Anda di halaman 1dari 9

1.

Pengertian Laboratorium
Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah
dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-
kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007). Sementara menurut Emha (2002),
laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan,
dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu
lain.
2. Langkah Manajemen Laboratorium
Langkah-langkahnya meliputi, perncanaan, pelaksanaan, pengendalian, serta
penyempurnaan (P4). Untuk pengelolaan laboratorium secara umum dapat meliputi aspek :
1. Perencanaan, merupakan pemikiran yang sistematis, analitis, logis tentang semua
kegiatan yang harus dilakukan, langkah-langkah, metode, sdm, tenaga, serta dana
yang dibutuhkan agar mencapai tujuan yang telah ditentukan.
2. Penataan alat serta bahan, merupakan suatu proses pengaturan alat ataupun bahan
di laboratorium agar tertata dengan baik dan bila membutuhkannya kita dapat
mencarinya dengan mudah.
3. Pengadministrasian laboratorium, adalah suatu proses pencatatan ataupun
investarisasi fasilitas serta aktifitas laboratorium. Dengan pengadministrasian yang
tepat maka semua fasilitas serta aktifitas laboratorium dapat teroganisi dengan
sistmatis.
4. Pengamanan, perawatan, serta pengawasan.
Dimanajemen laboratorium, dalam hal ini berkaitan dengan manajemen mutu,
harus kita desain agar sealu memperbaiki efektifitas serta efisiensi kerjanya,
disamping harus mempertimbangkan kebutuhan semua pihak yang berkepentingan
dalam laboratorium. Beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam manajemennya
adalah sumber daya manus ia, saran dan prasarana dan juga penggunaan
labolatorium. Dalam pengunaan laboratorium baik digunakan untuk praktikum
ataupun penelitian harus menyerahkan jadwal pennguanannya terlebih dahulu, hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penggunaan laboratorium.
Selain itu kita juga harus menggunakan peralatan laboratorium saat menggunakan
laboratorium, seperti jas, masker, serta sarung tangan (bila diperlukan) dan juga
mengikuti semua prosedur peminjaman alat serta permintaan bahan yang berlaku.

3. Fasilitas Laboratorium
1. Penerangan
Ruang laboratorium harus memiliki pengatur penerangan yang dapat diubah-ubah
sesuai kebutuhan. Sumber cahaya dapat berasal dari cahaya matahari atau dari listrik.

2. Ventilasi
Laboratorium fisika membutuhkan ventilasi yang baik. Kadangkadang ventilasi tidak
dapat dicukup dari jendela, sehingga dibutuhkan alat perotasi udara seperti kipas penyedot
(ceiling fans). Adanya kipas penyedot ini dapat membantu pergantian udara menjadi lebih
baik.
3. Air
Air merupakan fasilitas yang penting dalam laboratorium IPA, terutama untuk
laboratorium biologi. Pasokan air ke dalam laboratorium tersebut harus cukup. Selain
jumlah pasokan, kualitasnya juga harus baik, kualitas air yang kurang baik dapat
mempercepat kerusakan alat-alat terutama alat-alat yang terbuat dari logam. Aliran air
yang masuk ke dalam laboratorium harus lancar. Demikian juga aliran air yang ke luar
laboratorium. Air yang masuk dan ke luar laboratorium biasanya lewat pipa-pipa. Harus
diperhatikan pembuangan air sisa cucian yang mengandung bahan-bahan yang dapat
merusakkan pipa-pipa tersebut. Pembuangan sisa asam atau basa kuat atau bahan korosif

4. Listrik
Pada laboratoium fisika, listrik merupakan fasilitas yang sangat penting. Besarnya daya
yang terpasang harus mencukupi kebutuhan alat-alat laboratorium, terutama alat-alat
laboratorium yang membutuhkan daya besar, seperti oven, furnace, autoclave dan lain-lain.
Tegangan listrik harus selalu dicek apakah stabil atau tidak.Tegangan listrik yang tidak
stabil dapat merusak alat-alat. Harus diperhatikan pula instalasi listrik, jangan didekatkan
dengan aliran air dan gas. Selain itu harus dilengkapi dengan pengaman yang mudah
dijangkau. Terminal out let harus mudah dijangkau. Instalasi listrik secara periodic perlu
diperiksa kondisinya. Kabel-kabel listrik secara periodic disikat untuk menghilangkan
bahan-bahan korosif yang biasanya menempel pada permukaan kabel. Socket dan plug
harus diperiksa apakah masih berfungsi dengan baik atau rusak (aus). Apabila rusak harus
segera diganti. Periksa juga secara periodic hubungan kabel ke socket apakah masih terikat
dengan kuat.
5. Mebelair
Perlengkapan yang berupa mebelar harus diperhatikan kualitas dan ukurannya. Misalnya
untuk meja perlu diperhatikan ketinggiannya. Umunya meja siswa / mahasiswa ukuran
tingginya 70-75 cm. Meja guru / dosen atau meja demonstrasi harus lebih tinggi dari meja
siswa, agar sewaktu demonstrasi dapat terlihat sampai ke meja siswa paling belakang.
Kursi laboratorium apabila memungkinkan ketinggiannya dapat diatur, sehingga siswa /
mahasiswa dapat menyesuaikan dengan jenis kegitan praktikum / percobaan. Meja
samping yang biasa dipakai untuk menyimpan alat-alat yang menetap umumnya terbuat
dari cor beton. Namun demikian dapat juga meja samping tersebut dibuat dari bahan kayu
keras. Bagian bawah meja samping dapat sekaligus digunakan sebagai lemari. Ukuran
meja samping panjangnya bervariasi sesuai kebutuhan, sedangkan lebarnya antara 50 cm
sampai 60 cm dengan ukuran tinggi 70cm -75 cm. Demikian halnya meja untuk timbangan
harus rata dan tidak mudah bergetar atau goyang. Meja timbangan ini sangat cocok dibuat
dari cor beton atau dari bahan kayu keras yang tebal. Lemari alat dan bahan hendaknya
memiliki tahapan (shelve) yang dapat diubah-ubah posisinya agar memudahkan dalam
menata alat-alat yang bervariasi ukurannya. Adakalanya dibutuhkan suatu lemari yang
khusus digunakan untuk menyimpan mikroskop dan alat optik lainnya. Lemari mikroskop
dibuat dengan tahapan (shelve) yang kokoh dan datar yang dapat dibuat dari bahan logam
atau kayu keras. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan atau jumlah mikroskop yang
dimiliki. Hal yang perlu diperhatikan untuk lemari mikroskop tersebut adalah diusahakan
tidak lembab agar terhindar dari jamur.’
Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebel contohnya meja siswa/mahasiswa, meja
guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, dan ruang timbang, lemari asam,
perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dll. Namun, untuk sekolah yang memang
kekurangan sarana dan fasilitas pembelajaran, biasanya tidak terlalu memperhatikan
masalah fasilitas yang memang seharusnya ada. Sehingga ketika melaksanakan kegiatan
praktikum, siswa sering mengalami hambatan dan kesulitan.

4. Penataan Laboratorium
Tata letak peralatan adalah suatu bentuk usaha pengaturan penempatan peralatan di
laboratorium, sehingga laboratorium tersebut berwujud dan memenuhi persyaratan untuk
beroperasi. Kata pengaturan dalam kalimat di atas mengandung makna yang sangat luas, yaitu
bahwa dalam mewujudkan suatu laboratorium yang layak operasi diperlukan penempatan
perlatan yang tersusun yang rapi berdasar kepada proses dan langkah-langkah
penggunaan/aktivitas dalam laboratorium yang diharapkan, begitu pula dengan daerah kerja
harus memiliki luas yang memungkinkan pengguna/pekerja/operator dapat bergerak bebas,
aman dan nyaman, di samping lalu lintas bahan yang akan digunakan dapat sampai ke tempat
kerja dengan mudah dan lancar. Tujuan Tata Letak laboratorium ;
a) Mengurangi hambatan dalam upaya melaksanakan suatu pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya.

b) memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna/pekerja/operato.

c) Memaksimalkan penggunaan peralatan

d) Memberikan hasil yang maksimal dengan pendanaan yang minimal

e) Mempermudah pengawasan.

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun tata letak peralatan dan
perabotan laboratorium adalah:

1. Mudah dilihat

2. mudah dijangkau

3. aman untuk alat

4. aman untuk pemakai

5. Pengertian GLP

Good Laboratotry Practice (GLP) adalah suatu cara pengolahanlaboratorium secara


keseluruhan agar laboratorium sebagai data generatordapat menghasilkan data yang dapat
dipercaya kebenarannya denganmemenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan. Dengan
demikian GLPmeliputi banyak hal diantaranya organisasi, fasilitas, tenaga, metode
analisa, pelaksanaan analisa, monitoring, pencatatan, pelaporan, kondisi laboratoriumdan
lain-lain. GLP seharusnya diadopsi dan diaplikasikan pada laboratoriumklinik/medik.
Laboratorium klinik atau medik adalah laboratorium yangdigunakan unuk melakukan proses
analisa terhadap suatu spesimen klinik.Dengan demikian, laboratorium pengujian yang
menerapkan GLP dapatmenghindari kekeliruan atau kesalahan yang mungkin timbul,
sehinggamenghasilkan data yang tepat, akurat dan tak terbantahkan, yang padaakhirnya
dapat dipertahankan secara ilmiah maupun secara hukum.

6. Good Documentation Practice (GLP Bag. 5)


Laboratorium harus mempunyai dan mengembangkan sistem dokumentasi dan rekaman
yang sesuai dengan kebutuhannya dalam menerapkan Praktik berlaboratorium yang baik
(GLP). Rekaman data hasil uji, pemrosesan, serta penerbitan laporan hasil uji merupakan
unsur yang sangat penting dalam keseluruhan proses pengujian. Rekaman dapat berupa hard
copy atau media elektronik. Seluruh rekaman data yang berhubungan dengan pengujian
harus mudah dibaca, didokumentasikan, dan dipelihara sedemikian rupa sehingga rekaman
tersebut dapat mudah diperoleh kembali dengan cepat sampai batas waktu yang ditentukan.
Selain itu, rekaman tersebut harus disimpan pada lokasi yang memadai untuk mencegah
kerusakan, kehilangan dan harus dijamin aman serta rahasia. Biasanya rekaman disimpan
selama 5 tahun, dan kemudian dimusnahkan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh
laboratorium.

Laboratorium harus mempunyai prosedur untuk melindungi dan mempunyai rekaman


pendukung atau back-up yang disimpan secara elektronik atau komputerisasi serta mencegah
adanya akses untuk mengubah rekaman tersebut oleh personel yang tidak berwenang.
Pencatatan atau rekaman berfungsi untuk mendokumentasikan apa yang diperoleh dari
perhitungan atau pengamatan orisinil tanpa direkayasa. Pengamatan, pencatatan data dan
perhitungan harus direkam pada saat pengujian dilakukan serta dapat diidentifikasi untuk
pekerjaan tertentu. Untuk meminimalkan kesalahan rekaman, laboratorium harus
melaksanakan usaha-usaha, antar lain :

1. Meningkatkan kesadaran personel penanggung jawab melalui pelatihan atau


pengarahan dari atasannya,

2. Pemeriksaan oleh operator yang berbeda

3. Pemeriksaan perhitungan oleh orang lain

4. Perhitungan kembali dengan metode yang berbeda

5. Verifikasi data atau hasil perhitungan.

Good Documentation Practice (GLP Bag. 5)


Laboratorium harus mempunyai dan mengembangkan sistem dokumentasi dan rekaman yang
sesuai dengan kebutuhannya dalam menerapkan Praktik berlaboratorium yang baik (GLP).
Rekaman data hasil uji, pemrosesan, serta penerbitan laporan hasil uji merupakan unsur yang
sangat penting dalam keseluruhan proses pengujian. Rekaman dapat berupa hard copy atau
media elektronik. Seluruh rekaman data yang berhubungan dengan pengujian harus mudah
dibaca, didokumentasikan, dan dipelihara sedemikian rupa sehingga rekaman tersebut dapat
mudah diperoleh kembali dengan cepat sampai batas waktu yang ditentukan. Selain itu, rekaman
tersebut harus disimpan pada lokasi yang memadai untuk mencegah kerusakan, kehilangan dan
harus dijamin aman serta rahasia. Biasanya rekaman disimpan selama 5 tahun, dan kemudian
dimusnahkan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh laboratorium.

Laboratorium harus mempunyai prosedur untuk melindungi dan mempunyai rekaman


pendukung atau back-up yang disimpan secara elektronik atau komputerisasi serta mencegah
adanya akses untuk mengubah rekaman tersebut oleh personel yang tidak berwenang.

Pencatatan atau rekaman berfungsi untuk mendokumentasikan apa yang diperoleh dari
perhitungan atau pengamatan orisinil tanpa direkayasa. Pengamatan, pencatatan data dan
perhitungan harus direkam pada saat pengujian dilakukan serta dapat diidentifikasi untuk
pekerjaan tertentu. Untuk meminimalkan kesalahan rekaman, laboratorium harus melaksanakan
usaha-usaha, antar lain :

Meningkatkan kesadaran personel penanggung jawab melalui pelatihan atau pengarahan dari
atasannya

Pemeriksaan oleh operator yang berbeda

Pemeriksaan perhitungan oleh orang lain

Perhitungan kembali dengan metode yang berbeda

Verifikasi data atau hasil perhitungan.

Namun, apabila kesalahan tetap terjadi dalam suatu rekaman, setiap kesalahan harus dicoret.
Tidak diperkenankan untuk menghapus atau meghilangkan data aslinya, sehingga membuat tidak
dapat terbaca. Cara yang benar adalah : nilai yang salah dicoret, dan nilai yang benar ditulis
disampingnya. Karena itu, perlu dihindari penggunaan pensil yang mudah dihapus untuk
perhitungan atau pencatatan data di laboratorium. Semua perubahan dalam rekaman harus
ditandatangani atau diparaf oleh orang yang melakukan koreksi. Tindakan serupa harus
dilakukan pada rekaman yang disimpan secara elektronik untuk mencegah hilang atau
berubahnya data orisinil.

Untuk menjaga konsistensi antar sistem rekaman dan dokumentasi dengan pelaksanaannya,
laboratorium harus melaksanakan prinsip dasar manajemen mutu, yaitu :

Konseptual Implementasi

Katakan apa yang dilakukan Dokumentasikan seluruh proses kegiatan


operasional laboratorium

Lakukan apa yang dikatakan Ikuti seluruh dokumen sistem mutu (panduan
mutu, prosedur, metode, instruksi kerja, dll.yang
telah dibuatnya)

Tunjukan apa yang telah dilakukan Catat atau rekam seluruh kegiatan operasional
laboratorium yang telah dilaksanakannya

Kaji ulang dan tingkatkan Lakukan audit untuk mengetahui penerapan


sistem mutu dan kinerja laboratorium

Lakukan tindakan preventif untukPeningkatan sistem mutu secara konsisten dan


menghindari ketidaksesuaian dan/ataukesinambungan
tindakan korektif bila diperlukan

Documentation
Salah satu yang sangat identik dengan ISO 9001 adalah masalah dokumentasi. Seluruh
dokumen yang digunakan baik itu berupa SOP, Working Instruksi, Form maupun catatan
(Record) harus memiliki identitas yang jelas dan pencatatan perjalanan dokumen yang tercatat.

1. SOP – seluruh prosedur dan dokumentasi pelaksanaan kerja harus jelas dan memiliki
kejelasan nama masing-masing
2. Seluruh dokumen didistribusikan dengan tertib dan lengkap dengan jalur pembagiannya
3. Dokumentasi harus mudah untuk di klarifikasi
4. Dokumentasi harus dilengkapi dengan tandatangan fihak-fihak yang berhak dan
bertanggung jawab serta memiliki kejelasan tanggal berlaku dan kadaluarsanya
5. Dokumentasi tidak dapat dirubah oleh orang-orang yang tidak berhak
6. Prosedur dokumentasi harus sesuai dengan aturan lokal
7. Dokumentasi harus direview dalam periode tertentu dan update
8. Khusus untuk dokumentasi penyimpanan barang harus diselaraskan dengan aturan
standar WHO/BPOM
9. Dokumentasi untuk pencatatan suhu harus disimpan minimal 1 tahun setelah barang yang
disimpan
10 Jika pencatatan suhu dilakukan dengan elektronik, diharuskan memiliki back up
pencatatan secara manual

Anda mungkin juga menyukai