Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

PT. SPORT GLOVE INDONESIA


BIDANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
LINGKUNGAN, ERGONOMI DAN BAHAN BERACUN BERBAHAYA

PELATIHAN CALON AHLI K3 UMUM


Oleh :
KELOMPOK III-B
1. Anisah Fitriah Afif
2. Arief Budiman Krama
3. Eko Barka Putra
4. Heri Parabang
5. Miftah Rizqi Fauzi
6. Three Antonius S.

PENYELENGGARA
PT. MUARA ARTHA PERSADA
Yogyakarta, 14 Desember 2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga laporan praktik kerja lapangan ini dapat terselesaikan. Laporan ini
disusun berdasarkan hasil kunjungan lapangan sebagai salah satu syarat
kelulusan dalam pelatihan calon Ahli K3 Umum. Selama pelatihan, pelaksanaan
PKL dan penyusunan laporan, penyusun telah mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak, terkait hal tersebut, kami menyampaikan ucapan terima kasih
yang mendalam kepada:
1. PT. Muara Artha Persada sebagai penyelenggara pelatihan K3 umum.
2. PT. Sport Glove Indonesia Plumbon Yogyakarta yang telah memberikan
izin untuk melakukan kegiatan kunjungan lapangan.
3. Dinas Kementrian Tenagakerja dan Transmigrasi Provinsi DIY yang telah
memberikan bimbingan dan saran untuk menyelesaikan kegiatan praktik
kerja lapangan (PKL) dan penyusunan laporan.
4. Seluruh Narasumber yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu,
trimakasih banyak atas Sharing ilmunya.
5. Rekan-rekan peserta pelatihan Ahli K3 Umum angkatan XVIII tahun 2017
yang telah mampu menjaga suasana pelatihan yang kondusif dan dapat
mewujudkan kerjasama yang baik.

Penyusunan laporan ini dikerjakan dalam kurun waktu yang relatif


singkat, sehingga sangat wajar apabila masih banyak kekurangannya. Kritik dan
saran kami perlukan untuk menyempurnakan laporan ini. Akhir kata, penyusun
berharap semoga laporan ini dapat memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh
penyelenggara pelatihan dan dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Yogyakarta, 14 Desember 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Maksud dan Tujuan ........................................................................... 2
C. Ruang Lingkup .................................................................................. 3
D. Dasar Hukum ..................................................................................... 3

BAB II KONDISI PERUSAHAAN


A. Gambaran Umum Tempat Kerja ........................................................ 5
1. Latar Belakang Perusahaan PT. Sport Glove Indonesia (SGI) ...... 5
2. Luas Area dan Jumlah Mesin di PT. SGI Plumbon ....................... 7
3. Struktur Organisasi P2K3 PT. SGI Plumbon ................................. 7
4. Kondisi Lingkungan Kerja ............................................................. 9
5. Bahan Kimia Berbahaya (B3) ........................................................ 9
6. Material Safety Data Sheet (MSDS) .............................................. 16
B. Alur Proses Produk ............................................................................ 19
C. Temuan Hasil Observasi .................................................................... 21
1. Temuan Positif .............................................................................. 21
2. Temuan Negatif ............................................................................. 21

BAB III ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH


A. Analisa Temuan Positif ..................................................................... 23
B. Analisa Temuan Negatif .................................................................... 30

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................ 37
B. Saran .................................................................................................. 38

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 39


LAMPIRAN .................................................................................................. 41

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan sektor industri saat ini menjadi andalan dalam
pembangunan nasional Indonesia yang berdampak positif terhadap penyerapan
tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan pemerataan pembangunan. Namun
kegiatan industri dalam proses produksinya selalu disertai dengan faktor-
faktor yang mengandung resiko bahaya dengan terjadinya kecelakaan maupun
penyakit akibat kerja.
Setiap ancaman terhadap keselamatan dan kesehatan kerja harus
dicegah. Karena ancaman seperti itu akan membawa kerugian baik material,
moril maupun waktu terutama terhadap kesejahteraan tenaga kerja dan
keluarganya. Lebih-lebih perlu disadari bahwa pencegahan terhadap bahaya
tersebut jauh lebih baik dari pada menunggu sampai kecelakaan terjadi yang
biasanya memerlukan biaya yang lebih besar untuk penanganan dan pemberian
kompensasinya.
Keselamatan para pekerja diatur berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970,
bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya
dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi
serta produktivitas nasional. Sehingga penerapan norma-norma K3 harus
diaplikasikan disetiap sektor industri untuk mecegah timbulnya kejadian yang
tidak diinginkan.
Kondisi kerja yang aman/selamat meliputi berbagai aspek. Diperlukan
dukungan dari sarana dan prasarana keselamatan serta komitmen yang tinggi
untuk mewujudkannya. Sarana dan prasarana tersebut meliputi lingkungan
kerja (fisik, kimia, biologi, psikologi, ergonomi), penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD), program pengendalian bahaya seperti kebakaran, peledakan,
bahan kimia berbahaya dll.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun
2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, bahwa untuk

1
mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan hidup, kesehatan
manusia, dan makhluk hidup lainnya. sehingga diperlukan pengelolaan bahan
berbahaya dan beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga dapat menekan terjadinya faktor-faktor
yang berpotensi menimbulkan bahaya pada lingkungan kerja.
PT. Sport Gloves Indonesia (SGI) merupakan perusahaan yang bergerak
dibidang produksi sarung tangan. Dalam proses produksi, banyak digunakan
bahan kimia berbahaya, dan beracun. Terkait dengan hal itu, maka dilakukan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. SGI Plumbun.
Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan kegiatan yang di
selenggarakan oleh PT.Muara Artha Persada yang berlokasi di PT. Sport Glove
Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengimplemetasikan apa yang sudah
di pelajari tentang norma-norma keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang
di harapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam
memecahakan bermacam masalah yang akan dihadapi dalam sebuah proses
pekerjaan. Hasil dari PKL yang dilaksanakan berupa laporan yang akan
digunakan sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikat Ahli K3 Umum.

B. MAKSUD DAN TUJUAN


Tujuan melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan kajian ini adalah:
1. Memahami dan menerapkan teori dan belajar dalam Penerapan K3 di
perusahaan serta dapat mengimplementasi penerapan tersebut dalam dunia
kerja.
2. Untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman mengenai aplikasi K3 di
lapangan khususnya di bidang K3 Lingkungan dan Bahan Kimia
Berbahaya.
3. Sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi peserta Calon Ahli K3
Umum.
4. Calon peserta Ahli K3 umum dapat mengidentifikasi, menganalisis dan
memberikan saran atau rekomendasi.

2
C. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup PKL yaitu:
1. Pelaksanaan K3 di Bidang Lingkungan.
2. Pelaksanaan K3 di Bidang Bahan Kimia Berbahaya.
3. Pelaksanaan K3 di Bidang Ergonomi

D. Dasar Hukum
Dasar Hukum K3 Lingkungan dan Bahan Kimia Berbahaya, yaitu:
1. UUD 1945 pasal 27
2. UU No. 3 tahun 1969 Tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120
Mengenai Hygiene Dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor pasal 7
3. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja
4. Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tanggal 26 November 2001
tentang Pengelolaan Limbah B3.
5. Peraturan Pemerintah RI No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun
6. Peraturan Menteri Perburuhan No 7 tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan,
Kebersihan, serta Penerangan dalam Tempat Kerja
7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 08 Tahun 2010
tentang Alat Pelindung Diri (APD)
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13 Tahun 2011
tentang NAB Fisika dan Kimia di Tempat Kerja
9. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 14 tahun 2013 tentang
Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
10. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 187 tahun 1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja.
11. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No.SE.01/MEN/1979 ttg pengadaan
kantin dan ruang makan, Semua perusahaan yg mempekerjakan buruh
antara 50 s.d 200 orang supaya menyediakan ruang tempat makan di
perusahaan, dan yang mempekerjakan buruh/TK lebih dari 200 orang
supaya menyediakan kantin.

3
BAB II
KONDISI PERUSAHAAN

A. GAMBARAN UMUM TEMPAT KERJA


1. Latar Belakang Perusahaan PT. Glove Indonesia (SGI)
Perusahaan PT. Sport Glove Indonesia (PT. SGI), didirikan pada
tahun 2002 oleh Mr. Mark C Robba dengan status Perusahaan Modal
Asing (PMA). PT. SGI terletak di Desa Krandon Pandowoharjo,
Kabupaten Sleman, Yogyakarta. PT. SGI bergerak di bidang industri
pembuatan sarung tangan kulit dan sarung tangan sintetis. PT. SGI terbagi
menjadi 3 tempat operasional, yaitu PT. SGI Plumbon, PT. SGI Krandon,
PT. SGI Godean.
PT. SGI mendapatkan gold certificate of compliance dari WRAP
(Wordwide Responsible Accredited Production) Amerika, sehingga
pruduk-pruduk yang dihasilkan telah diakui kualitas dan kuantitasnya,
Produk PT. SGI dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri
(Export) ke Amerika Serikat yaitu melalui distributor utama PT. Under
Armour, PT. Wilson dan PT. Ironscald.
PT. SGI memproduksi sarung tangan kulit dan sarung tangan sintetis
dengan kapasitas produksi adalah 9.600.000 Pcs/tahun. Sumber bahan
baku untuk membuat sarung tangan kulit berasal dari luar negeri atau
sesuai dengan permintaan dari pihak pembeli (buyer) sesuai dengan
kualitas sarung tangan yang diinginkan dari pihak pembeli. Sedangkan
bahan baku sarung tangan sintetis berasal dari dalam negeri. Sarung tangan
yang diproduksi PT SGI memiliki logo dengan bahan baku berupa ruber
dan silikon. Desain logo berasal dari pembeli, sedangkan plat cetakannya
dibuat PT SGI dengan menggunakan mesin moulding. Beberapa fasilitas
yang dimiliki oleh PT SGI untuk memproduksi logo sarung tangan
diantaranya tersaji pada Gambar dibawah ini.

5
Gambar 1. Contoh produk sarung tangan PT. SGI Yogyakarta.

Untuk memenuhi bimbingan teknik calon ahli K3 umum, diadakan


praktek kerja lapangan (PKL) di PT. SGI. PKL dilakukan pada tanggal 13
Desember 2017 bertempat di PT. SGI Plambon. PT. SGI Plambon
mempunyai karyawan sejumlah 941 pekerja. Manajemen PT. SGI
Plambon menerapkan jam kerja 8 jam sehari atau 40 jam perminggu.
Sistem lembur diterapkan bila perusahaan mendapat order yang banyak
dari pihak pembeli (buyer). Selain itu, seluruh karyawan mendapatkan
jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan berupa BPJS dari pihak
manajemen perusahaan.

6
2. Luas Area dan Jumlah Mesin di PT. SGI Plumbon Factory
PT. SGI Plumbon memiliki luas area 4.557m2 dengan luas bangunan 5000
m2. Jumlah mesin yang digunakan adalah sebagai berikut :

Generator 500kVA
Jumlah mesin produksi :
No Nama Mesin Jumlah (unit)
1 Sewing Machine 288
2 Computerized sewing machine 7
3 Ironing : Steam (Leather) 4
Hot (Synthetic) 4
4 Ironing robot hand (woring glove)
Hand right 15
Hand left 15
Thumb 20
5 Ballmaer machine 1
6 Hot Press Machine 4
7 Needle detector 1
8 CNC machine 4
9 Emboss machine 3
10 Vacum machines 4

3. Struktur Organisasi P2K3 PT. SGI Plumbon


Berdasarkan Permenaker No.4/Men/1987 tentang panitia Pembina
keselamatan dan kesehatan kerja (P2K3) yaitu pengurus atau pengusaha
wajib membentuk P2K3 dengan kriteria tempat kerja (pasal 2 ayat 1 dan 2)
yaitu:
a. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus mempekerjakan 100
orang atau lebih.
b. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus mempekerjakan kurang
dari 100 orang akan tetapi meenggunakan bahan proses instalasi yang

7
mempunyai risiko yang besar akan terjadinya peledakan, kebakaran,
keracunan dan penyinaran radio aktif.
PT. SGI Plumbon memiliki 941 tenaga kerja sehingga diwajibkan
membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).
Diketahui saat ini PT. SGI Plumbon sudah memiliki organisasi P2K3.

Berikut ini Organisasi P2K3 di PT. Sport Glove Indonesia :

DIRECTOR
CHRISTOPHER C. ROMA

COMPLIANCE MANAGER
IRAWAN

HSE COORDINATOR
GUNAWAN & YUDHA

FACTORY FACTORY FACTORY


KRANDON GODEAN PLUMBON

SAFETY SAFETY SAFETY


Committe Committe Committe

Gambar 2. Struktur Organisasi HSE/P2K3 PT. Sport Glove Indonesia Plumbon


Factory

8
4. Kondisi Lingkungan Kerja
Menurut ILO, yang dimaksud dengan lingkungan kerja adalah
istilah generik yang mencakup identifikasi dan evaluasi terhadap faktor-
faktor lingkungan yang memberikan dampak pada kesehatan tenaga kerja.
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang berada
di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan baik
secara langsung maupun secara tidak langsung dalam melakukan
pekerjaannya (Sedarmayanti, 2001). Adapun indikator-indikator
lingkungan kerja fisik adalah sebagai berikut:
a. Cahaya
Cahaya atau penerangan merupakan hal yang dibutuhkan dalam
suatu industri dan berguna untuk menjamin karyawan mendapat
keselamatan dan kelancaran kerja. Cahaya dibedakan menjadi dua
yaitu yang berasal dari matahari dan cahaya buatan. Penerangan yang
baik dapat meningkatkan produktifitas pekerja dan kualitas produk.
Sebaliknya, penerangan yang kurang dapat menghambat proses dan
kualitas produksi. Penerangan di PT. SGI Plambon terlihat sudah
memadai dan disesuaikan dengan tingkat ketelitian pekerjaan.
b. Suhu
Manusia mempunyai suhu tubuh yang berbeda satu sama lain
dalam kondisi normal. Suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat
menurunkan produktifitas pekerja. Suhu yang panas dapat
menyebabkan karyawan mudah lelah karena meningkatkan
penggunakaan tenaga fisik. Suhu di PT. SGI Plambon sudah
dikendalikan oleh pihak pengurus karena terlihat adanya kipas angin,
exhaust fan, AC, dan ventilasi yang disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing ruangan.
c. Suara
Suara atau kebisingan merupakan salah satu hal yang
mempengaruhi produksi karena dapat mengganggu konsentrasi pekerja
jika volumenya melebihi kapasitas yang dianjurkan yaitu 85 desibel.

9
Konsentrasi yang kurang dapat menurunkan produktifitas pekerja.
Selain itu, dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan
pendengaran. Suara dan kebisingan di PT. SGI Plambon terlihat sudah
dikendalikan oleh pengurus, seperti mesin genset yang diletakkan di
ruang tertutup dan jauh dari ruang kerja, sehingga suara mesin genset
tidak menimbulkan kebisingan.
d. Polusi
Polusi dapat terjadi karena beberapa sebab, seperti tingkat bahan
kimia yang digunakan dalam lingkungan kerja, atau limbah yang
dihasilkan dari suatu produksi. Pengurus PT. SGI Plumbun terlihat
sudah menyediakan ventilasi yang cukup. Ventilasi bertujuan agar
sirkulasi udara tetap terjaga dan udara dalam ruang minim akan polusi.
e. Warna dan kebersihan dinding.
Masalah warna dapat berpengaruh terhadap karyawan didalam
melaksanakan pekerjaan. Pada PT. SGI Plumbun terlihat sudah ada
perawatan mengenai warna dan kebersihan dinding. Warna yang
digunakan adalah warna lembut.
f. Bau-bauan di tempat kerja.
Adanya bau-bauan yang berlebihan disekitar tempat bekerja
dapat dianggap sebagai pencemaran dan mengganggu konsentrasi
dalam melakukan pekerjaan. Pemakaian air condition yang tepat
merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan
bau-bauan yang mengganggu di sekitar tempat kerja.
g. Peralatan
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kinerja karyawan
adalah dengan peralatan. Dengan ditunjang peralatan yang mendukung
diharapkan kinerja karyawan meningkat dan sesuai harapan
perusahaan.
Lingkungan kerja non-fisik adalah semua keadaan yang terjadi berkaitan
dengan hubungan kerja, baik antara atasan dan bawahan ataupun hubungan
antar karyawan (Sedarmayanti, 2001).

10
a. Hubungan antara atasan dengan bawahan.
Dalam berorganisasi, pastilah terdapat seorang pemimpin yang
berguna untuk mengarahkan kelompok tersebut. Menurut Mullins
(2001) kepemimpinan merupakan suatu hubungan yang mempengaruhi
tingkah laku orang lain agar bekerja lebih baik sesuai tujuan organisasi.
b. Hubungan antar Karyawan
Hubungan berlangsung secara serasi dan bersifat kekeluargaan.
Manajemen haruslah menciptakan hubungan antar personal dalam
perusahaan dengan baik dan dengan rasa kekeluargaan yang tinggi.
Contohnya dengan melakukan kegiatan bersama. Hubungan yang baik
antar karyawan akan membantu perusahaan dalam menciptakan
suasana kerja yang harmonis dan kondusif dalam rangka mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Selain itu, disekitar area kerja dan diluar gedung terdapat poster K3,
jalur evakuasi, safety sign, assembly point, peraturan penggunaan APD,
kotak P3K, APAR, air minum yang bersih, tempat sampah, toilet, dan
musholla. Secara umum kondisi lingkungan kerja di PT. Sport Glove
Indonesia Plumbon tergolong baik. Semua faktor fisika berupa kebisingan,
udara, suhu, kadar debu, pecahayaan, getaran dan pencahayaan, sudah
dalam kondisi normal dan sesuai dengan nilai ambang batas yang
dipersyaratkan peraturan perundang-undangan terkait yaitu :
a. Peraturan Menteri Perburuhan No 7 tahun 1964 tentang Syarat
Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja.
b. Peraturan Menteri Tenega Kerja dan Transmigrasi No 13 Tahun 2013
tentang NAB Fisika dan NAB Kimia di tempat kerja.

5. Bahan Kimia Berbahaya (B3)


PT. Sport glove indonesia menggunakan bahan kimia dalam proses
produksi pembuatan rubber sebagaimana yang diatur dalam
KEPMENAKER NO. 187/MEN/1999 tentang pengendalian bahan kimia
berbahaya ditempat kerja. Bahan kimia yang digunakan disimpan di gudang

11
khusus penyimpanan bahan kimia. Penyimpanan harus dibedakan
berdasarkan jenis dan diberikan lembar data keselamatan bahan (LDKB).
Bahan Kimia berbahaya menurut pasal 1 KEPMEN Tenaga Kerja RI
NO. KEP.187/MEN/1999 adalah bahan kimia dalam bentuk tunggal atau
campuran yang berdasarkan sifat kimia dan fisika dan atau toksikologi
berbahaya terhadap tenaga kerja, instalasi dan lingkungan. Pengendalian
bahan kimia berbahaya adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah dan
atau mengurangi resiko akibat penggunaan bahan kimia berbahaya di
tempat kerja terhadap tenaga kerja, alat-alat kerja dan lingkungan.
Pengusaha atau pengurus yang mengunakan, menyimpan, memakai,
produksi dan mengangkut bahan kimia berbahaya di tempat kerja wajib
mengendalikan bahan kimia berbahaya untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Terdapat dua jenis kecelakaan yang mungkin terjadi di dalam
laboratorium yaitu kecelakaan akut dan kronis. Kecelakaan fatal (akut)
dalam penanganan bahan-bahan kimia jarang terjadi, tetapi yang paling
berbahaya ialah gangguan kesehatan secara kronis (keracunan kronis).
Akibat keracunan kronis, baru bisa dirasakan setelah beberapa bulan, tahun
atau bahkan dirasakan pada masa menjelang pensiun. Keracunan kronis
akibat bahan kimia tersebut misalnya leukemia yang disebabkan oleh racun
uap Pb, kanker paru-paru yang berasal dari debu asbes dan lainnya dimana
penyakit- penyakit tersebut sulit disembuhkan (Khasani,1987).
Menurut Anonim (1985), secara umum bahan tersebut dapat
digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu:
a. Bahan mudah terbakar.(Flammable Substance): yaitu bahan yang
mudah bereaksi dengan oksigen dan menimbulkan kebakaran.
Kebakaran dapat terjadi bila ada 3 unsur bertemu yaitu bahan, oksigen,
dan panas.
b. Bahan mudah meledak (Explosives): yaitu bahan kimia padat, cair atau
campuran keduanya yang karena suatu reaksi kimia dapat menghasilkan
gas dalam jumlah dan tekanan yang besar disertai suhu tinggi sehingga

12
dapat menimbulkan ledakan. Selain itu juga termasuk bahan yang
karena struktur kimianya tidak stabil dan reaktif sehingga mudah
meledak.
c. Bahan reaktif terhadap air/ asam: yaitu bahan kimia yang amat mudah
bereaksi dengan air disertai pengeluaran panas dan gas yang mudah
terbakar, dan disertai ledakan. Bahan yang reaktif terhadap air juga
reaktif terhadap asam, dimana reaksi yang terjadi adalah eksothermis
dan menghasilkan gas yang mudah terbakar, sehingga dapat
menimbulkan ledakan.
d. Bahan beracun: yaitu bahan kimia yang dalam konsentrasi tertentu akan
dapat menimbulkan gangguan kesehatan terhadap manusia.
e. Gas bertekanan: yaitu gas yang disimpan dalam tekanan tinggi baik gas
yang ditekan , gas cair, atau gas yang dilarutkan dalam pelarut dibawah
tekanan
Bahan tersebut di atas mudah dikenali karena biasanya pabrik-pabrik
bahan kimia telah melengkapi kemasannya dengan label-label dan lambang-
lambang tertentu. Akibat penggunaan bahan kimia tersebut di atas berbagai
jenis bahaya mungkin dapat terjadi antara lain (Khasani,1986)
a. Keracunan, sebagai akibat masuknya bahan kimia ke dalam tubuh
melalui paru-paru, mulut dan kulit. Keracunan dapat berakibat fatal
misalnya hilang kesadaran atau gangguan kesehatan yang baru
dirasakan setelah beberapa tahun setelah bekerja, atau menjelang
pensiun.
b. Iritasi, sebagai akibat kontak dengan bahan kimia korosif, misalnya
peradangan pada kulit, mata dan saluran pernapasan.
c. Kebakaran atau luka bakar, sebagai akibat peledakan bahan-bahan
reaktif (peroksida dan bahan-bahan pelarut organik).
Selain bahan-bahan kimia sebagai sumber kecelakaan bekerja dil
aboratorium, maka teknik percobaan seperti destilasi, ekstraksi dan sarana-
sarana laboratorium lainnya seperti air, gas, listrik juga merupakan sumber
terjadinya kecelakaan.

13
Kemasukan bahan kimia dalam tubuh bisa menimbulkan efek akut
(jangka pendek) dan kronis (jangka panjang). Efek akut ini biasanya
digambarkan oleh LD 50, yaitu jumlah takaran tertentu yang menyebabkan
matinya 50% binatang percobaan. Efek kronis disebabkan terjadinya
akumulasi zat dalam jaringan sampai melampaui batas tertentu yang
menimbulkan toksisitas pada orang tersebut (sakit). Adanya NAB
merupakan petunjuk untuk mengontrol Iingkungan tempat bekerja dari
pelaksana kerja, meski demikian harga NAB bukan merupakan harga yang
mutlak, bisa berubah mengikuti perkembangan ilmu toksikologi, biokimia
dan analisa kimia (Suprapto, 1983)
Penyimpanan bahan-bahan kimia disesuaikan dengan kebutuhan dan
kecepatan pemakaiannya, jumlahnya di usahakan sesedikit mungkin. Cara-
cara penyimpanan bahan kimia ini disesuaikan dengan sifat-sifat bahayanya
adalah sebagai berikut (Sumardi, 1983).
a. Bahan-bahan kimia yang mudah meledak (eksplosif) dapat disimpan
ditempat (bangunan) yang terisolir dari bangunan-bangunan lainnya
dilengkapi dengan pintu tahan api.
b. Bahan-bahan kimia yang mudah menguap dan terbakar di simpan di
tempat yang jauh dari sumber api
c. Bahan-bahan yang mudah menguap dan bertekanan tinggi harus
dilindungi dari cahaya matahari. Ventilasi udara dalam ruangan harus
baik
d. Bahan-bahan oksidator jangan ditempatkan bersama dengan bahan yang
mudah terbakar (bahan organik dan pereduksi). Ventilasi udara dalam
ruangan harus baik.
e. Bahan-bahan korosif disimpan di tempat yang kering, suhunya rendah
namun tidak dibawah titik bekunya.
f. Bahan kimia yang mudah bereaksi dengan air, disimpan pada tempat
yang jauh dari sumber air.

14
g. Bahan kimia yang bila disimpan di tempat yang sama dapat
menimbulkan reaksi yang merugikan (panas yang tinggi, zat baru yang
bersifat racun).
h. Bahan-bahan kimia yang mudah terurai membentuk racun apabila
berhubungan dengan panas, air atau asam tidak diperkenankan disimpan
berdekatan dengan bahan-bahan kimia yang mudah menyala/menguap.
Suhu ruangan harus rendah dan kering.
Selain cara-cara di atas ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan
oleh petugas adalah ruang kerja harus berventilasi baik, jika memindahkan
bahan kimia pekat atau mengencerkan sebaiknya dikerjakan dalam lemari
asam. Bila terjadi tumpahan asam pekat hendaklah dinetralkan dulu dengan
basa (soda, kapur) baru diencerkan dengan air, bila tumpahan dalam jumlah
besar disiapkan pemadam kebakaran (Khasani, 1994).
Botol-botol harus berlabel, tidak bocor dan selalu tertutup. Kalau
diperlukan petugas harus menggunakan alat-alat perlindungan personil
seperti masker, sarung tangan dan kaca mata pengaman. Kotak pertolongan
pertama pada kecelakaan (P3K) harus selalu tersedia (Sumardi, 1983).
PT. SGI yang memproduksi sarung tangan menggunakan bahan
kimia yang mudah terbakar dan beracun, sehingga dibutuhkan gudang
bahan mentah, ruang proses, dan pengelolaan limbah. PT. SGI yang
memproduksi sarung tangan membutuhkan material berupa bahan kimia,
sehingga dibutuhkan gudang bahan mentah, ruang proses, dan pengolah
limbah. Gudang bahan yang dimiliki oleh PT. SGI telah memenuhi
persyaratan perundangan terutama dalam penataan zat, (labeling dan
penyediaan informasi terkait dengan bahan kimia yang digunakan.
Limbah cair yang dihasilkan di PT. SGI diolah oleh pihak ketiga
yaitu PT. ARAH ENVIRONMENTAL INDONESIA, limbah yang
dihasilkan disimpan di TPS selama 6 bulan kemudian di angkut oleh PT.
PT. ARAH ENVIRONMENTAL INDONESIA.

15
6. Material Safety Data Sheet (MSDS)
Informasi MSDS umumnya digunakan di bidang industri yang
menggunakan material-material bahan berbahaya. MSDS adalah dokumen
yang dibuat khusus tentang suatu bahan kimia mengenai pengenalan
umum, sifat-sifat bahan, cara penanganan, penyimpanan, pemindahan dan
pengelolaan limbah buangan bahan kimia tersebut. Berdasarkan isi dari
MSDS maka dokumen tersebut sebenarnya harus diketahui dan digunakan
oleh para pelaksana yang terlibat dengan bahan kimia tersebut yakni
produsen, pengangkut, penyimpan, pengguna dan pembuang bahan kimia.
Pengetahuan ini akan dapat mendukung budaya terciptanya kesehatan dan
keselamatan kerja.
Secara garis besar, MSDS mengandung informasi tentang uraian
umum bahan kimia, sifat fisik dan kimiawi, cara penggunaan, penyimpanan,
dan pengelolaan bahan buangan. Terkait dengan kepentingan para pembuat
MSDS maka format dokumen MSDS tidak seragam dan masing-masing
mungkin menonjolkan uraian yang terkait dengan kepentingan mereka.
Akan tetapi terdapat beberapa informasi yang minimal terdapat pada MSDS
secara umum. Pada bagian berikut diuraikan informasi-informasi yang
umumnya terdapat pada dokumen MSDS.
Informasi tersebut antara laian adalah :
 Informasi umum
a. Tanggal pembuatan
b. Alamat produsen atau supplier
c. Nomor seri CAS (Chemical Abstract Serial Number)
d. Nama kimia
e. Nama perdagangan dan sinonim
f. Nama kimia lainnya
g. Rumus struktur dan rumus kimia
h. Tanda bahaya bahan kimia (lihat uraian berikut)

16
 Informasi tentang komponen berbahaya
a.Batas paparan tiap komponen
b. Komposisi
c. Persen berat
 Informasi data fisika
a. Titik didih
b. Tekanan uap
c. Kerapatan uap
d. Titik beku atau titik leleh
e. Kerapatan cairan
f. Persen penguapan
g. Kelarutan
h. Penampakan fisik dan bau
 Informasi tentang data kemudahan terbakar dan ledakan
a. Titik nyala
b. Batas kemampuan terbakar
c. Batas temperatur terendah yang menimbulkan ledakan
d. Batas temperatur tertinggi yang menimbulkan ledakan
e. Media /bahan kimia yang digunakan untuk pemadaman
f. Prosedur khusus untuk pemadaman
 Informasi tentang data reaktivitas
a. Stabilitas bahan
b. Pengaturan lokasi penempatan bahan
c. Produk dekomposisi yang berbahaya
d. Produk polimerisasi yang berbahaya
 Informasi tentang bahaya kesehatan
a. Efek terkena paparan yang berlebihan
b. Prosedur pertolongan darurat dan pertolongan pertama akbiat
kecelakaan
c. Kontak pada mata
d. Kontak pada kulit

17
e. Terhirup pada pernafasan
 Informasi prosedur pengumpulan, pengelolaan dan pengolahan limbah
a. Langkah-langkah yang harus diambil untuk pengumpulan limbah
b. Prosedur pengelolaan dan pengolahan limbah di lapangan
c. Prosedur pengelolaan dan pengolahan limbah di laboratorium
d. Metoda pemusnahan limbah bahan kimia
 Informasi perlindungan bahan kimia
a. Perlindungan respiratory
b. Ventilasi
c. Sarung tangan pelindung
d. Pelindung mata
e. Peralatan pelindung lainnya
f. Pengawasan perlindungan
 Informasi penanganan awal khusus
a. Penanganan khususu dalam penggunaan dan penyimpanan
b. Penanganan awal lainnya
 Data transportasi
a. Nama dan jenis transportasi
b. Tanda kelas bahaya bahan
c. Tanda label
d. Tanda merk
e. Prosedur darurat akibat kecelakaan
f. Prosedur penanganan awal yang harus dilakukan selama
tranportasi.

18
B. Alur Proses Produk
a. Alur Proses Produk WIP Sarung Logo Dan Logo
Alur Proses Produksi kerja dalam pembutan Pola dan logo melalui
beberapa tahapan, di bawah ini adalah alur produksi dalam pembuatan Pola
dan Logo PT. SGI Yogyakarta.
Alur proses
WIP Pembuatan Pola dan Logo

Planning

Penerimaan material
TIDAK

QC Material
YA

Moulding Logo

Press Cutting Logo


Sarung + Logo Presisi

Ironing Hot Ironing Steam


Bahan Kulit Bahan Sintetis

Wip Sarung + Logo Logo

TIDAK
QC Check Reject
YA

Produksi

Gambar 3. Alur Proses Pruduksi pembuatan Pola dan Logo

b. Alur Process Produk Sarung Tangan


Proses produksi sarung tangan dimulai dari planning, PPIC kemudian
pihak produksi menerima material, kemudian menggunting pola kain dan

19
menjahit sarung tangan. Gambaran umum proses produksi terlihat pada
skema pada Gambar 3.
FLOW PROCESS
PRODUK SARUNG TANGAN

Planning

Penerimaan material

Gunting Pola Kain

Menjahit Sarung Tangan

TIDAK

QC Check Rework

YA

Packing

Gambar 4. Alur Proses Pembuatan Sarung Tangan

20
C. TEMUAN HASIL OBSERVASI

Dari hasil observasi yang dilakukan, ditemukan sebanyak 18 temuan positif dan 10
temuan negatif, sebagai berikut :

a. Temuan Positif
1. Kendaraan pada area parkir karyawan tersusun dengan baik dan rapih
2. Lingkungan halaman pabrik bersih dan nyaman
3. Tersedia titik kumpul
4. Tempat sampah tertutup, tidak ada lalat, serangga, atau binatang lainnya
5. Gedung, lantai, dinding, tangga, dan loteng terlihat kokoh dan terpelihara
6. Tersedia toilet dan bersih terpisah antara toilet pria dan wanita
7. Tersedia tempat ibadah
8. Tersedia poster UU no 1/70
9. Safety induction
10. Tersedia peta jalur evakuasi
11. Terdapat rambu, marka, dan safety sign
12. Penerangan / cahaya sudah baik
13. Ventilasi udara baik
14. Tersedia APD
15. Tersedia fasilitas penanganan untuk pekerja yang terkena B3
16. PT. SGI mempunyai data Riksa Uji untuk Iklim kerja, Kadar Debu, Kadar
Pencahayaan, Kadar Udara.
17. Terdapat MSDS pada setiap Beracun dan Berbahaya
18. Tangki bahan bakar

b. Temuan Negatif
1. Assembly point dipenuhi dengan kendaraan parkir
2. Tidak tersedia sarana kantin bagi pekerja
3. Jumlah toilet belum mencukupi dengan perbandingan jumlah pegawai
4. Ruang penyimpanan limbah B3 disimpan diruang yang tidak memiliki
pintu penutup dan saluran drainase
5. Para pekerja belum patuh terhadap peraturan dengan tidak memakai APD
pada saat bekerja
6. Letak kotak sampah B3 berada diruang terbuka dan di akses jalan yang
sering dilalui serta tanpa adanya pembatas
7. Meja dan tempat duduk belum disesuaikan dengan karyawan. Ada
beberapa karyawan yang duduk dengan posisi siku berada dibawah tingi
meja dan tempat duduk tanpa ada sandaran punggung sehingga kurang
ergonomi.
8. Terdapat Instalasi kabel yang tidak tertata rapi

21
9. Belum tersedianya loker bagi karyawan untuk penyimpanan barang-
barang karyawan
10. Jarak antar mesin terlalu dekat dan belum ada safety guard antar mesin

22
BAB III

ANALISA PEMECAHAN MASALAH

A. Analisa Temuan Positif

No Foto Lokasi Temuan Analisa Temuan Peraturan perundang-


undangan
1 Halaman a. Kendaraan pada area a. Penyusunan parkir Point (a),(b),(c). PMP No. 07
Pabrik parkir karyawan memudahkan karyawan untuk Tahun 1964 Pasal 3
tersusun dengan baik akses kendaraan
dan rapih b. Menciptakan kenyamanan bagi Poin (d) UU No 1/1970 Pasal 3
b. Lingkungan halaman tenaga kerja (1), huruf d tentang memberi
pabrik bersih dan c. Sebagai komunikasi visual kesempatan atau jalan
nyaman tentang tempat evakuasi/tempat menyelematkan diri pada waktu
c. Tersedia titik kumpul berkumpul dalam keadaan kebakaran atau kejadian lain
darurat pada saat terjadi yang berbahaya
bencana alam atau gempa bumi

21
d. Tempat sampah d. Mengurangi potensi
tertutup, tidak ada lalat, penyebaran penyakit oleh
serangga, atau binatang serangga dan terhindar dari bau
lainnya yang beasal dari tumpukan
sampah

22
2 Area a. Gedung, lantai, a. Bangunan pabrik yang kokoh a. PMP No. 7 Tahun 1964
Office dinding, tangga, dan meningkatkan kemanan pekerja Pasal 4, 6, 7
loteng terlihat kokoh b. Toilet yang terpisah sudah b. UU No. 13 Th 2003 tentang
dan terpelihara disesuaikan dengan ketenagakerjaan pasal
b. Tersedia toilet dan kepentingan masing-masing 83(laktasi), pasal 80 (tempat
bersih terpisah antara c. Mushola memberikan ibadah),
toilet pria dan wanita kesempatan kepada pekerja c. UU No. 1 tahun 1970 pasal
c. Tersedia tempat ibadah untuk melaksanakan ibadah 14 (Poster, safety sign),
d. Tersedia poster UU no d. Poster K3 sudah dipasang pasal 9 (pembinaan berupa
1/70 ditempat yang dapat mudah safety induction)
e. Safety induction terlihat sehingga mengetahui
petunjuk tentang K3
e. Safety induction diberikan
kepada pengunjung sehingga
pengunjung tau tindakan yang
harus dilakukan apabila ada
peringatan bahaya

23
f. Tersedia peta jalur f. Peta jalur evakuasi sudah
evakuasi dipasang di dekat pintu masuk
g. Terdapat rambu, memudahkan untuk meluhat
marka, dan safety sign jalur evakuasi

g. Rambu, marka, dan safety sign


sudah dipasang ditempat yang
dapat menimbulkan risiko
kecelakaan sehingga dapat
karyawan dapat berhati-hati

24
3 Ruang a. Penerangan / cahaya a. Memiliki penerangan yang baik a. Undang-undang No 1 tahun
produksi sudah baik memudahkan bekerja 1970 pasal 3 tentang syarat-
PT. SGI b. Ventilasi udara baik b. Ventilasi udara yang baik syarat keselamatan kerja
c. Tersedia APD meningkatkan sirkulasi udara di huruf i
d. Tersedia fasilitas tempat kerja b. Peraturan Menteri
penanganan untuk c. APD sudah disediakan seusai perburuhan No.7 Tahun
pekerja yang terkena B3 dengan risiko kerja 1964 pasal 5 (ventilasi)
d. Fasilitas penangan untuk pasal 14 (penerangan)
pekerja yang tekena dampak B3 tentang Syarat Kesehatan,
mengurangi risiko terpapar Kebersihan serta
limbah B3 lebih lama Penerangan di Tempat Kerja
c. UU no 1 tahun 1970 pasal
14 (penyediaan APD)
d. Permenaker No.
08/MEN/VII/2010 tentang
Alat pelindung diri
e. Kepmen
No.KEP.187/MEN/1999
pasal 2 (pengendalian
limbah B3)

25
4 Dokumen PT. SGI mempunyai data Melindungi pekerja dari Penyakit Peraturan Menteri perburuhan
PT. SGI Riksa Uji untuk Iklim kerja, Akibat Kerja (PAK) No.7 Tahun 1964 tentang Syarat
Kadar Debu, Kadar Kesehatan, Kebersihan serta
Pencahayaan, Kadar Udara. Penerangan di Tempat Kerja

Permenaker No.
13/MEN/X/2011 tahun 2011
pasal 13 (reksa uji) tentang
Nilai Ambang Batas Faktor
Fisika dan Faktor kimia di
tempat kerja

26
5. Di setiap Terdapat MSDS pada setiap 1. memenuhi persyaratan PP No. 101 tahun 2014 tentang
lokasi Beracun dan Berbahaya perundang-undangan Pengelolaan Limbah Bahan
penyimpa Berbahaya dan Beracun
nan bahan 2. Memberikan informasi tentang
Beracun bahan, bahaya bahan, tata cara - Pasal 2 : Pembagian
dan pemanfaatan dan pengelolaan pengaturan limbah B3 huruf
Berbahaya bahan d (pengumpulan limbah B3)
3. Mencegah terjadinya bahaya
yang ditimbulkan akrena sifat - Pasal 3 (1) :kewajiban
bahan beracunn dan berbahaya setiap orang yang
tersebut menghasilkan Limbah B3
untuk melakukan
pengelolaan limbah B3
yang dihasilkannya

Kepmen
No.Kep.187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia
Berbahaya di tempat kerja
- Pasal 3 : Penyediaan
Lembar data
keselamatan bahaya
- Pasal 4 huruf m :
Pebuangan limbah
sesuai dengan Lembar
data keselamatan bahaya
- Pasal 5 : Label bahan
Beracun dan Berbahaya

27
- Pasal 6 : MSDS dan
Label di tempatkan
dilokasi yang mudah
diketahui oleh tenaga
kerja dan pegawai
pengawas
ketenagakerjaan
6. Di depan Tangki bahan bakar Tangki dilengkapi dengan MSDS PP No. 101 tahun 2014 tentang
gedung label dan instalasi penampung Pengelolaan Limbah Bahan
solar serta tembok pembatas untuk Berbahaya dan Beracun
melindungi area tersebut.
- Pasal 2 : Pembagian
pengaturan limbah B3 huruf d
(pengumpulan limbah B3)
- Pasal 3 (1) :kewajiban setiap
orang yang menghasilkan
Limbah B3 untuk melakukan
pengelolaan limbah B3 yang
dihasilkannya

Kepmen
No.Kep.187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia
Berbahaya di tempat kerja
- Pasal 3 : Penyediaan Lembar
data keselamatan bahaya

28
- Pasal 4 huruf m : Pebuangan
limbah sesuai dengan
Lembar data keselamatan
bahaya

- Pasal 5 : Label bahan


Beracun dan Berbahaya

Pasal 6 : MSDS dan Label di


tempatkan dilokasi yang mudah
diketahui oleh tenaga kerja dan
pegawai pengawas
ketenagakerjaan

PP No. 101 tahun 2014 tentang


Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun

Pasal 2 : Pembagian pengaturan


limbah B3 huruf d
(pengumpulan limbah B3)

29
B. Analisa Temuan Negatif

Pengendali
Prob Kons Peraturan
Potensi Pema Rating an Resiko
No Lokasi Temuan abilit ekuen Rekomendasi Perundang-
Bahaya paran Resiko yang telah
y si undangan
ada

1. Selatan Assembly point dipenuhi Keadaan 3 0,5 100 150 - Perusahaan UU No 1/1970
gedung dengan kendaraan parkir assembly point (Risiko sebaiknya Pasal 3 (1), huruf
PT. SGI yang ditutupi Substan menyediakan d tentang
parkir sial) lokasi titik memberi
menyulitkan kumpul yang kesempatan atau
jalur evakuasi khusus dan jalan
mudah di menyelematkan
akses. diri pada waktu
kebakaran atau
kejadian lain yang
berbahaya

Kepmen 186
tahun 1999 pasal
2 (2) poin b
tentang
penanggulangan
kebakaran di
tempat kerja

30
2. Area Tidak tersedia sarana Makanan 10 6 1 60 - Pengurus/perus Permen No.7
Pabrik kantin bagi pekerja karyawan (Risiko ahaan harus tahun 1964 Pasal
dapat terpapar Substan menyediakan 8 (1) a Dapur,
debu, virus sial) tempat makan kamar makan dan
atau limbah untuk alat keperluan
udara yang karyawan saat makan harus
terbawa angin beristirahat selalu bersih dan
dari dalam rapi
gedung
produksi, atau Surat Edaran
membeli Menaker No
makanan 1/SE/1979
diluar area tentang
produksi yang Pengadaan kantin
tidak diketahui dan ruang makan
kualitasnya : Semua
perusahaan yang
mempekerjakan
buruh lebih dari
200 orang, supaya
menyediakan
kantin di
perusahaan yang
bersangkutan

31
3. Area Jumlah toilet belum Menahan 0,5 0,5 3 0,75 Perusahaan PP
Pabrik mencukupi dengan buang air kecil (Risiko wajib No.7/MEN/1964
perbandingan jumlah dan besar saat Rendah menambah tentang Peraturan
pegawai kakus ramai ) jumlah kakus Menteri
dapat sesuai perburuhan No.7
mengakibatkan ketentuanya Tahun 1964
penyakit (57 Jumlah pasal 14 tentang
kakus) Syarat Kesehatan,
Kebersihan serta
Penerangan di
Tempat Kerja

Pasal 6 (6) :
jumlah kakus :
Untuk setiap 61-
80 dan 81-100
dibutuhkan 5
kakus.
Untuk setiap 100
orang terdapat 6
kakus,
sehingga untuk
1000 pekerja,
dibutuhkan 60
kakus.

32
4 Sebelah Ruang penyimpanan Karyawan 6 6 3 108 Hanya Sebaiknya KEPMEN No.
timur limbah B3 disimpan dapat bebas (Risiko memberi lokasi 187/MEN/1999
gedung diruang yang keluar masuk Substan papan penempatan pasal 2
tidak memiliki pintu dan apat sial) larangan limbah B3
penutup dan saluran menimbulkan didepan diisolasi dan Keputusan Kepala
drainase bahaya jika pintu diberi safety Badan
terjadi kontak sign serta Pengendalian
langsung memberi Dampak
dengan pekerja drainase Lingkungan Kep-
tanpa disekeliling rak 01/Bapedal/09/19
menggunakan yang 95 Tentang tata
APD tertentu terhubung cara dan
dan apabila dengan bak persyaratan teknis
terjadi penampung penyimpanan dan
tumpahan pengumpulan
limbah akan limbah bahan
menyebar ke berbahaya dan
sekeliling beracun
ruangan
PP No.101/2014
Tentang
pengelolaan
limbah berbahaya
dan beracun Bab
IV pasal 16
tentang

33
penyimpanan
limbah b3

5 Ruang Para pekerja belum patuh Karyawan 6 10 3 180 - Pemberian Undang-undang


Mixing terhadap peraturan dapat terpapar (Risiko sanksi apabila No 1 tahun 1970
dan dengan tidak memakai uap bahan Substan tidak memakai - Pasal 4 (1) :
product APD pada saat bekerja kimia karena sial) APD sehingga syarat-syarat
ion masker yang karyawan lebih keselamatan
disediakan mematuhi kerja yang
tidak dipakai aturan mengandung
dan lebih dan dapat
memilih menimbulkan
masker biasa, bahaya
sehingga dapat kecelakaan
menyebabkan - Pasal 9 :
penyakit akibat Kewajiban
kerja pengurus untuk
melakukan
sosialisasi dan
pembinaan
tentang alat-
alat
perlindungan
diri bagi tenaga
kerja
- Pasal 12 huruf
b : tentang

34
kewajiban
memakai alat
perlindungan
diri yang
diwajibkan
- Pasal 13 :
Kewajiban
mematuhi dan
memakai alat
perlindungan
diri yang
diwajibkan
- Pasal 14 :
kewajiban
pengurus
untuk
menyediakan
alat
perlindungan
diri untuk
pekerja

Permenaker No.
08/MEN/VII/201
0 tentang Alat
pelindung diri
Pasal 4 ayat 1 :
APD wajib

35
digunakan
ditempat kerja

6 Sebelah Letak kotak sampah B3 Letak kotak 3 6 3 54 - Pemindahan PP No.101/2014


timur berada diruang terbuka sampah (Risiko lokasi kotak Tentang
gedung dan di akses jalan yang diruang Substan sampah B3 pengelolaan
sering dilalui serta tanpa terbuka apabila sial) limbah berbahaya
adanya pembatas terguling dan dan beracun
tumpah akan BabIV tentang
menyebabkan penyimpanan
tercemarnya limbah b3
lingkungan
kerja serta Keputusan Kepala
dapat Badan
menyebabkan Pengendalian
bahaya bagi Dampak
pekerja Lingkungan Kep-
01/Bapedal/09/19
95 Tentang tata
cara dan
persyaratan teknis
penyimpanan dan
pengumpulan
limbah bahan
berbahaya dan
beracun

36
7 Ruang Meja dan tempat duduk Penyakit 6 10 3 180 - Seharusnya PP
TPR belum disesuaikan akibat kerja (Risiko disediakan No.7/MEN/1964
dengan karyawan. Ada (cepat lelah, Substan tempat duduk tentang Peraturan
beberapa karyawan yang sakit sial) dengan desain Menteri
duduk dengan posisi siku punggung, dan yang lebih perburuhan No.7
berada dibawah tingi lain nyaman: Tahun 1964
meja dan tempat duduk sebagainya) - Terdapat Pasal 9 (2) poin d
tanpa ada sandaran sandaran : tempat duduk
punggung sehingga punggung harus ada
kurang ergonomi. - Posisi siku sandaran untuk
pekerja punggung
sedikit pasal 14 tentang
diatas meja Syarat Kesehatan,
Kebersihan serta
Penerangan di
Tempat Kerja

37
8 Ruang Terdapat Instalasi kabel Menimbulkan 6 1 15 90 Merapikan Permenaker RI
Meetin yang tidak tertata rapi arus pendek (Risiko kondisi kabel No. 12 Tahun
g dan kesetrum Substan 2015. Pasal 3 ayat
sial) b

9 Tempat Belum tersedianya loker Barang dapat 0,2 0,5 1 0,1 - Disediakan Undang-undnag
parkir bagi karyawan untuk lebih mudah (Risiko tempat No. 3 tahun 1969
penyimpanan barang- mengalami Rendah penyimpanan tentang
barang karyawan kerusakan ) yang baik persetujuan
karena tekena Konvensi ILO No
sinar matahari 120 mengenai
langsung, higiene dalam
angin dan perniagaan. Pasal
hujan serta 15 : Fasilitas yang
pencurian sesuai untuk
barang. mengganti,
menyimpan, dan
mengeringkan
pakaian yang

38
tidak dipakai pada
waktu bekerja
harus disediakan
dan dipelihara
dengan baik

PMP No. 07 th
1964 pasal 7 ayat
6 yaitu harus
disediakan tempat
menyimpan
pakaian (loker)
untuk seorang
buruh 1. Majikan
bertanggung
jawab atas
keamanannaya

39
10. Ruang Jarak antar mesin terlalu Karyawan 3 2 3 18 - Diberi safety UU No. 1 Tahun
TPR dekat dan belum ada dapat dengan (Risiko guard atau 1970 pasal 3
safety guard antar mesin mudah terjadi Sedang batas aman huruf r
kontak ) antar mesin
dengan mesin dan pekerja
di dekatnya
dan dapat
menimbulkan
terganggunya
proses bahkan
kecelakaan
kerja

40
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil PKL di PT. Sport Glove Indonesia Plumbon-
Yogyakarta dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Manajemen PT. SGI Plumbon-Yogyakarta telah melakukakan
penerapan K3 cukup baik, namun di perlukan beberapa perbaikan
dan evaluasi terkait penggunaan APD, karena sebagian besar
karyawan masih belum memiliki kesadaran akan penggunaan
APD yang baik dan sesuai dengan Permenakertrans No.08 Tahun
2010 tentang Alat Perlindungan Diri dan penambahan fasilitas
bagi karyawan seperti Mushola, tempat parkir dan kakus/WC.
Tetapi jumlah belum sesuai dengan permen Perburuhan No.7
tahun 1964 pasal 6. PT. SGI Plumbon-Yogyakarta belum
memiliki fasilitas kantin dan/atau ruang makan untuk para
karyawan, dimana penyediaan kantin/ruang makan diatur dalam
Permen No. 7 Tahun 1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan
hubungan kerja.
2. Kondisi lingkungan fisik (kebisingan, suhu ruang kerja,
pencahayaan, serta debu) di PT. SGI Plumbon-Yogyakarta sesuai
dengan pengukuran yang pada bulan April, mendapatkan hasil
yang sesuai dengan NAB
3. PT. SGI Plumbon-Yogyakarta telah melakukan pengelolaan
limbah B3, tetapi fasilitas TPS yang di miliki masih tidak sesuai
dengan PP No 101 tahun 2014.
4. PT. SGI Plumbon – Yogyakarta perlu kurang memperhatikan
work station untuk para pekerja.

37
B. Saran
1. PT. SGI Plumbon-Yogyakarta lebih mempertegaskan lagi masalah
penggunaan APD bagi seluruh karyawan terutama bagi pekerja yang
bekerja di area yang berhubungan dengan bahan B3, serta dapat dengan cara
memberikan sanksi bagi karyawan yang tidak menggunakan APD serta
penaatan peraturan K3 dan memberikan reward bagi karyawan/pekerja
yang taat pada menggunakan APD dan peraturan K3 yang diterapkan di
perusahaan.
2. PT. SGI Plumbon-Yogyakarta disarankan menambah fasilitas umum seperti
jumlah Kakus/WC, mushola, tempat parkir dan kantin.
3. PT. SGI Plumbon-Yogyakarta disarankan agar dapat menjadikan beberapa
temuan kami sebagai bahan perbaikan.
4. PT. SGI Plumbon – Yogyakarta perlu lebih memperhatikan kembali
mengenai work station agar terciptanya lingkungan kerja yang lebih nyaman
untuk seluruh pekerjanya.

38
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, “Panduan Bahan Berbahaya “ edisi 1, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Tahun 1985.
Keputusan Menteri 186 tahun 1999 pasal 2 (2) poin b tentang penanggulangan
kebakaran di tempat kerja
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 187 tahun 1999 tentang Pengendalian Bahan
Kimia Berbahaya di Tempat Kerja.
Khasani, I. S. (1983). Bahan-bahan kimia korosif, reduktif dan debu atmosfer.
Kursus keselamatan kerja dalam menangani bahan-bahan kimia berbahaya.
LKN, Bandung. 5 - 9 Desember 1983.
Khasani, I. S. (1986). Antara profesi dan kesehatan. Warta Kimia Analitik. 1, 9-10.
Undang – Undang No. 3 tahun 1969 tentang persetujuan konvensi ILO No. 120
mengenai Hygiene Dalam Perniagaan dan Kantor – Kantor pasal 7
Undang – Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Peraturan Menteri Perburuhan No 7 tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan,
Kebersihan, serta Penerangan dalam Tempat Kerja
Permen No.7 tahun 1969 Pasal 8 (1) a . Dapur, kamar makan dan alat keperluan
makan harus selalu bersih dan rapi
Permenaker RI No. Per-04/MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan
Kesehatan Kerja serta Tata Cara Penunjukan Ahli Keselematan Kerja
Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tanggal 26 November 2001 tentang
Pengelolaan Limbah B3.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 08 Tahun 2010 tentang Alat
Pelindung Diri (APD)
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13 Tahun 2011 tentang NAB
Fisika dan Kimia di Tempat Kerja
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 14 tahun 2013 tentang Simbol dan
Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Peraturan Pemerintah RI No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun
Sedarmayanti, 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Jakarta:
Mandar Maju

39
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No.SE.01/MEN/1979 Tantang Pengadaan
Kantin Dan Ruang Makan, Semua Perusahaan Yg Mempekerjakan Buruh
Antara 50 S.D 200 Orang Supaya Menyediakan Ruang Tempat Makan Di
Perusahaan, Dan Yang Mempekerjakan Buruh/TK Lebih Dari 200 Orang
Supaya Menyediakan Kantin

40
LAMPIRAN
Cara Menentukan Rating Risiko (RR) = Peluang (P) x Pemaparan (E) x
Konsekuensi (C).
PELUANG (Kemungkinan atau peluang kejadian tersebut terjadi)/ P
KATEGORI PENJELASAN NILAI
Sangat mungkin terjadi/ Sangat mungkin atau hampir pasti akan terjadi (peluang 10
hampir pasti terjadinya 1 kali dalam 10 kali kesempatan)

Mungkin terjadi Dapat terjadi atau suatu hal yang tidak mungkin untuk 6
terjadi (peluang terjadinya 1 kali dalam 100 kesempatan)

Tidak biasa namun bisa Dapat merupakan kejadian yang tidak biasanya akan 3
terjadi terjadi namun kemungkinannya tetap ada (peluang
terjadinya 1 kali dalam 1000 kesempatan)
Kecil kemungkinannya Kemungkinan terjadinya kecil atau merupakan suatu 1
kebetulan (peluang terjadinya 1 kali dalam 10000
kesempatan)
Sangat kecil Sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi/terjadi 0,5
kemungkinannya setelah bertahun-tahun terpapar (peluang terjadinya 1
kali dalam 100000 kesempatan)
Tidak mungkin terjadi Secara praktek tidak mungkin terjadi/hampir tidak 0,2
mungkin terjadi (peluang terjadinya 1 kali dalam
1000000 kesempatan)
PEMAPARAN (Frekuensi dan lamanya pemaparan bahaya tersebut)/ E
KATEGORI PENJELASAN NILAI
Kontinyu Sangat sering atau pekerjaan yang rutin dilakukan 10
Sering kali Terjadinya sekali sampai beberapa hari sekali 6
Kadang-kadang Sekali seminggu sampai beberapa kali sebulan 3
Tidak biasanya Sekali dalam sebulan sampai sekali setahun 2
Jarang Sekali dalam beberapa tahun 1
Sangat jarang Belum pernah terjadi pemaparan 0,5
AKIBAT (Keparahan dari hasil yang dikeluarkan oleh suatu kejadian sperti cidera, sakit, dll)/ c

KATEGORI PENJELASAN NILAI


Katastropi Menimbulkan banyak korban jiwa 100
Bencana Menimbulkan beberapa korban jiwa 40
Sangat serius Menimbulkan satu kematian 15
Serius Menimbulkan cidera serius (menyebabkan cacat anggota 7
tubuh)
Perawatan medis Menimbulkan cidera yang memerlukan perawatan medis 3

Perawatan P3K Cidera yang bersifat minor atau hanya memerlukan 1


pengobatan P3K

41
PENILAIAN RISIKO
PENILAIAN RISIKO
Nilai Resiko Saran
Diatas 400 Resiko sangat tinggi lakukan penghentian kegiatan
segera
200-400 Resiko tinggi perbaikan dengan segera
(keterlibatan dengan manajemen)
50-200 Resiko substansial perlu tindakan perbaikan
10-50 Resiko sedang perlu tindakan perbaikan namun
dapat dijadwalkan
Dibawah 10 Resiko rendah

42