Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KONSEP SISTEM ADMINISTRASI BADAN HUKUM (SABH) DALAM

KERANGKA POLITIK HUKUM KENOTARIATAN

OLEH:

Ayu Irma Rosiyani


1811123036

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WARMADEWA
DENPASAR
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG.

Pelayanan publik mencakup aspek yang sangat mendasar yaitu pemenuhan hak-hak

konstitusional rakyat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menghargai

prinsip kesederajatan kemanusian. Setiap orang yang berurusan dengan birokrasi harus

diperlakukan dengan sama pentingnya. Arah baru atau model reformasi SABH dalam kerangka

politik hukum kenotariatan perlu dirancang untuk mendukung demokratisasi dan

terbentuknya clean and good governance yaitu tumbuhnya pemerintahan yang rasional,

transparansi, dan memiliki sikap kompetisi antar departemen dalam memberikan pelayanan,

mendorong tegaknya hukum serta bersedia memberikan pertanggungjawaban terhadap publik

(public accountibility) secara teratur.

Upaya perbaikan yang terpenting adalah melakukan rekonstruksi pembenahan sistem

manajemen publik yang memungkinkan kreativitas dan inovasi tumbuh dan berkembang

sehingga membentuk budaya organisasi yang kokoh. Diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar

tahun 1945, salah satu tujuan pembentukan negara Republik Indonesia adalah mewujudkan

kesejahteraan umum. Salah satu tugas pokok pemerintah adalah menciptakan sistem manajemen

pemerintahan yang dapat mengelola dengan baik sumber daya nasional demi tercapainya

kemakmuran dan kesejahteraan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara unum untuk mewujudkan pelayanan publik di bidang birokrasi pemerintahan,

telah dibentuk Komite Reformasi Birokrasi Nasional dalam upaya melanjutkan rencana

pemerintah yang belum efektif, yaitu terciptanya birokrasi yang akuntabel, produktif,
profesional, dan bebas korupsi. Birokrasi diperlukan, akan tetapi terkadang menjadi penghambat

dan sumber masalah berkembangnya demokrasi sehingga keadilan sosial bagi masyarakat

Indonesia belum tercapai. Selama ini yang terjadi dalam praktik SABH di bidang kenotariatan

yaitu banyak penyimpangan dalam pelayanan SABH di bidang kenotariatan serta penyimpangan-

penyimpangan lain seperti terjadinya diskriminasi pelayanan birokrasi terhadap pelayanan

administrasi hukum di bidang kenotariatan, diskriminasi mana biasanya terjadi antara pejabat,

pengusaha dan rakyat kecil. Secara akademik, fungsi birokrasi dan aparatur negara adalah

penyelesai masalah (a world of solution), akan tetapi realita SABH di bidang kenotariatan sering

menjadi bagian dari sumber masalah (source of problem).

Realita SABH di bidang kenotariatan bersifat semu yang diwarnai oleh ketegangan antara

Notaris sebagai pejabat publik (pelayan umum) dengan berbagai struktur sosial yang mempunyai

kepentingan yang berbeda-beda (masyarakat umum khususnya pengguna jasa Notaris) yang

didasarkan pada kepentingan masing-masing terutama menyangkut bidang-bidang usaha yang

membutuhkan syarat perijinan, yang terkait dengan SABH pada Ditjen AHU Kemenkumham.

Sehingga keadilan sosial yang dicita-citakan oleh negara ini belum tercapai. Kualitas pelayanan

birokrasi dinilai buruk, lama, berbelit-belit, dan sangat diskriminatif, jika kita bandingkan dengan

instansi swasta yang memberikan pelayanan interaktif, kompetitif dan cepat, maka terlihat

sangat kontradiktif.

Reformasi SABH dalam kerangka politik hukum kenotariatan merupakan langkah-

langkah perbaikan atas terjadinya pembusukan politik dan rusaknya perilaku yang bercokol

dalam sistem birokrasi tersebut. Penyusunan arah reformasi SABH di bidang kenotariatan perlu

memperhitungkan terjadinya perubahan lingkungan kerja dan kecenderungan dinamika budaya

(culture) dan sosial ekonomi masyarakat secara universal. Indonesia sebagai negara berkembang
sebagaimana oleh Fred W. Riggs digolongankan ke dalam negara yang transitional perlu

dibangun (direkonstruksi) SABH di bidang kenotariatan yang berkultur dan terstruktur rational-

egaliter, bukan birokrasi rasional-hirarkis yang dikembangkan oleh teori birokrasi modern Max

Weber.

Rekonstruksi SABH di bidang kenotariatan perlu menggunakan hasil-hasil ilmu

pengetahuan, penelitian dan pengkajian dari komponen-komponen penyebab ketimpangan

birokrasi administrasi hukum di bidang kenotariatan yang tak kunjung membaik. Rekonstruksi

SABH di bidang kenotariatan tidak bisa sekedar dilihat secara tekstual dari sisi peraturan-

peraturan yang mendasari, akan tetapi perilaku pejabat (birokrat) dalam SABH di bidang

kenotariatan dan kontekstual permasalahan utama dari ketimpangan SABH di bidang

kenotariatan menjadi hal penting untuk dikaji, sudah sekian puluh kali peraturan SABH di

bidang kenotariatan dibenahi akan tetapi hasil pelaksanaan birokrasi administrasi hukum di

bidang kenotariatan masih jauh dari rasa keadilan.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis akan mengangkat permasalahan dalam

makalah ini, yakni:

1. Bagaimana politik hukum kenotariatan untuk mewujudkan SABH di bidang kenotariatan

berbasis nilai keadilan sosial sebagai implementasi dari Undang-Undang Jabatan Notaris?
BAB III

PEMBAHASAN

A. Politik hukum kenotariatan untuk mewujudkan SABH di bidang kenotariatan berbasis

nilai keadilan sosial sebagai implementasi dari Undang-Undang Jabatan Notaris

Program Aplikasi SABH (Sistem Administrasi Badan Hukum) dihadirkan dalam

rangka peremajaan sistem aplikasi yang telah hadir terlebih dahulu yaitu SISMINBAKUM.

sehingga akan lebih mempermudah pekerjaan (simplifikasi) dan diharapkan fungsi pelayanan

akan lebih cepat serta, akurat, efisien dan tepat waktu.

Sistem lama dalam Proses Administrasi Pengesahan Badan Hukum di Direktorat Jendral

AHU (Administrasi Hukum Umum) Departemen Hukum dan HAM RI (SISMINBAKUM) telah

dijalankan dengan baik sehingga fungsi pelayanan ke masyarakat dapat dilakukan sesuai tujuan.

Era Baru (SABH) telah dimulai pembuatan dan program aplikasi Badan Hukum ini

dipergunakan sebagai pengelola, baik di dalam pengurusan akte perusahaan sampai

pengesahannya maupun sebagai pengelola bank data (database) perusahaan-perusahaan di

Indonesia. Sistem ini akan terus berkembang dengan pengembangan ke aplikasi ke seluruh

instansi yang terkait, sehingga pada akhirnya seluruh proses yang berhubungan dengan

pengurusan dan eksistensi perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan pelayanan satu atap

yang akan mempermudah para Notaris dalam proses pengadministrasian & pendaftaran

perusahaan.

Politik hukum dalam taraf instrumental di bidang kenotariatan dapat disimak pada bagian

konsiderans UUJN sebagai berikut:

“bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kepastian,


ketertiban, dan perlindungan hukum, yang berintikan kebenaran dan keadilan; bahwa

untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum dibutuhkan alat bukti

tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum yang

diselenggarakan melalui jabatan tertentu; bahwa notaris merupakan jabatan tertentu

yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat, perlu

mendapatkan perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian hukum; bahwa jasa

notaris dalam proses pembangunan makin meningkat sebagai salah satu kebutuhan

hukum masyarakat.”

Menurut Sudarto ”Politik Hukum” adalah kebijaksanaan dari negara dengan perantaraan

badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki, yang

diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang dicita-citakan. Pembentukan

undang-undang merupakan proses sosial dan proses politik yang sangat penting artinya dan

mempunyai pengaruh yang luas, karena itu (undang-undang) akan memberi bentuk dan mengatur

atau mengendalikan masyarakat. Undang-undang oleh penguasa digunakan untuk mencapai dan

mewujudkan tujuan-tujuan sesuai dengan yang dicitia-citakan. Dikatakan bahwa Undang-undang

mempunyai dua fungsi, yaitu:

1. Fungsi untuk mengekspresikan nilai, dan

2. Fungsi instrumental.

Berpijak pada kedua fungsi hukum di atas, maka dapat dikatakan bahwa hukum bukan

merupakan tujuan, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan. Ini

berarti, apabila kita mau membicarakan ”Politik hukum Indonesia”, maka mau tidak mau kita

harus memahami terlebih dahulu ”apa yang menjadi cita-cita dari bangsa Indonesia merdeka”

Cita-cita inilah yang harus diwujudkan melalui sarana undang-undang (hukum). Dengan
mengetahui masyarakat yang bagaimana yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia, maka dapat

ditentukan ”sistem hukum” yang bagaimana yang dapat mendorong terciptanya sistem hukum

yang mampu menjadi sarana untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan oleh bangsa

Indonesia.

Dapat dikatakan bahwa perundang-undangan memang bentuk pengaturan legal dalam

sebuah negara hukum yang demokratis. Namun peraturan hukum formal tak pernah netral,

karena ada politik hukum di belakangnya. Hukum formal itu lahir, hidup, dan juga bisa mati,

dalam dinamika budaya hukum. politik hukum menjadi sangat terasa, karena pemerintah pusat

sangat berperan dalam penyusunannya, sementara sebagai pemerintah pusat juga menjadi pihak

dalam tarik ulur posisi otonomi daerah. Dengan demikian suatu sistem hukum harus

mengandung peraturan-peraturan melalui pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai

wujud aplikatif politik hukum sebisa mungkin bersifat netral dan tidak memihak.

Arah resmi tentang pembangunan hukum di bidang kenotariatan yang akan diberlakukan

atau hukum di bidang kenotariatan yang tidak diberlakukan (Legal Policy) dalam rangka

mewujudkan tujuan Negara. Subsistem sosial kemasyarakatn, politik, ekonomi, budaya sebagai

kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi dalam pembentukan hukum di bidang kenotariatan.

Masalah-masalah penegakan hukum dan implementasi atas politik hukum kenotariatan

(implementasi UUJN) yang telah ditentukan serta metode pendekatan yang digunakan dalam

mempelajari ilmu politik hukum kenotariatan lebih tepat adalah socio-legal, suatu cara

pendekatan yang menggarap peraturan-peraturan hukum (das sollen) dengan cara mempelajari

sebab akibatnya dalam hubungannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dalam masyarakat (das

sein). Letak Politik Hukum Kenotariatan dalam Ilmu Hukum dapat diilustrasikan bahwa Ilmu

Hukum itu sebagai pohonnya sedangkan Filsafat sebagai akar-akarnya, sedangkan Politik
sebagai batang pohonnya, dan Politik Hukum Kenotariatan sebagai bagian dari batang pohon

atau sebagai serat-serat pohon politik.

Kehadiran Notaris sebagai Pejabat Publik adalah jawaban dari kebutuhan masyarakat

akan kepastian hukum atas setiap perikatan-perikatan yang mereka lakukan, tentunya perikatan

yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dan juga usaha perdagangan. Notaris adalah satu-

satunya pejabat yang diberi wewenang umum untuk membuat akta perikatan, selagi belum ada

Undang-Undang yang mengatur perihal pembuatan akta tertentu dengan pejabat khusus di luar

Notaris. Seperti Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) misalnya.

Sebelum berlakunya undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris atau

yang sering disingkat UUJN, peraturan jabatan notaris masih bersifat kolonial dan tidak

terkodifikasi dengan baik. Adalah Reglement op Het Notaris Ambt in Indonesie (Peraturan

Jabatan Notaris di Indonesia) sebagaimana diatur dalam Staatsblad No.1860:3 yang menjadi

peraturan jabatannya. lahirnya UUJN menjadi babak baru dalam dunia Notariatan yang sedang

memasuki babak baru karena Notariatan terlihat semakin kokoh menapakan diri sebagai kajian

otonom dari Ilmu Hukum. Hingga selanjutnya lebih akan dikenal dengan sebutan Hukum

Kenotariatan.

Arah dan konsep politik hukum kenotariatan semakin jelas setelah Tanggal 6 Oktober

2004 diundangkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.

Diundangkannya UUJN disambut baik oleh kalangan praktisi dan akademisi hukum, dan

masyarakat pada umumnya, terlebih lagi mereka yang biasa menggunakan layanan jasa notaris.

Sambutan tersebut adalah wujud kegembiraan dengan harapan posisi Pejabat Notaris dan Hukum

di bidang kenotariatan secara umum kini lebih efisien dan efektif menuju kodifikasi yang positif.

Karena pada pasal 91 UUJN telah mencabut dan menyatakan tidak berlaku lagi:
1. Reglement op Het Notaris Ambt in Indonesie (Stb 1860:3) sebagaimana telah diubah

terakhir dalam Lembaran Negara Tahun 1945 Nomor 101;

2. Ordonantie 16 September 1931 tentang Honorarium Notaris;

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954 tentang Wakil Notaris dan Wakil Notaris

Sementara (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 700);

4. Pasal 54 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2004 Nomor 34, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4379);

dan

5. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1949 tentang Sumpah/Janji Jabatan Notaris,

Sejak UUJN berlaku, peraturan tentang jabatan notaris sudah terkodifikasi di dalam satu

Undang-Undang. Kondisi seperti ini membuat hukum menjadi lebih efisien dan efektif dengan

harapan dapat mendukung aktivitas perikatan menjadi lebih teratur, atas keadilan, kepastian, dan

kemanfaatan hukum bagi masyarakat maupun pemerintah dalam menjalankan tugas negara

sehingga tercipta keadilan sosial.

Keadilan sosial yaitu keadilan yang pelaksanaannya tidak lagi tergantung pada kehendak

pribadi, atau pada kebaikan-kebaikan individu yang bersikap adil, tetapi sudah bersifat struktural.

Artinya, pelaksanaan keadilan sosial tersebut sangat tergantung kepada penciptaan struktur-

struktur sosial yang adil. Jika ada ketidakadilan sosial, penyebabnya adalah struktur sosial yang

tidak adil. Mengusahakan keadilan sosial pun berarti harus dilakukan melalui perjuangan

memperbaiki struktur-struktur sosial yang tidak adil tersebut. Keadilan sosial juga dapat

didefinisikan sebagai perilaku, yakni perilaku untuk memberikan kepada orang lain apa yang
menjadi haknya demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera. Kesejahteraan adalah tujuan

utama dari adanya keadilan sosial.

Pemahaman terhadap makna keadilan sosial dalam sistem birokrasi Administrasi hukum

di bidang kenotariatan dapat dibagi menjadi tiga tataran. Meminjam istilah dalam Teori

Bekerjanya Hukum yang dikemukakan oleh Willian J. Chambliss dan Robert B. Seidman,

tataran pertama adalah pemaknaan oleh the policy maker/law making institutions. Tataran kedua

pemaknaan oleh the law sanctioning institutions/ law guardian institutions. Tataran ketiga adalah

pemaknaan oleh role occupant. Pemaknaan terhadap fenomena keadilan dapat berbeda karena

perspektif yang digunakan juga berbeda. Bahkan penafsiran dalam satu tataran dapat pula

berbeda-beda. Misalnya, pada tataran law making institutions, fenomena keadilan sosial dapat

diartikan lain antara para founding fathersdengan lembaga legislatif (DPR dan Presiden).

Kualitas interaksi sosial diantara para stakeholders yang memaknai nilai keadilan sosial dalam

ranah komunikasi di bidang ekonomi dan politik sangat menentukan ke arah mana keadilan

sosial dimaknai. Apakah diarahkan pada pencapaian kebahagiaan bersama atau hanya akan

dijadikan simbol saja dan hanya menjadi unintended consequence.

Studi masyarakat (birokrat) pada SABH di bidang kenotariatan dalam pendekatan

pragmatisme melibatkan pengkajian atas cara simbol-simbol dipakai dalam komunikasi dalam

interaksi sosial. Untuk kepentingan pemahaman terhadap simbol-simbol perilaku yang

digunakan oleh stakeholders dalam interaksi social pada masyarakat (birokrat) dalam SABH di

bidang kenotariatan, dapat dipakai teori interaksionalis simbolik. Blumer mengatakan bahwa

pendekatan fungsionalis “interaksionalis simbolik” mengandung tiga premis utama: Manusia

bertindak berdasarkan makna yang menurut mereka ada dalam sesuatu hal;
Seorang bertindak kadang hanya didasarkan pada makna yang dianggap ada pada

sesuatu. Artinya, pada sesuatu itu ada makna, sesuatu itu sekedar simbol dari makna. Tindakan

manusia ditujukan untuk mengejar makna itu sendiri (people do not can act to ward things, but

toward their meaning).

1. Makna adalah hasil dari interaksi sosial;

Makna tentang sesuatu berkembang dari atau melalui interaksi antarmanusia dalam

kehidupan sehari-hari. Ini sejalan dengan arus perkembangan budaya itu sendiri sebagai sutau

hasil saling membagi sistem makna (shared sistem of meanings). Makna-makna dimaksud

dipelajari, direvisi, dipelihara, dan diberi batasan-batasan dalam konteks interaksi manusia.

Dengan demikian, makna dapat menyempit, meluas dan sesuatu dapat pula kehilangan makna

karena perkembangan suatu interaksi sosial.

Makna dimodifikasi dan ditangani melalui proses interpretasi yang dipakai oleh individu

dalam menghadapi “tanda-tanda” (signs) yang dijumpainya.

Makna-makna dipegang, dijadikan acuan, dan dinterpretasikan oleh seseorang dalam

berhubungan dengan sesuatu yang dihadapinya. Ia digunakan sebagai acuan untuk menafsirkan

suatu situasi, keadaan, benda, atau lainnya dalam berbagai bidang kehidupan.

Gambaran interaksionalis tentang manusia oleh Meltzerdapat dikatakan didasari oleh keyakinan

bahwa:

“Individu dan masyarakat adalah unit yang tidak dapat dipisahkan… untuk memahami

salah satu unit secara komprehensif juga memerlukan pemahaman unit yang lain secara

menyeluruh… Masyarakat harus dipahami dari segi individu yang mennyusun masyarakat,

individu harus dipahami dari segi masyarakat tempat di mana mereka menjadi anggotanya…

Karena sebagian besar pengaruh lingkungan dirasakan dalam bentuk interaksi sosial, maka
perilaku adalah sesuatu yang dikonstruksi dan bersifat sirkular, bukan bawaan dan bersifat lepas

(released).

Melalui teori interaksionalis simbolik tersebut, dapat ditelusuri makna-makna

tersembunyi dibalik subjek dalam penegakan hukum. Makna apa yang ada dibalik perilaku

mereka? Perilaku subjek dalam penegakan hukum, selalu ditentukan oleh berbagai disiplin yang

mengenai mereka, yang oleh Chambliss dan Siedman dinyatakan sebagai hasil resultante. Dari

analisa tersebut jelaslah mengapa sistem birokrasi administrasi hukum di bidang kenotariatan

belum memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Hukum tidak sekedar berfungsi sebagai penjamin Keamanan dan Ketertiban masyarakat

(Kamtibmas), lebih penting adalah untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih baik bagi rakyat

dan mencapai tujuan hukum itu sendiri yaitu keadilan serta melaksanakan hukum secara

konsisten. I.S. Susanto, dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, maka fungsi primer

negara hukum adalah:

1. Perlindungan yaitu hukum mempunyai fungsi untuk melindungi masyarakat dari

ancaman bahaya dan tindakan-tindakan yang merugikan yang datang dari sesamanya dan

kelompok masyarakat, termasuk yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan (pemerintah

dan negara) dan yang datang dari luar yang ditujukan terhadap fisik, jiwa, kesehatan, nilai-

nilai dan hak-hak asasinya.

2. Keadilan yaitu fungsi lain dari hukum adalah menjaga, melindungi dan memberi keadilan

bagi seluruh rakyat. Secara negatif dapat dikatakan bahwa hukum yang tidak adil adalah

apabila hukum yang bersangkutan dipandang melanggar nilai-nilai dan hak-hak yang kita

percayai harus dijaga dan dilindungi bagi semua orang.


3. Pembangunan yaitu fungsi hukum yang ketiga adalah pembangunan dalam rangka

mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini mengandung makna bahwa

pembangunan Indonesia sepenuhnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di segala

aspek ekonomi, sosial, politik, kultur, dan spiritual. Dengan demikian hukum dipakai

sebagai kendaraan baik dalam menentukan arah tujuan, dan pelaksanaan pembangunan

secara adil.

Yos Johan Utama, mengatakan bahwa konskuensi sebagai negara hukum, secara mutatis

mutandis memunculkan kewajiban bagi negara, untuk melaksanakan prinsip negara berkeadilan,

prinsip keadilan dalam negara hukum tersebut, berusaha untuk mendapatkan titik tengah antara

dua kepentingan. Pada satu sisi kepentingan, memberi kesempatan negara untuk menjalankan

pemerintahan dengan kekuasaannya, tetapi pada sisi yang lain, masyarakat harus mendapatkan

perlindungan atas hak-haknya melalui prinsip keadilan hukum.

Yos memberikan gambaran bahwa paradigma negara kesejahteraan, menempatkan warga

negara ataupun orang perorang menjadi subyek hukum, yang harus dilindungi serta

disejahterakan dalam segala aspek kehidupannya. Negara dalam paradigma negara kesejahteraan

menempatkan warganya sebagai subyek hukum bukan obyek hukum. Semenrtara itu Arief

Hidayat menyatakan bahwa demokrasi tidak dapat dibicarakan secara terpisah atau tanpa

mengaitkan dengan konsep negara hukum, karena negara hukum merupakan salah satu ciri

negara demokrasi, dan demokrasi merupakan cara paling aman untuk mempertahankan kontrol

atas negara hukum. Gagasan dasar negara hukum adalah bahwa hukum negara harus dijalankan

dengan baik (dalam arti sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat terhadap hukum)

dan adil (karena maksud dasar dari hukum adalah keadilan).


Prinsip negara hukum yang dianaut oleh NKRI adalah “Negara Hukum Pancasila” yang

bersifat prismatik dan integratif, yaitu prinsip negara hukum yang mengintegrasikan atau

menyatukan unsur-unsur yang baik dari beberapa konsep yang berbeda (yaitu unsur-unsur

dalam Rechtsstaat, the Rule of Law. Konsep negara hukum formil dan negara hukum materiil)

dan diberi nilai keIndonesiaan (seperti kekeluargaan, kebapakan, keserasihan, keseimbangan dan

musyawarah yang semuanya merupakan akar-akar dari budaya hukum Indonesia) sebagai nilai

spesifik sehingga menjadi prinsip “Negara Hukum Pancasila”. Prinsip kepastian hukum

dalam Rechtsstaat dipadukan dengan prinsip keadilan dalam the Rule of Law, kepastian hukum

harus ditegakkan untuk memastikan bahwa keadilan di dalam masyarakat juga tegak.

Prinsip-prinsip dasar pengelolaan negara RI hasil dari Konsep Negara Hukum yaitu

Pancasila yang merupakan norma dasar Negara Indonesia (grundnorm) dan juga menjadi cita

hukum negara Indonesia (rechtsidee). Dari konsep Negara Pancasila ini, menghasilkan prinsip-

prinsip dasar dalam pengelolaan Negara RI yang meliputi :

1. Pancasila memuat unsur yang baik dari

pandangan individualisme dan kolektivisme,dimana di sini diakui bahwa manusia

sebagai pribadi mempunyai hak dan kebebasan asasi namun sekaligus melekat padanya

kewajiban asasi sebagai makhluk Tuhan dan sebagai makhluk sosial;

2. Pancasila mengintegrasikan konsep negara hukum “rechtsstaat” yang menekankan pada

civil law dan kepastian hukum serta konsepsi negara hukum “the rule of law” yang

menekankan pada common law dan rasa keadilan;

3. Pancasila menerima hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat (law as tool of social

engineering) sekaligus sebagai cermin rasa keadilan yang hidup di masyarakat (living

law); serta
4. Pancasila menganut paham religious nation state, tidak menganut atau dikendalikan oleh

satu agama tertentu (negara agama) tetapi juga tidak hampa agama (negara sekuler) karena

negara harus melindungi dan membina semua pemeluk agama tanpa diskriminasi karena

kuantitas pemeluknya.

Keempat prinsip tersebut, menghasilkan hubungan di antara prinsip-prinsip tersebut yaitu :

1. Hukum-hukum di Indonesia harus menjamin integrasi atau keutuhan bangsa dan

karenanya tidak boleh ada hukum yang diskriminatif berdasarkan ikatan primordial,

dimana hukum nasional harus menjaga keutuhan bangsa dan negara baik secara territori

maupun secara ideologi;

2. Hukum harus diciptakan secara demokratis dan nomokratis berdasarkan hikmah

kebijaksanaan dimana dalam pembuatannya harus menyerap dan melibatkan aspirasi

rakyat dan hukum tidak hanya dapat dibentuk berdasarkan suara terbanyak (demokratis)

tetapi harus dengan prosedur dan konsistensi antara hukum dengan falsafah yang harus

mendasarinya serta hubungan-hubungan hierarkisnya;

3. Hukum harus mendorong terciptanya keadilan sosial yang antara lain ditandai oleh adanya

proteksi khusus oleh negara terhadap kelompok masyarakat yang lemah agar tidak

dibiarkan bersaing secara bebas tetapi tidak pernah seimbang dengan sekelompok kecil

dari bagian masyarakat yang kuat; serta

4. Hukum berdasarkan toleransi beragama yang berkeadaban dalam arti tidak boleh ada

hukum publik yang didasrkan pada ajaran agama tertentu.

Konstitusi kita secara tegas mengamanatkan bahwa Negara Republik Indonesia sebagai

negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945 menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum, yang berintikan
kebenaran dan keadilan. Untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum

dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan

hukum yang diselenggarakan melalui jabatan tertentu. Notaris merupakan jabatan tertentu yang

menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat, perlu mendapatkan

perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian hukum. Mengingat jasa notaris dalam

proses pembangunan makin meningkat sebagai salah satu kebutuhan hukum masyarakat, maka

kebijakan di bidang kenotariatan harus mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan

kesejahteraan rakyat dan melahirkan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat, mengembangkan

tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dalam kaitannya dengan pelayanan publik

pada bidang legalitas hukum, menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan, dan

kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya kepada generasi akan datang

pada sumber-sumber ekonomi masyarakat yang membutuhkan payung hukum (penerapan asas

kebebasan berkontrak dll di bidang usaha/lalu lintas bisnis), khususnya berkaitan dengan

kepastian hukum (legalitas hukum), sehingga menciptakan tatanan kehidupan bersama secara

harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa dan konflik di bidang usaha. Dengan mandat

tersebut, maka fungsi penyelenggaraan pemerintahan di bidang kenotariatan haruslah didukung

dengan keberadaan dan peran sumber daya manusia (SDM) dan teknologi mutakhir dalam

SABH di bidang kenotariatan, artinya peran mereka tidaklah sebatas mengelola aspek

administrasi dan manajemen birokrasi semata, sebagaimana pencitraan negatif yang telah

membentuk “pencitraan birokrasi” para aparatur pelayan birokrasi pemerintahan dalam beberapa

dasawarsa terakhir ini.

Untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam

Mukadimah Undang-Undang Dasar NRI 1945, dan serta mewujudkan politik hukum kenotaiatan
sebagaimana tertuang dalam konsideran UUJN, diperlukan komitmen politik yang sungguh-

sungguh untuk memberikan dasar dan arah bagi pembaruan SABH yang berorientasi pada

tehnologi mutakhir, berkelanjutan. Pembaruan SABH harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip-

prinsip keadilan, kepastian dan kemanfaatan hukum, sehingga apa yang menjadi cita-cita/visi

misi politik hukum kenotariatan dapat tercapai.

Untuk menjawab prinsip-prinsip keadilan, kepastian dan kemanfaatan hukum tersebut,

maka beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

(1) Pertama, Pendidikan Pelatihan SABH terintegrasi dengan kampus. Pembaruan SABH

harus mampu menjawab keraguan masyarakat terhadap pengembangan sistem

administrasi badan hukum yang sedang dicanangan oleh Ditjen AHU Kemenkumham,

yaitu diperlukan profesionalisme pendukung bekerjanya sistem tersebut, sehingga SABH

perlu didukung dengan tehnologi mutakhir dan SDM yang handal. Dimulai dari

pemahaman terhadap bekerjanya sistem tersebut yaitu dari mulai pendidikan calon

notaris, sehingga pengenalan dan pemahaman terhadap system SABH sudah diajarkan di

Prodi Magister Kenotariatan, baik dari sisi teori maupun praktik pengoperasionalan

penggunaan secara on line system atas SABH. Sebagaimana ketentuan Permenkumham

Nomor: M.01.HT.03.01 Tahun 2006, BAB II pasal 2 huruf h. yang intinya menjelaskan

bahwa pelaksanaan pendidikan pelatihan SABH dapat dilaksanakan Ditjen AHU bekerja

sama dengan pihak lain (artinya tidak ada kewajiban harus dilaksanakan/bekerjasama

dengan organisasi notaris/INI), sehingga kerjasama tersebut lebih baik dan lebih tepat

dilakukan dan dikembalikan pada ranah akademis (Prodi MKn yaitu institusi Negara

yang mendidik, menggembleng dan melahirkan notaris). Pada tataran pengenaan biaya
penggunaan SABH juga harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat, sehingga

pengenaan PNBP perlu dipertimbangkan dengan biaya yang terjangkau.

(2) Kedua, Manajemen Pengawasan SABH. Sebuah sistem akan berjalan dengan baik,

jika sistem tersebut secara konsisten selalu terkontrol, untuk itu dibutuhkan sistem lain,

yang mampu mendukung dan mendorong tercapainya konsistensi, pada berjalannya

SABH tersebut yaitu sistem pengawasan SABH, baik pengawasan secara internal

maupun pengawasan secara eksternal.

(3) Ketiga, Ketersediaan dan Keterjangkauan Dana Implementasi SABH. Harus didukung

dengan pembiayaan yang memadai, dan hal tersebut perlu disiapkan dan dianggarkan

secara sistematis oleh negara, sehingga keberadaan dana atau biaya pendukung

berjalannya sistem tersebut dapat melancarkan pelayanan publik terhadap implementasi

SABH. Pendanaan SABH yang tidak stabil atau bahkan tidak seimbang dengan

kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung jalannya sistem tersebut dengan baik,

dapat menghambat proses pelayanan publik.

C. KESIMPULAN.

Guna menjamin kepastian hukum tentang kedudukan, tugas, wewenang, hak dan

kewajiban, formasi, serta produk dari Notaris. Ide/Cita-cita Hukum kenotariatan harus sejalan dg

cita-cita hukum, yaitu:

1. Mewujudkan integritas bangsa,

2. Mewujudkan keadilan sosial,

3. Mewujudkan kedaulatan rakyat,

4. Mewujudkan toleransi,

5.Terciptanya alat bukti (dalm hal ini akta otentik) yang kuat dalam lalu lintas hukum,
6.Terciptanya kepastian hukum, ketertiban masyarakat, dan terpenuhi perlindungan

hukum,

7. Terciptanya kepastian hak dan kewajiban para pihak.

Arah kebijakan yang ditempuh dalam politik hukum kenotariatan, yaitu :

1.Mewujudkan unifikasi hukum di bidang kenotariatan, yaitu mengadakan pembaharuan

dan pengaturan kembali tentang jabatan notaris,

2.Menggantikan peraturan perundangan produk kolonial dengan produk hukum nasional

berupa Undang-Undang Jabatan Notaris

3.Mengatur secara rinci tentang kedudukan notaris sebagai pejabat umum,

4.Mengatur secara rinci tentang bentuk, sifat, dan macam akta notaris.

Perwujudan politik hukum kenotariatan tersebut, dibutuhkan suatu sistem penunjang dan

pendukung yaitu SABH. Konsep atau Rekonstruksi SABH di bidang kenotariatan bisa terlaksana

secara baik yaitu dengan pembenahan arah kebijakan pembaruan SABH dan perlunya melakukan

pengkajian ulang terhadap pelaksanaan Politik Hukum di bidang kenotariatan dan berbagai

peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas dan kewenangan Notaris dalam

rangka sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan antar sektor demi terwujudnya peraturan

perundang-undangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud konsideran

UUJN. Memperkuat kelembagaan dan kewenangan di bidang kenotariatan, dan melaksanakan

penataan kembali arah politik hukum kenotariatan yang berkeadilan dengan memperhatikan

efektifitas dan efisiensi kinerja di bidang kenotariatan serta penataan terhadap struktur, subtansi

dan kultur lembaga pengawas notaris secara komprehensif dan sistematis dengan menekankan

pada penerapan tehnologi mutakhir dalam pelayanan publik untuk mencapai pelayanan yang

sesuai dengan konsep konsideran UUJN.