Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PRAKTIKUM PKR

“PROGRAM PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI”

Disusun Oleh:
Nama :
1. Ghea Dwi Astari (011600438)
2. Joanne Salres Ramadhani (011600442)
3. Muhammad Ridha Rivaldi (011600450)
Prodi : Teknokimia Nuklir
Semester : IV
Asisten : Maria Christina.P,SST, M.Eng
Kelompok :5

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR BADAN


TENAGA NUKLIR NASIONAL YOGYAKARTA
2018
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 2 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

TINDAKAN NAMA JABATAN TANDA TANGGAL


TANGAN

Disiapkan Joanne Salres Ramadhani., PPR

M.Eng.

Diperiksa Dr. Ghea Dwi A., M.Eng Wakil


Manajemen

Ketua
Disahkan Muhammad Ridha Rivaldi P., Pusdiklat
Ph.D. Migas
Cepu
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 3 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lembaga Inspeksi Migas Cepu (LIM-C) merupakan lembaga inspeksi teknik


yang mandiri/ independent sesuai dengan persyaratan SNI 19-07720-1999,dan
mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan Nomor
Akreditasi LI-022-IDN sebagai unit pelaksana teknis di bidang jasa inspeksi di Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi di bawah pengawasan Badan
Pendidikan dan Pelatihan Energi dan Sumber Daya Mineral.
Dalam pembuatan Tugas ini, penulis mendapatkan kesempatan untuk membuat
Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi Uji Radiografi menggunakan sinar-x SMART
300 HP untuk pengujian hasil pengelasan plat, dengan proses dan dasar yang mengacu
pada American Society of Mechanical Engineers (ASME), yaitu ASME V dan ASMEIX.
Alasan pembuatan program proteksi dan keselamatan radiasi adalah bahwa Sekolah
Tinggi Teknologi Nuklir – BATAN (STTN-BATAN) mempunyai tugas untuk
melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang IPTEK Nuklir.

1.2 Tujuan
Program proteksi dan keselamatan radiasi dibuat untuk menunjukkan
tanggungjawab manajeman untuk proteksi dan keselamatan radiasi melalui penerapan
struktur manajemen, kebijakan, prosedur, dan susunan rencana organisasi yang sesuai
dengan sifat dan besarnya potensi bahaya radiasi bagi manusia dan lingkungan
sehingga risiko pemanfaatan sumber radiasi pengion dan zat radioaktif dapat
dikurangi serendah mungkin sedangkan manfaat yang diperoleh sebesar-besarnya .
Selain itu juga terdapat tujuan khusus dari pembuatan Program Proteksi dan
Keselamatan Radiasi ini, antara lain :
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 4 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

1.Menambah pengetahuan mengenai pengoperasian Pesawat Sinar X SMART300


HP yang dilakukan pada Pusdiklat Migas Cepu.
2.Dapat menerapkan standar keamanan dalam pengoperasian Pesawat Sinar
XSMART 300 HP.
3.Dapat menerapkan pengoperasian kerja Pesawat Sinar X SMART 300 HP sesuai
dengan SOP.

1.3 Ruang Lingkup


Program proteksi dan keselamatan radiasi dilaksanakan di lingkungan
Pusdiklat Migas Cepu. Rencana kegiatan yang akan dilakukan meliputi : pemantauan
daerah kerja, pemantauan perorangan, perawatan peralatan, pemantauan kesehatan
pekerja radiasi, SOP pesawat sinar-X SMART 300 HP.

1.4 Definisi
1) Keselamatan Radiasi Pengion yang selanjutnya disebut Keselamatan Radiasi
adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi pekerja, anggota masyarakat,
dan lingkungan hidup dari bahaya radiasi.
2) Proteksi Radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh
radiasi yang merusak akibat paparan radiasi.
3) Kecelakaan radiasi adalah kejadian yang tidak direncanakan, termasuk kesalahan
operasi, kerusakan atau kegagalan fungsi alat, atau kejadian lain yang menjurus
pada timbulnya dampak radiasi, kondisi paparan radiasi dan/atau kontaminasi
yang melampaui batas sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4) Pemegang Izin adalah orang atau badan yang telah menerima izin pemanfaatan
tenaga nuklir dari BAPETEN. Petugas Proteksi Radiasi adalah petugas yang
ditunjuk oleh Pemegang Izin dan oleh BAPETEN dinyatakan mampu
melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan Proteksi Radiasi.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 5 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

5) Ahli Radiografi yang selanjutnya disebut Radiografer Tingkat II adalah orang


yang berkompeten melakukan pekerjaan radiografi dengan menggunakan zat
radioaktif dan/atau pembangkit Radiasi Pengion, yang memiliki paling kurang
Sertifikat Keahlian Uji Tak Rusak Tingkat II.
6) Operator Radiografi yang selanjutnya disebut Radiografer Tingkat I adalah orang
yang berkompeten melakukan pekerjaan radiografi dengan menggunakan zat
radioaktif dan/atau pembangkit Radiasi Pengion, yang memiliki paling kurang
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 6 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

BAB II
PENYELENGGARA PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI

2.1 Struktur Penyelenggara Proteksi Dan Keselamatan Radiasi


Berkaitan dengan keselamatan radiasi, Lembaga Inspeksi MIGAS CEPU (LIM-
C) memiliki Penyelenggara Proteksi dan keselamatan Radiasi yang termasuk
merupakan bagian sebutan Tim Penerapan Budaya Keselamatan dan Keamanan
(TPBK2) yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan proteksi dan keselamatan
rasiasi, pengawasan, dan pemanfaatan sumber radiasi pengion dan atau zat radioaktif
di lingkungan Pusdiklat Migas Cepu .Perangkat di dalam TPBK2 terdiri atas 3 (tiga)
komponen yang mempunyai tugas, kewajiban dan tanggung jawab terhadap proteksi
dan keselamatan radiasi. Komponen yang dimaksud adalah:
1) Pemegang Izin
Adalah Ketua Pusdiklat Migas Cepu atau orang lain yang ditunjuk untuk
mewakili dan bertanggung jawab atas instalasi
2) Petugas Proteksi Radiasi:
Adalah petugas yang ditunjuk oleh Pemegang Izin yang memanfaatkan sumber
radiasi pengion dan atau zat radioaktif, dan dinyatakan mampu oleh Badan
Pengawas Tenaga Nuklir ujtuk melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan
proteksi radiasi. Dalam pelaksanaan sehari-hari, petugas proteksi radiasi
dikoordinir oleh seorang koordinator petugas proteksi radiasi.
3) Pekerja Radiasi
Pekerja radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau instalasi radiasi pengion
yang diperkirakan menerima dosis radiasi tahunan melebihi dosis untuk masyarakat umum.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 7 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Skema Penyelenggara Proteksi dan Keselamatan Radiasi Pusdiklat Migas


Cepu ditampilkan seperti pada Gambar 1.
Pemegang
Izin

Ka. TPBK2

Wakil TPBK2

PKSR K-3 PPR

Pekerja radiasi

Gambar 1. Struktur Penyelenggara Proteksi Dan Keselamatan Radiasi di


Pusdiklat Migas Cepu
Gambar 1
Table 1. Daftar Nama Penyelenggara Proteksi Dan Keselamatan Radiasi di
Pusdiklat Migas Cepu

1. Nama pemegang izin : Muhammad Ridha Rivaldi, Ph.D


No. KTP : 3276042703700007
Masa berlaku : Seumur Hidup

2. Petugas Proteksi Radiasi Ke-1


Nama : Joanne Salres Ramadhani , SST., M.Eng.
Pendidikan terakhir : S2 Teknik Perminyakan
Nomor SIB : 02643 113 03260914
Masa berlaku : 06 Desember 2020
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 8 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

3. Petugas Proteksi Radiasi Ke-2


Nama : Ir. Ghea Dwi Astari
Pendidikan terakhir : S2 Teknik Nuklir
Nomor SIB : 01914.113.03.030616
Masa berlaku : 18 Maret 2019

4. Petugas Proteksi Radiasi Ke-3


Nama : Kamilan Niam IB ST., M.Kes.
Pendidikan terakhir : S2 Magister Kesehatan
Nomor SIB : 017066 113 04 100317
Masa berlaku : 07 Desember 2020

5. Petugas Proteksi Radiasi : Ke-4


Nama : Said Wigo , SST., M.Eng.
Pendidikan terakhir : S2 Teknik Kimia
Nomor SIB : 01906.113.01.01.160215
Masa berlaku : 19 Februari 2019

6. Pekerja Radiasi : Radiografer Tingkat II


Nama : Muhammad Dzuhri Ferianto, M.Kes.
Pendidikan terakhir : S2 Magister Kesehatan
Nomor SIB 0151041500180216
Masa berlaku 01 November 2020

7. Pekerja Radiasi : Radiografer Tingkat I


Nama : Rizka Ayu Puspita, M.Sc.
Pendidikan terakhir : S2 Teknik Industri
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 9 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Nomor SIB : 092/24/RT-1/154-07-P2/VII/12


Masa berlaku : 24 Juli 2021

8. Pekerja Radiasi : Radiografer Tingkat I


Nama : Joanne Salres Ramadhani, SST., M.Eng.
Pendidikan terakhir : S2 Teknik Perminyakan
Nomor SIB : 05022.425.00.220615
Masa berlaku : 01 Juli 2020

9. Pekerja Radiasi : Teknisi Laboratorium Instrumentasi Kimia


Nama : Guardian Kusuma Putra, S.ST
Pendidikan terakhir : D4 Teknokimia Nuklir

10. Pekerja Radiasi : Ka. Lab. Instrumentasi Nuklir


Nama : Muhammad Fayyadi Hanif, SST
Pendidikan terakhir : D4 Teknofisika Nuklir

11. Pekerja Radiasi : Ka. Lab. Kimia Radiasi


Nama : Muhammad Rizky Ardiansyah, ST., M.Sc.
Pendidikan terakhir : S2 – Teknik Industri

12. Pekerja Radiasi : Ka. Lab. Operasi Teknik Kimia


Nama : Ir, Fackhriansyah Wijaya, M.Si.
Pendidikan terakhir : S2-Lingkungan

13. Pekerja Radiasi : Dosen


Nama : Dr. Nur Fatoni, M.Eng
Pendidikan terakhir : S3-Teknik Kimia
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 10 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

2.2 Tugas dan Tanggung Jawab


A. Pemegang Izin (PI)
Tugas, Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemegang Izin (PI) mempunyai
tanggung jawab tertinggi terhadap keselamatan personil, keselamatan anggota
masyarakat lain dan keselamatan lingkungan hidup yang mungkin berada di dekat
instalasi dibawah pengawasannya. Tanggung jawabnya Pemegang Izin adalah sebagai
berikut :
1) mewujudkan tujuan Keselamatan Radiasi;
2) menyusun, mengembangkan, melaksanakan, dan mendokumentasikan program
proteksi dan keselamatan radiasi, yang dibuat berdasarkan sifat dan risiko untuk
setiap pelaksanaan Pemanfaatan Tenaga Nuklir;
3) membentuk dan menetapkan Penyelenggara Keselamatan Radiasi di dalam fasilitas
atau instalasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya;
4) menentukan tindakan dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan
Proteksi dan Keselamatan Radiasi dan memastikan bahwa sumber daya tersebut
memadai dan tindakan yang diambil dapat dilaksanakan dengan benar;
5) meninjau ulang setiap tindakan dan sumber daya secara berkala dan
berkesinambungan untuk memastikan terwujudnya tujuan Keselamatan Radiasi;
6) mengidentifikasi setiap kegagalan dan kelemahan dalam tindakan dan sumber daya
yang diperlukan untuk mewujudkan Keselamatan Radiasi, serta mengambil langkah
perbaikan dan pencegahan terhadap terulangnya keadaan tersebut;
7) membuat prosedur untuk memudahkan konsultasi dan kerjasama antar semua pihak
yang terkait dengan Keselamatan Radiasi;
8) membuat dan memelihara Rekaman yang terkait dengan Keselamatan Radiasi.

B. Petugas Proteksi Radiasi


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 11 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Kewajiban dan Tanggung Jawab Petugas Proteksi Radiasi Petugas Proteksi


Radiasi (PPR) adalah petugas yang ditunjuk oleh Pemegang Izin atau Instalasi lainnya
yang memanfaatkan radiasi pengion dan dinyatakan mampu oleh Badan Pengawas
Tenaga Nuklir untuk melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi
radiasi. Petugas Proteksi Radiasi (PPR) berkewajiban membantu PI dalam
melaksanakan tanggungjawabnya di bidang proteksi radiasi. Sebagai pengemban
tanggungjawab tersebut, Petugas Proteksi Radiasi diberi wewenang untuk mengambil
tindakan sebagai berikut:
1) mengawasi pelaksanaan program proteksi dan keselamatan radiasi;
2) mengkaji ulang efektivitas penerapan program proteksi dan keselamatan radiasi;
3) memberikan instruksi teknis dan administratif secara lisan atau tertulis kepada
Pekerja Radiasi tentang pelaksanaan program Proteksi dan Keselamatan Radiasi;
4) mengidentifikasi kebutuhan dan mengorganisasi kegiatan pelatihan;
5) memastikan ketersediaan dan kelayakan perlengkapan Proteksi Radiasi dan
memantau pemakaiannya;
6) membuat dan memelihara rekaman dosis yang diterima oleh Pekerja Radiasi;
7) melaporkan kepada Pemegang Izin jika Pekerja Radiasi menerima dosis melebihi
Pembatas Dosis;
8) memberitahukan kepada Pekerja Radiasi mengenai hasil evaluasi pemantauan dosis;
9) membuat dokumen yang berhubungan dengan Proteksi Radiasi;
10) melakukan kendali akses di Daerah Pengendalian;
11) melaksanakan latihan penanggulangan dan pencarian fakta dalam hal kedaruratan;
12) memberikan konsultasi yang terkait dengan Proteksi dan Keselamatan Radiasi di
Instalasinya.

C. Pekerja Radiasi
Seorang pekerja radiasi ikut bertanggung jawab terhadap keselamatan radiasi di
daerah kerjanya, dengan demikian seorang pekerja radiasi mempunyai kewajiban
sebagai berikut :
1) mematuhi prosedur operasi;
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 12 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

2) mengikuti pemantauan kesehatan dan pemantauan dosis perorangan;


3) mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dan
pemahaman dalam Proteksi dan Keselamatan Radiasi;
4) menggunakan peralatan pemantau dosis perorangan dan peralatan protektif radiasi
sesuai dengan Pemanfaatan Tenaga Nuklir;
5) menginformasikan kepada Pemegang Izin tentang riwayat pekerjaan terdahulu dan
terkini yang berhubungan dengan radiasi;
6) menyampaikan masukan kepada Petugas Proteksi Radiasi mengenai kendala dan
situasi yang mempengaruhi pelaksanaan program proteksi dan keselamatan radiasi.

2.3 Pelatihan
1) Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi Tingkat 1 dan Tingkat 2
2) Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi Tingkat 3
3) Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi Radiografi Industri
4) Pelatihan Petugas Iradiator
5) Pelatihan K3 Radiasi
6) Pelatihan Kedaruratan Nuklir
7) Pelatihan Penanganan Sumber Hilang
8) Pelatihan Penanganan Sumber Macet
9) Pelatihan Penggantian Sumber
10) Pelatihan Analisis Dampak Lingkungan Radiasi Nuklir
11) Pelatihan Penanggulangan Kebakaran
12) Requalifikasi SIB Petugas Proteksi Radiasi
13) Pelatihan Penanganan Limbah Radioaktif
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 13 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 14 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

BAB III
DESKRIPSI FASILITAS

I. Deskripsi Peralatan Sinar X


Peralatan radiografi industri yang digunakan oleh Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi Cepu adalah pesawat X-Ray, merk YXLON model
ANDREX SMART 300 HP. Pesawat tersebut digunakan untuk beberapa kegiatan di
pusdiklat migas antara lain: radiografi spesimen sertifikasi welder, sarana pelatihan dan
jasa teknologi radiografi.

Gambar 2. Pesawat X-Ray YXLON Andrex Smart 300HP


(sebelah kiri tube head, sebelah kanan control unit)
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 15 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Spesifikasi teknis alat sebagai berikut:


Spesifikasi Tube Head :
Berat : 33 kg
Dimensi : 295 (D) x 775 (L)

Gambar 3. Tube Head SMART 300 HP, YXLON


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 16 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Table 2. Bagian-bagian Tube Head SMART 300 HP, YXLON


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 17 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

3.2.2 Prinsip Kerja Pesawat Sinar X SMART 300 HP.


Pengoperasian pesawat sinar-x SMART 300 HP dilakukan dari keyboard pada
control unit, dan dihidupkan dengan menekan tombol warna hijau dan dimatikan
dengan tombol warna merah. Parameter penyinaran seperti kV, mA dan waktu dapat
diatur langsung atau parameter penyinaran dapat disimpan untuk digunakan di
kemudian hari dengan menggunakan keyboard pada control unit. Power Switch terdiri
dari 3 posisi kunci saklar yaitu :
1. Posisi 0 untuk kondisi OFF atau mati
2. -BY (power hidup tetapi tidak ada
pancaran sinar-X)
3. Posisi I untuk kondisi ON atau kondisi penyinaran sinar-X.

Gambar 4. Control Unit Pesawat Sinar-X SMART 300 HP

Keterangan:
1. Switch posisi I untuk kondisi penyinaran sinar-X
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 18 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

2. -BY (power hidup tetapi tidak


ada pancaran sinar-X)
3. Switch Posisi 0 untuk kondisi OFF atau mati
4. Keyboard untuk memasukan parameter penyinaran dan juga parameter
pemograman
5. Tombol untuk ON menyalakan sinar-X
6. Tombol untuk OFF mematikan sinar-X

a. Peringatan dalam pengoperasian pesawat sinar-x:


1. Pesawat sinar-x SMART, berbahaya apabila dioperasikan oleh personel yang
tidak cakap dan terampil, personel harus mempunyai sertifikat keahlian
sebagai Operator Radiografi dan atau Ahli Radiografi dan Surat Izin Bekerja
dari BAPETEN, atau mendapat pengawasan dari pembimbing bersertifikat.
2. Tabung sinar-x (tube head) berisi gas SF6 bertekanan dan tidak boleh dibuka
oleh personel yang tidak berwenang.
3. Temperatur minimal untuk penyimpanan pesawat sinar-x SMART 300 HP
adalah -30°C, dan apabila disimpan pada temperature yang sangat rendah
(dibawah -30°C, dapat mengakibatkan terjadi kebocoran gas SF6)
b. Catatan:
Temperatur minimal untuk pengoperasian tabung sinar-x (tubehead) adalah - 20°C
dan untuk control unit -10°C.

3.2.3 Sistem Keselamatan Pesawat Sinar X


Sistem keselamatan yang dimiliki pesawat sinar-x SMART 300 HP apabila
terjadi kesalahan prosedur pengoperasian sebagai berikut :
a. Pesawat sinar-x SMART dilengkapi dengan system proteksi otomatis untuk
mencegah pemakaian kV yang sangat tinggi pada saat dilakukan pemanasan
(warming up).
b. Tombol ON tidak akan mengeluarkan sinar-x apabila posisi switch tidak berada di
posisi I, pastikan posisi switch pada posisi standby apabila sedang dalam
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 19 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

penyetingan benda kerja atau sedang memasukan parameter-parameter


penyinaran.

3.3 Teknik Penyinaran Radiografi


Teknik penyinaran radiografi yang dipakai untuk inspeksi kali ini adalah Single
Wall Single Image (SWSI) Teknik SWSI merupakan cara penyinaran dengan
melewati satu dinding lasan atau satu dinding material, Umumnya teknik SWSI
digunakan untuk menyinari lasan atau material bentuk plat.

Gambar 5. Teknik Penyinaran SWSI

3.4 Peralatan Proteksi Radiasi


Peralatan Proteksi Radiasi dibutuhkan untuk mengendalikan radiasi yang
diterima oleh manusia dalam proses Radiography Test. Terdiri atas 3 jenis meliputi: a.
Pemantau Paparan Radiasi (Survey Meter)
Survey meter adalah peralatan proteksi radiasi yang mengukur paparan radiasi yang pada
suatu daerah. Satuan pengukuran radiasi miliSievert per jam atau
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 20 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

mSv/hr. Batasan yang diperbolehkan terkena radiasi berdasarkan peraturan


BAPETEN tahun 2009 yaitu : 20 mSv/tahun untuk operator atau pekerja radiasi
dan 1 mSv/tahun untuk masyarakat sekitar yang berada di area pekerjaan radiasi.

Gambar 6. Survey Meter

b. Pemantau Dosis Radiasi (Dosimeter)


Digunakan untuk merekam jumlah radiasi yang diterima pekerja radiasi. Ada
2 macam:
1. Terbaca Langsung (pocket dosimeter)
Pocket dosimeter digunakan untuk memantau dosis radiasi yang diterima
oleh operator pada saat dia bekerja. Dosis yang diterima bisa langsung dibaca saat
itu juga. Menggunakan TLD (Thermo Luminescence Dosimeter)

Gambar 7. Pocket Dosimeter


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 21 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

TLD digunakan untuk memantau dosis kumulatif yang diterima


oleh seorang pekerja radiasi selama 90 hari (3 bulan)

Gambar 8. Thermo Luminescence Dosimeter

c. Pemberi Tanda Radiasi


Tanda-tanda radiasi dipakai untuk memberitahukan kepada orang-orang
lain bahwa ada pekerjaan radiasi di tempat tersebut dan membatasi akses
orang yang tidak berwenang ke daerah radiasi.

Gambar 9. Lampu penanda dan papan penanda

IV. Sensitifitas Radiography


Adalah suatu indikasi tidak langsung yang menunjukan kemampuan film dalam mendeteksi
cacat terhadap perbedaan tebal benda uji. Sensitifitas hasil radiografi diukur dengan
menggunakan penetrameter (IQI). Untuk mengetahui
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 22 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

kualitas gambar yang dihasilkan diperlukan alat pengukur kualitas gambar


radiografi yang kita hasilkan, diantaranya adalah penetrameter. Penetrameter
yangdigunakan yaitu penetrameter kawat. Untuk menentukan penetrameter yang
digunakan mengacu kepada standar ASME section V untuk prosedur inspeksi
dengan radiografi.

Gambar 10. Wire Penetrameter (IQI)

Penetrameter jenis kawat, berdasarkan ASME Sec V, Article 2, memiliki


empat jenis yaitu Set A, Set B , Set C dan Set D.

Table 3. Wire IQI ASME V


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 23 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Untuk penempatan penetrameter (IQI) ada 2 jenis yaitu Source Side dan Film
Side dan yang digunakan pada pengujian kali ini adalah Source Side.

Untuk memperoleh hasil dari sinar X diperlukan imaging plate (IP) prinsip
kerjanya sama seperti negatif film pada kamera

Gambar 11. Source Side dan Film Side


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 24 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Gambar 12. Imaging Plate

Dalam penyinaran radiografi perlu dilakukan perhitungan untuk menentukan


lamanya penyinaran yang dibutuhkan agar cacat dapat terdeteksi dengan baik.
Adapun faktor-faktor yang menentukan lamanya waktu penyinaran antara lain:
a. Tebal material yang disinari (T)
b. SFD (Source Film Distance) adalah jarak antara sumber atau fokus tabung x-
ray terhadap film yang digunakan

Gambar 13. Source Film Distance (SFD)


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 25 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

SFD yang digunakan di LIM-C adalah 1200 mm.

c. Tegangan (kV) dan arus (mA) yang digunakan pada penggunakan x-ray

Table 4.kV dan mA X Ray

3.6 Pengoperasian Pesawat Sinar X Smart 300 Hp


Prosedur pengoperasian alat sinar-x SMART 300 HP adalah prosedur
pengoperasian pada saat persiapan, pada saaat pengoperasian dan pada saat setelah
selesai pengoperasian. Pelaksana yang melaksanakan pengoperasian pesawat sinar-x
adalah Operator Radiografi (OR) dengan pengawasan dari Ahli Radiografi (AR) dan
atas pengawasan proteksi keselamatan radiasi dari Petugas Proteksi Radiasi (PPR).

1. Sebelum Pengoperasian
a. Menghubungkan kabel ground dengan ground screw pada control unit
ke externalground misalnya pipa air dan sebagainya.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 26 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

P13 (Power Supply) F2 (ground) P11 Tube Head A


Gambar 14. Port pada Control Unit dan Tube Head

Keterangan:
(P11) Interconnection kabel antara control unit dengan Tube head (A)
(P13) Interconnection kabel antara control unit dengan power supply

b. Memeriksa kecocokan tegangan power supply dengan kabel tengangan


power supply.
c. Menyiapkan peralatan-peralatan proteksi radiasi seperti survey meter,
dosimeter dan TLD serta tanda-tanda radiasi.
2. Pada Saat Pengoperasian
a. Memasukkan kunci pemutar pada control unit pada posisi “O”

Gambar 15. Kunci pemutar pada Control Unit


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 27 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

b. Memutar searah jarum jam kearah posisi standby atau “” maka lampu hijau pada
tombol “I” akan menyala.
c. Memeriksa blower pada tubehead apakah sudah beroperasi.
d. Memastikan survey meter dalam keadaan hidup.
e. Melakukan warming up sebelum operasi penembakan (interpreted).

Gambar 16. Persiapan Awal

f. Memilih parameter seperti kV, mA dan waktu sesuai dengan kebutuhan


penyinaran dengan menggunakan keyboard sesuai dengan diagram
penyinaran yang terdapat pada spesifikasi pesawat SMART 300 HP.
g. Direkomendasikan pada saat pemanasan menggunakan lead cover pada
tubehead port. Lead cover dilepas apabila melakukan penyinaran radiografi.
h. Untuk memilih waktu yang digunakan, dengan menekan key Time dan
memasukan waktu yang diinginkan dengan satuan menit detik, untuk
warming up, memasukkan angka 2 menit kemudian menekan key Enter.
i. Untuk memilih mA, menekan key mA dan memasukan 0.02 mA, kemudian
setelah tiba di 100 kV, dimasukkan 3 mA, lalu menekan key Enter.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 28 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Gambar 18. Input 3mA pada 100kV

j. Untuk memilih kV, menekan key kV dan memasukan kV yang diinginkan


dengan menekan key angka, untuk warming up dengan menekan dari 5kV
dahulu kemudian menekan key Enter. Kemudian bertahap tiap 20 kV sampai
175 kV.

Gambar 17. Warming up sampai 175kV

k. Menekan tombol “I” pada setiap proses tadi, maka pesawat sinar-x akan
menyinari dan nilai kV akan bertambah sesuai dengan yang dimasukan di
control unit.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 29 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

l.
apabila sedang melakukan penyetingan benda kerja dan ambil kuncinya apabila
hendak meninggalkan control unit untuk melakukan penyetingan dimana mesin
pesawat sinar-x dalam kondisi hidup.
m. Apabila terjadi kesalahan penyinaran sebelum waktu penyinaran habis dapat
menekan tombol “0” maka pesawat akan berhenti mengeluarkan sinar-x.
n. Apabila pesan warning atau peringatan mucul pada display maka lihat buku
petunjuk manual.
o. Untuk menghentikan radiasi yang keluar sebelum waktu penyinaran selesai
akibat kondisi darurat maka ditekan tombol “0”
p. Memutar posisi switch ke posisi standby apabila penyinaran telah selesai.

3. Pada Saat Penembakan

a. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan diuji, beserta mesin Tube Head
SMART 300 HP, YXLON seperti gambar berikut:

Gambar 19. Sebelum diletakkan spesimen

b. Membaca tabel T-276 untuk menentukan penetrameter, tebal plat 15mm


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 30 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Table 6. IQI Selection

c. Untuk jenis kawat = 8, maka penetrameter yang digunakan adalah Set B, dengan
kawat yang harus muncul pada film radiografi minimal sebanyak empat kawat,
yaitu kawat dengan diameter 0,81 mm, 0,64 mm , 0,51 mm , dan 0,41 mm

Table 5. Pemilihan set Wire Penetrameter

d. Untuk menentukan waktu penyinaran dengan X-Ray ditentukan dengan grafik


berikut:
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 31 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Table 7. Exposure Diagram

Tebal plat 15 mm dan voltase yang digunakan 150 kV, maka Waktu Penyinaran
1,8 min, atau 1 menit 48 detik dan ampere yang digunakan 6 mA.

e. Kemudian, mempersiapkan spesimen yang akan ditembak seperti


gambar berikut:

Gambar 20. Peletakkan spesimen

f. Memeriksa blower pada tube head apakah sudah beroperasi.


g. Kemudian keluar dari bunker dan menutup pintu bunker rapat-rapat.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 32 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

h. Memutar searah jarum jam dari posisi standby atau “~” ke posisi “I”
i. Memastikan survey meter dalam keadaan hidup.
j. Memakai pocket dosimeter dan TLD.
k. Menekan key Time dan masukan waktu 1 menit 48 detik, kemudian menekan
key Enter.
l. Menekan key mA dan memasukan 6 mA, lalu menekan key Enter.
m. Menekan key kV dan memasukan 150kV, lalu menekan key Enter.
n. Menekan tombol “I” , tunggu proses sampai selesai.
o. Setelah proses penembakan selesai, memutar kunci ke arah stand by “~”.
Mengecek menggunakan survey meter, apakah masih ada paparan radiasi,
apabila ada, maka mundur dahulu.

p. Apabila sudah tidak ada paparan, maka spesimen dan alat-alatnya bisa
diambil untuk proses selanjutnya, yaitu digital radioghrapic scanner

4. Pada Saat Selesai Pengoperasian


a. Mematikan pesawat sinar-x akan tetapi jangan dimatikan dengan segera,
biarkan pesawat dalam kondisi hidup atau on pada kondisi standby agar
cooling fan bekerja untuk waktu sekitar 3 menit agar tabung sinar-x dingin
dengan sempurna.
b. Memutar posisi switch dari posisi standby “” ke posisi “0” atau mati.
c. Mencabut kembali kabel-kabel koneksi dan gulung kabel koneksi
jangan sampai terlipat.
d. Mengisi log book pemakaian pesawat sinar-x.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 33 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

II. Deskripsi Pembagian Daerah Kerja


Pembagian Daerah Radiasi
Untuk menjaga keselamatan seseorang, maka diadakan pembagian daerah kerja sesuai
dengan tingkat bahaya radiasinya. Pembagian daerah kerja ini didasarkan pada tingkat
radiasi dan kontaminasi dimana pengusaha instalasi harus membagi daerah kerja
menjadi:
A. Daerah Pengawasan
Adalah daerah kerja yang memungkinkan seorang pekerja menerima dosis radiasi
tidak lebih dari 3 mSv dalam waktu satu tahun dan bebas kontaminasi.
B. Daerah Pengendalian
Adalah daerah kerja yang memungkinkan seorang pekerja menerima dosis radiasi 3
mSv atau lebih dalam satu tahun dan ada kontaminasi
Daerah pengendalian dibagi menjadi:
a. Daerah radiasi
o Daerah Radiasi Sedang: yaitu daerah kerja yang memungkinkan seseorang
yang bekerja secara tetap pada daerah itu menerima dosis sebesar 3 mSv atau
lebih dan kurang dari 50 mSv dalam satu tahun untuk seluruh tubuh atau nilai
yang sesuai terhadap organ tertentu dari tubuh.
o Daerah Radiasi Tinggi: yakni daerah kerja yang memungkinkan seseorang yang
bekerja secara tetap pada daerah itu menerima dosis 50 mSv atau lebih dalam satu tahun
untuk seluruh tubuh atau nilai yang sesuai terhadap organ tertentu dari tubuh
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 34 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

b. Daerah Kontaminasi
o Daerah kontaminasi Rendah: yakni daerah kerja dengan tingkat kontaminasi
yang besarnya lebih kecil dari 0,37 Bq/cm2 ( 10-5 Ci/cm2) untuk pemancar
Alpha () dan lebih kecil dari 3,7 Bq/cm2 ( 10-4 Ci/cm2) untuk pemancar
Betha () .
o Daerah Kontaminasi Sedang: yakni daerah kerja dengan tingkat kontaminasi
radioaktif 0,37 Bq/cm2 ( 10-5 Ci/cm2) atau lebih dan kurang dari 3,7
Bq/cm2 ( 10-4 Ci/cm2) untuk pemancar Alpha () dan 3,7 Bq/cm2 ( 10-4
Ci/cm2) atau lebih dan kurang dari dari 37 Bq/cm2 ( 10-3 Ci/cm2) untuk
pemancar Betha (), sedangkan kontaminasi udara tidak melebihi
sepersepuluh batas turunan kadar zat radioaktif di udara
o Daerah Kontaminasi Tinggi: yakni daerah kerja dengan tingkat kontaminasi 3,7
Bq/cm2 ( 10-4 Ci/cm2) atau lebih untuk pemancar Alpha () dan 37 Bq/cm2
( 10-3 Ci/cm2) atau lebih untuk pemancar Betha (), sedang kontaminasi udara
kadang kadang lebih besar dari batas turunan kadar zat radioaktif di udara

Pembagian Daerah Radiasi


Sumber Radiasi
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 35 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Daerah Pengendalian Daerah Pengawasan


Batas daerah Pengendalian Batas Daerah Pengawasan

3 mSv/Tahun atau 1,5 Sv/jam 0,5 mSv/Tahun


atau 0,5 Sv/jam
Gambar 5. Pembagian daerah radiasi

III. Deskripsi Perlengkapan Proteksi Radiasi


III.3.1. Perlengkapan Proteksi Radiasi
A. Monitor Perorangan ( Film Badge, TLD dan Dosimeter Saku )
Monitor perorangan digunakan untuk mengetahui besar dosis radiasi yang diterima
pekerja dalam suatu periode tertentu. Dosimeter saku dipakai terutama pada saat
bekerja di medan radiasi tinggi sehingga penerimaan dosis dapat diketahui segera
setelah kegiatan berakhir. Film badge / TLD digunakan pada setiap kegiatan di medan
radiasi. Setiap bulan (maksimal 3 bulan) film badge harus dikirimkan ke PTKMR-
BATAN untuk dievaluasi.
B. Survey Meter
Surveimeter digunakan untuk mengukur laju penyinaran sumber.Survaimeter
berfungsi untuk memeriksa daerah aman bagi pekerja radiasi atau pekerja non radiasi
dan memeriksa kebocoran radiasi sumber. Survaimeter yang dipergunakan harus
sesuai dengan jenis sumber dan energi radiasi. Survaimeter yang dipergunakan harus
yang sudah dikalibrasi oleh PTKMR BATAN dan sertifikat kalibrasinya masih
berlaku. Kalibrasi ulang dilakukan setiap tahun sekali.
C. Penahan radiasi Pb
Penahan radiasi Pb digunakan untuk melindungi diri dari sumber radiasi eksterna
pemancar radiasi sinar X.
D. Tanda Bahaya Radiasi dan Tali Kuning
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 36 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Tanda bahaya radiasi dipasang di tempat - tempat yang dianggap perlu, misalnya di
sekitar alat. Pada saat alat dioperasikan tanda radiasi biasanya dipasang pada laju
paparan 0,5 Sv/jam. Tali kuning biasanya di pasang pada saat sumber radiasi
dioperasikan yaitu pada laju paparan 1,5 Sv/jam.

III.3.2. Pengawasan Kesehatan Bagi Pekerja Radiasi


Pemeriksaan kesehatan bagi calon pekerja radiasi dan pekerja radiasi harus dilakukan
secara lengkap dan cermat sesuai dengan tata cara pemeriksaan kesehatan umum.
A. Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pekerja Radiasi
Pemeriksaan ini meliputi penyelidikan terhadap riwayat kesehatannya termasuk
semua penyinaran terhadap radiasi pengion dari pekerjaan sebelumnya yang diketahui
diterimanya atau dari pemeriksaan dengan pengobatan medik, dan juga penyelidikan
secara klinik atau lainnya yang diperlukan untuk menentukan keadaan umum
kesehatannya. Harus dilakukan juga pemeriksaan khusus pada organ yang dianggap
peka terhadap radiasi dipandang dari jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh calon
pekerja misalnya pemeriksaan haematologi, dermatologi, opthalmologi, paru-paru,
neurologi dan atau kandungan.
B. Pemeriksaan Kesehatan Selama Masa Kerja
a) Setiap pekerja radiasi harus menjalani pemeriksaan kesehatan sedikitnya sekali
dalam setahun atau lebih bergantung kondisi penyinaran yang diterima oleh
pekerja atau apabila keadaan kesehatan pekerja memerlukan
b) Pemeriksaan ini harus meliputi pemeriksaan umum dan juga pemeriksaan khusus
pada organ tubuh yang dianggap peka terhadap radiasi serta mengadakan
pemeriksaan lanjutan atau perawatan kesehatan yang dianggap perlu oleh dokter.
Juga apabila ada pekerja yang dalam waktu singkat telah menerima dosis lebih
dari 20 Sv, harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara intensif dan terperinci.
C. Pemeriksaan Kesehatan Setelah Masa Kerja
Jika pekerjaan radiasi akan memutuskan hubungan kerja atau dipindahkan ke bagian lain harus
diperiksa kesehatannya terlebih dahulu secara teliti dan menyeluruh oleh dokter perusahaan atas
beban perusahaan. Dokter Instalasi dapat menentukan perlunya
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 37 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

pengawasan kesehatan setelah putusnya hubungan kerja untuk mengawasi kesehatan


orang yang bersangkutan selama dianggap perlu, atas biaya Pengusaha Instalasi.
D. Hasil Pemeriksaan Kesehatan Untuk Pekerja Radiasi Harus Dinyatakan Sebagai :
1. Sehat dan memenuhi syarat
2. Sehat dan memenuhi syarat dengan kondisi tertentu
3. Tidak sehat dan tidak memenuhi syarat untuk bekerja sebagai pekerja radiasi dan
atau untuk kondisi kerja khusus
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 38 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

E. Kartu Kesehatan
Setiap pekerja radiasi harus memiliki kartu kesehatan yang berisi semua hasil
pemeriksaan kesehatan dan selalau dimutakhirkan sepanjang masih bekerja sebagai
pekerja radiasi. Kartu kesehatan tersebut disimpan di bawah pengawasan dokter yang
ditunjuk oleh Pengusaha Instalasi dan disimpan untuk jangka waktu selama paling
sedikit 30 tahun sejak berhenti bekerja dengan radiasi.

III.3.3 Penyimpanan Dokumen


Semua dokumen yang berhubungan dengan kegiatan pemanfaatan sumber radiasi
pengion pesawat sinar-X disimpan bersama-sama dengan dokumen pemanfaatan
sumber radiasi lainnya. Penyimpanan dokumen dilakukan oleh TBPK2.

III.3.4. Diklat Keselamatan Radiasi Pekerja Radiasi


Pekerja radiasi diberikan kesempatan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan
terutama tentang keselamatan radiasi dengan cara diikutkan dalam berbagai kegiatan
diklat-diklat di bidang keselamatan radiasi.

III.3.5. Pengamanan Sumber


Keberadaan, penggunaan dan pengamanannya harus dipantau setiap saat. Data pemantauan ini harus
diketahui oleh PI dan TBPK2 setiap saat.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 39 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

BAB IV
PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI

4.1 Penetapan Pembatas Dosis


Pemanfaatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya harus diusahakan
mengikuti prinsip Proteksi Radiasi sesuai dengan pasal 29 PERATURAN KEPALA
BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 15 TAHUN 2014 tentang Penerapan
Optimisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi, dimana Optimasi merupakan Penggunaan
dosis yg optimal. Terkait dengan prinsip optimasi ini, dalam kegiatan terakhir nuklir sering
dikenal dengan istilah ALARA atau As Low As Resonably Achievable.
Dosis Pekerja Radiasi dan anggota masyarakat tidak boleh melampaui Nilai Batas
Dosis, yang digunakan pada optimisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi untuk setiap
Pemanfaatan Tenaga Nuklir.
Dalam rangkian optimisasi pemanfaatan radiasi, PUSDIKLAT MIGAS CEPU
menetapkan nilai Pembatas Dosis pada 10 mSv per tahun.

4.2 Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Operasi Normal


4.2.1

Prosedur Pengoperasian Peralatan SINAR-X SMART 300 HP

A. Persiapan
a. Periksa pesawat dan perlengkapannya semua dalam keadaan baik dan
lengkap.
b. Siapkan peralatan pengaman, lampu tanda bahaya, Tanda-tanda bahaya
radiasi, tiang dan tali pengaman.
c. Setiap personil/pekerja harus memakai film badge/ TLD, Pocket dosimeter
dan surveymeter yang sesuai.
d. Dalam pengangkutan/transportasi tabung pesawat sinar-X dan panel
control harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 40 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

B. Pemasangan Instalasi
a. Instal pesawat dan perlengkapannya dengan panel dalam kondisi terkunci.
b. Panel harus terletak pada daerah radiasi aman
c. Instal pesawat dengan benar/sempurna, sebelum disambungkan dengan
jala-jala PLN
d. Jangan mengarahkan berkas sinar-X ke arah pintu / jendela atau panel
pesawat
e. Sambungkan pesawat ke jala-jala PLN atau pembangkit listrik, dengan
panel dalam kondisi terkunci.
f. Pasang tiang dan tanda radiasi serta tali kuning pada batas daerah radiasi.
Pasang lampu tanda bahaya dan tanda bahaya radiasi.
g. Letakkan survey meter dengan kondisi “ON” di sebelah panel dan
nyalakan pesawat dengan menarik saklar utama pada panel kontrol yang
ditandai dengan Indicator “LINE” menyala. Pastikan pendingin pesawat
bekerja dengan baik, Indikator tegangan pada range yang sesuai. Biarkan
pesawat menyala ± 5 menit untuk pemanasan pesawat beberapa saat dan
nyalakan lampu tanda bahaya. Baca penunjukan pada surveymeter.
h. Lakukan aging untuk tegangan kerja yang diharapkan.

C. Aging/ Pemanasan Pesawat


Tutup pintu ruang penyinaran, Yakinkan dalam ruang penyinaran atau
daerah terlarang tidak ada orang/pekerja :
1) Set timer 1 menit, dan atur tegangan pada nilai minimum, buka kunci
pengaman ditandai indicator “READY” pada panel kontrol menyala, tekan
tombol “ON” pada panel kontrol pesawat,
2) Amati indicator pada panel kontrol.
a. Indicator “LINE” menyala
b. Indikator “ Ready” menyala
c. Indicator Aging menyala
d. Indikator X-ray menyala
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 41 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

e. Indikator kV padam f. Indikator mA menyala


3) Bila waktu penyinaran terpenuhi, alarm bunyi akan aktif. Matikan kunci
pesawat, dan biarkan pesawat ± 3 waktu penyinaran.
4) Amati indicator “AGING” , a. Bila indicator “AGING” masih menyala,
pesawat masih perlu pemanasan, Ulangi langkah 1 s/d langkah 3. b. Bila
indicator “AGING” padam, putar / naikkan perubah kV hingga indikator
AGING menyala, Ulangi langkah 1 s/d langkah 3
5) Lakukan survey radiasi selama penyinaran, letakkan tanda radiasi sesuai
dengan hasil pengukuran dan catat. Selama penyinaran daerah radiasi
harus diawasi
6) Lakukan aging hingga tegangan yang diperlukan tercapai
7) Matikan indikator Ready, dan ambil anak kunci, kemalikan timer pada
posisi nol dan kV minimum. Pesawat siap untuk digunakan. Jangan lupa
sebelum kegiatan dimulai, buka window pesawat

D. De- Instalasi /Setelah Kegiatan Selesai


a. Bila kegiatan telah selesai dan pesawat tidak digunakan
b. Atur timer ke posisi nol, dan panel kontrol dikunci, atur tegangan seperti
kondisi awal, biarkan pendingin tetap menyala dalam waktu yang cukup (±
10 menit) untuk mendinginkan target pesawat.
c. Bila .tabung telah dingin matikan pesawat dengan menarik saklar utama
pada posisi “OFF”,dan lepaskan panel dari sumber tegangan PLN.
d. Lepaskan kabel penghubung pada kontrol panel, serta rapikan. matikan
surveymeter
e. Dalam pengangkutan / tranportasi peralatan lakukan penjagaan terhadap
tabung pesawat dan panel control.
f. Tempatkan pesawat dan panel kontrol pada tempat yang telah disediakan.
g. Kembalikan tanda radiasi dan surveymeter ke tempat yang telah disediakan
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 42 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

4.2.2 Pembatasan Akses pada Daerah Kerja


Dalam rangka membatasi dosis radiasi pekerja, pengendalian dilakukan pada
daerah kerja yang secara signifikan mempunyai paparan radiasi tinggi. Daerah ini
disebut dengan daerah pengendalian. Bab ini harus menjelaskan persyaratan-
persyaratan proteksi radiasi termasuk pengukuran tingkat radiasi dalam daerah
pengendalian.

Gambar 21. Diagram alir penentuan daerah pengendalian

Daerah pengendalian harus dibatasi secara fisik. Dengan kata lain, dapat
dipetakan dengan tepat. Dalam keadaan tertentu, daerah pengendalian dijaga oleh
operator yang mengawasi secara terus menerus dan memberitahukan secara lisan
kepada setiap orang yang berada dekat dengan daerah tersebut untuk tetap menjaga
jarak tertentu.
Tanda-tanda peringatan.
Persyaratan untuk tanda peringatan, terletak di posisi yang tepat dan
memperlihatkan:
a. Peruntukan Daerah
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 43 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

b. Sifat dari sumber radiasi


c. Risiko yang ditimbulkan
Selain isi tanda-tanda dan label yang telah ditentukan dalam peraturan terkait,
perusahaan dapat menyediakan tanda, label, beberapa tambahan informasi yang
diperlukan untuk membuat setiap pekerja menyadari potensi bahaya paparan
radiasi dan mengetahui cara meminimalkannya. Daerah pengendalian harus
ditandai dengan batas yang jelas seperti tembok, tali kuning dan tanda radiasi.
Selain itu, personil radiografi juga dapat menggunakan peluit atau lampu sirine
untuk memberi peringatan kepada pekerja lain akan adanya pekerjaan radiografi.

Gambar 23. Tali Kuning

Gambar 22. Tanda Bahaya Radiasi

Memasang tanda radiasi pada daerah kerja.


1. Daerah radiasi. Perusahaan memasang tanda radiasi pada setiap daerah dengan
tanda yang mencolok atau simbol radiasi dan disertai tulisan “PERHATIAN,
DAERAH RADIASI”
2. Daerah radiasi tinggi. Perusahaan memasang tanda radiasi untuk daerah radiasi
tinggi dengan tanda-tanda yang mencolok atau simbol radiasi dan disertai
tulisan “AWAS BAHAYA, DAERAH RADIASI TINGGI”
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 44 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Contoh :

Gambar 24. Contoh demarkasi daerah pengendalian

Pembatasan akses ke daerah pengendalian


1. Personil yang mempunyai akses ke daerah pengendalian:
a. Pekerja radiasi yang berwenang.
b. Pekerja non-radiasi masuk sesuai dengan prosedur tertulis sehingga
a. Untuk pekerja yang berusia 18 atau lebih, jumlah dosis tahunan harus di
bawah nilai dosis pekerja radiasi (dosis efektif sebesar 6 mSv).
b. Untuk pekerja lain jumlah dosisnya tidak melebihi nilai batas dosis tahunan
yang relevan (dosis efektif bagi anggota masyarakat sebesar 1 mSv).
c. Pekerja luar (dikategorikan pekerja radiasi), perusahaan telah memastikan
bahwa:
a. Pekerja mendapatkan penilaian dosis secara resmi.
b. Tersedia dan terlatih dalam menggunakan peralatan pelindung diri yang
diperlukan.
c. Pekerja telah menerima pelatihan khusus yang diperlukan.
d. Pekerja telah tersertifikasi sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.

Pada bab ini, uraikan hal-hal sebagai berikut :


1. Bahwa daerah kerja selalu dibagi menjadi daerah pengendalian dan daerah
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 45 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

supervisi. Daerah supervisi terutama diperlukan pada radiografi tertutup.


2. Nilai laju dosis pada batas daerah pengendalian, dan bagaimana nilai tersebut
dapat menjamin bahwa pembatas dosis dan NBD tidak akan terlampaui, serta
paparan potensial tidak akan melebihi daerah pengendalian.
3. Prosedur untuk melakukan demarkasi batas daerah pengendalian.
4. Prosedur dan frekuensi pemantauan parameter keselamatan di daerah
supervisi.
5. Prosedur pembatasan akses masuk ke daerah pengendalian.
6. Deskripsi spesifikasi tempat penyimpanan zat radioaktif. Lampirkan gambar
desainnya lengkap dengan dimensi dan bahan penyusun. Tempat penyimpanan
sementara ini harus memenuhi persyaratan keselamatan radiasi dan keamanan
sumber radioaktif. Paparan radiasi di luar tempat penyimpanan harus di bawah
ambang bagi pekerja dan masyarakat umum. Untuk detil keamanan sumber
radioaktif, harap dijabarkan di Program Keamanan Sumber Radioaktif.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Pemegang Izin pada bab ini antara lain:
1. Batas daerah pengendalian harus ditentukan sedemikian rupa sehingga baik
pekerja maupun masyarakat yang berada di luar daerah pengendalian tidak
akan menerima dosis radiasi melebihi NBD untuk masyarakat umum.
2. Menyediakan prosedur dan perlengkapan proteksi radiasi yang sesuai, dan
memperhatikan pembagian waktu kerja dalam daerah pengendalian sehingga
dosis radiasi yang diterima pekerja tidak melebihi pembatas dosis dan NBD
pekerja radiasi.
3. Memastikan bahwa pekerja selalu melakukan tes expose sebelum mulai
bekerja untuk mencocokkan nilai laju dosis di batas daerah pengendalian
dengan nilai perhitungan.
4. Ruangan tertutup harus dirancang sedemikian sehingga tidak ada daerah
pengendalian di luar ruangan.
5. Pastikan bahwa sedapat mungkin personil radiografi berada di luar daerah
pengendalian selama pekerjaan radiografi. Uraikan penerapan pembatasan
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 46 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

waktu kerja, pengaturan jarak dan penggunaan perisai radiasi bila kondisi
lapangan tidak memungkinkan bagi personil untuk berada di luar daerah
pengendalian.
6. Personil yang memasuki daerah pengendalian harus mengenakan dosimeter
perorangan baca langsung.

4.2.3 Pemantauan Paparan Radiasi dan/atau Kontaminasi Radioaktif di Daerah


Kerja
Pemegang Izin wajib melaksanakan pemantauan paparan radiasi di daerah
kerja secara terus menerus. Pada bab ini, uraikan spesifikasi peralatan pemantauan
paparan radiasi yang digunakan untuk keperluan tersebut dengan mengacu pada
ketentuan Pasal 27 Peraturan Kepala BAPETEN nomor 7/2009.
Pada bab ini uraikan juga mengenai pemantauan paparan radiasi sebagai berikut :
1. Untuk radiografi fasilitas tertutup:
a. Di sekitar dinding dan pintu fasilitas tertutup pada berbagai kondisi
pengoperasian, untuk memastikan kecukupan penahan radiasi yang
digunakan.
b. Di pintu masuk fasilitas tertutup setelah setiap penyinaran radiografi,
untuk memastikan bahwa sumber gamma telah kembali ke kamera dengan
sempurna atau penyinaran sinar-X sudah berhenti.
c. Di sekitar tempat penyimpanan sumber gamma, untuk memastikan bahwa
penahan radiasi yang digunakan sudah mencukupi.
2. Untuk radiografi fasilitas terbuka:
a. Di sekitar batas daerah pengendalian pada saat uji penyinaran (atau
penyinaran pertama sesuai keadaan) untuk memastikan bahwa peletakan
batas daerah pengendalian sudah sesuai.
b. Di posisi operator ketika mendorong sumber gamma dengan kabel crank
atau ketika menyalakan pesawat sinar-X, untuk memastikan bahwa laju
dosis radiasi masih dalam rentang yang dapat diterima sesuai dengan
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 47 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

program proteksi.
c. Di sekitar batas daerah pengendalian selama penyinaran rutin, untuk
memastikan bahwa laju dosis masih berada di bawah nilai yang ditentukan
dalam program proteksi.
d. Di posisi operator ketika menarik sumber gamma dengan kabel crank atau
ketika menghentikan penyinaran pesawat sinar-X.
e. Di sekitar kamera radiografi setelah tiap penyinaran, untuk memastikan
bahwa sumber gamma telah kembali ke posisi aman dengan sempurna.
f. Di sekitar tempat penyimpanan sementara zat radioaktif di lokasi proyek,
untuk memastikan kecukupan penahan radiasi yang digunakan.
g. Di sekitar lokasi pekerjaan pada saat pekerjaan radiografi telah selesai,
untuk memastikan tidak ada sumber gamma yang tertinggal di lokasi.
h. Di sekitar kendaraan pengangkut yang digunakan untuk mengangkut
sumber gamma, sebelum pengangkutan dari dan ke lokasi kerja.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian Pemegang Izin pada bab ini yaitu
bahwa rentang pengukuran peralatan pemantau paparan radiasi harus sesuai untuk
radiografi industri. Rentang pengukuran laju dosis minimal berkisar antara 20 uSv
/ jam – 10 mSv / jam. Sedangkan rentang pengukuran energi radiasi harus mampu
mengukur energi radiasi dari radioisotop yang digunakan, sesuai dengan tabel
berikut :
Table 8. Energi Radiasi Radioisotop Dalam Radiografi Industri

No Isotop Energy gamma

1 Co-60 1,17-1,33 MeV

2 Cs-137 663 keV

3 Ir-192 206-612 keV

4 Se-75 66-401 keV

5 Yb-169 8 – 308 keV


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 48 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Selain itu, peralatan pemantau paparan radiasi juga sebaiknya diatur untuk
memberikan peringatan suara dan / atau visual apabila paparan radiasi yang
dideteksi melebihi level investigasi.

4.2.4 Pemantauan Radioaktivitas Lingkungan di Luar Fasilitas atau Instalasi


a. Alat Pemantau Angin ( anemometer )
Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan
perputaran angin dan kecepatan gas dalam fenomena terjadinya angin . Jenis
anemometer yang banyak digunakan pada masyarakat adalah anemometer
mangkok (Anemometer Cup)
Secara garis besar fungsi anemometer adalah mengukur kecepatan angin
dan tekanan anign dalam fenomena terjadinya angin. Berikut ini adalah fungsi lain
dari anemometer :
1. Mengukur kecepatan angin dan kecepatan gas .
2. Mengukur kecepatan angin dengan mendeteksi sinar laser yang terpantul dari
partikel udara yang bergerak dengan anometer Doppler Laser.
3. Mengukur kecepatan angin dengan mengirim gelombang suara antara
transduser yang terpasang dan bagaimana kecepatan terpengaruh dengan
anemometer ultrasonik.
4. Menentukan perkiraan cuaca
5. Menentukan tekanan angin pada kondisi tertentu.
Jenis anemometer ada dua yaitu anemometer pengukur kecepatan angin
(Velocity anemometer) dan anemometer pengukur tekanan angin (pressure
anemometer) :
1. Anemometer pengukur kecepatan angin , antara lain :
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 49 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

 Anemometer cup (mangkuk).


Anemometer ini diciptkana oleh Dr. John Thomas Rommey Robinson dari Armagh
Observator tahun 1846. Anemometer ini memiliki tiga cup setengah lingkaran yang
terpasang pada ujung horizontalnya. Angin yang melewati cup akan memberikan
tekanan gerak pada cup untuk memutar. Putaran poros cup inilah yang menghasilkan
kecepatan angin rata-rata selama periode waktu yang ditetapkan. Anemometer ini
digunakan untuk standar indutri dalam penilaian studi sumber daya angin.
 Anemometer kincir angin
Anemometer ini berbentuk panjang vertikal yang bergerakannya selalu sama
(konstan).Anemometerlaserdoppler .Anemometer ini menggunakan sinar cahaya
dari laser yang terbagi menjadi dua balok, dengan satu yang disebarkan dari
anemometer. Partikulat yang mengalir bersama dengan molekul udara yang dekat
dengan tempat keluar balok mencerminkan lampu kembali ke detektor, yang diukur
relatif terhadap sinar laser asli. Ketika partikel-partikel dalam gerakan besar akan
menghasilkan pergeseran Doppler untuk mengukur kecepatan angin di sinar laser
yang akan digunakan untuk kecepatan partikel udara disekitar anemometer.
 Anemometer sonic
Anemometer yang menggunakan gelombang ultrasonik untuk mengukur kecepatan
angin.
 Anemometer hot-wire
Anemometer yang menggunakan kawat halus untuk pengukuran . Adanya udara
yang melewati Hot-wire akan menyebabkan pendinginan pada kawat. Kawat yang
halus memiliki frekuensi yang lebih sensitiv dibandingkan pengukuran lainnya.
Anemometer ini digunakan untuk studi arus turbulen.
 Anemometer bola ping pong
Anemometer ini menggunakan ping pong yang dipasang pada ujung string. Anemometer ini
memilik postur ping pong yang ringan sehingga memungkinkan bergerak pada kecepatan angin
yang kecil
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 50 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

2. Anemometer pengukur tekanan angin , antara lain


 Anemomter piring (Plate)
Anemometer ini adalah anometer pertama untuk mengukur tekanan angin. Anometer
ini menggunakan piring yang diletakan dari atas sehingga mampu dilewati oleh angin.
Anemometer ini sangat baik untuk daerah yang tinggi karena berbentuk plate memiliki
hasil pengukuran yang baik jika digunakan untuk tempat yang lebih tinggi.
 Anemometer tabung (Tube)
Anemometer ini teridiri dari tabung kaca berbentuk U yang berisi cairan manometer
(Pengukur tekanan). Anemometer ini memiliki postur yang salah satu ujungnya
membungkuk menghadapi anging dan ujung vertikal yang lain sejajar dengan aliran
angin. Anemometer ini paling praktis dab terkenal. Jika angin bertiup ke mulut
tabung menyebabkan cairan manometer meningkat dari peningkatan cairan

manometer ini menghasilkan indikasi tekanan angin

Prinsip kerja

Berikut ini adalah prinsip kerja anemometer secara umum , antara lain :
1. Angin memiliki tekanan yang kuat pada baling-baling yang berbentuk cekung.
2. Bagian yang terkena tekanan (bagian cekung) akan berputar satu arah dengan
perputaran angin.
3. Bagian poros dari baling-baling dihubungkan dengan dinamo kecil.
4. Baling-baling yang berputar akan menghasilkan kecepatan angin yang berbanding
lurus dengan kecepatan angin.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 51 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

5. Arus yang dihasilkan baling-baling dihubungkan dengan galvanometer dalam


satuan kecepatan knot , meter per detik (m/s) , kilometer per jam (km/jam ).

b. Detektor kebocoran
Untuk mendeteksi adanya kebocoran, sebuah reaktor nuklir harus dilengkapi
dengan detektor partikel radioaktif. Detektor-detektor radioaktif itu mencacah
banyaknya peluruhan yang terjadi. Makin tinggi nilainya berarti semakin tinggi
aktivitas bahan radioaktifnya. Ada batasan nilai tertentu yang masih diperbolehkan
agar tidak membahayakan manusia. Salah satu contoh detektor radioaktif pencacah
Geiger Muller, alat ini dapat mendeteksi keberadaan partikel alfa.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 52 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

4.2.5 Pemantauan Dosis yang diterima Pekerja Radiasi


Dosis perorangan Sebelum (mR) Sesudah (mR)
Nadia 0 0
Arifah 0 1
Mahda 5 8
Rahmi 10 10
Muni 0 0
Mamlu 5 5
Cindy 5 5
Farhan 0 0
Mutia 0 0
Ambar 0 0

4.2.6 Pemantauan Kesehatan bagi Pekerja Radiasi


Terdapat dalam Peraturan Kepala BAPETEN nomor 6 tahun 2010 tentang
pemantauan kesehatan bagi pekerja radiasi.
Pemegang Izin wajib menyelenggarakan Pemantauan Kesehatan. Pemantauan
Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan untuk tujuan:

a. menilai kesehatan Pekerja Radiasi baik dari aspek fisik maupunpsikologis;


b. memastikan kesesuaian antara kesehatan pekerja dan kondisi pekerjaannya;
c. memberikan pertimbangan dalam menangani kejadian kontaminasi atau
Paparan radiasi Berlebih pada Pekerja Radiasi;
d. menyediakan Rekaman yang dapat memberikan informasi untuk:
1. Penanganan kasus paparan kecelakaan atau penyakit akibatkerja;

2. Evaluasi statistik mengenai penyakit yang mungkin berhubungan dengan


kondisi kerja;
3. Data medicolegal;dan
4. Kajian terhadap manajemen Proteksi Radiasi.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 53 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Pemantauan Kesehatan yang dimaksud pada kalimat menyelenggarakan


pemantauan kesehatan adalah sebagai berikut :
a. PemeriksaanKesehatan (Pemeriksaan Kesehatan umum; dan Pemeriksaan
Kesehatan khusus.

b. Konseling; dan/atau penatalaksanaan kesehatan pekerja yang mendapatkan


Paparan Radiasi Berlebih.
c. Pemeriksaan Kesehatan umum;dan
d. Pemeriksaan Kesehatan khusus.
Hasil Pemeriksaan Kesehatan yang dimaksud tersebut adalah berlaku
paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal Pemeriksaan Kesehatan dilakukan.
Pemeriksaan Kesehatan umum dilaksanakan pada saat sebelum bekerja, selama
bekerja, dan pada saat akan memutuskan hubungan kerja. Pemeriksaan Kesehatan
umum pada saat sebelum bekerja harus dilaksanakan untuk tujuan:
a. memastikan bahwa kondisi atau status kesehatan pekerja mampu untuk
melaksanakan tugas sebagai Pekerja Radiasi yang dibebankan kepadanya;
b. memberikan informasi tentang data dasar status kesehatan Pekerja Radiasi
sebelum menjalankan tugasnya terkait dengan sumber radiasi; dan
c. mengklasifikasi status kesehatan Pekerja Radiasi dalam kategori sehat untuk
bekerja, sehat untuk bekerja dalam kondisi tertentu dan tidak sehat untuk
bekerja.
Pemeriksaan Kesehatan umum selama bekerja harus dilaksanakan untuk
tujuan memantau kondisi kesehatan Pekerja Radiasi apakah pekerja tersebut
berada dalam kondisi kesehatan yang sehat untuk tetap melaksanakan tugasnya.
Pemeriksaan Kesehatan umum pada saat akan memutuskan hubungan kerja harus
dilaksanakan untuk tujuan menentukan kondisi kesehatan Pekerja Radiasi pada
saat berhenti bekerja. Pemeriksaan Kesehatan umum
a. Anamnesis
b. Riwayat penyakit dan keluarga;
c. Pemeriksaan fisik; dan
d. Pemeriksaan laboratorium
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 54 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Pemeriksaan Kesehatan khusus sebagaimana dimaksud dalam


dilaksanakan pada saat Pekerja Radiasi mengalami atau diduga mengalami gejala
sakit akibatradiasi dan penatalaksanaan kesehatan pekerja yang mendapatkan
Paparan Radiasi Berlebih.
Pemeriksaan Kesehatan khusus tersebut meliputi pemeriksaan darah
lengkap; pemeriksaan sperma; dan/atau pemeriksaan aberasi kromosom.
Konseling dilaksanakan melalui: pemeriksaan psikologi; dan/atau konsultasi.
Konseling tersebut dapat diberikan kepada pekerja wanita yang sedang hamil atau
diduga hamil; pekerja wanita yang sedang menyusui; pekerja yang menerima
Paparan Radiasi Berlebih dan pekerja yang berkehendak mengetahui tentang
Paparan Radiasi yang diterimanya. Penatalaksanaan kesehatan pekerja yang
mendapatkan Paparan Radiasi Berlebih dilaksanakan melalui kajian terhadap
Dosis yang diterima, konseling dan Pemeriksaan Kesehatan dan tindak lanjut.

Kajian terhadap Dosis yang diterima dilaksanakan melalui pembacaan


dosimeter personil dan/atau evaluasi pemantauan daerah kerja atau rekonstruksi
Dosis. Dalam hal pekerja mendapatkan Paparan Radiasi Berlebih melalui Paparan
Radiasi internal, kajian terhadap Dosis yang diterima juga harus dilakukan melalui
Metode invivo dan invitro. Kajian terhadap Dosis yang diterima dilakukan oleh
penyelenggara Keselamatan Radiasi. Jika hasil kajian terhadap Dosis yang
diterima Pekerja Radiasi menunjukan nilai Dosis melampaui 0,2 Sv (nol koma dua
sievert), Pekerja Radiasi harus mendapatkan pemeriksaan dosimetri biologi untuk
konfirmasi. Dosis biologi yang meliputi:

a. Aberasi kromosom pada sel darah;


b. Pemeriksaan limfosit absolut; dan
c. Pemeriksaan sel darah lengkap.
Pemeriksaan dosimetri biologi harus dilakukan oleh laboratorium yang terakreditasi. Jika hasil
kajian terhadap Dosis yang diterima Pekerja Radiasi menunjukan nilai Dosis diatas nilai Dosis ambang
untuk Efek Deterministik,
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 55 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

Pekerja Radiasi harus mendapatkan pemeriksaan dosimetri biologi dan Pemeriksaan


Kesehatan khusus. Dalam hal ditemukan adanya keraguan terhadap Dosis yang
diterima Pekerja Radiasi, Pemegang Izin dapat berkonsultasi dengan tenaga Ahli
Proteksi dan Keselamatan Radiasi. Tenaga Ahli Proteksi dan Keselamatan Radiasi
harus diakui oleh asosiasi dalam bidang Proteksi dan Keselamatan Radiasi.
Pemeriksaan Kesehatan dan tindak lanjut dilaksanakan melalui pemeriksaan
kesehatan sebagaimana tindakan medis yang disesuaikan dengan Efek Deterministik
yang ditimbulkan oleh Paparan Radiasi Berlebih.
Pekerja Radiasi yang mendapatkan Paparan Radiasi Berlebih dapat bekerja
kembali setelah mendapatkan Pemeriksaan Kesehatan umum dan Pemeriksaan
Kesehatan khusus, dan dinyatakan sehat dalam sertifikat medis. Sertifikat medis
harus meliputi resume hasil Pemeriksaan Kesehatan. Pemegang Izin, dalam
menyelenggarakan Pemantauan Kesehatan harus menunjuk pelaksana Pemantauan
Kesehatan. Pelaksana Pemantauan Kesehatan meliputi dokter; dan psikolog. Dokter
bertugas untuk melaksanakan Pemeriksaan Kesehatan, Psikolog bertugas untuk
melaksanakan Konseling. Dokter dan psikolog harus memiliki kompetensi, ditunjuk
oleh Pemegang Izin dan disetujui instansi yang berwenang di bidang
ketenagakerjaan, dan telah memiliki sertifikat pelatihan Proteksi dan Keselamatan
Radiasi. Pelatihan Proteksi dan Keselamatan paling kurang mencakup materi
peraturan perundang-undangan di bidang ketenaganukliran, sumber radiasi dalam
pemanfaatan tenaga nuklir, efek biologi radiasi, satuan dan besaran radiasi, prinsip
Proteksi dan Keselamatan radiasi, alat ukur radiasi dan penanganan medic dalam
keadaan darurat nuklir atau radiologik. Penunjukan dokter dan psikolog oleh
Pemegang Izin dapat dilakukan terhadap dokter dan psikolog yang bekerja di dalam
atau di luar lingkup manajemen Pemegang Izin .
Dokter sebagaimana dimaksud diatas harus melakukan penanganan awal terhadap Pekerja
Radiasi yang mendapatkan Paparan Radiasi Berlebih. Dalam hal dokter tidak dapat melakukan
penanganan dan tindak lanjut terhadap Pekerja Radiasi yang mendapatkan Paparan Radiasi Berlebih,
pekerja Radiasi tersebut harus dirujuk ke rumah sakit sesuai peraturan perundang-undangan.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 56 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

4.3 Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat


4.3.1 Rencana penanggulangan harus disusun untuk setiap kondisi paparan
potensial yang telah diidentifikasi pada Laporan Verifikasi Keselamatan
Radiasi.
Pada bab ini, uraikan hal-hal sebagai berikut :
1. Potensi keadaan darurat yang dapat terjadi secara spesifik dan relevan dengan
teknologi peralatan yang digunakan, mengacu ke Laporan Verifikasi Keselamatan
Radiasi. Contoh insiden / keadaan yang harus dipertimbangkan antara lain :
a. Zat radioaktif macet di dalam guide tube , kolimator atau dekat bukaan kamera;
b. Kecelakaan radiasi karena penggunaan di bidang pendidikan;
c. Kecelakaan radiasi karena penggunaan di bidang gouging;
d. Kecelakaan radiasi karena penggunaan di bidang radiografi;
e. Kamera radiografi mengalami kerusakan fisik;
f. Zat radioaktif terlepas dari kabel penuntun dan tertinggal di dalam guide tube;
g. Zat radioaktif terdorong keluar dari ujung guide tube;
h. Pesawat crawler tersangkut di dalam pipa dengan posisi zat radioaktif dalam
keadaan expose;
i. Kecelakaan radiasi karena pengangkutan;
j. Terjadi kebakaran atau ledakan;
k. Ada orang yang tidak berkepentingan di dalam daerah pengendalian pada saat
penyinaran berlangsung;
l. Radiasi pada pesawat sinar-X tidak berhenti setelah penyinaran selesai;
m. Pesawat sinar-X menyala secara tidak disengaja;
n. Operator gagal menghentikan penyinaran pesawat yang dikendalikan secara
manual;
o. Terjadi kegagalan fungsi sistem keselamatan;
p. Terjadi kegagalan atau kerusakan lainnya yang mengakibatkan terjadi
penyinaran sinar-X secara tidak terkendali;
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 57 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

2. Rencana penanggulangan untuk setiap kemungkinan keadaan darurat. Rencana


penanggulangan ini harus bersifat fleksibel, mengingat kondisi lapangan
bervariasi terutama pada radiografi fasilitas terbuka. Rencana ini harus memuat
sekurang-kurangnya :
a. Kapan rencana penanggulangan dijalankan → parameter keselamatan apa
yang dipantau dan kriteria untuk mengaktifkan rencana penanggulangan
b. Peralatan penanggulangan yang digunakan
c. Personil yang melaksanakan → sesuaikan dengan kompetensi dan pelatihan
yang telah diterima
d. Identifikasi kontak tanggap darurat yang harus dihubungi (mulai dari manajer
proyek, manajer keselamatan kerja, PI, BAPETEN, dll)
3. Mekanisme dan jangka waktu pelaporan kepada pihak yang terkait (PI, klien
radiografi, BAPETEN) jika terjadi keadaan darurat. Laporan pencarian keterangan
mengenai paparan darurat harus disampaikan secara tertulis kepada Kepala
BAPETEN paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah terjadinya keadaan darurat.
4. Format laporan tertulis ke BAPETEN.
5. Pelatihan (Training) yang dilakukan dalam hal penanggulangan keadaan darurat
berikut periode pelaksanaannya (secara berkala).

4.3.2 Prosedur Penaggulangan Keadaan Darurat


Untuk meminimalisir paparan radiasi dan agar penanggulangan dapat berjalan
dengan efektif, perhatikan hal-hal berikut :
1. Personil yang bertugas harus melarang akses ke sumber radiasi sebelum prosedur
penanggulangan dilaksanakan.
2. Pastikan untuk segera memberitahu PPR pada saat mendeteksi adanya keadaan
darurat.
3. Personil penanggulangan harus tetap tenang dan menjauh dari sumber radiasi sampai
pada jarak aman, merencanakan tindakan penanggulangan, melakukan gladi tanpa
sumber radiasi, dan kemudian melaksanakan tindakan penanggulangan.
4. Jangan memasuki area radiasi, atau area dengan potensi paparan radiasi, tanpa
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 58 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

membawa surveymeter dan mengenakan TLD badge serta dosimeter perorangan


baca langsung.
5. Jangan menyentuh atau mendekatkan tangan ke zat radioaktif dalam kondisi
apapun.
6. Jangan melakukan tindakan yang melebihi kewenangan atau keahlian.
7. Jika diperlukan, dapat meminta bantuan dari ahli (mis. BAPETEN) atau suplier
zat radioaktif.

4.3.3 Tugas dari masing-masing petugas saat terjadi keadaan darurat :


1. Pekerja Radiasi
a. Identifikasi situasi tidak normal yang terjadi;
b. Menghentikan kegiatan pengoperasian peralatan;
c. Isolasi daerah kecelakaan;
d. Beritahu Ketua Tim OKPR tentang apa yang terjadi.
2. Tim OKPR
a. Bila ada korban maka Ketua Tim OKPR memberitahu Tim Medis, sedangkan
bila ada kecelakaan radiasi maka Ketua Tim OKPR memberitahu Tim OKPR;
b. Ketua tim OKPR memberitahukan kejadian kecelakaan tersebut kepada
Tim Pengamanan;
c. Bila ada kebakaran maka Ketua Tim OKPR memberitahu Tim Pemadam
Kebakaran;
d. Ketua Tim OKPR melaporkan keadaan darurat/kejadian kecelakaan
kepada Ketua Pusdiklat Migas Cepu.
3. Ketua Pusdiklat Migas Cepu
a. Ketua Pusdiklat Migas Cepu memerintahkan Ketua Tim OKPR, untuk
mengambil langkah penanggulangan keadaan darurat
b. Setelah penanggulangan keadaan darurat selesai maka Ketua Pusdiklat Migas
Cepu membuat berita acara sebagai laporan kecelakaan kepada Komandan
Satgas Migas Cepu serta Badan Yang Berwenang dengan alamat :
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 59 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

DIREKTORAT KETEKNIKAN DAN KESIAPSIAGAAN NUKLIR


PUSDIKLAT MIGAS CEPU
Jl. Singasari No. 8, Cepu, 10120
TELP : 021-63856518
FAX : 021-6302187
E-MAIL : @ pusdiklatmigascepu.go.id

4. Tim Organisasi Keselamatan dan Proteksi Radiasi (OKPR)


a. Lakukan survey radiasi
b. Amankan sumber radiasi
c. Lakukan rekonstruksi kecelakaan dan memperkirakan dosis yang diterima
d. Kirim dosimeter personal untuk pengkajian paparan
5. Tim Medis
Melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan dan membawa korban ke
poliklinik dan atau ke Rumah Sakit
6. Tim Pengamanan
Melakukan pengamanan di tempat kejadian perkara
7. Tim Pemadam Kebakaran
Memadamkan api akibat kecelakaan dengan menggunakan APAR

4.3.4 Contoh rencana penanggulangan keadaan darurat untuk sumber gamma


1. Radiografer harus :
a. Mengetahui bahwa telah terjadi situasi tidak normal yang dapat menimbulkan
keadaan darurat.
b. Tetap tenang dan menjauh dari sumber radiasi. Pastikan bahwa radiografer
lain di area sekitar juga menyadari bahwa telah terjadi situasi tidak normal.
c. Mengukur laju dosis radiasi dan merekam dosis radiasi yang ditunjukkan oleh
dosimeter perorangan baca langsung.
d. Mengatur ulang batas daerah pengendalian berdasarkan nilai referensi yang
ditetapkan dalam program proteksi.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 60 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

e. Menghalangi akses masuk ke daerah pengendalian yang baru.


f. Jangan membiarkan daerah pengendalian ditinggalkan tanpa ada yang
mengawasi.
g. Beritahukan keadaan tersebut kepada PPR dan klien radiografi.

2. PPR harus :
a. Menyusun langkah-langkah tindakan yang spesifik berdasarkan rencana
penanggulangan yang telah disusun sebelumnya, dan dengan
memperhitungkan kondisi lapangan.
b. Menjauh dari daerah pengendalian dan melaksanakan gladi terlebih dahulu
sebelum melaksanakan tindakan yang sesungguhnya.
c. Melaksanakan tindakan penanggulangan bersama dengan personil lainnya.
Dalam situasi apapun, jangan menyentuh zat radioaktif langsung dengan
tangan atau anggota tubuh lainnya.
d. Bila tindakan penanggulangan tidak berhasil, menjauh dari daerah
pengendalian dan menyusun langkah tindakan lainnya sambil tetap memantau
daerah pengendalian.
e. Hubungi ahli radiasi, pabrikan atau suplier sumber radiasi untuk meminta
bantuan teknis.
f. Seusai penanggulangan dan pengamanan sumber radiasi, lakukan pembacaan
dosis personil dari dosimeter perorangan baca langsung dan siapkan laporan.
g. Segera kembalikan TLD badge ke lab dosimetri untuk pembacaan dosis radiasi
personil yang lebih akurat.
h. Kirim peralatan yang rusak / tidak berfungsi ke pabrikan awal atau suplier
untuk diperiksa dan diperbaiki sebelum dapat dipergunakan kembali.
i. Susun laporan kecelakaan yang rinci dan sampaikan ke BAPETEN.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 61 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

4.3.5 Organisasi dan Personil Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD)

1. Ketua PKD adalah seseorang yang bertanggungjawab dalam penanggulangan


secara keseluruhan. Ketua PKD di Pusdiklat Migas Cepu adalah Ketua Pusdiklat
Migas Cepu.
2. Pengendali Operasi adalah seseorang yang menerima pelaporan adanya
kecelakaan, dan segera melakukan tindakan penanggulangan . Pengendali operasi
di Pusdiklat Migas Cepu adalah ketua tim OKPR (kepala Bagian Tata Usaha).
3. Pelaksana Operasi adalah seseorang atau tim yang pertama kali datang di lokasi
kecelakaan dengan tugas penanggulangan kedaruratan. Pelaksana operasi di
Pusdiklat Migas Cepu terdiri atas pekerja radiasi dan satuan tugas pelaksana lain
dengan keahlian penanggulangan kedaruratan, misalnya Tim OKPR, Tim Medis,
Tim Pemadam Kebakaran dan Tim Pengamanan.
a. Tim Organisasi Keselamatan dan Proteksi Radiasi ( OKPR ) adalah suatu
organisasi yang dibentuk sesuai dengan ketentuan Bapeten bagi instansi yang
memiliki fasilitas pemanfaatan sumber radiasi yang terdiri dari Pemegang Izin (PI), Petugas
Proteksi Radiasi (PPR) dan Pekerja Radiasi (PR) yang mempunyai tugas memperhatikan
keselamatan radiasi, serta melaksanakan
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 62 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

tugas pelaksanaan dan penyebarluasan program kesehatan kerja di lingkungan


unit kerja
b. Tim Pengamanan adalah tim yang bertugas untuk mengamankan orang dan
kendaraan serta mengatur lalu lintas kendaraan di Pusdiklat Migas Cepu
c. Tim Pemadam Kebakaran adalah tim yang bertugas untuk memadamkan api
akibat kecelakaan dengan menggunakan APAR
d. Tim Medis/Kesehatan adalah tim yang bertugas menangani orang yang
mengalami keadan darurat/kecelakaan. Dalam melaksanakan tugasnya tim
melakukan koordinasi dengan poliklinik PTAPB dan juka perlu melakukan
pengiriman korban dan atau minta bantuan ke Rumah Sakit.
4. Penganalisis Radiologi adalah pimpinan tim radiologi yang berada di lokasi
kecelakaan yang berkewajiban meneliti bahaya radiologi, menyediakan peralatan
dan informasi data proteksi radiasi bagi pelaksana operasi, memberikan
rekomendasi tindakan perlindungan kepada pengendali operasi. Penganalisis
radiologi di Pusdiklat Migas Cepu adalah ketua tim OKPR.

4.3.6 Peralatan dan Pemeliharaan Peralatan Penanggulangan Keadaan Darurat


Pemegang izin harus mengidentifikasi dan menyediakan fasilitas, peralatan
dan sarana pendukung yang diperlukan untuk penanggulangan kedaruratan dan
menjamin bahwa peralatan tersebut selalu siap dipergunakan sewaktu-waktu.
Fasilitas, peralatan dan sarana pendukung meliputi :
a. Peralatan monitoring dan survei;
b. Peralatan proteksi pekerja kedaruratan dan pekerja;
c. Peralatan komunikasi;

4.3.7 Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat


Pemegang izin menyusun dan melaksanakan program latihan keadaan darurat secara
komprehensif dan teratur minimal dua tahun sekali dan latihan kedaruratan ini dilakukan untuk
kawasan Pusdiklat Migas Cepu. Pelaksanaan dan hasil program pelatihan disampaikan kepada
Bapeten.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 63 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

4.3.8 Sistem Komunikasi Penanggulangan Keadaan Darurat


Jalur komunikasi antar unsur organisasi ditetapkan supaya penanggulangan
bisa berjalan dengan efektif, yang meliputi :
a. Sistem hubungan antar organisasi yang terkait dalam fungsi penanggulangan;
b. Perjanjian atau dokumen tertulis dengan organisasi atau pihak-pihak terkait lain
untuk melaksanakan tindakan penanggulangan.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 64 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

BAB V
LAPORAN VERTIFIKASI KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

5.1 Isi Laporan Verifikasi


Direktur Utama membuat laporan verifikasi keamanan Sumber Radioaktif ke
BAPETEN yang meliputi :
1. Identifikasi sumber radioaktif dan karakteristiknya.
2. Penentuan tingkat ancaman yang ada di dalam dan di sekitar instalasi berdasarkan
ancaman dasar desain yang ditetapkan oleh BAPETEN.
3. Analisis terhadap akibat penguasaan secara tidak sah.
4. Analisis terhadap kelemahan sumber radioaktif.
5. Kajian terhadap dampak dan kelemahan berbasis risiko;dan
6. Tindakan pengamanan yang diperlukan untuk mengurangi risiko.

5.2 Identifikasi Sumber Radioaktif dan Karakteristiknya


Penjelasan mengenai identifikasi sumber radioaktif dan karaakterisktiknya telah
disebut dalam BAB II dokumen ini.

5.3 Penentuan Tingkat Ancaman yang Ada di Dalam dan di Sekitar Instalasi
Berdasarkan Ancaman Dasar Desain yang Ditetapkan oleh BAPETEN
Ancaman yang mungkin muncul dapat berupa kegiatan terorisme dan kriminal. Pelaku dari
kegiatan- kegiatan tersebut dapat berasal dari personil yang ada di dalam instalasi maupun orang- orang
yang berasal dari luar instalasi. Ancaman dari dalam instalasi dapat bersifat pasif yaitu dengan
menyediakan informasi mengenai keadaan instalasi kepada pihak luar, dan bersifat aktif yaitu dengan
berpartisipasi aktif dalam upaya menembus keamanan seperti mematikan alarm atau berpartisipasi dalam
melakukan penyerangan.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 65 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

5.4 Analisis Terhadap Akibat Penguasaan Secara Tidak Sah


Penguasaan sumber radioaktif secara tidak sah dapat mengakibatkan kehilangan
kontrol terhadap sumberradioaktif tersebut. Sumber radioaktif dapat digunakan untuk
keperluan yang dapat merugikan baik dari sudut pandang politik, ekonomi, sosial,
maupun lingkungan, seperti pembuatan dan peledakan bom kotor.

5.5 Analisis Terhadap Kelemahan Sumber Radioaktif


Pada saat pengambilan dan pengembalian Sumber radioaktif pada bunker/boompit
harus dibuat log book/ pencatatan untuk mengetahui lokasi penggunaan sumber
radioaktif. Jika sistem log book/ pencatatan tidak dilakukan, maka tngkat bahaya/
ancaman relative lebih tinggi/ besar.

5.6 Kajian Terhadap Dampak dan Kelemahan Berbasis Risiko


Kelemahan yang telah dijelasskan pada VIII.4 menimbulkan dampak bahwa
lokasi kerja kegiatan radiografi cukup mudah di akses. Kemudahan akses ini
menimbulkan tingkat risiko ancaman keamanan sumber radioaktif tinggi.

5.7 Tindakan Pengamanan yang Diperlukan untuk Mengurang Risiko


Untuk mengurangi risiko ancaman yang telah dijelaskan, tindakan pengamanan
perlu dilakukan dengan cara penyediaan prosedur dan peralatan keamanan. Prosedur
keamanan dijelaskan pada Bab IV dan jenis peralatan keamanan yang disediakan
dijelaskan pada Bab III.

PELAPORAN
Direktur Utama sebagai pemegang izin membuat laporan mengenai situasi normal dan
darurat.
Situasi normal mencakup kejadian:
1. Perubahan inventarisasi sumber radioaktif,
2. Masuknya orang yang tidak berwenang ke fasilitas, atau
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 66 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

3. Kegagalan fungsi sistem keamanan dan tindakan perbaikan.

Situasi darurat mencakup kejadian:


1. Hilangnya sumber radioaktif,
2. Pencurian atau sabotase terhadap sumber radioaktif yang sedang terjadi atau adanya
indikasi kuat akan terjadi pencurian atau sabotase; atau
3. Adanya indikasi peningkatan ancaman yang mempunyai dampak signifikan terhadap
keamanan sumber radioaktif.

Laporan mengenai situasi normal dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada Kepala
BAPETEN paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal kejadian. Laporan mengenai
situasi darurat disampaikan kepada Kepala BAPETEN melalui telepon paling lambat 1 (satu) jam
terhitung sejak diketahuinya situasi darurat. Direktur Utama akan menindaklanjuti laporan
dengan membuat laporan secara tertulis dan mendokumentasikan hasil penyelidikan tentang
terjadinya situasi darurat. Laporan secara tertulis disampaikan oleh Direktur Utama kepada
Kepala BAPETEN paling lambat 3 (tiga) hari terhitung sejak terjadinya situasi darurat. Laporan
secara tertulis tersebut paling sedikit berisi tentang penyebab situasi darurat, kronologi, dampak
yang ditimbulkan, tindakan perbaikan dan pencegahan.

REKAMAN
PENGENDALIAN DOKUMEN DAN PENGENDALIAN
REKAMAN. Pengendalian Dokumen
Pihak perusahaan melakukan pengendalian terhadap dokumen yang digunakan dalam
pelaksanaan kegiatan radiografi serta diperlukan oleh sistem manajemen kualitas.
Prosedur pengendalian dokumen yang diterapkan di perusahaan pelaksanaan kegiatan
radiografi perlu memperhatikan hal- hal berikut :
a. Persetujuan ketidaksesuaian dokumen sebelum diterbitkan;
b. Penijauan, pembaharuan seperlunya dan persetujuan ulang dokumen;
c. Identifikasi perubahan dan status revisi terkini dari dokumen;
d. Menjamin bahwa versi yang relevan dari dokumen yang diterapkan itu tersedia di
tempat pemakaian;
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR Nomor Dokumen :
PD/STTN/07/R-1/2018
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Revisi :

PROGRAM PROTEKSI DAN Hal 67 dari 67 hal


KESELAMATAN RADIASI

e. Menjamin bahwa dokumen selalu dapat dibaca, dan mudah untuk dikenali;
f. Menjamin bahwa dokumen yang berasal dari eksternal adalah teridentifikasi dan
penindistribusikannya terkendali; dan
g. Mencegah penggunaan tak disengaja dari dokumen lama atau tidak berlaku lagi,
dan menerapkan cara identifikasi yang tepat untuk dokumen itu bila masih
dipertahankan untuk suatu maksud tertentu.

Pengendalian Rekaman
Pihak perusahaan menetapkan dan memelihara pengendalian rekaman yang
dihasilkan dari pelaksanaan kegiatan radiografi yang ada. Prosedur pengendalian rekaman
yyang dimiliki perusahaan untuk pelaksanaan kegiatan radiografi perlu memperhatikan dan
menetapkan identifikasi, penyinpanan, perlindungan, pengambilan, masa simpan dan
perlakuan terhadap rekaman.
Rekaman kualitas dibutuhkan untuk memberikan bukti kesesuaian terhadap persyaratan dan
efektivitas operasional dari sistem manajemen kualitas.