Anda di halaman 1dari 16

MANAJEMEN TATA NIAGA BISNIS

DOKUMEN EKSPOR IMPOR

OLEH :

KELOMPOK 5 – 4F

KADEK TRISNA PRATIKASARI (1615644039/04)

NI NYOMAN PERMATA SARI (1615644072/09)

KOMANG TRI RAHAYUNITA WIDHI ASTUTI (1615644086/13)

D4 AKUNTANSI MANAJERIAL

POLITEKNIK NEGERI BALI

JIMBARAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-

Nya penulis bisa menyelesaikan makalah mengenai “Dokumen Ekspor Impor” dapat

diselesaikan tepat pada waktunya.

Adapun maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam

menyelesaikan mata kuliah Manajemen Tata Niaga Bisnis. Dalam menyusun makalah ini

penulis banyak menerima bantuan dan pendapat yang bisa dijadikan pedoman dan pegangan

sehingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak

terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan sehingga jauh

dari kesempurnaan, hal ini mengingat terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang penulis

miliki. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi

sempurnanya makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Dokumen Ekspor Impor” ini dapat

memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Badung , April 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... 1


BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................ 3
BAB II ISI .............................................................................................................................................. 4
2.1 Dokumen Induk ......................................................................................................................... 4
2.2 Dokumen Penunjang .................................................................................................................. 8
2.3 Dokumen Tambahan ................................................................................................................ 11
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................. 13
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 13
3.2 Saran .......................................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Dokumen - dokumen dalam kegiatan Ekspor – Impor merupakan aspek lain dari
perdagangan internasional tersebut yang sama pentingnya adalah dokumen-dokumen yang
diisyaratkan. Tanpa dokumen tersebut, seorang eksportir tidak akan memperoleh
pembayaran dan bank yang menegosier Letter of Credit (L/C) tersebut.
Semua jenis dokumen yang terdapat dalam perdagangan internasional (ekspor impor),
baik yang dikeluarkan pengusaha, perbankan, pelayaran, dan instansi lainnya mempunyai
arti dan peranan penting. Oleh sebab itu semua dokumen yang menyangkut kegiatan
tersebut harus dibuat dan diteliti dengan seksama. Dokumen tersebut bukan hanya penting
eksportir tetapi juga importir maupun bank, atau dengan kata lain dokumen tersebut penting
bagi semua pihak yang terlibat dalam pembukaan Letter of Credit (L/C) yang bersangkutan.
Jadi Letter of Credit (L/C) tersebut harus secara khusus menyatakan dokumen-dokumen
yang diisyaratkan. Dokumen-dokumen dalam perdagangan internasional (ekspor impor)
tersebut dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok yaitu dokumen induk, dokumen
penunjang dan dokumen pembantu.
Dalam perdagangan bebas internasional, pengetahuan dibidang bisnis ekspor impor dan
perdagangan bebas internasional sangat menentukan daya saing kita. Dengan
menggunakan kemudahan atau fasilitas yang ada peraturan perdangan ekspor impor,
konsep, cara atau prosedur ekspor impor dapat meningkatkan kepercayaan dan kemampuan
aktivitas ekspor impor Indonesia, serta menghapus keraguan untuk melakukan bisnis
internasional dalam kerangka perdagangan bebas internasional.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan dokumen induk ?
2. Apa yang dimaksud dengan dokumen penunjang ?
3. Apa yang dimaksud dengan dokumen pembantu ?

3
BAB II

ISI

2.1 Dokumen Induk


Yang dimaksud dengan dokumen induk adalah dokumen inti yang dikeluarkan oleh
Badan Pelaksana Utama Perdagangan Internasional, yang memiliki fungsi sebagai alat
pembuktian pelaksanaan suatu transaksi.. Yang termasuk dalam dokumen ini antara lain :

1. Letter Of Credit (L/C)


Suatu - surat yang dikeluarkan oleh suatu bank atas permintaan importir yang ditujukan
kepada eksportir di luar negri yang menjadi relasi importir tersebut, yang memberikan
hak kepada eksportir itu untuk menarik wesel-wesel atas importir bersangkutan.

Contoh Letter Of Credit (L/C) :

4
2. Bill Of Lading (B/L)
Surat tanda terima barang yang telah dimuat di dalam kapal laut yang juga merupakan
tanda bukti kepemilikan barang dan juga sebagai bukti adanya kontrak atau perjanjian
pengangkutan barang melalui laut. Banyak istilah yang pengertian dan maksudnya sama
dengan B/L seperti Air Waybill untuk pengangkutan dengan pesawat udara, Railway
Consignmnet Note untuk pengangkutan menggunakan kereta api dan sebagainya.

Adapaun pihak-pihak yang tercantum dalam Bill of Lading (B/L) adalah :

 Shipper yaitu pemilik kapal yang dalam banyak hal merupakan pengirim L/C
(beneficiary).
 Consignee yaitu pihak yang merupakan penerima barang dimana kepadanya akan
diberlakukan tentang saat tibanya barang.
 Carrier yaitu perusahaan pelayaran yang berhubungan dengan perusahaan tersebut.
 Notify Party dalam hal ini ditetapkan siapa saja yang terdapat dalam L/C tersebut.

Bill of Lading (B/L) mempunyai 3 fungsi penting yaitu :

1. Bukti tanda penerimaan barang, yaitu barang-barang yang diterima oleh pengangkut
(carrier) dari shipper (pengirim barang atau eksportir) ke suatu tempat tujuan dan
selanjutnya menyerahkan barang-barang tersebut kepada pihak penerima (consignee
atau importir).
2. Bukti pemilikan atas barang (document of title) , yang menyatakan bahwa orang
yang memegang B/L merupakan pemilik dari barang-barang yang tercantum pada
B/L.
3. Bukti perjanjian pengangkutan dan penyerahan barang antara pihak pengangkut
dengan pengiriman.
Contoh Bill of Lading (B/L) :

5
3. Faktur (Invoice)
Adalah suatu dokumen yang penting dalam perdagangan, data-data dalam invoice akan
dapat diketahui berapa jumlah wesel yang akan dapat ditarik, jumlah penutupan asuransi,
dan penyelesaian segala macam bea masuk. Data yang terdapat di dalam Invoice di
antaranya :

 Tulısan invoice beserta nomor invoice.


 Tanggal dibuatnya invoice.
 Data lengkap nama eksportir dan alamatnya.
 Data lengkap nama importir dan alamatnya
 Data lain jika disyaratkan dalam L/C, misalnya nomor purchase order nomor L/C.
 Description of goods (nama barang).
 Quantity (jumlah barang).
 Unit price (harga per unit barang).
 Total amount (jumlah dari harga per unit x quantity barang yang dipesan).

Faktur (invoice) dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk yaitu :

a. Proforma Invoice

Merupakan penawaran dalam bentuk faktur biasa dari penjual kepada pembeli yang
potensial, juga merupakan tawaran pada pembeli untuk menempatkan pesanannya
yang pasti dan sering dimintakan oleh pembeli supaya instansi yang berwenang di
negara importir akan memberikan izin impor. Faktur ini biasanya menyatakan
syarat - syarat jual beli dan harga barang sehingga segera setelah pembeli yang
bersangkutan telah menyetujui pesanan maka akan ada kontrak yang pasti.
Penggunaan faktur ini juga digunakan bilamana penyelesaian akan dilakukan
dengan :

o Dengan pembayaran terlebih dahulu sebelum pengapalan.


o Atas dasar consignment
o Tergantung pada tender
b. Commercial Invoice

Nota perincian tentang keterangan jumlah barang-barang yang dijual dan harga dari
barang-barang tersebut serta perhitungan pembayaran. Faktur ini oleh penjual
(eksportir) ditujukan kepada pembeli (importir) yang nama dan alamatnya sesuai

6
dengan yang tercantum dalam L/C dan ditandatangani oleh yang berhak
menandatangani. Invoice ini juga menyatakan terms of trade (Incoterms) seperti
FOB, CFR, CIF syarat pembayaran barang yaitu L/C berkaitan dengan order atau
kontrak.

c. Consular Invoice

Faktur yang dikeluarkan oleh instansi resmi yaitu kedutaan atau konsulat. Faktur
ini terkadang ditandatangani oleh konsul perdagangan negeri pembeli, dibuat oleh
eksportir dan ditandatangani oleh konsul negara pembeli, atau dibuat dan
ditandatangani negara sahabat dari negara pembeli.

Peraturan - peraturan antar negara memiliki perbedaan antar satu dengan yang
lainnya tetang faktur ini, tetapi yang jelas kegunaan dari faktu ini antara lain untuk
memeriksa harga jual dibandingkan harga pasar yang sedang berlaku dan untuk
memastikan bahwa tidak terjadi dumping, selain itu juga diperlukan untuk
menghitung bea masuk di tempat importir.

Contoh Faktur (Invoice) :

7
4. Dokumen (Polis) Asuransi
Surat bukti pertanggungan yang dikeluarkan perusahaan asuransi atas permintaan
eksportir maupun importir untuk menjamin keselamatan atas barang yang dikirim.

Dokumen asuransi ini penting karena dapat membuktikan bahwa barang-barang yang
disebut di dalamnya telah diasuransi. Jenis-jenis resiko yang ditutup juga disebutkan
dalam dokumen ini. Dokumen ini menyatakan pihak mana yang meminta asuransi dan
kepada siapa klaim dibayarkan.Setiap asuransi wajib dibayar dengan valuta yang sama
dengan L/C kecuali syarat-syarat L/C menyatakan lain.

Besarnya asuransi tidak perlu sama dengan besarnya L/C, dapat lebih besar atau lebih
kecil tergantung pada jumlah penarikan, syarat-syarat pengapalan, atau syarat-syarat L/C.
Penggantian kerugian apabila terjadi kerusakan atau kehilangan akan dibayarkan senilai
yang dinyatakan dalam dokumen asuransi tersebut kepada eksportir juga kepada importer
apabila telah di endorse. Dokumen asuransi dapat dibuat atas nama pengasuransi, atas
order bank, atas nama pembawa.

2.2 Dokumen Penunjang


Dokumen yang dikeluarkan untuk memperkuat atau merinci keterangan yang terdapat
dalam dokumen induk, terutama faktur (invoice). Termasuk dalam dokumen ini antara lain :

1. Daftar Pengepakan (Packing List)

Dokumen ini dibuat oleh eksportir yang menerangkan uraian dari barang-barang yang
dipak, dibungkus atau diikat dalam peti dan sebagainya dan biasanya diperlukan oleh bea
cukai untuk memudahkan pemeriksaan. Uraian barang tersebut meliputi jenis bahan
pembungkus dan cara mengepaknya. Dengan adanya packing list maka importir atau
pemeriksa barang tidak akan keliru untuk memastikan isinya. Nama dan uraian barang
haruslah sama dengan seperti tercantum dalam commercial invoice.

Data yang terdapat di dalam packing list di antaranya :

 Tulisan packing list beserta nomor packng list.


 Tanggal dibuatnya packing list.
 Data lengkap nama eksportir dan alamatnya.
 Data lengkap nama importir dan alamatnya.
 Data lain jıka disyaratkan dalam L/C, misalnya nomor purchase order, nomor L/C.
 Descrption of goods (nama barang).

8
 Quantity (jumlah barang).
 Gross weight dan nett weight (berat kotor dan berat bersıh).
 Measurement (ukuran dimensi dalam volume m3 atau cbm).

2. Surat Keterangan Asal (Certificate Of Origin )


Dokumen ini merupakan pernyataan yang ditandatangani untuk membuktikan asal
barang – barang yang diekspor. Surat Keterangan Asal (SKA) barangini menerangkan
barang bahwa barang – barang tersebut betul – betul hasil atau produk dari negara
pengekspor.

Mengingat Negara asal barang dapat mempengaruhi besarnya pertanggungjawaban bea


atau tingkat bea masuk yang akan dikenakan oleh Negara pengimpor, maka untuk itu
surat keterangan asal ini harus diisi dengan hati – hati dan akurat sesuai dengan peraturan
yang berlaku di Negara pengimpor.

3. Surat Keterangan Pemeriksaan (Certificate Of Inspection)

Keterangan tentang keadaan barang yang dimuat oleh independent surveyor, juru
pemeriksa barang atau badan resmi yang disahkan oleh pemerintah dan dikenal oleh
dunia perdagangan internasional, berfungsi sebagai jaminan atas mutu dan jumlah
barang, ukuran dan berat barang, keadaan barang, pengepakan barang, banyak isi
pengepakan. Laporan yang dibuat atas pemeriksaan kualitatif dan analitis didasarkan
pada pemeriksaan sampling 2% dari berat yang sebenarnya, dan merupakan dokumen
yang disyaratkan L/C.

4. Sertifikat Mutu (Certificate Of Quality )

Keterangan yang dibuat berkaitan dengan hasil analisis barang-barang di laboratorium


perusahaan atau badan penelitian independen yang menyangkut mutu barang yang
diperdagangkan. Dalam hubungannya dengan hal tersebut di Indonesia berlaku peraturan
yang mengharuskan adanya standarisasi dan pengendalian mutu untuk barang-barang
ekspor, yaitu dengan menerbitkan sertifikat mutu (certificate of quality). Sertifikat ini
wajib dimiliki oleh setiap eksportir untuk keperluan perdagangan apabila diminta oleh
pembeli.

9
Dalam meneliti Certificate of Quality perlu diperhatikan antara lain :

 Nama pengekspor harus sama dengan yang tercantum pada L/C.


 Nama, jumlah, dan kualitas barang harus sama dengan yang tercantum pada L/C dan
invoice.
 Diterbitkan dan ditndatangani oleh badan atau instani yang berwenang sesuai yang
disyaratkan dalam L/C.

5. Sertifikat Mutu Dari Produsen (Manufacture’s Quality Certificate)

Dokumen ini lazimnya dibuat oleh produsen atau pabrik pembuat barang yang diekspor
atau supplier yang menguraikan tentang mutu dari barang-barang, termasuk penjelasan
tentang baru atau tidaknya barang dan apakah memenuhi standar barang yang ditetapkan.
Dokumen ini juga menunjukkan keterangan mengenai barang yang diproduksi oleh
produsen yang membawa merek dagangnya (trade mark). Manufacturer’s Quality
Certification penting artinya sebagai bukti keaslian dari jaminan mutu atas barang, yang
dikaitkan dengan nama baik dari produsen itu dalam pasaran iternasional yang juga
menyangkut masalah Paten, Trade Mark dan Lisensi.

6. Keterangan Timbangan (Weight Note)

Catatan yang berisi perincian berat dari tiap-tiap kemasan barang seperti yang tercantum
dalam commercial invoice. Keterangan berat dari barang-barang yang dikapalkan atas
dasar suatu L/C haruslah sama dengan yang tercantum pada dokumen-dokumen
pengapalan. Dokumen ini disamping untuk mengetahui berat barang , juga diperlukan
untuk mempersiapkan alat-alat pengangkut barang pada saat pemeriksaan barang.
Dokumen ini dikeluarkan oleh badan yang disahkan oleh pemerintah yang tugasnya
memeriksa ukuran / berat barang secara tepat. Namun dokumen ini dapat juga dibuat oleh
eksportir sendiri kecuali syarat L/C melarang.

7. Daftar Ukuran (Measurement List)

Daftar yang berisi ukuran dan takaran dari tiap-tiap kemasan seperti panjang, tebal, garis
tengah serta volume barang. Ukuran dalam dokumen ini haruslah sama dengan syarat -
syarat yang tercantum dalam L/C. Volume pengepakan setiap barang tersebut diperlukan
untuk menghitung biaya angkut atau untuk keperluan persiapan barang.

10
8. Analisa Kimia (Chemical Analysis)

Pernyataan yang dikeluarkan oleh labotaturium kimia yang berisi komposisi kimiawi dari
suatu barang. Dokumen ini juga menjelaskan tentang bahan-bahan dan proporsi serta
kandungan bahan yang terdapat dalam barang yang diharuskan pemeriksaannya.
Penelitian tersebut dilakukan oleh badan analisa obat-obatan, dan bahan-bahan kimia.

9. Wesel (Bill Of Exchange)

Sebuah alat pembayaran yang memberikan perintah yang tidak bersyarat dalam bentuk
tertulis, yang ditujukan oleh seseorang kepada orang lain.

Pihak-pihak yang terlibat dalam wesel antara lain

a. drawer = yang menandatangani wesel (penarik)

b. drawee = yang membayar (tertarik)

c. payee = yang menerima pembayaran

d. endorsee = pihak yang menerima perpindahan atau pengalihan wesel

Dalam sebuah wesel juga terdapat jangka waktu pembayaran yang dikenal dengan istilah
tenor wesel , yaitu jangka waktu pada saat mana sebuah wesel dapat dibayarkan yang
tercantum pada setiap wesel. Tenor dalam sebuah wesel dapat dibedakan menjadi :

a. Sight draft : wesel yang dibayar pada saat diperlihatkan atau saat diminta
pembayarannya.
b. Time (term/usance) draft : wesel berjangka yang dibayarkan setelah beberapa
waktu kemudian, dibedakan atas : time sight draft (wesel yang pembayarannya
harus dilakukan pada waktu tertentu setelah wesel diajukan atu di aksep), time date
draft (wesel yang harus dibayar pada tanggal tertentu yang telah ditetapkan
misalnya 30 hari setelah pengapalan.

2.3 Dokumen Tambahan


1. Freight Forwarder’s Receipt

Eksportir dan Importir yang menggunakan jasa-jasa Freight Forwarder Receipt atau
Forwarding Agent’s Receipt sebagai ganti penyerahan barang-barangnya. Tanda terima
tersebut fungsinya tidak lebih dari pada tanda penerimaan barang-barang dan biasanya

11
merupakan kontrak pengangkutan atau tanda pemilikan barang-barang selama dalam
pengawasan maskapai pelayaran.
2. Delivery Order

Dokumen ini dikeluarkan antara lain oleh bank sebagai perintah (order) kepada gudang
yang menguasakannya untuk menyerahkan barang-barang yang disimpan digudang
tersebut atau nama bank kepada yang memegang atau pihak yang disebut dalam Delivery
Order. Biasanya Delivery Order tersebut dikeluarkan oleh bank pada saat barang-barang
dimasukkan dalam gudang dan diserahkan kepada pembeli (importir) atau dikapalkan
kembali Delivery Order dapat juga berfungsi sebagai surat jalan yang dikeluarkan Bea
Cukai untuk mengeluarkan barang dari pelabuhan.
3. Warehouse Receipt

Tanda terima yang dikeluarkan oleh sebuah gudang atas penerimaan barang-barang
disebut ”Warehouse Receipt”. Adakalanya bank terpaksa menyimpan barang-barang
impor yang tidak jadi ditebus importir didalam gudang.
4. Trust Receipt

Suatu dokumen atau instrumen yang digunakan oleh seorang importir untuk mendapatkan
atau memiliki dokumen-dokumen pengapalan sebuah L/C agar importir tersebut dapat
menjual barang-barang yang bersangkutan sebelum membayar / menebus dokumen
dokumen pengapalan tersebut kepada bank. Dengan menandatangani dokumen tersebut
importir mengikatkan diri kepada bank tersebut untuk memperoleh hasil penjualan barang
barang guna melunasi pembayaran dokumen - dokumen pengapalan tersebut kepada bank,
selama barang belum laku maka hak atas barang masih tetap dimiliki oleh bank. Jadi dari
penjelasan tersebut diatas dapat kita lihat bahwa tidak semua dokumen - dokumen tersebut
terdapat atau disyaratkan dalam suatu L/C tergantung dan diperlukan atau tidaknya
dokumen tersebut dalam perdagangan internasional yang dilakukan antara importir dan
eksportir. Oleh karena itu transaksi L/C adalah transaksi dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan barang-barang yang dikapalkan.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Semua jenis dokumen yang terdapat dalam Perdagangan Internasional (ekspor impor),
baik yang dikeluarkan pengusaha, perbankan, pelayaran, dan instansi lainnya mempunyai arti
dan peranan penting. Oleh sebab itu semua dokumen yang menyangkut kegiatan tersebut harus
dibuat dan diteliti dengan seksama. Dokumen-dokumen dalam Perdagangan Internasional
(ekspor impor) tersebut dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok yaitu dokumen induk,
dokumen penunjang dan dokumen pembantu. Dokumen Induk adalah dokumen inti yang
dikeluarkan oleh Badan Pelaksana Utama Perdagangan Internasional, yang memiliki fungsi
sebagai alat pembuktian pelaksanaan suatu transaksi terdiri atas 4 bagian yaitu : Letter Of
Credit (L/C) merupakan surat yang dikeluarkan oleh suatu bank atas permintaan importir yang
diberi hak kepada eksportir itu untuk menarik wesel-wesel atas importir bersangkutan. Bill Of
Lading (B/L) merupakan Bukti perjanjian pengangkutan dan penyerahan barang antara pihak
pengangkut dengan pengiriman. Faktur (Invoice) adalah suatu dokumen yang penting dalam
perdagangan. Dokumen (Polis) Asuransi merupakan surat bukti pertanggungan yang
dikeluarkan perusahaan asuransi atas permintaan eksportir maupun importir untuk menjamin
keselamatan atas barang yang dikirim.

Dokumen Penunjang yang dikeluarkan untuk memperkuat atau merinci keterangan


yang terdapat dalam dokumen induk, terutama faktur (invoice). Termasuk dalam dokumen ini
antara lain : Daftar Pengepakan (Packing List), Surat Keterangan Asal (Certificate Of Origin),
Surat Keterangan Pemeriksaan (Certificate Of Inspection), Sertifikat Mutu (Certificate Of
Quality ), Sertifikat Mutu Dari Produsen (Manufacture’s Quality Certificate), Keterangan
Timbangan (Weight Note), Daftar Ukuran (Measurement List), Analisa Kimia (Chemical
Analysis), Wesel (Bill Of Exchange). Dokumen Tambahan dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
Freight Forwarder’s Receipt fungsinya tidak lebih dari pada tanda penerimaan barang-barang
dan biasanya merupakan kontrak pengangkutan atau tanda pemilikan barang-barang selama
dalam pengawasan maskapai pelayaran, Delivery Order berfungsi sebagai surat jalan yang
dikeluarkan Bea Cukai untuk mengeluarkan barang dari pelabuhan., Warehouse Receipt
fungsinya menyimpan barang-barang impor yang tidak jadi ditebus importir didalam gudang.
Trust Receipt untuk mendapatkan atau memiliki dokumen-dokumen pengapalan sebuah L/C

13
agar importir tersebut dapat menjual barang-barang yang bersangkutan sebelum membayar /
menebus dokumen dokumen pengapalan tersebut kepada bank.

3.2 Saran
Pada dasarnya prosedur dokumen ekspor impor sangatlah penting bagi eksportir agar
bisa melakukan kegiatan ekspor dan juga penting bagi importir. Maka disarankan semua
dokumen yang menyangkut proses perdagangan internasional dalam hal ini yaitu ekspor dan
impor harus dibuat dengan sangat teliti dan seksama agar tidak terjadi kesalahan dalam
pembuatan dokumen - dokumen ekspor impor.

14
DAFTAR PUSTAKA

Hadout Manajemen Tata Niaga Bisnis

Tandjung, Marolop. 2011. Aspek dan Prosedur Ekspor – Impor. Jakarta : Salemba Empat.

Susilo, Andi. 2008. Buku Pintar Ekspor – Impor. Jakarta : TransMedia.

http://www.academia.edu/22679942/Dokumen_Dokumen_dalam_Ekspor

http://xcontohmakalah.blogspot.co.id/2013/10/dokumen-ekspor-impor.html