Anda di halaman 1dari 5

Cara meningkatkan nilai rupiah

Bank Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah
satunya dengan menjaga laju inflasi agar tetap stabil. Jika tingkat inflasi tinggi, maka akan
mempengaruhi penurunan daya beli masyarakat, sehingga dapat menyebabkan rupiah
terdepresiasi. Pengendalian tingkat inflasi dapat dilakukan melalui kebijakan moneter dan
kebijakan fiskal. Lewat kebijakan moneter dapat dilakukan penerapan kebijakan diskonto oleh
bank sentral, selain itu dapat juga melalui operasi pasar terbuka. Kemudian pada kebijakan fiskal
untuk menjaga agar inflasi tetap stabil, yaitu dengan menghemat belanja atau pengeluaran
pemerintah sehingga akan mengurangi permintaan barang dan jasa. Mekanisme lain dapat
dilakukan lewat pembebanan pajak barang dan jasa untuk mengontrol pola konsumsi
masyarakat.
Kemudian strategi selanjutnya, yaitu meningkatkan cadangan devisa negara untuk menjaga nilai
tukar rupiah. Semakin besar devisa yang masuk di Indonesia akan membuat nilai rupiah akan
semakin kuat. Terdapat beberapa strategi untuk meningkatkan devisa negara, yaitu meningkatkan
peran Indonesia dalam perdagangan internasional. Saat ini sektor ekspor menjadi salah satu
sektor yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap devisa negara, sehingga ekspansi atau
perluasan tujuan pasar ekspor penting dilakukan. Perluasan pasar ekspor bisa dilakukan dengan
melakukan kesepakatan kerjasama perdagangan. Berdasarkan data yang ada saat ini, ekspor
Indonesia mayoritas masih mengarah ke pasar tradisional seperti Amerika Serikat, China dan
Jepang. Indonesia perlu membidik pasar ekspor baru misalkan melakukan kesepakan kerja sama
ke pasar non-tradisonal, seperti wilayah Amerika tengah dan selatan, wilayah Eropa, Timur
Tengah, serta Afrika.
Indonesia juga perlu memanfaatkan pembangunan melalui sektor pariwisata untuk memperkuat
modal pembangunan. Berdasarkan data dari World Travel and Tourism Council (WTTC), sektor
pariwisata telah memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 9,2
persen. Selain itu, sektor pariwisata juga merupakan penyumbang devisa terbesar kedua, yang
pada tahun 2016 mencapai USD 13.568 milliar (detik.com, 17/10/2017). Sektor pariwisata juga
memiliki peran penting untuk meningkatkan pertumbuhan sektor-sektor lain lewat penyerapan
tenaga kerja, serta penarikan investor asing untuk menanamkan modal didalam negeri.
Redenominasi
ebijakan redenominasi, yaitu penyederhanaan mata uang dengan cara ngurangin digit (angka 0)
di mata uangnya. Berapa digit yang dikurangi, itu tergantung dari kebutuhan aja. Negara kita
beberapa tahun terakhir ini banyak ngomongin tentang pengurangan 3 digit terakhir. Jadi intinya
angka 0 di mata uang kita dihilangkan 3 angka, jadi kayak gini:

Redenominasi ini biasanya dilakukan sebuah negara yang memiliki kondisi perekonomian yang
stabil dan dengan persiapan yang matang. Jadi hal ini dilakukan justru untuk membuat negaranya
berkembang ke arah yang semakin baik lagi. Pada intinya, redenominasi ini bener-bener murni
cuma menyederhanakan angka di mata uang negara itu aja. Jadi nilai mata uangnya itu sendiri
sih nggak berubah. Misalnya contoh tas tadi ya harganya kan Rp. 270.000 tuh, ya kalo
Pemerintah melakukan redenominasi, berarti harga tas itu jadi Rp. 270, gitu.

Namun apakah berarti semua masyarakat mendadak jadi miskin? Karena orang yang punya
kekayaan (misalnya Rp 100.000.000) mendadak jadi cuma Rp 100.000? Ya nggak dong, kan
semua harga barang juga serentak jadi turun digitnya. Makanya, kebijakan redenominasi ini
pastinya nggak akan langsung instan, tapi ada PROSES perlahan secara bertahap. Contohnya
proses transisi dari desain uang kertas yang perlahan-lahan agar kondisi psikologis masyarakat
juga bertransisi dalam proses yang bertahap.

Kebijakan Sanering
Berikutnya adalah kebijakan ekonomi yang bernama sanering. Konsepnya,
Pemerintah melakukan pemotongan nilai uang sehingga daya beli masyarakat (tingkat
konsumsi) jadi turun.
Menurut kebijakan Gunting Syafrudin itu, “uang merah” (uang NICA) dan uang De

Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Digunting itu

maksudnya beneran uang kertas tersebut dipotong jadi dua bagian, ya. Guntingan kiri

tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai

semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00. Kemudian pada durasi waktu 22 Maret

– 16 April 1950, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank

dengan nilai setengah dari nilai semula. Lebih dari tanggal tersebut, maka bagian kiri

itu tidak berlaku lagi.

Kemudian guntingan yang sebelah kanan, dinyatakan tidak berlaku untuk bertransaksi.

Tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara (surat utang negara) sebesar setengah

dari nilai semula, dan akan dibayar 30 tahun kemudian dengan bunga 3% setahun.

Dengan demikian, rakyat jadi seolah-olah “dipaksa” untuk menurunkan daya beli

mereka, dan separuh kekayaan rakyat dipinjamkan kepada negara selama 30 tahun.

Kebijakan ini memang sangat kontroversial tapi memang diperlukan untuk

menyelamatkan ekonomi dari krisis yang berkepanjangan.

Dengan kebijaksanaan yang kontroversial itu, Syafruddin bermaksud sekali pukul


menembak beberapa sasaran:

1. Pertama, penggantian mata uang yang bermacam-macam dengan mata uang


baru yaitu Rupiah.
2. Kedua, mengurangi jumlah uang yang beredar untuk menekan inflasi dan
dengan harapan harga barang jadi turun,
3. Ketiga, mengisi uang kas Pemerintah dengan bentuk pinjaman wajib bagi
masyarakat yang besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 miliar.

Kebijakan Devaluasi
Misalnya: Kurs 1 USD = IDR 10.000. Kemudian Pemerintah
melakukan devaluasi sehingga 1 USD = IDR 12.500
Bentuk intervensi yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah membeli USD dan
menjual Rupiah dengan jumlah luar biasa banyak, dengan menggunakan cadangan
devisa negara. Dengan begitu, permintaan akan USD meningkat dan penawaran akan
Rupiah menurun. Maka sebagai akibatnya, harga USD menjadi lebih mahal relatif
terhadap Rupiah.

Ada beberapa dampak positif dari kebijakan ini, yang paling jelas diuntungkan adalah
pengusaha eksportir dalam negeri. Jika nilai tukar USD menguat terhadap Rupiah, jelas
pengusaha eksportir kita diuntungkan karena harga barang dan jasa Indonesia di pasar
internasional jadinya lebih kompetitif (murah) yang didorong oleh biaya produksi yang
jadinya lebih rendah. Akibatnya, produk-produk buatan Indonesia bisa lebih laku di
perdagangan global. Hal ini, akan membuat para pelaku usaha dalam negeri lebih
bersemangat dalam memacu tingkat produksi. Pendapatan ekspor kita tentunya akan
mengalami percepatan.

Sebaliknya, impor malah akan berkurang, karena harga barang dari luar negeri akan
terasa lebih mahal. Dalam hal ini memang lo yang suka berburu barang-barang impor
akan terasa dirugikan. Tapi ya lo ga bisa ngeliat ekonomi dari sudut pandang sempit
seperti ini saja. Karena mahalnya barang-barang impor, juga bisa mendorong
masyarakat Indonesia untuk membeli produk-produk dalam negeri. Jadi kebijakan
devaluasi ini bisa jadi salah satu langkah yang bisa diambil oleh
Pemerintah kalo mereka mau mendorong ekspor dan menekan impor negaranya.

Kebijakan Revaluasi
emerintah menggunakan cadangan kas negara untuk mengintervensi
tingkat demand dan supply Rupiah terhadap USD. Dalam hal ini, Pemerintah ngeluarin
cadangan kas (devisa) dalam bentuk Rupiah dalam jumlah yang sangat banyak dan
memenuhi bursa perdagangan mata uang untuk menguatkan Rupiah. Ketika jumlah
Rupiah meningkat di pasar, otomatis nilai tukar Rupiah menguat. Dengan begitu,
tingkat daya beli masyarakat terhadap barang-barang impor juga meningkat (konsumsi
meningkat). Harga tas, sepatu, gadget, sampai item game digital yang dijual dalam
bentuk USD juga jadi lebih murah.

onsekuensi dari kebijakan ini ya ngabisin cadangan kas devisa negara kita, hanya
untuk menguatkan Rupiah terhadap USD. Padahal ya tentu Pemerintah memiliki hal-
hal prioritas lain untuk mengalokasikan kas devisa negara kita, daripada “hanya” untuk
menguatkan Rupiah dan membuat masyarakat kita jadi semakin konsumtif.
Perlu diketahui pula, bahwa sejak tahun 1999 negara kita udah mengadopsi Sistem
Nilai Tukar Mengambang (Floating Exchange Rate System). Artinya nilai tukar
Rupiah akan terbentuk melalui mekanisme pasar (demand dan supply). Jadi
Pemerintah Indonesia memang sulit untuk melakukan intervensi dalam menentukan
nilai tukar Rupiah, karena udah dilepaskan ke pasar mata uang tadi itu. Jadi dalam
praktiknya di lapangan, kebijakan devaluasi dan revaluasi ini baru dapat dilakukan
kalau negara yang bersangkutan menerapkan Sistem Nilai Tukar Tetap (Fixed
Exchange Rate System). Sedangkan negara-negara yang menerapkan Sistem Nilai
Tukar Mengambang, akan mengalami kondisi yang namanya Apresiasi dan Depresiasi.

ketika mata uang suatu negara menguat, itu adalah kondisi yang dinamakan apresiasi.
Sebaliknya, kalo kondisnya sedang melemah disebut depresiasi.