Anda di halaman 1dari 3

HIV/AIDS hingga saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan.

Obat penawar untuk menyembuhkan penderitanya pun masih belum ditemukan.


Untuk itu dibutuhkan suatu penemuan baru yang bisa bermanfaat bagi penderita
HIV/AIDS, agar mereka bisa sembuh.

Kondisi itu mendorong Annisa Fitriani, Yunita Dwi Setyawati, dan Intan Hanifah
M untuk melakukan penelitian terkait dengan HIV Aids. Penelitian yang
dilakukan oleh ketiga Mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta (UMY) ini adalah dengan mengumpulkan dan mengkaji jurnal-jurnal
yang terkait dengan HIV AIDS.

“Akhirnya dari pengumpulan dan mengkaji jurnal tersebut kami sepakat untuk
memanfaatkan kulit buah naga merah untuk dijadikan obat terapi herbal bagi
pasien yang terkena HIV AIDS," jelas Annisa Fitriani, Rabu 14 Januari 2015.

Menurutnya kulit buah naga merah ini jauh lebih bermanfaat dari pada daging itu
sendiri. Menurutnya kandungan positif yang ada pada kulit buah naga merah
lebih banyak dibandingkan daging buahnya.

"Menurut penelitian yang pernah dilakukan, bahwa kulit buah naga merah ini
mengandung efek anti oksidan, anti bakteri, anti virus, dan anti mikroba. Karena
seperti yang kita tahu, jika orang yang menderita penyakit HIV AIDS ini lama
kelamaan sistem imun tubuhnya akan cepat turun. Jadi dibutuhkan obat atau
vitamin yang juga bisa meningkatkan lagi sistem imun tubuhnya. Salah satu
caranya ialah memanfaatkan kulit buah naga merah tersebut," paparnya.

Untuk pengolahan kulit buah naga tersebut, Annisa dan kawan-kawannya memilih
untuk menjadikannya sebagai teh. Alasannya, bahwa penduduk di Indonesia ini
banyak yang mengkonsumsi teh, bahkan konsumsi teh ini sudah banyak dilakukan
di Negara Asia dan Timur Tengah. Karena menurut penelitian, negara-negara
tersebut paling tinggi dalam mengkonsumsi teh.

"Ini yang akhirnya menjadi fokus kami untuk melakukan terapi herbal bagi
penderita HIV AIDS dengan mengkonsumsi kulit buah naga merah dengan diolah
menjadi teh. Ternyata, dari pengolahan tersebut sudah ada yang meneliti terkait
dengan manfaat atau kandungan yang ada pada kulit buah naga merah yang
dijadikan teh.

Namun, dari penelitian tersebut hanya menjelaskan tentang manfaat dan


kandungan dari teh kulit buah naga merah itu sendiri belum kepada suatu titik
atau fokus tertentu, misalnya untuk melakukan terapi pada suatu penyakit,"
paparnya.

Akhirnya, Annisa dan kawan-kawannya memutuskan untuk menggunakan konsep


sebagai terapi herbal kepada penderita HIV AIDS. Dengan dijadikannya kulit
buah naga merah tersebut sebagai teh, tentunya memudahkan untuk dikonsumsi
oleh setiap orang.
"Ketika kita memberikan terapi ini kepada pasien penderita HIV AIDS, mereka
akan merasa nyaman. Karena mereka akan menganggap sedang tidak
mengkonsumsi obat," ujarnya lagi.

Ada banyak keuntungan dari sistem terapi herbal ini, karena dalam
mengkonsumsi teh ini tidak ada batas maksimal atau minimal. Sebab manfaatnya
cenderung lebih umum tapi bisa dimanfaatkan untuk pasien penderita HIV AIDS.

Selain itu, terapi menggunakan teh kulit buah naga ini juga tidak mengandung
kadar kafein. “Tidak ada batas maksimal atau minimal, jadi kami pun tidak
menyalahkan jika orang sehat mengkonsumsi ini. Intinya, teh ini bisa dikonsumsi
untuk di segala jenjang. Jika untuk dikonsumsi bagi penderita HIV AIDS,
sebaiknya dikonsumsi setelah mengetahui kalau dirinya sudah positif terkena HIV
Aids. Sehingga penggunaan terapi ini harus sebaik mungkin dan semaksimal
mungkin, sebab terapi herbal ini hanya sebatas terapi komplementer," tuturnya.

Terapi komplementer ini, lanjut Annisa, adalah terapi pendamping, artinya pasien
HIV AIDS tetap harus mengkonsumsi obat yang sudah ditetapkan oleh
pemerintah yaitu obat Anti Retro Viral (ARV).

"Untuk proses pemakaiannya sendiri rencanya kita akan melakukan penyeimbang


dosis, misalnya dosis ARV yang diberikan ke pasien akan dikurangi dosisnya
kemudian teh herbal tersebut dinaikkan dosisnya, begitu pula sebaliknya. Dari situ
kita dapat melihat terapi mana yang menimbulkan efek paling baik untuk pasien.

Selain itu, terapi teh herbal ini, kemungkinan bisa meminimalisir efek dari obat
ARV tersebut yang menimbulkan mual muntah dan rambut rontok. Namun,
sampai ke tahap tersebut masih harus ada penelitian lanjutan karena, kami hanya
pada tahap kajian pustaka saja," jelasnya.

Annisa pun mengakui, bahwa dalam melakukan penelitian ini, sebenarnya bukan
untuk menghilangkan penyakit HIV AIDS itu sendiri. Karena mereka tahu bahwa
sampai saat ini belum ada obat penawarnya. Tapi, mereka berpikir, ketika
seseorang menderita HIV AIDS maka, secara tidak langsung pasien tersebut akan
berproknosis jelek karena imunnya akan terus menerus menurun, dan untuk
mencegahnya adalah dengan melakukan terapi teh ini.

Karena, dengan mengonsumsi teh ini nantinya dapat mencegah infeksi


oportunistik. Jadi dengan mengonsumsi teh kulit buah naga merah tersebut
setidaknya dapat mereduksi infeksi oportunistik dan dapat meningkatkan kualitas
hidup pasien.

“Jadi dari penelitian ini kami menarik kesimpulan bahwa kulit buah naga merah
ini dapat menghambat aktivitas bakteri, virus, dan kuman yang ada dalam tubuh
pasien yang suatu waktu akan menurunkan sistem imunnya.

Meskipun belum pernah kami produksi atau kami buat, tapi kami menyimpulkan
ini sesuai dengan manfaat dari kulit buah naga tersebut, yang dapat
menghilangkan infeksi-infeksi yang ditimbulkan pada penyakit HIV AIDS, “
tegasnya.

Annisa beserta kedua temannya pun berharap masih akan ada penelitian lebih
lanjut dan rinci mengenai teh herbal tersebut untuk dikonsumsi pasien HIV AIDS.
Apakah dengan memperbanyak mengkonsumsi teh herbal ini dapat mengurangi
efek samping dari ARV atau tidak.

"Sebagai dokter, di sini kita membantu untuk bisa meningkatkan kualitas


hidupnya dengan cara meningkatkan imunnya. Jika kualitas dan harapan hidupnya
meningkat, mereka tentunya bisa lebih percaya diri dalam melakukan hal yang
bermanfaat, tidak mengurung diri, bisa bersosialisasi, dan yang lebih penting
mereka tidak akan jijik dengan dirinya sendiri,“ kata Annisa. (ren)

Sumber: http://life.viva.co.id/news/read/578003-kulit-buah-naga-merah-bantu-
perbaiki-imunitas-penderita-hiv