Anda di halaman 1dari 6

ETIKA DAN PROFESI TI

(PELANGGARAN HAK CIPTA DAN UU ITE)

Oleh :
Ni Kade Mega Handayani 1605551030
KELAS REGULER D

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
PEMBAHASAN

1. Pelanggaran Hak Cipta


a. Pembelian Perangkat Lunak Bajakan
Penggunaan Sofware Berbayar secara illegal misalnya untuk sistem operasi
dimana untuk menggunakan sistem operasi ini seharusnya membeli lisensi untuk
aktivasi terlebih dahulu. Pelanggaran hak cipta untuk produk berlisensi ini sangat
banyak ditemukan karena mayoritas pengguna sistem operasi windows menggunakan
sistem operasi Windows bajakan dengan lisensi yang sudah di crack sebelumnnya.
Bukan hanya dari kalangan pengguna user biasa tapi dari kalangan penyedia perangkat
keras komputer biasanya juga memasangkan sistem operasi Windows bajakan
sehingga harga dari hardware yang sudah termasuk softwarenya sendiri jauh lebih
murah. Sofware Windows dengan lisensi yang dibajak ini digunakan hampir disemua
kalanagan mahasiswa, penjual produk, layanan service dan sebagainya sampai pada
perusahaan.
Undang- undang mengatur mengenai pelanggaran atas hak cipta. Di dalam
UU No. 19 Tahun 2002 ditegaskan bahwa suatu perbuatan dianggap pelanggaran hak
cipta jika melakukan pelanggaran terhadap hak eksklusif yang merupakan hak Pencipta
atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak dan untuk
memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat,
memperbanyak, atau menyiarkan karya ciptanya. Pelanggaran Hak Cipta software
tercantum dalam UU No.19/ 2002 tentang hak cipta terutama pasal 72 ayat 2 tentang
peredaran software ilegal dan pasal 71 ayat 3 tentang memperbanyak untuk
kepentingan komersial. Pelanggaran tersebut diatas dapat diancam hukuman kurungan
maksimal lima tahun atau denda Rp500 juta berdasarkan dalam UU.
Solusi yang dapat dianjurkan untuk pelanggaran hak cipta perangkat lunak ini
dengan memperkuat keamanan lisensi, sehingga tidak dapat di crack oleh pada
pembajak. Selain itu sosialisasi terkait penggunaan perangkat lunak bajakan baik
kepada pengguna biasa ataupun untuk kepentingan komersial untuk terbiasa
menggunakan produk orisinal. Solusi lain untuk pemerintah mengadakan semacam
rasia untuk mengurangi penyebaran perangkat lunak bajakan secara luas. Solusi yang
ditawarkan ini akn sangat merugikan bagi pengguna seperti kalangan mahasiswa.

b. Penyebaran Satu Lisensi Software Untuk Banyak Komputer


Penggunaan satu lisensi perangkat lunak dibanyak komputer merupakan kasus
pelanggaran hak cipta yang termasuk melanggar dalam ketentuan UU. Pelanggaran ini
sangat terkait hubungannya dengan kasus diatas. Kasus ini banyak terjadi pada
perusahaan dimana untuk menguragi biaya pengeluaran untuk perangkat lunak, jadi
strategi yang diterapkan membeli satu lisensi untuk dibagikan kepada semua komputer
karyawan.
Ketentuan Undang-Undang yang dikaitkan dengan kasus ini, maka pihak yang
melanggar dapat digugat secara keperdataan ke pengadilan niaga. Hal ini sebagaimana
dibunyikan pada ketentuan Pasal 56 ayat (1), (2), dan (3) sebagai berikut:
1) Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada
Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Ciptaannya dan meminta penyitaan
terhadap benda yang diumumkan atau hasil Perbanyakan Ciptaan itu.
2) Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar
memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang
diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, pertemuan ilmiah, pertunjukan
atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta.
3) Sebelum menjatuhkan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yang lebih
besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan
pelanggar untuk menghentikan kegiatan Pengumuman dan/atau Perbanyakan
Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta.

Sementara itu dari sisi pidana pihak yang melakukan pelanggaran hak cipta
dapat dikenai sanksi pidana berupa pidana penjara dan/atau pidana denda. Maksimal
pidana penjara selama 7 tahun dan minimal 2 tahun, sedangkan pidana dendanya
maksimal Rp. 5 miliar rupiah dan minimal Rp. 150 juta rupiah.
Solusi yang dapat diajukan untuk pihak yang menyebarkan lisensi ke banyak
orang. Setiap pembelian lisensi akan disurvei kepentingan penggunaannya, jika untuk
kepentingan bisnis wajib mandatangani surat pertanyaan tidak akan meyebarkan lisensi
dari perangkat lunak ke banyak orang.

2. Pelanggaran Hukum ITE


a. Defamasi Melalui Media Elektronik
Defamasi adalah pelanggaran pidana pencemaran nama (defamation), yang
dilakukan secara lisan maupun tulisan. Dalam dunia pers, defamasi umumnya terkait
tulisan atau berita pers yang terpublikasi oleh organisasi perusahaan media. Beberapa
tahun terakhir, komunitas pers khususnya kaum pencari berita dan masyarakat kerap
menghadapi ancaman gugatan hukum secara pidana maupun perdata dengan
menggunakan defamasi. Defarmasi merupakan salah satu kasus pelanggaran UU ITE
karena media yang digunakan dalam prosesnya menggunakan media elektronik
misalnya Blog (termasuk micro-site Tumblr, Blogspot, Wordpress, dll.), yang dilihat
oleh banyak pengguna internet lain akan menimbulkan konflik berujung kejahatan
nyata.
Pengaturan mengenai pencemaran nama baik dalam UU ITE termuat dalam
Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi:
“Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi dan /atau dokumen
elektronik yang dimiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”
Solusi yang dapat dianjurkan menanamkan etika sejak dini terkait prilaku di
dunia internet. Solusi lain meningkatkan pengawasan internet oleh pemerintah, selain
itu meningkatkan kesadaran diri untuk berprilaku positif dnegan mengamalkan etika
baik di internet.

b. Penipuan Jual Beli Online


Penipuan yang dilakukan dalam dunia internet saat ini juga semaki marak
terjadi. Penipuan yang terjadi dengan kedok penjualan produk yang dapat dibeli secara
online melalui media online atau website dan media elekronik lainnya. Penipuan terjadi
saat pembeli yang membeli barang namun tidak menerima barang atau tidak ada kabar.
Penipuan jual beli online ini sangat cepat disadari karena konsumen merasa dirugikan
setelah membayar namun barang tidak sampai dengan berbagai alasan. Penipuan jual
beli online ini juga sangat cerdik diakali kadang media sosial atau website yang
digunakn sudah tidak ada dan akun tidak dapat ditemukan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”) tidak secara khusus mengatur
mengenai tindak pidana penipuan. UU ITE terkait dengan timbulnya kerugian
konsumen dalam transaksi elektronik terdapat ketentuan Pasal 28 ayat (1) UU ITE yang
menyatakan:

“Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong
dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi
Elektronik”

Terhadap pelanggaran Pasal 28 ayat (1) UU ITE ini diancam pidana


sebagaimana diatur dalam Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016, yakni:
“Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita
bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi
Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”
Solusi yang dapat diuraikan dari kasus serupa diantaranya menetapkan
peraturan untuk semua media eletronik yang digunakn untuk proses jual beli dengan
sertifikasi oleh pemerintah secara langsung. Media yang tanpa sertifikasi dianggap
tidak sah dan akan diblokir secara otomatis.
DAFTAR PUSTAKA

R. Soesilo. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-


Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor, 1991
UU No. 19 Tahun 2002. Diakses
http://www.wipo.int/wipolex/en/text.jsp?file_id=226829 , pada 9 November
2018
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008. Diakses
https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/users/4761/UU%2019%20Tahu
n%202016.pdf, pada 9 November 2018