Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN UJIAN NEKROPSI UNGGAS

Selasa, 15 Januari 2019

Disusun oleh:
Muammar Khodafi
PPDH Angkatan IV Tahun 2017/2018

Dosen Tentor:
Dr Drh Sri Estuningsih, MSi, APVet

Dosen Penanggung Jawab:


Prof Drh Ekowati Handharyani, MS, PhD, APVet

DIVISI PATOLOGI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
LAPORAN UJIAN NEKROPSI UNGGAS

Hari, Tanggal Nekropsi : Selasa, 15 Januari 2019


No. Protokol : U/6/19
Dosen Tentor : Dr Drh Sri Estuningsih, MSi, APVet
Anamnesis : Beberapa ekor ayam dari jumlah populasi 8000
ekor menunjukkan gejala ngorok, diare berdarah
dan Kaki mengalami kepincang/Split
Signalement
Jenis Unggas : Ayam
Bangsa : Broiler
Jenis kelamin : Jantan
Umur : 32 hari
Warna Rambut : Putih keabuan
Tanggal Mati : 15 Januari 2019
Tanggal Nekropsi : 15 Januari 2019
Alamat Peternak : Pakansari, Cibinong

HASIL PEMERIKSAAN PATOLOGI ANATOMI

Organ Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi


Keadaan Umum Luar
Kulit dan Bulu Bulu terlihat kusam, Kulit terlihat baik tanpa (3/3)
adanya luka maupun penonjolan
Mata Konjungtiva pucat (3/3)
Lain-lain Kaki mengalami split (2/3)
Subkutis
Perlemakan Terdapat perlemakan yang cukup (3/3)
Otot Kompak, tidak ada bekas luka maupun (3/3)
trauma

Rongga Tubuh
Situs Viserum Tidak terdapat cairan, tidak ada perubahan (3/3)
posisi organ
Lain-lain Tidak ada perlekatan peritoneum terhadap (3/3)
organ-organ
Traktus Respiratorius
Kantung hawa Mempunyai aspek bening, tekstur licin, tidak (3/3)
terdapat penebalan maupun hiperemi
Sinus Hidung Tidak terdapat eksudat (3/3)
Khoane Tidak ada perubahan (3/3)
Laring Tidak ditemukan adanya eksudat maupun (3/3)
transudate, warna putih
Trakhea Terdapat hiperemi pada lumen trakhea (1/3)
Bronkhus Terdapat perubahan warna kemerahan (3/3)
Organ Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi
Paru - Paru Warna tidak homogen, terdapat hiperemi dan (3/3)
kongesti, uji apung masih terapung, masih
terdapat krepitasi
Traktus digestivus
Rongga mulut Mukosa pucat (3/3)
Esofagus Tidak ada sisa digesti (3/3)
Tembolok Terdapat perubahan warna kemerahan (2/3)
Proventikulus Terdapat perubahan warna kemerahan (2/3)
Gizzard Tidak terdapat penebalan (3/3)
Usus Halus Terdapat eksudat purulent dan hemoragi (2/3)
Usus Besar Tidak terdapat perubahan (3/3)
Sekum Terdapat perubahan warna kemerahan (2/3)
Seka Tonsil Terdapat pembengkakan dan hiperemi (1/3)
Pankreas Konsistensi kenyal, warna putih, memenuhi (3/3)
kurva duodenalis
Hati Tidak ada perubahan (3/3)
Traktus sirkulatorius
Jantung Tidak mengalami pembesaran otot jantung, (3/3)
warna homogen
Pembuluh darah Tidak ada perubahan (3/3)
Sistem limforetikular
Thymus Terdapat pembengkakan (1/3)
Limpa Terdapat pembengkakan (1/3)
Bursa Fabricious Warna putih, licin, tidak mengalami (3/3)
pembengkakan
Traktus Urogenital
Ginjal Warna homogen, ukuran tidak mengalami (3/3)
pembengkakan

Sistem Saraf Pusat


Otak Tidak ada lesio (3/3)
Sistem lokomosi
Otot Kompak, tidak ada bekas luka maupun (3/3)
trauma
Tulang Tidak ada lesio (3/3)
Persendian Permukaan send licin, warna putih, terdapat (3/3)
cairan synovial. tidak ditemukan adanya
hiperemi

DIAGNOSA PATOLOGI ANATOMI

1. Keadaan Umum Luar Kaki kanan pincang (1/3), kaki kiri pincang
(1/3)
2. Sub Kutis Tidak ada kelainan
3. Rongga Tubuh Tidak ada kelainan
4. Trakturs Respiratorius Trakheitis, Pneumoni, Bronkhitis
5. Traktus Digestivus Enteritis purulent et hemoragika, ingluvitis,
proventikulitis, typhlitis
6. Traktus Sirkulatorius Tidak ada kelainan
7. Sistem Limforetikular Splenitis
8. Traktus Urogenitalia Tidak ada kelainan
9. Sistem Syaraf Tidak diperiksa
10. Sistem Lokomosi Kaki mengalami kepincangan

Diagnosa : Coccidiosis
Diagnosa Banding : Collibacillosis, Fowl Cholera

PEMBAHASAN

Ketiga ekor ayam yang diperiksa menunjukkan kondisi umum adanya sisa
feses pada kloaka yang disertai diare berdarah. Adanya diare berdarah dapat
mengindikasikan adanya gangguan pada traktus digestivus yang dapat disebbkan
oleh infeksi protozoa, helminth, maupun bakteri. Dua dari ketiga ayam
menunjukkan gejala kaki mengalami kepincangan sehingga ayam tidak mampu
berjalan. Kepincangan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya
peradangan, trauma maupun gangguan saraf. Berdasarkan hasil pemeriksaan tidak
ditemukan adanya peradangan maupun perubahan warna pada persendian hock
joint maupun adanya akumulasi cairan synovial yang berlebih. Menurut Shane
(2005), adanya kepincangan pada unggas dapat diakibatkan karena adanya
malnutrisi seperti adanya defisiensi kalsium, fosfor, thiamin, riboflavin, dan
mangan. Kurangnya nutrisi ini dapat mengakibatkan paralisis saraf sehingga kaki
mengalami hiperextensi.
Terdapat satu dari ketiga ayam yang mengalami pembengkakan pada timus
dan limpa. Pembengkakan ini dapat dipicu dari respon peradangan yang terjadi
pada organ-organ lainnya sehingga produksi sel-sel radang meningkat. Pada traktus
respiratorius terjadi perubahan warna menjadi kemerahan pada permukaan lumen
trakea, kejadian ini terjadi pada satu dari ketiga ayam. Perubahan warna ini
menunjukkan terjadi hiperemi pada trakea yang dipicu oleh masuk nya antigen
sehingga menimbulkan respon peradangan. Perubahan juga terdapat pada paru-
paru, satu dari ketiga ayam terdapat perubahan warna merah kehitaman sedangkan
ayam yang lainnya hanya menunjukkan perubahan kemerahan pada paru-parunya.
Hal ini menunjukkan adanya kongesti sampai edema yang disertai adanya respon
radang pada paru-paru. Kejadian ini dapat dipicu dari adanya infeksi virus maupun
bakteri yang menyerang saluran pernafasan seperti infeksi coronavirus dan herpes
virus, Pasteurella, infeksi aspergillus maupun akibat dari terpaparnya racun seperti
aflatoksin (Saif, 2008). Akan tetapi infeksi dari berbagai antigen ini masih bersifat
ringan karena berdasarkan temuan patologi anatomi traktus respirasi belum
mengalami perubahan yang parah.
Pemeriksaan nekropsi terhadap jantung tidak ditemukan adanya penebalan
otot jantung maupun perubahan aspek warna permukaan otot jantung. Tidak
ditemukan adanya kongesti maupun degenerasi sel pada otot jantung. Perubahan
patologi anatomi juga tidak ditemukan pada ginjal, ukuran ginjal masih normal
dengan warna yang homogen dan tekstur yang masih kenyal, tidak ada
pembengkakan maupun hiperemi dan hemoragi. Perubahan paling nyata terlihat
pada traktus digestivus, terdapat peradangan pada tembolok, proventikulus sekum.
Peradangan ini ditandai dengan adanya perubahan warna pada permukaan lumen
menjadi kemerahan. Pada usus halus hingga usus besar terdapat akumulasi eksudat
purulent hingga adanya hemoragi pada jejunum. Kejadian ini terjadi pada dua dari
tiga ekor ayam sedangkan satu ekor ayam terdapat eksudat kataralis. Menurut
Conway dan McKenzie (2007), kejadian hemoragi pada usus sering disebabkan
adanya investasi protozoa yaitu Eimeria sp. atau yang sering disebut Coccidiosis.
Penyakit ini menimbulkan gejala klinis berupa anoreksia, bulu berdiri, kekurusan
serta adanya diarea berdarah. Adanya perkembangan Eimeria sp. pada sel epitel
mukosa usus halus menyebabkan terjadinya kerusakan sel epitel dan terjadi reaksi
peradangan. Sel-sel radang yang berkumpul di sekitar lesi akan meningkatkan
permeabilitas pembuluh drah usus halus sehingga terjdai hemoragi perdiapedesis.
Hemoragi pada usus halus tersebut menyebabkan terjadinya diare berdarah.
Kebaradaan Eimeria sp. dapat mengakibatkan penyerapan nutrisi menjadi
berkurang sehingga host akan mengalami malnutriisi serta gangguan metabolisme
lainnya. Terdapat berbagai macam spesies Eimeria sp. yang dapat menginvasi usus
halus, salah satunya adalah E. brunetti yang menyebabkan hemoragi pada mukosa
distal jejunum dan sekum (Saif 2008).
Selain hemoragi terdapat eksudat purulent pada usus halus, eksudat ini
berwarna kuning keruh kental. Adanya eksudat purulent ini mengindikasikan
adanya infeksi bakteri pada usus halus. Infeksi yang terjadi bisa dikarenakan
collibacillosis maupun pesteurollosis. Secara umum collibaillosis dapat
menimbulkan perubahan adanya akumulasi eksudat pururlent disertai adanya cairan
fibrin dalam persendian dan ruang-ruang serosa, sedangkan pada infeksi Pasteurella
sering dijumpai adanya feses encer berwarna hijau kekuningan (Shane 2005). Uji
diagnosis terhadap Coccidiosis selain memperhatikan tanda-tanda klinis nya, dapat
juga dilakukan pemeriksaan lanjut yaitu dengan melakukan pemeriksaan natif
terhadap oocyst dan morfologinya dalam feses ataupun eksudat pada usus (Conwey
dan McKenzie 2007).

PATOGENESA

Berdasarkan hasil pemeriksaan nekropsi dan temuan patoligi anatomi bahwa


kejadian peyakit yang menyerang unggas ini diawali dari adanya investasi Eimeria
sp. pada usus halus. Keberadaan Eimeria sp. ini mengakibatkan terjadinya erosi sel
epitel yang menimbulkan respon radang hingga terjadinya hemoragi. Kondisi ini
juga mengakibatkan penyerapan nutrisi menjadi menurun sehingga unggas
mengalami malnutrisi. Malnutirisi ini diperparah dengan adanya infeksi bakteri
yang ditandai adanya eksudat purulent dan perubahan warna feses mejadi hijau
kekuningan. Kondisi malnutrisi ini dapat mengakibatkan gangguan metabolisme
diantaranya gangguan penyerapan kalsium dan fosfor pada tulang yang berakibat
terjadinya hiperektensi pada hock joint sehingga ayam mengalami kepincangan.
Malnutrisi juga mengakibatkan gangguan penyerapan protein sehingga terjadi
hipoproteinemai. Edema yang terjdai pada paru-paru salah satu penyebabnya dapat
disebabkan oleh kadar protein yang rendah sehingga mengakibatkan tekanan
osmotik menurun lalu terjadi edema. Terdapat sedikit peradangn pada saluran
pernafasan yang apabila kondisi ini berlanjut dapat mengakibatkan lesion yang
lebih parah. Apabila terjadi lesio yang lebih parah berpotensi mengakibatkan
terjadinya kematian.

SIMPULAN

Ayam mengalami diare berdarah, ngorok disertai kepincangan diakibatkan


oleh adanya investasi Eimeria sp. yang mengakibatkan terjadinya malnutrisi
sehingga mengganggu sistem metabolisme tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

Shane SM. 2005. Handbook on Poultry Disease Ed ke-II. New York (USA):
American Soybean Association.
Saif YM. 2008. Disease of Poultry Ed ke-XII. Victoria (AUS): Blackwell
Publishing
Conway DP, McKenzie ME. 2007. Poultry Coccidiosis: Diagnostic and Testing
Procedures. Lowa (USA): Blackwell Publishing