Anda di halaman 1dari 7

PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU

No. /RSUM/C/PKWT/IV/2019

Pada hari ini, Senin, lima belas April dua ribu sembilan belas (13/03/2019) telah dibuat dan
ditandatangani Perjanjian Kerja ("Perjanjian") oleh dan antara para pihak sebagai berikut:

I. Rumah Sakit Umum Madani yang dalam hal ini diwakili oleh dr. H. Depi Masri,
MARS selaku Direktur Utama, yang bertindak untuk dan atas nama Rumah Sakit
Umum Madani tersebut, berkantor di Jl. Arif Rahman Hakim No 168, kota Medan,
Sumatera Utara ; yang selanjutnya dalam Perjanjian Kerja ini disebut Pihak Pertama.

II. Infani Zakiyah Zulfa jenis kelamin Perempuan, lahir di Parlanaan, 29 Agustus 1992,
warga negara Indonesia, beralamat di Jl. Pancasila Perum. Batang Kuis Indah Permai
Blok K No 1, yang dalam hal ini memilih alamat korespondensi di alamat tersebut di
atas; bertindak untuk dan atas nama dirinya sendiri, yang selanjutnya dalam Perjanjian
Kerja ini disebut sebagai Pihak Kedua.

Pihak Pertama dan Pihak Kedua secara bersama-sama selanjutnya disebut “Para Pihak”.

Para pihak dengan ini menerangkan terlebih dahulu :


- Bahwa Pihak Pertama adalah Rumah Sakit Umum Madani yang bergerak dalam
bidang Pelayanan Kesehatan.
- Bahwa Pihak Pertama bermaksud untuk menerima Pihak Kedua dalam hubungan
kerja pada perusahaan Pihak Pertama dan Pihak Kedua bersedia untuk menerima
pekerjaan yang diberikan oleh Pihak pertama tersebut diatas, dengan syarat-syarat
dan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam perjanjian ini.

Berhubung dengan hal-hal tersebut di atas, maka para pihak yang satu terhadap lainnya telah
saling setuju dan mufakat untuk mengaturnya dalam suatu perjanjian dengan memakai
syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Pasal 1
Masa Kerja

Ayat 1
Pihak Pertama menyatakan menerima Pihak Kedua sebagai karyawan kontrak (waktu
tertentu) di Perusahaan Rumah Sakit Umum Madani yang berkedudukan di Jl. A.R Hakim
No. 168 Medan dan Pihak Kedua menyatakan kesediaannya.
Ayat 2
Perjanjian Kerja ini untuk jangka waktu terhitung mulai tanggal 22 Bulan Oktober Tahun
2018 sampai dengan tanggal 22 bulan Oktober tahun 2019
Ayat 3
Selama jangka waktu tersebut masing- masing pihak dapat memutuskan hubungan kerja
dengan pemberitahuan secara tertulis minimal 30 (tiga puluh) hari kerja.
Ayat 4
Pihak Kedua bersedia dan menyangupi untuk melengkapi berkas yang diminta oleh Pihak
Kedua yaitu STR dan SIK sampai batas waktu yang tidak ditetapkan.
Pasal 2
Tata Tertib Perusahaan
Ayat 1
Pihak Kedua menyatakan kesediannya untuk mematuhi serta mentaati seluruh tata tertib
perusahaan yang telah ditetapkan oleh Pihak Pertama.
Ayat 2
Pelanggaran terhadap peraturan-peraturan tersebut diatas dapat mengakibatkan Pihak Kedua
dijatuhi
1. Scorsing atau
2. Pemutusan hubungan Kerja (PHK) atau
3. Hukuman dalam bentuk lain dengan merujuk kepada Peraturan yang mengaturnya.
Ayat 3
Pihak Kedua wajib mengikuti Orientasi Khusus selama 1 (satu) minggu yang
diselenggarakan oleh Rumah Sakit.
Ayat 4
Selama masa berlakunya ikatan perjanjian kerja ini Pihak Kedua tidak dibenarkan
melakukan kerja rangkap di perusahaan manapun juga dengan mengemukakan dalih atau
alasan apupun juga.
Ayat 5
Pelanggaran yang disebutkan dalam ayat 4 diatas Pihak Kedua akan dapat bagi Pihak
Pertama untuk menjatuhkan sanksi sesuai Pasal 2 ayat 2 perjanjian ini terhadapnya.

Pasal 3
JAM KERJA
Ayat 1
Jam kerja diatur menurut kebutuhan Rumah Sakit dan perundang-undangan yang berlaku
adalah sebagai berikut :
1. Hari kerja diatur 6 hari kerja 1 hari off atau 5 hari kerja 1 hari off.
2. Jam kerja diatur rata2 7 ( tujuh) jam dalam sehari atau 9 (Sembilan) jam dalam
sehari
3. Istirahat selama 30 menit yang digunakan untuk makan dan sholat.
Ayat 2
Khusus bagi pegawai yang karena sifat kerjanya terlibat shift, hari kerja bagi tiap kelompok
shift kerja diatur menurut kebutuhan adalah sebagai berikut :
1. Shift Pagi dimulai dari pukul 08.00 s/d 15.00
2. Shift Sore dimulai dari pukul 15.00 s/d 21.00
3. Shift Malam dimulai dari pukul 21.00 s/d 08.00

Pasal 4
Tugas Dan Tanggung Jawab

Pihak kedua wajib menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Pihak
Pertama sebagaimana disebutkan dalam pasal satu (1) yang selanjutnya dituangkan dalam
penjabaran tugas yang diberikan oleh Atasan serta mematuhi semua peraturan yang
ditetapkan dibawah naungan direktur utama dan berpegang teguh pada SPO yang
diberikan.

Pasal 5
Penempatan Kerja
Ayat 1
Pihak kedua bersedia : Menerima tugas-tugas yang diberikan oleh Pihak Pertama sesuai
dengan kemampuan/ kualifikasi yang dimiliki;
Ayat 2
Pihak kedua bersedia dan tidak menolak untuk ditempatkan dalam hal ini dirotasi dan mutasi
di Instalasi manapun sesuai dengan kemampuan/kwalifikasinya.
Ayat 3
Pihak Kedua bersedia untuk dimutasikan atau mengundurkan diri sesuai dengan kebijakan
Direktur jika terjadi ikatan suami/istri dalam satu naungan Rumah Sakit Umum Madani.
Ayat 4
Penempatan atau mutasi tersebut disesuaikan berdasarkan kebutuhan tenaga dan kebijakan
Direktur.

Pasal 6
PERPANJANGAN MASA KONTRAK KERJA

Ayat 1
Setelah berakhirnya jangka waktu tersebut, perjanjian kerja ini dapat diperpanjang jika Pihak
Pertama masih membutuhkan Pihak Kedua dan Pihak Kedua juga menyatakan
kesediaannya.
Ayat 2
Jika setelah berakhirnya perjanjian kerja ke 2 ternyata Pihak Pertama masih membutuhkan
Pihak Kedua, maka Pihak Pertama akan mengangkat Pihak Kedua sebagai karyawan tetap
pada perusahaan Rumah Sakit Madani.
Ayat 3
Jika setelah berakhirnya perjanjian kerja ke-2 ternyata Pihak Kedua tidak diajukan untuk
pengangkatan sebagai karyawan tetap oleh Pihak Pertama, maka perjanjian kerja kontrak
akan berakhir bersama dengan berakhirnya waktu perjanjian tersebut
Ayat 4.
Pihak Kedua akan terhalang untuk diangkat menjadi karyawan tetap jika Pihak Kedua belum
memenuhi kelengkapan berkas karyawan dan SIK kepada Pihak Pertama seperti yang
tersebut dalam pasal 1 ayat 4 surat perjanjian ini.

Pasal 7
HAK CUTI

Ayat 1
Cuti tahunan diberikan kepada Pihak Kedua selama 12 (dua belas) hari dalam 1 (satu) tahun
dipotong libur hari raya selama 3( tiga ) hari jadi 9 (Sembilan ) hari dengan ketentuan
bahwa Pihak Kedua telah bekerja purna waktu selama 24 bulan berturut-turut dengan
memenuhi jam kerja minimal 173 jam perbulan.
Ayat 2
Cuti tidak diberikan sekaligus tapi dua kali pengambilan dikarenakan faktor kebutuhan
tenaga yang belum mencukupi.
Ayat 3
Cuti dapat dikurangi apabila pihak kedua sering tidak hadir atau kehadiran kurang dari batas
minimal yang ditentukan oleh perusahaan
Ayat 4
Berdasarkan kebutuhan tenaga dan pekerjaan, Pihak Pertama dapat menunda permohonan
cuti yang diajukan Pihak Kedua.
Ayat 5
Pihak Pertama juga berhak menunda hak cuti bagi Pihak Kedua jika belum memenuhi syarat
melengkapi SIK atau STR yang diminta oleh Pihak Pertama.
Ayat 6
Cuti Melahirkan diberikan selama 2 ( dua ) bulan. Bagi Karyawan yang telah melewati masa
kerja selama 24 bulan akan diberikan gaji pokok setiap bulannya selama dia cuti melahirkan.
Ayat 7
Cuti melahirkan dapat menghapus jatah cuti tahunan.

Pasal 8
Lembur

Ayat 1
Pihak Kedua diharuskan masuk kerja lembur jika tersedia pekerjaan yang harus segera
diselesaikan atau bersifat mendesak (urgent).
Ayat 2
Sebagai imbalan kerja lembur sesuai ayat 1, Pihak Pertama akan membayar Pihak Kedua
sebesar Rp. 5.000,/jam ( lima ribu rupiah perjam) untuk dinas siang dan Rp. 7.000,-
rupiah/jam (tujuh ribu rupiah/jam untuk dinas malam.
Ayat 3
Pembayaran upah lembur akan disatukan dengan pembayaran gaji yang akan diterima Pihak
Pertama pada tanggal awal setiap bulan.

Pasal 9
Hak Dan Kewajiban

Dalam rangka menjalankan tugas-tugasnya, Para Pihak mempunyai hak dan kewajiban
dengan masa evaluasi sebagai berikut :
Ayat 1
Pihak Kedua berhak :
a) Pihak Kedua diwajibkan scan face sebelum memasuki ruangan atau instalasi dimana
dia ditempatkan begitu juga sesudah meninggalkan pekerjaan.
b) Mendapatkan orientasi untuk memberikan pengetahuan dasar mengenai lingkungan
Perusahaan dan lingkup kerja
c) Mendapatkan uang lembur untuk kelebihan jam kerja dari waktu kerja yang
ditetapkan oleh perusahaan.
d) Mendapatkan gaji/upah setiap bulannya dengan perincian gaji pokok di tambah uang
transport yang sudah ditentukan oleh Perusahaan.
Ayat 2
Pihak Kedua berkewajiban :
a) Melakukan semua tugas / pekerjaan yang diberikan oleh atasan / pimpinan
perusahaan dengan sebaik-baiknya dan dengan tanggungjawab.
b) Loyal terhadap kepentingan perusahaan.
c) Menjaga dan memelihara barang-barang milik perusahaan yang dipercayakan
kepadanya atau yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaannya.
d) Menghormati pimpinan, keluarga pimpinan dan karyawan lain.
e) Menjaga dan memegang seluruh informasi yang berkaitan dengan Pihak Pertama,
baik mengenai hal – medis maupun non medis, operasional maupun non operasional,
Bisnis proses dan keuangan, terkecuali hal – hal yang diperbolehkan menurut
undang-undang dan adanya persetujuan dari pihak pertama.
d) Bersikap ramah dan santun terhadap pasien dan keluarganya.
Ayat 3
Pihak Pertama berhak :
a) Memberhentikan Pihak Kedua secara sepihak tanpa syarat bila tidak mematuhi
seluruh persyaratan yang terdapat dalam Perjanjian ini
b) Menuntut suatu prestasi kerja yang ditetapkan oleh Pihak Pertama.
c) Memperoleh dan memanfaatkan hasil kerja Pihak Kedua.
Ayat 4
Pihak Pertama berkewajiban :
a) Memimpin, memelihara, memperhatikan keselamatan dan kesehatan Pihak Kedua
b) Mentaati segala peraturan / ketetapan pemerintah di bidang ketenagakerjaan.
c) Memberikan hak-hak Pihak Kedua sesuai peraturan yang berlaku.

Pasal 10
Evaluasi Dan Sanksi

Ayat 1
Selama masa kerja 3 (tiga) bulan sekali , Pihak Kedua akan dievaluasi kinerjanya,
kedisiplinan, kemampuan, dan kontribusi oleh Pihak Pertama.
Ayat 2
Apabila hasil evaluasi Pihak Pertama menyatakan bahwa kinerja, kedisiplinan, kemampuan,
dan Pihak Kedua tidak sesuai harapan dari Pihak Pertama, maka Pihak Pertama akan
menghentikan Perjanjian ini, sebelum Perjanjian ini berakhir.
Ayat 3
Penghentian perjanjian sehubungan dengan evaluasi, sebagaimana diatur dalam ayat 2 Pasal
ini, maka Pihak Pertama dibebaskan dari:
a. Tuntutan apapun juga, baik sekarang maupun yang akan datang dari Pihak Kedua kepada
Pihak Pertama.
Ayat 4
Dalam masa kerja tersebut, mekanisme penyampaian surat peringatan berdasarkan perbuatan
yang telah dilanggar tanpa menimbang jarak waktu antar peringatan.

Pasal 11
Medical Chek Up

Pihak Pertama berhak menentukan kepada Pihak Kedua untuk melakukan Medical Chek up
tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pihak Kedua diwajibkan melakukan Medical Check Up
yang beban biayanya ditanggung oleh pihak pertama. Hasil dari Medical Check Up (MCU)
pihak kedua juga akan menjadi evaluasi 6 bulanan pihak pertama sesuai dengan pasal 9
perjanjian ini.

Pasal 12
Berakhirnya Perjanjian

Ayat 1
Perjanjian ini dapat menjadi batal dan dengan demikian berakhir apabila terjadi hal-hal
sebagai berikut:
a) Apabila Pihak Kedua tidak menjalankan kewajibanya sesuai dengan pasal 9 ayat 2
Perjanjian ini.
b) Apabila hasil evaluasi kinerja, kedisiplinan, kemampuan, dan kontribusi Pihak
Kedua, tidak sesuai dengan harapan dari Pihak Pertama, sesuai dengan pasal 9
perjanjian ini.
c) Apabila Pihak Kedua tidak menjalankan dan mematuhi ketentuan peraturan
perusahaan.
d) Apabila Pihak Kedua tidak cakap melakukan tugasnya walaupun telah dicoba dan
diberikan bimbingan
e) Apabila dari hasil penilaian evaluasi pertama dan ke dua yang dilakukan oleh Pihak
Pertama terhadap Pihak Kedua, dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi yang telah
ditentukan oleh Pihak Pertama.
f) Apabila Pihak Kedua Meninggal Dunia.
g) Apabila pihak Kedua melakukan tindak pidana.

Ayat 2
Bila salah satu hal tersebut diatas dilanggar, maka perjanjian ini batal demi hukum dimana
dengan terjadinya salah satu hal tersebut diatas telah membuktikan kelalaian Pihak Kedua
terkecuali point f, sehingga tidak diperlukan adanya surat teguran dan/atau surat lain yang
serupa dengan itu atau adanya putusan hakim secara tertulis dahulu, untuk keperluan
tersebut para pihak dengan ini melepaskan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Pasal
1266 dan Pasal 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, dalam hal terjadi demikian,
Pihak Pertama tidak berkewajiban memberi ganti rugi berupa apapun juga kepada Pihak
Kedua.

Pasal 13
Ijin Meninggalkan Pekerjaan

Ayat 1
Tertib Izin Meninggalkan Pekerjaan
Seorang karyawan diberikan izin meninggalkan pekerjaan dengan tetap mendapatkan upah
penuh untuk keperluan sebagai berikut :
a. Kematian suami /istri, orang tua kandung, anak kandung : 2 (dua) hari
b. Kematian anggota keluarga dalam satu rumah, menantu, mertua : 1 (satu) hari
c. Pernikahan pegawai : 3 (tiga) hari
d. Pernikahan anak pegawai : 1 (dua) hari
f. Khitanan/Aqikah anak pegawai : 1 (satu hari)
g. Istri melahirkan/keguguran : 1(satu) hari
Ayat 2
Untuk keperluan-keperluan tersebut diatas kecuali untuk kematian dan kelahiran, pegawai
diharuskan mengajukan permohonan ijin kepada atasannya selambat-lambatnya 2 (dua)
minggu sebelumnya.
Ayat 3
Atas pertimbangan-pertimbangan perusahaan, ijin meninggalkan pekerjaan di luar ketentuan
diatas dapat diberikan tanpa upah.
Apabila pihak kedua tidak hadir pada hari kerjanya tanpa izin atau tanpa memberitahukan
atasannya, diangap tidak hadir tanpa ijin/mangkir dan dapat diberi surat peringatan. Jumlah
hari ketidakhadiran karena mangkir akan mengurangi jatah cuti.
Pasal 14
PEROBATAN KARYAWAN

Ayat 1
Pihak Kedua akan diikutsertakan dalam program BPJS Kesehatan setelah bekerja selama 12
bulan lamanya atau 1 (satu) tahun berjalan .
Ayat 2
Karyawan yang belum diikutsetakan dalam BPJS Kesehatan jika sakit, berobat jalan atau
rawat inap ditanggung oleh karyawan yang bersangkutan dengan memberlakukan ketentuan
sbb :
a. Obat2an dibayar dengan harga modal
b. Hasil Lab dan Radiologi dibayar 50 %
c. Kamar Free atau gratis
d. Honor dokter Free atau gratis
Ayat 3
Pembayaran yang disebutkan dalam ayat 2 pasal ini boleh dicicil setiap bulannya melalui
pemotongan gaji.
Ayat 4
Pihak Kedua yang telah diikutkan dalam BPJS Kesehatan up grade 1 Klas dari ketentuan
yang ditetapkan oleh BPJS jika dirawat di Rumah Sakit Umum Madani.

Pasal 15
Penutup

Ayat 1
Demikianlah Perjanjian Kerja ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) dan setelah dibaca,
dimengerti dan ditandatangani oleh kedua belah pihak diatas materai secukupnya, maka
apabila dikemudian hari terjadi suatu sengketa, perbedaan dan/atau pertentangan, kedua
belah pihak sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah.
Ayat 2
Perjanjian Kerja ini berlaku dan mengikat sejak ditandatangani oleh kedua belah pihak
dengan ketentuan bila ada kekeliruan atau kekurangan, kedua belah pihak sepakat untuk
diadakan perubahan dikemudian hari.

Medan, 25 Januari 2018

Pihak Pertama Pihak Kedua,


DIREKTUR RSU MADANI

dr. H.DEPI MASRI, MARS Lisda Sri Devi, S.Kep


Direktur Utama Perawat Pelaksana