Anda di halaman 1dari 10

UNIVERSITAS INDONESIA

POLICY REVIEW PAPER


ANALISIS EFEKTIVITAS PENETAPAN KENAIKAN
SUKU BUNGA ACUAN BANK INDONESIA

Diajukan untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Genap

Disusun oleh:
Bernardus Nathanael A. H. (1606889446)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2019
Statement of Authorship

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa tugas akhir terlampir adalah murni hasil
pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain
kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menyatakan menggunakannya.

Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan
untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Nama : Bernardus Nathanael Aditya Hartanto


NPM : 1606889446
Tanda Tangan :
Mata Ajaran : Perekonomian Indonesia
Judul Tugas : Analisis Efektivitas Penetapan Kenaikan Suku Bunga Acuan Bank Indonesia
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Mei 2018
Dosen : T. M. Zakir Machmud
Asisten : M. F. Fijratullah

1
Daftar Isi

Latar Belakang​…………………………………………………………………………..………………...3

Teori dan Tinjauan Literatur Empiris​…………………………………………....……………………...


4

Metode Analisis​…………………………………………………………………………...………………. 6

Analisis Hasil​……………………………………………………………………...………………………. 6

Kesimpulan​……………………………………………………………………..…………………………. 8

Referensi​…………………………………………………………………………..………………………..9

2
Latar Belakang

Pada bulan Desember tahun 2018, Bank Indonesia kembali mengadakan Rapat Dewan Gubernur
dengan hasil keputusan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%,
suku bunga ​Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga ​Lending Facility sebesar 6,75%. Kebijakan
tersebut dirasa konsisten untuk dua tujuan yaitu menurunkan defisit transaksi berjalan dalam ambang
batas aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik sembari mempertimbangkan tren
perkembangan suku bunga global. Terlihat tujuan pertama mulai tercapai pada triwulan ke-IV di tahun
2018, meskipun defisit transaksi berjalan Indonesia masih dibawah namun mendekati ambang batas 3%
yaitu 2,98% dari PDB, tetapi terjadi peningkatan tren di triwulan IV 2018 dari 3,37% menjadi 3,57% dari
PDB. Meskipun demikian, setelah dilakukan penaikan BI7DRR pada bulan November 2018, hingga
mencapai 6,00%, terlihat walaupun masih defisit neraca nilai perdagangan Indonesia mengalami
penurunan defisit pada bulan Desember 2018, dari defisit 1,996 miliar dolar AS menjadi defisit 1,031
miliar dolar AS karena mulai diberlakukannya kebijakan penaikan BI7DRR, walaupun permintaan
domestik yang masih tinggi sehingga ekspor masih defisit. Pada bulan Januari 2019, peningkatan defisit
kembali terjadi menjadi 1,063 miliar dolar AS. Hal ini diakibatkan oleh ekspor yang masih terbatas akibat
pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai. Namun, akhirnya terjadi surplus yang berlanjut dari bulan
Februari hingga Maret 2019, berturut-turut, surplus 329,9 juta dollar AS dan 540,2 juta dollar AS, sejalan
dengan penurunan impor nonmigas pada triwulan I 2019. Pada Maret 2019. Aktivitas ekspor-impor di
negara berkembang terkoreksi setelah tahun lalu menurun karena adanya aksi ​front-loading Tiongkok.
Dibandingkan tahun 2018, ekspor dan impor nilainya menurun masing-masing sebesar 10,01%
year-on-year ​(yoy) dan 6,76% (yoy). Penyebabnya tak lain dikarenakan pertumbuhan ekonomi dunia
yang melambat dan harga komoditas global menurun terutama pada sektor pertanian dan pertambangan,
hingga sektor migas. Namun, konsumsi tetap tinggi, didukung daya beli dan keyakinan konsumen yang
terjaga, stimulus fiskal yang berlanjut khususnya melalui belanja sosial, serta belanja terkait persiapan
Pemilu. Untuk tujuan kedua, Rupiah menguat 1,05% secara point to point dan 0,85% secara rerata,
didukung aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik. Investasi memang sedikit
melambat pada triwulan I 2019 akibat pola musiman awal tahun, namun diprediksi akan kembali menguat
pada triwulan-triwulan berikutnya didukung dengan proyek infrastruktur. Selain itu, perkembangan
ekonomi dan keuangan global AS, Uni Eropa, dan Tiongkok yang melambat menjadikan aliran modal
asing yang masuk ke Indonesia yang besar terutama di pasar Surat Berharga Negara, sedangkan pasar
saham mencatat aliran keluar. Aliran masuk modal asing pada Februari 2019 tercatat sebesar 4,03 miliar
dolar AS terutama pada instrumen SUN Rupiah. Sementara pada sektor swasta, instrumen investasi

3
portofolio non-residen pada saham tercatat keluar sehubungan masih tingginya ketidakpastian global dan
ketegangan perdagangan AS dengan negara lain. Esai ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas suku bunga
acuan Bank Indonesia dalam mengurangi jumlah impor dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap
mata uang asing.

Teori dan Tinjauan Literatur Empiris

Bank Indonesia 7 Days (Reverse) Repo Rate (BI7DRR) adalah tingkat suku bunga kebijakan
yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan
kepada publik yang mempengaruhi secara cepat dan memiliki hubungan kuat ke suku bunga deposito dan
suku bunga perbankan. BI7DRR ini dipakai oleh Bank Indonesia sebagai sasaran operasional dalam
mencapai sasaran akhir inflasi dan pertumbuhan ekonomi melalui instrumen operasi pasar terbuka. Bank
Indonesia mempertahankan BI7DRR yang sebelumnya naik menjadi sebesar 6,00% pada 20 Desember
2018 dengan tujuan untuk menurunkan tingkat defisit transaksi berjalan dan memperkuat daya tarik aset
keuangan domestik dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan.

Transmisi kebijakan BI7DRR dapat dijelaskan dengan menggunakan model-model dan kurva
berikut untuk mencapai kedua tujuan tersebut:
1. Kurva ​saving-investment

Gambar 1. Kurva ​saving-investment


Sumber: naifun.com
2. Model Pendapatan Nasional
P*
Y = C + I + G + CA (E P , Y)
Y = Pendapatan nasional E = Nilai tukar nominal
C = Konsumsi masyarakat P* = Harga barang jasa luar negeri
I = Investasi P = Harga barang jasa dalam negeri
G = Pengeluaran pemerintah Y = Pendapatan

4
CA = Transaksi berjalan

3. Model ​interest rate parity

RRp = RU S$ +
( E e Rp − E
U S$
Rp
U S$
)
E Rp
U S$

RRp = suku bunga domestik


RU S$ = suku bunga AS
e
E Rp = ekspektasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
U S$

E Rp = nilai tukar rupiah terhadap dolar AS


U S$

Dapat dilihat dari model dan kurva yang ada di atas bahwa kebijakan BI7DRR dapat menjadi alat
untuk mencapai dua tujuan utamanya. Untuk tujuan pertama, dapat dicapai menggunakan transmisi dari
model kurva ​saving-investment,​ dimana dengan adanya kenaikan BI7DRR akan menaikan suku bunga
perbankan ke tingkat yang lebih tinggi dan akan mengakibatkan tingkat investasi yang lebih rendah.
Sehingga ​output yang dihasilkan pun akan menjadi lebih rendah karena adanya pergerakan ke atas di
sepanjang kurva. Penurunan tingkat output inilah yang akan berdampak pada model pendapatan nasional.
Pendapatan nasional memiliki korelasi negatif dengan ​current account atau transaksi berjalan. Transaksi
berjalan sendiri merupakan fungsi dari nilai tukar riil dan pendapatan, sehingga jika ​output turun maka
akan menurunkan pendapatan pula. Penurunan pendapatan akan membuat kenaikan pada transaksi
berjalan yang berarti penurunan permintaan impor. Transmisi yang disebut ​expenditure reducing inilah
yang menjadikan kenaikan suku bunga dapat mengurangi defisit transaksi berjalan. Tujuan kedua untuk
meningkatkan daya tarik aset domestik dapat dicapai dengan menggunakan model ​interest rate parity​.
Naiknya suku bunga domestik berdampak pada meningkatnya permintaan pasar terhadap mata uang
rupiah yang meningkatkan daya tarik aset domestik tersebut. Nilai tukar rupiah pun akan semakin besar
dengan banyaknya modal asing yang diinvestasikan.

Metode Analisis

Pada ​policy review ​paper ini, metode yang digunakan untuk menganalisis kebijakan pemerintah
dalam menetapkan suku bunga dan tercapainya tujuan tersebut adalah metode analisis deskriptif
menggunakan data-data yang telah dikumpulkan terlebih dahulu. Data-data yang dikumpulkan adalah
pergerakan ekspor impor Indonesia dan pergerakan nilai tukar rupiah. Melalui data yang dikumpulkan ini

5
dapat terlihat apakah ada temuan signifikan pada hubungan antara penetapan kenaikan BI7DRR dan
tercapainya tujuan penurunan defisit transaksi berjalan melalui penurunan impor dan peningkatan daya
tarik aset domestik melalui penguatan nilai tukar Rupiah.

Analisis Hasil

Kebijakan moneter yang ditetapkan Bank Indonesia dilakukan dengan menggunakan mekanisme
transmisi sampai mempengaruhi inflasi yang ada. Dampak dari mekanisme ini biasanya baru akan terlihat
dua hingga tiga bulan kemudian karena adanya ​lag (tenggang waktu) dan akan disesuaikan kembali
mengingat kebijakan moneter sendiri sebenarnya hanya efektif pada jangka pendek dan menjadi tidak
efektif pada jangka panjang. Sehingga, kebijakan penetapan suku bunga BI7DRR baru dapat dievaluasi
pada bulan Februari-Maret. Secara keseluruhan digunakan data triwulan I 2019 untuk mengulas
efektivitas dari kebijakan tersebut. Berikut data ekspor impor Indonesia pada triwulan I 2019.

Tabel 1. Neraca Perdagangan Indonesia, Desember 2018-Maret 2019 (US$ Juta)


Sumber: Badan Pusat Statistik

Penetapan BI7DRR pada analisis kali ini diputuskan pada 20 Desember 2018, diasumsikan terjadi
lag akibat ​administrative ​selama satu dua bulan, dimana setelah adanya kebijakan seharusnya kondisi
perdagangan internasional tidak langsung berubah, karena adanya penyesuaian suku bunga kredit
terhadap BI7DRR. Suku bunga kredit secara umum tidak terlalu peka terhadap perubahan suku bunga
atau elastis, sementara itu suku bunga deposito akan selalu berubah menyesuaikan dengan suku bunga
ketetapan BI7DRR sehingga sebanding terhadap perubahan atau elastis uniter. Namun, pada data bulan
Januari 2019 ternyata sudah terjadi penurunan nilai impor baik dari migas dan nonmigas dari 15.364,9
juta dolar AS turun sebesar 2,19% ​month-to-month ​(mtm) menjadi 14.991,4 juta dolar AS. Tampaknya
pergerakannya sudah sejalan dengan kebijakan yang ditempuh, namun pada Januari 2019 neraca
perdagangan masih defisit akibat ekspor migas yang turun 29,3% dibandingkan bulan sebelumnya,

6
namun hal tersebut sebenarnya sebanding dengan penurunan impor migas 16,58% dibandingkan bulan
sebelumnya. Penurunan ekspor ini diakibatkan oleh harga minyak mentah dunia yang turun yang
mengakibatkan pada defisit dalam neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, tidak adanya ​recognition lag
antara bulan Desember 2018 dan Januari 2019 dikarenakan memang kenaikan BI7DRR sudah dilakukan
dari Oktober 2018, untuk bulan Desember 2018 hanya ditetapkan kembali.Pada bulan Februari penurunan
nilai impor terjadi sebesar 18,61% sejalan dengan kebijakan. Impor nonmigas yang turun drastis 20,14%
(mtm) karena menurunnya permintaan domestik menjadi penyumbang surplus neraca perdagangan
Indonesia. Namun, pada Maret 2019, impor kembali naik 10,31% (mtm) yang disebabkan kenaikan impor
nonmigas sebanyak 12,94% (mtm). Namun, sebenarnya impor migas sendiri turun sebesar 2,7% (mtm)
karena harga komoditasnya yang turun. Tetapi, neraca perdagangan meningkat surplusnya 63,75% (mtm)
ditopang oleh ekspor nonmigas yang naik drastis sebesar 13% (mtm), walaupun ekspor migas turun
1,75% (mtm). Ekspor dan impor nonmigas cenderung turun karena penurunan harga minyak dunia. Dapat
dianalisis bahwa sebenarnya kegiatan impor tidak terlalu peka sebenarnya terhadap perubahan suku bunga
khususnya penetapan kenaikan BI7DRR. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor yang
paling utama pada analisis ini adalah bahwa kegiatan impor sebenarnya sangat peka atau elastis terhadap
perubahan harga komoditas dunia, sehingga naik turunnya nilai impor pun tergantung naik turunnya
harga. Selain itu, adanya kontrak jumlah ekspor dan impor jangka panjang menyebabkan ekspor dan
impor cenderung kurang fleksibel dalam menyesuaikan dengan perubahan BI7DRR. Faktor lain yang
mempengaruhi adalah tingkat suku bunga kredit yang tidak langsung disesuaikan dengan BI7DRR oleh
perbankan karena perlu diperhatikan kondisi-kondisi seperti likuiditas, kredit macet (NPL), tren bisnis,
dan lain-lain. Di luar itu, karena kebijakan moneter yang hanya efektif pada jangka waktu pendek
mungkin saja kebijakan ini sudah harus dievaluasi dan disesuaikan kembali.

Untuk tujuan kedua, dampak penetapan BI7DRR


sudah dapat terlihat jelas. Terlihat pada Februari
2019, Rupiah menguat 0,87% secara rata-rata
harian. Hingga tanggal 19 Maret, Rupiah ditutup
pada level Rp14.230 per dollar AS, yang artinya
menguat 0,85% secara rerata atau 1,05% secara
point-to-point​. Sehingga dari grafik tersebut
dapat dilihat keefektifan dari kebijakan
penetapan BI7DRR. Selain itu, memang
meredanya sentimen eksternal karena negosiasi
dagang antara AS dan Tiongkok, juga kebijakan

7
moneter the Fed yang menurunkan keagresifannya menjadi faktor yang menentukan dinamika Rupiah.
Dengan menguatnya Rupiah yang meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik, mengakibatkan
peningkatan pada aliran masuk modal asing pada pasar surat berharga negara dari Rp30,5 triliun pada
Januari 2019 menjadi Rp30,8 triliun pada Februari 2019. Konsentrasi terbesar terdapat pada SUN yang
diikuti berturut-turut oleh SBI dan SBSN. Namun pada pasar saham, terjadi aliran keluar sebesar Rp3,4
triliun yang diperkirakan akibat investasi yang berkurang dalam negeri akibat kebijakan moneter itu
sendiri.

Tercapainya tujuan-tujuan tersebut dapat


dievaluasi dengan melihat bagaimana tingkat
inflasi yang terjadi pada triwulan I 2019.
Inflasi Inti pada bulan Februari tercatat 0,26 %
(mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi
bulan Januari 2019 sebesar 0,30% (mtm).
Ekspektasi inflasi hasil survey ​Consensus
Forecast (CF) bulan Maret 2019 yaitu sebesar
3,4% (average yoy), tidak mengalami
perubahan dibandingkan hasil survei bulan
sebelumnya. Inflasi Inti sendiri dipengaruhi
faktor fundamental seperti nilai tukar, harga
komoditi internasional, dan inflasi mitra dagang. Dapat menjadi temuan penting bahwa terkendalinya
inflasi didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, yaitu
menjaga pergerakan nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan menjaga nilai impor untuk mengurangi
defisit transaksi berjalan.

Kesimpulan

Pencapaian dua tujuan atas penetapan tingkat suku bunga BI7DRR pada tanggal 20 Desember
oleh Bank Indonesia dapat dikatakan tercapai dengan lumayan efektif. Untuk tujuan pertama, segera
setelah ditetapkan BI7DRR, langsung mengalami penurunan impor dari awal Januari 2019 hingga
Februari 2019, karena sudah tidak adanya ​recognition lag ​karena kenaikan sudah dilakukan pada bulan
Oktober 2019 dan pada Desember 2018 hanya ditetapkan kembali. Pada Maret 2019, terjadi lagi kenaikan
impor. Hal ini bisa dikarenakan beberapa faktor, yaitu kegiatan impor yang sangat elastis terhadap harga
komoditas dunia, adanya kontrak jumlah impor dan ekspor jangka panjang, dan suku bunga kredit yang
tidak langsung menyesuaikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penetapan BI7DRR terasa cukup

8
signifikan di awal hingga pertengahan triwulan I 2019, namun mulai tidak lagi berdampak saat memasuki
bulan Maret 2019 setelah berjalan hampir tiga bulan di triwulan I 2019 ini. Sementara itu, untuk tujuan
kedua tampaknya setelah dilakukan kebijakan tersebut, langsung terlihat Rupiah menguat secara rerata
0,85% atau secara ​point-to-point 1,05% pada triwulan I 2019. Walaupun nilai tukar Rupiah naik turun,
namun hal tersebut lebih dikarenakan kondisi eksternal ketidakpastian pasar keuangan global. Dapat
diamati bahwa kondisi tersebut sebenarnya cenderung stabil. Berhasil atau tidaknya pencapaian
tujuan-tujuan tersebut sebenarnya dapat dilihat dari pergerakan Inflasi Inti tercatat mengalami deflasi
pada Februari 2019 sebesar 0,26% (mtm) dan diekspektasikan akan menetap di angka 3,4% (yoy).
Adanya temuan pada pergerakan inflasi ini dapat menjadi bukti bahwa kebijakan penetapan kenaikan
BI7DRR mampu mengendalikan inflasi dan mengarahkan ekspetasi inflasi lewat penjagaan nilai impor
dan penjagaan nilai tukar Rupiah.

Referensi

Badan Pusat Statistik. 2019. ​Berita Resmi Statistik: Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Maret
2019 (No. 24/03/Th.XXII).​ Jakarta: Badan Pusat Statistik. Diakses dari
https://www.bps.go.id/pressrelease/2019/04/15/1568/ekspor-maret-2019-mencapai-us-14-03-mili
ar--sedangkan-nilai-impor-mencapai-us-13-49-miliar.html​.

Bank Indonesia. 2016. ​Penjelasan BI 7-day (Reverse) Repo Rate​. Jakarta: Bank Indonesia. Diakses dari
https://www.bi.go.id/id/moneter/bi-7day-RR/penjelasan/Contents/Default.aspx

Bank Indonesia. 2019. ​Tinjauan Kebijakan Moneter Maret 2019​. Jakarta: Bank Indonesia. Diakses dari
https://www.bi.go.id/id/publikasi/kebijakan-moneter/tinjauan/Pages/Tinjauan-Kebijakan-Moneter
-Maret-2019.aspx​.

Cho, D. 2005. Interest Rate, Inflation, and Housing Price: With an Emphasis on Chonsei Price in Korea​.
Cambridge: National Bureau of Economics Research.

Hall, R. dan Lieberman, M. 2007. ​Macroeconomics: Principles and Applications​. Boston: Cengage
Learning.

Krugman, P. R. dan Obstfeld, M. 2012. ​International Economics: Theory and Policy.​ Boston: Pearson
Addison-Wesley.

Walsh, C. E. 2017. ​Monetary Theory and Policy.​ Boston: MIT Press.