Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFISIKA

RESISTANSI TUBUH MANUSIA

Disusun Oleh:
Dina Kurnia Sari (16312241031)
Rica Nur Pratiwi (16312241032)
Ismayanti Nursiyam (16312244023)
Pendidikan IPA I 2016

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
A. JUDUL
Resistansi Tubuh Manusia

B. TUJUAN
Mengukur nilai rresistansi pada tubuh manusia.

C. DASAR TEORI
Listrik adalah sesuatu yang memiliki muatan positif (proton) dan muatan
negatif (elektron) yang dapat mengalir melalui suatu penghantar (konduktor). Arus
listrik dapat mengalir apabila terdapat beda potensial agar electron-elektron dapat
begerak dan menghasilkan listrik. Akan tetapi, gerakan ketika electron bergerak terdapat
hambatan atau yang menghalanginya sehingga besar arus listrik berkurang.

1. Tahanan Listrik/Resistance

Tahanan adalah penghambatan terhadap lintasan arus listrik yang dilewatinya.


Berbeda dengan konduktivitas yaitu kemampuan suatu alat untuk mengalirkan
arus listrik. Alat atau bahan yang memiliki tahanan yaitu resistor, sedangkan
alat atau bahan yang memiliki sifat konduktivitas yaitu konduktor. Sistem tubuh
manusia bereaksi terhadap aliran listrik dengan dipengaruhi oleh kelembaban, suhu
dan sifat lainnya. Persamaan hukum Joule berbunyi "semakin tinggi tahanan,
semakin tinggi pula panas yang ditimbulkan".
Sistem tubuh manusia, sistem saraf, pembuluh darah, membran mukosa
dan otot merupakan konduktor yang baik. Sesuai fungsi dan sifat sistem saraf yaitu
untuk menghantarkan sinyal-sinyal elektrik, oleh karena itu sistem saraf
mempunyai elektrolit dan kandungan air yang tinggi serta mempunyai tahanan
terhadap listrik yang rendah.

2. Electrical Resistance of Human Body

Seperti halnya besar hambatan listrik pada setiap bahan konduktor, besar
hambatan listrik setiap orang berbeda-beda. Perbedaan besar hambatan listrik setiap
orang dapat diakibatkan oleh beberapa factor, antara lain adalah:

a. Diameter
Laki-Laki memiliki besar resistensi yang lebih rendah dibandingkan
dengan perempuan. Hal ini seperti halnya resistensi pada listrik, resistensi
pada lengan seseorang bergantung dengan diameter. Resistensi akan semakin
kecil apabila lengan memiliki diameter yang lebih besar (R. Fish & L.
Geddes. 2003). Hal ini sesuai dengan rumor Resistensi Benda, apabila R
merupakan resistensi, ρ adalah hambatan jenis, L adalah panjang benda, dan A
merupakan luas benda, adalah:
L
R= ρ (1)
A
Sehingga apabila dilihat berdasarkan penjelasan di atas, laki-laki memiliki
resistensi yang lebih kecil dari perempuan karena laki-laki memiliki lengan
dan kaki yang lebih besar (lebih memiliki otot).

b. Panjang Lengan

Berdasarkan persamaan (1), hambatan jenis atau resistensi dipengaruhi


oleh panjang. Panjang disini dimaksudkan dengan panjang arus listrik
ditempuh. Jika aliran listrik mengalir dari tangan kiri menuju ke kaki kanan,
maka resistensi akan lebih besar dibandingkan dengan arus listrik yang
mengalir dari jari kanan menuju ke jari kiri (R. Fish & L. Geddes. 2003).

c. Keadaan Tubuh

Dalam tubuh, jaringan dengan resistensi terbesar adalah tulang dan lemak
sedangkan saraf dan otot lebih sedikit resistensinya. Resistensi yang paling
besar dalam tubuh adalah kulit, kapal (sel mati), sel-sel epidermis (lapisan luar
kulit) merupakan konduktor yang buruk (R. Fish & L. Geddes. 2003).
Tubuh memiliki resistensi terhadap aliran arus. Lebih dari 99% dari daya
tahan tubuh terhadap aliran arus listrik di kulit. Sebuah kapalan, tangan kering
memiliki lebih dari 100.000 Ω karena lapisan luar tebal. Sedangkan daya
resistensi tubuh internal sekitar 300 Ω, hal ini karena jaringan bawah kulit
lebih basah dan mengandung garam (Raymond M. Fish. 2009). Menurut R.
Fish & L. Geddes (2003) resistensi kulit jauh lebih rendah jika basah atau
terbakar/melepuh.
Apabila digambarkan berikut merupakan besar resistensi dalam tubuh:

Gambar 1. Besar Resistensi dalam Tubuh


Sumber : (R. Fish & L. Geddes. 2003)

D. METODOLOGI PERCOBAAN
1. Waktu dan Tempat
Hari, tanggal : Rabu, 10 April 2019
Waktu : 11.10-12.50 WIB
Tempat : Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. Multimeter
b. Meteran
c. Air
d. Alat tulis

3. Langkah Kerja
Mengeset multimeter pada ohm meter dan memastikan berfungsi dengan
menempelkan kedua phrobe hingga menunjukkan angka nol

Mengukur nilai resistensi tubuh (tangan ke tangan) dengan cara memegang atau
menempalkan probe ke kedua telapak tangan

Mengulangi prosedure kedua tangan yang berkeringat atau basah

Mengulangi prosedure kedua pada bagian tubuh yang lain (tangan ke kaki, kaki ke
kaki)

Mengulangi prosedur untukk naracoba lain.

E. DATA HASIL

Jarak Antara
Praktikan Posisi Penempelan Probe R (M Ω)
2 Elektroda
Kering 154 3,8
Tangan-Tangan
Basah 154 0,5
Ismayanti Tangan-Kaki 199 5,9
Kaki-Kaki 190 5,1
Tangan-Alis 102 3,8
Kering 142 2,9
Tangan-Tangan
Basah 142 0,1
Rica Tangan-Kaki 191 3,9
Kaki-Kaki 194 3,1
Tangan-Alis 102 1,2
Kering 139 3,4
Tangan-Tangan
Basah 139 0,2
Dina Tangan-Kaki 186 3,9
Kaki-Kaki 168 3,6
Tangan-Alis 85 2,2
F. PEMBAHASAN
Percobaan Biofisika dengan judul “Resistansi Tubuh Manusia” dilakukan pada
hari Rabu, 10 April 2019 di Laboratorium IPA II, FMIPA, UNY. Percobaan ini
memiliki tujuan untuk menghitung nilai resistensi pada tubuh manusia. Alat dan bahan
yang digunakan yaitu multimeter untuk mengukur resistansi tubuh manusia dan
meteran untuk mengukur jarak antara probe yang ditempelkan pada bagian tubuh 1 dan
pada ujung bagian tubuh lainnya. Langkah percobaan yang dilakukan pertama yaitu
mengatur multimeter pada posisi ohmmeter dan mengkalibrasikannya dengan saling
menempelkan kedua ujung probe hingga terbaca angka 0. Selanjutnya, mengukur
resistansi tubuh manusia berdasarkan indikator yang telah ditentukan yaitu tangan ke
tangan, tangan ke kaki, kaki ke kaki dan tangan ke alis. Kemudian, mengukur panjang
bagian tubuh dari ujung probe 1 ke ujung probe lainnya.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa secara
keseluruhan, semakin panjang jarak penempelan probe pada bagian tubuh (panjang
lintasan) maka nilai resistansinya semakin besar. Hal tersebut sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh (R. Fish & L. Geddes. 2003) bahwa hambatan jenis atau resistensi
dipengaruhi oleh panjang, panjang disini dimaksudkan dengan panjang arus listrik
ditempuh. Jika aliran listrik mengalir dari tangan kiri menuju ke kaki kanan, maka
resistensi akan lebih besar dibandingkan dengan arus listrik yang mengalir dari jari
kanan menuju ke jari kiri. Sehingga, panjang jalur yang dilewati arus tersebut
mempengaruhi resistansi. Didalam tubuh manusia, tentu ada berbagai komponen-
komponen termasuk jalur yang dilewati arus sepert otot, tulang dan lemak.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, pada kedua naracoba yaitu Dina
dan Ismay jalur yang paling panjang ialah jalur tangan ke kaki. Akan tetapi pada
praktikan Rica, jalur yang paling panjang ialah jalur kaki ke kaki. Perbedaan yang
terjadi ini, bisa disebabkan karena kurang telitinya praktikan dalam mengukur
menggunakan meteran. Sehingga, nilai resistansi pada naracoba Dina dan Ismay yang
paling besar yaitu pada tangan ke kaki, sementara pada naracoba Rica terdapat pada
jalur kaki ke kaki. Perbedaan hasil percobaan ini kemungkinan dapat terjadi karena
bagian ujung probe terlalu menekan ke bagian tulang punggung kaki. Hal ini didukung
dengan teori menurut Herman (2008:719) yang menyatakan bahwa tulang memiliki
resistivitas (nilainya sebanding dengan resistansi) paling besar yaitu >40, sehingga
menghasilkan nilai resistansi yang besar.
Pada jalur tangan ke alis, dimana ujung probe pada alis ditempelkan tepat pada
bagian tulang alis nilai resistansi lebih besar dari pada tangan ke tangan walaupun jarak
posisi penempelan ke tubuh lebih kecil. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, tulang
memiliki resistansi paling besar, sehingga penempelan probe multimeter pada tulang alis
menghasilkan resistansi yang besar, selain itu juga terdapat organ mata yang dilewati.
Kemudian pada jalur tangan ke tangan, terdapat perbedaan nilai resistansi antara
tangan yang kering dengan tangan yang basah. Nilai resistansi pada tangan yang basah
lebih rendah (berkurang kurang lebih 50%) daripada tangan yang basah. Hal tersebut
sesuai dengan teori Sutherland (2014 :104) yaitu skin resistance willl decrease by as 50%
under wet condition”. Tangan yang basah mengandung air yang merupakan perantara
yang baik bagi aliran arus listrik sehingga nilai resistansi tangan basah tersebut
berkurang. Fakta tersebut juga didukung oleh besar resistivitas kulit basah (10 5) yang
lebih rendah dari resistivitas kulit kering (107) (Herman, 2008:719). Lebih dari 99% dari
daya tahan tubuh terhadap aliran arus listrik di kulit. Sebuah kapalan, tangan kering
memiliki lebih dari 100.000 Ω karena lapisan luar tebal. Sedangkan daya resistensi tubuh
internal sekitar 300 Ω, hal ini karena jaringan bawah kulit lebih basah dan mengandung
garam (Raymond M. Fish.:2009). Menurut penelitian di Science Centre
Singapore (2009), Berjalannya arus listrik melalui tubuh manusia biasanya ditentukan
oleh resistensi kulit, yang berkisar dari sekitar 1000 Ω untuk kulit basah untuk sekitar
500.000 Ω untuk kulit kering. Hambatan internal dari tubuh kecil, yaitu antara 100-500
Ω. Selanjutnya, menurut R. Fish & L. Geddes (2003) resistensi kulit jauh lebih rendah
jika basah atau terbakar/melepuh. Berdasarkan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa
hambatan pada tangan basah lebih kecil daripada hambatan pada tangan kering, sehingga
tangan yang basah berpotensi mengalirkan arus lebih besar daripada tangan kering. Oleh
karena itu kita dianjurkan untuk tidak memegang kabel atau rangkaian listrik saat kondisi
tangan sedang basah.
Selain itu, resistansi tubuh juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. Wanita dewasa
memiliki resistansi tubuh yang berbeda dengan laki-laki dewasa. Resistansi tubuh
wanita dewasa lebih rendah dibanding resistansi tubuh laki-laki dewasa. Oleh karena itu
arus listrik yang mengalir ke tubuh wanita dewasa cenderung lebih besar. Jadi, hal-hal
yang mempengaruhi resistansi tubuh manusia adalah :
G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, nilai resistansi (Ohm) Ismayanti pada
jalur tangan-tangan kering 3.8, basah 0.5, tangan-kaki 5.9, kaki-kaki 5,1, tangan-alis
3.8; Rica pada jalur tangan-tangan kering 2.9, basah 0.1, tangan-kaki 3.9, kaki-kaki
3.1, tangan-alis 1.2 ; Dina pada jalur tangan-tangan kering 3.4, basah 0.2, tangan-kaki
3.9, kaki-kaki 3.6, tangan-alis 2.2. Perbedaan nilai resistansi tersebut dipengaruhi oleh
jarak penempelan probe pada bagian tubuh, kondisi kulit (kering/basah) dan komponen
penyusun tubuh manusia (tulang, organ, otot dan lain-lain) yang menjadi jalur aliran
arus.

H. JAWAB PERTANYAAN
1. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, nilai resistansi (Ohm) setiap naracoba
berbeda-beda. Ismayanti pada jalur tangan-tangan kering 3.8, basah 0.5, tangan-kaki
5.9, kaki-kaki 5,1, tangan-alis 3.8; Rica pada jalur tangan-tangan kering 2.9, basah
0.1, tangan-kaki 3.9, kaki-kaki 3.1, tangan-alis 1.2 ; Dina pada jalur tangan-tangan
kering 3.4, basah 0.2, tangan-kaki 3.9, kaki-kaki 3.6, tangan-alis 2.2.
2. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa secara
keseluruhan, semakin panjang jarak penempelan probe pada bagian tubuh (panjang
lintasan) maka nilai resistansinya semakin besar.
3. Nilai resistansi pada tangan yang basah lebih rendah (berkurang kurang lebih 50%)
daripada tangan yang basah. Tangan yang basah mengandung air yang merupakan
perantara yang baik bagi aliran arus listrik sehingga nilai resistansi tangan basah
tersebut berkurang. Fakta tersebut juga didukung oleh besar resistivitas kulit basah
(105) yang lebih rendah dari resistivitas kulit kering (107)
4. Didalam tubuh manusia, tentu ada berbagai komponen-komponen termasuk jalur
yang dilewati arus sepert otot, tulang dan lemak. Setiap orang memiliki perbedaan
jumlah atau massa dari komponen-komponen tersebut sehingga menghasilkan nilai
resistansi yang berbeda-beda
DAFTAR PUSTAKA

Fish, Raymond M. 2009. Conduction of Electrical Current to and Through the Human Body: A
Review. Eplasty. 2009; 9: e44. Published online 2009 Oct 12. Diakses pada
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2763825/ Jumat, 21 April 2019.

Herman Sofyandi. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Pertama. Yogyakarta :
Penerbit Graha Ilmu.

R. Fish & L. Geddes. 2003. Medical and Bioengineering Aspects of Electrical Injuries: Lawyers
& Judges Publishing Company, Inc.