Anda di halaman 1dari 3

A.

Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Berat Badan Lahir Bayi


Pendidikan memiliki korelasi yang sangat erat terhadap kesehatan dan keduanya
saling memberikan manfaat. Pendidikan dan kesehatan merupakan pusat kesejahteraan
individu dan populasi. Keduanya tertanam dalam konteks dan struktur sosial. Orang
dewasa dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi ternyata hidup lebih sehat dan
lebih lama dibandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan (Zajacova dan
Lawrence, 2018).
Berbeda dengan beberapa studi lainnya seperti yang dilakukan di Australia pada
tahun 2015, didapatkan hasil bahwa pendidikan meningkatkan kualitas makanan
seseorang serta memiliki kecenderungan untuk membuat seseorang sadar akan
pentingnya melakukan olahraga teratur dan minum air untuk mencegah dehidrasi.
Tetapi tingginya pendidikan tidak berbanding lurus dengan tindakan seseorang untuk
menghindari rokok serta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai upaya
preventif (Li dan Powdthavee, 2015). Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh
Hidaka didapatkan bahwa pada wanita berpendidikan tinggi erat dikaitkan dengan
asupan makanan cepat saji yang lebih besar (r= 0.28; p=0.0005); namun hubungan ini
tidak signifikan pada pria (r=−0.14; p=0.21). Dalam populasi yang lebih luas
didapatkan bahwa seseorang yang berpenghasilan rendah dan seseorang dengan
pencapaian pendidikan tinggi (lulusan perguruan tinggi atau lebih tinggi) sangat erat
kaitannya dengan asupan makanan cepat saji yang lebih tinggi. Hal ini berlaku pada
wanita tetapi tidak pada pria (Hidaka et al., 2018).

Padahal asupan makanan yang kaya akan nutrisi sangat penting untuk
keberlangsungan hidup seseorang (Falkenberg et al., 2017). Memiliki kebiasaan
makan makanan cepat saji dapat membuat asupan makanan tidak lagi sehat (Moore et
al., 2009). Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Barrington dan White (2016);
Bowman dan Vinyard (2004); Pereira et al. (2005) dalam Hidaka et al. (2018)
dijelaskan bahwa makanan cepat saji dikaitkan secara erat terhadap indeks masa tubuh
yang besar, penambahan berat badan yang cepat, terjadi resistensi insulin dan
peningkatan risiko mortalitas.
Penelitian mengenai makrosomia belum banyak disoroti, namun berdasarkan
patofisiologi serta sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa jurnal bahwa ibu-ibu
yang menderita obesitas, diabetes mellitus (DM) atau resistensi insulin, kelebihan
asupan makanan sebelum dan selama kehamilan memiliki risiko tinggi untuk
melahirkan bayi dengan berat badan berlebih. Sehingga hal ini memiliki hubungan
yang erat antara tingkat pendidikan seorang ibu yang sedang hamil terhadap berat
badan lahir bayi (Kc et al., 2015; Najafian dan Cheraghi, 2012; Pan et al., 2017).

Kejadian yang memiliki prevalensi lebih tinggi dari makrosomia atau kelahiran
bayi dengan berat badan lahir besar adalah kejadian bayi lahir dengan berat badan
rendah (BBLR). Pamungkas (2012) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara berat
bayi lahir rendah dengan kehidupan sosial ekonomi ibu dengan (p=0,031) yang mana
pendidikan termasuk ke dalam faktor sosial ekonomi. Menurut Suciati (2008) dan
Achadi (2007) dalam Pamungkas (2012) faktor tingkat pendidikan turut pula
menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi
yang mereka peroleh. Tingkat pendidikan termasuk dalam faktor sosial ekonomi
karena tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi yaitu dengan meningkatkan
pendidikan kemungkinan akan dapat meningkatkan pendapatan sehingga
meningkatkan daya beli makanan untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga. Sehingga
apabila tingkat pendidikan rendah maka terdapat kemungkinan terjadi kekurangan
asupan gizi. Menurut Shrestha et al. (2015) bahwa kurang konsumsi makanan bergizi
selama hamil menjadi penyebab kelahiran bayi BBLR (AOR=1.99; CI=1.28-3.10).
Walaupun pendidikan merupakan komponen dari sosial ekonomi tetapi penelitian
yang dilakukan ini belum terlalu spesifik terdahap pendidikan ibu.
Selain itu juga terdapat penelitian yang dilakukan oleh Khairina dan Modjo
(2013) menjelaskan mengenai perbedaan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian berat
badan lahir rendah pada bayi. Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Kecamatan
Cipayung Kota Depok dengan responden sebanyak 100 bayi berumur 0-11bulan. Pada
variabel tingkat pendidikan diklasifikasikan menjadi tinggi dan rendah serta
dihubungkan dengan variabel kejadian berat badan lahir rendah bayi. Hasil peneltian
terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan berat badan lahir bayi
rendah dan diperoleh nilai (OR=12; p=0.010).
Berdasarkan penelitian di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu
dengan berat badan lahir memiliki hubungan (Khairina dan Modjo, 2013). Namun,
tingkat pendidikan ibu yang baik belum tentu membuat seorang ibu melahirkan bayi
dengan berat badan yang normal, bahkan tingkat pendidikan tinggi pada beberapa
penelitian disebutkan memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan yang
kurang bergizi (Hidaka et al., 2018). Namun untuk tingkat pendidikan ibu yang
rendah memiliki hubungan yang signifikan pada beberapa penelitian terhadap bayi
lahir rendah (Septiani, 2015). Oleh karena itu, dalam penelitian ini diharapkan adanya
hasil yang yang tepat dan bisa memberikan bukti terbarukan sehingga bisa menjadi
landasan terbaru untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan
berat badan bayi lahir di RS Dr. Moewardi Surakarta.