Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatu...


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan judul “PENGARUH BUFFER KALIUM FOSFAT DAN NATRIUM
FOSFAT TERHADAP PRODUKSI LISTRIK DALAM SISTEM
MICROBIAL FUEL CELL (MFC) DENGAN LACTOBACILLUS
BULGARICUS PADA WHEY TAHU”
Makalah ini di persiapkan dan di susun untuk memenuhi tugas kuliah serta
menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, di dalam makalah ini kami menyadari
bahwa penulisanya masih sangat sederhana dan jauh dari kesempurnaan. Namun,
besar harapan kami semoga makalah yang disusun ini bisa bermanfaat. Kami
selaku penulis makalah ini dapat terselesaikan atas usaha keras kami dan bantuan
rekan-rekan dalam diskusi untuk mengisi kekuranganya.
Dalam pembuatan makalah ini kami sangat menyadari bahwa baik dalam
penyampaian maupun penulisan masih banyak kekurangannya untuk itu saran dan
kritik dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk penunjang dalam
pembuatan makalah kami berikutnya.
Kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Pembimbing, Ibu Zuri
Skep., Ns.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatu...

Pekanbaru, 20 Januari 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................


DAFTAR ISI ...................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.................................................................................
1.2. Rumusan Masalah ...........................................................................
1.3. Tujuan Penelitian .............................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ...........................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Larutan....................................................................
2.2. ...... ...................................................................................................
Dst.. .........................................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1. Jenis dan Desain Penelitian .............................................................
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian .......................................................
3.3.1. Populasi .................................................................................
3.3.2. Sampel ...................................................................................
3.4. Definisi Operasional ........................................................................
3.5. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ..................................................
3.6. Pengolahan Data ..............................................................................
3.7. Analisa Data.....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

2
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Buffer adalah suatu substansi atau sekelompok substansi yang dapat mengabsorps,
atau melepaskan ion-ion hidrogen untuk memperbaiki adanya ketidakseimbangan
asam-basa.
Cairan tubuh tidak statis. Cairan dan elektrolit berpindah dari satu kompartemen
ke kompartemen lain untuk memfasilitasi proses – proses yang terjadi di dalam
tubuh, seperti oksigenasi jaringan, respons terhadap penyakit, keseimbangan
asam-basa, dan respons terhadap terapi obat. Cairan tubuh dan elektrolit
berpindah melalui difusi, osmosis, transportasi aktif, atau filtrasi. Perpindahan
tersebut bergantung pada permeabilitas membrane sel atau kemampuan membrane
untuk ditembus cairan dan elektrolit.
Untuk mempertahankan kesehatandibutuhkan keseimbangan cairan, elektrolit dan
asam-basa di dalam tubuh. Banyak factor yang dapat menyebabkan
ketidakseimbangan salah satunya karena penyakit.
Orang dewasa yang sehat, aktif bergerak, dan memiliki orientasi yang baik
biasanya dapat mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa
yang normal karena mekanisme adaptif tubuhnya. Namun bayi, orang dewasa
yang menderita penyakit berat, klien dengan gangguan orientas atau klien yang
immobile, serta lansia sering kali tidak mampu merespn secara mandiri.
Kandungan air dari tubuh seseorang kerap kali dikatakan sebanyak 70% dari berat
badan. Lebih tepat dikatakan bahwa kandungan air pada tubuh seseorang adalah
70% dari berat tubuh bebas lemak. Jaringan lemak pada tubuh mengandung
sedikit air. Berat lemak pada tubuh seseorang berkisar antara 10-40% dari BB.
Variasi dari kandungan lemak badan ini menyebabkan kandungan air tubuh, bila
dibandingkan dengan BB keseluruhannya berkisar antara 40-70% BB
keseluruhan. Kandungan rata-rata ialah sekitar 60% untuk laki-laki yang berusia
antara 17-40 tahun dan 51% untuk perempuan pada rentang usia yang sama. Jadi,

3
angka 60% dari BB akan digunakan sebagai gambaran yang masuk akal bagi air
tubuh total.
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap
sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan satu
bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan
komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh.
1.2 Tujuan Penelitian
Mahasiswa dapat lebih memahami kandungan dan derajat keasaman di dalam
cairan tubuh manusia, baik normal maupun yang kurang dari normal.
1.3 Manfaat Penelitian

4
BAB 11 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Cairan Tubuh dan Keseimbangan Asam Basa (Sistem Buffer)
Cairan tubuh merupakan cairan yang terdapat di dalam tubuh manusia atau hewan
yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Contoh cairan tubuh adalah: Darah dan
plasma darah, Sitosol, Cairan serebrospinal, Korpus vitreum maupun humor
vitreous, Serumen, Humor aqueous, Cairan limfa, Cairan pleura, Cairan amnion

Gambar 2.1
2.2 Fungsi Air/Cairan Tubuh
1. Pelarut universal :
 Senyawa bergerak lbh cepat dan mudah
 Berperan dalam reaksi kimia contoh : Glucose larut dalam darah dan
masuk ke sel
2. Pengaturan suhu tubuh
 Mampu menyerap panas dlm jumlah besar
 Membuang panas dari jaringan yang menghasilkan panas, contoh : Otot-
otot selama excercise
3. Pelicin : Mengurangi gesekkan
4. Reaksi-reaksi kimia : Pemecahan karbohidrat & pembentukan protein
5. Pelindung : Cairan Cerebro-spinal, cairan amnion

Air merupakan yang terpenting untuk berbagai fungsi tubuh dan kadarnya harus
tetap dijaga sehingga keasaman cairan tubuh harus dijaga agar tetap konstan.
Setiap perubahan pH akan mempengaruhi semua reaksi kimia dalam tubuh. Enzin

5
dan protein fungsional lainnya, seperti sitokrom dan hemoglobin, memiliki pH
optimum untuk bekerja dengan baik sehingga sangat terpengaruh oleh perubahan
pH yang sedikit sekalipun.

2.3 Pentingnya larutan elektrolit

Dalam tubuh manusia, elektrolit sangat vital keberadaannya, karena terkait


dengan segala mekanisme tubuh termasuk metabolism yaitu sebagai ion
pengaktif enzim, pembentuk hormon, melancarkan implus pada syaraf, serta
mekanik pada sel2 tubuh, seperti aktivitas permeabilitas membran sel. selain
dibutuhkan untuk tubuh, larutan elektrolit juga umum digunakan untuk
elektrokimia sperti pengisi pada ACCU, baterai, ataupun jembatan garam.

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh
tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah
merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan
dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan
tubuh.Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat
tertentu (zatterlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-
partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan
dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan
cairanintravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan
cairandan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total
danelektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan
elektrolitsaling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu
terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.Cairan tubuh dibagi
dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dancairan ekstraseluler.
Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel diseluruh tubuh,
sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luarsel dan terdiri
dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairaninterstitial dan
cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan didalam sistem
vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel,sedangkan

6
cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairanserebrospinal,
cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.

Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan
nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam
larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen,
karbon dioksida danasam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh
mencakup natrium (Na+),kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++),
Klorida (Cl-), bikarbonat(HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-
).Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian
dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap
bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-
muatannegatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif.

Contoh larutan yang termasuk kedalam larutan elektrolit dan non elektrolit

1. Berdasarkan jenis larutan

a. Larutan asam (zat yang melepas ion H+ jika dilarutkan dalam air),
contohnya adalah:

 Asam klorida/asam lambung : HCl.


 Asam florida : HF
 Asam sulfat/air aki : H2SO4
 Asam asetat/cuka : CH3COOH
 Asam sianida : HCN
 Asam nitrat : HNO3
 Asam posfat : H3PO4
 Asam askorbat/Vit C

b. Larutan basa (zat yang melepas ion OH- jika dilarutkan dalam air),
contohnya adalah:

 Natrium hidroksida/soda kaustik : NaOH


 Calcium hidroksida : Ca(OH)2

7
 Litium hidroksida : LiOH
 Kalium hidroksida : KOH
 Barium hidroksida : Ba(OH) 2
 Magnesium hidroksida : Mg(OH)2
 Aluminium hidroksida : Al(OH)3
 Besi (II) hidroksida : Fe(OH)2
 Besi (III) hidroksida : Fe(OH)3
 Amonium hirdoksida : NH4OH

a. Larutan garam (zat yang terbentuk dari reaksi antara asam dan basa),
contohnya adalah:

 Natrium klorida/Garam dapur: NaCl


 Ammonium clorida : NH4Cl
 Ammonium sulfat : (NH4)2SO4
 Calcium diklorida : CaCl2

2. Berdasarkan jenis ikatan:

Senyawa ion (senyawa yang terbentuk melalui ikatan ion), contohnya adalah:
NaCl, CaCl2, AlCl3, MgF2, LiF (sebagian besar berasal dari garam)

Senyawa kovalen polar (senyawa melalui ikatan kovalen yang bersifat


polar/memiliki perbedaan keelektronegatifan yang besar antar atom),
contohnya adalah: HCl, NaOH, H2SO4, H3PO4, HNO3, Ba(OH)2 (berasal
dari asam dan basa)

2.4. Larutan elektrolit dan non elektrolit

Pada tahun 1884, Svante Arrhenius, ahli kimia terkenal dari Swedia
mengemukakan teori elektrolit yang sampai saat ini teori tersebut tetap
bertahan padahal ia hampir saja tidak diberikan gelar doktornya di
Universitas Upsala, Swedia, karena mengungkapkan teori ini. Menurut
Arrhenius, larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke dalam partikel-partikel
bermuatan listrik positif dan negatif yang disebut ion (ion positif dan ion

8
negatif) Jumlah muatan ion positif akan sama dengan jumlah muatan ion
negatif, sehingga muatan ion-ion dalam larutan netral. Ion-ion inilah yang
bertugas mengahantarkan arus listrik. Larutan yang dapat menghantarkan arus
listrik disebut larutan elektrolit.

Larutan ini memberikan gejala berupa menyalanya lampu atau timbulnya


gelembung gas dalam larutan. Larutan elektrolit mengandung partikel-
partikel yang bermuatan (kation dan anion). Berdasarkan percobaan yang
dilakukan oleh Michael Faraday, diketahui bahwa jika arus listrik dialirkan
ke dalam larutan elektrolit akan terjadi proses elektrolisis yang menghasilkan
gas. Gelembung gas ini terbentuk karena ion positif mengalami reaksi reduksi
dan ion negatif mengalami oksidasi. Contoh, pada laruutan HCl terjadi reaksi
elektrolisis yang menghasilkan gas hidrogen sebagai berikut.

HCl(aq)→ H+(aq) + Cl-(aq)

Reaksi reduksi : 2H+(aq) + 2e- → H2(g)

Reaksi oksidasi : 2Cl-(aq) → Cl2(g) + 2e-

Pada larutan elektrolit kuat, seluruh molekulnya terurai menjadi ion-ion


(terionisasi sempurna). Karena banyak ion yang dapat menghantarkan arus listrik,
maka daya hantarnya kuat. pada persamaan reaksi, ionisasi elektrolit kuat ditandai
dengan anak panah satu arah ke kanan.

Contoh :
NaCl(s) → Na+ (aq) + Cl- (aq)

Contoh larutan elektrolit kuat :

Asam, contohnya asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3), asam klorida (HCl)

Basa, contohnya natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH), barium


hidroksida (Ba(OH)2)

Garam, hampir semua senyawa kecuali garam merkuri

Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat memberikan nyala redup
ataupun tidak menyala, tetapi masih terdapat gelembung gas pada elektrodanya.
Hal ini disebabkan tidak semua terurai menjadi ion-ion (ionisasi tidak sempurna)
sehingga dalam larutan hanya ada sedikit ion-ion yang dapat menghantarkan arus

9
listrik. Dalam persamaan reaksi, ionisasi elektrolit lemah ditandai dengan panah
dua arah (bolak-balik).

Contoh :

CH3COOH(aq) ↔ CH3COO- (aq) + H+ (aq)

Contoh senyawa yang termasuk elektrolit lemah :

CH3COOH, HCOOH, HF, H2CO3, dan NH4OH


Larutan elektrolit dapat bersumber dari senyawa ion (senyawa yang mempunyai
ikatan ion) atau senyawa kovalen polar (senyawa yang mempunyai ikatan kovalen
polar)

Sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan
arus listrik dan tidak menimbulkan gelembung gas. Pada larutan non elektrolit,
molekul-molekulnya tidak terionisasi dalam larutan, sehingga tidak ada ion yang
bermuatan yang dapat menghantarkan arus listrik.

Contoh : larutan gula, urea

10
BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan makalah ini adalah :

1. Larutan adalah campuran homogen (serbasama) terdiri dari zat terlarut


(jumlahnya sedikit) dan zat pelarut (jumlahnya banyak). solute (zat terlarut):
zat yang berperan sebagai terlarut dalam jumlah sedikit solvent (zat pelarut):
zat yang berperan sebagai pelarut dalam jumlah banyak.
2. Berdasarkan daya hantar listrik, ditandai dengan lampu nyala, redup dan tidak
menyala dan didapatkan gelembung gas pada elektroda disebut larutan
elektrolit. Sedangkan larutan non elektrolit akan didapatkan lampu tidak
menyala dan tidak ada gelembung gas.
3. Larutan elektrolit dapat menghantarkanlistrik karena terjadi proses ionisasi
sedangkan larutan non elektrolit tidak terjadi proses ionisasi (proses ionisasi
atau reaksi kimia : proses terbentuknya ion positif dan negatif dari suatu zat
yang dilarutkan ke dalam air).
4. Larutan elektrolit dapat dibedakan menjadi elektrolit kuat dan elektrolit
lemah. Adanya larutan elektrolit kuat ditandai dengan gelembung gas banyak
dan lampu nyala terang. Sedangkan elektrolit lemah gelembung sedikit dan
lampu nyala redup atau bahkan tidak menyala. Kelompok larutan elektrolit :
larutan garam, cuka dapur, asam klorida, air accu, air hujan, air kali dan air
sumur. Kelompok larutan non elektrolit : larutan urea, larutan gula, larutan
alkohol.
5. Elektrolit ditinjau dari jenis ikatan, didapatkan senyawa ion, yang berikatan
dan senyawa kovalen polar yang berikatan kovalen polar.

11
DAFTAR PUSTAKA

(Indonesia) Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., Nachtrieb, N.H. (2001) Prinsip-prinsip


Kimia Modern. Edisi ke-4. Jilid 1. Diterjemahkan oleh S.S. Achmadi. Jakarta:
Erlangga.

Barbara Kozier, Fundamental Of Nursing Concept, Process and Practice,


FifthEdition, Addison Wsley Nursing, California, 1995Dolores F. Saxton,
Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN, SixteenthEdition, Mosby,
St. louis, Missouri, 1999.Sylvia Anderson Price, Alih : Peter Anugerah,
Pathofisiologi Konsep KlinisProses-proses Penyakit, Edisi kedua, EGC, Jakarta,
1995

12