Anda di halaman 1dari 10

Laporan Resmi

Ekstraksi Cair - Cair

Citra Putri Wahyu M.

Delfira Yudith T.

M. Yusrin Nizam

2C-D4

D-IV Teknologi Kimia Industri


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
BAB I
Ekstraksi Cair-Cair

I.1 Hari / Tanggal Praktikum : Selasa, 27 Maret 2018


I.2 Tujuan Percobaan :
- Mahasiswa dapat menghitung koefisien distribusi asam propionate (A) –
TCE (B) – Air (C)
- Mahasiswa dapat membuat kurva kesetimbangan asam propionate (A) –
TCE (B) – Air (C)

I.3 Dasar Teori


Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan
proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu campura homogen
menggunakan pelarut cair (solvent) sebagai separating agen. Pemisahan
terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen
dalam campuran. Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak
saling mencampur antara lain menggunakan alat corong pisah. Ada
suatujenis pemisahan lainnya dimana pada satu fase dapat berulang-ulang
dikontakkan dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi berulang-ulang suatu
larutan dalam pelarut air dan pelarut organik, dalam hal ini digunakan suatu
alat yaitu corog pisah.
Ekstraksi pada prinsipnya adalah teknik pemisahan (separasi) yang
pengeksplotasi perbedaan sifat kelarutan dari masing-masing komponen
campuran terhadap jenis pelarut tertentu. Hasil akhir yang diperoleh pada
proses ekstraksi adalah ekstrak kental atau liquid kental yang mengandung
sari / kandungan dari bahan baku tanaman tanpa adanya ampas tanaman.
Ekstraksi cair-cair atau yang dikenal dengan ekstraksi solvent
merupakan proses pemisahan fasa cair yang memanfaatkan perbedaan
kelarutan zat terlarut yang akan dipisahkan antara larutan asal dan pelarut
pengekstrak (solvent). Aplikasi ekstraksi cair-cair terbagi menjadi dua
kategori yaitu aplikasi yang bersaing langsung dengan operasi pemisahan
lain dan aplikasi yang tidak mungkin dilakukan oleh operasi pemisahan lain.
Apabila ekstraksi cair-cair menjadi opersai pemisahan yang bersaing dengan
operasi pemisahan lain, maka biaya akan menjadi tolak ukur yang sangat
penting. Distilasi dan evaporasi merupakan operasi pemisahan yang
produknya berupa senyawa-senyawa murni sedangkan operasi ekstraksi
cair-cair menghasilkan campuran senyawa-senyawa sebagai produk.
Campuran ini harus dipisahkan lagi dengan operasi pemisahan lain seperti
distilasi ataupun evaporasi. Hal inilah yang menyebabkan ekstraksi relatif
lebih mahal dibandingkan dengan operasi pemisahan lain. Akan tetapi
ekstraksi cair-cair menjadi operasi pemisahan yang unggul ketika larutan-
larutan yang akan dipisahkan mempunyai kemiripan sifat-sifat fisikanya
yaitu titik didih yang perbedaannya relatif kecil. Keunggulan lain dari
ekstraksi caircair ini adalah dapat beroperasi pada kondisi ruang, dapat
memisahkan sistem yang memiliki sensitivitas terhadap temperatur, dan
kebutuhan energinya relatif kecil. Prinsip dasar ekstraksi cair-cair ini
melibatkan pengontakan suatu larutan dengan pelarut (solvent) lain yang
tidak saling melarut (immisible) dengan pelarut asal yang mempunyai
densitas yang berbeda sehingga akan terbentuk dua fasa beberapa saat
setelah penambahan solvent. Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan
massa dari pelarut asal ke pelarut pengekstrak (solvent). Perpindahan zat
terlarut ke dalam pelarut baru yang diberikan, disebabkan oleh adanya daya
dorong (dirving force) yang muncul akibat adanya beda potensial kimia
antara kedua pelarut. Sehingga proses ektraksi cair-cair merupakan proses
perpindahan massa yang berlangsung secara difusional (Laddha dan
Degaleesan, 1978). Proses ekstraksi cair-cair berlangsung pada suatu alat
yang dirancang sedemikian rupa sehingga mempunyai luas permukaan yang
mencukupi untuk terjadinya kontak antar fasa-fasa yang terlibat (fasa
kontinyu yang berisi zat terlarut dan fasa dispersi) sehingga distribusi
komposisi dalam kedua fasa menjadi lebih sempurna dan berhasil dengan
baik (Ariono dkk, 2006). Dinamika tetesan yang terjadi disepanjang kolom
isian (packing column) akan mengalami perpecahan dan/atau penggabungan
antar tetesan sebagai akibat tetesan menabrak isian yang ada didalam kolom.
Pada prosesnya, tetesan bergerak mendekati isian, menabrak isian dan pecah
menjadi tetesan dengan diameter yang lebih kecil kemudian bergerak disela-
sela unggun isian, ada yang terperangkap disela-sela isian, terakumulasi
sesaat selanjutnya meninggalkan unggun isian dengan diameter yang lebih
besar. Peristiwa terperangkapnya tetesan ini disebabkan oleh laju alir dari
tetesan yang tidak cukup kuat mendorong tetesan keluar dari unggun isian
(Ariono dkk, 2006). Proses terjadinya kontak ini menyebabkan luas
permukaan kontak semakin besar dan waktu kontaknya semakin lama
sehingga proses perpindahan massanya menjadi lebih baik. Berdasarkan
bilangan Reynold (Re), keadaaan suatu tetesan dapat dikelompokan menjadi
tiga keadaan, yaitu: (1) Tetesan diam, dimana tetesan mempunyai Re kurang
dari 10 sehingga tetesan bergerak dibawah kecepatan turbulennya dan
dinamika atau pergerakan tetesan ke atas juga diam tidak bergerak baik
berotasi maupun berosilasi, (2) Tetesan bersirkulasi, dimana tetesan
mempunyai Re antara 10 – 200. Laju pergerakan tetesan dibawah kecepatan
maksimumnya dan gerakannya disertai dengan rotasi terhadap porosnya,
dan (3) Tetesan berosilasi, dimana tetesan mempunyai Re lebih dari 200
sehingga dalam pergerakannya ke atas mengalami kembang kempis. Hal ini
disebabkan adanya gerakan ke arah θ (vortex). Proses osilasi yang normal
tidak menyebabkan tetesan menjadi pecah dan kecepatannya tidak
berdampak pada frekuensi osilasi. Pada fasa dispersi mempunyai pengaruh
yang kecil terhadap osilasi, terkecuali jika viscositasnya sangat tinggi.
Koefisien perpindahan massa merupakan tingkat kemudahan suatu massa
senyawa untuk berpindah dari suatu larutan ke larutan lain. Koefisien
perpindahan massa ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu koefisien
perpindahan massa keseluruhan (overall), koefisien perpindahan massa fasa
kontinyu, dan koefisien perpindahan massa fasa terdispersi. Koefisien
perpindahan massa keseluruhan merupakan fungsi kompleks dari koefisien
perpindahan massa fasa kontinyu dan koefisien perpindahan massa fasa
terdispersi. Dan juga fungsi kompleks dari difusivitas, viskositas, densitas,
tegangan permukaan dan turbulensi.
I.4 Alat dan Bahan
- Bahan
TCE 100 ml
HCL 0,1 N
Aquadest 100 ml
NaOH 0,1 N
Indikator PP
Asam Propionat 5ml

- Alat
Corong pisah
Buret
Beker glass
Gelas ukur
Pipet
Statif
Corong
I.5 Skema Kerja

Mengisi corong pisah bervolume 250 cc dengan TCE (100-125 cc) dan
menimbang beratnya.

Menyiapkan Asam Propionate (10-20 cc) mengukur berat dan mencampurkan


dalam corong pisah yang berisi TCE, mengocok hingga larut sempurna.

Mengambil 10 cc campuran TCE-Asam Propionat, lalu mentirasi dengan


NaOH 0,1 N dan menghitung konsenttrasi Asam Propionat.

Menambahkan aquadest ke dalam corong pisah yang sebanding dengan Asam


Propionate, mengocok hingga terbentuk 2 lapisan.

Memisahkan ekstrak dan rafinat, kemudian masing masing diambil 10 cc


untuk di titrasi dengan NaOH, dan menghitung konentrasi masing masing.

Mengukur sisa ekstrak dan rafinat masing-masing berat dan volumenya.

Lapisan rafinat yang telah ditimbang dan dihitung volumenya, diekstrak lagi
menggunakan air dengan volume yang sebanding, sedangkan sisa ekstrak
sudah tidak digunakan lagi dan bisa di tampung ke wadah tersendiri.

Mengulangi memisahkan ekstrak dan rafinat, kemudian masing masing


diambil 10 cc untuk di titrasi dengan NaOH, dan menghitung konentrasi
masing masing, hingga volume rafinat 30 cc.

Menghitung koefisien distribusi.

Gambar I.1 Diagram alir ekstraksi cair-cair


I.6 Hasil Percobaan

Vol. & Vol. Vol.


Vol. & Berat Vol. & Berat Vol. & Berat Vol. Titrasi Konsentrasi Konsentrasi
Berat Asam Tritrasi NaOH
No TCE Ekstrak Raffinat Ekstrak Ekstrak Raffinat
Propionat Raffinat 0,1 N

ml ml ml & gram ml ml M ml M ml
1. 127,04 14,87 108,7 102,4 25,9 0,094 14,8 0,165 50
2. 127,04 14,87 154,21 84,52 22,8 0,107 9,1 0,269 50
3. 127,04 14,87 197,11 71,4 20 0,12 6,5 0,37 50
4. 127,04 14,87 221,86 57,7 18,1 0,13 4,3 0,5 50
5. 127,04 14,87 225,88 43,7 16 0,15 3,9 0,6 50
6. 127,04 14,87 230,1 29,7 13,7 0,17 2,8 0,8 50

fraksi massa fraksi massa koefisien


ekstrak raffinat distribusi

0,011 0,2016 0,0545


0,013 0,03276 0,3968
0,015 0,04662 0,321
0,016 0,063 0,2539
0,0189 0,0756 0,25
0,021 0,1 0,21
I.7 Pegolahan data percobaan
Standarisasi NaOH :
m asam oksalat = 6,3 gram
V NaOH = I : 37,4 ml
II : 37,2 ml
III : 37 ml
Indikator PP = 3 tetes
Rata-rata V NaOH = 37,2 ml

N1 X V1 (basa) = N2 X V2 (asam)
N1 X V1 (NaOH) = N2 X V2 (asam oksalat)
N asam oksalat x V asam oksalat
N NaOH =
V NaOH
0,1 x 10
N NaOH =
37,2
N NaOH = 0,02688 N

I.8 Pembahasan
Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan solute dan cairan pembawa (diluent)
menggunakan solvent (pelarut) cair. Campuran diluent dan solvent bersifat heterogent
(immiscible,tidak saling campur) dan jika dipisahkan terdapat 2 fase yaitu, fase rafinat
berisi diluent beserta sisa solute dan fase ekstrak yang berisi solute dan solvent. Prinsip
dasar dari ekstraksi cair-cair yaitu mengontakan suatu larutan dengan pelarut (solvent)
lain yang tidak saling larut dan memiliki densitas yang berbeda, sehingga terbentuk 2
lapisan setelah penambahan solvent yaitu ekstrak dan rafinat.

Pada percobaan yang telah dilakukan ini bertujuan untuk memisahkan asam
propionate yang terlarut dengan TCE (bersifat inert) dengan cara ditambahkan aquades
yang mengikat asam propionate didalam TCE tersebut dan TCE tidak terlarut dengan
aquades karna berbedanya densitas. Dengan menggunakan TCE sebanyak 100 ml, asam
prpionat sebanyak 10 ml dan aquades 100ml, setelah ketiga bahan tersebut tercampur
terbentuk 2 lapisan, pada lapisan bawah (rafinat) yaitu campuran TCE + asam propionate
dan pada lapisan atas yaitu air (ekstrak) yang kemudian dipisahkan dan diambil sampel
(ekstrak dan rafinat) 10 ml untuk dititrasi dengan NaOH 0,1 N untuk mengetahui
konsentrasinya. Perbedaan konsentrasi solute didalam suatu fasa dengan konsentrasi
dalam keadaan seimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan)
solute dari larutan yang ada, Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan massa solute
dari pelarut asal ke pelaut pengekstrak (solvent) yang disebabkan oleh adanya gaya
dorong (driving force) akibat dari adanya beda potensial kimia dari dua pelarut. Sehingga
proses ekstraksi cair-cair merupakan proses perpindahan massa yang berlangsung
secara diffusional.

Proses ekstraksi cair-cair ini terdiri 2 tahap yaitu pencampuran secara intensif
bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair tersebut dengan
sempurna yang prosesnya menggunakan corong pisah. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larut yang berbeda dai setiap komponen dalam campuran. Solute akan
berpindah ke solvent yang memiliki kemampuan lebih besar dalam mengikat solute.

Pada percobaan ini untuk menentukan koefisien distribusi untuk system asam
propionate- TCE – air. Pada campuran ketiga zat ini dianggap bahwa fasa berada
kesetimbangan. Dari persamaan koefisien distribusi, nilai Kd average yang dihasilkan
sebesar ….. , jika Kd yang didapatkan nilainya lebih dari 1 maka proses ekstraksi ini
berjalan dengan baik.

Ada 2 faktor yang berpengaruh dalam peningkatan karakteristik hasil dalam


ekstraksi cair-cair, yaitu :

1. Kenaikan jumlah pelarut


Kenaikan jumlah pelarut yang digunakan akan meningkatkan hasil
ekstraksi tetapi harus ditentukan rasio perbandingan pelarut dengan
umpan yang minimum agar proses ekstraksi menjadi lebih ekonomis.
2. Waktu ekstraksi
Ekstraksi yang efisien adalah maksimum pengamilan solute dengan
waktu yang lebih cepat.

I.9 Kesimpulan

1. Dari data pengamatan dapat disimpulkan bahwa volume penitran NaOH yang
dibutuhkan untuk ekstrak selalu banyak daripada rafinat, karena asam
propionate lebih banyak larut didalam ekstrak.

I.10 Daftar Pustaka

Geankoplis, C.J. 1985. Transport Process And Unit Operation. Prentice Hall India. New
Delhi

Faust, A.S. 1960. Principles Of Unit Operation

Tim Lab OTK-2. 2018. Petunjuk Praktikum Operas Teknik Kimia 2 Ekstraksi Cair-Cair.
Malang. Politeknik Negeri Malang
Tina. 2009. Pengantar Ekstraksi Cair-Cair. (http//
distantina.staff.uns.ac.id/files/2009.10/1-pengantar-ekstraksi-cair-cair.pdf/) diakses 29
maret 2018.

Treybal, R.E. 1980. Mass Transfer Operations. Mc Graw Hill Book Company. Singapore

Wankof, P.C. 1988. Equilibrium Stage Separation. Prentice Hall India . New Delhi

Malang, 26 Maret 2018


Dosen Pembimbing

Anang Takwanto, ST.,MT


NIP. 197705302002121003