Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN ATRESIA ANI

Disusun Oleh :
KELOMPOK 7
1. Anindita Amalia Rizky (14.401.16.004)
2. Efendi (14.401.16.018)
3. Erina Triwiyanti (14.401.16.022)
4. Febby Dwi Rimayanti (14.401.16.027)
5. Hakiki Nuur Firdausi (14.401.16.036)
6. Indah Lestari (14.401.16.042)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah atresia berasal dari bahasa yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan trepsis
yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan
tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Atresia ani adalah malformasi
kongenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar. Atresia ani adalah tidak
lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara
abnormal. Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rektal terjadi
gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan.
Keadaan ini disebabkan oleh karena gangguan perkembangan embrional berupa tidak
sempurnanya kanalisasi saluran pencernaan bagian bawah, yaitu gangguan pertumbuhan
septum urorektal, dimana tidak terjadi perforasi membran yang memisahkan bagian
entodermal dengan bagian ektodermal.
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan
kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fungsi, dan pembentukan
anus dari tonjolan embriogenik. Angka kejadian rata-rata malformasi anorektal di seluruh
dunia adalah 1 dalam 5000 kelahiran. Secara umum, atresia ani lebih banyak ditemukan
pada laki-laki daripada perempuan.

B. Rumusan masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan atresia ani ?

C. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada anak
dengan atresia ani.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau
tertutupnya lubang badan normal. Atresia anin adalah malformasi congenital dimana
rectum tidak mempunyai lubang keluar (Abdul, 2012).
2. Etiologi
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber
mengatakankelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan
pembentukan anusdari tonjolan embriogenik. Atresia ani dapat disebabkan
oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir
tanpalubang dubur.
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau 3
bulan.
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah
usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu
keempat sampaikeenam usia kehamilan (Abdul, 2012).

3. Tanda dan gejala


1. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
2. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
3. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya.
4. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tdk ada fistula)
(Abdul, 2012).

4. Patofisiologi
a. Terdapata 2 tipe : yang letak tinggi, yang mana terdapat penghalang di atas otot
levator ani. Tipe letak rendah adalah adanya penghalangan dibawah otot lavetor
ani.
b. Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian dorsal hindgut atau
berkembang menjadi kloaka sewaktu mesenkim tumbuh ke lateral yang
merupakan bakal geniti urinari dan struktur anorektal.
c. Terjadi siansis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal.
d. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan
struktur kolon antara 7 dan 10 minggu dalam perkembangan fetal.

2
e. Kegagalan migrasi dapat juga karena karena kegagalan dalam agenesis sakral dan
abnormalitas pada uretra dan vagina.
f. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan vekal tidak
dapat keluar dikeluarkan sehingga intestinal mengalami obstruksi (Alimul, 2008)

5. Klasifikasi
a. Anomali Letak Rendah (Translevator)
1) Rektum melewati M. Puborectalis. Anus terletak pada posisi yang normal
dengan lubang yang sempit (stenosis) atau tertutup oleh membrane
(imperforate anal membran).
2) Anus bisa tertutup secaa komplit (atresia) dan bias pula mempunyai lubang
keluar (fistula) yang berjalan ke depan dan bermuara di pangkal penis,
vestibulum dan kadang-kadang di temukan anus dengan letak di depan dan
posisi-nya (anterior anus) (Alimul, 2008)
b. Anomali Intermediet
Retum sampai di puborectalis (tapi tidak melewati) bias berakhir buntu
atau mempunyai fistula antara rectum dan bulbus uretra atau bagian atas vagina.
c. Anomali Letak Tinggi
Kelainan lesi tipe ``tinggi`` supralevator terjadi hamper selalu pada laki-
laki dan biasanya terdapat fistula rektouretra antara rectum yang berakhir buntu
di sebelah proksimal uretra prostatika. Sedangkan kalau pada wanita, biasanya
terdapat hubungan fistula antara rectum dengan forniks posterior vagina.
Pada bayi perempuan umumnya (90%) ditemukan adanya fistla yang
menghubungkan usus dengan perineum atau vagina/rektovaginal dan jarang
rektoperineal serta tidak pernah rektourinarius.
Pada bayi lelaki pada umumnya fistula menghubungkan bagian ujung
kolon yang buntu dengan traktus urinarius dan berakhir dikandung kemih atau
uretra dan jarang rekto perineal.
Sedangkan menurut klasifikasi (Abdul, 2012), atresia ani di bagi 2
golongan yang di kelompokkan menurut jenis kelamin.
1. Pada laki-laki golongan I di bagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin,
atresia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel urin, tampak
meconium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke
uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel adalah
dengan memasang kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti
fistel terletak uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin
mengandung mekonuim maka fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses
tidak lancer, penderita memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum

3
tindakannya sama pada perempuan ; harus di buat kolostomi. Jika fistel tidak
ada dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram, maka perlu segera
dilakukan kolostomi.
2. Golongan II pada laki-laki di bagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel
perineum, membrane anal, stenosis anus, fitel tidak ada. Fistel perineum sama
dengan pada wanita ; lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. Pada
membrane anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput. Bila
evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan tetapi definit secepat mungkin.
Pada stenosisanus, sama dengan perempuan, tindakan definitive harus
dilakukan. Bila tidak ada fisel dan udara.
3. Pada perempuang golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan
kloaka, fistel vagina, fitel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak ada.
Pada fistel vagina, meconium tampak keluar dari vagina. Evakuas feces
menjadi tidak lancer sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel
vestibulum, muara fistel terdapat di vulva. Umumnya evakuasi feses lancer
selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai terhambat saat penderita
mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat di rencanakan bila penderita
dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan
antara traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi fese
umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi. Pada
atresia rectum, anus tampak normal tetapi pada pemeriksaan colok dubur, jari
tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. tidak ada evakuasi meconium sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel, di buat invertogram.
Jika udara> 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi.
4. Sedangkan golongan II pada perempuan di bagi 3 kelainan yaitu kelainan
fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel perineum
biasanya terdapat di antara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda
timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang
anus terletak di tempat yang seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses
tidak lancer sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi difinitif. Bila
tidak ada fistel dan pada invertogram udara (Abdul, 2012).

6. Komplikasi
a. Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan.
b. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
c. Komplikasi jangka panjang :
1) Eversion mukosa anal

4
2) Stenosis (akibat dari jaringan parut dan anastomosis)
3) Impaksi dan konstipasi
4) Masalah dengan toilet training
5) Inkontinensia (akibat stenosis anal)
6) Prolaps mukosa analrektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan
persisten) (Rita, 2010).

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
b. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rektum dari sfingternya.
c. Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam sistem
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena
massa tumor.
d. CT Scan Digunakan untuk menentukan lesi.
e. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
f. Pemeriksaan fisik rektum
Kepatenan rektal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang
atau jari.
g. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan
dengan traktus urinarius (Alimul, 2008).

8. Penataaksanaan
Penatalaksanaan dalam tindakan atresia ani yaitu :
a. Pembuatan kolostomi
Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah
pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Pembuatan lubang biasanya
sementara atau permanen dari usus besar atau colon iliaka. Untuk anomali
tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir.
b. PSARP (Posterio Sagital Ano Rectal Plasty)

5
Bedah definitifnya, yaitu anoplasty dan umumnya ditunda 9 sampai 12 bulan.
Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pelvis untuk membesar dan
pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi
untuk menambah berat badannya dan bertambah baik status nutrisinya.
c. Tutup kolostomi
Tindakan yang terakhir dari atresia ani. Biasanya beberapa hari setelah
operasi, anak akan mulai BAB melalui anus. Pertama, BAB akan sering tetapi
seminggu setelah operasi BAB berkurang frekuensinya dan agak padat (Rita,
2010).

6
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah pasien
dengan tepat, sebab pengkajian merupakan awal dari proses keperawatan. Dan
keberhasilan proses keperawatan tergantung dari pengkajian. Konsep teoridigunakan
penulis adalah model konseptual keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data
dapat di kelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi :
1) Persepsi Kesehatan-Pola manajemen Kesehatan.
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan dirumah.
2) Pola Nutrisi-Metabolik.
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umum terjadi pada pasien dengan
atresia ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu
oleh mual dan munta dampak dari anestesi
3) Pola Eliminasi.
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru maka tubuh
dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk buangan.
Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien
akan mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong, 1996)
4) Pola Aktivitas dan Latihan.
Pola latihan dan aktivitas di pertahankan untuk menghindari kelemahan oto.
5) Pola Persepsi Kognitif.
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, daya ingatan
masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan.
6) Pola Tidur dan Istirahat.
Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri paka luka
inisisi.
7) Konsep Diri dan persepsi Diri.
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body comfort.
Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampak luka jahitan operasi
(Doenges, 1993).
8) Peran dan Pola Hubungan.
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah sakit.
Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran (Doenges, 1993).
9) Pola reproduksi dan seksual.
Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi social sebagai alat reproduksi (Doenges,
1993).
10) Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi.
Adnya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan, rumah (Doenges,
1993).

7
11) Pola Keyakinan dan Nilai.
Untuk menenrangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang di
peluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan ini di harapkan perawat
dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya
pelaksanaan ibadah (Abdul, 2012).

2. Pemeriksaan Fisik (Fokus)


a. Bayi Baru Lahir/pre Operatif
1) Pemeriksaan anus dengan menggunakan :
a) Thermometer
b) Jari kelingking dengan sarung tangan. Bila tidak ada anus maka
thermometer / jari kelingking tidak dapat masuk
2) Bila anus terlihat ormal dan penyembuhan terdapat lebih tinggi dari perineum,
gejala akan timbul 24-28 jam setelah lahir perut kembung, muntah berwarna
hijau.
3) Bial fistula (+) (antara rectum, traktus urinarius, scrotum atau perineum pada
bayi maka akan terlihat pada urinnya yaitu terdapat meconium pada urine
bayi.
4) Pada bayi dengan fistula urogenital (fistula antara rectum, vagina atau
perineum) di dapatkan adanya meconium pada vagina.
5) Pemeriksaan Radiologi `` Tegak serta terbali`` untuk melihat sampai di mana
terdapat penyumbatan.
b. Post Operatif
1) Luka operasi : koreksi/repair colostomy
2) Informasi tentang :
a) Perawatan luka koreksi/repair
b) Perawatan colostomy.
3. Diagnosis Keperawatan (Nanda, 2010)
a. Pre Operatif
1) Resiko kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah.
2) Ansietas pada orang tua berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
b. Post Operatif
1) Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan post anestesi.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang kurang, ketidakmampuan mentoleransi per oral.
3) Gangguan eliminasi berhubungan dengan perubahan defekasi melalui
colostomy.
4) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
5) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan,
seringnya defekasi.
6) Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan efek dari kondisi (biofisik; defek
kongenital), pembedahan pada tubuh.

8
4. Perencanaan/Intervensi
a. Perencanaan pre-op Diagnosis keperawatan resiko kekurangan volume cairan dan
elektrolit berhubungan dengan muntah
Tujuan :
1. Kekurangan volume cairan akan teratasi.
2. Keseimbangan elektrolit dan asam-basa akan di capai. Di buktikan dengan
indicator gangguan sebagai berikut :
1. : Berat.
2. : Substansial.
3. : Sedang.
4. : Ringan.
5. : Tidak ada gangguan.

Kriteria hasil :
1. Tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebihan.
2. Haemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
3. Tekanan vena sentral dan pulmonal dalam rentang yang di harapkan.
4. Tidak mengalami haus yang abnormal.
5. Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.
6. Menampilkan hidrasi yang baik (membrane mukosa lembab, mampu
berkeringat)
7. Asupan cairan oral / intreavena adekuat.

Intervensi keperawatan :
1. Pantau warna, jumlah dan frekuensi kehilangan cairan
2. Observasi khusus terhadap kehilangan cairan yang tinggi elektrolit (misalnya
diare, drainase luka, penghisapan nasogastric, diaforesisi dan drainase
ileustomi).
3. Pantau pendarahan (misalnya, periksa semua sekresi dari adanya darah nyata
atau darah samar)
4. Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap bertambah buruknya
dehidrasi (misalnya obat-obatan, demam, stress, dan program pengobatan).
5. Pantau ulug elektrolit, terutama natrium, kalium, klorida dan kreatinin.
6. Kaji adanya hipotensi postural.
7. Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
8. Pengelolaan cairan (NIC) :
a. Pantau status hidrasi (misalnya kelembaban membrane mukosa,
keadekuatan nadi, dan tekanan darah ortostatik).

9
b. Pantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan
(misalnya kadar hemtokrid, BUN, albumin, protein total, osmolalitas
serum dan berat jenis urine).
c. Timbang berat badan dan pantau kemajuannya.
d. Hitung dan timbang popok.
e. Pertahankan keakuratan catatan asupan dan haluaran.
9. Pengaturan cairan (NIC) :
a. Tingkatkan asupan oral sesuai keinginannya.
b. Pasang kateter urine bila perlu.
c. Berikan cairan sesuai kebutuhan.
10. Kolaborasi :
a. Berikan terapi intravena sesuai anjuran.

b. Perencanaan pre-op diagnosis keperawatan ansietas pada orang tua berhubungan


dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan :
a. Ansietas berkurang ditunjukkan dengan kontrol ansietas : kemampuan untuk
menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir dan tegang.
b. Menunjukkan kontrol ansietas, dibuktikan dengan indikator
pendemonstrasian sebagai berikut :
1. : pernah
2. : jarang
3. : kadang-kadang
4. : sering
5. : konsisten
Kriteria hasil :
Keluarga/pasien.
1. Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun ada kecemasan.
2. Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada pengetahuan dan
keterampilan baru.
3. Mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan negatif secara cepat.
Intervensi keperawatan :
1. Pengurangan ansietas (NIC) : menentukan kemampuan pengambilan
keputusan pada pasien.
2. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
3. Kaji teknik mengurangi ansietas yang telah di iliki dan yang belum di miliki.
4. Berikan pendidikan untuk pasien atau keluarga : sediakan informasi factual
menyangkut diagnosis, perawatan dan diagnosis.
5. Instruksikan pasien/keluarga tentang teknik relaksasi.
6. Jelaskan semua prosedur keperawatan pada keluarga.

10
7. Kolaborasi dengan medis: berikan pengobatan untuk mengurangi ansietas
sesuai dengan kebutuhan.
8. Beri motivasi kepada orang tua / pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan untuk mengeksternalisasikan perasaan, gunakan pendekatan yang
tenang den meyakinkan.
9. Bantu pasien untuk memfokskan pada situasi saat ini, sebagai alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang di butuhkan untuk mengurangi
ansietas; beri dorongan kepada orang tua untuk menemani anak, sesuai
dengan kebutuhan.
10. Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan serta okupasi untuk
mengurangi ansietas dan memperluas focus.
11. Sediakan penguatan yang positif ketika pasien mampu untuk meneruskan
aktifitas sehari-hari dan lainnya meskipun ansietas.
12. Yakinkan pasien kembali dengan menyentuh, saling memberi empatik secara
verbal dan nonverbal, dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan
iritasi, serta izinkan pasien untuk menangis.
13. Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang
tenang, kontak yang terbatas dengan orang lain jika di butuhkan serta
pembatasan penggunaan kafein dan stimulant lain.
14. Sarankan terapi alternative untuk mengurangi ansietas yang diterima oleh
pasien.

c. Perencanaan post-op diagnosis efektifan bersihan jalan nafas berhubungan


dengan edema anestesi.
Tujuan :
1) Menunjukkan pembersihan jalan nafas yang efektif di buktikan dengan status
pernafasan : pertukaran gas dan ventilasi tidak berbahaya.
2) Menunjukkan status pernafasan : pertukaran gas, di tandai dengan indicator
gangguan sebagai berikut :
1. : ekstrem
2. : berat
3. : sedang
4. : ringan
5. : normal
Kriteria evaluasi :
a) Mudah untuk bernafas, mempunyai jalan nafas yang paten.
b) Memiliki irama dan frekuensi pernafasan dalam rentang yang normal.
c) Fungsi paru dalam batas normal.
d) Kegelisahan, siniosis dan dispnea tidak ada.
e) Situasi O2 dalam batas normal.
f) Temuan sinar-X dada pada rentang yang di harapkan.

11
Intervensi Priorita (NIC) :
1. Pengelolaan jalan nafas : fasilitas untuk kepatenan jalan nafas :
a. Kaji dan dokumentasi hal-hal berikut :
1) Keefektifan pemberian oksigen dan perawatan yang lain.
2) Keefektifan pengobatan yang diresepkan.
b. Auskultasi bagian dada anterior dan posterior untuk mengetahui adanya
penurunan atau tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi tambahan.
2. Penghisapan jalan nafas :
a. Tentukan kebutuhan penghisapan oral dan/atau trakeal.
b. Pantau status oksigen pasien (tingkat SaO2 dan SvO2) dan status
hemodinamik dan irama jantung segera sebelum, selama dan setelah
pengisapan.
c. Catat tipe dan jumlah sekresi yang dikumpulkan.
3. Gunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada bibir.
4. Perhatikan posisi bayi saat memberikan makan, tegak atau setengah duduk.
5. Beri makan secara perlahan-lahan.
6. Lakukan penepukan punggung setelah pemberian minum.
7. Rubah posisi sesuai kebutuhan atau 2 jam sekali setelah pembedahan untuk
memudahkan drainage.
8. Lakukan hisap lender bila perlu.
9. Bersihkan mulut setelah makan atau minum.

d. Perencanaan postop diagnosis keperawatan perubahan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, ketidakmampuan
mentoleransi per oral.
Tujuan :
Menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan dan zat gizi adekuat yang di
tandai dengan indicator berikut:
1. : tidak adekuat.
2. : ringan.
3. : sedang.
4. : kuat.
5. : Adekuat total
Kriteria evaluasi :
Pasien akan :
1) Mempertahankan berat badan normal (__kg atau petambahan __kg pada
(sebutkan tanggalnya).
2) Toleransi terhadap diet yang di anjurkan.
3) Nilai lab. (albumin, elektrolit) dalam batas normal.
4) Adaptasi dengan metode makan yang sesuai.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan menenlan dan menghisap.
2) Gunakan dot botol yang lunak yang besar atau dot khusus dengan lubang
yang sesuai untuk pemberian minum.

12
3) Tempatkan dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah mendorong
makan atau minuman ke dalam.
4) Berikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan.
5) Tepuk punggung bayi setiap 15-30 ml.
6) Berikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan.
7) Edukasi keluarga pasien : berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan
nutrisi dan bagaiman memenuhinya.
8) Ajarkan pada keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal.
9) Kolaborasi : diskusikan dengan dokter pemberian makan melalui slang, atau
nutrisi parental total agar asupan kalori yang adekuat di pertahankan.

e. Perencanaan post-op diagnosis keperawatan gangguan citra tubuh berhubungan


dengan efek dari kondisi (biofisik; defek kongenital), pembedahan pada tubuh.
Tujuan :
a. Gangguan citra tubuh berkurang.
b. Menunjukkan citra tubuh, di tandai dengan indicator kekonsistenan sebagai
berikut:
1. : tidak pernah.
2. : jarang.
3. : kadang-kadang.
4. : sering.
5. Positif.
Kriteria hasil/evaluasi :
a. Puas terhadap penampilan fungsi tubuh.
b. Kongruen antara realitas tubuh, ideal tubuh dan wujud tubuh.
c. Keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan.
d. Memelihara hubungan social yang dekat dan hubungan personal.
Intervensi keperawatan (prioritas NIC) :
1. Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan nonverbal pasien tetang tubuh
pasien.
2. Tentukan harapan pasien tentang gambaran tubuh berdasarkan tahap
perkembangan.
3. Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin dan usia dari orang penting
bagi pasien menyangkut citr tubuh.
4. Patau frekuensi pernyataan yang mengkritik.
5. Edukasi keluarga/pasien tentang pentingnya respon mereka terhadap
perubahan tubuh anak dan penyesuaian di kemudian hari, sesuai dengan
kebutuhan.
6. Kolaborasi :
a. Rujuk ke layanan social untuk merencanakan perawatan dengan
pasien/keluarga.
b. Tawarkan untuk melakukan panggilan pada sumbe-sumber komunitas
yang tersedia untuk pasien/keluarga.

13
7. Dengarkan pasien/keluarga secara aktif dan akui realitas adanya perhatian
terhadap perawatn, kemajuan dan prognosis.
8. Beri dorongan kepada pasien/keluarga untuk mengungkapkan perasaan.
9. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan
kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan.
10. Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan
martabat pasien.
11. Beri dorongan kepada pasien untuk :
a. Pertahankan kebiasaan berpakaian sehari-hari yang rutin dilakukan.
b. Mengungkapkan perhatian tentang hubungan personal yang dekat.
c. Mengungkapkan konsekuensi perubahan fisik dan emosional yang dapat
mempengaruhi konsep diri.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus
atau tertutupnya anus secara abnormal. Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah
kondisi dimana rektal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam
kandungan. Keadaan ini disebabkan oleh karena gangguan perkembangan embrional
berupa tidak sempurnanya kanalisasi saluran pencernaan bagian bawah, yaitu
gangguan pertumbuhan septum urorektal, dimana tidak terjadi perforasi membran
yang memisahkan bagian entodermal dengan bagian ektodermal.

B. Saran
Untuk anak dengan atresia ani sangat penting diperlukan pendekatan kepada orang tua
agar mereka mengetahui masalah tindakan yang diperlukan untuk perawatan anaknya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, W. (2012). Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Kelainan Konginetal.


Jakarta: CV. Trans Info Media.

Alimul, H. A. (2008). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Rita, S. &. (2010). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Agung Seto.

16