Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM II

FARMAKOKINETIKA ORAL KOMPARTEMEN TERBUKA


(PEMBERIAN PARASETAMOL TUNGGAL DAN KOMBINASI DENGAN
FENILPROPANOLAMIN)

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengetahui prinsip farmakokinetika oral kompartemen terbuka.
2. Mengetahui cara simulasi data klinis farmakokinetika oral kompartemen terbuka.
3. Mampu memberikan rekomendasi terapi terkait farmakokinetika obat yang diberikan
melalui rute oral kompartemen terbuka.

B. DASAR TEORI
Paracetamol siap diabsorpsi dari saluran gastrointestinal dengan konsentrasi
puncak plasma mencapai sekitar 10-60 menit dengan dosis per oral. Paracetamol
didistribusikan ke hampir semua jaringan tubuh. Melewati plasenta dan mengalir melalui
air susu. Ikatan protein plasma dapat diabaikan pada konsentrasi terapeutik normal, namun
dapat meningkat dengan peningkatan konsentrasi. Waktu paruh eliminasi dari paracetamol
bervariasi antara 1 hingga 3 jam. Paracetamol dimetabolisme dalam hati dan diekskresi
melalui urin sebagai glukoronide dan sulfat konjugasi. Kurang dari 5% diekskresi sebagai
paracetamol. Eliminasi terjadi kira-kira 1-4 jam (Sweetman, 2009).
Parasetamol hanya dapat bekerja baik dalam menghambat enzim siklooksigenase
pada kadar peroksidase yang rendah sehingga mekanisme kerja analgesik parasetamol
masih sulit untuk dijelaskan. Kadar tertinggi parasetamol di sirkulasi darah ditemukan kira-
kira 2 jam setelah pemberian peroral Waktu paruh dari obat ini dalam plasma adalah 1-3
jam setelah pemberian peroral. Setelah dikonsumsi, 90% parasetamol di metabolisme
menjadi inaktif secara farmakologi seperti asam glucoronik dan cystein. Namun, 5% dari
metabolisme parasetamol menjadi sebuah senyawa toxic berupa N-acetyl-p-benzpquinone.
Toxin ini dapat menyebabkan disfungsi renal dan kegagalan sistim hepatik) (Syarif et al.,
2007).
Fenilpropanolamin hidroklorida adalah senyawa yang termasuk dalam obat
simpatomimetis yang secara struktur berkaitan dengan efedrin hidroklorida. Nama kimia
dari Fenilpropanolamin hidroklorida (dl- norefedrin) adalah α-(1-aminoetil) benzyl alkohol
hidroklorida atau 1-fenil-1- amino-1-propanol hidroklorida. Senyawa ini mempunyai berat
molekul 187,67 g/mol. fenilpropanolamin hidroklorida memiliki waktu paruh eliminasi
antara 3–6 jam. Fenilpropanolamin telah diberikan secara oral sebagai hidroklorida untuk
pengobatan hidung tersumbat (dekongestan). Sering digunakan dalam sediaan kombinasi
untuk mengobati batuk dan demam. Puncak konsentrasi rata-rata dalam plasma sekitar 0,08
mg / L tercapai sekitar 2 jam dan waktu paruh eliminasinya antara 3-6 jam (Shargel and
Yu, 2005).
Penelitian pengaruh pemberian kombinasi obat parasetamol 500mg dan
fenilpropanolaminHCl 50 mg secara oral terhadap profil farmakokinetik masing-masing
obat tersebut dalam plasma menunjukkan hasil bahwa nilai tetapan absorbsi (Ka), laju
eliminasi dari kompartemen sentral (Ke), dan waktu tercapainya konsentrasi puncak
(tmaks) masing-masing obat tidak berbeda secara bermakna baik pemberian tunggal
maupun kombinasi. Perbedaan waktu paruh eliminasi dari seluruh tubuh (t½β) untuk
parasetamol antara pemberian tunggal dan kombinasi, tidak bermakna secara statistik.
Akan tetapi untuk nilai t½β dari fenilpropanolamin hidroklorida berbeda secara bermakna
antara nilai t½β fenilpropanolamin hidroklorida yang diberikan secara tunggal (rata-rata
6,99 jam) dan yang diberikan secara kombinasi dengan pemberian parasetamol (rata-rata
10,60 jam). Nilai AUC0-∞ (luas daerah di bawah kurva) dan Cmaks (konsentrasi puncak)
dari kedua obat memiliki perbedaan bermakna baik nilai AUC0-∞dan Cmaks untuk
parasetamol maupun fenilpropanolamin hidroklorida antara obat yang diberikan secara
tunggal dan kombinasi (Rusdiana dkk. 2007).
1. Model Farmakokinetika Peroral
a. Model absorpsi orde kesatu.

Pada model ini obat dalam saluran cerna DGI diabsorpsi secara sistemik pada suatu
tetapan laju reaksi, K0. Obat dieliminasi dari tubuh oleh suatu proses orde kesatu dengan
suatu tetapan laju orde kesatu, K. model ini analog dengan pemberian obat secara infuse
intravena. Model farmakokinetik yang mengangga absorpsi orde nol digambarkan dalam
Gambar 1 (Shargel and Yu, 2005).
Gambar 1. Model farmakokinetik kompartemen-satu untuk absorpsi obat orde nol
dan eliminasi obat orde kesatu.

Laju eliminasi pada setiap waktu, dengan proses orde kesatu adalah sama dengan
DBK. laju masukan adalah K0. Oleh karena itu, perubahan per satuan waktu dalam tubuh
dapat dinyatakan sebagai berikut :

Integrasi dari persamaan ini dengan substitusi VdCp untuk DB :

Laju absorpsi obat adalah konstan dan berlanjut sampai jumlah obat dalam dinding
usus, DGI habis. Waktu dimana absorpsi obat berlangsung sama dengan DGI/K0. Setelah
waktu ini obat tidak, tersedia lagi untuk absorpsi dari dinding usus dan persamaan 7.7 tidak,
lagi berlaku. Konsentrasi obat dalam plasma akan menurun menurut suatu proses laju
eliminasi orde kesatu (Gambar 2) (Shargel and Yu, 2005).

b. Model Absorpsi Orde Kesatu.


Model ini menganggap bahwa masukan adalah orde kesatu dan suatu eliminasi juga
orde kesatu (Gambar 3). Persamaan diferensial yang menggambarkan laju perubahan obat
dalam tubuh:

F adalah fraksi obat terabsopsi secara sistemik. Oleh karena obat dalam saluran
cerna juga mengikuti suatu proses penurunan orde kesatu (yakni absorpsi melintasi dinding
saluran cerna), jumlah obat dalam saluran cerna sama dengan D0e -Kat
Persamaan ini dapat diintegrasikan untuk memberikan persamaan absorpsi oral
secara umum, untuk perhitungan konsentrasi obat (Cp) dalam plasma pada setiap waktu(t):

Gambar yang khas dari konsentrasi obat dalam tubuh setelah dosis oral disajikan
dalam Gambar 4

Gambar 3. Model farmakokinetik kompartemen-satu untuk absorpsi obat orde


kesatu dan eliminasi obat orde kesatu.

Gambar 4 Jenis kurva kadar dalam plasma-waktu untuk obat yang diberikan
secara oral dosis tunggal (Shargel and Yu, 2005).
Parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara matematis dari
model yang berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh atau metabolitnya dalam darah,
urin atau cairan hayati lainya. Parameter farmakokinetik suatu obat ini dapat digunakan
untuk memperoleh gambaran dan mempelajari suatu kinetika absorpsi, distribusi dan
eliminasi didalam tubuh. Parameter farmakokinetik yang digunakan pada praktikum kali
ini diantaranya adalah tetapan laju absorbsi (Ka), tetapan laju distribusi (α), tetapan laju
eliminasi (β), waktu paruh distribusi (T ½ α), waktu paruh eliminasi(T ½ β), area under
curve (AUC), volume distribusi (Vd), fraksi obat terabsorbsi atau bioavailabilitas absolut
(F), waktu maksimal (t-max) dan konsentrasi plasma maksimum (Cp max) (Joenoes, Z.
N. 2002).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Kalkulator Scintific
b. Laptop
c. Kertas semilogaritmik
d. Alat tulis
e. Penggaris
2. Bahan
Text book
DAFTAR PUSTAKA
Joenoes, ZN, 2002, Arsprescribendi Jilid 3, Airlangga University Press: Surabaya.

Rusdiana, dkk. (2007). Formulasi Tablet Pirimetamin dengan Metode Granulasi Basah. Fakultas
Farmasi Universitas Padjadjaran Jatinangor. Sumedang.
Shargel, L., Yu, A, and Wu, S. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Edisi
Kedua. Airlangga University Press
Sweetman, S.C.. 2009. Martindale The Complete Drug Reference, Thirty Sixth Edition.
Pharmaceutical Press. New York.
Syarif, Purwantyastuti Ascobat et al. 2007. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Gaya Baru: Jakarta.
JURNAL PRAKTIKUM
BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA
PRAKTIKUM II : FARMAKOKINETIKA ORAL KOMPARTEMEN TERBUKA
(PEMBERIAN PARASETAMOL TUNGGAL DAN KOMBINASI DENGAN
FENILPROPANOLAMIN)

Putu Ayu Tania Ivana

Kelompok V

171200265

A2D Farmasi Klinis

Tanggal Praktikum: 1 April 2019

Dosen Pengampu : IGN Agung Windra W.P. S.Farm., M.Sc., Apt

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS

INSTITUT ILMU KESEHATAN MEDIKA PERSADA BALI

2019