Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mastitis adalah infeksi peeadangan pada mammae, terutama pada
primipara yang biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus. Infeksi ini
teradi melalui lika pada putting susu, tetapi mungkin juga melalui perdarahan
darah. Mastitis adalah peradangan payudara yang disertai atau tidak disertai
denga infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut
laktasi laktasional atau mastitis puerperalis. Kadang-kadang keadaan ini dapat
menjadi fatal apabila tidak diberi tindakan yang adekuat. Mastitis sering kali
disebut sebagai abses payudara, dimana teradi pengumpulan nanah lokal
didalam payudara. Keadaan ini menyebabkan beban penyakit yang berat dan
memerlukan biaya yang sangat besar untuk pegobatannya.
Pengeluaran ASI yang tidak efesien akibat teknik menyusui yang
kurang benar merupakan penyebab yang peting, tetapi pada keyataan saat ini
masih bayak petugas kesehatan yag menganggap bahwa mastitis masih sama
dengan infeksi payudara. Mereka sering tidak mampu membantu pasie
mastitis utuk terus menyusui, dan meraka bahkan mungkin menyerankan
pasien ersebut utuk berhenti menyusui, yang sebenarnya hal tersebut tidak
perlu. Survey pendahuluan yang dilakukan di RB Mulia Kasih Boyolali pada
bulan Januari-Desember 2011, Jumlah ibu nifas 250 orang dengan jumlah Ibu
nifas normal 180 orang (72%), ibu nifas dengan mastitis 40 orang (16%), dan
ibu nifas dengan bendungan ASI 30 orang (12%).
Mastitis merupakan masalah yang sering dijumpai pada ibu menyusui.
Dieperkirakan sekitar 3-20% ibu menyusui dapat mengalami mastitis.
Terdapat dua hal penting yang mendasari kita memperhatikan kasus ini.
Pertama, karena mastitis biasanya menurunkan produksi ASI yang menjadi
alas an ibu berhenti untuk menyusui. Kedua, karena mastitis berpotensi
meningkatkan transmisi vertical pada beberapa penyakit (terutama AIDS).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari penyakit mastitis?
2. Apa saja klasifikasi penyakit mastitis?
3. Apa saja etiologi yang menjadi penyebab penyakit mastitis?
4. Bagaimana patofisiologi dari penyakit mastitis?
5. Bagaimana manifestasi klinis penyakit mastitis?
6. Apa saja komplikasi dari penyakit mastitis?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari penyakit mastitis?
8. Bagaimana penatalaksanaan penyakit mastitis?
9. Bagaimana pengkajian penyakit mastitis?
10. Apa diagnosa keperawatan penyakit mastitis?
11. Apa intervensi keperawatan penyakit mastitis?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari penyakit mastitis
2. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi dari penyakit mastitis
3. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi yang menjadi penyebab penyakit
mastitis
4. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi dari penyakit mastitis
5. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis penyakit mastitis
6. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari penyakit mastitis
7. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit
mastitis
8. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan penyakit mastitis
9. Mahasiswa dapat mengetahui pengkajian penyakit mastitis
10. Mahasiswa dapat mengetahui diagnose keperawatan penyakit mastitis
11. Mahasiswa dapat mengetahui intervensi keperawatan penyakit mastitis

2
BAB II
KONSEP MEDIS

2.1 Definisi

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai atau


tidak dapat disertai infeksi. Biasanya terjadi karena adanya bakteri jenis
staphylococcus aureus. Bakteri biasanya masuk melalui putting susu yang
pecah-pecah atau terluka. Pada infeksi yang berat atau tidak diobat, dapat
terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara).
Mastitis adalah kondisi payudara yang menyakitkan yang
menjadimerah, panas dan sakit (meradang). Hal ini biasanya disebabkan oleh
pembentukan susu di dalam payudara (saluran atau pembekakkan yang
diblokir). Terkadang hal itu disebabkan oleh kuman (bakteri) yang masuk
kedalam saluran susu payudara.

2.2 Etiologi
Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI
biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan
infeksi.
1. Statis ASI
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari
payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah

3
melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak menghisap ASI, kenyutan bayi
yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan
frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang
sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua atau lebih.
2. Infeksi
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses
payudara adalah organism koagulase-positif Staphylococcus aureus dan
Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang
juga ditemukan.
Beberapa factor yang juga diduga dapat meningkatkan risiko
mastitis, yaitu:
a. Umur
Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis
daripada wanita di bawah umur 21 tahun ataun di atas 35 tahun.
b. Serangan Sebelumnya
Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan
akibat teknik menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki.
c. Melahirkan
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis,
walaupun penggunaan oksitosin tidak meningkatkan risiki.
d. Gizi
Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi factor
predisposisi terjadinya mastitis. Wanita yang mengalami anemia akan
beresiko mengalami mastitis karena kurangnya zat besi dalam tubuh,
sehingga hal itu akan memudahkan tubuh mengalami infeksi
(mastitis).
e. Factor kekebalan ASI
Factor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme
pertahanan dalam payudara.
f. Pekerjaan di luar rumah

4
Interval antara menyusui yang panjang dan kekurangan waktu
dalam pengeluaran ASI yang adekuat sehingga akan memicu
terjadinya statis ASI.
g. Trauma
Trauma kelenjar, saluran susu dan hal tersebut dapat menyebabkan
mastitis.
Trauma pada payudara disebaban oleh apapun dapat merusak jaringa

2.3 Klasifikasi
Pembagian mastitis menurut penyebab dan kondisinya dibagi pula menjadi 3,
yaitu :
1. Mastitis periductal
Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary duct ectasia, yang
berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di
payudara.
2. Mastitis puerperalis/lactational
Mastitis puerperalis banyak dialami oleh wanita hamil atau menyusui.
Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi
payudara ibu, yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung.
3. Mastitis supurativa
Mastitis supurativa paling banyak dijumpai. Penyebabnya bisa dari kuman
Staphylococcus, jamur, kuman TBC dan juga sifilis. Infeksi kuman TBC
memerlukan penanganan yang ekstra intensif. Bila penanganannya tidak
tuntas, bisa menyebabkan pengangkatan payudara/mastektomi.

2.4 Patofisiologi
Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang
menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui.
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus
(saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka

5
terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang
memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan
ikat meningkat. Beberapa komponen (terutama protein kekebalan tubuh dan
natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar
sel sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan
kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi.
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus
ke lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus
(periduktal) atau melalui penyebaran hematogen (pembuluh darah).
Organisme yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli
dan Streptococcus. Kadangkadang ditemukan pula mastitis tuberkulosis yang
menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil. Pada daerah endemis
tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%.

2.5 Manifestasi Klinis


1. Lemah, mialgia (nyeri otot), nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga
yang di sertai takikardia
2. Demam suhu > 38,5 derajat celcius
3. Ada luka pada puting payudara
4. Kulit payudara kemerahan atau mengkilat
5. Terasa keras dan tegang
6. Payudara membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan yang berbatas
tegas
7. Peningkatan kadar natrium sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI
yang terasa asin.
8. Adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut
9. Bercak kecil keras yang nyeri tekan

6
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang
diagnosis tidak selalu diperlukan. Word Health Organization (WHO)
menganjurkan pemeriksaan kultur (foto: USG/Mamografi) dan uji sensitifitas
pada beberapa keadaan yaitu bila :
1. Pengobatan dengan antibiotic tidak memperlihatkan respon yang baik
dalam dua hari
2. Terjadi mastitits berulang
3. Penderita alergi terhadap antibiotic atau pada kasus yang berat
Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan
yang langsung ditampung urin steril. Putting harus dibersihkan terlebih dahulu
dan bibir penampung diusahakan menyentuh putting untuk mengurangi
kontaminasi dari kuman yang terdapat dikulit yang dapat memberikan hasil
positif palsu dari kultur. Beberapa penelitian memperlihatkan beratnya gejala
yang muncul berhubungan berat dengan tingginya jumlah bakteri atau
patogenitas bakteri.
Pemeriksaan penunjang lain untuk mastitis adalah pemeriksaan
radiologi pada mastitmis dapat dilakukan mamografi atau USG payudara:
1. Mamografi
Pada mamografi, mastitis bakteri (puerperal atau non-puerperal) biasanya
menampilkandaerah yang tidak jelas dengan kepadatan meningkat dengan
penebalan kulit
2. Ultrasound payudara
Pada area ultrasound, daerah yang tidak jelas echotexture yang telah di
ubah dengan hiperogogenisitas yang mewakili lubulus lemak yang
disusukkan yang meradang, area hipoechoich pada parenkim glanduland,
dan penebalan kulit ringan yang terkait terlihat. Kelenjar getah bening
asepoter inflamasi juga dapat ditemukan. Sesekali pembentukan abses
mung terlihat.
2.7 Penatalaksanaan

7
Setelah diagnose mastitis dipastikan, hal yang harus segera dilakukan
adalah pemberian susu kepada bayi dari mamae yang tidak sakit dihentikan
dan diberi antibiotic. Dengan tindakan ini terjadi abses sering kali dapat
dicegah, karena biasanya infeksi disebabkan oleh stapilococcus aureus.
Penisilin dalam dosis cukup tinggi dapat diberikan sebagai terapi anti biotik.
Sebelum pemberian penisilin dapat diadakan pembiakan atau kultur air susu,
supaya penyebab mastitis benar-benar diketahui. Apabila ada abses maka
nanah dikeluarkan kemudian dipasang pipa ke atas abses agar nanah dapat
kelua terus. Untuk mencegah kerusakan pada duktur laktiferus, sayatan
dibuat dengan jalannya duktus-duktus tersebut.
a. Penatalaksanaan Medik
1. Pada kasus infeksi mastitis, penanganannya anatar lain :
a) Berikan antibiotik kloksasailin 500 mg per oral 4x shari setiap 6
jam selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3x sehari
selama 10 hari
b) Bantulah ibu agar tetap menyusui
c) Bebat atau sanggah payudara
d) Kompres hangat sebelum menyusui untuk mengurangi bengkak
dan nyeri yaitu dengan membeikan paracetamol 500 mg per oral
setiap 4 jam dan lakukan evalusia secara rutin
2. Terapi anti biotik
Terapi anti biotik di identifikasikan pada :
a) Hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta
menunjukan infeksi
b) Gejala berat sejak awal
c) Terlihat putting pecah-pecah
d) Gejala tidak membaik setelah 12-24 jam sampai pengeluaran ASI
diperbaiki maka laktamase harus ditambahkan agar efektif
terhadap stafilococcus aureus untuk organism gram negative,
safaleksim/ amoksilin, amoksisilin mungkin paling tepat. Jika

8
mungkin, ASI dari payudara yang sakit sebaiknya di kultur dan
sensitifitas bakteri anti biotik dibutuhkan
Anti biotik Dosis
Eritromisin 200-500 mg setiap 6 jam
Flukloksasilin 250 mg setiap jam
Dikloksasilin 125-250 mg setaip 6 jam per oral
Amoksasilin (sic) 250-500 mg setiap 8 jam
Safaleksi 250-500 mg setiap 6 jam
Table 1. Dosis anti biotik
3. Terapi simtomatik
a) Mastitis (payudara tegang/ indurasi dan kemerahan)
- Berikan klosasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari. Bila
dberikan sebelum abses biasanya keluhan akan berkurang.
- Sanggah payudara
- Kompers dingin
- Bila diperlukan berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4
jam
- Ibu harus didorog walaupun ada pus
- Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan
b) Abses payudara ( terdapat masapadat, mengeras dibawah kulit
yang kemerahan)
- Diperlukan anastesi umum
- Insisi radial daritengah dekat pinggir aerola, kepinggir supaya
mendorong saluran ASI
- Pecahkan kantong pus dengan klem jaringan (pean) ataujari
tangan
- Pasang tampon dan drain, diangkat setelah 24 jam
- Berikan klokasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari
- Kompres dingin
- Lakukan follow up setelah pemberian pengobatan selama 3 hari
b. Penatalaksanaan Non Medik

9
1. Konseling suportif
Mastitis merupakan pengalaman yang palig banyak wanita erasa
sakit dan membuat frutasi. Selain dalam penanganan yang efektif dan
pengendalian nyeri, wanita membutuhkan dukungan emosional. Ibu
harus diyakini kembali tentang nilai menyusui, yang aman untuk
diteruskan, bahwa ASI payudara yang tidak terkena tidak akan
membahayakan bayinya dan bahwa payudara akan pulih, baik bentuk
maupun fungsinya.
2. Pengeluaran ASI dengan efektif
Hal ini merupakan bagian terapi terpenting, antara lain :
a) Bantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada payudaranya
b) Dorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi
menghendaki, tanpa pembatasan
c) Bila perlu peras ASI dengan tangan/ pompa/ botol panas, sampai
menyusui dapat dimulai lagi

2.8 Komplikasi
1. Abses payudara
Abses payudara merupakan komplikasi mastitis yang biasanya
terjadi karena pengobatan terlamba atau tidak adekuat. Bila
terdapatdaerah payudara teraba keras, merah dan tegang walau ibu telah
diterapi, maka kita harus memirkan kemungkinan terjadinya abses.
Pemeriksaan USG payudara diperlukan untuk untuk mengidentifikasi
adanya cairan yang terkumpul. Cairan ini dapat dikeluarkan dengan
aspirasi jarum halus yang berfungsi sebagai diasnogtik sekaligus terapi,
bahkan mungkin diperlukan aspirasi jarum secara berlanjut. Pada abseb
yang sangat besar terkadang diperlukan tidakan bedah. Selama tindakan
ini diperlukan, ibu harus mendapatkan terapi medikasi antibiotic. ASI dari

10
sekitar abses juga perlu dikuntur agar antibiotic yang diberikan sesuai
dengan jenis kumannya.
2. Mastitis berulang/kronik
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan terlambat
atau tidak adekuat . ibu harus benar-benar harus beristirahat, banyak
minum, mengonsumsi makanan dengan gizi berimbang serta mengatasi
sters. Biasanya diberikan antibotik rendah (eritromisin 500 mg sekali
sehari) selama masa menyusui.
3. Infeksi jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh
jamur seperti candida albicans. Keadaan ini sering ditemukan setlah ibu
mendapat terapi antibiotic. Infeksi jamur biasa di diagnos berdasarkan
nyeri berupa rasa terbakar yang menjalar di sepanjang saluran ASI.
Diantra waktu menyusui perumukaan payudara merasa gatal. Putting
mungkin tidak Nampak kelainan. Pada kasus ini, ibu dan bayi perlu
mendapatkan pengobatan. Berupa mengoles nistatin cream yang jga
mengandung kortison keputing dan aerola setiap selesai bayi menyusu dan
bayi juga harus diberi nistatin oral pada saat yang sama.

11
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas pasien dan keluarga
a. Nama Pasien (initial), umur, jenis kelamin,agama, suku bangsa dan
alamat
b. Nama Ayah (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan
bangsa
b. Nama Ibu (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan
bangsa.
2. Pengkajian Fisik
a. Keadaan Umum:
1) Keadaan umum pada ibu pada mastitis keadaan umumnya baik
2) Derajat kesadaran: pada ibu dengan mastitis derajat ksadarannya
komposmentis
b. Pemeriksaan Fisik Head To Toe
1) Tanda-tanda vital
- Tekanan darah: pada ibu dengan mastitis tekanan darah dalam
keadaan normal 120/80 mmHg
- Nadi : pada ibu dengan mastitis nadi mengalami penaikan 90
sampai 110/menit
- Frekuensi pernafasan : pada ibu dengan mastitis frekuensi
pernapaan mengalami peningkatan 30x/menit. Normalnya 16-
24x/menit
- Suhu: suhu tubuh wanita setelah partus dapat terjadi
peningkatan suhu badan yaitu tidak lebih dari 37,2oC dan pada
ibu dengan mastitissuhu mengalami peningkatan sampai 39,5o
C.

12
2) Kulit
Tidak ada gangguan, kecuali pada daerah payudara
sehingga perlu pemeriksaan fsik yang berfokus pada payudara.
3) Kepala
Pada area ini tidak terdapat gangguan. Namun biasanya ibu
dengan mastitis mengeluh nyeri kepala seperti gejala flu.
4) Wajah
Wajah terlihat meringis kesakitan.
5) Mata
Padaibu dengan mastitis, konjungtiva terlihat anemis.
Dimana anemia merupakan salah satu factor predisposisi terjadi
mastitis karena seseorang dengan anemis akan mudah mengalami
infeksi.
6) Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), darah (-), defiasi (-).
Tidak ada gangguan pada daerah ini.
7) Mulut
Mukosa basah (+), sianosis (-), pucat (-), kering (-). Tidak
ada gangguan pada daerah ini.
8) Telinga
Daun telinga dalam batas normal, sekret (-). Tidak ada
gangguan pada daerah ini.
9) Tenggorokan
Uvula ditengah, mukosa faring hiperemesis (-), tonsil TI (-
). Tidak ada gangguan pada daerah ini
10) Leher
Pada area leher tidak ditemukan adanya gangguan atau
perubahan fisik.
11) Kelenjar getah bening

13
Pada kelenjar getah bening yang terdapat pada area ketiak
terjadi pembesaran. Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada
sisi yang sama dengan payudara yang terkena mastitis.
12) Payudara
Pada daerah payudara terlihat kemerahan atau mengkilat,
gambaran pembuluh darah terlihat jelas dipermukaan kulit,
terdapat lesi/ luka pada putting payudara, payudara terabe keras
dan tegang, payudara teraba hangat, terlihat bengkak, dan saat
dilakukan palpasi terdapat pus
13) Toraks
Bentuk: Normochaest, retraksi (-), gerakan dinding dada
simetris. Tidak ada gangguan pada daerah toraks
 Cordis:
a) Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
b) Palpasi : Iktus cordis tidak kuat angkat
c) Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
d) Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal,
reguller, bising (-)
 Pulmo:
a) Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri
b) Palpasi : Premitus raba dada kanan = kiri
c) Perkusi : Sonor diseluruh lapangan paru
d) Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) suara tambahan
: (-/-)
14) Abdomen
a) Inspeksi : Dinding perut lebih tinggi dari dinding
dada karena post partum sehingga pembesaran fundus masih
terlihat
b) Auskultasi : Bising usus (+) normal
c) Perkusi : Tympani
d) Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba

14
3. Pengkajian Sistem
a. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Persepsi: Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa nyeri
yang sering muncul saat masa menyusui adalah hal yang normal,
dimana tiadk perlu mendapatkan perhatian khusus untuk penangannya.
Pasien dengan mastitis biasanya kebersihan badannya kurang terjaga
terutama pada daerah payudara dan lingkungan yang bersih.
b. Pola nutrisi/ metabolic
Asupan garam yang terlalu tinggi juga dapat memicu terjadinya
mastitis. Dengan adanya asupan garam yang terlalu tinggi maka akan
menyebabkan terjadinya peningkatan kadar natrium dalam ASI,
sehingga bayi tidak mau menyusui pada ibunya karena ASI yng terasa
asing. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penumpukan ASI dalam
payudara (statis ASI) yang dapat memicu terjadinya mastitis.
Wanita yang mengalami anemia juga akan beresiko mengalami
mastitis karena kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga hal itu dapat
memudahkan tubuh mengalami infeksi (mastitis). Pemenuhan nutrisi
juga serig kali menurun akibat dari penurunan napsu makan karena
nyeri dan peningkatan suhu tubuh.
c. Pola eliminasi
Secara umum pada pola eliminasi tidak mengalami gangguan yang
spesifik akibat terjadinya mastitis.
1. Tidak ada nyeri saat berkemih
2. Konsistensi dan warna normal
3. Jumlah dan frekuensi berkemih normal
d. Pola aktifitas dan latihan
Pola aktifitas terganggu akibat peningkatan suhu tubuh (hipertermi
: > 38oC) dan nyeri. Sehingga biasanya pasien akan mengalami
penurunan aktifitas karena lebih focus pada gejala yang muncul.
e. Pola tidur dan istirahat

15
Pola tidur terganggu karena kurang nyaman saat tidur, mengeluh
nyeri. Pasien akan lebih focus pada gejala yang muncul pula.
f. Pola kognitif dan perceptual
Kurang mengetahui kondisi yang dialami, anggapan yang ada
hanya nyeri biasa. Pasien merasa biasa dan jika ada orag lain yang
mengetahui dapatterjadi penurunan harga diri.
g. Pola persepsi diri
Tidak ada gangguan
h. Pola seksual dan reproduksi
Biasanya seksualitas terganggu akibat adanya penurunn libido dan
pasien pasti akan lebih focus pada gejala yang muncul sehingga untuk
pemenuan kebutuhan seksualitas ini sudah tidak lagi menjadi prioritas.
i. Pola peran dan hubungan
Ada gangguan, lebih bnyak untuk istirahat karena nyeri
j. Pola management koping-stres
Pasien terlihat tidak banyak bicara, banyak istirahat.
k. System nilai dan keyakinan
Biasanya akan mengalami gangguan, namun hal itu juga
tergantung pada masing-masing individu, kadang kala ada individu
yang lebih rajin ibadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Namun
dilain sisi juga ada individu yang karena sakit, ia malah meyalahkan
dan menjauh dari Allah SWT.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut (00132)
Domain: 12 (Kenyamanan)
Kelas: 1 (Kenyamanan Fisik)
2. Risiko infeksi (00004)
Domain 11 : Keamanan/perlindungan
Kelas 1 : Infeksi

16
3. Ansietas (00146)
Domain 9 : Koping/Toleransi Stres
Kelas 2 : Respons Koping
4. Defisiensi pengetahuan (00126)
Domain : 5 Persepsi/Kognisi
Kelas : 4 Kognisi

17
5. Intervensi Keperawatan

18
Dx Keperawatan NOC NIC Rasional
Nyeri Akut (00132) 1. Kontrol Nyeri Pain Management
Domain: 12 (Kenyamanan) 2. Kepuasan Klien Observasi
Kelas: 1 (Kenyamanan Fisik) 3. Pengetahuan: 1. Kaji nyeri pada pasien 1. Untuk mempermudah dalam
Manajemen Nyeri meliputi lokasi, durasi, melakukan pengobatan
Definisi: Pengalaman sensori dan 4. Tingkat Nyeri frekuensi, kualitas, intensitas
emosional yang tidak nyeri
menyenangkan yang muncul Tujuan : Setelah dilakukan Mandiri Mandiri
akibat kerusakan jaringan yang tindakan keperawatan …. X 2. Gunakan teknik komunikasi 2. Agar mendapat data yang jelas
aktual atau potensial atau 24 Jam, Nyeri dapat diatasi teraupetik untuk mengetahui dari klien melalui hubungan
digambarkan dalam hal kerusakan dengan : pengalaman nyeri pasien BHSP, dan untuk membantu
sedemikian rupa (International Kriteria Hasil: dalam pengobatan nyeri pada
Association for the study of pain): 1. Kontrol Nyeri : klien
awitan yang tiba-tiba atau lambat - Mengenali kapan nyeri 3. Bantu pasien untuk lebih 3. Untuk mengurangi dan
dari intensitas ringan hingga berat terjadi (5) berfokus pada aktivitas, bukan menghilangkan nyeri
dengan akhir yang dapat - Mengenali apa yang pada nyeri
diantisipasi atau diprediksi dan terkait dengan gejala 4. Bantu pasien untuk 4. Mengurangi nyeri yang dirasakan
berlangsung <6 bulan. nyeri (4) melakukan relaksasi pasien
- Melaporkan nyeri yang Health Education

19
Batasan Karakteristik: terkontrol (4) 5. Informasikan kepada pasien 5. Agar pasien tidak stres dengan
- Perubahan selera makan - Menggunakan analgesik tentang prosedur yang dapat nyeri yang dialami
- Perilaku distraksi yang direkomendasikan menurunkan nyeri
(mis.,berjalan mondar-mandir (4) Kolaborasi
mencari orang lain dan atau Catatan : 6. Kolaborasikan dengan dokter 6. Sebagai evaluasi untuk tindakan
aktivitas lain, aktivitas yang 1 (Tidak pernah menunjukan) jika ada keluhan dan tindakan yang akan diberikan selanjutnya
berulang) 2 (Jarang menunjukkan) nyeri tidak berhasil agar nyeri yang sedang dirasakan
- Mengekspresikan perilaku 3 (Kadang-kadang klien dapat teratasi
mis.,gelisah, merengek, menunjukan) Pemberian Analgesik
menangis) 4 (Sering menunjukan) Kolaborasi
- Sikap melindungi area nyeri 5 ( Secara konsisten 7. Tentukan pilihan analgesik 7. Tindakan ini dapat mengurangi
- Fokus menyempit (mis., menunjukkan) atau kombinasi analgesik dan menurunkan ketidak
gangguan persepsi nyeri, yang sesuai ketika lebih dari nyamanan fisik dan emosional
penurunan interaksi dengan 2. Kepuasan klien : satu di tentukan pasien.
orang dan lingkungan) - Nyeri terkontrol (4) 8. Berikan Analgesik sesuai 8. Kortikosteroid dapat meredakan
- Indikasi nyeri yang dapat - Masalah keamanan waktu paruhnya, terutama gejala pembengkakan, kemerahan,
diamati ditanganai dengan pada nyeri yang berat gatal-gatal dan reaksi alergi
- Perubahan posisi untuk penggunaan obat nyeri (misalnya, pemberian
menghindari nyeri (4) kortikosteroid)

20
- Melaporkan nyeri secara - Membuat rujukan ke Peningkatan Koping
verbal profesional kesehatan Mandiri
- Gangguan tidur dalam manajemen 9. Hargai penyesuaian diri 9. Dengan menghargai, meneriman
Faktor yang berhubungan: nyeri sesuai kebutuhan pasien terhadap perubahan dan mendukung penyesuaian diri
- Agen cedera (mis.,biologis, (4) bodi image, sesuai indikasi. pasien dapat membantu untuk
zat kimia, fisik psikologis) Catatan : mengurangi tingkat kecemasan
1 (Tidak puas) pasien
2 (Agak puas) 10. Gunakan ketenangan, 10. Pendekatan yang menentramkan
3 (Cukup puas) pendekatan yang seperti berbicara lembut dengan
4 (Sangat puas) menentramkan. kondisi yang stabil kepada pasien
5 (Sepenuhnya puas) dapat membantu pasien untuk
lebih percaya dan dapat
3. Pengetahuan: Manajemen mengungkapkan apa yang
Nyeri: dirasakannya yang berguna untuk
- Tanda dan gejala nyeri dapat menentukan intervensi
(4) selanjutnya
- Strategi untuk 11. Jangan dukung keputusan 11. Kondisi emosi yang tidak stabil
mengontrol nyeri (4) yang dibuat pasien bila pasien dapat mempengaruhi pasien dalam
- Pembatasan aktivitas dalam keadaan stres. mengambil keputusan.

21
(4) 12. Dorong pasien 12. Memberi kesempatan kepada
4. Tingkat Nyeri : mengungkapkan perasaan, pasien untuk mengungkapkan
- Nyeri yang dilaporkan persepsi dan ketakutannya. perasaannya dapat membantu
(4) mengurangi stres dan dapat
- Ekspresi nyeri wajah membantu dalam penentuan
(4) intervensi apa yang akan
- Kehilangan nafsu Manajemen Energi dilakukan untuk pasien kanker
makan (4) Observasi
- Panjangnya episode 13. Pantau bukti adanya keletihan 13. Keletihan dan emosi yang
nyeri (4) fisik dan emosi yang berlebihan pada pasien dengan
Catatan : berlebihan pada pasien. kanker kulit dapat menyebabkan
1 (Berat) kondisi pasien yang tidak stabil
2 (Cukup berat) dan dapat menyulitkan untuk
3 (sedang) tindakan yang akan dilakukan
4 (Ringan) selanjutnya
5 (Tidak ada) Health Education
14. Ajarkan pengaturan aktivitas 14. Tidur sangat berguna bagi
dan teknik manajemen waktu kesehatan kulit dan juga dapat
untuk mencegah keletihan. mengurangi penggunaan energi

22
yang berlebihan serta mengurangi
nyeri yang dirasakan.

Risiko infeksi (00004) 1. Kontrol Risiko Infection Control


Domain 11 : 2. Kontrol Risiko : Proses Observasi Observasi
Keamanan/perlindungan Infeksi 1. Monitor tanda dan gejala 1. Untuk mengetahui sejauh mana
Kelas 1 : Infeksi infeksi sistemik dan local tingkat infeksi yang akan terjadi
Tujuan : Setelah dilakukan pada pasien
Definisi : Rentan mengalami tindaka keperawatan … X 24 2. Monitor kerentanan terhadap 2. Untuk mengetahui tingkat
invasi dan multiplikasi patogenik jam, Risiko Infeksi dapat infeksi kerentanan pasien terhadap infeksi
yang dapat mengganggu diatasi dengan : yang akan terjadi
Mandiri
kesehatan Mandiri
3. Membersihkan lingkungan
Kriteria Hasil : 3. Untuk menghindari adanya
setelah dipakai pasien lain
Faktor Resiko : 1. Kontrol Risiko kotoran atau mikroorganisme
- Kurang perhatian untuk - Mengidentifikasi yang tertinggal dan mencegah
menghindari pemajanan faktor risiko (4) terjadinya penularan infeksi
4. Inspeksi kulit dan membrane
patogen - Mengenali 4. Untuk melihat adanya tampak
mukosa terhadap kemerahan,
- Prosedur invasif kemampuan untuk kemerahan yang menandakan
panas, dan drainase
- Pertahanan tubuh primer tidak merubah perilaku (4) tejadinya infeksi

23
adekuat ( gangguan integritas - Memonitor faktor 5. Ganti peralatan perawatan 5. Peralatan yang sering dipakai
kulit) risiko dilingkungan (4) per pasien sesuai kontrol berulang-ulang dapat
- Pemajanan terhadap pwtogen - Mengembangkan institusi menyebabkan virus atau bakteri
lingkungan meningkat startegi yang efektif berpindah dari pasien yang
(terpajan pada wabah) dalam mengontrol sebelumnya ke pasien yang lain.
faktor risiko (4) Hal ini dapat menyebabkan
- Menghindari paparan penularan infeksi ke pasien lain
ancaman kesehatan (5) 6. Gunakan sabun anti mikroba 6. Antiseptik dapa mencegah,
- Mengenali perubahan untuk cuci tangan yang sesuai memperlambat atau menghentikan
status kesehatan (5) (misalnya, antiseptik) pertumbuhan kuman pada
Catatan : permukaan luar tubuh dan
1 (Tidak pernah menunjukan) membantu mencegah infeksi.
2 (Jarang menunjukan) 7. Cuci tangan sebelum dan 7. Mencuci tangan sesudah dan
3 (Kadang-kadang sesudah kegiatan perawatan sebelum kegiatan perawatan dapat
menunjukan ) pasien mencegah terjadinya penularan
4 (Sering menunjukan ) infeksi dari satu pasien ke pasien
5 (Secara konstan selanjutnya
menunjukan) 8. Pakai sarung tangan 8. Handscoen dapat melindungi diri
2. Kontrol Risiko : Proses sebagaimana dianjurkan oleh dari penularan infeksi

24
infeksi : kebijakan pencegahan
- Mengidentifikasi tanda universal (misalnya,
dan gejala infeksi (4) handscoen)
- Mengidentifikasi 9. Gosok kulit pasien dengan 9. Agar tidak terkontaminasi dengan
strategi untuk agen anti bakteri bagian tubuh yang lainnya dan
melindungri dari dari juga tidak akan terjadi penularan
orang lain yang infeksi ke orang lain
terkena infeksi (4) 10. Pastikan perawatan luka yang 10. Perawatan insisi mempunyai
- Memonitor faktor tepat (perawatan insisi) manfaat Menekan dan imobilisasi
lingkungan yang luka, mencegah luka dan jaringan
berhubungan dengan epitel baru dari cedera mekanis,
risiki infeksi (5) mencegah luka dari kontaminasi
- Menggunakan alat bakteri, meningkatkan hemostasis
pelindung diri (5) dengan menekan dressing,
- Mencuci tangan (5) memberikan rasa nyaman mental
dan fisik pada pasien
11. Ganti peralatan perawatan 11. Demam adalah salah satu dari
per pasien sesuai kontrol tanda-tanda klinis yang paling
institusi umum dan ditandai dengan

25
peningkatan suhu tubuh di atas
normal yang memicu peningkatan
tonus otot serta menggigil. Rata-
rata suhu tubuh normal yang
diukur secara oral adalah 36,7°C
sampai 37°C. Dan deman
merupakan salah satu tanda dan
gejala seseirang terkena infeksi
Health Education Health Education
12. Ajarkan kepada keluarga dan 12. Antiseptik dapat mencegah,
pasien tentang bagaimana memperlambat atau menghentikan
menghindari infeksi pertumbuhan kuman pada
(misalnya, penggunaan alat permukaan luar tubuh dan
pelindung diri seperti membantu mencegah infeksi.
handscoen, antiseptik, dan
masker)
13. Ajarkan pasien dan keluarga 13. Agar pasien dapat meminum
tanda dan gejala infeksi obatnya dengan teratur
Kolaborasi Kolaborasi

26
14. Berikan terapi antibiotic bila 14. Terapi antibiotic ini dapat
perlu (proteksi terhadap membunuh atau melemahkan
infeksi) bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi

Ansietas (00146) 1. Kontrol Kecemasan Diri Pengurangan Kecemasan


Domain 9 : Koping/Toleransi 2. Koping Observasi Observasi
Stres 1. Kaji untuk tanda verbal dan 1. Berada disisi/samping pasien
Kelas 2 : Respons Koping Tujuan : Setelah dilakukan nonverbal dapat menjalin hubungan dan
tindakan keperawatan … X 24 meningkatkan rasa kepercayaan
Definisi : Perasaan tidak nyaman jam. Ansietas dapat diatasi ketakutan yang akan dialami
atau kekhawatiran yang samar dengan : pasien
disertai respons otonom (sumber Mandiri
Mandiri
sering kali tidak diketahui oleh Kriteria Hasil : 2. Gunakan pendekatan yang
2. Bertujuan untuk mengurangi
individu); perasaan takut yang 1. Kontrol kecemasan diri : tenang dan meyakinkan
tingkat kecemasan pasien
disebabkan oleh antisipasi - Mengurangi penyebab 3. Nyatakan dengan jelas
3. Dengan tujuan agar pasien bisa
terhadap bahaya. Hal ini kecemasan (4) harapan terhadap perilaku
menjadi tenang dan bisa
merupakan isyarat kewaspadaan - Mengurangi klien

27
yang memperingatkan individu rangsangan 4. Berada disisi klien untuk menghilangkan kecemasa klien
akan adanya bahaya dan lingkungan ketika meningkatkan rasa nyaman 4. Berada disisi klien saat klien
memampukan individu untuk cemas(4) dan menghilangkan ketakutan merasa cemas akan membuat klien
bertindak menghadapi ancaman - Merencanakan strategi merasa lebih nyaman dan
Batasan Karakteristik : koping untuk situasi 5. Dorong verbalisasi perasaan, menghilangkan kecemasan
- Perilaku (Gelisah, gerakan yang menimbulkan persepsi dan ketakutan 5. Agar perawat bisa mengetahui
ekstra, insomnia, stres (4) tingkat kecemasan klien dan bisa
mengekspresikan - Mencari informasi 6. Berikan aktivitas pengganti memberikan tindakan yang tepat
kekhawatiran karena untuk mengurangi yang bertujuan untuk 6. Aktivitas pengganti dapat
perubahan dalam peristiwa kecemasan (4) mengurangi tekanan mengalihkan perhatian klien
hidup, perununan Catatan : sehingga kecemasan menjadi
produktivitas, perilaku 1 (Tidak pernah menunjukan) berkurang (membaca dan
mengintai, tampak waspada 2 (Jarang menunjukan) 7. Kontrol stimulus untuk mendengarkan musik)
- Afektif (berfokus pada diri 3 (Kadang-kadang kebutuhan klien secara tepat 7. Stimulus berfungsi dalam
sendiri, gelisah, distres, menunjukan) mengembangkan akal serta
gugup, ketakutan, menyesal, 4 ( sering menunjukan) pikiran dengan baik sehingga
peka, perasaan tidak adekuat, 5 (Secara konsisten dapat membantu perawat dalam
putus asa, ragu, sangat menunjukan) menjaga atau mengontrol
khawatir, sangat berlebihan) Health Education

28
- Fisiologis (wajah tegang, 2. Koping : 8. Instruksikan klien untuk kecemasan
tremor tangan) - Mengidentifikasi pola menggunakan tekhnik
Health Education
- Simpatis (Anoreksia, lemah, koping yang efektif (4) relaksasi
8. Tekhnik relaksasi membuat
peningkatan refleks, wajah - Menyatakan 9. Berikan informasi yang
pikiran menjadi tenang sehingga
memerah) penerimaan terhadap factual terkait diagnosis,
rasa cemas dapat berkurang
- Parasimpatis (Gangguan pola situasi(4) perawatan dan prognosis
9. Agar pasien lebih memahami dan
tidur) - Modifikasi gaya hidup
dapat mengobati rasa ketakutan
- Kognitif ( bloking pikiran, untuk mengurangi Kolaborasi
yang dialami
cenderung menyalahkan stres (4) 10. Atur penggunaan obat-obatan
orang lain, gangguan - Menggunakan perilaku untuk mengurangi kecemasan
Kolaborasi
konsentrasi, gangguan untuk mengurangi
10. Obat obatan yang diberikan
perhatian, melamun, stres (4)
(golongan anticemas
preokupasi, menyadari gejala - Mendapatkan bantuan
benzodiazepeni) dapat
fisiologis) dari profesional
menurunkan tingkatan stres pada
kesehatan (5) Peningkatan Koping
Faktor yang berhubungan : pasien
Catatan : Mandiri
- Ancaman pada status terkini
1 (Tidak pernah menunjukan) 11. Berikan penilaian mengenai
- Hereditas
2 (Jarang menunjukan) dampak dari situasi kehidupan Mandiri
- Hubungan interpersonal
3 (Kadang-kadang pasien terhadap peran dan 11. Untuk membantu perawat dalam

29
- Krisis situasi menunjukan) hubungan mengetahui perkembangan
- Perubahan besar (mis., status 4 ( sering menunjukan) psikososial klien maupun dapat
ekonomi, lingkungan, status 5 (Secara konsisten 12. Berikan penilaian mengenai melihat peran apakah berjalan
kesehatan, fungsi peran, status menunjukan) pemahaman pasien terhadap dengan baik
peran) proses penyakit 12. untuk mengetahui tingakat
- Riwayat keluarga tentang pengetahuan klien terhadap
ansietas 13. Gunakan pendekatan yang masalah kesehatan yang
- Stresor tenang dan memberikan dialaminya
jaminan 13. pendekatan yang tenang dan
memberikan jaminan akan
membuat klien merasa nyaman
dan percaya sehingga kecemasan
14. Sediakan informasi aktual klien berkurang dan mempercepat
mengenai diagnosis, proses penyembuhan klien
penanganan, dan prognosis 14. informasi yang aktual mengenai
penyakit yang berkaitan dengan
klien dapat membantu klien
memahami serta mengambil
15. Tidak mendukung pembuatan tindakan yang tepat untuk

30
keputusan saat pasien berada mengatasi masalah kesehatannya
pada situasi stres yang berat 15. keputusan yang dibuat saat klien
berada pada situasi stres hanya
akan menjerumuskan klien
kedalam pengambilan keputusan
yang salah dan akan memperberat
stres klien
stimulus yang berlebihan hanya
akan menambah tingkat
kecemasan klien sehingga
menambah tingkat stres klien

Defisiensi pengetahuan (00126) NOC NIC


Domain : 5 Persepsi/Kognisi Knowledge : disease process Teaching : disease process Teaching : disease process
Kelas : 4 Kognisi Knowledge : health behavior Observasi: Observasi:
Definisi: Tujuan: 1. Identifikasi kemungkinan 1. Agar dapat mengetahui penyebab
Ketiadaan atau defisiensi Setelah dilakukan tindakan penyebab, dengan cara yang kurangnya pengetahuan pasien
informasi kognitif yang berkaitan keperawatan selama 3 x 24 tepat atau keluarga
dengan topik tertentu jam defisiensi pengetahuan

31
Batasan karakteristik: berkurang / teratasi dengan Mandiri: Mandiri:
1. kurang pengetahuan Kriteria Hasil: 2. Berikan penilaian tentang 2. Untuk mengukur sejauh mana
2. ketidak akuratan 1. pasien dan keluarga tingkat pengetahuan pasien pemahaman pasien terhadap
mengikuti perintah menyatakan tentang proses penyakit yang proses penyakit yang spesifik
3. ketidak akuratan pemahaman tentang spesifik
melakukan tes penyakit, kondisi, 3. Diskusikan pilihan terapi atau 3. Agar pasien dapat memilih atau
4. pengungkapan masalah prognosis dan program penanganan menyetujui terapi atu penanganan
Factor Yang Berhubungan: pengobatan (4) yang akan diberikan
1. Gangguan fungsi kognitif 2. pasien mampu
2. Gangguan memori melaksanakan
3. Kurang informasi prosedur yang 4. Hindari jaminan yang kosong
4. Faktor dari dalam dan luar
4. Kurang minat untuk dijelaskan secara benar
mempengaruhi terlaksananya
belajar (4)
perilaku seseorang.
5. Kurang sumber 3. pasien dan keluarga
pengetahuan mampu menjelaskan 5. Diskusikan perubahan gaya
5. Tingkatan Pengetahuan keluarga
Salah pengertian terhadap orang kembali apa yang hidup yang mungkin
perlu dikaji. Agar perawat mampu
lain dijelaskan perawat/tim diperlukan untuk mencegah
memberikan pendidikan kesehatan
kesehatan lainnya (4) komplikasi dimasa yang akan
yang mudah diterima keluarga
Keterangan datang dan atau proses

32
1 = tidak ada pengetahuan pengontrolan penyakit maupun pasien
2 = pengetahuan terbatas Health education:
3 = pengetahuan sedang 6. Instruksikan pasien dan Health education
4 = pengatahuan banyak keluarga mengenai tanda dan 6. Agar langsung dilakukan
5 = pengatahuan sangat gejala untuk melaporkan pada perawatan yang benar untuk
banyak pemberi perawatan kesehatan menghindari terjadinya gejala
dengan cara yang tepat yang lain.

Kolaborasi:
7. diskusikan dengan dokter Kolaborasi:
untuk memberikan penjelasan 7. Agar pasien dan keluarga lebih
yang lebih akurat disertai percaya kepada perawatan yang
bukti. akan diberikan untuk terjadinya
Pendidikan Kesehatan masalah yang lebih lanjut
Observasi
1. identifikasi faktor internal Observasi
atau eksternal yang dapat 1. Agar pasien dapat mengetahui atau
meningkatkan atau lebih memperhatikan cara
mengurangi motivasi untuk berperilaku hidup sehat

33
berperilaku sehat.
2. Tentukan pengetahuan
kesehatan dan gaya hidup 2. Agar pasien dan keluarga
perilaku saat ini pada individu mengikuti gaya hidup baik untuk
atau keluarga. menghindari terjadinya penyakit
Mandiri
1. Hindari penggunaan tekhnik Mandiri
dengan menakut-nakuti Memotivasi dengan menakut-
sebagai strategi untuk nakuti memberikan respon negatif
memotivasi orang agar dan pemikiran negatif pada
mengubah perilaku kesehatan keluarga serta membuat
atau gaya hidup kesalahpahaman dalam menerima
pendidikan kesehatan sehingga
Health Education proses pengobatan tehambat
1. Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk menolak Health Education
perilaku yang tidak sehat atau 1. Mengajarkan dan memberikan
beresiko daripada contoh lebih maksimal untuk
memberikan saran untuk dilakukan agar pasien mudah

34
menghindari atau mengubah mengerti dan memahami contoh
perilaku pendidikan kesehatan dengan
Kolaborasi baik.
- Kolaborasi
-

35
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai atau
tidak dapat disertai infeksi. Biasanya terjadi karena adanya bakteri jenis
staphylococcus aureus. Bakteri biasanya masuk melalui putting susu yang
pecah-pecah atau terluka. Pada infeksi yang berat atau tidak diobat, dapat
terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara). Sebagian
besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir. Diagnosis
mastitis ditegakkan bila ditemukan gejala demam, mengigil, nyeri seluruh
tubuh, serta payudara menjadi kemerahan, tegang, panas dan bengkak.

B. Saran
Bagi mahasiswa diharapkan dapat memahami konsep penyakit tentang
mastitis. Disamping mengetahui konsep keperawatannya, kita juga harus
mengetahui mastitis dari konsep medis, karena hal itu juga dapat
mempengaruhi dalam pemberian asuhan keperawatan.

36
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Ibu dengan Mastitis. Jakarta: EGC

Prasetyo, dkk. (2014). Asuhan Keperawatan Mastitis. Yogyakarta: YBP

Chumbley, J. (2010). Seri Panduan Praktis Keluarga Menyusui. Jakarta: Erlangga

Marisa, L. (2011). Mengenal Mastitis Pada Ibu Menyususi. Jakarta: Erlangga

M, A. (2009). Kesehatan Muslim. Yogyakarta: Pustaka Muslim

Mander, R. (2012). Nyeri Persalinan. Jakarta: EGC

Winknjosastro, H. (2010). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo

Nurarif, A. H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis & NANDA. Jogjakarta: Media Action.

Taylor, C. M., & Ralph, S. S. (2014). Diagnosis Keperawatan dengan Rencana


Asuhan. Jakarta: EGC.

Jayanti, F. (2012). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Ny.P Dengan Mastitis RB
Mulia Kasih Boyolali. Surakarta: Jurnal Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Kusuma Husada

www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan

37