Anda di halaman 1dari 25

0ral Impacts on Daily Performance (OIDP)

Definisi
OIDP (Oral Impact on Daily Performances) merupakan salah satu instrumen OHRQoL (Oral
Health Related Quality of Life) yang dikembangkan untuk mengukur pengaruh kondisi rongga
mulut pada aspek fisik, psikologis, dan sosial pada kehidupan sehari-hari.

Indikator
Indikator ini menggunakan dua langkah:

a. Langkah pertama terdiri dalam menentukan masalah kesehatan mulut dengan dibantu
mengisi daftar pertanyaan yang berisi kondisi patologis mulut yang ada selama masa kanak-
kanak.

Tujuan dari daftar pertanyaan pertama adalah untuk mendapatkan pelajaran tentang kondisi
rongga mulut yang mungkin merupakan sebab akibat pada kualitas kehidupan.

b. Langkah kedua terdiri atas mengevaluasi dampak kondisi rongga mulut pada kualitas hidup
anak melalui pengisian kuesioner yang dibantu dengan wawancara tunggal dari indikator
Child-OIDP yang berfokus pada delapan bidang yaitu:

1. Mengunyah

2. Berbicara

3. Kebersihan mulut
4. Relaksasi (termasuk tidur)

5. Tersenyum

6. Keadaan emosional

7. Studi (termasuk kelas kehadiran dan belajar di rumah)

8. Kontak dengan orang lain (hubungan sosial)

No. Aktivitas Sehari-hari Tingkat Frekuensi


keparahan

1. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak 0 = tidak


saat makan (menggigit dan berdampak berdampak
mengunyah) karena masalah
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
kesehatan gigi dan mulut Anda
sedikit sedikit
tersebut?
2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

2. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak 0 = tidak


saat berbicara karena masalah berdampak berdampak
kesehatan gigi dan mulut Anda
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
tersebut?
sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

3. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak 0 = tidak


saat membersihkan mulut dan berdampak berdampak
menyikat gigi karena masalah
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
kesehatan gigi dan mulut Anda
sedikit sedikit
tersebut?
2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

4. Apakah Anda merasa susah 0 = tidak 0 = tidak


tidur karena masalah kesehatan berdampak berdampak
gigi dan mulut Anda tersebut?
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

5. Apakah Anda menghindari 0 = tidak 0 = tidak


tersenyum karena masalah berdampak berdampak
kesehatan gigi dan mulut Anda
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
tersebut?
sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

6. Apakah Anda merasakan 0 = tidak 0 = tidak


emosi yang tidak stabil berdampak berdampak

karena masalah kesehatan gigi 1 = dampak sangat 1 = dampak sangat


dan mulut Anda tersebut? sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

7. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak 0 = tidak


saat belajar/bekerja karena berdampak berdampak
masalah kesehatan gigi dan
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
mulut Anda tersebut?
sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

8. Apakah Anda menghindari ke 0 = tidak 0 = tidak


tempat ramai/ bertemu rekan- berdampak berdampak
rekan Anda karena masalah
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
kesehatan gigi dan mulut Anda
tersebut? sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

Keterangan:

(0) "tidak pernah terpengaruh"

(1) "kurang dari sekali sebulan"

(2) 'sekali atau dua kali sebulan',

(3) "Sekali atau dua kali seminggu"

(4) "3-4 kali seminggu",

(5) "setiap atau hampir setiap hari".

Tujuannya mengevaluasi dampak kesehatan mulut pada kemampuan anak untuk melakukan
aktivitas sehari-hari, termasuk pengukuran dimensi fisik, psikologis dan sosial.
MAKALAH 2

1.1 OIDP (Oral Impacts in Daily Performance)

Hubungan antara kualitas hidup dengan kesehatan telah menjadi perhatian oleh beberapa
orang bahkan oleh para ahli. Kondisi kesehatan gigi dan mulut mempengaruhi kualitas hidup. Kualitas
hidup seperti kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan kegiatan sehari-hari. (Opie, 2009)
Menurut WHO, Kesehatan rongga mulut adalah keadaan yang bebas dari rasa sakit pada mulut
dan wajah, kanker mulut dan tenggorokan, infeksi di dalam mulut, penyakit periodontal dan gusi, karies,
kehilangan gigi dan segala sesuatu penyakit dan gangguan yang menyebabkan seseorang mengalami
keterbatasan mengigit, senyum, berinteraksi sosial. Hubungan antara kualitas hidup dan kesehatan gigi
dan mulut dijadikan sebagai bahan evaluasi dari pandangan pribadi dan medis. Sepeti psikologis, sosial,
dll.
Konsep kualitas hidup (WHO) adalah respons individu dalam kehidupan sehari-hari terhadap
fungsi fisik, psikis, sosial. Dalam bidang kesehatan masyarakat, pengukuran dari kualitas hidup sangat
berguna untuk menentukan populasi kebutuhan, prioritas perawatan, evaluasi strategi pengobatan.
1.1.1 Definisi
OIDP salah satu alat untuk melakukan pengukuran kualitas hidup tersebut. OIDP adalah suatu
sosio-dental indikator untuk mengukur kualitas hidup seseorang yang berhubungan dengan performa
sehari-harinya. Guerunpong mengadaptasi OIDP yang terdiri atas 8 item untuk anak usia 11- 12 tahun
yang bertujuan mengevaluasi dampak kesehatan mulut pada kemampuan anak untuk melakukan
aktivitas sehari-hari, termasuk pengukuran dimensi fisik, psikologis dan sosial. (Opie, 2009)
Gambar 1. Frekuensi Sistem Skoring

Sumber : (Opie, 2009)

Gambar 2. Klasifikasi Tingkat Keparahan Pengaruh Oral dalam Kegiatan Sehari-hari

Sumber : (Opie, 2009)

1.1.2 Indikator OIDP


Menurut (Opie, 2009), dalam menentukan OIDP, Langkah yang harus dilakukan adalah :

a. Langkah 1 : menentukan masalah yang diikuti menjawab daftar pertanyaan yang berisi
kondisi patologis individu
b. Langkah 2 : Evaluasi. Dengan cara pengisian kuisioner dan wawancara, yang berfokus pada 8
bidang yaitu mengunyah, berbicara, kebersihan mulut, relaksasi, tersenyum, emosional,
mengerjakan tugas sekolah, hubungan sosial yang baik.
Nilai dari dampak masalah kesehatan rongga mulut terhadap beberapa aktivitas di ukur dari nilai
keparahan dan frekuensi. Hasil nilai untuk satu dampak intensitas berkisar 0-15.
a) Ukuran nilai dampak intesitas:
1. Sangat parah (Jumlah nilai ≥9)
2. Parah (Jumlah nilai ≥6)
3. Cukup (Jumlah nilai 3-4)
4. Rendah (Jumlah nilai ≥2)
5. Sangat rendah (Jumlah nilai 1)
(Opie, 2009)

b) Nilai Keparahan:
0 = tidak pernah berefek
1 = berefek kurang dari 1 kali dalam 1 bulan
2 = berefek rata-rata, lebih dari 1 kali dalam 1 bulan
3 = berefek sering, lebih dari 1 kali dalam 1 minggu
(Opie, 2009)

c) Nilai Frekuensi:
0 = tidak pernah
1 = kurang dari 1 kali sebulan
2 = 1-2 kali sebulan
3 = 1-2 kali seminggu
4 = 3-4 kali seminggu
5 = hampir setiap hari, setiap waktu
(Opie, 2009)

d) Penilaian OIDP
a. Untuk setiap kegiatan, ada nilai untuk Frekuensi (Tabel 1) dan Severity (Tabel 2).
b. Perhitungan nilai OIDP didasarkan pada perhitungan nilai prestasi untuk masing-masing
pekerjaan termasuk dalam indeks (makan, berbicara, tidur, dll).
c. Nilai Prestasi adalah sama dengan nilai frekuensi dikalikan dengan nilai keparahan.
d. Nilai frekuensi dinyatakan pada skala 0-5 dan nilai keparahan pada skala 0-3, oleh karena itu
setiap Nilai Prestasi berkisar 0-15.
e. Nilai OIDP keseluruhan untuk setiap orang dihitung sebagai jumlah dari nilai prestasi dibagi
dengan total nilai maksimum dikali 100.
f. Semakin tinggi nilai semakin besar dampaknya.
(Opie, 2009)
MAKALAH 3

1.2 Oral Impacts in Daily Performance (OIDP)

Dampak Kesehatan Rongga Mulut Terhadap Kualitas Hidup

1. Kesehatan Rongga Mulut


Masalah kesehatan rongga mulut diketahui sebagai faktor penting yang berdampak negatif terhadap
kehidupan sehari-hari dan mempengaruhi kualitas hidup karena dapat mempengaruhi seseorang untuk
menikmati hidup dan bersosialisasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penyakit mulut dapat menyebabkan rasa
sakit, penderitaan, kendala psikologis, dan, gangguan dalam berinteraksi sosial.

Feitosa et al. menemukan bahwa karies gigi, yang merupakan masalah utama di masyarakat akan
menyebabkan gangguan mengunyah, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, gangguan tidur,
perubahan perilaku, dan kinerja sekolah yang rendah. Selain itu, kesehatan mulut yang buruk pada anak-
anak dapat mengganggu kesejahteraan keluarga karena orang tua merasa bersalah terhadap masalah
anak-anak mereka sehingga mereka memiliki ketidakhadiran kerja dan biaya perawatan gigi.

Di Brazil, Cortes et al. menunjukkan bahwa anak-anak sekolah yang mengalami traumatik pada gigi
anterior dan tidak dirawat, akan mengalami dampak sosial yang lebih tinggi pada kehidupan sehari-hari
mereka daripada anak-anak tanpa traumatik pada gigi anterior. Dampak negatif pada anak yang
mengalami fraktur gigi anterior mengalami kesulitan makan, membersihkan gigi, tersenyum, tertawa
tanpa malu, mempertahankan keadaan emosional yang stabil, dan ketidaknyamanan berinteraksi sosial
dibandingkan dengan anak-anak yg tidak memiliki cedera traumatik anterior.

Selain gigi fraktur, lesi jaringan lunak, maloklusi, dan fluorosis gigi juga merupakan masalah gigi
yang dijumpai pada remaja , tetapi masih sedikit dilakukan penelitian pada keadaan tersebut karena
beberapa penelitian memfokuskan terhadap fungsi, sosial, dan emosional pada anak-anak.

2. Kualitas Hidup
Berdasarkan perspektif kesehatan, kualitas hidup mengacu pada kehidupan sosial, emosional dan
kesejahteraan pasien, sedangkan WHO mendefinisikannya sebagai dampak dari penyakit dan
pengobatan terhadap kecacatan dan fungsi sehari-hari. Sehat biasanya dihubungkan dengan tidak
adanya penyakit (diseases), keluhan sakit (illness) dan tidak ada gangguan dalam menjalankan peranan
sosial seharihari.

Menurut WHO, kesehatan bukan hanya merupakan ada tidaknya suatu penyakit, tetapi juga
meliputi kesehatan fisik, psikologi, dan kesejahteraan sosial. Slade dan S‘pencer mengembangkan indeks
berskala untuk mengukur dampak sosial gangguan rongga mulut. Indikator ini selanjutnya menjadi alat
ukur terhadap besarnya pengaruh ketidakseimbangan keadaan rongga mulut terhadap fungsi sosial dan
psikologis pada seseorang individu yang dikelompokkan ke dalam 7 dimensi dampak sosial yaitu
keterbatasan fungsi, nyeri fisik, ketidaknyamanan psikis, ketidakmampuan fisik, ketidakmampuan psikis,
ketidakmampuan sosial dan hambatan.

Kesehatan juga bertujuan meningkatkan kualitas hidup. Untuk menggambarkan status kesehatan
rongga mulut harus mencakup ada tidaknya penyakit, fungsi fisik (pengunyahan), fungsi psikis (rasa
malu), fungsi sosial (peranan sosial sehari-hari), dan kepuasan terhadap dirinya. Untuk lebih
menjelaskan definisi sehat dalam pengertian positif maka konsep sehat dihubungkan dengan kualitas
hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health releted quality of life).

Kualitas hidup (quality of life) didefinisikan sebagai persepsi individual tentang kondisi
kehidupannya dalam konteks sistem budaya dan nilai di mana mereka tinggal dan berhubungan dengan
tujuan, harapan dan perhatiannya. Kesehatan rongga mulut dihubungkan dengan kualitas hidup
didefinisikan sebagai persepsi seseorang bagaimana kesehatan rongga mulut mempengaruhi kualitas
hidup dan kesehatan secara keseluruhan dari individu tersebut.

a. Karies dan kualitas hidup anak


Karies adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga menjalar
ke dentin. Proses karies ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti
dengan kerusakan bahan organiknya. Proses ini ditandai timbulnya white spot pada permukaan
gigi. Penjalaran karies mula-mula terjadi pada email. Bila tidak segera dibersihkan dan ditambal,
karies akan menjalar ke bawah hingga sampai ke ruang pulpa yang berisi saraf dan pembuluh
darah, sehingga menimbulkan rasa sakit dan akhirnya gigi tersebut bisa mati.
Karies gigi disebabkan banyak faktor seperti host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme,
substrat atau diet dan faktor waktu. Beberapa faktor risiko karies adalah pengalaman karies,
penggunaan fluor, oral higine, jumlah bakteri, saliva, pola makan, umur, jenis kelamin, sosial
ekonomi.13 Klasifikasi angka keparahan karies gigi menurut WHO: sangat rendah 0,0-1,1, rendah
1,2-2,6, cukup 2,7- 4,4, tinggi 4,5-6,5, sangat tinggi >6,5 tinggi.14

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 dilaporkan bahwa prevalensi
karies di Indonesia telah mencapai 90,05% dengan rata-rata indeks DMFT sebesar 4,85 yang berarti
sebagian besar penduduk indonesia menderita karies gigi. Angka ini tergolong tinggi jika
dibandingkan dengan negara berkembang.

Di Indonesia, penelitian Situmorang pada tahun 2005 didapat bahwa, kelompok orang dewasa
dengan jumlah pengalaman karies gigi lebih tinggi (DMFT>3) mempunyai risiko 5,29 kali dan lebih
sering mengalami gangguan kualitas hidup. Karies yang tinggi dapat mengurangi kualitas hidup
seorang anak, mereka merasakan sakit, ketidaknyamanan, profil wajah yang tidak harmonis, infeksi
akut serta kronis, gangguan makan dan tidur.

Bahkan karies yang parah juga dapat meningkatkan risiko untuk diopname, sehingga anak
tidak dapat hadir di sekolah dan dapat mempengaruhi proses pembelajaran anak.

b. Stomatitis Aphthous Recurrent (RAS) dan kualitas hidup


RAS terbagi atas 3 jenis : minor (Miras), mayor (Maras), dan herpetiform (HU) atau borok.
Minor Reccurent Stomatitis (Miras) mempengaruhi sekitar 80% penderita RAS, dan ditandai
dengan ulkus yang dangkal, bulat atau oval biasanya kurang dari 5 mm, dengan warna putih abu-
abu dengan adanya pseudomembran yang diselimuti oleh eritematosa tipis. Miras biasanya terjadi
pada bagin labial dan bukal mukosa dan dasar mulut, tetapi jarang pada pada gingiva, langit-langit,
atau dorsum lidah. Lesi ini sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa bekas luka. Filed et al.
menyatakan miras adalah bentuk paling umum terjadidari masa kanak-kanak.

Mayor Reccurent Stomatitis (Maras) adalah bentuk RAS yang langkah, dikenal juga sebagai
Peridenitis Mukosa Necrotica Recurrens. Lesi ini oval dan dapat melebihi 1 sampai 3 cm. Maras
biasanya timbul di daerah bibir, langit-langit dan tenggorokan, tetapi maras juga dapat timbul pada
seluruh daerah rongga mulut.
Scully dan Porter menyatakan luka pada Maras bertahan sampai 6 minggu dan seringkali
sembuh dengan jaringan parut. Maras biasanya memiliki onset setelah pubertas, bertahan hingga
20 tahun.

Bentu RAS yang paling umum juga dijumpai adalah herpetiform (HU), ditandai banyak luka kecil
dan berulang. Borok ini menimbulkan rasa sakit, dan dapat meluas ke seluruh rongga mulut.
Kadang-kadang bisa timbul 100 bisul pada waktu tertentu, masing-masing berukuran 2 - 3 mm,
meskipun mereka cenderung menyatu, besar dan tidak teratur. Lehner, Scully dan Petter
menyatakan HU mungkin memiliki kecenderungan dijumpai pada perempuan dan memiliki usia
lanjut.

Etiologi RAS ini belum jelas, perubahan yang mudah dilihat tetapi tidak terbukti adanya
penyakit autoimmun atau reaksi immunologi klasik. Mungkin berupa perubahan respons cell-
mediated immune dan reaksi silang dengan Streptokokus sanguis. Faktor-faktor predisposising
pada penyakit ini adalah kekurangan haemanitik (zat besi, folat atau vitamin B12). Pada 10% kasus,
dijumpai adanya hubungan dengan tahap luteal mentruasi (jarang ditemukan), stres, alergi
makanan (kemungkinan besar) dan AIDS.

Menurut penelitian Sudaduang Krisdapong, Aubrey Sheiham dan Tsakos, anak yang memiliki
RAS pada usia 12 tahun sebanyak 79,8% dan usia 15 tahun sebanyak 86,8%, masing-masing
memiliki dampak pada makan sebanyak 81,0%, membersihkan gigi 84,4% dan stabilitas emosional
60,3%.

c. Maloklusi dan kualitas hidup


Penyakit maupun kelainan gigi dan mulut dapat mempengaruhi berbagai fungsi rongga mulut,
salah satunya kelainan susunan gigi atau yang disebut maloklusi. Maloklusi merupakan kelainan
gigi yang menduduki posisi kedua setelah penyakit karies gigi. Maloklusi adalah salah satu kelainan
dentofasial yang kebanyakan bersifat morfogenik dan merupakan masalah dibidang kesehatan gigi
dan akan terus menerus meningkat sehingga penelitian-penelitian dibidang ilmu kedokteran gigi
masih tetap diperlukan.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan maloklusi adalah kelainan gigi yaitu kelainan letak,
ukuran, bentuk, dan jumlah gigi dan ciri-ciri. Yang termasuk maloklusi adalah gigi berjejal
(crowded), gingsul (kaninus ektopik), gigi tonggos (disto oklusi), gigitan menyilang (crossbite) dan
gigi jarang (diastema). Hal ini dapat memberikan efek terhadap penampilan estetis, berbicara atau
kenyamanan dalam mengunyah.

Maloklusi dapat mengakibatkan beberapa gangguan atau hambatan dalam diri penderitanya.
Dilihat dari segi fungsi, gigi crowded amat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi, kondisi ini dapat
menyebabkan gigi berlubang (caries) dan penyakit gusi (ginggivitis) bahkan kerusakan jaringan
pendukung gigi (periodontitis) sehingga gigi menjadi goyang dan terpaksa harus dicabut. Bila dilihat
dari segi fungsi fisik, maloklusi yang berlebihan pada tulang penunjang dan jaringan gusi.

Kesulitan dalam menggerakkan tulang rahang (gangguan otot dan nyeri), gangguan sendi
temporomandibular yang dapat menimbulkan sakit kepala. Apabila dilihat fungsi psikis, maloklusi
dapat mempengaruhi estetis dan penampilan seseorang.

Penampilan wajah yang tidak menarik mempunyai dampak yang tidak menguntungkan pada
perkembangan psikologis seseorang, apalagi pada saat remaja.

Dampak sosial maloklusi dapat mempengaruhi kejelasan berbicara seseorang. Apabila


maloklusinya disto oklusi akan terjadi hambatan pengucapan hurup p, b dan m. Apabila
maloklusinya mesio oklusi akan terjadi hambatan pengucapan s, z, t dan n.

d. Pengukuran Kualitas Hidup


Ada beberapa macam kuesioner yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup antara lain
(Tabel 1) :

1. Oral Health Impact Profile (OHIP)


Slade GD dan Spencer AJ melakukan riset untuk pengembangan dan pengujian Oral
Health Impact Profil (OHIP) yang terdiri atas 49 pertanyaan (OHIP-49) dan kemudian diringkas
menjadi 14 pertanyaan (OHIP-14) untuk mengukur persepsi individu mengenai status
kesehatan rongga mulut yang dihubungkan dengan kualitas hidup.

2. Oral Impact on Daily Performance (OIDP)


Guerunpong mengadaptasi OIDP yang terdiri atas 8 item untuk anak usia 11-12 tahun
yang bertujuan mengevaluasi dampak kesehatan mulut pada kemampuan anak untuk
melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk pengukuran dimensi fisik, psikologis dan sosial.

Skor dari dampak masalah kesehatan rongga mulut terhadap beberapa aktivitas di ukur
dari skor keparahan dan frekuensi. Hasil skor untuk satu dampak intensitas berkisar 0-9.
Ukuran skor dampak intesitas:

1. Sangat parah: jumlah skor 9 (keparahan skor 3 x frekuensi skor 3)


2. Parah : jumlah skor 6 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 3 /keparahan skor 3 x frekuensi 2)
3. Cukup : jumlah skor 3-4 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 2 / keparahan skor 3 x frekuensi
skor 1)
4. Rendah : jumlah skor 2 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 1)
5. Sangat rendah : jumlah skor 1 (keparahan skor 1 x frekuensi skor 1)

3. The Early Childhood Oral Health Impact Scale (ECOHIS)


Locker menggunakan indeks ECOHIS untuk mengukur penyakit, kecacatan, keterbatasan
fungsional dan kerugian sosial yang saling berhubungan tetapi dapat dimodifikasi oleh kondisi
psikologis dan sosial yang berbeda-beda.

4. The Child Perceptions Questionnare (CPQ 11-14)


Foster menggunakan indeks untuk mengukur sejauh mana dampak kesehatan rongga
mulut terhadap kualitas hidup yang dilaporkan pada anak-anak. Indeks ini terdiri atas 37
pertanyaan yang di kategorikan atas 4 kelompok yaitu gejala oral, keterbatasan fungsional,
kesejateraan emosional dan sosial yang baik.
Tabel 1. Karakteristik beberapa instrumen untuk menilai dampak kesehatan mulut pada kualitas hidup
anak-anak.

Berbagai indeks digunakan untuk menentukan hubungan kualitas hidup dengan kesehatan
mulut. Oral Health Impact Performance (OHIP) dan Oral impact on Daily Performance (OIDP)
diadaptasi untuk digunakan pada anak-anak. Child-OIDP (Child-Oral Impact on daily Performance)
digunakan untuk perencanaan masyarakat didukung program penyuluhan kesehatan untuk anak-
anak.

Indikator ini menggunakan dua langkah:

Langkah pertama terdiri atas menentukan masalah kesehatan rongga mulut yang diikuti
dengan menjawab daftar pertanyaan yang berisi sebagian besar tentang kondisi patologis rongga
mulut yang terjadi selama masa kanak-kanak.
Langkah kedua terdiri atas mengevaluasi dampak kondisi rongga mulut pada kualitas hidup
anak melalui pengisian kuesioner yang dibantu dengan wawancara tunggal dari indikator Child-
OIDP yang berfokus pada delapan bidang yaitu: mengunyah, berbicara, kebersihan mulut, relaksasi
(termasuk tidur), tersenyum, emosional (termasuk kelas kehadiran dan belajar di rumah) dan
hubungan sosial yang baik.

3. Karakteristik anak usia SMP


Pada umumnya masyarakat lebih mengagumi atau menyanjung seseorang yang mempunyai
penampilan wajah yang menarik dan daya tarik itu dipandang sebagai sesuatu yng berhubungan dengan
status sosial, harga diri dan kedudukan sosial yang sukses. Mengingat banyaknya masalah yang
ditimbulkan akibat kesehatan rongga mulut pada anak remaja SMP, yang mementingkan penampilan
estetis dan perkembangan untuk kehidupan sosial dengan teman sebayanya dalam rangka mencari
identitas diri, maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-hari pada anak remaja.

Fase-fase masa remaja (pubertas) menurut Monks dkk. yaitu antara umur 12

–21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk masa
remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir. Ketrampilan sosial dan kemampuan
penyesuaian diri menjadi semakin penting manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini
disebabkan karena pada masa

remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh

teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan.

Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan-keterampilan sosial akan

menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga

dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang
normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim
bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, dan tindakan
kekerasan.
Secara umum penampilan sering diidentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang,
namun sebenarnya tidak. Apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan
aku yang sebenarnya). Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang
berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung
dikucilkan.
4. Kerangka Konsep

1.2.1 Definisi
OIDP (Oral Impact on Daily Performances)

OIDP (Oral Impact on Daily Performances) merupakan salah satu instrumen OHRQoL (Oral
Health Related Quality of Life) yang dikembangkan untuk mengukur pengaruh kondisi rongga mulut
pada aspek fisik, psikologis, dan sosial pada kehidupan sehari-hari.

OIDP sangat menguntungkan penggunaannya bila digunakan dalam survei populasi dengan skala yang
dapat diterapkan pada populasi dewasa maupun anak-anak.

Tujuan OIDP adalah mengevaluasi dampak kesehatan mulut pada kemampuan anak untuk
melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk pengukuran dimensi fisik, psikologis dan sosial.
1.2.2 Cara Evaluasi OIDP
Indikator ini menggunakan dua langkah:

a. Langkah pertama terdiri dalam menentukan masalah kesehatan mulut dengan dibantu mengisi
daftar pertanyaan yang berisi kondisi patologis mulut yang ada selama masa kanak-kanak.

Tujuan dari daftar pertanyaan pertama adalah untuk mendapatkan pelajaran tentang kondisi rongga
mulut yang mungkin merupakan sebab akibat pada kualitas kehidupan.

b. Langkah kedua terdiri atas mengevaluasi dampak kondisi rongga mulut pada kualitas hidup anak
melalui pengisian kuesioner yang dibantu dengan wawancara tunggal dari indikator Child-OIDP yang
berfokus pada delapan bidang yaitu:
1. Mengunyah
2. Berbicara
3. Kebersihan mulut
4. Relaksasi (termasuk tidur)
5. Tersenyum
6. Keadaan emosional
7. Studi (termasuk kelas kehadiran dan belajar di rumah)
8. Kontak dengan orang lain (hubungan sosial)
No. Aktivitas Sehari-hari Tingkat keparahan Frekuensi

1. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


saat makan (menggigit dan
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
mengunyah) karena masalah
sedikit sedikit
kesehatan gigi dan mulut Anda
tersebut? 2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

2. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


saat berbicara karena masalah
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
kesehatan gigi dan mulut Anda
sedikit sedikit
tersebut?
2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

3. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


saat membersihkan mulut dan
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
menyikat gigi karena masalah sedikit sedikit
kesehatan gigi dan mulut Anda
2 = sedikit 2 = sedikit
tersebut?
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

4. Apakah Anda merasa susah tidur 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


karena masalah kesehatan gigi
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
dan mulut Anda tersebut?
sedikit sedikit

2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

5. Apakah Anda menghindari 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


tersenyum karena masalah
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
kesehatan gigi dan mulut Anda
sedikit sedikit
tersebut?
2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak
3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

6. Apakah Anda merasakan emosi 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


yang tidak stabil
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
karena masalah kesehatan gigi sedikit sedikit
dan mulut Anda tersebut?
2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

7. Apakah Anda merasa kesulitan 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


saat belajar/bekerja karena
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
masalah kesehatan gigi dan
sedikit sedikit
mulut Anda tersebut?
2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

8. Apakah Anda menghindari ke 0 = tidak berdampak 0 = tidak berdampak


tempat ramai/ bertemu rekan-
1 = dampak sangat 1 = dampak sangat
rekan Anda karena masalah
sedikit sedikit
kesehatan gigi dan mulut Anda
tersebut? 2 = sedikit 2 = sedikit
berdampak berdampak

3 = berdampak 3 = berdampak
sedang sedang

4 = dampak sedikit 4 = dampak sedikit


parah parah

5 = dampak sangat 5 = dampak sangat


parah parah

Keterangan:

(0) "tidak pernah terpengaruh"

(1) "kurang dari sekali sebulan"

(2) 'sekali atau dua kali sebulan',

(3) "Sekali atau dua kali seminggu"

(4) "3-4 kali seminggu",

(5) "setiap atau hampir setiap hari".


Frekuensi dan dampak tingkat keparahan masalah kesehatan mulut dari subyek pada kegiatan
sehari-hari diperkirakan dengan menjumlahkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dengan skor untuk
frekuensi dan tingkat keparahan.

Skor untuk dampak masalah kesehatan mulut pada setiap kegiatan diperoleh dengan
mengallikan skor frekuensi dan skor tingkat keparahan.

Skor akhir untuk satu kegiatan (intensitas dampak) memiliki nilai 0-9.

Intensitas dampak dihitung sebagai berikut:

1. Sangat parah: jumlah skor 9 (keparahan skor 3 x frekuensi skor 3)


2. Parah : jumlah skor 6 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 3 /keparahan skor 3 x frekuensi 2)
3. Cukup : jumlah skor 3-4 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 2 / keparahan skor 3 x frekuensi skor
1)
4. Rendah : jumlah skor 2 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 1)
Sangat rendah : jumlah skor 1 (keparahan skor 1 x frekuensi skor 1)