Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum

FARMAKOGNOSI II
Pembuatan Simplisia Daun Salam (Syzygium polyanthum)

Tanggal Praktikum :
Tanggal penyerahan
Kelompok :
Kelas:

Nama Anggota : 1. Anwar Ibrahim (066116159)


2. Siti Kholilah (066116163)
3. Ferika Fitrianti (066116175)
4. Mela Kristantiwi (066116188)

Dosen Pembimbing : 1. Dra.Ike Yulia.W., M.farm.,Apt.


2. Yulianita, M.farm
3. Novi Fajar Utami, M.farm.,Apt.
4. Asri Wulandari S.farm.

Asisten Dosen : 1. Aldi Febriana


2. Rizqi Aulia Rahmah
3.Gilang Dwiatmojo
4. Dinda Sekar Ayu
5. Mitri Asyari
6. Andini Aulia
7. Delia Gustianjani

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
mengenai “Pembuatan Simplisia Dari Daun salam (Syzygium polyanthum)”
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima
kasih kepada Tim dosen praktikum Farmakognosi 2 Universitas Pakuan yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai simplisia daun salam. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Akhir kata kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan
makalah ini. Dan kami berharap makalah sederhana ini dapat dipahami bagi
siapapun yang membacanya. Khususnya berguna bagi diri kami sendiri dan
umumnya bagi pembacanya.

Bogor, 24 Maret 2018

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Daun salam dengan nama latin Syzygium polyanthum merupakan
tumbuhan yang mudah hidup di dataran rendah maupun tinggi. Tanaman ini
dapat hidup tanpa perlakuan khusus. Daun salam biasanya digunakan sebagai
penyedap rasa pada makanan. Harmanto (2007) menyatakan bahwa daun salam
tingginya mencapai 25 m. Daunnya yang rimbun, berbentuk lonjong/bulat telur,
berujung runcing bila diremas mengeluarkan bau harum. Daun salam
mengandung zat-zat bahan warna, zat samak dan minyak atsiri yang bersifat
antibakteri. Zat tannin yang terkandung bersifat menciutkan (astringent). Daun
salam juga bermanfaat untuk mengatasi diare, diabetes, kudis atau gatal dan
lambung lemah. Pada penelitian Sudirman (2014) efektifitas antimikroba yang
ditunjukkan ekstrak daun salam memiliki zat aktif dalam menghambat
pertumbuhan bakteri berupa tannin, flavonoid dan minyak atsiri, yang mana
ketiga zat tersebut merupakan komposisi kimia yang terkandung dalam ekstrak
daun salam. Pemanfaatan daun salam sekarang ini umumnya hanya digunakan
sebagai rempah dan belum diolah. Untuk menjaga mutu dan mempertahankan
kandungan bioaktif dari daun salam, dilakukan pengolahan daun salam menjadi
simplisia dalam rangka meningkatkan kepraktisan dan efisiensi dalam
pemanfaatannya..

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara membuat simplisia daun salam ?
2. Bagaimana ciri organoleptis daun salam ?
3. Berapa besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan daun salam
?
4. Berapa besarnya persen rendemen pada proses pengeringan daun salam ?
5. Apa saja kandungan senyawa yang terdapat pada daun salam ?
6. Apa saja manfaat daun salam?
I.3 Tujuan
1. Mengetahui cara pembuatan simplisia daun salam
2. Mengetahui ciri organoleptis daun salam
3. Mengetahui berapa besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan
daun salam
4. Mengetahui besarnya persen rendemen pada proses pengeringan daun salam
5. Mengetahui apa saja kandungan senyawa yang terdapat pada daun salam
6. Mengetahui apa saja manfaat daun salam

I.4 Manfaat
a. Bagi pembaca
 Dapat menambah wawasan pembaca tentang manfaat dari tanaman
trandisional khususnya daun salam
b. Bagi penulis
 Dapat Menambah pengetahuan tentang kemampuan tanaman obat
tradisional khususnya simplisia daun salam.
 Sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan.
 Dapat digunakan sebagai referensi dalam mengajar materi yang
berhubungan dengan ilmu farmakognosi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Tanaman (Syzygium polyanthum) salam secara ilmiah mempunyai
nama Latin Eugenia polyantha Wight dan memiliki nama ilmiah lain, yaitu
Syzygium polyantha Wight. dan Eugenia lucidula Miq. Tanaman ini
termasuk suku Myrtaceae.
Di beberapa daerah Indonesia, daun salam dikenal sebagai salam
(Jawa, Madura, Sunda); gowok (Sunda); kastolam (kangean, Sumenep);
manting (Jawa), dan meselengan (Sumatera). Nama yang sering digunakan
dari daun salam, di antaranya ubar serai, (Malaysia); Indonesian bay leaf,
Indonesian laurel, Indian bay leaf (Inggris); Salamblatt (Jerman)
(Dalimartha, 2005; Utami dan Puspaningtyas, 2013).
Berdasarkan falsafah Jawa tanaman salam yang ditanam
mempunyai makna yang tersirat, yang dapat diambil filosofinya oleh
masyarakat untuk diterapkan dalam kehidupan, pohon salam bermakna
keselamatan. Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan
keselamatan di dunia dan di alam akherat nanti.
Daun salam mengandung zat bahan warna, zat samak dan minyak
atsiri yang bersifat antibakteri. Zat tanin yang terkandung bersifat
menciutkan (astringent). Manfaat daunsecara tradisional, daun salam
digunakan sebagai obat sakit perut. Daun salam juga dapat digunakan untuk
menghentikan buang air besar yang berlebihan. Pohon salam bisa juga
dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi,
melancarkan peredaran darah, radang lambung, gatalgatal, dan kencing
manis (KloppenburgVersteegh, 1983).

a. Pengertian Simplisia
Pengertian simplisia menurut Departemen Kesehatan RI adalah bahan
alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan
proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang
telah Dikeringkan (Dapertemen kesehatan RI :1989).
b. Penggolongan Simplisia
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
 Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa
tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan
antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri
Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan
keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan
dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-
bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu
dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.
 Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa
hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan
belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum
iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).
 Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah
dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni,
contoh serbuk seng dan serbuk tembaga ( Dep.Kes RI,1989).
c. Pemilihan simplisia daun salam
Tanaman daun salam dapat ditemukan dari dataran rendah sampai
pegunungan dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut. Pohon
salam yang biasanya tumbuh liar dihutan dan pegunungan bisa mencapai
ketinggian 25 meter dan lebar pohon 1,3 meter. Pohon salam juga dapat
tumbuh dipekarangan – pekarangan rumah dengan keadaan tanah yang
gembur.Daun rasanya kelat dan astrigen.
d. Cara Pembuatan Simplisia
 Pemanenan
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan
harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering.
Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi
terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan. Seperti
rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau
cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau
dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong,
karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan
tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu
pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang
berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses
fermentasi/ busuk. Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama
(hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).
Dalam pemanenan daun salam kita memilih daun yang
masih segar dan yang memliki rentang daun agak tua dengan
warna daun hijau tua,dengan ukuran daun yang lebar dalam
pemanenan kali ini kita mengambil daun salam pada jam 09.00
pagi dengan udara sejuk,sehingga daun tidak terlalu banyak
mengandung embun.
 Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen
terhadap tanaman budidaya untuk membuat bahan hasil panen
tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah
disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses
pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu
pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses
panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat
penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang
digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan
perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari
pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang
bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang
tinggi.
Dalam pengambilan atau pemanenan daun salam kita
juga membersih tangan kita serta wadah terlebih dahulu, kita
tempatkan daun salam pada tempat yang kering dan bersih.
 Penyortiran (segar)
Penyortiran segar dilakukan setelah selesai panen dengan
tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing, bahan yang tua dengan yang muda atau bahan yang
ukurannya lebih besar atau lebih kecil. Bahan nabati yang baik
memiliki kandungan campuran bahan organik asing tidak lebih
dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk
memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang
tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa
dalam bahan.
Walaupun dalam pemanenan kita sudah memilih daun
yang segar dalam proses kali ini kita tetap masih memilih daun
salam dari yang terbaik untuk yang terbaik dari yang kita panen
tadi. Kita juga mebersihkan kotoran yang melekat pada daun.Kita
juga menghilangkan tangkai daun pada daun salam.
 Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran
dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada
bahan.Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena
dapat mempengaruhi mutu bahan. Pen-cucian menggunakan air
bersih seperti air dari mata air, sumur atau PAM. Penggunaan air
kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan tidak akan
berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian per-
hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor
ulangi.pencucian/pembilasan.sekali.atau.dua.kali lagi.Perlu dipe
rhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang
sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat
yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan
dengan beberapa cara antara lain.
 Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah
proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan,
penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan. Perajangan
biasanya hanya dilakukan pada bahan yang ukurannya agak besar
dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang, buah dan lain-
lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan
dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan.
Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang
terkandung dalam bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka
pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan
waktu yang lama dalam penjemuran dan kemungkinan besar
bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.Ketebalan perajangan untuk
rimpang temulawak adalah sebesar 7 – 8 mm, jahe, kunyit dan
kencur 3 – 5 mm. Perajangan bahan dapat dilakukan secara
manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees
ataupun dengan mesin pemotong/ perajang. Bentuk irisan split
atau slice tergantung tujuan pemakaian. Untuk tujuan
mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk irisan sebaiknya
adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat kering
bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).
Dalam perajangan daun salam kita melakukanya dengan
cara manual yaitu mensuwir suwir daun dimana setiap daun kita
potong menjadi 4-6 bagian daun.
 Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau
pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air,
sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan
demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah
rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama Dalam proses
ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan
berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-
kan. Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang
dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40
– 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah
simplisia yang mengandung kadar air 10%. Demikian pula de-
ngan waktu pengeringan juga ber-variasi, tergantung pada jenis
bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun
bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses
pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan
mengguna-kan sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara
dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Penge-ringan bahan
dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar
matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat pe-
ngering seperti oven, rak pengering, blower ataupun
dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat
dilakukan dengan menggunakan sinar matahari,
oven, blower pada suhu 30 – 500C. Pengeringan pada suhu
terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya
dapat menurun.. Selain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga
terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama
dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis.
Kelemahan dari alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari.
Untuk daun atau herba, penge-ringan dapat dilakukan dengan
me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup
dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer atau
cukup dikering-anginkan saja.
Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan
hidrolisa enzi-matis, pencokelatan, fermentasi dan
oksidasi. Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila
daun atau-pun temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan
mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering
memiliki kadar air ± 8 – 10%. Dengan jumlah kadar air tersebut
kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun
waktu penyimpanan.
Dalam pengeringan daun salam yang telah di potong kita
letakkan pada tampah yang telah dilapisi dengan almunium foil.
Kita sebar daun salam dengan rata supaya mengering
keseluruhan.
Proses pengeringan kita lakukan pada jam 08.00 pagi
hingga jam 10.00 pagi dalam proses kita juga sering membalik
balikan daun hingga kering merata.Kita melakukan pengeringan
hingga hari ke 3 dan di oven dengan suhu=40 c selama 10
menit. . Dikatakan kering hingga daun salam berubah warna
yang signifikan yaitu coklat ke abu- abuan dan daun dapat
dipatahkan.
 Penyortiran (kering).
Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan
benda-benda asing yang terdapat pada simplisia, misalnya akar-
akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing lainnya. Proses
penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia
kering sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau
pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia
ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca
panen yang dilakukan.
Dalam penyortiran pemilihan daun dari kemungkinan
benda asing yang menempel. Proses selanjutnya yaitu
penimbangan pada simplisia kering yang masih berupa
potongan daun agak besar = 330g
Setelah penimbangan bahan simplisia daun potongan
kemudian kita haluskan potongan simplisia daun salam dengan
blender hingga sehalus mungkin,bersihkan blender dari serbuk
dan tampung serbuk .Kita timbang hasil hasil serbuk simplisia
yaitu =310 g.
 Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang
sudah di-keringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat
berupa plastik, kertas maupun karung goni.Persyaratan jenis
kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk yang dikemas,
mudah dipakai, tidak mempersulit penanganan, dapat melindungi
isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi
dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang
menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang
isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang
digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi,
nama/alamat penghasil, berat bersih, metode pe-nyimpanan.
Serbuk simplisia yang telah jadi kita simpan dalam tempat
pot bersih dan kering dan kita beri label pada kemasan luar.
 Penyimpanan
Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan di ruang biasa
(suhu kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang tempat
penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan ber-
ventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai
udara yang lembab dan panas. Perlakuan sim-plisia dengan
iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan jumlah
patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat.
Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri
simplisia selama penyimpanan 3 – 6 bulan. Jadi sebelum
disimpan pokok utama yang harus diperhati-kan adalah cara
penanganan yang tepat dan higienes.

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :


a) Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun
penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.
b) Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan
masuk air hujan.
c) Suhu gudang tidak melebihi 300C.
d) Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C)
untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang
tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga
menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.
e) Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.
f) Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan
simplisia yang disimpan harus dicegah.(Anonim : 2009)

B. Klasifikasi
Klasifikasi Daun Salam
1. POLYANTHI FOLIUM
NTA : Syzygium polyanthi
KELUARGA : Myrtaceae
ZBU :Mintyak atsiri, tanin
KHASIAT : Anti diare
BAGIAN : Daun
SIMPAN :Dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari
cahaya

2. CIRI – CIRI: Bila diremas berbau harum, berbentuk lonjong sampai


elips, atau bulat telur sungsang, pangkal lancip sedangkan ujung
lancip sampai tumpul, panjang 5-15 cm, lebar 35-36 mm, terdapat
6-10 urat daun lateral, pangkal daun 5-12 mm.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data pengamatan

SIMPLISIA HASIL(GRAM)
Sortasi Basah  Rajangan = 1500 gram
 Serbuk = 1500 gram
Sortasi Kering  Rajangan = 150 gram
Serbuk setelah  Serbuk = 300 gram
pengayakan

4.2 Analisis data


a. Susut pengeringan
Wawal = 1500 gram
Wakhir = 300 gram
Susut Pengeringan
Wawal-Wakhir
X 100 %
𝑊𝑎𝑤𝑎𝑙
1500 gram-300 gram
X 100%
1500 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 80 %

b. Rendemen
• Rajangan
Wawal = 1500 gram
Wakhir = 150 gram
Wakhir X 100 %
Wawal
150 gram X 100 % = 10%
1500 gram

• Serbuk
Wawal = 1500 gram
Wakhir = 300 gram
Wakhir X 100 %
Wawal

300 gram X 100 % = 20%


1500 gram

4.3 Pembahasan