Anda di halaman 1dari 7

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil yang diperoleh dari praktikum ini disajikan pada Tabel 1.

Perlakuan Bobot Bobot labu Bobot % Gambar


labu lemak + sampel Rendemen
lemak Rendemen awal
Kunyit 98.950g 100.5g 13.34g 11.61%
(Kelompok
5)

Cabe merah 101.88g 104.16g 8.29 % 8.29 %


(Kelompok
6)

Pala 98.81g 108.23g 23.99 g 39.26 %


(Kelompok
7)

Bawang 104.35g 104.87g 27.09g 1.91%


Putih
(Kelompok
8)
4.2 Perhitungan

Berikut merupakan perhitungan yang diperoleh :

Rumus rendemen oleoresin = a-b X 100%


Bobot sampel awal

Keterangan :
a : Bobot labu lemak + Rendemen
b : Bobot labu lemak kosong

Rendemen oleoresin Kunyit = 100.50g -98.95g x 100%


13.34 g
= 11.61%

Rendemen oleoresin Cabe = 104.16g -101.88g x 100%


27.50g
= 8.29 %

Rendemen oleoresin Pala = 108.23g -98.81g x 100%


23.99g
= 39.26 %

Rendemen oleoresin Bawang Putih = 104.87g -104.35g x 100%


27.09g
= 1.91%
4.3 Pembahasan

Ekstraksi adalah suatu metode atau cara untuk memindahkan atau mengeluarkan
sebuah senyawa atau zat dari suatu medium (fase) ke medium (fase) yang lain,
atau suatu proses untuk mendapatkan suatu zat dengan menggunakan solvent dari
zat tersebut. Oleoresin merupakan senyawa polimer yang berbobot molekul besar
dan lebih mudah larut dalm pelarut polar. Oleoresin juga bagian dari minyak atsiri
yang biasanya terdiri dari zingeron, zingeral mempunyai wan gang begitu khas.
Oleoresin sebagai bahan baku flavor pada industry pengalengan daging, minuman
segar, bahan bakuobat, kosmetik, parfum, industry kembang, gula dan roti.jenis
oleoresin di pasaran antara lain: oleoresin jahe, cabai, laos, dan lain-lain.
Oleoresin biasanya berbentuk cairan kental, pasta atau padat. Oleoresin rempah-
rempah mengandung bahan-bahan menguap dan tidak menguap yang memberikan
karakteristik flavor dan khas. Oleh karena itu, oleoresin memiliki sifat flavor sama
dengan rempah yang belum diekstraksi. Senyawa polimer dari pelarut polar
merupakan campuran antara resin dan minyak atsiri yang dapat diekstrak dari
berbagai jenis rempah-rempah atau hasil samping dari limbah pengolahan
rempah-rempah (Sulaswaty, 2002).

Metode soxhlet yaitu suatu ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru, umumnya
dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi konstan dengan
adanya pendingin baik (kondensor). Sementara itu untuk metode soxhlet
dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat
digunakan kertas saring) dalam slonsong yang ditempatkan di atas labu dan
dibawah kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu
penangas diatur dibawah suhu reflux. Keuntungan dari metode soxhlet ini adalah
proses ekstraksi yang kontinyu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil
kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan
banyak waktu. Kerugian dari metode soxhlet ini adalah senyawa yang bersifat
termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada
pada titik didih (Setyaningrum, 2013).
Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan rendemen oleoresin yang
dihasilkan dari setiap sampel adalah berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan
karena berat sampel yang digunakan dan juga kandungan komposisi dan minyak
yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan rendemen oleoresin yang berbeda.
Hasil rendemen dari kunyit sebesar 11,61%. Menurut Rusli ( 2010), ekstraksi
kunyit dengan 2 tahap menghasilkan rendemen sebesar 14,28% dari 100 gram
kunyit dengan pelarut etanol. Maka hasil yang diperoleh sudah mendekati dari
penelitian sebelumnya, terjadi perbedaan dikarenakan berat sampel yang berbeda ,
pelarut yang digunakan juga berbeda , cara ekstraksi dan juga lama waktu
ekstraksi. Pada penelitian ini menggunakan pelarut hexane , metode ektraksi
soxhlet dan waktu ekstraksi kurang lebih selama 3 jam, sedangkan pada penelitian
Rusli menggunakan pelarut etanol, metode ekstraksi refluks dan waktu ekstraksi
adalah 5 jam. Etanol mempunyai kepolaran lebih tinggi sehingga mudah
untukmelarutkan senyawa resin, lemak, minyak, asam lemak, karbohidrat,
dansenyawa organik lainnyai

Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan rendemen oleoresin yang


dihasilkan dari cabai sebesar 8,29%. Menurut Setyaningrum ( 2013 ), hasil
rendemen oleoresin dari cabai keriting dengan perbedaan pengulangan ekstraksi
adalah sekitar 16.02 % – 24,78 % dari 100 gram sampel. Perbedaan dengan
literatur dikarenakan berat sampel yang berbeda , pelarut yang digunakan juga
berbeda , cara ekstraksi dan juga lama waktu ekstraksi. Pada penelitian ini
menggunakan pelarut hexane , metode ektraksi soxhlet dan waktu ekstraksi
kurang lebih selama 3 jam, sedangkan pada penelitian Setyaningrum
menggunakan pelarut etanol, metode ekstraksi perkolasi dan waktu ekstraksi
adalah 4 jam. Pada penelitian Setyaningrum ini , semakin lama pengulangan
ekstraksi maka semakin besar pula rendemen oleoresin yang dihasilkan. Hal ini
dikarenakan , waktu kontak pelarut dengan sampel yang semakin lama sehingga
oleoresin yang terekstrak semakin banyak. Setelah titik jenuh pelarut tercapai,
maka penambahan waktu tidak akan memberikan penambahan yang nyata
terhadap jumlah oleoresin yang terlarut ( Dewi et al, 2012).
Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan rendemen oleoresin yang
dihasilkan dari pala sebesar 39,26%. Menurut Baihaqi ( 2017) , Pada ukuran
bahan 20 mesh didapatkan rendemen biji pala sebesar 24.73%, ukuran bahan 40
mesh menghasilkan rendemen 27.2% dan ukuran bahan 60 mesh menghasilkan
rendemen 30.43%. Hal ini dikarenakan perbedaan berat sampel , pelarut yang
digunakan juga berbeda , cara ekstraksi dan juga lama waktu ekstraksi. Pada
penelitian ini menggunakan pelarut hexane , metode ektraksi soxhlet dan waktu
ekstraksi kurang lebih selama 3 jam, sedangkan pada penelitian Baihaqi
menggunakan metode utrasonik, pelarut yang digunakan etanol dan waktu ekstrasi
selama 45 menit. Hal ini menunjukkan bahwa metode ekstraksi berbantu
gelombang ultrasonik dapat meningkatkan rendemen dan mempersingkat waktu
ekstraksi (Samaram et al. 2013).

Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan rendemen oleoresin yang


dihasilkan dari bawang putih sebesar 1,91%. Menurut Hartawan ( 1995) , Hasil
rendemen dari bawang putih yang dihasilkan adalah sebesar 0,14-1,01 g/100g.
Pada penelitian Hartawan ini menghasilkan rendemen oleoresin tertinggi adalah
dengan menggunakan pelarut etilen diklorida dan diklorometan. Hal ini karena
ekstraksi oleoresin sangat dipengaruhi oleh kepolaran dari pelarut yang
digunakan. Pada penelitan Hartawan juga menyebutkan bahwa semakin banyak
pelarut yang yang digunakan maka semakin banyak pula oleoresin yang terekstrak
sampai larutan menjadi jenuh.

Beberapa faktor yang berpengaruh dalam operasi ekstraksi adalah sebagai berikut
penyiapan bahan sebelum ekstraksi untuk memudahkan proses ekstraksi perlu
dilakukan penyiapan bahan baku yang meliputi pengeringan bahan dan
penggilingan. Sebelum di ekstraksi bahan harus dikeringkan dahulu untuk
mengurangi kadar airnya dan disimpan pada tempat yang kering agar terjaga
kelembabannya. Dengan pengeringan yang sempurna akan dihasilkan ekstrak
oleoresin yang memiliki kemurnian yang tinggi. Ukuran partikel Operasi ekstraksi
akan berlangsung dengan baik bila diameter partikel diperkecil.Pengecilan ukuran
ini akan memperluas bidang kontak antara jahe dengan pelarut,sehingga produk
ekstrak yang diperoleh pun akan semakin besar. Sebaliknya ukuran padatan yang
terlalu halus dinilai tidak ekonomis karena biaya proses penghalusannya mahal
dan semakin sulit dalam pemisahannya dari larutan ( Gamse, 2002).

Pelarut ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan pelarut, yaitu :
Sifat pelarut, terdiri dari : Selektivitas, Koefisien, Densitas, Tegangan antar
permukaan, Kemudahan pengambilankembali pelarut, Keaktifan secara kimia.
Jumlah pelarut semakin banyak jumlah pelarut semakin banyak pula jumlah
produk yang akandiperoleh, hal ini dikarenakan distribusi partikel dalam pelarut
semakin menyebar, sehingga memperluas permukaan kontak. Perbedaan
konsentrasi solute dalam pelarut dan padatan semakin besar.(Gamse, 2002).
Pemilihan jenis pelarut didasarkan pada jenis rempahnya dan pertimbangan harga
pelarut tersebut.
Daftar Pustaka

Baihaqi. 2017. Peningkatan Efektivitas Ekstraksi Oleoresin Pala (Myristica


fragrans) menggunakan Metode berbantu Ultrasonik. ( Skripsi). IPB. Bogor.
Dewi T, Khasanah L, Kawiji. 2012. Optimasi Ekstraksi Oleoresin Cabai Rawit
Hijau (Capsicum frutescens L.) [thesis]. Universitas Sebelas Maret . Solo
(ID) .
Gamse, T. 2002. Liquid-Liquid Extraction and Solid-Liquid Extraction‖. Institute
of Thermal Process and Environmental Engineering. Graz University of
Technology, hal.2-24.

Hartawan, R. 1995. Optimasi Produksi Oleoresin Bawang Putih ( Allium


sativum . L) dan Bawang Merah ( Alium cepavar. Aggregatum. L) yang
Memiliki Aktivitas Antitrombotik. ( Skripsi). IPB. Bogor.
Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri . PT
AgromediaPustaka. Jakarta Selatan.

Samaram S, Mirhosseini H, Tan CP, Ghazali HM. 2013. Ultrasound-Assisted


Extraction (UAE) and Solvent Extraction of Papaya Seed Oil: Yield, Fatty
Acid Composition and Triacylglycerol Profile. Molecules. 18:12474-12487.

Setyaningrum, Laras. 2013. Ekstraksi Oleoresin Capcaisin dari Cabai Merah,


Cabai Keriting, dan Cabai Rawit. (Skripsi). IPB. Bogor.

Sulaswaty, A. 2002. Proses Ekstraksi Dan Pemurnian Dari Tanaman Indonesia.


Ristek Data Riset, Pusat Penelitian Kimia. LIPI.