Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA IDENTIFIKASI SENYAWA

GOLONGAN ANTRAKINON

Disusun Oleh :

1. Alief Isatuloh (171251591)


2. Dhimas Nurul H (171251608)
3. Deviyana Fitria S (171251604)
4. Hesti Yuliani (171251631)
5. Laylatul Amanah MH (171251649)
6. Nur Faizah Gita (171251672)
7. Reza Ihza Mardhatillah (171251677)
8. Sofi Herawati (171251696)
9. Titania Putri Amriadi (171251703)
10. Verdhea Kristiana (171251707)

AKADEMI FARMASI JEMBER


Jalan Pangandaran No. 42 Antirogo – Jember
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Tujuan 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekstraksi 4
2.2 Curcuma Domestica Rhizoma 5
BAB III METODE KERJA
3.1 Alat dan bahan 9
3.2 Cara kerja 10
BAB IV PEMBAHASAN 12
BAB V KESIMPULAN 14
DAFTAR PUSTAKA 15

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai negara tropis beraneka ragam tumbuhan yang dapat
memanfatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan manusia. Masyarakat
indonesia sejak zaman dahulu mengenal tanaman yang mempunyai khasiat
obat atau menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tanaman obat yang
berkhasiat obat tersebut dikenal dengan sebutan tanaman obat tradisional.
Berbagai khasiat yang dapat dihasilkan oleh tanman tradisional yang
ada, dimanapun efek dan khasiat dari berbagai zat yang terkandung dalam
tanaman tersebut. Sebagai contoh zat kimia yang terkandung dalam tanaman
yang biasa digunkan adalah alkaloid, flavonoid glikosida, terpenoid, saponi,
tanin dan polifenol.
Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan adalah penapis
senyawa kimia yang terkadung dalam tanaman. Cara ini digunakan untuk
mendeteksi senyawa tumbuhan berdasarkan golongannya. Sebagai informasi
awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang mempunyai aktivitas biologi
dari suatu tanaman.
Untuk mengetahui kandungan kimia yang berkhasiat obat pada bahan
alam, maka perlu dilakukan analisis kuantitatif/identifikasi terhadap senyawa-
senyawa tersebutdengan uji pereaksi kimia dan kromatografi lapis tipis (KLT).
1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan antarakinon
dalam tanaman.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekstraksi
Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai
(Depertemen Kesehatan 1995).
Ekstrak digesti adalah metode ekstraksi dengan cara maserasi kinetik
(pengadukan kontinyu) menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 400 –
500C.
Keuntungan digesti:

1. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya


lapisan-lapisan batas.
2. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut
mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.
3. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan berbanding
terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan suhu akan berpengaruhpada
kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu
dinaikkan.
4. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu
dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan akan menguap kembali ke
dalam bejana.

Kerugian digesti:

1. Pelarut mudah terbakar


2. Pelarutnya mungkin beracun
3. Beberapa komponen alkohol, gliserol, mungkin ikut terdestilasi
4. Sering kali terdapat kesalahan dalam membaca meniskus

4
2.2 Curcuma Domestica Rhizoma

Klasifikasi dan Nama Ilmiah (Latin) Kunyit

 Kingdom: Plantae (tumbuhan)


 Subkingdom: Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
 Superdivisi: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
 Divisi: Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
 Kelas: Liliopsida (monokotil)
 Subkelas: Zingiberidae
 Ordo: Zingiberales
 Famili: Zingiberaceae
 Genus: Curcuma
 Spesies: Curcuma longa

Morfologi Kunyit
Ciri-ciri tumbuhan kunyit yakni batangnya tidak bercabang, bentuknya
memanjang dan merupakan batang semu yang tertutup rapat oleh pelepah daun,
berwarna hijau agak keunguan. Setiap tanaman tanaman berdaun 3-8 helai, panjang
daun beserta pelepahnya sampai 70 cm, tanpa lidah daun, berambut halus jarang-
jarang, helainan daun berbentuk lanset lebar, ujung daun lancip, panjangnya 28-85
cm, lebar 10-25 cm, tepi daun rata, tulang daun menyirip, rimpang terbentuk denag
sempurna bercabang-cabang, berwarna jingga, bau aromatis. Morfologi akar kunyit
yakni bentuk rimpangnya bulat dan panjang dengan diameter 1-2 cm serta panjang
3-6 cm. dari ruas-ruasnya dapat tumbuh tunas baru yang akan berkembang menjadi
tanaman baru. Tangkai bunga berambut, bersisik, daun kelopak berambut, bentuk
lanset. Kelopak bunga berbentuk tabung, panjang 9-13 mm.
Khasiat Kunyit
Kunyit digunakan secara luar mulai dari bumbu dapur hingg obat herbal
serta pewarna makanan. Bagian kunyit yang dapat dimanfaatkan untuk herbal
adalah rimpang
Kandungan Senyawa Kimia Kunyit

5
Kunyit memiliki kandungan senyawa kimia aktif yang berkhasiat sebagai obat yang
yang terdiri dari:
1. Minyak atsiri (keton sesquiterpen, turmeron, tumeon, zingiberen, felandren,
sabinen, sesquiterpen alkohol dan sineil). Tumeron yang menyebabkan bau khas
pada kunyit.
2. Kukuminoid yang yang terdiri kurkumin, dimetoksi kurkumin,
dihidrokurkumin, demetoksikurkumin, natrium kurkuminat, asam ferulat dan
bisdemetoksikurkumin.Mineral yang terdiri dari: zat besi, magnesium, kalsium,
kalium, mangan, dan natrium.
3. Kandungan lain yakni arabinosa, fruktosa, glukosa, tanin, damar, dan pati.

Antrakuinon
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti
kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang
berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbo-karbon. Untuk tujuan identifikasi
kuinon dapat dibagi atas empat kelompok yaitu : benzokuinon, naftokuinon,
antrakuinon dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya
terhidroksilasi dan bersifat fenol serta mungkin terdapat dalam bentuk gabungan
dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol (Harborne, 1987).
Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon dan keluarga tumbuhan
yang kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae, Polygonaceae
(Robinson, 1995; Herbert,19..). Antrakuinon juga disebut 9,10- dioxo-dihydro-
anthracen dengan rumus C14H8O2 (Merck, 1983; Samuelsson, 1999; Morrison dan
Boyd, 1959). Struktur dasar antrakuinon terlihat sebagai berikut :

6
Antrakuinon terhidroksilasi tidak sering terdapat dalam tumbuhan secara
bebas tetapi sebagai glikosida. Semua antrakuinon berupa senyawa kristal bertitik
leleh tinggi, larut dalam pelarut organik basa. Senyawa ini biasa berwarna merah,
tetapi yang lainnya berwarna kuning sampai coklat, larut dalam larutan basa dengan
membentuk warna violet merah. Bentuk senyawa antrakuinon dalam tumbuhan
masih rumit karena prazat aslinya mudah terurai oleh enzim atau cara ekstraksi yang
tidak sesuai, sehingga laporan mengenai adanya antrakuinon bebas harus
dipertimbangkan dengan hatihati. Banyak antrakuinon yang terdapat sebagai
glikosida dengan bagian gula terikat dengan salah satu gugus hidroksil fenolik
(Robinson, 1995). Pada saat mengidentifikasi pigmen dari tumbuhan baru, harus
diingat bahwa hanya sedikit saja antrakuinon yang terdapat secara teratur dalam
tumbuhan. Yang paling sering dijumpai ialah emodin, sekurang-kurangnya terdapat
dalam enam suku tumbuhan tinggi dan dalam sejumlah fungus (Harborne, 1987).
(i). Struktur Sama halnya dengan sifat glikosida lainnya, glikosida antrakuinon juga
mudah terhidrolisis. Bentuk uraiannya adalah aglikon dihidroksi antrakuinon,
trihidroksi antrakuinon, atau tetrahidroksi antrakuinon. Sementara bagian gulanya
tidak tertentu. Di alam kira-kira telah ditemukan 40 turunan antrakuinon yang
berbeda-beda, 30 macam di antaranya mengelompok dalam famili Rubiaceae. Pada
tanaman monokotil, antrakuinon ditemukan dalam famili Liliaceae dan dalam
bentuk yang tidak lazim, yaitu C-glikosida barbalion.
Turunan antrakuinon yang terdapat dalam bahan-bahan purgativum berbentuk
dihidroksi fenol, trihidroksi fenol seperti emodin, atau tetrahidroksi fenol seperti
asam karminat. Turunan antrakuinon sering kali berwarna merah oranye. (Anonim,
2004; Gunawan, 2004; Robinson, 1995; Samuelsson, 1999).

Uji KLT
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan kompnen
menggunakan fase diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben inert, KLT
merupakan salah satu jenis kromatografi analitik
KLT merupakan conth dari kromatografi adsorbs, fase diam berupa padatan dan
fase geraknya berupa cairan dan gas. Zat terlarut yang diadsorbsi oleh permukaan
partikel padat (Soebagio, 2002).

7
Prinsip KLT adalah adsorbs dan partisi dimana adsorbs adalah penyerapan pada
permukaan. Sedangkan partisi adalah penyebaran atau kemampuan suatu zat yang
ada dalam larutan untuk berpisah kedalam pelarut yang digunakan.
Prosedur kerja KLT
1. Siapkan peralatan
2. Siapkan plat KLT
3. Buat jarak penotolon dari dari batas bawah plat
4. Buat jarak rambat(eluasi)
5. Totolkan sampel dan bahan pembanding pada plat
6. Masukkan pelarut (eluen) kedalam chamber
7. Lakukan eluasi sampai batas yang diinginkan
8. Angkat dan keringkan
9. Identifikasi sampel dan bahan pembanding dengan sinar UV
10. Hitung nilai Rf nya

8
BAB III
METODE KERJA
3.1 ALAT DAN BAHAN
 Timbangan analitik
 Tabung reksi
 Gelas Ukur
 Kertas saring
 Batang pengaduk
 Plat KLT
 Chamber
 Pipa kapiler
 Cawan porselen
 Pipet tetetes
Bahan
 Ekstrak curcumae domestica
 Amoniak
 Toulena
 KOH 0.5N

9
3.2 CARA KERJA

Identifikasi Senyawa
Golongan Antrakinon

Reaksi warna Uji KLT

Uji borntrager Uji modifikasi


borntrager

1. Timbang 0,3 g ekstrak 1. Timbang ekstrak 0,3 g Siapkan


2. Diekstraksi dengan 2. Tambah 5ml KOH 0,5 N 1. Fasediam
10ml air suling, lalu dan 1ml H2SO4 encer kiesel gel Gf
saring 3. Panaskan dan saring 254
3. Filtrat dikocok dengan 4. Tambah 10tetes asam 2. Fase gerak
10ml toluena dalam asetat glasial Toluena:
corong pisah 5. Ekstraksi dengan 10ml 7,5ml
4. Fase toluen toluena Etil asetat:
dikumpulkan dan 6. Fase toluena dikumpulkan 2,4ml
dibagi 2 bagian (beri dan bagi menjadi 2 bagian Asam asetat:
label VA dan VB) (beri label VIA dan VIB) 2tetes
VA: blanko, uji KLT VIA: blanko, uji KLT 3. Penampak
5. VB: tambah amonia 7. VIB: tambah 1ml amonia noda
lalu kocok (jika warna (jika warna merah atau Disemprot
merah positif merah muda positif dengan
antrakinon) antrakinon) larutan 10%
KOH dalam
metanol
(jika terjadi
warna kuning,
kuning coklat,
atau hijau
ungu positif
antrakinon)

10
 Uji Borntrager

 Uji modifikasi Borntrager

 Uji KLT

11
BAB IV
PEMBAHASAN

1.4 Pembahasan
Pada praktikum kali ini menggunakan dengan menimbang ekstrak
Curcumae domesticae Rhizoma seberat 0,3 gram. Cara kerja yang kami lakukan
dengan cara reaksi warna untuk membuktikan adanya kandungan antrakinon pada
ekstrak Curcumae domesticae Rhizoma. Pereaksi yang digunakan untuk
Uji Borntrager : ekstrak ditambah 10 ml air suling, saring, lalu filrat
dikocok dengan 10 ml toluena dalam corong pisah
lalu dibagi menjadi 2 VA sebagai blanko VB
ditambahkan amonia lalu dikocok
Hasil : ekstrak Curcumae domesticae Rhizoma positif
menunjukkan larutan warna merah positif (+)
mengandung antrakinon.

Uji modifikasi Borntrager : ekstrak ditambah pereaksi 5 ml KOH 0,5N,


tambah 1 ml H2SO4 encer dipanaskan dan disaring, lalu filtrat ditambah 10
tetes asetat glasial dan diekstraksi dengan 10 ml toluena. Hasil filtrat
dipisahkan lalu bagi menjadi 2 VIA sebagai blanko VIB ditambah 1 ml
amonia lalu dikocok.

Hasil : ekstrak Curcumae domesticae Rhizoma positif menunjukkan


larutan warna merah positif (+) mengandung antrakinon

Uji Kromatografi Lapis Tipis


Fase diam : Kiesel gel GF 254
Fase gerak : Toluena : Etil asetat : Asam asetat ( 7,5 ml : 2,4 ml : 2 tetes)
Penampak noda : larutan 10% KOH dalam metanol

12
Hasil : positif (+) mengadung adanya antrakinon timbul warna
kuning coklat

Perhitungan Rf
Rf 1 = 2,7 cm : 8 cm
= 0, 337 cm
Warna secara visual : Kuning flourescent
Warna secara UV 254 nm : Kuning flourescent

Semua antrakinon memberikan warna reaksi yang khas dengan reaksi


Borntraeger jika Amonia ditambahkan: larutan berubah menjadi merah untuk
antrakinon dan kuning untuk antron dan diantron. Antron adalah bentuk kurang
teroksigenasi dari antrakinon, sedangkan diantron terbentuk dari 2 unit antron.

Antrakinon yang mengandung gugus karboksilat (rein) dapat diekstraksi dengan


penambahan basa, misalnya dengan natrium bikarbonat. Hasil reduksi antrakinon
adalah antron dan antranol, terdapat bebas di alam atau sebagai glikosida.

Antron bewarna kuning pucat, tidak menunjukkan fluoresensi dan tidak larut dalam
alkali, sedangkan isomernya, yaitu antranol bewarna kuning kecoklatan dan
dengan alkali membentuk larutan berpendar (berfluoresensi) kuat.

13
BAB V
KESIMPULAN

1. Didapatkan pada uji borntrager ekstrak Curcumae domestica Rrhizoma


positif mengandung antrakinon dimana ditandai dengan larutang yang
berwarna merah.
2. Pada uji modifikasi brontrager sampel menunjukan juga positif
mengandung antrakinon yang di tandai dengan larutan berwarna merah.
3. Uji kromatografi lapis tipis positif mengandung adanya antrakinon timbul
warna kuning coklat.
4. Perhitungan Rf sebesar 0,337cm ,dan di dapatkan warna secara visual dan
secara UV 254 nm adalah kuning flourescen.
5. Antrakinon warna reaksi yang khas dengan reaksi Brontraeger jika di
tambahkan dengan amonia dimana akan menghasilkan warna merah pada
antrakinon dan kuning untuk antron dan diantron.
6. Antrakinon dapat diekstraksi dengan penambahan basa dan hasil reduksinya
adalah antron (kuning pucat) dan tidak larut pada alkali sedangkan antranol
(kuning kecoklatan) .

14
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. (1995).Farmakope Indonesia Edisi


IV.Jakarta:Departemen Kesehatan RI.Hal.1033.

Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern


Menganalisis Tumbuhan, Edisi kedua, Hal 5, 69-76, diterjemahkan oleh Kosasih
Padmawinata dan Iwang Soedira, ITB Press, Bandung.

Robinson, T. 1995. Kandungan SenyawaOrganik Tumbuhan Tinggi.


Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Kosasih Padmawinata. Penerbit: ITB. Bandung.

15