Anda di halaman 1dari 1

Sumber masalah

Di situlah letak persoalannya. Pemilu dan pilkada tidak menyediakan mekanisme yang adil untuk
menilai dan memilih calon-calon terbaik. Sebagian besar yang datang ke bilik suara adalah
orang-orang yang secara pengetahuan politik tidak layak. Merekalah yang akan menentukan
nasib suatu bangsa atau pemerintahan di daerah. Jika kualitas pemilihnya buruk, bersiaplah
mendapatkan hasil pemimpin buruk.

Selama ini, satu-satunya cara untuk menangani cacat bawaan demokrasi itu dengan membuat
program-program yang biasa dikenal dengan ‘pendidikan pemilih’. Pemerintah dan NGO
berlomba-lomba menciptakan berbagai program agar pemilih menjadi cerdas dan melek politik.

Namun, Ilya Somin, Guru Besar di George Mason University, meragukan efektivitas program-
program semacam itu. Terlalu besar jumlah kaum ignorant dalam demokrasi. Pemerintah tak
akan mampu memberdayakan jumlah masyarakat yang sangat besar. Dalam bukunya,
Democracy and Political Ignorance, Somin menjelaskan salah satu pangkal masalah mengapa
masyarakat menjadi ‘bodoh’ dalam politik karena terlalu banyak yang mereka pikirkan.

Demokrasi menjadi tidak efektif karena masyarakat menghadapi begitu banyak pilihan. Seperti
orang yang bingung berbelanja di supermarket, perlu waktu berpikir dan merenung barang mana
yang terbaik yang harus diprioritaskan. Jika tidak berpikir, seseorang akan salah mengambil
barang atau akan mengambil barang dengan kualitas yang buruk.

Menurut Somin, demokrasi yang kita miliki seperti sebuah supermarket yang menyediakan
begitu banyak item. Kita tidak punya cukup waktu untuk menyeleksi mana calon yang bagus dan
mana calon yang buruk. Dengan segala keterbatasan itu, kita dipaksa untuk menentukan pilihan.
Jangan heran kalau kita mendapatkan hasil yang jelek.

Sumber masalah dari banyaknya pilihan itu ialah pemerintahan yang gemuk. Terlalu banyak
posisi publik yang diperebutkan, belum lagi jumlah wakil rakyat. Semakin gemuk sebuah
pemerintahan, semakin besar masyarakat menjadi ignorant dalam demokrasi. Solusinya, menurut
Somin, ialah merampingkan pemerintahan.

Usulan Somin sangat masuk akal, tapi mungkin akan sulit dilaksanakan, terutama di RI.
Pemerintahan yang gemuk bukan (hanya) terkait banyaknya persoalan yang mesti diurus, tapi
terkait bagi-bagi jabatan dan posisi. Banyaknya partai yang ikut bergabung dalam pemerintahan
(baik di pusat dan di daerah) menuntut jumlah posisi dan jabatan publik yang harus diisi. Setiap
orang harus memiliki bagian.

Jangan-jangan persoalan korupsi di Indonesia berpangkal pada gemuknya pemerintahan


ditambah political ignorance para pemilih. Setiap kepala daerah yang terpilih merasa berhutang
pada partai yang mendukungnya. Ketika berkuasa, dia sekuat tenaga akan ‘membayar
utang’kepada para pendukungnya, dengan memberi jabatan atau memberi insentif lain, yang
berpotensi mengandung korupsi.