Anda di halaman 1dari 214

FISIKA KUANTUM

Rustam E. Siregar

Departemen
Fisika
Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran
2018
FISIKA KUANTUM
Teori dan Aplikasi

Rustam E. Siregar

Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


UNIVERSITAS PADJADJARAN
PENGANTAR
Cetakan Pertama

Dengan rahmat dan taufik dari Allah swt. akhirnya penulisan buku ini dapat terselesaikan.
Sesungguhnya, buku ini dipersiapkan tidak saja bagi mahasiswa-mahasiswa Fisika dan Kimia,
tetapi juga bagi para peneliti dalam bidang material dan kimia. Untuk memperoleh
pemahaman yang lebih baik, disediakan beberapa contoh soal dan soal-soal pada setiap akhir
bab; demikian pula beberapa apendiks disediakan sebagai bantuan.
Isi buku ini terdiri tiga bagian besar yakni dasar-dasar Fisika Kuantum, tentang
elektron dalam medan magnet spinnya dan tentang atom berelektron tunggal dan berelektron
banyak. Di sela-sela itu disisipkan teori gangguan baik yang bebas waktu maupun yang
bergantung waktu. Mula-mula dalam Bab 1 dikemukakan sedikit sejarah tentang kegagalan
Fisika klasik dalam menjelaskan interaksi gelombang dan materi dan perlunya Fisika
Kuantum untuk mengatasinya. Kemudian diperkenalkan persamaan Schrödinger untuk
partikel tunggal, pengertian operator fisis, fungsi gelombang sebagai fungsi eigen dan nilai
eigen bersangkutan dalam Bab 2. Selanjutnya, beberapa contoh aplikasi persamaan
Schrödinger dengan berbagai bentuk potensial diberikan dalam Bab 3. Persoalan momentum
sudut dari suatu partikel tunggal dalam potensial sentral diberikan dalam Bab 5 sebagai
persiapan untuk pembahasan atom-atom yang memiliki satu elektron dalam Bab 6. Khusus
mengenai elektron di dalam medan amgnet diberikan dalam Bab 4, sedangkan khusus
mengenai spinya diberikan dalam bab 7. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik
tentang interaksi radiasi dan materi, dalam Bab 8 dan Bab 9 dibahas tentang teori gangguan
sebagai metoda aproksimasi, dan dalam Bab 10 dikemukakan masalah atom yang memiliki
banyak elektron seperti He.Dalam Bab ini diperkenalkan metoda self consistent field
(SCF).
Akhirnya, kepada Allah SWT. jugalah penulis berserah diri, dengan harapan semoga
buku ini bermanfaat bagi mahasiswa dan pembaca lainnya.

Jatinangor, 3 Juli 2010

Rustam E. Siregar

i
PENGANTAR UNTUK EDISI PERBAIKAN
Dalam edisi ini telah dilakukan perbaikan khususnya dalam hal penulisan kata-kata,
persamaan-persamaan dan penomorannya. Di dalam Bab 2 diberikan penurunan persamaan
Schrödinger yang lebih cantik dengan memperkenalkan operator kinetik. Dalam Bab 3 diberi
sisipan tentang sumur kuantum sebagai aplikasi sumur potensial. Dalam Bab 10 diberi
beberapa cara perhitungan energi atom He dan tambahan khusus tentang atom Li.
Penulis mengharapkan semoga buku ini semakin bermanfaat bagi para mahasiswa
dan pembaca lainnya. Saran perbaikan dari pembaca mohon disampaikan melalui email:
resiregar@phys.unpad.ac.id

Jatinangor, 29 Oktober 2018

Rustam E. Siregar

ii
BUKU RUJUKAN
1. M. Alonso and E. Finn, Fundamental University Physics, Vol. III, Quantum and
Statistical Physics, Addison-Wesley, 1979.
2. H. Clark, A first course in Quantum Mechanics, ELBS and van Nostrand Reinhold, 1982.
3. Alistair I. M. Rae, Quantum Mechanics, ELBS, 1985.
4. Henrik Smith, Introduction to Quantum Mechanics, World Scientific, 1991.
5. Ira N. Levine, Quantum Chemistry, Prentice Hall College,1991.
6. David J. Griffiths, Introduction to Quantum Mechanics, Pentice Hall, 1994.
7. Peter Atkins and Ronald Friedman, Molecular Quantum Mechanics, Oxford, 2005.

iii
DAFTAR ISI

PENGANTAR i
BUKU RUJUKAN iii
DAFTAR SIMBOL vi

BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Radiasi Benda-hitam; Teori Planck 1
1.2 Efek Foto-Listrik 3
1.3 Panas Jenis Zat Padat 4
1.4 Dualisme Gelombang-Partikel 4
1.5 Spektrum Atom Hidrogen; Teori Atom Bohr 7
Soal-soal 12

BAB 2 DASAR-DASAR FISIKA KUANTUM 13


2.1 Persamaan Gelombang 13
2.2 Persamaan Schrödinger 14
2.3 Sifat-sifat Fungsi Gelombang 18
2.4 Operator Fisis 20
2.5 Komutator 25
2.6 Persamaan Gerak Heisenberg 26
2.7 Representasi Matriks 27
Soal-soal 32

BAB 3 POTENSIAL SEDERHANA 33


3.1 Potensial Tangga 33
3.2 Potensial Penghalang Persegi Terhingga 35
3.3 Potensial Persegi Tak Terhingga 37
3.4 Potensial Persegi Terhingga 39
3.5 Potensial Persegi dengan Dinding 42
3.6 Osilator Harmonis 44
3.7 Partikel Bebas 50
3.8 Potensial Fungsi-Delta 52
3.9 Simetri dan Paritas Fungsi Gelombang 55
3.10 Transisi dan Aturan Seleksi 55
Soal-soal 57

BAB 4. ELEKTRON DALAM MEDAN MAGNET 59


4.1 Hamiltonian Klassik 59
4.2 Hamiltonian dan Nilai Eigennya 61
4.3 Degenerasi 62
4.4 Effek Hall 65
Soal-soal 68

BAB 5 MOMENTUM SUDUT ELEKTRON TUNGGAL 69


5.1 Momentum Sudut 69
5.2 Operator L̂ z 71

5.3 Operator L̂2 72


5.4 Operator L̂ dan L̂ 77
Soal-soal 79

BAB 6 ATOM DENGAN SATU ELEKTRON 80


6.1 Persamaan Schrödinger satu Elektron 80

iv
6.2 Fungsi Gelombang dan Energi Elektron 82
6.3 Effek Relativitas 87
6.4 Probabilitas Transisi 89
6.5 Efek Zeeman Normal 91
Soal-soal 93

BAB 7 SPIN ELEKTRON 94


7.1 Momentum Sudut Spin Elektron 94
7.2 Interaksi spin-orbital 97
7.3 Matriks-matriks Spin Pauli 98
7.4 Persamaan Klein-Gordon dan Dirac 99
7.5 Solusi Gelombang Bidang 102
7.6 Teori Spin Dirac 103
7.7 Partikel Dirac dalam Medan EM 105
7.8 Positron 107
Soal-soal 109

BAB 8 GANGGUAN BEBAS-WAKTU 110


8.1 Gangguan pada Sistem Tak Berdegenerasi 110
8.2 Efek Stark I 117
8.3 Metoda Variasi 119
8.4 Gangguan pada Sistem Berdegenerasi 121
8.5 Efek Stark II 123
8.6 Interaksi Hyperfine 124
8.7 Elektron dalam Zat Padat Satu-Dimensi 126
8.8 Aproksimasi WKB 128
8.9 Teori Peluruhan Partikel-α 131
Soal-soal 133

BAB 9 GANGGUAN BERGANTUNG WAKTU 135


9.1 Gangguan Bergantung Waktu 135
9.2 Resonasi Magnetik 138
9.3 Radiasi Semi-klasik 141
9.4 Dispersi Cahaya; Kekuatan Osilator 143
Soal-soal 146

BAB 10 ATOM DENGAN BANYAK-ELEKTRON 147


10.1 Atom Helium dalam Keadaan Dasar 147
10.2 Atom Helium dalam Keadaan Tereksitasi 153
10.3 Prinsip Pauli; Determinan Slater 158
10.4 Atom Litium 164
10.5 Metoda SCF untuk Atom 167
10.6 Korelasi Elektron 178
10.7 Susunan Elektronik Atom 181
10.8 Kopling Russel-Saunders; Hukum Hund 185
10.9 Sinar-X 187
10.8 Laser 188
Soal-soal 190

Apendiks 1 Beberapa Konstanta 191


Apendiks 2 Beberapa Integral 192
Apendiks 3 Transformasi koordinat Cartesian ke koordinat bola 193
Apendiks 4 Transformasi koordinat Cartesian ke koordinat silinder 195
Apendiks 5 Osilator Terkopel 196

v
Apendiks 6 Konfigurasi elektron dari beberapa atom dalam keadaan dasar. 199

INDEKS 201

vi
DAFTAR SIMBOL

ao Jari-jari Bohr
anm Koefisien kombinasi linier
α Fungsi spin; polarizabilitas
Aav harga rata-rata operator Â
βe Magneton Bohr elektron
c Kecepatan cahaya dalam ruang hampa
cnj: Koefisien kombinasi linier
 ij Delta Kronecker
 (x) Fungsi-delta Dirac
e Muatan elektron
 (n )
Koreksi ke-n bagi energi
E Energi keadaan;
En Energi keadaan ke-n
E0 Eneri keadaan dasar
E(0) Energi keadaan tak terganggu
E Medan listrik
F̂ Operator Fock (Hamiltonian efektif electron tunggal)
Fij Elemen matriks Fock
Ĝ Operator gangguan
h Konstanta planck
 h/2π
Ĥ Hamiltonian (operator energi)
Ĵ Integral Coulomb
kB Konstanta Boltzmann
K̂ Integral tukar
 Bilangan kuantum orbital
L̂ z Operator komponen-z dari momentum sudut
L̂2 Operator momentum sudut total
L: Fungsi Laguerre terasosiasi
me Massa elektron
m Bilangan kuantum magnetik orbital
ms Bilangan kuantum magnetik spin
M(z) Komonen-z dari momen dipole
 Dipol listrik, momen dipole, salah satu koordinat elliptik
n Bilangan bulat, bilangan kuantum utama
N faktor normalisasi
ν: Frekuensi;
P Fungsi Legendre-terasosiasi, peluang keberadaan elektron, potensial atraktif inti
dengan orbital atom yanga sama
φ Fungsi basis
 nlm Orbital atom hidrogen dengan bilangan kuantum n, l, m
Ψ Fungsi keadaan
r Jarak elektron-inti, jarak elektron-elektron
R Konstanta Rydberg, jarak antar inti
R n Fungsi keadaan elektron yang bergantung pada r, dengan bilangan kuantum n, 
s Bilangan kuantum spin
Ŝ z Operator komponen-z spin

vii
Ŝ 2 Operator spin total
Sij Integral overlap
T Suhu dalam Kelvin
ω frekuensi sudut (=2πν)
v Kecepatan
V Energi potensial
Y Fungsi harmonik bola
Z Nomor atom (jumlah proton dalam inti)
Zeff Nomor atom efektif

viii
BAB 1
PENDAHULUAN
Mekanika klasik yang diformulasikan oleh Newtondan selanjutnya dikembangkan oleh Lagrange,
Hamilton dan lain-lainnya sangat sukses dalam menjelaskan gerak dinamis benda-benda
makroskopis. Demikian pula teori tentang cahaya sebagai gelombang yang dikembangkan oleh A. J.
Fresnel, teori gelombang elektromagnet oleh J. C. Maxwell dan percobaan Hertz tentang emisi
gelombang elektromagnet oleh osilator muatan-muatan listrik. Namun, pada
akhir abad 19 teori-teori klasik tersebut tidak dapat digunakan untuk memberi
penjelasan yang memuaskan bagi sejumlah fenomena interaksi radiasi-materi.
Beberapa contoh fenomena yang tak terungkapkan dengan fisika klasik antara
lain adalah: (i) spektrum radiasi benda hitam, (ii) efek foto-listrik, (iii) spektrum
atom hidrogen, dan (iv) panas jenis padat. Untuk itudalam perempat pertama
abad 20, mulai dikembangkan ilmu fisika baru dan muncul berbagai
Sir Isac Newton pengembangan teori seperti teori relativitas dan teori kuantum.
(1643-1727)

1.1 Radiasi Benda-hitam; Teori Planck


Kegagalan pertama teori klassik adalah saat menjelaskan spektrum kontinu dari benda-hitam. Benda
hitam ideal didefinisikan sebagai sesuatu yang menyerap semua radiasi elektromagnet yang
mengenainya, atau mengemisikan semua radiasi elektromagnet yang dimiliknya; benda ini bisa
didekati dengan sebuah kavitas yang berlubang sangat kecil. Berdasarkan termodinamika, seperti
diperlihatkan dalam Gb.1.1, spektrum yang menggambarkan distribusi rapat energi terhadap panjang
gelombang hanya bergantung pada temperatur tidak pada jenis bahan benda hitam.

T1
T2

Gb.1.1 Rapat enegi radiasi benda-hitam; suhu T1>T2. Garis penuh menyata-kan hasil eksperimen dan
putus-putus menyatakan teori Rayleigh-Jeans.

Menurut Stefan (1879), total energi yang dipancarkan adalah: E=(4ζ/c)T4, di mana  adalah
konstanta dan c=3x108 m/s adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa. Wien (1893) menyatakan
bahwa panjang gelombang di mana rapat energi radiasi maksimum berbanding lurus dengan 1/T.
Menurut teori medan listrik-magnet, gelombang elektromagnet diemisikan oleh
osilator muatan-muatan listrik. Bilamana osilator-osilator dalam kesetimbangan
dengan radiasi dalam benda-hitam, maka rapat energi radiasi per satuan volum
adalah:
8f 2
E ( f )f  u ( f )f (1.1.1)
c3
di mana u(f) adalah energi rata-rata osilator dengan frekuensi f. Dalam hukum
James C. Maxwell energi ekipartisi, energi rata-rata itu adalah u(f)=kBT di mana kB=1,3806 x 10-23
(1831-1879) J/K adalah konstanta Boltzmann. Jadi,

1
8f 2
E ( f ) f  k BT f (1.1.2)
c3
atau
8
E ( )   k B T  . (1.1.3)
4

dengan f=c/. Inilah rumusan bagi kurva E() yang dikemukakan oleh Raleigh-Jeans, yang ternyata
hanya berlaku pada panjang gelombang yang besar. Baru pada 1900, Max Planckmenemukan rumus
yang dapat meliput seluruh kurva. Untuk itu Planck mengasumsikan suatu
benda-hitam sebagai kumpulan osilator dalam kesetimbangan dengan medan
radiasi sehingga persamaan (1.1.1) dapat dipenuhi. Menurut beliau, suatu
osilator dengan frekuensi  hanya bisa mengambil nilai energi:

 n  nhf ; n  0,1, 2, ..... (1.1.4)


Max Planck (1858-
1947), Noble Fisika di mana h=6,624 x 10-34 Js disebut konstanta Planck, dan h disebut kuantum
1918 energi.

Dengan demikian maka energi rata-rata per osilator dengan frekuensif adalah:

  n e  n / k BT

n 0
u( f ) 
 e  n / k BT

n 0

dan dengan substitusi persamaan (1.1.4) diperoleh

hf
u( f ) 
e hf / k BT
1

Energi rata-rata ini bila disubstitusikan ke persamaan (1.1.1) akan menghasilkan

8f 2 hf
E ( f )f  3 hf / k T f . (1.1.5)
c e B 1

Inilah rumusan Planck bagi kurva radiasi benda hitam secara lengkap. Untuk panjang gelombang
yang besar berlaku pendekatan e hf / kBT 1+ hf/kBT, sehingga persamaan (1.1.5) menjadi persamaan
(1.1.3) dari Raleigh-Jeans.
Persamaan (1.1.5) dapat diungkapkan dalam  sebagai berikut:

8hc 1
E ( )  hc / k BT
.
 5
e 1
Jika x=hc/kBT maka
8 k B5 T 5 x 5
E ( x) 
c4h4 ex 1
2
Untuk memperoleh E() maksimum, maka harus dipenuhi dE/dx=0; jadi,

e  x  15 x  1  0 .

Dari persamaan ini diperolehx=4,9651 dengan mana diperoleh

T=hc/(4,9651 kB)=2,8978x10-3 mK.

Inilah hukum pergeseran Wien (1896) di mana maksimum dari E() untuk suhu-suhu T1, T2, …..,
terjadi pada panjang-panjang gelombang 1, 2, ….., sedemikian hingga 1T1= 2T2=……..

1.2 Effek Foto-Listrik


Pada 1887 Hertz mengamati peningkatan discharge dari elektroda logam ketika disinari dengan
cahaya ultraviolet. Pengamatan itu diteruskan oleh Hallwachs; dia mengamati emisi elektron ketika
dia menyinari permukaan-permukaan logam seperti seng, rubidium, potassium dan sodium. Proses
lepasnya elektron-elektron dari permukaan logam yang disinari disebut emisi fotoelektron atau effek
foto-listrik. Dalam pengamatan itu ternyata: (i) untuk suatu jenis logam ada frekuensi cahaya minimal
yang dapat melepaskan elektron, dan (ii) semakin tingi intensitas cahaya yang
mengenai permukaan logam, semakin banyak elektron yang dilepaskan. Fakta
eksperimen dari efek foto-listrik ini tak dapat dijelaskan dengan teori-teori klasik
seperti teori listrik-magnetnya Maxwell. Pada 1905, Einstein mengemukakan
bahwa proses tersebut dapat diungkapkan sebagai masalah tumbukan partikel.
Menurut beliau, suatu berkas cahaya monokromatik dapat dipandang sebagai
Albert Einstein kumpulan partikel-partikel yang disebut foton yang masing-masing memiliki
(1879-1955) energi hf di mana f adalah frekuensi cahaya. Jika suatu foton menumbuk
Nobel Fisika 1921
permuka-an logam, energi foton itu dialihkan ke elektron dan ketika elektron
diemisikan dari permukaan logam energi kinetiknya (K=½mv2):

K  hf  W (1.2.1)
dengan W adalah kerja yang diperlukan untuk melepaskan elektron; W ini
bergantung pada jenis logamMillikan pada 1916 melakukan eksperimen seperti
R. A. Millikan
dalam Gb.1.2. Energi kinetik K diukur dengan memberikan potensial stop V
(1868-1953) Nobel (sehingga K=eV) ditunjukkan oleh penunjukan ampermeter sama dengan 0. Jika
Fisika 1923 V=0, maka W=hvo. sedangkan konstanta Planck h adalah kemiringan kurva V-f.
hf
V

K _
+ -e

A fo f
V
Gb. 1.2 Eksperimen efek foto-listrik (a), dan potensial stop sebagai fungsi frekuensi cahaya.

1.3 Panas Jenis Zat Padat


Teori klasik meramalkan bahwa kapasitas panas pada volume tetap tidak bergantung pada suhu.
Tinjaulah suatu zat padat yang mengandung N buah atom, masing-masing bisa dipandang sebagai

3
osilator yang bergetar di sekitar posisi setimbangnya. Berdasarkan „hukum energi partisi‟, energi rata-
rata suatu osilator pada suhu kesetimbangan T adalah 3kBT , dan energi rata-rata zat tersebut adalah:
u=3NkBT. Untuk satu mole, N=NA=6,025x1023 (bilangan Avogadro) energi rata-rata itu adalah:
u=3RT, dimana R=NAkB adalah konstanta gas. Panas jenis molar adalah:

 u 
CV     3R  6kal/K mole. (1.3.1)
 T V

Persamaan ini menyatakan bahwa secara klasik panas jenis per mole sama untuk semua zat pada
semua suhu. Pada suhu kamar dan di atasnya, beberapa zat padat memenuhi hukum di atas, tetapi
tidak betul pada suhu rendah, malah mendekati nol pada suhu T0.
Mengikuti pandangan Planck, Einstein pada tahun 1906 mengasumsikan suatu zat padat
dapat digambarkan dengan sekumpulan osilator harmonis yang energinya hanya bisa diskrit: nh
dengan n bilangan bulat dan f adalah frekuensi osilator. Menurut Einstein, jika semua osilator itu
berfrekuensi sama, fo, energi dalam zat padat itu adalah:

3hf o
uN . (1.3.2)
e hf o / kBT  1

Mengikuti defenisi panas jenis dalam persamaan (1.3.1), kapasitas panas pada volume tetap adalah:

  e E / T
2
 u 
CV     3Nk B  E 
 
(1.3.3)
 T V  T  e E / T  1
2

di mana E =hfo/kB disebut suhu Einstein. Dengan mem-fit data hasil eksperimen ternyata suhu
Einstein itu beberapa ratus Kelvin. Hasilnya adalah seperti Gb.1.3.

CV
klasik
3R
eksperimen

Einstein

T
Gb.1.3 Kapasitas panas molar zat

1.4 Dualisme Gelombang-Partikel


Berdasarkan hasil-hasil eksperimen interferensi dan difraksi, teori tentang cahaya sebagai gelombang
telah mantap pada penghujung abad 19, terlebih lagi karena keberhasilan teori elektromagnetik
Maxwell. Namun, Einstein pada 1905 menolak teori tersebut berdasarkan fenomena efek foto-listrik
dimana permukaan logam melepaskan elektron jika disinari dengan cahaya berfrekuensi fW/h, di
mana W adalah fungsi kerja logam (=energi ikat elektron dipermukaan logam).

4
Menurut Einstein, dalam fenomena tersebut cahaya harus dipandang sebagai kuanta yang
disebut foton, yakni partikel cahaya dengan energi kuantum E=hf. Dalam teori relativitas khususnya
(1905), hubungan energi dan momentum suatu partikel diungkapkan sebagai berikut:

2
E
   p  mo c
2 2 2
(1.4.1)
 
c

di mana p adalah momentum partikel, dan mo adalah massa diam partikel bersangkutan. Untuk foton,
karena tidak mempunyai massa diam, sedangkan energinya E=hv, maka momentum foton adalah

E h
p  . (1.4.2)
c 

Dalam hal ini  adalah panjang gelombang cahaya. Adanya momentum inilah yang mencirikan sifat
partikel dari cahaya.
Pada tahun 1924, Arthur H. Compton dalam eksperimennya (lihat Gb.1.4) mengamati
perubahan panjang gelombang sinar-X setelah dihamburkan oleh elektron bebas.
Jika  dan ‟ masing-masing adalah panjang gelombang sinar-X sebelum dan
setelah terhambur, dan m0 adalah massa diam elektron, maka diperoleh
hubungan:

'   
h
1  cos   . (1.4.3)
Arthur H. Compton m0 c
(1892-1962) Nobel
Fisika 1927
sinar-X terhambur
sinar-X datang


elektron terhambur

Gb.1.4 Hamburan Compton.

Harga dari h/(mc)=0,00243 nm, disebut panjang gelombang Compton.


Karena ruas kanan selalu positif untuk semua harga sudut , maka
’>.Artinya, energi foton terhambur (E‟) lebih kecil daripada energi foton
datang (E). Oleh sebab itu, energi kinetik elektron terhambur adalah E-E‟.
Pembuktian persamaan (1.4.3) di atas hanya dapat dilakukan dengan
memandang sinar-X sebagai foton (partikel) yang memiliki momentum
selain energi. Interaksi dapat dipandang sebagai tumbukan elastis di mana
Lois deBroglie(1892-
1987)NobelFisika 1929 total energi dan total momentum sebelum dan setelah tumbukan masing-
masing tetap. Jadi, sinar-X sebagai gelombang , juga memiliki sifat partikel.

Pada tahun 1924 juga, Louis de Broglie mengemukakan bahwa tidak hanya cahaya yang memiliki
sifat “mendua”, tetapi juga partikel. Suatu partikel dapat juga memiliki sifat gelombang. Menurut de
Broglie suatu partikel yang memiliki momentum p jika dipandang sebagai gelombang, mempunyai
panjang gelombang:

5
h
 . (1.4.4)
p

Panjang gelombang ini disebut panjang gelombang de Broglie dari partikel bermomentum p.
Sifat gelombang suatu partikel untuk pertama kalinya diperagakan secara eksperimen oleh
Davisson dan Germer pada 1927; mereka berhasil memperlihatkan efek difraksi dari berkas elektron
ketika melalui celah sempit (lihat Gb.1.5) sebagaimana cahaya.

berkas
elektron

Gb.1.5 Difraksi elektron oleh celah sempit.

Andaikan a adalah lebar celah dan posisi sudut untuk „gelap‟ pertama adalah , maka berlaku

𝑎 sin 𝜃 = 𝜆 (1.4.5)

di mana  adalah panjang gelombang de Broglie dari elektron.


Berdasarkan persamaan (1.4.4), partikel bebas bermassa m yang
bergerak dengan momentum p=mv dan energi E=p2/2m=½mv2 dapat
diungkapkan sebagai gelombang dengan amplitudo konstan. Sebagai gelombang,
partikel bebas itu memiliki kecepatan fasa: v=f(h/p)(E/h)= E/p=p/2m=½v.
Clinton J. Davisson Jadi, kecepatan fasanya sama dengan setengah kecepatan partikel. Ini sesuatu
(1881-1958) Nobel
yang sulit diterima, hanya saja tidak menimbulkan akibat secara eksperimen,
Fisika 1937.
karena kecepatan fasa suatu gelombang tidak pernah dapat diukur; yang dapat
diukur adalah kecepatan grup, yakni fg=d/dk, di mana =2f dan k=2/.
Secara intuisi fisis, jika amplitudo gelombang partikel bebas itu konstan, maka gelombang
tidak memiliki informasi tentang posisi partikel di dalam ruang. Secara fisis, jika suatu partikel
terlokalisasi dalam daerah x tertentu maka gelombang partikel itu haruslah mempunyai amplitudo
(intensitas) yang besar di dalam daerah itu dan sangat kecil di luar daerah itu. Hal ini menggambarkan
suatu paket gelombang seperti diperlihatkan dalam Gb.1.6. Kecepatan dengan mana paket gelombang
menjalar adalah kecepatan grup vg.Dengan E=p2/2m, maka kecepatan grup adalah: vg
=d/dk=dE/dp=p/m=v. Jadi jelaslah bahwa kecepatan grup dari gelombang partikel sama dengan
kecepatan partikel itu sendiri. Kesimpulannya adalah, suatu partikel yang terlokalisasi di dalam suatu
daerah tertentu dapat dikaitkan dengan suatu paket gelombang yang amplitudonya dominant hanya di
dalam daerah itu; kecepatan grupnya paket gelombang tersebut sama dengan kecepatan partikel itu.

x
Gb.1.6 Paket gelombang partikel yang terlokalisasi di dalam jarak x.

Agar suatu paket gelombang terlokalisasi dalam ruang, maka paket gelombang itu dapat
dipandang sebagai hasil superposisi dari berbagai gelombang dengan  yang berbeda. Jika paket

6
gelombang itu memanjang dalam daerah x, harga-harga dari bilangan-bilangan gelombang dari
gelombang-gelombang yang berinterferensi ada dalam daerah k sedemikian hingga sesuai dengan
analisa Fourier diperoleh: xk2. Tetapi dalam hubungannya dengan momentum, k=p/h,
sehingga dipenuhi:

Δ𝑥 Δ𝑝~2𝜋ℎ

Inilah yang dikenal sebagai prinsip ketidak-pastian Heisenberg; menurut prinsip ini, kita tidak bias
secara akurat mengukur posisi dan momentum suatu partikel pada saat yang sama dengan ketelitian
x=0 dan p=0, tetapi hanya dengan ketelitian:

Δ𝑥 Δ𝑝 ≥ 2𝜋ℎ (1.4.6)

1.5 Spektrum Atom Hidrogen;Teori Atom Bohr


Dalam paroh kedua abad 19, eksperimen spektroskopi berkembang sangat pesat. Karena emisi cahaya
saat itu dipandang sebagai hasil vibrasi-vibrasi, maka hubungan harmonik antara garis-garis spektrum
tak dapat terungkap-kan. Pada tahun 1885, Johann Balmer mengemukakan bahwa panjang
gelombang-panjang gelombang semua garis spektrum atom hidrogen bisa diungkapkan dengan rumus
empiris:

 n2 
n  b  2 ; n  3, 4, 5, ...... (1.4.7)
n 4

di mana b adalah suatu konstanta. Persamaan (1.4.7) ini selanjutnya secara


umum dituliskan sebagai berikut:

1  1 1 
Johan J.Balmer  R 2  2  (1.4.8)
(1825-1898) n 2 n 

denganR=1.0968 x107 m-1 disebut konstanta Rydberg. Karena masih ada garis-garis spektrum yang
tidak terliput dalam persamaan (1.4.8), maka selanjutnya Balmer dan Ritz mengemukakan rumus
yang lebih umum,

1  1 1 
 R 2  2 ; n  m (1.4.9)
n m n 

Dengan rumusan empiris ini, Lyman menemukan deret ultraviolet untuk m=1, n=2, 3, 4, … dan
Paschen menemukan deret inframerah untuk m=3, n=4, 5, 6, …
Berdasarkan percobaan hamburan partikel-, pada tahun 1911 Ernest Rutherford
menyarankan struktur atom yang terdiri dari inti bermuatan positif dan elektron-
elektron yang mengitarinya; elektron ditemukan pertama kali oleh J. J. Thomson
pada 1897. Sayangnya, teori fisika pada masa itu tak mampu menjelaskan hasil
penemuan E. Rutherford (lihat foto) dalam kaitannya dengan rumusan Balmer-
Ritz di atas. Pada tahun 1913, Niels Bohr mengkombinasikan konsep atom
Rutherford dan sifat gelombang partikel de Broglie, untuk menjelaskan rumusan
Ernest Rutherford garis-garis spektrum atom hidrogen dari Balmer-Ritz. Untuk itu, Bohr
(1871-1919)
Nobel Kimia 1908
menggunakan dua postulat dasar:

7
(i) Elektron adalah partikel yang mengedari inti hanya pada orbit-orbit tertentu. Pada setiap orbit,
elektron memiliki energi yang stasioner sehingga tidak ada radiasi elektromagnetik yang
diemisikan (hal ini bertentangan dengan ramalan teori klasik). Pada orbit-orbit stasioner
itumomentum sudut elektron merupakan kelipatan bulat dari ħ=h/2,

Ln  n (1.4.10)

(ii) Emisi atau absorpsi radiasi terjadi bila elektron melompat (bertransisi) dari satu orbit stasioner ke
orbit stasioner lainnya. Bila elektron melompat dari orbit stasioner berenergi Ei ke orbit
dibawahnya yang berenergi Ef, maka elektron akan mengemisikan cahaya dengan foton yang
berenergi sama dengan beda energi keduanya:

Ei  E f  hf . (1.4.11)

Selanjutnya, secara klasik seperti diperlihatkan dalam Gb.1.7, gaya tarikan inti
pada elektron di suatu orbit berjari-jari r adalah:
Niels Bohr (1885- e2
1952) Nobel Fisika F (1.4.12)
1922 4 o r 2
di mana e=1,6 x 10-19 C, o = adalah permitivitas ruang hampa, dan 1/(4o)= 9x109 Nm2/C2.Pada saat
yang sama, jika v adalah kecepatan elektron dan me =9,11x 10-31 kg adalah massanya, maka gaya
sentrifugal pada elektron adalah:

me v 2
Fsf  . (1.4.13)
r

F -e
+e
r

Gb. 1.7 Model atom hidrogen menurut Bohr.

Karena stasioner, kedua gaya dalam persamaan (1.4.12) dan (1.4.13) harus saling meniadakan,
sehingga kecepatan elektron adalah

e2
v (1.4.14)
4 o me r
dan energi kinetiknya adalah:
e2
K . (1.4.15)
8 o r

8
Karena energi potensial elektron itu adalah

e2
V  (1.4.16)
4 o r

maka energi totalnya (E=K+V) pada orbit berjari-jari r, adalah

e2
E . (1.4.17)
8 o r

Berdasakan postulat pertama, diperoleh

Ln  me vrn  n; n  1, 2, 3, ...... (1.4.18)

Jadi, dengan persamaan (1.4.14) dan (1.4.18) kecepatan dapat dieliminasi untuk memperoleh jari-jari
orbit stasioner:

n 2 h 2 o
rn   n 2 ao (1.4.19)
 me e 2

di mana
h 2 o
ao   5,292 x10 11 m (1.4.20)
 me e 2

disebut jari-jari Bohr.


Jika persamaan (1.4.19)disubstitusikan ke persamaan (1.4.17) akan diperoleh energi stasioner
pada orbit ke-n sebagai berikut:
me e 4
En   2 2 2 (1.4.21)
8 o h n

Untuk n=1, dapat dihitung E1=-13,6 eV (1 eV=1,6x10-19 J) dan untuk n= (paling luar), E=0.
Beda energi elektron antara orbital ke-n dan orbital ke-m dengan n>m, adalah:

me e 4  1 1 
E  2 2 
 2 (1.4.22)
8 o h  m 2
n 

Kalau elektron melompat dari orbital-n ke orbital-m, elektron akan mengemisikan foton berenergi
hν , dengan mana akan diperoleh

1  1 1 
 R 2  2  (1.4.23)
 m n 
di mana ungkapan bagi konstanta Rydberg adalah:

9
me e 4
R 2 3 (1.4.24)
8 o h c

Berdasarkan postulat Bohr dalam persamaan (1.4.10)dan (1.4.8) dengan menyatakan


momentum p=mev maka pr=nħ. Selanjutnya dengan menggunakan panjang gelombang de Broglie
dalam persamaan (1.4.4) diperoleh

2 r  nn . (1.4.25)

dan selanjutnya bila digabungkan dengan persamaan (1.4.19) maka

n  n (2 ao ) (1.4.26)

Ini menunjukkan bahwa keliling orbit elektron merupakan kelipatan bulat panjang gelombang de
Broglie-nya.

E=0
E3= -1,51 eV
E2= -3,40 eV

E1= -13,6 eV

Gb.1.8 Tingkat-tingkat enegi elektron dalam atom hidrogen.

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa Bohr telah berhasil menjelaskan rumus empiris
Balmer-Ritz tentang spektrum atom hidrogen dengan memanfaatkan sifat gelombang elektron.
Spektrum garis ternyata merupakan ungkapan dari energi-energi orbital yang stasioner. Lebih jauh,
energi-energi stasioner itu merupakan tingkatan energi yang diskrit, seperti diperlihatkan dalam Gb.
1.8. Pengertian energi negatif adalah bahwa elektron terikat dalam atom karena tarikan intinya.
Artinya, elektron yang berada pada tingkat energi E1 dapat dibebaskan dari pengaruh inti dengan
memberikan energi minimum sebesar 13,6 eV.
Teori Bohr memandang orbit-orbit elektron hanya berbentuk lingkaran saja. Sommerfeld
(1916) dan Wilson (1915) memasukkan orbital berbentuk ellips. Menurut mereka, untuk sistem
periodik berlaku

 p dq
i i  ni h; ni bilangan bulat (1.4.27)

di mana pi adalah momentum linier, qi adalah koordinat dan integral dilakukan terhadap satu perioda
dari gerak partikel. Untuk eletron yang mengorbit dengan lintasan berbentuk ellips di mana inti
hidrogen sebagai salah satu fokus seperti Gb. 1.9, persamaan (1.4.18) dapat dituliskan sebagai

 p d  n h;  p dr  n h
r r
(1.4.28)
di mana n dan nr adalah bilangan bulat yang disebut bilangan kuantum azimut dan radial. Bilangan
kuantum utama adalah jumlah kedua bilangan kuantum: 𝑛 = 𝑛𝜙 + 𝑛𝑟 . Momentum p merupakan

10
momentum sudut dan dari hukum Kepler adalah konstan; jadi

p 2  n h atau p  n 

Ini sesuai dengan yang telah dikemukakan dalam persamaan (1.4.18).

r

Gb. 1.9 Orbit elektron berbentuk ellips.

Sebagai contoh pemakaian teori Sommerfeld, tinjaulah osilator harmonis dari massa m pada
pada sumbu-x. Energi: E=p2/2m+2π2f2mx2, momentum:p=(2mE-4π2f2m2x2)1/2.

a 1/ 2
 2E 2 2 2
 p( x)dx  m   m  4 f x  dx  nh
a

di mana a adalah simpangan maksimal disekitar titik kesetimbangan; berdasar hukum kekekalan
energi: a=[2E/(4π2f2m)]1/2 . Dengan bantuan: x=a sinθ, integrasl memberikan E/f=nh atau E=nhf. Ini
sama dengan yang dikemukakan oleh Planck dalam persamaan (1.1.4)
Teori atom Bohr seperti telah dikemukakan membuka pandangan orang tentang struktur
atom. Tetapi selanjutnya disadari bahwa teori Bohr itu memiliki beberapa masalah, antara lain:
(i) Jika atom memiliki lebih dari satu elektron, maka selain gaya tarik inti ada pula gaya tolak antar
elektron,
(ii) Dengan pengamatan yang lebih teliti, ternyata kebanyakan garis spektrum bukanlah garis tunggal
tapi merupakan gabungan dari dua atau lebih garis-garis yang sangat rapat, dan
(iii) Dalam teori atom Bohr posisi dan momentum secara pasti dapat ditentukan; artinya ketidak-
pastian posisi r=0 dan ketidak-pastian momentum pr=0. Hal ini bertentangan dengan hukum
ketidak-pastian Heisenberg (kira-kira 10 tahun setelah Bohr).
Masalah-masalah inilah yang selanjutnya memotivasi orang untuk mencari teori baru.

11
Soal-soal
1.1 Perhatikan rumusan Planck dalam persamaan (1.1.5). Tunjukkan bahwa pada frekuensi tinggi
(f), berlaku:

8 hf 3
E( f )  3
e hf / kT
c

Ini adalah rumusan empiris dari Wien untuk radiasi benda-hitam.

1.2 Hitunglah energi foton dari cahaya yang panjang gelombangnya 500 nm. Selanjutnya hitunglah
momentumnya.

1.3 Buktikanlah persamaan Comtpton (1.4.3). Gunakan hukum kekekalan energi dan kekekalan
momentum secara serentak.

1.4 Sinar-X yang panjang gelombangnya 2,5 Å (1 Å=0,1 nm) dihamburkan oleh elektron bebas
yang awalnya diam. Sinar-X terhambur membentuk sudut 60o terhadap arah sinar-X semula.
Tentukanlah energi foton sinar-X datang, panjang gelombang sinar-X terhambur, energi foton
sinar-X terhambur, dan energi kinetik elektron terhambur, serta sudut hamburan elektron.

1.5 Sebuah benda bermassa 1 gram bergerak dengan laju 10 m/s. Jika benda itu dipandang sebagai
gelombang, berapakah panjang gelombangnya? Apakah hasil perhitungan anda cukup realistis?

1.6 Perhatikan Gb.1.3 dan persamaan (1.4.4). Andaikan celah itu memanjang pada sumbu-x,
sehingga x=a merupakan ketidak-pastian posisi elektron. Buktikanlah bahwa x px=h, di
mana px adalah ketidak-pastian momentum pada sumbu-x.

1.7 Sebuah elektron bergerak dengan laju 103 m/s. Hitunglah panjang gelombang de Broglie-nya.

1.8 Neutron termal adalah neutron yang energi rata-ratanya dihitung seperti rumusan gas ideal,
3kT/2, k=konstanta Boltzmann dan T=suhu Kelvin. Hitunglah panjang gelombang de Broglie-
nya pada suhu 25 oC.

1.9 Energi ikat elektron dipermukaan logam K kira-kira 2 eV. Hitunglah frekuensi minimal cahaya
yang dapat melepaskan elektron dari permukaan logam itu.

1.10 Elektron dalam atom timah memiliki energi ikat 9x104 eV. Timah disinari, dan elektron lepas
dilewatkan di dalam medan magnet 10-2T. Teramati jari-jari lintasan elektron 0,25 m. Hitunglah
energi kinetik elektron dan energi foton terserap.

1.11 Buktikanlah persamaan-persamaan (1.4.19) berdasarkan persamaan (1.4.18) dan (1.4.17).

1.12 Menurut Bohr keliling orbit elektron merupakan kelipatan bulat panjang gelombang de Broglie
elektron (lihat persamaan (1.4.20). Buktikanlah.

1.13 Hitunglah panjang gelombang dan frekuensi gelombang elektromagnet yang diemisikan jika
elektron dalam atom hidrogen bertransisi dari orbital n=3 ke n=1, dan dari n=3 ke n=2.

12
BAB 2
DASAR-DASAR FISIKA KUANTUM

2.1 Persamaan Gelombang


Tinjaulah getaran sebuah kawat halus yang diregang sepanjang sumbu-x dengan kedua ujungnya
dibuat tetap. Misalkan simpangan pada sembarang posisi dan waktu adalah (x,t). Fungsi ini disebut
fungsi gelombang. Dalam teori gelombang simpangan itu memenuhi persamaan gelombang seperti:

 2 ( x, t ) 1  2 ( x, t )
.  2 (2.1.1)
x 2 v t2

di mana v adalah kecepatan fasa (kecepatan perambatan gelombang). Jika dimisalkan

 ( x, t )   ( x)  (t ) (2.1.2)

dan disubstitusikan ke persamaan (2.1.1) akan diperoleh:

v 2 d 2 ( x) 1 d 2 (t )
.  2 . (2.1.3)
 ( x) dx 2
 (t ) dt 2

Pemberian konstanta -2 dapat dilakukan karena telah terjadi pemisahan variabel x dan variabel t.
Jadi, dari persamaan (2.1.3) itu diperoleh dua persamaan:

d 2 (t )
  2 (t )  0 (2.1.4)
d t2
d 2 ( x)  2
 2  ( x)  0 (2.1.5)
dx 2 v

Persamaan (2.1.4) mempunyai solusi umum:

 (t )  A e i t (2.1.6)

di mana =2f, fadalah frekuensi; karena v adalah kecepatan merambat maka panjang gelombang
=v/f. Fungsi gelombang (2.1.2) menjadi

 ( x, t )   ( x) e i t (2.1.6a)

Selanjutnya, persamaan (2.1.5) mempunyai solusi umum:

 2   2 
 ( x)  C sin  x   D cos x (2.1.7)
     
Untuk menentukan konstanta C dan D diperlukan syarat batas, misalnya untuk fungsi di atas, pada
x=0, dan x=L dengan L adalah panjang kawat. Andaikan, untuk x=0, (0)=0 maka D=0, dan
persamaan (2.1.7) menjadi

13
 2 
 ( x)  C sin  x (2.1.8)
  

Selanjutnya jika diambil syarat batas di x=L, φ(L)=Csin(2L/)=0 maka sin(2L/)=0, sehingga:

2L
 n; n  1, 2, ..... (2.1.9)

Bilangan n disebut nomor modus normal. Akhirnya persamaan (2.1.8) dapat dituliskan seperti

 n 
 n ( x)  C sin  x (2.1.10)
 L 

Substitusi persamaan (2.1.9) dan (2.1.6) ke persamaan (2.1.2) menghasilkan:

 n  i t
 n ( x, t )  A sin  xe . (2.1.11)
 L 

Persamaan ini menggambarkan simpangan modus normal getaran kawat.

2.2 Persamaan Schrödinger


Pada tahun 1926, Erwin Schrödinger menggunakan sifat gelombang de Broglie suatu partikel dalam
persamaan gelombang (2.1.5). Jika momentum partikel adalah p, maka panjang gelombangnya adalah
=h/p. Karena kecepatan v=f maka


v (2.2.1)
p

di mana   h / 2 .dan =2f. Dengan demikian maka persamaan gelombang


(2.1.5) menjadi
Erwin Schrödinger
(1887-1961) Nobel d 2 ( x) p 2
Fisika 1933  2  ( x)  0 (2.2.2)
dx 2 

Tetapi, karena energi kinetik partikel adalah


p2
K (2.2.3)
2m

maka persamaan gelombang (2.2.2) menjadi

d 2 ( x) 2m K
 2  ( x)  0 (2.2.4)
dx 2 

Jika energi potensial yang dimiliki partikel adalah V, maka energi partikel itu adalah

14
E  K V (2.2.5)

Dengan demikian maka persamaan gelombang (2.2.4) menjadi

d 2 ( x) 2m
 2 ( E  V )  ( x)  0 (2.2.6)
dx 2 

Inilah yang disebut persamaan Schrödinger yang tidak bergantung waktu. Jelaslahbahwa persamaan
Schrödinger adalah persamaan gelombang untuk satu partikel.
Untuk 3-dimensi persamaan Schrödinger adalah:

2m
 2 ( x, y, z )  ( E  V ) ( x, y, z )  0 (2.2.7)
2
di mana
2 2 2
  2  2  2 .
2

x y z

Dari persamaan (2.2.6) dan (2.2.7) jelas bahwa persamaan Schrödinger adalah persamaan gelombang
bagi partikel. Solusi persamaanitu adalah energi E dan fungsi gelombang φ(x)Untuk menyelesaikan
persamaan itu diperlukan syarat batas bagi fungsi gelombang φ(x). Syarat batas itu bisa ditentukan
jika bentuk energi potensial V diketahui sebelumnya.
Persamaan Schrödinger (2.2.6) untuk 1-dimensi dapat dituliskan sebagai berikut:

 2 d 2 
 2
 V ( x)  ( x)  E ( x) (2.2.8)
 2m dx 

Untuk itu nyatakanlah


2 d 2
Hˆ    V ( x) (2.2.9)
2m dx 2

sehingga persamaan (2.2.8) menjadi

Hˆ  ( x)  E ( x) (2.2.10)

Ĥ disebut Hamiltonian partikel yang merupakan operator energi dari partikel. Untuk kasus 3-dimensi
Hamiltonian itu adalah

2 2
Hˆ     V ( x, y, z ) (2.2.11)
2m

Hamiltonian di atas hanya bergantung pada ruang, tidak bergantung waktu. Jadi ia bersifat stasioner.
Dalam persamaan (2.2.10) terlihat bahwa operasi operator Ĥ pada fungsi  (x) menghasilkan energi
E tanpa mengubah fungsi  (x) . Persamaan seperti itu disebut persamaan nilai eigen, di mana E
adalah nilai eigen energi dari operator Ĥ dengan fungsi eigen  (x) . Analogi dengan fisika klassik,

15
E=K+V, maka  ( / 2m) / x adalah operator energi kinetik dan V adalah operator energi
2 2 2

potensial dari partikel.


Berdasarkan persamaan (2.1.6a), mengingat   E /  fungsi gelombang partikel bisa
dituliskan seperti
 ( x, t )   ( x) e iEt /  (2.2.12)

. Jika operator Ĥ dioperasikan pada fungsi lengkap itu maka

Hˆ  ( x, t )  Hˆ  ( x) e iEt /   E ( x) e iEt / 


 i  ( x, t )
t
Persamaan ini

i  ( x, t )  Hˆ  ( x, t ) (2.2.13)
t

disebut persamaan Schrödinger yang bergantung waktu.


Dengan fungsi gelombang  (x) dapat dinyatakan kerapatan peluang untuk menemukan
partikel itu di posisi x dalam rentang dx, yakni  ( x) dx sehingga berlaku
2



  ( x)
2
dx  1 (2.2.14)


Persamaan (2.2.14)) itu menyatakan fungsi gelombang partikel yang dinormalisasi. Dalam persamaan
itu  ( x)   * ( x)  ( x)   ( x) di mana
2 2
 * ( x) adalah konjugat dari  (x)

Contoh 2.1:
d
Di antara fungsi-fungsi A sin ax, B cos bx dan Cex yang manakah fungsi eigen dari operator dan
dx
d2
, dan tentukan nilai egen bersangkutan.
dx 2
d
 Asin ax   a  A cos ax 
dx
d
B cos bx   bB sin bx 
dx
d
dx

Ce x   Ce x   
d
Jadi, A sin ax dan B cos bx bukan fungsi eigen dari operator .
dx
d2
2
 A sin ax   a 2  A sin ax 
dx

16
d2
2
B cos bx   b2 B cos bx 
dx
d2
dx 2
 
Ce x   2 Ce x  
d2
Jelas bahwa A sin ax, B cos bx dan Cex adalah fungsi-fungsi eigen dari operator masing-masing
dx 2
dengan nilai eigen –a2, -b2 dan 2.
Tinjaulah kembali persamaan Schrödinger yang bergantung waktu. Misalkan

 ( x, t )  Fˆ (t ) ( x) .

Substitusi ke persamaan (2.2.13) menghasilkan:

dFˆ
i  ( x)  Hˆ Fˆ ( x) ,
dt
sehingga
dFˆ
i  Hˆ Fˆ ,
dt
ˆ
dan selajutnya diperoleh Fˆ (t )  e iHt /  . Jadi, (x,t) adalah

ˆ
 ( x, t )  e iHt /  ( x) (2.2.15)

Dengan menguraikan operator eksponensial di atas,

ˆ  Hˆ 2 t 2 /  2 
 ( x, t )  e iHt /  ( x)  1  iHˆ t /    .....  ( x)
 2! 
 E 2t 2 /  2 
 1  iEt /    .....  ( x)   ( x) e iEt / 
 2! 
Jadi, bentuk lengkap dari fungsi gelombang (x,t) adalah

 ( x, t )   ( x)e iEt /  . (2.2.16)

Dari persamaan di atas dapat dinyatakan bahwa keadaan suatu partikel dengan energi E yang
tak bergantung waktu adalah keadaan stasioner, dan fungsi gelombang  ( x, t )   ( x) exp( iEt / )
disebut keadaan stasioner. Fungsi gelombang  ( x, t ) disebut juga fungsi keadaan.

2.3 Sifat-sifat Fungsi Gelombang


Dalam persamaan (2.2.8);φ(x) adalah fungsi gelombang partikel yang tidak bergantung waktu.
Dengan fungsi gelombang itu, peluang menemukan partikel di x dalam interval dx adalah
 * ( x)  ( x) dx , dan total peluang untuk menemukan partikel itu disepanjang sumbu-x adalah

17
 

  ( x) ( x) dx    ( x) dx  1
* 2
(2.3.1)
 

di mana  (x) disebut rapat peluang. Dalam persamaan ini, φ*(x) adalah konjugasi dari φ(x).
2

Fungsi φ(x) yang memenuhi persamaan (2.3.1) disebut fungsi yang dinormalisasi.
Suatu fungsi gelombang partikel harus memiliki kelakuan yang baik agar sifat yang
diungkapkan oleh persamaan (2.3.1) dapat terpenuhi. Sifat-sifat tersebut adalah:
(i) tidak sama dengan nol, dan merupakan single-valued, artinya φ(x) memiliki hanya satu harga saja
untuk suatu harga x.
(ii) fungsi dan turunannya kontinu di semua harga x, dan
(iii) fungsi (harga mutlaknya) tetap terbatas (finite) untuk x menuju ; dalam keadaan terikat
 * ( x)  ( x)  0 di x menuju .
Jika ketiga persyaratan di atas dipenuhi, maka fungsi φ(x) disebut sebagai fungsi yang berkelakuan
baik.

Contoh 2.2:
Perhatikan fungsi gelombang dalam persamaan (2.1.10),

 n 
 n ( x)  C sin  x .
 L 

Normalisasinya harus memenuhi:


 n 
L

  n ( x) dx  C  sin  x  dx  1 .
2 2 2

 0  L 

Dengan menggunakan sin2=(1-cos2)/2, maka hasil integral di atas adalah C2(L/2)=1 sehingga
C  2 / L . Jadi secara lengkap fungsi yang dinormalisasi adalah,

2  n 
 n ( x)  sin  x .
L  L 

Berdasarkan integral di atas, maka untuk daerah x≤0 dan x≥L, n(x)=0.
Suatu fungsi gelombang yang dinormalisasi dapat dinyatakan sebagai kombinasi linierdari
beberapa fungsi yang masing-masing dinormalisasi juga. Jika (x) adalah kombinasi linier dari
sekumpulan fungsi-fungsi {φn(x)}, maka penulisannya secara umum adalah seperti:

 ( x )   c n n ( x ) (2.3.2)
n

di mana cn adalah koefisien bagi fungsi φn(x) yang biasanya ril atau kompleks. Koefisien itu
memenuhi integral overlap seperti

c m    m* ( x)  ( x) dx . (2.3.3)


18
Jika fungsi-fungsi {φn(x)}selain ternormalisasi juga ortogonal satu sama lain maka berlaku

 ( x)  n ( x) dx   mn
*
m (2.3.4)

dan
 cn* cn  1 . (2.3.5)
n

Harga mn=1 jika m=n, dan mn=0 jika mn. Fungsi-fungsi yang memenuhi persamaan (2.3.4) disebut
ortonormal, yakni orthogonal satu sama lain dan masing-masing ternomalisasi. Dalam persamaan
(2.3.2) {φn} disebut fungsi basis bagi pembentukan funsgsi .

Contoh 2.3:
 x; 0  x  L / 2
Misalkan fungsi  ( x)  
L  x; L / 2  x  L

2  n 
Jika  ( x)  a 
n
n n ( x);  n ( x) 
L
sin 
 L
x  tentukanlah harga-harga koefiisien cn.Fungsi

(0)=0, dan (L)=0; harga-harga ini sama dengan φn(0)= φn(L)=0; jadi (x) dan φn(x) memiliki
syarat batas yang sama sehingga (x) dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari fungsi-fungsi
φn(x). Berdasarkan persamaan (2.27) dan Apendiks 2,

L
c n    n ( x) ( x) dx 
0

 n   n 
L/2 L
2 2

L 0
x sin  x dx 
 L  L  ( L  x) sin
L/2
x dx
L 


2 L  3/ 2
 n 
sin  
n
2 2
 2 

Integral-integra di atas dapat diselesaikan dengan menggunakan Apendiks 1. Maka fungsi (x)
sebagai kombinasi linier dari fungsi-fungsi φn(x) adalah

2L3 / 2 1  n 
  ( x) 
 2 n
n
2
sin
 2 

Jika {φn(x)} fungsi-fungsi non-ortogonal, maka secara umum

 ( x)  l ( x) dx  S kl ;
*
k
 (2.3.6)
 ck cl S kl  1
kl

19
Persamaan (2.3.6)ini disebut integral overlap antara fungsi φk dan fungsi φl.
Untuk memudahkan penulisan, fungsi-fungsidituliskan dalam ket seperti n dan
konjugasinya dalam bra,  n . Integral overlap dituliskan seperti:

 ( x)  l ( x) dx   k  l
*
k . (2.3.7)


2.4 Operator Fisis


Suatu partikel memiliki besaran-besaran fisis seperti posisi, momentum dan energi. Setiap besaran
fisis suatu partikel dikaitkan dengan operatornya; misalnya operator bagi energi total adalah Ĥ yang
di dalam ruang adalah:
2 2
Hˆ    V (2.4.1)
2m

di mana  adalah operatorLaplace. Energi total partikel sebgai jumlah energi kinetic dan energi
2

poternsial disebut Hamiltonian partikel (lihat foto). Sehubungan dengan operator besaran fisis berlaku
istilah pengertian berikut:
(i) Harga suatu besaran fisis adalah nilai eigen dari operatornya;
(ii) Nilai eigen dari suatu operatorbesaran fisis berkaitan dengan suatu fungsi eigen; nilai eigen
adalah ril.
Dalam persamaan harga eigen berlaku

Hˆ  ( x)  E ( x) (2.4.2)

Berdasarkan (i) dan (ii), E adalah harga besaran fisis yakni energi, dan itu merupakan nilai eigen
dari operator Ĥ, dan φ(x) adalah fungsi eigen dari operator Ĥ tersebut. Karena E adalah harga
eigen dari operator Ĥdengan fungsi eigen φ(x) maka Eadalah energi yang tetap dari partikel,
sehingga (x,t)=φ(x)exp(-iEt/ħ) adalah keadaan stasioner; fungsi eigen seperti itu disebut fungsi
keadaan partikel.
(iii) Harga rata-rata suatu besaran fisis pada fungsi keadaannya memenuhi persamaan


A   * ( x) Aˆ  ( x) dx . (2.4.3)


Dalam hal ini, Â adalah operator dari besaran fisis, dan A adalah harga rata-ratanya dengan fungsi
gelombang (keadaan) partikel bersangkutan yang ternormalisasi. Jika fungsi itu belum dinormalisasi,
maka harga rata-rata itu harus diungkapkan sebagai berikut:


*
( x) Aˆ  ( x) dx
A  

(2.4.2)

 ( x) ( x) dx
*



Tinjau suatu operator besaran fisis dari partikel, misalnya  , yang mempunyai sekumpulan
nilai eigen {an} masing-masing denganfungsi-fungsi eigen {φn(x)}yang ortonormal, maka persamaan

20
nilai eigen adalah

Aˆ  n ( x)  an  n ( x) . (2.4.5)

Jika fungsi keadaan partikel (x) merupakan kombinasi linier dari fungsi-fungsi eigen tersebut maka
dapat dinyatakan

 ( x )   c n n ( x ) (2.4.6)
n

Dengan demikian maka harga rata-rata operator  dalam keadaan itu adalah

A    * ( x) Aˆ  ( x) d x

  c m* c n   m* ( x) Aˆ  n ( x)dx
mn

  c c a n   m* ( x) n ( x)dz
*
m n
mn
(2.4.7)
  c c a n mn   c n a n
* 2
m n
mn n

Karena harga rata-rata suatu besaran fisis adalah ril maka berlaku

ˆ  ( x)dx  [ A
  ˆ  ( x)]  ( x)dx .
* *
( x) A (2.4.8)

Persamaan (2.4.8)merupakan kasus istimewa dari bentuk umum:

ˆ  ( x)dx  [ A
  ˆ  ( x)]  ( x)dx
* *
( x) A (2.4.9)

Secara matematik, operator yang memenuhi persamaan (2.4.9) disebut operator Hermitian, sedangkan
(x) dan (x) merupakan fungsi-fungsi sembarang.
Menurut de Broglie, sebuah partikel yang bergerak sepanjang sumbu-x mempunyai
momentum linier px= ħk dengan k=2/ dan  adalah panjang gelombang partikel. Fungsi
gelombang partikel itu adalah  ( x)  ae ikx .Bagaimanakah bentuk (representasi) operator momentum
p̂ x yang memiliki harga eigen px= ħk? Untuk itu misalkan berlaku persamaan nilai eigen:

pˆ x ( x)  k  ( x) .

Tetapi dengan  ( x)  ae ikx , dipenuhi


d ( x)
k ( x)  i .
dx
sehingga,
 d 
pˆ x ( x)    i  ( x) .
 dx 

21
Jadi representasi dari operator momentum linier adalah

d  d
pˆ x  i  (2.4.10)
dx i dx

Mengingat hubungan antara momentum dan energi kinetik K=p2/2m, maka dalam bentuk operator
berlaku pula Kˆ  pˆ / 2m sehingga pˆ   d / dx . Dari hubungan ini selanjutnya akan diperoleh
2 2 2 2 2

representasi operator momentum seperti dalam persamaan (2.4.10) di atas.


Selanjutnya tinjaulah operator posisi xˆ  x dan nyatakanlah a(x) sebagai fungsi eigen
sehingga
xa ( x)  aa ( x) (2.4.11)

di mana a menyatakan harga eigen yang mungkin. Dari persamaan itu berlaku

( x  a)a ( x)  0 (2.4.12)
sehingga,
a(x)0 untuk x=a. (2.4.13)

Artinya, jika =a(x) sebagai fungsi eigen dari x̂ dengan harga eigen a, maka rapat peluang 2
=0 untuk xa.
Sebelum memahami sifat fungsi =a(x), tinjaulah fungsi tangga Heavisideh(x), yang
berharga:

h(x)=1 untuk x>0,


h(x)=0 untuk x<0, (2.4.15)
h(x)=½ untuk x=0.

Untuk itu didefinisikan fungsi deltaDirac(x) sebagai turunan dari h(x):

dh( x) 0 untuk x  0
 ( x)   (2.4.16)
dx  untuk x  0

Jika xdigganti dengan x-a, maka

h(x-a)=1 untuk x>a,


h(x-a)=0 untuk x<a, (2.4.17)
h(x-a)=½ untuk x=a.
dan
0 untuk x  a
 ( x  a)   . (2.4.18)
 untuk x  a

Beberapa sifat dari fungsi delta Dirac dikemukakan di bawah ini.

 f ( x) ( x  a)dx  f (a)



(2.4.19)

22

  ( x  a)dx  1

(2.4.20)

Integral di atas tak harus dari -∞ ke +∞ tapi bisa juga dari –ε ke +ε asal a ada di dalam daerah itu.
Persamaan (2.4.19) sejiwa dengan Kronecker delta dalam 
c j  ij  ci .
j

Sifat dalam persamaan (2.4.18)sama dengan sifat fungsi a(x) dalam persamaan (2.4.13).
Jadi, kita dapat nyatakan,

 a ( x)   ( x  a ) (2.4.21)
sehingga
xˆa ( x)  a ( x  a) (2.4.22)

Sifat-sifat penting lainnya dari fungsi-fungsi gelombang dikemukakan di bawah ini. Jika
φ1(x) dan φ2(x) merupakan fungsi-fungsi eigen dari operator besaran fisis (operator Hermitian) Â ,
masing-masing dengan nilai eigen a1 dan a2, yakni

Aˆ 1 ( x)  a11 ( x); A 2 ( x)  a2 2 ( x); a1  a2

Dari kedua persamaan eigen di atas berlaku

  ( x) Aˆ  ( x) dx  a   ( x) ( x) dx
* *
1 2 2 1 2

 Aˆ  ( x) ( x) dx  a   ( x) ( x) dx


* * *
1 2 1 1 2

Karena  adalah operator Hermitian, maka


*
1
ˆ  ( x) dx  A
( x) A 2
* *

 ˆ 1 ( x)  2 ( x) dx 
atau
a2  1* ( x) 2 ( x) dx  a1  1* ( x) 2 ( x) dx
a2  a1  1* ( x) 2 ( x) dx  0

Artinya, karena a1≠a2, maka

 ( x) 2 ( x) dx  0
*
1

Sifat ini telah dikemukakan dalam persamaan (2.3.4). Jadi, fungsi eigen φ1(x) dan φ2(x) adalah
orthogonal satu sama lain. Dengan demikian maka elemen matriks

ˆ  ( x) dx  a  * ( x) ( x) dx  0
A12   1* ( x) A 2 2 1 2

Selanjutnya, misalkan operator  memiliki nilai eigen yang sama dengan kedua fungsi eigen
φ1(x) dan φ2(x), yakni
Aˆ 1 ( x)  a11 ( x); A 2 ( x)  a2 2 ( x); a1  a2  a

23
Bila dua atau lebih fungsi-fungsi gelombang dengan nilai eigen yang sama, maka nilai eigen itu
dikatakan berdegenerasi. Tingkat degenerasi adalah bilangan yang menyatakan banyaknya fungsi-
fungsi dengan nilai eigen yang sama. Dalam contoh di atas, a berdegenerasi dua. Fungsi yang
merupakan kombinasi linier dari kedua fungsi itu, adalah

 ( x)  c11 ( x)  c2 2 ( x)
Bagi operator  ,
Aˆ  ( x)  c1 Aˆ 1 ( x)  c 2 Aˆ  2 ( x)
 ac11 ( x)  c2 2 ( x)  a ( x)

Jadi, kombinasi linier dari dua fungsi gelombang itu adalah fungsi gelombang bagi operator Â
dengan nilai eigen yang sama.

Contoh 2.4:
Fungsi-fungsi φ1=e-ikx dan φ2=eikxadalah fungsi eigen bagi operator d2/dx2 dengan nilai eigen yang
sama, -k2. Jadi , ψ=Ae-ikx +Beikx adalah fungsi eigen juga dengan nilai eigen yang sama.
Selanjutnya,

  ( x) Aˆ  ( x) dx   Aˆ  
( x)  2 ( x) dx
* * *
1 2 1

a   ( x) ( x) dx  a  
2
*
1 2 1
*
1 ( x) 2 ( x) dx
sehingga
a2  a1  1* ( x) 2 ( x) dx  0

Karena sama, a2-a1=0, maka  1* ( x) 2 ( x) dx tidak harus nol; jika

 ( x) 2 ( x) dx  S12  0
*
1

maka kedua fungsi itu disebut non-ortogonal dan S12 disebut integral overlap.

ˆ  ( x) dx  a  * ( x) ( x) dx  a S
A12   1* ( x) A 2 2 1 2 2 12

Suatu set fungsi-fungsi non-ortogonal yang tak bergantung satu sama lain (bebas linier) dapat
diortogonalisasi dengan cara yang dikenal sebagai metoda ortogonalisasiSchmidt. Dari1(x) dan
2(x)yangnon-ortogonal,misalkanlah

1(x)=1(x),
dan pilih
2(x)=2(x)+1(x).

Agar φ1 dan φ2 orthogonal satu sama lain maka

  dx   1*2 dx    1*1dx  0
*
1 2

Maka diperoleh

24
   dx .
*

 
1 2

   dx
*
1 1

Contoh 2.5:
2  
Fungsi-fungsi 1 ( x)  sin x  dan 2 ( x)  ax dalam daerah 0≤x≤L adalah dua buah fungsi
L L 
yang non-ortogonal. Maka

L L

   dx a 2 / L  x sin(x / L)dx
*
1 2
aL3 / 2 2
  0
 0

L L

   dx (2 / L)  sin (x / L)dx
* 2
1 1
0

2   2aL   
Jadi, 1 ( x)  sin  x  dan  2 ( x)  ax  sin x  orthogonal satu sama lain.
L L   L 

2.5 Komutator
Tinjau dua buah operator  dan B̂ , maka didefinisikan

[ Aˆ , Bˆ ]  Aˆ Bˆ  Bˆ Aˆ  0 (2.5.1)

sebagai komutator dari  dan B̂ .

Contoh 2.6:
Tentukanlah komutator dari operator-operator x dan d/dx. Ambillah suatu fungsi (x), dengan mana
dilakukan operasi berikut:

d d ( x) d
[ x, ] ( x)  x[ ]  [ x ( x)]
dx dx dx

d ( x) d ( x)
x   ( x)  x   ( x)
dx dx

Jadi, komutator dari x dan d/dx adalah


d
[ x, ]  1.
dx

Artinya, operator-operator x dan d/dx tidak komut satu sama lain. Komutator posisi dan momentum
adalah [ xˆ, pˆ x ] . Karena [ x, d / dx]  1 , maka
d
[ xˆ, pˆ x ]  i[ x, ]  i (2.5.2)
dx

25
ˆ , Bˆ ]  0 , kedua operator  dan B̂ disebut komut. Jika berlaku
Jika [ A

Aˆ   a dan Bˆ   b .
Maka
Aˆ Bˆ   bAˆ   ba
Bˆ Aˆ   aBˆ   ab
sehingga
 
Aˆ Bˆ   Bˆ Aˆ   Aˆ Bˆ  Bˆ Aˆ   0

Artinya, dua operator yang komut memiliki fungsi eigen yang sama.

2.6 Persamaan Gerak Heisenberg


Dalam persamaan (2.4.3)telah diperkenalkan definisi harga rata-rata suatu operator besaran fisis dari
partikel. Secara umum jika A adalah harga rata-rata operator besaran fisis  dengan fungsi
gelombang (x,t) maka:

A   * ( x, t ) Aˆ  ( x, t ) dx (2.6.1)


Variasi harga rata-rata itu terhadap waktu adalah

d A   * ˆ Aˆ  
Werner Heisenberg    A   *    * Aˆ  dx

 t t t
(1901-1976) Nobel dt
Fisika 1932 

Berdasarkan persamaan Schrödinger yang bergantung waktu (2.2.13) dan sifat hermitian dari operator
 , maka persamaan di atas dapat dituliskan seperti

d A  Aˆ 1 ˆ  1 ˆ ˆ Aˆ
  *   [ A, Hˆ ]  dx  [ A, H ]  (2.6.2)
dt  t i  i t
Persamaan inilah yang disebut teorema Ehrenfest. Selanjutnya, berdasarkan defenisi harga rata-rata
operator dapat didefinisikan
d A ˆ
  * A  dx
dt

sehingga dari persamaan (2.6.2) diperoleh

Aˆ 
Aˆ 1 ˆ ˆ

t i
A, H   (2.6.3)

Dalam hal ini harus dibedakan bahwa A̂ adalah operator turunan, sedangkan Aˆ / t adalah turunan
parsil operator  terhadap t. Persamaan )(2.6.3) di atas merupakan persamaan gerak dari operator  ,

26
dan ini diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Heisenberg. Jika operator  komut dengan Ĥ ,
̂  Aˆ / t ; tetapi jika operator  selain komut dengan Ĥ , juga tak bergantung waktu, maka
maka A
ˆ
A  0 ; artinya harga rata-rata A tidak berubah terhadap waktu. Besaran fisis seperti itu disebut
konstanta gerak dari partikel (kekal dalam pengertian klasik). Misalya, bagi suatu partikel yang
bergerak sepanjang sumbu-x, operator posisi dan momentum tidak bergantung secara eksplisit
terhadap waktu. Jadi,
1
pˆ  [ pˆ , Hˆ ]
i (2.6.4)
1
xˆ  [ xˆ , Hˆ ]
i
ˆ pˆ 2
Selanjutnya, karena H   V , maka
2m
 dV
p   ; gaya konservatif
dx
p
x̂  x ; kecepatan (2.6.5)
m

2.7 Representasi Matriks


Telah dikemukakan dalam paragaraf 2.4 bahwa dalam fungsi-fungsi basis {φi} misalkan
operator  memiliki harga

ˆ  ( x) dx
Aij    i* ( x) A (2.7.1)
j

dan misalkan
 ( x) j ( x)dx  S ij .
*
i
(2.7.2)

Aij disebut elemen matriks, Sij disebut integral overlap; ungkapan operator  dalam bentuk matriks
adalah

 A11 A12 ........ A1N 


 
 A21 A22 ........ A2 N 
ˆ
A , dalam basis  i  (2.7.3)
........................... 
 
 A A ...... A 
 N1 N 2 NN 

Untuk mengetahui nilai-nilai eigen dari operator  , kita harus menentukan fungsi eigennya. Cara
yang biasa dipakai orang adalah dengan megandaikan

Aˆ  n  an n (2.7.4)
atau

27
 a1 0 ..............0 
 
 0 a ............. 0 
Aˆ   2
; dalam basis  i  (2.7.5)
.......................... 
 
 0 0..............a 
 N 

Jadi, untuk memperoleh nilai-nilai eigen dari operator  , harus dilakukan transformasi dari fungsi
basis {φi} ke fungs basis {i}. Proses transformasi itu disebut juga diagonalisasi matriks. Untuk itu
misalkanlah suatu fungsisebagai kombinasi linier dari fungsi-fungsi basis {φi(x)}:

   ci  i . (2.7.6)
i 1

Dengan ungkapan itu maka dengan persamaan (2.7.3) diperoleh

 c Aˆ i
i i  a  ci  i .
i
(2.7.7)

Selanjutnya, persamaan (2.7.7) dikalikan dari kiri dengan φj* lalu diintegral; hasilnya:

c A
i
i ji  a ci S ij ; i, j  1, 2, ......, N
i
(2.7.8)

atau
 A i
ji  aS ji ci  0 (2.7.9)

atau dalam bentuk perkalian matriks:

 ( A11  aS11 )  A12  aS12  ...........  A1N  aS1N   c1 


  
  A21  aS 21  ( A22  aS 22 ) ........... A2 N  aS 2 N  c 2 
 .......................................................................  ...   0 (2.7.10)
  
  A  aS   A  aS  ...... ( A  aS )  c 
 N1 N1 N2 N2 NN NN  N 

Persamaan (2.7.10)dikenal sebagai persamaan sekuler.


Dalam persamaan (2.7.10) setiap Aij dan Sij sudah diketahui sebelumnya dengan
menggunakan persamaan (2.7.1-2). Persamaan (2.7.10) memiliki solusi non-trivial jika dan hanya jika
determinan

( A11  aS11 )  A12  aS12  ...........  A1N  aS1N 


 A21  aS 21  ( A22  aS 22 ) ........... A2 N  aS 2 N 
0 (2.7.11)
.......................................................................
 AN1  aS N1   AN 2  aS N 2  ....... ( ANN  aS NN )

Persamaan ini disebut determinan sekuler. Determinant ini dapat diungkapkan dalam bentuk

28
polinomial tingkat-N dalam a: a N  pa N 1  qa N 2 +….=0. Artinya ada N buah harga-harga eigen
a, yakni a1, a2, ..,aN yang merupakan nilai-nilai eigen dari operator  .
Selanjutnya, untuk menentukan fungsi eigen n, substitusikan an ke dalam persamaan
(2.7.10) untuk menghasilkan seperangkat harga {cni}. Jika fungsi eigen n ingin dinormalisasi, maka

 dv   cni* cnj S ij  1
2
n
(2.7.12)
i, j

Akhirnya, solusi dari persamaan (2.7.4) adalah:

N
an dengan  n  c
j 1
nj j , n=1, 2, ….., N. (2.7.13)

Yang telah dikemukakan di atas adalah jika fungsi-fungsi basis {φi} non-ortogonal:
  ( x) j ( x)dx  S ij . Jika fungsi-fungsi basis itu ortonormal:  i ( x) j ( x)dx   ij , maka
* *
i

perhitungan menjadi lebih sederhana. Persamaan (2.7.9) menjadi

 A
i
ji  a ji ci  0 (2.7.14)

atau
 ( A11  a) A12 ................... A1N  c1 
  
 A21 ( A22  a ) ............... A2 N  c 2 
 ....................................................  ...   0 (2.7.15)
  
 A   c 
 N1 A N2 .......... ( A NN a )  N 

Persamaan (2.7.11) menjadi

( A11  a) A12 ................... A1N


A21 ( A22  a ) ............... A2 N
0 (2.7.15)
....................................................
AN 1 AN 2 .......... ( ANN  a)

dan normalisasi persamaan (2.7.12) menjadi

 dv   cni* cnj ij   cni 1


2 2
n (2.7.17)
i, j i

Contoh 2.7:
Dengan basis φ1 dan φ2 operator  memiliki matriks 2x2 berikut:

  10  4 
   
  4 8

29
Tentukanlah nilai-nilai eigen dari operator  dengan menyatakan fungsi eigennya sebagai kombinasi
linier dari φ1 dan φ2 jika
a) S11=S22= 1 dan S12=S21=0,2.
b) S11=S22= 1 dan S12=S21=0.

a) Dengan S11=S22= 1 dan S12=S21=0,2 maka fungsi-fungsi basis itu dinormalisasi tetapi tidak
ortogonal. Misalkan   =a dan   c11 c 2  2 maka persamaan sekuler adalah

  10  aS11  4  aS12  c1 
    0
  4  aS 21  8  aS 22  c2 

  10  a  4  0,2a  c1 
    0 (2.7.18)
  4  0,2a  8  a  c2 
dan syarat normalisasi

 dv  c12  c22  2c1c2 S12  1


2
(2.7.19)

 10  a  4  0,2a
Maka determinan: 0
 4  0,2a  8  a

atau 0,96a2+16,4a+64=0, sehingga a1= -11,05 dan a2= -6,03. Selanjutnya, substitusi a1= -11,05 ke
persamaan sekuler (2.7.18) menghasilkan 1,05c11-1,79c12=0 atau c12=0,59c11. Substitusi ke persamaan
(2.7.19) menghasilkan c11=0.79 dan c12=0.47. Jadi,

a1= -11,05; ψ1=0,79 φ1+0,47 φ2.

Selanjutnya, substitusi a2= -6,03 ke persamaan sekuler (2.7.18) menghasilkan 3,97c21+2,79c22=0 atau
c22=-1,42c21. Substitusi ke persamaan (2.7.19) menghasilkan c21=0.64 dan c22=-0,91. Jadi,

a2= -6,03;ψ1=0,64 φ1-0,91 φ2.

b) Dengan S11=S22= 1 dan S12=S21=0 maka fungsi-fungsi basis itu ortonormal. Persamaan sekuler
c)
  10  a  4  c1 
    0 (2.7.20)
  4  8  a  c2 
dan determinan

 10  a 4
0
 4 8 a

atau a2+18a+64=0, sehingga a1= -13,125 dan a2=-4,875. Substitusi a1=-13,125 ke persamaan sekuler
(2.7.20): 3,125c11-4c12=0 atau c12=0,78c11. Selanjutnya substitusi ke persamaan (2.7.19):
menghasilkan c11=0.79 dan c12=0.61. Jadi,

a1= -13,125; ψ1=0,79 φ1+0,61 φ2.

30
Substitusi a2= -4,875 ke persamaan sekuler (2.66) menghasilkan 10,4c21+2c22=0 atau c12=-5,2c21.
Substitusi ke persamaan (2.7.19): menghasilkan c21=0.61dan c12= -0.79. Jadi,

a2= -4,875; ψ2=0,61φ1-0.79 φ2.

Dari contoh ini terlihat bahwa untuk kasus Sij=0 (ij) trace dari matriks tidak berubah (invarian)
karena transformasi basis dari {i} ke {n}.

31
Soal-soal
2.1 Fungsi-fungsi berikut:  1 ( x)  e  x ,  2 ( x)  e 2 x ,  3 ( x)  e 3 x didefinisikan dalam interval
0<x<. Tunjukkan bahwa ketiga fungsi itu secara kuadratis adalah integrable dalam interval
tersebut. Normalisasilah masing-masing fungsi itu. Dengan menggunakan metoda Schmidt
tentukanlah set ortonormal dari fungsi-fungsi itu.
d 2
2.2 Dengan persamaan -  a , tentukanlah a dan (x) jika dikenakan syarat batas (0)=
dx 2
(L)=0. Tentukanlah (x) yang dinormalisasi.

2.3 Sebuah partikel bermassa m bergerak sepanjang sumbu-x tanpa pengaruh sesuatu gaya.
Tuliskanlah persamaan Schrodinger untuk partikel itu, lalu tentukan fungsi gelombang dan
energinya.

d  n 1
2.4 Buktikan:  , x   nx
n
.
 dx 
d2
2.5 Tunjukkan bahwa =exp(-x/2) adalah fungsi eigen dari operator  x2 .
dx 2
d2 d  d 
2.6 Buktikan:  x 2    x   x   1 .
 dx  dx 
2
dx

2.7 Buktikan bahwa dua operator hermitian yang komut satu sama lain memiliki fungsi eigen yang
sama.

d ˆ  ( x)   ( x  a ) .
2.8 Jika Aˆ  exp( a ) , buktikan bahwa A
dx
2.9 Buktikan, jika Hˆ  ( x)  E ( x) maka e iHt /  ( x)  e iEt /  ( x) .
ˆ

2.10 Dalam persamaan (2.50) xˆ, pˆ x   i ; tunjukkan bahwa  yˆ , pˆ x   0 dan zˆ, pˆ x   0 .


2.11 Jika momentum sudut L  rˆ  pˆ , tentukanlah operator-operator yang berkaitan dengan
komponen-komponen Lx, Ly, dan Lz.

2.12 Dengan menggunakan persamaan Schrödinger yang bergantung waktu, buktikan komutator
pˆ x
posisi dan energi [ xˆ, Hˆ ]  i .
m
 dn 
2
2 d 2 
2m   dx 
2.13 Jika Hˆ  n ( x)   nn ( x) dan Hˆ    V ( x) , buktikan:   dx  ( 
*
2 m n m) xmn ,
2m dx
di mana xmn   m* ( x) x n ( x) dx .
 2 1
2.14 Bentuk matrik suatu operator adalah   . Hitunglah harga-harga eigennya dan tentukan
1 2 
fungsi eigen bersangkutan.

32
BAB 3
POTENSIAL SEDERHANA

Seperti telah dibahas dalam Bab 2, persamaan Schrödinger yang tidak bergantung waktu (2.2.6) untuk
suatu partikel dapat diselesaikan bilamana bentuk potensial V yang dialaminya telah diketahui
sebelumnya. Dalam bab ini akan dikemukakan pemakaian persamaan Schrödinger untuk beberapa
bentuk potensial sederhana. Mulai bab ini dan selanjutnya, istilah energi potensial disingkat dengan
potensial saja.

3.1 Potensial Tangga


Misalkan sebuah elektron bermassa m datang dari x-negatif menuju x-positif. Mulai di x=0 elektron
itu menghadapi potensial tangga sebesar Vo seperti diperlihatkan dalam Gb.3.1. Jika energi elektron,
E, lebih kecil daripada Vo, secara klasik ia akan terpantul sepenuhnya. Bagaimana menurut kuantum?

V
Vo
E

0 x

Gb.3.1 Potensial tangga; partikel datang dari kiri dengan energi E<Vo.

Misalkan fungsi gelombang elektron di sebelah kiri (x<0) adalah 1(x). Persamaan
Schrödinger di daerah itu adalah

d 21 2m
2
 E1  0 (3.1.1)
dx 2

Solusi persamaan ini adalah


2mE
1 ( x)  Ae ikx  Be ikx ; k 2  (3.1.2)
2

Fungsi gelombang di atas merupakan hasil penjumlahan gelombang datang beramplitudo A dan
gelombang pantul beramplitudo B.
Di sebelah kanan di mana x>0, misalkan fungsi gelombang elektron adalah 2(x); persamaan
Schrödinger dalam daerah itu adalah

d 2 2 2m
2
 ( E  Vo ) 2  0 (3.1.3)
dx 2

Karena E<Vo, maka solusi bagi fungsi gelombang merupakan fungsi eksponensial menurun seperti

2m(Vo  E ) 2mVo
 2 ( x)  Ce  Kx ; K 2  2
 2
k2 (3.1.4)
 

33
Agar fungsi gelombang kontinu di x=0, harus berlaku syarat kontinuitas:

1 (0)   2 (0);
(3.1.5)
d1 ( x) d 2 ( x)

dx x 0 dx x 0

Dengan syarat itu diperoleh:

A  B  C; ik ( A  B)   KC (3.1.6)

Dari kedua persamaan ini diperoleh hubungan amplitudo:

k  iK 2k
B A; C  A (3.1.7)
k  iK k  iK

dan selanjutnya, fungsi gelombang elektron adalah

k  iK
1 ( x)  Ae ikx  Ae ikx ; x  0 (3.1.8)
k  iK
2k
 2 ( x)  Ae  Kx ; x  0 (3.1.9)
k  iK

Kedua fungsi tersebut dapat dilukiskan seperti Gb.3.2.

1(x)
2(x)

0 x

Gb.3.2 Fungsi gelombang elektron yang mengalami potensial penghalang terhingga; partikel datang
dari kiri dengan energi E<Vo.

Kerapatan peluang elektron di x>0 dapat dihitung dengan 2(x) dalam persamaan (3.1.9) dan
hasilnya adalah

4k 2 4 E 2 2 Kx
 2 ( x)  A e 2 Kx 
2 2
A e (3.1.10)
k K
2 2
Vo

Jadi, meskipun mengalami potensial penghalang yang lebih besar dari energinya, elektron masih
mempunyai peluang berada di x>0. Peluang itu menuju nol jika Vo>>E, atau di x=.
Berdasarkan persamaan (3.1.7),B/A2 =1 (buktikan sendiri) adalah reflektans; artinya
intensitas terpantul sama dengan yang datang. Fungsi gelombang 2(x) dalam persamaan (3.1.9) yang
mengecil secara eksponensial merupakan indikasi dari terjadinya pantulan total. Akhirnya,
T=C/A2= 4k/(k2+K2)=4E/Vo adalah transmittans yang secara klasik tak dapat ditentukan.

34
3.2 Potensial Penghalang Persegi Terhingga
Sebagai perluasan dari uraian di atas, pandanglah potensial penghalang seperti

V ; 0  x  a
V ( x)   o (3.2.1)
0; x  0, x  a

yang dilukiskan dalam Gb.3.3 di bawah ini.

Vo
E

0 a x
Gb.3.3 Potensial penghalang terhingga persegi; partikel datang darikiri dengan energi E<Vo.

Fungsi gelombang elektron dalam daerah x<0 sama dengan persamaan (3.1.2):

2mE
1 ( x)  Ae ikx  Be ikx ; k 2  (3.2.1)
2

Dalam daerah 0<x<a:


 2 ( x)  Ce Kx  De Kx (3.2.2)
dengan
2m(Vo  E ) 2mVo
K2  2
 2
k2 (3.2.3)
 

Di daerah x>0, tidak ada potensial; maka fungsi gelombang di sana adalah

 3 ( x)  Fe ikx (3.2.4)

Syarat kontinuitas seperti dalam persamaan (3.1.5) di x=0 dengan menggunakan fungsi-fungsi 1(x)
dan 2(x), akan memberikan hubungan:

A B  C  D
(3.2.5)
ik ( A  B)  K (C  D)

dan syarat kontinuitas di x=a dengan menggunakan 2(x) dan 3(x), memberikan

Ce Ka  De  Ka  Fe ika
(3.2.6)
K (Ce Ka  De  Ka )  ikFe ika

Selanjutnya, dengan mengeliminasi C dan D, akan diperoleh koefisien refleksi:

B ( K 2  k 2 ) sinh( Ka)
 2 2
A ( K  k ) sinh( Ka)  4ikK cosh( Ka)

35
Jadi, reflektansi adalah
2
B Vo2 sinh 2 ( Ka)
R  (3.2.7)
A
2
Vo2 sinh 2 ( Ka)  4 E (Vo  E )

Jika tidak ada kebocoran daya, maka R+T=1, sehingga diperoleh

2
F 4 E (Vo  E ) (3.2.8)
T 
A
2
Vo2 sinh ( Ka)  4 E (Vo  E )
2

Ilustrasi fungsi gelombang-fungsi diperlihatkan dalam Gb.3.4a. R  B 2 / A 2 merupakan koefisien


pantulan di x=0 dan T  F 2 / A 2 adalah koefisien transmisi di x=a.

1 2 3

0 a x
Gb.3.4a Fungsi gelombang elektron yang mengalami potensial penghalang terhingga persegi;
elektron dapat menerobos penghalang.

Dalam Gb.3.4b diperlihatkan transmissi sebagai fungsi E/V0 untuk (a) 2mV0a2/ℏ2=5 dan (b)
2
2mV0 a /ℏ2=20. Sebagai gambaran, untuk a=10 nm maka (a) V0=7,6 eV dan (b) 30,2 eV. Terlihat
bahwa untuk E/V0<1 transmittans T>0. Jadi, secara kuantum elektron dapat menerobos potensial
penghalang meskipun energinya lebih kecil daripada potensial penghalang. Fenomena inilah yang
disebut sebagai efek terobosan (tunnel effect).
1

0.9

0.8

0.7

0.6
T

0.5

0.4 (a)
0.3
(b)
0.2

0.1

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
E/Vo
Gb.3.4b Transmittans sebagai fungsi E/V0 dari suatu potensial penghalang dengan: (a) 2mV0a2/ℏ2=5
dan (b) 2mV0 a2/ℏ2=20.

Terobosan partikel berlangsung dalam peluruhan radioaktif. Dalam kasus uranium suatu
partikel- (identik dengan inti atom He) mengalami gaya dorong elektrostatik inti hingga jarak 10 -
8
m dari inti. Kurang dari jarak itu gaya tersebut bersifat tarikan dan berbentuk sumur potensial.
Partikel-partikel- di dalam sumur potensial itu melawan gaya tarik dan dapat menerobos penghalang
dan selanjutnya terdorong keluar, meskipun secara eksperimen ditunjukkan bahwa energi partikel-α
itu lebih kecil daripada potensial penghalang. Teori tentang ini dikemukakan dalam Bab 8.9. Aplikasi

36
penting dari efek terobosanditemukan dalam divais modern seperti tunnel diode, quantum computing
dan scanning tunneling microscope.

3.3 Potensial Persegi Tak Terhingga


Andaikanlah suatu elektron dalam pengaruh potensial berbentuk sumur tak terhingga berdimensi-1
seperti berikut:

V ( x)  0;  a  x  a
(3.3.1)
 ; x  a, x  a

Seperti terlihat dalam Gb.3.5, elektron berada dalam daerah -a<x<a, dan sama sekali tak dapat ke luar
daerah itu. Dengan perkataan lain peluang elektron berada di x>a dan di x <-a sama dengan nol.

V=

-a 0 a x
Gb.3.5 Potensial persegi tak hingga berdimensi-1.

Oleh sebab itu, jika (x) diandaikan sebagai fungsi gelombang elektron, maka syarat batas bagi
fungsi gelombang itu adalah:

 ( a )   ( a ) (3.3.2)

Karena V=0 dalam daerah –a<x<a elektron dalam keadaan bebas, maka persamaan Schrödinger bagi
elektron tersebut adalah:
d 2 2m
 E  0 (3.3.3)
dx 2  2
atau
d 2 2mE
2
 k 2  0; k 2  2 (3.3.4)
dx 
Solusi persamaan (3.3.3) adalah

 ( x)  C cos kx dan  ( x)  D sin kx (3.3.5)

Dengan syarat batas dalam persamaan (3..3.2), untuk x=a diperoleh

n
cos ka  0; k  ; n  1, 3, 5, ......
2a (3.3.6)
n
sin ka  0; k  ; n  2, 4, 6, ......
2a
Jadi fungsi eigen adalah:
 n ( x)  C cos nx / 2a  untuk n=1,3,5,…

37
 n ( x)  D sin (nx / 2a) untuk n=2,4,6 ...

Harga C dan D dihitung melalui normalisasi fungsi, yakni:


a

  n ( x)  n ( x) dx  1 ;
*

a

Hasilnya adalah C=D=1 / a , sehingga fungsi-fungsi eigen adalah:

1  n 
 n ( x)  cos  x ; n  1, 3, 5...... (3.3.7)
a  2a 

1  n 
 n ( x)  sin  x ; n  2, 4, 6....... (3.3.8)
a  2a 

Fungsi-fungsi ini membentuk set ortonormal; artinya:

n ( x)n' ( x) dx  nn' (3.3.9)

3 32

2 22

1 12
-a 0 a x -a 0 a x
Gb.3.6 Fungsi-fungsi eigen n dan kerapatan peluangn . 2

Berdasarkan persamaan (3.3.7 dan 3.3.8), fungsi-fungsi eigen berikut kerapatan peluang keberadaan
elektron dapat dilukiskan seperti dalam Gb.3.6. Dari bentuknya, fungsi-fungsi itu mirip dengan
fungsi-fungsi gelombang kawat bergetar yang kedua ujungnya tetap.
Selanjutnya, dari persamaan (3.3.4) dan (3.3.6) diperoleh harga eigen energi:

  2 2 
En  n 2  ; n  1, 2, 3, ....
2 
(3.3.10)
 8ma 

Energi ini bernilai diskrit (tidak kontinu, tapi bertingkat-tingkat) yang ditandai oleh bilangan kuantum
n; rupanya, suatu partikel yang terperangkap dalam sumur potensial akan memiliki energi
diskritseperti diperlihatkan dalam Gb.3.7.
4
E4=16E1

3
E3=9E1
2
E2=4E1
1
E1
Gb.3.7 Tingkat-tingkat energi elektron yang terperangkap dalam sumur potensial tak terhingga.

38
Sebagai gambaran, misalkan a=1 cm, maka En=n2(9,410-16 eV) sehingga beda energi E2-E1=
-15
2,810 eV. Beda energi ini sangat kecil sehingga energi elektron di dalam sumur boleh dikatakan
kontinu.Tetapi, untuk a=5 nm, En=n2(3,7610-3eV) dan beda energi E2-E1= 11,310-3eV eV. Beda
energi ini cukup besar, sehingga untuk a yang kecil energi elektron dipandang diskrit. Sumur
potensial lebih realistis dikemukakan dalam paragraph 3.4.
Dari pembicaraan di atas dapat dikemukakan istilah rapat-keadaan sebagai berikut. Jumlah
keadaan n dalam interval k sesuai dengan persamaan (3.3.6) adalah

k
n  2a (3.3.11)

Jumlah keadaan (E ) dengan energi kurang dari E terlihat pada persamaan (3.3.10) adalah

2a 2mE
( E )  n  (3.3.12)
 2

Jika jumlah keadaan dengan energi antara E dan E+dE adalah d , maka rapat keadaan g(E)
ditetapkansebagai
d
g (E)  (3.3.13)
dE

Dengan menggunakan persamaan (3.3.12) selanjutnya diperoleh

2a m (3.3.14)
g (E) 
 2E  2

Terlihat dalam kasus ini bahwa rapat keadaan berkurang terhadap peningkatan energi. Ini
menggambarkan adanya batasan terhadap gerakan partikel dalam satu dimensi.

3.4 Potensial Persegi Terhingga


Misalkan elektron berada dalam sumur potensial terhingga seperti:

V ( x)  0;  a  x  a
(3.3.15)
 Vo ; x  a, x  a

Seperti diperlihatkan dalam Gb.3.8, elektron berada dalam daerah –a<x<a. Jika energi E<Vo secara
klasik elektron tak dapat ke luar daerah itu. Tetapi secara kuantum, karena potensial itu terhingga
elektron masih berpeluang berada diluar daerah –a<x<a. Jadi, dalam hal ini syarat batas yang dapat
dinyatakan hanyalah ()=0.

V
Vo
E<Vo

-a 0 a x
Gb.3.8 Sumur potensial persegi terhingga.

39
Persamaan Schrödinger untuk daerah –a<x<a di mana V=0 atau elektron dalam keadaan
bebas, adalah:
d 2 2m
 E  0 (3.3.16)
dx 2  2

dengan mana diperoleh solusi berikut:

 ( x)  cos kx dan  ( x)  sin kx (3.3.17)


dengan
2mE .
k2  (3.3.18)
2

Untuk daerah xa, persamaan Schrödinger adalah:

d 2 2m
  (Vo  E )  0 (3.3.19)
dx 2  2

Jika diasumsikan energi elektron E<Vo maka (x) merupakan fungsi exponensial yang menurun dan
menuju nol di x=. Jadi, untuk xa

 ( x)  C e  K x (3.3.20)
dengan
2m(Vo  E ) .
K2  (3.3.21)
2

Agar (x) kontinu untuk semua harga x, kedua persamaan 3.3.17) dan (3.3.21) beserta turunannya di
x=±a harus sama. Jadi,
cos ka  Ce  Ka
 k sin ka   KCe  Ka
sehingga,
ka tg ka  Ka (3.3.22)
Begitu pula,
sin ka  Ce  Ka
k cos ka   KCe  Ka
sehingga
ka ctg ka   Ka (3.3.23)

Selain itu, dari persamaan (3.3.18dan (3.3.21)diperoleh persamaan lingkaran

2mVo a 2
(ka) 2  ( Ka) 2  (3.3.24)
2

Ketiga persamaan (3.3.22), (3.3.23) dan (3.3.24) digambarkan dalam Gb.3.9. Perpotongan lingkaran
(Vo tertentu) dengan garis-garis tg(ka) dan ctg (ka) memberikan harga-harga k untuk Vo tersebut.
Harga-harga k itu ditandai dengan bilangan kuantum n=0, 2, 4,….untuk perpotongan dengan tg(ka)
dan n=1, 3, 5, …. untuk perpotongan dengan ctg(ka). Selanjutnya dengan persamaan (3.3.18)

40
Ka tg (ka) tg (ka)
ctg (ka) ctg (ka)

n=1 2mVo a 2
(ka) 2  (Ka) 2 
n=2 2

n=3

n=4
0 /  3/2 2 ka
2 
Gb.3.9 Grafik untuk menentukan harga-harga k.

diperoleh harga-harga eigen energi:

 2 k n2
En  ; n  0,1, 2, ............. (3.3.25)
2m

Terlihat dalam Gb.3.9 bahwa jumlah tingkat energi sangat bergantung pada harga Voa2;
misalnya untuk (2mVo)1/2ℏ/2a hanya ada satutingkat energi, dan untuk ℏ/2a< (2mVo)1/2ℏ/a ada
dua tingkat energi dan seterusnya.
Fungsi-fungsi eigen di dalam sumur potensial mirip dengan persamaan (3.3.7) dan (3.3.8)
tetapi mulai di x=a fungsi-fungsi itu menurun secara eksponensial menuju 0 dix=. Untuk
jelasnya, fungsi-fungsi itu diperlihatkan dalam Gb.3.10.

3

2

1

0
-a 0 ax

Gb.3.10 Fungsi-fungsi eigen dari partikel dalam sumur potensial terhingga.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa meskipun potensial yang dialami elektron itu terhingga,
namun karena E<Vo, energinya tetap diskrit (persamaan (3.3.25). Keadaan energi yang diskrit itu
merupakan ciri dari partikel yang terikat dalam sumur potensial. Karena potensial itu berhingga,
fungsi-fungsi eigen mempunyai ekor berbentuk eksponensial menurun di luar sumur. Artinya,
elektron masih mempunyai peluang berada di luar sumur.
Sumur potensial ideal seperti dalam contoh ini mendasari pengembangan devais moderen
yang disebut sumur kuantum (quantum well). Suatu sumur kuantum dibuat dari suatu film tipis dari
bahan semikonduktor yang disisipkan di antara dua lapisan semikonduktor yang bandgap-nya lebih
lebar. Contohnya sumur kuantum AlAs/GaAs/AlA.Bandgap GaAs adalah Eg1=1,43 eV dan bandgap

41
AlAsEg2=2,68 eV. Berdasarkan sifat struktur komposit, Vok=0,6(2,68-1,43)=0,75 eV di pita
konduksi GaAs, sedangkan V0v=0,4(2,68-1,43)=0,5 eV di pita valensi GaAs seperti diperlihatkan
dalam Gb. 3.11. Jika tebal film GaAs cukup tipis, misalnya 5-10 nm, akan muncul tingkat-tingkat
energi elektron di pita konduksi dan tingkat-tingkat energi hole di pita valensi. Dalam perhitungan
perlu disadari bahwa massa elektron dan hole harus dipandang secara efektif. Misalnya untuk GaAs
massa effektif elektron me*  0,067m0 dan massa effektif hole mh*  0,082m0 sedangkan untuk AlAs
me*  0,092m0 , 𝑚ℎ∗ = 0,109𝑚0 ; m0=9,110 kg. Seperti terlihat dalam Gb. 3.11, jika lapisan-lapisan
-31

AlAs/GaAs/AlAs disusun tegak lurus sumbu-x, maka elektron dan hole bebas bergerak dalam bidang-
yz.
AlAs GaAs AlAs

V0k
Eg2 Eg1

V0v
Gb. 3.11 Sumur kuantum AlAs/GaAs/AlAs.

Sumur kuantum mempunyai banyak aplikasi optoelektronik seperti sumber cahaya berdaya tinggi
untuk terapi medik, pemerosesan material, laser printing, dan sumber laser berfrekuensi tunggal untuk
telekomunikasi optik.

3.5 Potensial Persegi dengan Dinding


Misalkan pertikel berada dalam sumur potensial terhingga seperti:

V ( x)  Vo ; 0  x  a
(3.5.1)
 0; x  a

Seperti diperlihatkan dalam Gb.3.12, elektron berada dalam daerah 0<x<a; di x=0, potensial itu 
sehingga elektron tidak mungkin berada di daerah x<0. Bagaimanakah energi dan fungsi gelombang
elektron jika E<0?
V
a
0 x
E<0
-Vo

Gb.3.12 Potensial persegi dengan dinding di x=0.


Di dalam daerah 0<x<a, persamaan Schrödinger adalah

d 21 2m
 2 ( E  Vo )1  0 (3.5.2)
dx 2 
atau
d 21
 k 21  0 (3.5.3)
dx 2

42
dengan
2m
k2  ( E  Vo ) (3.5.4)
2
Solusi persamaan ini adalah

1 ( x)  Ae ikx  Be ikx (3.5.5)

Karena 1(0)=0, maka A+B=0 atau B=-A. Jadi persamaan (3.5.5) adalah:

1 ( x)  A(eikx  e ikx )  C sin kx . (3.5.6)

Persamaan Schrödinger di daerah x>a adalah:

d 2 2 2m
 2 E 2  0 (3.5.7)
dx 2 
atau
d 2 2
 K 2 2  0 (3.5.8)
dx 2
dengan
2mE
K2   (3.5.9)
2

Tanda negatif diberikan karena energy E itu negatif. Solusi persamaan (3.5.8) di atas adalah

2 ( x)  D e  Kx (3.5.10)

Kesinambungan kedua fungsi di x=a harus memenuhi 1=2 dan d1/dx=d2/dx. Jadi,

C sin ka  D e  Ka ,
kC cos ka   KDe  Ka .

Dari kedua persamaan ini diperoleh:

k 2 exp( 2 Ka) (3.5.11)


DC
k2  K2
dan
ka ctg (ka)   Ka (3.5.12)

Di pihak lain, dari persamaan (3.5.4) dan (3.5.9) diperoleh persamaan lingkaran:

2mVo a 2
k 2a2  K 2a2  (3.5.13)
2

Mirip dengan persoalan dalam paragraph 3.4, penyelesaian diperoleh dengan metoda grafik.
Persamaan (3.5.12) dan (3.5.13 diplot seperti Gb.3.13 di bawah ini.

43
Ka 2mVo a 2
(ka) 2  ( Ka) 2 
2
n=1

n=2
0 /2  3/2 2 ka

Gb.3.13 Grafik untuk menentukan harga-harga k atau K.

Dari persamaan (3.5.4) dan (3.5.9), tingkat-tingkat energi dapat ditentukan sebagai berikut:

k n2  2 K 2 2
En   Vo atau En   n (3.5.14)
2m 2m

di mana kn dan Kn diperoleh berdasarkan titik-titik potong dalam gambar.Terlihat dalam gambar
bahwa harga Voa2 menentukan jumlah titik potong; misalnya untuk 2mVoa2/ ħ2< /2tidak ada titik
potong, untuk /2<2mVoa2/ħ2<3/2 hanya ada satu titik potong, n=1, dan seterusnya. Bentuk fungsi-
fungsi keadaan dapat digambarkan dengan menggunakan persamaan (3.5.6) dan (3.5.10); hasilnya
diperlihatkan dalam Gb.3.14.

4

3

2

1
0 a x
Gb.3.14 Fungsi-fungsi keadaan sehubungan dengan potensial dalam Gb.3.13

3.6 Osilator Harmonis Sederhana


Pertama, akan dibahas osilator harmonis sederhana. Dalam mekanika klasik, suatu osilator harmonis
sederhana adalah suatu benda yang bergerak osilasi dengan simpangan kecil dalam pengaruh gaya
konservatif:
 
F  m 2 x (3.6.1)

dengan m adalah massa benda, dan  adalah frekuensi sudut dari osilasi berbentuk sinusoida:

x(t )  A sin t (3.6.2)

dengan A adalah simpangan maksimum (amplitudo). Dengan gaya konservatif tersebut, energi
potensial yang dimiliki benda adalah:

44
 
x
V    F . dx  12 m 2 x 2 (3.6.3)
0

E=½m2A2

K(x)=E-V(x)

V(x)=½m2x2

-A 0 Ax
Gb.3.15 Energi osilator harmonissederhana dalam pandangan klasik.

Energi total sebagai jumlah energi potensial dan energi kinetik diperlihatkan dalam Gb.3.15 adalah

E  12 m 2 A2 (3.6.4)

Jadi, secara klasik osilator memiliki energi tunggal.


Selanjutnya akan dibahas pandangan fisika kuantum. Sebagaimana lazimnya, pembahasan
menurut fisika kuantum harus diawali dari persamaan Schrödinger

d 2 ( x) 2m
 2 ( E  V ) ( x)  0 . (3.6.5)
dx 2 

Substitusi persamaan (3.6.3) ke persamaan Schrödinger memberikan

d 2 ( x) 2m
dx 2

 
 2 E  12 m 2 x 2  ( x)  0 . (3.6.6)

Untuk menyelesaikan persamaan (3.6.6) terlebih dahulu dilakukan penyederhanaan. Misalkan

m 2E
a ; c ; z  ax (3.6.7)
 

dengan mana persamaan Schrödinger menjadi

d 2 ( z )
2
 (c  z 2 ) ( z )  0 . (3.6.8)
dz

Persamaan ini dapat diselesaikan dalam dua tahap. Tahap pertama, untuk z menuju maka c dapat
diabaikan, sehingga berlaku (z)=exp(-½z2). Tahap berikutnya, nyatakan fungsi lengkap seperti:

 ( z)  H ( z) e z
2
/2
(3.6.9)

45
dan kembalikan ke persamaan (3.6.8)); hasilnya

d 2 H ( z) dH
2
 2z  (c  1) H  0 . (3.6.10)
dz dz

Melihat bentuknya, persamaan di atas merupakan persamaan diferensial Hermite. Solusinya adalah
polinomial Hermite sebagai berikut

H n( z )  (1) n e z
2 d n z2
dz n
 
e ; n  0,1, 2, ............ (3.6.11)
dengan
n  12 (c  1) (3.6.12)

Berdasarkan persamaan (3.6.7) dan 3.6.12) diperoleh harga-harga eigen energi:

En  (n  12 ); n  0,1, 2, ...... (3.6.13)

dan berdasarkan persamaan (3.6.9), fungsi-fungsi eigen bersangkutan adalah

 12 z 2
n ( z)  N n H n ( z) e
(3.6.14)
1
Nn 
2 n! 1/ 2
n

Jika variable dikembalikan ke x, akan diperoleh

 n ( x)  N n H n (ax) e 
1 2 2
 a n ( z )
2
a x

(3.6.15)
a
Nn 
2 n! 1/ 2
n

di mana Nn adalah faktor normalisasi dan n merupakan bilangan kuantum. Karena polinom Hermite
bersifat ortogonal maka fungsi-fungsi eigen tersebut membentuk set yang ortonormal. Terlihat bahwa,
karena partikel terperangkap dalam potensial V, maka energinya tidak kontinu tetapi diskrit adanya.
Fungsi gelombang o(z)=(1/1/2)exp(-½z2) disebut keadaan dasar dengan energi
Eo=½ħ.Berdasarkan bentuk umum polinom Hermite dalam persamaan (3.6.11), beberapa polinom
dapat diturunkan sebagai berikut:

H o ( z )  1;
H 1 ( z )  2 z;
(3.6.16)
H 2 ( z)  4z 2  2
H 3 ( z )  8 z 3  12 z

Untuk memperoleh gambaran lebih jelas, dengan menggunakan persamaan (3.6.14) dan (3.6.16),
fungsi-fungsi eigen suatu osilator harmonis sederhana dapat dilukiskan seperti dalam Gb.3.16.
Selanjutnya, berdasarkan persamaan (3.6.16) diperoleh sifat-sifat penting polinom Hermite
sebagai berikut.

46
V
2
E2
1
E1
o
Eo
z
Gb.3.16 Fungsi-fungsi eigen suatu osilator sederhana

(i). Hubungan rekursif:

H n1 ( z)  2 z H n ( z)  2n H n1 ( z) ; (3.6.17)

dH n ( z )
 2n H n1 ( z ) ; (3.6.18)
dz
(ii). Sifat ortogonalitas:

e H m ( z ) H n( z ) dz  2 n n! 1 / 2 mn
z2 (3.6.19)


Faktor normalisasi dalam persamaan (3.6.14) diperoleh dengan menggunakan sifat (ii) di atas.
Persamaan Schrödinger (3.6.8) dapat dituliskan sebagai berikut:

 d2 
1
2    2  z 2  n ( z )  En  n ( z ) . (3.6.20)
 dz 

dengan En dan n(z) masing-masing seperti dalam persamaan (3.6.13) dan (3.6.14). Jika diandaikan
operator-operator:
1 d 1 d
aˆ  (z  ); aˆ   (z  ); (3.6.21)
2 dz 2 dz

maka persamaan (3.6.20) berubah menjadi:

1
2  (2 aˆ  aˆ  1) n ( z )   (n  12 )  n ( z)
sehingga
aˆ  aˆ  n ( z )  n  n ( z ) . (3.6.22)
Operator n̂
nˆ  aˆ  aˆ (3.6.23)

didefenisikan sebagai operator bilangan. Persamaan (3.6.20) dapat juga dinyatakan sebagai

1
2  (2 aˆaˆ   1) n ( z )   (n  12 )  n ( z)
sehingga
aˆaˆ  n ( z )  (n  1)  n ( z) . (3.6.24)

47
Dari kedua persamaan (3.6.22) dan (3.6.24) jelaslah bahwa komtator,

[aˆ, aˆ  ]  1 . (3.6.25)

Untuk menjelaskan karakteristiknya, masing-masing operator â  dan â dioperasikan pada fungsi


eigen  n (z ) , dan hasilnya adalah:
𝑎+ 𝜑𝑛 = (𝑛 + 1)1/2 𝜑𝑛+1

𝑎𝜑𝑛 = 𝑛1/2 𝜑𝑛−1 (3.6.26)

Kedua rumusan dalam persamaan (3.6.26) tidak menggambarkan persamaan harga eigen, sehingga
operator-operator â  dan â bukan operator besaran fisis. Terlihat bahwa operator â  menambah
bilangan kuantum n (indeks fungsi) menjadi n+1, sedangkan operator â mengurangi n menjadi n-1.
Penambahan dan pengurangan bilangan kuantum disertai dengan penambahan dan pengurangan
energi sebesar ħ. Jadi, ħ dapat dipandang sebagai besaran yang dimiliki osilator; besaran ini
disebut fonon (frekuensinya berkisar dalam daerah frekuensi bunyi). Dalam persamaan (3.6.13), n
menyatakan jumlah fonon yang berada dalam fungsi keadaan n. Sehubungan dengan itu bilangan

kuantum n disebut bilangan okupasi dan operator aˆ aˆ disebut operatorbilangan. Operator â  yang
menambah n menjadi n+1 disebut operator kreasi (penciptaan fonon) dan â yang mengurangi n
menjadi n-1 disebut operator anihilasi (peniadaan fonon). Berdasarkan sifat-sifat operator â  , fungsi
keadaan yang mengandung n buah fonon, yakni n, dapat diciptakan dengan mengoperasikan operator
itu n kali terhadap fungsi keadaan dasar o:

1
n  (aˆ  ) n  o . (3.6.27)
n!

Dalam fisika zat padat, atom atau ion-ion dipandang sebagai osilator-osilator. Oleh sebab itu,
pengungkapan sifat-sifat zat padat harus melibatkan konsep fonon seperti telah dikemukakan di atas.
Hingga di sini telah dibahas osilator harmonis sederhana. Jika simpangan agak besar maka
osilasi menjadi tidak harmonis. Suatu cara untuk menangani osilasi tak-harmonis adalah dengan
mengandaikan bentuk potensial seperti


V ( x)  hcD 1  e  ax 
k (3.6.28)
a
2hcD

yang disebut potensial Morse. D adalah dalamnya minimum kurva dan x adalah simpangan dari
kedudukan setimbang. Dengan teknik yang agak rumit, persamaan Schrödinger dengan potensial di
atas bisa diselesaikan secara analitik, dan hasilnya adalah

En  n  12    n  12   xe
2

(3.6.29)
a 2
xe  ;   k /m
2m

48
Besaran xe disebut konstanta tak-harmonisan. Karena bentuk energi seperti itu, maka ada jumlah
fonon maksimal nmaks yakni
cD 1
nmaks   (3.6.30)
 / 2 2

Osilator Morse merupakan aproksimasi bagi vibrasi molekul. Untuk molekul yang
sebenarnya energi adalah

En  n  12   n  12   xe  n  12   ye  ......
2 2
(3.6.31)

Dalam hal ini , xe, ye,….dinyatakan sebagai parameter-parameter empirik yang diperoleh dengan
fitting persamaan (3.6.31) ke spektrum inframerah.Tetapi diketahui bahwa massa m dalam persamaan
)(3.6.29) harus dinyatakan sebagai massa effektif; misalnya untuk molekul diatomik
1/meff=1/m1+1/m2.
Untuk kasus osilator terkopel, aanalisa kuantum harus menggunakan koordinat normal Q
seperti diperlihatkan dalam Apendiks 5.Dalam koordinat normal, Hamiltonian dapat dituliskan seperti

2
Hˆ   Hˆ i ; Hˆ i   12  2  12 i Qi2 (3.6.32)
i Qi 2

Dalam persamaan di atas, massa-massa osilator tersimpan di dalam Q.


Karena Hamiltonian merupakan perjumlahan, maka fungsi gelombang merupakan produk
dari fungsi-fungsi modus

  1 (Q1 ) 2 (Q2 ).......    i (Qi ) (3.6.33)


i
Untuk setiap osilator, dalam koordinat normalnya berlaku persamaan Schrödinger

 2 (Qi ) 1
 12  2  2 i Qi2 (Qi )  E (Qi ) (3.6.34)
Qi2

Dan solusinya memberikan energi dan fungsi modus ke-i

Ei   i  1 i ;  i  0, 1, 2......
(3.6.35)
 (Qi )  N H ( i Q i )e  Q
2 2
i i /2
i i i

Untuk keadaan dasar, seluruh i  0 , sehingga akan diperoleh energi total dan fungsi grlombangnya

E 0   E 0i  1
2   i
i i
(3.6.36)
0  N  i e ; Q    i2 Qi2
 i2Qi2 / 2 2; 2
 Ne Q
i

Masalah vibrasi banyak ditemukan dalam spektroskopi infamerah.

49
3.7 Partikel Bebas
Sebuah partikel yang tidak memiliki potensial disebut partikel bebas. Persamaan Schrödinger untuk
partikel ini adalah

d 2 2m
 E  0 (3.7.1)
dx 2  2
atau
d 2 2mE
 k 2   0; k  (3.7.2)
dx 2 

Solusi persamaan tersebut adalah

 ( x)  Ae ikx  Be ikx (3.7.3)

Karena tidak mengalami potensial, maka fungsi gelombang tersebut tidak mempunyai syarat batas.
Jadi,partikel bisa memiliki sembarang energi positif. Fungsi gelombang lengkap adalah
( x, t )   ( x)e iEt /  atau
 k   k 
ik  x  t ik  x  t
( x, t )  Ae  2m 
 Be  2m 
(3.7.4)

Suku pertama merupakan gelombang yang menjalar ke kanan dan suku kedua gelombang yang
menjalar ke kiri, dengan energi yang sama. Karena keduanya hanya dibedakan oleh tanda di depan k,
maka berlaku

 k 2 
i  kx  t
 2m 
k ( x, t )  Ae  
(3.7.5)
dengan
2mE k  0  menjalar ke kanan
k  ,  (3.7.6)
 k  0  menjalar ke kiri

Laju penjalaran gelombang adalah

k E
v kuantum   (3.7.7)
2m 2m

Di lain fihak, laju klasik suatu partikel bebas dengan energi E=½mv2 adalah

2E
v klasik   2v kuantum (3.7.8)
m

Jadi, laju partikel bebas secara kuantum sama dengan setengah laju klasiknya.
Fungsi gelombang dalam persamaan (3.7.5) tak dapat dinormalisasi,

50
 

 k k dx  A  dx  
* 2
(3.7.9)
 

Ini tidak mempunyai arti fisis, kita hanya bisa katakan bahwa partikel bebas tidak bisa dalam suatu
keadaan stasioner.
Fungsi gelombang partikel bebas,Ψ(x,t) dapat diungkapkan sebagai kombinasi linier dalam
bentuk integral dalam k,
 k 2 
 i  kx  t
1  2m 
 ( x, t ) 
2   (k ) e

 
dk (3.7.10)

Fungsi ini dapat dinormalisasi, tetapi dalam daerah k atau daerah energi dan laju. Inilah yang disebut
paket gelombang. Untuk itu ambillah t=0, sehingga


1
( x,0)    (k ) e
ikx
dk (3.7.11)
2 

Transformasi Fourier dari fungsi f(x)↔F(k) seperti

 
1 1
 F (k )e dk  F (k )   f ( x )e
ikx
f ( x)  ikx
dx
2 
2 

memiliki persyaratan untuk fungsi-fungsi yaitu, integral-integral di atas harus ada, misalnya


2
f ( x) dx terbatas (finite). Hal ini menjamin persyaratan fisis yang diperlukan, yaitu Ψ(x,0) itu

ternormalisasi. Jadi,

1
 (k )   ( x,0) e
ikx
dx (3.7.12)
2 

Dengan demikian maka, jika Ψ(x,0) diketahui maka  (k) dapat ditentukan dan selanjutnya substitusi
ke persamaan (3.7.10) akan menghasilkan Ψ(x,t).

Contoh 3.1:
Misalkan fungsi gelombang awal partikelbebas adalah

( x,0)  A exp( ax 2 )

di mana A dan a adalah konstanta dengan a ril positif. Normalisasi fungsi itu adalah

 

 ( x,0) dx  A  e dx  1
2  2 ax
2 2

 


1/ 4
 2a 
A 2
1 A   
2a  
Maka

51
1/ 4
 2a  2
 ( x,0)    e ax
 
Selanjutnya

1
 (k )   ( x,0) e
ikx
dx
2 
1/ 4 
1  2a 
e
 ax2 ikx
 (k )    dx
2    

Misalkan z  a ( x  ik / 2a) sehingga (ax2+ikx)=z2+(k /4a), dan 2

1/ 4 
1  2a  1 1
e
 z 2 k 2 / 4 a 2 / 4a
 (k )    dz  e k
2    a  2 3/ 4
 3/ 4
a 1/ 4

Selanjutnya
 k 2 
 i  kx  t
1  2m 
 ( x, t ) 
2 
  (k ) e  
dk

1
 ( x, t )  I
2  7 / 4 a1 / 4
7/4


  1 it  2 
I   exp    k  ixk dk
   4a 2m  

  exp  k  k dk ;
2



1 it
di mana    ;   ix; misalkan    (k   / 2 )
4a 2m

1   2 / 4 4a
 
 2   2 / 4  ax2 /(1 2iat / m )
I e d  e  e
 1  2iat / m
2 /(1 2 iat / m )
a1 / 4 e ax
 ( x, t ) 
23 / 4  5 / 4 1  2iat / m

3.8 Potensial Fungsi-Delta


Tinjaulah potensial berbentuk fungsi-delta seperti dalam Gb.3.17.

V ( x)  V0  ( x) (3.8.1)

di mana V0 adalah konstanta.Potensial seperti di atas menyebabkan keadaan partikel terikat jika energi
E<0, dan terhambur jika E>0. Andakanlah E<0.Persamaan Schrödinger untk partikel yang mengalami
potensial ini adalah

d 2 2m
 E  V ( x)  0 (3.8.2)
dx 2  2

52
V(x)
0
x

-V0
Gb. 3.17 Potensial fungsi-delta di x=0.

Di daerah x<0, V(x)=0, sehingga

d 2  2mE
  2  0;   (3.8.3)
dx 2 

Karena E<0 maka κ adalah positif ril. Solusi persamaan (3.8.3) adalah

 ( x)  Be x ; x  0 (3.8.4)

Di daerah x>0, V(x)=0, solusi adalah

 ( x)  Fe  x ; x  0 (3.8.5)

Di x=0, kedua fungsi dalam persamaan (3.8.4) dan (3.8.5) harus kontinu, maka F=B sehingga
keduanya dapat dituliskan

x

Be ; x  0
 ( x)    x
(3.8.6)

Be ; x  0

dan digambarkan seperti Gb.3.18.

(x)

x
Gb.3.18 Fungsi keadaan terikat dari partikel dengan potensial fungsi-δ.

Untuk memperlihatkan pengaruh dari potensial fungsi-delta, dilakukan integral terhadap persamaan
Schrödinger dengan batas –ε sampai ε dengan limit ε→0.

  
d 2 2m
 dx 2 dx   2 V ( x) ( x)dx   E   ( x)dx

53
Integral pertama adalah dψ/dx, sedangkan yang terakhir adalah nol. Jadi, dengan menerapkan limit
ε→0, diperoleh

 d  2m
   2 lim  V ( x) ( x)dx
 dx    0 

Dengan V(x)= -V0δ(x) dalam persamaan (3.8.1) dan menggunakan sifat integral dalam persamaan
(2.4.19)

 V0   ( x) ( x)dx  V0 (0)

sehingga
 d  2mV
    2 0  (0) (3.8.7)
 dx  

Dari persamaan (3.8.6), turunan fungsi di x=0 adalah

d d
  Be  x untuk x  0    B
dx dx 

d d
 Be x untuk x  0   B
dx dx 

Jadi, dari persamaan (3.8.7) di mana ψ(0)=B diperoleh 2B  2mV0 /  2 B sehingga 
mV0
 (3.8.8)
2

Dari persamaan (3.8.3), energi adalah

 2 2 mV
E   20 (3.8.9)
2m 2

Fungsi gelombang dapat dinormalisasi sebagai berikut

  2
B
  ( x) dx  2 B  e dx 
 2 x
1
2 2

 0

mV0
sehingga B=   . Dengan demikian maka fungsi gelombang berikut energinya adalah

mV0 mV0 x /  2 mV0


 ( x)  e ; E (3.8.10)
 2 2

54
3.9 Simetri dan Paritas Fungsi Gelombang
Jika potensial mempunyai pusat simetri, misalnya potensial pada osilator harmonis, maka partikel
memiliki keadaan dinamis yang sama pada posisi-posisi yang simetris dan peluang menemukan
partikel pada posisi-posisi yang simetris itu adalah sama. Jika a dan a‟ dua posisi yang simetris, maka

 ( a)   ( a' )
2 2
(3.9.1)

atau, jika fungsi gelombang itu ril,

 (a)   (a' ) (3.9.2)

Oleh sebab itu, fungsi gelombang pada titik-titik yang simetris besarnya sama, tetapi bisa berbeda
tanda. Jika  (a)   (a' ) dikatakan fungsi tersebut memiliki paritas genap, dan jika
 (a)   (a' ) fungsi memiliki paritas ganjil. Untuk soal-soal yang mempunyai suatu pusat simetri,
keadaan-keadaan stasioner digambarkan oleh fungsi-fungsi yang memiliki paritas yang baik, yakni
genap atau ganjil.
Dalam sumur potensial tak hingga Gb.3.5 titik x=0 adalah pusat simetri; fungsi-fungsi
keadaan mestilah genap atau ganjil relatif terhadap x=0. Hal ini terlihat pada Gb.3.6, di mana keadaan
dengan n=1, 3, 5, … mempunyai paritas genap dan n=2, 4, 6,…mempunyai paritas ganjil. Dalam
gambar yang sama terlihat juga bahwa distribusi peluang simetris terhadap x=0. Hal yang sama
terlihat jelas pada sumur potensial terhingga (lihat Gb.3.10), dan osilator harmonissederhana (lihat
Gb.3.16). Tetapi potensial seperti dalam Gb.3.12 tidak memperlihatkan suatu titik simetri, sehingga
fungsi-fungsi keadaannya tidak genap maupun ganjil (lihat Gb.3.14). Fungsi-fungsi seperti 1 pada
Gb.3.6, Gb.3.12 dan o pada Gb.3.16adalah keadaan-keadaan dasar dari sistem bersangkutan. Terlihat
bahwa fungsi keadaan dasar mempunyai tanda yang sama (tidak memotong sumbu-x), sementara
fungsi-fungsi yang lebih tinggi (tereksitasi) memotong sumbu-x (berubah tanda) sekali, dua kali, dan
seterusnya. Oleh sebab itu kita bisa katakan, semakin banyak titik potong fungsi itu dengan sumbu-x
semakin besar energinya.Oleh sebab itu, fungsi gelombang pada titik-titik yang simetris besarnya
sama, tetapi bisa berbeda tanda. Jika  (a)   (a' ) dikatakan fungsi tersebut memiliki paritas
genap, dan jika  (a)   (a' ) fungsi memiliki paritas ganjil. Untuk soal-soal yang mempunyai
suatu pusat simetri, keadaan-keadaan stasioner digambarkan oleh fungsi-fungsi yang memiliki
paritas yang baik, yakni genap atau ganjil.

3.10 Transisi dan Aturan Seleksi


Suatu medan listrik yang berosilasi (misalnya bagian listrik dari gelombang elektromagnet),
 
   o cos t , jika berinteraksi dengan elektron, akan menggeser posisi elektron dari posisi
 
stasionernya. Pergeseran itu akan menimbulkan suatu momen dipol   er . Selanjutnya, dipol itu
berinteraksi dengan medan dan menimbulkan Hamiltonian
   
Hˆ D  .  e o . r cos t . (3.10.1)

Interaksi itu memungkinkan elektron bertransisi (berpindah keadaan) dari keadaan awal i ke keadaan
akhir f. Probabilitas transisi diungkapkan sebagai berikut:

55
 
Pif  e   i* (r )[ o . r ] f (r ) dv
2

 e   i* (r )[ ox .x   oy . y   oz .z ] f (r ) dv
2
(3.10.2)

   o2 M if( ) ;   x, y, z
2


di mana
M if( x )  e i* (r ) x  f (r ) dv (3.10.3)

disebut komponen-x dari momen transisi. Transisi dari suatu keadaan i ke keadaan f disebut
terlarang (forbidden) jika Mif=0; sebaliknya transisi diperbolehkan (allowed) jika Mif0. Bergantung
pada sistemnya, ada aturan untuk transisi yang diperbolehkan; inilah yang disebut aturan seleksi.
Misalnya, pada sistem dengan sumur potensial tak hingga berlaku Mif0 jika i±f= suatu bilangan
ganjil. Sedangkan pada osilator harmonis sederhana Mif0 jika i-f=1.

56
Soal-soal
3.1 Andaikan energi partikel, E, lebih besar daripada potensial Vo dalam kasus potensial penghalang
terhingga (perhatikan persamaan (3.1.3). Tunjukkan bahwa bertentangan dengan pandangan
klasik, dalam hal ini terjadi pantulan.

3.2 Dalam paragraph 3.2 telah dibahas potensial tangga persegi. Telitilah masalah dimana energi
partikel, E, lebih besar daripada Vo.

3.3 Fungsi-fungsi gelombang partikel dalam sumur potensial tak hingga dimensi-1 adalah:
 n 
 n ( x)  C cos  x ; n  1, 3, 5......dan
 2a 
 n 
 n ( x)  D sin  x ; n  2, 4, 6.......
 2a 
Hitunglah faktor normalisasi C dan D dengan batasan –a x  a. Selanjutnya buktikanlah bahwa
fungsi-fungsi tersebut membentuk set ortonormal.

3.4 Dengan fungsi-fungsi seperti dalam persamaan (3.3.7 dan 3.3.8), hitunglah harga rata-rata posis,
xav dan momentum pav pada masing-masing keadaan 1 dan 2.

3.5 Sama halnya dengan soal nomor 4, hitunglah harga rata-rata energi kinetik pada kedua keadaan
tersebut.

3.6 Sama halnya dengan soal nomor 4, hitunglah nilai rata-rata (x2)av. Selanjutnya dengan xav dalam
soal 4, hitunglah: x=[(x2)av- (xav)2]1/2.

3.7 Dalam sistem dengan sumur potensial tak hingga, dalam hal transisi dari keadaan i yang lebih
tinggi ke keadaan f yang lebih rendah, tunjukkan bahwa semakin besar lebar potensial (a)
semakin besar pula panjang gelombang foton (if)yang teremisi. Sebaliknya, semakin besar beda
bilangan kuantum (i-f) semakin kecil panjang gelombang tersebut.

3.8 Dalam sumur potensial tak hingga, buktikan bahwa momen transisi

( x)
M mn  e  m* x n dx

tidak sama dengan nol jika m±nsama dengan suatu bilangan ganjil.

3.9 Buktikanlah bahwa tingkat-tingkat energi dan fungsi-fungsi gelombang bersangkutan untuk
suatu elektron di dalam suatu potensial kubus bersisi a adalah:

 2 2
Enx n y nz  (n x2  n y2  n z2 )
2ma 2
 nx n y nz ( x, y, z )  A sin ( n x x / a) sin ( n y y / a) sin ( n z z / a)

Tuntujukkan bahwa 211, 121, 112 adalah fungsi-fungsi yang berbeda tapi dengan energi yang
sama E=3π2 ħ2 /ma2. Jadi energi itu berdegenerasi-3.

57
3.10 Jika dalam persamaan (3.3.15) a cukup besar, maka dua tingkat energi berdekatan menjadi
sangat dekat, sehingga secara praktis membentuk spektrum kontinu. Buktikanlah bahwa pada
energi E, jumlah keadaan per selang energi adalah:

dN 4a 3 (2me3 )1 / 2 1 / 2
g (E)   E
dE 3

3.11 Buktikanlah bahwa faktor normalisasi bagi n(z) dari osilator harmonisadalah:

1
N n .
2 n! 1 / 2
n

3.12 Pada osilator harmonis, buktikan bahwa jika dilakukan transformasi dari z ke x, maka diperoleh
n(x) dengan faktor normalisasi:
1/ 2
 a  m
N n  n  ,a  .
 2 n! 1/ 2  
 

3.13 Hitunglah harga rata-rata xav, pav, dan (x2)av.

3.14 Dengan menggunakan sifat polinom Hermite, hitung dan susunlah matriks x̂ dan matriks x̂ 2 .

3.15 Dalam osilator harmonis, buktikanlah bahwa transisi dipole listrik berikut

M mn  e  m* x n dx; m  n

tidak sama dengan nol hanya jika m-n =1.

3.16 Buktikan: z n  1 (n  1) 
2 n1  1n
2
 n1 .

3.17 Buktikanlah persamaan (3.6.22-25).

58
BAB 4
ELEKTRON DALAM MEDAN MAGNET
Masalah yang dibahas adalam bab ini adalah bagaimana medan magnet bisa masuk ke dalam
Hamiltonian suatu partikel bermuatan. Mula-mula dibahas Hamiltonian secara klassik, lalu
mengubahnya menjadi operatoryang sama bentuknya dengan operator Hamiltonian dari osilator
harmonic satu-dimensi. Dari sini akan diperoleh nlai eigen energi dengan cara yang telah
dikemukakan sebelumnya.

4.1 Hamiltonian Klassik



Tinjaulah sebuah elektron dengan muatan –e bergerak dengan kecepatan v di dalam medan magnet

B . Gaya yang di alami elektron, disebut gaya Lorentz, adalah
  
F  e v  B (4.1.1)

Seperti diperlihatkan dalam Gb.4.1, karena gaya tegak lurus terhadap medan magnet, maka medan
magnet tak dapat mengubah komponen kecepatan elektron dalam arah medan magnet. Laju elektron
selalu konstan karena medan magnet tidak melakukan usaha, sehingga kecepatan selalu tegak urus
terhadap gaya.

z

B


 F
v
-e, me
Gb. 4.1 Gerakan elektron dalam medan magnet.

Dengan gaya pada elektron seperti persamaan (4.1), maka menurut Newton berlaku

dv  
m  ev  B (4.1.2)
dt

Misalkanlah medan magnet sejajar sumbu-z, maka dari persamaan (4.2) jelas bahwa

dv x dv y dv
m  eBv y ; m  eBv x ; m z  0 (4.1.3)
dt dt dt

Jadi komponen kecepatan vz konstan, demikian juga v x  v y tidak bergantung waktu. Gabungan dua
2 2

persamaan pertama dari persamaan (4.3) memberikan

59
d 2vx e
2
  c2 v x  0;  c  B (4.1.4)
dt m

Frekuensi c disebut frekuensi siklotron. Solusi persamaan (4.4) adalah

v x  v0 cos c t (4.1.5)

Dengan cara yang sama akan diperoleh juga

v y  v0 cos c t (4.1.6)

Berdasarkan persamaan (4.1,1) Lagrangian dari elektron adalah


  
L  12 mr 2  eA. r (4.1.7)


di mana A adalah vektor potensial sesuai dengan
 
B   A (4.1.8)
 
Hubungan antara medan magnet B dan vektor potensial A tidaklah unik. Jika medan magnet
ditetapkan pada sumbu-z, maka ada dua vektor potensial yang memenuhi hubungan dalam persamaan
(4.7), yaitu

Ay  Bx; Ax  Az  0; (4.1.9)

Ax   12 By; Ay  12 Bx; Az  0 (4.1.10)

Persamaan (4.1.9) disebut gauge Landau, dan persamaan (4.1.10) disebut gauge simetrik.
 
Momentum yang digeneralisasi adalah p  L / r ; dengan persamaan (4.1.7) diperoleh

  
p  mr  eA (4.1.11)
 
Turunan momentum itu terhadap waktu, p  L / r ; dengan persamaan (4.1.7) diperoleh

     
     
p  e A. r  er    A  e r.  A (4.1.12)
 
Medan magnet B tidak bergantung waktu, menyebabkan A tak bergantung secara eksplisit terhadap
waktu. Jadi
 A  
A   r.  A  r.  A (4.1.13)
t

Jadi, dari peramaan-persamaan (4.1.11) (4.1.12) dan (4.1.13)

60

 
 


 
  
 
mr  p  eA  er    A  e r.  A  er.  A

 
 er    A  (4.1.14)
 
 ev  B

Ini sesuai dengan persamaan (4.1.1), sehingga Lagrangian dalam persamaan (4.1.7) betul adanya.
 
Hamiltonian secara klassik adalah H  p. r  L . Dengan menggunakan persamaan (4.1.7)
  
dan mr  p  eA dari persamaan (4.1.11) diperoleh Hamiltonian elektron dalam medan magnet
seperti
 1  
H ( p  eA) 2 (4.1.15)
2m

Persamaan inilah yang menjadi titik tolak untuk menjelaskan gerakan elektron dalam medan
magnet.homogen secara kuantum.

4.2 Hamiltonian dan Nilai Eigennya


Jika elektron bergerak bebas di dalam medan magnet, maka energinya hanyalah berbentuk kinetik
saja. Jadi, Hamiltonian sebagai operator adalah

 1  1  
H  mr 2  ( p  eA) 2 (4.2.1)
2 2m
  
Dengan persamaan di atas, dapat dituliskan mr  p  eA , sehingga jika komponen-komponennya
dituliskan dalam bentuk operator diperoleh

i  i  eB i 
vˆx   ; vˆ y    x; vˆz   (4.2.2)
m x m y m m z

Persamaan di atas telah menggunakan ungkapan p̂  i dan untuk kasus ini diterapkan gauge
Landau dalam persamaan (4.1.9) Ay=Bx. dimana B pada sumbu-z.
Terlihat pada persamaan (4.2.2) bahwa hubungan komutasi antara v̂ x dan v̂ y adalah

vˆx , vˆ y   i eB2  i mc (4.2.3)


m

 
di mana telah digunakan sifat komutator antara momentum, pˆ x , pˆ y  0 ,  pˆ x , xˆ   i dalam Bab
2.5, dan cdalam persamaan (4.1.4).
Analogi dengan osilator harmonik, dapat definisikan

vˆ  vˆ x  ivˆ y ; vˆ  vˆ x  ivˆ y (4.2.4)

Kedua operator itu memenuhi hubungan komutasi yang mirip dengan operator kresi dan anihilasi
dalam osilator harmonik, yakni

61
vˆ , vˆ   2 c (4.2.5)
m

Kini, dengan menggunakan persamaan (4.2.3)-(4.2.5) Hamiltonian dalam (4.2.1) dapat dituliskan
sebagai berikut,

Hˆ  12 mvˆz2  12 mvˆ vˆ  12  c (4.2.6)

Selanjutnya, dengan didefenisikan operator bilangan N̂


m
Nˆ  vˆ vˆ (4.2.7)
2c

maka Hamiltonian dalam persamaan (4.2.6) berubah menjadi

Hˆ  12 mvˆz2  c Nˆ  12   (4.2.8)

Jelas terlihat, suku pertama menggambarkan gerakan elektron searah medan magnet (sumbu-z),
sedangkan suku kedua menampilkan sifat yang sama dengan osilator harmonis.

4.3 Degenerasi
Dari Hamiltonian dalam persamaan (4.2.8) jelas bahwa fungsi gelombang yang tepat adalah  n,k z ,
sehingga berlaku Hˆ  n,k z  En,k z n,k z dengan syarat batas priodik yang digunakan dalam arah-z.
Energi eigennya adalah

 2 k z2
E z , k z  (n  1
2
)c  (4.3.1)
2m

Seperti dalam osilator harmonis, bilangan kuantum n bisa mengambil harga 0, 1,2….., sedangkan kz
memenuhi syarat batas periodic kzL=2p, di mana p bilangan bulat. Dari bentuk energi seperti di atas,
bisa terjadi keadaan berdegenerasi, yakni adanya beberapa fungsi yang bebas linier dengan n yang
sama.
Alternatif lain untuk menurunkan energi dalam persamaan (4.3.1) adalah menggunakan
persamaan Schrödinger. Untuk itu gunakan Hamiltonian dalam persamaan (4.2.1) dengan fungsi
gelombang


i k y yk z z 
 n,k y ,k z ( x, y, z )  e  ( x) (4.3.2)

Dari
ˆ
H n,k y ,k z  E n,k y , k z

maka

1
2m
 
pˆ x2  ( pˆ y  eBx ) 2  pˆ z2  n,k y ,k z  E n,k y ,k z (4.3.2)

62
Mengingat

pˆ   i ,   x, y, z

maka
 2  2 1  2 k z2
  ( k y  eBx ) 2
    E (4.3.3)
2m x 2 2m 2m

Terlepas dari kehadiran  2 k z2 / 2m , persamaan ini mempunyai bentuk yang sama dengan persamaan
 
Schrödinger untuk osilator harmonik, dengan potensial k y  eBx mempunyai harga minimum
sama dengan 0 di
k y
x0   (4.3.4)
eB
Terlihat pula dari persamaan (4.3.3) di atas ada kemiripan dengan osilator harmonis dengan konstanta
gaya (eB)2 /m, dan nilai eigen energinya adalah persamaan (4.3.1). Dengan persamaan (4.3.4) maka
interval k y adalah
eBL
k y  (4.3.5)

Tingkat degenerasi atau jumlah keadaan yang bebas linier dalam interval k y jika harga x0 dibatasi
di dalam daerah 0<x0<L adalah Lk y / 2 , atau

eBL2
N (4.3.6)
2

Jika dinyatakan 2  / e sebagai fluks kuantum, maka tingkat degenerasiN merupakan jumlah fluks
kuantum yang terkait dengan fluks BL2 dari medan magnet lewat volume V=L3 yang ditinjau.
Sekarangt akan ditinjau persamaan Schrödinger bagi suatu elektron dalam medan magnet
homogen yang ungkapan vektor potensialnya menggunakan gauge simetrik seperti diperlihatkan
dalam persamaan (4.1.10): Ax   12 By; Ay  12 Bx; Az  0 . Dari bentuk potensial ini, persamaan
Schrödinger sebaiknya diungkapkan dalam koordinat silinder:

x  r cos  ; y  r sin 
(4.3.7)
y
tg  ; r  x2  y2
x

Operator-operator momentum dalam koordinat silinder (lihat Apendiks 4) memenuhi

63
   sin   
pˆ x  i  i cos   
x  r r  
   cos   
pˆ y  i  i sin    (4.3.8)
y  r r  

pˆ z  i
z

sedangkan operator Laplace dalam kordinat silinder adalah

2 2 2 2 1  1 2 2
2        (4.3.9)
x 2 y 2 z 2 r 2 r r r 2  2 z 2

Berdasarkan variable-variabel dalam koordinat silinder di atas, maka fungsi gelombang dapat
dinyatakan sebagai
  ei k z z  n  (r ) (4.3.10)

di mana n adalah bilangan bulat. Dengan menggunakan Hamiltonian seperti dalam persamaan (4.2.1):

 1  
Hˆ  12 mr 2  ( p  eA) 2
2m
dilakukan uraian berikut,
   
( p  eA) 2  p 2  2ep. A  e 2 A 2
 p x2  p y2  p z2  2e( p x Ax  p y Ay  p z Az )  e 2 ( Ax2  Ay2  Az2 )

sehingga di dalam koordinat Cartesian diperoleh

Hˆ   
2  2
2m  x
2
y
2 
 2  2  2  
z 
eB
2m
ˆ
p x y  ˆ
p y x 
e2 B 2 2
8m

y  x2    (4.3.11)

Transformasi ke koordinat silinder, persamaan (4.3.11) menjadi

2  2 1  1 2 2 
Hˆ     2   
2m  r r r r 2  2 z 2 
ieB   sin      cos   
  cos   r sin     sin   r cos  
2m  r r    r r  
e2 B 2 2
 r
8m

Jadi, dengan menggunakan fungsi gelombang dalam persamaan (4.3.10) diperoleh persamaan
Schrödinger

64
 2  1 d d 2 n2  en e2 B 2 2   2k z2 
       B  r    E   (4.3.12)
2m  r dr dr 2 r 2  2m 8m 
 2 m 

Untuk menyederhanakan persamaandi atas, andaikan

eB  2 k z2
 r ;  E (4.3.13)
 2m
dan
 ( )
 (r )  (4.3.14)

Maka persamaan (4.3.12) menjadi

1 d 2 1  1  1 1 
  n   2   n 2   2     (4.3.15)
2 d 2
2 4  4  

1 2  2 1 1
Terlihat bahwa jika n<0 dan n  1 maka potensial efektif n     n   2 mempunyai
4  4 
harga minimum sama dengan 0 di
0  2 n (4.3.16)

Pada keadaan potensial minimum itu, energi elektron adalah 1


2  c . Jika elektron dipandang bergerak
dalam silinder berjari-jari R, maka tingkat degenerasi ditentukan dengan syarat  0  R . Karena
harga maksimum dari m menyatakan banyaknya keadaan berenergi 1
2  c , maka tingkat degenerasi
2
R eB
adalah N=nax n = max,  02 / 2 = ; lihat persamaan (4.3.13). Jadi tingkat degenerasi
2
eBR 2
N (4.3.17)
2

Hasil ini sesuai dengan persamaan (4.3.6).

4.4 Effek Hall


Sesungguhnya, elektron yang bergerak dapat dipandang sebagai arus listik dalam arah
berlawanan. Jika plat logam berarus listrik ditempatkan di dalam medan magnet tegak lurus terhadap
arus listrik, teramati suatu bede potensial antara pinggir-pinggir kawat tegak lurus terhadap arah arus
dan medan magnet; lihat Gb. 4.2.. Rupanya, di dalam plat itu ditimbulkan medan listrik yang tidak
searah dengan rapat arus. Jika medan magnet cukup kuat, medan listrik bisa tegak lurus terhadap arah
arus. Fenomena ini diamati pertama kali oleh Hall pada 1880, dan ini disebut effek Hall.
Penjelasan dari fenomena effek Hall adalah sebagai berikut: Ketika arus melalui plat logam di
dalam medan magnet yang tegak lurus pada arah arus listrik, medan magnet membelokkan elektron-
elektron kea rah yang tegak lurus medan dan kecepatan elektron-elektron itu sendiri.

65
Karenakecepatan elektron vd ada di sepanjang plat, komponen medan listrik haruslah tegak lurus arus
listrik.

V

B
plat logam

I
Gb. 4.2 Effek Hall, I: arus, B: medan magnet, V beda potensial.

Komponen medan listrik yang tegak lurus arus listrik disebut medan Hall, EH. Gaya oleh medan ini
pada elektron berlawanan dengan gaya Lorentz; dalam keadaan setimbang

ev d B  eE H  0 (4.4.1)

 
Jadi, medan Hall sebanding dengan kecepat dan medan magnet. Rapat arus J dan kecepatan v d
punya hubungan seperti
 
J  nev d (4.4.2)

di mana n menyatakan kerapatan elektron. Dengan menyatakan

1
RH   (4.4.3)
ne

sebagai konstanta Hall, maka persamaan (4.4.1) menjadi

E H  RH JB (4.4.4)

Dalam system electron dua-dimensi yang bergerak tegak lurus medan magnet homogen,
energi untuk elektron tunggal mengikuti persamaan (4.3.1) tanpa suku kedua karena nilai kzsangat
sangat kecil

E z ,k z  (n  12 )c (4.4.5)

Menurut Pauli, setiap tingkat energi dengan bilangan kuantum n bisa ditempati sejumlah elektron
yang banyaknya sama dengan tingkat degenerasi N dalam persamaan (4.3.6)

eBL2
N
2

Jika n0 menyatakan jumlah tingkat energi yang sepenuhnya ditempati elektron-elektron, sedangkan
lainnya kosong, maka jumlah elektron-elektron per satuan luas adalah

66
N eB
n  n0 2
 n0 (4.4.6)
L 

Praktisnya tingkat degenerasi N sekitar 108.


Dengan rumusan jumlah elektron per satuan luas, n, dan jumlah tingkat energi yang
sepenuhnya ditempati elektron, n0, maka rumusan (4.4.1) dan (4.4.2) bisa dipakai untuk menentukan
hubungan antara arus listrik per satuan panjang, Jx, dan komponen tegak lurus medan listrik Ey

Ey e2
J x  ne   n0 E y (4.4.7)
B 

Jadi, Jx/Ey adalah suatu bilangan bulat n dibagi  / e 2 =25813 Ohm. Dalam Gb. 4.3 diperlihatkan hasi
pengukuran Ey/Jx dalam heterostruktur GaAs-AlGaAs sebagai fungsi B pada suhu T=8 mK (K.v.
Kltzing and G. Ebert (1983), Physica B+C, 117-118, 682). Deskripsi elektron bebas dari effek Hall
yang telah dikemukakan, menghubungkan tingkat degenerasi persamaan (4.3.6) dengan plateau-
plateau Ey/Jx dalam Gb.4.3, tetapi persamaan (4.3.6) itu tak mampu menjelaskan mengapa eksperimen
bisa menghasilkan itu. Jika model elektron bebas dipakai secara harfiah, maka orang akan terbawa
ke kesimpulan bahwa hubungan antara Ey/Jx. dan B dalam Gb.4.3 harus berupa garis lurus dengan
kemiringan -1/ne. Lebar plateau-plateau mungkin sebagai akibat dari keberadaan dari ketidak-
sempurnaan dalam bahan.

Ey /Jx 25
(k) 20
15
10
5
0 0 2 4 6 8 B(T)

Gb. 4.3 Ey/Jx sebagai fungsi B pada suhu T=8 mK.

67
Soal-soal
4.1 Sebuah partikel bermuatan q bergeraka dalam suatu potensial V(x,y,z)=K(x2+y2 +z2 ) dalam

pengaruh medan maget B. Gunakanlah A=Bx. Tunjukkan bahwa operator momentum p komut

dengan A .

4.2 Asumsikan bahwa medan magnet cukup lemah sehingga suku yang mengandung kuadrat B bisa
diabaikan di dalam Hamiltonian. Fungsi keadaan untuk Hamiltonian tanpa medan magnet
~
dinyatakan dengannx,ny,nz. .Bagian Hamiltonian yang mengandung medan magnet adalah H '
.Tentukanlah harga rata-rata H’ untuk setiap keadaan000,100,010 dan 001.

4.3 Rumuskanlah Hamiltonian sebagai matriks 3x3 dengan basis100,010 dan 001.Tentukanlah harga
eigen dari matriks ini dan tentukanlah harga eigen bersangkutan.

68
BAB 5
MOMENTUM SUDUT ELEKTRON TUNGGAL
Sebelum membahas atom hidrogen dan sejenisnya terlebih dahulu kita harus memahami momentum
sudut suatu partikel berikut sifat-sifatnya. Bertitik tolak dari definisi klasik, momentum sudut
diungkapkan sebagai operator dalam koordinat bola.

5.1 Operator Momentum Sudut


Salah satu besaran fisis dari suatu partikel yang sangat penting adalah momentum sudut.
Dalam mekanika klasik besaran ini diungkapkan oleh
  
Lrxp (5.1.1)
 
yakni perkalian vektor posisi r dan vektor momentum linier p yang dimiliki partikel. Komponen-

komponen vektor L adalah:

Lx  yp z  zp y
L y  zp x  xp z (5.1.2)
Lz  xp y  yp x
dan kuadratnya,
L2  L2x  L2y  L2z (5.1.3)

Dalam fisika kuantum, setiap komponen momentum linier dipandang sebagai operator. Untuk itu px,
py, dan pz dalam persamaan (5.1b) masing-masing diganti dengan operatornya seperti telah diberikan
dalam persamaan (2.36):

d d d
pˆ x  i , pˆ y  i , pˆ z  i ,
dx dy dz

sehingga operator-operator momentum sudut adalah:

 
Lˆ x  i ( y  z )
z y
 
Lˆ y  i ( z  x ) (5.1.4)
x z
 
Lˆ z  i ( x  y )
y x

Selain itu, operator momentum sudut kuadrat adalah:

Lˆ2  Lˆ2x  Lˆ2y  Lˆ2z . (5.1.5)

Dalam koordinat bola seperti diperlihatkan dalam Gb.5.1, berlaku hubungan berikut:

69
x  r sin  cos  , y  r sin  sin  , z  r cos 

r 2  x2  y2  z2
z y
cos   ; tg  
x2  y2  z2 x

 r

x  y

Gb.5.1 Hubungan koordinat Cartezian (x, y, z) dan bola (r, , ).

Dengan hubungan itu, selanjutnya persamaan (5.1.4) dapat diturunkan menjadi (lihat Apendiks 3):

 
Lˆ x  i(sin   ctg  cos  )
 
 
Lˆ y  i(cos   ctg  sin  ) (5.1.6)
 

Lˆ z  i


Selanjutnya, dengan substitusi persamaan (5.1.6) ke persamaan (5.1.5) diperoleh

 1     1 2 
Lˆ2   2   sin     (5.1.7)
 sin      sin 2   2 

Karena momentum sudut adalah besaran fisis maka operator-operatornya merupakan operator yang
Hermitian. Beberapa sifat penting dari operator-operator momentum sudut adalah sebagai berikut:

[ Lˆ x , Lˆ y ]  iLˆ z , [ Lˆ y , Lˆ z ]  iLˆ x , [ Lˆ z , Lˆ x ]  iLˆ y (5.1.8)

[ Lˆ2 , Lˆ j ]  0, j  x, y, z. (5.1.9)
Dengan mendefinisikan:
Lˆ   Lˆ x  iLˆ y , (5.1.10)

Maka komutator-komutator momenetum sudut

[ Lˆ z , Lˆ  ]  Lˆ  , (5.1.11)

70
[ Lˆ  , Lˆ  ]  2Lˆ z , (5.1.12)

[ Lˆ2 , Lˆ  ]  0. (5.1.13)
Contoh 5.1:
Buktikan: [ Lˆ x , Lˆ y ]  iLˆ z .
Gunakanlah fungsi  (x,y,z) sebagai operan bagi operator-operator tersebut.

[ Lˆ x , Lˆ y ]  Lˆ x Lˆ y   Lˆ y Lˆ x
             
  2  y  z  z x    z  x  y z 
 z y  x z   x z  z y 
  2   2  2  2 
  2  yz y  yx 2  z 2  zx 
 zx x z yx yz 
  2  2  2  2  
  zy  z2  xy 2  xz x 
 xz xy z zy y 

Setelah melalui kanselisasi diperoleh:

   
[ Lˆ x , Lˆ y ]   2  y  x 
 x y 
 
Karena Lˆ z  i( x  y ) , maka akhirnya diperoleh komutator momentum sudut :
y x
[ Lˆ , Lˆ ]  iLˆ .
x y z

5.2 Operator L̂ z
Nilai eigen dan fungsi eigen operator L̂ z dapat ditetapkan seperti berikut. Misalkan () adalah
fungsi eigen bersangkutan dengan nilai eigen Lz sehingga:

L̂z   Lz  ; (5.2.1)
atau

 i  Lz 

sehingga
   0 e iLz / 

Karena sifat ( )  (  2 ) , maka

exp (iL z / )  exp [iL z (  2 ) / ]


 exp(iL z / ) exp (i 2 Lz  / )

71
Jadi, exp (i 2Lz / )  cos (2Lz / )  i sin (2Lz / )  1. Artinya,

2
Lz  0,  2 ,  4 , .....

sehingga harga-eigen operator L̂ z adalah :

Lz  m ; m  0,  1,  2, ..... (5.2.2)

dengan fungsi eigen bersangkutan:

 m ( )  C eim (5.2.3)

Contoh 5.2:
Tentukanlah faktor normalisasi C agar fungsi  m  C exp(im ) dalam persamaan (5.2.3)
ternormalisasi.
2

  m d  1;
*
m
0
2
1
C 2  d  1  2C 2  1  C 
0 2
Jadi,
1
 m ( )  e im (5.2.4)
2
Persamaan (5.2.2) dan (5.2.3) merupakan nilai eigen dan fungsi eigen dari operator L̂ z . Nilai eigen di
atas sama dengan yang dikemukakan oleh Bohr tentang momentum sudut suatu elektron di dalam
atom hidrogen (lihat persamaan (1.4.10)). Lz sebagai komponen momentum sudut pada sumbu-z
ternyata merupakan besaran yang diskrit atau terkuantisasi. Dengan perkataan lain komponen-z itu
terkuantisasi. Dalam eksperimen, sumbu-z dinyatakan sebagai sumbu di mana arah medan magnet
statik ditetapkan. Oleh sebab itu m disebut bilangan kuantum magnetik orbital

5.3 Operator L̂2


Nilai eigen dan fungsi eigen operator L̂2 ditentukan sebagai berikut. Andaikan Y(,) adalah fungsi
eigen dengan nilai eigen L2:

Lˆ2Y ( , )  L2Y ( , ) (5.3.1)

 1     1 2 
 2   sin   2 
Y  L2Y
 sin      sin   
2

 2Y Y L2 sin 2   2Y
sin 2   sin  cos   Y   (5.3.2)
 2  2  2

72
Agar dapat diselesaikan, terlebih dahulu harus dilakukan pemisahan variable; untuk itu misalkan

Y ( ,  )  P( ) ( ) . (5.3.3)

Substitusi ke persamaan (5.10) menghasilkan

1  2 2P P L2 sin 2   1  2
 sin   sin  cos   
   .
P  2  2    2

Jelas kini, fihak kiri hanya bergantung pada  dan fihak kanan hanya bergantung pada  ; oleh sebab
itu masing-masing fihak dapat dinyatakan sama dengan suatu konstanta. Karena kita sudah mengenal
fungsi  dalam persamaan (5.2.4), konstanta itu adalah mℓ2 sehingga diperoleh persamaan diferensial:

2P P  L2 m2 
 ctg     P  0 (5.3.4)
 2    2 sin 2  

Persamaan ini identik dengan persamaan Legendre terasosiasi dengan:

L2   2 (  1);   m (5.3.5)


dan fungsi P adalah:

  m
(1)  m  d 
w 
m
1 
( w)  (1  w 2 ) 2     1 ; w  cos 
m 2
P 
(5.3.6)
2 !  dw 
m
Fungsi P ( w) adalah polinom Legendre-terasosiasi, dengan sifat ortogonalitas sebagai berikut:


2 (  m )!
 P (cos  ) P '  (cos  ) sin  d    '
m m
(5.3.7)
0
(2  1) (  m )!
( ) :
m
Sehubungan dengan persamaan (5.3.6), di bawah ini diberikan beberapa contoh P

Poo (  )  1;
P1o ( )  cos 
P11 ( )   sin 
(5.3.8)
P2o ( )  12 (3 cos   1);
2

P21 ( )  3 cos  sin  ;


P2 2 ( )  3 sin 2 

Dalam persamaan (5.3.5),  adalah bilangan bulat positif: 0, 1, 2, …..; bilangan ini disebut bilangan
kuantum orbital. Dari persamaan itu jelas bahwa untuk suatu nilai  ada (2  +1) buah nilai mℓ,
yakni mℓ= -  , -(  -1), …,-1., 0, 1,……., (  -1),  . Untuk  =1, besarnya momentum sudut adalah

73
L=ħℓ(ℓ+1)=ħ2. Momentum sudut mempunyai tiga orientasi yang diperlihatkan dalam Gb.5.2.

Lz=mℓħ adalah hasil proyeksi L pada sumbu-z; mℓ disebut

z
mℓ =1
Lz= 
 2
Lz=0 mℓ =0

Lz=-  mℓ = -1

Gb.5.2 Orientasi momentum sudut terhadap sumbu-z untuk  =1.

bilangan kuantum magnetik orbital Ini menggambarkan kuantisasi komponen-z dari momentum
sudut. Akhirnya, dari persamaan (5.3.3) diperoleh fungsi eigen yang ternormalisasi bagi operator L̂2 :

(2  1) (  m !)
Y ( ,  )  Ym ( ,  )  Pm (cos  ) e im (5.3.9)
4 (  m !)

yang biasa disebut harmonik-harmonik bola (spherical harmonics). Fungsi-fungsi tersebut


membentuk set ortonormal melalui persamaan ortogonalitas berikut

 2

  (Y
0 0
m ) *Y 'm ' sin  d d    ' m m ' (5.3.10)

dan dua sifat penting dari fungsi ini adalah

1  2  m2 (  1) 2  m2 
cos  Ym   
Y 1, m  Y 1, m  (5.3.11)
2  1  2  1 2  3 

1  (  m )(  m  1) (  m  2)(  m  1) 
sin  eiYm    Y 1,m 1  Y 1,m 1  (5.3.12)
2  1  2  1 2  3 

Selanjutnya, beberapa contoh fungsi Ym adalah sebagai berikut:

1
Y00 (  )  ; Y20 ( ) 
5
(3 cos 2   1);
4 16
3 15
Y10 ( )  cos  ; Y21 ( )   sin 2 e i (5.3.13)
4 32
3 15
Y11 ( )   sin  e i Y2 2 ( )  sin 2  e  2i
8 32
74
Dengan nilai eigen seperti dalam persamaan (5.3.5), persamaan nilai eigen adalah:

Lˆ2Ym   2 (  1)Ym ;   0,1, 2,....


(5.3.14)
Lˆ z Ym  m  Ym ; m  ,  (  1),......

Persamaan-persamaan (5.3.5) dan (5.2.2) di atas menunjukkan kuantisasimomentum sudut.


Dibandingkan dengan postulat Bohr, kuantisasi dalam postulat itu sangat prematur dan tidak lengkap;
inilah salah satu alasan mengapa teori Bohr tak dapat mengungkapkan struktur atom yang lebih besar.
Orbital-orbital elektron dibentuk dari fungsi-fungsi Ym dalam bentuk ril. Karena di antara
fungsi-fungsi Ym itu ada yang kompleks, maka pembentukan orbital harus dilakukan melalui
kombinasi linier dari fungsi-fungsi tersebut. Orbital-orbital itu diberi simbol s untuk   0 , p untuk
  1 dan d untuk   2 dan seterusnya. Dalam Gb.5.3 di bawah ini diperlihatkan orbital-orbital
tersebut.

z z z z

y y y y

x s x px x py x pz
z

z z z z
y y y y y

x x x x x
dz2 dxz dyz dx2-y2 dxy

Gb.5.3 Orbital-orbital atom s, p, dan d.

  0; s  Yoo (5.3.15)


p  Y o
 z 1


 1 3
  1;  px  (Y11  Y11 )  sin  cos  (5.3.16)
 2 4
 i 3
 py  (Y11  Y11 )  sin  sin 

 2 4

75

 d 2  Y20
 z
 1 15
 d xz   (Y21  Y21 )  sin  cos  cos 
 2 4
 i 15
  2;  d yz  (Y21  Y21 )  sin  cos  sin  (5.3.17)
 2 4
 1 15
 d 2 2 (Y22  Y2 2 )  sin 2  cos 2 
 x y
2 16

d xy   i (Y22  Y2 2 )  15 sin 2  sin 2
 2 16

Dalam pembentukan molekul dari beberapa atom, ikatan antar atom berlangsung melalui
orbital-orbital tersebut. Permasalahan ikatan molekul dibahas dalam mekanika kuantum molekul,
sebagai kelanjutan dari buku ini.

Contoh 5.3: Tentukanlah matriks L̂ z dengan basis fungsi-fungsi Y ,m untuk ℓ= 0,1,2.. Berdasarkan
persamaan (5.3.14): Lˆ zYm  m  Ym ; maka
Lˆ 
z m , 'm '   Y*',m ' Lˆ z Y ,m sin  d d

 m   Y*',m ' Y ,m sin  d d  m   ' m m '


Lˆ 
z m , 'm '
memiliki harga hanya jika ℓ’=ℓdan mℓ=m‟ℓ.. Jadi, dengan ℓ= 0,1,2.. , matriks

L̂ z adalah
ℓ= 0;ℓ= 1; ℓ= 2

0 
 
 1 0 0 
 0 0 0 0 
 
 0 0 1 
 2 0 0 0 0 
Lˆ z   
 0 1 0 0 0 
 
 0 0 0 0 0 0 
 0 0 0 1 0 
 
 0 0 0 0 2 
 
 
Contoh 5.4:
Tentukanlah matriks L̂ z dengan basis fungsi-fungsi Y ,m untuk ℓ= 0,1,2.. Berdasarkan persamaan
(5.19): Lˆ2Ym   2 (  1)Ym ;maka

76
Lˆ 
2
m ,  ' m '   Y*', m ' Lˆ2 Y , m sin  d d
  2 (  1)  Y*', m ' Y , m sin  d d   2 (  1)  ' m m '
Lˆ 
2
m , 'm ' memiliki harga hanya jika ℓ’=ℓ dan mℓ=m‟ℓ.. Jadi, dengan ℓ= 0,1,2.. , matriks L̂2 adalah

ℓ= 0; ℓ= 1; ℓ= 2
0 
 
 2 0 0 
 0 2 0 
 
 6 0 0 0 0 
Lˆ2   2 
 0 6 0 0 0 
 0 0 6 0 0
 
 0 0 0 6 0
 0 0 0 0 6 

5.4 Operator L̂  dan L̂ 


Sehubungan dengan operator L̂ yang telah didefinisikan dalam persamaan (5.1.10), akan
dikemukakan karakteristik operasinya terhadap fungsi harmonik bola Y ,m . Karena [ Lˆ z , Lˆ  ]  Lˆ 
seperti ditunjukkan oleh persamaan (5.1.11) maka:

Lˆ z Lˆ  Ym  ( Lˆ  Lˆ z  Lˆ  )Ym  (m  1)Lˆ  Ym


Lˆ z Lˆ Ym 1  ( Lˆ  Lˆ z  Lˆ  )Ym 1  m Lˆ Ym 1

Jelas bahwa ( Lˆ  Ym ) adalah fungsi eigen dari L̂ z dengan nilai eigen (mℓ+1)ħ. Padahal merujuk pada

persamaan (5.19) nilai eigen ini merupakan hasil operasi L̂ z terhadap Ym 1 . Oleh sebab itu,

Lˆ Ym  C Ym 1

Demikian pula ( Lˆ Ym 1 ) adalah fungsi eigen dari L̂ z dengan nilai eigen mℓħ. Padahal nilaieigen ini

merupakan hasil operasi L̂ z terhadap Ym . Jadi,

Lˆ Ym 1  C Ym

Dengan kedua persaman di atas, maka

Lˆ  Lˆ Ym  C 2Ym .
Di fihak lain,

77
Lˆ  Lˆ Ym  ( Lˆ2  Lˆ2z  Lˆ z )Ym  [ 2 (  1)  m (m  1)]Ym

sehingga diperoleh,
C 2   2 (  1)  m (m  1) .

Dengan demikian maka sifat operasi operator L̂ adalah:

Lˆ  Ym   (  1)  m (m  1) Ym 1


(5.4.1)
Lˆ Ym   (  1)  m (m  1) Ym 1

Kedua persamaan di atas bukan persamaan nilaieigen, karena operator-operator itu menggeser
bilangan kuantum mℓ. Operator L̂ menambah bilangan kuantum mℓ menjadi mℓ+1, sedangkan L̂
menguranginya dari m menjadi mℓ-1. Oleh sebab itu, kedua operator itu disebut sebagai operator
tangga (step operator).

Contoh 5.5:
Tentukanmatriks L̂ dengan basis fungsi-fungsi Y ,m untuk ℓ= 0,1,2.. Berdasarkan persamaan
(5.4.1): LˆYm   (  1)  m (m  1) Ym 1 maka

𝐿+ ℓ′𝑚′ℓ ;ℓ𝑚 ℓ
= 𝑌ℓ′,𝑚′ℓ 𝐿+𝑌ℓ𝑚 ℓ 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝑑𝜑

= ℏ ℓ(ℓ + 1) − 𝑚ℓ (𝑚ℓ + 1) 𝑌ℓ′,𝑚 ′ℓ 𝑌ℓ𝑚 ℓ+1 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝑑𝜑


= ℏ ℓ(ℓ + 1) − 𝑚ℓ (𝑚ℓ + 1)𝛿ℓ′ℓ𝛿𝑚 ′ℓ,𝑚 ℓ+1

Lˆ 
  'm ' ;m
memiliki harga hanya jika ℓ’=ℓdan m‟ℓ=mℓ+1. Jadi, dengan ℓ= 0,1,2.. , matriks L̂ :

ℓ=0 ℓ=1 ℓ=2

0 
 
 0 2 0 
 
 0 0 2 
 0 0 0 
 
L   
ˆ 0 4 0 0 0
 
 0 0 6 0 0
 
 0 0 0 6 0
 
 0 0 0 0 4
 0 0 0 0 0 

78
Soal-soal
5.1 Buktikan [𝐿𝑦 , 𝐿𝑧 ] = 𝑖ℏ𝐿𝑥 , [𝐿𝑧 , 𝐿𝑥 ] = 𝑖ℏ𝐿𝑦 .

5.2 Buktikan 𝐿2 , 𝐿𝑗 = 0, 𝑗 = 𝑥, 𝑦, 𝑧.

5.3 Dengan 𝐿± = 𝐿𝑥 ± 𝑖𝐿𝑦 , buktikan: 𝐿𝑧 , 𝐿± = ±ℏ𝐿± , 𝐿+ , 𝐿− = 2ℏ𝐿𝑧 , dan 𝐿2 , 𝐿± =


0.Buktikan: 𝐿 −𝐿+ = 𝐿2 − 𝐿2𝑧 − ℏ𝐿𝑧

5.4 Berangkat dari ungkapan operator-operator momentum sudut dalam koordinat Cartesian (lihat
persamaan 5.1.2), lakukanlah transformasi untuk memperoleh ungkapan dalam koordinat bola
(lihat persamaan 5.1.4).

5.5 Nyatakanlah operator 𝐿+ dalam bentuk matriks dengan basis harmonik bola 𝑌ℓ,𝑚 ℓ dengan  =3.
Hal yang sama untuk operator 𝐿−.

5.6 Nyatakanlah operator 𝐿𝑥 dalam bentuk matriks dengan basis harmonik bola 𝑌ℓ,𝑚 ℓ dengan ℓ=0,1,2.
Hal yang sama untuk operator 𝐿𝑦 .

5.7 Hitunglah sudut-sudut yang mungkin antara 𝐿 dan sumbu-z untuk ℓ=2.

5.8 Operator 𝐿2 suatu partikel memiliki nilai eigen 12ℏ2 dengan fungsi eigen tertentu; tentukanlah
nilai eigen operator 𝐿𝑧 dengan fungsi eigen yang sama.

5.9 Gunakanlah operator tangga 𝐿− tiga kali berturut-turut terhadap fungsi harmonik bola 𝑌1,1 , dan
tunjukkan bahwa setiap operasi akan menghasilkan fungsi-fungsi Y1,0; Y1,-1; dan nol.

79
BAB 6
ATOM DENGAN SATU ELEKTRON
Dalam Bab 1 telah dikemukakan pandangan Bohr tentang struktur atom hidrogen. Atom ini
mengandung satu elektron yang mengitari proton sebagai inti. Dengan menggunakan postulat dasar
tentang orbit-orbit stasioner elektron dan melakukan perhitungan secara klasik, Bohr berhasil
merumuskan tingkat-tingkat energi yang berkaitan dengan spektrum atom hidrogen. Selain itu dia
juga mampu merumuskan jari-jari orbital. Meskipun pada masa berikutnya ternyata pandangan Bohr
tersebut memiliki kelemahan, namun pandangan tersebut telah memotivasi orang untuk menemukan
teori baru.
Dalam Bab 3, telah dipakai persamaan Schrödinger yang tidak bergantung waktu untuk suatu
elektron dengan bentuk-bentuk potensial yang sederhana. Ternyata, dalam keadaan terikat energi
elektron itu diskrit. Dalam bab ini akan dikemukakan pemakaian persamaan tersebut untuk suatu
elektron di dalam potensial sentral. Potensial ini hanya bergantung pada jarak antara elektron dan inti
sebagai pusat koordinat.

6.1Persamaan Schrödinger satu Elektron


Kini akan dikemukakan pandangan secara kuantum tentang atom hidrogen, H, dan atom-atom
berelektron tunggal seperti ion-ion He+, Li+2, Be+3dan sebagainya. Terlebih dulu diasumsikan bahwa
inti atom adalah pusat yang diam sehingga kinetiknya diabaikan; ini dikenal sebagai aproksimasi
Born-Oppenheimer. Elektron disekitar inti (proton) memiliki energi E sebagai penjumlahan energi
kinetik dan energi potensial. Jadi, jika Ĥ adalah operator energi dan  fungsi gelombang elektron,
maka persamaan harga eigennya adalah:

Hˆ   E (6.1.1)
dengan:
2 2 Ze 2
Hˆ     (6.1.2)
2m 4 o r

Suku kedua dalam persamaan (6.1.2) adalah potensial Coulomb yang ditimbulkan oleh inti. Ze
menyatakan muatan inti; untuk atom hidrogen harga Z =1, dan untuk He+: Z=2, untuk Be+3: Z=4.
Karena potensial ini bersifat sentral maka Hamiltonian itu harus diungkapkan dalam koordinat bola;
 
artinya operator energi kinetik dalam koordinat Cartesian:   2 / 2m  2 harus ditransformasikan ke
koordinat bola. Hasil transformasi itu adalah:

2  2 2  1 2 ctg   1  2  Ze 2
Hˆ         (6.1.3)
2m  r 2 r r r 2  2 r 2  r 2 sin 2   2  4 o r

Mengingat operator L̂2 dalam persamaan (5.1.7), maka persamaan (6.1.3) dapat disederhanakan
menjadi

2  2 2  Lˆ2  Ze 2
Hˆ       (6.1.4)
2m  r 2 r r  2 r 2  4 o r

80
sehingga persamaan (6.1.1) dapat diungkapkan sebagai berikut:

 2   2 2    Ze 2 Lˆ2 
    E     0 (6.1.5)
2m  r 2 r r   4 o r 2mr 2 

Inilah persamaan Schrödinger dalam koordinat bola. Dalam persamaan (6.1.4) L̂2 merupakan bagian
dari Ĥ ; oleh sebab itu komutator [ Hˆ , Lˆ ]  0 , sehingga fungsi eigen bagi Ĥ adalah fungsi eigen
2

bagi L̂2 juga, atau sebaliknya. Fungsi eigen bagi L̂2 adalah Ym ( ,  ) (lihat persamaan (5.3.9)).
Jadi, fungsi (r,,) harus mengandung Ym ( ,  ) . Oleh sebab itu (r,,) dapat dinyatakan
sebagai:

 (r, ,  )  R(r ) Ym ( ,  ) (6.1.6)

Substitusi ke persamaan (6.1.5) menghasilkan:

 2   2 R 2 R   Ze 2  2 (  1) 
    E   R  0 (6.1.7)
2m  r 2 r r   4 o r 2mr 2 

Dalam persamaan (6.7) ini, terlihat bahwa secara efektif elektron memiliki potensial:

Ze 2  2 (  1)
V   (6.1.8)
4 o r 2mr 2

Potensial ini diperlihatkandalam Gb.6.1; tampak bahwa potensial itu menuju nol jika r menuju .

V
 2 (  1)
2mr 2

r
E Ze 2

4 o r

Gb.6.1 Potensial efektif yang dialami elektron dalam atom hidrogen.

Bentuk potensial dalam Gb. 6.1 di atas meskipun lebih rumit tetapi memiliki kemiripan
dengan sumur potensial persegi dengan dinding dalam paragraf 3.5. Lebih jauh, di sekitar harga
minimum potensial ini mirip dengan osilator harmonis sederhana dalam paragraf 3.6. Jadi kita yakin
bahwa jika elektron berada dalam potensial efektif seperti dalam Gb. 6.1, maka energinya adalah
negatif dan diskrit dalam bentuk tingkat-tingkat energi.

81
6.2 Fungsi Gelombang dan Energi Elektron
Dari bentuknya potensial efektif elektron dalam Gb.6.1 jelaslah bahwa energinya (E) negatip.
Artinya, elektron terperangkap dalam potensial inti sehingga energinya merupakan tingkat-tingkat
yang diskrit.
Untuk menyelesaikan persamaan (6.1.7) perlu dilakukan penyederhanaan; untuk itu
dimisalkan:
2Z
 r;
na o
Z 2e2
n 
2
; (6.2.1)
8 o a o E
4 o  2
ao 
me 2

Dalam persamaan ini, ao=0,53 Å adalah jari-jari Bohr (lihat persamaan (1.4.20)). Substitusi ke
persamaan (6.2.1) ke persamaan (6.1.7) akan menghasilkan

d 2 R 2 dR  n 1 (  1) 
    R  0 . (6.2.2)
d 2  d   4  2 

Sebagai tahap awal penyelesaian persamaan (6.1.10), periksalah fungsi R untuk  menuju tak
terhingga. Ternyata persamaan di atas menjadi sederhana, yakni d R / d  14 R  0 , dan solusinya
2 2

R=exp(-½). Tahap berikutnya, dipilih fungsi

R(  )   s L (  ) e   / 2 (6.2.3)

Masuknya s di sana adalah untuk memberi jaminan bahwa fungsi R() akan menuju nol bila 
menuju nol (tidak ada peluang elektron berada di inti). Substitusikan persamaan (6.2.3) ke persamaan
(6.2.2) akan menghasilkan:

d 2L dL
2  2( s  1)     [  (n  s  1)  s( s  1)  (  1)]L  0
d 2
d

Agar memberikan solusi yang baik dipilih s(s+1)- (  1)  0 atau s=  , sehingga

d 2L dL
  2(  1)     (n    1)L  0 (6.2.4)
d 2
d

Persamaan ini dikenal sebagai persamaan diferensial Laguerre Terasosiasi, yang solusinya merupakan
polinom-polinom:

dq  d p
L pq (  )  (1) q [e (  p e   ) ]; p  n  , q  2  1 (6.2.5)
d q
d p

82
dimana n dan  adalah bilangan-bilangan bulat positif yang harusmemenuhi syarat:

n  (  1); n  1, 2, 3, ..... (6.2.6)

Syarat ini menunjukkan bahwa untuk suatu harga n ada n buah harga  . Beberapa contoh polinom Lpq
() adalah sebagai berikut:

n  1,   0; L 11 (  )  1,
n  2,   0; L 21 (  )  2(2   ),
n  2,   1; L 33 (  )  6,
(6.2.7)
n  3,   0; L 31 (  )  3(6  6    2 )
n  3,   1; L 43(  )  24(4   ),
n  3,   2; L 55 (  )  120.

Polynomial ini memilik sifat ortogonalitas:

2n(n  )!
 3
2  
 e L n2  1 (  )L n2'1 (  )  2d  
n    1! n'n
(6.2.8)
0

dan dua sifat penting lainnya adalah:

( p  1)L qp 1 (  )  (2 p  q  1   )L qp(  )  ( p  q)L qp 1 (  )


d q (6.2.9)
 L p (  )  ( p  q)L qp 1 (  )  pL qp (  )
d
Akhirnya, dengan persamaan (6.2.1) dan (6.2.3) didapatlah fungsi lengkap

Rn (  )  N n   e   / 2 L n2  1 (  )
(n    1)! (6.2.10)
N n 
2n[(n  )!]3

di mana N n adalah faktor normalisasi yang diperoleh dari sifat orthogonalitas Rnℓ(ρ). Jika
ditransformasi dari Rnℓ () keRnℓ (r) dengan menggunakan persamaan (6.2.1) akan diperoleh

Rn (r )  N n   e   / 2L n21 (  ) (6.2.11)

Karena fungsi-fungsi Rnℓ(r) adalah ortonormal maka faktor normalisasi adalah


3
 2Z  (n    1)!
N n    (6.2.12)
 2n[(n  )!]
3
 nao
Beberapa contoh fungsi Rnℓ(r) adalah sebagai berikut:

83
3/ 2
Z 
R10 (r )  2  e  Zr / ao (6.2.13)
 ao 
3/ 2
1 Z   Zr 
R20 (r )     2   e  Zr / 2 ao ,
8  a o   ao 
3/ 2
1 Z   Zr   Zr / 2 ao
R21 (r )      e
24  a o   ao 
1 Z 
3/ 2
 Zr  Zr 
2
 (6.2.14)
R30 (r )    6  2    e  Zr / 6 ao
243  a o   a o  3a o  
3/ 2
1 Z   Zr  Zr  Zr / 6 ao
R31 (r )     4   e
486  a o   3a o  3a o
3/ 2 2
1 Z   Zr   Zr / 6 ao
R32 (r )      e
2430  a o   3a o 

Gambar 6.2 memperlihatkan fungsi-fungsi Rnl di atas.


6 2 0.4

5
1.5
0.3
4
1
R(1,0)

R(2,0)

R(2,1)

3 0.2
0.5
2
0.1
0
1

0 -0.5 0
0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 10 15
r/ao r/ao r/ao
1.2 0.25 0.06

1 0.2 0.05
0.8 0.15
0.04
R(3,2)
R(3,0)

R(3,1)

0.6 0.1
0.03
0.4 0.05
0.02
0.2 0

0 -0.05 0.01

-0.2 -0.1 0
0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 10 15
r/ao r/ao r/ao

Gambar 6.2 Fungsi gelombang radial atom hidrogen: R10, R2,0, R2,1, R3,0, R3,1, R3,2.`

Selanjutnya, berdasarkan persamaan (6.9) energi elektron adalah:

84
mZ 2 e 4 Z2 Z 2e2 Z2
En     Rhc     (13,6 eV ) (6.2.15)
2(4 o ) 2  2 n 2 n2 8 o ao n 2 n2

 
di mana R  me / 8 o h c adalah konstanta Rydberg dalam persamaan (1.4.24). Untuk atom
4 2 3

hidrogen di mana Z=1, rumusan (6.2.15) sama dengan yang telah ditemukan oleh Bohr (lihat
persamaan (1.4.21)). Bilangan n disebut bilangan kuantum utama; bilangan inilah yang menyebabkan
kediskritan dari energi elektron.
Dalam persamaan (5.3.5), L2   2 (  1) dapat diganti menjadi L2   2 (n  1)n
 (n 2  n) 2 sehingga jika n cukup besar L2  n 2  2 atau L  n sebagaimana yang telah
dipostulatkan oleh Bohr. Jadi, postulat itu merupakan kasus yang sangat khusus dari hasil penurunan
fisika kuantum(persamaan Schrödinger). Dari persamaan (6.2.15) E1 dari H sama dengan E2 dari H+
dan E3 dari Li+2. Ini merupakan akibat dari asumsi massa elektron sangat kecil dibandingkan dengan
massa inti.
Andaikanlah inti dan elektron berotasi terhadap pusat massa mereka, maka massa reduksi
elektron-inti adalah:
mM m
 
m  M 1 m / M

Dengan massa reduksi ini, konstanta Rydberg berubah menjadi

 e4
R
8 o2 h 3 c

yang besarnya: R =1.0968x107 m-1 untuk H, 1.0972 x107 m-1untuk He+ dan 1.0973x107 m-1untuk Li+2.
Perbedaan nilai-nilai R ini akan memberikan perbedaan terhadap energi-energi di atas.
Kembali ke persamaan (6.1.6), kini fungsi gelombang elektron dapat dituliskan secara
lengkap seperti:

 nm (r, ,  )  Rn (r ) Ym ( ,  ) (6.2.16)

Dari hal-hal yang telah dikemukakan di atas, fungsi  nm dengan sendirinya merupakan fungsi eigen
bagi operator Ĥ , L̂ z dan L̂2 :

Hˆ  nm  En nm ,


Lˆ z nm  m  nm dan
Lˆ2 nm   2 (  1)  nm .

Karena itu maka komutator


Hˆ , Lˆ   0 dan Hˆ , Lˆ   0
z
2
(6.2.17)

Beberapa fungsi  nlm diperlihatkan di bawah ini:

85
3/ 2
1 Z 
100    e  Zr / ao ;
  a o  (6.2.18)
3/ 2
Z
1   Zr 
 200     2   e  Zr / 2 ao ;
4 2  a o   ao 
3/ 2
Z
1   Zr   Zr / 2 ao
 210      e cos  ;
4 2  a o   ao 
3/ 2
1 Z   Zr   Zr / 2 ao
 211      e sin  e i ;
8   a o   ao 

Karena energi hanya ditentukan oleh bilangan kuantum n, maka fungsi-fungsi φ200, φ210, φ21+1
memiliki energi yang sama; keadaan ini disebut terdegenerasi. Sesuai dengan persamaan-persamaan
(5.3.15-17), maka dari persamaan (6.2.18) di atas diperoleh:

3/ 2
1  Z 
 1s   100    e  Zr / ao ;
  a o 
3/ 2
Z
1   Zr 
 2 s   200     2   e  Zr / 2 ao ;
4 2  a o   ao 
3/ 2
1 Z  Zr   Zr / 2 ao
2 pz  210      e cos  ; (6.2.19)
4 2  ao   ao 
3/ 2
1 Z   Zr   Zr / 2 ao
 2 px      e sin  cos  ;
4 2  a o   ao 
3/ 2
1 Z   Zr   Zr / 2 ao
 2 py      e sin  sin  .
4 2  ao   ao 

Fungsi-fungsi di atas disebut orbital-orbital atom dari atom hidrogen. Perlu dicatat bahwa orbital-
orbital itu tidak akurat jika dipakai untuk atom-atom dengan elektron lebih dari satu.
 nm adalah  nm . Peluang untuk
2
Rapat peluang untuk suatu elektron dalam suatu orbital
menemukan elektron dalam suatu sel bola setebal dr pada jarak r dari inti adalah:

2
P(r )dr  4 r 2 nm dr


Untuk orbital 1s misalnya, P(r )  4r Z / ao e
2 o 3
 2 Zr / a
. Maksimum peluang dalam orbital ini
diperoleh pada r=ao/Z. Hal ini sesuai dengan ramalan Bohr tentang jari-jari orbital elektron
pada n=1. Dalam Gb. 6.3 diperlihatkan P(r) sebagai fungsi r untuk berbagai orbital.

86
50 20 50

40 40
15

30 30

P(2s)
P(1s)

P(1s)
10
20 20

5
10 10

0 0 0
0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 10 15
r/ao r/ao r/ao

Gb.6.3 Peluang P1s, P2s, P2p sebagai fungsi jarak dari inti dalam berbagai orbital

Dari segi bilangan kuantum, energi elektron dalam atom hidrogen) hanya bergantung pada
bilangan kuantum n, sehingga keempat fungsi  2 s ,  2 pz ,  2 px dan  2 py memiliki energi yang sama,
yakni E2. Oleh sebab itu, fungsi-fungsi tersebut dikatakan berdegenerasi lipat-4.
Sampai di sini dapat dikatakan bahwa keadaan suatu elektron dapat dikarakterisasikan oleh
tiga bilangan kuantum n, ℓ dan mℓ. Selanjut-nya, dengan fungsi-fungsi  nm tersebut, harga rata-rata
besaran fisis elektron dapat ditentukan melalui persamaan berikut:

ˆ
Aav   n*m A (6.2.20)
nm dv

di mana
dv  r 2 dr sin  d d; 0  r  ; 0     ; 0    2 (6.2.21)

Contoh 1:
Hitung harga rata-rata (1/r)avdan ravpada keadaan  1s .
3  2
1 1 
(1 / r ) av,1s    (1 / r )1s dv  
*
  e o (1 / r ) r dr  sin  d  d
2 r / a 2

  ao
1s
 0 0 0
 2 
1!
 sin  d  d  4 ;  e
 2 r / ao
rdr  (lihat Apendiks 2)
0 0 0
( 2 / ao ) 2
1 ao2 1
Maka diperoleh (1 / r ) av,1s  ao3 4 
 4 ao
Perhitungan harga rata-rata rav pada fungsi keadaan yang sama:

1 3!ao4 3ao
rav,1s   1*s r1s dv  4ao3  e 2 r / ao r 3 dr  4ao3 
 0 24 2
Jelaslah bahwa (1/r)av 1/rav.

6.3 Effek Relativitas


Dalam persamaan Schrödinger, kecepatan elektron secara tak langsung ada dalam energi kinetis,
p2/2me, yang dirumuskan secara non-relativistik. Artinya, kecepatan elektron dipandang jauh lebih
kecil dari pada kecepatan cahaya. Ketika membahas atom Bohr dalam Bab 1, persamaan (1.4.18) dan
(1.4.19) menunjukkan kecepatan elektron:

87
Z 21,9 x10 5 Z
v  m/s  (6.3.1)
mao n n

Kecepatan itu berkurang bilamana energi elektron atau bilangan kuantum n meningkat. Dari
perhitungan sederhana itu kita peroleh untuk atom hidrogen v/c=7x10-3/n. Perbandingan itu cukup
kecil sehingga secara praktis tidak perlu melakukan koreksi. Tetapi karena pengaruhnya telah
teramati dalam spektroskopi, maka koreksi perlu dilakukan khususnya bagi pemahaman teori.
Kembali ke persamaan (1.4.1), dalam teori relativitas khusus energi suatu elektron yang
bergerak dengan momentum p dan memiliki energi potensial V dituliskan seperti:

E  c m 2 c 2  p 2  V  mc 2 (6.3.2)

Pengurangan dengan mc2dimaksudkan agar energi nol-nya sesuai dengan kasus non-relativistik. Jika
momentum p sangat kecil dibandingkan dengan mc, ekspansi sebagai berikut dapat dilakukan:

p2 p4  p2  4
E   .......... .....  V    V  p  .............. (6.3.3)
2m 8m 3 c 2  2m  8m 3 c 2
 

Yang di dalam tanda kurung adalah energi total dalam pendekatan non-relativistik dan suku terakhir
merupakan koreksi relativistik order-1. Koreksi itu dapat dituliskan seperti:

p4 1  p 2  p 2 
E r      
3 2
2mc 2  2m  2m 
8m c   

Faktor- faktor dalam kurung adalah energi kinetik non-relativistik:

p2 1 2 e2
 2 mv   E
2m 4 o (2r )

Oleh sebab itu E boleh dituliskan seperti:

1 v2
E r   ( E )( 12 mv 2 )  1
4
E
2mc 2 c2

Jelaslah bahwa jika (v/c)2 dalam order 10-5 maka koreksi bagi energy E adalah sebesar ~10-5E atau
sekitar 0,001% dari E. Dalam fisika kuantum, koreksi harus dihitung secara rata-rata sesuai
persamaan (6.2.20). Harga rata-rata misalnya pada keadaan  nm adalah:

1 1
E r   ( p 4 ) av     nm pˆ 4 n*m dv
*
3 2 3 2 
8m c 8m c

Hasil perhitungan adalah:

88
En  2  3 1 
E r     (6.3.4)
n  4n   12 

dengan
e2 1
  (6.3.5)
4 o c 137

Parameter  disebut konstanta struktur halus (fine structure), dan En adalah harga absolut energi
elektron pada keadaan  nm . Terlihat bahwa energi koreksi itu bergantung pada bilangan kuantum n
dan ℓ. Dengan perkataan lain, jika efek relativitas diperhitungkan, maka koreksi energi akan
memisahkan fungsi-fungsi yang terdegenerasi.

6.4 Probabilitas Transisi


Dalam paragraf 3.8 telah disinggung probabilitas transisi. Probabilitas transisi sebanding dengan
kuadrat momen transisi dipol, misalnya

M if( z )  e  i* z f dv . (6.4.1)

Jika diterapkan pada elektron dalam atom hidrogen fungsi-fungsi dalam integraldiganti dengan
𝜑𝑛ℓ𝑚 ℓ :

M if( z )  e  n*m z n ' 'm' dv (6.4.2)

Dengan menggunakan persamaan (6.2.16) dan mengingat z=r cos , maka

M if( z )   [ Rn (r )Ym ( ,  )][ Rn ' ' (r )Y 'm ' ( ,  )]r 3 dr cos  sin  d d

  ' Zr
 2Zr   2Zr   ao (1 / n1 / n ') 2 1
M if( z )  N n N n ' '      e L n (r )L n'2''1 (r )r 3 dr
0 o   n' a o 
na

  cos  Ym ( ,  ) Y 'm ' sin  d d

Sesuai dengan sifat-sifat harmonik bola dalam persamaan (5.3.11) dan (5.3.12) maka

 cos  Y m ( ,  ) Y 'm ' sin  d d    Y


 1, m
( ,  )Y 'm ' sin  d d

   Y 1,m ( ,  )Y 'm ' sin  d d    ' 1 m ' m    ' 1 m ' m

Jadi, integral di atas mempunyai harga tidak sama dengan nol jika ℓ’=ℓ1, mℓ‟=mℓ. Selanjutnya
integral

89
  ' Zr
 2Zr   2Zr   ao (1 / n 1 / n ') 2 1
0  nao  
 n' a o
 e

L n  (r )L n'2''1 (r )r 3 dr

mempunyai harga untuk semua n dan n’.

Untuk M if( x )  e  n*m x n ' 'm' dv di mana x=r sin cos = ½ r sin  (ei+e-i),

 sin  cos  Y m ( , ) Y 'm ' ' sin  d d  1  Y


 1,m 1
( , )Y 'm ' sin  d d

  2  Y1,m 1 ( , )Y 'm ' sin  d d  1  Y ( , )Y 'm ' sin  d d


 1,m 1

 2 Y ( , )Y 'm ' sin  d d


 1,m 1

 1  '1 m' m 1   2  '1 m' m 1  1  '1 m' m 1   2  '1 m' m 1

Terlihat bahwa integral mempunyai harga jika ℓ’=ℓ1, mℓ’=mℓ1. Hal yang sama akandiperoleh
untuk M if dengan y=r sin  sin =(-½ i)r sin  (ei-e-i). Oleh sebab itu, secara keseluruhan dapat
( y)

disimpulkan bahwa syarat transisi dapat berlangsung jika:

n  0,1, 2, .......
  1 (6.4.3)
m  0,  1

Contoh 2:
Hitunglah komponen transisi dipole listrik M(z) dari orbital-orbital 2s dan 2p ke orbital 1s.
a) 2s ke 1s
M 2( zs  1s  e   2 s z1s dv;
)

1 1
 2s  ao 3 / 2 (2  r / ao ) e r / 2 ao ; 1s  a o  3 / 2 e  r / ao
4 2 
  2
e 3
 e o (2  r / ao )r dr  cos  sin  d  d  0
3 r / 2 a
M 2( zs 1s 
) 3
ao
4 2 0 0 0

b) 2 p z ke 1s
M 2( zpz) 1s  e   2 pz z1s dv; z  r cos 
1 3 / 2 1  3 / 2  r / ao
 2p  ao (r / ao ) cos  e r / 2 ao ; 1s   100  ao e
z
4 2 
  2
e
 e o r dr  cos  sin  d  d
4 3 r / 2 a
M 2( zpz) 1s  ao 4 2

4 2 0 0 0

e 4 4! 4
 ao  0,745 ea o
4 2
5
(3 / 2ao ) 3

90
c) 2 p x ke 1s
1 r r / 2ao
2 p  ao 3 / 2 e sin  cos 
x
4 2 a0
M 2( zpx) 1s  e   2 px z1s dv; z  r cos  ;
  2
e 4
 e o r dr  cos  sin  d  sin  d  0
3 r / 2 a 4
M 2( zpx) 1s  ao 2
4 2 0 0 0

d ) 2 p y ke 1s
M 2( zpy) 1s  e   2 p y z1s dv; z  r cos 
e 3 / 2
2 p  ao r sin  sin  e r / 2ao ;
y
4 2
  2
e 4
e r dr  cos  sin  d  sin  d  0
3r / 2 ao 4
M 2( zpy) 1s  ao 2
4 2 0 0 0

6.5 Effek Zeeman Normal


Elektron yang bergerak melingkar pada lintasan berjari-jari r dengan laju v akan menimbulkan arus
listrik sebesar ev/(2r); dengan luas lingkaran r2 arus itu akan menginduksikan momen magnet yang
besarnya L= (ev/2r) r2 = evr/2. Dengan momentum sudut elektron L=rmv diperoleh hubungan:
L=(e/2m)L. Dalam bentuk vektor hubungan ini dituliskan seperti:
 
  e  L L
 L      e (6.5.1)
 2m   

Tanda negatif berasal dari tanda muatan elektron, yang menyebabkan arah kedua vektor itu
berlawanan seperti terlihat dalam Gb.6.4. Besaran edisebut magneton Bohr elektron:

e
e  (6.5.2)
2m

besarnya e=9,2732x10-24 joule/tesla.


L

r
e
L

Gb.6.4 Momen magnet terinduksi dan momentum sudut suatu electron yang bergerak melingkar.

91
Jika suatu atom ditempatkan dalam medan magnet B yang didefinisikan pada sumbu-z, maka
elektron atom akan berinteraksi dengan medan itu. Total Hamiltonian elektron adalah:

Hˆ  Hˆ o Hˆ B
      B (6.5.3)
Hˆ B    L. B  e L.B  e Lˆ z
 
Ĥ o adalah Hamiltonian sebelum dipengaruhi medan magnit. Andaikan elektron menempati fungsi
keadaan  nm . Untuk itu persamaan harga eigen adalah:

Hˆ  nm  Hˆ o nm  Hˆ B nm


 B
Hˆ  nm  E n nm  e Lˆ z  nm
 (6.5.4)
 ( E n   e Bm ) nm

Artinya, selama atom berada dalam pengaruh medan magnet, energi interaksi itu merupakan
tambahan/pengurangan terhadap energi En. Karena untuk setiap harga ℓ ada (2ℓ+1) buah harga mℓ,
maka  nm yang tadinya berdegenerasi, pecah menjadi (2ℓ+1) buah pecahan. Dalam Gb. 6.5
diperlihatkan pengaruh medan magnet terhadap 1s, 2s dan 2p. Fungsi-fungsi 100, 200 dan 210
tetap saja, tidak mengalami pergeseran karena harga ℓ dan mℓ bersangkutan sama dengan nol. Terlihat
dalam Gb.6.5, hanya ada satu garis transisi 2p1s jika tidak dalam pengaruh medan magnit; tetapi
dalam pengaruh medan magnet muncul tiga garis transisi. Pergeseran tingkat energi karena pengaruh
medan magnet statik disebut effek Zeeman normal.

200,210, 211, 21-1 211


E2 210, 200
21-1

100
E1 100
B=0 B0

Gb.6.5 Pemecahan tingkat energi dalam pengaruh medan magnet dan transisi
yang dapat terjadi.

92
Soal-soal
6.1 Buktikanlah
2 2  1 2 ctg   1 2
2     
r 2 r r r 2  2 r 2  r 2 sin 2   2

6.2 Dengan menggunakan persamaan (6.2.5) turunkanlah persamaan (6.2.7).

6.3 Dengan menggunakan persamaan (6.2.7) dan (6.2.10) turunkanlah persamaan (6.2.13).

6.4 Hitunglah harga rata-rata potensial yang dialami elektron dalam atom hidrogen pada: (i) keadaan
dasar 1s, (ii) keadaan 2pz, dan (iii) keadaan 3s.

6.5 Hitunglah harga rata-rata rav yang dialami elektron dalam atom hidrogen pada orbital-orbital: (i)
1s, (ii) 2s, (iii) 2pz, dan (iv) 3s.

6.6 Buktikanlah bahwa harga rata-rata rav pada keadaan  nm adalah:

rav  ao 32 n 2  12 (  1) 
2
6.7 Dengan rumusan peluang P(r )  4r nm , tentukanlah jarak r di mana peluang mencapai
2

maksimum untuk orbital-orbital: (i) 1s, (ii) 2s, (iii) 2pz, dan (iv) 3s.

6.8 Hitunglah koreksi relativitas terhadap tingkat-tingkat energi E1, E2 dan E3 dari atom hidrogen.

6.9 Nilai e/me bias ditentukan secara eksperimen melalui pengamatan efek Zeeman. Tentukanlah nilai
tersebut jika separasi antara dua garis dalam medan 0.45 T adalah 6,29xGHz.

6.10 Tentukanlah frekuensi RF yang bias menginduksikan transisi spin elektron dari orientasi paralel
menjadi antiparalel atau sebaliknya di dalam medan magnet 0,1 T.

6.11 Hitunglah komponen momen transisi dipole listrik M(z) untuk transisi: (i) dari orbital 3s ke
orbital 1s, (ii) 3s ke 2pz, dan (iii) 3s ke 2px.

6.12 Hitunglah komponen-komponen momen transisi dipole listrik M(x) dan M(y) dari orbital 2p ke
orbital 1s.

93
BAB 7
SPIN ELEKTRON

Pengamatan yang lebih teliti terhadap beberapa garis spektra menunjukkan bahwa garis-garis itu
sebenarnya tidak tunggal tetapi doblet. Contohnya, garis doblet dari natrium D pada 589,0 nm dan
589,6 nm. Sehubungan dengan kenyataan itu ada sesuatu yang belum masuk dalam pembahasan
terdahulu. Karena kecilnya pecahan doblet itu, G.E.Uhlenbeck dan S.Goudsmit (1926) menyatakan
bahwa elektron sendiri memiliki momentum sudut intrinsik. Momentum itu disebut momentum sudut
spin yang berkaitan dengan suatu momen magnetik spin. Di fihak lain, dalam studi teori Kuantum
Relativistik, Dirac mengemukakan keharusan adanya spin elektron bebas selain momentum sudut
orbital.

7.1 Momentum Sudut Spin Elektron


Komponen momen magnetik spin sepanjang arah medan magnet statik hanya bisa mengambil dua
harga yang mungkin.Jika dikaitkan dengan bilangan kuantum spin, maka bilangan itu haruslah s=½
sehingga bilangan kuantum magnetik spin adalah ms=+½, -½. Oleh sebab itu, diperkenalkan operator
momentum sudut spin elektron Ŝ z , Ŝ 2 , Sˆ  , Sˆ  dan fungsi spin  jika momen magnetiknya searah
medan, dan  jika momen magnetiknya berlawanan arah medan.Kedua fungsi itu orthogonal satu
sama lain dan sudah ternormalisasi:
      1,       0 . (7.1.1)

Sifat-sifat operasi operator-operator spin adalah sebagai berikut.

Sˆ z   12   ;
(7.1.2)
Sˆ z    12   ;

Sˆ    0; Sˆ     
(7.1.3)
Sˆ      ; Sˆ    0.


 

Sˆ 2   3 2  (7.1.4)
 
4
 

Hubungan antara operator-operator momentum sudut spin adalah sebagai berikut:

Sˆ , Sˆ   iSˆ
i j k ; i, j, k  x, y, z (7.1.5)

Sˆ , Sˆ   0; Sˆ , Sˆ   0
2
j
2
 (7.1.6)

Sˆ , Sˆ   Sˆ
z   (7.1.7)

94
Sˆ , Sˆ   2Sˆ
 _ z (7.1.8)


Kehadiran momentum sudut spin S memaksa kita harus melakukan penjumlahan dengan

momentum sudut L :
  
J  LS . (7.1.9)

J disebut momentum sudut total. Bilangan kuantum bagi sudut total adalah

j s (7.1.10)

sehingga harga-harga yang mungkin bagi bilangan kuantum j itu adalah

j  12 , 32 , 52 ............ (7.1.11)

dengan bilangan kuantum magnetiknya:

m j   j,  ( j  1),............. (7.1.12)

Momen magnet spin tak dapat diturunkan sebagaimana momen magnet orbital; sebagai
analogi (lihat persamaan (6.5.1)) dapat dituliskan

 e 
S   gsS (7.7)(7.1.13)

di mana gs disebut faktor-g dari Lande yang besarnya 2,0024 untuk elektron bebas. Dengan itu maka
momen magnet total adalah
   e  
 J  L   S   (L  g s S ) . (7.1.14)

Dengan pembulatan gs=2, maka

 e     
J   ( L  2S )   e ( J  S ) (7.1.15)
2m 
 
Jelas bahwa  J dan J berlawanan arah tapi tidak tepat pada satu garis seperti terlihat dalam Gb 7.1

 S
L

J
~ J

 L
J

S
 ~
Gb.7.1 Momen magnet total  J dan  J

95
  
Untuk memperoleh yang segaris, maka diambil   J  sebagai proyeksi  J pada J sehingga

     
 J . J  J  e ( J  S ). J  e 
 J  
~  
 2
J   g J J (7.1.16)
 J J  J 
dengan
  
( J  S ). J j ( j  1)  s( s  1)  (  1)
gJ   1 . (7.1.17)
J 2
2 j ( j  1)

Interaksi momen magnet total rata-rata dengan medan magnet adalah:

 
Hˆ B  ~J . B  e g J BJˆ z (7.1.18)

Karena Jˆ z  Lˆ z  Sˆ z , maka fungsi-fungsi eigen dari operator Ĵ z adalah

Ym sms  Ym  sms


sehingga
Jˆ z Ym sms  m j Ym sms (7.1.19)
dengan
m j  m  ms (7.1.20)

Selanjutnya, fungsi  nm harus dilengkapi dengan bilangan kuantum spin menjadi  nm sms .
Tinjaulah suatu atom hidrogen ditempatkan dalam medan magnet. Maka Hamiltonian
lengkap dari elektron adalah 𝐻 = 𝐻0 + 𝐻𝐵 . Persamaan eigennya dengan fungsi  nm sms adalah

Hˆ  nm sms  Hˆ o nm sms  Hˆ B nm sms


e B
 E n nm sms  g J Jˆ z  nm sms (7.1.21)

 ( E n   e g J B m j ) nm sms

Jelaslah energi interaksi  e g J Bm j merupakan tambahan atau pengurangan terhadap energi En. Inilah
yang disebut effek Zeeman anomali.
Karena mj=ml+ms, maka setiap harga ml akan pecah dua sesuai dengan dua harga dari
ms=½. Dengan demikian maka interaksi spin dengan medan magnet akan memecah dua setiap
tingkat energi. Oleh sebab itu Gb.6.5 harus disempurnakan seperti Gb 7.7.
Syarat transisi pada persamaan (6.4.3) harus dilengkapi dengan

ms  1 . (7.1.22)
Beda energi antara keadaan,  dan  , adalah E=  e g J B . Untuk keadaan dasar di
nm 1 1 nm 1  1
22 2 2

mana n=1, beda energi itu E=  e g S B .

96
211½½
210½½200½½
200,210, 211, 21-1 211½-½
E2 210½-½200½-½
21-1½½
21-1½-½

100 100½½
E1 100½-½
B=0 B0
Gb.7.7 Pemecahan tingkat energi dalam pengaruh medan magnet, transisi yang dapat terjadi dengan
memperhitungkan spin elektron.

7.2 Interaksi Spin-Orbital


Momen magnet yang terinduksi oleh gerak orbital elektron dan momen magnet yang terinduksi oleh
momentum sudut intrinsik (spin) elektron yang sama, berinteraksi dengan Hamiltonian

Hˆ SL  a S . Lˆ (7.2.1)
di mana
E n Z 2 2
a (7.2.2)
 2 n(  1)(  12 )
    
Karena J  L  S maka J  L  S  2S . L . Persamaaan (7.2.1) selanjutnya dapat dituliskan
2 2 2

seperti
Hˆ SL  12 a ( Jˆ 2  Lˆ2  Sˆ 2 ) (7.2.3)
Dengan fungsi keadaan  nm sms , interaksi itu memberikan tambahan energi terhadap elektron sebesar
ESL  12 a 2 [ j ( j  1)  (  1)  s(s  1)] (7.2.4)
  
Karena J  L  S , maka j=ℓs sehingga ada dua harga ESL:
()
ESL  12 a 2 ,
(7.2.5)
( )
ESL   12 a (  1) 2 .
Untuk n=3 dan n=2, pemecahan tingkat energi karena interaksi spin-orbit diperlihatkan dalam Gb.7.2.
Pemecahan seperti ini disebut pergeseran Lamb.
E3+aħ2 ℓ=2, j=5/2
E3+½aħ2 ℓ=1, j=3/2
E3
E3 ℓ=0, j=1/2

E3-aħ2 ℓ=1, j=1/2

E3- ℓ=2, j=3/2


3/2aħ2
E2+½aħ2 ℓ=1, j=3/2
E2
E2 ℓ=0, j=1/2
2
E3-aħ ℓ=1 j=1/2
Gb.7.2 Pecahan tingkat energi karena interaksi spin-orbit.

97
7.3 Matriks-matriks Spin Pauli
Fungsi gelombang untuk elektron tunggal bisa dinyatakan sebagai fungsi dengan empat variable.
Ketiga variable ruang x, y dan z adalah kontinu tetapi variable spin hanya bisa mengambil harga
diskrit 1. Jadi

 ( x, y, z, z )    ( x, y, z)  ( z )   ( x, y, z)  ( z ) (7.3.1)

di mana  ( z ) dan  ( z ) adalah fungsi-fungsi seperti

 (1)  1;  (1)  0
(7.3.2)
 (1)  0;  (1)  1

  ( x, y, z ) adalah komponen fungsi gelombang dengan koordinat spin  z  1 dan


  ( x, y, z ) adalah komponen fungsi gelombang dengan koordinat spin  z  1. Jika elektron
berada pada keadaan yang didefenisikan oleh  z  1 maka  ( x, y, z,  z )    ( x, y, z) .
Secara umum    d adalah peluang untuk menemukan keadaan  z  1 . Harga-harga
2

 z berkaitan dengan harga eigen dari operator ŝ z .


Momentum spin tidak mempunyai operator diferensial. Tetapi suatu penulisan dalam bentuk
matriks bisa dilakukan. Jika fungsi-fungsi eigen spin dinyatakan sebagai basis maka sembarang
fungsi gelombang  ( x, y, z, z ) bisa dituliskan dalam vektor kolom

  ( x, y, z ) 
 
  ( x, y, z ) 

Normaisasi fungsi gelombang  ( x, y, z, z ) adalah

   ( x, y , z ,  ) d      2 ( z )d      2 ( z )d
2 2 2
z
 z z z

           ( z )  ( z )d  1
z

di mana penjumlahan dilakukan terhadap  z  1. Dari persamaan (7.51b) maka



 ( z )  ( z )  0
z



 2
( z )    2 ( z )  1
z

  
z

( x, y, x)    ( x, y, z ) d  1
2 2

(7.3.3)

  ( x, y, x) d  1 adalah peluang menemukan komponen-z dari spin sama dengan


2
di mana 

dan   ( x, y, x) d  1 adalah peluang menemukan komponen-z dari spin sama dengan


2
/2, 

/2.

98
Vektor-vektor kolom yang merepresentasikan  ( z ) dan  ( z ) masing-masing adalah

1   0
ˆ   ;     (7.3.4)
 0 1 
Di lain fihak, matriks-matriks yang merepresentasikan operator-operator spin ŝ x , ŝ y dan ŝ z agar
memenuhi sifat komutasi adalah

0 1  0  i  1 0 
sˆ x  12  , sˆ y  12  ; sˆ z  12   (7.3.5)
1 0  1i 0   0  1

Matriks operator spin di atas dapat dituliskan sebagai

sˆx  12 ˆ x ; sˆ y  12 ˆ y ; sˆ z  12 ˆ z (7.3.6)


dengan
0 1  0  i 1 0 
ˆ x   , ˆ y   ; ˆ z    (7.3.7)
1 0  i 0  0  1

Operator-operator inilah yang disebut matriks-matriks spin Pauli. Sifat komutasi dalam persamaan
(7.1.5-8) tetap dipenuhi.

7.4 Persamaan Klein-Gordon dan Dirac


Persamaan Schrödinger untuk partikel bebas didasarkan pada hubungan E=p2/2m. Dalam
teori relativitas khusus energi diungkapkan seperti

E 2  m02 c 4  p 2 c 2 (7.4.1)

Dalam bentuk Hamiltonian, ini dapat dituliskan seperti

 
Hˆ 2  pˆ x2  pˆ y2  pˆ z2 c 2  m02 c 4
(7.4.2)
 c 2  2  2  m02 c 4

Inilah yang disebut Hamiltonian relativistik. Karena Hˆ  i / t maka harus dipenuhi

2  
2
ˆ
H   
2
(7.4.3)
t 2

Substitusi persamaan (7.4.2) ke (7.4.3)memberikan

 c  
2 2 2

 m02 c 4    2  2 / t 2
atau

99
 2 1 2  m2c 2
   2 2   0 2  (7.4.4)
 c t  

Persamaan ini pertama kali dikemukakan oleh Schrödinger (1926) sebelum dia menemukan
persamaan Schrödinger yang non-relativistik, tetapi karena tidak sesuai dengan spektrum atom
hidrogen persamaan di atas tidak mendapat perhatian. Kemudian Klein dan Gordon mendalami
persamaan itu, dan selanjutnya disebut persamaan Klein-Gordon.
Berdasarkan persamaan (7.4.2), Dirac mengusulkan operator Hamiltonian

Hˆ  c x pˆ x   y pˆ y   z pˆ z   mc (7.4.5)

di mana i dan tidak bergantung pada posisi, momentum dan waktu. Kuadrat
dari Hamiltonian ini adalah

Paul A. M. Dirac
 
c 2  x pˆ x   y pˆ y   z pˆ z   mc  pˆ x2  pˆ y2  pˆ z2 c 2  m02 c 2
2

(1902-1984)
Nobel Fisika 1933 yang harus sama dengan persamaan (7.4.2). Dari persamaan ini diperoleh
 2   x2   y2   z2  1 (7.4.6)

dan berlaku antikomutasi

 i j   j  i  0
(7.4.7)
 i    i  0 i, j  x, y, z

Karena tidak komut, maka semua i dan bukan besaran sederhana. Besaran-besaran itu haruslah
operator dan bisa dituliskan dalam bentuk matriks ̂ i (i=x,y,z) dan ˆ . Jadi
Hamiltonian (7.4.5) bisa ditulis seperti

Hˆ  icˆ .  ˆ m0 c 2 (7.4.8)

Persamaan Schrödinger bergantung waktu: Hˆ   i / t , dapat dituliskan sebagai berikut

 icˆ .  ˆ m c  iIˆ t


0
(7.4.9)

Inilah persamaan Dirac untuk partikel bebas. Karena Hamiltonian harus hermitian, maka ̂ dan ˆ
harus juga hermitian. Matriks hermitian yang dapat memenuhi persamaan (7.4.9) hanya bisa
diperoleh paling tidak berukuran 4x4. Salah satu pilihan untuk mendiagonalisasikan ˆ adalah

100
1 0 0 0
 
0 1 0 0   Iˆ 0 
̂     (7.4.10)
0 0  1 0   0  Iˆ 
 
0 0 0  1

dan selanjutnya
0 0 0 1
 
0 0 1 0   0 ˆ x 
ˆ x     (7.4.11)
0 1 0 0   ˆ x 0 
 
1 0 0 0 

0 0 0  i
 
0 0 i 0   0 ˆ y 
ˆ y     (7.4.12)
0 i 0 0   ˆ y 0 
 
i 0 0 0 

0 0 1 0 
 
 0 0 0  1   0 ˆ z 
ˆ z     (7.4.13)
1 0 0 0   ˆ z 0 
 
0 1 0 0
 

Dalam persamaan (7.4.11), ˆ x , ˆ y , ˆ z adalah matriks-matriks spin Pauli dalam persamaan (7.3.7).
Pemilihan matriks-matriks seperti dalam persamaan (7.4.11-13) diungkapkan dalam ruang ini dengan
matriks kolom

 1 ( r , t ) 
  
   2 (r , t ) 
 (r , t )     (7.4.15)
 (r , t )
 3  
  (r , t ) 
 4 

Fungsi  i (r , t ) adalah komponen dari fungsi gelombang di dalam „ruang spinor‟ dan persamaan

Dirac (7.4.10) ekivalen untuk ke-empat  i (r , t ) . Setiap komponen secara terpisah memenuhi
persamaan Klein-Gordon (7.4.4).

7.5 Solusi Gelombang Bidang


Persamaan Dirac (7.4.9) mempunyai solusi gelombang datar

  
 j (r , t )  a j e i ( k .r  Et /  ) ; j  1,...,4 (7.5.1)

101

dengan aj adalah kostanta, dan k .r  k x x  k y y  k z z . Substitusi ke persamaan Dirac (7.4.9) dan
menggunakan persamaan (7.4.10) dan (7.4.11) akan menghasilkan

 1   1 
   

  0 ˆ x    0 ˆ y    0 ˆ z     Iˆ 0  
 2  E  2 
 ic            m0 c      
2
  

  ˆ x 0  x  ˆ y 0  y  ˆ z 0  x   0 Iˆ   
 3 
 3
 
   
 4  4



 m0 c 2  E  0 ck z c k x  ik y  a 
 1
 


0 
2

m0 c  E c k x  ik y   ck z  a 2 
 0
 ck z c k x  ik y   m0 c 2  E    a3 
(7.5.2)
0
  
 c k  ik   ck
 x y z 0 
 m0 c  E  a 4 
2

Untuk solusi non-trivial, determinan koefisien-koefisien harus nol,

E 2  m02 c 4  c 2  2 k 2  0 (7.5.3)

Jadi ada dua harga energi,


E    m02 c 4  c 2  2 k 2
(7.5.4)
E    m02 c 4  c 2  2 k 2

Untuk E+ diperoleh dua solusi bebas linier, yakni

ck z ck x  ik y 
a1  1, a 2  0; a3  ; a4 
m0 c 2  E  m0 c 2  E 
ck x  ik y 
(7.5.5)
 ck z
a1  0; a 2  1; a3  ; a4 
m0 c  E 
2
m0 c 2  E 

Untuk E- diperoleh dua solusi bebas linier, yakni

 ck z  ck x  ik y 
a1  a2  ; a3  1; a4  0
m0 c 2  E  m0 c 2  E 
 ck x  ik y 
(7.5.6)
ck z
a1  ; a2  ; a3  0; a 4  1
m0 c 2  E  m0 c 2  E 

Dalam batas non-relativistik E+=m0c2 dan E-=-m0c2 membentuk gap energi. Tetapi energi
negatip bisa dilupakan karena secara klassik energi partikel hanya bisa berubah secara

102
kontinu. Tidak demikian halnya dalam kuantum; energi partikel bisa berubah secara tidak
kontinu.

Dalam keadaan stasioner, kebergantungan waktu dari  (r , t ) bisa dipisahkan dari bagian
ruangnya dengan menuliskan
 
 (r , t )   (r ) e iEt /  (7.5.7)

di mana  (r ) tetap sebagai matriks kolom 4-komponen.

7.6 Teori Spin Dirac


Momentum sudut suatu partikel bebas diharapkan kekal. Tetapi dapat ditunjukkan bahwa momentum
sudut bukan konstanta gerak. Dalam ungkapan matriks operator dari komponen-z
dari omentum sudut adalah
  
Lˆ z  i x  y  Iˆ (7.6.1)
 y x 

di mana Iˆ adalah unit matriks 4x4. Persamaan (7.4.9) adalah Hamltonian Dirac untuk patikel bebas.
Komutator antara Ĥ dan L̂ z adalah

Hˆ , Lˆ    icˆ    ˆm c ,  i x y  y x Iˆ


z 0
2

   
   
  2 c ˆ x  ˆ y  (7.6.2)
 y x 

  2 c   z

ˆ bisa hilang dari hasil komutasi karena ˆ adalah matriks diagonal seperti diperlihatkan dalam
 
persamaan (7.4.10). Karena Hˆ , Lˆ z  0 maka L̂ z bukan konstanta gerak. Dalam tinjauan non-
 
relativistik ˆ  0 sehingga Hˆ , Lˆ z  0 . Bentuk umum dari persamaan (7.6.2) adalah

Hˆ , Lˆ    c  
2
(7.6.3)

Selanjutnya defenisikan
 ˆ 0 
ˆ z'   z  (7.6.4)
 0 ˆ z 

Komutator
Hˆ , 1
2
 
ˆ z'   2 c  z (7.6.5)

Demikian pula, dengan mendefenisikan

103
 ˆ 0   ˆ y 0 
ˆ x'   x , ˆ y'   
 (7.6.6)
 0 ˆ x   0 ˆ y 
akan diperoleh komonen-x dan –y

Hˆ , 1
2
 
ˆ i'   2 c  i ; i  x, y (7.6.7)
Jadi secara lengkap dipenuhi
Hˆ , 1
2
 
ˆ '   2 c   (7.6.8)

di mana ˆ ' mempunyai komponen ˆ x , ˆ y , ˆ z .


' ' '

Sekarang, dengan menggabungkan persamaan (7.6.3) dan (7.6.8) diperoleh

Hˆ , Lˆ  1
2
   
ˆ '  Hˆ , Lˆ'  Hˆ , 12 ˆ '  0  (7.6.9)

Karena komut dengan Hamiltonian maka momentum sudut total Lˆ  12 ˆ adalah suatu konstanta
'

gerak dari partikel bebas.


Jika dianalogikan dengan teori spin Pauli, maka dapat didefenisikan operator spin

Sˆ '  12 ˆ ' (7.6.10)


sehingga momentum sudut total
Jˆ  Lˆ  Sˆ ' (7.6.11)

Hasil teori Dirac ini sesuai dengan persamaan (7.1.9) yang berbasis eksperimen.
Operator-operator ˆ x , ˆ y , ˆ z mempunyai harga-harga eigen 1 yang berkaitan dengan
' ' '

harga-harga eigen   / 2 dari operator spin Sˆ x' , Sˆ y' , Sˆ z' . Persamaan Dirac menggambarkan spin dalam
arah tertentu hanya bisa mengambil harga   / 2 ; elektron memiliki spin ½.
Tinjaulah kembali gelombang datar yang telah dikemukakan dalam paragraf 7.5. Dalam batas
non-relativistik, untuk E+ dekati a3 dan a4 sama dengan nol dalam persamaan (7.5.5). Maka diperoleh
dua solusi dalam bentuk vektor

1  0
   
0 1 
 0  dan  0 
   
0 0
   
Kedua solusi ini bersama-sama merupakan vektor eigen dari operator spin Sˆ z dengan harga eigen
'

  / 2 dan   / 2 . Ini bukan vektor eigen dari Sˆ x' dan Sˆ y' karena keduanya tidak komut dengan Sˆ z' .
Dengan cara yang sama pula, untuk E-dekatia1dan a2 sama dengan nol, akan diperoleh dua buah
vektor

104
0 0
   
0 0
1  dan  0 
   
0 1 
   
yang serentak merupakan vektor eigen dari operator spin Sˆ z dengan harga eigen   / 2 dan   / 2 .
'

7.7 Partikel Dirac dalam Medan EM


Rumusan Hamiltonian relativistik untuk partikel bebas adalah persamaan (7.4.2). Jika partikel
dikenakan medan EM, maka operator Ĥ harus ditambah potensial scalar dari medan listrik dan
momentum p̂ harus ditambah potensial vektor dari medan magnet,

Hˆ  e   pˆ
2
x  eAx    pˆ
2
y  eAy    pˆ
2
z  eAz  c
2 2
 m02 c 4 (7.7.1)

Dengan mengganti Hˆ  i / t dan pˆ   i /  ;   x, y, z maka

 
2

 i  e   
 t 
(7.7.2)
    
2 2
   
2 
c  i  eAx    i  eA y    i  eAz   m02 c 2 
2

 x   y   z  

Ini adalah persamaan Klein-Gordon untuk partikel bermuatan –e di dalam medan EM.
Persamaan Dirac (7.4.9) adalah untuk partikel bebas. Untuk partikel bermuatan –e dalam
medan EM adalah

 ˆ 
 

iI  eIˆ  cˆ .  i  eA  ˆ m c 2   0
 t
0  (7.7.3)

Untuk menemukan keadaan stasioner dari persamaan Dirac, misalkan


 
 (r , t )   (r ) e iEt / 
maka

IˆE  eIˆ  cˆ . i  eA  ˆ m c   0 0


2
(7.7.4)

Telah dikemukakan di atas bahwa dalam pendekatan non-relativistik, fungsi gelombang Dirac yang 4-
komponen itu bisa dibagi menjadi komponen besar dan kecil. Dengan pendekatan itu, misalkan
  l 
 (r )   
 s 
dengan  l dan  s masing-masing vektor kolom dua-dimensi. Substitusi ke persamaan (7.7.4):

105
  
Iˆ E  e  m0 c 2  l  cˆ .  i  eA  s  0 
  


(7.7.5)
Iˆ E  e  m0 c 2  s  cˆ .  i  eA  l  0

Misalkan solusi untuk energi positif dengan E  m0 c  E di mana E’ diperoleh melalui eliminasi
2 '

 s dari persamaan (7.7.5), yakni melalui


c
 
 2 ˆ .  i  eA
 2
 e

I

ˆ
 l  E ' Iˆ l (7.7.6)


2 m 0 c 2
 E ' e 

Dalam pendekatan non-relativistik energi kinetik kecil dan jika medannya lemah maka E’<<m0c2 dan
e<< m0c2 maka
1 1  E 'e 
 1   .......... 
2mo c  E 'e 2mo c 2
2  2m c 2 
 o 

sehingga persamaan (7.7.6) menjadi


 1
   
ˆ .  i  eA 
2 
 eIˆ l  E ' Iˆ l (7.7.7)
 2 m0 

Ini adalah persamaan dua-komponen dan memberikan solusi bagi  l .


Dalam pendekatan non-relativistik ini, besarnya momentum adalah m0v di mana v adalah
kecepatan elektron; persamaan kedua dari persamaan (7.7.5) menjadi

v
s  l
2c

Penguraian suku pertama dari fihak kiri dalam persamaan (7.7.7) adalah

.  i  eA 


2

2

 


 Iˆ  i  eA  i .  i  eA   i  eA   
 2
  
 Iˆ  i  eA  e .   A (7.7.8)

 
2  
 Iˆ  i  eA  e . B
 
di mana medan magnet B    A . Jadi, persamaan (7.7.7) menjadi

 1 ˆ
 
ˆ  e . B    E ' I
2 
 I  i  eA  eI  l l (7.7.9)
 2m0 2m0 

Inilah persamaan yang disarankan oleh Pauli untuk elektron.Suku ketiga di fihak kiri persamaan
(7.7.9) memperlihatkan adanya momen magnetik elektron

106
 e 
e    (7.7.10)
2m 0

7.8 Positron
Solusi energi positif dari persamaan Dirac (7.7.3) berkorespondensi dengan suatu partikel bermuatan
(elektron) biasa. Keadaan berenergi negatif hanya teramati jika keadaan itu kosong. Suatu keadaan
berenergi negatif berkaitan dengan suatu partikel dengan muatan negatif dan massa negatif.
Akibatnya, keadaan berenergi negatif muncul sebagai suatu partikel dengan muatan positif dan massa
positif. Partikel „anti partikel‟ ini muncul sebagai suatu lubang di dalam „lautan‟ keadaan-keadaan
berenergi negatif yang terisi. Energi anti-partikel adalah positif karena ia dikaitkan dengan energi
yang diperlukan untuk menarik partikel bermuatan negatif keluar dari keadaan berenergi negatif.
Untuk menghubungkan elektron dan anti-partikelnya, digunakan persamaan Dirac pada
elektron bermuatan –e dan massa mo dalam medan EM,

 ˆ 
 

iI  eIˆ  cˆ .  i  eA  ˆ m c 2   0
 t
0  (7.8.1)

Untuk itu perlu memilih representasi di mana matriks-matriks ̂ semuanya ril dan ˆ imajiner. Suatu
pilihan yang memenuhi persyaratan dalam persamaan (7.4.6-7) adalah ̂ x dan ̂ z sama dengan
(7.4.11-13) dan pertukarkan ̂ y dan ˆ . Jadi

1 0 0 0
 
0 1 0 0   Iˆ 0 
y    
0 0  1 0   0  Iˆ 
 
0 0 0  1

0 0 0 1
 
0 0 1 0   0 ˆ x 
ˆ x    
0 1 0 0   ˆ x 0 
 
1 0 0 0 

0 0 0  i
 
0 0 i 0   0 ˆ y 
ˆ    
0 i 0 0   ˆ y 0 
 
i 0 0 0 

0 0 1 0 
 
 0 0 0  1   0 ˆ z 
ˆ z    
1 0 0 0   ˆ z 0 
 
0 1 0 0
 

107
Dengan pemilihan itu, ambillah kompleks konjugat dari persamaa (7.8.1) yakni


 
  
- iIˆ  (e)Iˆ  cˆ .  i  (e) A  ˆ m0 c 2  *  0 (7.8.2)
 t 

Jika di dalam persamaan (7.8.1)  menggambarkan suatu elektron dengan muatan –e, maka *
menggambarkan partikel dengan massa yang sama tetapi dengan muatan +e.
Untuk keadaan stasioner, persamaan Dirac untuk elektron dengan energi E adalah

IˆE  eIˆ  cˆ . i  eA  ˆ m c   0


0
2
(7.8.3)

yang kompleks konjugatnya

  
 
 Iˆ( E )  (e)Iˆ  cˆ .  i  (e) A  ˆ m0 c 2   0 (7.8.4)

Jika dalam persamaan (7.54)  menggambarkan suatu elektron dengan energi E< 0 dan *
menggambarkan suatu muatan positif dengan energi E>0. Elektron dan anti-partikelnya muncul
simetris dalam teori. Pasangan persamaan (7.8.3) dan (7.8.4) harus dipandang bersama-sama dan
solusi-solusi energi negatif dari yang satu berkorespondensi dengan solusi-solusi energi positif dari
yang lain. Dari pembahasan ini terlihat bahwa elektron dan anti-patikelnya mempunyai massa dan
spin yang sama, hanya berbeda pada tanda muatannya.Anti-patikel elektron (positron) ditemukan
secara eksperimen oleh C.D. Andersonpada 1932.
Telah teramati bahwa positron selalu muncul sebagai suatu pasangan bersama dengan
elektron dan energi sebesar 2m0c2 diserap dalam penciptaan pasangan. Hal ini hanya bisa dijelaskan
jika dalam pembentukan pasangan sebuah elektron mesti dieksitasikan dari keadaan berenergi negatif
melalui gap energi sebesar 2m0c2 . Kekosongan „lubang‟ menyatakan dirinya sebagai positron, dan
elektron di keadaan berenergi positif berkelakuan sebagai elektron biasa. Proses sebaliknya
berlangsung ketika satu elektron jatuh ke dalam suatu keadaan berenergi negatif yang tak ditempati.
Ini berlangsung jika anihilasi elektron-positron, dan saat itu energi dilepaskan sebaga foton. .

108
Soal-soal
7.1 Buktikanlah bahwa matriks dalampersamaan (7.3.5) memenuhi hubungan komutasi dalam
persamaan (7.1.2). Tunjukkan bahwa matriks-matriks ŝ x dan ŝ y mempunyai nilaieigen   / 2 .
Selanjutnya tunjukkanlah bahwa matriks ŝ 2 adalah

2 3 0
  .
4  0 3 

7.2 Defenisikan operator-operator sebagai berikut: ˆ  2sˆ x / i, ˆ  2sˆ y / i, dan ˆ  2sˆ z / i .

Dengan persamaan (7.3.5) tunjukkan bahwa ˆ 2  ˆ 2  ˆ 2  1 ; dan selanjutnya


ˆˆ  ˆˆ  ˆ , ˆˆ  ˆˆ  ˆ dan ˆˆ  ˆˆ  ˆ .

7.3 Tinjaulah matriks spin Pauli dalam persamaan ((7.3.7)). Buktikanlah ˆ x  ˆ y  ˆ z  1 ; dan
2 2 2

komutator ˆ xˆ y  ˆ yˆ x  2iˆ z . Lakukan pula untuk komutator lainnya. Bandingkan hasil ini
dengan hasil soal nomor 2.

7.4 Tunjukkan bahwa matriks-matriks Dirac ˆ x , ˆ y , ˆ z dan ˆ adalah hermitian dan uniter.
Tunjukkan bahwa ke-empat matriks mempunyai harga eigen  1 .

7.5 Tegaskanlah bahwa oprator total momentum sudut dalam persamaan (7.50) komut dengan
Hamiltonian untuk suatu partukel Dirac dalam suatu medan sentral.
 
7.6 Jika A dan B adalah vektor-vektor operator matriks yang komut dengan matriks-matriks spin
. A(. Bˆ )  A.B  i.( A  B) .
  
Pauli, tunjukkanlah

109
BAB 8
GANGGUAN BEBAS-WAKTU

Dalam bab-bab yang lalu telah dikemukakan beberapa bentuk potensial di mana persamaan
Schrödinger dapat diselesaikan secara eksak, dan oleh sebab itu fungsi-fungsi eigen dan tingkat-
tingkat energi bersangkutan dapat ditentukan. Dalam banyak masalah meskipun Hamiltonian sistem
sudah diketahui, persamaan itu tidak bisa diselesaikan, misalnya karena adanya gangguan medan luar
atau karena adanya interaksi elektron-elektron. Untuk menangani masalah seperti itu terpaksa harus
menggunakan teori gangguan.
Dalam bab ini akan dibahas dua macam gangguan, (i) gangguan tak bergantung waktu, dan
(ii) gangguan bergantung waktu. Gangguan tak bergantung waktu terdiri atas gangguan untuk sistem
tak berdegenerasi dan gangguan untuk sistem berdegenerasi. Gangguan yang bergantung waktu
menyebabkan elektron dapat bertransisi antara dua keadaan.
Selain itu akan dibahas pula metoda variasi. Metoda ini dipakai untuk menentukan fungsi
gelombang suatu sistem. Untuk itu diperlukan fungsi coba-coba yang memiliki parameter tertentu
sehingga mendekati fungsi sebenarnya. Dengan fungsi itu energi rata-rata sistem ditentukan dengan
cara variasi terhadap parameter di dalam fungsi tersebut.

8.1 Gangguan pada Sistem Tak Berdegenerasi


Andaikan pada awalnya sistem memiliki Hamiltonian Ĥ ( 0) dengan fungsi-fungsi eigen ortonormal
  yang telah diketahui:
( 0)
n

Hˆ ( 0)n( 0)  En( 0)n( 0)


(8.1.1)
  dv   nm
( 0 )* ( 0 )
n m

Karena sesuatu sebab, andaikan Hamiltonian sistem mendapat tambahan, misalnya Ĝ yang
merupakan gangguan terhadap sistem. Dalam aproksimasi ini harus dipenuhi Ĝ << Ĥ ( 0) . Total
Hamiltonian adalah:
Hˆ  Hˆ (0)   Gˆ ; (8.1.2)

di mana γ disebut parameter ekspansi yang berguna untuk menetapkan order gangguan.
Misalkanlah  n  adalah fungsi-fungsi eigen dari Hamiltonian total Ĥ , sehingga

Hˆ n  ( Hˆ (0)   Gˆ )n  Enn (8.1.3)

Karena cukup kecil, maka gangguan Ĝ hanya akan menimbulkan perubahan kecil baik pada
 n( 0) maupun pada E n(0) . Untuk memperoleh koreksi, dilakukan ekspansi sebagai berikut:

n  n( 0)    mn( m )
m 1
(8.1.4)
En  E ( 0)
n    m n( m )
m 1

110
di mana superskript m menyatakan order koreksi atau tingkat ketelitian baik terhadap fungsi  n( 0)
maupun energi E n . Setiap (m)dan setiap(m) tidak bergantung pada , dan setiap (m) dipilih
(0)

orthogonal terhadap  n( 0) . Jika dipilih =0, persamaan ini identik dengan persamaan (8.1.1) di mana
 n =  n( 0) dan En= E n( 0) ; ini disebut aproksimasi order-0. Agar lebih teliti, kita harus meningkatkan
koreksi dengan order lebih tinggi misalnya order-1; untuk itu kita harus mempertahankan dua suku
pertama dari persamaan (8.1.4) dan kalau lebih tinggi lagi misalnya hingga order-2, kita harus
mempertahankan tiga suku pertama dari persamaan (8.1.4).
Substitusi persamaan (8.1.4) ke persamaan (8.1.3) akan menghasilkan:

H ( 0) [n( 0)    mn( m ) ]   Gˆ [n( 0)    mn( m ) ]


m 1 m 1
(8.1.5)
 [E ( 0)
n    m ( m)
n ][n( 0)    mn( m ) ]
m 1 m 1

Dengan mempersamakan koefisien-koefisien dalam persamaan (8.1.5) diperoleh persamaan berikut:

[ Hˆ (0)  En(0) ] n(0)  0 (8.1.6a)

[ Hˆ (0)  En(0) ]n(1)  Gˆ n(0)   n(1)n(0) (8.1.6b)

[ Hˆ (0)  En(0) ]n( 2)  Gˆ n(1)   n( 2)n(0)   n(1)n(1) (8.1.6c)

[ Hˆ (0)  En(0) ]n(3)  Gˆ n( 2)   n(3)n(0)   n( 2)n(1)   n(1)n( 2) . (8.1.6d)

Persamaan (8.1.6a) sama dengan persamaan (8.1.1).


Andaikan kita ingin melakukan aproksimasi hingga koreksi order-1; artinya kita ingin
menentukan  n(1) dan  n(1) . Untuk itu kalikan persamaan (8.6b) dari kiri dengan  n( 0) * lalu diintegral:

 [ H ( 0)  En( 0) ]n(1) dv  Gnn   n(1)


( 0 )*
n
(8.1.7a)
dengan
Gnn    n( 0)* Gˆ  n( 0) dv (8.1.7b)

Karena sifat hermitian dari Ĥ ( 0) maka integral sebelah kiri dari persamaan (8.1.7a) adalah:

 [ H ( 0)  En( 0) ]n(1) dv   {[H ( 0)  En( 0) ] n( 0) }* n(1) dv  0 .


( 0 )*
n

Jadi, koreksi order-1 bagi energi adalah:

 n(1)  Gnn (8.1.8)

Koreksi order-1 bagi fungsi memerlukan pendefinisian  n(1) sebagai fungsi yang orthogonal dengan

111
semua  m di mana m≠n:
(0)

n(1)   cnm m(0) (8.1.9)


m n

Substitusi ke persamaan (8.1.6b) menghasilkan

c
m n
nm[ Hˆ ( 0)  En( 0) ]m( 0)  Gˆ n( 0)   n(1)n( 0)
atau
c
m n
nm [ Em( 0)  En( 0) ]m( 0)  Gˆ n( 0)   n(1)n( 0)

Jika dari kiri dikali dengan  k( 0)* , di mana kn, lalu diintegral, akan diperoleh

c
m n
nm [Em( 0)  En( 0) ] km  Gkn   n(1) kn .

Fihak kiri mempunyai harga jika m=k, sedangkan suku kedua sebelah kanan sama dengan nol karena
kn. Jadi,

cnk [ Ek(0)  En(0) ]  Gkn


atau
Gkn
c nk  ; kn (8.1.10a)
E  E k( 0)
(0)
n
di mana

Gkn    k( 0)* Gˆ  n( 0) dv (8.1.10b)

adalah elemen matriks dari Ĝ dengan basis  . Jadi, koreksi order-1 bagi fungsi 
( 0)
n
(0)
n seperti
ditunjukkan dalam persamaan (8.9) adalah

Gkn
 n(1)    k( 0) (8.1.11)
k n E  Ek
( 0)
n
( 0)

Dari persamaan (8.1.4), (8.1.8) dan (8.1.11), aproksimasi hingga koreksi order-1 untuk fungsi dan
energi adalah:
Gkn
 n   n( 0)    k( 0) (8.1.12a)
k n E ( 0)
nE ( 0)
k

En  En(0)  G nn (8.1.12b)

Dalam persamaan (8.1.12a) harus dipenuhi En  Ek ; artinya fungsi-fungsi n(o)dan k(o) tidak
( 0) ( 0)

berdegenerasi. Persamaan tersebut tidak berlaku bagi fungsi-fungsi berdegenerasi di mana

112
En(0)  Ek(0) . Bagi sistem yang berdegenerasi akan dikemukakan cara penanganan khusus dalam
paragraf 8.4.
Sekarang andaikan kita ingin aproksimasi hingga koreksi order-2; artinya kita ingin
menentukan selain  n dan  n(1) yang sudah dikemukakan di atas, juga  n( 2) dan  n( 2) . Untuk itu
(1)

kalikanlah persamaan (8.6c) dari kiri dengan  n lalu diintegral:


( 0 )*

 [ Hˆ ( 0)  En( 0) ]n( 2) dv   n( 0)*Gˆ n(1) dv   n( 2)   n(1)  n( 0)*n(1) dv


( 0 )*
n

Sekali lagi, karena sifat hermitian dari Ĥ ( 0) maka integral di fihak kiri sama dengan nol. Suku ketiga
di fihak kanan juga sama dengan nol karena orthogonal. Jadi, koreksi order-2 bagi energi adalah:

 n( 2)   n( 0)*Gˆ n(1) dv

Dengan menggunakan persamaan (8.1.11) selanjutnya diperoleh

GnkGkn
 n( 2)   (8.1.13)
k  n En  Ek
( 0) (0)

Kemudian, untuk menentukan koreksi order-2 bagi fungsi  n( 0) , misalkan

n( 2)   anm m(0) . (8.1.14)


m n

Substitusi ke persamaan (8.6c) menghasilkan

a
m n
nm [ Hˆ ( 0)  En( 0) ]m( 0)  Gˆ n(1)   n( 2)n( 0)   n(1)n(1) .

Jika dari kiri dikali dengan  l( 0)* di mana ln lalu diintegral, hasilnya adalah

 anm  l(0)*[ Hˆ (0)  En(0) ] m(0) dv   l(0)*Gˆ n(1) dv   n(2)  l(0)* n(0) dv   n(1)  l(0)*n(1) dv
m n
atau
a
m n
nm ( El( 0)  En( 0) ) ml    cnmGlm   n(1)  cnm lm
m n mn

sehingga
anl ( El( 0)  En( 0) )    cnmGlm   n(1)cnl .
m n
atau
c nmGlm
 n(1)cnl
anl  m n
 .
E ( 0)
n  El( 0) En( 0)  El( 0)

113
Selanjutnya, dengan menggunakan persamaan (8.1.8) dan (8.1.10a) diperoleh:

Gmn Glm G G
a nl    ( 0) nn nl( 0) 2 . (8.1.15)
m n (E (0)
n  Em )( E n  El ) ( E n  El )
(0) ( 0) (0)

Akhirnya koreksi order-2 bagi fungsi adalah

 Gmn Glm G G 
 n( 2)     ( 0) nn nl( 0) 2  l( 0) (8.1.16)
l n  m n (E ( 0)
n  E m )( E n  El ) ( E n  El ) 
( 0) (0) ( 0)

Dari persamaan (8.1.11) dan (8.1.16) dan (8.1.13), terlihat bahwa koreksi-koreksi order-1 dan order-2
yang harus diberikan terhadap fungsi  n( 0) , dan koreksi order-2 terhadap energi E n(0) didominasi oleh
(0)
fungsi-fungsi yang energinya dekat dengan E n .

Contoh 8.1:
Di dalam Gambar 8.1 diperlihatkan sumur potensial tak hingga dengan gangguan berupa potensial
penghalang di dalamnya. Bagi suatu partikel yang terkurung di dalam sumur potensial itu, hitunglah
koreksi order-1 baik terhadap energi eigen E1(0) maupun terhadap fungsi eigen 1(0). Hitung pula jika
d=a/5. Hitung pula koreksi order-2 baik terhadap energi eigen E1(0) maupun terhadap fungsi eigen
1(0).

d

-a 0 a x
Gambar 8.1 Sumur potensial tak hingga dengan potensial penghalang di dalamnya.

Sudah diketahui, bahwa tanpa gangguan fungsi-fungsi eigen adalah

 1  n 
 cos  x ; n  1, 3, 5......
 a  2a 
 n ( x)  
(0)

 1  n 
sin  x ; n  2, 4, 6......

 a  2a 

dengan energi-energi eigen adalah


  2 2 
E n( 0)  n 2  2
; n  1, 2, 3, ....

 8me a 

114
Dengan kehadiran gangguan, yang akan dihitung adalah koreksi order-1 terhadap energi eigen E1(0):

1(1)  G11   1( 0) ( x) Gˆ 1( 0) ( x) dx

dan koreksi order-1 terhadap fungsi eigen 1(0):

Gn1
1(1)    n( 0)
n 1 E1 
( 0)
E ( 0)
n
Dari Gambar 8.1 terlihat bahwa

 ;  1 2 d  x  1 2 d
Gˆ  
0; di luar gangguan

1  x 
Dengan fungsi 1 ( x)  cos   maka
(0)

a  2a 

d / 2
  x   d 1 d 
1(1)  
a d / 2
cos 2   dx     sin 
 2a   2a  2a 

dengan =/2. Jika d=a/5, maka 1(1)  0,198 . Selanjutnya, untuk 1(1), harga-harga Gn1 dengan
n≠1 adalah

Gn1    n( 0) ( x)1( 0) ( x) dx  0.

Gn1=0 untuk n≠1 karena fungsi-fungsi eigen partikel bersifat ortonormal. Jadi, gangguan seperti di
atas tidak menimbulkan koreksi order-1 terhadap fungsi eigen. Selanjutnya, berdasarkan rumusan

G Gn1
1( 2)   1n

n 1 E1  En( 0)
( 0)

maka koreksi order-2 terhadap energi: 1( 2)  0 . Koreksi order-2 terhadap 1(0) adalah

 Gm1Glm G G 
1( 2)     ( 0) nn 1(l 0) 2  l( 0)
l 1 m1 ( E
( 0)
1  E m )( E1  El ) ( E1  El ) 
( 0) ( 0) (0)

Juga jelas bahwa 1( 2)  0 .

Contoh 8.2:
Misalkan sumur potensial tak hingga terganggu oleh suatu potensial berbentuk - cos (x/2a) seperti
dalam Gambar 8.2. Bagi suatu partikel yang terkurung di dalam sumur potensial, hitunglah koreksi
order-1 baik terhadap energi eigen E1(0) maupun terhadap fungsi eigen 1(0).

115
-a  a x

Gambar 8.2 Sumur potensial tak hingga dengan gangguan berbentuk - cos(x/2a).

Berdasarkan 1(1)  G11  1( 0) ( x) Gˆ 1( 0) ( x) dx maka



a  /2
  x   x  2
1(1)    cos 2   cos dx    cos  cos  d
2
a a  2a   2a    / 2

di mana =x/2a. Jadi,


 /2  /2
2  1  4
1(1)    4  cos 3 d  3
4  cos  d   
   / 2  / 2  3

Selanjutnya, Gn1   n ( x)Gˆ 1 ( x) dx , n≠1.



(0) (0)

 a  nx   x   x 
  cos  cos  cos dx; n  3,5...
  a  2a   2a   2a 
Gn1    
a  a  kx   x   x 
  sin  2a  cos 2a  cos 2a dx; n  2,4,...
 a
atau, dengan =x/2a,

  / 2
  cos n cos  cos  d ; n  3,5...
2  / 2
Gk1   
   / 2
  sin n cos  cos  d ; n  2,4,6...
  / 2
Mengingat bahwa:

cos n cos  cos   1 2 [1  cos 2 ] cos n  1 2 cos n  1 2 cos 2 cos n


 1 2 cos n  1 4 [cos(n  2)  cos(n  2) ]; n  1,3,5.....
sin(n ) cos  cos   1 2 [1  cos 2 ] sin n  1 2 sin n  1 2 cos 2 sin n
 1 2 sin n  1 4 [sin(n  2)  sin(n  2) ]; n  2,4,.....

maka diperoleh

116
 2  1 1 1   1; n  3,7,...
   
Gn1     n 2(n  2) 2(n  2)   1; n  5,9,...

0; n  2,4,....

Dengan demikian maka koreksi order-1 untuk fungsi eigen 1(0) adalah:

Gn1
1(1)   n(0)
( 0)
n 1 E1  En( 0)
16me ao2  1  1 1 1   1; n  3,7...

 3 2
 n(0)     
 n  1   n 2(n  2) 2(n  2)   1; n  5,9
2
n  3,5,...

Koreksi order-2 untuk energi adalah:

G1nGn1
1( 2)  
n 1 E1  En
(0) ( 0)

2
 2  8me ao 1   1; n  3,7...
2
 1  1
2
1
     2     
     n 3,5,..  n  1   n 2(n  2) 2(n  2)   1; n  5,9
2 2

8.2 Effek Stark I


Pengaruh medan listrik statik terhadap tingkat-tingkat energi suatu atom disebut effek Stark. Interaksi
medan listrik dengan elektron dipandang sebagai gangguan. Untuk itu atom hidrogen ditempatkan
dalam medan listrik statis F yang diandaikan sejajar sumbu-z. Interaksi elektron dengan medan itu
adalah,
 
G  er . F .  eFr cos  8.2.1)

sehingga Hamiltonian total elektron adalah:

Hˆ  Hˆ (0)  eFr cos  8.2.2)

Hamiltonian awal Ĥ ( 0) mempunyai fungsi-fungsi eigen  nm dari elektron dalam atom hidrogen,
(0)

Hˆ ( 0)n(0m)   En( 0)n(0m)  (8.2.3)


Keadaan dasar atom hidrogen 1s tidak berdegenerasi dengan fungsi-fungsi keadaan
(0)

lainnya, sehingga metoda gangguan di atas dapat diterapkan untuk menghitung koreksi-koreksi bagi
1s( 0) dan E1( 0) . Berdasarkan persamaan (8.1.8), koreksi order-1 bagi energi adalah:

1(1)  eF  1(s0) r cos  1(s0) dv (8.2.4)

  2
ao3
 e o r dr  cos  sin  d  d  0
2 r / a
 eF 3

 0 0 0

117
Jadi, gangguan tidak mengubah energi E1( 0) . Dengan menggunakan persamaan (8.1.11), koreksi
order-1 terhadap 1s( 0) adalah:

1(s1) 
eF
E  E 2( 0)
( 0)
  2s  
r cos  1s dv  2 s    2 px r cos  1s dv  2 px 
1

  
   2 py r cos  1s dv  2 py    2 pz r cos  1s dv  2 pz   (8.2.5)
0,745a o eF
  2 pz
E1( 0)  E 2( 0)

Dalam perhitungan di atas, integral pada suku keempat saja yang tak sama dengan nol (lihat contoh
perhitungan dalam Bab 6.4).
Sekarang akan diperiksa koreksi order-2 berdasarkan persamaan (8.1.13). Dalam perhitungan,
kita cukup meninjau fungsi-fungsi keadaan yang dekat dengan 1s( 0) yakni  2(0s ) ,  2(0pz) ,  2(0px) ,  2(0py)
yang berdegenerasi dengan energi E 2( 0) . Dengan fungsi-fungsi itu, maka

 ( 2)
1
e2 F 2
 ( 0)
E1  E2( o )

( 0)
1s  
2
r cos  2( 0s ) dv   1(s0) r cos  2( 0px) dv 
2

  
2
  1(s0) r cos   2(0py) dv   1(s0) r cos   2( 0pz) dv 
2

Seperti telah dikemukakan, yang memiliki harga hanyalah integral pada suku keempat saja,
yakni 0,745 ao. Jadi,
e2 F 2
 ( 2)
 ( 0) (0,745ao ) 2 . (8.2.6)
E1  E2
1 ( 0)

Dari hasil itu maka energi yang terkoreksi adalah:

(0,745ao ) 2 e 2 2
E1  E1( 0)  F (8.2.7a)
E1( 0)  E 2( 0)

sedangkan fungsi terkoreksi hingga order-1 adalah:

0,745ao eF ( 0)
1s  1(s0)   2 pz (8.2.7b)
E 2( 0)  E1( 0)

Menurut teori klasik, energi atom dalam medan listrik statik adalah E=E(0)+½F2 di mana 
adalah polarizabilitas atom. Dengan hasil di atas maka polarizabilitas atom hidrogen adalah:

(0,745ao ) 2 e 2
 2 . (8.2.8)
E1( 0)  E 2( 0)

118
Karena fungsi-fungsi keadaan atom hidrogen untuk n=2 berdegenerasi maka metoda ini tak
dapat diterapkan untuk menentukan pengaruh gangguan. Untuk itu diperlukan metoda variasi seperti
di bawah ini.

8.3 Metoda Variasi


Andaikan suatu sistem mempunyai Hamiltonian Ĥ . Seperti telah dikemukakan dalam Bab 2, jika
fungsi gelombang sistem itu  maka energi sistem adalah

  Hˆ  dv
*

E (8.3.1)
   dv
*

Masalahnya adalah bagaimana cara menentukan fungsi gelombang  itu. Cara yang lazim dilakukan
adalah menebak fungsi gelombang dengan parameter-parameternya. Selanjutnya, persamaan (8.3.1)
divari-asi terhadap parameter-paremeter tersebut untuk memperoleh energi minimum.
Sebagai contoh, kita sudah mengenali Hamiltonian elektron dalam atom hidrogen,

ˆ 2 2 e2
H    (8.3.2)
2 me 4 o r

Berdasarkan pemahaman secara fisika, sistem seperti atom hidrogen bersifat simetris bola, sehingga

1   2  1     1 2
2   r    sin    (8.3.4)
r 2 r  r  r 2 sin      r 2 sin 2   2

Selain itu, fungsi gelombang pada keadaan dasarnya haruslah bersifat simetris bola. Atas dasar itu
fungsi gelombang keadaan dasar bisa ditebak, misalnya

  e  r (8.3.5)

di mana  adalah parameter yang masih harus ditetapkan. Karena bersifat simetris bola,  /  dan
 /  sama dengan nol. Jadi

ˆ 2 1   2   e2   2  2 2  e 2   r
H   r         e
2me r 2 r  r  4 o r  2m e  r  4 o r 

Energi yang diturunkan dengan menggunakan persamaan (8.16) adalah

  2
  2  2 2  e 2   2 r 2
   
 2m e 
 e
r  4 o r 
r dr  sin  d  d
E 0
 
0
2
0

 2r 2
 e r dr  sin  d  d
0 0 0

119
  
 ( 2 / 2me )[ 2  e  2r r 2 dr  2  e  2r rdr ]  (e 2 / 4 o )  e  2r rdr
 0

0 0

e
 2r
r 2 dr
0


n!
e
 ax
Dalam perhitungan integral dapat digunakan sifat: x n dx  . Jadi,
0 a n 1

 ( 2 / 2me )[2 2 /( 2 ) 3  2 /( 2 ) 2 ]  (e 2 / 4 o ) /( 2 ) 2


E
2 /( 2 ) 3 (8.3.6)
 ( / 2me )  (e / 4 o )
2 2 2

Untuk memenuhi energi minimum harus berlaku dE/d=0, sehingga diperoleh:

e 2 me 1
  (8.3.7)
4 o  2
ao

di mana ao adalah jari-jari Bohr yang telah kita kenal. Dengan harga  di atas maka fungsi keadaan
dasar dalam persamaan (8.3.5) adalah:

  e  Zr / ao (8.3.8)

dan energi dalam persamaan (8.3.6) adalah:

me e 4 e2
E  (8.3.9)
32 2 o2  2 8 o ao

Jelas hasil ini sama dengan yang telah dikemukakan dalam persamaan (6.2.18) untuk keadaan dasar,
dan persamaan (6.2.15) untuk energi dengan n=1.

8.4 Gangguan pada Sistem Berdegenerasi


Cara lain dalam metoda variasi ini adalah dengan mengungkapkan fungsi gelombang  sebagai
kombinasi linier dari fungsi-fungsi yang sudah dikenal. Misalkan fungsi-fungsi itu adalah n  di
mana n=1, 2,…..,N. Dengan n  sebagai basis untuk Ĥ berlaku

  Hˆ  dv  H nm
*
n m
(8.4.1a)
sedangkan
  dv  Snm
*
n m
(8.4.1b)

120
di mana Hnm dan Snm masing-masing adalah elemen matriks dari Ĥ dengan basis n  dan overlap
antara dua fungsi basis yang dapat dihitung. Ungkapan  sebagai kombinasi linier dari fungsi-fungsi
basis n  adalah:

N
   cnn (8.4.2a)
n 1

di mana cn adalah koefisien kombinasi linier bagi n di dalam  . Berdasarkan syarat normalisasi dari
maka,

c
m,n
*
m n c S mn  1 (8.4.2b)

Substitusi persamaan (8.24a) ke (8.16) akan menghasilkan

c H 2
n nn  2  c n* c m H nm
E n nm
(8.4.3)
c S n
2
n nn   c n c m S nm
nm
*

Dalam persamaan ini seluruh koefisien c adalah parameter-parameter dengan mana energi E dapat
divariasi untuk memperoleh energi minimum:

E E
dE  dc1  dc2  ............  0
c1 c2

sehingga untuk setiap n berlaku:


E
0 (8.4.4)
c n

Untuk itu, persamaan (8.4.3) terlebih dahulu dituliskan sebagai berikut:

 
c
n
2
n H nn   cn* cm H nm  E   cn2 S nn  2 cn* cm S nm  .
nm  n nm 

Turunan terhadap suatu koefisien, misalnya ck adalah

 
2c k H kk  2 c n H nk  E  2c k S kk  2 c n S nk 
nk  n k 
.
E  
   c k S kk  2 c k cl S kl 
2

c k  k l k 

Karena memenuhi persamaan (8.4.4), maka selanjutnya diperoleh

121
N

 c H
n 1
n kn  ES kn   0 . (8.4.5)

Rumusan di atas berlaku untuk k=1, 2, …..,N, sehingga diperoleh N buah persamaan linier.
Persamaan (8.4.5) dikenal sebagai persamaan sekuler. Selanjutnya persamaan ini dapat diungkapkan
dalam bentuk perkalian matriks,

 H 11  ES 11 H 12  ES 12 ..........H 1N  ES 1N  c1 
  
 H 21  ES 21 H 22  ES 22 ........ H 2 N  ES 2 N  c 2 
    0 (8.4.6)
 .....................................................................  ... 
 H N 1  ES N 1 H N 2  ES N 2 ......H NN  ES NN  c N 
  

Persamaan ini memiliki solusi non-trivial jika dan hanya jika determinan karakteristik sama dengan
nol; jadi

H 11  ES 11 H 12  ES 12 ..........H 1N  ES 1N
H 21  ES 21 H 22  ES 22 ......... H 2 N  ES 2 N
0 (8.4.7)
.....................................................................
H N 1  ES N 1 H N 2  ES N 2 .....H NN  ES NN

Persamaan ini disebut determinan sekuler. Karena mempunyai order-N maka dari persamaan tersebut
akan diperoleh N buah harga energi: E1, E2,…..,,EN. Selanjutnya, substitusi setiap harga energi Ek ke
persamaan (8.4.7) akan menghasilkan satu set harga-harga koefisien, yakni ck1, ck2, ….,ckN dengan
mana fungsi k dibentuk berdasarkan persamaan (8.4.2a), yakni dengan syarat normalisasi dalam
persamaan (8.4.2b).
Perhitungan bagi determinan dalam persamaan (8.4.7) menjadi lebih singkat jika fungsi-
fungsi basis n  merupakan set yang ortonormal, dengan mana persamaan (8.4.2b) berubah menjadi

  dv   nm
*
n m
(8.4.8)

Dengan keadaan di atas, maka fungsi  adalah ternormalisasi, dan memenuhi

N N
   cnn ; c
2
n 1. (8.4.9)
n 1 n 1

Dalam metoda variasi ini sama sekali tidak dihadapai masalah dengan fungsi-fungsi
berdegeneresai. Artinya, untuk sistem yang berdegenerasi harus digunakan metoda ini.

8.5 Effek Stark II


Sebagai kelanjutan efek Stark, akan dibahas pengaruh medan listrik statis F terhadap tingkat energi E2
dari atom hidrogen. Untuk itu, kembali ke bagian 8.2, Hamiltonian total elektron adalah

122
Hˆ  Hˆ (0)  eFr cos  (8.5.1)

di mana Ĥ ( 0) adalah Hamiltonian asli bernilai eigen energi E2(0) yang berdegenerasi-4 dengan fungsi-
fungsi eigen 1(0)  2 s , 2(0)  2 pz , 30   2 px , 4(0)  2 py . Keempat fungsi itu membentuk set
ortonormal; dengan urutan fungsi-fungsi seperti di atas, maka

 l(0) dv   kl .
( 0)
k
(8.5.2)

Elemen-elemen matriks H kl   k( 0) Hˆ l( 0) dv dapat dihitung dengan hasil sebagai berikut:

H11  H 22  H 33  H 44  E2(0)
H12  H 21  3eFa o (8.5.3)
Lain-lainnya =0.

Dengan elemen-elemen matriks itu maka determinan sekuler adalah:

( E 2( 0)  E )  3eFa o 0 0
 3eFa o ( E 2( 0)  E ) 0 0
 0.
0 0 ( E 2( 0)  E ) 0
0 0 0 ( E 2( 0)  E )

Selanjutnya diperoleh persamaan pangkat-4 berikut:

( E2(0)  E ) 4  (3eFa o ) 2 ( E2(0)  E) 2  0


( E2(0)  E) 2  (3eFa o ) 2  E1  E2(0)  3eFa o , E2  E2(0)  3eFa o (8.5.4)
( E2(0)  E ) 2  0  E3  E4  E2(0)

Substitusi E1 untuk E di dalam persamaan sekuler akan menghasilkan c1=c2=1/2 dan substitusi E2
menghasilkan c1=-c2=1/2. Karena E3 dan E4 sama dengan harga asalnya maka fungsinya juga sama
dengan asalnya. Jadi,

1 1
1  (1( 0)  2( 0 ) )  ( 2 s  2 pz ),
2 2
1 1
2  (1( 0)  2( 0 ) )  (2 s   2 pz ), . (8.5.5)
2 2
 3  3  2 px ,
(0)

 4  4( 0)  2 py

123
Hasil di atas, bersama dengan hasil perhitungan teori gangguan bagi E1s diperlihatkan dalam Gb.8.1 di
bawah ini.
2
E2=E2(0)+3eFao
2s2pz2px2py
) 3, 4 E3=E4=E2(0)
E2(0
1 E1=E2(0)-3eFao
1s
E1s(0) (0,745a o ) 2 e 2
E1s  E1(s0)  F2
E 2( 0)  E1(s0)
0,745aoeF
1s  2 pz
E2( 0)  E1( 0)

Gb.8.1 Pecahnya keadaan-keadaan berdegenerasi karena medan listrik statis F (efek Stark).

8.6 Interaksi Hyperfine


Sebagai mana elektron, inti atom seperti H 1 ,C 13 dan F 19 juga memiliki momentum sudut interinsik

yang diberi simbol I . Spin inti-spin inti tersebut mempunyai bilangan kuantum I=½. Sifat-sifat spin
inti dan fungsi-fungsi spinnya mirip dengan sifat-sifat dan fungsi-fungsi spin elektron seperti
dikemukakan dalam Bab 6.5.
Karena momentum intrinsik itu menginduksikan moment magnet, maka inti dapat
berinteraksi dengan spin elektron. Tinjaulah elektron dalam keadaan dasar atom hidrogen; interaksi
dapat diungkapkan dengan Hamiltonian:
 
Hˆ SI  b S . I
(8.6.1)
 bSˆ z Iˆz  1 2 b( Sˆ  Iˆ  Sˆ  Iˆ )

Parameter b disebut konstanta kopling. Misalkan fungsi-fungsi spin elektron adalah S dan S;
demikian juga fungsi-fungsi spin inti I dan I . Jadi fungsi bersama adalah:

 S I ,  S  I ,  S I ,  S  I (8.6.2)

di mana operator spin elektron beroperasi pada fungsi S dan  S sedangkan operator spin inti pada I
dan I.
Elemen matriks Ĥ SI dengan menggunakan fungsi-fungsi spin di atas sebagai basis dapat
ditentukan sebagai berikut:

H 11   S  I bSˆ z Iˆz  1 2 b( Sˆ  Iˆ  Sˆ  Iˆ )  S  I


 b  S  I Sˆ z Iˆz  S  I  1 2 b  S  I Sˆ  Iˆ  S  I
  S  I Sˆ  Iˆ )  S  I 

124
b 2 b 2
  S I  S I  0  0 
4 4
 H 44
(8.6.3a)
H 12   S  I bSˆ z Iˆz  1 2 b( Sˆ  Iˆ  Sˆ  Iˆ )  S  I
 b  S  I Sˆ z Iˆz  S  I  1 2 b  S  I Sˆ  Iˆ  S  I
  S  I Sˆ  Iˆ )  S  I 
  1 4 b 2  S  I  S  I  0  1 2 b 2  S  I  S  I
 0  H 21

Selanjutnya dapat diturunkan:

H 22  H 33   1 4 b 2
H 23  H 32  1
2 b 2
(8.6.3b)
H 13  H 31  H 14  H 41  H 24  H 42  H 34  H 43  0.

Jadi, determinan sekuler adalah:

1  0 0 0
2 0 1  2 0
1 b 0
2 1  0
4
0
0 0 0 1 

di mana E  1
4 b 2 . Determinan di atas menghasilkan persamaan

(1   ){(1   ) 2 (1   )  4(1   )}  0
1    0  1  1
(1   ) 2  4  0  1    2   2  1,  3  3
1   0  4  1

Akhirnya dihasilkan energi interaksi:

E1  E2  E4  b 2 , E3   3 4 b
1 2
4 (8.6.4)

dengan fungsi masing-masing:

125
1   S  I
2  1
2
 
S I   S I 
  
(8.6.5)
3  1
2 S I  S I
4  S I

Berdasarkan harga-harga energi di atas, dapat disimpulkan bahwa interaksi menyebabkan keadaan
dasar atom hidrogen pecah menjadi dua, masing-masing dengan pergeseran  3 4 b 2 yang singlet
dan 1
4 b 2 yang disebut triplet (berdegenerasi lipat-3). Spektroskopi resonansi spin elektron (ESR)
menunjukkan harga b 2 =1,5x10-28 joule. Ini adalah energi yang sangat kecil sehingga interaksi ini
disebut hyperfine interaction.

8.7 Elektron dalam Zat Padat Satu-Dimensi


Zat padatan seperti logam dapat dialiri arus listrik yang membawa elektron-elektron bebas dalam
logam itu. Elektron-elektron itu disebut elektron bebas jika tidak ada potensial yang
mempengaruhinya. Padatan yang tak mengandung elektron bebas tidak dapat dialiri arus; padatan
seperti ini disebut isolator. Konduktivitas listrik suatu padatan yang dapat dialiri arus listrik dapat
dijelaskan dengan menggunakan model sederhana yang disebut model dimensi-satu. Dalam model
ini, elektron-elektron bebas diasumsikan mengalami gangguan berupa potensial yang cukup lemah,
berasal dari inti-inti atom dalam padatan.
Andaikanlah suatu elektron bebas bergerak sepanjang sumbu-x (padatan dimensi-satu)
dengan momentum p=ħk di mana k=2/ dan  adalah panjang gelombang de Broglie elektron.
Fungsi gelombang elektron itu adalah:

1
 k( 0) ( x)  e ikx (8.7.1)
L

di mana L adalah panjang padatan yang ditinjau, sedangkan energinya:

2k 2
E (0)
k  (8.7.2)
2 me

Dari energi ini jelas bahwa  k dan   k adalah dua fungsi gelombang yang berdegenerasi.
(0) (0)

Selanjutnya, tinjaulah suatu kristal padat dari atom-atom yang tersusun dalam bentuk kisi-kisi
teratur berdimensi-satu. Atom-atom itu dapat diandaikan menimbulkan suatu potensial yang berubah
secara periodik terhadap jarak, misalnya:

V ( x)  Vo cos(2x / a) (8.7.3)

di mana Vo cukup kecil, dan a adalah jarak antara dua atom berdekatan, disebut juga perioda jarak.
Dengan perioda itu, maka dengan N buah atom berlaku L=Na.
Potensial V(x) dapat dipandang sebagai gangguan pada elektron bebas yang diungkapkan
dalam persamaan (8.7.1) dan (8.7.2). Karena keadaan yang berdegenerasi maka persoalan gangguan

126
harus diselesaikan dengan teori gangguan untuk sistem berdegenerasi. Elemen-elemen matriks yang
diperlukan adalah:

H ' k ,k  H '  k ,  k   k( 0)* ( x) V ( x) k( 0) ( x) dx


Vo Na (8.7.4a)

L  cos(2x / a) dx  0
0

H ' k ,  k  H '* k ,k
  k( 0)* ( x) V ( x) ( 0k) ( x) dx (8.7.4b)

Vo Na
 1 2 Vo jika k   / a
0 
 2 ikx
 e cos( 2 x / a ) dx  
L 0 lainnya

Dengan hasil itu, determinan sekuler untuk sistem ini adalah:

E k( 0)  E 1 Vo
0
2

1
2 Vo E k( 0)  E
dari mana diperoleh energi:

Ek  Ek(0)  1 2 Vo ; k   / a . (8.7.5)

Jadi, elektron bebas mendapat tambahan/pengurangan energi sebesar ½Vo pada bilangan gelombang
k   / a , sedangkan pada bilangan gelombang lainnya tetap saja. Energi sebagai fungsi bilangan
gelombang diperlihatkan dalam Gb.8.2. Pergeseran energi  1 2 Vo pada k   / a menimbulkan
gap energi sebesar Vo.
Ek

Vo

-/a /a k
Gb.8.2 Energi elektron dalam kisi periodik dimensi-satu.

Seperti dikemukakan sebelumnya, jumlah atom dalam daerah sepanjang L adalah N sehingga
L=Na dengana sebagai perioda jarak bagi potensial V(x). Jumlah keadaan yang terkait dengan harga-
harga k antara   / a dan   / a adalah N juga karena sesuai dengan syarat batas yang periodik
secara berurutan harga-harga k terpisahkan oleh 2 / L . Berdasarkan prinsip Pauli, setiap keadaan
dapat mengako-modasikan maksimum dua elektron dengan spin berlawanan.
Dalam kasus di mana satu atom menyumbangkan satu elektron bebas terhadap sistem,
keadaan dasar akan berkaitan dengan ½N buah keadaan yang masing-masing berisi dua elektron. Jika
dikenakan medan listrik, arus listrik akan mengalir, karena beberapa elektron akan tereksitasi
sedemikian sehingga lebih banyak elektron dengan k-positip daripada dengan k-negatip. Dalam hal ini
padatan berdimensi-satu berkelakuan seperti logam. Tetapi, jika ada dua elektron bebas per atom, dan
jika Vo cukup besar untuk mencegah elektron tereksitasi melalui gap, semua elektron yang 2N buah

127
itu menempati seluruh keadaan di dalam pita energi antara   / a dan   / a (N buah keadaan).
Suatu medan listrik tidak mampu mengeksitasikan sesuatu elektron, karena sekian jumlah elektron
dengan k-positif sekian pula dengan k-negatif; jadi tidak ada arus listrik dan padatan berdimensi-satu
bersifat isolator. Namun, jika Vocukup kecil, beberapa elektron secara termal akan tereksitasi melalui
gap itu dan menempati keadaan dengan k   / a dan menjadi mudah digerakkan oleh medan listrik.
Elektron yang tereksitasi akan meninggalkan kekosongan, disebut hole, dipita yang tadinya penuh,
dan itu dipandang sebagaai bermuatan positif dan mudah digerakkan oleh medan listrik.
Dalamkeadaan itu padatan disebut semikonduktor intrinsik.
Secara umum potensial periodik mempunyai komponen-komponen Fourier dengan jarak
periodanya a, a/2 dan sebagainya, dengan gap energi di k   / a ,  2 / a dan sebagainya. Jika
padatan berdimensi-satu mempunyai jumlah ganjil elektron bebas per atom, padatan itu bersifat
logam. Sebaliknya, jika jumlah itu genap, padatan itu bisa berupa isolator atau semikonduktor
bergantung pada besarnya gap energi.

8.8 Aproksimasi WKB


Metoda aproksimasi ini dikembangkan oleh G. Wentzel, H.A. Kramers dan L.Brillouin. Metoda ini
dapat dipakai untuk menyelesaikan persamaan diferensial biasa, yakni persamaan harga eigen
berdimensi-satu atau berdimensi-tiga yang dapat direduksi ke bentuk berdimensi-satu melalui
pemisahan variabel. Untuk itu tinjaulah persamaan Schrödinger berdimensi-satu berikut:

d 2 2m
 [ E  V ( x)]  0 (8.8.1)
dx 2  2
atau
d 2 p2
   ; p( x)  2m[ E  V ( x)] (8.8.2)
dx 2 2

Misalkan E>V(x) sehingga p(x) itu ril. Andaikanlah fungsi berikut adalah solusi:

 ( x)  A( x)e i ( x ) (8.8.3)
Dengan itu maka

d 2  d 2 A dA d d 2  d  
2

  2i  iA 2  A  
dx 2  dx 2 dx dx dx  dx  

sehingga dari persamaan (8.8.2) diperoleh

dA d d 2  d 
2
d2A p2
 2i  iA 2  A    2 A
dx 2 dx dx dx  dx  

Dari persamaan ini diperoleh dua persamaan:

d2A  d 
2
p2 d2A  d  2 p 2 
 A    2 A  2  A   2  (8.8.4a)
dx 2  dx   dx  dx   
dan

128
dA d d 2 d  2 d 
2 A 2 0 A 0 (8.8.4b)
dx dx dx dx  dx 

Solusi dari persamaan (8.8.4a) adalah

d C
A2  C2  A  (8.8.5a)
dx d / dx

di mana C adalah konstanta. Solusi persamaan (8.8.4a) memerlukan aproksimasi; misalkan A adalah
fungsi yang berubah perlahan sehingga d2A/dx2 dapat diabaikan. Dengan demikian maka

d p
 (8.8.5b)
dx 
sehingga
1

 ( x)   p( x)dx (8.8.6)

Jadi, dengan persamaan (8.8.5a) , (8.8.5b) dan (8.8.6)maka persamaan (8.8.3) menjadi

i
C  p ( x ) dx
 ( x)  e 
(8.8.7)
p ( x)
Jelas, bahwa
2
C
 ( x) 
2
(8.8.8)
p( x)

merupakan peluang menemukan partikel di titik x; peluang itu berbanding terbalik dengan
momentum linier partikel di titik itu.

Contoh 8.3:
Misalkan sumur potensial berbentuk

suatu fungsi 0  x  a
V ( x)  
 lainnya

Di dalam sumur, fungsi gelombang partikel


 ( x) 
1
C1 sin  ( x)  C2 cos  ( x)
p( x)
di mana
x
1
 0
 ( x)  p( x' )dx' .

Di x=0,  (0)  0 sehingga  (0)  0 dan C2=0. Di x=a,  (a)  0 sehingga sin  (a)  0 atau
 (a)  n dengan n=1, 2, 3,...Jadi, dari persamaan (8.8.6) diperoleh

129
a

 p( x)dx  n 
0

Kasus khusus jika V(x)=0 maka p(x)= 2mE , dan pa= n sehingga energi partikel adalah

n 2 2  2
En 
2ma 2

sebagaimana telah diperoleh dalam sumur potensial tak terhingga.


Dalam Bab 3.2 sudah dikemukakan terobosan partikel melalui potensial penghalang.
Sekarang akan diperlihatkan metoda WKB untuk menjelaskan mekanisme terobosan (tunneling).
Misalkan potensial berbentuk persegi dengan bentuk atap sebarang seperti dalam Gb.8.3. Misalkan
partikel datang dari kiri dengan energi E<V(x).

V(x)

E
A
B
0 a x
Gb.8.3 Potensial penghalang dengan bentuk atap sebarang, E<V(x).

Karena E<V(x) dalam daerah 0≤x≤a, maka p= 2m( E  V ( x) merupakan imajiner sehingga fungsi
gelombang partikel

1
C   p ( x ) dx
 ( x)  e 
(8.8.9)
p ( x)
Di daerah x<0 berlaku:
 ( x)  Ae ikx  Be ikx (8.8.10)

di mana A adalah amplitudo gelombang datang, B amplitudo gelombang terpantul dan k  2mE / 
. Di daerah x>a, misalkan fungsi gelombang partikel adalah

 ( x)  Fe ikx (8.8.11a)

Dengan F adalah amplitudo transmisi maka tranmittansi adalah

2
F
T 2
(8.8.11b)
A

Dalam daeran 0≤x≤a, berdasarkan persamaan (8.8.9) aproksimasi WKB memberikan

130
1
C   p ( x ) dx
 ( x)  e 
(8.8.12)
p ( x)

Dalam hal ini hanya diambil exponensial-negatif saja karena fungsi dengan eksponensial-positip tidak
memiliki arti fisis. Gb.8.4 memperlihatkan keseluruhan fungsi gelombang.

A
F
0 a x

Gb.8.4 Fungsi gelombang keseluruhan dari partikel.

Dari persamaan (8.8.12) dan Gb. 8.4 terungkap bahwa amplitudo-amplitudo gelombang partikel
datang dan transmisi ditentukan oleh penurunan eksponensial dalam daerah 0<x<a, sehingga
koefisien transmisi dapat dinyatakan
a
1
F

  p ( x ) dx

e 0
(8.8.13)
A
dan transmittansi
1a
T  e 2 dengan    p( x)dx (8.8.14)
0

8.9 Teori Peluruhan Partikel-α


Partikel-α adalah partikel yang memiliki 2 proton (+2e) dan 2 neutron yang terdapat di dalam inti
radioaktif. Partikel ini terikat oleh gaya inti, tetapi ia memiliki peluang melepaskan diri gaya inti itu.
George Gamow (1928) dan pada tempat terpisah, Condon dan Gurney mengemukakan teori
peluruhan-α. Mereka menggambarkan kurva potensial seperti Gb. 8.5. Dalam gambar diperlihatkan r 1
sebagai jarak jangkauan gaya tarik inti (jari-jari inti) dengan energi ikat Eb, dan di luar itu gaya
berubah menjadi gaya dorong.

V(r)

r1 r2 r
Eb
Gb. 8.5 Potensial model Gamow dari partikel alfa dalam inti radioaktif.

Jika E adalah energi partikel-α yang diemisikan, energi itu sama dengan potensial di r2

2Ze 2
E (8.9.1)
4 o r2

131
Maka dalam daerah r1<r <r2parameter γ dalam persamaan (8.8.2) adalah

 2Ze 2 
r r2
1 2 2m E r2
   2m   E  dr    1 dr
 r1  4 o r   r1
r
2m E  1 r1 
 r2 cos  r1 (r2  r1  (8.9.2)
  r2 

Karena r1<<r2 maka θ=cos-1 r1 / r2 dekat dengan π/2 atau katakanlah    / 2  r1 / r2 sehingga
bersama dengan persamaan (8.9.1) diperoleh

2m E    Z
   r2  2 r1r2   K1  K 2 Zr1 (8.9.3)
 2  E
di mana

e 2 2m  2m
1/ 2
 e2 
K1   1,98 MeV ; K 2 
1/2
  1.485 fm -1/2 (8.9.4)
4 o   4 o  

Dalam hal ini telah digunakan m=4,0026 au dan 1 fm=10-15m. Jari-jari r1 dapat didekati dengan rumus
r1≈(1.07 fm) A1/3 di mana A=Z+N yakni jumlah proton dan neutron dalam inti.
Dari hasil di atas dan persamaan (8.8.14), peluang partikel-α menumbuk dinding adalah exp(-
2γ). Jika diandaikan partikel-α mempunyai kecepatan rata-rata dalam inti adalah v, maka frekuensi
tumbukan pada dinding adalah v/2r1. Jadi peluang emisi per satuan waktu adalah (v/2r1) exp(-2γ).
Dengan demikian umur inti adalah sekitar
2r1 2
 e (8.9.5a)
v
Energi partikel-α yang diemisikan adalah E=(mp-md-mα)c2, dengan mp, mddan mα masing-
masing adalah massa inti parent, massa inti daugther, dan massa partikel-α. E dapat didekati dengan
E=½mαv2 sehingga

2m
 r1 e 2 (8.9.5b)
E

Persamaan terakhir dapat digunakan untuk menentukan umur inti.

132
Soal-soal
8.1 Partikel dalam sumur potensial tak berhingga dimensi-satu dengan V=0 dalam daerah 0<x<2a
dan V= dalam daerah lainnya. Andaikan elektron berada pada keadaan dasarnya; jika ada
gangguan x dengan  adalah konstanta tentukanlah energi dan fungsi keadaannya hingga
koreksi order pertama.

8.2 Suatu osilator harmonis dimensi-satu (sepanjang sumbu-x) mengalami gangguan bxĤ (0)
dengan b adalah konstanta dan Ĥ ( 0) adalah Hamiltonian osilator tanpa gangguan. Jika awalnya
osilator berada pada keadaan dasarnya tentukanlah energi dan fungsi keadaannya hingga koreksi
order pertama.

8.3 Tinjaulah fungsi gelombang  ( x)  x  (1  x 2 ) untuk elektron dalam sumur potensial tak
berhingga;  adalah parameter. Hitunglah energi dasar dengan metoda variasi jika Hamiltonian
electron adalah:

( 2 / 2me )d 2 / dx 2 .

8.4 Gunakanlah fungsi gelombang  ( x)  exp( x 2 ) di mana  adalah parameter untuk menentukan
energi dasar osilator harmonik dengan Hamiltonian:

( 2 / 2me )d 2 / dx 2  12 m 2 x 2 .

8.5 Pandanglah potensial V=½m2x2+x4 dari suatu osilator (disebut osilator tak-harmonis). Jika
suku kedua dipandang sebagai gangguan, tentukanlah energi dan fungsi gelombang keadaan dasar
hingga koreksi order pertama.

8.6 Atom hidrogen ditempatkan dalam medan magnet statik B  iˆBx  kˆBz di mana Bz>>Bx. Jika
elektron berada pada keadaan dasarnya, lakukanlah analisa tentang dampak gangguan itu.

8.7 Persamaan Schrödinger untuk rotator pejal dalam bidang datar dengan medan listrik E pada
bidang yang sama, adalah
 2 d 2
  (E+E cos)=0
2 I d 2

di mana I adalah momen kelembaman,  momen dipol listrik dan  sudut


rotasi. Dengan menyatakan -E cos sebagai gangguan, tunjukkan bahwa energi terkoreksi
hingga order kedua adalah:

2 I 2
E= m 2 E2 m=0, 1, 2, ……
2I  (4m 2  1)

8.8 Dengan basis fungsi-fungsi ortonormal i, i=1, 2 bentuk matriks Hamiltonian suatu sistem adalah
 0 i 
Hˆ   Eo  
  i 0
133
Tentukanlah harga-harga eigen energi dari Ĥ berikut fungsi-fungsi eigen bersangkutan.

8.9 Dengan basis fungsi-fungsi ortonormal i, i=1, 2, 3, 4 bentuk matriks Hamiltonian suatu sistem
adalah

 0 1 1 1 
 
 1 0 1 1 
Hˆ   
1 1 0 1 
 
1 1 1 0 

Tentukanlah harga-harga eigen energi dari Ĥ berikut fungsi-fungsi eigen bersangkutan.

134
BAB 9
GANGGUAN BERGANTUNG WAKTU
Dalam teori ini akan ditunjukkan bahwa dengan gangguan yang bergantung waktu, elektron akan
berpeluang bertransisi dari suatu fungsi keadaan awal ke suatu fungsi keadaan akhir. Transisi itu
terkait dengan absorpsi atau emisi foton.

9.1 Gangguan Bergantung Waktu


Dalam bagian8.1 telah dibahas metoda aproksimasi untuk gangguan kecil yang tidak bergantung
waktu. Sekarang akan dibahas gangguan yang bergantung waktu, yang secara umum berbentuk
Gˆ (r, t )  Gˆ o (r ) (t ) . Hamiltonian total adalah:

Hˆ  Hˆ (0) (r )  Gˆ (r, t ) (9.1.1)

di mana Ĥ ( 0) adalah Hamiltonian tanpa gangguan dengan fungsi-fungsi stasioner  i


( 0)

(r , t ) sebagai
fungsi eigen yangortonormal:

 i( 0) (r , t )
i  Hˆ ( 0) i( 0) (r , t ) (9.1.2a)
t
( 0)
iEi t / 
 i(0) (r , t )   i(0) (r ) e (9.1.2b)

di mana Ei  ( 0)
adalah nilai eigen energi yang stasioner. Karena Hamiltonian total Ĥ bergantung
waktu maka energi tak bisa stasioner. Masalahnya sekarang adalah bagaimana menentukan fungsi
gelombang bagi Ĥ dari fungsi-fungsi stasioner  i
( 0)

(r , t ) .
Misalkan  i 
(r , t ) adalah fungsi-fungsi eigen bagi Ĥ dengan mana berlaku:

 i (r , t )
i  Hˆ  i (r , t )  [ Hˆ ( 0) (r )  Gˆ (r , t )] i (r , t ) (9.1.3)
t

Harus disadari bahwa sebelum ada gangguan, sistem benar-benar pada fungsi keadaan yang stasioner,
misalnya  i(0) (r , t ) , dan segera gangguan itu masuk, sistem berada pada fungsi yang merupakan
campuran dari fungsi-fungsi stasioner. Seperti dalam paragraf 6.1,  i (r , t ) dapat dinyatakan sebagai
kombinasi linier dari fungsi-fungsi stasioner :

 i (r , t )   aik (t )  k(0) (r , t ) (9.1.4)


k

di mana aik(t) adalah koefisien kombinasi yang juga bergantung waktu. Substitusi persamaan (9.4) ke
persamaan (9.1.3) menghasilkan:

a
k
ik (t ) Hˆ ( 0) k( 0) (r , t )   aik (t )G(r , t ) k( 0) (r , t )
k

135
aik (t ) ( 0)  ( 0) (r , t )
 i  k (r , t )  i aik (t ) k
k t k t

Sesuai dengan persamaan (9.1.2a), suku pertama di sebelah kiri sama dengan suku kedua di sebelah
kanan; oleh sebab itu

aik (t ) (())
a
k
ik (t )G(r , t ) k( 0) (r , t )  i
k t
 k (r , t )

Andaikanlah pada akhir gangguan, sistem menempati keadaan  f (r , t ) . Oleh sebab itu,
( 0)

dengan mengalikan  f (r , t ) dari sebelah kiri pada persamaan di atas lalu mengintegralnya, akan
( 0 )*

diperoleh:

aik (t ) ( 0)*
ak
ik (t )   (f0)* (r , t )G(r , t ) k( 0) (r , t ) dv  i
k t   f (r , t ) k(()) (r , t ) dv

Integral sebelah kanan mempunyai harga hanya jika k=f. Jadi persamaan di atas dapat sederhanakan
menjadi,

aif (t ) 1
t
 
i k
aik (t )   (f0)* (r , t )G(r , t ) k( 0) (r , t ) dv (9.1.5)

Persamaan ini menggambarkan laju pertumbuhan koefisien bagi percampuran keadaan awal mulai
dari awal hingga akhir gangguan. Pada permulaan kita mengandaikan sistem berada sepenuhnya pada
keadaan  i (r , t ) , sehingga pada t=0, aii=1 dan semua aik=0. Diasumsikan bahwa beberapa saat sejak
( 0)

gangguan dimulai, aii masih mendekati satu sedangkan semua aik dapatdiabaikan terhadap aii. Jadi,
suku paling penting dalam persamaan (9.1.5) adalah yang mempunyai indeks k=i, sehingga dengan
menggunakan persamaan (9.1.2b):

aif (t ) 1
t

i   (f0)* (r , t )G (r , t ) k( 0) (r , t ) dv
(9.1.6a)
(0) (0)
1 i( E E )t / 
 G ofi (r ) u (t ) e f i
i

di mana telah dimisalkan G(r,t)=Go (r)u(t) dan

G ofi    (f0)* (r , t )G o (r ) k( 0) (r , t ) dv . (9.1.6b)

Selanjutnya, persamaan (9.1.6a) diintegrasi sebagai berikut:

G ofi T ( 0) ( 0)
 Ei ) t / 
 dt u(t ) e
i(E
aif (T )  aif (0)  f

i 0

136
Tetapi seperti disebutkan di atas, pada permulaan aif dapat diabaikan; selain itu
(E ( 0)
f E i
( 0)
) /    fi . Jadi
G ofi T
i fi t
aif (T ) 
i  dt u(t ) e
0
(9.1.7)

2
Persamaan terakhir ini bila dikuadrat, aif , bisa diartikan sebagai ukuran dari probabilitas

transisi dari keadaan stasioner awal  i(0) (r ) ke keadaan stasioner akhir  (f0) (r ) . Peluang bertransisi
rata-rata didefenisikan sebagai berikut:
2
Pif  T1 a if (T ) (9.1.8)

 
Untuk memperoleh gambaran lebih jelas misalkanlah medan listrik    o cos t
berinteraksi dengan elektron dalam atom. Seperti telah disinggung dalam Bab 3.10, interaksi antara
 
medan dan momen dipol terinduksi   er , yakni

 
Hˆ D  .  (e o r cos  ) cos t . (9.1.9)

merupakan gangguan terhadap keadaan stasioner atom. Dalam persamaan (9.1.9), misalkan medan
listrik dipandang pada sumbu-z. Sesuai dengan persamaan (9.1.6b), maka

G ofi  e o  (f0) (r )r cos   i( 0) (r ) dv  e o M fi

sehingga persamaan (9.1.7) menjadi

e o M fi T
i fi t
aif (T ) 
i  dt cos t e
0
(9.1.10a)

e o M e i ( fi  )T
i (  )T
 1 e fi  1
 
fi
 
i 2   fi    fi   

Dalam kasus absorpsi di sekitar  =fi, suku pertama dapat diabaikan. Untuk kasus ini
peluang bertransisi dalam persamaan (9.3) adalah:

e 2 o2 M fi
2
2 sin 2 [( fi   )T / 2]
a if (T )  (9.1.10b)
4 2 [( fi   ) / 2]2

Jelas bahwa pada =fisyarat terjadi resonansi, artinya peluang transisi paling besar. Dalam keadaan
ini, seperti diperlihatkan dalam Gb.9.1, transisi itu berlangsung karena mengabsorbsi foton dari
gelombang elektromagnet, dan elektron bertransisi dari tingkat energi Eike tingkat energi Ef yang
lebih tinggi.

137
Ef f Ei i

Ei i Ef f
(a) (b)
Gb.9.1 Transisi elektron karena absorpsi foton (a) dan emisi foton (b).

Untuk kasus emisi di mana =fi diperoleh rumusan yang sama dengan persamaan (9.10).
Transisi ini disebut juga transisi stimulatyang merupakan dasar bagi mekanisme laser. Energi foton
yang diserap sama dengan beda energi kedua keadaan:

E fi  E f  Ei   fi (9.1.11)

Dalam suatu eksperimen digunakan medan yang frekuensinya meliput suatu daerah tertentu
dengan amplitudo o yang tetap. Dengan demikian maka persamaan (9.10) akan meliput daerah
frekuensi tersebut. Hasilnya lebih kurang seperti diperlihatkan dalam Gb.9.2.

aif2

fi 
Gb.9.2 Peluang bertransisi sebagai fungsi .

9.2 Resonasi Magnetik


Ada dua macam resonansi magnetik, yakni resonasi spin elektron (Electron Spin Resonance, ESR)
dan resonansi magnetik inti (Nuclear Magnetic Resonance, NMR). ESR adalah penyerapan
gelombang elektromagnet (umumnya gelombang mikro) oleh elektron tak berpasangan dalam medan
magnet statik. Elektron tak berpasangan ditemukan dalam atom hidrogen, ion-ion dan molekul-
molekul radikal dalam keadaan dasar.
Seperti telah dikemukakan dalam paragraf6.5, jika suatu elektron bebas ditempatkan dalam
medan magnet statik Bo, interaksi antara dipol magnet spinnya dengan medan itu adalah

  
Hˆ    e . Bo  g e Bo Sˆ z (9.2.1)

di mana medan Bo dipandang pada sumbu-z. Dengan itu maka energi untuk keadaan    adalah:


E   Hˆ   g e Bo  Sˆ z   1
2 g e Bo (9.2.2a)

dan untuk keadaan    adalah:

138

E    Hˆ   g e Bo  Sˆ z    1 2 g e Bo (9.2.2b)

Kedua tingkat energi itu digambarkan dalam Gb.9.3a sebagai fungsi medan magnet statik. Di
dalam medan magnet statik tersebut, sesuai dengan aturan Boltzmann, elektron-elektron menempati
keadaan berenergi rendah, yakni keadaan   .Sekarang misalkan selain medan magnet statik Bo,
diberikan pula medan magnet berosilasi B1cos ωtpada sumbu-x; maka interaksi elektron itu dengan
medan berosilasi adalah


Hˆ 1  g e B1 Sˆ x cos t (9.2.3)

E Absorpsi
Eα=½geBo
α
Bo
E=geBo B
β
Eβ= -½geBo
B
Bo B
(a) (b)
Gb. 9.3 (a) Tingkat-tingkat energi elektron dalam medan statik Bo; (b) sinyal absorpsi dan turunannya
(ESR).

Berdasarkan sifat operator spin Ŝ x jelas bahwa jika pada awalnya spin elektron berada pada keadaan
  , maka interaksi itu akan menyebabkan spin elektron dapat bertransisi ke keadaan   .Transisi itu
berlangsung karena spin mengabsorpsi foton dengan frekuensi ω dari medan B1. Hubungan antara
frekuensi dan medan Bo adalah:

g e
o  Bo (9.2.4)

sedangkan probabilitas transisi ( intensitas) diungkapkan oleh

sin 2 [(o   )T / 2]
P  ( g e B1 ) 2 (9.2.5)
[( o   ) / 2]2

Persamaan (9.2.4) disebut syarat resonansi, dan peristiwa ini dikenal sebagai ESR. Untuk Bo=0,34
tesla, frekuensi resonansi adalah o=2x9,273x10-24J/T x 0,34T/(6,63x10-34 Js)= 9,5x109 Hz atau 9,5
GHz (microwave). Gambar Gb.9.3b di atas memperlihatkan signal ESR hasil transisi absorpsi.
Berdasarkan alasan teknis, signal ESR yang diamati merupakan turunan dari signal absorpsi. Sinyal
absorpsi spin elektron bias pecah jika elektron berinteraksi dengan inti atom disekitarnya. Oleh sebab
itu, spektroskopi ESR dapat dipakai untuk menentukan struktur molekul.
Mirip dengan elektron, momen dipol magnet suatu proton (inti atom H) adalah

139
 N 
N  gN I (9.2.5)

di mana magneton Bohr proton  N  e / 2mN  5,050 x10 JT dan faktor Lande gN=5,585.
27 1

Andaikanlah momen dipol magnet merasakan medan magnet statik yang harga efektifnya Bo.
Interaksi dipol itu dengan medan magnet tersebut adalah

     
Hˆ   N . Bo   g N N I . Bo   g N N Bo Iˆz (9.2.6)
 

Dengan fungsi spin proton α dan β maka energi keadaan masing-masing adalah

N
E   g N Bo  Sˆ z    1 2 g N  N Bo
 (9.2.7)
N
E   g N Bo  Iˆz   1
2 g N  N Bo

Jadi, frekuensi resonansi adalah

E 
o   g N N Bo   N Bo (9.2.8)
 

N
di mana  N  g N disebut rasio giromagnetik inti. Dalam prakteknya, frekuensi di atas adalah

frekuensi medan magnet bolak-balik yang diberikan tegak lurus terhadap medan luar. Sesuai dengan
persamaan (9.20), frekuensi 100 MHz identik dengan medan magnet 2,348 T.
Sesungguhnya, medan efektif yang dirasakan proton di dalam molekul, lebih kecil daripada
medan yang diberikan dari luar. Hal ini disebabkan oleh adanya effek perisai yang ditimbulkan oleh
elektron-elektron atau awan elektron di sekitar proton. Jadi, jika B adalah medan magnet luar yang
diberikan maka medan efektip Bo yang dirasakan oleh proton dituliskan seperti:

Bo  B(1   ) (9.21)(9.2.9)

di mana  disebut konstanta perisai (shielding) yang di alami proton karena kehadiran awan elektron
di sekitarnya. Oleh sebab itu persamaan (9.2.8) harus dituliskan seperti

E 
o   g N N B(1   ) (9.2.10)
 

Andaikan suatu alat NMR beroperasi pada frekuensi tetap ωo dan cuplikan yang di amati adalah suatu
senyawa yang mengandung dua proton yang berbeda lingkungan kimiawinya, misalnya proton-1
dengan tetapan perisai 1 dan proton-2 dengan 2 di mana 1>2. Maka Bo= B1(1-1)= B2(1-2),
sehingga B1>B2. Signal NMR-nya adalah seperti Gb. 9.4.
Perbedaan posisi absorpsi suatu proton dengan posisi absorpsi proton acuan didefenisikan
sebagai pergeseran kimia (chemical shift). Senyawa acuan yang biasa digunakan adalah
tetrametilsilan (TMS) Si(CH3)4. Keempat metil memiliki tetapan perisai yang sama besar sehingga

140
memberikan satu signal absorpsi yang besar pada medan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
semua proton molekul organik. Jadi, konstanta perisainya paling besar.

H(2) TMS
H(1)

B2B1 B

Gb. 9.4 Sinyal NMR dari dua proton yang berbeda lingkungan.

9.3 Radiasi Semi-Klasik


Secara klasik Hamiltonian suatu elektron dalam medan elektromagnet adalah:
  2
( p  eA )
Hˆ EM   e
2m (9.3.1)
 2 2 e   e2 2
   iA.  A  e
2m m 2m

di mana dan A masing-masing adalah potensial skalar dan potensial vektor dari medan
elektromagnet, yang memenuhi persamaan:
  
B  xA

  A (9.3.2)
E   
t

Dalam daerah-daerah yang tidak mengandung muatan bebas, potensial skalar haruslah sama
dengan nol. Selain itu, jika medan cukup lemah maka A2 dapat diabaikan. Dengan asumsi-asumsi itu
maka Hamiltonian dalam persamaan (9.2.1) berubah menjadi lebih sederhana seperti berikut:

2 2 e  
Hˆ EM     iA . (9.3.3)
2m m

Selanjutnya, jika elektron tersebut terikat dalam atom, Hamiltonian di atas harus dilengkapi dengan
potensial V,
2 2 e  
Hˆ     V  iA. (9.3.4)
2m m

Jelaslah bahwa suku ketiga merupakan gangguanterhadap suku-suku sebelumnya; untuk itu dapat
dituliskan

141
2 2
Hˆ (0) (r )    V
2m (9.3.5)
e   e   eA
Gˆ (r , t )   iA .  A . p  pˆ o
m m m

di mana po adalah komponen momentum pada arah A .
Andaikanlah gelombang elektromagnetik berupa gelombang bidang, sehingga potensial
vektor dapat diungkapkan oleh:
 

 
A  Ao e i ( k .r t )  e i ( k .r t )  (9.3.6)

 
di mana bidang polarisasi gelombang tegak lurus arah penjalaran (transversal), A. k  0 . Merujuk
pada persamaan (9.1.7) maka diperoleh

1  (1) e if  1
i (  )T i (if  )T
1 ( 2) e
a fi (T )   G fi  G fi  (9.3.7)
  if   if   
dengan

G (fi1)  e
Ao
me   
( 0 ) ik . r
f e 
pˆ o  i( 0) dv
(9.3.8)
G ( 2)
fi
A



 e o   (f0) e ik .r pˆ o  i( 0) dv
me

Selanjutnya, untuk kasus absorpsi, misalnya di sekitar =fi (lihat Gb.9.1a), maka suku kedua dalam
persamaan (9.3.7) dapat diabaikan. Dengan demikian maka peluang bertransisi sebanding dengan:

2 2 sin 2 ( fi   )T / 2
a fi (T )  G (fi1) (9.31)(9.3.9)
[( fi   ) / 2]2

Persamaan ini mirip dengan persamaan (9.1.10). Untuk kasus emisi di mana fi=-atauif=, (lihat
Gb.9.1b) transisi berlangsung dari tingkat energi Eiyang lebih tinggi ke Ef yang lebih rendah. Jadi,
suku kedua dari persamaan (9.3.7) menjadi dominant. Peluang bertransisi sama dengan persamaan
(9.3.9) dengan menggunakan fi+.
Masalah yang belum dibahas adalah bagaiman menghitung Gfi dalam persamaan (9.3.8).
Untuk itu, pertama-tama dilakukan penguraian eksponensial berikut:


ik .r
  (k .r ) 2
e  1  ik .r   ..... (9.3.10)
2

Jika diambil aproksimasi paling kasar (disebut aproksimasi dipol) maka integral dalam persamaan
(9.3.7) adalah:

142


( 0)
f e 
ik .r

pˆ o  i
( 0)
dv    (0)
f pˆ o  i
( 0)
dv  me   ( 0)
f
dr ( 0)
dt
 i dv

Tetapi, sesuai dengan persamaan gerak Heisenberg yang diungkapakan dalam paragraf 2.6 maka

 f
(0)

pˆ o i(0) dv  m(i / )   (f0) Hˆ (0) rˆo  rˆo Hˆ o i(0) dv 
 (9.3.11)
 im fi   (f0) ro i(0) dv
dan selanjutnya:

eAo  fi 
G (fi1)  i  r  i( 0) dv
( 0)
f o (9.3.12)


karena integral e   (f0) ro  i( 0) dv merupakan momen dipoltransisi. Itu sebabnya aproksimasi di atas
disebut aproksimasi dipol.

9.4 Dispersi Cahaya; Kekuatan Osilator


Dalam teori optik klassik, indeks bias material, n,diturunkan dari persamaan

n 2  1 4
 N (9.4.1)
n2  2 3

dengan N adalah jumlah atom per satuan volume dari material, dan  polarizabilitas atomik.
Polarizabilitas itu merupakan respons material terhadap medan listrik, ,untuk menginduksikan 
momen dipol listrik:

 ind   (9.4.2)

Dalam paragraph 9.1 telah dikemukakan interaksi antara atom dan gelombang elektromagnet.
Dari persamaan (9.3.5) interaksi itu dalam bentuk gangguan adalah:

e 
i( A.)  ge it  g  e it
G (t ) 
m (9.4.3)
g
e
 o po
2m

di mana po adalah komponen momentum elektron searah potensial vektor A . Karena gangguan itu,
terjadi pergeseran fungsi keadaan dasar molekul dari  o(0) (r ) ke  o (r ) . Pergeseran itulah yang
menginduksikan momen dipol:

 ind    o ˆ o dv    o( 0) ˆ o( 0) dv (9.4.4)

Sesuai dengan persamaan (9.1.4), fungsi gelombang keadaan dasar atom dapat dituliskan

143
seperti:

 o (r , t )   o(0) (r , t )   al (t )  l(0) (r , t ) (9.4.5)


l o

Dalam persamaan ini,  l (r , t )   l (r ) exp( iE l t / ) di mana  l (r ) adalah fungsi-fungsi


( 0) ( 0) ( 0) ( 0)

keadaan eksitasi yang belum terganggu. Mengacu pada persamaan (9.3.8) maka fungsi keadaan dasar
adalah

 (r , t )   o (r )e iEot / 
  o( 0) gˆ o( 0) dv e i (l 0  )T 
 (1 / )   
  o( 0) gˆ  o( 0) dve i (l 0  )T    e iEl t /  (9.4.6)
l 0
 l 0   l 0    l
 

di mana l 0  ( El  Eo ) /   0 . Untuk kasus absorpsi suku kedua dalam persamaan (9.4.6)


( 0) ( 0)

dapat diabaikan, sehingga

   o( 0) gˆ o( 0) dv  

 (r , t )   o (r )  (e / ) 
it     e iEot /  (9.4.7)
 l 0  l 0    
  

Substitusi persamaan ini ke persamaan(9.4.4) menghasilkan


 ind  
1

1
 l 0 l 0   

 o( 0) ˆ o( 0) dv  l
(0)
gˆ o( 0) dv  l( 0) gˆ  o( 0) e it

 
(9.4.9)
   ˆ dv
l
(0) (0)
o   l
(0)
gˆ dv e
( 0)
o
*
it

Karena sifat hermit,   l( 0) ˆ o( 0) dv    o( 0) ˆ l dv .dan dari persamaan(9.4.3)

e o 
 gˆ o( 0) dv     l( 0) pˆ  o( 0) dv  i o   l(0) ˆ o o( 0) dv
( 0)

2me
l
2

maka persamaan (9.4.9) menjadi

 o  1 

 ind  i 
2  
   o( 0) ˆ l( 0 ) dv   l( 0 ) ˆ o o( 0) dv e it
l 0  l0   


   o( 0 ) ˆ l( 0) dv   l( 0) ˆ o o( 0 ) dv e it*
(9.4.10)

o  1 
 
   
 l  0  l 0    
  o( 0) ˆ l( 0 ) dv   l( 0 ) ˆ o o( 0) dv sin t

Selanjutnya, dengan memberlakukan harga rata-rata:

144
2 2

 l ˆ o dv   l ˆ o dv
( 0) ( 0) 1 ( 0) ( 0)
3

akhirnya diperoleh
2
  ˆ o( 0) dv
( 0)


l
 ind  o sin t . (9.4.11)
3 l 0 l 0  

Mengacu ke persamaan klasik (9.4.2) dengan E=Eosint, maka dari persamaan (9.4.11)
diperoleh polarizabilitas atomik,

2 2

  l ˆ o dv (l 0   )   l( 0) ˆ o( 0) dv


( 0) (0)
1 1
 
3 l 0 (l 0   )
 
3 l 0 (l20   2 )

yang dapat didekati dengan


2

  l ˆ o dv
( 0) (0)
2
  
3 l 0 (l20   2 )
(9.4.12)

Sekarang didefinisikan kekuatan osilator sebagai berikut:

2me 2

3e 2 
fl   l
( 0)

ˆ  ( 0)
o dv (9.4.13)

Selanjutnya dengan itu maka sesuai persamaan)(9.4.1), indeks bias adalah

n 2  1 4 e 2 fl
n2  2

3
N
me
 l 0
2
2
(9.4.14)
l0

Terlihat jelas bahwa indeks bias bahan bergantung pada frekuensi cahaya yang melalui bahan. Inilah
ciri dari sifat dispersif dari bahan.

145
Soal-soal
9.1. Buktikanlah persamaan (9.1.10a) dan (9.1.10b).

9.2. Dengan menggunakan konsep persamaan gerak Heisenberg, buktikanlah persamaan (9.3.11)

9.3. Gunakanlah persamaan (9.45) untuk menghitung polarizabilitas dengan menggunakan komponen
momen dipol  z  er cos  .

9.4. Tinjaulah sistem dua tingkat yang sebelum gangguan memenuhi,

Hˆ ( 0) (j0)  E (j 0) (j0) ; j  1, 2.

Dengan memberikan gangguan W=Wo cos t , misalkan fungsi keadaan adalah

( 0) ( 0)
iE1 t /  iE2 t / 
 (r , t )  a1 (t )1(0) (r )e  a2 (t ) 2( 0) (r )e

(a) Turunkanlah persamaan terkopel berikut:

da1 1 da 2 1
i  W12e it a 2 ; i  W21e it a1
dt 2 dt 2
di mana

Wij   i( 0) W  (j0)

  (  21 )  21, 21  ( E2(0)  E1(0) ) /   0.

(b) Carilah solusi persamaan terkopel di atas.

146
BAB 10
ATOM DENGAN SEJUMLAH ELEKTRON
Dalam Bab 6 telah dibahas atom dengan satu elektron. Di sana energi potensial yang dimiliki elektron
hanya berasal dari inti saja. Jika atom mengandung sejumlah elektron, energi potensial yang dimiliki
satu elektron tidak saja berasal dari inti, tapi juga dari elektron-elektron lainnya. Dengan demikian
maka jarak elektron-elektron merupakan variabel di dalam persamaan Schrödinger. Padahal fungsi
gelombang yang sudah dikenal adalah fungsi gelombang (s, p, d,…) yang bervariabel jarak elektron-
inti. Selain itu, karena ada sejumlah elektron maka fungsi gelombang sistem elektron harus meliput
spin-spin elektron bersangkutan untuk memenuhi aturan Pauli..

10.1 Atom Helium dalam keadaan dasar


Atom helium memiliki dua elektron yang bergerak dalam medan listrik inti bermuatan Z= +2e. Selain
interaksi tarikan dari inti, kedua elektron saling tolak-menolak dengan gaya Coulomb. Dengan
melabeli elektron dengan 1 dan 2, suatu atom helium diperlihatkan dalam Gb. 10.1

1 2 -e
-e r12 1s
r2
r1

+2e
Gb. 10.1 Atom helium

Hamiltonian kedua elektron adalah

Hˆ  Hˆ 1c  Hˆ 2c  Vee (10.1.1)
dengan
2 2 2e 2
H ic   i  ; i  1, 2 (10.1.2a)
2m 4 o r i
e2
Vee  (10.1.2b)
4 o r 12

Masing-masing H1c dan H 2c mirip dengan Hamiltonian elektron dari atom berelektron tunggal
(dengan Z=2), sedangkan suku Vee adalah potensial Coulomb antara elektron-elektron dengan r12
adalah jarak antara keduaa.
Fungsi gelombang kedua elektron bisa dipandang sebagai perkalian fungsi masing-masing
elektron. Dengan orbital 1s keadaan dasar itu adalah

 0 (r1 , r2 )  1s (r1 )1s (r2 ) (10.1.3)


di mana
3/ 2
1  2  2 ri / a0
1s (ri )    e ; i  1,2.
  a0 
(10.1.4)

147
Energi keadaan dasar tersebut adalah
E0   0 Hˆ  0 dV1dV2
*

(10.1.5)
  0 Hˆ 1c 0 dV1dV2   0 * Hˆ 2c 0 dV1dV2   0 *Vee  0 dV1dV2
*

Perhitungan suku pertama dan kedua adalah sebagai berikut

 Hˆ 1c 0 dV1 dV2   1*s (r1 ) Hˆ 1c1s (r1 )dV1  1*s (r2 ) 1s (r2 )dV2
*
0

4e 2

 54,4 eV
8 0 a0

 0 Hˆ 2 0 dV1dV2   1s (r2 ) Hˆ 2 1s (r2 )dV2  1s (r1 ) 1s (r1 )dV1
* c * c *

4e 2
  54,4 eV
8 0 a0
di mana telah dipakai sifat  1*s (r1 )1s (r1 )dV1   1*s (r2 )1s (r2 )dV2  1 . Untuk suku ketiga
e2 1
 0 Vee  0 dV1dV2   1*s (r1 )1*s (r2 ) 1s (r1 )1s (r2 )dV1dV2
*

4 0 r12
Terlihat bahwa variabel jarak di dalam orbital-orbital yang digunakan r1 dan r2, adalah jarak
elektron-inti sedangkan r12 adalah jarak elektron-elektron Hal itu menyebabkan perhitungan energi
potensial elektron-elektron, menjadi sulit. Untuk sementara persamaan (10.1.5) menjadi

e2 1
E0  108,8 eV 
4 0  1*s (r1 )1*s (r2 ) 1s (r1 )1s (r2 )dV1dV2
r12
(10.1.6)

Hasil eksperimen menunjukkan energi keadaan dasar atom helium adalah -79 eV. Itu artinya energi
interaksi itu sangat penting untuk dihitung. Ada dua cara untuk menghitung energi potensial elektron-
elektron itu, (i) menggunakan teori gangguan dan (ii) menggunakan metoda variasi.

Teori Gangguan
Suku kedua dalam persamaan (10.6) dipandang sebagai koreksi order-1 terhadap energi

e2 1
E (1) 
4 0  1*s (r1 )1*s (r2 ) 1s (r1 )1s (r2 )dV1dV2
r12
6
(10.1.7)
e2 1  2  1 2
e
 4 r1 / a0  4 r2 / a0
   e r1 dr1 sin 1 d1 d1r22 dr2 sin  2 d 2 d 2
4 o  2  a0  r12

Aproksimasi yang perlu dilakukan adalah bagaimana menghubungkan jarak elektron-elektron r12
menjadi jarak-jarak inti-elektron. Untuk itu 1/r12 dapat dinyatakan sebagai superposisi produk fungsi-
fungsi harmonis sebagai berikut:


1 
1 r *
  Ym  (1 , 1 )Ym ( 2 ,  2 ) (10.1.8)
r12  0 m   2  1 r 1

148
di mana simbol r< menyatakan jarak yang lebih kecil dari pada r1 dan r> menyatakan
jarak yang lebih besar dari pada r2; untuk jelasnya lihat Jackson (1975). Persamaan (10.7) menjadi

6  
e2 1  2  1  4 r1 / a0  4 r2 / a0 r

E 
(1)
 
4 o  2  a0 
  
 m 2  1 r1 0 r2 0
e e
r
r 2 dr1r22 dr2 
 1 1

2  2 
     Ym  (1 ,1 )Ym ( 2 ,2 ) sin 1 d1 d1 sin  2 d 2 d2
*

(10.1.9)
1 0 1 0 2 0  2 0

Untuk dapat menyelesaikan persamaan di atas digunakan fungsi harmonik bola Y00 dari persamaan
(5.3.13). Kalikan dan bagikanlah persamaan (10.1.9) dengan

1
Y00 (1 ,1 )Y00* ( 2 ,2 ) 
4
dengan susunan sebagai berikut.

6 
e2  2  1  4 r1 / a0  4 r2 / a0 r

E (1)
 2 
  o  a0
  2  1   e e r 2 dr1r22 dr2
 1 1
  m 0 0 r
 2
   Ym  (1 , 1 )Yoo (1 , 1 ) sin 1 d1 d1
*

1 0 1 0
 2
   Y00 ( 2 , 2 )Ym ( 2 , 2 ) sin  2 d 2 d2
*

 2  0 2  0

Berdasarkan sifat fungsi harmonik bola berlaku


 2

  Ym (1 , 1 )Yoo (1 , 1 ) sin 1 d1 d1 


*

1 0 1 0
 2

  Y00 ( 2 , 2 )Ym ( 2 , 2 ) sin  2 d 2 d2   0 0m


*
 
 2  0 2  0

Maka dengan   0, m  0 diperoleh

6
e2  2  1 2
 e
4 r1 / a0 4 r2 / a0
E (1)
 2   e r1 dr1r22 dr2 (10.1.10)
  o  a0  0 0
r

Sekarang masalahnya adalah bagaimana cara memperlakukan r> dalam integral. Itu dilakukan
bertahap. Integralkan r1 dari 0 ke r2 dengan r>=r2, lalu dari r2 ke  dengan r>=r1. Dengan itu maka
persamaan (10.1.10) menjadi

149
e2  2 
6
r2 r 2 
r12 
 e 4r2 / a0 r22   dr1   e 4 r1 / a0
4 r1 / a0
E (1)
 2   1
e dr1  dr2
  o  a0  0  0 r2 r2
r1 

e2  2  
 4r2 / a0  2 2 4 r1 / a0 
6  r    
2
 2    e r2  r1 e dr1 dr2   e 4r2 / a0 r2  e 4 r / a
1 0
r1dr1  dr2 
  o  a0   0    
0  0 r
2  
Dengan menggunakan rumus-rumus integral 5, 6, dan 7 dalam Apendiks 2 diperoleh hasil akhir

5 2e 2
E (1)
   34 eV (10.1.11)
8 4 0 a0
sehingga
E0  108,8  34  74,82 eV (10.1.12)

Dibandingkan dengan hasil eksperimen yang -79eV, hasil di atas menyimpang 5,3% .

Metoda Variasi
Dalam atom helium, satu elektron bisa lebih dekat ke inti sehingga elektron yang lain mengalami
medan inti yang lebih kecil; lihat Gb. 10.2. Dengan pandangan itu maka

r12 -e
-e
r1 r2

+2e

Gb. 10.2 Elektron terluar mengalami medan inti lebih kecil.

nomor atom Z=2 bisa diganti dengan  yang harganya 1<<2. Hamiltonian dalam persamaan (10.1.1)
dituliskan sebagai berikut:


Hˆ  H1c  H 2c  
(  2)e 2 (  2)e 2
4 o r 1
 
e2
4 o r 2 4 o r12
(10.1.13a)

dengan
2 2  e2
H 1c  1 
2 me 4 o r 1
(10.1.13b)
2 2  e2
H 2c   2 
2 me 4 o r 2

Untuk menghitung energi keadaan dasar atom helium, misalkan fungsi gelombang elektron dalam
keadaan dasar itu adalah
3
1     r / a  r / a
 0  1s (r1 )1s (r2 )    e 1 0 e 2 0 (10.1.14)
  a0 

150
Energi dihitung sebagai berikut:
E 0 ( )   0 Hˆ  0 dV1 dV2
*

   *1s (r1 ) H 1( 0)1s (r1 )dV1    *1s (r2 ) H 2( 0)1s (r2 )dV1 dV2

(  2)e 2 (  2)e 2
  *
1s (r1 ) 1s (r1 )dV1    1s (r2 )
*
1s (r2 )dV1 dV2
4 o r 1 4 o r 2
e2
   *1s (r1 ) *1s (r2 ) 1s (r1 )1s (r2 )dV1 dV2
4 o r12
atau
 2e2  2e2
E0 ( )   
8 0 a0 8 0 a0
  2e 2   * (r ) 1  (r )dV   * (r ) 1  (r )dV 
4 0    1s 2 r2 1s 2 2 
  1s 1 1s 1 1
r1
(10.1.15)
2
e 1
  (r1 ) *1s (r2 ) 1s (r1 )1s (r2 )dv1 dV2
*
1s
4 o r12

Dalam persamaan di atas telah digunakan sifat

 (r1 )1s (r1 )dV1    *1s (r2 )1s (r2 )dV2  1 .


*
1s

 2e2
Suku pertama dan kedua masing-masing menghasilkan  . Suku ketiga dan keempat
8 0 a0
dihitung sebagai berikut:
3  2
1 1  
 r e dr  sin 1 d1  d
 2 r1 / a0
*
1s (r1 ) 1s (r1 )dV1   
  a0 
1
r1 0 0 0

3
1   1 
   4 
  a0  2 / a0  2
a0

Suku kelima dihitung dengan cara perhitungan teori gangguan yang hasilnya seperti dalam persamaan
(10.11). Jadi,

e2 1 5  e2
4 o 
 1s (1) 1s (2) 1s (1)1s (2)dv1dv2 
* *

r12 8 4 0 a0

Dengan demikian maka

151
  2e2 
E ( )  2    2
  2e 2   5  e 2
 8 0 a0  4 0 a0 8 4 0 a0

 2
e2 5 
     2  2)    
4 0 a0  8 
 5 
 (27,2 eV )  2  4   
 8 

Selanjutnya, minimalisasi energi: dE / d  0 , akan memberikan   1,6875 , sehingga energi


keadaan dasar menjadi

E0  (27,2 eV)[1,6875 
27
 1,6875]  77,46 eV
2
(10.1.16)
8

Hasil ini menyimpang 2 % dari hasil eksperimen yang -79 eV. Jadi, metoda variasi
memberikan hasil yang lebih baik dari pada teori gangguan.

Contoh 10.1 Harga rata-rata 1 / r1 dan r1 dalam keadaan dasar helium


1
1 / r1   0*  0 dV
r1
6
1    r1 / a0  r2 / a0 1  r1 / a0  r2 / a0
 2  
  a0  e e
r1
e e dV1 dV2

6
1   2 r1 / a0 1 2 r2 / a0
 2 
  a0


e r1
dV1  e dV2

6  2   2
1   2 r1 / a0 1 2 r2 / a0
 2   e r dr1  sin 1 d1  d   e r dr2  sin 1d1  d
2 2

  a0 
1 2
0
r1 0 0 0 0 0

  
6
1    1  2 
 2    2 / a 2  4  2 / a 3  4 
  a0   0  0 
6 2 3
1    a0   a0 
 2       32 2
  a0   2   2 


a0

Dengan   1,6875 maka pada keadaan dasar 1 / r1   3,18 Å-1.
a0

152
6
1    r1 / a0  r2 / a0  r1 / a0  r2 / a0
r1    0* r1 0 dv  2   e e r1 e e dV1dV2
  a0 
6
1   2 r1 / a0 2 r2 / a0
 2  
  a0  e r1 dV1  e dV2

6  2   2
1   2 r1 / a0 2 r2 / a0
 2  
  a0  e
0
r1 r12 dr1  sin 1d1  d   e
0 0 0
r22 dr2  sin 1d1  d
0 0

   3 a0
6
1  
6  2 
    4  4
 2  a0
 2 / a 
  0
4  2 / a 
 0
3  2 

3 a0
Jadi, pada keadaan dasar r1   0,47 Å
2 

10.2 Atom Helium dalam Keadaan Tereksitasi


Misalkan sebuah elektron bertransisi dari orbital 1s ke orbital 2s. Ada dua fungsi basis yang
mungkin bagi keadaan eksitasi itu, yakni

1  1s (r1 ) 2 s (r2 )


(10.2.1)
 2  1s (r2 ) 2 s (r1 )

Kedua fungsi di atas adalah fungsi ruang. Dengan kombinasi linier dari kedua fungsi basis di atas
dibentuk fungsi keadaan eksitasi

  c11  c22 (10.2.2)

Bentuk maktriks Hamiltonian dalam persamaan (3.1.1) dengan menggunakan fungsi-fungsi


basis dalam persamaan (3.2.1) adalah:

 H 11 H 12 
 
ˆ
H   (10.2.3a)
H H 22 
 21
dengan
H ij   i* Hˆ  j dV (10.2.3b)

Jika energi keadaan eksitasi adalah E dan overlap antara kedua fungsi basis adalah Sij maka
persamaan sekuler adalah

 H 11  ES11 H 12  ES12  c1 
  
    0
 H  ES H 22  ES 22  c2 
 21 21

Karena

153
S ij   i* j dV   ij

maka persamaan sekuler di atas menjadi


 H 11  E H 12  c1 
  
    0 (10.2.4)
H  
 21 H 22  E  c2 

Dari determinan sekulernya diperoleh

E 2  ( H11  H 22 ) E  ( H11H 22  H12 H 22 )  0


sehingga
E  1 2 ( H11  H 22 )  1 2 ( H11  H 22 ) 2  4H12 H 21 (10.2.5)

Elemen-elemen matriks Hij dihitung satu-persatu sebagai berikut:

H 11   1* Hˆ 1 dV

 
  1*s (r1 ) 2*s (r2 ) Hˆ 1c  Hˆ 2c  Vee 1s (r1 ) 2 s (r2 )dV1 dV2

  1*s (r1 ) Hˆ 1c1s (r1 )dV1   2*s (r2 ) 2 s (r2 )dV2   1*s (r1 )1s (r1 )dV1   2*s (r2 ) Hˆ 2c 2 s (r2 )dV2

  1*s (r1 ) 2*s (r2 ) Vee1s (r1 ) 2 s (r2 )dV1dV2


 E1s (1)  E2 s (2)  J1s 2 s
di mana
J 1s 2 s   1*s (r1 ) 2*s (r2 ) Vee1s (r1 ) 2 s (r2 )dV1dV2
e2 1 (10.2.6a)

4 0  1*s (r1 ) 2*s (r2 ) 1s (r1 ) 2 s (r2 )dV1dV2
r12

Karena e1*s (r1 )1s (r1 ) adalah kerapatan elektron di r1 dan e 2*s (r2 ) 2 s (r2 ) adalah kerapatan
elektron di r2 maka J1s2s menggambarkan potensial Coulomb. Itu sebabnya J1s2s disebut potensial
Coulomb antara kedua elektron.
Dengan cara yang sama diperoleh

H 22  E2 s (1)  E1s (2)  J 2 s1s

H 22  H11 karena E1s (1)  E1s (2) , E2 s (1)  E2 s (2) dan J 1s 2 s  J 2 s1s . Selanjutnya
diperoleh
H 12  K1s 2 s
di mana

154
K1s 2 s   1*Vee 2 dV
e2 1 (10.2.6b)

4 0  1*s (r1 ) 2*s (r2 ) 1s (r2 ) 2 s (r1 )dV1dV2
r12

K1s2s disebut potensial tukar (exchange) antara kedua elektron. Dalam hal ini terjadi pertukaran
elektron antara orbital 1s dan  2 s . Potensial ini tak mempunyai analogi klassik, ini muncul sebagai
koreksi kuantum terhadap Coulomb.
Substitusi elemen-elemen matriks di atas ke persamaan (3.2.5) menghasilkan

E1(  )  E1s  E2 s  J1s 2 s  K1s 2 s


(0.2.7)
E1( )  E1s  E2 s  J 1s 2 s  K1s 2 s

Terlihat, jika interaksi elektron-elektron diabaikan kedua fungsi dalam persamaan (3.23.7) memiliki
energi yang sama (berdegenerasi). Tapi jika interaksi elektron-elektron itu tidak diabaikan kedua
fungsi keadaan itu akan terpisah dengan tingkat-tingkat energi yang berbeda 2K1s2s.
Selanjutnya, substitusi masing-masing energi itu ke persamaan sekuler akan menghasilkan
koefisien-koefisien ci yang diperlukan untuk membentuk fungsi keadaan tereksitasi. Hasilnya adalah

E1(  )   1(  ) 
1
1  2 
2
; (10.2.8a)

1
1s (r1 ) 2 s (r2 )  1s (r2 ) 2 s (r1 )
2
E1(  )   1(  ) 
1
1  2 
2
(10.2.8b)

1
1s (r1 ) 2 s (r2 )  1s (r2 ) 2 s (r1 )
2

Jika jarak antara kedua elektron r120 atau r1=r2 maka 1s (r1 ) 2 s (r2 )  . 1s (r2 )2 s (r1 ) .
Akibatnya,
r1  r2 :  1(  ) 
1
21s (r1 ) 2 s (r2 )
2 (10.2.9)
 1( ) 0

2 2
Dalam Gb. 10.3 diperlihatkan kerapatan peluang  1(  ) dan  1(  ) ; lihat Atkins et al. (2005). Ketika
2
r12=0,  1(  ) =0; artinya tidak ada peluang menemukan kedua elektron pada posisi yang sama dengan

fungsi keadaan tereksitasi  1(  ) . Tetapi, justru peluang itu maksimum dengan fungsi keadaan
tereksitasi  ()
1 . Cekungan  () 2
1 =0 disebut lubang Fermi. Ini menunjukkan bahwa kedua elektron

155
pada fungsi keadaan  1(  ) cenderung menghindar satu sama lain. Itu sebabnya energi keadaannya
lebih rendah daripada  1(  ) .
2
 () 2  1(  )
1

0 r12 0 r12
2 2
Gb. 10.3 Kerapatan peluang  1(  ) dan  1(  ) ; Atkins et al. (2005).

Sekarang misalkan sebuah elektron bertransisi dari orbital 1s ke orbital 2p. Perhitungan
untuk keadaan eksitasi ini dapat dilakukan seperti cara di atas. Hasil perhitungan energi dan fungsi-
fungsi bersangkutan adalah

E 2(  )  E1s  E 2 p  J 1s 2 p  K1s 2 p
(10.2.10)
E 2( )  E1s  E 2 p  J 1s 2 p  K1s 2 p

 2(  ) 
1
 1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 ) 
2 . (10.2.11)
 ( )
2 
1
 1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 ) 
2

Pembahasan di atas telah menggunakan orbital-orbital atom hidrogen. Dalam bab 2


dikemukakan bahwa energi hanya ditentukan oleh bilangan kuantum n. Jadi, orbital-orbital 2s,
2px,2py, dan 2pz, berdegenerasi-4 dengan energi E2s=E2p. Jadi, energi E1(  ) dalam persamaan
(3.2.7) dan energi E 2(  ) dalam persamaan (3.2.10) hanya dibedakan oleh energi potensial Coulomb
dan energi potensial tukar. Jika interaksi elektron-elektron diperlakukan sebagai gangguan seperti
dalam paragraf 10.1, akan diperoleh (lihat Levine 1991),

17 Ze 2 16 Ze 2
J 1s 2 s   11.42 eV ; K1s 2 s   1,19 eV
81 4 0 a0 729 4 0 a0
(10.2.12)
59 Ze 2 112 Ze 2
J 1s 2 p   13.21eV ; K1s 2 p   0,93 eV
243 4 0 a0 6561 4 0 a0

Dengan demikian energi-energi keadaan eksitasi adalah

156
E1(  )  E1s  E 2 s  12,61 eV
E1(  )  E1s  E 2 s  10,23 eV
(10.2.13)
E 2(  )  E1s  E 2 p  14.14 eV
E 2(  )  E1s  E 2 p  12.28 eV

di mana E1s+E2s= E1s+E2p=-68eV. Energi-energi keadaan eksitasi itu diperlihatkan dalam Gb. 10.4.

E 2(  )
E1(  )(  ) 2 K1s2p
E2
2 K1s2s
()
E 1

J1s2p
J1s2s

E1s  E2 s
E1s  E2 p

Gb. 10.4 Energi-energi keadaan eksitasi-1 dan -2.

Contoh 10.2 Harga rata-rata 1 / r1 dan r1 dalam keadaan tereksitasi

Tinjau keadaan tereksitasi  2(  ) 


1
 1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 ) 
2
1
1 / r1   2(  )*  2(  ) dV
r1


  1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 )  r1 
*
1s 
(r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 ) dV1 dV2
1

1 1
  1s (r1 ) 1s (r1 )dV1   2* p (r2 ) 2 p (r2 )dV2   1s (r1 )  2 p (r1 )dV1   2* p (r2 )1s (r2 )dV2
r1 r1
1 1
  1s (r2 ) 2 p (r2 )dV2   2* p (r1 ) 1s (r1 )dV1   1s (r2 )1s (r2 )dV2   2* p (r1 )  2 p (r1 )dV1
r1 r1

Gunakan sifat ortonormal dari orbital-orbital atom hidrogen:

 (r2 )1s (r2 )dV2    2* p (r2 ) 2 p (r2 )dV2  1 ,   2* p (r2 )1s (r2 )dV2   1s (r2 ) 2 p (r2 )dV2  0

1s

dan ambil  2 p =  2 pz , maka

157
1 1
1 / r1   1s (r1 ) 1s (r1 )dV1    2* p (r1 )  2 p (r1 )dV1
r1 r1
3  2
1  2 r1 / a0 1 2
  
  a0  e
0
r1
r1 dr1  sin 1d1  d1
0 0

5  2
1    r1 / a0 1 2
   e r1 dr  cos 2 1 sin 1d1  d1
2
r
32
1
 a0  0
r1 10 0

3 5
1  1 1   6 4 5 
   4    
  a0  (2 / a0 ) 2
32  a0  ( / a0 ) 3
4
4 a0

Jadi, pada keadaan tereksitasi 1 / r1  3,98 Å-1. Bandingkan dengan 1/ r1  3,18 Å-1 pada keadaan
dasar dalam Contoh 10.1.
 * 
r1   1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 ) r1 1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 ) dV1dV2 
  1s (r1 )r11s (r1 )dV1    2* p (r1 )r1 2 p (r1 )dV1
3  2
1   2 r1 / a0
 
  a0


e
0
r1 r12 dr1  sin 1 d1  d1
0 0

5  2
1    r1 / a0
   e r12 r1 r12 dr  cos 1 sin 1d1  d1
2

32  a0  0 10 0

3 5
1   6 1   120 4 a
   4     6,5 0
  a0  (2 / a 0 )
4
32  a 0  ( / a 0 ) 3
6

a0
Jadi, pada keadaan tereksitasi r1  6,5  2,04 Å. Bandingkan dengan r1  0,47 Å pada

keadaan dasar; lihat Contoh 10.1.

10.3 Prinsip Pauli; Determinan Slater


Menurut Pauli, suatu fungsi ruang (r1,r2) harus dilengkapi spin-spin elektron melalui perkalian
dengan fungsi spinnya. Misalkan fungsi spin dua elektron adalah (1,2) maka

(1,2)   (r1 , r2 )  (1,2) (10.3.1)

Selanjutnya, suatu fungsi lengkap  dari suatu sistem elektron harus bersifat antisimetrik terhadap
pertukaran elektron. Jika (r1,r2) adalah fungsi ruang yang simetrik terhadap pertukaran elektron
maka  (1,2) harus antisimetrik terhadap pertukaran elektron yang sama, demikian juga sebaliknya.
Dalam persamaan (10.1.3) fungsi ruang dari keadaan dasar helium:

 0 (r1 , r2 )  1s (r1 )1s (r2 ) ; simetrik (10.3.2)

158
adalah simetrik terhadap pertukaran elektron. Pada keadaan dasar itu spin-spin kedua elektron
berlawanan arah satu sama lain sehingga total spin S=0, dan ms=0; ini disebut singlet. Lihat Gb. 10.5
a). Fungsi spin dari kedua elektron dalam keadaan dasar helium adalah

 (1,2)  1
2
 (1) (2)   (2) (1) antisimetrik (10.3.3)

Fungsi itu antisimetrik terhadap pertukaran elektron. Artinya, dengan mempertukarkan


elektron diperoleh fungsi yang sama dengan negatifnya fungsi semula. Jadi, fungsi keadaan dasar
secara lengkap dituliskan seperti

0  1
2
1s (r1 )1s (r2 )  (1) (2)   (2) (1) (10.3.4)

Fungsi  1(  ) dalam persamaan (3.2.8a) adalah fungsi ruang yang simetrik. Untuk memperoleh
fungsi lengkap, fungsi itu harus dikalikan dengan fungsi spin yang anti simetrik (keadaan singlet)
seperti dalam persamaan (10.3.3):

1(  ) 
1
1s (r1 ) 2s (r2 )  1s (r2 ) 2 s (r1 ) 1
 (1)  (2)   (2)  (1) (10.3.5)
2 2

2s

a)
1s

0
2s 2s
b) atau
1s 1s

1(  )
2s 2s
c) atau
1s 1s

1(  )

Gb. 10.5 Keadaan a) dasar, b) tereksitasi singlet dan c) tereksitasi triplet.

Lihat Gb. 10.5 b). Berbeda halnya dengan fungsi keadaan tereksitai  1(  ) ‟ Fungsi ini antisimetrik
terhadap pertukaran elektron. Jika fungsi itu dilengkapi dengan fungsi spin maka fungsi spin itu harus
simetrik. Itu artinya kedua spin harus searah sehingga total spin S=1 dan ms=-1,0,1. Lihat Gb. 10.5
c). Keadaan ini disebut triplet dan fungsi-fungsi spin kedua elektron adalah

159
  (1) (2)

   12  (1)  (2)   (2)  (1) simetrik (10.3.6)

  (1)  (2)

Dengan demikian maka fungsi keadaan tereksitai  1(  ) secara lengkap dituliskan seperti

  (1) (2)



1(  )  2 1s (r1 ) 2 s (r2 )  1s (r2 ) 2 s (r1 ) 12  (1)  (2)   (2)  (1)
1
(10.3.7)


  (1)  (2)

2
Keadaan di mana  1(  )  0 di r1=r2 (disebut lubang Fermi) dikaitkan dengan keadaan S=1. Dapat
disimpulkan bahwa dua elektron dengan spin yang searah akan saling menjauhi.
Eksitasi elektron dari orbital atom 1s ke orbital 2p akan menghasilkan fungsi-fungsi keadaan
eksitasi 2(  ) dan 2(  ) masing-masing simetrik dan antisimetrik terhadap pertukaran elektron.
Secara umum fungsi keadaan lengkapnya masing-masing adalah

2(  ) 
1
 
1s (r1 )2 p (r2 )  1s (r2 )2 p (r1 )
1
 (1)  (2)   (2)  (1) (10.3.9)
2 2

  (1) (2)

2(  )  1
2
 
1s (r1 ) 2 p (r2 )  1s (r2 ) 2 p (r1 )  12  (2)  (1)   (2)  (1) (10.3.9)

  (1)  (2)

Dari hal-hal diatas, terlihat bahwa
(i) Setiap fungsi ruang yang simetrik adalah singlet dan yang antisimetrik adalah triplet.
(ii) Energi keadaan eksitasi triplet selalu lebih rendah daripada energi eksitasi keadaan singlet
Struktur elektronik keadaan dasar 0 , keadaan tereksitasi singlet 1(  ) dan triplet 1(  )
diperlihatkan dalam Gb. 10.5.

Contoh 10.3 Momen transisi


Transisi elektron dari satu keadaan ke keadaan lain, harus memenuhi selection rules,

n 1, 2, .......
  1 (10.3.10)
m  0,  1
Lakukan perhitungan momen transisi dengan komponen dipol listrik z=-e(z1+z2) antara keadaan
dasar dan keadaan-keadaan tereksitasi.

160
a) 0  1(  ) : ℓ=0, kedua keadaan memiliki fungsi ruang yang sama-sama simetrik.

1  e  0 ( z1  z 2 ) 1 dV1 dV2 =0;


()
M 0(
z) *

Transisi 0  1(  ) terlarang.

b) 0  1(  ) : ℓ=0, kedua keadaan memiliki fungsi ruang yang berbeda simetri.

2   e  0 ( z1  z 2 ) 2 dV1 dV2 =0;


( )
M 0(
z) *

Transisi 0  1(  ) terlarang.

c) 0  2(  ) : ℓ=1, kedua keadaan memiliki fungsi ruang yang sama-sama simetrik.

2   e  0 ( z1  z 2 ) 2 dV1 dV2
()
M 0(
z) *

1 *
 e
2  1s (r1 )1*s (r2 )(r1 cos 1  r2 cos  2 )

 
 1s (r1 ) 2 pz (r2 )  1s (r2 ) 2 pz (r1 ) dV1dV2
.
  (1)  (2)   (2)  (1)  (1)  (2)   (2)  (1)

 e  1*s (1)(r1 cos 1 ) 2 pz (1)dV1   1*s (2)(r2 cos  2 ) 2 pz (2)dV2

 0,745 ea o  2
 1,49ea 0
Transisi 0  2(  ) diperbolehkan.

d) 0  2(  ) : ℓ=1, kedua keadaan memiliki fungsi ruang yang berbeda simetri

M 0( z )2  e  1(  )* ( z1  z 2 )2(  ) dV1dV2

1 *
 e
2  1s (r1 )1*s (r2 )(r1 cos 1  r2 cos  2 )

 
 1s (r1 ) 2 pz (r2 )  1s (r2 ) 2 pz (r1 ) dV1dV2
  (1)  (2)   (2)  (1)  (1)  (2)   (2)  (1)
0
Transisi 0  2(  ) terlarang.
e) 1(  )  2(  ) :ℓ=1, kedua keadaan memiliki fungsi ruang yang sama-sama simetrik

161
M1(z) 2  e  1(  )* ( z1  z2 )2(  ) dV1dV2

 e
1
4   
1*s (r1 ) 2*s (r2 )  1*s (r2 ) 2*s (r1 ) (r1 cos 1  r2 cos  2 )


 1s (r1 ) 2 pz (r2 )  1s (r2 ) 2 pz (r1 ) dV1dV2 
  (1)  (2)   (2)  (1)  (1)  (2)   (2)  (1)

 e
1
2  
 2*s (r1 )r1 cos 1 2 pz (r1 )dV1    2*s (r2 )r2 cos  2 2 pz (r2 )dV2 
3
1 Z   Zr1  2 Zr1 / 2 ao 4  2
 e   0  2  a0 e
  r1 dr1  cos 1 sin 1d1  d1
2

32  a0  0 0

  5!  4
4
1 Z 4! Z
 e   2  
32   Z / a 0  a 0 Z / a 0 6  3
5
 a0
2
e  a0  a  3
   (72)  3e  0   ea 0
24  Z  Z  2
Transisi 1(  ) ()
 2 diperbolehkan.

f) 1( )  2( ) : ℓ=1, kedua keadaan memiliki fungsi ruang yang sama-sama antisimetrik

M 1(z) 2  e  1(  )* ( z1  z 2 )2(  ) dV1dV2

 e
1
4   
1*s (r1 ) 2*s (r2 )  1*s (r2 ) 2*s (r1 ) (r1 cos 1  r2 cos  2 )

 
 1s (r1 ) 2 pz (r2 )  1s (r2 ) 2 pz (r1 ) dV1dV2
  (1)  (2)   (2)  (1)  (1)  (2)   (2)  (1)

 e
1
2 

 2*s (r1 )r1 cos 1 2 pz (r1 )dv1    2*s (r2 )r2 cos  2 2 pz (r2 )dv2 
3
1 Z   Zr1  2 Zr1 / 2 ao 4  2
 e   0  a0 
   1    1  d1
2
2 e r dr cos sin d
32
1 1 1
 a0  0 0

 5!  4
4
1 Z  4! Z
 e   2  
32  Z / a 0  a 0 Z / a 0 6  3
5
 a0 
2
e a  a  3
   0  (72)  3e  0   ea 0
24  Z  Z  2
( ) ( )
Transisi 1  2 diperbolehkan.

162
Dalam Gb. 10.6 diperlihatkan tingkat-tingkat energi keadaan dan transisi-transisi yang
diperbolehkan dan terlarang. Transisi 1(  )  2(  ) diperbolehkan karena selain ℓ=1, fungsi –
fungsi ruangnya sama-sama simertrik. Transisi 1( )  2( ) juga diperboleh karena selain ℓ=1,
fungsi–fungsi ruangnya sama-sama antisimertrik. Tetapi meskipun ℓ=1, jika fungsi–fungsi ruangnya
berbeda simetri maka transisi itu terlarang. Dapat disimpulkan bahwa transisi diperbolehkan selain
harus memenuhi selection rules, fungsi-fungsi ruangnya harus memiliki simetri yang sama: simetrik
 simetrik atau antisimetrik antisimetrik.
Simetrik Antisimetrik
2(  )
2(  )
1(  )
1(  )

0
Gb.10.6 Tingkat-tingkat energi atom helium dan transisi antar keadaan; garis  menyatakan transisi
yang diperbolehkan, dan garis ----- menyatakan transisi terlarang.

Telah dikemukakan bahwa keadaan suatu sistem elektron harus diungkapkan dengan fungsi
lengkap, yakni produk fungsi ruang dan fungsi spin, yang antisimetrik terhadap pertukaran elektron.
Menurut Slater, fungsi lengkap yang antisimetrik itu dapat disusun dalam bentuk determinan. Bentuk
determinan dari keadaan dasar adalah
1
0  1s (1)1s (2)  (1)  (2)   (2)  (1)
2!
1s (1) (1) 1s (1)  (1) (10.3.11)
1

2
1s (2) (2) 1s (2)  (2)
Produk orbital atom dan fungsi spin seperti 1s (i) (i) atau 1s (i)  (i) disebut spin-orbital.
Untuk keadaan-keadaan treksitasi bentuk determinan dari fungsi-fungsi keadaan adalah

1(  ) 
1
1s (1) 2 s (2)  1s (2) 2 s (1) 1
 (1)  (2)   (2)  (1)
2 2
 1s (1) (1) 1s (1)  (1)  2 s (1) (1)  2 s (1)  (1)  (10.3.12)
1 
   
2 
  2 s (2) (2)  2 s (2)  (2) 1s (2) (2) 1s (2)  (2) 
  (1) (2)

1(  ) 
1
1s (1) 2 s (2)  1s (2) 2 s (1) 12  (1) (2)   (2) (1)
2 
  (1)  (2)

163
 1s (1) (1)  2 s (1) (1)
 1
 2
 1s (2) (2)  2 s (2) (2)

  1s (1) (1)  2 s (1)  (1)  2 s (1) (1) 1s (1)  (1) 
1  
    (10.3.13)
 2   (2) (2)  (2)  (2)  (2) (2) 1s (2)  (2) 
  1s 2s 2s

  (1)  (1)  2 s (1)  (1)


 1 1s

 2  (2)  (2)  (2)  (2)
 1s 2s

10.4 Atom Litium


Atom litium memiliki tiga buah elektron yang mengorbit di sekitar inti bermuatan +3e. Dengan
menggunakan orbital-orbital atom hidrogen, pada keadaan dasar dua buah elektron menempati orbital
1s dan yang satu lagi menempati orbital 2s. atom litium; lihat Gb. 10.7. Hamiltonian elektron-elektron
itu adalah

Hˆ  Hˆ 1c  Hˆ 2c  Hˆ 3c  Vee (10.4.1)
dengan
2 2 3e 2
H ic   i  ; i  1,2,3 (10.4.2)
2m 4 o r i
dan
e2  1 1 1 
Vee      (10.4.3)
4 o  r 12 r13 r23 

2s

1s

0
Gb. 10.7 Keadaan dasar atom litium.

Sesuai dengan Gb. 10.7, dan analog dengan fungsi keadaan dasar helium dalam persamaan (10.3.11)
fungsi keadaan dasar litium adalah

1s (1) (1) 1s (1)  (1)  2 s (1) (1)


1
0 (1,2,3)  1s (2) (2) 1s (2)  (2)  2 s (2) (2) (10.4.4a)
3!
1s (3) (3) 1s (3)  (3)  2 s (3) (3)

164
atau

0 (1,2,3) 
1
1s (1) 1s (2) 2 s (3)   2 s (1)1s (2)1s (3) (1) (2) (3)
6
 1s (1) 2 s (2)1s (3)  1s (1)1s (2) 2 s (3) (1) (2) (3) (10.4.4b)
  2 s (1)1s (2)1s (3)  1s (1) 2 s (2)1s (3) (1) (2)  (3)

Jika potensial antara elektron-elektron dipandang sebagai gangguan, maka energi keadaan
dasar dengan koreksi order-1 adalah

E0  E ( 0)  E (1) (10.4.5)
dengan

E (0)   0* ( Hˆ 1c  Hˆ 2c  Hˆ 33 )0 dV (10.4.6)


dan
E (1)   0*Vee 0 dV (10.4.7)

Persamaan (10.4.6) diselesaikan sebagai berikut.

E (0)   0* Hˆ 1c 0 dV   0* Hˆ 2c 0 dV   0* Hˆ 3c 0 dV

  Hˆ
*
0
c
1 0 dv 
1
 1s (1) 1s (2) 2 s (3)   2 s (1)1s (2)1s (3)* Hˆ 1
6
1s (1) 1s (2) 2 s (3)   2 s (1)1s (2)1s (3)dV
1
1s (1) 2 s (2)1s (3)  1s (1)1s (2) 2 s (3) Hˆ 1
*

6 
1s (1) 2 s (2)1s (3)  1s (1)1s (2) 2 s (3)dV 
   2 s (1)1s (2)1s (3)  1s (1) 2 s (2)1s (3) Hˆ 1
1 *

6
 2 s (1)1s (2)1s (3)  1s (1) 2 s (2)1s (3)dV


1
6   2

1s (1) Hˆ 1 1s (1)dv1    2 s (1) Hˆ 1  2 s (1)dV1   1s (1) Hˆ 1 1s (1)dV1
6
1

   2 s (1) Hˆ 1  2 s (1)dV1   1s (1) Hˆ 1 1s (1)dV1
6

atau
4 2
  Hˆ 0 dV   1s (1) Hˆ 1 1s (1)dV1    2 s (1) Hˆ 1  2 s (1)dV1
* c
0 1
6 6

Dengan cara yang sama diperoleh

165
4 2
  Hˆ 0 dV   1s (2) Hˆ 21s (2)dV2    2 s (2) Hˆ 2 2 s (2)dV2
* c
0 2
6 6
4 2
 0 Hˆ 3 0 dV  6  1s (3) Hˆ 31s (3)dV3  6   2s (3) Hˆ 3 2s (3)dV3
* c

Karena
ˆ ˆ ˆ 3e 2
 1s (1) H1 1s (1)dV1   1s (2) H 21s (2)dV2   1s (3) H 31s (3)dV3   8 0 a0
3e 2
  2s (1) Hˆ 1  2s (1)dV1    2s (2) Hˆ 2 2s (2)dV2    2s (3) Hˆ 3 2s (3)dV3   32 0 a0
maka energi yang belum dikoreksi adalah

 32 e 2  32 e 2 9 32 e 2
E ( 0)  2       275,5eV (10.4.8)
 8 0 a0  32 0 a0 4 8 0 a0
Persamaan (10.4.2) diselesaikan sebagai berikut.
e2  1 1 1 
E (1)   0*Vee 0 dV    0* 0 dV   0* 0 dV   0* 0 dV 
4 0  r12 r13 r23 
1
 0 dV 
*
0
r12
1
6
  1s (1) 1s (2) 2 s (3)   2 s (1)1s (2)1s (3)
* 1
r12
1s (1) 1s (2) 2 s (3)   2 s (1)1s (2)1s (3)dV

  1s (1) 2 s (2)1s (3)  1s (1)1s (2) 2 s (3) 1s (1) 2 s (2)1s (3)  1s (1)1s (2) 2 s (3)dV
* 1
r12

   2 s (1)1s (2)1s (3)  1s (1) 2 s (2)1s (3)  2 s (1)1s (2)1s (3)  1s (1) 2 s (2)1s (3)dV 
* 1
r12
1  1 1
   1s (1)1s (2) 1s (1)1s (2) dV1dV2    2 s (1)1s (2)  2 s (1)1s (2)dV1dV2
6  r12 r12
1 1
  1s (1) 2 s (2) 1s (1) 2 s (2) dV1dV2   1s (1)1s (2) 1s (1)1s (2)dV1dV2
r12 r12
1 1
   2 s (1)1s (2)  2 s (1)1s (2) dV1dV2   1s (1) 2 s (2) 1s (1) 2 s (2)dV1dV2
r12 r12
1 1 
   2 s (1)1s (2) 1s (1) 2 s (2)dV1dV2   1s (1) 2 s (2) 1s (2) 2 s (1)dV1dV2 
r12 r12 
Mengingat pengertian potensial Coulomb dan potensial tukar maka

e2 1 4 2 2
4 0  0*
r12
0 dV  J 1s 2 s  J 1s1s  K1s1s
6 6 6

166
Dengan cara yang sama akan diperoleh hasil yang sama,

e2 1 4 2 2
4 0  0*
r13
0 dv  J 1s 2 s  J 1s1s  K1s1s
6 6 6

e2 1 4 2 2
4 0  0*
r23
0 dv  J 1s 2 s  J 1s1s  K1s1s
6 6 6
Jadi, koreksi order-1 adalah

E (1)   0*Vee 0 dV  2 J 1s 2 s  J 1s1s  K1s 2 s (10.4.9)

Perhitungan dengan cara yang sama dengan persamaan (3.6) akan menghasilkan
5 3e 2 17 3e 2 16 3e 2
J 1s 2 s  ; J 1s1s  ; K1s 2 s 
8 4 0 a0 81 4 0 a0 729 4 0 a0
sehingga
5965 3e 2
E (1)   83,5 eV. (10.4.10)
972 4 0 a0
Akhirnya diperoleh energi keadaan dasar

E0=-275,5 eV+83,5 eV=-192eV (10.4.11)

Hasil di atas 5,65 % di atas eksperimen yang E0=-203,5 eV.


Perhitungan dengan metoda variasi dilakukan dengan menggunakan dua eksponen, 1 untuk
orbital 1s dan 2 untuk orbital 2s. Kedua eksponen itu tentu tidak sama sehingga kedua orbital tidak
ortogonal satu sama lain. Akibatnya, fungsi gelombang keadaan dasar yang dibentuk melalui
determinan Slater menjadi tidak ternormalisasi,  0* 0 dv  1 , sehingga perhitungan energi keadaan
dasar harus mengikuti:
  Hˆ  dV
*
0 0
E0  (10.4.12)
   dV
*
0 0

Selanjutnya dilakukanlah variasi E0 /  1  E0 /  2  0 . Perhitungan tidak dilakukan di sini,


tetapi hasil perhitungan E.B. Wilson, 1=2,686 dan 2=1,776. Dengan kedua eksponen itu diperoleh
E0=-201,2 eV atau 1,13% di atas eksperimen. Nilai 2 yang jauh lebih kecil dari pada 1
menggambarkan betapa besarnya skrining yang dialami elektron di 2s karena kedua elektron yang
lain di 1s; Wilson (1933).

10.5 Metoda SCF untukAtom


Untuk atom dengan sejumlah elektron, selain potensial yang berasal dari inti, suatu elektron
mengalami juga potensial dari elektron-elektron lainnya. Misalnya, Hamiltonian untuk elektron ke-μ
adalah:

167
e2
Hˆ (  )  Hˆ c (  )  
 
( ) 4 o r 
(10.5.1a)

di mana
2 2 Ze 2
Hˆ c (  )     (10.5.1b)
2m 4 o r

Suku kedua sebelah kanan dalam persamaan (10.5.1a) adalah jumlah potensial yang berasal dari
elektron-elektron lain. Dengan demikian maka Hamiltonian total bagi seluruh elektron adalah:

 e2 
Hˆ    Hˆ c (  )  1
  (10.5.2)

 
2
 
(

) 4 o r  

Faktor ½ diperlukan untuk mencegah penghitungan dua kali pada setiap pasangan μν. Untuk
mengatasi kehadiran potensial repulsif antar elektron dalam persamaan (10.5.2) diperlukan cara untuk
menetapkan fungsi gelombang bagi sistem banyak-elektron tersebut. Oleh sebab itu, potensial antar
elektron-elektron untuk saat ini dapat dipandang sebagai gangguan. Dengan demikian maka Hˆ c (  )
merupakan Hamiltonian elektron-tunggal. Misalkanlah  j (1) adalah spin-orbital elektron ke-j yang
diduduki oleh elektron ke-1. Suatu spin-orbital adalah produk dari orbital atom  j dan fungsi spin
dari elektron ( atau ) yang menempati orbital atom itu, misalnya  j (1)   j (1) (1) . Spin-orbital
ini adalah fungsi eigen dari Hamiltonian elektron-tunggal ke-1, Hˆ c (1) , dengan energi eigen Ej:

Hˆ c (1) j (1)  E j j (1) (10.5.3)

Sebagai pendekatan, fungsi-fungsi elektron-tunggal dapat dikombinasikan bersama-sama


untuk membangun fungsi gelombang bagi sistem banyak-elektron. Misalkan  adalah fungsi
gelombang tersebut, sehingga dengan Hamiltonian total dalam persamaan (3.56) berlaku persamaan
Schrödinger: Ĥ  E , di mana E   j E j . Karena elektron-elektrn dipandang bebas satu sama
lain (interaksi elektron-elektron untuk sementara diabaikan), maka menurut Hartree-Fockfungsi
gelombang untuk sistem N-elektron dapat diungkapkan sebagai perkalian dari fungsi-fungsi elektron-
tunggal:

  1 (1)2 (2)3 (3).......... N ( N ) (10.5.4a)

Contoh 3.4 Bukti persamaan (3.58a)


N
Jika Ĥ  E dengan Hˆ   Hˆ  dan Hˆ  j ( )  E j j ( ) sehingga E   E j . Buktikan
 j 1

bahwa   1 (1)2 (2)3 (3)......... N ( N ) .


Misalkan   1 (1)  2 (2)  3 (3).  ........  . N ( N ) maka

168
 
Hˆ   Hˆ 1  Hˆ 2  Hˆ 3  ......  Hˆ N 1 (1)   2 (2)  3 (3).  ........  . N ( N )

 Hˆ 11 (1)  Hˆ 2 2 (2)  Hˆ 33 (3)  ..........  Hˆ N  N ( N )

 E11 (1)  E 2 2 (2)  E33 (3)  .............  E N  N ( N )

 E1  E 2  E3  .............  E N 1 (1)   2 (2)  3 (3).  ........  . N ( N )


Artinya,   1 (1)  2 (2)  3 (3).  ........  . N ( N ) bukan fungsi gelombang sistem partikel.
Sekarang misalkan   1 (1)2 (2)3 (3)......... N ( N ) maka
 
Hˆ   Hˆ 1  Hˆ 2  Hˆ 3  ......  Hˆ N 1 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )

 Hˆ 11 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )  1 (1) Hˆ 2 2 (2)3 (3).......... N ( N )

 1 (1) 2 (2) Hˆ 33 (3).......... N ( N )  ..........  1 (1) 2 (2)3 (3)..........Hˆ N  N ( N )


 E1 1 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )  E 2 1 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )

 E3 1 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )  .............  E N 1 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )

 E1  E 2  E3  .............  E N 1 (1) 2 (2)3 (3).......... N ( N )

 E
Artinya,   1 (1)2 (2)3 (3).......... N ( N ) adalah fungsi gelombang sistem partikel.
Dalam persamaan (10.5.4a) setiap spin-orbital elektron-tunggal j mengakomo- dasikan
elektron ke-μ=j. Sebenarnya, satu elektron dan elektron lainnya tidak dapat dibedakan, sehingga
fungsi spin-orbital j bisa juga mengakomodasikan elektron ke-μ≠j. Oleh sebab itu fungsi berikut ini

(1,2,3...N )  1 (2)2 (1)3 (3)................. N ( N  1) (10.5.4b)

adalah juga fungsi gelombang bagi sistem tersebut Jadi, ada banyak fungsi gelombang yang dapat
dibangun melalui perkalian dengan penempatan elektron yang berbeda-beda, yakni dengan
mempermutasikan elektron-elektron. Karena ada N buah elektron dengan N buah spin-orbital, maka
ada N! buah fungsi gelombang yang dapat dibentuk.
Telah dikemukakan dalam paragraf 3.1, fungsi gelombang lengkap untuk atom banyak
elektron harus antisimetrik terhadap pertukaran elektron, sehingga dapat diungkapkan dalam bentuk
determinan Slater dari spin-orbit-spin-orbit yang ditempati elektron-elektron. Untuk sistem N-
elektron, fungsi gelombang lengkap itu adalah:

1 (1)  2 (1) 3 (1) ............  N (1)


1 1 (2)  2 (2) 3 (2)............ N (2)
 (1,2,...., N )  (10.5.5a)
N ! ...............................................
1 ( N )  2 ( N ) 3 ( N )......... N ( N )

Spin-orbital-spin-orbital disebut fungsi basis bagi pembentukan fungsi gelombang lengkap Ψ.


Dalam determinan di atas sudah diterapkan eksklusi Pauli: setiap spin-orbital hanya dapat
diduduki oleh satu elektron, atau setiap orbital atom dapat ditempati maksimum oleh dua elektron

169
masing-masing dengan spin- dan spin-. Jadi, dengan  j ( )   j ( ) ( ) atau
 j ( )   j ( ) ( ) maka persamaan (3.54a), unuk N genap secara lengkap diungkapkan sebagai
berikut:

1 (1) (1) 1 (1)  (1)  2 (1) (1) .......  N (1)  (1)


2

1 1 (2) (2) 1 (2)  (2)  2 (2) (2)..... N2 (2)  (2)


 (1,2,....., N )  (10.5.5b)
N! .......................................................................
1 ( N ) ( N ) 1 ( N )  ( N ) ................. N ( N )  ( N )
2

Pembentukan fungsi gelombang sistem banyak-elektron dengan cara di atas dikenal sebagai
determinan Slater dari seluruh spin-orbital elektron-elektron.
Dalam paragraf 3.1 dan 3.2 telah diperlihatkan kesulitan dalam perhitungan secara eksak
energi atom helium dan litium dalam keadaan dasar. Kesulitan itu ditimbulkan oleh kehadiran
potensial repulsif antar elektron. Semakin banyak elektron dalam atom, semakin sulit pula
perhitungan yang dihadapi, malah tidak mungkin dilakukan. Hal ini yang mendorong orang untuk
melakukan perhitungan dengan cara numerik. Orang pertama yang melakukan perhitungan ini adalah
Hartree dan idenya adalah sebagai berikut.
Hamiltonian total elektron-elektron telah dikemukakan dalam persamaan (10.5.2). Di atas
telah dikemukakan bahwa dalam pembentukan fungsi gelombang interaksi antara elektron-elektron
tidak dilibatkan, sehingga Hˆ c (  ) dipandang sebagai Hamiltonian elektron-tunggal. Sekarang,
interaksi elektron-elektron itu harus dipandang sebagai potensial yang dialami elektron ke-μ dari
elektron-ν yang menempati orbital s . Jadi, potensial itu diungkapkan sebagai berikut :

e2 1
Vs (  ) 
4 o   s* ( )  s ( ) d
r 
(10.5.6)

Dengan demikian maka Hamiltonian elektron tunggal dalam persamaan (3.50a) dapat dinyatakan
sebagai Hamiltonian efektif elektron-tunggal ; untuk elektron ke-μ Hamiltonian efektif itu adalah:

Fˆ (  )  Hˆ c (  )  [2 Jˆ s (  )  Kˆ s (  )] (10.5.7)
s

Di sini Ĥ c disebut Hamitonian teras dari elektron ke-μ. Selanjutnya dipenuhi persamaan Schrödinger:
Fˆ ( ) s ( )  Es s ( ) (10.5.8)

di mana Esadalah energi dari spin-orbital ke-s, yakni s. Orbital-orbital atom {s} untuk atom dengan
banyak elektron tak sama dengan orbital atom hidrogen. Menurut Roothaan, suatu orbital atom dapat
dinyatakan sebagai kombinasi linier dari fungsi-fungsi basis {i}

 s   c si  i (10.5.9)
i

170
Fungsi basis i yang sering dipakai adalah orbital jenis Slater (Slater-type orbital, STO) yang
rumusannya seperti:
(2 ) n1/ 2 n1  r
 ( , n, , m )  r e Ym ( ,  ) (10.5.10a)
(2n)!

di mana r dalam satuan a.u. (1 a.u=0,53Å adalah jari-jari Bohr), n, l, ml masing-masing adalah
bilangan-bilangan kuantum utama, bilangan kuantum orbital dan bilangan kuantum magnetik orbital,
sedangkan  adalah eksponen orbital yang merupakan

Z eff
 (10.5.10b)
neff
di mana Zeff adalah harga efektif nomor atom Z dan neff adalah harga efektif bilangan kuantum utama.
Harga-harga Zeff dari beberapa atom dalam keadaan dasar adalah seperti Tabel 10.1 di bawah ini;
Clementi et al. (1963).

Tabel 10.1 Harga-harga Zeff dari beberapa atom


H He
1s 1 1.6875
Li Be B C N O F Ne
1s 2.6906 3.6848 4.6795 5.6727 6.6651 7.6579 8.6501 9.6421
2s 1.2792 1.9120 2.5762 3.2166 3.8474 4.4916 5.1276 5.7584
2p 2.4214 3.1358 3.8340 4.4532 5.1000 5.7584
Na Mg Al Si P S Cl Ar
1s 10.6259 11.6089 12.5910 13.575 14.5578 15.5409 16.5239 17.5075
2s 6.5714 7.3920 8.2136 9.0200 9.8250 10.6288 11.4304 12.2304
2p 6.8018 7.8258 8.9634 9.9450 10.9612 11.9770 12.9932 14.0082
3s 2.5074 3.3075 4.1172 4.9032 5.6418 6.3669 7.0683 7.7568
3p 4.0656 4.2852 4.8864 5.4819 6.1161 6.7641

Harga neffuntuk suatu n adalah sebagai berikut


n 1 2 3 4 5 6
neff 1 2 3 3,7 4 4,2
Dalam bentuk ril-nya, dengan menggunakan persamaan-persamaan (5.3.15-17) orbital STO
dari 1s, 2s, 2px, 2py dan 2pz adalah
 3 / 2  r
1s  e

 5 / 2  r
 2s  e (10.5.10c)
3
 5 / 2  r
2 p  re sin  cos 
x
2
 5 / 2  r
2 p  re sin  sin 
y
2

Terlihat bahwa orbital-orbital STO tidak ortogonal satu sama lain kecuali jika mlberbeda untuklyang
sama. Dalam persamaan (10.5.9) orbital atom  (n, l, ml ) merupakan kombinasi linier dari beberapa

171
orbital STO yang sama bilangan kuantumnya (yakni n, l, ml ) tetapi dengan harga-harga eksponen 
yang berbeda.
Dengan persamaaan (10.5.9) di atas, maka operasi integral Coulomb dan integral tukar pada
fungsi-fungsi STO adalah sebagai berikut.

 * e2 
ˆ
J s (  )  j (  )     s ( )  s ( ) dV   j (  )
 4 o r  
(10.5.11a)
 * e2 
  csk csl    k ( )
*
 l ( ) dV   j (  )
k l  4 o r  
 * e2 
ˆ
K s (  )  j (  )     s ( )  j ( ) dV   s (  )
 4 o r  
(10.5.11b)
 * e2 
  csk csl    k ( )
*
 j ( ) dV   l (  )
k l  4 o r  
Dengan persamaan (10.5.8) dan (10.5.9) selanjutnya diperoleh persamaan sekuler

 F
j
ij  ES ij c j  0 (10.5.12)

di mana
Fij  H ijc   2c sk
*

c sl (ij kl)  12 (il kj) 
s k l

 
(10.5.13a)
 H ijc   Pkl (ij kl)  12 (il kj)
k l
dengan
H ijc    i* (  )H c (  )  j (  ) dV
e2 1
(ij kl) 
4 0   i* (  )  k* ( )
r
 l ( )  j (  ) dV dV (10.5.13b)

Pkl   2c sk
*
c sl
s
Selanjutnya, integral overlap adala
Sij    i* (  ) j (  ) dV (10.5.13c)

Persamaan sekuler (10.5.12) dapat dituliskan dalam bentuk perkalian matriks:

 F11  ES 11 F12  ES 12 ............F1N  ES 1N  c1 


  
 F21  ES 21 H 22  ES 22 ........... F2 N  ES 2 N  c 2 
    0 (10.5.14a)
 ....................................................................  ... 
 ....................................................................  ... 
  

Dari persamaan sekuler itu dipenuhi determinan

172
F11  ES 11 F12  ES 12 ............F1N  ES 1N
F21  ES 21 H 22  ES 22 ........... F2 N  ES 2 N
0 (10.5.14b)
....................................................................
....................................................................
Dari determinan itu diperoleh harga-harga energi spin-orbital {Es}; substitusi setiap energi orbital Es
ke dalam persamaan (10.5.13) akan menghasilkan koefisien-koefisien{csj} bagi spin-orbital tersebut
(lihat persamaan (10.5.9), Orbital seperti dalam persamaan (10.5.9) harus dinormalisasi sehingga
berlaku

c si c sj S ij  1
ij
(10.5.15)

Sebelum dapat menyelesaikan persamaan sekuler di atas terlebih dahulu kita harus
menghitung seluruh Fij; tetapi seperti terlihat dalam persamaan (10.5.11a) diperlukan koefisien-
koefisien {csk}. Untuk itu harus disediakan harga awal bagi koefifien-koefisien tersebut, dan
selanjutnya perhitungan dilakukan dengan cara iterasi sehingga diperoleh koefisien-koefisien yang
tidak berubah lagi (konvergen). Inilah yang dimaksud dengan penyelesaian dengan cara self-
consistent field (SCF).
Dalam persamaan (10.5.13b)Pkl adalah elemen matriks kerapatan elektron. Untuk atom
dengan sel-tertutup, kerapatan probabilitas elektron adalah
N /2 N /2
  2  s* s  2 csk* csl  k*  l   Pkl  k*  l (10.5.16)
s 1 s k l k l
Dari hasil perhitungan di atas, selanjutnya dapat ditentukan fungsi keadaan elektron-elektron
atom sebagai determinan Slater dari seluruh spin-orbital yang ditempati elektron. Untuk N (genap)
elektron fungsi keadaan dasar dengan konfigurasi 1222 ....... N2 / 2 adalah seperti persamaan (10.5.5b).
Karena 0 sudah dinormalisasi maka energi atom adalah: Eo   0* Hˆ 0 dV . Dengan fungsi
keadaan di atas dan Hamiltonian dalam persamaan (10.5.2) maka

N /2 N /2 N /2
E0  2 Hˆ rr   2 J rs  K rs  (10.5.17)
r 1 r 1 s 1

Di lain fihak, dengan persamaan (10.5.8) energi elektron di orbital φradalah:

E r    r* Fˆ r dV    r* Hˆ c r dV   [2 r* Jˆ s (  )  Kˆ s (  )] r dV


s
(10.5.18)
 H rrc   [2 Jˆ rs  Kˆ rs ]
s
Oleh sebab itu, energi keadaan E0 adalah :
N /2 N /2
E0   Er   H rrc
r 1 r 1
(10.5.19)
N /2
  Er  12  Pij H ijc
r 1 i j
Dalam persamaan-persamaan di atas r adalah indeks bagi orbital r dan i, j, k. l adalah indeks bagi
fungsi-fungsi STO. Perhitungan untuk keadaan dasar dan tereksitasi dari 54 buah elemen dalam tabel

173
periodik telah dilakukan oleh Clementi et al. (1974) Diagram alir SCF atom diperlihatkan dalam Gb.
10.8.

Start

N, {i}, {Sij},
{H ijc } , {(ijkl)}, {ci}

{Pij( 0) }

iter

{Fij } iter=iter+1

Diagonalisasi

{Pij( 0) }  {Pij }
{Er },{cri }

{Pij }

tidak
( 0)
{Pij }?{P } ij

ya
E0

E0, {Er},{Pij}, iter

Stop

Gb. 10.8 Diagram alir SCF atom.

174
Energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari orbital r dengan asumsi bahwa
electron-elektron yang lain tidak terganggu, adalah energy electron tunggal Er. Energi bisa dinyatakan
sebagai energi ionisasi elektron dari orbital itu. Inilah yang dikenal sebagai teorema Koopman.

Contoh 10.5 Keadaan Dasar Atom Helium dengan Metoda SCF


Perhitungan SCF untuk atom helium pada keadaan dasar dilakukan sebagai berikut; lihat Levine
(1991). Dengan menggunakan fungsi basis STO 1s (n=1, l=0, ml=0):  1  1.45,  2  2.91 maka
3/ 2 3/ 2
   1r / ao  
1  2 1  e Y0,0 ;  2  2 2  e  2r / ao Y0,0
 ao   ao 
Integral overlap adalah

S11   1 1dV  1; S 22    2  2 dv  1;

3/ 2 3/ 2 
   2  8 13 / 2 23 / 2
S12  S 21   1  2 dV  4 1     e 1 2 o r dr 
 (  ) r / a 2
 0,837
 ao   ao  0  1 2  3

Hamiltonian teras dapat dituliskan:


ˆ 2 2   e
2
   2
H ( )  
c
  
2m 4 o r 4 o r
sehingga diperoleh
c
H11

  2 2  1 e2 
  1 Hˆ c 1dV   1   1 

  2  dV
 1dV   1 1
4 o r  4 o r
1
0  2m 0

 12 e 2  e2
   1  2 1  50,3095 eV
8 o ao 4 o ao

H c ˆ

  2 2  2 e2 
   2 H  2 dV    2  
c
2 

  2  dV
  2 dV    2 2
4 o r  4 o r
22 2
0  2m 0

 22 e 2  e2
   2  2 2  43,1582 eV
8 o ao 4 o ao

H12c  H 21
c

  2 2  2 e2 
  1 Hˆ c  2 dV   1   1 

  2  dV
  2 dV   1 2
4 o r  4 o r
2
0  2m 0

 22 e 2 4 2  2 13 / 2 23 / 2 e 2
 S12   51,2293 eV
8 o ao  1   2 3 4 o ao
Selanjutnya, dengan cara perhitungan interaksi antar elektron yang telah diperlihatkan dalam atom
helium dengan menggunakan orbital Slater, dapat diperoleh:


5  1e 2
1111    (1)  (2) e2
1 (1) 1 (2)dV1dV2   24,6595 eV
4 o r12 8 4 o ao
1 1
0

175
 2e2
22 22  5  49,4932 eV
8 4 o ao

11 22  2211    2  4 13 22   1 24  4 12 23  e 2


4
1
 32,1809 eV
( 1   2 ) 4 4 o ao

1212  21 21  12 21  2112  20 1  2 5 e  25,9494 eV


3 3 2

 1   2  4 o ao
1112  11 21  1211  2111
16 19 / 2 23 / 2 12 1  8 2 9 1   2  e 2
   24,5806 eV
3 1   2 4   1   2 2 
2 12  4 o ao

12 22  2212  21 22  22 21


16 29 / 2 13 / 2 12 2  8 1 9 2   1  e 2
   35,3212 eV
3 2   1 4   1   2 2 
2 22  4 o ao

Untuk menentukan koefisien ekspansi bagi χ1 dan χ2 didalam    ci  i sebagai permulaan iterasi
i
dipilih c11/c21=2. Mengingat normalisasi φs dalam persamaan (10.5.15) maka
1
c21  .
1  (c11 / c21 )  2c11 / c21 S12
2

Substitusi S12 dan c11/c21 menghasilkan c21=0,3461 dan c11=0,6922. Dengan harga-harga ini diperoleh:
P11(0)  0,9583; P12(0)  P21(0)  0,4791; P22(0)  0,2396.


Iterasi pertama dilakukan dengan harga-harga Pij( 0 ) untuk menghitung Hcij dan ij kl  sehingga harga-
harga Fij sebagai berikut.

F11  H 11c  1 2 P11( 0) 1111  P12( 0) 1112  P22( 0) 11 22  1 2 12 21
 50,3095  1 2  0,9583  24,6595  0,4791 24,5806
 0,2396  49,4932  1 2  25,9494
 22,1234 eV

F12  F21  H12


c
 12 P11(0) 1211  12 P12(0) 32 1212  12 11 22 12 P22(0) 12 22
F12  51,229  1 2  0,9583  24,5806
 1 2  0,4791   32  25,9494  12  32,1809  1 2  0,2396  25,9494
 24,2731 eV

176
F22  H 22
c
 P11( 0) 22 11  1 2 2112  P12( 0) 2212  1 2 P22( 0) 22 22
 43,1582  0,958332,1809  1 2  25,9494   0,4791  35,3212
 1 2  0,2396  49,4932
 1,9048 eV

Jadi determinan sekulernya adalah


 22,1234  E  24,2731  0,8366 E
0
 24,2731  0,8366 E  1,9048  E
Dari determinan itu selanjutnya diperoleh

E1=-23,2288 eV dan E2=78,472 eV.

Substitusi energi E1 ke persamaan sekuler menghasilkan c11/c21=4,42, dan dengn syarat normalisasi
diperoleh
c11=0,836 dan c21=0,189.
Dengan koefisien-koefisien ini diperoleh

P11(1)  1,398; P12(1)  P21(1)  0,316; P22(1)  0,071.

Dibandingkan dengan harga-harga harga-harga Pij( 0 ) , terlihat adanya perbedaan sangat besar. Oleh
sebab itu harus dilakukan iterasi kedua dengan menggunakan harga-harga Pij(1) tersebut untuk
menghitung Fij. Hasilnya

F11= -23,9466 eV, F12=F21= -25,5792 eV, F22= -3,3906 eV

Determinan sekulernya
 23,9466  E  25,5792  0,8366 E
0
 25,5792  0,8366 E  3,3906  E

dari mana diperoleh


E1=-24,9696 eV dan E2=76,432 eV.

Substitusi E1 ke dalam persamaan sekuler menghasilkan c11/c21=4,61; setelah dinormalisasi diperoleh

c11=0,842 dan c21=0,183.

Dengan koefisien-koefisien ini diperoleh harga-harga Pij:

P11( 2)  1,418; P12( 2)  P21( 2)  0,308; P22( 2)  0,067.

177
Terlihat, masih ada perbedaan dengan Pij(1) sebelumnya sehingga perlu iterasi ketiga untuk
menghitung Fijlagi dengan menggunakan Pij( 2 ) di atas, dan hasilnya

F11= -23,9738 eV, F12=F21= -25,5793 eV, F22= -3,3879 eV

Dari determinan sekulernya, diperoleh

E1=-24,9696 eV dan E2=76,404 eV.

Susbstitusi E1 ke persamaan sekuler menghasilkan c11/c21=4,6 dan normalisasi


memberikan
c11=0,842 dan c21=0,183.

Koefisien-koefisien ini memberikan

P11(3)  1,418; P12(3)  P21( 2)  0,308; P22(3)  0,067.

Hasil ini sudah sama dengan Pij( 2 ) sehingga perhitungan selesai (self consistent field). Jadi, dengan
menggunakan koefisien-koefisien {cij} terakhir diperoleh orbital atom

1  0,842 1  0,183 2 dengan E1==-24,9696 eV

Substitusi E2 ke persamaan sekuler yang menggunakan harga-harga Fijterakhir akan


menghasilkan c12=-1,622 dan c22=1,818. Dengan itu maka diperoleh orbital

 2  1,622 1  1,818 2 dengan E2= 76,404 eV.

Selanjutnya, dengan persamaan (3.73), energi keadaan dasar helium adalah


E0  E1  1 2 P11H11c  2 P12 H12c  P22 H 22
c

 24,9696  1 2 1,418 (50,3095)  2  0,308  (51,2293)
 0,067  (43,1582)  77,85 eV

Jika dibandindingkan dengan hasil perhitungan pada paragraf 10.1 yang menggunakan metoda variasi
dengan orbital atom hidrogen, metoda SCF ini memberi hasil sedikit lebih baik.

10.6 Korelasi Elektron


Hasil perhitungan energi keadaan dasar atom helium (-77,6 eV) yang menggunakan orbital 1s
dengan metoda variasi di mana muatan inti di-skrin, masih di atas hasil eksperimen (-79 eV). Dengan
metoda SCF di mana orbital atom dinyatakan sebagai superposisi dua buah fungsi STO memberikan
hasil sedikit lebih baik (-77,85 eV), namun tetap di atas eksperimen.
Ada beberapa penyebab yang bisa berkontribusi terhadap perbedaan tersebut; penyebab yang
paling dominan adalah pembentukan fungsi gelombang dengan cara determinan Slater dari orbital-
spin-orbital-spin. Pada keadaan dasar dan tereksitasi singlet dari atom helium posisi kedua elektron
dengan spin yang berlawanan arah bebas satu sama lain; ini tidak terkorelasi. Memang, ketika sebuah
elektron tereksitasi dengan arah yang sama dengan pasangannya (triplet), pada r1=r2 kerapatan

178
peluangnya sama dengan nol (lubang Fermi). Pasangan elektron yang spinnya searah akan saling
menjauhi. Hal ini sesuai dengan potensial tolak-menolak antara kedua elektron yang mempunyai
kecenderungan untuk menghindar satu sama lain. Kecenderungan itulah yang disebut korelasi
elektron.
Ada dua cara untuk menghadirkan korelasi elektron dalam perhitungan. Yang pertama
adalah cara Hyleraas yang memasukkan jarak antara elektron r12 di dalam fungsi gelombang. Untuk
atom helium fungsi itu adalah

 r1 / a0  r2 / a0
 0  Ne e (1  br12 ) (10.6.1)

di mana N adalah faktor normalisasi,  dan b adalah dua parameter yang akan divariasi. Minimalisasi
terhadap  dan b menghasilkan energi minimum -78,7 eV dengan  = 1,849 dan b=0,346/a0. Energi
hasil perhitungan ini hanya 0,3 eV di atas eksperimen; Levine (1991).Masalah dengan cara Hyleraas
adalah bahwa perhitungannya sangat sulit dilakukan jika jumlah elektron cukup besar.
Cara kedua adalah interaksi konfigurasi (configuration interaction, CI). Dalam cara ini,
fungsi gelombang dinyatakan sebagai superposisi dari fungsi-fungsi konfigurasi keadaan dasar dan
tereksitasi. Jika {i} adalah fungsi-fungsi konfigurasi yang diperoleh dengan cara SCF, maka fungsi
gelombang keadaan dasar adalah

 0   Ci i (10.6.2)

Dengan fungsi-fungsi itu sebagai basis diperoleh persamaan sekuler

 H
i
ij  ES ij Ci  0 (10.6.3a)

dengan
H ij   i* Hˆ  j dV (10.6.3b)
dan
S ij   i*  j dV (10.6.3c)

Contoh 3.6 Interaksi konfigurasi untuk memperoleh keadaan dasar atom helium
Sudah dilakukan perhitungan SCF yang hasilnya seperti dalam Contoh 10.5:

1  c111  c21 2  0,8421  0,183 2


 2  c12 1  c22  2  1,6221  1.818 2

Dua konfigurasi hasil SCF dipakai sebagai basis dalam perhitungan interaksi konfigurasi. Yang
pertama, kedua elektron di 1 maka fungsi konfigurasinya adalah
1
1  1 (1)1 (2)[ (1)  (2)   (1) (2)]
2
dan yang kedua, kedua elektron di  2 maka fungsi konfigurasinya adalah
1
2   2 (1) 2 (2)[ (1)  (2)   (1) (2)]
2
Persamaan sekuler adalah

179
 H 11  ES 11 H 12  ES 12  C1 
  
    0
  
 H 21  ES 21 H 22  ES 22  C 2 
Dengan kedua konfigurasi di atas, maka

H11   1* Hˆ 1dV  77,85 eV .

adalah energi atom helium yang diperoleh dengan metoda SCF.


ˆ 1 * e2
H 21    H1dV    2 (1) 2 (2)( H 1  H 2 
* * c c
)1 (1)1 (2)dV1dV2
4 0 r12
2
2
e2 1
  (1) 2* (2) 1 (1)1 (2)dV1dV2
*

4 0 r12
2
r12
karena   2* (1)1 (1)dV1    2* (2)1 (2)dV2  0 . Jadi,

 c  2 (1)  2 (2)
e2 1
H 21  2
1 (1) 1 (2)  c12c 22 1 (1)  2 (2)  c12c22  2 (1) 1 (2)  c22
2

4 0
12
r12
c 2
11 1 (1) 1 (2)  c11c211 (1)  2 (2)  c11c 21 2 (1) 1 (2)  c 21
2
 2 (1)  2 (2)dV1 dV2
 c11c12 1111  2 c11
2 2 2

c12c 22  c11c 21c12
2

1112  2c11c21c12c22 11 22

 c11c 22  2c11c 21c12c 22  c 21
2 2 2 2
c12 1212  2c c c  c 21
2
11 21 22
2

c12c 22 12 22  c 21c 22 22 22
2 2

 7,86 eV  H 12

e2
H 22   2* Hˆ 2 d    2* (1) 2* (2)[ H c (1)  H c (2)  ] 2 (1) 2 (2)dV1 dV2
4 0 r12
e2 1
   (1) H (1) 2 (1)dV1    (2) H (2) 2 (2)dV2 
* c *

c
 2* (1) 2* (2)  2 (1) 2 (2)dV1 dV2
4 0
2 2
r12

 (1) H c (1) 2 (1)dv1  c122  1 (1) H c (1) 1 (1)dv1  2c12c 22  1 (1) H c (1)  2 (1)dv1
*
2

 c 22   2 (1) H (1)  2 (1)dv1


2 c

 c122 H 11c  2c12c 22 H 12c  c 22


2 c
H 22    2* (2) H c (2) 2 (2)dv 2
e2 1
 (1) 2* (2)  2 (1) 2 (2)dv1 dv 2 
*

4 0
2
r12
e2
 c c  1 (1)  1 (2)  c12c 22  1 (1)  2 (2)  c12c 22  2 (1) 1 (2)  c 22c 22  2 (1)  2 (2)
1

4 0
12 12
r12
c12c12 1 (1) 1 (2)  c12c22 1 (1)  2 (2)  c12c22  2 (1) 1 (2)  c22c22  2 (1)  2 (2)dv1dv2
 c12
4
1111  4c123 c22 1112 2c122 c222 11 22  4c122 c222 1212 4c12c223 21 22  c224 22 22
180
Jadi,
2

H 22  2 c12 H 11c  2c12c 22 H 12c  c 22
2 c
H 22 
 c12
4
1111  4c123 c22 1112 2c122 c222 11 22
 4c12
2 2
c 22 12 12 4c12c 22
3
21 22  c224 22 22
 87,58 eV
Karena ortonormal maka integral overlap adalah

S11   1*1dV  1, S22   2*2 dV  1; S12  S21   1*2 dV  0

Dengan hasil-hasil di atas maka persamaan sekuler adalah

  77,85  E 7,861  C1 
  
    0
  
 7,861 87,5  E  C 2 
Determinan=0,
 77,85  E 7,861
0
7,861 87,58  E
sehingga diperoleh

E 2  9,73E  6879.9  0  E1  78,44 eV, E2  87,96 eV

Substitusi E1 ke persamaan sekuler menghasilkan C21/C11=0,08 sehingga dengan normalisasi


diperoleh C11=0,997 dan C21=-0,079. Jadi, perhitungan CI ini menghasilkan
energi keadaan dasar atom helium
E0=-78,44 eV
dengan fungsi gelombang
 0  0,9971  0,0792
Terlihat bahwa interaksi konfigurasi dapat memperbaiki energi keadaan dasar dari -77,85 eV menjadi
-78,44 eV (harga eksperimen -79eV) .

10.7 Susunan Elektron dalam Atom


Susunan elektroni dalam suatu atom secara kualitatif dapat difahami atas dasar orbital-orbital atom
hidrogen. Menurut prinsip eksklusif Pauli (1924) setiap orbital atom  nm dapat mengakomodasikan
maksimum dua buah elektron dengan spin yang berlawanan. Untuk setiap bilangan kuantum orbital ℓ
ada 2ℓ+1 buah harga bilangan kuantum magnetik orbital mℓ, dan untuk setiap mℓ ada dua buah
bilangan kuantum magnetik spin ms (±1/2). Maka berdasarkan eksklusi Pauli jumlah maksimum
elektron yang terakomodasikan untuk setiap harga ℓ adalah 2(2ℓ+1). Berikut ditunjukkan secara
eksplisit simbol dan jumlah maksimum elektron yang dapat terakomodasikan untuk setiap harga ℓ.
Simbol: s p d f g
Harga ℓ: 0 1 2 3 4
Jum elektron:2 6 10 14 18

181
Dengan menggunakan prinsip ini, elektron-elektron dapat ditempatkan ke setiap orbital mulai dari
energi yang paling rendah hingga mencapai maksimum. Jika suatu orbital nℓ telah penuh, orbital
berikutnya mulai diisi. Metoda penyusunan seperti ini disebut prinsip Aufbau. Sesuai dengan urutan
besarnya energi, dalam Gb. 3.9 diperlihatkan urutan orbital nℓ dalam pengisian elektron.
7p 6
6d 10
5f 14 32 118(?)
7s 2

6p 6
5d 10 32
4f 14 86(Ra)
6s 2

5p 6
4d 10
18 54 (Xe)
5s 2

4p 6
3d 10
4s 2 18 36(Kr)

3p 6 8
3s 2 18(Ar)

2p 6 8 10 (Ne)
2s 2

1s 2 2 2(He)

Gb. 10.9 Tingkat-tingkat energi atom dan prinsip Aufbau.

Sebagai akibat dari interaksi spin-orbit, suatu orbital np (n>1) memiliki energi lebih tinggi
dari pada ns tetapi lebih rendah dari pada (n+1)s. Energi suatu orbital nd sedikit di atas (n+1)s tetapi
sedikit lebih rendah dari pada (n+1)p. Antara orbital-orbital 1s dan 2s, 2p dan 3s, 3p dan 4s, 4p dan
5s muncul sejenis gap energi. Karena kehadiran gap-gap itu, terjadi pengelompokan tingkat-tingkat
energi. Kelompok itu disebut sel, dan setiap orbital (nℓ) di dalam sel disebut sub-sel. Jumlah
maksimum elektron dari sel-sel berurutan yang terisi penuh adalah 2, 10, 18, 36, 54, 86 dan
seterusnya. Atom-atom dengan jumlah elektron maksimum seperti He, Ne, Ar, Kr, Xe dan Rd disebut
gas mulia(inert gas).

Tabel 10.2Struktur elektronik dan konfigurasi keadaan dasar beberapa atom.


n=1 n=2
Atom 1s 2s 2px 2py 2pz Konfigurasi Term

2
H 1s S1/2
 1s2 1
He S0
  1s22s 2
Li S1/2
  1s22s2 1
Be S0
   1s22s22p 2
B P1/2
    1s22s22p2 3
C P0
     1s22s22p3 4
N S
     1s22s22p4 3
O P2
     1s22s22p5 2
F P3/2
     1s22s22p6 1
Ne S

182
Ketika mengisi orbital p harus diingat bahwa orbital ini terdiri dari tiga sub-sel px, py dan pz,
yang masing-masing dapat mengakomodasikan 2 elektron. Dalam pengisiannya harus sebanyak
mungkin elektron dengan spin-spin paralel. Jadi, pada atom C kedua spin elektron itu paralel, pada
atom N ada tiga spin parallel, pada O dua spin parallel dan yang dua lagi anti-paralel. Dalam Tabel
10.2 diperlihatkan penempatan elektron-elektron sehubungan dengan spinnya.Keadaan yang sama
terjadi pada orbital d yang terdiri dari lima sub-sel. Hal ini sesuai dengan aturan Hund: resultan spin
dari keadaan dasar atom-atom yang masih sesuai dengan prinsip eklusif Pauli memiliki harga
terbesar. Tingkat-tingkat energi terkait dengan orbital-orbital suatu atom besar cenderung mengikuti
urutan dalam Gb.10.10 (a) dan (b). Terlihat bahwa setelah n=2 tingkat-tingkat energi itu beroverlap,
energi orbital 4s sedikit lebih rendah dari pada 3d dan orbital 5s lebih rendah dari pada 4d, 6s lebih
rendah 4f dan seterusnya.
4f
5p
4d 5s
(a) 4p
3d
4s
3p
3s

2p
2s

1s

1 2 3 4 5 6 7 8
s s s s s s s s

p p p p p p p

(b) (b) d d d d d d

f f f f
Gb 10.10 (a) Tingkat-tingkat energi orbital-orbital atom berat, (b) urutan pengisian elektron-elektron.
2S+1
Term dalam konfigurasi (Tabel 10.2) secara umum dapat dituliskan seperti LJdi mana L
menyatakan total bilangan kuantum orbital dengan simbol sebagai berikut.

L Simbol
0 S
1 P
2 D
3 F

Jmenyatakan bilangan kuantum totalJ=L+S, dan 2S+1 menyatakan multiplisitas spin. Dalam Tabel
10.1 atom H memiliki hanya satu elektron di orbital 1s sehingga konfigurasinya 1s1, L=0 maka
simbolnya S, spin S=½ maka 2S+1=2, dan J=L+S=½; maka term untuk atom H adalah 2S1/2. Dalam
atom He, ada dua elektron dengan spin antiparalel di orbital 1s sehingga konfigurasinya 1s2, L=0
maka simbolnya S, S=0 sehingga 2S+1=1, J=0, maka term keadaan dasar He adalah1S0. Dalam atom
Li ada tiga elektron, dua di orbital 1s dengan spin antiparalel dan satu lagi di orbital 2s,

183
konfigurasinya 1s22s1; L=0 maka simbolnya S, S=1/2 maka 2S+1=2, dan J=1/2 sehingga term
keadaan dasar Li adalah 2S1/2. Atom B mempunyai 5 elektron, dengan konfigurasi 1s22s22p.: L=1,
S=1/2, J=1/2, 3/2 dan term keadaan dasarnya 2P1/2.Konfigurasi elektron dari beberapa atom dalam
keadaan dasar dapat dilihat dalam Apendiks 6.
Teori tentang struktur atom yang memiliki sel-sel lengkap ditambah dengan satu atau dua
elektron terluar, relatif sederhana. Elektron-elektron pada sel penuh disebut teras dan sisanya disebut
elektron-elektron valensi. Contohnya atom C yang konfigurasi keadaan dasarnya 1s22s22p2. Terasnya
adalah 1s2 (sama dengan He) sedangkan elektron-elektron 2s22p2 adalah elektron valensi. Itu
sebabnya konfigurasi itu dituliskan [He] 2s22p2. Perlu disadari bahwa jika berikatan dengan atom lain,
sebuah elektron promosi dari 2s ke 2p sehingga terjadi pembentukan orbital atom baru yang disebut
hibrida (h). Dalam sp1 misalnya hibrida-hibrida h1 dan h2 dibentuk oleh kombinasi 2s dan 2px dalam
sp2 hibrida-hibrida h1, h2 dan h3 dibentuk oleh kombinasi 2s, 2px dan 2py.
Energi ikat elektron-elektron teras jauh lebih besar dari pada elektron valensi, dan itu
meningkat cepat dengan semakin besarnya nomor atom. Karena ikatan yang kuat itu, elektron-
elektron teras suatu atom secara praktis tidak terganggu dalam banyak proses kimiawi. Dalam
berbagai sifat kimia seperti ikatan antar atom dalam molekul dan reaksi kimia, peran elektron-valensi
sangat dominan. Suatu sel yang terisi penuh memiliki L=0 dan S=0. Artinya, momentum sudut dan
spin suatu atom ditentukan oleh elektron-elektron-valensinya saja. Misalnya, atom dengan satu
elektron-valensi memiliki S=½ dan semua tingkat energi di mana hanya elektron-valensi itu saja yang
tereksitasi adalah doblet (2S+1=2). Untuk atom-atom ini L=ℓ yakni bilangan kuantum orbital dari
elektron-valensi itu sendiri.
Rumusan yang dapat mem-fit tingkat-tingkat energi elektron-valensi adalah:

2
 Z eff 
En   Rhc    Rhc n (10.7.1)
n 
 eff 

di mana R adalah konstanta Rydberg dan  n adalah eksponen orbital seperti dalam persamaan
(10.5.10b).
Dalam persamaan (10.7.1) berlaku

Zeff=Z-dan neff=n- (10.7.2)

di mana  konstanhta skrining, dan  adalah cacat kuantum yang nilainya bergantung pada harga-
harga n dan ℓ dari elektron valensi. Untuk atom litiuym dan natrium nilai  seperti dalam Tabel 10.3.

Tabel 10.3 Nilai  untuk Li dan Na


s p d
Li (Z=3) 0,4 0,04 0
Na (Z=11) 1,37 0,88 0,01

Nilai ditentukan sebagai berikut: Tetapkan kulit (n) di mana elektron yang akan ditentukan nilai -
nya berada. Nilai  untuk elektron itu merupakan jumlah kontribusi-kontribusi berikut, (i) setiap
elektron lain di kulit yang sama menimbulkan faktor skrining 0,35; (ii) setiap elektron dikulit (n-1)
menimbulkan faktor 0,85 dan elektronj di kulit (n-2) menimbulkan faktor 1; (iii) jika elektron di kulit
d dan f faktor 1 diberikan oleh setiap elektron yang ada di bawahnya.

Contoh 10.7 Menentukan Zeff.


1) Zeff untuk elektron 2s dari atom Li.

184
Konfigurasi elektron 1s2 2s. Terhadap satu elektron 2s ada dua elektron di 1s., maka kontribusinya
=20,85=1,7. Maka Zeff=Z-=3-1,7=1,3.
2) Zeff untuk satu elektron 2p dari atom Na.
Konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s
Terhadap dsatu elektron di 2p ada 7 lima elektron di kulit yang sama (n=2) dan dua elektron di 2s
(n=1), maka =70,35+20,85=4,15. Maka Zeff=11-4.15=6,85. Elekyron 3s tidak memberikan
pengaruh.
3) Zeff untuk elektron 3s dari atom Na.
=80,85+21=8,8. Maka Zeff=11-8,8=2,2.
Atom-atom yang memiliki elektron di sub-sel d dikenal sebagai logam transisi. Atom-atom
itu mulai dari Sc hingga Zn, dari Y hingga Cd, dan dari Lu hingga Hg; lihat Apendiks 4. Elektron-
elektron terluar suatu atom logam transisi selalu di sub-sel s yang jari-jarinya lebih besar daripada d.
Peningkatan nomor atom (Z) diiringi oleh penambahan elektron pada sub-sel d; efeknya pada elektron
di s sangat kecil. Karena kecilnya perubahan jari-jari dan energi ionisasinya maka sifat kimia atom-
atom logam transisi tidak banyak berbeda satu-sama lain. Konduktivitas listrik atom-atom ini
menurun dari Sc ke Mn dan selanjutnya meningkat hingga Cu; meningkat dari Y hingga Ag,
meningkat dari Lu hingga Au. Suseptibilitas magnetnya boleh dikatakan sama, karena besarnya
momentum sudut yang dimiliki elektron-elektron d, dan besarnya jumlah elektron-d yang dapat saling
menggandengkan momen magnet spinnya. Fe, Ni dan Co bersifat feromagnet sedangkan Cu dan Zn
bersifat diamagnet dan atom-atom lainnya bersifat paramagnet.
Atom-atom yang pengisian sub-sel 4f-nya setelah sub-sel 6s disebut logam tanah-langka (rare
earth). Sifatnya mirip dengan logam transisi. Karena banyaknya jumlah elektron di sub-sel 4f dan
karena banyaknya jumlah elektron yang dapat menyearahkan momen magnet spin mereka, maka
suseptibilitas paramagnet atom-atom ini lebih besar daripada logam transisi. Demikian pula sifat
feromagnetnya, lebih besar daripada Fe. Untuk jelasnya lihat Alonso et al. (1979).

10.8 Kopling Russel-Saunders; Hukum Hund


Total momentum sudut suatu atom dapat menentukan sifat-sifat magnetik atom dan probabilitas
transisi dalam proses radiasi. Pada suatu atom yang terisolasi, total momentum sudutnya selalu
2
konstan; dengan menyatakan J sebagai bilangan kuantum maka harga eigen dari Ĵ dan Ĵ z adalah:

J 2  J ( J  1) 2 ; J z  M J ; M J   J ,  ( J  1), ........ (10.7.3)

Untuk setiap konfigurasi elektron dari suatu atom, ada beberapa harga yang mungkin dari J, masing-
masing dengan energi yang berbeda. Masalahnya adalah bagaimana menentukan harga-harga J yang
dimungkinkan untuk setiap konfigurasi dan fungsi-fungsi gelombang bersangkutan.
Suatu metoda yang dapat dipakai untuk menentukan harga-harga J adalah metoda L-
Scoupling atau disebut juga Russel-Saunders coupling. Dengan memandang elektron-elektron bebas
satu sama lain, fungsi gelombang seperti dalam persamaan (3.59b) di mana setiap keadaan dinyatakan
 
dengan bilangan-bilangan kuantum secara lengkap, maka total momentum sudut adalah L  L
i
i

dan Lz   Lzi . Jika L dan ML adalah bilangan kuantum, maka berlaku


i

L2  L( L  1) 2 ; Lz  M L ; M L   L,  ( L  1),........... (10.7.4)


 
dengan M L   mi . Dengan cara yang sama dapat dilakukan untuk spin, S 
i
S i
i dan

185
S z   S zi . Jika S dan MSadalah bilangan kuantum, maka
i

S 2  S (S  1) 2 ; S z  M S ; M S   S ,  (S  1),..... (10.7.5)


 
dengan mS   msi . Jika L dan S diketahui, total momentum sudut untuk konfigurasi
i
  
ditetapkan dengan J  L  S . Harga-harga yang mungkin dari bilangan kuantum J adalah:

J  L  S , L  S  1, .............., L  S . (10.7.6)

Keadaan suatu atom ditetapkan dengan ketiga bilangan kuantum L, S, dan J. Keadaan-
keadaan suatu konfigurasi dengan L dan S yang sama dinyatakan dengan suatu term atau simbol.
Setiap term dari suatu konfigurasi memiliki energi yang berbeda. Energi setiap term bergantung pada
harga L. Setiap harga L berkaitan dengan orientasi relatif yang berbeda dari momentum-momentum
sudut elektron-elektron, dan oleh sebab itu berkaitan dengan orientasi relatif yang berbeda dari
gerakan-gerakannya. Hal ini menyebabkan interaksi Coulomb yang berbeda dan menyebabkan harga
energi atom yang berbeda. Keadaan-keadaan suatu term dengan L dan S yang sama tetapi berbeda
harga J secara praktis memiliki energi yang sama dan menimbulkan suatu multiplet. Pecahnya suatu
term L-S sesuai dengan harga-harga J merupakan efek interaksi spin-orbit. Karena S<L, maka ada
(2S+1) buah harga-harga J yang berbeda; inilah yang disebut multiplisitas. Seperti telah dikemukakan
sebelumnya, suatu term ditandai dengan simbol 2S+1LJ di mana L menyatakan total bilangan kuantum
orbital, J menyatakan bilangan kuantum total J=L+S, dan 2S+1 menyatakan multiplisitas.
2 S 1
Penulisannya adalah LJ di mana simbol untuk L=0 adalah S, L=1 adalah P dan L=2 adalah D.
Sebagai contoh, konfigurasi ns2 hanya memberikan term singlet 1S0 seperti pada helium, di mana L=0,
S=0 dan J=0. Untuk konfigurasi np2 term yang mungkin adalah L=0, S=0, J=0 atau 1S0, L=2, S=0, J=2
atau 1D2 dan L=1, S=1, dan J=2 atau 3P2.
Susunan term-term dalam suatu konfigurasi elektron-elektron yang sama, dapat dilakukan
dengan mengikuti aturan empiris Hund:
(i) dari semua term yang mungkin, term dengan multiplisitas terbesar (S paling besar) memiliki
energi paling rendah; dari semua term dengan multiplisitas yang sama, yang paling besar harga L-
nya memiliki energi terendah.
(ii) susunan tingkat-tingkat multiplisitas dari setiap term akan normal (J paling kecil berenergi paling
rendah) bilamana sub-sel kurang dari setengah. Susunan jadi terbalik jika sub-sel lebih dari
setengah.
Interaksi Interaksi Interaksi
Coulomb spin-orbit Zeeman
1
2 S 1So
np 1
D2
1
D 3
P2
3
P1
3
P 3
P0

Gb..10.11 Tingkat-tingkat energi dalam konfigurasi np2.

Dalam Gb. 10.11 diperlihatkan urutan tingkat-tingkat energi dalam konfigurasi np2 mulai dari
yang paling rendah: 3P, 1D dan 1S yang pecah karena pengaruh Coulomb terhadap momentum sudut
total L seperti telah dikemukakan di atas. Karena adanya interaksi spin-orbit maka 3P yang triplet

186
(S=1) akan pecah tiga, masing-masing dengan J=0, 1, dan 2. Terakhir diperlihatkan juga bahwa
interaksi dengan medan magnet (efek Zeeman) memecah setiap term berdasarkan harga J-nya dengan
jumlah pecahan (2J+1);Alonso et al. (1979).
Besarnya jumlah tingkat-tingkat energi yang dalam suatu atom banyak-elektron
memperlihatkan spektrum yang jauh lebih rumit dari pada atom berelektron-tunggal. Transisi-transisi
elektron dibatasi oleh aturan seleksi; untuk transisi-dipol-listrik aturan seleksinya adalah:
L=1, S=0
J=0, 1 (tidak 00) (10.7.7)
MJ=0, 1
Transisi J=0J‟=0 terlarang karena melanggar hukum kekekalan momentum sudut karena suatu
foton memiliki satu unit momentum sudut atau spin.

10.10 Sinar-X
Jika elektron berenergi tinggi mengenai suatu plat dari atom tertentu, maka sebagian energinya akan
berubah menjadi radiasi (sinar-X) yang diemisikan oleh plat tersebut; radiasi itu disebut
bremsstrahlung, yakni radiasi karena elektron diperlambat ketika tiba di plat. Intensitas radiasi ini
kontinu terhadap panjang gelombang. Jika energi elektron itu cukup besar, maka di samping radiasi
bremsstrahlung, plat mengemisikan juga sinar-X dengan intensitas yang sangat sempit dalam panjang
gelombang. Radiasi ini disebut radiasi karakteristik. Kedua jenis radiasi itu diperlihatkan dalam
Gb.10.7.

I radiasi karakteristik

25 KV

20 KV

bremsstrahlung

1 2  (Å)

Gb.10.7 Spektrum sinar-X.

Penjelasan radiasi karakteristik yang tajam itu adalah sebagai berikut. Ketika elektron
berenergi tinggi menumbuk plat, artinya menumbuk atom-atom dalam plat, energi itu cukup besar
untuk dapat mengeluarkan elektron dari suatu sel penuh dan meninggalkan kekosongan di sel itu.
Elektron lain ditingkat energi yang lebih tinggi (misalnya elektron valensi) segera akan mengisi
kekosongan itu, dan sel menjadi penuh kembali. Turunnya elektron dari tingkat energi tinggi ke
tingkat energi rendah akan disertai oleh emisi gelombang elektromagnet, dalam hal ini sinar-X yang
disebut radiasi karakteristik. Jika sel yang diisi itu adalah sel-K, maka sinar-X yang dihasilkan
dikarakterisasi dengan K, K, dan K sehubungan dengan sel asal elektron pengisi, yakni sel-L, sel-
M dan sel-N. Demikian juga, jika sel yang diisi itu adalah sel-L, maka sinar-X yang dihasilkan
dikarakterisasi dengan L,dan L, sehubungan dengan sel asal elektron pengisi, yakni sel-M dan sel-
N.
Pada saat pengisian, elektron akan mengikuti aturan seleksi. Misalnya pengisian sel-K dengan
term 2S1/2 hanya bisa oleh elektron yang berasal dari sel-L dengan term 2P1/2 dan 2P3/2 tidak dengan
term 2S1/2. Hal ini pula yang menyebabkan teramatinya struktur halus pada radiasi karakteristik.

187
10.11 Laser
Suatu atom yang tereksitasi, misalnya karena menyerap foton, bisa turun ke energi keadaan yang
lebih rendah atau malah kembali ke keadaan dasarnya melalui dua proses radiasi. Pertama, emisi
spontan yang menghasilkan fluoresensi dan fosforesensi, dan kedua, emisi terimbas atau terangsang
yang melatar-belakangi mekanisme laser (light amplification by stimulated emission of radiation).
Kedua jenis emisi ini (lihat Gb.10.8) masing-masing dirumuskan sebagai berikut:

Emisi spontan: Atom*Atom+foton

Emisi terangsang: Foton+Atom*Atom+2 foton

Di mana tanda * menyatakan keadaan tereksitasi. Dalam emisi terangsang, foton pertama dan foton
kedua (yang diemisikan saat atom kembali ke keadaan dasar), memiliki frekuensi, fasa dan arah yang
sama; keadaan ini disebut koheren.
Tinjaulah sekumpulan atom sejenis dalam keadaan tereksitasi x; andaikan ada sebuah foton
yang sesuai mengenai dan merangsang sebuah atom, sehingga atom itu turun ke keadaan dasar g
dan dihasilkan dua buah foton yang sama (Gb.10.8). Masing-masing foton

Ex x Ex x Ex x

Eg g Eg g Eg g
(a) (b) (c)
Gb.10.8 Absorpsi (a), emisi spontan (b) dan emisi terangsang (c).

itu akan merangsang sebuah atom dan menghasilkan dua foton, demikian selanjutnya. Bisa juga
terjadi sebuah foton terserap oleh sebuah atom di keadaan dasarnya hingga tereksitasi.
Peluang sebuah atom untuk tereksitasi karena menyerap foton sama dengan peluangnya untuk
kembali ke keadaan dasar sambil mengemisikan foton karena dirangsang oleh foton yang sama. Oleh
sebab itu, untuk memperoleh sejumlah foton sebagai hasil netto dari kedua proses, jumlah atom
dalam keadaan tereksitasi harus lebih besar daripada jumlah atom dalam keadaan dasar. Keadaan ini
disebut pembalikan populasi (population inversion), yakni keadaan yang tidak normal.
Dalam keadaan setimbang termal, sebagian besar atom-atom berada dalam keadaan dasarnya
dan sedikit sekali yang tereksitasi. Perbandingan jumlah (populasi) atom tereksitasi dan jumlah atom
di keadaan dasarnya mengikuti distribusi Boltzmann:

N ex ( E  E ) / k T
 e ex g B (10.9.6)
Ng

di mana Ex dan Eg masing-masing energi keadaan tereksitasi dan energi keadaan dasar, kB adalah
konstanta Boltzmann dan T suhu Kelvin. Karena Eg jauh lebih negatip daripada Ex maka Nex<<Ng.
Populasi Nx dapat mendekati Ng hanya pada suhu sangat tinggi yang tidak mungkin dilakukan. Cara
yang dapat dilakukan untuk meningkatkan populasi Nx adalah dengan penyinaran dari luar (misalnya
pulsa listrik atau cahaya); proses penyinaran ini disebut optical pumping. Atom-atom yang pada
umumnya berada dalam keadaan dasar dipompa agar tereksitasi sebanyak-banyaknya hingga terjadi
pembalikan populasi, Nex>>Ng.
Ditinjau dari tingkat-tingkat energi dari suatu atom yang terlibat dalam proses laser, ada
beberapa sistem laser: sistem tiga tingkat dan sistem empat tingkat seperti diperlihatkan dalam

188
Gb.10.9. Dalam sistem tiga tingkat proses pumping dilakukan ke tingkat teratas yakni keadaan
eksitasi ex2 yang berumur sangat singkat dan laser berlangsung antara ex1 dan keadaan dasar.
Contoh laser ini adalah laser dioda GaAs (=800-1600 nm) yang biasa digunakan dalam sistem
komunikasi optik.
Dalam sistem empat tingkat, seperti laser He-Ne dengan campuran 90% He dan 10% Ne,
pumping terhadap atom-atom He keadaan dasar (1s) dilakukan ke tingkat teratas yakni keadaan
eksitasi x3 (2s) yang metastabil (20,6 eV); He tak dapat turun ke keadaan dasarnya; baru setelah
bertumbukan dengan atom-atom Ne yang masih di keadaan dasarnya (2p), atom-atom He
menyerahkan energinya ke atom-atom Ne; He segera turun ke keadaan dasarnya (1s) dan atom-atom
Ne tereksitasi ke x3 (5s) dengan energi yang sama. Proses laser diperankan oleh atom-atom Ne
antara keadaan eksitasi x3 (5s) dan keadaan eksitasi x2 (3p) di bawahnyah dengan =633 nm
(merah); setelah melalui keadaan 3s atom-atom Ne segera turun ke keadaan dasar (2p).

ex3
ex
2 ex
1
ex2
ex1
g g
(a) (b
) (a) dan empat tingkat (b).
Gb.10.9 Dua buah sistem laser, tiga tingkat

Garis panah tebal menyatakan pumping. Untuk memperoleh sinar laser berintensitas tinggi, bahan
laser ditempatkan dalam suatu kavitas yang diperlengkapi dengan cermin-cermin setengah-pantul.
Sinar laser bolak-balik di antara kedua cermin secara tegak lurus dan setelah intensitasnya cukup
tinggi sinar itu keluar dari kavitas.

189
Soal-soal
10.1 Konfigurasi elektron suatu atom adalah 4s4p3d; dengan ML=1 dan MS=3/2 tuliskanlah semua
fungsi gelombang yang mungkin dalam bentuk determinan Slater.

10.2 Tentukanlah term untuk konfigurasi elektron di bawah ini, dan tunjukkanlah dalam setiap kasus
term yang mana bernergi paling rendah.
(i) ns, (ii) np3, (iii) (np2)(n‟s), (iv) (nd2)(n‟p).

10.3 Nyatakanlah harga-harga bilangan kuantum S, L, dan J dalam term-term berikut: 1S0, 2S½, 1P1,
3
P2, 1D2, dan 5D1.

10.4 Tentukanlah transisi-transisi dipole listrik di bawah ini yang diizinkan.


(a) 1s2s,
(b) 1s2p,
(c) 2p3d,
(d) 3s5p , dan
(e) 3s3d.

10.5 Transisi elektron dalam atom Na dari orbital 3p ke orbital 3s menghasilkan garis dengan
panjang gelombang 589 nm. Hitunglah panjang gelombangnya . Hitung juga untuk transisi dari
2p ke 2s.

10.6 Spektrum suatu ion berelektron-tunggal dari sebuah elemen menunjukkan orbital-orbital ns
berenergi 0, 2057972 cm-1, 2439156 cm-1 dan 2572563 cm-1.untuk n=1, 2, 3, 4. Tentukan
elemen itu serta ramalkan energi ionisasi ion itu.

10.7 Berdasarkan persamaan (3.77) tentukanlah energi keadaan dasar dan keadaan eksitasi pertama
dari elektron valensi dalam atom Li dan Na.

10.8 Beberapa garis K dari berbagai atom yang telah pernah diukur adalah: magnesium: 9,87 Å;
sulfur: 5,36 Å, kalsium: 3,35 Å; chromium: 2,29 Å; cobalt: 1,79 Å; tembaga: 1,54 Å; rubidium:
0,93 Å; dan tungsten: 0,21 Å. Plot akar frekuensi terhadap nomor atom. H.G.Mosley
menemukan hubungan empiris dalam bentuk f1/2=A(Z-). Dari gambar hasil plot tersebut
taksirlah harga-harga A dan .

10.9 Hitunglah konstanta kopling spin-orbit untuk electron 2p dalam orbital jenis Slater, dan
evaluasi hal itu untuk atom-atom netral dari boron hingga fluor.

10.10 Tuliskan Hamiltonian electron untuk ataom Li (Z=3) dan tunjukkan bahwa jika potensial
elektron-elektron diabaikan maka fungsi gelombangnya bisa dinyatakan sebagai perkalian dari
1s(1)1s(2)2s(3) dari orbital-orbital hidrogen dan energinya merupakan perjumlahan energy
masing-masing elektron.

10.11 Orbital-orbital jenis Slater dapat dinormalisasi tetapi tidak orthogonal satu sama lain. Dalam
prosedur ortogonalisasi Schmidt suatu orbital 1 bisa dibuat orthogonal terhadap orbital 2


dengan membentuk  '1  1  c 2 dengan c  1* 2 dV . Buktikan bahwa ‟1 dan 2 adalah
orthogonal. Lakukanlah prosedur itu untuk orbital 2s dan 1s dari jenis Slater.

190
Apendiks 1
Beberapa Konstanta

Konstanta gravitasi G 6,6726 x 10-11 nm2/kg2


Konstanta gas universal R NAkB = 8,314 J/mole-K
Konstanta Boltzmann kB 1,38066 x 10-23 J/K
Konstanta Stefan-Boltzmann ζ 5,6703 x 10-8 W/m2K4
Konstanta Faraday F 96,485 C/mole
Konstanta Coulomb 1 / 4 o 8,988 x 109 Nm2/C2

Konstanta Planck h 6,626076 x 10-34 Js


ћ 1,054557 x 10-34 Js
Konstanta Rydberg R 1,09737 x 107 /m
Konstanta struktur halus α 1/137,036
Kecepatan cahaya c 2,99792 x 108 m/s
Angstrom Å 10-10 m= 10-4 μm= 0,1 nm
Muatan elementer e 1,6022 x 10-19 C
Permittivitas ruang hampa εo 8,85419 x 10-12 C2/Jm
Bilangan Avogadro NA 6,022 x 1023/mole
Satuan massa atom u 1,661 x10-27 kg = 931,5 MeV/c2
Massa diam elektron me 9,11 x 10-31 kg = 0,511 MeV/c2
Massa diam proton mp 1,673 x 10-27 kg = 938,28 MeV/c2
Massa diam neutron mn 1,675 x 10-27 kg = 939,57 MeV/c2
Massa diam alfa mα 6,6448 x 10-27 kg = 3727,41 MeV/c2
Jari-jari Bohr ao 5,29177 x 10-11 m
Harga-g elektron ge 2,002319
Harga-g proton gN 5,585695
Magneton Bohr e 9,2741 x 10-24 J/T
Magneton inti N 5,0508 x 10-27 J/T
Energi atom Hidrogen En -13,6057 eV/n2, n=1 ,2, .....
Elektron volt eV 1,6022 x 10-19 J

191
Apendiks 2
Beberapa Integral
1 x
1.  x sin bx dx  b sin bx  cos bx
2
b
x 1
 sin bx dx  2  4b sin(2bx)
2
2.

x2 x 1
   sin(2bx)  2 cos(2bx)
2
3. x sin bx dx
4 4b 8b
x  x
3
1  x
 x sin bx dx  6   4b  8b 3  sin(2bx)  4b 2 cos(2bx)
2 2
4.

1 bx
 xe dx  b 2 e (bx  1)
bx
5.

bx  x 2x 2 
2

  
 b  b 2  b 3 
2 bx
6. x e dx e
 

n!
x e qx dx  ; n  0,1, 2, .....; q  0
n
7.
0 q n1

1  
1/ 2

e
bx2
8. dx   
0
2 b 

1.3.....(2n  1)   
1/ 2

9.  x e
2 n bx 2
dx   2 n1  ; n  1, 2, 3, ......
0 2 n1 b 

n! at  a 2t 2 a nt n 
 x e dx   ; n  0,1, 2,.....
n  ax
10. e 1  at   ....... 
t a n1  2! n! 

192
Apendiks 3
Transformasi koordinat Cartesian ke koordinat bola
z

 r

y
x 

x  r sin  cos  , y  r sin  sin  , z  r cos  (A3.1)

r 2  x2  y2  z 2 (A3.2)
z
cos   (A3.3)
x  y2  z2
2

y
tg   (A3.4)
x

  r          
      ;   x, y, z (A3.5)
    r        

Dari persamaan (A3.2) dan (A3.1) diperoleh:

r
2r  2 x  2r sin  cos 
x
sehingga
r
 sin  cos  (A3.6a)
x

Dengan cara yang sama diperoleh pula

r
 sin  sin 
y
(A3.6b)
r
 cos 
z

Dari persamaan (A3.3) diperoleh

 xz r sin  cos   r cos 


 sin   3 
x r r3
sehingga

193
 cos  cos 
 (A3.7a)
x r

dengan cara yang sama diperoleh pula

 cos  sin 

y r
(A3.7b)
 sin 

z r

Dari persamaan (A3.4) dan (A3.1)

1  y r sin  sin 
 2  2
cos  x
2
x r sin 2  cos 2 
sehinnga
 sin 
 (A3.8a)
x r cos 

Dengan cara yang sama diperoleh pula

 cos 

y r sin 
(A3.8b)

0
z

Substitusi persamaan (A3.6)-(A3.8) ke persamaan (A3.5) menghasilkan:

  cos  cos   sin  


 sin  cos    (A3.9a)
x r r  r cos  

  cos  sin   cos  


 sin  sin   
y r r  r sin   (A3.9b)

  sin  
 cos   (A3.9c)
z r r 

Dari semua persamaan (A3.9) operator Laplace dapat diturunkan, hasilnya

2 2 2 1   2  1    
2     2 r  2  sin  
x 2
y 2
z 2
r r  r  r sin     
(A3.10)
1 2
 2
r sin 2   2

194
Apendiks 4
Transformasi koordinat Cartesian ke koordinat silinder
Koordinat silinder didefenisikan seperti

x   cos  , y   sin  , z  z (A4.1)


y
tg   (A4.2)
x
  x2  y2
2
(A4.3)

        
    ;   x, y (A4.4)
        

  sin  
 cos   (A.4.5)
x   
  cos  
 sin   (A.4.6)
y   

Dari persamaan (A4.5) dan (A4.6) operator Laplace dapat diturunkan, hasilnya

2 2 2 2 1  1 2 2
2        (A4.7)
x 2 y 2 z 2  2    2  2 z 2

195
Apendiks 5
Osilator Terkopel
Dua osilator yang terkopel seperti di bawah ini. Kedua osilator bergerak sepanjang sumbu-x tanpa
gesekan, Sifat-sifatnya akan dikemukakan secara klassik..

x1 x2

k m k m k

Energi potensial sistem adalah

V  12 kx12  12 kx22  12 k x1  x2 


2

 
(A5.1a))
 12 k 2 x12  2 x 22  kx1 x2

Karena gaya konservatif Fi=-V/xi maka persamaan gerak masing-masing massaadalah

V
mx1    mx1  2kx1  kx2
x1
(A5.1b)
V
mx2    mx2  2kx2  kx1
x 2

Suku yang mengandung perkalian silang pada persamaan (A5.1a) menimbulkan kesulitan dalam
penyelesaian persaman gerak (A5.1b). Untuk mengatasi masalah itu harus dilakukan transformasi
koordinat. Sebelumnya persamaan (A5.1a) diubah ke bentuk perkalian matriks sebagai berikut

 2  1 x1 
V  12 k x1 x2    (A5.2a)
 1 2  x2 
atau
V  12 k xˆ T Mˆ xˆ (A5.2b)

T
di mana x̂ adalah matriks baris dan x̂ matriks kolom, dan M̂ adalah

 2  1
M̂    (A5.3)
 1 2 

Misalkanlah x̂ bertransformasi ke koordinat baru Q̂ seperti

xˆ  Cˆ Qˆ ; xˆ T  Qˆ T Cˆ 1 (A5.4)

maka potensial pada persamaan (A5.2b) dapat dinyatakan sebagai

196
V  12 kQˆ T Cˆ 1 Mˆ Cˆ Qˆ (A5.5)

Perkalian matriks Cˆ 1 M
ˆ Cˆ menghasilkan matriks diagonal

Cˆ 1 Mˆ Cˆ  D
ˆ (A5.6)

Di lain fihak diagonalisasi sendiri dapat dilakukan melalui determinan Mˆ  Iˆ  0 , dalam hal ini

2   1
 0  1  1, 2  3
1 2  

sehingga diperoleh
1 0
D̂   
3 
(A5.7)
0

Dengan matriks diagonal itu, maka persamaan (A5.5) menjadi

V  12 kQˆ T Dˆ Qˆ
1 0  Q1  1
 
(A5.8)
 12 k Q1 Q2     2 k Q12  Q22
0 1 Q2 

Jadi, suku perkalian telah hilang, dan masalah mejadi mudah diselesaikan.
Karena matriks M̂ dalam persamaan (A5.3) simetris, maka matriks transformasi Ĉ dapat
dinyatakan sebagai matriks rotasi, yakni

 cos   sin  
Ĉ   
 sin  cos  

Dengan persamaan (A5.6): Cˆ 1 M


ˆ Cˆ  D
ˆ atau Mˆ Cˆ  Cˆ Dˆ , maka

 2  1 cos   sin    cos   sin  1 0


    
  1 2  sin  cos    sin  cos   0 3 

Dari persamaan ini diperoleh tg =1, sehingga matriks Ĉ adalah

1 1  1
Ĉ    (A5.9)
2 1 1

Jadi, dengan substitusi (A5.9) ke (A5.4) diperoleh hubungan antara koordinat asli dan kordinat baru,

197
1 1
x1  (Q1  Q2 ); x2  (Q1  Q2 ) (A5.10)
2 2

Selanjutnya, substitusi persamaan (A5.10) ini ke persamaan gerak (A5.1b) menghasilkan persamaan
gerak dalam koordinat baru,

  kQ ; mQ
mQ   3kQ (A5.11)
1 1 2 2

yang solusi-solusinya adalah


k
Q1  A1 sin(1t  1 ); 1 
m
(A5.12)
3k
Q2  A2 sin( 2 t   2 ); 2 
m

Akhirnya, dengan persamaan (A5.10) diperoleh solusi dalam koordinat asli,

x1  B1 sin(1t  1 )  B2 sin( 2 t   2 )
(A5.13)
x 2  B1 sin(1t  1 )  B2 sin( 2 t   2 )

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa untuk kasus osilator terkopel solusi bisa diperoleh hanya dengan
menggunakan koordinat Q, Koordinat ini disebut koordinat normal, dan frekuensi-frekuensi osilasi
disebut frekuensi-frekensi normal atau modus.

198
Apendiks 6
Konfigurasi elektron dari beberapa atom dalam keadaan dasar.

Z At Konfigurasi E. Io- Sim- Z At Konfigurasi E. Io- Sim-


om nisasi bol om nisasi bol
(eV) (eV)
2
1 H 1s 13,60 S1/2 42 Mo Kr+4d45s2 7,10 7
S3
2 He 1s2 24,28 1
S0 43 Tc Kr+4d55s2 7,29 6
S5/2
2
3 Li He+2s 5,39 S1/2 44 Ru Kr+4d75s 7,37 5
F5
4 Be He+2s2 9,32 1
S0 45 Rh Kr+4d85s 7,46 4
F9/2
5 B He+2s22p 8,30 2
P1/2 46 Pd Kr+4d10 8,33 1
S0
6 C He+2s22p2 11,26 3
P0 47 Ag Kr+4d105s 7,57 2
S1/2
7 N He+2s22p3 14,55 4
S3/2 48 Cd Kr+4d105s2 8,99 1
S0
8 O He+2s22p4 13,61 3
P2 49 In Kr+4d105s25p 5,79 2
P1/2
9 F He+2s22p5 17,42 2
P3/2 50 Sn Kr+4d105s25p2 7,34 3
P0
10 Ne He+2s22p6 21,56 1
S0 51 Sb Kr+4d105s25p3 8,64 6
D1/2
2
11 Na Ne+3s 5,14 S1/2 52 Te Kr+4d105s25p4 9,01 3
P2
12 Mg Ne+3s2 7,64 1
S0 53 I Kr+4d105s25p5 10,45 2
P3/2
13 Al Ne+3s23p 5,98 2
P1/2 54 Xe Kr+4d105s25p6 12,13 1
S0
14 Si Ne+3s23p2 8,15 3
P0 55 Ca Xe+6s 3,89 2
S1/2
15 P Ne+3s23p3 10,48 4
S3/2 56 Ba Xe+6s2 5,21 1
S0
16 S Ne+3s23p4 10,36 3
P2 57 La Xe+5d 6s2 5,61 2
D3/2
17 Cl Ne+3s23p5 13,01 2
P3/2 58 Ce Xe+4f 5d 6s2 6,54 1
G4
18 Ar Ne+3s23p6 15,76 1
S0 59 Pr Xe+4f3 6s2 5,48 4
I9/2
2
19 K Ar+4s 4,34 S1/2 60 Nd Xe+4f4 6s2 5,51 5
I4
20 Ca Ar+4s2 6,11 1
S0 61 Pm Xe+4f5 6s2 5,60 6
H5/2
21 Sc Ar+3d 4s2 6,54 2
D3/2 62 Fm Xe+4f6 6s2 5,67 7
F0
22 Ti Ar+3d24s2 6,83 3
F2 63 Eu Xe+4f7 6s2 6,16 8
S1/2
23 V Ar+3d34s2 6,74 4
F3/2 64 Gd Xe+4f75d 6s2 6,74 9
D2
24 Cr Ar+3d54s 6,76 7
S3 65 Tb Xe+4f9 6s2 6,82 6
H15/2
25 Mn Ar+3d54s2 7,43 6
S5/2 66 Dy Xe+4f10 6s2 5
I8
26 Fe Ar+3d64s2 7,87 5
D4 67 Ho Xe+4f11 6s2 4
I15/2
27 Co Ar+3d74s2 7,86 4
F9/2 68 Er Xe+4f12 6s2 3
H6
28 Ni Ar+3d84s2 7,63 3
F4 69 Tm Xe+4f13 6s2 2
F7/2
29 Cu Ar+3d104s 7,72 2
S1/2 70 Yb Xe+4f14 6s2 6,22 1
S0
30 Zn Ar+3d104s2 9,39 1
S0 71 Lu Xe+4f145d 6s2 6,15 2
D3/2
31 Ga Ar+3d104s24 6,00 2
P1/2 72 Hf Xe+4f145d2 7,00 3
F2
p 6s2
32 Ge Ar+3d104s24 7,88 3
P0 73 Ta Xe+4f145d3 7,88 4
F3/2
p2 6s2
33 As Ar+3d104s24 9,81 4
S3/2 74 W Xe+4f145d4 7,98 6
D0
p3 6s2
34 Se Ar+3d104s24 9,75 3
P2 75 Re Xe+4f145d5 7,87 6
S0
p4 6s2
35 Br Ar+3d104s24 11,84 2
P3/2 76 Os Xe+4f145d6 8,70 5
D4
p5 6s2
36 Kr Ar+3d104s24 14,00 1
S0 77 Ir Xe+4f145d7 9,20 4
F9/2
p6 6s2
2
37 Rb Kr+5s 4,18 S1/2 78 Pt Xe+4f145d8 6s2 8,88 3
D3
38 Sr Kr+5s2 5,69 1
S0 79 Au Xe+4f145d10 9,22 2
S1/2
6s
39 Y Kr+4d5s2 6,38 2
D3/2 80 Hg Xe+4f145d10 10,43 1
S0
6s2
40 Zr Kr+4d25s2 6,84 3
F2 81 Tl Xe+4f145d10 6,11 3
P1/2
6s26p
41 Nb Kr+4d45s 6,88 6
D1/2 82 Pb Xe+4f145d10 7,42 3
P0
6s26p2

199
83 Bi Xe+4f145d10 7,29 4
F3/2 88 Ra Rn+7s2 5,23 1
S0
6s26p3
84 Po Xe+4f145d10 8,43 3
P2 89 Ac Rn+6d 7s2 6,90 2
D3/2
6s26p4
85 At Xe+4f145d10 2
P3/2 90 Th Rn+6d27s2 3
F2
6s26p5
86 Rn Xe+4f145d10 10,75 1
S0 91 Pa Rn+5f26d 7s2 4
K11/2
6s26p6
?
87 Fr Rn+7s 92 U Rn+5f36d 7s2 4,00 5
L6

200
INDEKS
anti partikel, 107 yang dinormalisasi, 18
aproksimasi WKB, 128 fungsi basis, 169
atom fungsi eigen, 15
hidrogen, 7, 80 gap energi, 128
atom helium, 147 gauge
Aufbau, 182 Landau, 60
benda-hitam, 1, 2, 12 simetrik, 60
bilangan kuantum gaya
megnetik orbital, 74 Lorentz, 59
orbital, 73 gelombang
spin, 96 partikel, 5
sudut total, 95 George Gamow, 131
utama, 85 giromagnetik, 140
Born-Oppenheimer, 80 Hamiltonian, 20
degenerasi, 24, 62, 86 dipol-medan listrik, 55
tingkat, 63 elektron dalam medan magnet, 61
determinan sekuler, 29, 122 Hamiltonian elektron-tunggal., 170
determinan Slater, 170 Hamiltonian total, 168
diagonalisasi matriks., 28 harga rata-rata, 20
diamagnet, 185 harmonik bola, 74
efek terobosan, 36, 37 Heaviside, 22
effek Heisenberg, 27, 143, 146
foto listrik, 3 Hund, 186
Hall, 65 hyperfine interaction, 126
perisai, 140 indeks bias, 143
Stark, 117 integral overlap, 27
Zeeman, 92 interaksi spin-orbit, 97
Ehrenfest keadaan stasioner, 17
teorema, 26 kekuatan osilator, 145
eigen koefisien
fungsi, 20 pantulan, 36
eksponen orbital, 171 transmissi, 36
ESR, 138 kombinasi linier, 18, 21, 135
feromagnet, 185 koefisien, 121
fluks kuantum, 63 komponen transisi, 90
fonon, 48 komutator, 25
foton, 3 momentum sudut, 70
frekuensi siklotron konstanta gerak, 27, 103
elektron, 60 konstanta kopling, 124
fungsi konstanta Rydberg, 184
delta Dirac, 22 koordinat spin, 98
gelombang elektron, 85 Kronecker delta, 23
gelombang partikel, 130 Lagrangian elektron, 60
keadaan, 20 laser, 188
spin, 94 laser He-Ne, 189

201
magneton Klein-Gordon, 100
Bohr, 91, 140 Laguerre terasosiasi, 82
Matriks operator spin, 99 Legendre terasosiasi, 73
momen dipol Schrodinger, 64
listrik, 55 Schrodinger dalam koord. bola, 81
magnet, 140 sekuler, 28, 122
terinduksi, 137 persamaan nilai eigen, 15
transisi, 143 persamaan Schrödinger, 15
momen magnet, 97 persamaan Schrödinger yang bergantung
momen transisi, 89 waktu, 16
momentum polarizabilitas atomik, 145
linier, 21 polinom
sudut, 69 Hermit, 46
Mosley, 190 Legendre terasosiasi, 73
nilai eigen, 20 positron,, 108
NMR, 138 potensial
operator efektif, 81
bilangan, 47, 48, 62 fungsi delta, 52
Hermitian, 21, 70 penghalang, 35
kreasi dan anihilasi, 48 periodik, 126
Laplace, 20, 64 skalar, 141
momentum linier, 22 sumur tak hingga, 37
momentum sudut, 69 tangga, 33
momentum sudut spin, 94 vektor, 141
tangga, 78 probabilitas transisi, 55, 89, 137
orbital proses pumping, 189
atom, 75 rapat peluang, 18
atom hidrogen, 86 reflektans, 34
atom s, p. d, 75 Russel-Saunders, 185
orbital jenis Slater (Slater-type orbital, self-consistent field (SCF), 173
STO), 171 semikonduktor intrinsik, 128
ortogonalisasi Schmidt, 24 sinar-X, 187
ortonormal, 29 spin
osilator elektron, 94
harmonis, 44, 62 inti, 124
tidak harmonis, 48 spin Pauli, 99
paramagnet, 185 spin-orbital elektron, 168
paritas, 55 struktur halus, 89
partikel-α, 37 syarat transisi, 90, 96
pembalikan populasi, 188 teori gangguan
persamaan bebas waktu, 110
diferensial Hermit, 46 bergantung waktu, 110
Dirac, 102 teori relativitas, 88
Dirac untuk elektron dalam medan tranmittansi, 130
magnet, 105 Transformasi Fourier, 51
Hamiltonioan-Dirac, 103 transisi

202
absorpsi, 137 vektor
elektron, 55 eigen, 104
stimulat, 138 potensial, 60
umur inti, 132

203
Rustam E. Siregar adalah Guru Besar Emeritus di Departemen
Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran Bandung. Dia
dilahirkan di Hutagodang Kabupaten Labuhan Batu Sumatera
Utara pada 3 Januari 1943. Lulus Sarjana pada 1970 dari
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran Bandung, lulus
Magistert Sains pada tahun 1983 dan Doktor pada tahun 1993
dari Pascasarjana Fisika Institut Teknologi Bandung.
Sejak tahun 1985 hingga sekarang dia mengampu mata kuliah Fisika Kuantum dan Mekanika
Kuantum Molekul di program studi S1 Fisika Universitas Padjadjaran. Pada tahun 2002-2015 dia
mengampu mata kuliah Kimia Kuantum di program studi S2 dan S3 Pascasarjana Kimia Universitas
Padjadjaran. Selain itu, dia juga aktif dalam penelitian material optik dan fotonik.

204