Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN REMPAH DAN


MINYAK ATSIRI
ACARA V
PENGOLAHAN OLEORESIN

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
Anastasia Silviana L H0916003
Fadhila Pertiwi H0916030
Fauzia Riskika H0916033
Laksita Maharani H0916051
Nanda Ayu Hapsari H0916062
Fatimah Muhammad H0913032

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
ACARA V
PENGOLAHAN OLEORESIN

A. Tujuan
Tujuan dari Praktikum Acara V “Pengolahan Oleoresin” yaitu :
1. Mempelajari dan mengenal ekstraksi rempah untuk mendapatkan Oleoresin.
2. Mempelajari Teknologi Pengolahan Oleoresin
3. Mengamati rendemen, warna, dan aroma

B. Tinjauan Pustaka
Oleoresin adalah zat kimia berupa minyak kental yang memiliki sifat
asli seperti bahan bakunya (misalnya pala) yang terdiri dari campuran minyak
atsiri dan resin. Oleoresin pala dapat diekstrak langsung dari fuli dan biji pala
yang belum disuling minyak atsirinya atau dapat diperoleh dari limbah
penyulingan pala melalui proses ekstraksi. Oleoresin dapat digunakan sebagai
penambah citarasa pada industri makanan dan minuman, industri kosmetika,
sabun, dan sebagai ramuan dalam industry farmasi. Mutu oleoresin dipengaruhi
beberapa faktor, yaitu jenis tanaman dan umur panen, perlakuan bahan sebelum
proses ekstraksi, sistem dan kondisi ekstraksi, perlakuan terhadap oleoresin
setelah ekstraksi, serta pengemasan dan penyimpanan (Ketaren, 1980).
Ada 2 cara juga untuk mengambil oleoresin dari jahe merah, yaitu :
1. Proses ekstraksi secara langsung. Caranya adalah bahan atau tepung bubuk
jahe merah dimasukkan ke dalam labu ekstraksi sehingga bahan terendam
dalam pelarut. Hasil ekstraksi disaring pada kondisi vakum untuk mencegah
kerusakan gingerol yang merupakan komponen pemberi rasa utama dalam
oleoresin jahe merah. Setelah itu baru didistilasi untuk memisahkan bahan
pelarut dengan bubuk jahe merah. Pada tahap terakhir ini, seluruh bahan
sudah terpisahkan dan tinggal oleoresinnya.
2. Proses dua tahap atau proses bertahap. Caranya adalah bahan atau bubuk
jahe merah dimasukkan ke dalam ruangan penyulingan. Hasil minyak atsiri
ditampung dalam kemasan, sedangkan ampas penyulingan dijemur untuk
menurunkan kadar airnya. Selanjutnya ampas diproses untuk diperoleh
resinnya dengan proses ekstraksi secara langsung. Hasil resin kemudian
dicampur dengan minyak atsiri dan diperoleh oleoresin yang kadar minyak
atsirinya dapat diatur tinggi rendahnya (Bustan dkk, 2008).
Menurut Mukhriani (2014), ekstraksi merupakan proses pemisahan
bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Proses
ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetim-bangan antara konsentrasi
senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses
ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Ekstrak awal
sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan tunggal untuk mengisolasi senyawa
tunggal. Oleh karena itu, ekstrak awal perlu dipisahkan ke dalam fraksi yang
memiliki polaritas dan uku-ran molekul yang sama. Jadi pengertian ringkas
ekstraksi yaitu suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
kelarutannya.
Proses ekstraksi khususnya untuk bahan yang berasal dari tumbuhan
adalah sebagai berikut :
1. Pengelompokan bagian tumbuhan (daun, bunga, dll), pengeringan dan
penggilingan bagian tumbuhan.
2. Pemilihan pelarut
3. Pelarut polar: air, etanol, metanol, dan sebagainya.
4. Pelarut semipolar: etil asetat, diklorometan, dan sebagainya.
5. Pelarut nonpolar: n-heksan, petroleum eter, kloroform, dan sebagainya.
Ekstraksi Jenis-jenis metode ekstraksi yang dapat digunakan salah
satunya adalah maserasi. Maserasi merupakan metode sederhana yang paling
banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala
industri. Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan
pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar.
Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi
senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses
ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama
dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang
digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang.
Selain itu, beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar.
Namun di sisi lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-
senyawa yang bersifat termolabil (Agoes,2007)

C. Metodologi
1. Alat
a. Botol vial
b. Erlenmeyer
c. Gelas piala
d. Gelas ukur
e. Kertas saring
f. Pipet
g. Rotari evaporator
h. Timbangan
i. Timbangan digital
2. Bahan
a. Aquades
b. Bawang merah segar
c. Bubuk bawang merahKulit bawang merah
d. Pelarut ethanol 96%
3. Cara kerja
Bawang merah segar, bubuk bawang merah,dan kulit
bawang merah

Etanol Ekstraksi, penyaringan Residu (ampas)


96%
Filtrat

Evaporasi Pelarut

Oleoresin

Gambar 5.1 Diagram Alir Ekstraksi untuk Mendapatkan Oleoresin

D. Hasil dan Pembahasan


Oleoresin berasal dari kata “oleo” yang berarti minyak dan “resin” yang
berarti damar. Jadi oleoresin adalah minyak dan damar yang merupakan
campuran minyak atsiri sebagai pembawa aroma dan sejenis damar sebagai
pembawa rasa (Amir dkk., 2013). Oleoresin merupakan hasil olahan rempah-
rempah berupa cairan kental yang diperolah dengan cara mengekstraksi
rempah-rempah dengan pelarut organik. Oleoresin biasanya digunakan pada
industri-industri pangan besar seperti industri daging dan makanan kaleng.
Oleoresin diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut organik
seperti alkohol, metanol, aseton, atau heksan. Oleoresin merupakan campuran
antara resin dan minyak atsiri. Dalam dunia perdagangan oleoresin dikenal
dengan gingerin. Bentuknya berupa cairan pekat, berwarna coklat tua yang
mengandung minyak atsiri 15%-35%. Oleoresin juga mengandung minyak
atsiri, resin, dan bahan-bahan lain seperti beberapa asam lemak yang tidak
menguap (Danarto dkk., 2012).
Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan zat terlarut dengan
pelarutnya berdasarkan titik didih pelarut. Beberapa cara kerja dari ekstraksi
sebagai berikut, bahan simpilisia yang digunakan dihaluskan berupa serbuk
kasar, dilarutkan dengan bahan pengekstraksi (Voight, 1995). Pelarut yang
digunakan untuk ekstraksi diantaranya adalah metanol, etanol, etil asetat,
aseton dan asetonitril dengan air. Pemilihan pelarut pada proses ekstraksi
dilakukan dengan alasan karena pelarut mampu melarutkan senyawa yang akan
diekstrak, mudah dipisahkan dan dimurnikan kembali (Ansel, 1989). Suhu
ekstraksi yang terbaik dilakukan pada kisaran suhu 20⁰C-80⁰C tetapi suhu yang
digunakan harus dibawah titik didih pelarut yang digunakan
(Damanik dkk., 2014). Maserasi dilakukan dengan merendam serbuk sampel
dalam pelarut. Prinsip metode maserasi yaitu terjadinya peristiwa leaching
pada komponen aktif dalam bahan yang memiliki sifat kelarutan yang sama
dengan pelarut yang digunakan (Singh, 2008). Maserasi yang berulang untuk
memperoleh ekstrak yang semakin banyak. Metode ini tergolong metode
konvensional namun masih populer digunakan karena kemudahan pengerjaan
dan biaya pengerjaan yang cukup murah dibandingkan metode lainnya (Yang
et al., 2010).
Jenis-jenis ekstraksi bahan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Metode ekstraksi maserasi
Metode ini menggunakan pelarut yang akan berdifusi masuk kedalam sel
bahan yang selanjutnya senyawa aktif akan keluar akibat dari tekanan
osmosis, biasanya juga dilakukan pengadukan dan pemanasan untuk
mempercepat proses ekstraksi. Pelarut yang sering digunakan yaitu aseton
dan etanol. Parameter penting metode ini adalah suhu ekstraksi dan
kecepatan pengadukan. Semakin tinggi suhu dan kecepatan pengadukan
yang tinggi dapat mempercepat pelarut untuk berpenetrasi ke dalam bahan
dan kontak dengan bahan, tetapi suhu yang terlalu tinggi juga dapat
merusak komponen bioaktif bahan (Maleta dkk., 2018).
2. Metode ekstraksi cairan superkritis
Metode ini menggunakan cairan superkritis yang memiliki karakteristik
viskositas yang rendah dan difusivitas yang relatif tinggi. Parameter utama
yang dapat mempengaruhi ekstraksi dengan metode cairan superkritis
yaitu rasio pelarut dengan bahan, ukuran partikel bahan, suhu ekstraksi,
tekanan, waktu ekstraksi, dan CO2flow rate (Wijngaard dkk., 2012).
3. Metode ultrasound assisted extraction (UAE)
Metode ini menggunakan kativasi akustik untuk memproduksi gelembung
kativasi untuk menghasilkan gaya gesek yang tinggi. Hal tersebut akan
membantu merusak dinding sel sehingga pelarut dapat masuk kedalam
bahan dan meningkatkan kontak antara pelarut dengan senyawa yang akan
di ekstraksi. (Dye dan Rathod, 2013). Rendemen yang dihasilkan dengan
menggunakan metode ini lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan
metode konvensional (Rostagno dan Prado, 2013).
4. Metode ekstraksi pulsed electric field (PEF)
Metode ini menggunakan kejut listrik sehingga membran sel akan
mengalami elektroporasi yang mengakibatkan difusi senyawa yang
terdapat di dalam sel (Luengo dkk., 2014).
5. Metode ekstraksi enzimatik
Metode ini menggunakan bantuan enzim untuk mengekstraksi senyawa
karotenoid yang ada di dalam bahan. Enzim yang biasa digunakan yaitu
enzim selulase, pektinase, dan hemiselulase. Enzim-enzim tersebut akan
merusak dinding sel bahan, sehingga senyawa bioaktif dapat keluar dari
bahan. (Puri dkk., 2012). Faktor yang mempengaruhi metode ini adalah
pH dan suhu ekstraksi (Lindahl dkk., 2013).
6. Metode pressurized liquid extraction (PLE)
Metode ini menggunakan bantuan pelarut dengan tekanan tinggi dan
dilakukan pada suhu tinggi untuk mengekstraksi senyawa yang ada di
dalam bahan (Kim dkk., 2012). Parameter utama metode pressurized
liquid extraction adalah tekanan, suhu, lama ekstraksi, dan flow rate
(Wijngaard dkk., 2012).
7. Metode microwave assisted extraction (MAE)
Metode ini menggunakan bantuan gelombang mikro untuk mengekstrak
senyawa di dalam bahan. Panas yang ditimbulkan oleh radiasi gelombang
mikro akan mengakibatkan tekanan di dalam bahan meningkat sehingga
dinding sel akan rusak yang menyebabkan senyawa berpindah dari bahan
ke pelarut ekstraksi (Zhao dkk., 2011). Parameter yang mempengaruhi
ekstraksi dengan metode ini yaitu energi gelombang mikro yang
digunakan, waktu ekstraksi, dan suhu ekstraksi (Wijngaard dkk., 2012).

Tabel 5.1 Hasil Pengamatan Filtrasi


Bawang Merah
1. Perlakuan

a. Sampel : Bubuk bawang merah

b. Waktu ekstraksi : 24 jam

c. Suhu ekstraksi : 28 C

2. Berat Bahan : 25 gram

3. Volume Filtrat :

Sumber : Laporan Sementara

Tabel 5.2 Hasil Pengamatan Oleoresin Bawang Merah


Merah
No Hasil Kelompok

1 dan 4 2 dan 5 3 dan 6

1. Perlakuan

a. Sampel kulit bawang bawang bubuk


merah merah bawang
merah

b. Waktu ekstraksi 3 jam 48 jam 24 jam

c. Suhu ekstraksi 60C 28 C 28 C

2. Berat bahan (A) 50 gram 50 gram 50 gram

3. Berat ampas - - -

4. Volume filtrat 330,74 ml 450 ml 365 ml


5. Berat oleoresin (B) 4,54 gr 5,61 gr 28,61 gr

6. Rendemen (%) 9,08% 11,22% 57,22%

7. Vol. ethanol (ml) (D) 500 ml 500 ml 500 ml

8. Vol ethanol hasil 331 ml 368 ml 320 ml


evaporasi (E)

9. % ethanol yang hilang 33,8 % 26,4% 36%

10.Warna Oleoresin merah coklat merah pekat coklat


gelap

11.Aroma oleoresin tajam aroma khas kurang tajam


bawang

Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan Tabel 5.2 diatas dapat diketahui hasil pengamatan dari


oleoresin bawang merah. Pada kelompok 1 dan 4 sampel kulit bawang merah
dengan perlakuan ekstraksi pada suhu 60 C selama 3 jam dengam 50 gram
bahan dan 500 ml ethanol didapatkan didapatkan berat oleoresin sebesar 4,54
gram dengan rendemen 9,08% dan 331 ml volume ethanol hasil evaporasi.
Pada kelompok 2 dan 5 sampel bawang merah dengan perlakuan ekstraksi pada
suhu 28 C selama 48 jam dengam 50 gram bahan dan 500 ml ethanol
didapatkan didapatkan berat oleoresin sebesar 5,61 gram dengan rendemen
11,22% dan 368 ml volume ethanol hasil evaporasi. Pada kelompok 3 dan 6
sampel bubuk bawang merah dengan perlakuan ekstraksi pada suhu 28 C
selama 24 jam dengam 50 gram bahan dan 500 ml ethanol didapatkan
didapatkan berat oleoresin sebesar 28,61 gram dengan rendemen 57,22% dan
320 ml volume ethanol hasil evaporasi. Semakin tinggi suhu ekstraksi maka
semakin tinggi kelarutan oleoresin dalam etanol. Begitu pula dengan waktu
ekstraksi, semakin lama waktu kontak pelarut dengan bahan maka semakin
banyak pula oleoresin yang dihasilkan karena terekstraknya komonen-
komponen dalam bahan (Khasanah, 2017). Berdasarkan teori tersebut, data
hasil dari percobaan acara V ini belum sesuai. Pada hasil praktikum rendemen
tertinggi terdapat pada perlakuan ekstraksi duhu 28 C selama 24 jam.
Seharusnya rendemen tertinggi ada pada perlakuan suhu ekstransi yang tinggi
dalam waktu yang lama.

Warna dan aroma dari oleoresin pada kelompok 1 dan 4 dengan


perlakuan ekstraksi 60 C selama 3 jam yaitu berwarna merah coklat gelap dan
beraroma tajam. Pada kelompok 2 dan 5 dengan perlakuan ekstraksi pada suhu
28 C selama 48 jam oleoresin berwarna merah pekat dan beraroma khas
bawang yang kuat. Sedangkan pada kelompok 3 dan 6 dengan perlakuan
ekstraksi pada suhu 28 C selama 24 jam oleoresin berwarna coklat dan
beraroma tajam. Intensitas kecerahan pada oleoresin cenderung mengalami
penurunan (gelap) seiring dengan naiknya suhu ekstraksi dan lama waktu
ekstraksi. Kenaikan suhu dan lama pemanasan dapat menyebabkan
peningkatan kadar komponen hasil ekstraksi. Hal tersebut karena peningkatan
suhu dan lama pemanasan menyebabkan laju ekstraksi semakin
tinggi.Tingginya laju ekstraksi ini diduga menyebabkan tingkat kecerahan
warna oleoresin menjadi lebih gelap seiring peningkatan suhu dan lama waktu
ekstraksi (Ibrahim, 2015).

Menurut Khasanah dkk. (2017), Pada pembuatan oleoresin terdapat


beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil rendemen yang diperoleh,
diantaranya adalah proses pendahuluan atau pretreatment, metode destilasi
yang digunakan. Selain itu hasil rendemen juga dapat dipengaruhi oleh lama
destilasi dan hingga jenis pelarut yang digunakan (Hartawan, 1995).
Komponen kimia yang dikandung dalam bahan mentah juga dapat
mempengaruhi karakteristik dari oleoresin yang akan diambil. Senyawa
penting yang terdapat dalam oleoresin adalah karotenoid, curcuminoid,
phenolic, aldehid, dan lain-lain (Adi dkk., 2014). Ekstraksi akan lebih cepat
dilakukan pada suhu tinggi, namun dapat merusak beberapa komponen yang
tersadapat pada oleoresin. Lama ekstraksi maserasi juga dapat meningkatkan
rendemen (Khasanah, 2017).
Dalam pembuatan oleoresin bawang merah pada praktikum ini, jenis
ekstraksi yang digunakan adalah ekstraksi maserasi. Maserasi merupakan
ekstraksi yang dilakukan dengan cara merendam bahan dalam pelarut selama
waktu tertentu. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya yang
sederhana (Hatijah, 2013). Pelarut terbaik yang dapat digunakan adalah
heksana karena mampu menghasilkan oleoresin dengan aktivitas antitrombotik
dan rendemen yang cukup tinggi. Untuk meningkatkan rendemen, hal lain yang
dapat dilakukan adalah tidak mengupas bawang, dan meningkatkan rasio
bawang dibanding volume pelarut (Hartawan, 1995).

Semakin besar ukuran mesh, atau berarti semakin kecil ukuran partikel
maka rendemen oleoresin yang dihasilkan akan semakin besar. Menurut
Goldman (1949), kehalusan bahan yang sesuai akan menjadikan ekstraksi
berlangsung dengan sempurna. Hal ini disebabkan karena ukuran yang
semakin kecil atau halus akan memiliki permukaan bahan yang semakin luas,
sehingga memungkinkan oleoresin dapat terekstrak secara optimal oleh
pelarut. Hal ini selaras menurut Komara dalam Samuel (2004) pengecilan
ukuran akan memperluas bidang kontak antara bubuk dan pelarut sehingga
semakin banyak oleoresin yang dapat diekstrak.

Faktor suhu juga berpengaruh terhadap rendemen oleoresin. Menurut


Fuad Muhiedin (2008), ekstraksi akan lebih cepat dilakukan pada suhu tinggi.
Semakin tinggi suhu yang digunakan, maka semakin tinggi pula rendemen
oleoresin yang dihasilkan.Hal ini sesuai dengan penelitian Anam (2010) yang
menyatakan bahwa pada penggunaan berbagai pelarut, suhu ekstraksi yang
semakin meningkat akan menghasilkan rendemen oleoresin yang semakin
tinggi pula sampai batas tertentu. Peningkatan rendemen oleoresin ini diduga
karena semakin tinggi suhu akan menurunkan viskositas pelarut yang
digunakan, sehingga kemampuan untuk mengekstrak oleoresin semakin
mudah. Pengaruh temperatur terhadap rendemen oleoresin juga terlihat pada
penelitian Fuadi (2009). Dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa
rendemen semakin bertambah dengan meningkatnya temperatur. Hal ini
disebabkan semakin banyaknya panas yang diterima oleh bahan untuk
mengekstrak oleoresin yang dikandung di dalam bahan tersebut.
Pada ekstraksi oleoresin, meningkatnya rendemen yang dihasilkan
selaras dengan lamanya waktu kontak selama ekstraksi. Hal ini disebabkan
karena semakin lama waktu ekstraksi, mengakibatkan waktu kontak antara
pelarut dan bahan baku semakin lama pula. Sehingga proses penetrasi pelarut
kedalam sel bahan baku akan semakin baik, dan menyebabkan semakin
banyaknya senyawa yang berdifusi keluar sel (Basalmah,2006). Pelarut yang
digunakan pada Acara V “Pengolahan Oleoresin” ini adalah etanol. Semakin
tinggi konsentrasi etanol, maka semakin rendah tingkat kepolaran pelarut yang
digunakan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan pelarut dalam
mengekstrak kandungan oleoresin yang juga bersifat kurang polar
(Shadmani, 2004).
Essential oils adalah komponen yang mudah menguap (volatile) dari
tumbuh-tumbuhan, dan digunakan dalam aplikasi pembuatan parfum dan
kosmetik. Oleoresin adalah ekstrak yang mengandung essential oil dan fixed
oil yang mempunyai karakteristik rasa dari tumbuh-tumbuhan, biasanya
digunakan dalam food flavoring applications. Terdapat tiga teknik ekstraksi
utama yang digunakan untuk memperoleh essential oils dan oleoresins dari
tumbuh-tumbuhan, yaitu steam distilation, organic solvent extraction, dan
near critical (liquid or supercritical) extraction. Oleoresin dari rempah-
rempah banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor,
parfum, pewarna dan lain-lain. Dalam industri pangan oleoresin banyak
digunakan untuk pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan daging
(misalnya: sosis dan ham), ikan dan hasil laut lainnya, roti, kue, puding, sirup,
saus, dan lain-lain (Oktora dkk, 2007).
Pada penelitian Muhammad dkk (2012), oleoresin hasil ekstraksi
dengan pelarut organik memperlihatkan profil flavor mendekati tepung rempah
segar, yang mana membuat oleoresin sebagai bentuk alami flavor yang
digunakan untuk bumbu dan secara luas diaplikasikan pada makanan
(Shaikh dkk., 2006). Minyak atsiri digunakan sebagai bahan dasar kosmetik,
parfum, aromatherapy, obat, Minyak atsiri terutama digunakan sebagai
pecitarasa dalam minuman, konfeksionari, digunakan dalam industri farmasi
dan parfum (Ravindran dan Babu, 2005). Senyawa-senyawa aktif yang
terkandung dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan paradol diteliti memiliki
sifat sebagai anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, dan antitrombosit
(Williams dan Lamprecht, 2008). Suplemen dan makanan. Penggunaan
minyak atsiri sebagai obat dan suplemen semakin diminati masyarakat seiring
berkembangnya produk-produk herbal. (Riana, 2012).
Oleoresin dan minyak atsiri rempah-rempah banyak digunakan dalam
industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain.
Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan untuk pemberi cita rasa
dalam produk-produk olahan daging (misalnya sosis dan ham), ikan dan hasil
laut lainnya, roti, kue, puding, sirup, saus, dan lain-lain (Sulhatun dkk, 2013).
E. Kesimpulan
Dari Praktikum Acara V “Pengolahan Oleoresin”, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam pembuatan oleoresin bawang merah, jenis ekstraksi yang digunakan
adalah ekstraksi maserasi. Maserasi merupakan ekstraksi yang dilakukan
dengan cara merendam bahan dalam pelarut selama waktu tertentu.
2. Oleoresin merupakan hasil olahan rempah-rempah berupa cairan kental
yang diperolah dengan cara mengekstraksi rempah-rempah dengan pelarut
organik. Oleoresin diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut
organik seperti alkohol, metanol, aseton, atau heksan. Proses pembuatan
oleoresin terdiri dari tiga tahapan, yaitu ekstraksi, filtrasi, dan maserasi.
3. Pada sampel kulit bawang merah kelompok 1 dan 4, rendemen yang
dihasilkan 9,08%, warna merah coklat gelap, dan aroma yang tajam.
Pada sampel bawang merah kelompok 2 dan 5, rendemen yang dihasilkan
11,22%, warna merah kecoklatan, dan aroma sangat tajam khas bawang.
Pada sampel bubuk bawang merah kelompok 3 dan 6, rendemen yang
dihasilkan 57,22%, warna coklat, dan aroma kurang tajam.
DAFTAR PUSTAKA

Adi, D.N., Khasanah, L.U., dan Anandito, B.K. 2014. Produksi Oleoresin Berbahan
Baku Limbah Destilasi Kayu Manis (Cinnamomum burmannii). Journal
Teknologi Hasil Pertanian 7(1):1-11.
Agoes.G.2007. Teknologi Bahan Alam, ITB Press Bandung.
Amir, Alyssa Nahla dan Puspita Firsty Lestari. 2013. Pengambilan Oleoresin dari
Limbah Ampas Jahe Industri Jamu (PT. Sido Muncul) dengan Metode
Ekstraksi. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri 2(3): 88-90.
Anam, C. 2010. Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber Officinale): Kajian Dari
Ukuran Bahan, Pelarut, Waktu Dan Suhu. Jurnal Pertanian MAPETA,
XII.
Ansel H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi 4. Press UI. Jakarta.
Basalmah, Rahmat Sulaeman. 2006. Optimalisasi Kondisi Ekstraksi Kurkuminoid
Temulawak : Waktu, Suhu, Dan Nisbah. Skripsi. Departemen Kimia.
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut pertanian
Bogor. Bogor.
Bustan, M. Djoni, Ria F dan Halomoan Pakpahan. 2008. Pengaruh Waktu Ekstraksi
Dan Ukuran Partikel Terhadap Berat Oleoresin Jahe Yang Diperoleh
Dalam Berbagai Jumlah Pelarut Organik (Methanol). Jurnal Teknik
Kimia, No. 4, Vol. 15
Damanik, Desta Donna Putri, Nurhayati Surbakti, Rosdanelli Hasibuan 2014.
Ekstraksi Katekin dari Daun Gambir (Uncaria gambir roxb) dengan
Metode Maserasi. Jurnal Teknik Kimia USU 3(2): 10-14.
Danarto, Y.C, Roihan Firdausi, dan Yohanes Sigit Kurniawan. 2012. Ekstraksi
Oleoresin Jahe dan Biji Pala Menggunakan Mikrowave. Jurnal
Ekuilibrium 11(1): 25-28.
Dey, S., Rathod, V.K. 2013. Ultrasound assisted extraction of β-carotene from
Spirulina platensis. Ultrasonics Sonochemistry 20(1): 271 – 276.
Fuadi, A. 2009. Ekstraksi Oleoresin Jahe Menggunakan Gelombang Ultrasonik.
Tesis, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala.
Goldman, A. 1949. How Spices Oleoresin are Made. The American Perfumes and
Essential Oil.
Hartawan, R. 1995. Optimasi Produksi Oleoresin Bawang Putih (Allium sativum
L.) dan Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum L) yang Mempunyai
Aktivitas Antitrombotik. Skripsi. IPB.
Hatijah, S.T. 2013. Bioaktivitas Minyak Atsiri Umbi Lapis Bawang Merah Allium
cepa L. Lokal Asal Bima Terhadap Bakteri Streptococcus mutans
Penyebab Karies Gigi. Skripsi. Universitas Hasanuddin.
Ibrahim, Agus Martua, yunianta, Feronika Heppy Sriherfyna. 2015. Pengaruh Suhu
dan Lama Waktu Ekstraksi Terhadap Sifat Kimia dan Fisik pada
Pembuatan Minuman Sari Jahe Merah dengan Kombinasi Penambahan
Madu Sebagai Pemanis. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 2
Ketaren, S. 1987. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, cetakan kesatu, penerbit
Balai Pustaka, Jakarta, 19-20, 286-299.
Khasanah, L.U., Anandhito, B.K., Uyun, Q., Utami, R., dan Manuhara, G.J. 2017.
Optimasi Proses Ekstraksi Dan Karakterisasi Oleoresin Daun Kayu Manis
(Cinnamomum Burmanii) Dua Tahap. Indonesian Journal of Essential Oil
2(1):20-28.
Kim, S. M., Jung, Y. J., Kwon, O. N., Cha, K. H., Um, B. H., Chung, D., Pan, C.
H. 2012. A potential commercial source of fucoxanthin extracted from the
microalga Phaeodactylum tricornutum, Applied Biochemistry and
Biotechnology 166(1): 1843 – 1855.
Komara, A. 1991. Mempelajari ekstraksi Oleoresin Dan Karakteristik Mutu
Oleoresin dari Bagian Cabe Rawit.Dalam : Samuel, W. Pengaruh Jenis
Pelarut dan Suhu terhadap Rendemen Oleoresin Temu Hitam.Skripsi.
FTP. Universitas Brawijaya. Malang.
Lindahl, S., Liu, J., Khan, S., Karlsson, E. N., Turner, C. 2013. An on-line method
for pressurized hot water extraction and enzymatic hydrolysis of quercetin
glucosides from onions. Analytica Chimica Acta 785(1): 50 – 59.
Luengo, E., Álvarez, I., Raso, J. 2014. Improving carotenoid extraction from tomato
waste by pulsed electric fields, Front Nutr. 1(2): 12.
Maleta, Hana Susanti, Renny Indrawati, Leenawaty Limantara, Tatas Hardo
Panintingjati Brotosudarmo. 2018. Ragam Metode Ekstraksi Karotenoid
dari Sumber Tumbuhan dalam Dekade Terakhir (Telaan Literatur). Jurnal
Rekayasa Kimia dan Lingkungan 13(1): 40-50.
Muhammad Assagaf, Pudji Hastuti, Chusnul Hidayat, Dan Supriyadi. 2012.
Optimasi Ekstraksi Oleoresin Pala (Myristica Fragrans Houtt) Asal
Maluku Utara Menggunakan Response Surface Methodology (RSM).
Agritech, Vol. 32, No. 4.
Muhiedin, Fuad. 2008. Efisiensi Proses Ekstraksi Oleoresin Lada Hitam Dengan
Metode Ekstraksi Multi Tahap. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri
Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian.Universitas Brawijaya. Malang.
Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktf,
Jurnal Kesehatan, 7(2): 361-367.
Puri, M., Sharma, D., Barrow, C. J. 2012. Enzyme-assisted extraction of bioactives
from plants. Cell Press 3(1): 37 – 44.
Rosevicka Dwi Oktora, Aylianawati, Dan Yohanes Sudaryanto. 2007. Ekstraksi
Oleoresin Dari Jahe. Widya Teknik Vol. 6, No. 2.
Rostagno, M. A., Prado, J. M. (2013) Natural products extraction: Principles and
applications, RSC Publishing, Cambridge.
Shadmani, A., Azhar, I., Mazhar, F., Hassan, M.M., Ahmed, S.W., Ahmad, I.,
Usmanghani, K., and Shamim, S. 2004. Kinetic Studies On Zingiber
Officinale‖. Pakistan Journal of Pharmaceutical Sciences, Vol. 17.
Shaikh, J., Bhosale, R. dan Singhal, R.S. 2006. Microencapsulation of black pepper
oleoresin. Food Chemistry.
Singh, J. 2008. Maceration, Percolation and Infusion Techniques for the Extraction
of Medicinal and Aromatic Plants. Di dalam: Extraction Technologies for
Medicinal and Aromatic Plants. Handa SS, Khanuja SPS, Longo G,
Rakesh DD (Eds.). Italia (IT). International Centre for Science and High
Technology.
Sulhatun, Ir. Jalaluddin, Mt dan Tisara. 2013. Pemanfaatan Lada Hitam Sebagai
Bahan Baku Pembuatan Oleoresin Dengan Metode Ekstraksi. Jurnal
Teknologi Kimia Unimal 2:2.
Vernin G dan Parkanyi C. 2005. Chemistry of Ginger. Di dalam: Ravindran PN
dan Babu KN (eds.). Ginger: The Genus Zingiber. CRC Press. Washington
DC.
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Ekstraksi Edisi 5. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Wijngaard, H., Hossain, M. B., Rai, D. K., Brunton, N. (2012) Techniques to extract
bioactive compounds from food by-products of plant origin, Food
Research International 46(1): 505 – 513.
Williams CA. dan Lamprecht ED. 2008. Some Commonly Fed Herbs And Other
Functional Foods In Equine Nutrition: A Review. The Veterinary Journal.
Yang B, Jiang Y, Shi J, Chen F dan Ashraf M. 2010. Extraction and
Pharmacological Properties of Bioactive Compounds from Longan
(Dimocarpus Longan Lour.) Fruit - A review. Journal Food Research
International 10(1).
Zhao, W., Yu, Z., Liu, J., Yu, Y., Yin, Y., Lin, S., Chen, F. (2011) Optimized
extraction of polysaccharides from corn silk by pulsed electric field and
response surface quadratic design, J Sci Food Agric 91(1): 2201 – 2209.
LAMPIRAN DOKUMENTASI

Gambar 5.2 Rotary Evaporator Gambar 5.3 Hasil Oleoresin

Gambar 5.4 Penimbangan Oleoresin


LAMPIRAN PERHITUNGAN

Kelompok 3 sampel bubuk bawang merah

1. Rendemen:
𝐵
R (%) = 𝐴 x 100%
28,61
= x 100%
50

= 57,22 %
2. % Ethanol yang hilang:
𝐷 −𝐸
%= x 100%
𝐷

500−320
= x 100%
500

= 36%