Anda di halaman 1dari 5

Analisis Kasus Kejanggalan Laporan Keuangan Tahunan Garuda

Indonesia (Persero) Tbk.

Disusun Oleh:

Senopati Sakti P.D.B.C F3317047

D3 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
A. Laporan Keuangan Garuda Indonesia (persero) Tbk Tahun 2018

1. Laporan piutang

2. Perbandingan Pendapatan Lain-lain


3. Laba Rugi Bersih

B. Identifikasi Masalah

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tanpa diduga berhasil mencatatkan kinerja cemerlang
pada 2018. Bukan ruginya lagi yang menurun, tapi perusahaan mencetak laba bersih US$809,84
ribu atau Rp11,33 miliar (Rp14.000 per dolar Amerika Serikat).

Namun, berita itu rupanya tak disambut baik oleh seluruh pihak. Dua komisaris Garuda
Indonesia, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menolak menandatangani laporan buku tahunan
Garuda 2018.

Keduanya merupakan perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd
selaku pemilik dan pemegang 28,08 persen saham Garuda Indonesia. Mereka tak sepakat dengan
salah satu transaksi kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi yang dibukukan sebagai
pendapatan oleh manajemen.

Dalam surat yang didapatkan oleh awak media ketika Rapat Umum Pemegang Saham
Tahunan (RUPST) berlangsung pada Rabu (24/4) tertulis bahwa Mahata bekerja sama secara
langsung dengan PT Citilink Indonesia. Melalui kesepakatan itu, keuntungan yang diraih Grup
Garuda Indonesia sebesar US$239.940.000, dengan US$28.000.000 di antaranya merupakan
bagi hasil Garuda Indonesia dengan PT Sriwijaya Air.

Hanya saja, perusahaan sebenarnya belum mendapatkan bayaran dari Mahata atas kerja
sama yang dilakukan. Namun manajemen tetap menuliskannya sebagai pendapatan, sehingga
secara akuntansi Garuda Indonesia menorehkan laba bersih dari sebelumnya yang rugi sebesar
US$216,58 juta.

Saat itu Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal sempat menargetkan rugi bersih
perusahaan bisa ditekan di bawah US$50 juta pada 2018. Sementara, Direktur Utama Garuda
Indonesia Ari Askhara menargetkan kerugian menjadi di bawah US$100 juta.

Hasilnya, neraca keuangan tahun lalu berhasil berubah 180 derajat menjadi untung. Tapi,
hal itu tak diiringi dengan kenaikan pendapatan usaha yang signifikan.

Perusahaan meraih pendapatan usaha sebesar US$4,37 miliar sepanjang 2018. Angka itu
hanya naik 4,79 persen dari posisi 2017 yang sebesar US$4,17 miliar.

Menariknya, pendapatan bersih lain-lain perusahaan melonjak 1.308 persen dari


US$473,85 juta menjadi US$567,93 juta. Kenaikan signifikan itu ditopang oleh pendapatan
kompensasi atas hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hiburan dalam pesawat dan
manajemen konten sebesar US$239,94 juta.

Pada 2017, pendapatan kompensasi itu tercatat nol rupiah. Tak heran, lonjakan
pendapatan lain-lain bersih terjadi tahun lalu.

Ditelisik lebih jauh, layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan itu berasal dari
kerja sama yang diteken Garuda Indonesia dengan Mahata pada 31 Oktober 2018 dan
diperbaharui pada 26 Desember 2018 lalu.

Bila merujuk pada surat yang dibuat oleh Chairal dan Dony, pihak Mahata sebenarnya
belum membayar satu sen pun dari total kompensasi yang disepakati US$239,94 juta kepada
Garuda Indonesia hingga akhir 2018. Namun, manajemen memutuskan untuk mencatatkannya
sebagai pendapatan.

Chairal dan Dony menyebut tanpa kompensasi itu sebenarnya perusahaan masih merugi
US$244,95 juta. Keputusan manajemen memang berhasil membuat pasar terlena dengan catatan
positif di laporan keuangan.

C. Kelemahan Praktik yang Dilakukan oleh Garuda Indonesia

Menurut dua komisaris diatas hal ini dapat merugikan perusahaan dari sisi arus kas.
Sebab, ada kewajiban bayar Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari
laba yang diraih Garuda Indonesia.

Padahal, beban itu seharusnya belum menjadi kewajiban karena pembayaran dari kerja
sama dengan Mahata belum masuk ke kantong perusahaan. Mereka melihat hal ini bertentangan
dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 23 paragraf 28 dan 29.

Pada paragraf 28 tertulis pendapatan yang timbul dari penggunaan aset entitas oleh pihak
lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diakui dengan dasar yang dijelaskan di
paragraf 29 jika kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut
akan mengalir ke entitas dan jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.

Di sisi lain, Menurut manajemen hal itu tidak melanggar Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) 23 karena secara substansi Pendapatan dapat dibukukan sebelum kas diterima.

PSAK 23 menyatakan 3 kategori pengakuan pendapatan yaitu penjualan barang,


penjualan jasa dan pendapatan atas bunga, royalti dan dividen dimana seluruhnya menyatakan
kriteria pengakuan pendapatan yaitu Pendapatan dapat diukur secara handal, adanya manfaat
ekonomis yang akan mengalir kepada entitas dan adanya transfer of risk.

Sejalan dengan hasil audit KAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang & Rekan, member of
BDO international yang merupakan Big 5 (Five) Accounting Firms Worldwide dinyatakan
dalam pendapat auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam seluruh hal
yang material atau wajar tanpa pengecualian.

"Manajemen yakin bahwa pengakuan Pendapatan atas Biaya Kompensasi atas transaksi
dengan Mahata telah sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Sebagai Big5
Audit Firm, BDO seharusnya telah menerapkan standar audit internasional yang sangat baik”
jelas Fuad Rizal, Direktur Keuangan GIAA dalam siaran pers, Minggu (28/4)

Pada perjanjian kerja sama layanan konektivitas dalam penerbangan dan pengelolaan
layanan hiburan di pesawat, terdapat dua transaksi yaitu biaya kompensasi atas penyerahan hak
pemasangan layanan konektivitas serta pengelolaan in-flight entertainment, dan bagi hasil
(profit-sharing) atas alokasi slot untuk setiap pesawat terhubung selama periode kontrak.

Atas transaksi tersebut, Garuda Grup mengakui pendapatan yang merupakan pendapatan
atas penyerahan hak pemasangan konektivitas, seperti hal nya signing fee/biaya pembelian hak
penggunaan hak cipta untuk bisa melaksanakan bisnis di pesawat Garuda Grup.

Penjualan atas hak ini tidak tergantung oleh periode kontrak dan bersifat tetap dimana
telah menjadi kewajiban pada saat kontrak ditanda tangani. Garuda grup tidak memiliki sisa
kewajiban setelah penyerahan hak pemasangan alat konektivitas tersebut.

Sesuai dengan pendapat hukum dari Kantor Hukum Lubis, Santosa & Maramis bahwa
pembayaran kompensasi Hak pemasangan tersebut tidak serta-merta menimbulkan kewajiban
Garuda Grup untuk mengembalikan Biaya Hak kompensasi yang telah dibayarkan Mahata
apabila dikemudian hari terdapat pemutusan kontrak kerjasama.

Untuk memenuhi prinsip Good Corporate Governance, Garuda Grup telah melakukan
kajian risiko terhadap transaksi ini dan juga telah melakukan analisa terhadap mitigasi risiko nya.
Garuda Grup juga melakukan proses bisnis dengan cara “know your customer “ untuk
menganalisa kebutuhan pelanggan yang sejalan dengan potensi risiko atas illegal intentions
terhadap bisnis Grup.