Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemasan merupakan suatu benda yang digunakan untuk melindungi produk
yang dikemas dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyebabkan
kerusakan pada produk yang dikemas. Selain sebagai pelindung, kemasan juga
dapat berperan sebagai identitas produk dan meningkatkan nilai jual produk
dengan memberikan tampilan yang menarik. Adapun kemasan dapat berasal dari
berbagai bahan seperti plastik, kertas, kayu, dan lain-lain.
Kertas menjadi salah satu bahan yang biasa digunakan sebagai pengemas.
Kertas digunakan karena sifatnya yang fleksibel, praktis, dan dapat didaur ulang.
Terdapat juga berbagai jenis kertas untuk mengemas bahan dengan sifat dan
karakteristik yang berbeda. Pada praktiknya, tidak jarang kertas digunakan untuk
mengemas bahan-bahan yang kurang sesuai untuk dikemas dengan kertas seperti
bahan-bahan yang berminyak. Sehingga terjadinya penetrasi minyak pada
kemasan dan menyebabkan kemasan rusak.
Maka dari itu, dengan diadakannya praktikum ini diharapkan praktikan
dapat mengetahui daya serap/penetrasi berbagai jenis kertas terhadap produk
pangan (minyak goreng) sehingga nantinya dapat dipilih kemasan yang tepat
untuk mengemas suatu bahan.

1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui daya
serap/penetrasi berbagai jenis kertas terhadap produk pangan (minyak goreng).
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penetrasi
Daya penetrasi minyak merupakan kemampuan minyak untuk dapat
meresap melewati dan mengisi bagian pori-pori suatu bahan. Penetrasi tergolong
besaran yang menyatakan sifat penyerapan suatu bahan terhadap zat cair standar,
dihitung berdasarkan kebalikan panjang hasil jalur cetakan pada pengujian,
dinyatakan dalam satuan 1000/nm, yang diukur menggunakan alat uji cetak IGT
pada kondisi standar ( I gusti dkk, 2015).

2.2 Kemasan yang Digunakan


2.2.1 Kertas Buram
Kertas buram berasal dari hasil daur ulang sampah kertas yang tidak
terpakai lagi. Kertas jenis ini kurang banyak diminati karena kualitas dan
kenampakannya serta seratnya yang kasar. Bahan baku pembuatannya berasal dari
berbagai macam jenis kertas kemudian dijadikan satu dan didaur ulang.
Karakteristik kertas buram antara lain, warnanya tidak putih dan teksturnya kasar
(Putri dkk,2016).
2.2.2 Kertas Roti
Menurut Herudiyanto (2008) kertas roti merupakan kertas yang mempunyai
sifat tidak mudah lengket terhadap bahan pangan karena dalam pembuatan kertas
roti terdapat proses calendering pada salah satu sisi kertas roti. Proses tersebut
bertujuan untuk menghaluskan kertas serta membuat kertas roti memiliki
ketahanan yang baik terhadap air dan minyak. Calendering dilakukan pada salah
satu sisi, sedangkan sisi lainnya masih terasa kasar karena adanya serat-serat kasar
yang merupakan bahan baku kertas roti sehingga kertas roti memiliki ketahanan
terhadap minyak lebih tinggi dibandingkan dengan kertas minyak.
2.2.3 Kertas Minyak
Kertas minyak atau glasin adalah kertas dengan permukaan seperti gelas,
transparan, dan tahan terhadap penetrasi lemak dan minyak, namun tidak kedap
air. Kertas ini dibuat dengan proses sulfat dan calendaring sehingga mempunyai
permukaan yang licin. Selain itu juga ditambahkan plasticizer sehingga menjadi
lembut. Daya penetrasi kertas minyak paling tinggi karena pada kertas minyak
tidak dilapisi bahan pelapis seperti polimer sintetik atau getah lain.kertas galsin
biasanya digunakan juga untuk mengemas ikan, permen, mentega, keju, dan
produk-produk makanan berlemak (Herudiyanto, 2008).
2.2.4 Kertas Nasi
Sesuai dengan namanya kertas nasi banyak difungsikan pembungkus
makanan khususnya nasi. Bahan pembuatannya yaitu kayu lunak, pulp kertas
yang dipakai bisa melalui proses pemutihan atau tidak, bila tidak diputihkan maka
berwarna kecoklatan (Atnam, 2007). Kertas ini memiliki tekstur yang kasar di
satu sisi dan tekstur yang licin disisi lainnya. Tekstur licin ini disebabkan oleh
adanya filler berupa plastik yang dilaminasi. Adanya tekstur licin tersebut akan
menghambat penyerapan minyak oleh kertas. Bahan untuk melaminasi yang
biasanya digunakan adalah plastik, alumunium foil, lilin, dan sebagainya.
Pelapisan dengan plastik tersebut menyebabkan kertas ini tidak
mudah disobek dan sedikit tahan terhadap air.
2.2.5 Kertas HVS
Houtvrij Schrijfpapier (HVS) yang artinya kertas tulis bebas serat kayu.
Kertas HVS tidak mudah berubah warna jika diletakkan di bawah sinar matahari
atau sinar lampu, karena bahan dasar pembuatannya dari pulp (bubur kertas) yang
tidak mengandung lignin. Kertas HVS merupakan kertas tulis berkualitas tinggi
yang muncul dengan berbagai ukuran. Baik ukuran dimensi (pxl) maupun ukuran
berat. Kertas HVS umunya di produksi dengan 3 tingkat ukuran berat yaitu 60 gr,
70 gr dan 80 gr. Sementara ukuran dimensi kertas HVS biasanya di buat dalam 2
pilihan, yaitu kertas HVS ukuran Kuarto dan kertas HVS ukuran Folio.
(Taruna, dkk. 2010).

2.3 Bahan yang Digunakan


2.3.1 Pasir Halus
Pasir merupakan partikel batuan yang berupa butiran berukuran 0,074 mm
sampai 5 mm, berkisar dari kasar (3-5 mm) sampai halus (kurang dari 1 mm).
Materi pembentuk pasir adalah silikon dioksida, tetapi di beberapa pantai tropis
dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur. Karena rongga-rongganya yang
cukup besar sehingga hanya beberapa tanaman yang dapat tumbuh pada media
pasir. Warna pasir dipengaruhi dari proses dan asal terbentuknya (Hayati, 2015).
2.3.2 Minyak Goreng
Minyak goreng merupakan campuran dari ester asam lemak dengan gliserol
atau minyak nabati yang telah dimurnikan dapat digunakan sebagai bahan pangan.
Terdapat dua jenis minyak yaitu minyak nabati dan minyak hewani. Minyak
kelapa sawit merupakan jenis minyak nabati yang banyak digunakan. Minyak
goreng kelapa sawit terdapat kandungan asam lemak jenuh, serta asam lemak tak
jenuh dalam bentuk ikatan tunggal maupun majemuk. Asam lemak tak jenuh
tunggal yang terkandung dalam minyak goreng ditemukan dalam bentuk asam
oleat sebanyak 39-45% dan asam lemak tak jenuh majemuk dapat ditemukan
dalam bentuk asam linoleat sebanyak 7-11% (Ketaren, 2008).
Ada beberapa klasifikasi minyak goreng yaitu berdasarkan ada atau tidak
ikatan ganda dalam struktur molekulnya, minyak goreng terbagi menjadi minyak
dengan asam lemak jenuh (saturated fatty acids) dan minyak dengan asam lemak
tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acids/MUFA) maupun majemuk
(polyunsaturated fatty acids/PUFA) (Ketaren, 2008).
Tabel 2.1 Komposisi asam lemak minyak goreng
Asam lemak Jumlah (%)
Asam kaprilat -
Asam kaproat -
Asam miristat 1,1 – 2,5
Asam palmitat 40 – 46
Asam stearat 3,6 – 4,7
Asam oleat 30 – 45
Asam laurat -
Asam linoleat 7 - 11
(Ketaren, 2008).
BAB 3 METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
1. Jar kaca
2. Plat kaca
3. Gunting
4. Pipet
5. Pi pump
6. Stopwatch
3.1.2 Bahan
1. Kertas stensil / kertas buram
2. Kertas roti
3. Kertas minyak
4. Kertas nasi
5. Kertas HVS
6. Pasir halus 20 mesh
7. Minyak goreng
3.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
3.2.1 Skema Kerja
Plat Kaca

Letakkan kertas buram


dan bahan pengemas
ukuran 5x5 cm

Pasir halus dengan


Penuangan
ketinggian +-0,5cm

Minyak goreng 1 ml Penuangan

Amati hingga ada titik


minyak pada kertas buram

Catat waktu penetrasi

Lakukan pengulangan 3x

3.2.2 Fungsi Perlakuan


Pada praktikum ketahanan kertas terhadap minyak dibutuhkan 4 bahan
pengemas yang akan diuji yaitu kertas roti, kertas minyak, kertas nasi, dan kertas
HVS. Pertama menyiapkan plat kaca ukuran 6x6cm sebagai alas percobaan.
Penggunaan plat kaca dikarenakan sifatnya yang tembus pandang sehingga
memudahkan pengamatan. Kemudian diletakkan kertas buram ukuran 5x5cm
diatas plat kaca. Fungsi kertas buram disini adalah sebagai indikator untuk melihat
apakah sudah terjadi penetrasi pada kertas yang diuji, penggunaan kertas buram
dikarenakan daya serapnya terhadap minyak sangat tinggi sehingga apabila sedikit
saja minyak menempel pada kertas buram maka akan langsung merembes dan
dapat dilihat noda rembesan pada bagian belakangnya. Kemudian pada bagian
atas kertas buram diletakkan bahan yang akan diuji dengan ukuran 5x5cm. Setelah
itu, dituangkan pasir halus diatas bahan pengemasan yang akan diuji setebal +-
0,5cm. Fungsi pasir disini adalah untuk mencegah minyak merembes secra
langsung pada bahan pengemas saat dituangkan, sehingga nantinya dapat diukur
waktu penetrasinya. Kemudian menuangkan minyak sebanyak 1,5ml
menggunakan pi pump lalu dihitung waktu penetrasinya. Parameter penghitungan
waktu adalah hingga terlihat rembesan minyak pada kertas buram ketika diamati
dari bagian bawah plat kaca.
BAB 4 HASIL PENGAMATAN DAN HASIL PERHITUNGAN

4.1 Hasil Pengamatan


Waktu (menit)
Jenis Kertas
1 2 3
Kertas Roti >62
Kertas Minyak 3,7 3,67 2,68
Kertas Nasi 17,5
Kertas HVS 0,8 0,72 0,5

4.2 Hasil Perhitungan

Jenis Kertas Rata-Rata


Kertas Roti >62
Kertas Minyak 3,35
Kertas Nasi 17,5
Kertas HVS 0,67
BAB 5 PEMBAHASAN

Pada praktikum ketahanan kertas terhadap minyak, dibutuhkan 4 bahan


kertas yang diuji yaitu kertas roti, kertas minyak, kertas nasi, dan kertas HVS.
Mulanya digunakan plat kaca sebagai alas lalu diberikan kertas buram dan kertas
yang akan diuji (kertas buram di bagian bawah) lalu diberi pasir pada bagian atas
kertas yang diuji setebal kurang lebih 0,5 cm. Lalu dituang 1,5ml minyak goreng
dari atas pasir dan dihitung

5.1 Kertas Roti


Pada uji coba kertas roti hanya dilakukan satu kali pengulangan dan
didapatkan kertas roti tahan terhadap minyak atau minyak tidak dapat merembes
pada kertas roti hingga waktu praktikum berakhir yaitu lebih dari 62 menit.
Berdasarkan literatur yang didapatkan, penetrasi minyak pada kertas roti
berlangsung dengan rentang waktu 19 hingga 20 menit (Andriana, 1998). Ketidak
sesuaiaan dengan literatur disebabkan oleh merek kertas roti yang digunakan pada
saat praktikum dan pada literatur berbeda, sehingga daya penetrasinya ikut
berbeda. Selain itu pasir yang dituangkan pada praktikum agak dipadatkan dengan
sendok, sehingga daya penetrasinya lebih lama dari literatur.

5.2 Kertas Minyak


Pada uji coba dengan bahan kertas minyak dilakukan 3 pengulangan dan
didapatkan data minyak dapat merembes pada kertas minyak pengulangan 1 pada
menit ke 3,7; pengulangan 2 pada menit ke 3,67; dan pada pengulangan 3 pada
menit ke 2,68; sehingga didapat rata-rata waktu minyak untuk merembes pada
kertas minyak adalah 3,35 menit. Berdasarkan literatur yang didapatkan, penetrasi
minyak pada kertas minyak berlangsung dengan rentang waktu 20 hingga 37 detik
(Atnam, 2007). Ketidak sesuaiaan dengan literatur disebabkan oleh merek kertas
minyak yang digunakan pada saat praktikum dan pada literatur berbeda, sehingga
daya penetrasinya ikut berbeda. Selain itu pasir yang dituangkan pada praktikum
agak dipadatkan dengan sendok, sehingga daya penetrasinya lebih lama dari
literatur.
5.3 Kertas Nasi
Pada uji coba kertas nasi hanya dilakukan satu kali pengulangan dan
didapatkan kertas nasi tahan terhadap minyak atau minyak tidak dapat merembes
pada kertas nasi hingga menit ke 17,5. Berdasarkan literatur ang didapat, waktu
penetrasi minyak terhadap kertas nasi berada pada kisaran waktu 5 hingga 10
menit. Hasil yang terpaut 7,5 menit dari literatur disebabkan oleh merek kertas
nasi yang digunakan pada saat praktikum dan pada literatur berbeda, sehingga
daya penetrasinya ikut berbeda. Selain itu pasir yang dituangkan pada praktikum
agak dipadatkan dengan sendok, sehingga daya penetrasinya lebih lama dari
literatur.

5.4 Kertas HVS


Pada uji coba dengan bahan kertas HVS dilakukan 3 pengulangan dan didapatkan
data minyak dapat merembes pada kertas HVS pengulangan 1 pada menit ke 0,8;
pengulangan 2 pada menit ke 0,72; dan pada pengulangan 3 pada menit ke 0,5;
sehingga didapat rata-rata waktu minyak untuk merembes pada kertas HVS adalah
0,67 menit. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa penetrasi
minyak terhadap kertas HVS berada pada kisaran waktu kurang dari 1 detik
(Taruna, dkk. 2010).
Grafik 5.1 Rata-rata waktu penyerapan minyak oleh masing-masing jenis bahan
pembungkus
70

60

50

40

30 rata-rata (menit)

20

10

0
kertas roti kertas kertas nasi kertas HVS
minyak

Berdasarkan Grafik 5.1 dapat dilihat bahwa daya penetrasi minyak paling
tinggi dimulai dari kertas HVS, kertas minyak, kertas nasi, dan kertas roti.
Semakin tinggi daya penetrasinya maka semakin pendek waktu kertas untuk
menyerap minyak. Hasil tersebut sudah sesuai literatur yang menyatakan bahwa
kertas roti memiliki ketahanan terhadap minyak lebih tinggi dari kertas nasi
(Herudiyanto, 2008), hal tersebut karena struktur kertas roti lebih padat dan
terdapat proses calendering atau pelapi sanbahan tahan air dan minyak. Daya
serap minyak pada kertas nasi lebih tinggi daripada kertas kertas minyak
dikarenakan adanya pelapisan filterplastik yang dilaminasi pada kertas nasi
(Atnam, 2007) sedangkan pada kertas minyak hanya dilapisi plasticizer
(Herudiyanto, 2008). Sementara itu, pada kertas HVS memiliki daya tahan
terhadap minyak paling rendah dari seluruh bahan yang diujikan, hal ini dapat
terjadi karena tidak ada pelapisan bahan tahan air dan tahan minyak pada kertas
HVS sehingga mudah untuk menyerap minyak ataupun zat cair yang lain
(Taruna, dkk. 2010).
BAB 6 PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
masing-masing jenis kertas mempunyai daya serap minyak yang berbeda-beda.
Hal tersebut bergantung pada kerapatan kertas, bahan penyusun kertas, dan ada
tidaknya lapisan tahan air dan atau minyak pada kertas tersebut.

6.2 Saran
Sebaiknya praktikan menentukan strategi terbaik dalam menjalankan
praktikum dengan peralatan yang terbatas, sehingga praktikum dapat berjalan
lebih efektif.
DAFTAR PUSTAKA

Andriana, T. 1998. Proses Pembuatan Pulp. Balai Besar Penelitian dan


Pengembangan Industri Selulosa. Bandung
Atnam R. 2007. Karakterisasi Kemasan Kertas Aktif dengan Penambahan
Oleoresin Ampas Destilasi Sereh Dapur (Cymbopogon citratus). Jurusan
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret
Hayati, R., Astuti, 2015, Sintesis Nanopartikel Silika dari Pasir Pantai
PurusPadang Sumatera Barat Dengan Metode Kopresipitasi, Jurnal Fisika
Unand, Vol. 4, No. 3, Fisika UNAND,
Herudiyanto, Marleen. 2008. Teknologi Pengemasan Pangan. Bandung Widya
Padjadjaran.
I Gusti M,. Ni Made,.Shenni M,. Ida Bagu,. Anita N,. 2015. Laporan Praktikum
Pengemasan Dan PenyimpananKetahanan Kertas Terhadap Minyak.
Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Udayana
Ketaren. 2008. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: UI
Putri N, Widiastuti A, Eko S,. 2016 . Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Kepok
Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kertas Alami Dengan Metode Pemisahan
Alkalisasi . Program Studi Pendidikan Kimia Fkipuniversitas Sebelas
Maret
Taruna,H., Rita A., Tania S., Sri A., 2010 . Studi Awal Pemanfaatan Limbah
Kertas HVS sebagai Bahan Baku Dalam Proses Pembuatan Etanol
Universitas Indonesia.
LAMPIRAN PERHITUNGAN

Perhitungan rata-rata waktu penetrasi minyak



1. Kertas Minyak =

= 3,35 menit


2. Kertas HVS =

= 0,67 menit