Anda di halaman 1dari 156

1

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah

SWT yang telah memberikan segala rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis

sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini yang berjudul “ANALISA

DISTRIBUSI AIR BERSIH PADA KOMPLEK PERUMAHAN KARYAWAN

PT.CHEVRON PACIFIC INDONESIA DISTRIK DUMAI DARI WTP-DUMAI

MENGGUNAKAN SOFTWARE EPANET 2.0”

Sehubungan dengan selesainya Tugas Akhir ini, maka penulis menyampaikan terima

kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya, H. Kasman Siregar dan Hj.

Nurhana Nasution serta abang dan adik saya dan kepada Uwaisy Salsabil dimana

mereka semua selalu memberikan semangat, cinta dan kasih sayang serta do’anya

kepada saya di tengah-tengah kejenuhan yang terjadi.

Kemudian penulis juga mengucapkan rasa terima kasih kepada banyak pihak yang

telah membantu penulis dari segi materi dan material antara lain :

1. Ketua Departemen Teknik Sipil USU Bapak Prof. Dr. Ing. Johanes Tarigan

dan Sekretaris Departemen Teknik Sipil Bapak Ir. Syahrizal, MT

2. Dosen pembimbing penulis, Bapak Ir. Boas Hutagalung, M.Sc

3. Dosen penguji penulis, Bapak Ir. Sufrizal, M.Eng

4. Dosen penguji penulis, Bapak Ir. Terunajaya, M.Sc

5. Dosen penguji penulis, Bapak Ivan Indrawan, ST.MT

6. Kepala Departemen WTP Distrik Dumai, Bapak Mohammad Nasir

2
7. Mentor lapangan, Bapak Jumarista

8. Seluruh teman-teman seperjuangan saya sipil 06 yang tidak bisa saya

sebutkan nama dan jasanya satu persatu, yang telah ikut membantu saya selama

berjuang mengarungi kerasnya kehidupan di sipil ini dan selama proses penulisan

Tugas Akhir saya ini. Terima kasih atas doa dan dukungannya.

Penulis menyadari bahwa penulisan atau penyusunan Tugas Akhir ini masih jauh

dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang

sifatnya membangun sehingga dapat menyempurnakan penulisan selanjutnya.

Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Medan,

Andi Ade Putra Siregar

3
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Persamaan yang Berkaitan dengan jaringan Distribusi

Tabel 1.2 Nilai Koefisien Minor Losses dalam Software Epanet 2.0

Tabel 2.1 unsur-unsur fungsional dari sistem penyediaan air minum

22

4
Tabel 2.2 Penggunaan air rata-rata untuk rumah tangga

27

Tabel 2.3 Rata-rata Kebutuhan Air Per Orang Per Hari

27

Tabel 2.4 Koefisien Kekasaran Untuk Berbagai Jenis Pipa

47

Tabel 2.5 Nilai koefisien minor losses dalam software EPANET 2.0

47

Tabel 2.6 Penggunaan Pattern Demand pada EPANET 2.0

51

Tabel 2.7 Demand Pattern Pada EPANET 2.0

52

Tabel 3.1 Parameter Kualitas Air Bersih

77

Tabel 5.1 Produksi Air Secara Relatif Terhadap Air Baku 89

Tabel 5.2 kebutuhan air berdasarkan kategori Kota

90

Tabel 5.3 Kebutuhan Air Untuk Perkantoran

91

Tabel 5.4 Penggunaan air bersih di Sekolah pada area Dumai Camp

93

Tabel 5.5 Kebutuhan air bersih untuk Wisma

93

5
Tabel 5.6 Kebutuhan air bersih untuk sarana ibadah

94

Tabel 5.7 Kebutuhan air bersih untuk Rumah Makan pada area Dumai Camp

94

Tabel 5.8 Kebutuhan air bersih untuk Rumah Sakit

95

Tabel 5.9 Kebutuhan air bersih untuk Kolam Renang

96

Tabel 5.10 kebutuhan air bersih untuk Perpustakaan

96

Tabel 5.11 Kebutuhan air bersih untuk Gedung Olahraga

97

Tabel 5.12 Rekapitulasi estimasi penggunaan air pada area Dumai Camp

97

Tabel 5.13 Pola penggunaan air minum di Dumai Housing Camp

99

Tabel 5.14 Kapasitas total pemompaan 107

Tabel 6.1 Hasil analisa EPANET 2.0 berupa Tabel 117

Tabel 6.2 Hasil evaluasi pemodelan software EPANET 2.0

dengan metode Hardy Cross 122

6
Tabel 6.3 Hasil evaluasi pemodelan software EPANET 2.0

dengan metode Hardy Cross setelah dilakukan

evaluasi terhadap diameter pipa 126

7
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kaitan hubungan antara unsur-unsur fungsional 22

dari suatu sistem penyediaan air kota

Gambar 2.2 Aliran Steady dan Seragam 32

Gambar 2.3 Pipa yang dihubungkan seri 33

Gambar 2.4 Pipa yang dihubungkan secara parallel 33

Gambar 2.5 Contoh suatu sistem jaringan pipa 35

Gambar 2.6 Hubungan Antar Komponen Fisik Dalam EPANET 2.0 40

Gambar 2.7 Berbagai Jenis Bentuk Kurva Pompa yang Ada 53


Dalam EPANET 2.0
Gambar 2.8 Efficiency Curve pada Software EPANET 2.0 54

Gambar 2.9 Volume Curve Pada Software EPANET 2.0 55


Gambar 3.1 Peta Dumai dan Kompleks Dumai Camp 61
Gambar 3.2 Diagram Alir Proses pengolahan Air Secara Konvensional 68
Gambar 3.3 Diagram Alir Proses pengolahan Air Secara Reverse Osmosis 72
Gambar 3.4 Peta Distribusi Air Minum di Area Dumai Camp 79
Gambar 4.1 Diagram Metodologi Penelitian 82

8
Gambar 4.2 Flow Chart Tahapan Pemodelan Menggunakan EPANET 2.0 85

Gambar 6.1 Hasil Menu – Query untuk titik dengan ketinggian diatas 18 m 112
Gambar 6.2 Profil Head Kontur pada jam ke- 00:00 (awal simulasi) 114
Gambar 6.3 Headloss pada pipa dengan kondisi headloss diatas 3 m/km 116
Gambar 6.4 Loop pada area kompleks Mendut 119
Gambar 6.5 Garis energi pada jaringan pipa utama 123

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN

Q = Debit/laju aliran dalam pipa (m3/dtk)

A = luas penampang aliran ( m2)

v = kecepatan aliran ( m/s )

hf = kerugian gesekan dalam pipa (m)

L = paanjang pipa (m)

C = koefisien kekasaran pipa Hazen – Williams

d = diameter dalam pipa (m)

g = percepatan gravitasi

k = koefisien kerugian (dari lampiran koefisien minor losses peralatan

pipa)

n = Koefisien kekasaran Manning

9
f = Faktor Gesekan

A = Luas penampang

P2 − P1
= perbedaan head tekanan
γ

γ = Berat jenis air (9810 N/ m3)

Z2 – Z1 = perbedaan head statis

Hp = Head pompa (meter)

Re = Bilangan Reynold

V1 = Kecepatan pada titik awal

V2 = Kecepatan pada titik akhir

WTP = Water Treating Plant

10
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Lay out peta jaringan perpipaan distribusi kondisi eksisting

Lampiran II : Lay out peta jaringan perpipaan distribusi setelah dilakukan

evaluasi pada diameter pipa distribusi yang digunakan

Lampiran III : Diagram alir proses pengolahan air pada Water Treating Plant

secara Konvensional

Lampiran IV : Diagram alir proses pengolahan air pada Water Treating Plant

dengan cara Reverse Osmosis

Lampiran V : Diagram alir proses pengolahan air di WTP-Dumai secara

keseluruhan

Lampiran VI : Full Report Hasil Analisa Software EPANET 2.0 Kondisi

eksisting pada awal simulasi (jam ke 00.00)

11
Lampiran VII : Full Report Hasil Analisa Software EPANET 2.0 Setelah

dilakukan evaluasi terhadap diameter pipa distribusi

yang digunakanpada awal simulasi (jam ke 00.00)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

PT.Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) merupakan perusahaan minyak

terbesar di Indonesia. PT. CPI memperhatikan kebutuhan masyarakatyang tinggal di

lingkungan PT. CPI, salah satunya adalah penyediaan air minum. PT.CPI memilliki

seperangkat unit pengolahan air bersihnya tersendiri dan tidak bergantung kepada

instansi penyedia air minum setempat. Water Treatment Plant (WTP-Dumai) berada

di bawah Departemen Supply Chain Management, Team Facility Management. WTP

Dumai melayani kebutuhan air untuk wilayah kompleks perumahan dan daerah

operasional distrik Dumai.

WTP-Dumai melayani penduduk penghuni kompleks perumahan PT. CPI

Dumai, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya di wilayah

operasi Dumai.

12
WTP-Dumai telah beroperasi sejak tahun 1958 dan telah banyak mengalami

proses perbaikan dan peningkatan unit-unit instalasi pengolahan dan unit

distribusinya. Untuk jaringan perpipaannya sendiri, masih mengandalkan jaringan

perpipaan yang lama dan hanya dilakukan penggantian terhadap beberapa jaringan

pipa yang telah rusak. Oleh karena itu kadang kala dalam proses pendistribusiannya

kerap kali mengalami gangguan pressure apabila terjadi kebocoran dan perbaikan

terhadap bagian pipa yang rusak.

Selama ini untuk menjaga pressure yang di distribusikan ke area perumahan

jika terjadi perbaikan hanya di dasarkan pada pengalaman operator senior saja dan

dengan cara menaikkan tekanan untuk distribusi ke area perumahan. Hal ini

sangatlah riskan apabila tekanan yang dinaikkan tidak proporsional sehingga dapat

menyebabkan kebocoran pada pipa lainnya karena tekanan pada pipa yang begitu

besar.

Air yang telah diproses di WTP dan didistribusikan ke area perumahan

diberikan secara cuma-cuma. Oleh karena tidak dilakukannya pengukuran terhadap

penggunaan air pada tiap rumah di seluruh area perumahan tersebut maka akan sulit

untuk menentukan kebutuhan air pada tiap-tiap titik layanan di area perumahan

tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dalam studi ini peneliti akan mencoba

menganalisa permasalahan tersebut dengan cara memodelkan jaringan perpipaan

yang ada menggunakan software EPANET 2.0 sehingga dapat diketahui parameter-

parameter aliran dalam jaringan perpipaan yang ada.

1.2. Maksud dan Tujuan

13
Maksud tugas akhir ini adalah untuk menganalisa sistem penyaluran dan

pendistribusian air minum di kompleks perumahan Dumai Camp. Sehingga

diharapkan dapat memberikan beberapa masukan dan solusi terhadap masalah yang

dihadapi. Selain itu juga dapat mengambil pelajaran baru dari teknologi yang

digunakan oleh WTP-Dumai yang didapat selama di lapangan. Pembahasan akan

lebih ditekankan pada sistem distribusi, bukan pada tahap pengolahan air bersih.

Adapun tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk melihat dan

mempelajari langsung dari situasi di lapangan yang mungkin tidak di dapat di

bangku kuliah. Selain itu, juga diharapkan mahasiswa dapat memberikan masukan

untuk perbaikan sistem distribusi air bersih untuk mencapai hasil yang lebih optimal.

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan

pada tugas akhir ini peneliti akan menganalisa aliran distribusi air bersih pada

area perumahan karyawan PT. Chevron Pacific Indonesia Distrik Dumai dengan cara

melakukan simulasi pemodelan jaringan distribusi perpipaan di area kompleks

perumahan dengan menggunakan software EPANET 2.0 dan membandingkan hasil

analisa EPANET 2.0 dengan perhitungan menggunakan metode Hardy-Cross pada

sampel loop area komplek mendut.

1.4. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, tujuan dan ruang lingkup dari penelitian tugas

akhir ini, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Berapa besar penggunaan asumsi-asumsi pemakaian air yang dapat mewakili

kondisi?

14
2. Apakah hasil pemodelan jaringan distribusi air bersih pada area perumahan

dengan menggunakan software EPANET 2.0 dapat mewakili kondisi aliran

distribusi yang ada?

1.5. Batasan Masalah

Pada penelitian ini pembahasan akan lebih di tekankan terhadap analisa

pendistribusian air bersih ke konsumen pada suatu jaringan perpipaan di Kompleks

Perumahan PT.Chevron Pacific Indonesia Dumai-Riau dengan menggunakan

software EPANET 2.0. Adapun permasalahan yang dianalisa antatra lain :

1. Besarnya head dan pressure pada tiap titik layanan dalam jaringan pipa.

2. Kehilangan energi (Headloss) pada pipa.

3. Kecepatan aliran dalam pipa.

4. Perhitungan kebutuhan air pada tiap-tiap titik layanan dalam jaringan pipa dengan

menggunakan standar asumsi-asumsi yang ada.

1.6. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam laporan tugas akhir ini adalah sebagai

berikut :

1. Pendahuluan

Berisi latar belakang, maksud dan tujuan dari tugas akhir ini, ruang

lingkup yang akan di bahas, sumber data yang di gunakan, dan sistematika

pembahasannya.

2. Tinjauan Pustaka

15
Berisi teori perencanaan system penyaluran air minum,teori tentang

software EPANET 2.0 yang memungkinkan untuk dipakai.

3. Gambaran Umum Wilayah Studi

Berisi gambaran umum daerah studi sejarah umum PT.CPI, lingkup

kerja perusahaan, visi, misi dan nilai dasar perusahaan serta gambaran water

treatment plant-Dumai.

4. Metodologi penelitian.

Berisi tentang alur pengerjaan penelitian tugas akhir ini.

5. Kompilasi dan Pengolahan Data

Berisi data-data yang ditemukan atau berdasarkan perhitungan temuan

di lapangan dan pengolahan data dengan software EPANET 2.0

6. Hasil Pemodelan Software EPANET 2.0 dan Evaluasi dengan Metode Hardy

Cross

Berisi analisa hasil simulasi pemodelan jaringan dengan software

EPANET 2.0 dan hasil evaluasi dengan menggunakan metode Hardy Cross.

7. Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan terhadap penelitian yang dilakukan, saran, dan

masukan yang dapat digunakan untuk kemajuan WTP-Dumai.

1.7. Metodologi Penelitian

Untuk mencapai tujuan dan sasaran penelitian ini maka tahapan

proses penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Studi Literatur

16
Mengumpulkan bahan-bahan atau teori-teori dari beberapa buku yang

berhubungan dengan pengerjaan tugas akhir.

2. Pengumpulan Data

Mengambil data-data yang diperlukan yang terdiri dari :

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dengan

mengadakan kunjungan langsung di daerah studi dan wawancara

langsung terhadap operator WTP-Dumai, sehingga diperoleh kondisi

eksisting penyaluran dan pendistribusian air bersih.

b. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dari PT.Chevron Pacific

Indonesia. Adapun data-data tersebut yaitu :

• Jumlah rumah,fasilitas-fasilitas penunjang serta perkantoran yang

terdapat pada kompleks perumahan PT. Chevron Pacific

Indonesia.

• Produksi air baku yang diolah oleh WTP-Dumai yang akan

disuplai ke area perumahan kompleks PT. CPI.

• Peta jaringan pipa distribusi pada kompleks perumahan.

• Panjang pipa antar junction yang satu dan lainnya, diameter pipa

yang digunakan serta jenis pipa distribusinya.

• Diameter valve yang digunakan serta tipenya.

• Parameter kualitas air yang di izinkan serta hasil pengujian

Laboratorium terhadap kualitas air yang akan di distribusikan.

17
• Spesifikasi pompa distribusi yang digunakan.

• Total head (head hidrolik) yaitu elevasi permukaan air pada

reservoir

• Dll.

3. Pengolahan Data

Setelah semua data-data (data primer dan sekunder) yang diperlukan

dalam penelitian ini terkumpul, maka dilakukan suatu pemodelan dan

simulasi sistem distribusi air bersih di Dumai Camp dengan menggunakan

software EPANET 2.0. Adapun langkah-langkah awal dalam pengolahan data

sebelum dilakukan pemodelan menggunakan software EPANET 2.0 adalah

sebagai berikut ini :

 Langkah awal sebelum dilakukan pemodelan ini yaitu denga menentukan

jumlah penduduk di tiap daerah yang ada di area kompleks perumahan,

kemudian dilanjutkan dengan perhitungan kebutuhan di tiap daerah

tersebut. Rumus menghitung kebutuhan air domestik yaitu :

Kebutuhan air = jumlah rumah X asumsi penghuni tiap rumah X asumsi

pemakaian air (L/orang/hari)

 Besarnya asumsi kebutuhan air pada tiap titik berdasarkan kategorinya

(domestik dan non domestik) inilah yang nantinya dijadikan acuan oleh

18
peneliti dalam penentuan demand (kebutuhan) pada tiap node/junction

yang mewakili masing-masing kategori (domestik dan non domestik)

sebagai input data dalam software EPANET 2.0.

Dalam pemodelan jaringan distribusi ini hanya dilakukan

pemodelan sistem pipa utama dan pipa sekundernya saja, yaitu pipa

primary feeder (pipa induk) jenis PVC dengan diameter 8 inchi dan

diameter 6 inchi untuk pipa sekunder. Primary feeder merupakan kerangka

dasar sistem jaringan distribusi untuk suatu daerah.

 Air yang telah diolah akan didistribusikan dengan menggunakan 4 unit

pompa distribusi jenis Horizontal Split Case Single Stage Pump type A

produksi PEERLESS PUMP COMPANY dengan spesifikasi sebagai

berikut :

 Kapasitas : mencapai 25.000 gallon per menit (5.682 m3/hari)

 Head Hidrolik : mencapai 660 feet (201 m)

 Pressure : mencapai 400 Psi (28 kg/cm2 atau 2.758 kPa)

 Power : 1.500 HP

Dalam pengoperasiannya hanya digunakan 1 unit pompa distribusi,

sedangkan 3 unit pompa lainnya digunakan secara bergantian jika terjadi

kerusakan pada salah satu pompa distribusi.

 Jaringan perpipaan yang ada pada kompleks perumahan karyawan PT.

CPI menggunakan pipa jenis PVC (PolyvinilChloride) dengan diamter 8

19
inchi untuk pipa induk, 6 inchi untuk pipa cabang dan 2 inchi untuk pipa

servis. Melalui pipa-pipa inilah air akan di distribusikan ke konsumen.

4. Analisis Data

Metode yang dipergunakan dalam analisis pendistribusian air bersih

yaitu dengan memakai program EPANET versi 2.0. Program tersebut

merupakan program komputer ( EPA - Software ) dengan tampilan Window

yang dapat melakukan simulasi periode tunggal atau majemuk dari perilaku

hidrolis dan kualitas air pada jaringan pipa bertekanan. Dengan analisis

simulasi yaitu melacak aliran air ( flow ) pada pipa, tekanan ( pressure ) di

setiap titik ( node ), kehilangan tenaga (Headloss) pada pipa serta konsentrasi

bahan kimia dalam sistem distribusi penyediaan air bersih.

20
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Umum

Manusia pada dasarnya selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga

selalu ingin berusaha untuk lebih mempermudah pekerjaan yang dilakukannya, maka

pada akhirnya manusia berusaha untuk membuat mesin-mesin yang pada prinsipnya

untuk mempermudah segala pekerjaan yang dilakukan oleh manusia.

Pipa pada umumnya digunakan sebagai sarana untuk menghantarkan fluida

baik berupa gas maupun cairan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Adapun sistem

pengaliran fluida dilakukan dengan metode gravitasi maupun dengan sistem aliran

bertekanan.

Umumnya bagian perpipaan dan detailnya merupakan standar dari unit,

seperti ukuran diameter, jenis katup yang akan dipasang, baut dan gasket pipa,

penyangga pipa, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian akan terdapat keseragaman

ukuran antara satu dengan lainnya. Sedangkan di pasaran telah terdapat berbagai

21
jenis pipa dengan ukuran dan bahan-bahan tertentu sesuai dengan kebutuhan seperti

dari bahan Cast Iron, PVC (Polyvinil Chloride), New Steel, Galvanized iron dan lain-

lain.

Untuk menjadi seorang yang ahli dalam bidang perpipaan tentu bukanlah

suatu hal yang mudah, selain harus memiliki dasar ilmu keserjanaan teknik seperti

mekanika fluida, hidrolika, pemilihan material, seni merancang jalur pipa dan

banyak disiplin ilmu lain yang harus dikuasai serta yang terpenting dari semua itu

adalah pengalaman di lapangan.

Dalam merancang suatu jalur pipa yang tersusun dari beberapa buah pipa

yang disusun secara seri maupun paralel maka persoalan yang dihadapi belumlah

begitu rumit, namun banyak juga jalur pipa yang ada bukanlah suatu rangkaian yang

sederhana melainkan suatu jaringan pipa yang sangat kompleks, sehingga

memerlukan penyelesaian yang lebih teliti. Dalam perencanaan itu hal-hal yang perlu

diperhitungkan diantaranya besarnya kapasitas dan kecepatan aliran dari fluida yang

melalui jalur pipa dan hal-hal lain yang perlu diperhitungkan dalam hal perencanaan.

Untuk menganalisa suatu jaringan pipa yang kompleks kita harus melakukan

tahapan-tahapan iterasi hingga beberapa kali dengan menggunakan metode yang

telah umum dikenal dengan nama metode Hardy-Cross. Akan tetapi seiring dengan

perkembangan teknologi, pada saat ini kita dapat menganalisa jaringan perpipaan

yang kompleks sekalipun dengan mudah menggunakan software distribusi seperti

software EPANET 2.0.

Epanet 2.0 didesain sebagai alat untuk mengetahui perkembangan dan

pergerakan air serta degradasi unsur kimia yang terkandung dalam air di pipa

distribusi air bersih, yang dapat digunakan untuk analisa berbagai macam sistem

22
distribusi, detail desain, analisa sisa khlor dan beberapa

unsur lainnya.

II.2 Definisi dan Persyaratan Air Bersih

II.2.1 Definisi Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan akan

menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih

adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum. Adapun

persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi

kualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak

menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes No.

416/Menkes/PER/IX/1990 (Dalam Modul Gambaran Umum Penyediaan dan

Pengolahan Air Minum Edisi Maret 2003 hal. 3 dari 41)

II.2.2 Persyaratan Air Bersih

II.2.2.1. Persyaratan Kualitas

Persyaratan kualitas menggambarkan mutu dari air baku air bersih.

Dalam Modul Gambaran Umum Penyediaan dan Pengolahan Air Minum Edisi Maret

2003 hal. 4-5 dinyatakan bahwa persyaratan kualitas air bersih adalah

sebagai berikut :

1. Persyaratan fisik

Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain

itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang lebih

23
25oC, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan adalah

25oC ± 3oC.

2. Persyaratan kimiawi

Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah

yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah : pH,

total solid, zat organik, CO2 agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe),

mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), chlorida (Cl), nitrit, flourida (F),

serta logam.

3. Persyaratan bakteriologis

Air bersih tidak boleh mengandung kuman patogen dan parasitik yang

mengganggu kesehatan. Persyaratan bakteriologis ini ditandai dengan tidak

adanya bakteri E. coli atau fecal coli dalam air.

4. Persyaratan radioaktifitas

Persyaratan radioaktifitas mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh

mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung

radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

II.2.2.2. Persyaratan Kuantitas (Debit)

Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari

banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah dan jumlah penduduk yang

akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga dapat ditinjau dari standar debit air bersih

yang dialirkan ke konsumen sesuai dengan jumlah kebutuhan air bersih. Kebutuhan

24
air bersih masyarakat bervariasi, tergantung pada letak geografis, kebudayaan,

tingkat ekonomi, dan skala perkotaan tempat tinggalnya.

II.2.2.3. Persyaratan Kontinuitas

Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan fluktuasi

debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan.

Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam per hari, atau

setiap saat diperlukan, kebutuhan air tersedia. Akan tetapi kondisi ideal tersebut

hampir tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah di Indonesia, sehingga untuk

menentukan tingkat kontinuitas pemakaian air dapat dilakukan dengan cara

pendekatan aktifitas konsumen terhadap prioritas pemakaian air. Prioritas pemakaian

air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam-jam aktifitas kehidupan,

yaitu pada pukul 06.00 – 18.00.

Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari dua aspek. Pertama adalah

kebutuhan konsumen. Sebagian besar konsumen memerlukan air untuk kehidupan

dan pekerjaannya, dalam jumlah yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan pada

waktu yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir pelayanan dan fasilitas

energi yang siap setiap saat.

Sistem jaringan perpipaan didesain untuk membawa suatu kecepatan aliran

tertentu. Kecepatan dalam pipa tidak boleh melebihi 0,6–1,2 m/dt. Ukuran pipa harus

tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam sistem harus

tercukupi. Dengan analisis jaringan pipa distribusi, dapat ditentukan dimensi atau

ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan tekanan minimum yang diperbolehkan

agar kuantitas aliran terpenuhi.

25
II.2.2.4. Persyaratan Tekanan Air

Konsumen memerlukan sambungan air dengan tekanan yang cukup, dalam arti

dapat dilayani dengan jumlah air yang diinginkan setiap saat. Untuk menjaga tekanan

akhir pipa di seluruh daerah layanan, pada titik awal distribusi diperlukan tekanan

yang lebih tinggi untuk mengatasi kehilangan tekanan karena gesekan, yang

tergantung kecepatan aliran, jenis pipa, diameter pipa, dan jarak jalur pipa tersebut.

Dalam pendistribusian air, untuk dapat menjangkau seluruh area pelayanan dan

untuk memaksimalkan tingkat pelayanan maka hal wajib untuk diperhatikan adalah

sisa tekanan air. Sisa tekanan air tersebut paling rendah adalah 5 mka (meter kolom

air) atau 0,5 atm (satu atm = 10 m), dan paling tinggi adalah 22 mka (setara dengan

gedung 6 lantai).

Menurut standar dari DPU, air yang dialirkan ke konsumen melalui pipa

transmisi dan pipa distribusi, dirancang untuk dapat melayani konsumen hingga yang

terjauh, dengan tekanan air minimum sebesar 10mka atau 1atm. Angka tekanan ini

harus dijaga, idealnya merata pada setiap pipa distribusi. Jika tekanan terlalu tinggi

akan menyebabkan pecahnya pipa, serta merusak alat-alat plambing (kloset, urinoir,

faucet, lavatory, dll). Tekanan juga dijaga agar tidak terlalu rendah, karena jika

tekanan terlalu rendah maka akan menyebabkan terjadinya kontaminasi air selama

II.3 Sistem Distribusi dan Sistem Pengaliran Air Bersih

II.3.1. Sistem Distribusi Air Bersih

Sistem distribusi adalah sistem yang langsung berhubungan dengan konsumen,

yang mempunyai fungsi pokok mendistribusikan air yang telah memenuhi syarat ke

26
seluruh daerah pelayanan. Sistem ini meliputi unsur sistem perpipaan dan

perlengkapannya, hidran kebakaran, tekanan tersedia, sistem pemompaan (bila

diperlukan), dan reservoir distribusi.

Sistem distribusi air minum terdiri atas perpipaan, katup-katup, dan pompa

yang membawa air yang telah diolah dari instalasi pengolahan menuju pemukiman,

perkantoran dan industri yang mengkonsumsi air. Juga termasuk dalam sistem ini

adalah fasilitas penampung air yang telah diolah (reservoir distribusi), yang

digunakan saat kebutuhan air lebih besar dari suplai instalasi, meter air untuk

menentukan banyak air yang digunakan, dan keran kebakaran.

Dua hal penting yang harus diperhatikan pada sistem distribusi adalah

tersedianya jumlah air yang cukup dan tekanan yang memenuhi (kontinuitas

pelayanan), serta menjaga keamanan kualitas air yang berasal dari instalasi

pengolahan. Tugas pokok sistem distribusi air bersih adalah menghantarkan air

bersih kepada para pelanggan yang akan dilayani, dengan tetap memperhatikan

faktor kualitas, kuantitas dan tekanan air sesuai dengan perencanaan awal. Faktor

yang didambakan oleh para pelanggan adalah ketersedian air setiap waktu. Suplai air

melalui pipa induk mempunyai dua macam sistem:

 Continuous system

Dalam sistem ini air minum yang disuplai ke konsumen mengalir terus menerus

selama 24 jam. Keuntungan sistem ini adalah konsumen setiap saat dapat

memperoleh air bersih dari jaringan pipa distribusi di posisi pipa manapun. Sedang

kerugiannya pemakaian air akan cenderung akan lebih boros dan bila terjadi sedikit

kebocoran saja, maka jumlah air yang hilang akan sangat besar jumlahnya.

 Intermitten system

27
Dalam sistem ini air bersih disuplai 2-4 jam pada pagi hari dan 2-4 jam pada

sore hari. Kerugiannya adalah pelanggan air tidak bisa setiap saat mendapatkan air

dan perlu menyediakan tempat penyimpanan air dan bila terjadi kebocoran maka air

untuk fire fighter (pemadam kebakaran) akan sulit didapat. Dimensi pipa yang

digunakan akan lebih besar karena kebutuhan air untuk 24 jam hanya disuplai dalam

beberapa jam saja. Sedang keuntungannya adalah pemborosan air dapat dihindari dan

juga sistem ini cocok untuk daerah dengan sumber air yang terbatas.

II 2.3.2. Sistem Pengaliran Air Bersih

Air merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan makhluk hidup

umumnya dan manusia khususnya. Air sebagai pemenuh kebutuhan untuk berbagai

kebutuhan sehari-hari, diantaranya untuk keperluan aktifitas domestik, keperluan

industri, sosial, perkantoran dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Untuk menngalirkan air minum kepada konsumen dengan kuantitas, kualitas

dan tekanan yang cukup memerlukan sistem perpipaan yang baik, reservoir, pompa

dan dan peralatan yang lain. Di dalam sistem transmisi ada beberapa cara pengaliran

yang dapat dilakukan, antara lain :

• Sistem saluran terbuka, sistem ini hanya memperhatikan ketinggian tanah dan

konstruksi saluran untuk dapat mengalirkan air dengan kapasitas besar

sehingga biaya pembuatan dan operasionalnya murah. Saluran yang terbuka

amat sensitif terhadap faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kualitas air

yang dialirkan.

28
• Sistem saluran tertutup, sistem ini mampu membawa air dengan kapasitas

besar dan memungkinkan kehilangan air kecil bila dibandingkan dengan

debitnya.

• Sistem pipa, pada sistem ini aliran tidak tergantung pada profil tanah.

Kualitas air tidak mudah dipengaruhi oleh faktor luar, selain itu operasi dan

pemeliharaannya mudah, walaupun biaya pembuatannya lebih mahal jika

dibandingkan dengan sistem terbuka dan sistem tertutup.

II.4. Sistem dan Komposisi Sistem Penyediaan Air Minum

II.4.1. Sistem Penyediaan Air Minum

Dilihat dari sudut bentuk dan tekniknya, sistem penyediaan air minum dapat

dibedakan atas 2 macam sistem, yaitu :

a. Penyediaan air minum untuk individual

Adalah sistem untuk penggunaan individual dan untuk pelayanan

terbatas.

b. Penyediaan air minum komunitas atau perkantoran

Sistem pada metode ini ditujukan untuk suatu komunitas besar atau

kota. Sistem penyediaan yang digunakan pada tugas akhir ini adalah sistem

penyediaan air minum perkotaan.

29
II.4.2. Komposisi Sistem Penyediaan Air Minum

Menurut Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini (1985), unsur-unsur yang

membentuk suatu sistem penyediaan air yang modern meliputi :

1. Sumber-sumber penyediaan

2. Sarana-sarana penampungan

3. Sarana-saran penyaluran (ke pengolahan)

4. Sarana-sarana pengolahan

5. Sarana-sarana penyaluran (dari pengolahan) tampungan sementara

6. Sarana-sarana distribusi

Sumber
penyediaan air

Penampungan

Penyaluran

Pengolahan

Penyaluran dan
Pengolahan

30
Distribusi

Gambar 2.1. Kaitan hubungan antara unsur-unsur fungsional dari suatu sistem

penyediaan air kota.

Tabel 2.1. unsur-unsur fungsional dari sistem penyediaan air minum.

Masalah utama
dalam perencanaan
Unsur fungsional sarana Uraian

(utama / sekunder)
Sumber-sumber air permukaan
bagi penyediaan, misalnya
Sumber penyediaan Jumlah / mutu sungai, danau dan waduk atau
sumber air tanah

Sarana-sarana yang dipergunakan


untuk menampung air permukaan
penampungan Jumlah / mutu biasanya terletak pada atau dekat
sumber penyediaan

Sarana-sarana untuk menyalurkan


Penyaluran Jumlah / mutu air dari tampungan ke sarana
pengolah

Sarana-sarana yang dipergunakan


pengolahan Jumlah / mutu untuk memperbaiki atau merubah
mutu air

Sarana-sarana untuk menyalurkan


air yang sudah diolahke sarana
Penyaluran & penampungan Jumlah / mutu penampungan sementara serta ke
satu atau beberapa titik distribusi

Sarana-sarana yang dipergunakan


untuk membagi air ke masing-
Distribusi Jumlah / mutu masing pemakai yang terkait di
dalam sistem

Sumber : Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini, 1985. Teknik Sumber Daya Air Jilid

I . Erlangga. Jakarta.

II.5. Studi Kebutuhan Air Bersih

31
Untuk sebuah sistem penyediaan air minum, perlu diketahui besarnya

kebutuhan dan pemakaian air. Kebutuhan air dipengaruhi oleh besarnya populasi

penduduk, tingkat ekonomi dan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, data mengenai

keadaan penduduk daerah yang akan dilayani dibutuhkan untuk memudahkan

permodelan evaluasi sistem distribusi air minum.

Kebutuhan air bersih berbeda antara kota yang satu dengan kota yang

lainnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan air bersih menurut

Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini (1986) adalah :

1. Iklim

Kebutuhan air untuk mandi, menyiram taman, pengaturan udara dan

sebagainya akan lebih besar pada iklim yang hangat dan kering daripada di iklim

yang lembab. Pada iklim yang sangat dingin, air mungkin diboroskan di keran-

keran untuk mencegah bekunya pipa-pipa.

2. ciri-ciri Penduduk

Pemakaian air dipengaruhi oleh status ekonomi dari para langganan. Pemakaian

perkapita di daerah miskin jauh lebih rendah daripada di daerah-daerah kaya.

Di daerah-daerah tanpa pembuangan limbah, konsumsi dapat sangat rendah

hingga hanya sebesar 10 gpcd (40 liter / kapita per hari).

3. Masalah Lingkungan Hidup

Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berlebihannya pemakaian

sumber-sumber daya telah menyebabkan berkembangnya alat-alat yang dapat

dipergunakan untuk mengurangi jumlah pemakaian air di daerah pemukiman.

4. Keberadaan Industri dan Perdagangan

32
Keberadaan industri dan perdagangan dapat mempengaruhi banyaknya

kebutuhan air per kapita dari suatu kota.

5. Iuran Air dan Meteran

Bila harga air mahal, orang akan lebih menahan diri dalam pemakaian air dan

industri mungkin mengembangkan persediaannya sendiri dengan biaya yang

lebih murah. Para langganan yang jatah air diukur dengan meteran akan

cenderung untuk memperbaiki kebocoran-kebocoran dan mempergunakan air

dengan jarang. Pemasangan meteran pada beberapa kelompok masyarakat telah

menurunkan pengguanaan air hingga sebanyak 40 persen.

6. Ukuran Kota

Penggunaan air per kapita pada kelompok masyarakat yang mempunyai

jaringan limbah cenderung untuk lebih tinggi di kota-kota besar daripada di

kota kecil. Secara umum, perbedaan itu diakibatakan oleh lebih besarnya

pemakaian oleh industri, lebih banyaknya taman-taman, lebih banyaknya

pemakaian air untuk perdagangan dan barang kali juga lebih banyak

kehilangan dan pemborosan di kota-kota besar.

Untuk memproyeksi jumlah kebutuhan air bersih dapat dilakukan berdasarkan

perkiraan kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan ditambah perkiraan kehilangan

air. Adapun kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan pada umumnya dapat dibagi

dalam :

a. Kebutuhan domestik

- sambungan rumah

- sambungan kran umum

33
b. Kebutuhan non domestik

- Fasilitas sosial (Masjid, panti asuhan, rumah sakit dan sebagainya)

- Fasilitas perdagangan/industri

- Fasilitas perkantoran dan lain-lainnya

Sedangkan kehilangan air dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu :

a. Kehilangan air akibat faktor teknis, misalnya kebocoran dari pipa distribusi

b. Kehilangan air akibat faktor non teknis, antara lain sambungan tidak terdaftar.

kerusakan meteran air, untuk kebakaran dan lain-lainnya.

II.5.1. Kebutuhan Domestik

Menurut J. Kindler and C.S. Russel (1984), kebutuhan air untuk tempat

tinggal (kebutuhan domestik) meliputi semua kebutuhan air untuk keperluan

penghuni. Meliputi kebutuhan air untuk mempersiapkan makanan, toilet, mencuci

pakaian, mandi (rumah ataupun apartemen), mencuci kendaraan dan untuk menyiram

pekarangan. Tingkat kebutuhan air bervariasi berdaasarkan keadaan alam di area

pemukiman, banyaknya penghuni rumah, karakteristik penghuni serta ada atau

tidaknya penghitungan pemakaian air.

Sedangkan menurut Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini (1986),

penggunaan rumah tangga adalah air yang dipergunakan di tempat-tempat hunian

pribadi, rumah-rumah apartemen dan sebagainya untuk minum, mandi, penyiraman

taman, saniter dan tujuan-tujuan lainnya. Taman dan kebun-kebun yang luas

mengakibatkan sangat meningkatnya konsumsi pada masa-masa kering.

Penggunaan air kota dan jumlah-jumlah yang dipakai di Amerika Serikat

Sedangkan menurut Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini (1986), untuk keperluan

34
rumah tangga berkisar antara 40-80 GPCD (gallon per kapita per hari) atau 150-300

LPCD (liter per kapita per hari) dan umumnya berkisar antara 65 GPCD (gallon per

kapita per hari) atau 250 LPCD (liter per kapita per hari). sedangkan menurut J.

Kindler and C.S. Russel (1984), penggunaan air rata-rata untuk rumah tangga adalah

sebagai berikut :

Tabel 2.2. Penggunaan air rata-rata untuk rumah tangga


Jenis Kegiatan Kebutuhan Air (liter / orang / hari)
Dapur 45
Kamar mandi 60
toilet 70
Mencuci pakaian 45
Lainnya (termasuk keperluan diluar rumah) 75
Total 295
Sumber : J. Kindler and C.S. Russel, 1984. Modeling Water Demands.Academic

Press Inc. London, hal 153.

II.5.2 Kebutuhan Non Domestik

Kebutuhan non domestik adalah kebutuhan air bersih selain untuk keperluan

rumah tangga dan sambungan kran umum, seperti penyediaan air bersih untuk

perkantoran, perdagangan serta fasilitas sosial seperti tempat-tempat ibadah, sekolah,

hotel, puskesmas, serta pelayanan jasa umum lainnya.

Tabel 2.3. Rata-rata Kebutuhan Air Per Orang Per Hari (Soufyan Moh.
Noerbambang & Takeo Morimura, 2005)

35
Jangka Perbanding
Pemakaian
waktu an luas
air rata
No. Jenis Gedung rata per
pemakaian lantai Keterangan
air rata rata efektif/total
hari (liter)
sehari (jam) (%)
Sumber : Soufyan Moh. Noerbambang & Takeo Morimura, 2005
Perumahan
1 250 8-10 42-45 Setiap penghuni
mewah

2 Rumah biasa 160-250 8-10 50-53 Setiap penghuni

Mewah: 250 liter


3 Apartemen 200-250 8-10 45-50 Menengah : 180 ltr
Sendiri : 120 ltr

4 Asrama 120 8 45-48 Sendiri

(setiap tempat
tidur pasien)
Pasien luar : 500
Rumah sakit ltr
5 1000 8-10 50-55
Staf/pegawai :120
ltr
Kelg.pasien : 160
ltr

6 SD 40 5 58 Guru : 100 liter

7 SLTP 50 6 58 Guru : 100 liter

SLTA dan Guru/Dosen:100


8 80 6 -
lebih tinggi liter

Rumah-toko 100-200 8 - Penghuninya: 160


9
ltr

10 Gedung kantor 100 8 60-70 Setiap pegawai

Toko serba
ada
11 3 7 55-60 -
departement
store
Per orang, setiap
Buruh pria:
giliran (kalau kerja
12 Pabrik/industri 60, wanita: 8 -
lebih dari 8
100
jam/hari)
Setiap penumpang
Stasiun/termin
13 3 15 - (yang tiba maupun
al
berangkat
30 5 Untuk penghuni
14 Restoran -
160 ltr
Untuk penghuni:
160 ltr,
pelayan: 100 ltr
Restoran 70% dari jumlahl
15 15 7 -
umum tamu perlu 3615
ltr/org untuk
kakus, cuci tangan
dsb.
Kalau digunakan
II.5.3. Kehilangan dan Pemborosan Air

Menurut Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini. Teknik Sumber Daya Air

Jilid II. Erlangga. Jakarta. 1986, hal 92. Kehilangan dan kebocoran air adalah air

yang bocor dari sistem yang bersangkutan, kesalahan meteran, sambungan-

sambungan yang tidak sah dan lain-lain hal yang tidak dihitung. Kategori kehilangan

dan pemborosan ini sering dihitung kira-kira sebesar 20 gpcd (75/kapita per hari),

tetapi jika konstruksinya tepat dan pemeliharaannya cermat, hal itu dapat diturunkan

hingga kurang dari 5 gpcd (20 liter/kapita per hari).

II.5.4. Hubungan populasi dan tingkat kebutuhan air

Penggunaan air biasanya dianggap merupakan fungsi dari populasi. Estimasi

penggunaan air biasanya berasal dari jumlah populasi. Akan tetapi, pada

kenyataannya, tidak selamanya populasi memiliki hubungan yang erat dengan

jumlah penggunaan air. Jumlah penggunaan air non domestik jauh lebih besar

dibandingkan penggunaan untuk domestik pada sebuah populasi.

II.5.5. Karakteristik Kota

Karakteristik kota juga menentukan pola penggunaan dan jumlah air yang

akan digunakan. Kota industri biasanya menggunakan air yang lebih banyak

dibandingkan kota biasa.

37
Untuk studi kali ini, daerah studi merupakan kompleks perumahan Dumai

Housing Camp. Dumai Housing Camp merupakan komplek perumahan yang

digunakkan untuk tempat tinggal karyawan PT. CPI, perkantoran, sekolah, rumah

sakit, dan fasilitas umum serta fasilitas penunjang produksi PT. CPI lainnya. Dumai

Housing Camp memiliki standard modern dalam pembangunannya. Jumlah

penduduk Dumai Housing Camp cenderung tetap dari tahun ke tahun. Jumlah

penghuni yang masuk hampir sama dengan jumlah penghuni yang keluar. Hal ini

dikarenakan, jumlah rumah yang tersedia cenderung konstan. Kebutuhan air bersih,

listrik dan telepon tersedia secara gratis untuk penghuni Dumai Housing Camp.

Standard penggunaan listrik dan air Dumai Camp dianggap hampir sama dengan

standard di Amerika Serikat. Bangunan di dalam Housing Camp yang dilayani oleh

WTP-Dumai terdiri dari:

Rumah : 143 unit

Kantor : 6 unit

Gedung olahraga :1

Rumah Sakit :1

Rumah makan :4

Sekolah : 3 unit

Mesjid :1

38
Air bersih tersedia setiap waktu dan dapat digunakan dengan bebas. Air

bersih siap minum disediakan oleh WTP Dumai dan di distribusikan ke setiap rumah

di dalam Housing Camp.

II. 6. Konsep Dasar Aliran Fluida

Untuk aliran fluida dalam pipa khususnya untuk air terdapat kondisi yang

harus diperhatikan dan menjadi prinsip utama, kondisi fluida tersebut adalah fluida

merupakan fluida inkompresibel, fluida dalam keadaan steady dan seragam.

Menurutu Mays Larry W. Water Resources Engineering(1st ed). John Wiley & sons

(Asia) Pte, Ltd. Singapore (2004), dijelaskan bahwa :

Q =V × A

dimana: Q = laju aliran (m3/s)

A = luas penampang aliran ( m2)

V = kecepatan aliran ( m/s )

Menurut Mays Larry W (2004), untuk aliran steady dan seragam seperti yang

tergambar pada gambar 2.2 dalam pipa dengan diameter pipa konstan pada waktu

yang sama berlaku :

V1 × A1 = V2 × A2

Dimana :

V1 = Kecepatan awal di dalam pipa

A1 = Luas penampang saluran pada awal pipa

V2 = Kecepatan akhir di dalam pipa

A2 = Luas penampang saluran pada akhir pipa

39
Gambar 2.2 Aliran Steady dan Seragam

II.7. Mekanisme Aliran Dalam Pipa

II.7.1 Pipa yang Dihubungkan Seri

Jika dua buah pipa atau lebih dihubungkan secara seri maka semua pipa akan

dialiri oleh aliran yang sama. Total kerugian head pada seluruh sistem adalah jumlah

kerugian pada setiap pipa dan perlengkapan pipa yang menurut Frank M.

White.1986. Mekanika Fluida Jilid I. Penerbit Erlangga. Jakarta, dapat dirumuskan

sebagai berikut :

Q0 = Q1 = Q2 = Q3 = tetap …………… (2.1)

Q0 = A1V1 = A2V2 = A3V3 …………… (2.2)

∑ hl = hl1 + hl2 + hl3 …………… (2.3)

Dimana :

Q0 = Debit awal pada pipa

V1 = Kecepatan awal di dalam pipa

A1 = Luas penampang saluran pada awal pipa

V2 = Kecepatan akhir di dalam pipa

A2 = Luas penampang saluran pada akhir pipa

40
hl = Headloss pada pipa

Gambar 2.3 Pipa yang dihubungkan seri


keterangan gambar :
H1 = Tinggi muka air pada kolam A

H2 = Tinggi muka air pada kolam B

H = Perbedaan tinggi muka air kolam A dan B

Hf = Headloss flow pada pipa

Persoalan yang menyangkut pipa seri sering dapat diselesaikan dengan

menggunakan pipa ekuivalen, yaitu dengan menggantikan pipa seri dengan diameter

yang berbeda-beda dengan satu pipa ekuivalen tunggal. Dalam hal ini, pipa tunggal

tersebut memiliki kerugian head yang sama dengan system yang akan digantikannya

untuk laju yang spesifik.

II.7.2. Pipa yang Dihubungkan Paralel

41
= arah aliran
Gambar 2.4 Pipa yang dihubungkan secara parallel
Jika dua buah pipa atau lebih dihubungkan secara paralel, total laju aliran

sama dengan jumlah laju aliran yang melalui setiap cabang dan rugi head pada

sebuah cabang sama dengan pada yang lain, dimana menurut Frank M. White (1986),

dapat dirumuskan sebagai :

Q0 = Q1 + Q2 + Q3 ............... (2.4)

Q0 = A1 ⋅ V1 + A2⋅ ⋅ V2 + A3 ⋅ V3 ............... (2.5)

∆h = ∆h1 = ∆h2 = ∆h3 ............... (2.6)

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa persentase aliran yang melalui

setiap cabang adalah sama tanpa memperhitungkan kerugian head pada cabang

tersebut.

Rugi head pada setiap cabang boleh dianggap sepenuhnya terjadi akibat

gesekan atau akibat katup dan perlengkapan pipa, diekspresikan menurut panjang

pipa atau koefisien losses kali head kecepatan dalam pipa yang menurut Frank M.

White (1986), dapat dirumuskan dalam persamaan 2.7 dan 2.8 berikut ini:

42
 L1 v2  L v 2  L v 2
 f1 + ΣK L1  1 =  f 2 2 + ΣK L 2  2 =  f 3 3 + ΣK L 3  3 = ..... (2.7)
 d1  2g  d2  2 g  d3  2g
Diperoleh hubungan kecepatan :

f1 L1
+ Σ kL1 .............. (2.8)
v2 d1
=
v1 f 2 L2
+ Σ kL2
d2

II.8. Sistem Jaringan Pipa

Sistem jaringan pipa merupakan komponen utama dari sistem distribusi air

bersih/minum suatu perkotaan.

Gambar 2.5 Contoh suatu sistem jaringan pipa.

Keterangan gambar :

Q1 = Debit aliran yang memasuki jaringan pipa

Q2 = Debit aliran yang memasuki jaringan pipa

Q3 = Debit aliran yang keluar dari jaringan pipa

Q4 = Debit aliran yang keluar dari jaringan pipa

43
Dewasa ini, sistem jaringan pipa air minum yang ada di kota-kota besar

kebanyakan dibangun sejak zaman Belanda. Hal demikian menimbulkan beberapa

kemungkinan terjadinya permasalahan-permasalahan seperti:

- kebocoran

- lebih sering terjadi kerusakan pipa atau komponen lainnya

- besarnya tinggi energi yang hilang

- penurunan tingkat layanan penyediaan air bersih untuk konsumen

permasalahan-permasalahan diatas diperparah lagi dengan meningkatnya

sambungan-sambungan baru untuk daerah-daerah permukiman tanpa memperhatikan

kemampuan ketersediaan air dan kemampuan sistem jaringan air minum tersebut.

Jaringan pipa pengangkut air kompleks dapat dianalisis dengan cepat

menggunakan persamaan Hazen-Williams atau rumus gesekan lainnya yang sesuai.

Perhitungan distribusi aliran pada suatu jaringan biasanya rumit karena harus

memecahkan serangkaian persamaan hambatan yang tidak linear melalui prosedur

yang iteratif. Kesulitan lainnya adalah kenyataan bahwa kebanyakan jaringan, arah

aliran pipa tidak diketahui sehingga losses antara dua titik menjadi sukar untuk

ditentukan. Dalam perancangan sebuah jaringan, aliran dan tekanan diberbagai titik

menjadi persyaratan utama untuk menentukan ukuran pipa, sehingga harus

diselesaikan dengan cara berurutan dan iterasi.

Sebuah jaringan yang terdiri dari sejumlah pipa mungkin membentuk sebuah

loop, dimana pipa yang sama dipakai oleh dua loop yang berbeda, seperti terlihat

44
pada gambar 2.5. Ada dua syarat yang harus diperhatikan agar aliran dalam jaringan

tersebut setimbang, yaitu :

1. Aliran netto ke sebuah titik harus sama dengan nol. Ini berarti bahwa

laju aliran ke sebuah titik pertemuan harus dengan laju aliran dari titik

pertemuan yang sama.

2. Head losses netto diseputar sebuah loop harus sama dengan nol. Jika

sebuah loop ditelusuri ke arah manapun, sambil mengamati perubahan akibat

gesekan atau losses yang lain, kita harus mendapatkan aliran yang setimbang

ketika kembali ke kondisi semula ( head dan tekanan ) pada kondisi awal.

Prosedur untuk menentukan distribusi distribusi aliran dalam suatu jaringan

meliputi penentuan aliran pada setiap sehingga kontinuitas pada setiap pertemuan

terpenuhi (syarat 1). Selanjutnya Head losses dari setiap loop dihitung dan jika tidak

sama dengan nol maka aliran yang telah ditetapkan harus dikoreksi kembali dengan

perkiraan dan metode iterasi yang disebut metdode Hardy Cross.

II.9. Aplikasi Epanet 2.0 dalam Analisa Jaringan Distribusi Air Bersih

Pada awalnya, software jaringan distribusi hanya digunakan untuk

melakukan desain awal sistem distribusi. Dengan software yang un-user friendly

membuat operator enggan untuk menggunakan software-software distribusi

tersebut dalam menganalisis kondisi jaringannya. Namun seiring dengan

perkembangan teknologi, software distribusi telah berkembang sehingga menjadi

lebih mudah digunakan.

Dengan software distribusi, operator dapatmensimulasikan berbagai

kemungkinan pengoperasian jaringan tanpa harus turun kelapangan dan bahkan tanpa

45
harus mengganggu kesinambungan pelayanan terhadap pelanggan. Jika pada

awalnya operator harus turun ke lapangan dan mengumpulkan data sebanyak

mungkin untuk mengetahui gambaran jaringannya maka kini operator hanya perlu

turun ke lapangan untuk mengumpulkan data seminimal mungkin dalam memahami

jaringan distribusinya.

Epanet adalah salah satu software distribusi yang user friendly dan banyak

digunakan untuk menganalisa jaringan sistem distribusi. Epanet 2.0 adalah program

komputer yang berbasis windows yang merupakan program simulasi dari

perkembangan waktu dari profil hidrolis dan perlakuan kualitas air bersih dalam

suatu jaringan pipa distribusi, yang didalamnya terdiri dari titik/node/junction pipa,

pompa, valve (asesoris) dan reservoir baik ground reservoar maupun reservoir

menara. Output yang dihasilkan dari program Epanet 2.0 ini antara lain debit yang

mengalir dalam pipa, tekanan air dari masing masing titik/node/junction yang dapat

dipakai sebagai analisa dalam menentukan operasi instalasi, pompa dan reservoir

serta besarnya konsentrasi unsur kimia yang terkandung dalam air bersih yang

didistribusikan dan dapat digunakan sebagai simulasi penentuan lokasi sumber

sebagai arah pengembangan.

Epanet 2.0 didesain sebagai alat untuk mengetahui perkembangan dan

pergerakan air serta degradasi unsur kimia yang terkandung dalam air di pipa

distribusi air bersih, yang dapat digunakan untuk analisa berbagai macam sistem

distribusi, detail desain, model kalibrasi hidrolis. Analisa sisa khlor dan beberapa

unsur lainnya.

II.10. Permodelan dengan software EPANET 2.0

46
EPANET 2.0 adalah program komputer yang dapat menampilkan simulasi

hidrolis dan kualitas air pada jaringan pipa bertekanan. Jaringan tersebut terdiri dari

pipa, node atau junction pipa, pompa, valve, tengki penampungan atau reservoir.

Epanet dapat mengidentifikasi aliran air dalam setiap pipa, tekanan pada

setiap node, ketinggian air pada tangki, dan konsentrasi senyawa kimia dalam

jaringan selama periode simulasi.

Epanet didesain untuk membantu analisis sistem distribusi air minum,

sehingga dapat digunakan untuk hal-hal berikut ini :

1. Pemilihan sumber pada sistem.

2. Pemilhan pompa beserta jadwal kerjanya.

3. Penentuan treatment tambahan, misalnya re-chlorinisasi.

4. Penentuan pipa yang perlu ditambahkan atau diganti.

Hasil analisis running EPANET dapat berupa peta jaringan dengan kode warna,

tabel, grafik time-series, kontur plot dan lain-lain.

II.10.1. Permodelan Hidrolik

Kemampuan permodelan hidrolik EPANET adalah sebagai berikut :

1. Jaringan seluas mungkin, tanpa batasan-batasan tertentu.

2. Menghitung friction headloss, dengan menggunakan persamaan Hazen-

Williams, Darcy – Weisbach atau Chezzy – Manning.

3. Menghitung minor losses untuk bend, fitting, dll.

47
4. Menghitung biaya dan energi pompa.

5. Memodelkan berbagai jenis valve.

6. Memungkinkan tangki penampungan dengan segala bentuk.

7. Memperhitungkan berbagai kategori demand pada setiap node dengan pattern

dan variasi waktu masing-masing.

8. Memodelkan berbagai emitter.

9. Dapat beroperasi pada sistem yang kompleks dengan berbagai batasan.

II.10.2. langkah-langkah menggunakan EPANET 2.0

Langakah-langkah untuk mulai bekerja menggunakan EPANET 2.0 adalah

sebagai berikut :

1. Gambarkan jaringan sistem distribusi yang akan dianalisa, atau import data

dasar dari jaringan yang tersimpan dalam text file.

Gambar 2.6. Jaringan sistem distribusi yang akan dianalisa.

2. Edit properties dari objek yang membentuk sistem.

48
3. Gambarkan sistem operasi.

4. Pilih dan atur analisis option.

Gambar 2.7. pengaturan Hydraulic Option pada Epanet 2.0

5. Run analisis hidrolik.

6. Lihat hasil analisis.

II.10.3. Model Jaringan EPANET

Komponen-komponen fisik

EPANET memodelkan sistem distibusi air sebagai kumpulan garis yang

menghubungkan node-node. Garis tersebut menggambarkan pipa, pompa dan katub

kontrol. Node menggambarkan sambungan, tangki, dan reservoir. Gambar 2.6

mengilustrsikan bagaimana node-node dan garis dapat dihubungkan satu dengan

lainnya untuk membentuk jaringan, seperti terlihat pada gambar 2.8.

49
Gambar 2.8. Hubungan Antar Komponen Fisik Dalam EPANET 2.0

Komponen-komponen fisik dalam pemodelan sistem distribusi air dengan


EPANET antara lain :

1. Sambungan (junction)

Sambungan (junction) adalah titik pada jaringan dimana link-link bertemu

dan dimana air memasuki atau meninggalkan jaringan. Input dasar yang

dibutuhkan bagi sambungan (junction) adalah:

• Elevasi pada semua referensi (biasanya rata-rata muka air laut)

• Kebutuhan air

• Kualitas air saat ini

Hasil komputasi buat sambungan (junction) pada seluruh periode waktu

simulasi adalah :

• Head Hidrolis ( energi internal per satuan berat dari fluida)

• Tekanan (pressure)

• Kualitas Air

Sambungan (junction) juga dapat :

• Mengandung kebutuhan air (demand) yang bervariasi terhadap waktu

• Memiliki kategori kebutuhan air secara ganda

50
• Memiliki harga kebutuhan negatif yang mengindikasikan air memasuki

jaringan

• Menjadi sumber kualitas air dimana terdapat kandungan yang memasuki

jaringan

• Memiliki lubang pengeluaran (atau sprinkler) yang menjadikan laju aliran

bergantung kepada pressure.

Pada gambar 2.7 dapat dilihat tampilan dari input data pada software

Epanet 2.0.

Gambar 2.9. Properties Editor untuk input data pada Junction

2. Reservoir

Reservoir adalah node yang menggambarkan sumber eksternal yang

terus menerus mengalir ke jaringan. Digunakan untuk menggambarkan seperti

danau, sungai, akuifer air tanah, dan koneksi dari sistem lain. Reservoar juga

dijadikan titik sumber kualitas air.

Input utama untuk reservoar adalah head hidrolis (sebanding

dengan elevasi permukaan air jika bukan reservoar bertekanan) dan inisial

kualitas air untuk analisa kualitas air. Karena sebuah reservoar adalah sebagai

51
poin pembatas dalam jaringan, tekanan dan kualitas airnya tidak dapat

dipengaruhi oleh apa yang terjadi di dalam jaringan. Namun tekanan dapat

dibuat bervariasi terhadap waktu yang di tandai dengan pola.

Gambar 2.10. Properties editor untuk input data pada Reseervoir.

3. Tangki

Tangki membutuhkan node dengan data kapasitas, dimana volume air

yang tersimpan dapat bervariasi berdasar waktu selama semulasi berlangsung.

Input data yang dibutuhkan untuk node tank adalah :

• Elevation, Ketinggian permukaan tanah pada titik node Tank berada.

• Initial Level, Tinggi muka air pada tank pada saat awal simulasi

dilakukan.

• Minimum Level, Tinggi muka air minimum yang diizinkan untuk

dapat digunakan pada simulasi.

• Maximum Level, Tinggi muka air maksimum yang diizinkan untuk

dapat digunakan pada simulasi.

52
• Diameter, Diameter tangki untuk tangki yang berbentuk silindris.

Untuk tangki yang berbentuk non silindris penyesuaian bentuk tangki

dapat dilakukan dengan mengatur Minimum Volume, Volume Curve

(dengan menetukan kurva hubungan volume air pada tank dengan

ketinggian muka air)

Data lain yang dapat ditambahkan antara lain adalah :

1. Mixing model, menunujukkan tipe atau model pencampuran yang

terjadi didalam tank. Model pencampuran yang dapat digunakan

antara lain : fully mixed (Mixed), two compartment mixing

(2COMP), first-in-first-out plug flow (FIFO), last-in-first-out plug

flow (LIFO). Untuk pemodelan Dumai Camp Housing PT. CPI

digunakan metode pemodelan Mixed.

2. Reaction Cefficient, merupakan koefisien reaksi untuk reaksi kimia

di dalam tank. Satuan yang digunakan adalah l/hari. Nilai positif

untuk reaksi pertumnuhan dan nilai negatif untuk reaksi

pengurangan atau kehilangan.

3. Initial Quality dan Source Quality, merupakan input untuk

memodelkan parameter kualitas air msalnya konsentrasi Chlorine.

Adapun otput dari node tank adalah net inflow (debit netto aliran pada

tank), elevation (tinggi muka air), pressure (tekanan hidrolik air) dan Quality

(kualitas atau konsentrasi parameter air).

53
Gambar 2.11. Properties editor untuk input data pada tangki

4. Emitter

Emitter adalah junction untuk memodelkan aliran melalui nozzle atau

orrifice yang ter-discharge ke atmosfer. Emitter biasa digunakan untuk

memodelkan aliran melalui sistem sprinkler dan jaringan irigasi. Bisa juga

digunakan untuk simulasi kebocoran pada pipa. Epanet membaca emitter

sebagai property dari junction, bukan sebagai komponen jaringan tersendiri.

5. Pipes

Pipes atau pipa adalah link yang digunakan untuk mengalirkan air dari

suatu node ke node yang lainnya pada suatu sistem jaringan perpipaan.

Epanet akan mengasumsikan bahwa pipa akan selalu terisi penuh. Arah aliran

adalah dari titik yang memiliki head hidrolik lebih besar menuju titik yang

lebih kecil head hidroliknya. Input data utama yang perlu diisikan, adalah :

1) Start node, merupakan titik awal atau pangkal pipa.

2) End node, merupakan titik akhir pipa atau ujung pipa.

3) Length, merupakan panjang pipa dalam meter atau feet.

4) Diameter, merupakan diameter atau garis tengah pipa. Satuan yang

digunakan adalah inchi atau milimeter.

5) Roughness, koefisien kekasaran pipa untuk menghitung head loss.

54
Input data lain yang dapat ditambahkan sebagai pelengkap adalah :

1) Loss coefficient, koefisien untuk menghitung minor losses karena

perlengkapan pipa seperti valve, bends, elbow dan sebagainya.

2) Initial status, status alitan air dalam pipa. Misalnya : open (aliran dua

arah), closed (tertutup), dan CV atau check valve (aliran satu arah).

3) Bulk and Wall Coefficient, koefisien reaksi yang terjadi dalam pipa.

Biasanya diterapkan untuk aliran yang memiliki parameter kualitas

air, seperti konsentrasi Chlorine.

Data output dari junction pipa adalah :

1) Flow (debit aliran)

2) Velocity (kecepatan aliran)

3) Unit head loss (head loss aliran dalam pipa)

4) Friction facrot darcy-weisbach

5) Reaction rate

6) Quality, kualitas parameter didalam aliran seperti konsentrasi chlorine.

7) Status, status atau keadaan aliran dalam pipa.

55
Gambar 2.12. Properties editor untuk input data pada pipa

Kehilangan tekanan (head loss) akibat gesekan air dengan dinding pipa

dapat dihitung menggunakan persamaan Hazen Williams, Darcy-Weisbach

atau Chezzy-Manning. Formula Hazen-Williams banyak digunakan di

Amerika Serikat. Persamaan ini dapat diterapkan untuk air dengan aliran

turbulen. Secara teoritis, persamaan Darcy-Weisbach adalah yang teerbaik.

Persamaan ini dapat diterapkan untuk cairan lain, selain air. Persamaan

Chezzy-Manning banyak digunakan untuk aliran pada saluran terbuka.

Koefisien resistensi dan nilai eksponensial flow untuk masing-masing

persamaan dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini :

Persamaan Chezzy-Manning

4,66 n 2 LQ 2
HL =
D 533

Dimana :

HL = head loss dalam feet

Q = debit aliran dalam cfs

L = panjang pipa dalam feet

D = diameter pipa dalam feet

n = koefisien kekasaran Manning.

56
Persamaan Darcy-Weisbach

Menurut Kodoatie, Robert J (2002), nilai Hf adalah:

Lv 2
Hf = f
d 2g

Dimana :

Hf = head loss (satuan panjang)

g = percepatan gravitasi

L = panjang pipa (satuan panjang)

d = diameter pipa (satuan panjang)

v = kecepatan aliran (satuan panjang/satuan waktu)

f = faktor gesekan (tanpa satuan)

Persamaan Hazen-Williams

4,727 LQ 1,852
HL =
C 1,852 D 4,871

Dimana :

HL = headloss dalam feet

Q = debit aliran dalam cfs

L = panjang pipa dalam feet

D = diameter pipa dalam feet

C = koefisien kekasaran (faktor Hazen-Williams)

Setiap persamaan memiliki koefisien kekasaran masing-masing.

Koefisien kekasaran untuk berbagai jenis pipa berdasarkan umur materialnya

dapat dilihat dalam tabel berikut.

57
Tabel 2.4. Koefisien Kekasaran Untuk Berbagai Jenis Pipa.
Hazen-Williams Darcy-Weisbach Manning’s
Material
C (unitless) e (milifeet) n (unitless)
Cast iron 130-140 0.85 0.012-0.015
Concrete or concrete lined 120-140 1.0-10 0.012-0.017
Galvanized iron 120 0.5 0.015-0.017
Plastic 140-150 0.005 0.011-0.015
Steel 140-150 0.15 0.015-0.017
Vitrified clay 110 0.013-0.015
Sumber : Manual User Software EPANET 2.0

Minor Losses

Minor Head Losses, disebut juga local losses, atau dalam EPANET 2.0

sebagai loss coefficient, disebabkan oleh kehilangan tekanan pada pipa karena

perlengkapan perpipaan seperti belokan-belokan, valve dan berbagai fitting lainnya.

EPANET 2.0 akan menghitung minor losses dengan cara menambahkan data

koefisien minor losses pada pipa. Minor losses sebanding dengan kecepatan air yang

melewati pipa atau valve (V2/2g). Nilai koefisien minor losses untuk beberapa tipe

fitting EPANET 2.0 dapat dilihat dalam tabel 2.5 berikut :

Tabel 2.5. Nilai koefisien minor losses untuk beberapa tipe fitting EPANET 2.0
Fitting Loss Coefficient
Globe vale, fully open 10
Angle valve, fully open 5
Swing check valve, fully open 2.5
Gate valve, fully open 0.2
Short radius elbow 0.9
Medium radius elbow 0.8
Long radius elbow 0.6
45 degree elbow 0.4
Closed return elbow 2.2

58
Standard tee – flow through run 0.6
Standard tee – flow through branch 1.8
Square entrance 0.5
exit 1
Sumber : Manual User Software EPANET 2.0

6. Pumps

Pumps atau Pompa adalah link yang memberi tenaga ke fluida untuk

menaikkan head hidrolisnya. Input parameternya adalah node awal dan akhir,

dan kurva pompa (kombinasi dari head dan aliran dimana pompa harus

memproduksinya). Sebagai pengganti kurva pompa, pompa dapat

direpresentasikan sebagai pompa yang memiliki energi konstan, mensuplai

konstan energi (horsepower atau kilowatt) kepada fluida untuk seluruh

kombinasi dari aliran dan head.

Parameter output yang prinsip adalah aliran dan pencapaian head.

Aliran melalui pompa adalah langsung dan EPANET tidak akan membolehkan

pompa untuk beroperasi diluar range dari kurva pompa.

Gambar 2.13. properties editor untuk input data pada pompa

59
Pompa dengan kecepatan variabel dapat juga mengikuti pengaturan

kecepatan, dan dapat diubah pada kondisi yang sama. Didefinisikan kurva

pompa asli pengaturan kecepatan relatif adalah 1. Jika kecepatan pompa ganda,

pengaturannya haruslah 2; jika berjalan dengan kecepatan setengahnya,

pengaturan relatif adalah 0,5 dan begitulah seterusnya. Mengubah kecepatan

pompa dan posisi serta bentuk dari pompa kurva (lihat bagian dari Pump Curve

dibawah) Seprti halnya pipa, pompa dapat diatur hidup dan mati dalam

pengaturan waktu atau dalam kondisi yang pasti muncul dalam jaringan.

Operasional pompa dapat juga dijelaskan dengan menetapkannya dalam pola

waktu atau relatif terhadap pengaturan kecepatan. EPANET dapat juga

menghitung konsumsi energi dan biaya pompa. Setiap pompa dapat ditetapkan

dengan kurva efisiensi dan skedul harga energi. Jika tidak disuplai, maka

pengaturan energi global dapat digunakan.

Aliran melalui pompa adalah tidak langsung. Jika pengkondisian

sistem membutuhkan lebih banyak head daripada yang dihasilkan pompa,

EPANET mematikan pompa. Jika kebutuhannya melebihi meksimum aliran,

EPANET mengekstarpolasi kurva pompa kepada aliran yang dibutuhkan, jika

tidak akan menghasilkan head negatif. Dalam kedua kasus pesan peringatan

akan muncul.

7. Valves

Valve adalah link yang membatasi pressure atau flow pada nilai

tertentu dalam sebuah jaringan. Input yang penting dimasukka adalah :

1) Start dan End node, untuk menentukan orientasi arah aliran air dalam

pipa.

60
2) Diameter valve

3) Tipe valve

4) Setting valve

Input lainnya adalah loss coefficient. Output link valve adalah flow

rate, velocity, headloss, quality dan status link.

Berbagai tipe link valve dalam EPANET 2.0 adalah :

1) Pressure Reducing Valve (PRV)

2) Pressure Sustaining Valve (PSV)

3) Pressure Breaker Valve (PBV)

4) Flow Control Valve (FCV)

5) Throttle Control Valve (TCV)

6) General Purpose Valve (GPV)

PSV dan PRV digunakan untuk membatasi pressure hingga nilai

tertentu dalam suatu jaringan pipa. EPANET mengatur PRV dan PSV pada tiga

kondisi yang berbeda, yaitu : terbuka sebagian, terbuka seluruhnya dan

tertutup. PBV menentukan pressure loss tertentu yang melalui valve. Aliran

yang melalui valve bisa dua arah. PBV dapat digunakan untuk simulasi

jaringan distribusi, dimana penurunan yang terjadi diketahui. FCV akan

membatasi flow yang lewat pada link. EPANET 2.0 akan memberikan warning

message apabila flow yang terjadi tidak dapat dipertahankan tanpa menambah

head pada valve.

TCV mensimulasikan valve yang tertutup sebagian dengan

menyesuaikan minor headloss pada valve. Hubungan antara derajat tutupan

valve dengan koefisien headloss yang terjadi dapat diperoleh dari produsen

61
pembuat valve. GPV mewakili link dimana pola hubungan flow dengan

headloss yang terjadi tidak mengikuti formula standar. Biasa digunakan untuk

memodelkan turbin atau sumur draw down.

Shut off valve atau gate valve dan non-return valve atau check valve

bukan merupakan bagian dari link valve tersendiri, melainkan merupakan

property dari pipa. Untuk gate valve dapat diatur dengan menentukan loss

coefficient-nya.

Komponen-komponen non-fisik

EPANET 2.0 memiliki 3 objek informasi yang menggambarkan aspek

operasional dari sistem distribusi, yaitu : Pattern, Curve dan Control.

1) Pattern

Pattern adalah gabungan dari beberapa pola faktor pengali yang dapat

berubah terhadap waktu. Demand tiap node, head reservoir dan jadwal operasi

pompa dapat memiliki time pattern yang diatur khusus untuk masing-masing

komponen fisik. Interval waktu pada pattern merupakan variabel utama yang

dapat diset pada time option dalam project. Misalnya, demand pada sebuah node

rata-rata 10 GPM, asumsikan interval time pattern diset 4 jam, dan faktor

pengali utnuk demand pada node sebagai berikut :

Tabel 2.6. Penggunaan Pattern Demand pada EPANET 2.0

Period 1 2 3 4 5 6
multiplier 0.5 0.8 1 1.2 0.9 0.7

62
Sumber : Manual User Software EPANET 2.0

Berarti actual demand selama simulasi adalah sebagai berikut :

Tabel 2.7. Demand Pattern Pada EPANET 2.0

Hour 0-4 4-8 8-12 12-16 16-20 20-24 24-28


Demand 5 8 10 12 9 7 5
Sumber : Manual User Software EPANET 2.0

2) Curve

Curve adalah obyek yang mengandung rangkaian data yang

menjelaskan tentang hubungan antara dua besaran. Dua atau lebih obyek dapat

digabungkan dalam sebuah kurva. Model EPANET dapat menyediakan tipe

kurva sebagai berikut:

1. Pump Curve

2. Efficiency Curve

3. Volume Curve

4. Headloss Curve

Pump Curve

Kurva Pompa mejelaskan hubungan antara head dan laju aliran yang dapat

dialirkan oleh pompa pada pengaturan kecepatan nominal. Head adalah head yang

diperoleh air dari pompa dan digambarkan pada sumbu vertikal (Y) dengan satuan

feet (meter) Laju Aliran digambarkan pada sumbe Horizontal (X) dalam unit debit.

Kurva pompa yang valid harus memiliki head yang berkurang dalam pertambahan

aliran.

EPANET akan menggunakan bentuk yang berbeda dari kurva pompa,

bergantung pada jumlah poin yang dilayani

63
Single Point Curve, Sebuah kurva pompa dengan point tunggal didefinisikan dengan

kombinasi head-flow tunggal yang menjelaskan titik operasi pompa yang

diharapkan. EPANET menambah dua lagi point pada kurva dengan mengasumsikan

head mati pada aliran nol sebanding dengan 133 % dari head desain dan aliran

maksimum pada head nol sebanding dengan dua kali flow design. Hal itu

menyebabkan muncul kurva dengan tiga titik.

Gambar 2.14. Berbagai Jenis Bentuk Kurva Pompa yang Ada Dalam EPANET 2.0

a. Three Point Curve, terbentuk dari tiga titik operasi, yaitu :

1. Low Flow, merupakan titik pasangan flow dan head pada kondisi flow

terendah atau nol.

2. Design Flow, merupakan titik pasangan flow dan head pada kondisi

pengoperasian yang diinginkan.

3. Maximum Flow, merupakan titik pasangan flow dan head pada

kondisi flow maksimum.

64
EPANET 2.0 akan menghubungkan ketiga titik tersebut sehingga

didapatkan sebuah fungsi kurva pompa.

b. Multi Point Curve, terbentuk dari titik-titik pasangan nilai head dan flow.

EPANET 2.0 membentuk kurva yang lengkap dengan menghubungkan titik-

titik tersebut menggunakan garis lurus.

c. Headloss Curve, digunakan untuk menggambarkan hubungan headloss

(sumbu Y dalam feet atau m) melalui sebuah General Purpose Valve (GPV)

sebagai fungsi dari flow rate (sumbu X). Kurva ini memiliki kemampuan

untuk memodelkan situasi dan hubungan antara headloss dan flow. Kurva ini

digunakan apabila hubungan antara headloss dan flow merupakan hubungan

yang unik dan khusus, seperti pada GPV, reduced flow prevention valves,

turbin, dan sumur draw down.

d. Efficiency Curve, atau kurva efisiensi menggambarkan efisiensi pompa

sebagai fungsi dari flow rate pompa. Kurva ini digunakan untuk menghitung

energi yang dikeluarkan oleh pompa. Apabila kurva ini tidak disuplai, maka

digunakan efisiensi global pompa.

Gambar 2.15. Efficiency Curve pada Software EPANET 2.0

65
e. Volume Curve, menggambarkan bagaimana hubungan volume tangki

penyimpanan (sumbu Y dalam feet3 atau m3) yang berubah sebagai fungsi

dari tinggi muka air (sumbu X dalam feet atau m). Kurva ini digunakan

Gambar 2.16. Volume Curve Pada Software EPANET 2.0

apabila tangki memiliki bentuk nonsilindris. Volume tangki berubah sesuai

dengan ketinggian muka air. Tampilan volume tangki dapat dilihat dalam

gambar

3) Control

Control adalah pernyataan yang menggambarkan bagaimana kontrol

jaringan beroperasi sepanjang waktu. Kontrol men-spesifikasikan status link-

link tertentu sebagai fungsi dari waktu, level air pada tangki atau tekanan pada

point-point tertentu. Terdapat 2 kategori kontrol yang dapat digunakan yaitu :

1. Simple Control

2. Rule Based Control

1. Simple Control

Simple Control merubah status atau setting dari link berdasarkan :

66
1. Level air pada tangki

2. Tekanan pada junction

3. Waktu pada saat simulasi

Beberapa pernyataan dalam simple control menggunakan tiga format berikut :

LINK linkID status IF NODE nodeID ABOVE/BELOW value

LINK linkID status AT TIME time

LINK linkID status AT CLOCKTIME clocktime AM/PM

Dengan :

LinkID = a link ID label

Status = open or closed, a pump speed setting, or a control valve

setting

nodeID = a node ID label

value = a pressure for a junction or a water level for a tank

time = a time since the start of the simulation in decimal hours or

hours:minutes

clocktime = a 24-hour clock time.

Tidak ada batasan jumlah perintah control simulasi simple control ini.

Note :

1) Level Control adalah ketinggian air dari dasar tangki, bukan elevasi (total

head) dari permukaan air.

2) Penggunaan pressure control untuk membuka dan menutup link secara

bersamaan dapat mengakibatkan sistem menjadi tidak stabil. Disarankan

untuk menggunakan rule based control untuk mempertahankan stabilitas

sistem.

67
2. Rule Based Control

Rule Based Control memungkinkan status link dan setting berada pada

kondisi terkombinasi yang sering dijumpai dalam sistem.

Contoh 1 :

Pengaturan berikut adalah aturan untuk mematikan pompa dan membuka pipa

by-pass ketika level pada tangki melebihi nilai dan akan berlaku sebaliknya ketika

level diabawah nilai yang lain

RULE 1

IF TANK 1 LEVEL ABOVE 19.1

THEN PUMP 335 STATUS IS CLOSED

AND PIPE 330 STATUS IS OPEN

RULE 2

IF TANK 1 LEVEL BELOW 17.1

THEN PUMP 335 STATUS IS OPEN

AND PIPE 330 STATUS IS CLOSED

Model Simulasi Hidrolik

Model simulasi hidrolik EPANET 2.0 akan menghitung head pada junction

dan flow dalam link pada level reservoir, tangki dan water demand yang telah

ditentukan selama periode waktu tertentu. Setiap waktunya level air dalam reservoir

dan water demand diperbaharui sesuai dengan adanya time patern. Head dan flow

pada setiap waktu merupakan hasil perhitungan dari persamaan aliran untuk setiap

junction. Proses ini dikenal sebagai “Hydraulic Balancing” jaringan menggunakan

68
teknik iterasi. Untuk memecahkan persamaan nonlinear, EPANET 2.0 menggunakan

“Gradient Algorithm”.

BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

III. 1. Sejarah Umum PT. Chevron Pacific Indonesia

Pada tahun 1924, tim survey eksplorasi yang bernama Standard Oil Company

of California (SOCAL) mempelopori berdirinya PT. Caltex Pacific Indonesia yang

berlokasi di Sumatera Tengah, dan khususnya di daerah Aceh. Usaha yang dilakukan

oleh tim eksplorasi SOCAL tersebut sempat terhenti karena Indonesia pada waktu itu

masih berada dibawah penjajahan Belanda. Akan tetapi, usaha tersebut tidak berhenti

total karena pada bulan Juni 1930 tim tersebut membentuk Nederlandsche Pacific

Petroleum Maatschappij (NPPM). Pada tahun 1935, NPPM mendapat hak konsensi

tanah seluas kurang lebih 600.000 hektar di Sumatera Tengah yang belum banyak

69
dieksplorasi dan masih di anggap kurang memberikan harapan bagi pemerintah

Hindia Belanda. Daerah yang ditawarkan merupakan daerah yang sebenarnya tidak

dikehendaki oleh NPPM itu sendiri. Walaupun bukan merupakan daerah yang

dikehendaki oleh NPPM kegiatan eksplorasi tetap akan dijalankan pada daerah

tersebut.

Kegiatan eksplorasi yang pertama kalinya dilakukan pada bulan april 1939 di

lapangan Kubu 1. Pada bulan agustus 1940, ditemukan lapangan minyak bumi di

Sebanga yang merupakan penemuan ladang minyak pertama di daerah Riau. Pada

bulan November 1940, ditemukan lagi lapangan minyak baru di daerah Rantau Bais

dan disusul di daerah Duri pada bulan Maret 1941. Pada tahun 1942, mercu bor siap

dipasang di lapangan minyak Minas 1. Karena pecahnya Perang Dunia II (PD II),

kegiatan pemasangan mercu bor tersebut terhenti.

Setelah perang berakhir, kegiatan eksplorasi dipusatkan untuk pengembangan

lapangan Minas. Pada tahun 1950, pemerintah RI mulai mempelajari dan menyusun

suatu Undang-Undang yang mengatur masalah pertambangan. Berdasarkan Undang-

undang pertambangan yang telah terbentuk, maka pada bulan Januari 1951

pemerintah RI memberi izin berdirinya Caltex Pacific Oil Company (CPOC) untuk

melanjutkan kegiatan NPPM. Setelah setahun, CPOC memproduksi minyak bumi di

lapangan Minas. Pada tanggal 20 April 1952, diadakan pengapalan pertama Minas

Crude dari Perawang menyusuri Sungai Siak menuju pakning di Selat Malaka. Hasil

ekspor tersebut antara lain adalah pengembangan lapangan Duri, pembangunan jalan,

dan pemasangan pipa saluran (shipping line) yang mempunyai diameter 60 cm dan

70 cm sepanjang 120 km dari Minas melintasi rawa sampai ke Dumai, mencakup

pula pembangunan stasiun-stasiun pengumpul dan stasiun pompa pusat di Duri

70
maupun di Dumai serta kompleks perumahan dan perbengkelan di Duri maupun di

Dumai.

Ladang minyak Duri telah memberikan sumbangan yang cukup besar

terhadap produksi minyak Indonesia yaitu sebesar 18% dan 42% dari seluruh total

produksi minyak PT. CPI. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa produksi minyak

di Duri mulai mengalami penurunan pada tahun 1964. Penurunan produksi tersebut

yang berasal dari ladang minyak di Duri sangat memprihatinkan pihak PT. CPI.

Penurunan tersebut akan sangat berpengaruh pada “Economic Life Expectancy” dari

perusahaan. Untuk mengatasi masalah tersebut PT. CPI telah menciptakan suatu

proyek yang dinamakan Proyeksi Injeksi Uap di Ladang Minyak Duri. Proyek ini

diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 3 Maret 1990. Injeksi uap tersebut

merupakan teknologi generasi ketiga yang dimiliki PT. CPI.

Pada tahun 1960, pemerintah Indonesia memberlakukan Undang-Undang

Nomor 44 tahun 1960 mengenai pengaturan dana pembagian wilayah kerja CPOC,

yaitu seluruh wilayah konsensi NPPM (Rokan I blok dan Rokan III blok seluas 9.030

km2) dikembalikan oleh Caltex pada pemerintah Republik Indonesia, tetapi

pelaksanaan operasi wilayah tetap dikerjakan oleh Caltex yang pada tahun 1963

menjadi badan hukum dengan nama PT. CPI, tetapi 100% sahamnya tetap dimiliki

oleh Chevron (nama baru dari SOCAL) dan Texaco Inc.

Pada bulan September 1963, diadakanlah kontrak karya yang ditanda tangani

antara perusahaan Negara dan perusahaan asing, termasuk di dalamnya PT. CPI dan

Pertamina yang antara lain isinya menyatakan bahwa wilayah PT. CPI adalah

wilayah Kangaroo seluas 9.030 km2. Pada tahun 1968, diadakan penambahan luas

71
wilayah yaitu sekitar Minas Tenggara, Libo Tenggara, Libo Barat dan Sebanga

sehingga luas wilayah kerja PT. CPI seluruhnya menjadi 9.898 km2. Kemudian

kontrak karya yang berakhir pada 28 agustus 1983 diperpanjang menjadi Kontrak

Bagi Hasil (Production Sharing Contract) hingga tanggal 8 Agustus 2001 dengan

Wilayah Kerja Seluas 31.700 km2. Dalam kontrak bagi hasil tersebut antara lain

ditetapkan bahwa Pertamina adalah pengendali manajemen operasional dan harus

menyetujui program kerja dan anggaran tahunan. PT. CPI sebagai kontraktor

berkewajiban melaksanakan kegiatan operasional dan menyediakan keahlian teknis,

dana investasi, serta biaya operasi. Perbandingan pembagian untuk kontrak bagi hasil

yang disepakati sampai saat ini oleh pemerintah (dalam hal ini adalah Pertamina) dan

PT. CPI adalah sebesar 88% dan 12% ditambah dengan ketentuan khusus lainnya

berupa keluwesan atau insentif bagi PT. CPI untuk hal-hal tertentu.

III. 2. Lingkup Kerja Perusahaan

Pada bagian lingkup kerja perusahaan akan dijelaskan mengenai wilayah

kerja perusahaan, daerah operasional perusahaan, serta kegiatan operasional yang

mencakup eksplorasi dan produksi.

III. 2.1. Wilayah Kerja Perusahaan

Wilayah kerja PT. CPI yang pertama seluas hampir 10.000 km2 dikenal

dengan nama blok Kangaroo yang terletak di Kabupaten Bengkalis. Perluasan ladang

minyak Duri dilakukan dalam tiga belas area yang dimulai dengan membangun

daerah konstruksi pertama pada tahun 1981. Dalam sepuluh tahun belakangan ini

sudah dikembangkan delapann area. Pembangunan juga mencakup fasilitas

pendukung utama seperti stasiun pengumpul minyak.

72
Lokasi PT. CPI terletak di Propinsi Riau dengan luas daerah meliputi lebih

dari 50.000 km2. Berdasarkan luas operasi dan kondisi geografis yang ada serta

pertimbangan efisiensi dalam pengoperasian, maka PT. CPI membagi lokasi daerah

menjadi lima distrik yaitu :

1. Distrik Rumbai, sebagai pusat kerja administrasi daerah operasi PT.CPI

2. Distrik Minas, merupakan daerah operasi produksi minyak

3. Distrik Duri, merupakan daerah operasi produksi minyak. Distrik Duri terdiri

atas Duri OU/DSF dan Bekasap OU yang daerah operasinya meliputi

Bekasap, Petani, Balam dan Bangko.

4. Distrik Dumai, merupakan pelabuhan tempat pemasaran/pengapalan minyak.

5. Distrik Jakarta, sebagai tempat pusat administrasi seluruhnya.

73
Gambar 3.1. Peta Dumai dan Kompleks Dumai Camp.

III. 3. Visi, Misi dan Nilai Dasar

Pada bulan Januari 1992, diadakan saresehan dengan melibatkan semua

manajemen PT. CPI yang bertujuan mematangkan visi, misi dan nilai-nilai yang

dirumuskan secara tegas dan tertulis.

III. 3. 1. Visi

Chevron Texaco memiliki Visi, yaitu : menjadi perusahaan energi global

yang dihormati berkat dukungan para pekerja, mitra usaha dan kinerjanya (To be the

global energy company most admirer for it’s people, partnership and performance).

III. 3. 2. Misi

Chevron Texaco memiliki misi, yaitu : sebagai mitra usaha Pertamina, PT.

CPI akan secara efektif mencari dan mengembangkan sumber daya minyak dan gas

bumi untuk kesejahteraan bangsa indonesia dan kepentingan pemegang saham.

III. 3. 3. Nilai Dasar Perusahaan

 Memenuhi semua perundangan dan peraturan yang berlaku.

 Menjunjung standar etika yang paling tinggi.

74
 Memperlakukan karyawan sebagai sumber daya yang paling berharga.

 Memelihara lingkungan yang sehat dan aman bagi karyawan, mitra kerja dan

keluarganya.

 Menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung pengembangan masyarakat.

 Menjadikan peningkatan mutu yang berkesinambungan sebagai falsafah

hidup.

III. 4. Water Treatment Plant – Dumai

III. 4. 1. Manajemen Water Trearment Plant – Dumai

Water Treatment Plant Dumai atau WTP Operations Dumai berada di bawah

WTP, Plumbing & Sewage yang merupakan bagian Facility Management. Saat ini

WTP Dumai mempekerjakan 18 orang karyawan PT. CPI dan sekitar 16 orang

karyawan kontraktor. Pekerjaan-pekerjaan rutin didalam manajemen WTP juga

dibantu oleh kontraktor yang mengerjakan pekerjaan tertentu sesuai kontrak dengan

PT. CPI.

Didalam pekerjaan pengolahan air minum, pendistribusian air minum dan

perawatan fasilitas utama dan penunjang, WTP-Dumai dibantu oleh kontraktor-

kontraktor. Bentuk pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan WTP-Dumai dan

karyawan kontraktor secara umum dapat dibagi dua, yaitu :

1. Kegiatan preventive, berupa kegiatan yang sifatnya pencegahan kerusakan

atau kecelakaan, perawatan, pemeliharaan, atau penjagaan mutu pengolahan

dan penyaluran air minum. Bentuk kegiatan ini misalnya :

75
a. Mengambil, memeriksa contoh air dari kolam pengumpul air

cadangan, air bersih, perumahan, pelabuhan, daerah industri dan

kolam renang untuk keperluan analisa.

b. Mem-flush fire hydrant hingga air keluar sampai bersih di area

perumahan, industri dan pelabuhan sesuai dengan hasil Laboratory

Test terhadap sampel air yang telah mengalami proses treating .

c. Menguras, membersihkan kolam basin, tangki obat, pump

house,membran serta tangki penyimpanan air bersih secara berkala

atau sesuai permintaan.

d. Mengangkat bahan kimia ke gudang, membuang ampas bahan kimia,

mencatat penggunaan bahan kimia.

e. Dan sebagainya.

2. Kegiatan Corrective, berupa kegiatan yang sifatnya perbaikan terhadap

kerusakan atau pembersihan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu

kelancaran produksi air minum atau pendistribusian air minum.

Bentuk kegiatan ini antara lain :

a. Memeriksa, memelihara, memperbaiki kerusakan kecil,

membersihkan alat-alat dan fasilitas (pompa, motor, tangki, filter dan

lain-lain) sesuai dengan permintaan perusahaan.

76
b. Membuang dan mengeluarkan seranggan-serangga dan kotoran

lainnya, membersihkan lantai, dinding, tembok, beton dalam kolam

renang.

c. Dan lain-lain.

Selain kedua kegiatan umum diatas, kontraktor juga melakukan kegiatan

monitoring, pengecekan beberapa parameter air dilakukan di laboratorium,

menentukan dosis bahan kimia, menyediakan jasa operator dan sebagainya.

Bentuk pekerjaan dan penentuan frekuensi pekerjaan yang harus dilakukan,

ditentukan dari hasil tender antara WTP Dumai dengan pihak calon

kontraktor.dengan adanya sistem ini, diharapkan akan menguntungkan kedua belah

pihak.

III. 4. 2. Produksi WTP-Dumai

PT. CPI menyediakan air bersih untuk kebutuhan air minum. Pada tahun

1958 PT. CPI membangun sebuah WTP untuk daerah operasional distrik Dumai,

Water Treatment Plant (WTP) Dumai dibangun dengan kapasitas 350.000 gallon per

hari (GPD). WTP diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk daerah

industri, pelabuhan, perkantoran, Messhall, perumahan di daerah operasi Dumai dan

sekitarnya, serta kebutuhan lainnya (RCM2 analyses for : WTP & Sewage System at

Duri, Dumai, Bangko & Libo (RCM OC & INFO WS WTP), 8 september 2008 page

2 of 7).

Jumlah bangunan-bangunan yang berada di kompleks PT. CPI distrik Dumai,

yang disuplai air bersih adalah :

77
• Rumah

• Kantor

• Sekolah

• Mesjid

• Gedung Olahraga

• Rumah makan

• Perpustakaan

• Dll

Sumber air

Air baku (sumber air) yang digunakan oleh WTP-Dumai berasal dari dua

sumber, yaitu : Sungai Dumai dan sumur dalam (Water Well) yang berjumlah

sebanyak 2 unit. Air baku tersebut ditambah dengan air hujan akan di tampung pada

reservoir tank yang memiliki kapasitas tampungan sebesar 20.000 Barrel. Air dari

dua buah unit Water Well merupakan air baku dengan kuantitas terbesar dalam

penggunaannya, sedangkan sumber baku lainnya yang berupa raw water dari Sungai

Dumai memiliki kuantitas yang lebih kecil. Air baku yang bersumber dari sumur

(water well) sendiri dalam proses pengolahannya diproses dengan cara yang berbeda

dengan sumber air baku (Raw Water) yang berasal dari Sungai Dumai. Untuk Water

Well sendiri prosesnya disebut dengan sistem Reverse Osmosis (RO).

78
Kualitas air baku akan menentukan kualitas effluent dari pengolahan air

minum. Air Sungai Dumai memiliki warna kecoklatan karena mengandung Tanin

dan Lignin (asam humus).

Proses Pengolahan Air Minum Pada Water Treatment Plant

Proses pengolahan air di WTP Dumai menggunakan dua cara, yaitu :

1) Cara konvensional

Proses pengolahan air baku menggunakan proses koagulasi, flokulasi dan

sedimentasi. Alur proses pengolahan air pada WTP Dumai secara konvensional dapat

dilihat pada gambar berikut :

79
Gambar 3.2. Diagram Alir Proses pengolahan Air Secara Konvensional.

Berikut ini adalah fungsi masing-masing alat pengolahan secara konvensional

pada WTP Dumai :

1. Clarifier/Reactivator tank berfungsi sebagai tempat terjadinya proses

koagulasi, flokulasi dan Sedimentasi.

2. Chemical Storage Tank and Pump, untuk menyimpan bahan kimia (Lime

Bulk Storage untuk menyimpan cairan Hydrated Lime, Alum Bulk Storage

untuk menyimpan cairan Alumunium Sulfate, polymer Feed Tank untuk

menyimpan Polymer, Sodium Hypochlorite Tank untuk menyimpan Sodium

Hypochlorite). Dari masing-masing Storage Tank digunakan pompa diafram

untuk memompakan Chemical ke unit instalasi.

3. Static Mixer, Static mixer adalah suatu alat untuk menghasilkan aliran

turbulensi yang akan mengoptimalkan pencampuran bahan chemical (Lime,

Alum, dan Polimer) dengan raw water. Static mixer dipasang pada pipa 6”

yang kemudian dihubungkan dengan inlet clarifier tank. Dumai WTP

mempunyai 2 static mixer, static mixer pertama digunakan untuk

pencampuran Lime dengan raw water yang diinjeksikan melalui injection

point di inlet-nya. Campuran ini kemudian masuk ke static mixer kedua.

Sebelum campuran ini masuk diinjeksikan Alum, artinya static mixer kedua

digunakan untuk pencampuran lime dan alum dengan raw water. Campuran

terakhir ini kemudian akan masuk ke clarifier tank tetapi sebelumnya akan

80
diinjeksikan polimer melalui injection point di dekat output static mixer

kedua.

4. Settling Basin 1, merupakan tempat penampungan air dari clarifier/

reactivator. Di tempat ini masih berlangsung proses sedimentasi flok-flok

ringan yang belum terendapkan di clarifier tank. Pada kondisi panas,

flok-flok tersebut cendrung naik ke permukaan (terapung) sehingga

harus dibersihkan dengan menggunakan tangguk dan disalurkan melalui

slang plastik 2”. Pembersihan settling basin dilakukan setiap hari dan

sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure).

5. Circulation Pump, berfungsi untuk memompakan air dari settling basin 1

ke settling basin 2. Dumai WTP mempunyai 2 (dua) unit circulation

pump masing-masing berkapasitas 200 GPM dan 400 GPM. Dua unit

pompa ini hanya satu yang beroperasi sedangkan yang lainnya sebagai

cadangan. Pompa sirkulasi ini suatu saat juga digunakan untuk

memompakan air ke distribusi ketika booster pump dalam perbaikan

atau tidak berfungsi.

6. Settling basin 2 merupakan tempat penampungan dan proses pengendapan air

yang terakhir. Kondisi air di settling basin 2 jauh lebih jernih dibanding dari

settling basin 1. Selanjutnya settling basin 2 melalui pipa besi 10

dihubungkan ke booster pump untuk dipompakan ke filter unit dan

selanjutnya ke distribution line.

7. Desinfectant injection point, merupakan tempat penginjeksian cairan kaporit

untuk proses desinfektan. Injection point dipasang pada pipa 10” antara

81
settling basin 2 dan booster pump. Kaporit terlebih dahulu dilarutkan di

dalam mixer tank dan kemudian didiamkan selama kurang lebih 12 jam.

Larutan kaporit ditransfer ke chemical storage tank kemudian injeksikan

melalui injection point dengan menggunakan chemical pump. Konsentrasi

free clorine pada finish (sample distribusi) diatur pada range 1.6—1.9 ppm

sehingga diharapkan free chlorine di perumahan dapat mencapai pada range

0,3—1.0 ppm.

8. Booster pump berfungsi memompakan air dari settling basin 2 ke filter unit.

Jenis yang dipergunakan adalah centrifugal pump dan berjumlah 4 unit

dengan kapasitas pemompaan dapat mencapai 25.000 gallon per menit. Setiap

hari beroperasi satu unit dan 3 unit lainnya stand by.

9. Multimedia Filter, terdiri dari 3 buah unit, berjenis filter tertutup dan disusun

secara paralel. Media filter yang digunakan hanya silica sand. Pada dasar

filter dipasang strainer screen liner 2” berfungsi untuk menahan silica sand

tidak lolos selama proses filtration maupun backwash. Air melalui service

outlet akan keluar ke diatomite tank berdasarkan tekanan dari booster pump.

10. Diatomite Tank,terdiri dari 3 buah unit, bertujuan untuk menyaring sisa-sisa

partikel yang lolos dari Multimedia Filter.

11. Storage Tank, untuk menampung air bersih yang telah diproses di filter unit

(Multimedia Filter dan Diatomite Filter). Ada dua buah unit storage tank :

• WTP Storage Tank berkapasitas 6800 bbl.

Berfungsi untuk cadangan dan supply air untuk backwash filter.

Storage tank ini mempunyai over flow yang dihubungkan ke settling

82
basin 1 dengan pipa 6”. Fungsi dari over flow tersebut adalah untuk

membuang kelebihan air di storage tank.

• Bukit Jin Storage Tank berkapasitas 2000 bbl.

Dilengkapi dengan dua unit centrifugal pump masing-masing

berkapasitas 56 cph (cubic per hour). Air dari storage tank ini baru

dipakai apabila terjadi power shut off (listirk mati) di Dumai WTP.

2) Cara Reverse Osmosis (RO)

Proses pengolahan air dengan memanfaatkan prinsip reverse osmosis. Cara

reverse osmosis ini menggunakan air baku yang berasal dari water well (sumur

dalam). Water Well ini berjarak kurang lebih 200 meter dari WTP Dumai. Jenis

pompa yang digunakan adalah submergible pump yang langsung dihubungkan

dengan unit Carbon Filter di area WTP Dumai melalui pipa berukuran 4 inchi.

83
Gambar 3.3. Diagram Alir Proses pengolahan Air Secara Reverse Osmosis.

Air baku dari water well ini memiliki Total Dissolved Solid (TDS) yang

tinggi sehingga tidak bisa diproses secara konvensional.

Kondisi air dari water well memiliki karakteristik sebagai berikut :

• Salinity : 200 – 214 mg/l

• Temperatur : 500 celcius

• pH : < 8.5

• Bicarbonate : 508 – 540 mg/l

• Conductivity : 2000

Unit instalasi pengolahan air cara konvensional sangat berbeda dengan cara

Reverse Osmosis. Hal ini dikarenakan air baku yang berasal dari sumur dalam

(Water Well) memiliki suhu yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan penanganan

khusus dalam pengolahannya. Berikut ini adalah fungsi dari tiap-tiap unit instalasai

pengolahan air minum dengan cara Reverse Osmosis pada WTP Dumai :

1) Carbon Filter

Berfungsi menyaring kotoran-kotoran (lumpur) dan menghilangkan bau dari

water well. Pada carbon filter ini air baku di injeksi menggunakan desinfectant dan

acid sebelum menuju ke unit pengolahan berikutnya, yaitu degassifier unit.

2) Degassifier Unit.

Alat ini berfungsi untuk menghilangkan gas yang berasal dari water well dan

menurunkan temperatur air.

84
Degassed pump akan memompakan air dari degassifier unit ke softener unit,

sebelum memasuki softener unit akan di injeksi terlebih dahulu menggunakan

sodium bisulfide (NaHSO3). Sodium Bisulfide berfungsi untuk menghilangkan sisa-

sisa kaporit yang di injeksikan sebelumnya.

3) Softener Unit

Softener merupakan fasilitas yang berfungsi menghilangkan hardness (air

mengandung ion Ca dan/atau Mg) pada air dengan menggunakan media resin. Proses

tersebut dikenal dengan nama softening. Kesadahan atau hardness adalah satu dari

beberapa sifat kimia yang dimiliki air. Penyebab air menjadi sadah adalah karena

adanya ion-ion Ca dan/atau Mg. Pada proses softening terjadi pertukaran ion (ion

exchange) secara kimia antara Na+ pada resin dengan Ca2+ atau Mg2+ yang terlarut

dalam air.

Apabila resin sudah jenuh mengikat Ca2+ atau Mg2+ maka dilakukan proses

regenerate untuk mengembalikan fungsi resin pada kondisi optimalnya dengan

menggunakan larutan garam (NaCL).

4) Pre-Filter dan High Pressure Pump

Pre-filter merupakan alat penyaring partikel-partikel dalam air yang

berukuran di atas 5 mikron. Pre-filter dipasang sebelum high presure pump R/O unit

atau sesudah Softener unit.

5) Reverse Osmosis Unit

High pressure pump akan memompakan air menuju Reverse Osmosis unit.

Pengolahan air baku dengan cara Reverse Osmosis (R/O) adalah suatu proses

pengolahan air yang menggunakan semipermeable membrane. Cara R/O banyak

85
diaplikasi untuk air baku yang memiliki kadar Total Dissolve Solids (TDS) tinggi,

misalnya air laut.

Osmosis adalah perpindahan air melalui semipermeable membrane dari

bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus

dapat ditembus oleh pelarut tapi tidak oleh zat terlarut.

Osmosis merupakan suatu fenomena alami tapi dapat dihambat dengan

meningkatkan tekanan pada bagian yang berkonsentrasi pekat. Tekanan yang

dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran semipermeabel

dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan

tekanan osmotik (osmosis pressure). Reverse osmosis adalah sebuah proses

pemaksaan sebuah pelarut (air) dari larutan konsentrasi tinggi (air garam) melalui

sebuah membran semipermiabel ke larutan konsentrasi rendah dengan menggunakan

tekanan dari pompa yang melebihi tekanan osmotik.

Proses pengolahan yang terjadi di WTP Dumai secara keseluruhan (cara

konvensional dan Reverse Osmosis) dapat dilihat pada gambar III.4.

WTP diharapkan mampu memenuhi syarat-syarat untuk air minum (air

bersih) yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Untuk itu

diperlukan pengontrolan terhadap kualitas air baku, air olahan serta effluent.

Pengontrolan itu dilakukan oleh laboratorium yang dimiliki WTP-Dumai.

Pemantauan dilakukan setiap hari pada jam-jam tertentu, meliputi parameter pH,

kekeruhan, warna dan sisa klor.

86
Kontrol Kualitas (Quality Control)

WTP dalam pengoperasiannya dilakukan oleh pegawai PT. CPI dan dibantu

oleh beberapa kontraktor. Hasil treatment setiap unit selalu di uji secara terus

menerus setiap hari selama 24 jam. Pengujian yang rutin dilakukan di WTP Operator

Lab adalah :

 Tes pH

 Uji warna

 Uji kekeruhan

 Free chlorine test

Pengujian dilakukanoleh tim TS Laboratory milik PT. CPI.

Kualitas dan Kuantitas Produksi

87
Air baku yang diolah WTP Dumai adalah berjumlah sekitar 150.000 GPD

hingga 350.000 GPD. Air ini akan didistribusikan ke Dumai Camp Housing, daerah

industri dan daerah pelabuhan untuk keperluan konsumsi penghuni Camp serta

penunjang kegiatan produksi. Pada saat musim kemarau kuantitas produksi tidak

sebaik pada musim lainnya.

Parameter kualiatas air yang masuk dalam pengawasan PT. CPI untuk air

yang telah mengalami proses treating ada sekitar 31 parameter. Akan tetapi hanya

beberapa parameter yang bisa dikontrol atau dikurangi. Adapun parameter tersebut

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1. Parameter Kualitas Air Bersih.

Qualty Parameter Standards

E-Coli bacteria Zero growth

Chlorine level 0,3 – 1,0 ppm

pH level 6,5 – 8,5

Color 0 – 15 Pt Co

Turbidity 0 – 5 NTU

Sumber : RCM2 analyses for : WTP & Sewage System at Duri, Dumai, Bangko &

Libo (RCM OC & INFO WS WTP), 8 september 2008 page 2 of 7.

Berdasarkan hasil pengujian di Laboratorium, kualitas air hasil produksi

sudah cukup baik. Parameter air yang diproduksi dapat di lihat pada tabel II. 1. :

Contoh hasil pengujian Lab WTP Operator pada tanggal Tgl 11-04-2011

Tabel III. 2. Contoh Hasil Pengujian Lab

88
Chlorine (ppm) pH Turbidity (NTU) Color (Pt Co)

1,86 8,30 0,37 1,00

Sumber : Morning Report WTP PT. CPI Distrik Dumai.

Setiap hari kualitas air produksi selalu dijaga mendekati parameter-parameter

uji sederhana seperti di atas.

Distribusi

Air yang telah di distribusi akan didistribusikan kepada konsumen melalui

sebuah sistem distribusi. Air dari WTP dialirkan kepada konsumen menggunakan

sistem pemompaan dengan tangki penyimpanan. Sistem ini sangat baik dan cocok

diterapkan untuk Dumai Housing Camp. Hal ini dikarenakan profil muka tanah

Dumai Housing Camp yang cenderung berbukit, akan tidak menguntungkan jika

menggunakan sistem pengaliran secara gravitasi. Sistem pemompaan dengan

penyimpanan Storage Tank ini memungkinkan air dapat dipompa hingga titik yang

terjauh dengan debit dan pressure yang tetap terjaga. Penggunaan Storage Tank juga

akan dapat digunakan untuk meyimpan kelebihan produksi air bersih. Storage Tank

juga dapat digunakan sebagai cadangan air jika produksi terhenti atau karena adanya

pemadaman listrik.

Saat ini sistem distribusi air Dumai Housing Camp memiliki 1 unit storage

tank dengan karakteristik sebagai berikut :

 Diameter :8m

 Tinggi : 4,572 m

 Kapasitas : 2000 Barrels

89
Bentuk Jaringan Sistem Distribusi

Bentuk jaringan distribusi pada Dumai Camp adalah bentuk campuran,

dengan terdapatnya bentuk sistem cabang atau branch dengan titik mati dan sistem

loop atau gridiron yang memungkinkan aliran mengalir dari dua arah. Berdasarkan

peta jaringan distribusi air bersih pada Dumai Camp dapat diketahui bahwa sistem

branch ditemukan pada titik tertentu pada area Dumai Camp, sedangkan sistem loop

atau gridiron ditemukan hampir diseluruh jaringan. Jadi secara umum sistem jaringan

distribusi yang digunakan di Dumai Housing Camp adalah sistem gridiron.

90
Gambar III. 4. Peta Distribusi Air Minum di Area Dumai Camp.

Penggunaan Air Oleh Konsumen

Air hasil produksi WTP digunakan untuk berbagai kepentingan. Air

dikonsumsi di perumahan, perkantoran, perbengkelan (shop), rumah sakit, wisma,

sekolah, masjid dan sebagainya. Setiap harinya WTP Dumai dapat mengolah sekitar

150.000 hingga 350.000 US Gallon air baku setiap hari. Saat ini tidak dilakukan

pengukuran atau metering terhadap konsumsi air oleh konsumen. Hal ini disebabkan

karena air yang diproduksi oleh WTP bersifat sebagai fasilitas yang diberikan

91
perusahaan kepada karyawan yang tinggal di perumahan Dumai Camp dan sebagai

penunjang aktifitas produksi di dalam Dumai Camp. Tidak dilakukannya pengukuran

menyebabkan sulitnya melakukan estimasi penggunaan air oleh konsumen. Hal ini

juga menyulitkan dalam menentukan angka yang pasti dalam water base demand

dalam simulasi yang akan dilakukan dalam EPANET 2.0. untuk mendapatkan angka

konsumsi air pada penghuni Dumai Camp, akan digunakan estimasi penggunaan air.

Tidak dilakukannya pengukuran pemakaian air menyebabkan pengguna akan

menggunakan air secara berlebihan dan cenderung boros.

Kuantitas dan kualitas air yang samapai ke konsumen

Air sampai ke konsumen dengan jumlah, pressure dan kualitas yang baik.

Pengguna dapat menggunakan air dengan bebas. Air yang diproduksi oleh WTP pada

dasarnya sudah dapat langsung diminum. Pengontrolan terhadap kualitas air selalu

dilakukan. Hal ini bertujuan untuk menjamin agar kualitas air selalu terjaga.

Fire Hydrant di Flushing apabila setelah dilakukan sampling pada beberapa

titik didapat kualitas air yang menurun. Hal ini dilakukan untuk membuang kotoran

yang mungkin mengendap di dalam pipa. Flushing terhadap Fire Hydrant perlu

dilakukan untuk menjamin aliran air dalam sistem tetap berjalan baik. Hal ini juga

dilakukan untuk melihat keadaan Fire Hydrant apakah masih cukup baik atau untuk

digunakan apabila terjadi kebakaran.

Perawatan dan Pemeliharaan Jaringan

Setiap sistem yang baik memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang baik.

Maintenance dilakukan oleh bagian Plumbing & Sewage WTP Dumai. Pengguna

92
yang mengalami gangguan dengan penyluran air bersih dapat mengadukan masalah

yang mereka alami ke pihak WTP melalui telepon atau e-mail ke pihak WTP. Setiap

pengaduan akan segera ditanganin oleh bagian Plumbing & Sewage. Bagian ini juga

dibantu oleh beberapa kontraktor dalam melaksanakan tugasnya.

Untuk setiap pengaduan biasanya akan ditangani sesuai dengan pengaduan

yang dilaporkan. Masalah biasanya dapat diseleseaikan dalam waktu kurang dari dua

hari. Pihak WTP juga bersifat proaktif dalam mengawasi penggunaan air. Ada

petugas yang melakukan patroli untuk melihat apakah ada kebocoran atau ada keran

air yang terbuka secara sia-sia di kompleks perumahan.

III.4.3. Kualitas Air WTP-Dumai

Pada dasarnya kualitas air yang telah diolah pada Water Treating Plant

Dumai sudah cukup baik. Hal ini dikarenakan proses pengolahan yang terjadi pada

WTP-Dumai telah mengalami pengujian pada laboratorium milik PT.Chevron

Pacific Indonesia sebelum didistribusikan kepada konsumennya. Akan tetapi

menurut penulis kadar pH air sebesar 8,30 yang telah diproses pada WTP-Dumai dan

telah mengalami uji laboratorium masih terlalu tinggi dan mendekati ambang batas

maksimum dari parameter kualitas air yang di izinkan yaitu sebesar 8,50. Oleh

karena itu menurut penulis sebaiknya dilakukan penanganan lebih lanjut agar kadar

pH air tersebut dapat diturunkan.

93
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis Penelitian dari penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif studi kasus

Analisa Distribusi Air Bersih pada Komplek Perumahan Karywan PT.Chevron

Pacific Indonesia, Distrik Dumai dari WTP-Dumai Menggunakan Software Epanet

2.0. Metode yang dilakukan pada studi ini terlebih dahulu melakukan tinjauan lokasi

di daerah penelitian, kemudian mengumpulkan data yang berhubungan dengan

sistem distribusi air bersih dan menganalisa data sedemikian rupa untuk

mendapatkan kesimpulan akhir. Alur pengerjaannya lebih jelas tergambar pada

Gambar 4.1. Bagan Alir Metodologi Pengerjaan Tugas Akhir berikut ini :

Mulai

Data

Hitung Jumlah Hitung Kebutuhan


Tiap Jenis Air Tiap Jenis Ketersediaan Air
Pelanggan Pelanggan

Analisa dengan cara


pemodelan menggunakan
Software EPANET 2.0

Evaluasi Hasil Pemodelan


dengan metode Hardy Cross
Kesimpulan &
dengan mengambil sampel
loop dalam jaringan Saran
perpipaan
94
Gambar 4.1 Diagram Metodologi Penelitian
IV.1. Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud tugas akhir ini adalah untuk menganalisa sistem penyaluran dan

pendistribusian air minum di kompleks perumahan Dumai Camp. Sehingga

diharapkan dapat memberikan beberapa masukan dan solusi terhadap masalah yang

dihadapi. Selain itu juga dapat mengambil pelajaran baru dari teknologi yang

digunakan oleh WTP-Dumai yang didapat selama di lapangan. Pembahasan akan

lebih ditekankan pada sistem distribusi, bukan pada tahap pengolahan air bersih.

Adapun tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk melihat dan

mempelajari langsung dari situasi di lapangan yang mungkin tidak di dapat di

bangku kuliah. Selain itu, juga diharapkan mahasiswa dapat memberikan masukan

untuk perbaikan sistem distribusi air bersih untuk mencapai hasil yang lebih optimal.

IV.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, tujuan dan ruang lingkup dari penelitian tugas akhir ini,

maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

3. Berapa besar penggunaan asumsi-asumsi pemakaian air yang dapat mewakili

kondisi yang ada pada saat ini?

4. Apakah hasil pemodelan jaringan distribusi air bersih pada area perumahan

dengan menggunakan software EPANET 2.0 dapat mewakili kondisi aliran

distribusi yang ada

95
IV.3. Pengumpulan Data

Untuk mencapai tujuan dan sasaran penelitian ini maka tahapan proses

penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :

5. Studi Literatur

Mengumpulkan bahan-bahan atau teori-teori dari beberapa buku yang

berhubungan dengan pengerjaan tugas akhir.

6. Pengumpulan Data

Mengambil data-data yang diperlukan yang terdiri dari :

c. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dengan

mengadakan kunjungan langsung di daerah studi sehingga diperoleh

kondisi eksisting penyaluran dan pendistribusian air bersih. Data

primer ini berupa blok-blok pelayanan air bersih dan peta pelayanan

wilayah.

d. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dari PT.Chevron Pacific

Indonesia. Adapun data-data tersebut yaitu :

• Jumlah rumah,fasilitas-fasilitas penunjang serta perkantoran yang

terdapat pada kompleks perumahan PT. Chevron Pacific

Indonesia.

• Produksi air baku yang diolah oleh WTP-Dumai yang akan

disuplai ke area perumahan kompleks PT. CPI.

• Peta jaringan pipa distribusi pada kompleks perumahan.

96
• Panjang pipa antar junction yang satu dan lainnya, diameter pipa

yang digunakan serta jenis pipa distribusinya.

• Diameter valve yang digunakan serta tipenya.

• Parameter kualitas air yang di izinkan serta hasil pengujian

Laboratorium terhadap kualitas air yang akan di distribusikan.

• Spesifikasi pompa distribusi yang digunakan.

• Total head (head hidrolik) yaitu elevasi permukaan air pada

reservoir

• Dll.

IV.4. Analisa Data

Metode yang digunakan dalam analisis pendistribusian air bersih yaitu

dengan memakai program EPANET versi 2.0. Program tersebut merupakan

program komputer ( EPA - Software ) dengan tampilan Window yang dapat

melakukan simulasi periode tunggal atau majemuk dari perilaku hidrolis dan

kualitas air pada jaringan pipa bertekanan. Dengan analisis simulasi yaitu

melacak aliran air ( flow ) pada pipa, tekanan ( pressure ) disetiap titik (node),

kehilangan tenaga (Headloss) pada pipa serta konsentrasi bahan kimia dalam

sistem distribusi penyediaan air bersih.Tahapan pemodelan disajikan pada

gambar 4.2 berikut :

97
Membuat jaringan sistem distribusi atau
mengimport file jaringan (dalam bentuk text

Edit sifat objek yang menyusun sistem


distribusi tersebut

Pengaturan dan pengoperasian

input data Memilih analisis yang

Tidak ok
Program (Running)
Proses

Output Melihat hasil analisis

Gambar 4.2 Flow Chart Tahapan Pemodelan Menggunakan EPANET 2.0

Setelah dilakukan analisa data dengan menggunkan software Epanet 2.0,

maka dilakukan evaluasi hasil analisa software tersebut dengan menggunakan

metode Hardy-Cross. Adapun tahapan pengerjaan dari metode Hardy-Cross sendiri

adalah sebagai berikut:

1. Andaikan distribusi aliran yang paling wajar, baik besar maupun arahnya dalam

setiap pipa sehingga total aliran ke setiap titik pertemuan mempunyai jumlah

aljabar nol. Ini harus ditunjukkan dari diagram jaringan pipa yang bersangkutan.

98
2. Buat sebuah tabel untuk menganalisa setiap loop tertutup dalam jaringan yang

semi-independent.

3. Hitung head losses pada setiap pipa dengan menggunakan persamaan Hazen –

Williams.

4. Untuk tiap loop, anggap bahwa laju aliran Q0 dan head losses (hf) positif untuk

aliran yang searah jarum jam dan negatif untuk aliran yang berlawanan arah

jarum jam.

5. Hitung jumlah aljabar head losses ( Σhf )dalam setiap pipa.

hf
6. Hitung total head losses per satuan laju aliran untuk tiap pipa. Tentukan
Q0

 hf 
jumlah besaran Σ
 

 Q0 

7. Dari definisi tentang head losses dan arah aliran, setiap suku dalam penjumlahan

ini harus bernilai positif.

8. Tentukan koreksi aliran dari tiap loop, dengan menggunakan rumus :

Σhf
δ =−
n ⋅ Σhf
Q0

Dimana : δ = koreksi laju aliran untuk loop

Σhf = jumlah aljabar kerugian head untuk semua pipa dalam Loop.

n = harga yang bergantung pada persamaan yang digunakan untuk menghitung

laju aliran.( n = 1,85 bila digunakan persamaan Hazen – Williams dan n = 2 bila

digunakan persamaan Darcy dan Manning).

Koreksi diberikan untuk setiap pipa dalam loop. Sesuai dengan kesepakatan, jika

∆Q bernilai positif ditambahkan ke aliran yang searah jarum jam dan

99
dikurangkan jika berlawanan arah jarum jam. Untuk pipa yang digunakan secara

bersama dengan loop lain, maka koreksi aliran untuk pipa tersebut adalah harga

netto dari koreksi untuk kedua loop.

9. Tuliskan aliran yang telah di koreksi pada diagram jaringan pipa seperti pada

langkah 1. untuk memeriksa koreksi pada langkah 7 perhatikan kontinuitas pada

setiap pertemuan pipa.

10. Ulangi Langkah 1 sampai 8 hingga koreksi aliran ≈ 0.

100
BAB V

KOMPILASI DAN PENGOLAHAN DATA

V.1 Pembuatan jaringan secara umum pada software EPANET 2.0

Peta jaringan distribusi air minum pada kompleks perumahan PT. Chevron

Pacific Indonesia Distrik Dumai kembali digambar ulang pada software EPANET

2.0. Input data disesuaikan dengan data yang ada pada peta jaringan. Input data

meliputi :

1. Junctions

2. Reservoirs

3. Tanks

4. Pipes

5. Patterns

6. Curves

7. Quality

Setiap input data memiliki permintaan terhadap input data yang berbeda-

beda. Pada setiap titik input biasanya ada 4 hingga 8 input data yang perlu

dimasukkan, sesuai dengan tingkat ketelitian yang diinginkan. Contoh pengisian data

pada input data juntion dapat dilihat pada gambar input data sebagai berikut.

101
Setelah semua input data selesai digambarkan, maka bentuk umum jaringan

distribusi air minum WTP Dumai pada software EPANET 2.0 akan dapat dilihat

sebagai berikut.

Total input data pada jaringan ini adalah sebagai berikut :

Number of Juntions : 205

Number of reservoirs :1

Number of tanks :1

Number of Pipes : 214

Number of Pumps :2

Flow Units : LPS (dm3/s)

Headloss Formula : Hazen-Williams

Quality Paramter : chlorine

Untuk setiap data properties, memerlukan pengisian data input properties

yang harus diisikan secara mengetik langsung satu persatu. Sebenarnya, dalam input

data tergantung dari keputusan pembuat model, jumlah input data properties dapat

ditekan berupa input data properties data minimal. Akan tetapi, hasil simulasi

menjadi tidak begitu baik. Semakin banyak input data properties yang diisikan,

semakin baik pula hasil simulasi yang didapatkan.

102
Hasil simulasi memberikan report dalam berbagai tabel, grafik dan angka

untuk berbagai parameter seperti pressure, flow, head, velocity, kualitas (konsentrasi

Chlorine), energi, headloss dan sebagainya. Report dapat diminta untuk setiap pipa,

nodes, tangki atau pompa yang diinginkan.

V.2. Penentuan flow aliran air yang di distribusikan oleh WTP.

WTP Dumai PT. CPI didesain untuk dapat mengolah air dengan kapasitas

maksimum 350.000 GPD. Saat ini air didistribusikan dengan sistem pemompaan

langsung dan tangki. Pompa dinyalakan terus menerus 24 jam dalam sehari. Saat ini

WTP Dumai menggunakan empat pompa distribusi. Keempat pompa ini dinyalakan

bergantian dan sesuai dengan kebutuhan.

Spesifikasi pompa yang digunakan adalah sebagai berikut :

DISTRIBUTOR PUMP

HORIZONTAL SPLIT CASE SINGLE STAGE PUMPS

Type : Horizontal, single stage, split case centrifugal

pumps. Packed and sealed types. 2” to 24”

discharge sizes. Types A, AE.

Capacities : Up to 25.000 GPM (5.682 m3/hari)

Head : Up to 660 feet (201 meter)

Pressure : Up to 400 Psi (28 kg/cm2, 2.758 kPa)

103
Horsepower : Up to 1.500 HP (1.119 kW)

Drives : Motors, engines, steam turbines,

combinations.

Liquids Pumped : Water and Clear Liquids.

Temperature : Up to 3000 F (1490 C)

Tabel 5.1. Produksi Air Secara Relatif Terhadap Air Baku.

Setiap harinya jumlah air baku yang di distribusikan oleh WTP Dumai adalah

200.000 GPD hingga 250.000 GPD. Dengan mengasumsikan bahwa air bersih yang

di distribusikan berjumlah 90 % dari air baku yang masuk. Diasumsikan 10 % air

baku hilang atau dibuang selama proses pengolahan air baku pada WTP Dumai

Dari data kapasitas produksi dan kehilangan air harian selama proses

produksi, maka dapat dibuat sebuah perkiraan produksi air oleh WTP Dumai yang

akan digunakan untuk menentukan kurva pemompaan dalam simulasi oleh EPANET

2.0
jumlah air baku Asumsi Kehilangan air Produksi Produksi
Produksi
(GPD) 10% (GPD) Air (GPD) Air (LPS)
Minimum 200.000 25.000 175.000 7.66638
Maksimum 250.000 25.000 225.000 9.85677
Rata-Rata 225.000 25.000 200.000 8.76157

V.3 Asumsi kebutuhan air bersih

V.3.1 Kebutuhan Domestik

104
Saat ini belum digunakan metode pengukuran terhadap jumlah penggunaan

air bersih di kompleks perumahan Dumai Camp. Untuk menentukan jumlah

penggunaan air bersih akan digunakan asumsi-asumsi penggunaan air

berdasarkanreferensi yang umum digunakan.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kompleks pemukiman digunakan

sambungan langsung. Air di distribusikan kepada konsumen dengan langsung.

Konsumen dapat menggunakan air sebebasnya. Dalam studi kali ini standar

penggunaan air ditetapkan sekitar dua kali standar indonesia, yaitu 250

L/orang/detik. Hal ini dengan pertimbangan konsumsi air di kompleks permahan

Dumai Camp diatas standar umum masyarakat indonesia. Standar ini lebih dari dua

kali diatas standar kebutuhan air di Indonesia berdasarkan ukuran kota seperti dalam

tabel berikut ini :

Tabel 5.2. kebutuhan air berdasarkan kategori Kota

KATEGORI UKURAN KOTA KEBUTUHAN AIR (L/orang/hari)


I Kota Metropolitan 190
II Kota Besar 130
III Kota Sedang 120
IV Kota Kecil 90
V Kota Kecamatan 75
VI Pedesaan 60

Sumber : DPU Dirjen Cipta Karya, 2001

Jumlah rumah saat ini 143 rumah untuk pegawai PT. CPI dengan

diasumsikan setiap rumah terdiri dari 4 orang penghuni. Dalam studi ini kebutuhan

air dihitung berdasarkan penggunaan air tiap rumah. Diasumsikan pemakaian 90

L/orang/hari untuk tiap rumah. Rumus yang digunakan dalam perhitungan

105
pemakaian air ini hanyalah berupa persamaan perhitungan sederhana saja seperti

berikut :

• Kebutuhan per orang : 90 Liter / orang / hari

• Jumlah orang per rumah : 4 orang

• Kebutuhan per rumah : 4 orang X 90 L/orang/hari = 360 L/orang/ hari

• Satuan kebutuhan dalam liter per detik :360 / ( 24 X 60 X 60 ) = 0.004167

dm3/detik

• Kebutuhan domestik total pada area perumahan kompleks PT. CPI

distrik dumai yang memiliki 143 unit rumah : 0.004167 X 143 =

0.595881 dm3/detik

V.3.2 Kebutuhan Non Domestik

1. Perkantoran

Kebutuhan air untuk perkantoran digunakan untuk flushing toilet oleh

karyawan kantor, membersihkan kantor, dan sebagainya. Jumlah perkantoran di

Dumai Camp berjumlah 6 unit. Jumlah karyawan PT. CPI yang menggunakan kantor

di area Dumai Camp adalah 26 orang. Penggunaan air di perkantoran diasumsikan

100 Liter per orang perhari. Berikut adalah tabel penggunaan air bersih di

perkantoran :

Tabel 5.3. Kebutuhan Air Untuk Perkantoran.

106
Pemakaian Air
No Nama Kantor Penghuni dm3/detik
(100 L/orang/hari)
Facility Management-
1 7 700 0.008
Camp Office
facility Management-
2 5 500 0.005
DCC Dumai
Facility Management-
3 3 300 0.003
Library Room
Facility Management-
4 6 600 0.007
Mess Hall
Facility-Management-
5 3 300 0.003
Recreation Office
Facility Management-
6 2 200 0.002
Pets Control

total 26 2600 0.03

2. Sekolah

Air bersih disekolah digunakan untuk membersihkan ruangan kelas,

menyiram kebun, sanitasi, menyiram toilet, dan sebagainya. Penggunaan air rata-rata

per orang per hari untuk keperluan di sekolah menurut Soufyan Moh. Noerbambang

& Takeo Morimura, 2005 adalah sebagai berikut :

 Sekolah Dasar : 40 Liter

 SLTP : 50 Liter

 SLTA : 80 Liter

107
 Guru : 100 Liter

Jumlah siswa pada sekolah-sekolah yang terdapat dalam area kompleks

perumahan adalah sebagai berikut :

 Sekolah Dasar : 563 Siswa, dengan jumlah Guru : 36

 SLTP : 545 Siswa, dengan jumlah Guru : 43

 SLTA : 594 Siswa, dengan jumlah Guru : 64

Berikut adalah tabel penggunaan air untuk Sekolah :

N Sekola Jumla Jumla Total Pemakaian


o h h h Air (LPD)
dm3/detik
Siswa Guru
SD N 05 563 36 26120 0.30231
1
SMP N
545 43 31550 0.36516
2 03

SMA N 1 594 64 53920 0.62407


3

Tabel 5.4. Penggunaan air bersih di Sekolah pada area Dumai Camp

3. Wisma

108
Air bersih di wisma digunakan untuk keperluan sanitasi, minum, mandi, dan

sebagainya. Satu kamar wisma umumnya dihuni oleh satu orang. Wisma biasanya

digunakan oleh pegawai yang masih lajang atau pegawai yang harus bertugas ke

Dumai atau tamu perusahaan. Asumsi penggunaan air untuk wisma adalah 200

L/orang/hari. Berikut adalah tabel penggunaan air untuk wisma :

Nama Penghuni Penggunaan Air


No dm3/detik
Wisma (asumsi) (200 l/orang/hari)
1 Rupat 1 200 0.0023
2 bintan 1 200 0.0023
3 medang 1 200 0.0023
4 Rampang 1 200 0.0023
total 4 800 0.0093

Tabel 5.5. Kebutuhan air bersih untuk Wisma

4. Sarana Ibadah

Keperluan air untuk sarana ibadah juga cukup penting. Sarana ibadah perlu

tetap dijaga bersih untuk menjaga kesucian tempat ibadah. Air diperlukan untuk

membersihkan lantai sarana ibadah, menyiram tanaman dan halaman sarana ibadah,

bersuci, berwudhu’, menyiram toilet dan sebagainya. Keperluan air untuk keperluan

109
sarana ibadah diasumsikan 10 L/orang/hari. Jumlah orang yang beribadah setiap

harinya diasumsikan sebanyak 60 orang. Berikut adalah penggunaan air untuk sarana

ibadah :

asumsi pemakaian air


No Jumlah Orang/hari dm3/detik

1 60 10 L/orang/hari 0.0069

Tabel 5.6. Kebutuhan air bersih untuk sarana ibadah.

5. Rumah Makan

Kebutuhan air untuk rumah makan umumnya digunakan untuk keperluan

mencuci, memasak, dan sebagainya. Asumsi pemakaian air dirumah makan adalah

0.5 hingga 4 gallon per meal per day (sumber : Harrold E. Babbit, M.S, 1967).

Untuk Dumai Camp digunakan asumsi penggunaan air adalah 2 gallon per

meal per day atau sekitar 7,57 Liter per meal per day. Berikut adalah tabel

penggunaan air untuk keperluan rumah makan :

Rumah Makan Meal per Day dm3/detik


Snack Bar DCC 50 0.004381
Mess Hall 80 0.007009
Golf Shop 10 0.000876
Swimming Pool 10 0.000876

110
Tabel 5.7. Kebutuhan air bersih untuk Rumah Makan pada area Dumai Camp

6. Rumah Sakit

Kebutuhan air untuk rumah sakit digunakan untuk keperluan sanitasi. Rumah

sakit Dumai juga memiliki beberapa fasilitas kantor penunjang. Sehingga untuk

perhitungan penggunaan air, digunakan dua standard yaitu : Standard penggunaan air

untuk Rumah Sakit dan standard penggunaan untuk kantor.

Untuk rumah sakit di Dumai Camp digunakan asumsi penggunaan air untuk

perkantoran sebesar 120 liter per hari dan untuk keperluan pasien rumah sakit

sebesar 500 Liter per bed per day.

Maka penggunaan air untuk keperluan seluruh rumah sakit dapat dilihat

dalam tabel berikut :

Rumah Sakit Asumsi Jumlah dm3/deti


banyak pegawai 120 liter per day 13 0.018
Pemakaian
asumsi pasien perhari 500L/bed/day 10 k 0.058
Total 23 0.0759
Tabel 5.8. Kebutuhan air bersih untuk Rumah Sakit

7. Kolam Renang

Dumai Camp memiliki sebuah kolam renang yang dapat digunakan untuk

keperluan rekreasi atau berolah raga pegawai PT. CPI dan keluarga. Swimming Pool

Dumai memiliki ukuran panjang 25 m, lebar 12,5 m dan kedalaman terdalam 10 feet

111
dan kedalaman paling rendah 4 feet. Pemakaian air juga digunakan untuk keperluan

mandi pengguna kolam renang sebelum atau sesudah berenang, mencuci kaki dll.

Pada kolam renang Dumai juga digunakan penambahan chlorine dengan

menempatkan sebuah ruang pompa chlorine sehingga kualitas air di kolam renang

dapat terjaga. Penggunaan air untuk kolam renang dapat dilihat dalam tabel berikut

ini :

Swimming Pool Asumsi Pemakaian dm3/detik


Pengunjung @ 10 orang/hari 40 L/orang/hari 0,05

Tabel 5.9. Kebutuhan air bersih untuk Kolam Renang

8. Perpustakaan

Air bersih untuk keperluan perpustakaan digunakan untuk keperluan setiap

pembaca yang datang, seperti mencuci tangan, mencuci muka, menyiram toilet dan

sebagaianya. Asumsi pengunjung yang datang ke perpustakaan adalah 15 orang,

diasumsikan pemakaian air per orang per hari untuk keperluan pemakaian air pada

perpustakaan adalah 25 L/orang/hari.

Jumlah Pengunjung dm3/detik


perpustakaan
15 0,04

Tabel 5.10. kebutuhan air bersih untuk Perpustakaan

112
9. Gedung Olahraga

Dumai Camp memiliki gedung olahraga yang digunakan oleh pegawai

PT.CPI sarana rekreasi,olahraga dan berkumpul untuk saling bertukar pikiran.

Gedung olah raga ini juga digunakan untuk acara-acara khusus seperti pertandingan

olah raga dan lainnya. Air bersih untuk keperluan gedung olahraga digunakan untuk

keperluan mencuci muka, kaki, flushing toilet dan lainnya. Asumsi pemakaian air

untuk gedung olah raga adalah 30 L/orang/hari. Diasumsikan banyaknya rata-rata

pengunjung yang berolah raga setiap harinya adalah 10 orang.

Jumlah Pengunjung dm3/detik


Gedung Olah Raga
10 0,03
Tabel 5.11. Kebutuhan air bersih untuk Gedung Olahraga

V.4 Rekapitulasi Total Penggunaan Air

Asumsi penggunaan air setelah di jumlahkan dan digabungkan semuanya

dapat dilihat pada tabel 5.12 berikut :

Penggunaan Air dm3/detik


Domestik 0.595881
Kantor 0.03
Sekolah 1.29
Wisma 0.0093
Mesjid 0.0069
Rumah Makan 0.013
Hospital 0.0759

113
Swimming Pool 0.05
Library 0.04
Gedung Olahraga 0.03
Total 2.141
Tabel 5.12. Rekapitulasi estimasi penggunaan air pada area Dumai Camp

V.5 Pola Pemakaian Air

WTP Dumai tidak menggunakan perhitungan terhadap penggunaan air yang

digunakan oleh penghuni kompleks Dumai Camp. Dalam software EPANET 2.0

dapat digunakan pola pemakaian air untuk satu hari selama 24 jam berdasarkan pola

pemakaian tersendiri.

Tidak dilakukannya perhitungan pemakaian air menyebabkan kesulitan dalam

menentukan pola pemakaian air yang akan digunakan. Untuk menentukan pola

pemakaian air yang belum diketahui pada suatu kota biasanya digunakan pola

konsumsi penggunaan air pada kota yang dianggap memiliki karakter yang mirip

dengan kota yang akan diteliti sebagai acuan. Dalam studi ini, untuk menemukan

pola konsumsi air pada kota yang mirip dengan karakteristik Dumai Camp adalah hal

yang sulit. Dumai Camp merupakan kompleks yang unik, Dumai Camp terletak di

Indonesia yang beriklim tropis sehingga mengakibatkan tingginya tingkat pemakaian

air. Karakteristik penduduk yang cenderung seragam, baik tingkatan sosial,

pendidikan, penghasilan, usia dan kegiatan yang berhubungan dengan pemakaian air.

Air yang tidak dikenakan biaya juga dapat mempengaruhi pola konsumsi pemakaian

air.

Pembandingan pola konsumsi Dumai Camp dengan kota yang ada di

Indonesia lainnya dianggap oleh peneliti akan tidak tepat. Kota lain biasanya

114
memiliki karakteristik penduduk dengan perbedaan demografi yang sangat

mencolok, baik usia, pendidikan, penghasilan, pekerjaan, kegiatan dan sebagainya.

Sehingga akan sangat rancu apabila pola konsumsi air pada Dumai Camp dianggap

sama dengan kota-kota lain di Indonesia.

Pola hidup di Dumai Camp cenderung stabil dan seragam. Pada pukul 7 pagi

hampir semua kegiatan dimulai, seperti bekerja, sekolah dan sebagainya.

Berdasarkan kenyataan ini, peneliti mengasumsikan pola konsumsi air untuk Dumai

Camp sebagaimana yang ditampilkan pada tabel. Jam maksimum ditetapkan pukul 6

pagi. Hal ini dengan pertimbangan banyak kegiatan yang mulai dilakukan pada pukul

7 pagi, sehingga penghuni Dumai Camp akan melakukan aktifitas seperti mandi,

sarapan dan lainnya pada satu jam sebelumnya. Kegiatan ini akan dilakukan hampir

disemua titik di Dumai Camp. Total faktor pengali selama 24 jam setelah

dijumlahkan harus 24 sesuai dengan waktu 24 jam dalam sehari.

Jam ke- Faktor


1 0,5
Pengali
2 0,5
3 0,6
4 0,7
5 0,8
6 1,9
7 1,3

115
8 1,2
9 1,2
10 1,2
11 1,3
12 1,2
13 1,2
14 1,2
15 1,1
16 1,3
17 1,3
18 1,1
19 1
20 0,8
21 0,7
22 0,7
23 0,6
24 0,6
Total 24
Tabel 5.13. Pola penggunaan air minum di Dumai Housing Camp

Pola konsumsi ini bervariasi terhadap pola waktu konsumsi selama 24 jam.

Untuk tiap jam factor pengalinya bervariasi berdasarkan tingkat pemakaian airnya

selama 24 jam. Dari tabel 5.1 terlihat bahwa jam penggunaan puncak terjadi pada

jam ke 6 (pukul 06:00 WIB).

Pola konsumsi ini digunakan dalam menentukan pattern konsumsi pada

junction dalam EPANET 2.0, seperti yang terlihat pada gambar 5.1 berikut:

116
Gambar 5.1. Pattern editor properties untuk Pola konsumsi pada EPANET 2.0

V.6. Desain Pompa

V.6.1. Kerugian pada Sistem perpipaan Distribusi

• Pada Pipa

Ø = 8 inchi = 0.2 m

L = 7150 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

Luas penampang (A)

π × D2
A= = 0.0314 m2
4

Kecepatan ( v )

Q 0.034
v= = = 1.146 m/detik
A 0.0314

L ×v 2 0,0005
Hf = λ , dimana λ = 0,002 +
D ×2g D

0,0005
λ = 0,002 +
0,2

λ = 0,0225

117
7150 ×1,146 2
Maka : Hf = 0,0225 = 80 ,84 m
0,2 × 2(9,8)

• Pada belokan ( Elbow 900)

Ø = 8 inchi = 0,2 m

Jumlah = 27 buah

V = 1,146 m/detik

Menurut Mays Larry W. Water Resources Engineering(1st ed). John

Wiley & sons (Asia) Pte, Ltd. Singapore. (2004), diketahui nilai koefisien (K)

untuk Elbow 900, standard adalah sebesar 0,25. Maka didapat nilai Hf untuk

Elbow 900 adalah :

v2
Hf = K
2g

1,146 2
Hf = 0,25 = 0,017 m
2(9,8)

Maka Hf total = 0,017 x 27 = 0,45 m

• Pada belokan ( Elbow 900)

Ø = 3 inchi = 0,0762 m

R = 3/2 D = 3/2 x 0,0762 = 0,1143 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

118
K = 0,25

π × D2
A= = 0,0045 m2
4

Q 0.034
v= = = 8 m/detik
A 0.0045

v2
Maka : Hf = K
2g

82
Hf = 0,25 = 0.816 m
2(9,8)

• Reducer 10 inchi X 8 inchi

Jumlah = 2 buah

D1 = 8 inchi = 0.20 m D2 = 10 inchi = 0.254 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

Menurut Mays Larry W. Water Resources Engineering(1st ed). John

Wiley & sons (Asia) Pte, Ltd. Singapore. (2004)

119
π × D1
2
π × 0.2 2 V1 =
Q
=
0.034
= 1.083 m/detik
A1 = = = 0.0314 m2 A1 0.0314
4 4

π × D2
2
π × 0.2542 V2 =
Q
=
0.034
= 0.68 m/detik
A2 = = = 0.05 m2 A2 0.05
4 4

1 D V 2
2
1   0.2   0.68 2
2

Hf = 1 −  1   2 = 1 −  = 0.0045 m
2   D2  2 g 2   0.254   2 × 9.8
   

Hf total = 2 x 0.0045 = 0.0089 m

• Reducer 8 inchi X 3 inchi, dipecah terdiri dari reducer 8” X 6” dan 6” X

3”.

D2 = 8 inchi = 0.20 m D1 = 6 inchi = 0.1524 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

π × D1
2
π × 0.15242 V1 =
Q
=
0.034
= 1.9 m/detik
A1 = = = 0.018 m2 A1 0.018
4 4

π × D2
2
π × 0.2 2 V2 =
Q
=
0.034
= 1.08
A2 = = = 0.0314 m2 A2 0.0314
4 4

m/detik

1 D V 2
2
1   0.1524   1.08 2
2

Hf = 1 −  1   2 = 1 −    = 0.0124 m
2   D2 2g 2 2 × 9 .8
     0.2  

D3 = 3” = 0.0762 m

120
π × D3
2
π × 0.07622 V3 =
Q
=
0.034
= 7.6
A3 = = = 0.0045 m2 A3 0.0045
4 4

m/detik

1 D  V 2
2
1   0.1524   7.6 2
2

Hf = 1 −  1   3 = 1 −  = 0.62m
2   D3   2 g 2   0.2   2 × 9.8
  

Jumlah masing-masing 1 buah, maka Hf total adalah :

Hf total = 1 X (0.0124 + 0.62) = 0.63 m

• Reducer 8 inchi X 2 inchi, dipecah terdiri dari reducer 8” X 4” dan 4” X

2”.

D2 = 4 inchi = 0.1 m D1 = 2 inchi = 0.0508 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

π × D1
2
π × 0.05082 V1 =
Q
=
0.034
= 17 m/detik
A1 = = = 0.002 m2 A1 0.002
4 4

π × D2
2
π × 0.12 V2 =
Q
=
0.034
= 4.9 m/detik
A2 = = = 0.007 m2 A2 0.007
4 4

1 D V 2
2
1   0.0508   4.9 2
2

Hf = 1 −  1   2 = 1 −   = 0.45m
2   D2  2 g 2   0.1   2 × 9 .8
   

D3 = 8” = 0.2 m

π × D3
2
π × 0.2 2 V3 =
Q
=
0.034
= 1.08 m/detik
A3 = = = 0.0314 m2 A3 0.0314
4 4

121
1 D V 2
2
1   0.2   1.08 2
2

Hf = 1 −  3   = 1− = 0.089 m
2 g 2   0.1  
3
2   D2  2 × 9 .8
   

Jumlah masing-masing 1 buah, maka Hf total adalah :

Hf total = 1 X (0.45 + 0.089) = 0.54 m

• Check Valve

Ø = 8” = 0.2 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

Jumlah = 1 buah

Menurut Mays Larry W. Water Resources Engineering(1st ed). John

Wiley & sons (Asia) Pte, Ltd. Singapore. (2004), diketahui nilai koefisien

kehilangan energi untuk fitting pipa tipe check valve (double door) adalah

sebesar :

Ukuran lebih ≤ 8 inchi : 2.5

Ukuran 10 inchi – 16 inchi : 1.2

Maka dapat dihitung nilai Hf untuk check valve sebagai berikut :

π × D 2 π × 0 .2 2 Q 0.034
A= = = 0.0314 m2 V = = = 1.08 m/detik
4 4 A 0.0314

V2 1.08 2
Hf = K = 2.5 = 0.15 m
2g 2 ×9.8

• Gate Valve

122
Ø = 8” = 0.2 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

Jumlah = 11 buah

Menurut Mays Larry W. Water Resources Engineering(1st ed). John

Wiley & sons (Asia) Pte, Ltd. Singapore. (2004), diketahui nilai koefisien

kehilangan energi untuk fitting pipa tipe Gate valve (double disc) adalah

sebesar 0.1 - 0.2.

Maka dapat dihitung nilai Hf untuk gate valve sebagai berikut :

π × D 2 π × 0 .2 2 Q 0.034
A= = = 0.0314 m2 V = = = 1.08 m/detik
4 4 A 0.0314

V2 1.08 2
Hf = K = 0.2 = 0.012 m
2g 2 × 9.8

Hf total = 0.012 X 11 = 0.13 m

setelah dilakukan perhitungan head loss pada seluruh sistem perpipaan

distribusi, maka dapat diketahui total head lossnya adalah :

Hf total = ( 80.84 + 0.45 + 0.816 + 0.0089 + 0.63 + 0.54 + 0.15 + 0.13 )

= 83.5649 m

sehingga untuk mencari head pompa dapat digunakan persamaan Bernoulli. Menurut

Frank M. White (1986), , persamaan Bernouli dirumuskan sebagai berikut :

P1 V1
2
P V 2 
+ + Z 1 =  2 + 2 + Z 2  + hs + h f
ρg 2 g  ρg 2 g 

123
2 2
P2 − P1 V2 − V1
Atau : hs = + + ( Z 2 − Z1 ) + h f
γ 2g

Dimana

dimana : adalah perbedaan head tekanan. Dimana tekanan pada pipa terjauh

(pipa no 214) adalah. Besarnya tekanan standar adalah 1,0

kgf/cm2 = 98066.5 Pa.

adalah perbedaan head kecepatan

V1 Kecepatan pada titik 1 yang besarnya 0 m/s

V2 Kecepatan air pada titik 2 dimana untuk perencanaan awal

digunakan kecepatan sebesar 2 m/dtk.

Z2 – Z1 adalah perbedaan head statis

hf adalah head losses total ( Hf total )

γ Berat jenis air (9810 N/ m3)

hs adalah Head Pompa

Sehingga untuk mencari Head Pompa adalah sebagai berikut :

2 2
p 2 − p1 V2 − V1
hs = + + Z 2 − Z1 + h f
γ 2g

98060 − 0 (2) 2 − (0) 2


hs = + + (7,62 −18 ) + 83,5649
9810 2(9,81)

124
hs = 83 ,38 ≈ 85 m

Maka didapat Head Pompa sebesar 85 m

V.6.2. Kapasitas Pompa

Kapasitas pompa yang digunakan yaitu sebesar 33,89 liter per detik yang

merupakan total dari seluruh sumber air baku yang akan diolah di WTP-Dumai

sebelum didistribusikan kepada konsumen.

Tabel 5.14 Kapasitas total pemompaan

Sumber air baku Kapasitas (liter per detik)

Sungai Dumai 7,89

Sumur dalam (Water Well) 1 14

Sumur dalam (Water Well) 1 12

Total 33,89

Berdasarkan hasil perhitungan head pompa dan dari data kapasitas pompa

yang digunakan, dapat dilihat bahwa spesifikasi pompa sesuai dengan spesifikasi

pompa yang digunakan pada Water Treating Plant Dumai.

V.7. Diameter Pipa Distribusi

Kecepatan standar didalam pipa biasanya sebesar 0.9-1.5 m/dtk dan batas

maksimumnya berkisar antara 1.5-2.0 m/dtk. Bila kecepatan aliran pipa yang

125
digunakan sebesar 2.0 m/detik, maka diameter pipa distribusi dapat dihitung sebagai

berikut :

Qp =V × A

4 × Qp
D=
π ×Vs

4 ×0,034
D=
3,14 × 2,0
= 0,147 m = 5,787 inchi ≈ 6 inchi

Dari hasil perhitungan diatas, dipilih pipa berdiameter 6 inchi untuk jaringan

pipa utama dan pipa dengan diameter 4 inchi untuk jaringan pipa sekundernya.

Kondisi eksisting pada jaringan pipa saat ini menggunakan pipa dengan

diameter 8 inchi untuk pipa utama dan pipa dengan diameter 6 inchi untuk pipa

sekundernya.

V.8. Evaluasi Head Pompa

Setelah diketahui diameter pipa yang efisien dari hasil perhitungan diatas,

maka head pompa yang efisien juga dapat diketahui setelah dilakukan perhitungan

kembali untuk kerugian pada sistem perpipaan seperti dibawah ini :

Ø = 6 inchi = 0.147 m

L = 7150 m

Q = 33.89 L/detik = 0.034 m3/detik

Luas penampang (A)

126
π × D2
A= = 0.0169 m2
4

Kecepatan ( v )

Q 0.034
v= = = 2.01 m/detik
A 0.0169

L ×v 2 0,0005
Hf = λ , dimana λ = 0,002 +
D ×2g D

0,0005
λ = 0,002 +
0,147

λ = 0,0054

7150 × 2,01 2
Maka : Hf = 0,0054 = 54 .14 m
0,147 × 2(9,8)

setelah dilakukan perhitungan head loss pada seluruh sistem perpipaan

distribusi, maka dapat diketahui total head lossnya adalah :

Hf total = ( 54.14 + 0.45 + 0.816 + 0.0089 + 0.63 + 0.54 + 0.15 + 0.13 )

= 56.86 m

Sehingga Head Pompa setelah adanya evaluasi terhadap diameter pipa adalah

sebagai berikut :

2 2
p − p1 V2 − V1
hs = 2 + + Z 2 − Z1 + h f
γ 2g

98060 − 0 (2) 2 − (0) 2


hs = + + (7,62 −18 ) + 56 ,86
9810 2(9,81)

127
hs = 58 .34 ≈ 60 m

Maka didapat Head Pompa sebesar 60 m

V.9. Rekapitulasi Kondisi Eksisting dan Hasil Evaluasi

V.9.1. Diameter Pipa

PIPA EKSISTING EVALUASI


UTAMA PVC Ø 8 inchi PVC Ø 6 inchi
SEKUNDER PVC Ø 6 inchi PVC Ø 4 inchi

V.9.2. Headloss Pada Seluruh Sistem Perpipaan Distribusi

EKSISTING EVALUASI PERBEDAAN


83.5649 meter 56.86 meter 26.7049 meter

V.9.3. Head Pompa

EKSISTING EVALUASI PERBEDAAN


85 meter 60 meter 25 meter

Setelah dilakukannya evaluasi terhadap diameter pipa yang ada, dimana

menurut penulis penggunaan diameter pipa utama dan diameter pipa sekunder

kurang efisien dan ekonomis. Sehingga setelah dilakukan evaluasi didapat bahwa

diameter pipa utama dapat diperkecil dari diameter 8 inchi menjadi diameter 6 inchi

dan untuk diameter pipa sekunder dapat diperkecil dari diameter 6 inchi menjadi

diameter 4 inchi. Sehingga nilai headloss yang terjadi pada jaringan perpipaan

distribusi (pipa utama) yang cukup besar yaitu 83.5649 meter dapat diperkecil

menjadi 56.86 meter. Untuk besarnya nilai head pompanya sendiri juga dapat

128
diperkecil setelah dilakukan evaluasi terhadap diameter pipa yang digunakan, dimana

nilai head pompanya dapat diperkecil dari 85 meter menjadi 60 meter.

BAB VI

HASIL PEMODELAN SOFTWARE EPANET 2.0 DAN EVALUASI DENGAN

METODE HARDY CROSS

VI.1. Hasil Pemodelan Software EPANET 2.0

Input data yang benar dan data yang sesuai akan memberikan laporan tentang

sistem yang berjalan. Laporan dapat diminta sesuai kebutuhan atau membuat

laporan dengan full report. Laporan full report memberikan laporan dalam bentuk

matriks kolom dan baris. Laporan ini dapat dibuka dalam aplikasi Microsoft Word.

Laporan Full Report memberikan laporan secara mendetail untuk output perhitungan

pada setiap jam pada simulasi, setiap links (perpipaan) berupa data panjang,

diameter, titik awal dan akhir pipa, flow pada pipa, kecepatan pada pipa, headloss

129
dan status pipa (terbuka atau tertutup). Report pada setiap nodes (titik pelayanan atau

sambungan) berupa data demand, pressure, head dan kulitas air (konsentrasi

Chlorine).

Report lain dari software EPANET 2.0 dapat juga berupa grafik dan tabel

untuk data tertentu pada setiap junction atau nodes yang diinginkan, misalnya :

laporan kebocoran, pola konsumsi dan produksi dan sebagainya.

VI.1.1 Tekanan hidrolis pada titik-titik layanan

Pada area kompleks perumahan PT. Chevron Pacific Indonesia distrik Dumai,

pengukuran tekanan pada perumahan hanya dilakukan pada beberapa titik saja.

Dalam software EPANET 2.0, kita dapat mengetahui pressure yang ada pada tiap-

tiap titik layanan yang ingin diketahui. Hal ini dapat memudahkan kita untuk

mengetahui secara pasti daerah-daerah layanan mana saja dalam area perumahan

yang mengalami pressure yang rendah, sehingga dapat dibuat keputusan-keputusan

manajerial yang cepat dan tepat untuk mengatasinya.

VI.1.2 View – Query

Selain kemampuan menampilkan animasi aliran, visualisasi dengan tabel atau

grafik, EPANET 2.0 juga dapat menfilter data dengan cepat sesuai dengan aturan

output yang kita inginkan. Dimisalkan pada contoh, peneliti ingin mengetahui titik

yang memiliki titik tertinggi. Pemilihan ini untuk melihat titik-titik yang rawan

negatif pressure. Untuk itu digunakan bantuan View – Query yang dapat diakses dari

Menu Bar. Pada gambar dibawah ini merupakan visualisasi dari hasil pencarian

elevasi yang berada diatas 18 m. Dalam studi ini, hasil analisa program setelah

dijalankan, tidak terdapat titik yang mengalami negatif pressure pada area

130
perumahan. hal ini dikarenakan WTP Dumai yang bertanggung jawab dalam

pendistribusian air bersih pada seluruh area PT. CPI pada umumnya dan area

perumahan PT. CPI pada khususnya sangat profesional dalam perencanaan awal dan

proses operasional sehari-hari.

Gambar 6.1 Hasil Menu – Query untuk titik dengan ketinggian diatas 18 m

Menu Query akan sangat bermanfaat dalam membantu mencari parameter

yang ingin dianalisa, misalnya untuk mencari node dengan pressure terendah, link

dengan kecepatan yang sangat kecil, node atau link dengan kualitas chlorine yang

rendan dan sebagainya.

VI.1.3 Head pada pipa

EPANET 2.0 juga dapat memberikan gambaran profil hidrolis pressure

(tekanan) untuk jalur perpipaan manapun yang dikehendaki. EPANET 2.0 dapat

menggambarkan gambar profil hidrolis jalur-jalur yang ingin kita lihat dengan cepat

dan akurat. Gambar ini dapat diminta untuk setiap jam tertentu selama simulasi.

Profil Hidrolis (Profil Head Tekan) dapat dengan cepat digambarkan. Cara ini akan

lebih cepat dan akurat jika dibandingkan dengan melakukan perhitungan dengan

131
Microsoft Excel dan kemudian menggambarkan hasil perhitungan dengan AutoCAD.

Penggambaran dan perhitungan Head dengan Microsoft Excel untuk jaringan

perpipaan berbentuk Loop merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Kesulitan

akan ditemukan terutama pada saat perhitungan kecepatan aliran didalam pipa.

EPANET dapat menghitung kecepatan aliran dalam pipa loop dan

menggambarkannya secara visual, hal ini merupakan salah satu kelebihan EPANET

2.0 yang paling penting.

Gambar 6.2 Cara melihat hasil analisa epanet berupa profil head kontur

132
pada jam ke 00:00 (awal simulasi)

Gambar 6.2 Profil Head Kontur pada jam ke- 00:00 (awal simulasi)
VI.1.4 Kecepatan Aliran
Perhitungan kecepatan aliran apabila dilakukan secara manual maupun

menggunakan bantuan Microsoft Excel pada suatu aliran pipa loop sangatlah sulit.

Hal ini dikarenakan karena perhitungan harus dilakukan secara satu persatu. Dalam

software EPANET 2.0, kecepatan aliran dapat dengan mudah diketahui sesuai

dengan ketentuan yang kita inginkan, misalnya : kecepatan aliran pada pipa dengan

kecepatan dibawah 0.01 m/s ataupun kecepatan aliran pada pipa-pipa tertentu saja.

Dalam menu View – Query, sekali lagi kita dimudahkan oleh software

EPANET 2.0 untuk mengetahui keadaan kecepatan aliran pada pipa dengan kondisi

yang kita inginkan. Selain menu View – Query, EPANET 2.0 juga dapat

133
memberikan laporan penuh kecepatan (velocity) pada tiap-tiap pipa selama jangka

waktu analisis yang kita atur sebelum perencanaan.

VI.1.5 Kehilangan energi pada pipa (Headloss)

Secara matematis perhitungan headlos yang terjadi pada pipa dapat dengan

mudah dilakukan menggunakan beberapa persamaan-persamaan yang telah ada,

seperti Hazen-Williams, Darcy-Weisbach dan Chezzy-Manning. Akan tetapi jika kita

akan mengetahui kehilangan tenaga pada seluruh jalur pipa dalam jaringan perpipaan

yang kompleks, terutama sistem loop, sangatlah sulit untuk melakukannya. Software

EPANET 2.0 dapat melakukan perhitungan unit Headloss pada tiap-tiap pipa yang

terpasang dalam suatu jaringan perpipaan. Bahkan untuk jaringan perpipaan yang

kompleks sekalipun. Untuk mengetahui besarnya kehilangan tenaga (headloss) yang

terjadi dapat diketahui dengan dua cara. Cara pertma kita dapat menggunakan Menu

View – Query dalam Menu Bar yang ada dalam EPANET 2.0. Cara berikutnya

adalah dengan melihat hasil analisa EPANET 2.0 dalam bentuk Full Report. Jika kita

ingin mengetahui keadaan headloss pada pipa dengan kondisi-kondisi yang kita

inginkan, pemilihan cara pertama sangatlah tepat untuk dilakukan. Dalam gambar

dibawah ini menunjukkan hasil visualisasi menggunakan Menu View –Query dengan

keadaan headloss yang berada diatas 3 m/km.

134
Gambar 6.3 Headloss pada pipa dengan kondisi headloss diatas 8 m/km.
Selain tampilan visualisasi untuk berbagai macam parameter-parameter aliran

dalam pipa yang berupa grafik, EPANET juga dapat memberikan hasil analisa

parameter-parameter aliran pada tiap-tipa titik (nodes) dalam bentuk tabel. Berikut

ini merupakan contoh dari hasil analisa aliran berupa tabel :

Gambar 6.4 Tabel selection untuk melihat hasil pada jam yang kita inginkan

135
Tabel 6.1 Hasil analisa EPANET 2.0 berupa Tabel Jaringan pada jam ke 06:00

VI.1.6 Laporan Full Report

Hasil analisa software EPANET 2.0 dalam studi kali ini akan lebih lengkap

dijabarkan dalam hasil laporan Full Report selama 168 jam atau 7 hari waktu analisa

yang telah ditetapkan dalam perencanaan awal. Laporan Full Report ini dapat dibuka

dalam format file Microsoft Office Word sebanyak 1.583 halaman. hal ini dapat

memudahkan kita dalam membukanya untuk proses pencetkan dan sebagainya.

Karena banyaknya jumlah lembar halaman hasil Full Report analisa software

EPANET 2.0 dalam studi ini, maka penulis hanya akan melampirkan pada halaman

lampiran seluruh hasil analisa Full Report untuk jam ke 06:00 saja, yaitu jam pada

saat waktu puncak penggunaan air di area komplek perumahan.

Dari beberapa penjabaran diatas, EPANET dapat membantu dengan mudah

memberikan berbagai macam laporan yang diinginkan. Hal ini memudahkan dalam

penetapan sebuah masalah dan pencarian solusi yang tepat.

VI.2. Evaluasi Hasil Pemodelan EPANET 2.0 dengan Metode Hardy Cross

136
Dalam melakukan evaluasi dari hasil pemodelan dengan menggunkan

software EPANET 2.0 ini, dilakukan dengan menggunakan metode Hardy Cross

untuk mencari Q0 (flow aliran) dari tiap pipa pada suatu sampel loop. Setelah didapat

flow aliran (Q0) dari masing-masing pipa, kemudian dibandingkan dengan hasil

pemodelan dengan menggunakan software EPANET 2.0 untuk dilihat perbedaan dari

hasil perhitungan dengan menggunakan metode Hardy Cross dengan hasil analisa

software EPANET 2.0. Dalam evaluasi ini sampel loop yang diambil adalah loop

pada area kompleks Mendut saja dan dianggap dapat mewakili kondisi evaluasi

seluruh jaringan pipa.

137
Gambar 6.4 Loop pada area kompleks Mendut serta besarnya
debit masuk

Dan debit pengambilannya

Data-data pipa sebagai berikut :

Pipa 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 6-7 7-8 1-8 2-7 3-6
Diameter(m
) 0.203 0.203 0.203 0.152 0.152 0.152 0.152 0.152 0.152 0.152
panjang (m) 109.50 85.10 95.00 205.00 120.00 100.00 103.40 369.08 305.82 245.85
C 100
dengan C = 100

; hf = KQo1,85 ;δ=-

Iterasi 1

Gambar 6.5 Besar masing-masing debit asumsi pada jaringan perpipaan

138
pada komplek Mendut.

Itera
si I
Iterasi 2
Pip
LOOP
LOOP a Pip K K QoQo hf hf hf/Qo
hf/Qo
a 7601.96 0.0043 0.325 74.755 UNTUK
1 1-81-8 7601.96
76 0.0042
50 0.309
2 73.018
3 UNTUK
LOOP 1 LOOP
76 31 0 2 1-
8-7 2129.73
2129.730.0042
0.00410.086
0.08120.413
19.924 δ0.00011
0.000070
1 8-7 73 73 21 02 2 7 2 3 δ 9 3
7-2 6298.99
6298.990.0017
0.00210.048
0.07428.288
34.271
7-2 68 68 30 68 9 3 5 2
2-1 551.178
551.1780.0181
0.01820.331
0.33518.253
18.354
2-1 4 4 50 69 3 3 1 5
- 145.56
0.031 141.71
0.018
1 02 82
9
Pip
LOOP a K Qo hf hf/Qo
LOOP Pip K Qo hf hf/Qo
428.358 0.0164 0.213 13.027 UNTUK
a
3-2 7 20 9 9 LOOP 2
2 3-2 428.358 0.0161 0.206 12.812 UNTUK LOOP
6298.99 0.0017 0.048 28.288 0.00031
7 01 3 2 2
2-7 68 30 9 5 δ 9
2 2-7 6298.99 0.0021 0.074 34.271 δ -
2059.70 0.0050 0.117 23.093
68 68 3 2 0.000101
7-6 73 76 2 2
6
5063.79 0.0005 0.004
7-6 2059.70 0.0053 0.131 24.322
6-3 04 46 7 8.5366
73 95 2 6
-
6-3 5063.79 0.0011 0.017 15.505
0.043 72.946
04 02 1 7
1 3
0.016 86.911
3 7
Pip
LOOP a K Qo hf hf/Qo
LOOP Pip 4222.39
K 0.0044
Qo 0.187 hf 42.221
hf/Qo UNTUK
5-4 a 99 36 3 7 LOOP 3
3 5-4 4222.39 0.0042 0.169 40.298 UNTUK -LOOP
478.191 990.0169 000.253 214.953 1 0.00023
3
3 4-34-3 3 66
478.191 0.0167 7 8
0.247 14.776 δ δ 7 -
5063.79 30.0005 290.004 2 2 0.000028
3-6 04 46 7 8.5366 9
3-6 2471.64
5063.790.0044
0.00110.110
0.01724.826
15.505
5-6 87 04 60 02 7 1 8 7
6-5 2471.64 0.0042 0.039 90.538
0.100 23.701
87 23 7 1 9 8
0.005 94.281
0 7

139
Iterasi 3

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
7601.96 0.0043 0.318 UNTUK
1-8 76 02 5 74.0473 LOOP 1
-
2129.73 0.0041 0.084 0.00002
1 8-7 73 72 3 20.2140 δ 3
6298.99 0.0019 0.063
7-2 68 96 8 31.9480
551.178 0.0181 0.332
2-1 4 98 9 18.2945
0.006 144.503
2 8

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
428.358 0.0162 0.208 UNTUK
3-2 7 02 7 12.8809 LOOP 2
6298.99 0.0019 0.063 0.00002
2-7 68 96 8 31.9480 δ 1
2
2059.70 0.0052 0.126
7-6 73 94 7 23.9327
5063.79 0.0010 0.015
6-3 04 30 1 14.6321
-
0.003
2 83.3937

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
4222.39 0.0041 0.167 UNTUK
5-4 99 71 1 40.0623 LOOP 3
-
478.191 0.0167 0.246 0.00002
3 4-3 3 01 4 14.7545 δ 6
5063.79 0.0010 0.015
3-6 04 30 1 14.6321
2471.64 0.0041 0.098
6-5 87 94 8 23.5638

140
0.004
4 93.0127

Iterasi 4

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
7601.96 0.00427 UNTUK
1-8 76 9 0.3154 73.7103 LOOP 1
2129.73 0.00414 0.00000
8-7 73 9 0.0835 20.1191 δ 5
1
6298.99 0.00204
7-2 68 0 0.0664 32.5396
551.178 0.01822
2-1 4 1 0.3337 18.3142
- 144.683
0.0012 2

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
428.358 0.01618 UNTUK
3-2 7 2 0.2082 12.8670 LOOP 2
-
6298.99 0.00204 0.00001
2 2-7 68 0 0.0664 32.5396 δ 3
2059.70 0.00531
7-6 73 4 0.1276 24.0116
5063.79 0.00107
6-3 04 6 0.0163 15.1902

0.0021 84.6084

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
3 4222.39 0.00414 UNTUK
5-4 99 5 0.1652 39.8513 LOOP 3
-
478.191 0.01667 0.00000
4-3 3 5 0.2457 14.7351 δ 5
3-6 5063.79 0.00107 0.0163 15.1902
04 6

141
2471.64 0.00416
6-5 87 8 0.0977 23.4404

0.0008 93.2170

Setelah dilakukan tahapan iterasi, maka didapat hasil akhirnya


adalah sebagai berikut :

Gambar 6.6 Debit akhir pada masing-masing jaringan pipa

pipa Epanet 2.0 (m3/detik) Hardy Cross (m3/detik) perbedaan


1-8 0.00431 0.004279 0.000031
8-7 0.00417 0.004149 0.000021
7-2 0.00171 0.002040 0.00033
2-1 0.01818 0.018221 0.000041
3-2 0.01647 0.016182 0.00028
2-7 0.00171 0.002040 0.00033
7-6 0.00576 0.005314 0.00045
6-3 0.00122 0.001076 0.00014
5-4 0.00442 0.004145 0.00027
4-3 0.01769 0.016675 0.001
3-6 0.00122 0.001076 0.00014
6-5 0.00445 0.004168 0.00028

142
Tabel 6.2 Hasil evaluasi pemodelan software EPANET 2.0 dengan metode Hardy

Cross.

Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan elevasi (Head) tiap titik Junction

pada jaringan pipa utama :

Gambar 6.7. Garis energi pada jaringan pipa utama

VI.3. Evaluasi Hasil Pemodelan EPANET 2.0 dengan Metode Hardy Cross

Setelah Adanya Evaluasi Terhadap Diameter Pipa.

Setelah dilakukannya evaluasi terhadap diameter pipa yang terpasang pada

jaringan perpipaan yang ada. Maka hasil permodelan dengan menggunakan software

EPANET 2.0 juga akan di evaluasi dengan menggunakan metode Hardy Cross.

Dalam evaluasi ini sampel loop yang diambil adalah loop pada area kompleks

Mendut saja dan dianggap dapat mewakili kondisi evaluasi seluruh jaringan pipa.

143
Gambar 6.8 Loop pada area kompleks Mendut serta besarnya
debit masuk

Dan debit pengambilannya

Data-data pipa sebagai berikut :

Pipa 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 6-7 7-8 1-8 2-7 3-6
Diameter 0,15 0,15 0,15 0,10 0,10 0,10 0,10
(m) 2 2 2 2 2 2 2 0,102 0,102 0,102
panjang 109, 85,1 95,0 205, 120, 100, 103, 369,0 305,8 245,8
pipa (m) 5 0 0 0 4 8 2 5
C 100

; hf = KQo1,85 ;δ=-

144
Gambar 6.9 Besar masing-masing debit asumsi pada jaringan perpipaan

setelah dilakukan evaluasi terhadap diameter pipa

Iterasi 1

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
53042.19 0.0032 1.32 407.11 UNTUK
1-8 08 50 31 99 LOOP 1
-
14860.09 0.0031 0.34 110.19 0.00002
1 8-7 14 21 39 14 δ 3
43950.80 0.0020 0.44 223.27
7-2 41 00 66 61
2255.379 0.0168 1.18 70.259
2-1 5 90 67 5
0.03 810.84
38 68

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo

145
1752.810 0.0148 0.73 49.056 UNTUK
3-2 9 90 04 4 LOOP 2
-
43950.80 0.0020 0.44 223.27 0.00071
2 2-7 41 00 66 61 δ 7
14371.46 0.0050 0.80 159.98
7-6 17 33 52 37
35332.23 0.0016 0.25 153.49
6-3 85 64 54 88
0.77 585.81
67 50

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
29461.49 0.0032 0.74 227.68 UNTUK
5-4 64 76 60 91 LOOP 3
1956.721 0.0165 0.99 59.922 0.00005
4-3 9 54 19 8 δ 5
3
35332.23 0.0016 0.25 153.49
3-6 85 64 54 88
17245.75 0.0033 0.44 134.09
5-6 40 00 25 70
-
0.05 575.20
88 76

Iterasi 2

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
53042.19 0.0032 1.306 404.72 UNTUK LOOP
1-8 08 27 2 01 1
-
14860.09 0.0030 0.339 109.51 0.000184
1 8-7 14 98 3 49 δ 8
43950.80 0.0013 0.202 155.40
7-2 41 06 9 57
2255.379 0.0169 1.189 70.339
2-1 5 13 6 1
0.253 739.97
0 98

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
2 3-2 1752.810 0.0156 0.796 51.056 UNTUK LOOP
9 07 8 3 2

146
-
43950.80 0.0013 0.202 155.40 0.000114
2-7 41 06 9 57 δ 7
14371.46 0.0043 0.606 140.40
7-6 17 17 1 12
35332.23 0.0008 0.080 90.344
6-3 85 92 6 5
0.092 437.20
7 77

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
29461.49 0.0033 0.769 230.94 UNTUK LOOP
5-4 64 32 4 99 3
-
1956.721 0.0166 0.998 60.092 0.000153
3 4-3 9 09 1 8 δ 7
35332.23 0.0008 0.080 90.344
3-6 85 92 6 5
17245.75 0.0033 0.456 136.00
6-5 40 55 3 38
0.147 517.39
1 10

Iterasi 3

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
53042.19 0.0030 1.17 384.93 UNTUK
1-8 08 43 12 58 LOOP 1
-
14860.09 0.0029 0.30 103.93 0.00002
1 8-7 14 13 28 71 δ 7
43950.80 0.0013 0.22 162.47
7-2 41 76 36 40
2255.379 0.0170 1.21 70.991
2-1 5 97 38 9
0.03 722.33
67 88

147
LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
1752.810 0.0157 0.80 51.375 UNTUK
3-2 9 21 77 0 LOOP 2
-
43950.80 0.0013 0.22 162.47 0.00009
2 2-7 41 76 36 40 δ 7
14371.46 0.0042 0.57 137.22
7-6 17 02 66 50
35332.23 0.0009 0.08 93.696
6-3 85 31 72 7
0.07 444.77
97 06

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
29461.49 0.0031 0.70 221.86 UNTUK
5-4 64 78 51 14 LOOP 3
-
1956.721 0.0164 0.98 59.619 0.00005
3 4-3 9 55 11 8 δ 9
35332.23 0.0009 0.08 93.696
3-6 85 31 72 7
17245.75 0.0032 0.41 130.68
6-5 40 02 84 94
0.05 505.86
52 72

Iterasi 4

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
53042.19 0.0030 1.15 381.97 UNTUK
1-8 08 15 17 88 LOOP 1
-
14860.09 0.0028 0.29 103.10 0.00002
1 8-7 14 86 76 33 δ 2
43950.80 0.0013 0.20 155.48
7-2 41 07 32 28
2255.379 0.0171 1.21 71.088
2-1 5 25 74 8

148
0.02 711.65
88 38

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
1752.810 0.0158 0.81 51.643 UNTUK
3-2 9 18 69 9 LOOP 2
-
43950.80 0.0013 0.20 155.48 0.00002
2 2-7 41 07 32 28 δ 4
14371.46 0.0041 0.55 134.53
7-6 17 05 23 14
35332.23 0.0008 0.08 90.445
6-3 85 93 08 0
0.01 432.10
93 32

LOO Pip
P a K Qo hf hf/Qo
29461.49 0.0031 0.68 218.35 UNTUK
5-4 64 19 11 66 LOOP 3
-
1956.721 0.0163 0.97 59.438 0.00003
3 4-3 9 96 46 1 δ 3
35332.23 0.0008 0.08 90.445
3-6 85 93 08 0
17245.75 0.0031 0.40 128.64
6-5 40 43 43 01
0.03 496.87
00 99

Iterasi 5

LO Pip
OP a K Qo hf hf/Qo
1 1-8 53042.19 0.0029 1.13 379.62 UNTUK
08 93 63 51 LOOP 1

149
-
14860.09 0.0028 0.29 102.43 0.00000
8-7 14 64 34 95 δ 5
43950.80 0.0013 0.20 155.25
7-2 41 04 25 52
2255.379 0.0171 1.22 71.165
2-1 5 47 03 9
0.00 708.48
70 58

LO Pip
OP a K Qo hf hf/Qo
1752.810 0.0158 0.81 51.710 UNTUK
3-2 9 42 92 8 LOOP 2
-
43950.80 0.0013 0.20 155.25 0.00001
2 2-7 41 04 25 52 δ 5
14371.46 0.0040 0.54 133.85
7-6 17 81 63 99
35332.23 0.0009 0.08 91.177
6-3 85 01 22 9
0.01 432.00
18 38

LO Pip
OP a K Qo hf hf/Qo
29461.49 0.0030 0.66 216.41 UNTUK
5-4 64 86 79 43 LOOP 3
-
1956.721 0.0163 0.97 59.337 0.00001
3 4-3 9 64 10 6 δ 2
35332.23 0.0009 0.08 91.177
3-6 85 01 22 9
17245.75 0.0031 0.39 127.50
6-5 40 10 65 45
0.01 494.43
13 42

Setelah dilakukan tahapan iterasi, maka didapat hasil akhirnya


adalah sebagai berikut :

150
Gambar 6.10 Debit akhir pada masing-masing jaringan pipa

pipa Epanet 2.0 (m3/detik) Hardy Cross (m3/detik) Perbedaan (m3/detik)


1-8 0.00311 0.002993 0.00012
8-7 0.00309 0.002864 0.00023
7-2 0.00179 0.001304 0.00048
2-1 0.0169 0.017147 0.00025
3-2 0.015 0.015842 0.00084
2-7 0.0015 0.001304 0.00048
7-6 0.00488 0.004081 0.0008
6-3 0.00151 0.000901 0.00061
5-4 0.00325 0.003086 0.00016
4-3 0.01631 0.016364 0.00005
3-6 0.00151 0.000901 0.00061
6-5 0.00328 0.003110 0.00017
Tabel 6.3 Hasil evaluasi pemodelan software EPANET 2.0 dengan metode Hardy

Cross setelah dilakukan evaluasi terhadap diameter pipa.

Dari tabel 6.2 dan 6.3 dapat diambil kesimpulan bahwa hasil analisa software

Epanet 2.0 sudah sangat mendekati dengan hasil perhitungan manual yang dilakukan

151
dengan menggunakan metode Hardy-Cross. Hal ini dapat dilihat dengan melihat

perbedaan yang terjadi dari hasil analisa Epanet dengan hasil perhitungan dengan

metode Hardy-Cross untuk aliran di dalam jaringan pipa pada sampel loop di area

komplek mendut sudah hampir mendekati 0.

Dari gambar 6.6 dan gambar 6.10 dapat dilihat debit akhir yang keluar dari

jaringan pada komplek mendut masing-masing sebesar 0,02082 m3/detik dan

0,01945 m3/detik. Dengan besarnya debit total pengambilan pada jaringan untuk

seluruh area perumahan setelah dikurangi debit pengambilan pada komplek mendut

yang sudah dianalisa dengan menggunakan metode Hardy-Cross, didapat besarnya

total debit pengambilan sebesar 0,523781 dm3/detik atau 0,000523781 m3/detik.

Dengan demikian besar debit keluaran yang didistribusikan yaitu sebesar 0,02082

m3/detik untuk debit keluaran dari komplek mendut pada kondisi eksisting dan

0,01945 m3/detik untuk kondisi jaringan setelah evaluasi dianggap masih dapat

memenuhi kebutuhan pengambilan pada seluruh jaringan pipa berikutnya.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

152
VII.1. Kesimpulan

1. Analisa distribusi air bersih dengan menggunakan pemodelan software

EPANET 2.0 dianggap dapat mendekati perhitungan manual dengan

menggunakan metode Hardy Cross. Hal ini disimpulkan setelah dilakukan

evaluasi hasil analisa EPANET 2.0 dengan menggunakan metode Hardy

Cross pada contoh loop di kompleks Mendut yang dianggap dapat mewakili

kondisi perhitungan seluruh loop yang ada.

2. Head pompa setelah dilakukan evaluasi terhadap diameter pipa pada kondisi

eksisting dapat diturunkan dari 85 meter menjadi 60 meter.

3. Setelah dilakukan evaluasi terhadap diameter pipa pada kondisi eksisting

yang ada di area perumahan karyawan PT.Chevron Pacific Indonesia, dapat

dilihat perbedaan yang ada pada tabel berikut ini :

Diameter Pipa

PIPA EKSISTING EVALUASI


UTAMA PVC Ø 8 inchi PVC Ø 6 inchi
SEKUNDER PVC Ø 6 inchi PVC Ø 4 inchi

Headloss Pada Seluruh Sistem Perpipaan Distribusi

EKSISTING EVALUASI PERBEDAAN


83.5649 meter 56.86 meter 26.7049 meter

Head Pompa

EKSISTING EVALUASI PERBEDAAN

153
85 meter 60 meter 25 meter

4. Tidak adanya penggunaan meteran air pada area kompleks perumahan karena

penyediaan fasilitas air bersih gratis untuk seluruh karyawan PT.Chevron

Pacific Indonesia dapat mengakibatkan rendahnya tingkat kesadaran

konsumen dalam hal penghematan penggunaan air bersih.

VII.2. Saran

154
1. Secara umum sistem penyediaan air bersih pada kompleks perumahan

karyawan PT. Chevron Pacific Indonesia distrik Dumai sudah cukup baik.

Akan tetapi perlu dilakukan juga perhitungan terhadap penggunaan air yang

sesungguhnya. Solusi terhadap permasalahan yang terjadi sebenarnya dapat

diselesaikan dengan sumber daya manusia yang tersedia pada WTP Dumai.

2. Pemodelan dengan EPANET 2.0 dapat membantu keputusan manajerial

dalam setiap kasus yang mungkin terjadi di lapangan. Untuk mendapatkan

situasi yang lebih sesuai dengan kenyataan dan semakin mendekati kondisi

sebenarnya perlu dilakukan pengembangan programing yang lebih intens.

Bagaimanapun, software hanyalah sebuah program bantu analisis, sementara

keadaan sebenarnya dilapangan merupakan keadaan yang sangat kompleks

dan peluang setiap kejadian yang dimodelkan dapat terjadi secara acak dan

tidak mudah ditebak.

3. Diperlukan penambahan injeksi asam yang berupa H2SO4 10% pada

degesfier unit untuk menurunkan kadar pH yang hampir mendekati ambang

batas maksimum yang di izinkan yaitu sebesar 8.5. kadar pH yang tinggi

dapat membahayakan kesehatan konsumen jika dikonsumsi secara terus

menerus dalam jangka waktu yang panjang.

4. Mengingat umur dan kondisi jaringan pipa yang sudah cukup lama dan

setelah dilakukan evaluasi terhadap penggunaan diameter pipa utama dan

sekunder pada jaringan pipa yang ada pada saat ini, penulis menyarankan

perlunya dilakukan pembaharuan jaringan pipa yang ada sebagai berikut :

• Pipa utama jenis PVC Ø 8 inchi diganti dengan pipa PVC Ø 6 inchi.

155
• Pipa sekunder jenis PVC Ø 6 inchi diganti dengan pipa PVC Ø 4

inchi.

5. Head loss yang terjadi pada pipa utama Ø 8 inchi menurut penulis cukup

besar, yaitu sebesar 80.84 m dengan head loss total (Hf total) pada seluruh

sistem perpipaan distribusi sebesar 83.5649 m. Akan tetapi jika diameter pipa

utama diganti menjadi Ø 6 inchi, head loss yang terjadi dapat diperkecil

menjadi 54.14 m dengan head loss total (Hf total) pada seluruh sistem

perpipaan distribusi sebesar 56.86 m.

6. Kerugian pada sistem jaringan pipa ini dianggap dapat lebih besar lagi

mengingat kondisi dinding pipa yang kemungkinan sudah mengalami

pengikisan akibat umur dari jaringan pipa itu sendiri yang sudah cukup tua.

7. Sebaiknya dilakukan penggunaan meteran air pada masing-masing

perumahan pada area kompleks perumahan. Hal ini dimaksudkan untuk

meningkatkan kepedulian konsumen pada area kompleks perumahan akan

penghematan penggunaan air. Selain itu penggunaan meteran air juga

menurut penulis akan sangat membantu dalam mengambil keputusan-

keputusan manajerial bagi pihak WTP-Dumai kedepannya untuk

meningkatkan pelayanan kepada konsumen.

156