Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sorotan masyarakat yang cukup tajam atas jasa pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan,
khususnya dengan terjadinya berbagai kasus yang menyebabkan ketidakpuasan masyarakat
memunculkan isu adanya dugaan malpraktek medis yang secara tidak langsung dikaji dari aspek
hukum dalam pelayanan kesehatan, karena penyebab dugaan malpraktek belum tentu disebabkan
oleh adanya kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, khususnya dokter.

Bentuk dan prosedur perlindungan terhadap kasus malpraktek yang ditinjau dari Undang-
Undang Perlindungan Konsunmen No.8 tahun 1999. peraturan tersebut mengatur tentang
pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga yang
dibentuk oleh pemerintah yang membidangi perlindungan konsumen, selain peran serta
pemerintah, peran serta masyarakat sangat perlu dibutuhkan dalam perlindungan konsumen dalam
kasus malpraktek serta penerapan hukum terhadap kasus malpraktek yang meliputi tanggung jawab
hukum dan sanksinya menurut Hukum Perdata, pidana dan administrasi.

1.2. rumusan masalah


1. Apa yang dimaksud malpraktek
2. Apakah jenis-jenis malpraktek dibidang pelayanan kesehatan
3. Bagaimana cara pembuktian malpraktek
4. Bagaimana upaya pencegahan malpraktek

1.3. Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan penegrtian malpraktek.

2. Menjelaskan jenis-jenis malpraktek dibidang pelayanan kesehatan.

3. Menjelaskan cara-cara pembuktian malpraktek

4. Memahami upaya pencegahan malpraktek.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Malpraktek

Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah” sedangkan “praktik” mempunyai arti
“pelaksanaan” atau “tindakan”, sehingga malpraktik berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”.

Definisi malpraktik profesi kesehatan adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat
untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat
pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran
dilingkungan yang sama (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California,
1956).

Pengertian malpraktik medik menurut WMA (World Medical Associations) adalah Involves the
physician’s failure to conform to the standard of care for treatment of the patient’s condition, or a
lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to
the patient (adanya kegagalan dokter untuk menerapkan standar pelayanan terapi terhadap pasien,
atau kurangnya keahlian, atau mengabaikan perawatan pasien, yang menjadi penyebab langsung
terhadap terjadinya cedera pada pasien).

Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan berlaku norma etika dan norma
hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah
diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika
disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice. Hal ini
perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga perawatan berlaku norma etika dan norma hukum,
sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar. Karena antara etika
dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan
sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai untuk menentukan adanya ethical malpractice atau
yuridical malpractice dengan sendirinya juga berbeda. yang jelas tidak setiap ethical malpractice
merupakan yuridical malpractice akan tetapi semua bentuk yuridical malpractice pasti merupakan
ethical malpractice (Lord Chief Justice, 1893).

2.2. Malpraktek Dibidang Hukum

Untuk malpraktik hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang
hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil malpractice dan Administrative malpractice.

1. Criminal malpractice

Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala


perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela.

b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan (intensional),
kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence).

• Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya melakukan euthanasia


(pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan
palsu (pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP).

• Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya melakukan tindakan


medis tanpa persetujuan pasien informed consent.

• Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati mengakibatkan
luka, cacat atau meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan
operasi.

Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat


individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah
sakit/sarana kesehatan.

2. Civil malpractice

Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati
(ingkar janji). Tindakan tenaga kesehatan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:

a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.

b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat melakukannya.

c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.

d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat
pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability.Dengan prinsip ini maka rumah
sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya
(tenaga kesehatan) selama tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas
kewajibannya.

3. Administrative malpractice
Dokter dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala tenaga perawatan
tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police
power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang
kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan profesinya
(Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga perawatan. Apabila
aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan
melanggar hokum administrasi.

2.3. Pembuktian Malpraktek Dibidang Pelayanan Kesehatan

Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan
dua cara yakni :

1. Cara langsung

Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni :

a. Duty (kewajiban)

Dalam hubungan perjanjian tenaga dokter dengan pasien, dokter haruslah bertindak
berdasarkan:

1) Adanya indikasi medis

2) Bertindak secara hati-hati dan teliti

3) Bekerja sesuai standar profesi

4) Sudah ada informed consent.

b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)

Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang seharusnya atau
tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya, maka dokter
dapat dipersalahkan.

c. Direct Cause (penyebab langsung)

d. Damage (kerugian)

Dokter untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara
penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa
atau tindakan sela diantaranya., dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome)
negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan dokter. Sebagai adagium dalam ilmu
pengetahuan hukum, maka pembuktiannya adanya kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh
si penggugat (pasien).
2. Cara tidak langsung

Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni dengan
mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res ipsa
loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi
kriteria:

a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai

b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter

c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory
negligence.

Di dalam transaksi teraputik ada beberapa macam tanggung gugat, antara lain:

1. Contractual liability

Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari hubungan
kontraktual yang sudah disepakati. Di lapangan pengobatan, kewajiban yang harus
dilaksanakan adalah daya upaya maksimal, bukan keberhasilan, karena health care provider
baik tenaga kesehatan maupun rumah sakit hanya bertanggung jawab atas pelayanan
kesehatan yang tidak sesuai standar profesi/standar pelayanan.

2. Vicarius liability

Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang timbul atas
kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam tanggung jawabnya (sub
ordinate), misalnya rumah sakit akan bertanggung gugat atas kerugian pasien yang diakibatkan
kelalaian perawat sebagai karyawannya.

3. Liability in tort

Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hokum (onrechtmatige
daad). Perbuatan melawan hukum tidak terbatas haya perbuatan yang melawan hukum,
kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, akan tetapi termasuk
juga yang berlawanan dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut
dilakukan dalam pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad 31
Januari 1919).

2.4. Malpraktek Ditinjau Dari Segi Etika dan Hukum


Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa. Namun,
sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Tadinya masyarakat berharap bahwa UU
Praktik Kedokteran itu akan juga mengatur masalah malpraktek medik. Namun, materinya ternyata
hanya mengatur masalah disiplin, bersifat intern. Walaupun setiap orang dapat mengajukan ke
Majelis Disiplin Kedokteran, tetapi hanya yang menyangkut segi disiplin saja. Untuk segi hukumnya,
undang-undang merujuk ke KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) bila terjadi tindak pidana.
Namun, kalau sampai diajukan ke Pengadilan tetap terkatung-katung tidak ada kunjung
penyelesaiannya, lantas apa gunanya?

Di negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon, masalah dugaan malpraktik medik ini
sudah ada ketentuan di dalam common law dan menjadi yurisprudensi. Walaupun Indonesia
berdasarkan hukum tertulis, seharusnya tetap terbuka putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap menjadi yurisprudensi.

Dan karena masyarakat semakin sadar terhadap masalah pelayanan kesehatan, DPR yang
baru harus dapat menangkap kondisi tersebut dengan berinisiatif membentuk Undang-Undang (UU)
tentang Malpraktik Medik, sebagai pelengkap UU Praktik Kedokteran.

Bagaimana materinya, kita bisa belajar dari negara-negara yang telah memiliki peraturan
tentang hal tersebut. Harapan masyarakat, ketika mereka merasa dirugikan akibat tindakan medis,
landasan hukumnya jelas. Sedangkan di pihak para medis, setiap tindakannya tidak perlu lagi
dipolemikan sepanjang sesuai undang-undang.

Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda
dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas
adalah ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang motivasi, perilaku dan
perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai
ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat
fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak ? Peter Singer, filusf kontemporer dari
Australia menilai kata etika dan moralitas sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia
menggunakan keduanya secara tertukar-tukar.

Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya
tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti
kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat, serta
bertindak dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga
terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, profesional
dan terhormat.

Bagi eksekutif puncak rumah sakit, etika seharusnya berarti kewajiban dan tanggung jawab
khusus terhadap pasien dan klien lain, terhadap organisasi dan staff, terhadap diri sendiri dan
profesi, terhadap pemrintah dan pada tingkat akhir walaupun tidak langsung terhadap masyarakat.
Kriteria wajar, jujur, adil, profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah
sakit.Bagi asosiasi profesi, etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman untuk diterapkan dan
dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan
pelayanan profesi itu.

Malpraktek meliputi pelanggaran kontrak ( breach of contract), perbuatan yang disengaja


(intentional tort), dan kelalaian (negligence). Kelalaian lebih mengarah pada ketidaksengajaan
(culpa), sembrono dan kurang teliti. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan,
selama tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat
menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum “de minimis noncurat lex”, hukum tidak mencampuri
hal-hal yang dianggap sepele (hukumonliine.com, 17 April 2004).

Ketidaktercantuman istilah dan definisi menyeluruh tentang malpraktek dalam hukum positif
di Indonesia, ambiguitas kelalaian medik dan malpraktek yang berlarut-larut, hingga referensi-
referensi tentang malpraktek yang masih dominan diadopsi dari luar negeri yang relevansinya
dengan kondisi di Indonesia masih dipertanyakan, semuanya merupakan Pe-Er besar bagi
pemerintah. Barangkali inovasi cerdas pemerintah guna menangani kasus malpraktek dan sengketa
medik adalah lahirnya RUU Praktik Kedokteran. Akan tetapi, benarkah demikian? Dalam beberapa
pasal, RUU Praktik Kedokteran memang memberikan kepastian hukum bagi dokter sekaligus
perlindungan bagi pasien.

Secara substansial, RUU yang terdiri dari 182 pasal ini memuat pasal-pasal yang implisit
dengan teori-teori pembelaan dokter yang umumnya digunakan dalam peradilan. RUU Praktek
Kedokteran memungkinkan sebuah sistem untuk meregulasi pelayanan medis yang terstandardisasi
dan terkualifikasi sehingga probabilitas terjadinya malpratek dapat dieliminasi seminimal mungkin.
Dengan dicantumkannya peraturan pidana dan perdata serta peradilan profesi tenaga medis,
harapan perlindungan terhadap pasien dapat terealisasi.

2.5. Aspek Hukum Malpraktek

Hukum itu mempunyai 3 pengertian, sebagai sarana mencapai keadilan, yang kedua sebagai
pengaturan dari penguasa yang mengatur perbuatan apa yang boleh dilakukan, dilarang, siapa yang
melakukan dan sanksi apa yang akan dijatuhkan (hukum objektif). Dan yang ketiga hukum itu juga
merupakan hak.Oleh karenanya penegakan hukum bukan hanya untuk medapatkan keadilan tapi
juga hak bagi masyarakat (korban).

Sehubungan dengan hal ini, Adami Chazawi juga menilai tidak semua malpraktik medik masuk
dalam ranah hukum pidana. Ada 3 syarat yang harus terpenuhi, yaitu pertama sikap bathin dokter
(dalam hal ini ada kesengajaan/dolus atau culpa), yang kedua syarat dalam perlakuan medis yang
meliputi perlakuan medis yang menyimpang dari standar tenaga medis, standar prosedur
operasional, atau mengandung sifat melawan hukum oleh berbagai sebab antara lain tanpa STR
atau SIP, tidak sesuai kebutuhan medis pasien. Sedangkan syarat ketiga untuk dapat menempatkan
malpraktek medik dengan hukum pidana adalah syarat akibat, yang berupa timbulnya kerugian bagi
kesehatan tubuh yaitu luka-luka (pasal 90 KUHP) atau kehilangan nyawa pasien sehingga menjadi
unsure tindak pidana.
Selama ini dalam praktek tindak pidana yang dikaitkan dengan dugaan malpraktik medik
sangat terbatas. Untuk malpraktek medik yang dilakukan dengan sikap bathin culpa hanya 2 pasal
yang biasa diterapkan yaitu Pasal 359 (jika mengakibatkan kematian korban) dan Pasal 360 (jika
korban luka berat).

Pada tindak pidana aborsi criminalis (Pasal 347 dan 348 KUHP). Hampir tidak pernah jaksa
menerapkan pasal penganiyaan (pasal 351-355 KUHP) untuk malpraktik medik.Dalam setiap tindak
pidana pasti terdapat unsure sifat melawan hukum baik yang dicantumkan dengan tegas ataupun
tidak. Secara umum sifat melawan hukum malpraktik medik terletak pada dilanggarnya kepercayaan
pasien dalam kontrak teurapetik tadi.

Dari sudut hukum perdata, perlakuan medis oleh dokter didasari oleh suatu ikatan atau
hubungan inspanings verbintenis (perikatan usaha), berupa usaha untuk melakukan pengobatan
sebaik-baiknya sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, kebiasaan umum yang
wajar dalam dunia kedokteran tapi juga memperhatikan kesusilaan dan kepatutan.Perlakuan yang
tidak benar akan menjadikan suatu pelanggaran kewajinban (wan prestasi).

Ada perbedaan akibat kerugian oleh malpraktik perdata dengan malpraktik pidana. Kerugian
dalam malpraktik perdata lebih luas dari akibat malpraktik pidana. Akibat malpraktik perdata
termasuk perbuatan melawan hukum terdiri atas kerugian materil dan idiil, bentuk kerugian ini
tidak dicantumkan secara khusus dalam UU. Berbeda dengan akibat malpraktik pidana, akibat yang
dimaksud harus sesuai dengan akibat yang menjadi unsure pasal tersebut. Malpraktik kedokteran
hanya terjadi pada tindak pidana materil (yang melarang akibat yang timbul,dimana akibat menjadi
syarat selesainya tindak pidana). Dalam hubungannya dengan malpraktik medik pidana,
kematian,luka berat, rasa sakit atau luka yang mendatangkan penyakit atau yang menghambat tugas
dan matapencaharian merupakan unsure tindak pidana.

Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran maka ia
hanya telah melakukan malpraktik etik. Untuk dapat menuntut penggantian kerugian karena
kelalaian maka penggugat harus dapat membuktikan adanya suatu kewajibanbagi dokter terhadap
pasien, dokter telah melanggar standar pelayananan medik yang lazim dipergunakan, penggugat
telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya.

Terkadang penggugat tidak perlu membuktikan adanya kelalaian tergugat. Dalam hukum
dikenal istilah Res Ipsa Loquitur (the things speaks for itself), misalnya dalam hal terdapatnya kain
kasa yang tertinggal di rongga perut pasien sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam
hal ini dokterlah yang harus membuktikan tidak adanya kelalain pada dirinya.

2.6. Asumsi masyarakat terhadap malpraktek


Maraknya malpraktek di Indonesia membuat masyarakat tidak percaya lagi pada pelayanan
kesehatan di Indonesia. Ironisnya lagi, pihak kesehatan pun khawatir kalau para tenaga medis
Indonesia tidak berani lagi melakukan tindakan medis karena takut berhadapan dengan hukum.
Lagi-lagi hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi yang baik antara tenaga medis dan pasien.
Tidak jarang seorang tenaga medis tidak memberitahukan sebab dan akibat suatu tindakan medis.
Pasien pun enggan berkomunikasi dengan tenaga medis mengenai penyakitnya. Oleh karena itu,
Departemen Kesehatan perlu mengadakan penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat tentang
bagaimana kinerja seorang tenaga medis.

Sekarang ini tuntutan professional terhadap profesi ini makin tinggi. Berita yang
menyudutkan serta tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan dibidang medis
bermunculan. Di Negara-negara maju yang lebih dulu mengenal istilah makpraktek medis ini
ternyata tuntutan terhadap tenaga medis yang melakukan ketidaklayakan dalam praktek juga tidak
surut. Biasanya yang menjadi sasaran terbesar adalah dokter spesialis bedah (ortopedi, plastic dan
syaraf), spesialis anestesi serta spesialis kebidanan dan penyakit kandungan.

Di Indonesia, fenomena ketidakpuasan pasien pada kinerja tenaga medis juga berkembang.
Pada awal januari tahun 2007 publik dikejutkan oleh demontrasi yang dilakukan oleh para korban
dugaan malpraktik medis ke Polda Metro Jaya dengan tuntutan agar polisi dapat mengusut terus
sampai tuntas setiap kasus dugaan malpraktek yang pernah dilaporkan masyarakat.

Tuntutan yang demikian dari masyarakat dapat dipahami mengingat sangat sedikit jumlah
kasus malpraktik medik yang diselesaikan di pengadilan. Apakah secara hukum perdata, hukum
pidana atau dengan hukum administrasi. Padahal media massa nasional juga daerah berkali-kali
melaporkan adanya dugaan malpraktik medik yang dilakukan dokter tapi sering tidak berujung pada
peyelesaian melalui sistem peradilan.

Salah satu dampak adanya malpraktek pada zaman sekarang ini (globalisasi)Saat ini kita hidup
di jaman globalisasi, jaman yang penuh tantangan, jaman yang penuh persaingan dimana
terbukanya pintu bagi produk-produk asing maupun tenaga kerja asing ke Indonesia. Kalau kita
kaitkan dengan dunia medis, ada manfaat yang didapat, tetapi banyak pula kerugian yang
ditimbulkan. Manfaatnya adalah seiring mesuknya jaman globalisasi, maka tidak menutup
kemungkinan akan kehadiran peralatan pelayanan kesehatan yang canggih. Hal ini memberikan
peluang keberhasilan yang lebih besar dalam kesembuhan pasien. Akan tetapi, banyak juga kerugian
yang ditimbulkan. Masuknya peralatan canggih tersebut memerlukan sumber daya manusia yang
dapat mengoperasikannya serta memperbaikinya kalau rusak. Yang menjadi sorotan disini adalah
dalam hal pengoperasiannya. Coba kita analogikan terlebih dahulu, dengan masuknya peralatan-
peralatan canggih tersebut, maka mutu pelayanan kesehatan harus ditingkatkan. Namun, yang
terjadi saat ini adalah banyak tenaga medis yang melakukan kesalahan dalam pengoperasian
peralatan canggih tersebut sehingga menimbulkan malpraktek. Jelas sekali bahwa ketergantungan
pada peralatan pelayanan kesehatan ini dapat menghambat pelayanan kesehatan. Untuk
menindaklanjuti masalah ini, agar tidak sampai terjadi malpraktek, perlu adanya penyuluhan kepada
tenaga pelayanan kesehatan mengenai masalah ini. Kemudian, perlu adanya penyesuaian kurikulum
pendidikan dengan perkembangan teknologi. Satu hal yang lebih penting lagi adalah perlu adanya
kesadaran bagi para tenaga medis untuk terus belajar dan belajar agar dapat meningkatkan
kemampuannya dalam penggunaan peralatan canggih ini demi mencegah terjadinya malpraktek.
Hal ini dapat direalisasikan dengan adanya penyuluhan yang disebutkan tadi. Selain pembahasan
dari sisi peralatan tadi, juga perlu dipikirkan masalah eksistensi dokter Indonesia dalam menghadapi
globalisasi. Seperti yang disebutkan sebelumnya, di jaman globalisasi ini memberikan pintu terbuka
bagi tenaga kesehatan asing untuk masuk ke Indonesia, begitu pula tenaga kesehatan Indonesia
dapat bekerja diluar negeri dengan mudah. Namun, apabila tidak ada tindakan untuk
mempersiapkan hal ini, dapat menimbulkan kerugian bagi tenaga kesehatan kita. Bayangkan saja,
tidak menutup kemungkinan apabila seorang tenaga medis yang kurang mempersiapkan dirinya
untuk berkiprah di negeri orang, dikarenakan ilmunya yang masih minim serta perbedaan kurikulum
di negeri yang ia tempati, terjadilah malpraktek. Hal ini tidak saja mencoreng nama baik tenaga edis
tersebut tersebut, tetapi juga nama baik dunia kesehatan Indonesia. Yang jelas, kami sangat
berharap akan peran dari Pemerintah pada umumnya dan peran dari Departemen Kesehatan pada
khususnya untuk mempersiapkan tenaga kesehatan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi
saat ini.

2.7. Upaya pencegahan malpraktik dalam pelayanan kesehatan

1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan

Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga bidan karena adanya
mal praktek diharapkan para bidan dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:

a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena perjanjian
berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat
verbintenis).

b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.

c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.

d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.

e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya.

f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

2. Upaya menghadapi tuntutan hukum

Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga bidan
menghadapi tuntutan hukum, maka tenaga bidan seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau
keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian bidan.

Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice, maka tenaga bidan dapat
melakukan :
a. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal bahwa tuduhan
yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada, misalnya
bidan mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan risiko
medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin
(men rea) sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.

b. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau menunjuk pada
doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur
pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung
jawaban, dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.

Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya bidan menggunakan jasa penasehat hukum,
sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya.

Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana bidan digugat membayar ganti rugi
sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil penggugat, karena dalam peradilan
perdata, pihak yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau
pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (bidan) bertanggung
jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.

Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah, utamanya tidak diketemukannya fakta
yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk membuktikan adanya tindakan
menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara menterlantarkan
kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage), sedangkan yang harus membuktikan adalah
orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga kebidanan.

• Di Indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur antara lain pada peraturan pemerintah
no 18 tahun 1981 yaitu:

1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak
dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan
dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.

2. Semua tindakan medis (diagnostic, terapuetik maupun paliatif) memerlukan informed consent secara
lisan maupun tertulis.

3. Setiap tindakan medis yang mempunyai resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan
tertulis yang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya pasien memperoleh informasi yang adekuat
tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta resikonya.

4. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau sikap
diam.

5. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak diminta
oleh pasien. Menahan informasi tidak boleh, kecuali bila dokter/bidan menilai bahwa informasi tersebut
dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi
kepada keluarga terdekat pasien. Dalam memberikan informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien,
kehadiran seorang bidan/paramedic lain sebagai saksi adalah penting.

6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan, baik diagnostic,
terapuetik maupun paliatif. Informasi biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat pula secara tertulis
(berkaitan dengan informed consent).

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Ada banyak penyebab mengapa persoalan malpraktik medik mencuat akhir-akhir ini dimasyarakat
diantaranya pergeseran hubungan antara tenaga medis dan pasien yang tadinya bersifat paternalistic
tidak seimbangdan berdasarkan kepercayaan (trust, fiduciary relationship) bergantidengan pandangan
masyarakat yang makin kritis serta kesadaranhukum yang makin tinggi. Selain itu jumlah dokter di
Indonesia dianggap belum seimbang dengan jumlah pasien sehingga seorang tenaga medis menangani
banyak pasien (berpraktek di berbagai tempat) yang berakibat diagnosa menjadi tidak teliti.

Apresiasi masyarakat pada nilai kesehatan makin tinggi sehingga dalam melakukan hubungan dengan
dokter, pasien sangat berharap agar dokter dapat memaksimalkan pelayanan medisnya untuk harapan
hidup dan kesembuhan penyakitnya. Selama ini masyarakat menilai banyak sekali kasus dugaan
malpraktik medik yang dilaporkan media massa atau korban tapi sangat sedikit jumlahnya yang
diselesaikan lewat jalur hukum.

Dari sudut penegakan hukum sulitnya membawa kasus ini ke jalur pengadilan diantaranya karena belum
ada keseragaman paham diantara para penegak hukum sendiri soal malpraktik medik ini.

Masih ada masyarakat (pasien) yang belum memahami hak-haknya untuk dapat meloprkan dugaan
malpraktik yang terjadi kepadanya baik kepada penegak hukum atau melalui MKDKI (Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia). Oleh karenanya lembaga MKDKI sebagai suatu peradilan
profesi dapat ditingkatkan peranannya sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai
lembaga yang otonom, independent dan memperhatikan juga nasib korban. Bahkan berkaitan dengan
MKDKI ini SEMA RI tahun 1982 menyarankan agar untuk kasus dugaan malpraktik medik sebaiknya
diselesaikan dulu lewat peradilan profesi ini.

Dari sudut hukum acara (pembuktian) terkadang penegak hukum kesulitan mencari keterangan ahli yang
masih diliputi esprit de corps. Mungkin sudah saatnya diperlukan juga saksi yang memahami ilmu hukum
sekaligus ilmu kesehatan.

Bahaya malpraktek memang luar biasa. Tidak hanya mengakibatkan kelumpuhan atau gangguan fatal
organ tubuh, tetapi juga menyebabkan kematian. Masalah yang ditimbulkan pun bisa sampai pada
masalah nama baik, baik pribadi bahkan negara, seperti yang dipaparkan waktu penjelasan fenomena
malpraktek pada era globalisasi tadi. Benar-benar kompleks sekali permasalahan yang timbul akibat
malpraktek ini. Sehingga benar bahwa malpraktek dikatakan sebagai sebuah malapetaka bagi dunia
kesehatan di Indonesia.

2.1. Saran

Terhadap dugaan malpraktik medik, masyarakat dapat melaporkan kepada penegak hukum (melalui jalur
hukum pidana), atau tuntutan ganti rugi secara perdata, ataupun menempuh ketentuan pasal 98 KUHAP
memasukkan perkara pidana sekaligus tuntutan gantirugi secara perdata.

DAFTAR PUSTAKA

• http://bidankita.com/?p=210

• http://chans-ums.blogspot.com/2009/07/malpraktek.html

• http://everythingaboutortho.wordpress.com/2008/06/28/malpraktik-sejauh-mana-kita-sebagai-
seorang-dokter-memahaminya/

• http://rob13y.wordpress.com/2010/06/28/salah-operasi-mata-bayi-6-bulan-copot/

• http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/MALPRAKTEK%20MEDIK.pdf
• http://www.ilunifk83.com/peraturan-dan-perijinan-f16/uu-ri-no-29-tahun-2004-tentang-praktik-
kedokteran-t93.htm