Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PATOLOGI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena
komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. 1.400
perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan
meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, 2
orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas.
Begitu juga dengan kematian anak, di Indonesia setiap 20 menit anak usia
di bawah 5 tahun meninggal. Dengan kata lain 30.000 anak balita
meninggal setiap hari dan 10,6 juta anak balita meninggal setiap tahun.
Sekitar 99 % dari kematian ibu dan balita terjadi di negara miskin,
terutama di Afrika dan Asia Selatan. Di dunia ini setiap menit seorang
perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan
dan persalinan. Dengan kata lain, 1.400 perempuan meninggal setiap hari
atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena
kehamilan dan persalinan. Sebagai perbandingan, angka kematian bayi di
negara maju seperti di Inggris saat ini sekitar 5 per 1.000 kelahiran hidup .
Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena
kehamilan dan persalinan, termasuk perdarahan, infeksi, aborsi tidak
aman, tekanan darah tinggi dan persalinan lama (Anonim, 2005).
Preeklampsia-eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang masih
merupakan penyebab utama kematian ibu dan penyebab kematian
perinatal tertinggi di Indonesia. Sehingga diagnosis dini preeklampsia
yang merupakan pendahuluan eklampsia serta penatalaksanaannya harus
diperhatikan dengan seksama. Disamping itu, pemeriksaan antenatal yang
teratur dan secara rutin untuk mencari tanda preeklampsia yaitu hipertensi
dan proteinuria sangat penting dalam usaha pencegahan, disamping
pengendalian faktor-faktor predisposisi lain (Sudinaya, 2003).
Insiden preeklampsia sangat dipengaruhi oleh paritas, berkaitan
dengan ras dan etnis. Disamping itu juga dipengaruhi oleh predisposisi
genetik dan juga faktor lingkungan. Sebagai contoh, dilaporkan bahwa
tempat yang tinggi di Colorado meningkatkan insiden preeklampsia.
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita dengan sosio
ekonominya lebih maju jarang terkena preeklampsia. Preeklampsia lebih
sering terjadi pada primigravida dibandingkan multigravida. Faktor risiko
lain yang menjadi predisposisi terjadinya preeklampsia meliputi hipertensi
kronik, kelainan faktor pembekuan, diabetes, penyakit ginjal, penyakit
autoimun seperti Lupus, usia ibu yang terlalu muda atau yang terlalu tua
dan riwayat preeklampsia dalam keluarga (Cunningham, 2003).
Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat berperan sebagai
pendidik, konselor dan bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya. Oleh
karena itu pentingnya peran ibu untuk mengurangi / mencegah resiko
terjadinya pre eklampsia menjadi eklampsia.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan dari pembuatan makalah asuhan kebidanan dengan
preeklampsia berat pada ibu nifas adalah supaya mahasisiwa mampu
memberikan asuhan keperawatan dengan pasien preeklampsia berat
pada ibu nifas.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa memahami apa itu preeclampsia berat.
b. Mahasiswa mengetahui tanda dan gejala preeclampsia berat.
c. Mahasiswa mampu memberikan pencegahan dan penatalaksanaan
preeclampsia berat.
d. Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan kepada pasien
preeclampsia berat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PREEKLAMPSIA BERAT
1. Pengertian
Preeklampsia (PE) adalah gangguan yang terjadi setelah minggu
ke-20 kehamilan dan ditandai dengan hipertensi dan proteinuria
(Silasi Michele, 2010).
Preeklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan
proteinuria, edema atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan
setelah minggu ke 20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila
terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis
(Mitayani, 2009).
Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan
atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20
minggu pada penyakit trofoblas. (Sujiyatini, 2009).
Preeklamsia dapat dideskripsikan sebagai kondisi yang tidak dapat
diprediksi dan progresif serta berpotensi mengakibatkan disfungsi dan
gagal multi organ yang dapat mengganggu kesehatan ibu dan
berdampak negative pada lingkungan janin. (Boyle M, 2007)
Pre-eklampsia Berat ditandai satu atau lebih dari ciri berikut ini
a. Tekanan darah lebih dari 160 mmHg sistolik atau lebih dari
sama dengan 110 mmHg diastolik pada dua kesempatan
setidaknya 6 jam terpisah sementara pasien tirah baring
b. Proteinuria 5 gram atau lebih tinggi dalam spesimen urin 24
jam atau +3 atau lebih pada dua sampel urin secara acak
dikumpulkan setidaknya 4 jam terpisah
c. Oliguria kurang dari 500 mL dalam 24 jam
d. Cerebral atau visual gangguan
e. Edema paru atau sianosis
f. Epigastrium atau kuadran kanan atas-nyeri
g. Gangguan fungsi hati
h. Trombositopenia
i. Pertumbuhan janin pembatasan (David A Miller, 2010)
Preeklampsia Berat ditandai dengan tekanan darah sistol/diastol
lebih dari sama dengan 160/110 mmHg, protein urin lebih dari sama
dengan +3, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium.
Oliguri, trombositopenia, dan edema paru (Cunningham, 2010).
Tanda dan gejala preeklampsia berat adalah tekanan diastol > 110
mmHg, terjadi pada kehamilan > 20 minggu, proteinurin >+3,
hiperrefleksia, nyeri kepala, penglihatan kabur, oliguri, ngeri abdomen
atas, dan edema paru (Saifuddin, 2010).
Jadi, pre eklamsia berat adalah suatu kondisi yang spesifik pada
kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110
mmHg disertai proteinuria > 5 gr/24 jam atau oedem yang terjadi pada
kehamilan 20 minggu atau lebih.
2. Etiologi
Tulisan-tulisan yang menggambarkan eklampsia telah ditelusuri
sejauh 2200 SM (Lindheimer dan rekan, 2009). Dan dari semua
mekanisme yang telah diusulkan untuk menjelaskan penyebabnya.
Tidak satupun bisa dikatakan menjadi "penyebab". Munculnya
preeklamsia menjadi puncak dari faktor-faktor yang kemungkinan
melibatkan sejumlah faktor ibu, plasenta, dan janin. Di bawah ini
merupakan beberapa hal yang dapat membantu menegakkan
preeklampsia meliputi:
a. Implantasi plasenta dengan invasi trofoblas abnormal dari
pembuluh Rahim
b. Imunologi maladaptif antara jaringan ibu, plasenta, dan janin
c. Maternal maladaptation, perubahan kardiovaskular atau inflamasi
dari kehamilan normal
d. Faktor genetik termasuk gen predisposisi diwariskan serta
pengaruh epigenetik
3. Diagnosa
Diagnosa preeklamsia berat dapat ditegakkan jika menemukan satu
atau lebih tanda dan gejala sebagai berikut:
a. Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik
≥ 110 mmHg. Tekanan darah tidak akan menurun meskipun ibu
sudah dirawat di RS dan sudah menjalani tirah baring.
b. Proteinuria > 5 g / 24 jam atau +3 dalam pemeriksaan kualitatif.
c. Oliguria, yaitu produksi urin < 500 cc / 24 jam.
d. Kenaikan kadar kreatinin plasma.
e. Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala,
skotoma dan pandangan kabur.
f. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen
(akibat teregangnya kapsula Glisson).
g. Edema paru-paru dan sianosis.
h. Hemolisis mikroangiopatik.
i. Trombositopenia < 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit
dengan cepat.
j. Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular): peningkatan
kadar alanin dan aspirate aminotransferase.
k. Pertumbuhan janin intra uterin terhambat.
l. Sindrom HELLP.
Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk penegakan diagnosa
adalah:
a. Darah rutin (Eritrosit, leukosit, trombosis, Hb, Ht, LED)
b. Fungsi hati (SGOT/SGPT, bilirubin, protein serum, aspartat
aminotransferase
c. Fungsi Ginjal (Ureum dan kreatinin)
d. Rontgen atau CT scan otak untuk mengetahui sudah terdapat
edema atau tidak
4. Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan
tanda-tanda dini preeklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan
penanganan semestinya. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya
preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang
telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat
dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan
pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya
yang baik pada wanita hamil. Penerangan tentang manfaat istirahat
dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti
berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu
dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet
tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan
berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Mengenal secara
dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan
diuretika dan obat antihipertensif, memang merupakan kemajuan yang
penting dari pemeriksaan antenatal yang baik.
5. Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala
preeklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi
:
a. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi
ditambah pengobatan medisinal.
1) Perawatan aktif
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap
penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST dan
USG). Indikasi :
a) Ibu
(1) Usia kehamilan 37 minggu atau lebih
(2) Adanya tanda-tanda atau gejala impending
eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah
6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan
darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal, ada
gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan)
b) Janin
Hasil fetal assesment jelek (NST dan USG)
c) Laboratorium
Adanya “HELLP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan
fungsi hepar, trombositopenia)
2) Pengobatan mediastinal
Pengobatan mediastinal pasien preeklampsia berat adalah :
a) Segera masuk rumah sakit.
b) Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital perlu
diperiksa setiap 30 menit, refleks patella setiap jam.
c) Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan
infus RL (60-125 cc/jam) 500 cc.
d) Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan
garam.
e) Pemberian obat anti kejang magnesium sulfat (MgSO4).
f) Dosis awal sekitar 4 gr MgSO4) IV (20% dalam 20 cc)
selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan
MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gram di
pantat kiri dan 4 gr di pantat kanan (40% dalam 10 cc)
dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi
nyeri dapat diberikan xylocain 2% yang tidak
mengandung adrenalin pada suntikan IM.
g) Dosis ulang : diberikan 4 gr IM 40% setelah 6 jam
pemberian dosis awal lalu dosis ulang diberikan 4 gram
IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak
melebihi 2-3 hari.
Syarat-syarat pemberian MgSO4
(1) Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas
10% 1 gr (10% dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3
menit.
(2) Refleks patella positif kuat.
(3) Frekuensi pernapasan lebih 16 x/menit.
(4) Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya
(0,5 cc/KgBB/jam)
MgSO4 dihentikan bila :
(1) tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, refleks
fisiologis menurun, fungsi jantung terganggu, depresi
SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat
menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot
pernapasan karena ada serum 10 U magnesium pada
dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis
menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15
mEq/liter dapat terjadi kelumpuhan otot pernapasan
dan > 15 mEq/liter terjadi kematian jantung.
(2) Bila timbul tanda-tanda keracunan MgSO4 :
(a) Hentikan pemberian MgSO4
(b) Berikan calcium gluconase 10% 1 gr (10% dalam
10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit
(c) Berikan oksigen
(d) Lakukan pernapasan buatan
(e) MgSO4 dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca
persalinan sedah terjadi perbaikan (normotensi).
h) Deuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda
edema paru, payah jantung kongestif atau edema
anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg IM.
i) Anti hipertensi diberikan bila :
(1) Desakan darah sistolik > 180 mmHg, diastolik > 110
mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran
pengobatan adalah tekanan diastolik <105 mmHg
(bukan < 90 mmHg) karena akan menurunkan
perfusi plasenta.
(2) Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi
pada umumnya.
(3) Bila diperlukan penurunan tekanan darah secepatnya
dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral
(tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang dapat
dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press
disesuaikan dengan tekanan darah.
(4) Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat
diberikan tablet antihipertensi secara sublingual
diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama
dengan awal pemberian sublingual maka obat yang
sama mulai diberikan secara oral (syakib bakri,1997)
b. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan
ditambah pengobatan medisinal.
1) Indikasi : bila kehamilan paterm kurang 37 minggu tanpa
disertai tanda-tanda inpending eklampsia dengan keadaan janin
baik.
2) Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal
pada pengelolaan aktif. Hanya loading dose MgSO4 tidak
diberikan IV, cukup intramuskular saja dimana gram pada
pantat kiri dan 4 gram pada pantat kanan.
3) Pengobatan obstetri :
a) Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi
sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak dilakukan
terminasi.
b) MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tanda-tanda
preeklampsia ringan, selambat-lambatnya dalam 24 jam.
c) Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap
pengobatan medisinal gagal dan harus diterminasi.
d) Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka
diberi lebih dulu MgSO4 20% 2 gr IV.
4) Penderita dipulangkan bila :
a) Penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda
preeklampsia ringan dan telah dirawat selama 3 hari.
b) Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan preeklamsia
ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai
preeklampsia ringan (diperkirakan lama perawatan 1-2
minggu).
6. Komplikasi
a. Stroke
b. Hipoxia janin
c. Gagal ginjal
d. Kebutaan
e. Gagal jangtung
f. Kejang
g. Hipertensi permanen
h. Distress fetal
i. Infark plasenta
j. Abruptio plasenta
k. Kematian janin
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita
hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan
proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau
hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 1998 ).
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema,
dan proteinuria yang timbul karena kehamilan (Ilmu Kebidanan : 2005).
Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai
dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria
dan atau disertai udema pada kehamilan 20 minggu atau lebih
B. Saran
Demikianlah yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahan,karena terbatasnya pengetahuan da kurangnya
rujukan atau referensi yang ada. Penulis banyak berharap para pembaca
yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada
penulis demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini berguna,
bagi penulis khususnya dan juga para pembaca yang budiman pada
umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Saifudin A B., 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sarwono Prawirohardjo. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PADA NY. Q USIA 38 TH,

P6 A0 1 HARI POST PARTUM SPONTAN DENGAN PEB

DI RUANG BOUGENVILLE 1 RSUD KUDUS

Tanggal Pengkajian : 10 Mei 2019

Jam :11. 45 wib

Tempat Pengkajian : Ruang Bougenville 1

No. Register : 654441

I. PENGKAJIAN
A. Data Subyektif
1. Identitas pasien
Ibu Suami
Nama : Ny Q Tn. A
Agama : Islam Islam
Umur : 38 th 43 tahun
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMP SMP
Pekerjaan : IRT Wiraswasta
Alamat : Gajah 5/5 Demak
2. Keluhan Utama : pasien mengatakan kepalanya pusing
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menular seperti ( HIV/AIDS, Hepatitis, TBC ). Penyakit menurun
seperti ( Hipertensi, ASMA, DM ). Penyakit berat seperti (
Jantung, Paru-paru, Ginjal ).
b. Kesehatan Yang Lalu
Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menular seperti
HIV/AIDS, Hepatitis, TBC. Penyakit menurun seperti DM, Asma.
Penyakit Berat seperti Jantung, Paru-paru, Ginjal. Tetapi ibu
mengatakan pada kehamilan ketiga ibu mempunyai riwayat
hipertensi.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu datang atas rujukan bidan dengan G6P0A0 hamil 40 minggu,
dengan hipertensi TD: 190/100 mmHg, urine protein positif 2.
Pasien mengatakan perutnya terasa mulas sejak tanggal 23 April
2013 pukul 09.00 wib. Pasien mengatakan keluar lendir darah dari
pervaginam sejak tanggal 23 April 2013 pukul 10.00 wib. Lalu di
bawa ke RSUD Kudus dan masuk di ruang bersalin (VK), diruang
bersalin pasien mendapatkan tindakan infus RL+MgSO4. Pada jam
22.30 pasien melahirkan anaknya yang keenam dengan cara
spontan, tidak ada penyulit dalam persalinan,tidak mengalami
kecacatan, jenis kelamin perempuan, BB: 3000 gr, PB : 48 cm,
plasenta lahir lengkap. Pada tanggal 24 April 2013 pukul 06.00
wib, pasien dipindahkan keruang bougenvil 1 dengan KU: baik,
TD 170/110 mmHg, sudah terpasang infus RL+MgSO4 20 tpm dan
RL+oxytosin 32tpm, setelah itu pada jam 06.30 di pasang DC.
d. Riwayat Obstetric
1) Menstruasi
Menarche : 14 Tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 6-7 hari
Bau : khas
Warna : merah
Volume : 2X ganti pembalut/hari
HPHT : 23 Juli 2012
HPL : 30 April 2013
2) Riwayat pernikahan
Ibu menikah dengan suami saat usia 19 tahun dan suami
berumur24 tahun usia pernikahan ± 19 tahun dengan status
pernikahan syah.
3) Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

Persalinan Nifas Ket


Hamil
Tgl umur Jenis Jenis BB Kmplikasi
ke- Penolong laktasi Kmplkasi
lahir Kehamilan persalinan kelamin lahir ibu By
1 17 Aterm spontan Dukun Laki-laki 3000gr - - baik - Bayi
th hidup
sehat
2 15 Aterm Spontan Dukun Laki-laki 3000 - - Baik - Bayi
th gr hidup
sehat
3 11 Aterm Spontan Dukun Laki-laki 3000gr - - Baik - Bayi
th hidup
sehat
4 5 th Aterm Spontan Bidan Laki-laki 2800gr - - Baik - Bayi
hidup
sehat
5 3 th Aterm Spontan Bidan Perempuan 3000gr - - Baik - Bayi
hidup
sehat
6 1 Aterm Spontan Bidan/ Perempuan 3000gr - - Baik - Bayi
hari RS hidup
sehat

4) Kehamilan, persalinan, dan nifas sekarang


HPHT : 31 juli 2018
HPL : 7 Mei 2019
TM I : Ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya kebidan
maupun dokter.
TM II : ANC 1 x di bidan. Dari hasil pemeriksaan didapati
bahwa pasien mengalami tekanan darah tinggi dengan TD:
160/100 mmHg
TM III : ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya namun
pada saat akan bersalin, ibu datang ke bidan, dan oleh bidan
dirujuk ke RSUD kudus, karena TD 190/100 mmHg, protein
urine + 2, kaki oedema, kepala pusing, pandangan kabur.
e. Riwayat Pemakaian Kontrasepsi

no waktu jenis efek lama alasan lepas


pasang alkon samping penggunaan
1 tahun 1996 pil tidak ada 2,5 tahun ingin punya anak
2 tahun 1998 pil tidak ada 3,5 tahun ingin punya anak
3 tahun 2002 pil tidak ada 5,5 tahun ingin punya anak
4 tahun 2008 suntik tidak ada 1,5 tahun ingin punya anak
5 tahun 2010 tidak kb - - -
6 tahun 2013 MOW - - -

f. Pola kebutuhan sehari-hari


1) Nutrisi
Selama hamil :
Ibu makan 3X/hari dengan porsi sedang, yaitu 1 piring karena
untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, dengan komposisi
nasi, protein dengan lauk pauk ( tempe, ayam), zat besi dengan
sayur (bayam), vitamin dengan buah ( pisang, jeruk ), air putih
±1600cc/hari.
Selama nifas :
Ibu makan 3 x sehari, porsi sedang yaitu ½ piring. Untuk
memenuhi kebutuhan karbohidrat ibu makan nasi, protein
dengan lauk pauk (tahu, tempe), zat besi dengan sayur ( sop ),
vitamin dengan buah ( pepaya ), dan minum air putih
±1600cc/hari.
Keluhan : tidak ada
2) Pola eliminasi
Selama hamil :
Ibu buang air kecil 2-3X/hari, warna kuning, jernih, bau khas
urin. Buang air besar 1X/hari, dengan konsistensi lunak, bau
khas feses
Selama nifas :
Ibu belum buang air besar selama 2 hari, ibu buang air kecil
dengan bantuan kateter/DC dengan volume 500 cc warna
kuning jernih.
Keluhan : belum bisa buang air besar selama 2 hari.
3) Pola mobilisasi
Selama hamil :
Ibu dapat melakukan mobilisasi dengan baik, tidak ada
halangan, misalnya menyapu, mencuci atau melakukan
pekerjaan sebagai seorang petani.
Selama nifas :
Ibu baru bisa melakukan mobilisasi seperti miring ke kiri,
kanan, namun ibu belum bisa duduk dan berjalan.
Keluhan : belum bisa duduk dan berjalan setelah post partum
4) Pola Istirahat
Selama hamil :
Ibu tidur siang ± 2 jam/hari, tidur malam ± 8 jam/hari, nyenyak.
Selama nifas :
Ibu mengatakan dapat tidur tetapi tidak nyenyak karna masih
merasakan mulas mulas pada perutnya setelah melahirkan,
begitupun juga pada malam hari.
Keluhan : belum bisa tidur nyenyak
5) Pola personal hygiene
Selama hamil :
Ibu mandi 2X/hari, gosok gigi 2X/hari, ganti baju 2X/hari dan
keramas 3X/minggu
Selama nifas :
Ibu belum mandi hanya disibin dengan air hangat
Keluhan : tidak ada keluhan
g. Psikologi
Ibu dan keluarga senang dengan kelahiran bayi perempuan
tersebut.
B. Data Obyektif
1. KU : Lemah
2. Kesadaran : Somnolen
3. TTV : TD : 170/100 mmHg S : 36,3oC

RR : 20 x/menit N : 82 x/menit

4. Status Present
Kepala : Mesochepal, tidak ada lesi
Rambut : Lurus, hitam, bersih, tidak rontok, tidak ada ketombe.
Mata : Simetris, Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
palpebra tidak oedem, penglihatan ibu baik, pandangan tidak kabur,
reflek pupil baik.
Hidung : Simetris, tidak ada sekret, tidak ada pembesaran polip,
tidak ada cuping hidung.
Mulut : Simetris, tidak ada stomatitis, gigi tidak berlubang, tidak
ada caries dentis, lidah bersih, mukosa bibir dan mulut lembab.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid atau vena jugularis.
Aksilla : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe.
Dada : Simetris, tidak ada bising, tidak ada tarikan dinding dada
Abdomen : tidak ada pembesaran kelenjar limpa, serta tidak ada luka
bekas operasi.
Punggung : normal
Genetalia : tidak oedema, tidak ada varises, tidak ada condiloma
akuminata, tidak ada pembesaran kelenjar bartolini, terpasang DC.
Anus : bersih, tidak ada hemoroid.
Ekstremitas atas : jari tangan lengkap, simetris, tidak oedema,
pergerakan aktif, tangan kiri terpasang infus RL + MgSO4 20 tpm, RL
+ Oxiticyn 10 iu (32 tpm)
Ekstremitas Bawah : jari kaki lengkap, simetris, ada oedema,
tidak ada varises.
5. Status obstetri
Mammae : Hyperpigmentasi pada areola, puting susu menonjol dan
bersih, ASI sudah keluar
Abdomen : 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus keras ( baik ), tidak
ada luka bekas operasi
Jalan lahir : Lokhea rubra, warna merah terang, bau khas, volume 1X
ganti pembalut, tidak ada laserasi jalan lahir.

II. INTERPRESTASI DATA


A. Diagnosa Kebidanan
Ny Q, umur 38 tahun, P6A0 2 jam Post partum dengan PEB
Data Subyektif :
 Ibu mengatakan anaknya sehat, berjenis kelamin perempuan, lahir
jam 22.30 WIB
 Ibu mengatakan tekanan darahnya tinggi sejak umur kehamilan 6
bulan
 Ibu mengatakan perutnya masih mules
 Ibu mengatakan pusing, pandangan kaburm sakit kepala
Data Obyektif :

 KU : Lemah
 Kesadaran : Composmentis
 TTV : TD : 170/110 mmHg S : 36,5oC
RR : 24 x/menit N : 82 x/menit
 Lochea : lochea rubra warna merah terang, bau khas, volume 1
x ganti pembalut
 Abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus keras
(baik)
 Jalan lahir :Tidak terjadi laserasi jalan lahir, terpasang DC
 Hasil laboratorium protein urine + 2
B. Masalah
Ibu mengatakan cemas, perut terasa mules dan masih merasa pusing
C. Kebutuhan
Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup
Memberikan dukungan emosional dan psikologis pada ibu
III. DIAGNOSA POTENSIAL
Eklampsia
Antisipasi : Mengantisipasi eklamsia dengan observasi vital sign terutama
tekanan darah.
IV. TINDAKAN SEGERA
Kolaborasi dokter spOG untuk pemberian terapi :
1. MgSO4 40% sebanyak 4 gram
2. Cefotaxim 1 gram tiap 12 jam
3. Sulfasferosus 1x1 oral
4. Vitamin C 2x100 gram oral
5. Methyldopa 3x1250 gram oral
V. RENCANA TINDAKAN
1. Observasi KU, kesadaran, TTV, perdarahan dan urin tiap 4 jam
2. Observasi kontraksi nuterus dan TFU tiap 2 jam
3. Anjurkan pada ibu untuk banyak istirahat
4. Observasi tetesan infus RL 20 tpm
5. Kolaborasi dokter SpOG untuk pemberian terapi
VI. IMPLEMENTASI
1. Mengobservasi KU, kesadaran TTV, perdarahan dan urin tiap 4 jam
2. Mengobservasi kontraksi uterus dan TFU tiap jam
3. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat
4. Mengobservasi tetesan infus RL 20 tpm
5. Melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemberian terapi :
MgSO4 40% 4 gram tiap 6 jam
Cefotaxim 1 gram tiap 12 jam secara IV
Sulfasferosus 1x1
Vitamin C 2x100 gram
Methylfopa 3x1250 gram
VII. EVALUASI
1. KU : lemah
Kesadaran : composmentis
TTV : TD : 160/90 mmHg, RR : 22 x/menit, N : 82 x/menit, S :
36,5oC
PPV : lochea rubra
Urin : 230 cc/24 jam
2. Kontraksi uterus keras dan TFU 2 jari dibawah pusat
3. Ibu bersedia banyak istirahat
4. Tetesan infus RL 20 tpm lancar
5. Kolaborasi dengan dokter SpOG sudah dilakukan :
MgSO4 40% 4 gram tiap 6 jam
Cefotaxim 1 gram tiap 12 jam secara IV
Sulfasferosus 1x1
Vitamin C 2x100 gram
Methylfopa 3x1250 gram

Anda mungkin juga menyukai