Anda di halaman 1dari 51

Iswandi Erwin

RS Pusat Otak Nasional


Cawang-Jakarta Timur
 SD-St. Maria-Pekanbaru
 SLTP 85-Pd Labu-Jakarta
 SMUN 34-Pd Labu-Jakarta
 S1-S.ked,dr-FK Universitas Trisakti-Jakarta
 S2-M.Ked(Neu)-FK USU-Medan
 Sp1-FK USU-Medan

Workshop and Courses


-ATLS-ACLS-ANLS-Hiperkes 2010
-Vertigo and Headache WS2011-Neurology Dept RSCM
-Neuroinfection- HIV/AIDS Special Study Group RSCM
-ASNA 2011 -Denpasar
-Gene Modulation & Stem Cell 2011-Jakarta
-Dementia 2012- Jogjakarta Email:
-Neurosonology 2011-Medan wandierwin@yahoo.com
-Epilepsy and EEG-2013-Medan
-National Conggress INA-2015-Makassar
- Vascular-Cognitive 2015-Tokyo
- Pain Intervention, Jakarta, Malang 2018

Field of Interest: Pain and Neurovascular


Mengetahui dan memahami infeksi SSP secara
umum

Mengetahui dan memahami komplikasi infeksi


SSP yang menyebabkan kematian

Mengetahui dan memahami teknis manajemen


dengan komplikasi infeksi SSP
 Angka kematian meningitis belum menurun
walaupun terjadi penurunan jumlah
penderita meningitis karena penemuan
antibiotik baru
 Angka mortalitas masih tinggi (41.8%) karena
beberapa faktor yang mempengaruhi
prognosis seperti awitan serangan, tingkat
kesadaran, kelemahan motorik yang menjadi
prediktor kematian meningitis.

Jannis J, Hendrik F. Med J Indonesia


2006;15:236-41
 Meningkatnya oportunistik infeksi HIV/AIDS
menjadi penyokong tingginya angka kematian
pada penelitian ini.
 Kasus HIV complication CNS meningkat sejak
2003 di RSCM dan meningkatkan angka
mortalitas.

Jannis J, Hendrik F. Med J Indonesia.


2006;15:236-41
 Pasiendengan Infeksi SSP hampir selalu
dicurigai komplikasi HIV-CNS karena
meningkatnya jumlah kasus (RSCM)

 Terapiempirik di indikasikan pada seluruh


pasien dengan meningitis

 Komplikasi
infeksi SSP secara umum
merupakan emergensi sehingga harus segera
diatasi
 Radang Selaput Otak
 Meningitis bakterial (purulen) dan meningitis
TB (serosa)
 Umumnya disebabkan oleh bakteri dan TB
 Dapat oleh jamur (umumnya jamur
kriptokokus) pada individu dengan gangguan
imunitas daya tahan tubuh
 Perjalanan penyakit sub akut  kronis
(minggu hingga bulan)
Afrika : 20.000
Amerika : 18.000
Asia Tenggara : 73.000
Eropa : 15.000
Mediterania Timur : 25.000
Pasifik Barat : 20.000
Angka Kematian
Negara Populasi / m2
Ekstrapolasi
Timor Timur 93 1.019.252

Indonesia 21.916 238.452.952

Laos 557 6.068.117

Malaysia 2.161 23.522.482

Filipina 7.926 86.241.697

Singapura 400 4.353.893

Thailand 5.961 64.865.523

Vietnam 7.597 82.662.800


 Menurut British Medical Research Council, terdiri
dari 3 stadium, yaitu :

Stadium I (awal / prodromal) :


- 1- 3 minggu.
- Kesadaran baik, defisit neurologis (-), demam (-)
atau sedikit meninggi, bisa ada tanda iritasi
meningeal, nyeri kepala, irritable, anoreksia.
Stadium II (transisi / intermediate) :
- Perangsangan meningeal (+), defisit
neurologis (+), gerakan atetoid, tremor,
refleks tendon meningkat.

Stadium III ( terminal / advance) :


- kesadaran menurun : stupor, delirium, koma.
- defisit neurologis (+).
- denyut nadi dan pernafasan tidak teratur.
- hiperpireksia.
 Peradangan pada parenkim otak
 Umumnya disebabkan oleh virus (Herpes
virus, Japanese B virus)
 Dapat berkembang menjadi abses otak 
tahap serebritis lanjut
Trias Meningitis:
 Demam
 Nyeri Kepala
 Kaku Kuduk

Trias Ensefalitis:
 Demam
 Kejang
 Penurunan Kesadaran
 Tanda infeksi (demam, menggigil)
 Kaku kuduk pada meningitis dan ME
 Letargi (lemas, letih, lesu)
 Gangguan kesadaran (mengantuk, sulit
berkomunikasi, tidak sadar penuh)
 Defisit neurologis fokal dan difus
 Merupakan prosedur diagnostik untuk
menentukan jenis infeksi pada susunan saraf
dan selaput otak

 Prosedur rutin setiap infeksi SSP yang ter-


indikasi.

 Indikasi:
dilakukan jika tidak didapatkan
tanda lesi fokal otak
 Suportif
 Atasigejala (demam, nyeri kepala)
 Antibiotik dosis tinggi
 Empiris (3-5 hari)
 Kausal (jika telah didapatkan mikroorg
penyebab)
 Disesuaikan dengan pola kuman setempat
 Dapatterjadi infeksi SSP dengan spektrum
mikrobiologi yang lebih luas

 InfeksiToksoplasma dan kriptokokkus pada


org normal tidak menimbulkan manifestasi
klinis  dapat muncul pada pasien dgn daya
tahan tubuh menurun (misal: HIV/AIDS,
keganasan)
 Neurosistiserkosis
North Sumatra West North
Kalimantan Sulawesi

Irian
Jaya

Lampung

Jakarta

Bali Flores

East
Timor

Fig. I. Geographic distribution of in Indonesia until 1995. Areas endemic with taeniasis are indicated
in colour.
( Modified from the unpublished report CDC & EH. Ministry of Health, Indonesia, 1983 – 1996 )
Algoritme
Demam
Meningeal sign Fokal neurologi
Sakit kepala
sign

Lesi fokal otak


meningitis ensefalitis

akut kronik virus bakteri

Meningitis Meningitis HSE Abses


bakterialis Tuberkulosis otak toksoplasma PCNSL
 Seizure
 TTIK
 Syok septik
 Penyebab seizure banyak,
 Terapi cepat.
 Diazepam 10 mg iv, O2 and menyiapkan
ambulatory breathing
 Lihat kemungkinan status konvulsivus.
 TTIKmenjadi penyebab pertama morbiditas
dan mortalitas untuk beberapa kelainan
neurologi

 Neurologicaldamage tidak hanya sebagai


akibat primer tapi dapat juga karena
pengaruh lain

 Modalitasterapi agresif dilakukan untuk


mencegah akibat sekunder seperti
hipertermi, hiperkarbia dan and hipertensi
intrakranial
 Kesadaran menurun progresif
 Nyeri kepala berat
 Muntah
 Hipertensi dengan atau tanpa bradikardi.
 Kelumpuhan n. abduscen .
 Edema papil (biasanya SOL)
 Risiko TTIK adalah sindrom herniasi dan
tanda kompresi batang otak.
 Reaksi pupil (-)
 Kegagalan pergerakan mata
 Problem pernafasan (hiperventilasi)
 Decortikasi dan deserebrasi
 Pupil miosis
 Posisikepala, slight head elevation 30’.
 Hiperventilasi (mempertahankan PCO2 arteri
antara 25-30.
 Zat hiperosmolar
 Membatasi air
 Ventricular shunting bila diperlukan.
 Sepsis  Keadaan klinis berkaitan dengan
infeksi dengan manifestasi SIRS Sepsis berat
 Sepsis Berat  Sepsis disertai dengan disfungsi
organ, hipoperfusi atau hipotensi termasuk
asidosis laktat, oliguria dan penurunan
kesadaran
 Sepsis dengan Hipotensi  Sepsis dengan
tekanan darah sistolik <90 mmHg atau
penurunan tekanan darah sistolik >40 mmHg
dan tidak ditemukan penyebab hipotensi lain.
 Syok Septik  Sepsis dengan hipotensi
meskipun telah diberikan resusitasi cairan
secara adekuat atau memerlukan vasopresor
untuk mempertahankan tekanan darah dan
perfusi organ
 Sepsis medical emegency such: stroke, polytrauma etc
 Sepsis Bundle Surviving Sepsis Campaign by Sepsis
Alliance
 Hour 1 Bundle  Previously 3-6 hrs Bundle
DISCLAIMER

This PP is compiled from Courtesy of my teachers-collegues:


-dr. Jofizal Jannis, Sp.S(K)
- Dr.dr. Kiking Ritarwan, Sp.S(K), MKT
-dr. Hendro Birowo , Sp.S

with some modifications on guidelines advances

“Yang kulakukan hanyalah merangkai karangan


bunga milik orang lain dan tak ada setangkai pun
bunga kumiliki, melainkan hanya seutas tali yang
mengikatnya,hanya itu saja milikku”
(Alm) Prof.DR.Dr. Priguna Sidharta, Sp.S(K)