Anda di halaman 1dari 35

PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK

PERTAMBAHAN NILAI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 2

1.3 Maksud dan Tujuan....................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pajak Pertambahan Nilai............................................................ 4

2.2 Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ............................................ 4

2.3 Tipe Pajak Pertambahan Nilai (PPN) .......................................................... 6

2.3.1. Consumption Type Value Added Tax ...................................................... 6

2.3.2. Net Income Type Value Added Tax ......................................................... 7

2.3.3. Gross Product Type Value Added Tax.................................................... 7

2.4 Model Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) .................................. 8

2.4.1. The Substractive Direct Method .............................................................. 8

2.4.2. The Substractive Indirect Method ........................................................... 9

2.5 Subjek dan Objek PPN ............................................................................... 11

2.5.1. Subjek Pajak Pertambahan Nilai ............................................................. 11

i
2.5.2. Objek Pajak Pertambahan Nilai ............................................................... 11

2.5.3. Bukan Objek Pajak Pertambahan Nilai ................................................... 13

2.6 Pengusaha Kena Pajak ................................................................................ 16

2.7 Penyerahan Barang dan Jasa Kena Pajak .................................................. 17

2.7.1. Penyerahan Barang Kena Pajak ............................................................... 17

2.7.2. Penyerahan Jasa Kena Pajak .................................................................... 19

2.7.3. Penyerahan Barang Kena Pajak yang dibebaskan dari Pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai .................................................................................... 21

2.7.4. Penyerahan Jasa Kena Pajak yang dibebaskan dari Pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai .................................................................................... 22

2.7.5. Nilai Penyerahan yang Menggunakan Valuta Asing ............................. 23

2.8 Faktur Pajak ................................................................................................. 24

2.8.1. Saat Pembuatan Faktur Pajak ................................................................ 24

2.8.2. Ketentuan Pembuatan Faktur Pajak ...................................................... 24

2.8.3. Dokumen Tertentu yang Kedudukannya dipersamakan dengan Faktur


Pajak ........................................................................................................ 25

2.8.4. Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak yang Rusak atau Cacat atau Salah
dalam Pengisian atau Salah dalam Penulisan ....................................... 26

2.8.5. Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak ...................................................... 27

2.8.6. Tata Cara Penggantian Faktur Pajak yang Hilang ............................... 27

2.9 Kredit Pajak ................................................................................................. 28

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 29

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 33

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pajak pertambahan nilai (PPN) atau biasa disebut Value Added Tax (VAT)
merupakan bentuk pemajakan yang utama di Eropa. Teknik pemajakan atas PPN
didasarkan pada metode pengkreditan pajak, dimana bentuk awalnya merupakan
pemajakan atas penjualan yang merupakan pemajakan atas konsumsi. Evolusi
consumption taxes yang terjadi di Perancis dari tahun 1917 s.d. tahun 1920 dengan
pemberlakuan Bea Materai kepada konsumen yang kemudian berkembang antara
tahun 1920 s.d. tahun 1936 dengan pemberlakuan Pajak Penjualan yang
diberlakukan secara umum dengan tarif pajak antara 0,5% hingga 10% dengan
subjek pajak terdiri dari personal tax payer (orang pribadi) dan corporate tax payer
(badan).

Dalam kurun waktu tersebut diberlakukan tarif khusus yang dikenakan satu
kali terhadap kegiatan produksi. Untuk menjamin netralitas pajak terhadap kegiatan
usaha, diterapkan destination principle (ekspor dibebankan pengenaan pajak
penjualan, sedangkan impor tetap dikenakan pajak penjualan). Antara tahun 1936
s.d. tahun 1939 pemberlakuan pajak umum atas semua komoditi dikenakan satu kali
pada tingkat produksi dengan tarif awal sebesar 6%. Pada masa ini juga diterapkan
destination principle. Antara tahun 1939 s.d. tahun 1948 diterapkan pajak umum
atas transaksi turunan dari tipikal pajak penjualan pada tahun 1920. Akibat sistem
perpajakan yang kompleks terhadap penjualan, pada tahun 1948 s.d. tahun 1954
Perancis mereformasi sistem perpajakan atas penjualan tersebut yang salah satu
hasilnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (Value Added Tax) disamping penerapan
pajak penjualan atas subjek atau objek pajak tertentu.

Negara-negara seperti Perancis, Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara


lainnya termasuk Indonesia sampai sekarang masih tetap menganut sistem

1
2

perpajakan berdasarkan Pajak Pertambahan Nilai (Value Added Tax) sebagai teknik
pemajakan atas penjualan karena PPN merupakan bagian dari consumption tax
hanya pemajakannya berbeda dengan pajak penjualan (sales tax) karena adanya tax
invoice system.

Di Indonesia sendiri, sebelum tahun 1951 masih menggunakan sistem pajak


kolonial. Untuk menghilangkan sisa kolonial di Indonesia, dikeluarkan Undang-
Undang (UU) darurat. Pada tahun 1951 ditetapkan Pajak Penjualan atau biasa
disebut PPn. Pengenaan PPn di Indonesia hanya bertahan hingga tahun 1983 karena
terjadi pengenaan pajak berganda oleh PPn sehingga dilakukanlah suatu tax reform
dengan mengeluarkan lima paket undang-undang. Dalam tax reform tersebut
banyak unsur perpajakan yang diganti dan ditambah. Salah satunya penggantian
pengenaan Pajak Penjualan (PPn) menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

PPn diganti agar pengenaan pajak berganda tidak terjadi sehingga


mengurangi kemungkinan terjadinya penggelapan pajak. Dalam PPn, pajak
dikenakan berlipat-lipat sehingga terjadi ketidaknetralan perdagangan dan beban
pajak yang dipikul menjadi tidak pasti. Selain itu, tidak ada mekanisme Pajak
Masukan atau Pajak Keluaran dalam setiap transaksi PPn.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan Masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Pertambahan Nilai?
2. Apa saja karakteristik Pajak Pertambahan Nilai?
3. Apa saja tipe Pajak Pertambahan Nilai?
4. Bagaimana model perhitungan Pajak Pertambahan Nilai?
5. Apa saja yang menjadi subjek dan objek PPN?
6. Apa yang dimaksud dengan Pengusaha Kena Pajak (PKP)?
7. Bagaimana penyerahan barang dan jasa kena pajak?
8. Apa yang dimaksud dengan faktur pajak?
9. Bagaimana mekanisme kredit pajak?
3

1.3. Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan pembuatan tugas ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian pertambahan nilai.
2. Menjelaskan karakteristik Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
3. Menjelaskan tipe Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
4. Menjelaskan model perhitungan PPN.
5. Menjelaskan subjek dan objek PPN.
6. Menjelaskan Pengusaha Kena Pajak (PKP).
7. Menjelaskan penyerahan barang dan jasa kena pajak.
8. Menjelaskan faktur pajak.
9. Menjelaskan kredit pajak.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan pajak yang dikenakan atas
konsumsi barang dan jasa di dalam daerah pabean atau wilayah Republik Indonesia
yang di dalamnya berlaku perundang-undangan pabean.

2.2. Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai diantaranya adalah:
1. Pajak Tidak Langsung (Indirect Tax).
Pajak pertammbahan nilai lazimnya dikelompokan sebagai pajak tidak
langsung yang secara ekonomis beban PPN dapat dialihkan (tax shifting) kepada
pihak lain yang terkait.
2. Pajak Objektif.
Mengandung pengertian bahwa timbulnya kewajiban untuk membayar pajak
sangat ditentukan oleh hukum objektif, yaitu adanya taatbestand yang mengandung
pengertian timbulnya keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat
dikenakan pajak atau dengan perkataan lain timbulnya hutang pajak pada saat
timbulnya objek pajak.
3. Pajak atas Beraneka Tahapan (Multi Stage Tax).
Pajak pertambahan nilai dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi dan
jalur distribusi yang menghasilkan nilai tambah, mulai dari tingkat pabrikan atau
produsen, tingkat pedagang besar dalam segala bentuk atau nama sampai dengan
pedagang pengecer.
4. Nonkumulatif atau Tidak Menyebabkan Pajak Ganda.
Meskipun mempunyai karakteristik multi stage tax, PPN tetap bersifat
nonkumulatif, yang berbeda dengan pajak penjualan (PPn) yang bersifat kumulatif.

4
5

5. Menganut Tarif Tunggal (Single Rate).


PPN di Indonesia menganut tarif tunggal. Sisi negatif tarif tunggal adalah
mempertajam regresivitas PPN. Sedangkan sisi positif menerapkan tarif tunggal
adalah sederhana baik dalam pelaksanaan maupun dalam pengawasan.
6. Menggunakan Indirect Substraction Method dalam penghitungan PPN
terutang.
Indirect substraction method (metode pengurangan tidak langsung) adalah
metode penghitungan PPN yang akan disetor ke kas negara dengan cara
mengurangkan pajak atas perolehan dengan pajak atas penyerahan barang atau jasa.
7. Pajak atas Konsumsi dalam Negeri.
Sebagai pajak atas konsumsi dalam negri maka PPN hanya dikenakan atas
barang atau jasa yang dikonsumsi di dalam daerah pabean Republik Indonesia.
8. PPN yang Diterapkan adalah Tipe Konsumsi (Consumption Type VAT).
Dilihat dari sisi perlakuan terhadap barang modal, PPN Indonesia termasuk
tipe konsumsi (consumption type VAT) artinya seluruh biaya yang dikeluarkan
untuk perolehan barang modal dapat dikurangkan dari dasar pengenaan pajak.
9. Keuntungan (Advantage) Penggunaan PPN.
Berikut beberapa keuntungan pengenaan PPN di Indonesia:
• Mencegah terjadinya pajak ganda
• Netral dalam perdagangan dalam dan luar negeri
• PPN atas perolehan barang modal dapat diperoleh kembali pda bulan
perolehan dan dengan demikian akan sangat membantu likuiditas
perusahaan (hanya dalam invoive method)
• Dari sudut pandang pendapatan negara PPN dianggap sebagai money
marker karena konsumsi akhir yang merupakan pemikul beban pajak
tidak merasa terbebani akibat PPN tersebut disatukan dengan harga jual
dan juga segera bisa terpungut.
10. Kerugian (Disadavantage) penggunaan PPN.
Berikut beberapa kerugian pengenaan PPN di Indonesia:
6

a. Biaya administrasi relatif lebih tinggi dibandignkan dengan biaya pajak


tidak langsung lainnya yang ditanggung oleh fiskus maupun oleh wajib
pajak
b. PPN bersifat pajak proporsional dan berdampak regresif yang
menunjukan semakin tinggi tingkat kemampuan konsumen, semakin
ringan beban pajak yang dipikulnya, dan sebaliknya. Hal ini adalah
akibat karakteristik PPN sebagai pajak objektif.
c. PPN sangat rawan dari upaya penyelundupan pajak yang disebabkan oleh
mekanisme keredi dalam bentuk restitusi pajak yang dibayar oleh PKP
dalam bulan yang sama tanpa terlebih dahulu melalui prosedur
administrasi fiskus. Konsekuensinya timbul tuntutan tingkat pengawasan
yang lebih ketat terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak dalam rangka
kewajiban perpajakan.

2.3. Tipe Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Memperhatikan tipe pemungutan atau perlakuan perolehan barang modal
dapat diklarifikasikan dalam:
2.3.1. Consumption Type Value Added Tax
Pada tipe ini semua pembelian yang digunakan untuk produksi termasuk
barang modal dikurangkan dari nilai tambahnya sehingga memberikan sifat netral
Pajak Pertambahan Nilai atas pola produksi. Rumusan untuk PPN tipe konsumsi
adalah:
𝐶𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑝𝑡𝑖𝑜𝑛 = 𝑊𝑎𝑔𝑒𝑠 + 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡
Tipe ini memiliki ciri antara lain:
1. Prinsipnya PPN dikenakan atas konsumsi (pemakaian umum) barang atau
jasa di dalam negeri atau dalam daerah pabean RI.
2. PPN yang dibayar atau dipotong dalam suatu masa pajak akibat pembelian
barang modal dapat diperhitungkan.
3. PPN yang dibayar atau dipotong dalam suatu masa pajak akibat pembelian
dapat dikurangkan dari PPN yang dipungut atas penjualannya dalam masa
pajak yang sama.
7

2.3.2. Net Income Type Value Added Tax


Pada tipe ini tidak dimungkinkan adanya pengurangan pembelian barang
modal dari dasar pengenaan. Pengurangan tersebut diperkenankan hanya sebesar
penyusutan yang ditentukan pada saat menghitung Net Income dalam rangka
perhitungan PPh. Cara ini berakibat pengenaan pajak dua kali atas barang.
𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 = 𝐶 + 𝐼 − 𝐷 = 𝑊 + 𝑃
Keterangan: C = Consumption
I = Investment
D = Depreciation
W = Wages
P = Profit
Kelemahan-Kelemahan dalam menggunakan NNP tipe ini adalah:
1. Menimbulkan beban administrasi yang besar, karena untuk mencatat
penyusutan PPN (Pajak Masukan) atas pembelian barang modal.
2. Menimbulkan dispute, karena sering kali di lapangan terjadi persepsi yang
berbeda antara barang modal dengan suku cadang, serta sulit untuk
memisahlan atau membedakan antara barang modal dengan suku cadang.
3. Menimbulkan kecenderungan untuk melakukan penyelundupan PPN dengan
menyatakan bahwa pembelian barang tersebut tidak termasuk pembelian
barang modal melainkan pembelian suku cadang.

2.3.3. Gross Product Type Value Added Tax


Tipe ini menyatakan bahwa pembelian barang modal tidak diperkenankan
sama sekali untuk dikurangkan dari dasar pengenaan pajak. Akibatnya sama saja
yaitu barang modal dikenakan pajak dua kali pada saat pembelian dan dilakukan
melalui hasil produksi yang dijual pada konsumen. Dalam mengenakan PPN
berdasarkan GNP type dapat dirumuskan sebagai berikut:
𝐺𝑁𝑃 = 𝐶 + 𝐼 = 𝑊 + 𝑃 + 𝐷
Keterangan: C = Consumption
I = Investment
W = Wages
8

P = Profit
D = Depreciation
Kelemahan-kelemahan dalam menggunakan GNP type ini adalah:
1. Tidak memberikan level playing field yang fair, karena tidak netral atai
mendistorsi terhadap pilihan pengusaha, apakah akan menggunakan padat
karya atau padat modal.
2. Menghambat modernisasi, dalam artian menjadi penghalang bagi pengusaha
untuk mengganti kegiatan produksinya dengan mesin-mesin yang
berteknologi lebih modern. Hal ini disebabkan karena PPN atas pembelian
mesin-mesin tersebut tidak dapat dokreditkan (ataupun disusutkan) sehingga
PPN yang sudah dibayar pada saat membeli barang modal akan menjadi unsur
biaya (cost). Hal ini berarti akan meninggikan harga pokok produksi,
sehingga harga jual akan semakin tinggi.

2.4. Model Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terhutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak (10%) dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP).
2.4.1. The Substractive Direct Method
Pajak dihitung dengan cara mengurangi harga penjualan dengan harga
pembelian dan langsung dikalikan dengan tarif. Misalnya dari data Pulp Factory
diketahui bahwa penjualannya adalah sebesar 2.000 dan pembeliannya sebesar
1.000 maka perhitungan VAT yang terhutang adalah sebagai berikut:

Sales 2000
Deductible
Purchase 1000
Tax Bases 1000
VAT (10%X1.000) 100
Gambar 2.1 Perhitungan VAT dengan Menggunakan substractive direct method.
9

LEVEL SALES PURCHASES TAX BASES VAT LIABILITIES


Forrester 1000 500 1000 - 500 = 500 10% x 500 = 50
2000 - 1000 =
Pulp Factory 2000 1000 1000 10% x 1000 = 100
Paper 3000 - 2000 =
Factory 3000 2000 1000 10% x 1000 = 100
4000 - 3000 =
Wholesaler 4000 3000 1000 10% x 1000 = 100
5000 - 4000 =
Retailer 5000 4000 1000 10% x 1000 = 100
Tabel 2.1 Contoh Perhitungan VAT di setiap Jalur Produksi dan Distribusi
Berdasarkan Metode The Substractive-Direct Method.

2.4.2. The Substractive Indirect Method


Pajak dihitung dengan cara mengurangkan selisih pajak yang dipungut pada
waktu penjualan dengan jumlah pajak yang telah dibayar waktu pembelian, jadi
dalam metode indirect substraction ini yang dikurangkan adalah pajaknya. Oleh
karena itu metode ini dikenal dengan metode kredit.

Sales A
Output Tax 10% x a
Purchases B
Input Tax 10% x b
VAT Output - VAT
VAT Liabiities Input
Gambar 2.2 Format Perhitungan VAT dengan menggunakan Substractive Indirect
Method
Misalnya dari data Pulp Factory diketahui bahwa penjualan adalah sebesar
2.000 dan pembeliannya sebesar 1.000 maka perhitungan VAT yang terutang adalah
sebagai berikut:
10

Sales 2.000
Output Tax 10% x 2.000 = 200
Purchases 1.000
Input Tax 10% x 1.000 = 100
VAT Liabiities 200 - 100 = 100
Gambar 2.3 Perhitungan VAT dengan Menggunakan Substractive Indirect
Method.

LEVEL SALES TAX ON SALES TO TREASURY


Forrester 1000 100 100
Pulp Factory 2000 200 200 - 100 = 100
Paper Factory 3000 300 300 - 200 = 100
Wholesaler 4000 400 400 - 300 = 100
Retailer 5000 500 500 - 400 = 100
Tabel 2.2 Contoh Perhitungan VAT di setiap Jalur Produksi dan Distribusi
Berdasarkan Metode The Substractive – Indirect Method.

Metode PPN yang digunakan di Indonesia adakah Metode Tidak Langsung.


PPN menurut metode ini adalah Pajak Keluaran (PK) dikurangi Pajak Masukan
(PM). Pajak Keluaran adalah PPN yang dipungut oleh PKP pada waktu penyerahan
BKP atau JKP atau Pajak Keluaran = 10% × DPP (harga jual atau penggantian).
Sedangkan Pajak Masukan adalah PPN yang dibayar oleh PKP pada saat pembelian
BKP, penerimaan JKP, atau impor BKP, atau Pajak Masukan = 10% × DPP. Selisih
antara Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran dapat dilihat sebagai berikut:
1. Jika Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka timbul Pajak
Kurang Bayar (KB).
2. Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan, maka timbul Pajak Lebih
Bayar (LB).
3. Pajak Keluaran sama besarnya dengan Pajak Masukan, maka pajak terutang
atau yang dibayar adalah nihil.
11

2.5. Subjek dan Objek PPN


2.5.1. Subjek Pajak Pertambahan Nilai
Subjek PPN dibagi menjadi dua, yaitu:
1. PKP.
PPN akan terutang (dipungut oleh PKP) dalam hal:
a. PKP melakukan penyerahan BKP
b. PKP melakukan penyerahan JKP
c. PKP melakukan ekspor BKP, ekspor BKP Tidak Berwujud, ekspor JKP
2. Non-PKP.
PPN akan tetap terutang walaupun yang melakukan kegiatan yang merupakan
objek PPN adalah bukan PKP, yaitu dalam hal:
a. impor BKP
b. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean
c. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean
d. Melakukan kegiatan membangun sendiri (Pasal 16C UU PPN)

2.5.2. Objek Pajak Pertambahan Nilai

Pada dasarnya semua barang dan jasa adalah objek PPN. Tetapi oleh karena
adanya pertimbangan ekonomi, sosial dan budaya, maka diatur sendiri oleh
Undang-undang PPN bahwa ada barang dan jasa tertentu yang tidak dipungut serta
dikecualikan dari pengenaan PPN dan dibebaskan dari pungutan PPN.

Objek PPN dapat dikelompokan ke dalam 2 (dua) jenis, yaitu:

1. Barang Kena Pajak (BKP)


Barang Kena Pajak (BKP) yaitu barang berwujud yang menurut sifat atau
hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang
tidak berwujud yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
12

2. Jasa Kena Pajak (JKP)


Jasa Kena Pajak (JKP) yaitu setiap kegiatan pelayanan yang berdasarkan
suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau
fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang
dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan
bahan dan atas petunjuk dari pemesan, yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009 telah menjelaskan
apa saja yang menjadi objek PPN dalam pasal:

1. Pasal 4 ayat (1):


Dalam pasal 4 ayat (1) Undang-Undang PPN, disebutkan PPN dikenakan
atas:
a. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan
oleh Pengusaha;
b. Impor Barang Kena Pajak;
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan
oleh Pengusaha;
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean;
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean;
f. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
g. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
dan
h. Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
2. Pasal 16 C
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang
dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan
yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata
caranya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.
13

3. Pasal 16 D
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak
berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh
Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya
tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan
huruf c.
Menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 70/PMK.03/2010, Jasa Kena Pajak
yang atas ekspornya dikenai PPN diantarannya adalah:
1. Jasa Maklon
Jasa maklon diantaranya adalah:
a. Jasa yang pemesanannya berada di luar daerah pabean dan tidak memiliki
BUT di Indonesia.
b. Spesifikasi dan bahan disediakan pemesan.
c. Bahan meliputi bahan baku, barang setengah jadi, dan bahan penolong
yang akan diproses menjadi BKP yang dihasilkan.
d. Kepemilikan BKP berada pada pemesan.
e. Pengusaha jasa maklon mengirimkan produknya berdasarkan permintaan
pemesan.
2. Jasa Lainnya
a. Jasa yang melekat atau jasa untuk barang bergerak yang dimanfaatkan di
luar daerah pabean yaitu jasa perbaikan dan perawatan.
b. Jasa yang melekat atau jasa untuk barang tidak bergerak yang terletak di
luar daerah pabean yaitu jasa konstruksi meliputi konsultasi, pelaksanaan
konstruksi, dan pengawasan konstruksi.

2.5.3. Bukan Objek Pajak Pertambahan Nilai

Selain mengatur mengenai apa saja yang menjadi objek PPN, Undang-
Undang PPN juga mengatur mengenai apa saja Barang tidak kena Pajak (non BKP)
dan Jasa tidak kena pajak (non JKP).
14

1. Barang tidak kena pajak (non BKP)


Berdasarkan Pasal 4A ayat (2), Jenis barang yang tidak dikenai Pajak
Pertambahan Nilai adalah barang tertentu dalam kelompok barang sebagai berikut:
a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari
sumbernya;
• Minyak mentah (crude oil).
• Gas bumi, tidak termasuk gas bumi seperti elpiji yang siap dikonsumsi
langsung oleh masyarakat.
• Panas bumi.
• Asbes, batu tulis, batu setengah permata, batu kapur, batu apung, batu
permata, bentonit, dolomit, felspar (feldspar), garam batu (halite),
grafit/andesit, gips, kalsit, kaolin, leusit. magnesit, mika, marmer, nitrat,
opsidien, oker, pasir dan kerikil, pasir kuarsa, perlit, fosfat (phospat),
talk, tanah serap (fullers earth), tanah diatome, tanah liat, tawas (alum),
tras, yarosif, zeolit, basal, dan trakkit.
• Batu bara sebelum diproses menjadi briket batubara.
• Bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak,
serta bijih bauksit.
b. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak;
• Beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam.
• Daging, yaitu daging segar tanpa diolah tetapi telah melalui proses
disembelih, dikuliti, dipotong, didinginkan, dibekukan, dikemas atau
tidak, digarami, dikapur, diasamkan, diawetkan dengan cara lain,
dan/atau direbus.
• Telur, yaitu telur yang tidak diolah termasuk telur yang telah dibersihkan,
diasinkan, atau dikemas.
• Susu, yaitu susu perah baik yg telah melalui proses didinginkan maupun
dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula atau bahan lainnya,
dan/atau dikemas atau tidak
15

• Buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yg dipetik, baik yg telah melalui


proses dicuci, disortasi, dikupas, dipotong, diiris, di-grading, dan/atau
dikemas atau tidak dikemas.
• Sayur-sayuran, yaitu sayuran segar yang dipetik, dicuci, ditiriskan,
dan/atau disimpan pada suhu rendah, termasuk sayuran segar yang
dicacah.
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan,
warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang
dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang
diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering; dan
d. Uang, emas batangan, dan surat berharga.
2. Jasa tidak Kena Pajak (non JKP)
Berdasarkan Pasal 4A ayat (3), Jenis jasa yang tidak dikenai Pajak
Pertambahan Nilai adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa sebagai berikut:
a. jasa pelayanan kesehatan medis;
b. jasa pelayanan sosial;
c. jasa pengiriman surat dengan perangko;
d. jasa keuangan;
e. jasa asuransi;
f. jasa keagamaan;
g. jasa pendidikan;
h. jasa kesenian dan hiburan;
i. jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;
j. jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam
negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan
udara luar negeri;
k. jasa tenaga kerja;
l. jasa perhotelan;
m. jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum;
n. jasa penyediaan tempat parkir;
16

o. jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam;


p. jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan
q. jasa boga atau katering.

2.6. Pengusaha Kena Pajak


PKP atau Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha atau bisnis atau
perusahaan yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1984 dan
perubahannya.
PKP merupakan orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam
lingkungan perusahaan atau perkerjaannya menghasilkan:
1. Menghasilkan barang
2. Mengimpor barang
3. Mengekspor barang
4. Melakukan usaha perdangangan
5. Memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean
6. Melakukan usaha jasa
7. Memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean yang melakukan penyerahan
BKP dan/atau JKP yang dikenakan PPN
Tidak termasuk pengusaha kecil kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk
dikukuhkan menjadi PKP. Pengusahan kecil yang dimaksud menurut PMK No.
197/PMK.03/2013 adalah pengusaha yang dalam lingkungan atau pekerjaannya
melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP dengan peredaran tidak lebih dari
Rp4.800.000.000,- (empat milyar delapan ratus juta) dalam setahun. Apabila
sampai dengan satu masa pajak dalam satu tahun buku peredaran bruto lebih dari
Rp4.800.000.000,- maka pengusaha ini memenuhi syarat sebagai PKP sehingga
wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP selambat-lambatnya
pada akhir bulan berikutnya.
17

2.7. Penyerahan Barang dan Jasa Kena Pajak


2.7.1. Penyerahan Barang Kena Pajak
Pengertian penyerahan dimaksudkan sebagai penyerahan hak, pengalihan hak
atas barang, pemakaian sendiri dan penyerahan lainnya seperti penyerahan karena
konsinyasi. Termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak sesuai
dengan Undang-undang PPN adalah:
1. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian.
Perjanjian yang dimaksudkan meliputi jual beli, tukar-menukar, jual beli
dengan angsuran, atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas
barang.
2. Pengalihan Barang Kena Pajak karena satu perjanjian sewa beli dan atau
perjanjian sewa guna usaha (leasing).
Penyerahan Barang Kena Pajak juga dapat terjadi karena perjanjian sewa beli
atau perjanjian sewa guna usaha (leasing). Adapun yang dimaksud dengan
penyerahan karena perjanjian sewa guna usaha adalah penyerahan yang disebabkan
oleh perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi. Meskipun pengalihan atau
penyerahan hak atas Barang Kena Pajak belum dilakukan dan pembayaran atas
harga jual Barang Kena Pajak tersebut dilakukan secara bertahap, tetapi karena
pengusaan atas Barang Kena Pajak telah berpindah dari penjual kepada pembeli
atau dari lessor kepada lessee, maka penyerahan Barang Kena Pajak dianggap telah
terjadi pada saat perjanjian ditandatangani, kecuali apabila saatnya berpindahnya
pengusaan secara nyata atas Barang Kena Pajak tersebut terjadi lebIh dahulu
daripada saat ditandatanganinya perjanjian.
3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru
lelang.
Pedagang perantara adalah orang pribadi atau badan yang dalam lingkungan
perusahaan atau pekerjaannya dengan nama sendiri melakukan perjanjian atau
perikatan atas dan untuk tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau balas
jasa tertentu, misalnya komisioner. Sedangkan yang dimaksud dengan juru lelang
adalah juru lelang pemerintah atau yang ditunjuk oleh Pemerintah.
18

4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak.
Pemakaian sendiri diartikan sebagai pemakaian untuk kepentingan pengusaha
sendiri, pengurus, atau karyawannya. Sedangkan pemberian cuma-cuma diartikan
sebagai pemberian yang diberikan tanpa pembayaran, antara lain pemberian contoh
barang untuk promosi kepada relasi atau pembeli.
5. Barang Kena Pajak berupa persediaan dan atau aktiva yang menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat
pembubaran perusahaan.
Persediaan Barang Kena Pajak dan asset yang menurut tujuan semula tidak
untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan
disamakan dengan pemakaian sendiri sehingga dianggap sebagai penyerahan
Barang Kena Pajak. Khusus untuk asset yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, hanya dikenakan PPN apabila memenuhi persyaratan, yaitu
bahwa PPN yang dibayar pada saat perolehanya dapat dikreditkan.
6. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan atau
penyerahan Barang Kena Pajak antarcabang.
Apabila suatu perusahaan mempunyai lebih dari satu tempat pajak terutang,
yaitu tempat melakukan penyerahan Barang Kena Pajak kepada pihak lain, baik
sebagai pusat maupun sebagai cabang perusahaan, maka undang-undang ini
menganggap bahwa pemindahan Barang Kena Pajak antartempat tersebut
merupakan penyerahan Barang Kena Pajak. Yang dimaksud dengan cabang dalam
ketentuan ini termasuk antara lain lokasi usaha, perwakilan, unit pemasaran, dan
sejenisnya.
7. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi.
Dalam hal penyerahan secara konsinyasi, PPN yang sudah dibayar pada
waktu Barang Kena Pajak bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat
dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan Barang
Kena Pajak yang dititipkan tersebut.
Sebaliknya jika Barang Kena Pajak titipan tersebut tidak laku dijual dan
diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik Barang Kena Pajak pengusaha yang
menerima titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan mengenai pengembalian
19

Barang Kena Pajak (retur) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5A tentang PPN dan
PPn BM. Perlu diketahui bahwa penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi
oleh pengusaha kecil sesuai dengan ketentuan Undang-undang PPN, tidak
dikenakan pajak Pertambahan Nilai.
8. Penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka
perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah yang
penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena Pajak kepada pihak
yang membutuhkan Barang Kena Pajak.
Sedangkan yang tidak termasuk dalam penyerahan Barang kena Pajak adalah:
1. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar sebagaimana dimaksud
dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
2. Penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang-piutang.
3. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan
penyerahan Barang Kena Pajak antarcabang, dalam hal Pengusaha Kena
Pajak tersebut telah memperoleh izin pemusatan tempat pajak terutang
4. Pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka penggabungan, peleburan,
pemekaran, pemecahan, dan pengambilalihan usaha dengan syarat pihak
yang melakukan pengalihan dan yang menerima pengalihan adalah
Pengusaha Kena Pajak.
5. Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, dan
yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan.

2.7.2. Penyerahan Jasa Kena Pajak


Pengertian Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) adalah setiap kegiatan
pemberian JKP, termasuk JKP yang digunakan untuk kepentingan sendiri atau JKP
yang diberikan secara cuma-cuma oleh Pengusaha Jasa Kena Pajak.
Pemakaian JKP untuk kepentingan sendiri atau pemberian JKP secara cuma-
cuma termasuk alam pengertian penyerahan JKP, dengan pertimbangan untuk
mempertahankan adanya perlakuan yang sama sebagaimana halnya pada
pemakaian Barang Kena Pajak untuk kepentingan sendiri atau penyerahan barang
20

secara cuma-cuma oleh Pengusaha Kena Pajak. Berikut ini akan diuraikan
mengenai pengenaan PPN atas beberapa jasa
1. Jasa Kustodian
Jasa kustodian merupakan jasa yang dilakukan oleh bank yang dapat berupa
jasa penitipan, jasa settlement, jasa aksi korporasi (corporate actions), dan jasa
registrasi. Jasa kustodian yang berupa jasa penitipan adalah jasa yang terutang PPN.
Sedangkan jasa kustodian yang berupa jasa settlement, jasa corporate actions, dan
jasa registrasi merupakan jasa yang dikecualikan dari pengenaan PPN.
2. Jasa Consumer Credit, Credit Card, dan Debit Card
Berdasarkan Surat Edaran No. 34/PJ.53/1995 Tanggal 1 Agustus 1995,
jasa consumer credit, credit card, dan debit card merupakan jenis jasa yang tidak
dikenakan PPN, sehingga atas penyerahannya tiak terutang PPN. Atas penyerahan
Barang Kena Pajak atau JKP yang harganya dilunasi dengan menggunakan
fasilitas consumer credit atau credit card atau debit card, tetap terutang PPN dan
atau PPnBM sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Jasa Penagihan Listrik dan Telepon oleh Bank
Berdasarkan Surat Edaran No. SE. 63/PJ.53/1995 Tanggal 29 Desember
1995, jasa penagihan rekening listrik dan telepon yang dilakukan oleh bank
merupakan jasa yang tidak dikenakan PPN. Dengan demikian atas penyerahan jasa
penagihan listrik dan telepon tersebut tidak terutang PPN.
4. Jasa Angkutan dan Jasa Ekspedisi Muatan
Surat Direktur Jenderal Pajak No. S-426/PJ.53/1996 Tanggal 13 Februari
1996 menyatakan bahwa jasa angkutan umum di darat, laut, udara, maupun sungai
yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, dan jasa angkutan udara luar
negeri, termasuk di dalamnya jasa angkutan dalam negeri yang menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan umum di laut, danau, sungai adalah
dikategorikan sebagai Jasa Kena Pajak, sehingga penyerahannya terutang PPN.
Sebagai contoh, jasa Ekspedisi Muatan Kapal laut dan Udara (EMKL dan EMKU)
adalah Jasa Kena Pajak sehingga penyerahannya terutang PPN.
21

2.7.3. Penyerahan Barang Kena Pajak yang dibebaskan dari Pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai (BKP Tertentu)
1. Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat udara
di udara, kendaraan lapis baja, kendaraan angkutan khusus lainnya, dan
komponen atau bahan yang diperlukan dalam pembuatan senjata dan amunisi
oleh PT. PINDAD, untuk keperluan TNI dan POLRI
2. Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional
(PIN)
3. Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama
4. Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkapan ikan, kapal
tongkang dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat
keselamatan manusia yang digunakan untuk kegiatan usaha Perusahaan
Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional
5. Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang
digunakan untuk kegiatan usaha Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional
6. Kereta api dan suku cadang serta serta peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan serta prasarana yang digunakan untuk kegiatan usaha PT Kereta
Api Indonesia;
7. Peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan photo udara
wilayah Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia
(TNI) untuk mendukung pertahanan nasional
8. Rumah sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana, pondok
boro, asrama mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya yang
batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar
pertimbangan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
22

2.7.4. Penyerahan Jasa Kena Pajak yang dibebaskan dari Pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai (JKP Tertentu)
1. Jasa yang menerima oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau
perusahaan penangkapan ikan nasional yang meliputi:
a. Jasa persewaan kapal
b. Jasa kepelabuhan meliputi jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan jasa
labuh
c. Jasa perawatan atau reparasi (docking) kapal
2. Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang
meliputi:
a. Jasa persewaan pesawat udara
b. Jasa perawatan atau reparasi pesawat udara
3. Jasa perawatan atau reparasi kerata api yang diterima oleh PT Kereta Api
Indonesia
4. Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pemborongan bangunan
sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf h dan pembangunan tempat yang
semanta-mata untuk keperluan ibadah
5. Jasa persewaan rumah susun sederhana, rumah sederhana, dan rumah sangat
sederhana
6. Jasa yang diserahkan oleh Tentara Nasional Indonesia dalam rangka
tersedianya data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia
a. TNI atau POLRI yang menerima penyerahan Barang Kena Pajak
Tertentu berupa senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di
bawah air, alat angkutan di udara, kendaraan lapis baja, kendaraan
angkutan khusus lainnya, untuk keperluan TNI dan POLRI, wajib
mempunyai Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai yang
dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
b. PT. PINDAD yang menerima penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu
berupa komponen atau bahan yang di perlukan dalam pembuatan senjata
dan amunisi untuk keperluan TNI dan POLRI, wajib mempunyai Surat
23

Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai yang dikeluarkan oleh


Direktur Jenderal Pajak.
c. Orang atau badan yang menerima penyerahan Barang Kena Pajak
Tertentu wajib mempunyai Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan
Nilai yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
d. TNI yang menerima penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu wajib
mempunyai Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai yang
dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
e. Pengusaha yang menyerahkan Jasa Kena Pajak Tertentu wajib
melaporkan usahanya kepada Direktur Jenderal Pajak untuk dikukuhkan
menjadi Pengusaha Kena Pajak.
f. Orang atau badan yang menerima penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu
tidak diwajibkan mempunyai Surat Keterangan Bebas Pajak
Pertambahan Nilai yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
g. Pengusaha yang melakukan penyerahan wajib menerbitkan Faktur Pajak
yang Pajak Pertambahan Nilainya dibebaskan.

2.7.5. Nilai Penyerahan yang Menggunakan Valuta Asing


Apabila terjadi penyerahan BKP dan atau JKP yang pembayarannya ternyata
dilakukan dengan menggunakan valuta asing, maka sesuai Peraturan Pemerintah
No. 50 tahun 1994 diatur:
1. Pajak yang terutang harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan
menggunakan kurs yang berlaku sesuai Keputusan Menteri Keuangan pada
saat Faktur Pajak dibuat.
2. Terhadap penyerahan BKP dan atau JKP dilakukan kepada pemungut PPN,
besarnya pajak yang terutang harus dikonversi ke mata uang rupiah dengan
kurs yang berlaku sesuai Keputusan Menteri Keuangan pada saat pemungut
PPN melakukan pembayaran.
24

2.8. Faktur Pajak


Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang
melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP. PKP yang melakukan
penyerahan BKP wajib memungut PPN dari konsumennya seperti yang diatur
dalam Pasal 3A UU Nomor 42 Tahun 2009 Undang-Undang Pajak Pertambahan
Nilai (UU PPN), untuk itu PKP tersebut wajib membuat faktur pajak seperti yang
diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN).
Fungsi faktur pajak antara lain:
1. Sebagai bukti pungutan PPN dan PPnBM bagi penjual BKP atau JKP
dan/atau DJBC atas impor BKP.
2. Bukti pembayaran PPN dan PPnBM bagi PKP pembeli BKP atau JKP.
3. Sarana pengkreditan Pajak Masukan.
4. Dasar pembuatan nota retur.

2.8.1. Saat Pembuatan Faktur Pajak


Faktur pajak harus dibuat pada:
1. Saat penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP).
2. Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi
sebelum penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau sebelum penyerahan
Jasa Kena Pajak (JKP).
3. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap
pekerjaan.
4. Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
tersendiri.

2.8.2. Ketentuan Pembuatan Faktur Pajak


Berdasarkan Pasal 13 ayat 5 Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 ditetapkan
bahwa dalam faktur pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan BKP
yang meliputi:
1. Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP/JKP.
2. Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP.
25

3. Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan potongan
harga.
4. PPN yang dipungut.
5. PPnBM yang dipungut.
6. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak.
7. Nama dan tandatangan yang berhak menandatangani faktur pajak.

2.8.3. Dokumen Tertentu yang Kedudukannya dipersamakan dengan Faktur


Pajak
Berdasarkan Pasal 13 ayat 6 Undang-Undang PPN, Direktorat Jenderal Pajak
dapat menetapkan dokumen tertentu sebagai faktur pajak. Selanjutnya berdasarkan
Peraturan Dirjen Pajak No PER-10/PJ/2010, dokumen yang kedudukannya
dipersamakan dengan faktur pajak yaitu:
1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah diberikan persetujuan ekspor
oleh pejabat yang berwenang dari Ditjen Bea dan Cukai dan dilampiri dengan
invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB
tersebut.
2. Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat atau dikeluarkan oleh
Bulog atau DOLOG untuk penyaluran tepung terigu.
3. Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuatkan atau dikeluarkan oleh
PERTAMINA untuk penyerahan Bahan Bakar Minyak dan/atau bukan Bahan
Bakar Minyak.
4. Tanda pembayaran atau kwitansi untuk menyerahkan jasa telekomunikasi.
5. Tiket, tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill) atau Delivery Bill yang
dibuat atau dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri.
6. Nota Penjualan Jasa yang dibuat atau dikeluarkan untuk penyerahan jasa
kepelabuhan.
7. Tanda pembayaran atau kuitansi listrik.
8. Pemberitahuan Ekspor BKP/JKP tidak berwujud yang dilampiri dengan
invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan
26

Pemberitahuan Ekspor BKP/JKP tidak berwujud, untuk ekspor BKP/JKP


tidak berwujud.
9. Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan dilampiri dengan SSP, Surat Setoran
Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP), dan/atau bukti pungutan pajak oleh Ditjen
Bea dan Cukai yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan
PIB tersebut, untuk impor BKP.
10. SSP untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP
dari luar daerah pabean.
Dokumen-dokumen tersebut diperlakukan sebagai faktur pajak paling sedikit
harus memuat:
1. Nama, alamat, dan NPWP yang melakukan ekspor atau penyerahan.
2. Nama pembeli BKP atau penerima JKP.
3. Jumlah satuan barang apabila ada.
4. Dasar Pengenaan Pajak (DPP).
5. Jumlah pajak yang terutang kecuali dalam hal ekspor.

2.8.4. Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak yang Rusak atau Cacat atau Salah
dalam Pengisian atau Salah dalam Penulisan
Tata cara pembetulan faktur pajak yang rusak atau cacat atau salah dalam
pengisian atau salah dalam penulisan adalah sebagai berikut:
1. Atas permintaan PKP pembeli BKP atau penerima JKP atau atas kemauan
sendiri. PKP penjual atau pemberi JKP membuat faktur pajak pengganti
terhadap faktur pajak ynag rusak, cacat, salah dalam pengisian, atau salah
dalam penulisan.
2. Pembetulan faktur pajak tidak boleh dicoret atau dihapus melainkan membuat
faktur pajak pengganti.
3. Pembuatan faktur pajak pengganti dengan cara membuat faktur pajak lagi,
diisi yang sebenarnya.
4. Nomor urut faktur pajak pengganti diisi nomor baru dan tanggal pembuatan
juga tanggal baru.
5. Pada faktur pajak pengganti dibubuhi cap:
27

Gambar 2.4 Cap untuk Faktur Pajak Pengganti.


6. Faktur pajak pengganti dilaporkan dalam masa pajak:
a. Yang sama dengan dilaporkannya faktur pajak yang diganti; dan
b. Pembuatan faktur pajak pengganti dengan mencantumkan angka 0 (nol)
pada kolom DPP, PPN, dan PPnBM dalam SPT masa PPN.

2.8.5. Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak


Tata cara pembatalan faktur pajak adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan bukti dari pembeli BKP atau penerima JKP terjadi pembatalan
perjanjian, PKP penjual atau pengusaha jasa membatalkan faktur pajak.
2. Faktur pajak yang dibatalkan harus tetap diadministrasikan oleh PKP penjual
atau pengusaha jasa.
3. PKP penjual atau pengusaha jasa menyampaikan pemberitahuan tertulis
beserta fotocopy faktur pajak yang dibatalkan kepada KPP dari PKP yang
terkait.
4. Faktur pajak yang dibatalkan tetap dilaporkan dalam SPT Masa PPN PKP
penjual atau pengusaha jasa dengan diisi angka 0 (nol) pada kolom DPP, PPN,
dan PPnBM. Dalam hal sudah dilaporkan, dilakukan pembetulan SPT.
5. PKP pembeli BKP atau penerima JKP yang telah atau belum melaporkan
dalam SPT Masa PPN, melakukan pembetulan atau melaporkan SPT dengan
mencantumkan angka 0 (nol) pada kolom DPP, PPN, dan PPnBM.

2.8.6. Tata Cara Penggantian Faktur Pajak yang Hilang


Tata cara penggantian faktur pajak yang hilang antara lain:
1. PKP pembeli BKP atau penerima JKP mengajukan permohonan tertulis untuk
meminta copy dari faktur pajak yang hilang dengan tembusan kepada KPP
masing-masing.
2. PKP penjual BKP atau pengusaha JKP membuat fotocopy faktur pajak
dimaksud sebanyak dua lembar.
28

3. Kedua lembar fotocopy faktur pajak tersebut beserta aslinya dibawa ke KPP
untuk dilegalisasi.
4. Setelah dilegalisasi, satu lembar diserahkan kembali kepada PKP untuk
diserahkan kepada PKP yang mengajukan permohonan untuk meminta copy,
satu lembar lainnya disimpan oleh KPP pemberi legalisasi.

2.9. Kredit Pajak


Kredit pajak PPN atau lebih sering disebut Pajak Masukan adalah Pajak
Pertambahan Nilai yang seharusnya dibayar oleh PKP karena perolehan BKP
dan/atau perolehan JKP dan/atau pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah
pabean dan/atau pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean dan/atau Impor BKP.

Contoh pajak masukan, pada saat memperoleh BKP dari penjual PKP A,
maka transaksi tersebut dibuat faktur pajak standar, besar pajak masukan adalah
10% dikali harga beli. Pajak masukan sebelumnya menganut cash basis diubah
menjadi accrual basis. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perlakuan yang
sama terhadap PKP Penjual dan PKP Pembeli.

Pajak masukan yang wajib dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak dapat
dikreditkan dengan pajak keluaran yang dipungutnya dalam masa pajak yang sama.
Pajak masukan yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan denga Pajak
Keluaran pada masa pajak yang sama, dapat dikreditkan pada masa pajak
berikutnya paling lama 3 bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan
sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.

Apabila dalam suatu masa pajak, pajak keluaran lebih besar daripada pajak
masukan yang dapat dikreditkan, maka selisihnya merupakan PPN yang harus
disetorkan oleh PKP ke kas negara paling lama akhir bulan berikutnya setelah masa
pajak berakhir dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa PPN disampaikan.
Sedangkan apabila dalam suatu masa pajak, pajak masukan yang dapat dikreditkan
lebih besar daripada pajak keluarannya, maka selisihnya merupakan kelebihan
pajak yang dapat dimintakan kembali (restitusi) atau dikompensasikan pada masa
pajak berikutnya.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan pajak yang dikenakan atas
konsumsi barang dan jasa di dalam daerah pabean atau wilayah Republik
Indonesia yang di dalamnya berlaku perundang-undangan pabean.
2. Terdapat sepuluh karakteristik Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yaitu:
a. Pajak tidak langsung (indirect tax).
b. Pajak objektif.
c. Pajak atas beraneka tahapan (multi stage tax).
d. Nonkumulatif atau tidak menyebabkan pajak ganda.
e. Menganut tarif tunggal (single rate).
f. Menggunakan indirect substraction method dalam penghitungan PPN
terutang.
g. Pajak atas konsumsi dalam negeri.
h. PPN yang diterapkan adalah tipe konsumsi (consumption type VAT).
i. Keuntungan (advantage) penggunaan PPN:
• Mencegah terjadinya pajak ganda.
• Netral dalam perdagangan dalam dan luar negri
• PPN atas perolehan barang modal dapat diperoleh kembali pda
bulan perolehan dan dengan demikian akan sangat membantu
likuiditas perusahaan (hanya dalam invoive method)
• Dari sudut pandang pendapatan negara PPN dianggap sebagai
money marker karena konsumsi akhir yang merupakan pemikul
beban pajak tidak merasa terbebani akibat PPN tersebut disatukan
dengan harga jual dan juga segera bisa terpungut.

29
30

j. Kerugian (disadavantage) penggunaan PPN:


• Biaya administrasi relative lebih tinggi dibandignkan dengan biaya
pajak tidak langsung lainnya yang ditanggung oleh fiskus maupun
oleh wajib pajak
• PPN bersifat pajak proporsional dan berdampak regresif yang
menunjukan semakin tinggi tingkat kemampuan konsumen,
semakin ringan beban pajak yang dipikulnya, dan sebaliknya.
Halini adalah akibat karakteristik PPN sebagai pajak objektif.
• PPN sangat rawan dari upaya penyelundupan pajak yang
disebabkan oleh mekanisme keredi dalam bentuk restitusi pajak
yang dibayar oleh PKP dalam bulan yang sama tanpa terlebih
dahulu melalui prosedur administrasi fiskus. Konsekuensinya
timbul tuntutan tingkat pengawasan yang lebih ketat terhadap
tingkat kepatuhan wajib pajak dalam rangka kewajiban perpajakan.
3. Tipe Pajak Pertambahan Nilai dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Consumption Type Value Added Tax, dapat dihitung dengan rumus:
𝐶𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑝𝑡𝑖𝑜𝑛 = 𝑊𝑎𝑔𝑒𝑠 + 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡
b. Net Income Type Value Added Tax, dapat dicari dengan menggunakan
rumus:
𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 = 𝐶 + 𝐼 − 𝐷 = 𝑊 + 𝑃
c. Gross Product Type Value Added Tax, dapat dicari dengan menggunakan
rumus:
𝐺𝑁𝑃 = 𝐶 + 𝐼 = 𝑊 + 𝐷 + 𝑃
4. Terdapat dua model perhitungan Pajak Pertambahan Nilai, diantaranya:
a. The Substracive Direct Method
b. The Substractive Indirect Method
5. Subjek PPN dibagi menjadi dua yaitu PKP dan non-PKP. Sedangkan yang
disebut objek PPN adalah Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak
(JKP). Hal ini sudah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983
tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
31

Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang


Nomor 42 tahun 2009 pasal 4 ayat (1), pasal 16C, dan pasal 16D.
6. Pengusaha Kena Pajak merupakan orang pribadi atau badan yang berada
dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan yang menghasilkan,
mengimpor, atau mengekspor barang dan/atau melakukan usaha perdagangan
dengan memanfaatkan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar di dalam
daerah pabean guna melakukan usaha jasa.
7. Penyerahan Barang Kena Pajak sesuai dengan Undang-Undang PPN adalah:
a. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian.
b. Pengalihan Barang Kena Pajak karena satu perjanjian sewa beli dan atau
perjanjian sewa guna usaha (leasing).
c. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui
juru lelang.
d. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena
Pajak.
e. Barang Kena Pajak berupa persediaan dan atau aktiva yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat
pembubaran perusahaan.
f. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan
atau penyerahan Barang Kena Pajak antarcabang.
g. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi.
h. Penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam
rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip
syariah yang penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena
Pajak kepada pihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak.
Sedangkan Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) menurut Undang-Undang
adalah sebagai berikut:
a. Jasa kustodian
b. Jasa customer credit, credit card, dan debit card.
c. Jasa penagihan listrik dan telepon oleh bank.
d. Jasa angkutan dan jasa ekspedisi muatan
32

8. Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang
melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP. PKP yang melakukan
penyerahan BKP wajib memungut PPN dari konsumennya seperti yang diatur
dalam Pasal 3A UU Nomor 42 Tahun 2009 Undang-Undang Pajak
Pertambahan Nilai (UU PPN).
9. Kredit pajak PPN atau lebih sering disebut Pajak Masukan adalah Pajak
Pertambahan Nilai yang seharusnya dibayar oleh PKP karena perolehan BKP
dan/atau perolehan JKP dan/atau pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar
daerah pabean dan/atau pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean dan/atau
Impor BKP.
DAFTAR PUSTAKA

Waluyo. 2009. Akuntansi Pajak Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.


Undang-undang Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2009 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor10/Kmk.04/2001tentang
Pemberian Dan Penatausahaan Pajak Pertambahan Nilai Dibebaskan Atas
Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau
Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu.
https://www.online-pajak.com/uu-ppn

33