Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK RADIOGRAFI 4

DUCTULOGRAFI

Dosen Pengampu : Nanang Sulaksono, SST

Disusun Oleh :

Kelompok 1 Kelas 2A

1. SONIA GLORIA MANANGKALANGI P1337430117001


2. FEBIOLA CLAUDINI DELLA P P1337430117003
3. BACHTIAR DAUD ROCHMAWAN P1337430117008
4. GHERALDY RADYA PRATAMA P1337430117011
5. AFIFAH DWI AZHARIMAH P1337430117014
6. RIZALDI AL FAHROZI P1337430117020
7. VIOLIN AURORA ESTERLITHA P1337430117028
8. AMALIA WIDYANINGSIH P1337430117030
9. CLEMENTIA SELNIA TEMU P1337430117034
10. FATHUR RAHMAN A P1337430117037
11. MOH. FAUZA ZAKI ALMAMDUH P1337430117045
12. INDAH SOVIATEN P1337430117097

PRODI DIII TEKNIK RADIODIAGNOSTOK DAN RADIOTERAPI


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2019
DUCTULOGRAFI

A. Tujuan Pemeriksaan

Tujuan pemeriksaan Ductulografi adalah untuk mengevaluasi lumen duktus laktiferus


dengan cara memasukkan kontras secara retrograde melalui kanula yang dipasang di papila
mammae.

B. Dasar Teori

1. Pengertian Dukculografi

Ductulography (juga disebut galactography atau ductogalactography) adalah jenis


pemeriksaan khusus dari kontras ditingkatkan mamografi yang digunakan untuk pencitraan
saluran payudara. Pemeriksaan dapat membantu dalam mendiagnosis penyebab keluarnya
puting yang abnormal dan bermanfaat dalam mendiagnosis papilloma intraductal dan
kondisi lainnya, dengan bantuan media kontras positif water soluble.

2. Anatomi Payudara

Payudara adalah suatu kelenjar yang terdiri atas jaringan lemak, kelenjar fibrosa, dan
jaringan ikat. Jaringan ikat memisahkan payudara dari otot–otot dinding dada, otot
pektoralis dan otot serratus anterior. Payudara terletak di fascia superficialis yang meliputi
dinding anterior dada dan meluas dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media,
dan pinggir lateral atas payudara meluas sampai sekitar pinggir bawah musculus pectoralis
major dan masuk ke axilla. Pada wanita dewasa muda payudara terletak di atas costa II–
IV (Snell, 2006). Secara umum payudara dibagi atas korpus, areola dan nipple.

Korpus adalah bagian melingkar yang mengalami pembesaran pada payudara atau
bisa disebut dengan badan payudara. Sebagian besar badan payudara terdiri dari kumpulan
jaringan lemak yang dilapisi oleh kulit. Di dalamnya terdapat alveolus (penghasil ASI),
lobulus, dan lobus.

Areola merupakan bagian hitam yang mengelilingi puting susu. Ada banyak kelenjar
sebasea, kelenjar keringat, dan kelenjar susu. Kelenjar sebasea berfungsi sebagai pelumas
pelindung bagi areola dan puting susu. Bagian areola inilah yang akan mengalami
pembesaran selama masa kehamilan dan menyusui. Di bagian dalam areola, terdapat
saluran-saluran melebar yang disebut sinus laktiferus. Sinus laktiferus ini yang bertugas
untuk menyimpan susu dalam payudara ibu selama masa menyusui sampai akhirnya
dikeluarkan untuk bayi. Sel yang berperan dalam pergerakan areola selama masa
menyusui disebut sel myoepithelial, gunanya untuk mendorong keluarnya air susu.

Nipple (papilla mammaria) merupakan bagian yang menonjol dan berpigmen di


puncak payudara dan tempat keluarnya ASI. nipple mempunyai perforasi pada ujungnya
dengan beberapa lubang kecil, yaitu apertura duktus laktiferosa (Price, 2012). Suplai arteri
ke payudara berasal dari arteri mammaria internal, yang merupakan cabang arteri
subklavia. Konstribusi tambahan berasal dari cabang arteri aksilari toraks. Darah dialirkan
dari payudara melalui vena dalam dan vena supervisial yang menuju vena kava superior
sedangkan aliran limfatik dari bagian sentral kelenjar mammae, kulit, nipple, dan aerola
adalah melalui sisi lateral menuju aksila. Dengan demikian, limfe dari payudara mengalir
melalui nodus limfe aksilar (Sloane, 2004).

Anatomi Payudara
Anatomi Payudara

3. Fisiologi Payudara

Kelenjar payudara mencapai potensi penuh pada perempuan saat menarke; pada bayi,
anak–anak, dan laki–laki, kelenjar ini hanya berbentuk rudimenter. Fungsi utama payudara
wanita adalah menyekresi susu untuk nutrisi bayi. Fungsi ini diperantarai oleh hormon
estrogen dan progesteron (Price, 2012).

Payudara wanita mengalami tiga tahap perubahan perkembangan yang dipengaruhi oleh
hormon. Perubahan pertama terjadi sejak masa pubertas, dimana estrogen dan progesteron
menyebabkan berkembangnya duktus dan timbulnya asinus. Selain itu yang menyebabkan
pembesaran payudara terutama karena bertambahnya jaringan kelenjar dan deposit lemak
(Price, 2012). Perubahan kedua sesuai dengan siklus menstruasi, yaitu selama menstruasi
terjadi pembesaran vaskular, dan pembesaran kelenjar sehingga menyebabkan payudara
mengalami pembesaran maksimal, tegang, dan nyeri saat menstruasi. Perubahan ketiga terjadi
pada masa hamil dan menyusui. Payudara akan membesar akibat proliferasi dari epitel duktus
lobul dan duktus alveolus, sehingga tumbuh duktus baru.

Selama kehamilan tua dan setelah melahirkan, payudara menyekresikan kolostrum karena
adanya sekresi hormon prolaktin dimana alveolus menghasilkan ASI, dan disalurkan ke sinus
kemudian melalui duktus ke puting susu (Sjamsuhidajat & de Jong, 2005). Setelah menyapih,
kelenjar lambat laun beregresi dengan hilangnya jaringan kelenjar. Pada saat menopause,
jaringan lemak beregresi lebih lambat bila dibandingkan dengan jaringan kelenjar, namun
akhirnya akan menghilang meninggalkan payudara yang kecil dan menggantung (Price,2012).

4. Indikasi dan Kontraindikasi Ductulografi

Pemeriksaan Ductulografi dilakukan oleh seorang wanita jika memiliki indikasi sebagai
berikut :

a. Keluarnya cairan berdarah atau cairan bening dari nipple.


b. Adanya benjolan pada payudara
c. Krista dan tumor
d. Pembesaran kelenjar
e. Memastikan lesi yang tidak terlihat pada pemeriksaan mammografi, usg payudara
dan mri payudara.

Pemeriksaan Duktulografi menjadi dilarang (tidak boleh dilakukan) jika terdapat


kontraindikasi sebagai berikut :

a. Wanita yang memiliki alergi parah terhadap media kontras yang digunakan selama
prosedur.
b. Wanita yang pernah menjalani operasi puting sebelumnya yang telah benar-benar
memutuskan pori-pori puting dari saluran yang mendasarinya.
c. Wanita dengan retraksi puting yang parah (berputar ke dalam) yang akan membuat
prosedur ini sulit dilakukan.
d. Wanita yang sedang menyusui.
e. Terdapat infeksi berat pada payudara.
f. Bilaterla.
g. Multiple duktus.
5. Manfaat dan Resiko Duktulografi

Manfaat dari pemeriksaan duktulografi adalah sebagai berikut :

a. Galaktografi dapat menemukan massa kanker dan non-kanker kecil yang tidak dapat
diidentifikasi dengan cara lain sehingga mereka dapat dihilangkan pada tahap awal.
b. Galaktogram mengidentifikasi lokasi tumor di payudara untuk ahli bedah.
c. Tidak ada radiasi yang tersisa di tubuh pasien setelah pemeriksaan x-ray.
d. Sinar-X biasanya tidak memiliki efek samping dalam kisaran diagnostik khas untuk
ujian ini.

Resiko dari pemeriksaan duktulografi adalah sebagai berikut :

a. Selalu ada sedikit peluang kanker dari paparan radiasi yang berlebihan. Namun,
manfaat dari diagnosis yang akurat jauh lebih besar daripada risikonya.

b. Dosis radiasi efektif untuk prosedur ini bervariasi.

c. Dimungkinkan untuk melukai saluran, baik selama proses penempatan kateter atau
saat menyuntikkan bahan kontras. Ini hampir selalu sembuh dengan sendirinya.

d. Dimungkinkan untuk melewatkan area yang menjadi perhatian, atau menempatkan


kateter ke saluran yang salah, yang berpotensi menunda diagnosis.

e. Selalu ada kemungkinan infeksi pada payudara, atau mastitis, tetapi ini jarang terjadi.

f. Wanita harus selalu memberi tahu dokter mereka atau ahli teknologi sinar-X jika ada
kemungkinan mereka hamil. Lihat halaman Keselamatan untuk informasi lebih lanjut
tentang kehamilan dan rontgen.
PELAKSANAAN PRAKTIK

A. Persiapan Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan dalam pemeriksaan ductulografi adalah sebagai berikut :

1. Unit pesawat mammografi


2. Dilator
3. Kateter kecil
4. Needle khusus ductulografi, yaitu ductugram canal
5. Kapas basah steril
6. Alkohol 70%
7. Spuit ukuran 5 cc dan 10 cc
8. Media kontras positif, water soluble

B. Prosedur Radiografi

1. Persiapan pasien

Persiapan pasien yang diperlukan untuk prosedur ini adalah sebagai berikut :

a. Nipple tidak diperas sebelum pemeriksaan, karena kadang-kadang hanya ada sedikit
cairan dan perlu untuk melihat sumber cairan untuk melakukan pemeriksaan.

b. Pasien harus memberi tahu tentang obat apa saja yang diminum dan jika ada alergi,
terutama terhadap bahan kontras beriodium.

c. Jangan memakai deodoran, bedak atau lotion di bawah lengan atau di payudara pada
saat pemeriksaan. Ini akan mengakibatkan munculnya bintik-bintik kalsium pada
gambaran.

d. Selain itu, sebelum pemeriksaan pasien akan diminta untuk melepas semua perhiasan
dan pakaian di atas pinggang dan memakai baju pasien.

e. Membuat foto pendahuluan (plain foto) pada mammae dengan menggunakan


proyeksi craniocaudal dan mediolateral.
2. Teknik Pemeriksaan

a. Mengamati daerah orificium dimana nipple discharge berasal.


b. Mammae diberi duk steril.
c. Sedikit discharge dikeluarkan sampai orificium duktus terlihat.
d. Mengisi spuit sebanyak 5cc media kontras water soluble .
e. Nipple dan areola dibersihkan dengan alkohol steril menggunakan kapas steril.
f. Usahakan mengeluarkan udara dari kateter.
g. Cannula dipasang dengan hati-hati agar tidak masuk ke dinding duktus laktiferus
dan menimbulkan ekstravasasi.
h. Kontras sebanyak 0,1-3 cc diinjeksikan kedalam ductugram canul, sampai
mengisi seluruhnya ke duktus laktiferus.
i. Setelah media kontras diinjeksikan, maka diambil foto dengan proyeksi
Craniocaudal dan mediolateral.

3. Proyeksi Pemeriksaan
a. Proyeksi Craniocaudal/Superoinferior
Untuk memperlihatkan struktur jaringan payudara dengan jelas dilihat dari
pandangan superior inferior.

1) Posisi Pasien : Duduk atau berdiri.


2) Posisi Objek :
Mammae diletakkan di atas kaset, film diatur horizontal, tangan sebelah
mammae yang difoto menekan kaset ke arah dalam (posterior), tangan lain di
belakang tubuh, melakukan sistem kompresi hanya sedikit agar media kontras
tidak keluar, kepala menoleh ke arah yang berlawanan.

3) Arah sumbu sinar (CR) : Vertikal tegak lurus film.


4) Titik bidik (CP): Pertengahan mammae.
5) FFD : 35-40 cm, sedekat mungkin dengan kaset.
6) Kriteria Gambar :
Tampak semua jaringan payudara termasuk pada bagian sentral, subareola,
dan bagian tengah dari payudara.
b. Proyeksi Mediolateral
Untuk memperlihatkan jaringan payudara terutama daerah lateral.
1) Posisi pasien : Tidur atau berdiri miring, sedikit obliq ke posterior. Bagian
mammae yang difoto terletak didekat kaset.
2) Posisi objek :
Mammae diletakkan di atas kaset dengan posisi horizontal, lengan posisi yang
difoto diletakkan di atas sebagai ganjal kepala, lengan lain menarik mammae
yang tidak difoto ke arah medio lateral agar tidak superposisi dengan lobus
lain.
3) Arah sumbu sinar (CR) : Tegak lurus film.
4) Titik bidik (CP): pertengahan mammae.
5) FFD : 35-40 cm, sedekat mungkin dengan kaset.
6) Kriteria gambar : Tampak jaringan payudara dari arah lateral masuk daerah
axilla dan otot-otot dada.
c. Proyeksi Axial
Bertujuan untuk melihat penyebaran tumor di bagian kelenjar axial.

1) Posisi pasien : Berdiri dari posisi AP tubuh yang tidak difoto dirotasikan
anterior 15-30 derajat sehingga sedikit oblik.
2) Posisi obyek :
Obyek diatur di tengah film, Film vertical pada tepi posterior, Batas atas film
yaitu iga 11-12, Lengan sisi yang difoto diangkat ke atas dan fleksi denagn
tangan di belakang kepala, lengan yang tidak difoto diletakkan di samping
tubuh.
3) Arah sumbu sinar (CR): Horizontal tegak lurus film.
4) Titik bidik (CP) : 5 cm di bawah axila
5) FFD : 35 – 50 cm

d. Proyeksi Oblique
Memperlihatkan struktrur payudara dari pandangan medio lateral.

1) Posisi pasien : Duduk atau berdiri menghadap pesawat.


2) Posisi obyek :
Payudara yang diperiksa ditarik ke depan dan diletakkan di atas kaset, kaset
membentuk sudut 450 dari horizontal, terletak pada tepi lateral bawah dari
payudara yang diperiksa, Dilakukan kompresi. Bidang tranversal payudara
sejajar dengan Proyeksi Axila kaset.
3) Arah sumbu sinar (CR): 450medio lateral tegak lurus kaset.
4) Titik bidik (CP) : Menembus axis payudara yang berbatasan dengan dinding
dada.
5) FFD : 35 – 50 cm

2. Komplikasi yang dapat terjadi pada saat pemeriksaan :

a. Rasa sakit atau sensasi terbakar.


b. Infeksi: galaktografi tidak boleh dilakukan ketika ada pengeluaran ASI purulent.
c. Perforasi saluran: dapat menyebabkan ekstravasasi kontras ke dalam parenkim
payudara.
C. Hasil Radiograf

1. Proyeksi Cranio Caudal

2. Proyeksi Mediolateral

3. Kesalahan yang dapat terjadi

a. Refluks : pada saat memasukkan kontras, kontras kembali keluar.


b. Ekstravasasi : bocornya cairan kontras ke dalam jaringan yang menyebabkan
kerusakan jaringan.

c. Air bubble : adanya udara pada saat penyutikan kontras yang mengganggu.
PEMBAHASAN

A. Analisa Pelaksanaan Praktik

Pada pemeriksaan Ductulografi memiliki beberapa proyeksi yang digunakan (sama seperti
pemeriksaan mammografi) namun yang sering digunakan adalah proyeksi Craniocaudal dan
mediolateral dengan low kV teknik karena untuk melihat soft tissue yang ada sehingga pemakaian
kV yang rendah dan mA yang tinggi, dan pada pemeriksaan ini menggunakan media kontras positif
water soluble agar dapat melihat duktus laktiferus sehingga dapat menegakkan diagnosa.
Kesalahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan ini adalah ekstravasasi, air buble, dan refluks.

B. Kesimpulan

1. Tujuan pemeriksaan Ductulografi adalah untuk mengevaluasi lumen duktus laktiferus


dengan cara memasukkan kontras secara retrograde melalui kanula yang dipasang di papila
mammae.
2. Proyeksi yang digunakan pada pemeriksaan ductulografi adalah sama dengan pemeriksaan
mammografi yaitu Craniocaudal dan Mediolateral (secara umum) proyeksi lain ada proyeksi
axilla dan oblique. Namun yang membedakan adalah menggunakan media kontras positif
water soluble.
3. Pemeriksaan ini menggunakan low kV teknik.

Anda mungkin juga menyukai