Anda di halaman 1dari 59

ANALISIS KUALITAS DIET SERTA HUBUNGANNYA

DENGAN DENSITAS ENERGI KONSUMSI DAN


PENGETAHUAN GIZI MAHASISWA IPB

ELMA ALFIAH

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Kualitas Diet
serta Hubungannya dengan Densitas Energi Konsumsi dan Pengetahuan Gizi
Mahasiswa IPB adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Mei 2015

Elma Alfiah
NIM I14110071
ABSTRAK
ELMA ALFIAH. Analisis Kualitas Diet serta Hubungannya dengan Densitas
Energi Konsumsi dan Pengetahuan Gizi Mahasiswa IPB. Dibimbing oleh IKEU
TANZIHA.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kualitas diet serta


hubungannya dengan densitas energi konsumsi dan pengetahuan gizi pada
mahasiswa IPB. Desain penelitian ini adalah studi cross sectional dengan contoh
penelitian sebanyak 40 mahasiswa Gizi Masyarakat dan 40 mahasiswa Manajemen
Hutan Institut Pertanian Bogor. Pengambilan data konsumsi makanan dilakukan
dengan metode Semi Quantitative Food Frequency Quesstionary (SQ-FFQ) dan
Recall 2 x 24 jam. Sebanyak 62.5% mahasiswa Gizi Masyarakat dan 75%
mahasiswa Manajemen Hutan memiliki kualitas diet yang rendah berdasarkan skor
DQI-I (Diet Quality Index-International). Hasil uji Pearson menunjukkan densitas
energi konsumsi berhubungan negatif dengan kualitas diet (P<0.05), sedangkan
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas diet dengan pengetahuan
gizi berdasarkan uji Spearman (P>0.05). Terdapat hubungan positif antara kualitas
diet dengan asupan energi, karbohidrat, serat, vitamin C, kalsium, dan zat besi
(p<0.05) berdasarkan uji Spearman.

Kata kunci: densitas energi konsumsi, kualitas diet, mahasiswa IPB,


pengetahuan gizi.

ABSTRACT
ELMA ALFIAH. The Analysis of Diet Quality and Its Correlation with
Energy Density Consumption and Nutritional knowledge of IPB students.
Supervised by IKEU TANZIHA.

The purpose of this study was to analyze diet quality and its correlation with
energy density consumption and nutritional knowledge of Bogor Agricultural
University Students. The design of this study was cross sectional study with amount
of subject were 40 Nutrition Community students and 40 Forest Management
students from Bogor Agricultural University. The food consumption data was
collected through Semi Quantitative Food Frequency Quesstionary (SQ-FFQ) and
Recall 2 x 24 hours. There were 62.5% Nutrition Community students and 75%
Forest Management students have low diet quality based on DQI-I (Diet Quality
Index-International) score. The result of Pearson test showed that energy density
consumption had negative correlation with diet quality (P<0.05), while there was
not significant correlation between diet quality and nutritional knowledge based on
Spearman test. There were positive correlation between diet quality and intake of
energy, carbohydrate, dietary fiber, vitamin C, calcium, and iron based on
Spearman test (p<0.05).

Key word: diet quality, energy density consumption, IPB students,


nutritional knowledge
ANALISIS KUALITAS DIET SERTA HUBUNGANNYA
DENGAN DENSITAS ENERGI KONSUMSI DAN
PENGETAHUAN GIZI MAHASISWA IPB

ELMA ALFIAH

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Gizi
dari Program Studi Ilmu Gizi pada
Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Judul Skripsi : Analisis Kualitas Diet serta Hubungannya dengan Densitas Energi
Konsumsi dan Pengetahuan Gizi Mahasiswa IPB
Nama : Elma Alfiah
NIM : I14110071

Disetujui oleh

Prof. Dr.Ir. Ikeu Tanziha, MS


Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Rimbawan
Ketua Departemen

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul yang
dipilih dalam penelitian ini adalah Analisis Kualitas Diet serta Hubungannya
dengan Densitas Energi Konsumsi dan Pengetahuan Gizi Mahasiswa IPB.
Terimakasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang membantu selama proses
pembuatan skripsi.
1. Ibu Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS selaku pembimbing akademik dan
pembimbing skirpsi atas ilmu dan bimbingannya yang telah diberikan.
2. Ibu Dr. Tiurma Sinaga, MFSA selaku pemandu seminar dan penguji yang
telah banyak membantu dan memberikan masukan untuk skripsi ini.
3. Ibu, ayah, serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya.
4. Teman-teman yang selalu memberikan semangat dan dukungan (Neta,
Iqbal, Okta, Rafsan, Fahmi, Yuda, Kustarto, dan keluarga besar Gizi
Masyarakat 48).
5. Teman-teman Gizi Masyarakat dan Manajemen Hutan angkatan 49 atas
dukungan dan bantuannya dalam pengumpulan data.
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga skripsi ini dapat
memberikan banyak manfaat.

Bogor, Mei 2015

Elma Alfiah
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xiv


DAFTAR LAMPIRAN xiv
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
KERANGKA PEMIKIRAN 3
METODE PENELITIAN 5
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian 5
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh 5
Jenis dan Cara Pengumpulan Data 5
Pengolahan dan Analisis Data 6
Definisi Operasional 11
HASIL DAN PEMBAHASAN 12
Gambaran Umum 12
Karakteristik individu 12
Karakteristik Keluarga 13
Kebiasaan Konsumsi Pangan 15
Kualitas Diet 17
Pengetahuan Gizi 19
Densitas Energi Konsumsi 21
Status Gizi 22
Hubungan Kualitas Diet dengan Karakteristik Individu 23
Hubungan Kualitas Diet dengan Karakteristik Keluarga 24
Hubungan Kualitas Diet dengan Pengetahuan Gizi 25
Hubungan Kualitas Diet dengan Densitas Energi Konsumsi 26
Hubungan Kualitas Diet dengan Asupan Energi dan Zat Gizi 27
Hubungan Kualitas Diet dengan Status Gizi 28
SIMPULAN DAN SARAN 29
Simpulan 29
Saran 30
DAFTAR PUSTAKA 30
RIWAYAT HIDUP 42

DAFTAR TABEL

1 Variabel, jenis, dan cara pengumpulan data 6


2 Komponen penilaian skor Diet Quality Index – International (DQI-I) 7
3 Kategori pengukuran variabel-variabel 10
4 Sebaran mahasiswa berdasarkan karakteristik individu dan program studi 12
5 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga dan program studi 14
6 Kebiasaan konsumsi pada mahasiswa GM dan MNH berdasarkan jenis
pangan, frekuensi, dan jumlahnya 15
7 Sebaran contoh berdasarkan kualitas diet dan program studi 17
8 Skor komponen kualitas diet GM dan MNH berdasarkan Diet Quality
Index-International (DQI-I) 18
9 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi dan jumlah
yang menjawab pertanyaan dengan benar 19
10 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi dan program studi 20
11 Rata-rata densitas energi kelompok pangan 21
12 Sebaran contoh berdasarkan densitas energi konsumsi dan program studi 22
13 Sebaran contoh berdasarkan status gizi dan program studi 22
14 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik individu dan kualitas diet 23
15 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga dan kualitas diet 24
16 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi dan kualitas diet GM dan
MNH 25
17 Sebaran contoh berdasarkan densitas energi konsumsi dan kualitas diet 26
18 Hubungan densitas energi dengan komponen-komponen Diet Quality
Index (DQI-I) 27
19 Sensitivitas dan spesifisitas densitas energi konsumsi terhadap kualitas
diet 27
20 Asupan rata-rata energi dan zat gizi contoh berdasarkan kualitas diet 28
21 Sebaran contoh berdasarkan status gizi dan kualitas diet 29

DAFTAR LAMPIRAN

1 Kuesioner Penelitian 34
2 Dokumentasi Penelitian 41
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gizi adalah salah satu komponen penting dalam menciptakan sumber daya
manusia yang berkualitas untuk pembangunan Indonesia. Pengaturan makanan
yang baik dapat meningkatkan status kesehatan yang memungkinkan seseorang
mencapai derajat kesehatan yang lebih tinggi sehingga dapat lebih produktif dan
mampu memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesejahteraan (Akhter & Wohab
2006). Perubahan gaya hidup dan pengaturan makanan ke arah yang lebih buruk
pada akhir-akhir ini menyebabkan meningkatnya kejadian penyakit kardiovaskular,
kanker, osteoporosis, tekanan darah tinggi, dan obesitas (Barzegari et al. 2011).
Permasalahan gizi yang berkembang belakangan ini bukan hanya sekedar defisiensi
zat gizi namun juga kelebihan asupan zat gizi yang keduanya dapat menurunkan
status kesehatan. Sebanyak 11.1% dari penduduk Indonesia usia >18 tahun masih
tergolong kurus, 11.5% tergolong berat badan lebih, dan 14.8% tergolong obesitas
(Riskesdas 2013)
Kesesuaian konsumsi makanan sehari-hari dengan ketentuan diet yang
direkomendasikan menentukan kualitas diet seseorang (Cole & Fox 2008).
Riskesdas (2013) menunjukkan bahwa sebanyak 53.1% penduduk usia ≥10 tahun
mengonsumsi makanan/minuman manis ≥1 kali sehari, serta 40.7% diantaranya
mengonsumsi makanan berlemak ≥1 kali sehari. Konsumsi sayur dan buah dari
96.9% penduduk usia 20-24 tahun kurang dari 5 porsi per hari dalam seminggu.
Seseorang yang mengurangi konsumsi makanan manis dan berlemak, serta
meningkatkan konsumsi sayur dan buah pada umumnya lebih mematuhi
rekomendasi diet secara keseluruhan (Schroder et al. 2008).
Kuliah adalah masa dimana banyak ditemukan permasalahan berupa
pengaturan diet yang tidak sesuai dan rendahnya aktivitas fisik (Racette et al. 2005).
Saat seseorang berada di bangku kuliah, sebagian besar dari mereka tidak tinggal
bersama orangtuanya dan mulai memiliki keinginan untuk menentukan keputusan
atas hidupnya sendiri, termasuk di dalamnya adalah keputusan dalam memilih
makanan dan gaya hidup. Kurangnya pengetahuan dalam memilih makanan yang
baik dan meningkatnya tingkat stres adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
buruknya pengaturan diet pada mahasiswa (Mikolajczyk et al. 2009).
Banyaknya perilaku makan yang menyimpang dari rekomendasi diet gizi
seimbang, ditandai dengan banyak mengonsumsi makanan manis dan berlemak,
serta kurang mengonsumsi sayur dan buah, membuat peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai analisis kualitas diet serta hubungannya dengan
densitas energi konsumsi dan pengetahuan gizi. Kemandirian individu yang
dibentuk saat kuliah mempengaruhi pembentukan pola makan dan gaya hidup
mahasiswa. Hal tersebut berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas mahasiswa
sebagai sumber daya bagi pembangunan Indonesia, oleh sebab itu peneliti
menempatkan mahasiswa sebagai sasaran dalam penelitian ini.
2

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dari penelitian ini disusun berdasarkan latar belakang


yang telah diuraikan di atas. Adapun perumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana karakteristik individu dan keluarga mahasiswa IPB?
2. Bagaimana kualitas diet mahasiswa IPB?
3. Bagaimana hubungan kualitas diet dengan densitas energi konsumsi
mahasiswa IPB?
4. Bagaimana hubungan kualitas diet dengan pengetahuan gizi mahasiswa
IPB?

Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas diet
serta hubungannya dengan densitas energi konsumsi dan pengetahuan gizi pada
mahasiswa IPB, sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kualitas diet mahasiswa IPB.
2. Menganalisis densitas energi konsumsi mahasiswa IPB.
3. Menganalisis pengetahuan gizi mahasiswa IPB.
4. Menganalisis faktor-faktor yang behubungan dengan kualitas diet
mahasiswa IPB
5. Menganalisis hubungan kualitas diet dengan densitas energi konsumsi
mahasiswa IPB.
6. Menganalisis hubungan kualitas diet dengan pengetahuan gizi mahasiswa
IPB.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kualitas


diet mahasiswa di Bogor, khususnya mahasiswa IPB, serta kaitannya dengan
densitas energi konsumsi dan pengetahuan gizi. Penelitian ini juga diharapkan dapat
memberikan informasi dan masukan kepada para mahasiswa dan pihak terkait
untuk melakukan evaluasi dan perbaikan pola konsumsi agar memenuhi
rekomendasi diet.
3

KERANGKA PEMIKIRAN

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor adalah salah satu cerminan kelompok


usia transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal yang pada umumnya mengalami
perubahan pola makan. Mengonsumsi makanan yang memenuhi syarat bergizi,
beragam, dan berimbang merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi status
gizi dan kesehatan seseorang. Rekomendasi diet yang dibuat untuk hidup sehat
dapat menjadi acuan dalam menilai kualitas diet seseorang. Banyak mengonsumsi
makanan manis dan berlemak, serta rendahnya konsumsi sayur dan buah
merupakan gambaran konsumsi makanan yang tidak sesuai dengan rekomendasi
diet atau memiliki kualitas diet yang rendah.
Kualitas diet dapat ditentukan dengan menggunakan skor Diet Quality
Index-International (DQI-I) yang menggambarkan kualitas diet seseorang secara
keseluhan. Diet yang berkualitas berasal dari konsumsi makanan dengan densitas
energi rendah seperti sayuran dan buah-buahan. Kualitas diet juga berkaitan dengan
banyak hal lain seperti usia, jenis kelamin, pendapatan (uang saku), dan kondisi
sosial ekonomi keluarga. Keinginan tinggi akan tubuh ideal yang digambarkan
dengan tubuh langsing membuat wanita lebih mengatur dietnya dibandingkan laki-
laki.
Individu yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan mengonsumsi
makanan dengan kuantitas dan kualitas seimbang, serta melakukan aktivitas fisik
secara teratur yang akan mempengaruhi status gizi dan kesehatannya. Mahasiswa
Gizi Masyarakat semester 6 diharapkan memiliki pengetahuan gizi yang lebih
tinggi karena banyak mendapatkan informasi gizi di perkuliahan. Oleh karena itu,
mahasiswa Gizi Masyarakat seharusnya lebih menerapkan pengaturan diet yang
baik dan memiliki kualitas diet yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa
Manajemen Kehutanan yang tidak menerima pengetahuan gizi saat proses belajar
mengajar di perkuliahan.
4

Karakteristik individu: Sosial Ekonomi Keluarga


 Usia  Pendidikan orang tua
 Jenis kelamin  Pendapatan orang tua
 Uang saku  Besar keluarga

Konsumsi Pangan Pengetahuan gizi

Densitas energi Asupan energi dan


konsumsi zat gizi

Kualitas diet

Genetik Status Gizi Aktivitas fisik

Status kesehatan

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian

Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang berhubungan tetapi tidak diteliti
: Hubungan antar variabel yang diteliti
: Hubungan antar variabel yang tidak diteliti
5

METODE PENELITIAN

Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study, yaitu


pengumpulan data dalam satu waktu untuk menggambarkan karakteristik dari
sampel dan hubungan antar variabel. Tempat yang digunakan yaitu lingkungan
kampus IPB. Pemilihan tempat ditentukan secara purposive dengan pertimbangan
lingkungan kampus IPB merupakan tempat pusat aktivitas mahasiswa IPB.
Penelitian dilakukan pada bulan Februari hingga April 2014.

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

Contoh dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 6 Institut Pertanian


Bogor dengan program studi Gizi Masyarakat (GM) dan mahasiswa program studi
Manajemen Hutan (MNH). Contoh yang berasal dari GM dan MNH diharapkan
memiliki pengetahuan gizi yang berbeda, dimana mahasiswa GM memiliki
pengetahuan gizi yang lebih baik sehingga memiliki kuantitas dan kualitas
konsumsi yang lebih baik. Total contoh yang digunakan dalam peneltian ini adalah
80 mahasiswa, dengan rumus perhitungan contoh minimal sebagai berikut:
N
n
 
1 N d 2
238
n=
1 + 238 (0.01x0.01)
n = 71 contoh
Keterangan:
N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : Presisi 10% (0.1)
Pengambilan contoh dari masing-masing kelompok ditentukan dengan
menggunakan metode purposive sampling. Contoh mahasiswa GM yang diambil
adalah sebanyak 40 mahasiswa, dan MNH sebanyak 40 mahasiswa. Kriteria contoh
yang mengikuti penelitian ini adalah: 1) Mahasiswa IPB program studi GM dan
MNH semester 6; 2) Mahasiswa MNH tidak mengambil supporting course atau
program minor dari departemen GM; 3) Bersedia mengikuti penelitian dari awal
hingga akhir pengambilan data.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan
sekunder. Data primer yang dikumpulkan adalah karakteristik individu (usia, jenis
kelamin, uang saku, berat badan, tinggi badan), karakteristik keluarga (pendidikan
orang tua, pendapatan orang tua, besar keluarga), pengetahuan gizi, dan konsumsi
6

pangan. Data karakteristik individu, keluarga dan konsumsi pangan (SQFFQ dan
Recall 2 x 24 jam) ditanyakan dengan menggunakan kuesioner (lihat Lampiran 1).
Pengukuran berat badan dan tinggi badan contoh dilakukan secara langsung,
dimana pengukuran berat badan menggunakan timbangan berat badan dengan
ketelitian 0.1 kg, dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dengan
ketelitian 0.1 cm. Data pengetahuan gizi didapatkan dengan memberikan 10
pertanyaan yang berkaitan dengan gizi dalam bentuk multiple choice (lihat
Lampiran 1). Data densitas energi konsumsi dan skor Diet Quality Index
International (DQI-I) didapatkan melalui rata-rata konsumsi sehari dengan metode
SQFFQ dan Recall 2 x 24 jam. Data sekunder berupa gambaran umum kampus
didapat dari Buku Panduan Program Sarjana IPB. Berikut disajikan tabel variabel,
jenis, dan cara pengumpulan data penelitian.
Tabel 1 Variabel, jenis, dan cara pengumpulan data
No Variabel data Jenis data Cara pengumpulan data
1 Gambaran umum kampus Data sekunder Buku Panduan Program
Sarjana IPB
2 Karakteristik individu
 Usia, jenis kelamin, uang Data primer  Kuesioner dengan
saku wawancara
3 Karakteristik keluarga
 Pendidikan orang tua Kuesioner dengan cara
 Pendapatan orang tua Data primer pengisian langsung oleh
 Besar keluarga contoh
4 Status gizi Data primer Pengukuran berat badan
langsung dengan
timbangan digital dan
tinggi badan dengan
microtoise
5 Pengetahuan gizi Data primer Pengisian pertanyaan
mengenai gizi melalui
kuesioner
5 Konsumsi pangan
 Jenis, frekuensi, dan  Kuesioner SQFFQ
jumlah makanan Data primer  Recall 2 x 24 jam
8 Kualitas diet Diet Quality Konversi data SQFFQ
Index dan Recall 2 x 24 jam
International ke dalam skor DQI-I
(DQI-I)
7 Densitas energi konsumsi Data primer Konversi data SQFFQ
dan Recall 2 x 24 jam

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dan


deskriptif. Proses pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program
Microsoft Excel 2013 for Windows dan Statistical Program for Social Science
7

(SPSS) for windows versi 16.0. Pengolahan data dimulai dengan editing, coding,
entry, cleaning, dan analisis. Data konsumsi pangan yang dikonsumsi dalam
gram/URT dikonversi ke dalam nilai energi dan zat gizi dengan menggunakan
program Nutrisurvey 2007.
Kualitas diet ditentukan dengan menggunakan Diet Quality Index
International (DQI-I) yang menggunakan metode pendekatan pedoman gizi
seimbang di Indonesia. Indonesia belum memiliki instrumen nasional yang khusus
digunakan untuk mengukur indeks kualitas diet. Pendekatan rekomendasi diet
nasional ke dalam sebuah metode penilaian pengukuran kualitas diet telah
dilakukan di dalam penelitian Nurdiani (2011) yang menggunakan pendekatan
piramida makanan Indonesia terhadap Healthy Eating Index (HEI) yang merupakan
salah satu metode perhitungan selain DQI-I yang digunakan untuk menetukan
kualitas diet seseorang. Berdasarkan Kim et al. (2003), DQI-I terdiri atas 4 kategori
yang masing-masing dari kategori memiliki komponen spesifik untuk dinilai.
Keempat kategori tersebut adalah variasi, kecukupan, moderasi, dan keseimbangan
keseluruhan (overall balance). Pembagian kategori tersebut ditujukan untuk
memudahkan identifikasi aspek diet yang paling bermasalah. Skor dari masing-
masing kategori akan dijumlahkan dan menghasilkan total skor DQI-I dimana 100
adalah skor tertinggi, dan 0 adalah skor terendah. Berikut adalah rincian komponen
penilaian pada pengukuran DQI-I.
Tabel 2 Komponen penilaian skor Diet Quality Index – International (DQI-I)
Komponen penilaian Rentang Poin Kriteria penilaian
skor
Variasi 0-20
Variasi seluruh 0-15 15 ≥1 porsi dari masing-masing
kelompok makanan kelompok makanan/hari
12 Tidak mengonsumsi 1 kelompok
makanan/hari
9 Tidak mengonsumsi 2 kelompok
makanan/hari
6 Tidak mengonsumsi 3 kelompok
makanan/hari
3 Tidak mengonsumsi ≥4 kelompok
makanan/hari
0 Tidak mengonsumsi seluruh
kelompok makanan
Variasi pada 0-5 5 ≥3 sumber yang berbeda/hari
kelompok sumber 3 2 sumber yang berbeda/hari
protein 1 1 sumber/hari
0 Tidak mengonsumsi
Kecukupan 0-40
Kelompok sayuran 0-5 5 ≥3-4 porsi/hari
3 <100-50% rekomendasi
1 <50% rekomendasi
0 0% rekomendasi
8

Tabel 2 Komponen penilaian skor Diet Quality Index – International (DQI-I)


(Lanjutan)
Komponen penilaian Rentang Poin Kriteria penilaian
skor
Kelompok buah- 0-5 5 ≥2-3 porsi/hari
buahan 3 <100-50% rekomendasi
1 <50% rekomendasi
0 0% rekomendasi
Kelompok padi- 0-5 5 ≥3-8 porsi/hari
padian 3 <100-50% rekomendasi
1 <50% rekomendasi
0 0% rekomendasi
Serat 0-5 5 ≥100% AKG
3 <100-50% rekomendasi
1 <50% rekomendasi
0 0% rekomendasi
Protein 0-5 5 ≥10% total energi
3 <100-50% rekomendasi
1 <50% rekomendasi
0 0% rekomendasi
Zat besi 0-5 5 ≥100% AKG
3 <100-50% AKG
1 <50% AKG
0 0% AKG
Kalsium 0-5 5 ≥100% AKG
3 <100-50% AKG
1 <50% AKG
0 0% AKG
Vitamin C 0-5 5 ≥100% AKG
3 <100-50% AKG
1 <50% AKG
0 0% AKG
Moderasi 0-30
Total lemak 0-6 6 ≤20% total energi/hari
3 >20-30% total energi/hari
0 >30% total energi/hari
Lemak jenuh 0-6 6 ≤7% total energi/hari
3 >7-10% total energi/hari
0 >10% total energi/hari
Kolesterol 0-6 6 ≤300 mg/hari
3 >300-400 mg/hari
0 >400 mg/hari
Natrium 0-6 6 ≤2400 mg/hari
3 >2400-3400 mg/hari
0 >3400 mg/hari
Empty calory food 0-6 6 ≤3% total energi/hari
3 >3-10% total energi/hari
0 >10% total energi/hari
9

Tabel 2 Komponen penilaian skor Diet Quality Index – International (DQI-I)


(Lanjutan)
Komponen penilaian Rentang Poin Kriteria penilaian
skor
Keseimbangan 0-10
keseluruhan (Overall
balance)
Rasio zat gizi makro 0-6 6 55-65:10-15:15-25
(Karbohidrat:protein:l 4 52-68:9-16:13-27
emak) 2 50-70:8-17:12-30
0 Lainnya
Rasio asam lemak 0-4 4 P/S = 1-1.5 dan M/S = 1-1.5
(PUFA:MUFA: 2 P/S = 0.8-1.7 dan M/S = 0.8-1.7
SFA) 0 Lainnya
(Sumber: Kim et al. 2003)

Secara umum perhitungan DQI-I dilakukan melalui beberapa tahap sebagai


berikut:
1. Pengelompokan pangan ke dalam kelompok padi-padian, sumber protein
hewani, nabati, buah-buahan, sayuran, minyak, gula, dan lain-lain.
2. Perhitungan kandungan energi dan zat gizi menggunakan nutrisurvey.
3. Perhitungan jumlah porsi pangan yang dikonsumsi. Konsumsi makanan
dalam jumlah ≥1/2 porsi standar dihitung sebagai 1 porsi dalam perhitungan
DQI-I.
4. Penentuan skor berdasarkan ketentuan penilaian pada setiap komponen
DQI-I. Total skor DQI-I >60 menunjukkan kualitas diet tinggi dan skor ≤60
menunjukkan kualitas diet rendah.

Densitas energi menggambarkan jumlah energi yang terkandung dalam


satuan berat makanan, dan dapat ditentukan dengan membagi kandungan energi
makanan dengan berat makanan (Ledikwe et al. 2006). Densitas energi konsumsi
secara umum ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Densitas energi konsumsi = Asupan energi sehari/total berat makanan

Data yang didapat dari masing-masing variabel dalam penelitian ini


dikategorikan berdasarkan hasil pengukurannya. Berikut adalah rincian
pengkategorian dari masing-masing variabel:
10

Tabel 3 Kategori pengukuran variabel-variabel


No Variabel Kategori pengukuran Sumber
1 Usia 19, 20, 21 tahun
2 Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan
3 Uang saku < Rp 600 000 Sebaran contoh
Rp 600 000 - 1 199 999
Rp 1 200 000 - 1 799 999
> Rp 1 800 000
4 Status gizi IMT (kg/m2) WHO (2000)
<18.5 = underweight
18.5-22.9 = Normal
≥23 = overweight
23-24.9 = at risk
25-29.9 = obese I
≥30 = obese II
5 Pendidikan Tidak tamat SD/sederajat
orangtua Tamat SD/ sederajat
Tamat SMP/sederajat
Tamat SMA/sederajat
Tamat D1-D3/PT
6 Pendapatan < Rp 3 000 000
orangtua Rp 3 000 000 – 5 999 999
Rp 6 000 000 - 8 999 999
Rp 9 000 000 – 11 999 999
> Rp 12 000 000
7 Besar keluarga Keluaga kecil (≤4 orang) BKKBN (1998)
Keluarga sedang (5-7 orang)
Keluarga besar (≥8 orang)
8 Pengetahuan Baik (>80%) Khomsan (2000)
gizi Sedang (60-80%)
Kurang (<60%)
9 Kualitas diet Rendah ≤60 Kim et al. (2003)
(Skor DQI-I) Tinggi >60
10 Densitas energi Laki-laki: Mendoza et al.
konsumsi Rendah <1.53 kkal/g, (2007).
Sedang 1.53-2.08 kkal/g
Tinggi >2.08 kkal/g.
Perempuan:
Rendah <1.45 kkal/g
Sedang 1.45-1.98 kkal/g
Tinggi >1.98 kkal/g
Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Statistical Program for
Social Science (SPSS) version 16.0 for windows. Uji statistik yang dilakukan antara
lain:
1. Analisis deskriptif digunakan untuk mengkaji karakteristik individu,
karakteristik keluarga, pengetahuan gizi, konsumsi pangan, Diet Quality
11

Index-International (DQI-I), densitas energi konsumsi, dan asupan energi


dan zat gizi.
2. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk melihat distribusi
data sehingga dapat dilakukan uji statistik selanjutnya.
3. Uji beda Independent Sample T-Test digunakan untuk menganalisa
perbedaan skor DQI-I, dan densitas energi.
4. Uji beda Mann-Whitney digunakan untuk menganalisa perbedaan
karakteristik individu, karakteristik keluarga, pengetahuan gizi, status gizi,
total skor komponen variasi, kecukupan, moderasi, dan keseimbangan
keseluruhan.
5. Uji korelasi Pearson digunakan untuk menganalisa hubungan skor DQI-I
dengan densitas energi, asupan lemak, dan protein.
6. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menganalisa hubungan skor DQI-I
dengan pengetahuan gizi, status gizi (Indeks Massa Tubuh), asupan
karbohidrat, serat, vitamin C, dan zat besi.
7. Uji korelasi Chi square digunakan untuk menganalisa hubungan skor DQI-
I dengan karakteristik individu dan keluarga.

Definisi Operasional

Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi yang berumur 18-25 tahun dan
terlibat dalam penelitian ini.
Contoh adalah mahasiswa Gizi Masyarakat dan Manajeman Hutan yang mengikuti
penelitian
Karakteristik individu adalah informasi dari contoh yang terdiri dari usia, jenis
kelamin, dan uang saku
Karakteristik keluarga adalah informasi dari contoh mengenai keadaan keluarga
yang terdiri dari pendidikan orang tua, pendapatan orang tua, dan besar
keluarga.
Kualitas diet adalah penilaian mutu konsumsi contoh berdasarkan skor instrumen
DQI-I yang menggunakan metode pendekatan piramida makanan
Indonesia.
Densitas energi konsumsi adalah asupan energi total dalam satuan kkal per total
berat makanan dalam satuan gram per hari.
Diet Quality Index International (DQI-I) adalah instrumen yang digunakan untuk
mengukur kualitas diet contoh yang telah disesuaikan dengan piramida
makanan di Indonesia.
Status gizi adalah keadaan yang dipengaruhi oleh konsumsi, penyerapan, dan
penggunaan zat gizi, serta hal lainnya yang mempengaruhi berat badan dan
tinggi badan.
Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat dalam satuan luas tubuh yang
menggambarkan status gizi seseorang, dihitung dengan membandingkan
berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m).
Asupan energi dan zat gizi adalah jumlah energi dan zat gizi yang didapatkan
karena mengonsumsi makanan dan minuman.
Pengetahuan gizi adalah pemahaman contoh mengenai gizi yang ditentukan
dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan gizi.
12

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum

Departemen Gizi Masyarakat (GM) adalah salah satu departemen di bawah


Fakultas Ekologi Manusia yang terdapat di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Mahasiswa GM diajarkan untuk memiliki kompetensi dalam mengaplikasikan ilmu
gizi yang terkait dengan pertanian, pangan, gizi, dan perencanaannya, serta
kesehatan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Mahasiswa
GM belajar mengenai pangan dan gizi terkait kesehatan masyarakat dan
hubungannya dengan kejadian penyakit menular maupun penyakit degeneratif.
Jumlah mahasiswa GM angkatan 49 (semester 6) adalah sebanyak 139 orang.
Departemen Manajemen Hutan (MNH) di bawah Fakultas Kehutanan yang
terdapat di Institut Pertanian Bogor (IPB). Mahasiswa MNH diajarkan untuk
memiliki kompetensi dalm konsep-konsep pengelolaan hutan, perencanaan
kehutanan, penatagunaan hutan, pembentukan unit dan penetapan tujuan
pengelolaan hutan, metoda pengaturan hasil, penetapan preskripsi pengelolaan
hutan, monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan hutan, dan lain-lain. Tidak
terdapat mata kuliah terkait pangan dan gizi yang diberikan kepada mahasiswa
MNH. Jumlah mahasiswa MNH angkatan 49 (semester 6) adalah sebanyak 99
orang.

Karakteristik individu

Contoh penelitan ini adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor dengan


program studi Gizi Masyarakat (GM), Fakultas Ekologi Manusia dan Manajemen
Hutan (MNH), Fakultas Kehutanan angkatan 49. Jumlah contoh pada penelitian ini
adalah sebanyak 80 orang, dengan 40 orang berasal dari GM dan 40 orang berasal
dari MNH. Karakteristik individu terdiri dari jenis kelamin, usia, dan uang
saku/bulan. Berikut disajikan tabel sebaran mahasiswa berdasarkan jenis kelamin,
usia, dan uang saku/bulan.
Tabel 4 Sebaran mahasiswa berdasarkan karakteristik individu dan program studi
Karakteristik individu GM MNH Total
n % n % n %
Jenis Kelamin
Laki-laki 11 25 19 47.5 30 36.25
Perempuan 29 75 21 52.5 50 63.75
Total 40 100 40 100 80 100
P = 0.106
13

Tabel 4 Sebaran mahasiswa berdasarkan karakteristik individu dan program studi


(Lanjutan)
Karakteristik individu GM MNH Total
n % n % n %
Usia
19 tahun 5 12.5 5 12.5 10 12.5
20 tahun 27 67.5 22 55 49 61.25
21 tahun 8 20 13 32.5 21 26.25
Total 40 100 40 100 80 100
Rata-rata ± SD 20.0 ± 0.5 20.2 ± 0.6
P = 0.331
Uang saku/bulan
< Rp 600 000 1 2.5 0 0 1 1.25
Rp 600 000- 29 72.5 32 80 61 76.25
1 199 999
Rp 1 200 000 – 8 20 8 20 16 20
1 799 999
> Rp 1 800 000 2 5 0 0 2 2.5
Total 40 100 40 100 80 100
Rata-rata ± SD Rp 1 008 750 Rp 938 750
± 358 574 ± 287 225
P = 0.419

Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa GM (75%) dan MNH


(52.5%) merupakan perempuan, dengan sebagian besar contoh berada pada usia 20
tahun. Penelitian di Amerika oleh Arnet (2000) menunjukkan bahwa mahasiswa
tergolong ke dalam usia transisi dari remaja akhir menuju ke dewasa awal, yang
pada umumnya terjadi pada usia 18-25 tahun. Uji beda Mann-Whitney
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada uang saku dan
status gizi mahasiswa GM dan MNH (P>0.05). Uang saku/bulan rata-rata
mahasiswa GM adalah Rp 1 008 750, dan mahasiswa MNH sebesar Rp 938 750.
Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa diet yang berkualitas tinggi seperti
banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan cenderung mengeluarkan biaya
yang lebih tinggi, sehingga kemampuan penyediaan biaya makan menjadi faktor
penting dalam menciptakan diet yang berkualitas (Aggarwal et al. 2011).

Karakteristik Keluarga

Seseorang dengan status sosial ekonomi yang tinggi di Australia cenderung


memiliki kualitas diet yang lebih baik karena mengonsumsi sayuran dan buah-
buahan yang lebih banyak dan lebih fresh, baik dalam hal jumlah maupun variasi
(Giskes et al 2002). Karakteristik keluarga contoh yang diteliti adalah pendidikan
terakhir orang tua, pendapatan orang tua, dan besar keluarga. Berikut adalah tabel
sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga dan program studi.
14

Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga dan program studi


Karakteristik keluarga GM MNH Total
n % n % n %
Pendidikan Ayah
Tidak tamat SD/ Sederajat 1 2.5 2 5 3 3.8
Tamat SD/ Sederajat 1 2.5 7 17.5 8 10.0
Tamat SMP/ Sederajat 4 10 4 10 8 10.0
Tamat SMA/ Sederajat 13 32.5 13 32.5 26 32.5
Tamat Perguruan Tinggi/ 21 52.5 14 35.5 35 43.8
Sederajat
Total 40 100 40 100 80 100
P = 0.043
Pendidikan Ibu
Tidak tamat SD/ Sederajat 2 5 0 0 2 2.5
Tamat SD/ Sederajat 4 10 8 20 12 15.0
Tamat SMP/ Sederajat 3 7.5 5 12.5 8 10.0
Tamat SMA/ Sederajat 19 47.5 17 42.5 36 45.0
Tamat Perguruan Tinggi/ 12 30 10 25 22 27.5
Sederajat
Total 40 100 40 100 80 100
P = 0.437
Pendapatan Orang Tua
< Rp 3 000 000 12 30 15 37.5 27 33.8
Rp 3 000 000-5 999 999 13 32.5 16 40 29 36.3
Rp 6 000 000-8 999 999 9 22.5 4 10 13 16.3
Rp 9 000 000-11 999 999 2 5 4 10 6 7.5
> Rp 12 000 000 4 10 1 2.5 5 6.3
Total 40 100 40 100 80 100
Rata-rata ± SD Rp 4 512 941 ± Rp 4 403 125 ± Rp 4 288 176 ±
2 380 633 3 790 661 3 202 247
P = 0.148
Besar keluarga
Kecil (≤ 4 orang) 13 32.5 18 45 31 38.8
Sedang (5-7 orang) 25 62.5 19 47.5 44 55
Besar (≥ 8 orang) 2 5 3 7.5 5 6.2
Total 40 100 40 100 80 100
Rata-rata ± SD 5 ± 1.43 4 ± 1.06
P = 0.733

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada karakteristik keluarga


mahasiswa GM dan MNH, kecuali pendidikan ayah berdasarkan hasil uji beda
Mann-Whitney. Data sebaran contoh pada Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian
besar pendidikan terakhir ayah mahasiswa GM (52.5%) adalah perguruan
tinggi/sederajat, sedangkan sebagian besar pendidikan terakhir ayah pada
mahasiswa MNH adalah perguruan tinggi/sederajat (35.5%) dan SMA (32.5%).
Sebagian besar pendidikan terakhir ibu pada mahasiswa GM (47.5%) dan MNH
(42.5%) adalah SMA/sederajat.
15

Tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan orang tua mahasiswa GM


lebih tinggi dibandingkan MNH, rata-rata pendapatan orang tua GM adalah sebesar
Rp 4 512 941 ± 2 380 633 sedangkan pada MNH adalah sebesar Rp 4 403 125 ±
3 790 661. Besar keluarga dari sebagian besar mahasiswa GM (62.5%) dan MNH
(47.5%) adalah 5-7 orang (sedang). Batas garis kemiskinan yang ditetapkan oleh
BPS (2014) adalah sebesar Rp 308 826/kapita/bulan. Garis kemiskinan
menggambarkan pendapatan minimal yang harus dimiliki untuk dapat memenuhi
kebutuhan pengeluaran makanan dan bukan makanan seseorang. Rata-rata
pendapatan orangtua contoh pada penelitian ini berada di atas angka garis
kemiskinan, setelah memperhitungkan rata-rata jumlah anggota keluarga yang
ditanggung oleh pendapatan tersebut.

Kebiasaan Konsumsi Pangan

Kebiasaan makan adalah perilaku individu dalam memilih dan


mengonsumsi pangan sebagai reaksi dari faktor sosial demografi dan faktor
psikologis (Ganasegeran et al. 2012). Menurut Nelson et al. (2008), pemilihan dan
konsumsi pangan yang buruk merupakan permasalahan yang umum terjadi pada
mahasiswa di Amerika. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmah (2006)
menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa program studi non pangan & gizi di
IPB memilih rasa, harga, dan nilai gizi sebagai urutan prioritas pemilihan makanan.
Penelitian tersebut juga menunjukan bahwa akses fisik berupa warung makan
mempengaruhi asupan energi dan protein mahasiswa, dimana semakin sulit akses
fisik maka asupan energi dan protein semakin rendah. Kebiasaan konsumsi pangan
pada mahasiswa GM dan MNH disajikan pada tabel berikut.

Tabel 6 Kebiasaan konsumsi pada mahasiswa GM dan MNH berdasarkan jenis


pangan, frekuensi, dan jumlahnya
Jenis GM MNH
pangan Frekuensi rata- Berat rata-rata ± Frekuensi rata- Berat rata-rata
rata ± SD SD (g/minggu) rata ± SD ± SD
(kali/minggu) (% (kali/minggu) (% (g/minggu)
konsumsi) konsumsi)
Sumber karbohidrat
Nasi 17.5 ± 4.2 (100) 3398.5 ± 840.7 16.1 ± 3.5 (100) 3045.0 ± 886.9
Roti 3.6 ± 4.4 (90.0) 251.7 ± 308.6 2.5 ± 1.7 (95.0) 166.0 ± 108.1
Sumber protein hewani
Telur ayam 5.1 ± 3.3 (85.0) 280.6 ± 183.2 4.3 ± 2.3 (100) 236.1 ± 128.8
Ayam 3.2 ± 1.7 (92.5) 177.2 ± 93.0 3.8 ± 3.5 (95.0) 209.8 ± 194.3
Sumber protein nabati
Tempe 5.4 ± 4.6 (87.5) 149.6 ± 112.7 6.8 ± 4.5 (97.5) 199.0 ± 141.0
Tahu 3.7 ± 2.2 (72.5) 97.5 ± 63.3 5.7 ± 4.1 (85.0) 178.3 ± 141.9
16

Tabel 6 Kebiasaan konsumsi pada mahasiswa GM dan MNH berdasarkan jenis


pangan, frekuensi, dan jumlahnya (Lanjutan)
Jenis GM MNH
pangan Frekuensi rata- Berat rata-rata ± Frekuensi rata- Berat rata-rata
rata ± SD SD (g/minggu) rata ± SD ± SD
(kali/minggu) (% (kali/minggu) (% (g/minggu)
konsumsi) konsumsi)
Sayuran
Wortel 3.2 ± 2.2 (87.5) 137.4 ± 127.9 2.9 ± 2.2 (70.0) 131.0 ± 96.4
Sawi 2.5 ± 1.9 (67.5) 139.8 ± 134.2 2.1 ± 2.5 (70.0) 123.5 ± 222.8
Buncis 2.3 ± 1.8 (60.0) 76.5 ± 66.7 0.8 ± 0.6 (45.0) 45.8 ± 35.5
Kangkung 2.1 ± 1.9 (75.0) 153.1 ± 163.2 2.3 ± 1.8 (90.0) 110.2 ± 87.6
Buah-buahan
Pepaya 2.3 ± 1.8 (80.0) 253.1 ± 197.3 1.7 ± 1.5 (67.5) 184.3 ± 160.6
Pisang 2.3 ± 2.2 (82.5) 350.0 ± 326.5 0.4 ± 1.8 (72.5) 253.4 ± 266.3
Semangka 2.2 ± 1.9 (52.5) 394.1 ± 338.6 1.1 ± 0.8 (42.5) 193.2 ± 143.7
Melon 2.0 ± 1.8 (60.0) 365.6 ± 321.5 1.2 ± 1.0 (42.5) 219.7 ± 181.3
Jajanan (snack)
Jajanan 4.1 ± 2.5 (100) 204.1 ± 125.3 4.3 ± 2.2 (100) 216.1 ± 112.5
gorengan
Kue-kue 2.9 ± 2.2 (65.0) 136.5 ± 114.4 2.6 ± 3.5 (80.0) 116.9 ± 153.6
manis
Jajanan 1.4 ± 1.3 (50.0) 53.8 ± 48.6 2.6 ± 2.4 (32.5) 94.9 ± 84.1
kemasan
Pangan lainnya
Gula pasir 7.4 ± 6.1 (72.5) 119.6 ± 91.2 7.2 ± 4.1 (70.0) 98.4 ± 52.8

Konsumsi karbohidrat dianjurkan antara 50-65% dari kebutuhan energi total


terutama dalam bentuk karbohidrat kompleks seperti terdapat pada padi-padian,
umbi-umbian, dan tepung-tepungan (Almatsier 2011). Tabel 6 menunjukkan
pangan sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi oleh mahasiswa GM
dan MNH adalah nasi (100%). Beras adalah pangan pokok yang paling banyak
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia untuk pemenuhan energi (Yunita & Riswani
2013).
Telur ayam adalah sumber protein hewani yang paling sering dikonsumsi
oleh mahasiswa GM (85%) dan MNH (100%), sedangkan sumber protein nabati
yang paling sering dikonsumsi oleh mahasiswa GM (87.5%) dan MNH (97.5%)
adalah tempe. Telur dan kacang kedelai merupakan bagian dari pangan sumber
protein yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pemenuhan
protein hewani sangat erat dengan daya beli seseorang, tingginya konsumsi telur
disebabkan oleh harga telur yang cenderung murah dan mudah ditemui. Harga
tempe sebagai pangan olahan kacang kedelai yang murah juga menjadi alternatif
bagi masyarakat Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan protein. (Kementan 2012)
Tabel 6 menunjukkan bahwa sayuran yang paling sering dikonsumsi oleh
mahasiswa GM (87.5%) dan MNH (70.0%) adalah wortel, sedangan buah-buahan
yang paling banyak dikonsumsi oleh mahasiswa GM (80.0%) dan MNH (67.5%)
adalah pepaya. Banyaknya konsumsi wortel dan pepaya disebabkan oleh
kemudahan akses dalam memperolehnya, serta harganya yang murah. Frekuensi
dan jumlah konsumsi sayuran dan buah-buahan pada mahasiswa GM lebih tinggi
17

dibandingkan mahasiswa MNH. Konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-


kacangan, dan daging putih (white meat) diperlukan untuk pemenuhan rekomendasi
diet yang lebih baik (Schroder et al. 2008).
Seluruh mahasiswa GM dan MNH mengonsumsi jajanan gorengan (Tabel
6). Frekuensi dan jumlah konsumsi jajanan gorengan pada mahasiswa MNH lebih
tinggi dibandingkan mahasiswa GM. Hal tersebut berbeda dengan kebiasaan
konsumsi gula pasir, dimana mahasiswa GM (72.5%) lebih banyak dan lebih sering
mengonsumsi gula pasir dibandingkan mahasiswa MNH (70%). Tingginya
konsumsi makanan dengan densitas energi tinggi seperti pada makanan dengan gula
tambahan dan makanan berlemak akan menyebabkan asupan energi yang berlebih
(Cole & Fox 2008). Penilitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa
makanan dengan densitas energi tinggi banyak dikonsumsi karena rasanya yang
enak dan harganya yang cenderung lebih murah (Drewnowski & Darmon 2005).

Kualitas Diet

Kualitas diet ditentukan dengan membandingkan antara makanan yang


dikonsumsi dengan anjuran diet yang telah ditentukan untuk hidup sehat. Diet yang
berkualitas memiliki kesesuaian yang tinggi dengan rekomendasi diet.
Berkembangnya penilaian kualitas diet yang dihubungkan dengan status kesehatan
dapat menentukan intervensi diet yang tepat. Penelitian di Australia menunjukkan
bahwa peningkatan konsumsi sayur dan buah-buahan berkaitan dengan penurunan
resiko penyakit kardiovaskular (Wirt & Collins 2009).
Hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa diet kualitas diet tinggi
berhubungan dengan konsumsi whole grain, daging rendah lemak, sayuran dan
buah-buahan segar yang tinggi, dan membatasi konsumsi gula, lemak tambahan,
dan refined grain (padi-padian giling) (Ledikwe et al. 2006). Konsumsi makanan
yang bervariasi akan memungkinkan terpenuhinya zat gizi secara keseluruhan, oleh
sebab itu mengonsumsi makanan yang bervariasi dalam satu hari dapat
meningkatkan kualitas diet seseorang (Thiele et al. 2003).
DQI-I adalah metode pengukuran kualitas diet yang diadaptasi dari DQI
namun DQI-I secara keseluruhan menilai kualitas diet dengan lebih luas
dibandingkan DQI. DQI-I membagi indeks kualitas diet ke dalam 4 komponen
mayor, yaitu: variasi, kecukupan, moderasi, dan keseimbangan keseluruhan
(overall balance). Pembagian kategori tersebut ditujukan untuk memudahkan
identifikasi aspek diet yang paling bermasalah. Skor dari masing-masing kategori
akan dijumlahkan dan menghasilkan total skor DQI-I dimana 100 adalah skor
tertinggi, dan 0 adalah skor terendah (Kim et al. 2003). Sebaran contoh berdasarkan
kualitas diet dari mahasiswa GM dan MNH disajikan pada tabel berikut.
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan kualitas diet dan program studi
Kualitas diet GM MNH Total
n % n % n %
Rendah (Skor DQI-I ≤60) 25 62.5 30 75 55 68.7
Tinggi (Skor DQI-I >60) 15 37.5 10 25 25 31.3
Total 40 100 40 100 80 100
P = 0.003
18

Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa GM (62.5%) dan


MNH (75%) memiliki kualitas diet rendah berdasarkan skor DQI-I. Skor DQI-I
mahasiswa GM dan MNH memiliki perbedaan yang signifikan berdasarkan uji
beda Independent Sample T-test (P<0.05). Sebaran contoh menunjukkan bahwa
kualitas diet mahasiswa GM lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa MNH.
Sebanyak 37.5% mahasiswa GM memiliki kualitas diet yang tinggi, sedangkan
hanya 25% mahasiswa MNH yang memiliki kualitas diet tinggi. Berikut adalah
skor komponen DQI-I pada mahasiswa GM dan MNH.
Tabel 8 Skor komponen kualitas diet GM dan MNH berdasarkan Diet Quality
Index-International (DQI-I)
Komponen skor DQI-I GM (n=40) MNH (n=40)
Variasi
Variasi seluruh kelompok makanan 14.1 ± 1.5 12.7 ± 2.2
Variasi kelompok sumber protein 4.7 ± 0.8 4.5 ± 0.9
Total variasi 18.8 ± 1.8 17.1 ± 2.7
P = 0.002
Kecukupan
Sayuran 3.8 ± 1.6 2.4 ± 1.8
Buah-buahan 3.1 ± 1.9 2.0 ± 1.8
Padi-padian 5.0 ± 0.2 5.0 ± 0.2
Serat 1.8 ± 1.0 1.5 ± 0.9
Protein 5.0 ± 0.2 4.9 ± 0.4
Zat besi 2.0 ± 1.3 2.2 ± 1.6
Kalsium 1.6 ± 0.9 1.6 ± 0.9
Vitamin C 3.4 ± 1.7 2.3 ± 1.6
Total kecukupan 25.7 ± 6.2 21.8 ± 6.4
P = 0.004
Moderasi
Total lemak 2.3 ± 1.3 2.0 ± 1.7
Lemak jenuh 0.2 ± 0.8 0.6 ± 1.5
Kolesterol 3.5 ± 2.5 3.4 ± 2.6
Natrium 5.6 ± 1.2 5.8 ± 0.7
Empty calory food 0.0 ± 0.0 0.0 ± 0.0
Total moderasi 11.6 ± 3.6 11.78 ± 4.2
P = 0.949
Keseimbangan keseluruhan
Rasio zat gizi makro 2.5 ± 2.2 2.3 ± 2.5
Rasio asam lemak 0.0 ± 0.0 0.0 ± 0.0
Total keseimbangan keseluruhan 2.5 ± 2.2 2.3 ± 2.5
P = 0.676

Skor total pada komponen mayor variasi dan kecukupan menunjukkan nilai
yang berbeda nyata antara mahasiswa GM dan MNH berdasarkan uji beda Mann-
Whitney (P<0.05). Tabel 8 menunjukkan bahwa rata-rata total skor mahasiswa GM
pada komponen variasi (18.8 ± 1.8) dan kecukupan (25.7 ± 6.2) lebih tinggi
dibandingkan rata-rata total skor mahasiswa MNH pada komponen variasi (17.1 ±
2.70) dan kecukupan (21.8 ± 6.4). Kim et al. (2003) menyatakan bahwa terdapat 2
19

jenis variasi yang dinilai pada komponen variasi, yaitu variasi semua kelompok
makanan dan variasi kelompok sumber protein. Variasi semua kelompok makanan
menggambarkan perlunya mengonsumsi paling tidak satu jenis makanan dari
masing-masing kelompok makanan (sumber protein hewani, nabati, padi-padian,
buah, dan sayur). Komponen variasi kelompok protein ditujukan untuk
menghindari konsumsi makanan yang monoton, karena setiap kelompok protein
menyumbangkan zat gizi lainnya yang berbeda-beda (contoh: asam lemak esensial
pada ikan dan phytochemicals pada kacang-kacangan). Komponen kecukupan
digunakan untuk mengevaluasi komponen diet yang harus dipenuhi untuk
menjamin kesehatan dan pencegahan terhadap kekurangan zat gizi.
Tabel 8 menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
mahasiswa GM dan MNH pada skor komponen moderasi dan keseimbangan
keseluruhan (P>0.05). Namun rata-rata total skor komponen moderasi pada
mahasiswa GM (11.6 ± 3.6) lebih rendah dibandingkan MNH (11.78 ± 4.20). Rata-
rata total skor keseimbangan keseluruhan pada mahasiswa GM (2.5 ± 2.2) lebih
tinggi dibandingkan MNH (2.3 ± 2.5). Komponen moderasi mengevaluasi asupan
zat gizi yang terkait dengan penyakit kronis yang mungkin muncul akibat diet yang
buruk. Semakin sedikit asupan maka semakin besar skor yang diberikan.
Komponen unik dalam DQI-I adalah penilaian pada persentase sumbangan energi
dari empty calory food (makanan yang memiliki densitas energi yang tinggi dan low
nutrient density) seperti gula tambahan, soft drink, minyak, dan alkohol. Komponen
keseimbang keseluruhan terdiri dari keseimbangan zat gizi makro (karbohidrat,
protein dan lemak) dinilai dengan membandingkan kontribusinya terhadap energi.
Keseimbangan asam lemak PUFA, MUFA, dan SFA penting untuk mencegah
kelebihan asupan SFA yang berkaitan dengan peningkatan resiko beberapa
penyakit khususnya penyakit jantung (Kim et al. 2003).

Pengetahuan Gizi

Pengetahuan gizi adalah pengetahuan seorang mengenai sesuatu yang


berkaitan dengan gizi dan zat gizi (Worsley 2002). Almatsir (2005) menyatakan
bahwa pengetahuan gizi adal ah sesuatu yang diketahui tentang makanan dan
keterkaitannya dengan kesehatan tubuh. Pengetahuan gizi dalam penelitian ini
dikelompokan ke dalam kategori pengetahuan gizi baik, sedang, dan kurang.
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi dan jumlah
yang menjawab pertanyaan dengan benar
Jumlah yang menjawab benar
No Pertanyaan GM MNH Total
n % n % n %
1 Pedoman makanan di Indonesia 31 77.5 9 22.5 40 50
2 Susunan makanan gizi seimbang 37 92.5 21 52.5 58 72.5
3 Anjuran porsi konsumsi sayur 37 92.5 7 17.5 44 55
Anjuran porsi konsumsi lauk
4 21 52.5 5 12.5 26 32.5
hewani
20

Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi dan jumlah


yang menjawab pertanyaan dengan benar (Lanjutan)
Jumlah yang menjawab benar
No Pertanyaan GM MNH Total
n % n % n %
Konsumsi bahan makanan yang
5 36 90 24 60 60 75
harus dibatasi
Bahan makanan sumber serat
6 36 90 30 75 66 82.5
pangan
7 Jenis lemak yang harus dibatasi 35 87.5 28 70 63 78.7
8 Makanan sumber zat besi 40 100 15 37.5 55 68.8
9 Makanan rendah kandungan gizi 35 87.5 26 65 61 76.2
10 Makanan tinggi kalori 21 52.5 15 37.5 36 45

Tabel 9 menunjukkan bahwa pertanyaan gizi yang paling banyak dijawab


dengan benar oleh mahasiswa GM (100%) adalah mengenai makanan sumber zat
besi, sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan benar oleh
mahasiswa MNH (75%) adalah mengenai bahan makanan sumber serat pangan.
Pertanyaan yang paling sedikit dijawab dengan benar oleh mahasiswa GM (52.5%)
adalah pertanyaan mengenai porsi konsumsi lauk hewani yang dianjurkan untuk
dikonsumsi dalam satu hari dan pertanyaan mengenai makanan yang memiliki
kalori tertinggi jika dibandingkan dalam berat yang sama. Pertanyaan yang paling
sedikit dijawab dengan benar oleh mahasiswa MNH (26%) juga mengenai anjuran
porsi konsumsi lauk hewani dalam satu hari.
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi dan program studi
Pengetahuan gizi GM MNH Total
n % n % n %
Baik 14 35 0 0 14 17.5
Sedang 26 65 12 30 38 47.5
Kurang 0 0 28 70 28 35
40 100 40 100 80 100
P = 0.000

Hasil uji beda Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang


signifikan (P<0.05) antara pengetahuan gizi mahasiswa GM dan MNH. Mahasiswa
GM memiliki pengetahuan gizi yang lebih tinggi dibandingkan MNH, hal tersebut
dapat dilihat dari persentase sebaran mahasiswa GM yang menjawab pertanyaan
gizi dengan benar lebih banyak dibandingkan MNH. Sebagian besar mahasiswa
GM (65%) memiliki pengetahuan gizi yang tergolong sedang. Sebagian besar
mahasiswa MNH (70%) memiliki pengetahuan gizi yang tergolong rendah (Tabel
10). Pengetahuan gizi yang lebih baik pada mahasiswa GM disebabkan oleh
banyaknya informasi gizi yang didapat selama proses perkuliahan, sedangkan pada
mahasiswa MNH tidak terdapat mata kuliah yang berkaitan dengan gizi yang diikuti
selama di kampus sehingga informasi mengenai gizi terbatas.
21

Densitas Energi Konsumsi

Densitas energi menggambarkan jumlah energi yang terkandung dalam


satuan berat makanan, dan dapat ditentukan dengan membagi kandungan energi
makanan dengan berat makanan (Ledikwe et al. 2006). Total densitas energi diet
ditentukan dengan membagi total asupan energi dari makanan dengan berat
makanan yang dikonsumsi dalam satu hari (Schroder et al. 2008).
Densitas energi makanan dikategorikan ke dalam 4 kelompok berdasarkan
jumlah kalori per gram makanan yaitu makanan dengan densitas energi sangat
rendah, rendah, sedang, dan tinggi. Makanan dengan densitas energi rendah
berkisar antara 0.7-1.5 kkal/g, sedangkan yang tergolong sangat rendah berkisar
antara 0-0.6 kkal/g. Makanan yang tergolong ke dalam kedua kategori ini adalah
tomat, yoghurt bebas lemak, stroberi, brokoli, dan sebagian besar sayuran dan buah-
buahan segar. Makanan dengan densitas energi sedang mengandung 1.5-4
kkal/gram. Makanan yang memiliki densitas energi sedang diantaranya adalah telur
rebus, roti gandum utuh, buah yang dikeringkan, dan lain-lain. Makanan dengan
densitas energi tinggi mengandung 4-9 kkal/g makanan, makanan dengan jenis ini
pada umumnya memiliki kandungan air yang sangat sedikit seperti krekers,
cookies, mentega, bacon, dan makanan lainnya yang tinggi lemak (CDC 2014).
Berikut disajikan tabel rata-rata densitas energi dari masing-masing kelompok
pangan yang dikonsumsi oleh mahasiswa GM dan MNH.
Tabel 11 Rata-rata densitas energi kelompok pangan
Kelompok pangan Densitas energi (kkal/gram) Kategori
Makanan pokok 1.8 Sedang
Pangan hewani 2.6 Sedang
Pangan nabati 2.3 Sedang
Sayuran 0.3 Sangat rendah
Buah-buahan 0.8 Rendah
Minyak 6.8 Tinggi
Jajanan 3.3 Sedang

Tabel 11 menunjukkan bahwa rata-rata densitas energi tertinggi dimiliki


oleh kelompok pangan minyak yang terdiri dari minyak kelapa, minyak kelapa
sawit, santan, mentega, dan margarin. Kelompok minyak memiliki rata-rata
densitas energi sebesar 6.8 kkal/gram. Sayuran dan buah-buahan adalah kelompok
pangan yang memiliki densitas energi terendah, yaitu hanya 0.3 kkal/gram untuk
kelompok sayuran dan 0.8 kkal/gram untuk kelompok buah-buahan.
Densitas energi konsumsi ditentukan dengan membandingkan total asupan
energi dengan total berat makanan yang dikonsumsi dalam satu hari. Densitas
energi konsumsi terbagi atas kategori rendah, sedang, dan tinggi baik pada wanita
dan laki-laki. Densitas energi konsumsi perempuan tergolong rendah jika <1.45
kkal/g, sedang 1.45–1.98 kkal/g, dan tinggi ≥1.99 kkal/g. Densitas energi konsumsi
laki-laki tergolong rendah jika <1.53 kkal/g, sedang 1.53–2.08 kkal/g, dan tinggi
≥2.09 kkal/g (Mendoza et al. 2007). Pengukuran densitas energi konsumsi tidak
melibatkan konsumsi minuman, sebab keterlibatan minuman dalam perhitungan
densitas energi konsumsi akan menimbulkan bias data, dimana pada akhirnya
mengganggu variabel lain yang dihubungkan dengan densitas energi. Total energi
22

dari minuman tetap diperhitungkan pada perhitungan asupan energi (Ledikwe et al.
2006). Berikut disajikan tabel sebaran contoh berdasarkan densitas energi konsumsi
dan program studi.

Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan densitas energi konsumsi dan program studi
Densitas energi GM MNH Total
konsumsi n % n % n %
Rendah 16 40 7 17.5 44 55
Sedang 23 57.5 30 75 33 41.25
Tinggi 1 2.5 3 7.5 3 3.75
Total 40 100 40 100 80 100
P = 0.001

Tabel 12 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara


densitas energi mahasiswa GM dan MNH. Sebagian besar mahasiswa GM (57.5%)
dan MNH (75%) memiliki densitas energi konsumsi yang tergolong sedang. Contoh
dengan densitas energi konsumsi yang lebih baik (rendah) lebih banyak ditemukan
pada mahasiswa GM (40%) dibandingkan MNH (17.5%). Densitas energi
konsumsi yang lebih rendah berkaitan dengan konsumsi sayur dan buah yang lebih
tinggi dan makanan berlemak yang lebih rendah.

Status Gizi

Status gizi adalah kondisi tubuh yang merupakan manifestasi dari asupan
dan penggunaan zat gizi dalam makanan (Almatsier 2005). Status gizi bagi orang
dewasa dikategorikan berdasarkan indeks massa tubuh. Indeks massa tubuh
ditentukan dengan membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m).
Berikut adalah tabel sebaran contoh berdasarkan status gizi dan program studi.
Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan status gizi dan program studi
GM MNH Total
Status gizi
n % n % n %
Underweight 1 2.5 7 17.5 8 10
Normal 26 65 22 55 48 60
Overweight 6 15 3 7.5 9 11.3
Obese I 5 12.5 7 17.5 12 15
Obese II 2 5 1 2.5 3 3.8
Total 40 100 40 100 80 100
P = 0.308

Hasil uji beda Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan


yang signifikan antara status gizi mahasiswa GM dan MNH. Tabel 13 menunjukkan
bahwa sebagian besar mahasiswa GM (65%) dan MNH (55%) memiliki status gizi
normal. Persentase mahasiswa GM dan MNH yang tidak memiliki status gizi
normal juga masih tinggi. Permasalahan gizi yang berkembang belakangan ini
bukan hanya sekedar defisiensi zat gizi namun juga kelebihan asupan zat gizi yang
23

keduanya dapat menurunkan status kesehatan. Prevalensi status gizi tidak normal
berdasarkan indeks massa tubuh pada penduduk Indonesia >18 tahun ditunjukan
dengan terdapat 11.1% penduduk yang tergolong kurus, 11.5% tergolong berat
badan lebih, dan 14.8% tergolong obesitas (Riskesdas 2013)

Hubungan Kualitas Diet dengan Karakteristik Individu

Uji hubungan dilakukan pada karakteristik individu yang terdiri dari jenis
kelamin dan uang saku. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara seluruh karakteristik individu dengan kualitas diet
(P>0.05). Berikut disajikan tabel sebaran contoh berdasarkan karakteristik individu
dan kualitas diet.
Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik individu dan kualitas diet
Karakteristik individu Kualitas Diet P
Tinggi Rendah Total
n % n % n %
Jenis kelamin
Laki-laki 9 36.0 20 36.4 29 36.2
Perempuan 16 64.0 35 63.6 51 63.8 0.975
Total 25 100.0 55 100.0 80 100
Uang saku
<Rp 600 000 1 4.0 0 0.0 1 1.2
Rp 600 000-1 199 999 16 64.0 45 81.8 61 76.3
Rp 1 200 000-1 799 999 7 28.0 9 16.4 16 20 0.987
>Rp 1 800 000 1 4.0 1 1.8 2 2.5
Total 25 100.0 55 100.0 80 100

Tabel 14 menunjukkan bahwa kualitas diet kategori tinggi lebih banyak


dimiliki oleh perempuan (64.0%) dibandingkan laki-laki (36.0%), namun hasil ini
tidak dapat menggambarkan bahwa kualitas diet perempuan lebih baik dari laki-
laki karena perbandingan jumlah contoh perempuan dan laki-laki yang digunakan
dalam penelitian ini tidak sama, dimana lebih banyak contoh perempuan yang
digunakan. Dermon et al (2008) menyatakan bahwa perempuan di Amerika
umumnya lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah. Penelitian Dewi (2013) pada
remaja SMA di Semarang, menunjukkan bahwa skor kualitas diet berdasarkan
DQI-I dan frekuensi aktivitas fisik laki-laki lebih baik daripada perempuan.
Uang saku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas diet
berdasarkan uji hubungan (P>0.05). Sebagian besar mahasiswa dengan kualitas diet
tinggi (64.0%) dan rendah (81.8%) mendapatkan uang saku per bulan sebesar
Rp 600 000-1 199 999. Mardayanti (2008) menyatakan bahwa besarnya uang saku
yang diterima oleh seseorang baik dari orangtua maupun beasiswa tidak
mempengaruhi jumlah konsumsi energi dan zat gizi lainnya. Hal tersebut
dikarenakan sebagian besar uang saku yang diterima dihabiskan untuk pengeluaran
non pangan, rata-rata uang saku yang diterima dialokasikan untuk makanan hanya
sebesar 34.7%, untuk bukan makanan 60.7% serta untuk lainnya sebesar 4.6%.
Penelitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa biaya yang dikhusukan
24

untuk pembelian makanan mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi, dimana


makanan yang miskin zat gizi cenderung lebih murah sehingga lebih banyak dipilih
untuk dikonsumsi oleh orang dengan perekonomian rendah (Drewnowski &
Darmon 2005).

Hubungan Kualitas Diet dengan Karakteristik Keluarga

Penelitian pada penduduk dewasa di Australia menunjukkan bahwa


eseorang dengan status sosial ekonomi yang tinggi cenderung mengonsumsi
sayuran dan buah-buahan yang lebih banyak, bervariasi, dan fresh (Giskes et al.
2002). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara seluruh karakteristik keluarga dengan kualitas diet berdasarkan uji
hubungan Chi square (P>0.05). Berikut disajikan tabel sebaran contoh berdasarkan
karakteristik keluarga dan kualitas diet.
Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik keluarga dan kualitas diet
Karakteristik keluarga Kualitas Diet Total P
Tinggi Rendah
n % n % n %
Pendidikan ayah
Tidak tamat SD 1 4.0 2 3.6 3 3.75
Tamat SD 4 16.0 4 7.3 8 10
Tamat SMP 2 8.0 6 10.9 8 10 0.793
Tamat SMA 7 28.0 19 34.5 26 32.5
Tamat perguruan tinggi 11 44.0 24 43.6 35 43.75
Total 25 100.0 55 100.0 80 100
Pendidikan ibu
Tidak tamat SD 1 4.0 1 1.8 2 2.5
Tamat SD 3 12.0 9 16.4 12 15
Tamat SMP 3 12.0 5 9.1 8 10 0.885
Tamat SMA 10 40.0 26 47.3 36 45
Tamat perguruan tinggi 8 32.0 14 25.5 22 27.5
Total 25 100.0 55 100.0 80 100
Pendapatan orang tua
<Rp 3 000 000 5 20.0 17 30.9 22 27.5
Rp 3 000 000-5 999 999 4 16.0 22 40.0 26 32.5
Rp 6 000 000-8 999 999 7 28.0 7 12.7 14 17.5 0.433
Rp 9 000 000-11 999 999 6 24.0 6 10.9 12 15
>Rp 12 000 000 3 12.0 3 5.5 6 7.5
Total 25 100.0 55 100.0 80 100
Besar keluarga
Kecil (≤4 orang) 9 36.0 22 40.0 31 38.75
Sedang (5-7 orang) 13 52.0 31 56.4 44 55 0.584
Besar (≥8 orang) 3 12.0 2 3.6 5 6.25
Total 25 100.0 55 100.0 80 100
25

Sebaran contoh pada tabel 15 menunjukkan bahwa sebagian besar


mahasiswa yang memiliki kualitas diet tinggi berasal dari keluarga yang
beranggotakan 5-7 orang (sedang). Banyaknya anggota keluarga tanpa diimbangi
dengan peningkatan pendapatan akan menyebabkan distribusi konsumsi pangan
dalam keluarga terganggu sehingga berpengaruh terhadap status gizi keluarga
(Suhardjo 1989). Pendidikan ayah dan ibu dari sebagian besar mahasiswa yang
memiliki kualitas diet tinggi adalah tamat kuliah dan tamat SMA. Pendapatan orang
tua mahasiswa yang memiliki kualitas diet tinggi sebagian besar berada pada
Rp 6 000 000-8 999 999.
Hasil uji hubungan yang tidak signifikan pada kualitas diet dan karakteristik
keluarga di penilitian ini berbeda dengan hasil penelitian Moestue & Huttly (2007)
yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua di India dan Vietnam secara
signifikan memiliki hubungan yang positif dengan pemenuhan zat gizi anak.
Sebagian besar dari mahasiswa sudah tidak tinggal bersama orangtuanya lagi dan
mulai memiliki keinginan untuk menentukan keputusan atas hidupnya sendiri,
termasuk di dalamnya adalah keputusan dalam memilih makanan dan gaya hidup.
Penelitian di Eropa menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan dalam memilih
makanan yang baik dan meningkatnya tingkat stres adalah salah satu faktor yang
mempengaruhi buruknya pengaturan diet pada mahasiswa (Mikolajczyk et al.
2009).

Hubungan Kualitas Diet dengan Pengetahuan Gizi

Hasil uji hubungan Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang


signifikan (P>0.05) antara pengetahuan gizi dengan kualitas diet. Mahasiswa GM
sebagai contoh yang memiliki pengetahuan gizi lebih baik dari MNH, juga
memiliki kualitas diet yang lebih baik dilihat dari jumlah mahasiswa yang memiliki
kualitas diet tinggi yang lebih banyak. Berikut disajikan tabel sebaran contoh
berdasarkan pengetahuan gizi dan kualitas diet GM dan MNH.
Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi dan kualitas diet GM dan
MNH
Pengetahuan gizi Kualitas diet GM Kualitas diet MNH Total
Tinggi Rendah Tinggi Rendah
n % n % n % n % n %
Baik 3 20.0 11 44.0 0 0.0 0 0.0 14 16.0
Sedang 12 80.0 14 56.0 3 30.0 9 30.0 38 49.0
Kurang 0 0.0 0 0.0 7 70.0 21 70.0 28 35.0
Total 15 100.0 25 100.0 10 100.0 30 100.0 80 100.0
P = 0.168
r = 0.156

Tabel 16 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa GM dengan


kualitas diet tinggi memiliki pengetahuan gizi yang tergolong sedang (80%).
Sebagian besar mahasiswa MNH dengan kualitas diet tinggi memiliki pengetahuan
gizi yang tergolong rendah (70.0%). Hasil uji hubungan yang tidak signifikan
disebabkan oleh banyaknya mahasiswa dengan pengetahuan gizi kategori baik pada
26

mahasiswa GM yang memiliki kualitas diet rendah, sedangkan banyak juga


mahasiswa MNH dengan pengetahuan gizi kategori kurang pada mahasiswa MNH
yang memiliki kualitas diet tinggi. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa
masih banyak konsumen yang memilih makanan atas dasar rasa, kepraktisan,
kebiasaan, dan harga, sehingga mengabaikan faktor gizi meskipun pengetahuan
gizinya tinggi (Frazao & Allshouse 2003).

Hubungan Kualitas Diet dengan Densitas Energi Konsumsi

Makanan dengan densitas energi yang tinggi cenderung memiliki


palatabilitas (meningkatkan nafsu makan) yang tinggi sehingga lebih disukai
banyak orang. Hal tesebut menyebabkan makanan dengan densitas energi tinggi
banyak dikonsumsi secara berlebihan karena efek kognitif atau metabolisme yang
berkaitan dengan tingginya palatabilitas makanan tersebut. Makanan dengan
densitas energi yang rendah meningkatkan satiety/mengurangi rasa lapar yang lebih
lama dibandingkan makanan dengan densitas energi yang tinggi. Hal tersebut
disebabkan oleh proses pengosongan lambung yang lebih lama saat mengonsumsi
makanan dengan densitas energi rendah (Yao & Roberts 2001). Azadbakht &
Esmaillzadeh (2011) menyatakan bahwa densitas energi konsumsi yang lebih
rendah pada umumnya dimiliki oleh seseorang yang mengonsumsi makanan yang
bervariasi. Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan densitas energi konsumsi
dan kualitas diet.

Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan densitas energi konsumsi dan kualitas diet
Densitas energi konsumsi Kualitas Diet Total
Tinggi Rendah
n % n % n %
Rendah 19 76.0 25 45.5 44 55
Sedang 6 24.0 27 49.1 33 41.25
Tinggi 0 0.0 3 5.4 3 3.75
Total 25 100.0 55 100.0 80 100
Rata-rata (kkal/gram) 1.49 ± 0.1 1.68 ± 0.2

Tabel 17 menunjukkan sebagian besar mahasiswa yang memiliki kualitas


diet tinggi baik (76.0%) memiliki densitas energi konsumsi yang rendah. Hasil uji
hubungan Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan
antara densitas energi konsumsi dan kualitas diet berdasarkan total skor DQI-I
(P<0.05). Total skor DQI-I yang lebih tinggi berhubungan dengan densitas energi
konsumsi yang lebih rendah.
27

Tabel 18 Hubungan densitas energi dengan komponen-komponen Diet Quality


Index (DQI-I)
Komponen DQI-I P r
Variasi 0.001 -0.362
Kecukupan 0.000 -0.384
Moderasi 0.111 -0.180
Keseimbangan keseluruhan 0.002 -0.338
Total skor DQI-I 0.000 -0.605

Tabel 18 menunjukkan hasil yang lebih spesifik mengenai hubungan antara


setiap komponen mayor DQI-I dengan densitas energi konsumsi. Komponen
variasi, kecukupan, dan keseimbangan keseluruhan memiliki hubungan negatif
yang signifikan dengan densitas energi konsumsi. Schroder et al. (2008) yang
menyatakan bahwa densitas energi konsumsi yang lebih rendah berkaitan dengan
pemenuhan rekomendasi diet yang lebih baik, yang dalam hal ini berkaitan dengan
pencapaian kualitas diet yang lebih tinggi.
Patterson et al. (2010) menunjukkan bahwa analisis densitas energi dapat
menggambarkan kualitas diet secara keseluruhan, dan dapat menjadi simple proxy
dalam penentuan kualitas diet seseorang. Oleh sebab itu dilakukan analisis
sensitivitas dan spesifisitas dari densitas energi konsumsi dalam menggambarkan
kualitas diet. Pada analisis ini densitas energi konsumsi dibagi ke dalam dua
kelompok, yaitu baik (densitas energi konsumsi ≤1.49 kkal/gram) dan buruk
(densitas energi konsumsi >1.49 kkal/gram). Berikut disajikan tabel hasi uji
sensitivitas dan spesifisitas densitas energi konsumsi terhadap kualitas diet.
Tabel 19 Sensitivitas dan spesifisitas densitas energi konsumsi terhadap kualitas
diet
Densitas Kualitas Diet Total Sensitivitas Spesifisitas
Rendah Tinggi
Buruk 43 5 42
Baik 12 20 38 78.2% 80.0%
Total 55 25 80

Hasil perhitungan sensitivitas menunjukkan bahwa perhitungan densitas


energi konsumsi dapat mengidentifikasi sebanyak 78.2% contoh dengan kualitas
diet yang buruk dengan tepat. Hasil uji spesifisitas menunjukkan bahwa
perhitungan densitas energi konsumsi dapat mengidentifikasi 80.0% contoh yang
memiliki kualitas diet yang tinggi dengan tepat (Tabel 19). Hasil ini menunjukkan
bahwa meskipun densitas energi konsumsi tidak sepenuhnya dapat
mengidentifikasi kualitas diet seseorang dengan tepat, namun perhitungan densitas
energi konsumsi cukup baik untuk dijadikan simple proxy dari perhitungan kualitas
diet.

Hubungan Kualitas Diet dengan Asupan Energi dan Zat Gizi

Terdapat hubungan positif yang signifikan (P<0.05) antara kualitas diet


dengan asupan energi, protein, karbohidrat, serat, vitamin C, kalsium dan zat besi.
28

Semakin tinggi skor DQI-I berhubungan dengan semakin tingginya asupan energi
dan zat gizi tersebut. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak
dan lemak jenuh dengan kualitas diet. Tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara asupan lemak dengan kualitas diet (P>0.05). Rata-rata asupan lemak pada
contoh dengan kualitas diet tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan kualitas diet
rendah. Berikut disajikan tabel asupan rata-rata energi dan zat gizi berdasarkan
kualitas diet.
Tabel 20 Asupan rata-rata energi dan zat gizi contoh berdasarkan kualitas diet
Asupan Kualitas Diet Total (n=80) P r
Tinggi (n=25) Rendah (n=55)
Energi (kkal) 2126.4 ± 682.4 1820.4 ± 537.4 1916.0 ± 599.4 0.046 0.224
Protein (g) 70.1 ± 22.7 61.4 ± 24.0 64.1 ± 23.8 0.162 0.158
Lemak (g) 61.7 ± 16.8 64.1 ± 24.8 63.4 ± 22.7 0.404 -0.099
Karbohidrat (g) 316.4 ± 101.3 258.1 ± 70.0 276.3 ± 84.9 0.001 0.351
Serat (g) 16.7 ± 7.0 11.6 ± 6.1 13.2 ± 6.8 0.000 0.511
Vit. C (mg) 106.9 ± 55.9 49.5 ± 43.2 67.5 ± 54.2 0.000 0.666
Kalsium (mg) 508.8 ± 206.4 365.9 ± 206.0 410.6 ± 215.4 0.000 0.406
Zat besi (mg) 10.9 ± 4.0 7.9 ± 3.3 8.8 ± 3.8 0.000 0.390

Mahasiswa dengan kualitas diet tinggi memiliki asupan rata-rata energi


yang juga lebih tinggi. Tabel 20 menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki
kualitas diet tinggi memiliki rata-rata asupan energi yang lebih mendekati angka
kecukupan energi (AKE), yaitu sebesar 2126.4 ± 682.4 kkal. Hal yang sama juga
terjadi pada asupan rata-rata protein, karbohidrat, serat, vitamin C, kalsium, dan zat
besi. Zat-zat gizi tersebut lebih banyak asupannya pada mahasiswa yang memiliki
kualitas diet tinggi dibandingkan dengan yang mahasiswa dengan kualitas diet
rendah.
Penelitian Azkia (2014) pada siswa SD di Bogor, menunjukkan bahwa
asupan protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, dan Vitamin C
memiliki hubungan positif dengan kualitas diet, namun asupan energi dan lemak
memiliki hubungan yang negatif. Penelitian Marchioni et al. (2012) di Brazil juga
menunjukkan bahwa kualitas diet yang lebih tinggi berhubungan dengan asupan
lemak, serat, dan vitamin C yang tepat, hal tersebut dicapai ketika densitas energi
konsumsi lebih rendah.

Hubungan Kualitas Diet dengan Status Gizi

Status gizi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas diet
berdasarkan hasil uji Spearman (P<0.05). Penelitian Hurley et al. (2009) pada
penduduk Afrika-Amerika juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara indeks massa tubuh dengan kualitas diet yang diukur melalui
Healthy Eating Index (HEI) dan Youth Healthy Eating Index (YHEI). Namun hasil
ini berbeda dengan hasil penelitian Dewi (2013) yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan negatif antara skor DQI-I dengan indeks massa tubuh pada remaja SMA
di Semarang. Berikut adalah tabel sebaran contoh berdasarkan status gizi dan
kualitas diet.
29

Tabel 21 Sebaran contoh berdasarkan status gizi dan kualitas diet


Status gizi Kualitas Diet Total P
Tinggi Rendah
n % n % n %
Underweight 2 8.0 6 10.9 8 10.0
Normal 16 64.0 32 58.2 48 60.0
Overweight 4 16.0 5 9.1 9 11.2 0.535
Obese I 2 8.0 10 18.2 12 15.0
Obese II 1 4.0 2 3.6 3 3.8
Total 25 100 55 100 80 100

Tabel 21 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang memiliki


kualitas diet tinggi (64.0%) tergolong ke dalam status gizi normal. Hasil uji
hubungan yang tidak signifikan disebabkan oleh banyaknya jumlah contoh dengan
status gizi normal (58.2%) yang memiliki kualitas diet rendah. Hal ini tidak sesuai
dengan penelitian yang dilakukan pada penduduk dewasa di Australia yang
menunjukkan bahwa indeks massa tubuh berkaitan dengan kualitas diet setelah
dilakukan follow-up selama 15 tahun (Arabshahi et al. 2011).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Sebagian besar mahasiswa GM (62.5%) dan MNH (75%) memiliki kualitas


diet yang rendah berdasarkan skor DQI-I. Skor DQI-I mahasiswa GM dan MNH
memiliki perbedaan yang signifikan dimana kualitas diet mahasiswa GM lebih baik
dibandingkan dengan mahasiswa MNH. Sebanyak 37.5% mahasiswa GM memiliki
kualitas diet tinggi, sedangkan hanya 25% mahasiswa MNH yang memiliki kualitas
diet tinggi.
Sebagian besar mahasiswa GM (57.5%) dan MNH (75%) memiliki densitas
energi konsumsi yang tergolong sedang. Contoh dengan densitas energi konsumsi
yang lebih baik (rendah) lebih banyak ditemukan pada mahasiswa GM (40%)
dibandingkan MNH (17.5%). Pengetahuan gizi mahasiswa GM dan MNH memiliki
perbedaan yang signifikan (P<0.05). Sebagian besar mahasiswa GM (65%)
memiliki pengetahuan gizi yang tergolong sedang. Sebagian besar mahasiswa
MNH (70%) memiliki pengetahuan gizi yang tergolong rendah.
Kualitas diet mahasiswa IPB memiliki hubungan positif yang signifikan
dengan asupan energi, karbohidrat, serat, vitamin C, kalsium, dan zat besi. Tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas diet dengan karakteristik
individu, karakteristik keluarga, status gizi, asupan protein, dan lemak.
Sebaran contoh menunjukkan sebagian besar mahasiswa yang memiliki
kualitas diet tinggi (56.0%) memiliki densitas energi konsumsi yang rendah.
Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara densitas energi konsumsi dan
kualitas diet berdasarkan total skor DQI-I (P<0.05). Tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan gizi dengan kualitas diet (P>0.05).
30

Saran

Diperlukan pemberian edukasi kepada mahasiswa mengenai pengaturan


diet yang baik secara keseluruhan, tidak hanya berdasarkan kuantitas diet saja,
namun juga mengenai jumlah porsi dan variasi yang baik dari seluruh kelompok
makanan. Studi lanjutan perlu dilakukan untuk mengembangkan indeks kualitas
diet yang paling sesuai untuk diaplikasikan di Indonesia berdasarkan pedoman gizi
seimbang yang telah ditetapkan. Penentuan kualitas diet dengan menggunakan
DQI-I memiliki pendekatan yang lebih menyeluruh dan lengkap, namun belum
banyak studi di Indonesia yang menggunakan DQI-I sebagai indeks penilaian
kualitas diet. Oleh sebab itu diharapkan lebih banyak lagi penelitian yang
mengembangkan DQI-I di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Aggarwal A, Monsivais P, Cook AJ, Drewnowski A. Does Diet Cost Mediate the
Relation between Socioeconomic Position and Diet Quality?. European
Journal Of Clinical Nutrition. 65: 1059-1066. doi:10.1038/ejcn.2011.72
Akhter S, Wohab MA. 2006. Health, Nutrition And Human Resource
Development: A Crucial Link Brac. University Journal. 3(2):125-132
Almatsier S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Almatsier S. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta (ID): PT
Gramedia Pustaka Utama
Arabshahi S, Pols JCV, Williams GM, Marks GC, Lahmann PH. 2011. Diet Quality
And Change In Anthropometric Measures: 15-Year Longitudinal Study In
Australian Adults. British Journal Of Nutrition. 107:1376–1385.
Arnet JJ. 2000. Emerging Adulthood: A Theory Of Development From The Late
Teens Through The Twenties. American Psychological Association. 55(5):
469-480
Azadbakht L, Esmaillzadeh A. 2011. Dietary Energy Density Is Favorably
Associated With Dietary Diversity Score Among Female University
Students In Isfahan. Nutrition. 28:991-995.Doi:10.1016/J.Nut.2011.12.017
Azkia FI. 2014. Analisis Kualitas Makan Siswa Sekolah Dasar di Bogor serrta
Hubungannya dengan Status Gizi [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor
Barzegari A, Ebrahmi M, Azizi M, Ranifbar K. 2011. A Study Of Nutrition
Knowledge, Attitudes And Food Haabits Of College Student. . 15(7): 1012-
1917
[BKKBN] Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 1998. Gerakan
Keluarga Berencana Sejahtera. Jakarta (ID): BKKBN
[BPS] Badan Pusat Statistik. Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk
Miskin dan Garis Kemiskinan, 1970-2013 [Internet]. [Diunduh 2015 April
20]. Tersedia pada: http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1494
[CDC] National Center For Chronic Disease Prevention And Health Promotion.
2014. Can Eating Fruits And Vegetables Help People To Manage Their
31

Weight? [Internet]. [Diunduh 2014 Desember 20]. Tersedia Pada:


Http://Www.Cdc.Gov/Nccdphp/Dnpa/Nutrition/Pdf/Rtp_Practitioner_10_
07.Pdf
Cole N, Fox MK. 2008. Diet Quality Of Americans By Food Stamp Participation
Status: Data From The National Health And Nutrition Examination Survey,
1999-2004. Food And Nutrition Service. US Department Of Agriculture.
[Depkes] Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riskesdas 2013
Dalam Angka. Jakarta (ID): Departemen Kesehatan
Dermon N, Drewnowski A. 2008. Does Social Class Predict Diet Quality?. Am J
Clin Nutr. 87: 1107-17
Dewi UP. 2013 Hubungan Antara Densitas Energi dan Kualitas Diet dengan Indeks
Massa Tubuh (IMT) pada Remaja [Skripsi]. Semarang (ID): Universitas
Diponegoro
Drewnowski A, Darmon N. 2005. The Economics Of Obesity: Dietary Energy
Density And Energy Cost. Am J Clin Nutr. 82(1):265–273
Frazao E, Allshouse J. 2003. Strategies For Intervention: Commentary And Debate.
J. Nutr. 133:844S–847S, 2003
Ganasegeran K, Dubai S, Qureshi A, Abed A, Rizal AM, and Aljunid S. 2012.
Social and Psychological Factors Affecting Eating Habits among University
Students in a Malaysian Medical School: A Cross-Sectional Study.
Nutrition Journal. 11 (48): 2-7. doi:10.1186/1475-2891-11-48.
Giskes K, Turrell G, Patterson C, Newman B. 2002. Socio-Economic Differences
In Fruit And Vegetable Consumption Among Australian Adolescents And
Adults. Public Health Nutr.5:663–669
Hayati F. 2000. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Konsumsi Fast Food
Waralaba Modern Dan Tradisional Pada Remaja Siswa SMU Negeri Di
Jakarta Selatan. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Hurley KM, Oberlander SE, Merry BC, Wrobleski MM, Klassen AC, Black MM.
2009. The Healthy Eating Index and Youth Healthy Eating Index Are
Unique, Nonredundant Measures of Diet Quality among Low-Income,
African American Adolescents. J. Nutr. 139: 359–364.
doi:10.3945/jn.108.097113.
[Kementan] Kementrian Pertanian. 2012. Roadmap Diversifikasi Pangan Tahun
2010-2015. Jakarta: Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian RI
Khomsan A. 2000. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Bogor (ID): Departemen
Gizi Masyarakat Dan Sumber Daya Keluarga IPB
Kim S, Haines PS, Siega-Riz AM, Popkin BM. 2003. Diet Quality Index-
International (DQI-I) Provides An Effective Tool For Cross-National
Comparison Of Diet Quality As Illustrated By China And The United
States. J. Nutr. 133(1): 3476–3484.
Ledikwe JH, Blanck HM, Khan LK, Serdula MK, Seymour JD, Tohill BC, Rolls
BJ. 2006. Dietary Energy Density Is Associated With Energy Intake And
Weight Status In US Adults. Am J Clin Nutr. 83(1): 1362-1368
Marchioni DM, Gorgulho B, Lipi M, Previdelli AN. 2012. Energy Density And
Diet Quality Among Brazilian Workers. Nutrition & Food Science.
43(5):422-431
32

Mardayanti P. 2008. Hubungan Faktor-Faktor Risiko dengan Status Gizi pada


Siswa Kelas 8 di SLTPN 7 Bogor [Skripsi]. Depok (ID): Universitas
Indonesia.
Meitasari D. 2008. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan Pada
Keluarga Nelayan [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor
Mendoza JA, Drewnowski A, Christakis DA. 2007. Dietary Energy Density Is
Associated With Obesity and Metabolic Syndrome in U.S Adults. Diebetes
Care. 30:974-979
Mikolajczyk R, El Ansari W & Maxwell A. 2009. Food Consumption Frequency
And Perceived Stress And Depressive Symptoms Among Students In Three
European Countries. Nutr J. 8(1): 31-38
Moestue H, Huttly S. 2007 Adult Education And Child Nutrition: The Role Of
Family And Community. J Epidemiol Community Health. 62:153–159.
Doi:10.1136/Jech.2006.058578
Nelson MC, Story M, Larson NI, Neumark-Sztainer D, Lytle LA. 2008. Emerging
Adulthood and Collegeaged Youth: An Overlooked Age for Weight-related
Behavior Change. Nature Publishing Group. 16 (10): 2205-2211.
doi:10.1038/oby.2008.365
Nurdiani R. 2011. Analisis Penyelenggaraan Makan di Sekolah dan Kualitas Menu
bagi Siswa Sekolah Dasar di Bogor [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Patterson E, Warnberg J, Poortvliet E, Kearney JM, Sjostrom M. 2010. Dietary
Energy Density As A Marker Of Dietary Quality In Swedish Children And
Adolescents: The European Youth Heart Study. European Journal Of
Clinical Nutrition. 64:356–363
Racette SB, Deusinger SS, Strube MJ, Highstein GR, Deusinger RH. 2005. Weight
Changes, Exercise, And Dietary Patterns During Freshman And Sophomore
Years Of College. Journal Of American College Health. 53(6): 245-251
Schroder H, Covas M, Elosua R, Mora J, Marrugat J. 2008. Diet Quality And
Lifestyle Associated With Free Selected Low-Energy Density Diets In A
Representative Spanish Population. European Journal Of Clinical
Nutrition. 62:1194–1200
Schroder H, Vila J, Marrugat J, Covas MI. 2008. Low Energy Density Diets Are
Associated With Favorable Nutrient Intake Profile And Adequacy In Free-
Living Elderly Men And Women. J. Nutr. 138:1476-1481
Suhardjo. 1989. Sosio Budaya Gizi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, dan Pusat Antar Universitas Pangan
dan Gizi IPB, Bogor.
Thiele S, Mensink GBM, Beitz R. 2003. Determinants Of Diet Quality. Public
Health Nutrition. 7(1): 29-37
[WHO] World Health Organization. 2000. The Asia-Pacific Perspective:
Redefining Obesity And Its Treatment. [Internet]. [Diunduh 2014
Desember 10]. Tersedia Pada:
Http://Www.Wpro.Who.Int/Nutrition/Documents/Docs/Redefiningobesity.
Pdf
Wirt A, Collins CE. 2009. Diet Quality – What Is It And Does It Matter?. Public
Health Nutrition. 12(12): 2473 –2492
33

Worsley A. 2002. Nutrition Knowlede And Food Consumption: Can Nutrition


Knowledge Change Food Behaviour?. Asia Pacific J Clin Nutr. 1:579–585
Yao M, Roberts SB. 2001. Dietary Energy Density And Weight Regulation.
Nutrition Reviews. 59(8): 247-258
Yunita and Riswani. 2013. Behavior of Household Rice Consumption in Different
Income Level. International Journal of Humanities and Management
Sciences. 1(3): 2320-4036
34

Lampiran 1 Kuesioner penelitian


KUESIONER
ANALISIS KUALITAS DIET SERTA HUBUNGANNYA DENGAN
DENSITAS ENERGI KONSUMSI DAN PENGETAHUAN GIZI
MAHASISWA IPB
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi dan data secara
langsung dari mahasiswa dan mahasiswi Institut Pertanian Bogor di wilayah
Bogor. Demi kelancaran penelitian ini dukungan dan kejujuran anda sangat
saya harapkan.
Terimakasih
Kode Responden

TANGGAL WAWANCARA : ..........................................


ENUMERATOR : ..........................................*
NAMA RESPONDEN : ..........................................
JENIS KELAMIN :L/P
NO. HP : ..........................................
ALAMAT RUMAH : ..........................................
*Diisi oleh petugas

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
35

A. Karakteristik Mahasiswa/ Mahasiswi


A.1 Nama :
A.2 Usia : tahun
A.3 Tanggal Lahir (DD/MM/YYYY) :
A.4 Jenis Kelamin : L/P
A.5 Angkatan :
A.6 Anak ke ..... dari ..... : dari
A.7 Fakultas/ Departemen :
A.8 Asal Daerah :
A.9 Uang Saku/ bulan :
A.10 Alokasi Uang Saku untuk Makan :
A.11 Berat Badan : kg
A.12 Tinggi Badan : cm

B. Karakteristik Keluarga
B.1 AYAH
B.1.1 Nama :
B.1.2 Usia : tahun
B.1.3 Pendidikan Terakhir : 1. Tidak tamat SD/ Sederajat
2. Tamat SD/ Sederajat
3. Tamat SMP/ Sederajat
4. Tamat SMA/ Sederajat
5. Tamat Perguruan Tinggi/ Sederajat
B.1.4 Pekerjaan : 1. Tidak Bekerja 2. PNS 3. Wiraswasta
4. Pegawai Swasta 5. Polisi/ ABRI
6. Petani/ Nelayan/ Buruh 7. Lainnya
............
B.1.5 Pendapatan/ bulan :
B.2 IBU
B.2.1 Nama :
B.2.2 Usia : tahun
B.2.3 Pendidikan Terakhir : 1. Tidak tamat SD/ Sederajat
2. Tamat SD/ Sederajat
3. Tamat SMP/ Sederajat
4. Tamat SMA/ Sederajat
5. Tamat Perguruan Tinggi/ Sederajat
B.2.4 Pekerjaan : 1. Tidak Bekerja 2. PNS 3. Wiraswasta
4. Pegawai Swasta 5. Polisi/ ABRI
6. Petani/ Nelayan/ Buruh 7. Lainnya
............
B.2.5 Pendapatan/ bulan :
36

B.3 Besar Keluarga : orang


B.4 Jumlah Tanggungan : orang
Keluarga
B.5 Alamat Orang Tua :

C. Pengetahuan Gizi
Pertanyaan
1. Apa yang anda ketahui mengenai anjuran diet yang diterapkan belakangan
ini?
a. 4 sehat 5 sempurna
b. Pedoman umum gizi seimbang (PUGS)
c. Pedoman gizi seimbang (PGS)
2. Bagaimana susunan makanan dengan gizi seimbang?
a. Makanan pokok, lauk pauk (hewani dan nabati), sayuran, buah, dan susu
b. Makanan pokok, lauk pauk (hewani atau nabati), sayuran, buah, dan susu
c. Makanan pokok, lauk pauk (hewani), sayuran, buah, dan susu
3. Berapa kali anjuran untuk mengonsumsi sayur dan buah dalam sehari ?
a. 1-3 porsi
b. 3-5 porsi
c. 5-7 porsi
4. Berapa kali anjuran mengonsumsi lauk hewani dalam satu hari?
a. 1-3 porsi
b. 2-3 porsi
c. 2-4 porsi
5. Konsumsi bahan makanan yang perlu dibatasi adalah:
a. Garam, beras, gula, cabai
b. Garam, gula, minyak
c. Santan, vetsin, tepung impor
6. Makanan apa yang mengandung banyak serat pangan?
a. Sayuran, buah, kacang-kacangan
b. Sayuran, lauk hewani, lauk nabati
c. Buah, umbi-umbian, lauk hewani
7. Lemak jenis apa yang paling harus dibatasi asupannya?
a. Lemak tidak jenuh tunggal
b. Lemak tidak jenuh ganda
c. Lemak jenuh
8. Makanan sumber zat besi adalah:
a. Wortel, beras merah, ikan
b. Daging, hati, bayam
c. Telur, tahu, susu
9. Makanan/bahan makan di bawah ini yang paling “miskin” akan zat-zat gizi
adalah:
a. Teh dalam kemasan, margarin, aprikot
b. Jus dalam kemasan, mentega, roti
c. Teh dalam kemasan, minyak, permen
37

10. Bahan makanan apa di bawah ini yang memiliki kalori paling banyak jika
dalam berat yang sama?
a. Gula
b. Mentega
c. Roti

D. Semi Quantitative Food Frequency Quesstionary (SQ-FFQ)


Isilah frekuensi konsumsi makan dibawah ini sesuai dengan keadaan sebenarnya
Tanggal Wawancara :
Keterangan pengisian:
1. URT = Ukuran Rumah Tangga: piring, mangkok, piring kecil, gelas,
bungkus, sendok makan, sendok teh, cangkir, tusuk, potong, porsi,
buah.
2. gr*
= Tidak perlu diisi oleh responden

3. Contoh: Konsumsi nasi 3 kali sehari saat kuliah, setiap makan nasi
sebanyak 1 centong namun saat masih SMA konsumsi nasi 4 kali per
hari sebanyak 2 centong setiap makan. Konsumsi kentang baik
sebelum maupun saat kuliah tidak berubah yaitu 1 kali per bulan,
setiap makan sekitar 1 butir kentang.

N Makanan Frekuensi saat kuliah Jumlah setiap Frekuensi saat Jumlah setiap
o di IPB konsumsi SEBELUM kuliah di IPB konsumsi*
(…kali per) (…kali per)
Hari Minggu Bulan URT gr* Hari Minggu Bulan URT gr*
1 Makanan
pokok
Nasi/bubur 3 1 centong 4 2 centong
Kentang 1 1 buah besar 1 1 buah besar

Semi Quantitative Food Frequency Quesstionary (SQ-FFQ) Mahasiswa IPB


N Makanan Frekuensi saat kuliah Jumlah setiap Frekuensi saat SEBELUM Jumlah setiap
o di IPB konsumsi kuliah di IPB* konsumsi*
(kali per) (kali per)
Hari Minggu Bulan URT gr Hari* Minggu* Bulan* URT* gr*
1 Makanan
pokok
Nasi/bubur
Kentang
Roti
Mie
Bihun
Ubi jalar
Biskuit
Singkong
Lainnya
….
38

N Makanan Frekuensi saat kuliah Jumlah setiap Frekuensi saat SEBELUM Jumlah setiap
o di IPB konsumsi kuliah di IPB* konsumsi*
(kali per) (kali per)
Hari Minggu Bulan URT gr Hari* Minggu* Bulan* URT* gr*
2 Protein
hewani
Telur ayam
Telur bebek
Ikan
Daging sapi
Ayam

Susu kental
manis
Susu full
cream
Susu skim
Yoghurt
Keju
Hati
ayam/sapi
Otak
Gajih
Usus
Ampela
Babat
Kepiting
Lobster
Ikan asin
Ikan pindang
Kerang-
kerangan
Soto (ayam,
daging, babat,
jeroan)
Bakso
Corned beef
Daging asap
Dendeng
Daging kaleng
Lainnya
….
3 Protein
nabati
Tahu
Tempe
Oncom
Susu kedelai
Kacang hijau
Kacang tanah
Kacang merah
Lainnya
….
39

N Makanan Frekuensi saat kuliah Jumlah setiap Frekuensi saat SEBELUM Jumlah setiap
o di IPB konsumsi kuliah di IPB* konsumsi*
(kali per) (kali per)
Hari Minggu Bulan URT gr Hari* Minggu* Bulan* URT* gr*
4 Sayuran
Bayam
Wortel
Kangkung
Buncis
Sawi
Labu siam
Jamur
Tauge
Kacang
panjang
Daun
singkong
Brokoli
Ketimun
kol
Tomat
Terong
Acar
Lainnya
….
5 Buah-buahan
Pepaya
Pisang
Alpukat
Apel
Mangga
Jambu biji
Salak
Nenas
Semangka
Melon
Stawberry
Rambutan
Jeruk manis
Kurma
Asinan buah
Buah kaleng
Lainnya
….
6 Lemak/minya
k
Minyak kelapa
sawit
Minyak kelapa
Margarin
Mentega
Santan
Minyak zaitun
Lainnya
….
40

N Makanan Frekuensi saat kuliah Jumlah setiap Frekuensi saat SEBELUM Jumlah setiap
o di IPB konsumsi kuliah di IPB* konsumsi*
(kali per) (kali per)
Hari Minggu Bulan URT gr Hari* Minggu* Bulan* URT* gr*
7 Makanan dan
minuman
manis
Dodol
Cake
Kue-kue
manis
Coklat
Teh manis
Gula pasir
Gula jawa
Lainnya .....
8 Konsumsi Fast Food
Fried chicken
Fried fries
Hamburger
Pizza
Spaghetti
Mie Instan
Snack asin
Lainnya
….
8 Konsumsi
Soft Drink
Minuman
tidak
berkarbonasi
(teh kemasan,
frutang, ale-
ale, okky
jelly)
Minuman
berkarbonasi
(fanta, sprite,
coca-cola)
Lainnya
….
9 Minuman
Berkafein
Kopi
Coklat
Cola
Lainnya
….
41

Lampiran 2 Dokumentasi penelitian


42

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 6 Januari 1995 dari ayah Taukhid,
dan ibu Kesih Mulyatin. Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara. Tahun
2011 penulis lulus dari SMAN 5 Bogor, pada tahun yang sama penulis masuk
Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN undangan, dan diterima di
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia. Selama mengikuti
perkuliahan, penulis menjadi asisten praktikum Ekologi Pangan pada tahun ajaran
2014/2015. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Bersama Masyarakat (KKBM) di
Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Bogor pada bulan Juni-Agustus. Penulis juga
melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapang di RSUP. Hasan Sadikin Bandung.
1