Anda di halaman 1dari 30

BAB I

KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGERTIAN
Isolasi social adalah keadaan dimana seorang individu yang
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi
dengan orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa di tolak, tidak di
terima, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain (Keliat, 2006). Ganggua dalam berhubungan yang merupakan
mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan
cara menghindar interaksi dengan orang lain dan lingkunga. (Azizah, L.A.
Zainuri, I. Akbar, 2016)
Isolasi social merupakan upaya menghindari komunikasi dengan
orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak
mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien
mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain
yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan
tidak sanggup berbagi pengalaman. (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
Isolasi social merupakan kondisi kesendirian yang di alami oleh
individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagi suatu
keadaan yang negative dan mengancam. (Badar, 2016)

B. ETIOLOGI
Isolasi social menarik diri sering disebabkan oleh karena
kuranganya rasa percaya pada orang lain, perasaan panic, regrasi ke tahap
perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinnteraksi dimasa lampau,
perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut. Menurut Stuart &
Sudeen, Isolasi social disebabkan oleh gangguan konsep diri rendah.
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

1
a. Faktor Predisposisi (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
a) Faktor Perkembangan
Kemampuan membina hubungan yang sehat tergntung dari
pengalaman selama proses tumbuh kembang memiliki tugas yang
harus dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas
perkembangan ini tidak terpenuhi akan menghambat
perkembangan selanjutnya, kurang stimulasi kasih sayang,
perhatian dan kehangatan dari ibu (pengasuh) pada bayi akan
memberi rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya
rasa percaya.
b) Faktor Biologi
Genetik adalah salah satu factor pendukung gangguan jiwa, factor
genetic dapat menunjang terhadap respon social maladaptive ada
bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam
perkembangan gangguan ini namun tahap masih diperlukan
penilitian lebih lanjut.
c) Faktor Sosial Budaya
Faktor social budaya dapat menjadi factor pendukung terjadinya
gangguan dalam membina hubungan dengan orang lain, misalnya
anggota keluarga yang tidak produktif, diasingkan dari orang lain.
d) Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Pola komunikasi dalam keluarga dapat mengantarkan seseorang
dalam gangguan berhubungan bila keluarga bila keluarga hanya
mengkomunikasikan hal- hal yang negative akan mendorong anak
mengembangkan harga diri rendah.
b. Faktor Prespitasi
Stressor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang
penuh stress seperti kehilangan yang mempengaruhi individu untuk
berhubugan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. (Azizah,
L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

2
a) Faktor Nature (Alamiah)
Secara alamiah manusia merupakan mahluk holistic yang terdiri
dari dimensi bio-psiko-sosial-spritual. Oleh karena itu meskipun
stressor presipitasi yang sama tetapi apakah berdampank pada
gangguan jiwa atau kondisi psikososial tertentu yang maladptive
dari individu, sangat bergantung pada ketahan holistic individu
tersebut.
b) Faktor Origin (Sumber Prespitasi)
Demikian juga dengan factor sumber prespitasi, baik internal
maupun eksternal yang berdampak pada psikososial seseorang.
Hal ini karena manusia bersifat unik.
c) Faktor Timing
Setiap stressor yang berdampang pada trauma psikologis sesorang
yang berimplikasi pada gangguan jiwa sangat di tentukan oleh
kapan terjadinya stressor, berapa lama dan frekuensi stressor.
d) Faktor Number (Banyaknya Stressor)
Demikian juga dengan stressor yang berimplikasi pada kondisi
gangguan jiwa sangat di tentukan oleh banyaknya stressor pda
kurun wktu tertentu. Misalnya, baru saja suami meninggal,
seminggu kemudian anak mengalami cacat permanen karena
kecelakaan lalu lintas, lalu sebulan kemudian ibu kena PHK dari
tempat kerjanya.
e) Apparaisal of Stressor (Cara Menilai Predisposisi dan Prespitasi)
1. Faktor Kognitif: Berhubungan dengan tingkat pendidikan,
luasnya pengetahuan dan pengalaman.
2. Faktor Afektif: berhubungan dengan tipe kepribadian
sesorang. Tipe kepribadian introvert bersifat: Tertutp, suka
memikirkan diri sendiri, tidak terpengaruh pujian, banyak
fantasi, tidak tahan kritik, mudah tersinggung, menahan
ekspresi emosinya, sukar bergaul, sukar dimengerti orang
lain, suka membesarkan kesalahnya dan suka kritik diri

3
sendiri. Tipe extrovert: Terbuka, licah dalam pergaulan,
riang, ramah, mudah berhubungan dengan orang lain, melihat
realitas dan keharusan, kebal terhadap kritik, ekspresi
emosinya spontan, tidak begitu merasakan kegagalan, dan
tidak banyak mengkritik diri sendiri. Tipe kepribadian
ambivert dimana sesorang memiliki dua tipe kepribadian
dasar tersebut sehingga sulit menggolongkan dalam salah
satu tipe.
f) Faktor Physiological
Kondisi fisik sperti status nutrisi, status kesehatan fisik, factor
kecacatan atau kesempurnaan fisik sangat berpengaruh bagi
penilaian sesorang terhadap stressor predisposisi dan presipitasi.
g) Faktor Behavioral
Pada dasarnya perilaku seseorang turt mempengruhi niai,
keyakinan, sikap dan keputusannya. Oleh karena itu, factor
perilaku turt berperan pada sesorang dalam menilai factor
predisposisi dan presipitasi yang dihadapinya. Misalnya, seorang
peminum alcohol, dalam keadaan mabuk akan lebih emosional
dalam mengadapi stressor. Demikian juga dengan prokok atau
penjudi, dalam menilai stressor berbeda dengan seseorang yang
taat beribadah.
h) Faktor Sosial
Manusia merupakan mahluk social yang hidupnya saling
bergantung pada satu dengan lainnya. Menurt Luh Ketut Suryani
(2005), kehidupan koktif atau kebersamaan berperan dalam
pengambilan keputusan, adopsi nilai, pembelajaran, pertukaran
pengalaman dan penyelenggraaan ritualitas. Dengan demikian,
dapat di asumsikan bahwa factor kolektifitas atau kebersamaan
berpengaruh terhadap cara menili sressor predisposisi dan
presipitasi. (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

4
C. TANDA DAN GEJALA
a. Gejala Subjektif (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
a) Klien menceritakan perasaan kesepian atau di tolak oleh orang
lain
b) Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
c) Respon verbal kurang dan sangat singkat
d) Klien mengatakan hubungan tidak berarti dengan orang lain
e) Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
f) Klien tidak mampu berkosentrasi dan membuat keputusan
g) Klien merasa tidak berguna
h) Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
i) Klien merasa ditolak
b. Gejala Objektif (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
a) Klien banyak diam dan tidak mau bicara
b) Tidak mengikuti kegiatan
c) Banyak berdiam diri di kamar
d) Klien menyindiri dan tidak mau berinterkasi dengan orang yang
terdekat
e) Klien tampak sedih, ekspresi datr dan dangkal
f) Kontak mata kurang
g) Kurang spontan
h) Apatis (acuh terhadap lingkungan)
i) Ekspresi wajah kurang berseri
j) Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
k) Mengisolasi diri
l) Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungannya
m) Masukan minuman dan makan terganggua
n) Retensi urine dan feses
o) Aktivias menurun
p) Krang energy (tenaga)
q) Rendah diri

5
r) Postur tubuh berubah

D. PROSES TERJADINYA MASALAH (Yosep, I, H. Sutini, 2016)

Pattern of Parenting Inefectieve coping Lack of Develop Stressor internal


(Pola Asuh (Koping individu ment Task and external (stress
Keluarga) tidak efektif) (Gangguan internal dan
Tugas eksternal)
Perkembangan)
Misal : Misal : Misal : Misal :
Pada anak yang Saat individu Kegagalan Stress terjadi akibat
kelahirannya tidak menghadapi menjalin ansietas yang
dikehendaki kegagalan hubungan intim berkepanjangan dan
(unwanted child) mengalahkan dengan sesama terjadi bersamaan
akibat kegagalan orang lain, jenis atau lawan dengan
KB, hamil diluar ketidakberdayaan jenis, tidak keterbatasan
nikah, jenis kelamin menyangkal tidak mampu mandiri kemampuan
yang tidak mampu dan individu untuk
diinginkan, bentuk menghadapi menyelesaikan mengatasi. Ansietas
fisik kurang kenyataan dan tugas, bekerja, terjadi akibat
menawan menarik diri dari bergaul, sekolah, berpisah dengan
menyebabkan lingkungan. Terlau menyebabkan orang terdekat,
keluarga tingginya self ideal ketergantungan hilang pekerjaan
mengeluarkan dan tidak mampu pada orang tua, atau orang yang
komentar-komentar menerima realitas rendahnya dicintai.
negative, dengan rasa syukur ketahanan
merendahkan, terhadap
menyalahkan anak berbagai
kegagalan

Harga Diri Rendah Kronis

Isolasi Sosial 6
E. PATOFISOLOGI (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

Penolakan dari orang lain

Ketidak percayaan diri

Kecemasan & Ketakutan

Putus asa terhadap hubungan dengan orang lain

Sulit dalam mengembangkan berhubungan dengan


orang lain

Menarik diri dari lingkungan (Regresi)

Tidak mampu berinteraksi dengan orang lain

ISOLASI SOSIAL

F. RENTANG RESPON
Menurut Stuart Sundeen rentang respon klien ditinjau dariinteraksinya
dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang
antara respons adaptif dengan maladaptif sebagai berikut : (Azizah, L.A.
Zainuri, I. Akbar, 2016)

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Solitude Aloneless Curiga


Otonomi Dependensi Manipulasi
Bekerjasama Menarik diri Impulsif
Interdependen Narkisisme

Terdapat dua respon yang dapat terjadi pada isolasi sosial, yakni :

7
a. Respon Adaptif
Merupakan suatu respons yang masih dapat diterima oleh norma-
norma social dan kebudayaan secara umum yang berlaku dengan kata
lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan
masalah. (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
a) Menyendiri (Solitude)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk
merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya
(instropeksi).
b) Otonomi
Merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan
menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial.
c) Bekerjasama
Merupakan kemampuan individu yang saling membutuhkan satu
sama lain serta mampu memberi dan menerima.
d) Interdependen
Merupakan saling ketergantungan antara individu dengan orang
lain dalam membina hubungan interpersonal. (Azizah, L.A.
Zainuri, I. Akbar, 2016)
b. Respon Maladaptif
Merupakan suatu respon yang menyimpang dari norma sosial dan
kehidupan disuatu tempat, perilaku respon maladaptif, yakni meliputi:
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
a) Menarik diri
Merupakan keadaan dimana seseorang yang mengalami kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
b) Ketergantungan
Merupakan keadaan dimana seseorang gagal mengembangkan
rasa percaya dirinya sehingga tergantung dengan orang lain.
c) Manipulasi

8
Merupakan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang
menganggap orang lain sebagai objek dan berorientasi pada diri
sendiri atau pada tujuan, bukan berorienrasi pada orang lain.
Individu tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
d) Curiga
Merupakan keadaan dimana seseorang gagal mengembangkan
rasa percaya diri terhadap orang lain.
e) Impulsif
Ketidakmampuan merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar
dari pengalaman, tidak dapat diandalkan, mempunyai penilaian
yang buruk dan cenderung memaksa kehendak.
f) Narkisisme
Harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha
mendapatkan penghargaan dan pujian, memiliki sikap egosentris,
pencemburu, dan marah jika orang lain tidak mendukung.
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

G. MEKANISME COPING
Mekanisme pertahanan diri yang digunakan pada masing-masing
gangguan hubungan social dapat bervariasi, seperti pada pasien curiga
adalah regresi, proyeksi, dan represi. Pada klien ketergantungan
(dependent) adalah regresi. Pada manipulative adalah regresi, represi,
isolasi, dan klien menarik diri adalah regresi, represi, isolasi social.
(Badar, 2016)

H. PERILAKU
Perilaku yang biasa muncul pada klien gangguan hubungan social adalah
sebagai berikut: (Badar, 2016)

Gangguan Perilaku
Hubungan Sosial
Menarik Diri 1. Kurang spontan
2. Apatis (acuh terhadap lingkungan)

9
3. Ekspresi wajah kurang berseri
4. Tidak merawat diri dan tidak memerhatikan kebersihan
diri
5. Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
6. Mengisolasi diri
7. Tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitarnya
8. Intake makanan dan minuman terganggu
9. Retensi urine da feses
10. Aktivitas menurun
11. Tidak betenaga
12. Berbaring dengan sikap atau posisi janin
Curiga 1. Tidak mampu memercayai orang lain
2. Bermusuhan (Hostilty)
3. Mengisolasi diri dalam lingkungan sosial
Manipulasi 1. Mengekspresikan perasaan tidak langsung pada tujuan
2. Kurang asertif
3. Sangat tergantung pada orang lain

I. PENATALAKSANAAN
a. Prinsip 6 Benar Pemberian Obat
1. Benar Pasien
“Benar pasien” artinya bahwa tenaga kesehatan memberikan obat
pada pasien yang benar. Setiap kali obat diberikan, tenaga
kesehatan harus memastikan obat diberikan pada pasien yang benar
dengan cara melihat gelang identitas pasien. Metode ini lebih
dianjurkan daripada mengidentifikasi pasien dengan namanya.
Beberapa pasien mungkin akan menjawab “ya” pada sembarang
nama dan dua pasien mungkin memiliki nama yang terdengar
hampir sama. Beberapa pasien mungkin mengalami kelainan
mental dan tidak mengingat nama mereka sekali lagi, periksa

10
identitas pasien (dengan cara melihat gelang identitasnya) setiap
kali sebelum memberikan obat. (Kamienski. Keogh, 2015)
2. Benar Obat
Tenaga kesehatan harus memastiakan bahwa obat tersebut
adalah terapi medis yang benar untuk pasien. Jangan ragu-ragu
untuk bertanya: apakah ini obat yang diresepkan? Apakah resep
obat dibaca dengan lengkap? Mengapa pasien mendapatkan obat
ini? Apakah obat ini sesuai dengan kondisi pasien? Apakah pasien
memiliki alergi makanan atau obat?
Periksa pula tanggal kedaluwarsa dan kembalikan ke apotek
jika obat tersebut telah kedaluarsa. Jika sebuah obat yang telah
kedaluwarsa diberikan pada pasien, efek yang timbul dapat tak
terduga.
Periksalah lebel obat setidaknya tiga kali sebelum memberikan
obat tersebut. Periksalah pertama kali ketika obat tersebut diambil
dari tempat penyimpanannya kemudian, periksalah kembali lebel
obat sebelum mengeluarkan obat tersebut dari kemasan. Terakhir,
periksa kembali label obat setelah mengeluarkan obat sebelum
membuang kemasan obat tersebut. (Kamienski. Keogh, 2015)
3. Benar Dosis
Dosis obat yang diberikan harus berdasarkan pedoman yang
direkomendasikan tenaga kesehatan harus memiliki gambaran akan
dosis obat sebelum melakukan penghitungan dosisnya. Jika dosis
obat hasil penghitungan selisih terlalu banyak dari dosis yang
diperkirakan, tanyakanlah pada apoteker atau tenaga kesehatan
lainnya. Terkadang, penghitungan dosis obat harus diperiksa oleh
dua orang apa bila perhitungan dosis obat tersebut rumit atau
apabila obat tersebut berpotensi menimbulkan bahaya jika dosis
yang diberikan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Obat yang
dibungkus dan diberi lebel atau sudah ditakar untuk dosis yang
tepat lebih dikuasai dan dapat meminimalkan terjadinya kesalahan.

11
Tenaga kesehatan juga harus memastikan bahwa sistem
pengukuran yang digunakan sudah tepat, ketika menghitung dosis
obat (lihat bab 5 prinsip-prinsip pemberian obat). (Kamienski.
Keogh, 2015)
4. Benar Waktu
Apakah sekarang adalah waktu yang benar untuk memberikan
obat pada pasien? Waktu pemberian obat telah ditulis secara
spesifik pada resep obat dan mungkin akan diberi setengah jam
sebelum atau sesudah waktu yang tertulis di resep obat tersebut,
bergantung pada kebijaksanaan rumah sakit atau fasilitas kesehatan
yang bersangkutan. Seberapa sering obat diberikan bergantung
pada waktu paruh obat. Waktu paruh obat adalah waktu yang
dibutuhkan oleh setengah dari jumlah awal obat/zat lain untuk
dieliminasi dari tubuh. Obat dengan waktu paruh yang pendek
harus diberikan lebih sering dibandingkan dengan obat yang
memiliki waktu paruh yang panjang untuk mempertahankan
tingkat efek terapeutik obat dalam plasma.
Periksalah apakah pasien dijadwalkan untuk diagnosis atau
prosedur lainnya yang mungkin mengganggu waktu pemberian
obat. Periksalah apakah pasien harus meminum obat bahkan jika
mereka dijadwalkan untuk puasa (NPO)
Tenaga kesehatan juga harus memastikan bahwa obat yang
diberikan bersamaan dengan waktu makan, sementara obat lain
diberikan pada waktu tertentu sebelum atau sesudah makan. Jika
memungkinkan, jadwal pemberian obat disesuaikan dengan gaya
hidup pasien, yang mungkin berbeda dari jadwal yang normal.
Sebagai contoh, pemberian digoksin dijadwalkan pukul 10 pagi
sesuai kebijakan rumah sakit, tapi pasien boleh meminumnya pada
pukul berapa saja di pagi hari. Hal ini menjadi sangat penting
begitu keluar dari rumah sakit dan melanjutkan terapi di rumah.
(Kamienski. Keogh, 2015)

12
5. Benar Jalur Pemberian Obat
Tenaga kesehatan harus menentukan jalur yang tepat ketika
memberikan obat agar tubuh pasien dapat menyerapnya dengan
baik. Berikut adalah jalur pemberian obat yang umum diterapkan :
1) Obat (melalui mulut): cairan, eliksir, larutan, pil, tablet, dan
kapsul
2) Sublingual (bawah lidah): pil, tablet, dan kapsul
3) Topikal (dioleskan di kulit): krim, salep, dan plester
4) Dihirup (semprot acrosol): cairan
5) Diteteskan pelan-pelan (pada hidung, mata, telinga): cairan,
krim, dan salep
6) Disisipkan (melalui rektum, vagina): supositoria
7) Intradermal (bahwa kulit): injeksi
8) Subkutan (bahwa kulit): injeksi
9) Intramuskuler (di otot): injeksi
10) Intravena (dalam pembuluh darah): injeksi
11) Selang nasogastrik dan gastrostomi: cairan
12) Transdermal: plester
Pastikan bahwa pasien mampu menelan jika jalur
pemberian obat adalah melalui dan tetaplah bersama pasien
sehingga obat berhasil ditelan. Salutenterik atau obat lepas lambat
tidak boleh digerus. Pemberian obat melalui intravena harus sangat
hati-hati karena obat dapat sangat cepat diserap oleh tubuh. Oleh
sebab itu, tenaga kesehatan harus mengetahui efek teraupeutik
obat, efek samping, efek samping yang timbul saat pertama kali
obat diberikan, dan berapa lama kerja obat. Obat apa pun yang
diberikan melalui intravena, tenaga kesehatan harus berhati-hati
Memberikan obat pada diri sendiri (self-administration of
medication) adalah tindakan yang umum dilakukan oleh pasien di
rumah maupun di tempat kerja. Metode tersebut juga sering
diterapkan pada tata layanan kesehatan akut dan perawatan jangka

13
panjang. Pada tata cara tersebut, perawat memberikan obat pada
pasien beserta intruksinya yang diletakkan di samping tempat tidur.
Kemudian, pasien akan minum obat tersebut sesuai intruksi yang
diberikan dan memberi tahu perawat ketika obat tersebut sudah
dikomsumsi. Hal ini akan membantu pasien untuk mengelola
pengobatan untuk diri sendiri dan menyiapkan diri untuk nantinya
melanjutkan pengobatan tersebut di rumah. Metode tersebut seing
digunakan untuk pasien kanker dan ibu hamil
Analgesik yang dikontrol pasien atau patient controlled
anaalgesia (PCA) adalah metode yang umum digunakan untuk
memberikan anti nyeri melalui intravena. Hal ini akan didiskusikan
lebih lanjut pada bab berikutnya. (Kamienski. Keogh, 2015)
6. Benar Dokumentasi
Setelah obat itu di berikan kita harus mendokumentasikan dosis,
rute, waktu dan oleh siapa obat itu di berikan, dan jika pasien
menolak pemberian obat maka harus di dokumentasikan juga
alasan pasien menolak pemberian obat. (Kamienski. Keogh, 2015)
b. Farmakoterapi Obat
a) Klopromazin
1. Indikasi:
Penanganan gangguan psikotik, seperti skizofrenia, fase mania
pada ganggua bipolar (sampai litium kerja lambat
menimbulkan efek), psikosis reaktif singkat, dan gangguan
skizoafektif. Selain itu juga untuk penanganan ansietas dan
agitasi: cegukan yang sulit di atasi: porfria intermiten akut;
anak hiperaktif yang menunjukan aktivitas motorik yang
berlebihan; masalah perilaku berat pada anak yang dikaitkan
dengan perilaku hipereksitasi atau menyerang. Agens di
tunjukan untuk penanganan mual dan muntah berat; sedasi pra
dan pasca bedah; serta tetanus (pengobatan penunjang). (Keliat,
B. D. Pawirowiyono, 2017)

14
2. Kontraindikasi
Pasien hipersentivitas (dapat terjadi sensivitas silang pada
gangguan kelompok fenotiazin). Jangan digunakan jika terjadi
SSP; jika terdapat diskrasia darah; pada penyakit Parkinson;
atau pada pasien insufiensi ginjal, hati, atau jantung. Keamanan
dalam kehamilan dan laktasi belum dibuktikan. (Keliat, B. D.
Pawirowiyono, 2017)
3. Efek Samping
Efek samping yang sering di timbulkan oleh obat-obatan
psikotik seperti: mengantuk, tremor, mata melihat ke atas, kaku
otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersalivasi, pergeraka otot tak
terkendali. (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
4. Cara Kerja Obat
Sampai saat ini masih belum di ketahui bagaimana cara kerja
obat-obatan antipsikotik yang memperbaiki manifestasi
skizofrenia. Obat-obatan anti psikotik tipikal menghambat
reseptor dopamine, mencegah stimulus pascainap oleh
dopamine. Selain itu obat-obatan tersebut juga dapat menekan
RAS, menghambat stimulus yang masuk ke otak, dan memiliki
efek antikolinergik, antihistamin, dan penyekat B adrenergic,
yang semuanya berkaitan dengan penghambatan sisi reseptor
dopamine dan serotonin. (Keliat, B. D. Pawirowiyono, 2017)
5. Yang Di Pengaruhi Obat
Obat psikotropik adalah obat yang mempengaruhi fungsi
psikis, kelakuan atau pengalam. Ia bekerja menekan system
saraf pusat dan anti psikoikn di sampung itu juga anti emetic,
local anestetik, pemblok. (Mutschler, 2018)
6. Dosis
75-150 mg – 3x/hari (Mutschler, 2018)
b) Trifluoperazin
1. Indikasi

15
Penganganan manifestasi gangguan psikotik serta penanganan
ansietas sedang hingga berat pada pasien nonpsikotik. (Sutejo,
2017)
2. Kontraindikasi
Pasien hipersentivitas (dapat terjadi sensivitas silang pada
gangguan kelompok fenotiazin). Jangan digunakan jika terjadi
SSP; jika terdapat diskrasia darah; pada penyakit Parkinson;
atau pada pasien insufiensi ginjal, hati, atau jantung. Keamanan
dalam kehamilan dan laktasi belum dibuktikan. (Sutejo, 2017)
3. Efek Samping
Efek samping yang sering di timbulkan oleh obat-obatan
psikotik seperti: mengantuk, tremor, mata melihat ke atas, kaku
otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersalivasi, pergeraka otot tak
terkendali. (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
4. Cara Kerja Obat
Sampai saat ini masih belum di ketahui bagaimana cara kerja
obat-obatan antipsikotik yang memperbaiki manifestasi
skizofrenia. Obat-obatan anti psikotik tipikal menghambat
reseptor dopamine, mencegah stimulus pascainap oleh
dopamine. Selain itu obat-obatan tersebut juga dapat menekan
RAS, menghambat stimulus yang masuk ke otak, dan memiliki
efek antikolinergik, antihistamin, dan penyekat B adrenergic,
yang semuanya berkaitan dengan penghambatan sisi reseptor
dopamine dan serotonin. (Keliat, B. D. Pawirowiyono, 2017)
5. Yang Dipengaruhi Obat
Obat psikotropik adalah obat yang mempengaruhi fungsi
psikis, kelakuan atau pengalam. Ia bekerja menekan system
saraf pusat dan anti psikoikn di sampung itu juga anti emetic,
local anestetik, pemblok. (Mutschler, 2018)
6. Dosis
20-60 mg 3x/hari (Mutschler, 2018)

16
c) Haloperidol
1. Indikasi
Penatalaksanaan psikosis kronik dan akut; pengendalian tik dan
pengucapan vocal pada gangguan Tourette; penanganan gejala
demensia pada lanjut usia (lansia); pengendalian hiperaktivitas
dana masalah perilaku berat pada anak-anak. Penggunaan
penelitian; antiemetic (dosis lebih sedikit dari pengendalian
perilaku psikotik) serta pengendaliam situasi psikiatrik akut.
(Sutejo, 2017)
2. Kontraindikasi
Pasien hipersentivitas (dapat terjadi sensivitas silang pada
gangguan kelompok fenotiazin). Jangan digunakan jika terjadi
SSP; jika terdapat diskrasia darah; pada penyakit Parkinson;
atau pada pasien insufiensi ginjal, hati, atau jantung. Keamanan
dalam kehamilan dan laktasi belum dibuktikan. (Sutejo, 2017)
3. Efek Samping
Efek samping yang sering di timbulkan oleh obat-obatan
psikotik seperti: mengantuk, tremor, mata melihat ke atas, kaku
otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersalivasi, pergeraka otot tak
terkendali. (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
4. Cara Kerja Obat
Sampai saat ini masih belum di ketahui bagaimana cara kerja
obat-obatan antipsikotik yang memperbaiki manifestasi
skizofrenia. Obat-obatan anti psikotik tipikal menghambat
reseptor dopamine, mencegah stimulus pascainap oleh
dopamine. Selain itu obat-obatan tersebut juga dapat menekan
RAS, menghambat stimulus yang masuk ke otak, dan memiliki
efek antikolinergik, antihistamin, dan penyekat B adrenergic,
yang semuanya berkaitan dengan penghambatan sisi reseptor
dopamine dan serotonin. (Keliat, B. D. Pawirowiyono, 2017)

17
5. Yang Di Pengaruhi Obat
Obat psikotropik adalah obat yang mempengaruhi fungsi
psikis, kelakuan atau pengalam. Ia bekerja menekan system
saraf pusat dan anti psikoikn di sampung itu juga anti emetic,
local anestetik, pemblok. (Mutschler, 2018)
6. Dosis
3-6 mg 3x/hari (Mutschler, 2018)
c. Terapi Somatik
a) Terapi Individual
Dengan terapi individulal perawat menjalin hubungan saling
percaya dengan klien agar tercipta rasa trust kepada perawat.
Sehingga klien dapat leluasa menceritakan semua yang iya
rasakan, dengan demikian klien merasa aman, nyaman, klien dapat
mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan konflik,
meredahkan penderitaan emosional, dank lien dapat memenuhi
kebutuhan dirinya serta mempermudah proses asuhan keperawatan
jika sudah terjalin rasa saling percaya klien terhadap perawat,
terapi individual untuk TUK 1,2,3,4,5. (Azizah, L.A. Zainuri, I.
Akbar, 2016)
b) Terapi Kognitif
Karena klien mempunyai persepsi dan pemikiran yang
negative/salah, diperlukan terapi kognitif untuk merubah hal
tersebut. Sehingga, diharapkan dengan terapi kognitif persepsi dan
pemikiran klien yang negative berubah menjadi positif/baik, klien
juga mampu mempertimbangkan stressor, mengidentifikasi pola
berfikir, persepsi dan keyakinan yang tidak baik, Terapi kognitif
untuk TUK 2,3 (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

18
c) Terapi Kelompok
Karena klien cenderung menarik diri dan tidak bersosialisasi,
diperlukan terapi kelompok agar klien dapat berinteraksi dengan
orang lain seperti sebelum klien mengalami gangguan dapat
bersosialisasi. Perawat dapat berinteraksi dengan sekelompok klien
secara teratur, membantu anggota kelompok meningkatkan
kesadaran diri meningkatkan hubungan interpersonal, dan
menubah perilaku maladaptive menjadi adaptif. Terapi kelompok
untuk TUK 1,3,4,5,6. (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

19
BAB II

PROSES KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Data Fokus
Hubungan Social:

a. Orang yang berarti bagi pasien…..


b. Peran serta dalam kegiatan berkelompok atau masyarakat….
c. Hambatan berhubungan dengan orang lain…. (Keliat, A, B.
Akemat, 2019)

a) Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain


b) Pasien merasa tidakman berada dengan orang lain
c) Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
d) Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
e) Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
f) Pasien merasa tidak sempurna
g) Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup. (Keliat, A, B.
Akemat, 2019)
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat anda tanyakan pada saat
wawancara untuk mendapatkan data subjektif:
1. Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang di sekitarnya
(keluarga atau tetangga)?
2. Apakah pasien memiliki teman dekat? Jika ada, siapa teman
dekatnya?
3. Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang yang terdekat
dengannya?
4. Apa yang pasien inginkan dari orang-orang di sekitarnya?
5. Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien?
6. Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antara pasien dan
orang sekitarnya

20
7. Apakah pasien merasakan waktu begitu lama berlalu?
8. Apakah pernah ada perasaan ragu untuk dapat melanjutkan hidup?
(Keliat, A, B. Akemat, 2019)

Tanda dan gejala isolasi social yang dapat melalui observasi.

1. Tidak memiliki teman dekat


2. Menarik diri
3. Tidak komunikatif
4. Tidak berulang dan tidak bermakna
5. Asyik dengan pikirannya sendiri
6. Tidak ada kontak mata
7. Tampak sedih, efek tumpul. (Keliat, A, B. Akemat, 2019)
b. Masalah Keperawatan Yang Kemungkinan Muncul (Yosep, I, H.
Sutini, 2016)
a) Isolasi social
b) Harga diri rendah kronis
c) Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
d) Koping keluarga tidak efektif
e) Koping individu tidak efektif
f) Intoleransi aktifitas
g) Defisit perawatan diri
h) Resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

c. Analisa Data (Badar, 2016)


DATA PENGKAJIAN MASALAH KEPERAWATAN
Data Subjektif:
 Pasien mengatakan ia tidak memiliki
banyak teman dan malas untuk
berkenalan
 Pasien mengatakan ia lebih suka Isolasi Sosial
sendiri dari pada beramai-ramai

21
Data Objektif
 Pasien terlihat menyendiri
 Pasien terliha murung dan suka
melamun

d. Pohon Masalah Isolasi Sosial (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)


Risiko Gangguan Presepsi, Halusinasi - (Efek)

Isolasi Sosial - (Core Problem)

Harga Diru Rendah - (Causa)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Keliat mengatakan bahwa setelah dilakukan pengkajian, maka
dirumuskanlah masalah keperawatan yaitu isolasi social (sekaligus
menjadi diagnose keperawatan). (Keliat, A, B. Akemat, 2019)

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Tindakan Keperawatan Pada Pasien (Keliat, A, B. Akemat, 2019)
1. Tujuan Keperawatan
a) Pasien dapat membina hubungan saling percaya
b) Pasien dapat menyadari penyebab isolasi sosial
c) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain
2. Tindakan Keperawatan
a) Membina Hubungan Saling Percaya
Untuk membina hubungan saling percaya dengan pasien
isolasi sosial kadang membutuhkan waktu yang lama dan
interaksi yang singkat serta sering karena tidak mudah bagi
pasien untuk percaya pada orang lain. Oleh karena itu,
perawat harus konsisten bersikap terapeutik terhadap
pasien. Selalu menepati janji adalah salah satu upaya yang

22
dapat dilakukan. Membina hubungan saling percaya dapat
dilakukan dengan cara:
1) Ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan psien
2) Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama lengkap
dan nama panggilan perawat serta tanyakan nama
lengkap dan nama panggilan pasien.
3) Tanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini
4) Buat kontrak asuhan: apa yang perawat akan lakukan
bersama pasien, berapa lama akan dikerjakan, dan
tempat pelaksanaan kegiatan
5) Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi
yang diperoleh untuk kepentingan terapi
6) Tunjukkan sikap empati terhadap pasien setiap saat
7) Penuhi kebutuhan dasar pasien jika mungkin
b) Membantu Pasien Mengenal Penyebab Isolasi Sosial
Dengan Cara:
1) Tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan
berinteraksi dengan orang lain
2) Tanyakan penyebab pasien tidak ingin berinteksi
dengan orang lain
c) Bantu pasien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan
orang lain dengan cara mendiskusikan manfaat jika pasien
memilki banyak teman
d) Membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan
dengan cara sebagai berikut :
1) Diskusikan pasien jika pasien hanya mengurung diri
dan tidak bergaul dengan orang lain
2) Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan
fisik pasien
e) Membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain
secara bertahap (Keliat, A, B. Akemat, 2019)

23
Perawat tidak mungkin secara drastic mengubah kebiasaan pasien dalam
berinteraksi dengan orang lain karena kebiasaan tersebut telah terbentuk
dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, perawat dapat melatih pasien
berinteraksi secara bertahap. Mungkin pada awalnya, pasien hanya akan
akrab dengan perawat, tetapi setelah itu perawat harus membiasakan
pasien untuk dapat berinteraksi secara bertahap dengan orang-orang di
sekitarnya. Perawat dapat melatih pasien beinteraksi dengan cara berikut.

a. Memberikan kesempatan pasien mempraktikan cara berinteraksi


dengan orang lain yang dilakukan di hadapan Anda
b. Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan satu orang (pasien,perawat
atau keluarga)
c. Jika pasien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi
dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya
d. Berilah pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan
oleh pasien
e. Dengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang
lain. Mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau
kegagalannya. Berilah dorongan terus menerus agar pasien tetap
semangat meningkatkan interaksinya (Keliat, A, B. Akemat, 2019)
NNN NO Pasien Keluarga

SPIP SPIK

1 Identifikasi penyebab isolasi social siapa Diskusikan masalah yang dirasakan dalam
yang serumah, siapa yang dekat, yang merawat pasien
tidak dekat, dan apa sebabnya.
2 Keuntungan punya teman dan bercakap- Jelaskan pengertian tanda dan gejala, dan
cakap proses terjadinya isolasi social

3 Kerugian tidak punya teman dan tidak Jelaskan cara merawat isolasi social
bercakap-cakap

24
4 Latih cara berkenalan dengan pasien dan Latih dua cara merawat berkenalan, berbicara
perawat atau tamu saat melakukan kegiatan harian

5 Masukan pada judul kegiatan untuk Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan
latihan berkenalan memberikan pujian saat besuk

SPIIP SPIIK

1 Evaluasi kegiatan berkenalan (berapa Evaluasi kegiatan keluarga dalam


orang). Beri pujian merawat/melatih pasien berkenalan dan
berbicara saat melakukan kegiatan harian
Beri pujian

2 Latihan cara berbicara saat melakukan Jelaskan kegiatan rumah tangga yang dapat
harian (latihan 2 kegiatan) melibatkan pasien berbicara (makan, sholat
bersama) di rumah

3 Masukkan pada jadual kegiatan untuk Latih cara membimbing pasien berbicara dan
latihan berkenalan 2-3 orang pasien memberi pujian
perawat dan tamu berbicara saat
melakukan kegiatan harian
4 Anjurkan membantu pasien sesuai jadual
besuk

SPIIIP SPIIIK

1 Evaluasi kegiatan latihan berkenalan Evaluasi kegiatan keluarga dalam


(berapa orang) dan bicara saat melakukan merawat/melatih pasien berkenalan, berbicara
dua kegiatan harian. Beri pujian saat melakukan kegiatan harian. Beri pujian

2 Latih cara berbicara saat melakukan Jelaskan cara melatih pasien melakukan
kegiatan harian (2 kegiatan baru) kegiatan social seperti berbelanja meminta
sesuatu dll

3 Masukkan pada jadwal kegiatan untuk Latih keluarga mengajak pasien belanja saat

25
latihan berkenalan 4-5 orang, berbicara besuk
saat melakukan 4 kegiatan harian
4 Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan
berikan pujian saat besuk

SPIVP SPIVK

1 Evaluasi kegiatan latihan berkenalan Evaluasi kegiatan keluarga dalam


bicara saat melakukan empat kegiatan merawat/melatih pasien berkenalan, berbicara
harian. Beri pujian saat melakukan kegiatan harian/RT,
berbelanja. Beri pujian

2 Latih cara bicara social: meminta sesuatu, Jelaskan follow up ke RSJ/PKM,tanda


menjawab pertanyaan kambuh, rujukan

3 Masukkan pada jadual kegiatan untuk Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
latihan berkenalan >5 orang, orang baru, kegiatan dan memberikan pujian
berbicara saat melakukan kegiatan harian
dan sosialisasi
SPVP SPVK

1 Evaluasi kegiatan latihan berkenalan, Evaluasi kegiatan keluarga dalam


berbicara saat melakukan kegiatan harian merawat/melatih pasien berkenalan, berbicara
dan sosialisasi. Beri pujian saat melakukan kegiatan harian/RT,
berbelanja dan kegiatan lain dan follow up
beri pujian

2 Latih kegiatan harian Nilai kemampuan keluarga merawat pasien

3 Nilai kemampuan yang telah mandiri Nilai kemampuan keluarga melakukan


kontrol ke RSJ/PKM

4 Nilai apakah isolasi social teratasi

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

26
D. IMPLEMENTASI KEPERWATAN
Merupakan insiatif dan rencana tindakan untuk tujuan yang spesifik.
Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan di susun dan
ditunjukan pada nursing orders untuk membantu klen mencapai tujuan
yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik
dilaksanakan untuk memodifikasi factor-faktor yang memengaruhi
masalah kesehatan klien. (Febriana, D, 2017)

a. Pasien

SP I Pasien :Membina hubungan saling percaya, membantu


pasien mengenal penyebab isolasi social, membantu pasien mengenal
keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan

SP II Pasien :Mengevaluasi cara berkenalan pasien, latihan cara


berbicara saat melakukan harian

SP III Pasien :Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap


dengan orang pertama - perwata dan mengevaluasi kegiatan latihan
berkenalan (berapa orang) dan bicara saat melakukan dua kegiatan
harian. Dan memberi pujian

SP VI Pasien :Melatih cara bicara social: meminta sesuatu,


menjawab pertanyaan dan mengevaluasi kegiatan latihan berkenalan
(berapa orang) dan bicara saat melakukan empat kegiatan harian. Dan
memberi pujian

SP V Pasien :Melatih pasien seperti sp sebelumnya, dan menilai


kemampuan yang telah mandii

b. Keluarga

SP I Keluarga :Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang


masalah isolasi social, penyebab, dan cara merawat pasien dengan
isolasi social

27
SP II Keluarga :Melatih keluarga mempraktekan cara merawat
pasien dengan masalah isolasi social langsung di hadapan pasien

SP III Keluarga :Menjelaskan cara melatih pasien melakukan


kegiatan social seperti berbelanja meminta sesuatu dll, melatih
keluarga mengajak pasien belanja saat besuk

SP VI Keluarga :Menjelaskan follow up ke RSJ/PKM,tanda


kambuh, rujukan

SP V Keluarga : Mengevaluasi kegiatan keluarga dalam


merawat/melatih pasien berkenalan, berbicara saat melakukan kegiatan
harian/RT, berbelanja dan kegiatan lain dan follow up, dan menilai
kemampuan keluarga merawat pasien (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar,
2016)

E. EVALUASI
Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan
keberhasilan intervensi. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan
membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut.
Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan
antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat
kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah dirumuskan
sebelumnya. Metode penulisan evaluasi keperawatan dalam progress
notes/catatan perkembangan pasien dapat dilakukan dengan pendekatan
SOAP: (Febriana, D, 2017)
a. S (Subjective) : adalah informasi berupa ungkapan yang didapat
dari klien setelah tindakan diberikan
b. O (Objective) : adalah hasil yang di dapat berupa pengamatan,
penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan
dilakukan
c. A (Analysis) : adalah membandingkan antar informasi subjektif
dan objektif dengan tujuan dan criteria hasil, kemudian di ambil

28
kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak
teratasi.
d. P (Planing) : adalah rencana keperawatan atau SP Pasien dan
Keluarga lanjutan yang akan dilakukan berdasarkan hasil analisa.
(Febriana, D, 2017)

F. YANG DI HARAPKAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA


a. Pasien
Pasien mampu bercakap-cakap dengan orang lan, pasien mampu
bekerja sama dengan orang lain serta menyampaikan dan
membicarakan masalah pribadinya dengan orang lain. (Keliat, A, B.
Akemat, 2019)
b. Keluarga
Keluarga dapat merawat pasien degan masalah isolasi social
langsung dihadapan pasien. (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

G. TERAPI KELOMPOK YANG SESUAI


Terapi aktifitas yang cocok untuk klien isolasi social yaitu terapi aktivitas
kelompok sosialisasi (TAKS). Hal tersebut dikarenakan klien sering
menyendiri ( menghindar dari orang lain), komunikasi berkurang (bicara
apabila ditanya,jawaban singkat), berdiam diri di kamar dalam posisi
meringkuk, tidak melakukan kegiatan sehari-hari, wajah tampak sedih dan
sering menunduk yang menunjukkan bahwa klien mengalami masalah
dalam hubungan social ( isolasi social). Oleh karena itu terapi aktivitas
kelompok sosialisasi (TAKS) cocok untuk memfasilitasi kemampuan klien
dengan masala hubungan social agar klien dapat bersosialisasi kembali
dengan orang lain maupun lingkungannya serta dapat meningkatkan
hubungan interpersonal dan kelompok. Terapi aktivitas kelompok
sosialisasi (TAKS) dilakukan dalam 7 sesi dengan indikasi klien menarik
diri yang sudah sampai pada tahap mampu berinteraksi dalam kelompok
kecil dan sehat secara fisik (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
a. Sesi 1: kemampuan memperkenalkan diri

29
b. Sesi 2: kemampuan berkenalan
c. Sesi 3: kemampuan bercakap-cakap
d. Sesi 4: kemampuan bercakap-cakap topik tertentu
e. Sesi 5: kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
f. Sesi 6: kemampuan bekerjasama
g. Sesi 7: evaluasi kemampuan sosialisasi
(Keliat, B. D. Pawirowiyono, 2017)

30