Anda di halaman 1dari 17

PERILAKU PENGGUNA ALKOHOL MAHASISWA DI UNIVERSITAS HALUOLEO

Alcoholic Behavior Of Students In Haluoleo

Erick Apriansyah Fauzi


Jurusan Kesehaan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Haluoleo

ABSTRAK
Minuman beralkohol atau kadang disingkat minol adalah minuman yang mengandung etanol.
Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Apabila minuman
beralkohol dikonsumsi secara terus menerus akan merugikan dan membahayakan baik jasmani dan rohani
yang akan mempengaruhi perilaku dan cara berpikir. Akibat lebih lanjut akan mempengaruhi kehidupan
sosialnya baik dengan keluarga maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Subjek dalam penelitian ini
adalah 3 orang Mahasiswa Universitas Haluoleo yang berasal dari beragam Fakultas. Metode pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa wawancara mendalam terhadap ketiga
subjek penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dari minuman beralkohol untuk
mereka serta dampak dari minuman tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif mereka
mengonsumsi minuman keras relative sama yaitu rasa ingin tahu dan coba – coba yang berujung pada
kecanduan, faktor pergaulan juga sangat berpengaruh karena pengaruh teman sebaya sangat besar pada
para responden.

Kata Kunci : Perilaku, Minuman Alkohol, Mahasiwa, Universitas Haluoleo

Abstract

Alcoholic drinks or sometimes abbreviated as minol is a beverage containing ethanol. Ethanol is a


psychoactive substance and its consumption causes loss of consciousness. If alcoholic beverages are
consumed continuously will harm and harm both the physical and spiritual that will affect the behavior and
way of thinking. Further consequences will affect the social life both with family and relationships with
surrounding communities. Subjects in this study were 3 students of Haluoleo University who come from
various faculties. Data collection methods in this study using qualitative methods of in-depth interviews of
the three research subjects. The purpose of this study was to find out the meaning of alcoholic beverages
for them as well as the impact of the drink. The results showed that their motifs consume the same relative
liquor, the curiosity and try - trial that culminate in addiction, social factors are also very influential
because of the influence of peers is very large on the respondents.

Keywords : Behavior, Alcoholic Drink, Haluoleo University


Pendahuluan

Minuman keras (disingkat miras), minuman suling, atau spirit adalah minuman beralkohol yang
mengandung etanol yang dihasilkan dari penyulingan (yaitu, berkonsentrasi lewat distilasi) ethanol
diproduksi dengan cara fermentasi biji-bijian, buah, atau sayuran. Contoh minuman keras
adalah arak, vodka, gin, baijiu, tequila, rum, wiski, brendi, dan soju. Di Indonesia, definisi "minuman
keras" dan "minuman beralkohol" tercampur aduk dan cenderung dianggap barang yang sama sehingga
juga meliputi minuman fermentasi yang tidak disuling seperti bir, tuak, anggur, dan cider.
Minuman beralkohol merupakan zat psikoaktif yang bersifat adiksi atau adiktif. Zatpsikoaktif
adalah golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, sehingga dapat menimbulkan
perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi dan kesadaran seseorang dan lain-lain. Sedangkan adiksi
atau adiktif adalah suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan kecanduan atau
ketergantungan (Apriansyah, 2008).
Minuman beralkohol adalah cairan bening yang mudah menguap dan mudah bergerak, memiliki
bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala api berwarna biru dan tidak berasap.
Dalam minuman keras, alkohol merupakan bahan utama dengan kadar yang bermacam-macam, misalnya :
whisky, brendi, bir, dan juga anggur dalam minuman tradisional. (Wresniwirro, 1995). Wresniwirro (1995)
menjelaskan bahwa alkohol dalam minuman keras, mengandung suatu zat tertentu yaitu yang kadar
etanolnya lebih dari 1-55%, bila dikonsumsi secara berlebihan (>100 mg/dl), dapat membuat alam perasaan
seseorang menjadi berubah, orang menjadi mudah tersinggung dan perhatian terhadap lingkungan
terganggu, juga dapat berakibat dapat mengalami gangguan koordinasi motorik, dan dapat menimbulkan
kerusakan permanen pada jaringan otak. Orang yang mengalami gangguan kendali koordinasi motorik,
dapat berbuat apa saja tanpa sadar.
Penelitian lain dilakukan pula oleh Purnomowardani dan Koentjoro yang mengemukakan bahwa
sebagian besar korban penyalahgunaan narkotika dan minuman keras adalah remaja, yang terbagi dalam
golongan umur 14–16 tahun (47,7%); golongan umur 17–20 tahun (51,3); golongan umur 21–24 tahun
(31%). Tinjauan dari tingkat pendidikan dan latar belakang status ekonomi keluarga. (Purnomowardani &
Koentjoro, 2000). Menurut beberapa sumber data, Konsumsi minuman keras telah sedemikian luas, bukan
hanya dikalangan remaja, tetapi anak-anak di bawah umur, orang tua, selebritis atau elit politik pun banyak
yang mengonsumsi alkohol. Para dokter yang turut menyertai kongres internasional ke-24 untuk
memerangi alkoholisme di perancis mengeluarkan pernyataan tentang efek alkohol terhadap akal dan jiwa,
20% dari wanita dan 60% dari laki - laki yang masuk ke rumah sakitadalah pecandu rokok. 70% penderita
penyakit jiwa dan 40% penderita veneral parah merupakan akibat dari penyalahgunaan alcohol (Momon
Sudarmo, 2008:169).
Data dari WHO tercatat 91 juta orang yang terjejas karena penggunaan alkohol pada tahun 2002
jumlah tersebut 41 persennya pengguna alkohol adalahremaja, dan penyebab utama terjadinya kecelakaan
dan tindak kriminal di dunia Alkohol di dunia barat sudah menjadi lazim dan diterima dalam pergaulan
sosial dan hampir dikonsumsi setiap hari. (WHO, 2002). Data yang dihimpun oleh BNN (Badan Narkotika
Nasional) sampai tahun 2006 menggambarkan pola peningkatan penyalahgunaan zat termasuk alkohol
yang significant, tahun 2006 terjadi 28.118 kasus penyalahgunaan narkotika, 21.318 kasus penyalahgunaan
psikotropika dan 4.639 kasus penyalahgunaan zat adiktif, dari tahun sebelumnya tahun 2005 terjadi 8.171
kasus penyalahgunaan narkotika, 6.733 kasus penyalahgunaan psikotropika, dan 1.348 kasus
penyalahgunaan zat adiktif. Penyalahgunaan alkohol dikelompokkan berdasarkan pendidikan formal pada
tahun 2006, SLTP dan SLTA menempati urutan pertama dengan 73.253 kasus, SD dengan 8.449 kasus, dan
PT dengan 3.987 kasus. (Anonim, 2007).
Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi remaja mengonsumsi minuman keras beralkohol
adalah faktor lingkungan pergaulan (Mu’tadin, 2007). Remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama
dengan teman-temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti bahwa pengaruh teman-teman
sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar dari pada pengaruh orangtua
(Wresniwiro, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Faot (2010) juga membuktikan bahwa faktor
lingkungan merupakan factor predisposisi perilaku mengkonsumsi minuman keras di masyarakat umum.
Faktor pendukung dari penyalahgunaan minuman keras yaitu kondisi internal seperti kecemasan, ketakutan
dan depresi. Faktor berikutnya adalah faktor eksternal seperti pengaruh teman sebaya, pengasuhan orang
tua dan juga tersedianya minuman keras secara mudah. Padahal dapat diketahui bahwa kebiasaan minuman
keras yang dilakukan oleh remaja ini tentunya memberikan banyak dampak negatif bagi remaja sendiri
(Hawari, 2006).

Tinjauan Pustaka Dan Hasil Penelitian

A. Perilaku Minum Alkohol


Pengertian Perilaku Minum Alkohol
Perilaku dapat diartikan sebagai tindakan manusia yang dapat dilihat (Kartono dan
Gulo,1987.). menurut Kartono, perilaku adalah sesuatu yang dilakukan individu dimana antara individu
yang satu dengan individu yang lain tidak sama (Sarwono,1987.). Menurut definisi diatas dapat dikatakan
bahwa perilaku adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh individu yang dapat terlihat. Minuman keras
atau alkohol merupakan satu senyawa alfatis etil alkohol dan tergolong kelompok alkohol. Jadi bisa
disimpulkan bahwa perilaku minum alkohol adalah suatu perilaku memasukkan minuman hasil distilasi dan
penyulingan yang mengandung alkohol ke dalam tubuh.

Perilaku minum-minuman keras adalah bentuk tindakan terhadap penyalahgunaan zat


berupa alkohol sehingga mengalami ketidaksadaran yang dapat meningkatkan gairah keberanian, relaksasi
dan tidak mampu mengontrol diri, disertai dengan konsekuensi timbulnya masalah terhadap hukum, sosial,
fisik dan psikologis. Selain itu, mengkonsumsi minuman keras dapat menyebabkan ngantuk, merasa
tenang, nikmat sehingga mampu melupakan segala kesulitan sesaat (Soetjinigsih, 2004).

Sebab – sebab perilaku merokok

Mahasiswa selama ini selalu dikategorikan sebagai remaja, demikian juga halnya dengan
mahasiswa yang terdapat di lingkungan perguruan tinggi. Menurut Kartini Kartono Secara umum remaja
ada pada masa transisi dengan tingkah laku anti sosial yang potensial. Disertai dengan banyaknya
pergolakan hati atau kekisruhan batin pada masa – masa remaja. Maka segala gejala keberandalan dan
kejahatan yang muncul itu merupakan akibat dari proses perkembangan pribadi anak yang mengandung
unsur dan usaha (Kartini Kartono, 1992:8).
Masa remaja telah didefinisikan oleh beberapa ahli seperti yang dijelaskan di bawah ini:
Masa remaja secara psikologi merupakan masa peralihan dari masa anak – anak ke masa dewasa, pada
masa remaja terjadi kematangan secara kognitif yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan
lingkungan yang semakin luas yang memung-kinkan remaja untuk berfikir abstrak (Komalasari, 2008
dalam Hutagalung C, 2008). Masa remaja sering pula disebut adalesensi (Lat. Adolesencere = adultus =
menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa) (S.R.Haditono, 2004). Menurut Knopka
(2007), Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali
matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Slazman (2007) menge-
mukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua
ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian dan nilai-nilai
estetika dan isu-isu moral. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja meru-pakan suatu
periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak
sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat
kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.
Kaum muda atau remaja lebih mudah terjerumus pada minuman keras karena faktor-faktor
sebagai berikut :
1. Ingin membuktikan keberanian-nya dalam melakukan tindakan berbahaya.

2. Ingin menunjukan tindakan menentang terhadap orang tua yang otoriter.

3. Ingin melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman emosional.

4. Ingin mencari dan menemukan arti hidup.

5. Ingin mengisi kekosongan dan kebosanan.

6. Ingin menghilangkan kegalauan/ kegelisahan.

7. Solidaritas di antara kawan.

8. Ingin tahu.

1. Faktor Individu
Biasanya anak muda mencoba sesuatu karena ingin membuktikan keberaniannya pada
teman-temannya, ingin melepaskan diri dari masalah yang ada, ingin menemukan arti hidup, dan
solidaritas terhadap kawan. Rasa ingin tahu adalah kebutuhan setiap individu yang berasal dari
dalam dirinya, terutama bagi generasi muda dimana salah satu sifatnya adalah ingin mencoba hal-
hal yang baru. Rasa ingin tahu terhadap minuman keras yang oleh mereka dianggap sebagai sesuatu
yang baru dan kemudian mencobanya, akibat ingin tahu itulah akhirnya menjadi pengkonsumsi
tetap. Perasaan ingin tahu biasanya dimiliki oleh generasi muda. Bila dihadapan sekelompok anak
muda ada seseorang yang memperagakan “nikmatnya” mengkonsumsi minuman keras, maka
didorong oleh naluri alami anak muda, yaitu keingin tahuan, maka salah seorang akan maju
mencobanya. Selain didorong oleh keingintahuan, keberaniannya juga karena didesak oleh gejolak
dalam jiwanya yang ingin dianggap hebat, pemeberani, dan pahlawan diantara teman-teman
sebayanya.

2. Faktor Keluarga
Konflik yang terjadi dalam keluarga dapat membuat anggota keluarga merasa frustasi
sehingga memilih minuman keras sebagai solusinya. Banyak pengkonsumsi minuman keras yang
berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Keluarga seharusnya menjadi wadah untuk menikmati
kebahagiaan dan urahan kasih sayang. Namun pada kenyataannya, keluarga sering sekali justru
menjadi pemicu sang anak menjadi pengkonsumsi minuman keras, hal tersebut disebabkan karena
keluarga tersebut kacau balau. Hubungan antara anggota keluarga dingin, bahkan tegang atau
bermusuhan. Komunikasi antara ayah, ibu, dan anak-anak sering sekali menciptakan suasana
konflik yang tidak berkesudahan, dimana bahwa penyebab konflik tersebut sangat beragam. Solusi
semua konflik adalah komunikasi yang baik, penuh pengertian, saling menghargai dan menyayangi,
serta ingin selalu membahagiakan. Interaksi antara orang tua dengan anak tidak cukup hanya
berdasarkan niat baik. Cara berkomunikasi juga harus baik. Masing-masing pihak harus memiliki
kesabaran untuk menjelaskan isi hatinya dengan cara tepat. Banyak sekali konflik di dalam rumah
tangga yang terjadi hanya karena salah paham atau kekeliruan berkomunikasi. Konflik di dalam
keluarga dapat mendorong anggota keluarga merasa frustasi, sehingga memilih minuman keras
sebagai solusinya. Biasanya yang paling rentan terhadap stress adalah anak. Beberapa faktor yang
bersumber dari lingkungan keluarga yang dapat mempengaruhi seseorang atau individu tertentu
terjun ke dalam lingkungan yang tidak baik.

3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga sering membuat pengkonsumsi minuman keras bertambah, karena
lingkungan yang kurang baik selalu memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengenal sesuatu
yang buruk seperti minuman keras.
Selain itu faktor lingkungan sering pula menyebabkan pengkonsumsi minuman keras
bertambah. Salah satu bentuk faktor lingkungan yang meyebabkan bertambahnya peng-konsumsi
minuman keras adalah lingkungan tempat bergaul dengan teman yang selalu memberikan
kesempatan pada mereka untuk mengenal minuman keras ini sehingga motif coba – coba sampai
pada taraf ketagihan membuat mereka senantiasa mengkonsumsi minuman keras. Perasaan setia
kawan sangat kuat dimiliki oleh generasi muda. Jika tidak mendapatkan penyaluran yang positif,
sifat positif tersebut dapat berbahaya dan menjadi negatif. Bila temannya mengkonsumsi minuman
keras, maka individu tersebut ikut juga mengkonsumsinya. Bila temannya dimarahi orang tuanya
atau dimusuhi masyarakat, maka pengkonsumsi membela dan ikut bersimpatik. Sikap seperti itulah
yang menyebabkan anak ikut – ikutan . Awal-nya hanya satu orang yang meng-konsumsi, kemudian
semuanya men-jadi pengkonsumsi.

4. Faktor Agama
Pendidikan agama merupakan pendidikan yang utama yang sangat dibutuhkan bagi anak,
dimana hal tersebut secara langsung berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan anak.
Pendidikan ber-agama pada anak merupakan awal pembentukan kepribadian, baik atau buruk
kepribadian anak tergantung pada orang tua serta lingkungan yang mengasuhnya. Oleh karena itu
sebagai orang tua mempunyai kewajiban memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anak.
Mengingat pentingnya pendidikan agama, maka orang tua harus mempunyai penge-tahuan yang
cukup dalam menegakan pilar-pilar pendidikan agama dalam lingkungan anak entah itu dalam
keluarga maupun bermasyarakat.
Jika agama atau iman seseorang kuat maka tidak akan mudah bagi oranglain uuntuk
mempengaruhinya, karena dia memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tuhannya, tapi jika imannya
lemah sangat mudah bagi orang untuk mempengaruhinya.
5. Faktor Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Karena perkembangan dan
kemajuan suatu bangsa dapat diukur melalui tingkat dan kualitas pendidikan serta tingkat kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan yang baik pada seseorang sangat mempengaruhi cara
berpikir, dia tahu benar mana yang baik dan mana yang buruk.

Penyalahgunaan minuman keras akan membawa dampak yang tidak baik buat kesehatan
fisik dan psikis seseorang. Menurut Anang (2000) akibat atau dampak dari penyalah-gunaan zat
adiktif bagi pengguna adalah sebagai berikut :
1. Kepribadian rusak

2. Tingkah laku (bohong, manipulasi)

3. Pola pikir khas

4. Pelanggaran norma

5. Fisik (gemeteran, siang tidur malam begadang).


Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya
1. Peggy Lusita Patria Rori (2015), dengan judul Pengaruh Penggunaan Minuman Keras Pada
Kehidupan Remaja Di Desa Kali Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan : (1) Sebagian besar remaja meng-gunakan minuman keras (alkohol)
tersebut untuk me-nyelesaikan masalahnya, mereka berpikir dengan menggunakan minuman itu
akan sedikit meringankan pikiran. Dapat disimpulkan bahwa remaja yang mabuk-mabukan karena
termo-tivasi beban pikiran dan rasa frustasi yang selama ini mereka rasakan, oleh karena itu mereka
mencari pelarian dengan cara mabuk. Bagi mereka mabuk adalah cara untuk menyelesaikan dan
menghilangkan masalah dan beban pikiran. (2) Mengenai dampak yang ditim-bulkan, perilaku
mereka ini berdampak pada kondisi psiko-logis yaitu cenderung untuk ingin mengkonsumsi
minuman keras secara terus menerus (kecanduan), kondisi fisik yaitu berhubungan dengan kondisi
kesehatannnya, dan pada lingkungan sekitarnya yaitu hal-hal yang berkaitan dengan respon dari
lingkungan keluarganya, kelompok dan masyarakat sekitar.

2. Shadikin Asyhar (2016), dengan judul Konformitas Pada Perilaku Minum – Minuman Keras
(Pengasih) Pada Remaja Suku Dayak Berusu Di Desa Seludau Kabupaten Tana Tidung.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : (1) Pengasih merupakan minuman keras sejenis
tuak yang ditaruh dalam tempayan dan diisap dengan menggunakan bambu secara bergantian.
Kebudayaan minum pengasih ini diturunkan turun-temurun oleh nenek moyang mereka. Mereka
percaya bahwa minuman ini bukan hanya sekedar untuk mabuk-mabukkan, tetapi memiliki nilai
sakral yang dapat mempererat hubungan kekeluargaan, baik dengan orang yang baru dikenal
maupun tidak. Tidak ada batasan umur untuk mengkonsumsi minuman ini. Tergantung dari pihak
keluarga masing-masing memperbolehkan anaknya untuk ikut minum atau tidak. Selain itu juga
tidak ada paksaan dalam mengkonsumsinya. (2) Latar belakang konformitas pada perilaku minum-
minuman keras pengasih pada remaja suku dayak berusu adalah karena adat
istiadatnya/kebudayaan, faktor kekompakan, kesepakatan dan ketaatan. Minuman pengasih ini
merupakan salah satu kebudayaan yang ada di suku dayak berusu. Waktu yang biasa digunakan
untuk mengkonsumsi pengasih yaitu ketika ada acara adat dan kumpul bersama teman kelompok.
Dikarenakan subjek sering melihat orang-orang disekitarnya mengkonsumsi Pengasih, sehingga
subjek juga ikut mengkonsumsinya, meski tidak ada paksaan untuk ikut mengkonsumsi minuman
tersebut. Selain itu, subjek juga penasaran dengan rasa minuman tesebut dan ingin merasakan
mabuk itu seperti apa. Dengan mengkonsumsi pengasih, timbul perasaan senang/gembira, lebih
berani dalam mengungkapkan perasaan, mengakrabkan hubungan dengan sanak saudara baik
sesama suku dayak berusu maupun para tamu undangan sehingga minuman ini juga biasa disebut
sebagai minuman persahabatan. Pengasih akan selalu ada di setiap acara yang mereka adakan,
disediakan khusus untuk menjamu para tamu undangan yang datang.
3. Agnes Siswendi (2014), dengan judul Perilaku Meminum – Minuman Keras Di Kalangan Remaja
Di Kelurahan Sungai Salak Kecamatan Tempuling Kabupaten Indragiri Hilir. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan : Perilaku meminum minuman keras itu disebabkan oleh lingkungan
dimana lingkungan sekitar tidak kondusif maka kemungkinan sangat besar pula remaja tersebut
melakukan perilaku yang buruk. Itu tidak lepas dari pengaruh lingkungan yang memungkinkan para
remaja tersebut untuk meniru perilaku yang buruk. Kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua
maupun kurangnya pengakuan dari teman sebaya, dapat membuat remaja tersebut cemas dan
perasaan tertekan yang menyebabkan sebanyak 13,3% memulai minuman keras dari pengaruh
lingkungan. Ketidaknyamanan emosional sehingga para remaja tersebut cenderung berpikir agresif
yang bersifat negative seperti berkelahi, memberontak dan berupaya lari dari kenyataan misalnya
merokok, ngelem dan minum minuman keras.

4. Candra Priangguna (2015), dengan judul Perilaku Mengonsumsi Alkohol Pada Mahasiswa Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa : Faktor yang mempengaruhi mahasiswa untuk mengkonsumsi minuman beralkohol secara
garis besar ada dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dari 39 mahasiswa (100%) yang
mengkonsumsi minuman beralkohol diketahui bahwa faktor internal tertinggi adalahterdorong
untuk mengkonsumsi minuman beralkohol sebanyak 30 mahasiswa (77%) dan yang terendah
adalah merasa mudah terpengaruh sehingga mengkonsumsi minuman beralkohol sebanyak 272
mahasiswa (78%). Faktor eksternal tertinggi yang mempengaruhi mahasiswa untuk mengkonsumsi
minuman beralkohol sebanyak 31 mahasiswa (79%) mengenal minuman beralkohol dari film-film
di televisi dan yang terendah sebanyak 27 mahasiswa (69%) mengkonsumsi minuman beralkohol
karena pergaulan yang salah.

5. Wahyu Rahardjo (2015), dengan judul Konsumsi Alkohol, Obat‐obatan Terlarang dan Perilaku Seks
Berisiko: Suatu Studi Meta‐Analisis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : Hasil
studi meta‐analisis ini mendukung studi‐studi terdahulu yang menyebutkan bahwa terdapat korelasi
antara penggunaan alkohol dan obat – obatan terlarang dengan perilaku seks berisiko. Studi meta‐
analisis ini juga telah dapat mengoreksi perbedaan variasi populasi pada sejumlah studi primer. Hal
ini dibuktikan oleh adanya kesalahan pengambilan sampel penelitian dan juga pengukuran yang
dilaku kan, baik itu pada penggunaan alkohol dan obat‐obatan terlarang sebagai variabel bebas atau
pada perilaku seks berisiko sebagai variabel terikat.

6. Renni Sartika (2014), dengan judul Penanggulangan Peredaran Ilegal Minuman Keras Tradisional
Dengan Sarana Hukum Pidana. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpukan bahwa : Produk
hukum dalam penanggulangan peredaran ilegal minuman keras tradisional di Kabupaten Sleman,
dewasa ini hanya menggunakan peraturan lokal yaitu Peraturan Daerah Sleman Nomor : 8 Tahun
2007 Tentang Pelarangan Pengedaran, Penjualan dan Penggunaan Minuman Beralkohol, baik itu
yang berkaitan dengan peredaran ilegal minuman keras atau minuman keras tradisional, padahal
masih ada aturan terkait yang dapat digunakan, sebagai contoh :Undang-Undang Nomor : 36 Tahun
2009 Tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor : 18 Tahun 2012 Tentang pangan, Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor: 282/MENKES/SK/II/1998 Tentang Standar Mutu Produksi Minuman
Beralkohol dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
7. Lukito Dwi Harmiyanto (tanpa tahun) dengan judul Perilaku Minum – Minuman Keras Pada
Remaja Ditinjau Dari Ketidakharmonisan Keluarga. Berdasarkan hasil penelitian dapat di
simpulkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara ketidakharmonisan keluarga
dengan perilaku minum - minuman keras pada remaja. Semakin tinggi ketidakharmonisan keluarga
maka semakin tinggi pula perilaku minum - minuman keras demikian pula sebaliknya semakin
rendah ketidakharmonisan keluarga maka semakin rendah pula perilaku minum – minuman keras
pada remaja.

8. Agus Widiyantara Nugraha (2012) dengan judul Pengaruh Penyuluhan Tentang Bahaya Minuman
Keras Terhadap Perilaku Minum – Minuman Keras Pada Remaja Usia 15-20 Tahun Desa Banaran
Galur. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : hasil deskriptif kategorisasi data pre
test (sebelum diberi penyuluhan kesehatan tentang bahaya minuman keras) menunjukkan bahwa
perilaku minum – minuman keras responden pada kategori berat dan seang yaitu (47,5%),
sedangkan kategori ringan hanya 5%.

9. Anisa Irmayanti (2015) dengan judul Penyalahgunaan Alkohol di Kalangan Mahasiswa.


Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : Mahasiswa sebagai manusia pembelajar di
perguruan tinggi, dituntut supaya mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan cita-
cita kebijaksanaan. Etika dan tanggung jawab mahasiswa menjadi sorotan masyarakat dan orang
tua. Mahasiswa yang diamanahkan oleh orang tua untuk belajar di perguruan tinggi seharusnya
menjaga amanah tersebut, termasuk mahasiswa penyalahgunaan alkohol.

10. Martabe Sitompul dan Basri (tanpa tahun) dengan judul Profil Mahasiswa Pengkonsumsi Minuman
Keras (Studi Kasus Di Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru).
Berdasarkan hasil peneitian dapat disimpulkan bahwa : Ditinjau dari segi usia mahasiswa
pengkonsumsi minuman keras termasuk kedalam golongan remaja seperti data lapangan yang
ditemukan mayoritas pada usia 19-22 tahun dimana pada usia tersebut remaja masih berada pada
masa transisi dengan tingkah laku anti sosial. Dalam penelitian ini menemukan mahasiswa yang
paling dominan dilihat dari etnis yaitu mahasiswa dari etnis batak, dikarenakan etnis batak memiliki
tradisi mengkonsumsi alkohol jenis tuak. Mayoritas agama mahasiswa yaitu Islam dan sebagian
dari agama Kristen dimana kedua agama tersebut melarang serta mengharamkan minuman keras,
akan tetapi perilaku yang tidak taat terhadap agama menimbulkan perilaku mengkonsumsi
minuman keras. Dilihat dari asal universitas dan fakultas responden, mahasiwa berasal dari
beberapa universitas serta fakultas yang berbeda-beda dan mayoritas mahasiswa berasal dari
Universitas Riau, dan Fakultas ekonomi. Dikaji dari segi pencapaian atau indeks prestasi komulatif
mahasiswa kebanyakan dibawah Ipk 2,75. Kuliah yang kurang aktif dan ketidak pedulian akan
tanggung jawab sebagai mahasiswa sehingga responden tidak mencapai hasil yang maksimal dalam
perkuliahan. Pendapatan dalam satu bulan yang di terima dari orang tua atau dari hasil pekerjaan
responden memiliki pendapatan yang cukup bervariasi jumlahnya. Sehingga pendapatan juga
menentukan merek minuman keras dan tempat yang sering dikunjungi berbeda- beda. Merek
minuman keras yang paling sering dikonsumsi adalah minuman keras jenis bir. Bir merupakan salah
satu jenis minuman keras yang mudah di dapat dan harga yang mampu dijangkau oleh mahasiswa.
Bahan dan Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Kualitatif dengan cara Wawancara mendalam
kepada ketiga subjek penelitian. Penelitian ini diadakan di Kota Kendari pada bulan Desember 2017 –
Januari 2018. Responden dalam penelitian ini adalah 3 orang Mahasiswa di Kota Kendari yang
mengonsumsi minuman keras. Pengumpulan data dilakukan di daerah depan kampus tepatnya di Warkop
Idaman. Data yang diperoleh dari wawancara mendalam dilakukan secara manual sesuai dengan petunjuk
pengolahan data kualitatif serta sesuai dengan tujuan penelitian.

Hasil Penelitian
Identitas Responden
1. Nama : BRAM (nama disamarkan atas permintaan Responden)
Umur : 28 Tahun
Jenis Kelamin : Pria
Alamat : Jl. HEA Mokodompit
Pendidikan : Mahasiswa
Agama : Islam
Keluhan Sakit : -
No.Telp : 0813 9246 5100

2. Nama : FIRMAN (nama disamarkan atas permintaan Responden)


Umur : 25 Tahun
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Alamat : Jl. HEA Mokodompit
Pendidikan : Mahasiswa
Agama : Islam
Keluhan Sakit : Mual
No.Telp : 0852 1310 8506

3. Nama : FRANS (nama disamarkan atas permintaan Responden)


Umur : 24 Tahun
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Alamat : Jl. HEA Mokodompit
Pendidikan : Mahasiswa
Agama : Islam
Keluhan Sakit : Sering Oleng
No.Telp : 0813 4009 2642

Hasil penelitian bisa di simpulkan bahwa awal mula orang meminum alkohol adalah dari pengaruh
pergaulan,lingkungan, rasa coba-coba mulai dari tahap sembunyi-sembunyi maupun bergabung dengan
teman sebayanya, dan juga untuk menghilangkan stress.

“awalnya sa mulai minum alkohol umur 20 tahun karena sa stress dan sa selalu cepat capek kalo
sa lagi kerja-kerja begitu makanya sa minum alkohol” (Bram, 28 tahun, Teknik Mesin UHO)

“pertama dulu sa coba itu minum-minuman alkohol karena sa liat itu tetangga depan rumahku,
kalo malam-malam itu selalu ada berkumpul minum-minum sambil cerita ketawa-ketawa juga.
Waktu itu sa umur 18 tahun. Karena sa penasaran kenapa dorang bisa begitu hanya karena minum
alkohol jadi sa cobami juga ternyata dari situ sa mulaimi juga suka minum alkohol karna enak
juga dan teman-temanku juga ada yang suka minum alkohol jadi kita makin seringmi kumpul-
kumpul minum alkohol tapi kita nda pernahji sampe celakai orang lain ” ( Frans, 24 tahun, Teknik
Geologi UHO)

“waktu sa umur 16 tahun samulai coba minum alkohol,dulu karena teman-temanku dorang tawari
saya ikut minum,awalnya sa nda mau karna sa takut di tau bapakku, tapi kalo sa nda minum
dorang ejek-ejek saya bilangi lembe , bencong , nda kuat , jadi sa terpaksa ikut mi minum juga
ternyata enak juga itu minum alkohol kayak da hilangkan bebannya kita jadi sampe sekarang sa
masih suka minum alkohol” ( Firman , 25 tahun ,Teknik Elektro UHO)

Para responden sebagian ada yang meminum alkohol didepan umum dan sebagian lagi dengan cara
sembunyi-sembunyi.

“ sa minum alkohol secara terang-terangan” (Bram, 28 tahun, Teknik Mesin UHO)

“ saya sa sembunyi-sembunyi karena sa takut nanti diliat sama keluargaku apalagi bapakku”
( Frans, 24 tahun, Teknik Geologi UHO)

“ sembunyi-sembunyi “( Firman , 25 tahun ,Teknik Elektro UHO)

Beberapa responden ada yang membeli minuman beralkohol dengan cara patungan dan ada yang
beli dengan uang sendiri. Beberapa responden ada yang menghabiskan 1-3 atau lebih botol minuman
perhari

“ sa beli patungan sama teman-teman karna sama-sama kita mau minum semua . kadang kita beli
2 botol 3 orang kadang juga lebiih 5 botol tergantung kalo banyak teman yang ikut minum“ (Bram,
28 tahun, Teknik Mesin UHO)

“ saya beli sendiri karena untuk diriku sendiri juga kadang 1 botol satu hari” ( Frans, 24 tahun,
Teknik Geologi UHO)

“patungan sama teman-temanku , pernah satu kali kita beli 10 botol” ( Firman , 25 tahun ,Teknik
Elektro UHO)

Beberapa responden merasakan kegelisahan apa bila tidak mengonsumsi alkohol dan sebagian lagi
merasa biasa saja.

“ biasa saja nda berpengaruh apa-apa ji” (Bram, 28 tahun, Teknik Mesin UHO)

“suka rasa lain-lain kayak ada yang kurang” ( Frans, 24 tahun, Teknik Geologi UHO)

“ gelisah” ( Firman , 25 tahun ,Teknik Elektro UHO)

Responden memberikan pendapat mereka bagaimana cara mengatasi agar tidak meminum alkohol.

“ sering-sering ibadah “(Bram, 28 tahun, Teknik Mesin UHO)

“ sering mengikuti penyuluhan saja tentang alkohol“ ( Frans, 24 tahun, Teknik Geologi UHO)

“ mendekatkan diri kepada Tuhan,karna dengan begitu kita bisa lebih sadar diri” ( Firman ,
25 tahun ,Teknik Elektro UHO)
Saran para responden agar tidak ada lagi yang mengonsumsi alkohol.

“cari pergaulan yang bagus jangan sama orang-orang nakal” (Bram, 28 tahun, Teknik Mesin
UHO)

“Mencari tahu akan bahaya alkohol itu sendiri bahwa itu sangat membahayakan tubuh” ( Frans,
24 tahun, Teknik Geologi UHO)

“sering-seringlah ikuti penyuluhan tentang alkohol dan lainnya” ( Firman , 25 tahun ,Teknik
Elektro UHO)
Pembahasan
1. Motif Mahasiswa Meminum Minuman Keras
Mental dan emosional dari anak-anak ke masa dewasa menyebakan terjadinya perubahan perilaku
dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. aktivitas remaja yang memliki pengaruh kuat dalam perilaku
minuman keras ialah pengaruh teman yang dimana teman memiliki peran kuat dalam mempengaruhi
temannya untuk melakukan perilaku minuman keras. Sebanyak 20 orang (66,6%) memulai minuman
keras dari pengaruh temannya.
Sementara dari data lapangan yang dapatkan, dari 3 responden semuanya mempunyai motif yang
relative sama yaitu coba – coba, rasa ingin tahu yang tinggi serta karena factor lingkungan yang
memungkinkan, dan hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari David King Nababan yaitu Faktor
Internal dan Faktor Eksternal seorang remaja dalam melakukan suatu tindak yang menjurus kearah
negatif dipengaruhi oleh rasa ingin tahu yang tinggi dan lingkungan sekitar yang kondusif untuk
melakukan hal tersebut.

2. Pengetahuan Responden Tentang Minuman Keras


Mahasiswa yang kami jadikan sebagai narasumber ketiganya sadar akan bahaya minuman keras,
namun mereka masih saja mengonsumsinya dengan alasan sebagai penghilang rasa capek dan jarang –
jarang atau dikonsumsi pada saat kumpul - kumpul sama teman. Kami tidak tahu menahu apakah
mereka sudah pernah mendapatkan sosialisasi tentang bahaya dari minuman keras tersebut, namun dari
saran agar terhindar dari minuman keras, mereka menyarankan agar sering – sering ikut sosialisi dan
sosialisasi tentang minuman keras itu diperbanyak. Disini dapat disimpulkan bahwa mereka jarang atau
bahkan tidak pernah mengikuti sosialisasi tentang bahaya minuman keras. Tapi saya yakin, penyuluhan
dan sosialisasi saja tidak akan membuat efek jera terhadap mahasiswa yang notabene merupakan
remaja yang sudah berumur dewasa dan bisa berpikir sendiri tentang bahaya minuman alkohol.
Dan yang paling penting adalah pergaulan, sebab Pengaruh teman – teman sebayanya memrupakan
tekanan untuk menjadi peminum Walaupun tidak dipaksa secara langsung oleh temannya tetapi
tekanan itu timbul sendiri dari dirinya yang dimana dia ingin menjadi dari bagian kelompok tersebut
yang menyebabkan mereka melakukan tindakan minum – minum minuman keras dengan sendirinya
tanpa adanya paksaan dari teman sebayanya dan diakui oleh teman yang lain. Hal ini juga berlaku pada
satu responden kami, dimana dia diejek – ejek oleh teman sebayanya dan hal tersebut mempengaruhi
dia untuk mencoba meminum minuman keras untuk mendapatkan pengakuan dari teman dan karena
masalah kecil tersebut, sampai sekarang responden kami masih menjadi peminum aktif.

3. Dampak Minuman Keras Pada Mahasiswa


Minuman berakohol adalah minuman etanol dimana apabila seseorang mengkonsumsi minuman
keras akan menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran. Minuman keras merupakan minuman yang
dapat merusak generasi muda baik secara fisik maupun secara mental tetapi minuman keras sulit untuk
di hilangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan masyarakat kita sering menjumpai tentang
tindak kriminal yang dimana pemicu terjadinya tindak criminal disebabkan oleh Minuman Keras baik
itu berupa tindak pemerasan 23,3% dan pencurian 16,6%. Dalam pemenuhan kebutuhan minuman
keras terkadang mereka melakukan patungan, pemerasan dan juga sebagian remaja yang melakukan
pencurian dalam memenuhi kebutuhan. Bermacam-macam dampak yang di timbulkan oleh minuman
keras lain dari minuman keras yaitu dengan lingkungan dimana masyarakat sekitar akan marah melihat
daerah tempat tinggal mereka di jadikan tempat kegiatan meminum minuman keras. Minuman keras
juga memiliki dampak terhadap keluarga dimana keutuhan keluarga bisa hancur akibat minuman keras
hal ini di sebabkan oleh adanya keluarga yang melakukan kegiatan minuman keras dalam
pemenuhannya keluarga tersebut melakukan tindakan pencurian sedangkan bagi individu sendiri
dampak minuman keras bisa menyebabkan penyakit liver yang bisa mengancam keselamatan jiwa dan
juga bagi yang memium alkohol.
Namun data di lapangan yang kami temukan dari responden, mereka tidak pernah melakukan satu
tindak kriminalitas dari hasil minum minuman keras.

Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Akhir – akhir ini masalah minuman tentang penyalahgunaan minuman keras sangat marak terjadi di
sekitar kita. Pengaruh minuman keras terhadap mahasiswa Universitas Haluoleo dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Dari ketiga responden yang kami wawancarai, ketiga nya mempunyai motif yang hampir sama
yaitu Rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin coba – coba saja, perlu diketahui satu dari tiga
responden menggunakan alkohol sebagai alat penghilang penat dari tubuh.
2. Kita tidak dapat mengabaikan kuatnya pengaruh dari teman sebaya bagi seorang remaja, seperti
halnya, untuk diterima bergabung untuk menjadi kelompok sebaya, seorang remaja harus bisa
menjalankan peran yang telah di tetapkan oleh kelompok sebaya.
3. Tidak bisa dipungkiri dampak dari Minuman Beralkohol sangat banyak namun hal tersebut tidak
serta merta membuat para pengonsumsi jera. Sementara untuk ketiga responden dampak yang
timbul dari minuman beralkohol seperti muntah dan oleng. Dan juga 2 dari 3 responden merasa
gelisah dan perasaan seperti kekurangan sesuatu saat tidak meminum alkohol, hal ini
membuktikan bahwa Alkohol merupakan zat adiktif yangdapat membuat kecanduan.

2. Saran

1. Diharapkan bagi para peminum untuk mengurangi konsumsi alkoholnya, walaupun sudah cukup
umur namun tetap saja apabila telah mabok akan dapat mencelakai diri sendiri maupun orang
lain
2. Sebaiknya jangan terlalu bergaul dengan teman sebaya yang tidak baik karena pengaruh dari
teman sebaya itu sangat besar apabila tetap ingin bergaul, maka pastikan tidak mengikuti sama
sekali ajakan negatif dari mereka.
3. Diharapkan kepada pemerintah atau instansi terkait lainnya agar sering – sering memberi
penyuuhan tentang bahaya minuman keras bagi para Mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

1. Fuhrmann, B. S. Adolescence, Adolescents. London : Scott, Foresman and Company. 1999.

2. Indraprasti, Devinthia dan Rachmawati, mira aliza, 2008, Hubungan antara kontrol diri
dengan perilaku minum-minuman keras pada reamaja laki-laki, (http://www.repository.uii.ac.id,
di akses 8 januari 2018, 15.00 wita).

3. Kartono, Kartini. 1986. PatologiSosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali pers.

4. WHO. (2014). Global status report on alcohol and health – 2014. ISBN 978 92 4069276 3.
WHO Library Cataloguingin Publication Data. from:
http://www.who.int/substance_abuse/publications/global_alcohol_report/en/ diakses tanggal 8
Januari 2018

5. Santrock, J. W. (2007). Adolescence, Perkembangan Remaja (Alih bahasa, Shinto B. Adelar &
Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga.

6. Trusted Medical Information and Support. (2014). Alcohol Use Disorders Identification Test
(AUDIT). From: http:/Patient.co.uk.html diakses pada tanggal 7 Januari 2018.

7. Ulfah, D. M. (2005). Faktor-Faktor Penggunaan Miras di Kalangan Remaja di Desa Losari


Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas
Wangsa Manggala. Diakses melalui htpp://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article pada tanggal
8 Januari 2018.

8. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA). (2012). Alcohol Facts and Statistics.
http://www.niaaa.nih.gov/alcoholhealth/overview-alcoholconsumption/alcohol-facts-and-statistics
diakses tanggal 8 Januari 2018

9. Wresniwiro, M., Sumarna, A.H., Wira, P., Sunandar, A., & Permana, D.Masalah Narkotika,
Psikotropika, Dan Obat-obat Berbahaya. Jakarta: Yayasan Mitra Bintibmas. 1999

10. Karsono, Eddy, Drs.Mengenal Kecanduan Narkoba dan Minuman Keras.CV. YramaWidya,
Bandung : 2004.