Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertambangan Tanpa Izin (PETI) didefinisikan sebagai usaha pertambangan atas segala jenis
bahan galian dengan pelaksanaan kegiatannya tanpa dilandasiaturan/ketentuan hukum
pertambangan resmi Pemerintah Pusat atau Daerah (Herman, 2006:3). Salah satu bentuk PETI
yang berkembang di masyarakat adalah PETI bahan galian emas.Menurut Badan Lingkungan
Hidup DaerahProvinsi Jambi (2015: 33), pertambangan bahan galian emas di Provinsi Jambi
berlangsung secara intensif di 4 (empat) kabupaten, yaitu Bungo, Merangin, Tebo, dan
Sarolangun. Kegiatan PETI berlangsung terutama di sepanjang aliran Sungai Batanghari ataupun
aliran anak-anak sungai.
Kegiatan PETI bahan galian emas meliputi proses ekstraksi, pengolahan bijih tambang, serta
amalgamasi untuk mendapatkan emas. Walaupun keberadaan PETI dapat meningkatkan
kemampuan ekonomi masyarakat, namun dampak yang ditimbulkannya juga besar. Salah satu
yang dapat ditemui adalah kondisi pekerja PETI yang tidak memiliki pelatihan dan keamanan
yang memadai, sehingga menyebabkan maraknya kasus kecelakaan kerja yang menimbulkan
korban jiwa (Krisnayanti, dkk. 2016: 27). Selain itu, kegiatan PETI juga menimbulkan kerusakan
dan pencemaran lingkungan pada wilayah kegiatan dan wilayah hilir dari lokasi PETI.
Kerusakan yang terjadi terdapat pada lahan di sekitar kegiatan pertambangan yang kehilangan
lapisan tanah. Sedangkan pencemaran lingkungan yang terjadi disebabkan oleh pembuangan
limbah pengolahan emas (tailing) ke badan air maupun air tanah (Prilia, dkk. 2013: 108).
Limbah yang dihasilkan dari aktivitas pertambangan emas terutama mengandung merkuri
(Hg). Merkuri dapat melarutkan berbagai logam untuk membentuk alloy yang disebut amalgam.
Oleh sebab itu, merkuri sering digunakan sebagai pengikat bijih emas dalam penambangan
secara tradisional melalui proses amalgamasi. Pada proses amalgamasi emas yang dilakukan
secara tradisional, merkuri dapat terlepas ke lingkungan pada tahap pencucian dan
penggarangan. Pada proses pencucian, yang mengandung merkuri dibuang langsung ke badan air
atau tanah (Mallongi, 2017:118). Selain itu, Maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin memberi
dampak negatif terhadap produksi usaha tani padi yang ada disekitar areal tambang, bahkan
tidak saja telah merusak lingkungan dan memusnahkan sawah produktif disamping itu juga telah
memberi dampak sosial bagi masyarakat terutama petani yang ada disekitar areal penambangan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas tentang “Dampak-
dampak Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terhadap Lingkungan di
Provinsi Jambi”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian adalah:
“Bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin
(PETI) di Provinsi Jambi ?”
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan pasti, maka perlu diberikan batasan
masalah. Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka batasan
masalah dititik beratkan pada bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas
Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Provinsi Jambi.

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu : “Untuk mengetahui dampak-dampak
yang ditimbulkan akibat aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Provinsi Jambi.
BAB II
LANDASAN TEORI

Pertambangan Tanpa Izin (PETI) adalah usaha pertambangan yang dilakukan oleh
perseorangan, sekelompok orang, atau perusahaan yayasan berbadan hukum yang dalam
operasinya tidak memiliki Izin dan instansi pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku. PETI diawali oleh keberadaan para penambang tradisional, yang kemudian
berkembang karena adanya faktor kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja dan kesempatan
usaha, keterlibatan pihak lain yang bertindak sebagai cukong dan backing, ketidakharmonisan
hubungan antara perusahaan dengan masyarakat setempat, serta krisis ekonomi berkepanjangan
yang diikuti oleh penafsiran keliru tentang reformasi. Di sisi lain, kelemahan dalam penegakan
hukum dan peraturan perundang-undangan yang menganaktirikan pertambangan rakyat, juga
ikut mendorong maraknya PETI. Kegiatan PETI yang tidak mengikuti kaidah-kaidah
pertambangan yang benar, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan, pemborosan sumber daya
mineral, dan kecelakaan tambang. Hal ini menimbulkan bencana jika tidak di kelola dengan baik
dan benar (Boateang et al, 2014).
Disamping itu, PETI bukan saja menyebabkan potensi penerimaan negara berkurang, tetapi
juga Negara/Pemerintah harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk memperbaiki
kerusakan lingkungan. Disamping itu dampak sosial yang diakibatnya juga tidak kalah banyak
menimbulkan masalah seperti rusaknya hubungan antar masyarakat Penanggulangan masalah
PETI selau saja dihadapkan kepada persoalan dilematis. Hal ini disebabkan PETI identik dengan
kehidupan masyarakat bawah yang tidak memiliki akses kepada sumber daya ekonomi lain
karena keterbatasan pendidikan, keahlian, dan ketrampilan yang dimilikinya (Adnan, 2012).
Penutupan kegiatan usaha berarti menambah panjang daftar angka pengangguran dan
kemiskinan, sementara membiarkan mereka tetap beroperasi berarti menginjak-injak peraturan
perundang-undangan yang berlaku. (Koperindag Karo, 2016).
Produksi emas dari kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau yang saat ini lebih
dikenal sebagai Pertambangan Emas Sekala Kecil (PESK) dapat mencapai 65- 130 ton per tahun
(Kementerian ESDM, 2013). Pada tahun 2010 terdapat sekitar 900 hotspot yang mencakup
sekitar 250.000 petambang termasuk di dalam jumlah tersebut adalah perempuan dan anak- anak
kecil di bawah umur. Berbagai sumber menyatakan setiap harinya para petambang dapat
menghasilkan sekitar 10 gram emas. Dalam setiap emas yang dihasilkan, terdapat 1-3 gram
merkuri yang terlepas ke lingkungan dari proses amalgamasi konsentrat. Pada prakteknya Whole
Ore Amalgamation (WOA) melepaskan lebih banyak merkuri ke udara sampai mencapai 20-50
gram merkuri per/gram emas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kota Palu, Provinsi
Sulawesi Tengah dan sekitarnya mengungkapkan tingginya kandungan merkuri di udara antara
20 nanogram/m3 sampai dengan 40.000 nanogram/m3 menimbulkan ancaman serius terhadap
kesehatan penduduk yang bertempat tinggal di wilayah hilir (Balifokus, 2013). E Dartey dkk.,
(2013) dalam penlitiannya menyebutkan tingginya kadar merkuri di dalam tubuh Pekerja
Tambang Emas Sekala Kecil merupakan salah satu dampak dari tidak adanya fasilitas Alat
Pelindung Diri (APD) yang memadai pada saat bekerja, serta adanya praktik higienis yang
kurang baik. Oleh sebab itu penambang khususnya penambang rakyat perlu dilatih untuk
mengetahui bahaya makan dan minum di area kerja, perlunya menggunakan alat pelindung diri,
serta memperbaiki metode kerja menjadi lebih baik untuk dapat meminimalkan paparan di
tempat kerja.
Pencemaran lingkungan adalah dampak negatif dari penambangan dan akhir-akhir ini
menjadi topik perbincangan hangat di media masa. Masalah tersebut pada dasarnya berawal dari
kurangnya kesadaran penambang akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Jika hal ini
tidak segera diatasi pada akhirnya berdampak kepada masyarakat di sekitar Tambang. Kehidupan
manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan akan bahan tambang untuk menunjang kehidupan.
Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya mineral dan batubara, mengandalkan
pertambangan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakatnya. Namun demikian, belum semua
pemanfaatan sumberdaya tersebut dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Banyak kegiatan
pertambangan masih bersifat ilegal sehingga menimbulkan lebih banyak kerugian dan persoalan,
baik bagi negara maupun bagi masyarakat, dibandingkan manfaat yang dapat diperoleh. Negara
kehilangan pendapatan karena para penambang tidak membayar pajak dan royalti, akibatnya
terjadi pemborosan sumberdaya. Sementara itu kualitas lingkungan menjadi turun akibat
pencemaran, karena cara penambangan dan pengolahan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah
“good mining practice”.
Eksploitasi sumber daya alam melalui Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) secara besar-
besar dan tidak sesuai dengan standar operasional selama tiga tahun terakhir, mengakibatkan
terjadi penurunan dan kerusakan lingkungan. Perubahan lingkungan di sekitar pertambangan
karena proses konversi lahan pertanian menjadi kawasan penambangan yang tidak dilakukan
secara arif juga berdampak negatif bagi petani yang mempunyai lahan di sekitar kawasan
penambangan (Febriarti, 2010). Dengan demikian perlu adanya apresiasi lingkungan untuk
mengetahui seberapa besar kesediaan petani untuk menerima external cost yang harus diberikan
pihak pertambangan dalam rangka memperbaiki lingkungan dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya (US EPAa 2015 ; CDPHEa 2015 ) disamping itu dampak penambangan ilegal
ini tidak hanya merusak ekologi, dan lingkungan yang ada akan tetapi sosial masyarakat juga
terganggu, Petkova et. al (2009) mengatakan bahwa dampak sosial adanya tambang
mengakibatkan rusaknya hubungan kemasyarakatan yang telah terbina diantara kelompok
masyarakat yang ada disuatu daerah seperti saling curiga mencurigai, komunikasi antar warga
dan aparat desa yang sering tidak sejalan, dan lain sebagainya.
Brown and Kane (1994) memberikan peringatan keras sebagai berikut: Para ilmuwan telah
mengetahui bahwa terjadi kerusakan lahan yang mengakibatkan menurunnya produktivitas lahan
dan laju pertumbuhan produksi pangan nasional negatif di banyak negara. Degradasi dan
kerusakan lahan akan terus terjadi oleh berbagai sebab dan akibatnya kekurangan pangan di
banyak negara akan menjadi masalah serius pada abad XXI, hanya persoalan waktu saja. Secara
umum Oosthoek dan Gills (2005) menyitir dari Scientific American menyebutkan bahwa
penggunaan sumber daya alam oleh tekanan jumlah penduduk yang besar dan oleh kemiskinan,
akan berdampak terhadap penurunan keanekaragaman hayati dan kualitas lingkungan, dan
apabila tidak dicegah maka manusia akan berhadapan dengan krisis lingkungan. Menurut Thrupp
(1996) pertanian berkelanjutan merupakan praktek-praktek pertanian yang secara ekologi layak,
secara ekonomi menguntungkan, dan secara sosial dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini
bertujuan mengetahui dan menganalisis dampak penerapan pertanian berkelanjutan pada
usahatani padi berdasarkan dimensi sosial masyarakat yang ada di sekitar areal penambangan.
Paparan merkuri dalam waktu lama mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia,
terutama yang terpapar oleh kondisi lingkungan yang tercemar merkuri. Keracunan merkuri yang
biasanya terjadi pada masyarakat yang tinggal di sekitar penambangan biasanya bersifat kronik.
Sejalan dengan hasil penelitian Andri dkk., (2011) yang meyatakan lama tinggal seseorang pada
daerah yang tercemar oleh merkuri 7 kali lebih besar akan memiliki kadar merkuri pada rambut
di atas ambang batas jika dibandingkan dengan seseorang yang tinggal lebih sebentar. Hal ini
dikarenakan gejalan kelinis keracunan merkuri akan muncul setelah 5- 10 tahun mendatang
tergantung pada besarnya paparan yang terjadi di lingkungan tersebut. Untuk mengetahui adanya
pajanan merkuri (Hg) di dalam tubuh dapat diketahui melalui pengukuran kadar polutan di dalam
jaringan tubuh, seperti rambut, darah, urin, kuku dan ASI (Air Susu Ibu). Pengukuran terhadap
jaringan tubuh ini dikenal sebagai Biological Markers atau Biomarker yang akan membantu
dalam penilaian pajanan suatu polutan. Salah satu Biomarker yang dapat digunakan untuk
penilaian pajanan merkuri terhadap tubuh adalah melalui pengkururan sampel urin. Baeum dkk.,
(2011) menyatakan urin merupakan biomarker yang baik untuk mengetahui paparan akut dari
merkuri anorganik. Berdasarkan hasil biomonitoring terhadap pekerja Artisanal Smal-Scale Gold
Mining (ASGM) pada 6 titik ASGM di kawasan Asia dan Afrika, konsetrasi maksimum tertinggi
kadar merkuri di dalam urin pekerja ditemukan dari pekerja ASGM di Indonesia-Kalimantan
yaitu 5,240 µg/L urin-merkuri dan 1,697 µg/g kreatinin.
Selain itu Yard dkk., (2012) menyatakan terdapat perbedaan nilai konsetrasi merkuri di
dalam urin pekerja yang bekerja pada bagian pembakaran amalgam dengan pekerja non
pembakran amalgam. Pada pekerja pembakran amalgam ditemukan konsetrasi merkuri di dalam
urin lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja bukan pembakar amalgam. Seperti yang telah
diketahui sangat sedikit elemental merkuri (Hgo) yang masuk ke tubuh manusia melalui kontak
kulit ataupun oral, sekitar 80% uap merkuri masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi. Ketika
amalgam dipanaskan siapapun yang berada disekitar lokasi pembakaran dapat terpapar uap
merkuri hasil pembakaran tersebut. Beberepa penelitan mengenai kegiatan PETI di Indonesia
terhadap penurunan kualitas sungai maupun resiko kesehatan yang mungkin terjadi telah banyak
dilakukan. Subanri (2008) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jarak
penambangan dengan kadar merkuri yang terdapat pada lokasi penambangan, semakin jauh jarak
semakin kecil kadar Hg dalam air. Selain itu Rianto (2010) menyatakan meskipun kadar merkuri
di dalam darah pekerja tambang melebihi batas yang diizinkan, akan tetapi belum terlihat gejala
atau gangguan kesehatan yang dialami oleh pekerja tambang tersebut. Namun demikian adanya
kandungan merkuri di dalam darah pekerja tersebut dapat menjadi satu indicator bahwa senyawa
merkuri telah masuk ke dalam tubuh dan akan mengalami biotransformasi yang akan menjadi
metabolit dan sebagian akan menuju organ target seperti syaraf, ginjal, dan organ target lainnya.
Desa Pasar Terusan, Kecamatan Muara Bulian merupakan salah satu desa di Kabupaten
Batanghari yang memiliki titik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Penduduk desa yang
berprofesi sebagai penambang emas telah memiliki masa kerja rata- rata 5-10 tahun. Sejak
pertama kali kegiatan penambangan emas ini dilakukan pada tahun 1980-an proses pengolahan
emas yang dilakukan telah menggunakan bahan kimia berbahaya Merkuri (Hg). Limbah yang
dihasilkan dari pengolahan tersebut berpotensi menyebabkan adanya penurunan kualitas
lingkungan mulai dari pencemaran terhadap air permukaan, air tanah, hingga resiko terhadap
gangguan kesehatan terhadap penambang maupun masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi
penambangan. Kualitas air sungai Batanghari di provinsi jambi telah mengalami penurunan
akibat adanya penambangan emas tanpa izin (PETI) tersebut. Hasil uji laboratorium yang
dilakukan pada Juni 2014 terhadap sampel air sungai Mesumai dan Merangin (Kabupaten
Merangin) serta Sungai Tembesi (Kabupaten Sarolangun) yang merupakan anak Sungai
Batanghari kadar merkuri untuk sungai Mesumai dan Merangin sebesar 0,0008 mg/l. Sedangkan
air sungai Tembesi di Kabupaten Sarolangun kadar merkuri sebesar 0,001 mg/l. Meskipun hasil
uji laboratorium menunjukkan kadar merkuri di dalam air masih berada di bawah batas yang
diperbolehkan menurut PP 82 Tahun 2001 tentang bahan baku air minum, namun kadar tersebut
sudah sangat beresiko terhadap kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi air tersebut
(Tambunan, 2014).
Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang kondisi air sungainya mengalami penurunan
kualitas air akibat adanya penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dilakukan disepanjang
aliran sungai. Apabila kondisi ini berlangsung lama, maka akan memberikan dampak buruk bagi
kerusakan lingkungan bahkan kesehatan. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat yang
tinggal disepanjang aliran sungai yang memanfaatkan air sungai tersebut sebagai sumber
penghidupan. Untuk itu, dengan adanya kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di
daerah Kecamatan limun yang dilakukan di sepanjang aliran sungai Limun menjadi
permasalahan. Bagaimanakah karakteristik fisika-kimia air sungai Limun sebelum adanya
kegiatan Penambangan dan Bagaimanakah karakteristik fisika-kimia air sungai Limun sesudah
adanya kegiatan Penambangan. Daerah penelitian terletak di desa Muaro Limun dan sekitarnya
Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan untuk
mengetahui perubahan sifat fisik air dan sifat kimia air yang terjadi sebelum dan setelah adanya
kegiatan penambangan, dan untuk mengetahui pengaruh apa saja yang ditimbulkan akibat
adanya kegitan penambangan terhadap kualitas air sungai Limun.
Fisiografi bagian barat daerah Kabupaten Sarolangun ditempati oleh pegunungan Barisan,
dicirikan oleh topografi yang kasar, tersusun dari batuan sedimen malihan dan batuan beku yang
terpotong oleh lembahlembah yang dikontrol oleh sesar. Ketinggian berkisar antara 320 meter
sampai lebih dari 2380 meter di atas permukaan laut dengan lereng yang curam yang tertutup
rapat hutan-belukar. Pola aliran yang utama adalah rektangular dan teralis dengan bentuk lembah
umumnya adalah ‘V’ sempit dan lurus. Bagian timur merupakan dataran rendah yang terbuka,
hanya ditutupi oleh semak-belukar dan hutan kecil sementara di beberapa tempat berupa rawa.
Bagian timur dan timurlaut daerah ini terdiri dari lahan yang bergelombang, dengan ketinggian
beberapa puluh meter diatas permukaan laut. Sungai-sungai mempunyai bentuk meander dan
berpola dendritik (meranting) sampai rektangular, kebanyakan sungai besar mengalir kearah
baratlauttenggara, sejajar dengan arah struktur utama.
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sarolangun (Suwarna dkk, 1992), susunan Stratigrafi
daerah penelitian dari batuan yang tertua sampai batuan termuda (Gambar 2) adalah Granit -
(Kgr, granit, granodiorit0, Formasi Asai (Ja, batupasir malih, filit, batusabak, batulanau, sisipan
batu gamping, setempat batupasir kuarsa, argilit, sekis, ganes, kuarsit), Formasi Peneta (KJp,
batusabak, serpih, batulanau, dan batupasir sisipan batugamping), Formasi Airbenakat (Tma,
perselingan batulempung dan batupasir, sisipan konglomerat gampingan, batulanau, napal dan
batubara), Formasi Muarenim (Tmpm, batupasir, selingan batupasir tufan dan batulempung;
sispan batubara, kearah atas mengandung bahan gunung api), Formasi Kasai (QTk, tuf, tuf
berbatuapung sisipan batupasir tufan, batulempung tufan, setempat konglomerat, kayu
terkersikkan), endapan rawa (Qs, Lumpur, lempung dan gambut), dan Aluvium (Qa, kerikil,
pasir, lumpuran lempung). Struktur geologi di daerah Kabupaten Sarolangun adalah perlipatan
tegak berarah baratlaut-tenggara. Sesar utama berarah baratlaut – tenggara, timurlaut - baratdaya,
utara baratlaut - selatan tenggara dan sesar timur-barat.