blasting),  dan  akan  diperiksa 
secara  berkala  oleh  Perwakilan  pemberi  kerja.  Kontraktor  harus  memberikan  bantuan 
(seperti  washingdown  dengan  udara  dan  air  yang  diperlukan  untuk  memungkinkan 
pemetaan fitur geologi) ke Perwakilan pemberi kerja untuk memungkinkan pemeriksaan 
pemetaan geologi.  
Kontraktor  harus  menyediakan  akses  ke  eksposur  penggalian  pada  waktu  yang  tepat,  di 
mana permukaan batuan akan kemudian ditutupi oleh elemen pendukung utama seperti 
shotcrete. 
11.4. Primary Support 
11.4.1. Lingkup 
Spesifikasi ini mengatur tentang jenis batuan penunjang utama yang akan dipasang di Lau 
Gunung  headrace  tunnel.  Berbagai  jenis  penunjang  utama  akan  ditetapkan  berdasarkan 
batu  kelas  penunjang  sebagaimana  ditentukan  untuk  terowongan  berdasarkan  kondisi 
bebatuan selama penggalian. 
Kontraktor  harus  merancang,  membuat  penawaran  dan  menginstal  penunjang  utama 
yang memadai yang akan menstabilkan terowongan penggalian untuk jangka waktu yang 
cukup  untuk  lapisan  akhir  yang  akan  dipasang  pada  garis  dan  tingkat  dan  ketebalan 
minimum. 
Kelas  batuan  penunjang  akan  berbasis  pada  jenis  batuan,  pelapukan,  kondisi 
diskontinuitas, kondisi air tanah dan stres in situ seperti yang ditemui selama penggalian 
terowongan  dan  seperti  yang  ditunjukkan  pada  Tabel  11.1.Persyaratan  Primarysupport 
selama penggalian terowongan akan ditentukan lokasi mengikuti pengamatan batuan dan 
kinerjanya,  termasuk  potensi  deformasi  akibat  tingginya  in‐situ  stress.  Kelas  batuan 
penunjang ditentukan oleh kontraktor akan tergantung kepada persetujuan dari Pemberi 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 15 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Kerja.  Penyesuaian  kelas  batuan  penunjang  yang  akan  diinstal  akan  ditentukan  oleh 
kontraktor  dengan  persetujuan  Pemberi  Kerja  mengikuti  setiap  setelan  putaran  kondisi 
tanah variabel yang akan dihadapi. 
Jenis PrimarySupport harus mencakup, tetapi tidak harus terbatas pada: 
a) Shotcrete (kelas 1 dan 2) 
b) Rockbolts 
c) Steelribsupport dengan forepoling shotcrete jika diperlukan 
d) Slidingjoint (top‐hatsection) Steelribsupport dengan shotcrete bila perlu 
e) Latticegirdersupport 
Setiap  jenis  penunjang  mungkin  memerlukan  perbautan  acak,  penguatan  batuan  atau 
dowelling. 
Pada  kesalahan  apapun  lunak  di  material  pengisi  harus  dihapus  dan  diganti  dengan 
shotcrete  di  permukaan  hingga  kedalaman  250  mm.  Perbautan  batuan  tambahan 
mungkin diperlukan. 
11.4.2. Laporan Metode 
Sebelum  memulai  setiap  pekerjaan  bawah  tanah,  kontraktor  harus  mempersiapkan  dan 
menyediakan laporan metode kepada Pemberi Kerja meliputi:  
• Operasi Grouting terkait dengan penunjang utama.  
• Instalasi dan grouting dari rockbolts (baik untuk pola perbautan dan fitur perbautan)  
• Penerapan plain shotcrete (Kelas 2) dan steelmesh  
• Instalasi / pemasangan dan pemblokiran steelribsupports  
• Instalasi / pemasangan dan pemblokiran latticegirdersupports  
• Instalasi / pemasangan sistem pemantauan  
• Kombinasi di atas  
Semua  laporan  metode  harus  disetujui  oleh  Perwakilan  Pemberi  Kerja  sebelum 
dimulainya pekerjaan bawah tanah. 
Tabel 11.2 Ground reference conditions – 3.5 m horseshoe headrace tunnel 

Tunnel  Rock mass 
Support  Desciption  Weathering  Joint Condition  Water Inflow  RQD (%) 
Class    
1  Massive or   fresh to slightly  Slightly rough  Local water  90 to 100 
   moderately jointed  wheathered  surfaces and  inflows or  (Sandstone/ 
separation 
   inter‐bedded     slitstone 
<1mm.  moist rock 
   sandstone/siltstone or     Hard non‐  conditions  >75 
   limestone     softening filling.     (limestone) 
2  moderately jointed or  moderately to  Slickensided  moist rock  75 to 90 
   fractured inter‐bedded   slightly  surfaces or 1 to  conditions  (Sandstone/ 
   sandstone/siltstone or  weathered  5mm continuos     slitstone 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 16 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Tunnel  Rock mass 
Support  Desciption  Weathering  Joint Condition  Water Inflow  RQD (%) 
Class    
   limestone     separation.     50 to 75 
               (limestone) 
3  moderately to highty  moderately to  Slickensided  Water under  50 to 75 
   fractured inter‐bedded   highly  surfaces or 1 to  moderate  (Sandstone/ 
   sandstone/siltstone or  weathered  5mm continuos  pressure  slitstone 
   limestone     separation.     25 to 50 
               (limestone) 
4A  highly  fractured inter‐  highly to slightly  Slickensided  Large water  <25 
   bedded   weathered  surfaces or 1 to  inflow    
   sandstone/siltstone or     5mm continuos       
   limestone     separation.       
 
  extremely fractured  highly to slightly  Completely  Large water  <25 
4B 
   inter‐bedded  weathered  broken ground  inflows    
   sandstone/siltstone or     exhabiting       
   limestone     Slickensided       
         surfaces or 1 to       
         5mm continuos       
         separation.       
Catatan: 

Water  under  Moderate  Pressure.  Air  di  dinding  atau  atap  terowongan  dengan  tekanan  yang  cukup  untuk 
mengeluarkan pecahan karang. 

Large Water Inflow. Inflow air dalam kapasitas pemompaan di muka dan tidak mempengaruhi tunnel sebelumnya. 

Severe  Water  Inflow.  Inflow  air  yang  mendekati  atau  melebihi  kapasitas  pemompaan  pada  wajah  dan  dampak 
negatif tunnel sebelumnya. 

Metode  Laporan  harus  mencakup  prosedur  yang  akan  diadopsi  dalam  hal  masuknya  air 
tanah yang tinggi, atau kerusakan peralatandewatering. 

11.4.3. Jenis Penunjang Utama 
Umum 
Selama  penggalian,  Kontraktor  secara  terus‐menerus  menunjang  lapangan  pekerjaan 
menggunakan  kombinasi  elemen  penunjang  yang  ditunjukkan  oleh  jenis  penunjang 
utama.  Unsur‐unsur  penunjang  meliputi  rockbolts,  shotcrete  dan  steel  sets.  Kontraktor 
dapat  mengajukan  unsur‐unsur  penunjang  lainnya  yang  diperlukan  untuk  stabilisasi 
penggalian terowongan. 
 
Dimana  mesh  diperlukan  untuk  memberikan  dukungan  langsung  untuk  blok  kecil  antara 
rockbolts  sebelum  menerapkan  shotcrete,  mesh  harus  F41  yang  dilas  baja  (yaitu  kawat 
baja  diameter  4  mm  dilas  pada  grid100  mm),  atau  setara.  Sebuah  pelat  depan 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 17 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
tambahanharus  disediakan  untuk  melengkapi  mesh  ke  rockbolts.  Kontraktor  dapat 
mengajukan  metode lain  melengkapi  mesh, atas persetujuan Pemberi Kerja. Jika batuan 
lepas  menumpuk  di  belakang  mesh  maka  harus  dihilangkan  bersama  dengan  mesh 
sebelum shotcreting. 
 
Steel sets juga dapat ditentukan dalam area overbreak yang berlebihan, di mana karena 
kondisi  tanah  di  dinding  terowongan  atau  atap,  steel  sets  (dengan  lagging)  yang 
diperlukan  untuk  mendukung  backfill  di  overbreak  tersebut.  Tidak  ada  packing,  selain 
potongan  kayu,  blok  dan  steel  lagging  untuk  set,  atau  bahan  apapun  selain  beton  akan 
diizinkan untuk tetap tertinggal setiap terowongan lapisan. 
 
Penerapan 
Setelah  masing‐masing  ledakan,  Kontraktor  harus  memeriksa  permukaan  terbuka  dan 
dinding,  serta  mengklasifikasikan  kondisi  massa  batuan  sesuai  dengan  kelas  penunjang 
batuan  pada  Tabel  11.1.  Kontraktor  kemudian  akan  menilai  jenis  dan  pengaturan 
penunjang  utama  yang  diperlukan  untuk  stabilitas  keseluruhan  terowongan,  harus 
memenuhi persyaratan desain minimum yang ditunjukkan dalam Gambar Desain. Rincian 
penunjang  utama  akan  dipasang  di  bagian  terowongan  disampaikan  kepada  Pemberi 
Kerja  dalam  waktu  12  jam  dari  penentuan  disepakatinya  kelas  penunjang  batuan  untuk 
bagian terowongan. 
 
The Contractor shall maintain an up‐to‐date longitudinal geological/geotechnical section, 
including  the  results  of  geological  mapping  and  all  rock  reinforcement  and  support 
measures installed. The record shall be made available for inspection by the Employer, as 
required. Further requirements for monitoring and reporting as contained in Sub‐Clause 
3.10 shall be carried out by the Contractor. 
 
Kontraktor  harus  menyimpan  pembaruan  geologi  potongan  memanjang  /  bagian 
geoteknik,  termasuk  hasil  pemetaan  geologi dan semua  penguatan batuan dan langkah‐
langkah  penunjang  yang  dipasang.  Record  harus  tersedia  untuk  diperiksa  oleh  Pemberi 
Kerja,  sebagaimana  disyaratkan.  Persyaratan  lebih  lanjut  untuk  pemantauan  dan 
pelaporan sebagaimana tercantum dalam Sub‐Bab 11.8 dilaksanakan oleh Kontraktor. 
 
11.4.4. Primary Support Design Approach 
Terowongan penunjang utama harus dibangun sesuai dengan prinsip‐prinsip berikut: 
 Penggunaan  metode  observasional,  dengan  didesain  menjaga  integritas  massa 
batuan  dan  meminimalkan  pergeseran,  untuk  menghindari  kelonggaran  tak 
terbatas dan konsekuensi kehilangan kekuatan massa batuan sekitar terowongan, 
yang menyebabkan pergeseran dan / atau kerusakan tidak dapat diterima. 
 Penggunaan sequencing konstruksi, bersama dengan shotcrete polos, steel mesh 
bertulang (SMR) shotcrete dan rockbolts untuk penunjang awal. Ini adalah sistem 
penunjang yang fleksibel sesuai dengan kondisi tanah yang bervariasi. 
 Penerapan  skema  klasifikasi  massa  batuan  kuantitatif  untuk  menggambarkan 
kualitas massa batuan dan menetapkan kebutuhan penunjang. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 18 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
 Pemantauan  massa  batuan  dan  perilaku  pendukung  selama  konstruksi  untuk 
memungkinkan dukungan paling efektif untuk digunakan 
 Pengalaman sebelumnya 
 
Hal ini dipertimbangkan bahwa mekanisme kegagalan potensial yang paling umum untuk 
memblokir  batuan  fallout  akan  terkait  dengan  orientasi  diskontinuitas  batuan,  termasuk 
bedding,  yang  berkaitan  dengan  keselarasan  terowongan.  Blok  diisolasi  dengan  bedding 
dan sendi yang mungkin fallout, baik karena kelonggaran oleh penggalian atau tegangan 
induksi tinggi di atap terowongan dan dinding. 
 
11.4.5. Shotcrete dan Rock Bolt Penunjang 
Shotcrete  akan  yang  diatur  dalam  Bab  11.6  dari  spesifikasi  ini.  Rock  bolts  dan 
pemasangannya akan yang diatur dalam Bab 11.5 dari spesifikasi ini. 
Secara khusus: 
 Desain  penunjang  harus  dibuat  dengan  ketebalan  minimum  seperti  yang 
tercantum pada gambar desain 
 Penunjang  primer  tidak  akan  melanggar  batas  dalam  batasan  seperti  yang 
didefinisikan oleh A‐line kecuali untuk rockbolt dan hardware 
 Penunjang  pokok  harus  dibangun  tegak  ,  sehingga  dalamnya  permukaan  dalam 
batasan ‐0mm + 100mm dari batas tersebut seperti yang didefinisikan oleh A‐line 
Penyimpangan  maksimum  permukaan  shotcrete  pada  setiap  titik  dari  konsentris  busur 
dengan  profil  terowongan  tidak  akan  melebihi  +/‐  30mm  diukur  melalui  panjang  busur 
dari 1 m. Pengukuran permukaan shotcrete harus dilakukan dengan menempatkan 1.000 
mm diameter disk terhadap permukaan dan pengukuran di pusat disk atau cara‐cara lain 
yang disetujui. 
 
Apabila profil dari permukaan shotcrete tidak sesuai dengan batasan di atas, permukaan 
shotcrete  akan  diperhalus  dengan  shotcrete  atau  beton.  Shotcrete  atau  beton  yang 
digunakan untuk penghalusan harus memenuhi persyaratan kinerja dari shotcrete utama 
terhadap yang disemprotkan. 
 
Untuk  memastikan  aksi  melengkung  dari  shotcrete  penunjang,  di  mana  shotcrete  yang 
ditentukan untuk menjadi lebih besar dariketebalan 75 mm, lapisan primer shotcrete akan 
dibangun  untuk  memastikan  garis  kompresi  tindakan  bebas  dari  diskontinuitas  dan 
penyimpangan. 
 
11.4.6. Steel Rib Penunjang 
Struktural  bagian  baja,  pelat,  pipa  dan  batang  untuk  steel  sets    harus  memenuhi 
persyaratan  AS  /  NZS  3678  dan  AS  /  NZS  3679,  dan  harus  grade  300  atau  lebih  tinggi. 
Pengelasan  harus  memenuhi  AS  1.554,3.  Baut  dan  mur  untuk  splices  baja  harus  grade 
8.8/S sesuai dengan AS 1252. 
 
Jika  memungkinkan,  lapisan  tipis  shotcrete  harus  ditempatkan  di  sekitar  profil 
terowongan sebelum mendirikan steel sets. Apabila penerapan lapisan ini shotcrete awal 
tidak  praktis,  misalnya,  di  mana  ada  masuknya  air  tanah  yang  signifikan,  kemudian 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 19 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Kontraktor  harus  mengajukan  dan  mengambil  metode  alternatif  untuk  menyediakan 
permukaan  yang  memblokir  secara  teratur  untuk  steel  sets.  Untuk  memperhitungkan 
toleransi  konstruksi  dalam  mendirikan  steel  sets,  crown  butt‐joints  dapat  diberikan  baik 
dengan spacer bagian setara dengan baja yang ditetapkan tidak melebihi 300 mm dibuat 
sesuai  dengan  lokasi,  atau  dengan  metode  lain  yang  disetujui.  Setiap  steel  sets  harus 
terikat dengan setiap set yang berdekatan dengan batang ikatan atau tali baja. Batang Ikat 
harus  dijamin  dengan  mur    ganda.  Penyebar  atau  tali  baja  mungkin  tetap  di  tempatnya 
selama lapisan permanen. Dasar dari steel sets harus didukung pada pondasi beton yang 
disesuaikan kedalam invert beton. 
 
Timber harus digunakan dalam jumlah terbatas hanya dalam pemasangan steel sets, dan 
sejauh  dapat  dipraktekkan,  semua  tertinggal  dan  memblokir  /  cribbing  harus  dilakukan 
dengan  shotcrete.  Timber  untuk  memblokir  /  cribbing  dan  lagging  harus  kayu  keras, 
berkualitas  baik,  dan  aman  akan  irisan  steel  setsterhadap  lapisan  shotcrete  awal.  Ruang 
antara bagian belakang steel setsdan batuan harus benar‐benar penuh dengan shotcrete. 
Overbreak  belakang  steel  setsakan  diisi  dengan  shotcrete  untuk  membangun  kembali 
profil  terowongan.  Kelebihan  kayu  lagging  /  pemblokiran  harus  dihapus  sebelum 
shotcreting / concreting, seperti yang diarahkan oleh Perwakilan Pemberi Kerja. 
 
Tujuan  desain  penggunaan  steel  setsadalah  untuk  memungkinkan  konvergensi  terbatas 
tanah  di  sekitar  steel  setssebelum  pembungkusan  shotcrete  penuh.  Oleh  karena  itu, 
pembungkusan shotcrete harus ditempatkan sedekat mungkin dengan muka terowongan. 
 
Kontraktor  harus  menyediakan  minimal  10  steel  sets  lengkap  di  site  setiap  saat  selama 
penggalian terowongan. 
 
11.4.7. Gelagar Kisi Penunjang 
Semua  gelagar  kisi  digunakan  untuk  penunjang  utama  harus  dirancang  oleh  Kontraktor, 
dan ini meliputi desain elemen penunjang / pengaturan dasar untuk gelagar kisi. Gelagar 
kisi terdiri tidak kurang dari dua bar penahan utama, berdimensi dan disusun seperti yang 
ditunjukkan dan dihubungkan dengan kekakuan elemen desain pabrikan atau seperti yang 
ditunjukkan pada gambar. 
 
Gelagar kisi harus dirancang untuk: 
a) Memfasilitasi perakitan cepat dan penempatan 
b) Memfasilitasi  penetrasi  shotcrete  ke  dalam  dan  di  balik  grider,  sehingga 
meminimalkan pembentukan bayangan injeksi 
c) Memberikan pengikat berkualitas baik antara baja dan shotcrete, untuk membentuk 
struktur komposit dalam arti lapisan shotcrete bertulang terus menerus 
d) Untuk menjamin stabilitas terhadap tekuk, jarak maksimum antara elemen kekakuan 
akan kurang dari tiga kali tinggi penampang gelagar 
e) Kisi  grider  akan  dibuat  untuk  memenuhi  izin  minimum  dikelompokkan 
mempertimbangkan ketidaktepatan penempatan selama konstruksi, toleransi materi, 
dan lapisan lendutan setelah instalasi 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 20 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
f) Setiap  bar  penahan  utama  dari  segmen  kisi  gelagar  harus  terdiri  dari  hanya  satu 
bagian dari baja kekuatan tinggi yang memiliki kekuatan luluh dari 480 Mpa atau yang 
lebih kuat 
g) Unsur‐unsur koneksi pada akhir segmen gelagar kisi harus dibuat dari baja struktural 
miring memiliki  kekuatan luluh dari 250  Mpa atau karakteristik kekuatan yang sama 
kuat, atau dilas baja datar yang terjamin 

Gelagar  kisi  harus  dipasang  di  bagian  dalam  pos  dan  didukung  dengan  rockbolts  dan 
dowels  sebagaimana  disyaratkan.  Jarak  rata‐rata  antara  garis  pusat  Gelagar  kisi  harus 
tidak lebih besar dari jarak yang ditetapkan dalam gambar. Gelagar harus dijamin dengan 
menggunakan  rockbolts  dan  blocking  kayu  sementara  untuk  mempertahankan  posisi 
selama shotcreting. Gelagar kisi Individu tidak boleh menyimpang dari garis tengah desain 
yang  ditampilkan  pada  gambar  dengan  lebih  dari  ±  200  mm  dan  sudut  penyimpangan 
maksimum dari garis tengah desain harus 4o. 

Ketika  dibangun,  segmen  gelagar  kisi  individu  tidak  akan  menyimpang  lebih  dari  5o  dari 
sumbu  segmen  yang  berdekatan.  Gelagar  kisi  harus  diisi  dan  ditutupi  dengan  serat 
bertulang  shotcrete  dalam  5  m  dari  permukaan  atau  pada  jarak  lain  dari  permukaan 
sesuai dengan dimensi dan kriteria yang ditampilkan pada gambar. Ujung bagian gelagar 
yang saling tumpang tindih tidak akan diisi dengan shotcrete. 

11.5 ROCK REINFORCEMENT 
11.5.1. Lingkup 

Spesifikasi  ini  menetapkan  persyaratan  minimum  untuk  penyediaan  dan  pemasangan 


rockbolt pada penunjang utama, sekunder dan penunjang permanen dari tunnel, lubang 
dan penggalian Portal. Ini berlaku untuk semua pola dan fitur rockbolts yang dipasang. 

11.5.2. Bahan 
Kontraktor harus: 
 Pasokan  dan  pasang  rock  bolt  dengan  semua  bahan  dan  aksesoris  sesuai 
kebutuhan  pada  gambar  desain  serta  yang  diperlukan  untuk  mengamankan 
penggalian. 
 Semua  prosedur  dan  metode  yang  diadopsi  untuk  pemasangan  rockbolts  sesuai 
dengan rekomendasi pabrikan 

11.5.3. Jenis Rock Bolt 
Rockbolts harus dari produsen ekslusif, dan harus berupa: 

 Mechanically anchored, pre‐tensioned dan groutable bolts, atau 
 Resin anchored dan pre‐tensioned bolts. 

Mechanical  atau  resin  anchor  akan  memberikan  dukungan  langsung  mengikuti  setiap 
peningkatan. Baut harus berupa semen grouting atau selanjutnya akan menjadi resin (set 
lambat)  grouting  dalam  pemasangannya  untuk  memberikan  penguatan  jangka  panjang 
massa batuan. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 21 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Kontraktor  dapat  mengajukan  rockbolts  alternatif,  yang  mungkin  sudah  dikencangkan, 
dan di grouting, dengan umur rencana minimal 50 tahun.  

Setiap rockbolt harus dilengkapi dengan steel face plate yang sesuai dengan persyaratan 
AS 3679 atau ASTM A992 atau setara. 

11.5.4. Pemasangan Batu Tulangan 
Metode pemasangan rockbolt, termasuk peralatan yang diperlukan untuk mengebor dan 
membersihkan  lubang,  untuk  memasang  rockbolt  dalam  lubang  dan  menguji  Anchorge, 
untuk  ketegangan  rockbolt  untuk  beban  aksial  yang  ditentukan,  dan  untuk  mengecor 
rockbolt tersebut, harus sesuai dengan instruksi dari pabriknya. 

Lokasi  untuk  pola  perbautan  harus  ditetapkan  sedemikian  rupa  sehingga  jarak  yang 
ditentukan tidak pernah terlampaui. Toleransi 150 mm akan diizinkan pada jarak rockbolt, 
dan  10o  pada  lokasi  sudut  baut.  Bila  memungkinkan,  semua  lubang  bor  untuk  rockbolts 
harus  tegak  lurus  ke  permukaan  tebing  yang  digali,  atau  diposisikan  untuk 
mengembangkan penguatan tebing maksimal. Setiap lubang rockbolt harus dibor hingga 
diameter seragam untuk seluruh panjang lubang bor. 

Lubang  bor  harus  dibersihkan  dari  semua  stek  bor,  lumpur  dan  puing‐puing  sebelum 
memasukkan  rockbolt  ke  dalam  lubang.  Rockbolt  harus  dipasang  sesegera  mungkin 
setelah penggalian. Minimal, rockbolts harus dipasang seperti ditunjukkan pada Bagian 9 
(Gambar). 

Apabila  grouting  dari  rockbolt  diperlukan,  faceplate  dari  rockbolt  tersebut  harus  secara 
memadai disegel untuk memastikan nat yang terkandung dalam lubang bor.  

Mur  dari  rockbolt  tersebut  harus  dikencangkan  untuk  mencapai  kekuatan  pada  pelat 
jangkar  sekitar  50  kN,  dengan  menggunakan  kunci  momen  atau  jack  aksial  tensioning 
hidrolik.  Mur  dan  benang  harus  dilumasi  dengan  baik.  Kontraktor  diwajibkan  untuk 
bertahan di lokasi, siap untuk segera digunakan, stok rockbolt cukup, dan perangkat keras 
yang terkait untuk menghindari penundaan terhadap pekerjaan. 

Rockbolts harus dipasang di lubang diameter yang cukup untuk menyediakan pelabuhan 
obligasi yang diperlukan,  dan  untuk memberikan  nat semen ketebalan  penutup  minimal 
10 mm di atas mistar rockbolt. Untuk resin grouting rockbolts, diameter lubang bor harus 
sesuai dengan rekomendasi pabrikan. 

11.5.5. Grouting Rock Reinforecement 
Grouting  semen  rockbolt  akan  lengkap  setelah  instalasi  awal.  Campuran  nat  harus 
dirancang  untuk  mencapai  28  hari  30  Mpa  kuat  tekan  saat  diuji  sebagai  cubes  mortar 
sesuai  dengan  AS  1,012.18.  Nat  semen  akan  konsisten  dengan  rasio  air  /  semen  berat 
0.35‐0.4.  Nat  harus  disuntikkan  melalui  lubang  injeksi  nat  di  kepala  baut  untuk 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 22 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
memberikan  annular  cakupan  yang  lengkap  di  dalam  dan  di  luar  bar  rockbolt.  Tekanan 
grouting  harus  tidak  lebih  dari  yang  dibutuhkan  untuk  mengisi  lubang  bor  dengan  nat, 
tetapi harus cukup untuk menggantikan air tanah dari dalam lubang bor. Grouting harus 
dilanjutkan sampai aliran konsisten nat muncul dari lubang di pelat bantalan.  
Hanya  semen  baru,  bebas  dari  gumpalan,  yang  boleh  digunakan.  Stok  semen  yang 
memadai  akan  dimasukkan  di  mixer  untuk  memastikan  tidak  ada  gangguan  terhadap 
kelangsungan  operasional  grouting.  Zat  aditif  tidak  boleh  digunakan  kecuali  dapat 
menunjukkan  bahwa  aditif  tidak  akan  merusak  sifat‐sifat  nat  atau  komponen  rockbolt 
lainnya.  Air  yang  digunakan  dalam  grout  harus  air  yang  dapat  diminum  dan  bebas  dari 
minyak, ACIC, alkali, organik atau nabati materi. Air tidak boleh berisi lebih dari 500 mg/l 
ion  klorida.  Suhu  air  diukur  pada  mixer  tidak  boleh  kurang  dari  5oC  dan  tidak  lebih  dari 
27oC. 
Batching  ke  mixer  harus  dilakukan  dengan  mengukur  air  dengan  volume  dan 
menggunakan seluruh sak semen. Bahan aditif harus sudah diukur ke takaran per batch. 
Proses  pencampuran  nat  akan  memanfaatkan  sistem  sirkulasi  ulang  di  mana  nat  terus 
dibuang  dan  diisi  ulang  ke  dalam  unit  pencampuran  selama  periode  pencampuran. 
Setelah  pencampuran,  nat  harus  dijaga  secara  terus  menerus  diaduk.  Grout  harus 
melewati  nominal  1,2  mm  saringan  sebelum  injeksi.  Nat  harus  digunakan  sesegera 
mungkin  setelah  pencampuran  bagaimanapun  juga  dalam  waktu  30  menit  dari 
penambahan semen. Grouting harus dilakukan dengan menggunakan jalur suplai langsung 
menghubungkan pompa nat ke tabung rockbolt nat. 
Fitting  Grout  harus  terletak  secara  tepat  untuk  mengontrol  injeksi  grout  ke  tabung 
rockbolt  nat.  Pemasangan  di  ujung  lubang  meliputi  katup  pemakaian  untuk  pengukur 
tekanan. Alat pengukur tekanan harus di kalibrasi. 
11.5.6. Quality Control 
Kontraktor  diwajibkan  untuk  mempertahankan  Rencana  Kualitas  menunjukkan 
kesesuaian  dengan  spesifikasi.  Percobaan  lapangan  harus  diselesaikan  sebelum 
penggalian  terowongan.  Semua  catatan  harus  tersedia  untuk  diperiksa  oleh  Pemberi 
Kerja. Minimum, percobaan dan ujian berikutnya, harus terdiri dari: 
•  Percobaan  batch  nat  menggunakan  pencampuran  dan  proporsi  peralatan  yang 
diusulkan dan uji minimum yang diperlukan kuat tekan, yaitu. 30 Mpa pada 7 hari 
• Semen harus Tipe I semen biasa sesuai dengan AS 3972 atau ASTM C150 atau setara 
• Sampling  dan  pengujian  nat  semen  harus  sesuai  dengan  AS  1012  atau  ASTM  C172 
atau setara untuk memastikan minimum kekuatan tekan yang diperlukan tercapai 
• Bleed  tidak  akan  melebihi  2%  dari  volume  pada  90  menit  setelah  pencampuran 
ketika diukur pada 20oC dalam silinder tertutup dari 100 mm diameter dan dengan 
kedalaman nat dari 300 mm. Bleed tidak akan melebihi 4% dari volume setiap saat. 
Air yang dipisahkan harus diserap dalam waktu 24 jam. 
• Total  konten  klorida  dari  grout  berasal  dari  semua  sumber  tidak  akan  melebihi  0,1 
persen dari berat semen 
• Tes  enkapsulasi  nat  semen  harus  dilakukan  untuk  menunjukkan  bahwa  campuran 
grout yang diusulkan dapat berhasil ditempatkan sepenuhnya di sekitar pasar ini. Ini 
akan  meliputi  penggunaan  bahan  yang  sama  (baut,  campuran  nat)  dan  peralatan 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 23 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
yang  akan  digunakan  dalam  tunnel,  untuk  mengecor  baut  dalam  tabung  PVC 
transparan  tersuspensi  dalam  posisi  vertikal.  Setelah  nat  set,  tabung  akan  dibelah 
untuk  memeriksa  cakupan  dan  keberadaan  rongga.  Tes  ini  akan  digunakan  untuk 
memilih bahan dan peralatan yang sesuai untuk tes enkapsulasi nat lengkap. 
• Kontraktor  harus  menyediakan  personil  dan  peralatan  untuk  set‐up  dan 
mengoperasikan  rockbolt  tes  pull‐out  pada  baut  ungrouted.  Pemberi  Kerja  dapat 
meminta  tes  pull‐out  pada  rockbolt  setiap  saat  selama  konstruksi.  Pull‐out  harus 
dilakukan oleh Kontraktor di hadapan Perwakilan pemberi kerja. 
• Saat diuji, rockbolt harus mampu menahan beban uji setara pull‐out sampai 80% dari 
kapasitas akhir dari rockbolt seperti yang ditentukan oleh produsen. 
• Sebagai  panduan  untuk  frekuensi  pengujian,  uji  pull‐out  harus  dilakukan  pada  lima 
pertama  baut  prategang  (sebelum  semen  grouting).  Tes  berikutnya  harus  dilakukan 
di  berbagai  kondisi  tanah  yang  dihadapi  seperti  yang  diarahkan  oleh  Perwakilan 
pemberi kerja. Sekitar 1% sampai 2% dari semua rockbolts terpasang harus diuji. 
• Jika  penggalian  berlanjut  dengan  peledakan,  setiap  rockbolts  berjarak  3  meter  dari 
muka harus diuji ulang 
• Jika  rockbolt  gagal  tes  hal  itu  harus  disesuaikan  atau  diganti  untuk  memperbaiki 
beban yang ditunjuk 
• Sebuah  laboratorium  pengujian  yang  diakui  harus  digunakan  untuk 
mengkalibrasipengujian jack dan alat pengukur uji yang digunakan untuk uji pull‐out 
• Beban  harus  diterapkan  dalam  setidaknya  empat  kenaikan,  tidak  lebih  dari  50  kN, 
sampai  maksimum  yang  diperlukan  beban  uji  untuk  rockbolt  tersebut.  Sebanyak  3 
siklus  beban/dispalement  berturut‐turut  dilaksanakan  dan  beban  harus 
dipertahankan selama setidaknya 10 menit pada beban uji maksimum. 
• Kualitas  semen  grouting  rockbolts,  termasuk  efektivitas  nat  enkapsulasi  harus 
diverifikasi  dengan  inspeksi  dan  pengujian  record  termasuk  observasi  selama 
pemasangan  rockbolts  dan  metode  yang  digunakan  untuk  nat  pencampuran  dan 
grouting. 
 
11.6 SHOTCRETE 
11.6.1. Lingkup 
Butir  ini  menetapkan  persyaratan  untuk  penyediaan  dan  penerapan  shotcrete  untuk 
terowongan  headrace  proyek  PLTM  Lau  Gunung.  Semua  shotcrete  digunakan  untuk 
lapisan  pada  terowongan  dan  mendukung  portal  yang  akan  diproduksi  oleh  proses 
campuran  basah.  Lapisan  shotcrete  akan  bervariasi  dalam  ketebalan  tetapi  selalu  lebih 
besar dari 40 mm. 

11.6.2. Material 
Umum 
Plain shotcrete, steel mesh reinforced shotcrete (SMRS) dan / atau steel fibre reinforced 
shotcrete (SFRS) harus digunakan. Bahan untuk shotcrete harus memenuhi AS 1379 atau 
ASTM C94 atau setara. 

Semen 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 24 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Semen  yang  digunakan  dalam  pekerjaan  harus  dicampur  semen  Tipe  I  dan  harus 
memenuhi persyaratan AS 3972 atau ASTM C150 atau setara. 
Bahan semen tambahan seperti fly ash, slag dan silica fume harus sesuai dengan AS 3582 
atau ASTM C618. 
Agregat 
Semua  agregat  yang  digunakan  dalam  pekerjaan  harus  sesuai  dengan  AS  2,758.1  atau 
ASTM C33 dan gradasi gabungan dari semua agregat kasar dan halus di dasar campuran 
harus sesuai dengan Tabel 11.3 di bawah ini: 

Tabel 11.3. Kadar Persyaratan Gabungan Agregat Kasar dan Agregat Halus  

Sieve Aperture
% Passing
(mm)
13.20 100
9.50 88 – 99
6.70 77 – 91
4.75 70 – 85
2.36 50 – 70
1.18 35 – 55
0.60 20 – 35
0.30 8 – 20
0.15 2 – 10
0.08 0–2
 

Hanya agregat kasar dengan nominal maksimum 10 mm yang dapat digunakan. 

Penyerapan air untuk agregat kasar harus dibatasi maksimum sebesar 2,5% kecuali untuk 
kerak agregat di mana batas maksimum harus 6%. 

Penyerapan air untuk agregat halus harus dibatasi maksimum sebesar 2,5%. 

Setiap pasir yang diproduksi dan digunakan sebagai agregat halus harus dihancurkan dari 
batu. Agregat ini harus non‐plastik saat diuji sesuai dengan AS 1,289.3 atau ASTM C117. 

All  aggregate  intended  for  use  in  concrete  shall  be  petrographically  examined  in 
accordance with ASTM C295. The contractor shall eliminate without further testing those 
aggregates containing obviously reactive components. 

Semua  agregat  untuk  digunakan  pada  beton  harus  secara  petrografi  diperiksa  sesuai 
dengan ASTM C295. Agregat yang jelasmengandung komponen reaktif harus dihilangkan 
tanpa pengujian lebih lanjut. 

Air 
Air untuk shotcrete harus sesuai dengan AS 1379 atau ASTM C94 

Campuran 
Campuran harus sesuai dengan AS 1478 atau ASTM C494 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 25 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Bahan  tambahan  yang  mengandung  klorida  tidak  boleh  digunakan.  Bahan  tambahan 
harus  tidak  korosif  terhadap  baja  dan  tidak  akan  mendorong  efek  merugikan  lainnya 
seperti retak dan pengikisan (spalling). 

Pengujian  kuat  tekan  semua  semen  dengan  set  mempercepat  pencampuran  harus 
dilakukan sesuai dengan AS 2,350.11 atau ASTM C150 

Penggunaan water glass tidak diizinkan sebagai campuran shotcrete. 

Baja Tulangan 
Steel mesh reinforcement shall be welded wiremesh complying with ASTM A185 or ASTM 
A497, smooth or deformed. Steel mesh shall not be less than F41 welded steel mesh (i.e. 
4 mm diameter steel wire welded on a 100 mm grid). 

Baja  tulangan  harus  dilas  wire  mesh  sesuai  dengan  ASTM  A185  atau  A497  ASTM,  halus 
atau  cacat.  Baja  Tulangan  tidak  boleh  kurang  dari  F41  dilas  baja  (yaitu  kawat  baja 
diameter 4 mm dilas pada 100 mm). 

Baja  tulangan  harus  tetap  dalam  posisi  melalui  penggunaan  proprietary  (yaitu  yang 
diproduksi)  rockbolts  baja  kecil,  khusus  dirancang  untuk  tujuan  tersebut.  Rock  bolt 
proprietary  harus  dipasang  di  posisi  di  rock  mass  dan  diterapkan  pada  lapisan  pertama 
shotcrete. Mesh kemudian harus dipaksa ke posisi (sedekat mungkin ke lapisan pertama 
shotcrete)  dan  ditahan  pada  posisinya  dengan  keterikatan  terhadap  rockbolts.  Lapisan 
kedua shotcrete kemudian akan diterapkan sepenuhnya menyelimuti baja tulangan pada 
shotcrete.  Penanganan  khusus  harus  dilakukan  selama  shotcreting  untuk  memastikan 
bahwa  semua  kawat  dari  mesh  sepenuhnya  terbungkus  dalam  shotcrete  dan  rongga  di 
balik jeruji besi dihilangkan. 

11.6.3. Kriteria Kinerja 
Kecuali  ditentukan  lain  dalam  gambar  desain,  shotcrete  yang  akan  digunakan  dalam 
pekerjaan harus memenuhi kriteria kinerja termasuk dalam Tabel 11.4. 

Tabel 11.4. Kriteria Kinerja Shotcrete 

Plain Shotcrete –  SFR atau SMR 
Kriteria  Uji Metode  Waktu 
Kelas 2  Shotcrete – Kelas 1 
Minimum Cementitious Content  ‐ ‐ 400 kg/m3  400 kg/m3
Maximum Water / Cement Ratio  ‐ ‐ 0.45 berat  0.45 berat
Maximum Slump  AS 1012.3/ASTM 
‐  70 mm   70 mm  
C143 
AS 1012.9/ASTM  7 hari 20 MPa  25 MPa
Minimum Compressive Strength 
C150  28 hari 30 MPa  35 MPa
AS 1012.11/ASTM  7 hari N/A  2.5 MPa
Minimum Flexural Strength 
C150  28 hari N/A  3.5 MPa
 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 26 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Sulfat  dan  kandungan  ion  klorida  harus  ditentukan  dengan  pengujian  mengeraskan 
shotcrete sesuai dengan AS 1012 Metode 20. 

Kandungan  sulfat  dari  shotcrete  sebagaimana  yang  diterapkan,  dinyatakan  sebagai 


persentase massa dari SO3 asam‐larut untuk semen, tidak akan lebih besar yang 5%. Jika 
lebih  besar,  maka  jenis  semen  atau  desain  campuran  disesuaikan  untuk  mematuhi 
ketentuan ini. 

Massa  ion  klorida  asam‐larut  per  satuan  volume  shotcrete  yang  ditempatkan  tidak 
melebihi  0.8  kg/m3  untuk  SFR  tanpa  tulangan  konvensional  atau  0.3  kg/m3  untuk  SFR 
dengan tulangan konvensional. 

Penyusutan  spesimen  shotcrete  terbuat  dari  campuran  dasar  setelah  3  minggu  periode 
pengeringan  tidak  melebihi  560  microstrain,  dan  setelah  8  minggu  periode  pengeringan 
tidak melebihi 800 microstrain. 

Penyusutan  spesimen  shotcrete  harus  disiapkan  dan  diukur  sesuai  dengan  AS  1.012,13 
atau  ASTM  C150.  Minimum  kekuatan  SFR  shotcrete,  ketika  diuji  sesuai  dengan  ASTM 
C1018‐89 harus 375 joule. Kepadatan mengeraskan shotcrete termasuk dalam Pekerjaan 
pada  28  hari,  ditentukan  sesuai  dengan  AS  1.012,12  atau  ASTM  C138  pada  sampel 
dipotong dari pekerjaan yang sesuai dengan AS 1.012,14, tidak kurang dari 98% dari: 

1. Bahwa sampel yang sesuai diambil dari mixer  transit yang sesuai dengan AS 1.012,8 
atau ASTM C172 
2. Kepadatan shotcrete yang diberikan dalam pengajuan perencanaan campuran 
 
Kriteria Kinerja dapat bervariasi sesuai dengan kondisi lokasi yang telah disepakati antara 
Kontraktor  dan  Pemberi  Kerja,  ketentuan,  persyaratan  minimum,  nilai‐nilai  di  atas 
terpenuhi. 
 
11.6.4. Design Mix 
Kontraktor harus merancang campuran shotcrete. Hal ini harus mencakup produksi setiap 
campuran shotcrete dengan bahan tambahan yang diperlukan seperti yang diusulkan oleh 
Kontraktor.  Zat  aditif  seperti  microsilica  dapat  digunakan,  jika  diperlukan,  untuk 
meningkatkan adhesi dan kekuatan sifat. 
 
Kontraktor,  terlebih  dahulu  mengembangkan  campuran  shotcrete  dengan  persyaratan 
spesifikasi  ini  dan  menyerahkan  rincian  campuran  ini,  termasuk  konstituen  material, 
campuran  desain  dan  hasil  tes  untuk  desain  campuran  untuk  Pemberi  Kerja.  Kontraktor 
wajib  uji  coba  campuran  shotcrete,  dan  memenuhi  persyaratan  spesifikasi  ini,  sesuai 
kesepakatan  dengan  Pemberi  Kerja,  sebelum  shotcrete  apapun  ditempatkan  dalam 
pekerjaan. 
 
11.6.5. Pabrik dan Peralatan 
Pabrik  akan  menjadi  efisien  dan  dapat  diandalkan,  secara  otomatis  atau  semi‐otomatis 
dikendalikan batching plant.  

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 27 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Alat  ukur  harus  dikalibrasi  sesuai  dengan  AS  1379,  Klausul  3.2.2.  Kontraktor  harus 
menyimpan  catatan  hasil  lengkap  dari  semua  kalibrasi  dan  wajib  menyesuaikan, 
memperbaiki  atau  mengganti  alat  pengukur,  yang  tidak  memenuhi  persyaratan  untuk 
akurasi.  
Setiap  mixer  yang  digunakan  harus  memiliki  sertifikat  uji  yang  menunjukkan  kepatuhan 
dengan AS 1379. 
 
11.6.6. Supply, Produksi dan Pengiriman 
Kontraktor harus mengusulkan metode penilaian  produksi yang  relevan ke pabrik sesuai 
dengan kriteria AS 1379 Bagian 4. 
 
Kadar air agregat halus dan kasar akan ditentukan setiap hari selama produksi dan kapan 
saja  shotcrete  perubahan  kondisi.  Sesuai  koreksi  harus  dilakukan  dengan  massa  semua 
agregat  dan  air  ditambahkan  ke  dalam  campuran  untuk  mencapai  air  yang  tepat  untuk 
semen  rasio.  Agregat  tidak  akan  batched  untuk  shotcrete  ketika  air  bebas  menetes  dari 
agregat.  Tidak  ada  air  harus  ditambahkan  ke  dalam  campuran  setiap  saat,  selain  itu 
ditentukan dalam campuran desain disetujui. 
 
Setelah  menyelesaikan  pencampuran,  shotcrete  harus  secara  terus  menerus  diaduk 
sampai benar‐benar habis. Kecepatan agitasi harus seperti yang ditentukan oleh pabrikan 
peralatan  dan  tepat  untuk  desain  campuran.  Seluruh  isi  dari  mixer  harus  habis  sebelum 
mixer dibebankan dengan batch baru. 
 
Penurunan  setiap  batch  shotcrete  dikirim  ke  peralatan  shotcreting  harus  ditentukan 
sesuai  dengan  AS  1379  atau  ASTM  C143.  Penurunan  untuk  setiap  campuran  harus 
ditentukan  dari  uji  lokasi.  Jika  tes  penurunan  gagal,  tes  penurunan  kedua  harus  segera 
dilakukan. Jika tes penurunan kedua gagal shotcrete harus ditolak. 
 
Penambahan  superplasticizer  harus  dikontrol  dengan  ketat.  Jika  superplasticizer 
tambahan  yang  ditambahkan  ke  dalam  campuran  tes  penurunan,  tes  penurunan  harus 
diulang sebelum batch yang diterapkan pada pekerjaan. 
 
11.6.7. Site Trials and Tests 
Uji  coba  Site  harus  dimulai  cukup  awal  untuk  memastikan  bahwa  campuran  shotcrete 
yang  diperlukan  ini  dikembangkan  dan  pengujian  uji  coba  selesai  dan  diterima  tidak 
kurang dari 14 hari sebelum dimulainya pekerjaan diprogram shotcreting. 
 
Uji  coba  shotcrete  harus  dilakukan  untuk  masing‐masing  shotcrete  campuran  yang 
diusulkan  untuk  pembangunan.  Dalam  hal  sumber,  kualitas  atau  proporsi  setiap 
komponen dalam campuran shotcrete yang diubah, percobaan site harus dilakukan untuk 
campuran dimodifikasi. 
 
Semua panel uji harus diambil dari shotcrete yang dilakukan setelah penambahan semua 
bahan tambahan. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 28 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Untuk  setiap  campuran  yang  diusulkan,  dan  untuk  setiap  metode  penempatan, 
Kontraktor  harus  menyemprot  dua  panel  persegi  dibentuk  untuk  pengujian  kompresi. 
Panel  akan  memiliki  dimensi  internal  750  mm  x  750  mm  x  150  mm.  Salah  satu  dari 
masing‐masing  harus  diposisikan  dan  disemprotkan  dalam  posisi  vertikal.  Selain  itu,  dua 
panel  bulat  harus  dibuat  untuk  setiap  campuran  SFRS  diusulkan  untuk  pengujian 
kekuatan. 
 
Sembilan sampel (9) inti harus diambil dari setiap panel ke arah penyemprotan. Sampel uji 
inti  harus  antara  60‐80  mm  diameter  dan  harus  memiliki  rasio  tinggi  /  diameter  dalam 
kisaran 1,5 hingga 2,0 setelah capping. Core sampel tidak akan diambil dalam 125 mm dari 
tepi panel. 
Inti  dijamin  akan  diawetkan  sampai  digunakan  untuk  tes  kompresi.  Metode  untuk 
mengamankan, mengawetkan dan menyiapkan sampel harus sesuai dengan AS 1.012,14 
atau ASTM C31. 
 
Spesimen  harus  disiapkan  untuk  mengukur  penyusutan  sesuai  dengan  AS  1.012,13  atau 
ASTM C31. 
Tes  kuat  tekan  harus  dilakukan  pada  sampel  inti  dijamin  dari  masing‐masing  panel  uji 
sesuai  dengan  Tabel  11.5  di  bawah  ini.  Pengujian  tekan  core  shotcrete  harus  sesuai 
dengan AS 1.012,9 atau ASTM C42. 
Tabel 11.5. Uji Kuat Tekan Panel Cores 

Period of Shotcreting of Trial  Number of cores to be Tested 
Panel  (per panel) 
Panel 
Regular Panel  3 days  3 

Regular Panel  7 days  3 

Regular Panel  28 days  3 

     

Vertical Panel  3 days  3 

Vertical Panel  7 days  3 

Vertical Panel  28 days  3 
 
Kuat  tekan  campuran  shotcrete  akan  diterima  jika  kekuatan  tekan  core  sesuai  dengan 
salah satu dari berikut: 
 Setiap inti memiliki kuat tekan sama dengan atau saringan dari yang ditentukan. 
 Rata‐rata  kuat  tekan  sama  dengan  atau  lebih  besar  dari,  yang  ditentukan  dan 
perbedaan antara kekuatan semua core di set uji kurang dari 20% dari kekuatan 
rata‐rata yang ditetapkan uji. 
Tes  kekuatan  dilakukan  pada  setiap  SFR  panel  putaran  shotcrete  sesuai  dengan  ASTM 
C1018‐89. Minimum kekuatan shotcrete harus menjadi 375 joule. 
Kepadatan  setiap  sampel  inti  diperoleh  dari  panel  uji  harus  sesuai  dengan  persyaratan 
yang ditetapkan dalam Klausul 3.6.3. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 29 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Kontraktor  harus  menyerahkan  rincian  dan  hasil  uji  coba  untuk  menunjukkan  bahwa 
kinerja  campuran  beton  dinominasikan  memenuhi  persyaratan  yang  ditetapkan  dalam 
spesifikasi ini. 
Kontraktor  harus  menyerahkan  kepada  Pemberi  Kerja,  dalam  waktu  tujuh  hari  setelah 
menerima mereka, hasil tes sebagai berikut: 
Test Panel Details 
1. Jumlah dan ukuran panel uji  
2. Desain campuran yang digunakan dalam setiap panel uji  
3. Jenis dan dosis nozzle yang ditambahkan pada bahan tambahan 
4. Diperlukan dan ketebalan yang sebenarnya  
5. Deskripsi produk jadi  
6. Deskripsi intern cut surface  
7. Target  penurunan  dan  penurunan  yang  sebenarnya  diukur  sesuai  dengan  AS  1379 
atau ASTM C143 
 
Test Result from Site Trials 
1. Compressive Strength 
2. Toughness 
3. Density 
4. Slump 
5. Shrinkage 
 
11.6.8. Surface Preparation 
Setelah persiapan dan segera sebelum penyemprotan, permukaan untuk shotcrete harus 
dibersihkan dan dibasahi dengan udara dan air. Dalam prakteknya, permukaan batu harus 
bebas  dari  air  mengalir  atau  merembes  melalui  permukaan  menjadi  shotcrete  segera 
sebelum  shotcrete  diterapkan.  Air  harus  diarahkan  dengan  menggunakan  pipa  atau 
metode lain yang disetujui. 
 
Lubang  bor  harus  disediakan  pada  shotcrete,  atau  pipa  PVC  diinstal  melalui  shotcrete, 
untuk menghindari terbentuknya tekanan air di balik shotcrete tersebut. 
Longgar  atau  pecah  tebing,  puing‐puing  batuan,  tanah  atau  material  lepas  lainnya  dan 
setiap  lapisan  mintak  atau  zat  lainnya  harus  dihapus  dari  permukaan  yang  akan 
dishotcrete.  Materi  dalam  lapisan  tanah  liat  atau  defect  geologi  lainnya  harus  dipotong 
kembali  ke  kedalaman  minimal  250  mm  untuk  memberikan  kunci.  Kontraktor  harus 
berhati‐hati  untuk  memastikan  bahwa  semua  rongga  tersebut  benar‐benar  ditimbun 
dengan shotcrete. 
 
Permukaan  shotcrete  yang  ada  harus  dibersihkan  untuk  menghilangkan  spalled,  retak, 
menurun,  longgar  tidak  kokoh,  dan  /  atau  terkontaminasi  kimia  shotcrete  sampai 
permukaan yang baik dan tidak terkontaminasi. 
 
 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 30 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
11.6.9. Application 
Semua  peralatan  shotcreting  harus  mampu  menghasilkan  shotcrete  yang  sesuai  dengan 
persyaratan  spesifikasi  ini.  Peralatan  shotcrete  harus  mampu  memasukkan  bahan  untuk 
selang  pengiriman  pada  tingkat  yang  seragam,  dengan  ejeksi  dari  nosel  pada  kecepatan 
yang  memaksimalkan  kepatuhan,  kualitas,  dan  pemadatan  dan  meminimalkan  Rebound 
dan overspray. 
 
Sebuah pemasangan booming atau perangkat serupa harus disediakan untuk spray nozzle 
setiap saat. 
Selang  Pengiriman  harus  memiliki  diameter  minimal  1.33  kali  panjang  maksimal  lima 
ukuran maksimum agregat, dipilih yang lebih besar kecuali tes telah membuktikan bahwa 
selang diameter yang lebih kecil bisa semprotkan shotcrete tanpa penyumbatan. 
 
Ketika  menempatkan  shotcrete,  perawatan  harus  dilakukan  untuk  menghasilkan 
keseragaman, beton tekstur padat disemprot dan tertutup bahkan permukaannya. Untuk 
lapisan  shotcrete  tebal,  beton  disemprotkan  diterapkan  dalam  dua  atau  lebih  lapisan 
untuk mencegah pemisahan.  
 
Penempatan  akan  dimulai  di  bagian  bawah  vertikal,  dan  dekat  permukaan  vertikal,  dan 
ketebalan  penuh  shotcrete  akan  diterapkan  sampai  ke  bawah  sebelum  mengaplikasikan 
shotcrete apapun ke permukaan di atas, atau overhead. 
Jarak  nosel  dari  pekerjaan  harus  antara  600  mm  dan  1.500  mm  dan  nozel  tidak  dapat 
dimintai  tegak  lurus  terhadap  permukaan  aplikasi.  Ketika  penyemprotan  di  sekitar 
tulangan, balok kisi atau barang‐barang lainnya tertanam, nosel dapat ditempatkan lebih 
dekat dan pada suatu sudut guna memudahkan pembungkusan. 
 
11.6.10. Curing 
Semua  permukaan  shotcrete  harus  dieramkan  dengan  curing  basah  atau  dengan 
menggunakan  pemeraman  senyawa.  Kedua  jenis  metode  pemeraman  memerlukan 
permukaan  beton  harus  dipertahankan  pada  suhu  tidak  kurang  dari  5oC  selama  periode 
pemeraman. 
Untuk pemeraman basah, shotcrete dapat ditutupi dengan kanvas, goni, lembaran plastik 
atau  bahan  lain  yang  cocok  yang  tersedia  agar  tetap  terus  basah.  Air  yang  digunakan 
untuk pematangan harus sesuai dengan AS 1379 atau ASTM C31. Pemeraman basah harus 
diterapkan  ke  permukaan  segera  setelah  selesai  aplikasi  dan  melangsungkan  operasi 
finishing. 
 
Senyawa  pemeraman  harus  memenuhi  persyaratan  AS  3799  atau  ASTM  C309.  Untuk 
masing‐masing  senyawa  pemeraman  diusulkan  untuk  digunakan  dalam  pekerjaan, 
Kontraktor  harus  memberikan  Sertifikat  Compliance  dari  pemasok,  didukung  oleh 
sertifikat  uji  dari  laboratorium  dengan  pendaftaran  NATA  atau  setara,  yang  menyatakan 
bahwa senyawa pemeraman sesuai dengan spesifikasi ini. 
 
Senyawa pemeraman harus diterapkan dengan menggunakan penyemprotan halus pada 
tingkat  yang  tertera  pada  sertifikat  kesesuaian,  atau  pada  tingkat  0.2  liter/m2  lapisan, 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 31 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
dipilih  yang  lebih  besar.  Dua  lapisan  harus  diterapkan  pada  tingkat  penuh.  Senyawa 
pemeraman  harus  diterapkan  pada  permukaan  segera  setelah  selesai  semua  operasi 
finishing.  Waktu  antara  setiap  lapisan  harus  sesuai  dengan  rekomendasi  pabrikan,  atau 
atas dasar aplikasi trial. 
 
11.6.11. Construction Testing 
Kontraktor  wajib  melakukan  program  pengujian  selama  produksi  shotcrete  untuk 
menentukan kuat tekan dan densitas dari shotcrete secara in situ dan ketebalan lapisan 
shotcrete. 
 
Panel  harus  dilakukan  selama  konstruksi  dengan  cara  yang  sama  seperti  untuk  uji  coba 
pra‐konstruksi dan diuji kuat tekan. Setidaknya dua panel uji harus dibangun untuk setiap 
1,000m2 dari shotcrete yang diterapkan dan disusun oleh orang nozzle melakukan operasi 
shotcreting  normal.  Uji  lentur  tunggal  dan  tiga  uji  tekan  dilakukan  dari  masing‐masing 
panel uji. 
 
Ketebalan  shotcrete  harus  diuji  oleh  pengeboran  satu  lubang  setiap  250m2.  Jika  setiap 
shotcrete  kurang  dari  100%  dari  ketebalan  tertentu,  ketebalan  harus  dibuat  sesuai 
kesepakatan dengan Pemberi Kerja. Kontraktor harus mengisi kembali lubang bor dengan 
dry‐pack mortir. 
 
Secara  keseluruhan  pemeriksaan  visual  dari  shotcrete  selesai  akan  dilakukan  untuk 
kerusakan,  termasuk  terdengar  oleh  palu  seorang  ahli  geologi  untuk  delaminasi  dari 
shotcrete dari batu. Semua kekurangan harus diperbaiki. 
Semua  personel  yang  terlibat  dalam  operasi  shotcreting  harus  dilatih  dan  mahir  dalam 
tugas‐tugas  mereka.  Prosedur  kerja  standar  harus  diproduksi  untuk  mencakup  semua 
aspek  dari  operasi  shotcreting  yang  akan  didukung  dengan  pelatihan  personil  dalam 
praktek  operasi  yang  aman  untuk  peralatan,  persyaratan  perawatan  harian,  persiapan 
permukaan dan teknik aplikasi shotcrete. 
Kontraktor  harus  menyerahkan  kepada  Pemberi  Kerja,  dalam  waktu  tujuh  hari  setelah 
menerima, hasil tes untuk: 
1. Compressive Strength 
2. Density 
3. Slump 
4. Thickness of lining 
 
Shotcrete dianggap non‐conforming dimana salah satu sifat sampel dan diuji tidak sesuai 
dengan Persyaratan Pemberi kerja. 
 
11.7 PERMANENT SUPPORT 
11.7.1. Lingkup 
Spesifikasi  ini  mencakup  konstruksi  dari  support  permanen  dan  lapisan  akhir  untuk  Lau 
Gunung headrace tunnel dan surge shaft. Support permanen terdiri dari nominal pondasi 
tanpa perkuatan secara in situ lapisan beton dan diperkuat lapisan beton. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 32 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Kontraktor  harus  merancang  tulangan  baja  pada  bagian  bertulang  dari  lapisan 
terowongan  permanen,  dengan  mempertimbangkan  beban.  Minimum  penguatan  harus 
sesuai dengan Pasal 4, Bagian 1, Pasal 1.25. Dalam Pengusulan untuk  penguatan lapisan 
permanen harus disetujui oleh Perwakilan Pemberi Kerja. 
Persyaratan spesifikasi untuk semua pekerjaan beton yang terdiri dari lapisan permanen 
harus sesuai dengan Ayat 2.8, Part 2 (Pekerjaan Sipil). 
11.7.2. Laporan Metode 
Kontraktor  harus  menyerahkan  pernyataan  metode  untuk  penempatan  lapisan  beton 
permanen  setidaknya  6  minggu  sebelum  dimulainya  dijadwalkan  pekerjaan  lapisan. 
Pernyataan Metode meliputi keduanya, lapisan beton nominal pondasi tanpa perkuatan, 
dan diperkuat lapisan beton, dan meliputi: 

 Rincian  sistem  bekisting  yang  diusulkan  untuk  digunakan  dalam  terowongan 


termasuk pengendalian selama pengecoran 
 Proposal  untuk  menempatkan  dan  pemasangan  penguatan  dalam  beton 
bertulang berjajar bagian terowongan 
 Metode yang diusulkan untuk menyalurkan beton pada muka pengecoran dalam 
kondisi yang bisa diterapkan 
 Metode penempatan dan pemadatan beton di terowongan bekisting 
 Stripping terowongan bekisting termasuk yang diusulkan saat pengupasan  
 Metode yang diusulkan untuk kontrol retak pada lapisan beton 
 Metode yang diusulkan untuk memperbaiki setiap cacat pada pengecoran seperti 
honey‐combing, dll 
 
11.7.3. Peralatan dan Bahan 
Sistem bekisting untuk lapisan terowongan harus dikonfigurasi untuk mencapai toleransi 
maksimum di semua tempat di dalam permukaan lapisan beton ‐5 mm / +10 mm. Sistem 
bekisting  harus  dikonfigurasi  untuk  memungkinkan  pengupasan  awal  bentuk  tanpa 
merusak permukaan lapisan beton. Sistem bekisting harus memiliki kekakuan yang cukup 
untuk  memungkinkan  pemadatan  lengkap  lapisan  beton  tanpa  deformasi  terlihat  atau 
perubahan keselarasan. 
11.7.4. Pelapisan Beton 
Beton  untuk  lapisan  terowongan  permanent  harus  Kelas  A  (30  MPa)  atau  Kelas  AW  (30 
MPa) sesuai dengan Clause 2.8, Part 2 (Pekerjaan Sipil) dari spesifikasi ini. Bekisting untuk 
lapisan  beton  dan  penempatan  dan  pemadatan  beton  di  belakang  lapisan  juga  harus 
sesuai dengan bagian yang relevan dari Bagian 2, Clause 2.8. 
Dimana  profil  internal  lapisan  permanent  bervariasi  dalam  terowongan,  bentuk  beton 
harus  disesuaikan  untuk  mencapai  kelancaran  transisi  sehingga  ketebalan  lapisan 
minimum dipertahankan. 
Beton  yang  menjadi  pembukaan  surge  shaft,  dan  relung  lainnya  harus  ditempatkan 
bersamaan dengan beton di headrace tunnel pada penampang yang sama. 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 33 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
Lapisan beton untuk terowongan harus menyelesaikan flush dengan permukaan headwall, 
di headwall Portal inlet. Bekisting untuk sekat lapisan di muka Portal akan cocok dengan 
permukaan yang ada di pembuatan dan kualitas. 
Semua  sendi  konstruksi,  kontraksi,  dan  ekspansi  dalam  lapisan  permanent  beton  harus 
dilengkapi  dengan  waterstop.  Waterstop  harus  waterstop  proprietary,  dibuat  sesuai 
dengan praktek internasional yang disetujui, dan disetujui oleh Perwakilan Pemberi Kerja. 
Semua waterstops harus dipasang sesuai dengan rekomendasi pabrikan. 
Minimal, waterstops harus dipasang di:  

 Contraction joints antara headrace culvert dan upstream portal pada tunnel 
 Contraction  joints  antara  headrace  tunnel  dan  setiap  tunnel  adits  yang  dapat 
diberikan oleh Kontraktor 
 Contraction joint antara headrace tunnel dan surge tank 
 Contraction  joint  antara  concrete  lined  section  pada  headrace  tunnel  dan  steel  / 
concrete lined section 
 Semua construction joints di tunnel dan surge shaft linings 
 Setiap kontraksi lain, konstruksi ekspansi sendi diperlukan 
 
11.8 Pemantaun 
11.8.1. Lingkup 
Spesifikasi ini menetapkan persyaratan untuk pemantauan geoteknik dan lainnya selama 
konstruksi  dan  untuk  menjaga  catatan  ekskavasi.  Kontraktor  harus  memelihara  catatan 
detail  dari  bor  dan  ledakan  operasi,  grouting  dan  instalasi  pendukung  utama,  konstruksi 
pendukung permanent, dll 
Spesifikasi  ini  juga  menetapkan  persyaratan  Kontraktor  untuk  pelaporan  harian. 
Pelaporan  sehari‐hari  juga  akan  mencatat  semua  keputusan  yang  diambil  sehubungan 
dengan  jenis  batuan,  kategori  batuan  pendukung,  persyaratan  grouting,  persyaratan 
pendukung utama, dll. 
11.8.2. Pemantauan Selama Konstruksi 
Kontraktor harus memantau pekerjaan dan secara khusus melakukan hal berikut: 

 Menyusun  catatan  kondisi  geologi  yang  dihadapi,  penilaian  kelas  batuan 


pendukung yang ditemui, dan lokasi inflow air tanah, dan pengukuran. 
 Rekaman pengamatan, dan kinerja batu terbuka dinding terowongan, dan lapisan 
shotcrete sesuai dengan spesifikasi 
 Instal dan memantau instrumentasi geoteknik dari waktu ke waktu untuk menilai 
gerakan  batu  dan  kinerja  pendukung  dalam  segala  kondisi  massa  batuan  yang 
dihadapi selama penggalian terowongan. 
Instrumentasi geoteknik meliputi extensometers di atap dan / atau dinding. Ini biasanya 
akan  melibatkan  pemasangan  extensometer  relatif  sederhana  (dari  jenis  yang  disetujui 
oleh Perwakilan pemberi kerja), sesuai dengan instruksi pabrik. 
Pemetaan  geologi  berkelanjutan  dari  permukaan  batu  tersingkap  di  terowongan  akan 
dilakukan  oleh  Kontraktor  yang  harus  diperiksa  secara  berkala  oleh  Perwakilan  pemberi 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 34 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
kerja.  Kontraktor  harus  memberikan  bantuan  kepada  Perwakilan  pemberi  kerja  untuk 
memungkinkan pengecekan pemetaan geologi, seperti memfasilitasi akses, washing down 
dengan udara dan air, dll 
Kontraktor  harus  menyediakan  akses  ke  eksposur  ekskavasi  pada  waktu  yang  tepat 
dimana permukaan batu akan kemudian ditutupi oleh elemen pendukung utama seperti 
shotcrete. 
11.8.3. Galian dan Catatan Penunjang 
Kontraktor  harus  menyimpan  catatan  akurat  dari  pekerjaan  tunneling  yang  dilakukan 
pada Kontrak. Aslinya dari catatan tersebut akan tetap menjadi milik dari Pemberi Kerja, 
tetapi disimpan sampai selesai oleh Kontraktor. Salinan semua catatan harus diberikan ke 
Pemberi Kerja dan catatan asli  harus  tersedia untuk diperiksa oleh Pemberi  Kerja sesuai 
kebutuhan. 
Kontraktor  harus  menyiapkan  dan  mengelola  Laporan  Harian  dari  semua  kegiatan  yang 
berhubungan  dengan  pembangunan  terowongan  sesuai  dengan  ketentuan  sebagai 
berikut.  Laporan  harian  harus  tersedia  untuk  diperiksa  oleh  Pemberi  Kerja  pada  2  jam 
setelah pemberitahuan. 
Penggalian (Excavation) 
Untuk  ekskavasi,  data  berikut  harus  disimpan  oleh  Kontraktor  untuk  semua  pekerjaan 
underground: 

 Chainage untuk menghadapi pada awal putaran 
 Pola pengeboran, termasuk jumlah, lokasi, ukuran dan panjang lubang 
 Jenis dan jumlah bor 
 Jenis, jumlah dan lokasi bahan peledak di setiap lubang dan jenis, lokasi, biaya wt 
per  delay  dan  menembakkan  pola  detonator  standar  dan  delay.  Rincian  spesifik 
pengeboran perimeter dan pola pengisian. 
 

 Heading  awal,  dan  chainage  pada  akhir  putaran  dan  volume  perkiraan  batuan 
yang diperoleh 
 
 Jumlah dan jenis bahan peledak dan detonator dikirimkan dan dikonsumsi 
 Rincian  lengkap  dari  setiap  misfires  atau  aspek‐aspek  tertentu  yang 
mempengaruhi ledakan 
 Rincian dari setiap pengukuran getaran yang diambil 
 Rincian lengkap dari semua grouting yang dilakukan 
 Rincian  geologi  dan  geometris  tunnel  cross  section  (termasuk  bidang  overbreak) 
setelah peledakan 
 Jumlah  dan  klasifikasi  orang  yang  terlibat  dalam  tunneling,  nama  dan  nomor 
lisensi / registrasi shotfirer 
 Waktu dan waktu yang dilalui sebagai berikut: 
‐ Moving dan pengaturan 
‐ Pengeboran 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 35 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
‐ Pemuatan dan penembakan 
‐ Mucking 
‐ Idle / delay waktu 
‐ Pemasangan dan memperluas trek dan jasa 
‐ Pemasangan pendukung sementara 
 Segala  informasi  lain  yang  diperlukan  oleh  Perwakilan  Pemberi  Kerja  untuk 
memungkinkan pencatatan yang tepat dan pemantauan pekerjaan ekskavasi. 
Primary Support 
Rincian penunjang utama dicatat oleh Kontraktor, termasuk: 

 Rockbolt, jumlah, panjang, chainage, lokasi profil, dan campuran grout design 
 Shotcrete, ketebalan, lokasi, campuran design, hasil pengujian 
 Jumlah, lokasi dan jenis terowongan baja struktural pendukung yang terpasang 
 Sketsa geologi dari masing‐masing ekskavasi, dan dinding menunjukkan dukungan 
dalam kaitannya dengan fitur geologi yang spesifik 
 Rincian lengkap dari grouting apapun yang dilakukan 
 Segala  informasi  lain  yang  diperlukan  oleh  Perwakilan  pemberi  kerja  untuk 
memungkinkan pencatatan yang tepat dan pemantauan instalasipenunjang utama 
pekerjaan. 
Permanent Support 
Rincian penunjang permanen dicatat oleh Kontraktor, termasuk: 

 Panjang, volume, lokasi bersama dan hasil tes untuk cor secara  in situ  pengisian 


beton.  
 Rincian lengkap dari penguatan (jika ada). 
 Segala  informasi  lain  yang  diperlukan  oleh  Perwakilan  pemberi  kerja  untuk 
memungkinkan  pencatatan  yang  tepat  dan  pemantauan  instalasipenunjang 
permanen pekerjaan. 
Daily Report 
Informasi  yang  dicatat  dalam  Laporan  Harian  oleh  Kontraktor  harus  mencakup  sebagai 
berikut: 
 Chainage untuk menghadapi di awal dan akhir dari kegiatan hari itu 
 Jumlah batu meledak lengkap dengan rincian sebagai berikut: 
‐ Waktu setiap ledakan dan nama shotfirer untuk setiap ledakan 
‐ Jumlah bahan peledak dan bahan dikirimkan dan dikonsumsi 
‐ Rincian getaran Setiap pengukuran yang diambil. 
 Data kontrol Survey  
 Rincian grouting yang dilakukan / disetujui 
 Rincian penunjang utama terpasang / setuju  
 Ringkasan Geologi kondisi sepanjang terowongan dilalui hari itu  
 Waktu yang dihabiskan pada kegiatan‐kegiatan berikut:  
‐ Moving dan pengaturan 
‐ Pengeboran 
     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 36 
 
 Pekerjaan Tunnel dan Bangunan Bawah Tanah     PLTM Lau Gunung 
 
‐ Pemuatan dan penembakan 
‐ Mucking 
‐ Idle / delay waktu 
‐ Waktu kalah dari kerusakan mesin atau penyebab lainnya  
‐ Pemasangan pendukung di lapangan  
 Rincian kecelakaan, insiden atau cedera  
 Rincian  dari  setiap  kejadian  yang  tidak  biasa,  termasuk  perubahan  kondisi  tanah 
atau inflow air, deteksi kontaminasi udara di atas level yang dapat diterima, dll  
 Ringkasan kemajuan yang diusulkan untuk hari berikutnya  
 Segala  informasi  lain  yang  diperlukan  oleh  Perwakilan  pemberi  kerja  untuk 
memungkinkan  pencatatan  yang  tepat  dan  pemantauan  terowongan  /  shaft 
pekerjaan konstruksi. 
Laporan  Harian  harus  ditandatangani  oleh  Perwakilan  Kontraktor.  Tanpa  kehadiran 
Perwakilan  Kontraktor  dari  site,  Laporan  dapat  ditandatangani  oleh  wakil  mereka  yang 
ditunjuk. 
Instrumentation and Monitoring 
Instrumentasi tunnel dan laporan pemantauan disampaikan mingguan yang menyediakan 
ringkasan  ditabulasikan  pengukuran  sampai  saat  ini  dan  ringkasan  grafis  dari  parameter 
yang diukur untuk setiap titik pemantauan dan instrumen. 
Semua  referensi  survei  dan  titik  kontrol,  instrumen,  kabel,  kotak  terminal,  dan  titik 
pemantauan  terpasang  harus  dilindungi  dari  kerusakan  akibat  pelaksanaan  konstruksi, 
cuaca,  lalu  lintas  dan  vandalisme.  Instrumentasi  kerusakan,  survei  titik  referensi,  sinyal 
kabel, atau dipasang konvergensi dan pemantauan sag poin harus diganti dan disurvei. 
 
 

     
PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant    XI ‐ 37 
 
Tunnel Excavation Cycle Time for full face drive

Rock type: Unit B


km/sec 3.5 - 5.0

Tunnel section
Design area: m2 22.21
Design radius if circle: m2 2.7
Over cut in dia: cm 15
Radius with over cut: m 2.8
Area with over cut: m2 24.8

Drilling time
Pull depth per blast: m 2.0
Drilling depth: m 2.5
Drilling speed: m/min 1.3
Drill time / drill hole: min 1.9
Drill holes / m2 N/m2 3.0
No. of drill holes: No. 67
No. of rock drills used: No. 2
Net drilling time: min 64
Arrangement time for drilling: min 15
Total drilling time: min 79

Blasting time
Charging explosives: min 60
Blasting: min 15
Removing loose rock: min 15
Ventilation: min 30
Total blasting time: min 120

Mucking out time


Rock inflation factor: rate 1.7
Loose rock volume per blast: m3 84
Loader loading capacity: m3/min 2.0
Dump truck vessel capacity: m3 2.5
Loading efficiency: % 60
Net loading time of 1 truck: min 2.1
No. of loaded trucks: No. 34
Dump truck back up time: min 1
Net loading time: min 105
Arrangement time: min 15
Total mucking out time: min 120
Geological Data Record 

Name : Tunnel Date :


STA :

PARAMETERS
Item in  Rock mass  For this low range 
BOQ Class Strength of  Point          Strength  >8 Mpa 4‐8 Mpa 4‐2 Mpa 1‐2 Mpa uniaxial compressive 
intack rock  index
1 test is prefered
material
Very good 

10‐25  3‐10  1‐3 


UCS >200MPa 100‐200 Mpa 50‐100 Mpa 25‐50 Mpa
U pper and Low ert 

82‐100

Mpa Mpa Mpa


rock
Part Type 1

Rating 15 12 7 4 2 1 0
Drill core quality/RQD 90%‐100% 75%‐90% 50%‐75% 25%‐50% 25%
2
Rating 20 17 13 8 3
G ood 

61‐80
Rock

Spacing of Joints >3 m 1‐3 , 0.3‐1 m 50‐300 mm <50 mm


3
Rating 20 15 10 8 5
U pper and Low er  U pper and Low er 

Very rough  Slightly rough  Slightly rough  Slickensided  Soft gauge >5 mm 


Part Type 2

surfaces Not  surfaces  surfaces  surfaces of  thick or Joint opents 


Fair rock

41‐60

Condition of joints continuous No  Seperation  Seperation  Gauge <5mm  >5 mm Continuous 


4
sparation Hard  <1mm Hard joint  <1mm Soft  thick or Joint  Joint
joint will rock wall rock joint wall rock open 1‐5 mm
Rating 30 25 20 10 0
Inflow per 10m  >125 lt/min
None <10 lt/min 10‐25 lt/min 25‐125 lt/min
tunnel length
Part Type 3

Poor rock

Inflow per 10m 
21‐40

Ground Water 0 0‐0.1 0‐0.2 >0.5 >0.5


5 tunnel length
Water under  Severe water 
General Condition Completely dry Dump Moist only
moderate problems
Rating 15 10 7 4 0
U pper and 

Part Type 
very Poor 
Low er 

Orentation of Strik/Dip V.Favourable Favourable Fair Unfavourable V.Favourable


Rock
<20

6
Rating
Support Type                                  :
Special Order :
Directed by,
1. Engineer / Consultant

2.

3.
(................................)

Approved / Received by
Submitted by 
Consultant Engineer / Owner Contractor
BLASTING PATTERN 

ø LUBANG : cm
JUMLAH LUBANG : pcs
KEDALAMAN : m
VOLUME BONGKARAN : m3
KEBUTUHAN HANDAK :
ANFO : kg
DAYAGEL : kg
DETONATING CORD : m
DETONATOR
ELEKTRIK : NON ELEKTRIK :
no. 0 :          pcs no. 0 :          pcs no. 10 :          pcs
no. 1 :          pcs no. 1 :          pcs no. 11 :          pcs
no. 2 :          pcs no. 2 :          pcs no. 12 :          pcs
no. 3 :          pcs no. 3 :          pcs no. 13 :          pcs
no. 4 :          pcs no. 4 :          pcs no. 14 :          pcs
no. 5 :          pcs no. 5 :          pcs no. 15 :          pcs
no. 6 :          pcs no. 6 :          pcs no. 16 :          pcs
no. 7 :          pcs no. 7 :          pcs no. 17 :          pcs
no. 8 :          pcs no. 8 :          pcs no. 18 :          pcs
no. 9 :          pcs no. 9 :          pcs no. 19 :          pcs
no. 10 :          pcs

POWDER FACTOR

STA :
catatan :

Mengetahui Menyetujui

JURU LEDAK KEPALA TEKNIK
NOTA PENGAMBILAN BAHAN PELEDAK

LOKASI : Dairi, Sumatera Utara HARI :


JURU LEDAK : TANGGAL :
NO. KENDARAAN : JAM :
NO. JENIS BANYAKNYA SATUAN KETERANGAN
1. DETONATOR ELEKTRIK Pcs
2. DETONATOR NON ELEKTRIK Pcs
3. DETONATING CORD Meter
4. DAYAGEL Kg
5. ANFO Kg

Delay Detonator Elektrik 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Delay Detonator Non Elektrik 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17 18 19

Menyetujui / Mengetahui
Kepala Gudang PAM Handak Kepolisian Juru Ledak

(...............................) (..............................................) (...........................)


KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DAERAH SUMATERA UTARA
RESORT
SEKTOR

BERITA ACARA PELEDAKAN

Pada hari ini.................Tanggal.............Bulan......................Tahun............................

Nama : .....................................................................................................................................................

Pangkat : .....................................................................................................................................................

NRP : .....................................................................................................................................................

Jabatan : .....................................................................................................................................................

Anggota Satuan : .....................................................................................................................................................

Bersama : Kepala Gudang : ........................................................................................................................

Juru Ledak : ........................................................................................................................

PAM Handak : ........................................................................................................................

Tela melakukan Peledakan Gunung Batu untuk Panggilan Terowongan Proyek PLTA Orya dengan
mengikuti prosedur yang ada sehingga pelaksanaan berlangsung dalam keadaan aman dan terkendali dengan
jumlah lubang : ........... (lubang), dengan kedalaman : ........... (meter), dan diledakkan sebanyaj : ........... (kali)
dengan penggunaan bahan peledak sebagai berikut :

NO JENIS PENGAMBILAN PENGGUNAAN SISA SATUAN


1 DETONATOR ELEKTRIK Pcs
2 DETONATOR NON ELEKTRIK Pcs
3 DETONATING CORD Meter
4 DAYAGEL Kg
5 ANFO Kg

Demikian Berita Acara ini dibuat dan diketahui oleh Pimpinan sebagai Pertanggungjawaban
Pengawasan HANDAK, Selanjutnya ditutup dan ditandatangani di Distrik ..............., Kabupaten ....................
pada tanggal : ........... Bulan ....................................tahun............................

Saksi – saksi : Yang Membuat

Jabatan Nama Tanda Tangan

Kepala Gudang ........................ ..........................

Juru Ledak ........................ ..........................

PAM Handak ........................ .......................... (....................................)


Pekerjaan Lain – lain PLTM Lau Gunung

BAB XII

PEKERJAAN LAIN - LAIN

12.1 PEKERJAAN SHOTCRETE


Pekerjaan shotcrete bertujuan untuk perkuatan permukaan batuan, stabilitas lereng
galian dan lining beton yang tipis.
Shotcrete merupakan campuran semen, pasir, air dan bahan additive yang
disemprotkan ketempat pekerjaan dengan menggunakan kompresi udara.
12.1.1 Material
 Semen
Material semen mengacu pada Bab III Pekerjaan Beton.
 Agregate
Material agregateataupasirdankerikilhalusmengacupada Bab III PekerjaanBeton.
Gradasi agregate :
Pasir 0,1 mm - 0,4 mm
Kerikil halus 0,4 mm - 0,8 mm
 Bahan additive / admixture
Apabila bahan admixture / tambahan diperlukan untuk mempercepat pengerasan
shotcrete, maka jenis material dan kebutuhan harus disetujui oleh Pengawas
Pekerjaan dan perbandingan dengan material lain harus diuji coba pada lokasi
pekerjaan.
 Pembesian
Pembesianuntuk pekerjaan shotcrete menggunakan Wire Mesh ukuran 150 x 150
x 4mm.
12.1.2 Pelaksanaan Pekerjaan
 Persiapan
Sebelum dilaksanakan pekerjaan shotcrete, permukaan lereng harus bersih, bebas
dari minyak, tidak ada retakan-retakan dan material lepas, disemprot dengan air
bertekanan. Bila ada sumber air harus diatasi dulu. Wire mesh dan lubang
weep hole harus sudah terpasang dengan baik. Metode pelaksanaan dan
peralatan yang akan dipakai harus disetujui oleh Pengawas Pekerjaan Teknik.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant XII - 1
Pekerjaan Lain – lain PLTM Lau Gunung

 Pencampuran
Material dalam kondisi kering harus dicampur terlebih dulu minimal dalam waktu
1½ menit dan maksimal 1 jam. Pemakaian dengan pencampuran siap pakai/ready
mix harus dengan persetujuan Pengawas Pekerjaan Teknik.
 Penempatan
Pelaksanaan penempatan / penyemprotan shotcrete harus dilakukan oleh
operator dan pekerja yang berpengalaman.
Tekanan air dan udara harus disesuaikan dengan pembukaan nozzle sehingga
penyemprotan dapat sempurna.
Ketebalan shotcrete pada lapis pertama antara 25 mm sampai 50 mm. Bila
dilakukan lapis berikutnya harus berselang 30 sampai 60 menit.
Permukaan shotcrete harus dirawat dengan pembasahan dalam 5 hari.
 Pengujian
Ketebalan shotcrete harus diuji dengan “Plug Gauge” atau patok uji sebelum
pelaksanaan dan dengan lubang uji setelah pelaksanaan. Pemberi Kerja Jasa harus
menyiapkan lokasi uji mutu 15 cm x 15 cm dan diuji dengan “impact hammer ujit”
untuk setiap 100 meter persegi luasan shotcrete.
12.2 GEBALAN RUMPUT
Gebalan rumput dilaksanakan pada bidang yang sudah ditentukan dalam gambar
rencana atau sesuai dengan perintah Pemberi Kerja.
Sebelum gebalan rumput ditanam, permukaan harus dilapisi tanah permukaan (top soil)
yang memenuhi syarat bagi tumbuhnya gebalan rumput atau pupuk kandang secara
merata setebal 5 cm tanpa dipadatkan.
Gebalan rumput dibentuk ukuran 20 cm x 20 cm, dihampan rapat (bukan seperti papan
catur) dan dipasak yang kuat dengan potongan bambu sampai diyakini tidak akan rusak
oleh gangguan binatang atau yang lainnya.
Sampai habisnya masa pemeliharaan, gebalan rumput harus dipelihara, disiram atau
dirapikan secara berkala.

12.3 PEKERJAAN HANDRAIL


Semua handrail atau pagar harus mempergunakan pipa galvanize yang sesuai dengan
Standard Industri Indonesia (SII) ukuran 2 inch. Semua pekerjaan sambungan dan
bengkokan tidak boleh dilakukan pengelasan, harus menggunakan sambungan galvanize
(cross tie, elbow, knie& tie) dan dikunci dengan lem besi agar tidak mudah di lepas.
Pekerjaan ini berlaku untuk semua jenis pekerjaan pipa galvanize. Satuan pekerjaan
adalah per meter panjang yang terdiri atas dua lajur pipa. Kemajuan fisik dan
pembayaran pekerjaan ini berdasarkan material terpasang di lapangan.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant XII - 2
Pekerjaan Lain – lain PLTM Lau Gunung

12.4 PATOK HEKTOMETER


Patok Hektometer dari beton harus dipasang sepanjang tiap saluran pada jarak 100 m,
dan Patok Kilometer setiap 10 Patok Hektometer pada waktu semua pekerjaan tanah
selesai.
Pintu intake bendung ditentukan sebagai titik nol untuk pengukuran.
Patok ditempatkan pada lokasi yang tidak mudah diganggu.
Patok dibuat dari beton bertulang K-175 ditandai dengan angka hectometer dan
keterangan tentang saluran sesuai dengan gambar.
Patok harus di cat dengan warna yang terang sehingga dapat dengan mudah
terlihat.Warna cat yang digunakan harus mendapat persetjuan Pemberi Kerja.
12.5 BENCH MARK
Tiap patok bench mark (BM) tambahan yang dipasang Kontraktor dibuat dari beton
bertulang K-175, dengan ukuran 0.20 x 0.20 x. 1.00 m sesuai dengan gambar.
Tiap BM harus dilengkapi dengan paku kuningan tanda elevasi dan plat nama dari
marmer ukuran 0.12 x 0.12 m pada satu sisi.
Patok-patok BM harus dipasang vertical dalam galian, kemudian dengan hati-hati diurug
kembali sampai tinggal 0.20 m diatas permukaan tanah.
Penempatan patok-patok BM dilaksanakan Kontraktor sesuai dengan petunjuk Pemberi
Kerja.
12.6 SKALA DUGA (PEIL SCALE)
Skala duga untuk pengukuran permukaan air atau pengaturan bukaan pintu harus
dipasang pada sisi hulu tiap bangunan.
Skala duga yang dipasang dihulu bangunan pengukur dibuat dari plat aluminium dengan
tanda-tanda garis danhuruf atau dibuat dari teraso putih pada dasar campuran 1 PC : 3
PS dengan tanda-tanda garis dan huruf atau dibuat dari teraso putih pada dasar
campuran 1 PC : 3 PS dengan lekukan-lekukan untuk garis-garis dan angka-angka 3 mm
seperti dijelaskan pada gambar.
12.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
12.7.1 Pekerjaan Shotcrete
Pengukuran untuk pembayaran shotcrete dalam meter persegi (m2) sesuai dengan harga
satuan dalam Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan. Harga satuan shotcrete per meter
persegi sudah termasuk biaya untuk material, tenaga, peralatan, transportasi, persiapan,
pembersihan, penyemprotan/penempatan, proteksi sementara, perawatan dengan
pembasahan, angker, weep holes/lubang drainasi pengujian, wire mesh dan semua
pekerjaan yang terkait dengan shotcrete.
12.7.2 Gebalan Rumput
Pembayaran gebalan rumput dihitung dalam satuan meter persegi gebalan rumput yang
sudah ditanam, tidak rusak, rapi dan diyakiniakan hidup olehPemberi Kerja.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant XII - 3
Pekerjaan Lain – lain PLTM Lau Gunung

12.7.3 Pekerjaan Handrail


Pengukuran untuk pembayaran handrail sesuai panjang dalam satuan meter terpasang
yang terdiri atas dua lajur pipa.
12.7.4 Patok Hektometer
Pengukuran untuk pembayaran patok hektometer dalam satuan buah yang terpasang
seperti dalam daftar kuantitas danharga.
12.7.5 Bench Mark
Pengukuran untuk pembayaran patok bench mark dalam satuan buah yang terpasang
seperti dalam daftar kuantitas dan harga.

12.7.6 Skala Duga (Peil Scale)


Pengukuran untuk pembayaran peil scale dalam satuan buah yang terpasang seperti
dalam daftar kuantitas dan harga.

PT WAHANA ADYA
Engineering Consultant XII - 4