Anda di halaman 1dari 23

Critical Book Report

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Rutin

Mata Kuliah : FILSAFAT ILMU KEOLAHRAGAAN

Dosen Pengampu : Drs. JUMADIN IP,B.A,M.KES,AIFO

Disusun Oleh:

SILVIA FAUZIAH NASUTION NIM 6173510025

IKOR C Ekstensi

JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

1
2017

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Swt. Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Book Report
ini dengan baik. Berikut ini penulis mempersembahkan makalah Critical Book Report tentang
“Filsafat Ilmu Keolahragaan “ penulis ini di susun untuk memenuhi tugas rutin mata kuliah .

Dalam pembuatan makalah ini, penulis berterima kasih kepada Drs. JUMADIN
IP,B.A,M.KES,AIFO yang sudah memberikan bimbingannya untuk tugas makalah ini sehingga
dapat selesai dengan baik dan berjalan dengan lancar. Adapun makalah ini penulis buat
berdasarkan informasi yang ada.

Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis
memohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik dan
saran yang membangun guna kesempurnaan tugas ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah
pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 16 November 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i

DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................1

1.3 Tujuan Critical Book Report.......................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Indentitas buku..........................................................................................2

BAB III PERBANDINGAN ISI BUKU

3.1 Ringkasan Isi Buku I................................................................................ 3

3.2 Ringkasan Isi Buku II................................................................................5

3.3 Keunggulan dan kelemahan buku...........................................................18

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN..........................................................................................19

4.2 SARAN........................................................................................................19

DAFTAR PUSAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Manusia mempunyai pengetahuan,biatang mempunyai pengetahuan,malaiat juga mempuyai


pengethauan. Makhluk juga selain manusia juga memiliki pngatahuna yng bersifat satatis. Dari
msa ke msa teta begit saja. Tetapi pengetahuan yang dimiki anusia bersifat dinamis terus
berkembang dari zaman ke zaman. Karena manusia mempunya kemampuan mncerna
pengalaman,merenung,mereflksi,menalar,dan meneliti dalam upaya dalam memahami
lingkungannya.

TUJUAN

.Tujuan Penulisan CBR

1.Untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat olahraga

2.Untuk mengulas isi sebuah buku yang di kritik

3.Untuk mengetahui informasi yang ada di dalam buku

4.Membandingkan isi buku

C.Manfaat Penulisan CBR

1.Untuk memahami tentang filsafat olahraga

2.Melatih penulis dalam mengkritik buku.

4
BAB II

ISI BUKU

A. IDENTITAS BUKU
 Buku Utama ( buku satu )
1. Judul Buku : FILSAFAT ILMU KEOLAHRAGAAN
2. Penulis : M.Hamid Anwar
3. Tebal Buku : 80 halaman
4. Tahun Terbit : 2009(cetakan I)
5. Penerbit : FIK Universitas Negeri Yogyakarta
6. ISBN : 978-602-8429-25-2

Buku ini terdiri dari 5 bab, masing-masing bab membahas materi yang berbeda-beda.

 Buku pembanding ( buku kedua )

- Judul Buku : FILSAFAT ILMU KEOLAHRAGAAN


- Penulis : Drs.JUMADIN IP,B.A,M.KES,AIFO
- Penerbit :Universitas negeri medan
- Tahun Terbit : 2017
- Tebal :111 halaman
- Bahasa : bahasa indonesia

Buku ini terdiri dari 12 bab, masing-masing bab membahas materi yang berbeda-beda.

5
BAB II

RINGKASAN MATERI BUKU

BAB I (Pendahuluan)

Pada bab I ini dibahas tentang penegrtian flsafat secar etimologi,terinology.

BAB II (APA ITU FILSAFAT)

Apakah Filsafat Itu?, dimulai dengan sebuah kutipan dari Louis


Kattsoff. Sebuah pembukaan yang tidak menarik (tentunya menurut versi peresensi) minat
pembaca dari sebuah awal bab, yang membuat pembaca yang tidak serius akan segera
menutup buku ini. Bagaimana tidak, cobalah dibaca kutipan Kattsoff berikut,: “Filsafat tidak
memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak
melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat bom atom. Sebenarnya jika di dalam filsafat
anda mencari jawaban yang disepakati oleh semua filsuf sebagai hal yang benar, maka anda
akan kecewa dan bersedih hati ...”. pengertian secara etimologis maupun
terminologis. Pembaca akan mengetahui, mengapa filsafat disebut sebagai master of
scientiarum, juga akan bisa mengerti apakah memang filsafat hanya bisa dipelajari orangorang
tertentu yang linuwih/pinunjul saja atau berintelektual extra ordinary? Sajian bab ini
dilanjutkan dengan pembicaraan masalah Objek dan Metode dalam Filsafat, yang akan
membuat pembaca memahami bahwa the reality dalam filsafat itu adalah segala sesuatu yang
ada, dan bahkan segala sesuatu yang mungkin ada, dalam hal ini termasuk Gusti Alloh yang
disebut sebagai causa prima. Diperkenalkan metode analisis-sintesis atau analitiko-sintetik,
yang umum lazim digunakan dalam menelaah masalah kefilsafatan.

BAB III (sejarah filsafat)

Sejarah Filsafat (demikian tertulis di dalam daftar isi), tetapi di teks


tertulis Beberapa Tokoh dan Aliran-aliran Besar dalam Filsafat. Pembahasannya dibagi
dalam lima subbab, walaupun di dalam daftar isi hanya dituliskan dua subbab. Secara
berurutan, sajiannya adalah sebagai berikut: pertama subbab masa Pra Socrates (beberapa
pemikir besar dicantumkan, yaitu: Thales, Heraclitus, Democritus) dilanjutkan dengan
subbab Tiga Tokoh Besar (Socrates, Plato, Aristoteles), Zaman Pertengahan, Renaisance,
serta diakhiri dengan pembahasan Filsafat Modern.
Masa Pra Socrates (600-300 sebelum Masehi), abad keenam sebelum Masehi
dianggap sebagai awal kemunculan filsafat, disebutkan bahwa Thales adalah peletak dasar
pemikiran filsafati. Tiga tokoh besar, tentu saja dimulai dari Socrates yang sebenarnya tidak
pernah menulis buku, tetapi sejarah mencatat Filsuf ini harus mati dengan cara minum racun.
Dilanjutkan dengan Plato si murid Socrates, yang menulis karya bertajuk Republik dan
Hukum; ilmunya tentang ide, merupakan sumbangan pemikiran penting hingga kini.
Aristoteles murid Plato, menulis sangat banyak dengan subjek yang amat variatif, seperti:
fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi, zoologi.
Kerangka berpikir Silogisme model Aristoteles hingga sekarang masih sering menjadi

6
pembahasan. Pada abad Pertengahan (periode 400-1200 sebelum Masehi) adalah zaman
kegelapan, karena pada masa ini kebenaran dikuasai sepenuhnya oleh dogma gereja.
Diteruskan dengan masa Renaisance (abad ke-15 dan 16), yang berarti kelahiran kembali atau
masa pencerahan (enligthment), karena tradisi ke pikiran sehat kembali hidup, serta
berkembang metode empiris dalam penyelidikan yang mendasarkan pada pengamatan,
pengalaman dan percobaan. Bab ini diakhiri dengan pembahasan masa Filsafat Modern,
dimulai menyebut Rene Descartes sebagai bapak filsuf modern, yang menyodorkan sebuah
konsep “menggunakan keraguan untuk mengatasi keraguan”.

BAB IV ( Manusia dalam Perspektif Filsafat )

Dalam bab IV ini dibahas tentang Pandangan Manusia dalam Perspektif Filsafat, yang
dibagi dalam tiga subbab yaitu:
Manusia Ruh atau Badan, Mendekati sebuah Definisi, dan Hakekat Manusia. Pembahasan
berkisar pada munculnya aliran Idealisme, Materialisme, serta aliran yang menganggap
bahwa badan itu sebagai musuh dari jahat yang semata-mata dari roh. Dilanjutkan dengan
munculnya berbagai pendapat tentang apa itu manusia, mulai dari yang mengatakan bahwa
manusia adalah animal rasional, animal simbolik, homo faber, homo sapiens, serta homo
ludens. Subbab ini ditutup dengan pendapat Paulo Freire, bahwa manusia merupakan satusatunya
mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia; manusia menciptakan sejarah juga
sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah.
Pada subbab Hakekat Manusia, penulis menyadur sebuah pendapat menarik dari Musa
Asy’ari dalam buku Filsafat Islam, bahwa secara substansial dan moral manusia lebih jelek
daripada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki
kemampuan kreatif. Apa yang dikemukakan Musa Asy’ari, sangat nyata terlihat di masa
sekarang, banyak manusia sangat jahat (para koruptor, para manipulator, para perampok, para
penipu, para penindas, para penganiaya), yang konon, menurut guyonan para ustad atau kyai
tidak perlu lagi digoda para iblis. Mengapa? Karena memang secara sadar, mereka sengaja
menjadi berperilaku jahat. Bahkan, mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk
mengikutinya berbuat jahat. Ada cerita, bahwa manusia mengadakan “MoU” dengan para
iblis, untuk memperoleh kekayaan dan kekuasaan di dunia ini.

BAB V (Relevansi Filsafat


dan Pendidikan,)

Relevansi Filsafat dalam Pendidikan, dibagi dalam tiga subbab yaitu:


Metafisika dan Pendidikan, Epistemologi dan Pendidikan, serta Aksiologi dan Pendidikan.
Metafisika adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat realitas. Epistemologi
berarti kata, pikiran, percakapan atau ilmu tentang pengetahuan. Aksiologi secara terminologi
adalah kajian yang menelaah tentang nilai. Kutipan penulis yang cukup penting dari Knight
adalah, “Jika ukuran etik dunia gagal berkembang seiring kemajuan revolusi teknologi, maka
kita akan binasa.” Kerusakan yang mengarah pada kebinasaan mulai nampak, paling tidak
pada beberapa dekade terakhir, tentunya akan dapat dicegah apabila ada langkah-langkah

7
positif ke arah perbaikan.
Pendapat AH Baker dari buku Filsafat Pendidikan Sistematis dari buku ini perlu
dikutip, seperti berikut: ”Setiap praksis pendidikan, entah liar atau sistematis, mencerminkan
suatu pandangan tentang manusia, dunia dan Tuhan”. Tujuan pendidikan, antara lain untuk
memberikan pengetahuan kepada para peserta didik, maka perlu dipahami dari mana sumber
pengetahuan. Menurut George Knight, ada beberapa aspek sebagai sumber pengetahuan,
yaitu panca indera, wahyu, otoritas, akal budi, dan intuisi; yang kesemuanya harus dilihat
sebagai sebuah hubungan yang saling melengkapi. Hal ini tentunya berkaitan dengan adanya
pandangan tentang jenis-jenis kebenaran (Hartono Kasmadi, 1990), yaitu kebenaran agama,
kebenaran filsafat, dan kebenaran ilmu.

BAB VI (Filsafat Olahraga)


Filsafat Olahraga, memperoleh porsi halaman paling banyak,
dari halaman 49-76, dibagi dalam tiga subbab, yaitu: Pengertian Olahraga, Olahraga antara
Dualisme Materialisme dan Holisme, Nilai-nilai Olahraga antara Subjektivisme Objektivisme
dan Nilai Situasional. Penulis mengawali subbab pertama dengan kutipan pengertian olahraga
dari Victoria Neufeldt dan David B Guralnik serta Jay Coakley, yang disarikan menjadi
empat, yaitu: (1) olahraga adalah aktivitas fisk, (2) olahraga adalah aktivitas kompetitif, (3)
olahraga adalah akivitas yang dilembagakan, serta (4) olahraga memuat unsur bermain dan
permainan. Pada bagian ini penulis juga menjelaskan adanya kerancuan, yang dapat membuat
pembaca bingung atau ragu terhadap istilah-istilah olahraga, bermain, dan permainan atau
dalam bahasa Inggris disamaistilahkan dengan “sport, play dan game”

BUKU KEDUA (PEMBANDING)

BAB I (PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN)


Pada bab I ini dibahas tentang Filsafat, Filsafat Pendidikan,Bahasa Filsafat Dan Filsafat
Pendidikan, Hubungan Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan, Hubungan Filsafat Pendidikan
Dengan Program Fakultas Tarbiyah

BAB II (LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT PENDIDIKAN )

Pada bab II ini membahas Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika
mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan
pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala
sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak
pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Menurut Barthelemy,

8
kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama
yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India.
Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani
dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan.

BAB III (ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MODERN DITINJAU DARI ONTOLOGI,


EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI)
Pada bab III ini dibahas tentang Pengertian Ontologi, Epistemologi Dan Aksiologi.
Ontologi memiliki arti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata ini dan bagaimana keadaan
yang sebenarnya. Epistemologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-
pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan
dan jenis-jenis pengetahuan. aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan
mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia

BAB IV (Hubungan antara Filsafat, Manusia dan Pendidikan )

Pada bab IV ini membahas tentang Menurut F.H. Sulaiman, pendidikan merupakan
konsekuensi logis dari filsafat. Sorang filosof selalu berusaha menyebarluaskan paham dan
prinsip yang dianut dan untuk mencapai maksud itu digunakan sarana pendidikan. Filsafat dan
pendidikan tidak dapat dipisahkan, keduanya saling bergantung. Pendidikan menyebarluaskan
filsafat dan mengajarkan kepada orang lain, sedangkan filsafat berperan mengarahkan tujuan
sistem pendidikan, merumuskan sarana dan metode guna mencapai tujuan tersebut.
Jika kita berbicara hubungan filsafat dengan pendidikan berarti kita berbicara adanya
pemikiran filsafat dalam pendidikan sebagai jembatan yang dapat menghubungkan antara filsafat
dengan pendidikan. Hal ini kita harus mengakui bahwa filsafat memberikan pendangan terhadap
pendidikan di satu pihak dan adanya aspek dalam pendidikan yang memerlukan pemikiran
filsafat di pihak lain.
CABANG-CABANG DAN ALIRAN FILSAFAT

CABANG-CABANG FILSAFAT

1. Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang berkenaan dengan hakekat dari kenyataan.
Kebanyakan orang awam tidak susah-susah mencari tahu hakekat realita karena merasa sudah
cukup untuk menerima apa yang dipercayanya sebagai realitas itu dari budaya yang sudah ada
aja.

9
2. Epistimologi
Epistimologi adalah masalah filsafat yang berkenaan dengan hakekat pengetahuan dan
hakekat mengetahui. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah : apakah kebenaran itu? Bagamana
kita mengetahui bahwa kita tahu?
3. Axiologi
Axiologi adalah cabang filsafat yang berkenaan dengan masalah nilai. Persoalan yang
menjadi perhatian axiologi adalah : apakah kebaikan? Apakah yang manusia sukai? Apakah
sesungguhnya yang diinginkan? Sesungguhnya, setiap saat dari hidup kita berisi penilaian yaitu
memilih satu alternatif diantara beberapa kemungkinan untuk meraih hidup yang baik.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT

1. Naturalisme
Paham naturalisme menganggap alam sebagai satu-satunya hal yang nyata. Ajaran ini
berasal dari Democritus, yang lahir kira-kira tahun 460 SM. Ia mengatakan bahwa apabila atom-
atom terkombinasi akan terbentuklah tubuh yang alami. Orang akan mati ketika atom-atom yang
menyusun tubuhnya terpisah.
2. Idealisme
Bagi filsafat idealisme pikiran dan penalaran adalah hal-hal yang penting dalam realita.
Penganut paham ini merasa bahwa diatas dunia fisik terdapat dunia pikiran dan roh.
Menurut kaum idealis, manusia bukanlah ukuran bagi samua hal. Ada suatu sistem yang lebih
besar diatas keberadaan mmanusia. Manusia hidup dibawah hukum yang terdapat bukan pada
aspek fisik tetapi pada moral dan spiritual.
3. Realisme
Realisme adalah filsafat yang berkenaan dengan hal-hal yang ilmiah. Kaum realis sangat
tergantung kepada penelitian ilmiah. Kebenaran harus dicari dengan jalan eksperimen. Tujuan
realisme adalah untuk melihat hal sebagaimana adanya dan bagaimana manusia harus
menyesuaikan diri dengan realita ini.
4. Pragmatisme
Paham pragmatisme mempertanyakan efektifnya sesuatu ide dalam praktek. Sesuatu ide
disebut baik kalau hasilnya dalam praktek adalah baik, demikian pula sebaliknya. Bagi kaum
pragmatisme, kebenaran ditafsirkan menurut keadaannya dalam praktek.

FILSAFAT OLAHRAGA

Filsafat olahraga merupakan suatu studi yang mendalam tentang hakekat olahraga dan peran
yang dimainkannya dalam budaya.Dalam mencari tau hakekat olahraga, filsafat olahraga mencoba
melakukan studi yang mendalam tentang konsep-konsep olahraga yang ada melalui berpikir kritis dan
bebas.

Definisi Filsafat Olahraga

Filsafat olahraga adalah pemikiran filsafat yang diterapkan untuk kegiatan olahraga.

stilah diterapkan itu menyangkut dua hal :

10
1. Menerapkan filsafat dalam olahraga itu berarti mengugunakan metode filsafat dalam
mendiskusikan masalah-masalah olahraga.
2. Mengkaji tujuan dari olahraga secara mendalam. Hal ini berkaitan dengan upaya untuk
menemukan nilai-nilai dalam kehidupan atau budaya.

Sekarang dapatlah disimppulkan bahwa filsafat olahraga itu dapat dianggap sebagai suatu diskusi
yang sistematis tentang masalah-masalah olahraga pada tingkat filosofis.

BERMAIN, PERMAINAN, DAN SPORT

Orang awam seringkali menyama-artikan istilah-istilah bermain, permainan dan sport, tetapi
mahasiswa harus dapat membedakan ketiga istilah itu satu dengan lain karena memang artinya tidak
persis sama sehingga pemakaiannya tidak dapat dipertukarkan.

BERMAIN (PLAY)

Bermain adalah suatu kegiatan atau okupasi yang dilakukan dalam peraturan yang dibuat menurut
waktu dan tempat, sesuai dengan aturan yang diterima secara bebas tetapi mengikat, mempunyai tujuan
pada dirinya sendiri, dan diiringi dengan perasaan ketegangan, gembira, dan kesadaran bahwa bermain
berbeda dengan kehidupan biasa.

Bentuk-bentuk bermain :

 Paidia

Padia merupakan manifestasi yang spontan dari instink bermain. Ia dipenuhi oleh suana gembira
yang diekspresikan oleh dorongan (agitasi) yang muncul mendadak dan tidak diatur-atur.

 Ludus

Ludus adalah bermain yang mempunyai ciri formal dan konvensional. Artinya dilaksanakan
secara resmi dan ada aturan yang disepakati bersama.

Kajian Konseptual Tentang Bermain

Untuk mencari hakekat bermain, kita dapat memberlakukan metode mempertentangkan. Menurut
Guttmann (1978) ada tiga versi dalam hal ini. Versi 1 adalah bahwa bermain merupakan antonim dari
bekerja. Versi kedua : bermain adalah kosokbali dari realitas. Bermain adalah non-realitas, bukan dunia
nyata.

PERMAINAN (GAME)

Bermain atau bermain-main diwarnai oleh suasana paidia tetapi dalam permainan, unsur luduslah
yang menonjol. Permainan yang formal merupakan interaksi yang kompetitif dan bertujuan untuk
mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

11
Permainan adalah suatu kegiatan bermain yang mempunyai peraturan yang jelas, tujuan yang
khusus, unsur kompetisi atau kontes, batas waktu atau kadang-kadang ruang, serta urutan tindak yang
pada hakekatnya terulang setiap kali permainan itu dimainkan.

Bentuk-bentuk Permainan :

 Permainan Keterampilan Fisik


Hasilnya bergantung kepada terutama kemampuan fisik pemain, seperti kontes angkat berat.
 Permainan Strategi
Permainan yang melibatkan langkah-langkah penyerangan yang masing-masing langkah
merupakan satu pilihan antara beberapa alternatif.
 Permainan Keberuntungan
Pemenangnya ditentukan oleh tebakan irasional maupun perilaku suatu mesin.

SPORT

Di Indonesia orang awam seringkali menganggap kata “olahraga” sebagai pedoman kata untuk
“sport”. Namun, apabila seseorang melakukan senam kesegaran jasmani atau senam jantung sehat, ia juga
disebut berolahraga, padahal kegiatan-kegiatan tersebut bukanlah sport dalam arti yang sesungguhnya.
Bermain dan permainan juga sering dikacaukan orang dengan istilah sport.

Olahraga adalah segala kegiatan untuk mengembangkan, membina, dan meningkatkan kekuatan
jasmaniah dan rohaniah pada setiap manusia.

HUBUNGAN SPORT DENGAN PENDIDIKAN JASMANI

Ketika pendidikan jasmani dipandang sebagai pendidikan untuk jasmani, sport tidak dimasukkan
dalam kurikulum pendidikan jasmani. Isi kurikulum hanya terdiri atas latihan jasmani dan senam. Sport
mulai masuk kurikulum pendidikan jasmani setelah konsepnya berubah menjadi pendidikan melalui
jasmani.

Sport diadopsi oleh pendidikan jasmani karena keduanya mempunyai persamaan dalam hal
perhatiannya terhadap gerak manusia, serta adanya nilai-nilai pendidikan dalam sport.

Masuknya sport ke dalam program pendidikan jasmani mempunyai kebaikan dan kelemahan.

KEBAIKAN :

 Bertambah perhatian kepala sekolah terhadap pendidikan jasmani


 Respek dari guru-guru bidang studi lain
 Meningkat minat murid mengikuti pendidikan jasmani

KELEMAHAN :

 Membengkaknya dana yang harus disediakan


 Memancing timbulnya kegiatan tidak terpuji
 Guru diskriminatif

12
 Kesulitan memperoleh guru yang profesional

Untuk menjamin terpenuhinya visi dan missi pendidikan jasmani sebagai alat pendidikan maka tak
dapat ditawar lagi bahwa mata pelarajan pendidikan jasmani mdi sekolah harus diasuh oleh guru yang
profesional (yaitu alumni perguruan tinggi bidang studi pendidikan jasmani) serta berdedikasi tinggi dan
kreatif. Selain daripada itu, ketersediaan fasilitas dan peralatan sport sesuai dengan tuntunan kurikulum
harus cukup memadai.

SPORT SCIENCE

Dalam buku ini, istilah “sport science” sengaja dipakai sebagaimana aslinya dan tidak diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia, misalnya menjadi “sains olahraga” demi menghindar dari penafsiran yang
keliru.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata science dialih-bahasakan menjadi “sains”, yang diartikan
“pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk didalamnya, botani, fisika, kimia,
zoologi, dan sebagainya. Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa science (sains) adalah disiplin
keilmuan.

 Pedagogi Sport
Berurusan dengan pengajaran. Khususnya keterampilan dalam situasi sport.
 Biomekanika Sport
Berurusan dengan efek hukum alam dan tenaga-tenaga pada tubuh dalam sport.
 Fisiologi Sport
Berurusan dengan bagaimana tubuh berfungsi ketika melakukan laltihan.
 Psikologi Sport
Berurusan dengan pengkajian tingkah laku manusia dalam situasi sport.

 Sosiologi Sport
Berurusan dengan tingkah laku sosial orang dalam situasi sport, baik tingkah laku secara
individual atau kelompok.
 Sejarah Sport
Mengkaji Sport dimasa lalu.
Filsafat Sport
Berurusan dengan pengkajian apa dan mengapa sport.

MASALAH ETIKA DALAM OLAHRAGA

Etika adalah bagian dari cabang filsafat Axiologi. Etika berkenaan dengan moral dan kelakuan
atau dengan usaha untuk menetapkan aturan tentang kelakuan yang baik.

o Etika dan Moral

Etika berasal dari kata Latin “ethike” yang berarti ilmu tentang moral atau watak (character).
Sedangkan moral berasal dari kata latin “mos” yaitu adat istiadat atau tatakrama.

13
Perbuatan bernilai moral yang bersifat universal dan lebih prinsipil diintisarikan oleh Rusli dan
Sumardianto (2000) berupa :

1. Keadilan
2. Kejujuran
3. Tanggung jawab, dan
4. Kedamaian

o Bagaimana Etika Berkaitan dengan Olahraga

Inti dari kegiatan olahraga pada umumnya adalah gerak manusia (human movement). Secara
internasional kita mengenal istilah-istilah play (barmain), games (permainan), physical education
(pendidikan jasmani), sport dan athletics yang khusus berlaku di Amerika dan diartikan sebagai olahraga
berkompetisi tinggi.

o Pelajaran dari Olahraga

Beberapa pelajaran buruk dari sudut pandang Etika terhadap praktek olahraga adalah sebagai
berikut :

1. Citra Olahraga Berskala Besar


Olahraga berskala besar menurut istilah Freeman (1982) adalah olahraga kompetitif
tingkat puncak yang sekaligus berbiaya besar dan bersifat profesional.
2. Penghargaan Berlebihan Terhadap Kemenangan
Dengan berpegang pada prinsip bahwa kemenangan adalah satu-satunya maka orang
akan siap melakukan apa saja untuk mencapai tujuan menang. Ini merupakan
penyalahgunaan cita-cita olahraga sebagai kontributor bagi proses pendidikan, dan
cenderung mengabaikan nilai-nilai etika.

3. Sportivitas Yang Buruk


Sportivitas yang buruk dapat muncul sebagai akibat dari contoh yang diberikan oleh guru
dan pelatih kepada timnya dan murid-murid lain dalam berupaya meraih kemenangan.
4. Kurangnya Kegembiraan Dalam Olahraga
Dengan adanya penekanan yang berlenihan terhadap masalah menang kalah, unsur
kegembiraan dari sport jadi tersingkir.
5. Pengaruh Uang
Dewasa ini kecendrungan bahkan kekuatan terbesar mempengaruhi olahraga adalah uang.
Banyak coach olahraga sekolah yang bersifat ekstrakulikuler itu yang motivasi utama
adalah gaji.

PENIPUAN DALAM OLAHRAGA

14
Bentuk-bentuk penipuan dalam olahraga berbagai macam, baik yang dilakukan secara terbuka
maupun sembunyi-sembunyi. Yang terbuka yaitu memanfaatkan celah kelemahan dari peraturan. Adapun
yang sembunyi-sembunyi misalnya menyogok, menteror lawan, sampai menggunakan obat merangsang
(doping). Tindakan tidak terpuji ini biasanya berlangsung di lapangan pertandingan dengan tujuan untuk
menang dengan menghalalkan segala cara.

SISTEM KEPERCAYAAN DALAM OLAHRAGA

Menurut Edwards (1973), sistem kepercayaan dalam olahraga itu mengandung 12 butir :

1. Partisipasi dalam olahraga mengembangkan karakter yang baik


2. Olahraga mengembangkan nilai kesetiaan
3. Olahraga menghasilkan altruisme
4. Olahraga menghasilkan nilai sosial dan pengendalian diri
5. Olahraga mengembangkan ketabahan menderita
6. Olahraga mempersiapkan atlet untuk kehidupan
7. Olahraga memberikan kesempatan kepada individu untuk maju
8. Olahraga menghasilkan kebugaran jasmani
9. Olahraga menghasilkan ketangguhan mental
10. Olahraga mendukung prestasi pendidikan
11. Olahraga mengembangkan religiusitas
12. Olahraga mengembangkan patriotisme

OLAHRAGA SEBAGAI SENI

Seni adalah satu kata yang banyak mengandung pengertian tetapi dalam keseluruhannya, seni itu
mengandung keindahan. Keindahan itu bukan hanya terdapat pada objek (lukisan, patung, gedung,
pemandangan alam) tetapi juga meliputi indah dalam melakukan sesusatu.

Tujuan tertinggi dari latihan olahraga apa saja adalah untuk mencapai gerakan-gerakan yang
berseni (indah) dengan melalui tahapan mahir kemudian menjadi refleks (tidak dipikirkan lagi).

Hasil olahraga lainnya yang bernuansa estetika adalah bentuk tubuh yang indah. Keindahan
bentuk tubuh yang proporsional merupakan faktor-faktor lainnya dalam kontes yang menghasilkan
“Mr.Universe” dan “Miss Universe”.

Apresiasi Seni Olahraga

Apresiasi berhubungan dengan rasa, sikap, prasangka, standar dan cita-cita. Dengan respon
emosional sebagai apresiasi, yang kita maksudkan adalah respon kita terhadap situasi yang
membangkitkan nilai emosi bagi kita.

Dalam pendidikan apresiasi olahraga, sikap guru atau pelatih juga sangat menentukan. Seorang
guru yang setiap kali mengajar hanya berdiri di pinggir lapangan dengan memakai stelan jas mini tak

15
akan berhasil menanamkan apresiasi kepada murid. Guru yang mempunyai rasa apresiasi terhadap
sportivitas, kerapian diri, dan kebenaran praktek gerakan akan cenderung dapat menularkan sikap ini
kepada murid-muridnya.

Filsafat Olagraga

Filsafat Olagraga merupakan sebuah kata majemuk yang tersusun dari kata “filsafat” dan
“olahraga”. Karena itu, suka atau tidak suka, orang harus memounyai pengetahuan yang memadai tentang
filsafat terlebih dahulu sebelum mengadakan penjelajahan dalam subjek filsafat olahraga.

Secara etimologi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia”. Philos artinya suka, cinta
atau gandrung, dan Sophia atau Sophos berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat dapat diartikan secara umum
sebagai cinta atau gandring kepada kebijaksanaan. Karena kebjaksanaan itu mempengaruhi pilihan yang
kita ambil dan kegiatan yang kita lakukan filsafat itu menjadi suatu disiplin yang paling mendasar.

Cabang – cabang dan Aliran Filsafat :

 ONTOLOGI
Ontologi adalah cabang filsafat yang berkenaan dengan hakekat dari
kenyataan.kebanyakan orang awam tidak susah-susah mencari tahu karakter realita karena merasa
sudah cukup untuk menerima apa yang dipercayanya sebagai realitas itu dari budaya yang sudah
ada saja.

 EPISTEMOLOGI

Epistemologi adalah masalah filsafat yang berkenaan dengan hakekat pengetahuan dan
hakekat mengetahui. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah : Apakah kebenaran itu? Bagaimana
kita mengetahui bahwa kita tahu?

 AXIOLOGI
Axiologi adalah cabang filsafat yang berkenaan dengan masalah nilai. Persoalan ini
menjadi perhatian axiologi adalah : Apakah kebaikan? Apakah yang mausia suka? Apakah
sesungguhnya yang di inginkan? Sesungguhnya, setiap saat dari hidup kita berisi penilaian yaitu
memilih satu alternatif diantara beberapa kemungkinan untuk meraih hidup yang baik.

Aliran – aliran Filsafat :

 NATURALISME
Paham naturalisme menganggap alam sebagai satu-satunya hal yang hidup.

 IDEALISME
Bagi filsafat idealisme pikiran dan penalaran adalah hal-hal penting dalam realita,
penganut paham ini merasa bahwa diatas dunia fisik terdapat dua pikiran dan roh.

16
 REALISME
Realisme adalah filsafat yang berkenaan dengan hal-hal ilmiah.

 PRAGMATISME
Paham pragmatisme mempertanyakan efektifnya suaru ide dalam praktek.

FILSAFAT OLAHRAGA

a. Pengalaman Berolahraga
Selain pengalaman yang bersifat peribadi, kegiatan olahraga juga dapat menimbulkan
pengalaman sosial.
b. Alasan Mengadakan Pengkajian Filosofis
Untuk mengetahui apa yang perlu kita ketahui tentang olahraga, untuk menghasilkan
pemahaman yang lebih mendalam tentang olahraga.
c. Definisi Filsafat
Filsafat olahraga adalah pemikiran filsafat yyang diterapkan untuk kegiatan olahraga.
d. Isu-isu dalam filsafat olahraga
1. Hakekat sport
2. Tubuh dan keberadaan
3. Sport sebagai pengalaman bermakna
4. Sport versus pendidikan jasmani : konflik filosofis
5. Sport dan estetika
6. Sport dan nilai
7. Konsep fair Play dan Sportivitas
8. Konsep amatir
9. Sport dan Spekulasi Metafisik

BERMAIN, PERMAINAN, DAN SPORT

 Bermain (play)
Bermain adalah suatu kegiatan atau okupasi yang dilakukan dalam peraturan yang dibuat
menurut waktu dan tempat.
 Permainan (game)
Permainan adalah suatu kegiatan bermain yang mempunyai peraturan yang jelas, tujuan
yang khusus, unsur kompetisi atau kontes, batas waktu atau kadang – kadang ruang.
 Sport
Kenyataan menunjukkan bahwa kata sport sudah populer dan sudah lama dipakai oleh
orang indonesia. Oleh karena itu dalam buku ini kata sport dipakai menurut aslinya saja tanpa
dialih bahsakan lagi kedalam bahasa indonesia tetapi dengan elaborasi yang lebih mendalam.

HUBUNGAN SPORT DENGAN PENDIDIKAN JASMANI

17
Untuk memahami hubungan antara sport dan pendidikan jasmani perlu terlebih dahulu
diketahui batasan dari kedua istilah itu.

Sport adalah suatu kegiatan manusia yang melibatkan organisasi administrasi dan
peraturan-peraturan berlatar belakang sejarah yang menetapkan tujuannya dan membatasi pola
perilaku manusia.

Sementara itu pendidikan jasmani, dalam garis besarnya, adalah suatu bentuk pendidikan.
Pendididkan jasmani adalah pendidikan untuk jasmani.

Ketika pendidikan jasmani dipandang sebagai pendidikan utuk jasmani, sport tidak
dimasukkan dalam kurikulum pendidikan jasmani. Isi kurikulum hanya terdiri atas latihan
jasmani dan senam. Sport mulai masuk kurikulum pendidikan jasmani setelah konsepnya berubah
menjadi pendidikan melalui jasmani.

SPORT SCIENCE

Perbedaan antara profesi dengan disiplin (ilmu). Tujuan dasar dari suatu profesi adalah
“untuk mengubah beberapa aspek dari realitas, demi meningkatkan kesejahteraan manusia.

 Fisiologi sport

Subdisiplin ini berurusan dengan bagaimana tubuh berfungsi ketika melakukan latihan (exercise).
Efek dari latihan merupakan faktor yang paling diperhatikan dalam fisiologi sport sehingga membuat
subdisiplin ini sangat penting dalam kajian sport.

 Psikologi Sport

Psikologi sport berurusan dengan bagaimana tubuh berfungsi ketika melakukan latihan (exercise).

 Sosiologi Sport

Sosiologi sport berurusan dengan tingkah laku sosial orang dalam situasi sport, baik tingkah laku
secara individual maupun kelompok.

 Sejarah Sport

Sejarah sport mengkaji sport dimasa lalu. Ia dapat berfungsi mengajari kita bagaimana sesuatu dapat
menjadi seperti yang seperti sekarang dan ia dapat menuntun kita dalam memecahkan masalah.

 Filsafat Sport

Filsafat sport berurusan dengan pengkajian apa dan mengapa sport. Dalam bab-bab terdahulu sudah
dibahas secara panjang lebar tentang filsafat sport sehingga disini tak perlu dikupas kembali.

18
NILAI – NILAI DALAM OLAHRAGA

Yang dimaksud dengan nilai disini bukanlah angka (skor) yang menunjukkan derajat
keberhasilan dari suatu ujian atau kinerja. Ia juga bukan harga (price) yang diberikan dalam bentuk uang
yang ekuivalen dengan suatu barang atau jasa.

Sport, sebagai suatu subkultur, mengandung nilai-nilai yang melekat padanya. Nilai-nilai yang
terkandung dalam sport ini dapat ditransfer dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Hakekat olahraga khususnya Competitive Sport (olahraga pertandingan) di negara-negara


kapitalis juga tak sepi dari kritik. Berangkat dari pemahaman bahwa nilai-nilai masyarakat tercermin
dalam nilai-nlai sport.

MASALAH ETIKA DALAM OLAHRAGA

 Etika dan Moral

Etika berasal dari kata latin “Ethike” yang berarti ilmu tentang moral atau watak (character).
Sedangkan moral berasal dari kata latin “mos” yaitu adat istiadat atau tatakrama. Apabila aturan
mengenai tatakrama itu dituliskan dan diberlakukan untuk sekelompok orang maka aturan itu disebut
kode etik.

Kekuatan etika tidak sekuat kekuatan hukum. Artinya orang yang melakukan perbuatan tidak
bermoral tidak menjalani hukuman fisik atau denda melalui proses pengadilan. Hukumnya hanya bersifat
sosial, seperti dicap “tidak tahu adat”, dibenci atau dihindari masyarakat lingkungannya. Misalnya
pelanggaran terhadap kode etik.

Bagaimana Etika Berkaitan dengan Olahraga

Inti dari kegiatan olahraga pada umumnya adalah gerak manusia (human movement). Secara
internasional kita mengenal istilah-istilah play (bermain), games (permainan),physical education
(pendidikan jasmani),sport dan athletics.

 Metode Keteladanan
Pelajaran dari Olahraga :
 Citra olagraga berskala besar
 Penghargaan berlebihan terhadap kemenangan
 Sportivitas yang buruk
 Kurangnya kegembiraan dalam berolahraga
 Pengaruh uang

PENIPUAN DALAM OLAHRAGA

Penipuan dalam olahraga perlu dibahas secara khusus bukan hanya karena isu ini telah lama
muncul dan makin meluas dengan makin berkembangnya kegiatan olahraga tetapi juga dapat menjadi
ancaman bagi citra olahraga itu sendiri. Bentuk-bentuk penipuan dalam olahraga berbagai macam, baik

19
yang dilakukan secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Yang terbuka yaitu memanfaatkan celah
kelemahan dari peraturan. Adapun yang sembunyi-sembunyi misalnya menyogok, menteror lawan,
sampai menggunakan obat perangsang (doping).

SISTEM KEPERCAYAAN DALAM OLAHRAGA

Menurut Edwards (1973), sistem kepercayaan (creed) dalam olahraga itu mengandung 12 butir :

1. Olahraga mengembangkan karakter yang baik


2. Olahraga mengembangkan nilai kesetiaan
3. Olahraga menghasilkan altruisme
4. Olahraga menghasilkan nilai sosial dan pengendalian diri
5. Olahraga mengembangkan ketabahan menderita
6. Olahraga mempersiapkan atlet untuk kehidupan
7. Olahraga memberikan kesempatan kepada individu untuk maju
8. Olahraga menghasilkan kebugaran jasmani
9. Olahraga menghasilkan ketangguhan mental
10. Olahraga mendukung prestasi pendidikan
11. Olahraga mengembangkan religiusitas
12. Olahraga mengembangkan patriotisme.

OLAHRAGA SEBAGAI SENI

Salah satu tujuan latihan olahraga secara kontinu adalah untuk mendapatkan gerakan yang
berseni. Pada waktu pertama kali memasuki latihan, gerakan atlet terlihat kaku dan tidak indah. Dengan
berlatih terus, gerakan ini meningkat menjadi gerakan yang mahir dan kemudian mencapai tingkat
gerakan refleks dimana atlet tidak terlalu banyak lagi melibatkan pikirannya untuk mengingat-ingat teori
tentang urutan detil-detil gerakan yang harus dilakukannya.

20
BAB III

PEMBAHASAN

A. PERBEDAAN

Perbedaan antara buku pertama terbitan dari Pustaka Pelajar dan buku kedua terbitan
Departemen Pendidikan Nasional jelas terlihat dari sampul buku, penerbit, pengarang, dan
kelengkapan materi buku. Buku utama berjumlah 5 bab sedangkan pada buku pembanding
terdapat 12 bab. Halaman pada buku utama jauh lebih banyak. Di dalam buku utama semua
materi yang tercakup begitu rinci dijelaskan dibandingkan dengan buku pembanding.

B. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN

. KEUNGULAN

Buku ini mengarahkan pembaca untuk memahami secara detail tentang filsafat secara
umum sampai pada filsafat yang lebih khusus. Pada buku ini juga ditemukan beberapa konsep
yang memberikan acuan bagi pembaca dalam membandingkan kondisi yang terjadi pada bangsa
kita sendiri dengan bangsa lain yang ada di belahan dunia ini, sehinga pembaca tertantang untuk
menemukan jawaban dari apa yang selama ini menjadi teka-teki bagi diri pembaca itu sendiri.

KELEMAHAN

Sistematika penulisan pada buku Filsafat olahrga ini tidak tersusun secara hirarki
berdasarkan subpokok bahasan dan tidak diberikan penomoran, sehingga menimbulkan
kekeliruan untuk mengikuti alur pemikiran pengarang.Buku ini tidak cocok untuk pembaca
pemula karena bahasa yang digunakan tidak sederhana dan banyak mengutip bahasa asing dalam
menegaskan setiap topik pembahasannya. Pada buku ini terdapat beberapa kesalahan, baik
kesalahan struktur, penulisan kata yang tidak baku, dan kesalahan penulisan EYD. Begitupun
dalam menguraikan subpokok bahasan yang satu dengan lainnya terkadang berulang dijelaskan.
Banyak hal-hal yang dibahas dalam buku ini memilki makna yang ambiguitas.

21
BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Filsafat olahraga pada dasarnya merupakan pedoman dan prinsip-prinsip tertinggi yang
menentukan pemikiran dan tindakan seseorang.Sistem nilan yg kita anut dan kita pertahankan,
menjadi sarana bagi kita untuk menafsirkan kejadian-kejadian dan mengendalikan tindakan
kita.Dalam arti yang seluas-luas nya,filsafat olahraga merupakan hasil renungan radikal tentang
olahraga.Dengan mempelajari (dalam arti menguasai nya), seorang ilmuwan olahraga maupun
guru pendidikan jasmani atau olahraga diharapkan akan meyakini dengan sepenuh nya
bahwaprofesi nya mengandung bagi makna bagi kemanusiaan secara signifikan.Selain dari pada
itu merekan pun akan mampu mengkomunikasikan olahraga kepada publik.

SARAN

Bagi penyusun, sebagai bahan referensi untuk meningkatkan pemahaman tentang


Filsafat olahraga, Bagi penyaji, sebagai bahan rujukan untuk menambah pengetahuan dalam
presentasi, Bagi mahasiswa, sebagai bahan referensi untuk menambah wawasan dan pengetahuan
tentang Filsafat olahraga.

22
DAFTAR PUSTAKA

Best, David (1978). Philosophy and human movement London: Goerge Allen&Unwin.

Bucher, charles A. (1964). Fundations of physical education. Fourth edition, saint louis: The CV.
Mosby company

Cailois, Roger.(1961) man play and games

Cowell . Charles C dan Frances Wellman L(1963) Phisiologi

Edward. H (1973) sociology of sport.

Freeman, Williams. H (1982) physical education and sport

Guttman. A (1978) from ritual to record.

Huizinga J (1964) homo ludens

Keyon Gerald S(1969) Sport Culture and society

Landers . Daniel M (1977) Social problems in athetic

Obenteuffer, Delbert (1951) physical education

Rusli Lutan , Prof Dr dan Sumardianto (1999) Filsafat Olahraga)

Steinhaus , A.H(1963) toward and understanding

Suton- Smith, B (1971) The folkgames of childer

Zais, Robert S (1976) curicullum: principles and foundations.

New York: Harper and Row, Publishers.

23