Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KUNJUNGAN BELAJAR

ASUHAN KEPERAWATAN UNIT KERJA


DI PT INDUSTRI JAMU DAN FARMASI SIDO MUNCUL
SEMARANG

LAPORAN KUNJUNGAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Kunjungan Belajar pada Mata


Kuliah Komunitas III Semester Enam

Disusun Oleh :

1. Shiffa Arrizqi G2A016051 7. Tiara Widya H. G2A016057


2. Dhia Ramadhani G2A016052 8. Nihayatuzzulfah G2A016058
3. Shinta Mayang S G2A016053 9. Siti Muharromah G2A016059
4. Lia Anis Syafaah G2A016054 10. Dinda S. G2A016060
5. Muflikhatul U. G2A016055 11. Deni Purnasari G2A016061
6. Qurrata A’yun G2A016056

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-
Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan yang berjudul “Laporan
Kunjungan Belajar Asuhan Keperawatan Unit Kerja di PT Industri Jamu Dan
Farmasi Sido Muncul Semarang”.

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas Mata Kuliah Keperawatan Komunitas III di Universitas
Muhammadiyah Semarang.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
tak terhingga kepada :

1. Bapak/Ibu selaku dosen pengampu pada mata kuliah Keperawatan Komunitas


III.
2. Rekan-rekan semua yang mengikuti perkuliahan Keperawatan Komunitas III.
3. Keluarga yang selalu mendukung penyusun.
4. Semua pihak yang ikut membantu penyusunan laporan “Laporan Kunjungan
Belajar Asuhan Keperawatan Unit Kerja di PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido
Muncul Semarang”, yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Semarang, Mei 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………...……………………………………………… ii
Daftar Isi………………….. ...………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN……….....………………………………………….. 1
A. Latar Belakang…….……………………………………………………. 1
B. Tujuan …..……………………………………………………………… 2
BAB II RESUME KEGIATAN ..………………………...…………...……… 4
A. Informasi Umum .……………………………..……………………….. 4
B. Profil Perusahaan ..……........................................................................... 4
C. Alur Produksi .…………………………………………………………. 5
BAB III HASIL OBSERVASI .....................…………………………………. 7
A. Pengkajian Keselamatan ........ ................................................................. 7
B. Pengkajian Lingkungan Perusahaan ......................................................... 8
C. Pengkajian Keselamatan Pekerja ............................................................. 10
D. Penanggulangan Perusahaan jika terjadi Kecelakaan Kerja .................... 11
E. Pencegahan atau Antisipasi Kecelakaan .................................................. 11
F. Analisa Resiko Kecelakaan ..................................................................... 11
BAB IV PENUTUP …………….…………………………………………….. 13
A. Kesimpulan …………………………………………………………….. 13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengertian sehat dapat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial
seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga
menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya (perry,
potter. 2005: 5).

Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan
bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan kesehatan atau penyakit.
Oleh karena iu, perhatian utama dibidang kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan
terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan seoptimal
mungkin.

Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh empat faktor yakni :

1. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia (organik/ anorganik,


logam berat, debu), biologik (virus,
bakteri, microorganisme) dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan, pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
3. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan,
rehabilitasi.
4. Genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.

Pekerjaan mungkin berdampak negatif bagi kesehatan akan tetapi sebaliknya pekerjaan
dapat pula memperbaiki tingkat kesehatan dan kesejahteraan pekerja bila dikelola dengan
baik. Demikian pula status kesehatan pekerja sangat mempengaruhi produktivitas kerjanya.
Pekerja yang sehat memungkinkan tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila dibandingkan
dengan pekerja yang terganggu kesehatannya.

Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas, beban, dan lingkungan
kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri
maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal
(Undang-undang kesehatan tahun 1992).

1
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan sekedar “kesehatan
pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua
orang dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work).

Sebagai suatu usaha dalam pencegahan kecelakaan kerja di bidang keperawatan


dikembangkan suatu spesialisasi perawatan yang disebut dengan perawatan kesehatan kerja
(occupational health nursing).

Perawat okupasional dapat bekerja di unit tunggal dalam lingkungan industri, menjadi
konsultan paruh waktu atau dengan waktu yang terbatas, atau menjadi anggota dari tim
indisiplener yang terdiri dari pekerja kesehatan yang bervariasi seperti perawat, dokter,
fisiolog pelatih, pendidik kesehatan, konsulen, ahli gizi, ahli teknik keselamatan, dan hygine
industri (suddarth. 2002: 27).

Perawat kesehatan okupasional mempunyai fungsi dalam beberapa cara yang dapat
memberikan perawatan langsung pada pekerja yang sakit, melakukan program pendidikan
kesehatan untuk anggota staf perusahaan, aau menyususn program kesehatan yang ditujukan
untuk mengembangkan perilaku kesehatan tertentu, seperti makan dengan benar dan olah
raga yang cukup, serta bagaimana menggunakan alat-alat perlindungan dan pentingnya
penggunaan alat-alat tersebut bagi keselamatan kerja, serta hygine pada setiap pekerja
(suddarth. 2002: 27).

Maka dari itu, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang peraturan pemerintah
yang menyangkut kesehatan kerja dan memahami legalsasi yang berhubungan, serta semua
hal yang bersangkutan tentang kesehatan kerja, keselamatan kerja serta kecelakaan kerja
(K3) (Suddarth. 2002: 27).

Dalam laporan ini penulis akan menjelaskan tentang aspek kesehatan dan keselamat kerja
dalam asuhan keperawatan unit kerja di PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam asuhan
keperawatan unit kerja di PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mendapatkan pengalaman observasi unit kerja

2
b. Mahasiswa dapat mengobservasi kegiatan unit kerja
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi penerapan keamanan dan keselamatan unit
kerja
d. Mahasiswa dapat mengenal setting unit kerja
e. Mahasiswa dapat mengenal klinik/ layanan kesehatan unit kerja

3
BAB II
RESUME KEGIATAN

A. Informasi Umum
1. Waktu Kunjungan : Rabu, 8 Mei 2019
2. Nama Perusahaan : PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk
3. Jenis Perusahaan : Perseroan terbatas
4. Alamat : Pabrik | Factory Jl. Soekarno Hatta Km. 28. Kecamatan Bergas,
Klepu. Semarang 50134, Indonesia
5. Fax. : (62-298) 523509
6. Telepon : (62-298) 523515
7. Kepemilikan : Rahkmat Sulistyo
8. Luas Wilayah dan Denah Perusahaan : 343.982 meter persegi
9. Struktur Organisasi dan Manajemen :
10. Jumlah Pegawai : ± 3000 orang
11. Omset : ± 3 triliun

B. Profil Perusahaan
Pada tahun 1951, Berdirinya perusahaan Sido Muncul yang berarti “Impian yang
Terwujud” dengan pabrik pertamanya berlokasi di Jl. Mlaten Trenggulun, Semarang.
Pada 1970, dibentuk persekutuan komanditer dengan nama CV Industri Jamu &
Farmasi Sido Muncul. Kemudian pada 1975, bentuk usaha industri jamu berubah menjadi
Perseroan Terbatas dengan nama PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul, dimana
seluruh usaha dan aset dari CV Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul dimasukkan ke
dalam dan dilanjutkan oleh perseroan terbatas tersebut.
Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten Trenggulun ternyata tidak
mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus
meningkat, dan pada 1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jl.
Kaliwage, Semarang. Guna mengakomodir permintaan pasar yang terus bertambah, maka
pabrik mulai dilengkapi dengan mesin-mesin modern demikian pula jumlah karyawannya
bertambah sesuai kapasitas yang dibutuhkan.
Untuk mengantisipasi kemajuan masa mendatang, Perseroan merasa perlu untuk
membangun unit pabrik yang lebih besar dan modern, maka pada 1997 diadakan peletakan
batu pertama pembangunan pabrik baru di Klepu, Ungaran, oleh Sri Sultan

4
Hamengkubuwono X dan disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
saat itu.
Pabrik baru yang berlokasi di Klepu, Kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas sekitar
30 hektar tersebut diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik
Indonesia saat itu pada 11 November 2000. Saat peresmian pabrik, Perseroan sekaligus
menerima dua sertifikat, yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (“CPOTB”)
dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (“CPOB”) setara dengan farmasi, dan sertifikat inilah
yang menjadikan Perseroan sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi.
Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas sekitar 8 hektar dan sisanya
menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik.

C. Alur Produksi
Pembuatan produk melalui beberapa tahap adalah sebagai berikut;
1. Bahan Baku Mentah (Disortasi)
Bahan baku yang diperoleh disortir sesuai jenisnya dan dipilah bahan yang layak dan
bahan yang tidak layak produksi. Ada sekitar 160 jenis bahan baku mentah yang
digunakan dalam produksi.
2. Pencucian
Semua bahan baku yang layak produksi dicuci untuk membersihkan bahan baku dari
kotoran-kotoran.
3. Pengovenan
Kadar air dalam bahan baku tidak boleh lebih dari 10%, oleh karena itu dilakukan
pengovenan untuk mengurangi kadar air dalam bahan baku. Pengovenan ini juga
bertujuan agar bahan tersebut berdaya tahan lama.
4. Bahan baku matang
Bahan yang sudah dioven dan akan segera di masukkan proses produksi, dan sebagian
disimpan digudang. Disimpan di gudang bahan baku Sebagian bahan baku disimpan
di gudang bahan baku sebagai persediaan.
5. Tahap Penggilingan I
Semua bahan baku yang siap diproduksi digiling supaya halus dan mudah diproduksi.
6. Tahap penggilingan II
Penggilingan II ini dilakukan untuk produksi jamu berbentuk serbuk, bahan yang tadi
sudah melalui penggilingan I, digiling lagi supaya lebih halus.
7. Pengayakan

5
8. Bahan yang sudah melalui 2 kali penggilingan, kemudian diayak dengan ayakan yang
berukuran 30 mesh.
9. Ekstraksi
Ekstraksi ini dilakukan untuk produksi jamu berbentuk cair.Bahan yang tadi sudah
melalui penggilingan I, diekstrak dan diambil sarinya.
10. Pembuatan Jamu
Pembuatan ini tergantung dari jenis bahan baku yang digunakan dan jenis fisik jamu.
Bentuk proses pembuatan jamu antar lain :
a. Proses pembuatan jamu serbuk
b. Proses pembuatan jamu cair
c. Proses pembuatan jamu dari daun dan akar-akaran
d. Proses pembuatan jamu instan dari empon-empon
e. Proses pembuatan jamu pil
f. Proses pembuatan jamu kapsul
g. Proses pembuatan jamu tablet
11. Pengemasan
Produk yang sudah jadi kemudian dikemas, biasanya pengemasan ini memiliki ruang
yang tersendiri dengan suhu 260C suhu kamar, kelembaban ruangan 78%. Hal ini
dikarenakan agar mikroba yang terdapat pada ruangan tersebut dapat dinonaktifkan,
sehingga produk tidak akan mudah terkontaminasi.
12. Penyimpanan
Produk jamu yang sudah dikemas didalam kardus disimpan di ke gudang yang
kemudia akan didistribusikan ke konsumen.

6
BAB III
HASIL OBSERVASI

A. Pengkajian Keselamatan
1. Standar keselamatan & kesehatan perusahaan (+jaminan kesehatan)
Perseroan telah mengikutsertakan seluruh karyawan pada program BPJS
Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, untuk menjamin tersedianya
fasilitas kesehatan untuk karyawan, Perseroan juga memiliki program jaminan
pemeliharaan kesehatan mandiri yang dikelola bekerja sama dengan RSU Ungaran,
RSU Ambarawa, RS Panti Wilasa Citarum Semarang, RS Sultan Agung Semarang,
dan Poliklinik Mardi Mulyo yang berlokasi di Tembalang, Krapyak, Majapahit,
Kedung mundu dan Kaligawe.
2. Tenaga medis/paramedic perusahaan (+sistem rujukan)
Perseroan memiliki 2 (dua) poliklinik di pabrik Klepu yang melayani karyawan
dan juga terbuka bagi masyarakat sekitar yang berobat secara gratis. Poliklinik
ditangani oleh 6 tenaga medis dan 1 administrator.
3. Petugas keselamatan kerja
Ada petugas keselamatan di setiap unit yang sudah dijawab, dibagi menjadi 4
petugas bagian. Tiap bagian dibedakan dengan warna helmnya. Warna merah
bertanggung jawab untuk memeriksa sistem keselamatan yang sudah terpasang dan
berfungsi sesuai standar yang ditetapkan, warna kuning bertanggung jawab bila terjadi
terjadi bahaya fisik (mis, penyimpanan zat asam), warna
4. Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan kesehatan awal dilakukan kepada calon karyawan dan
pemeriksaan kesehatan berkala dilakukan kepada seluruh karyawan secara bergantian
setiap tahun. Apabila dari hasil pemeriksaan seorang karyawan terindikasi menderita
penyakit yang perlu penanganan lebih lanjut, maka akan dirujuk ke rumah sakit sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Perseroan memiliki karyawan wanita yang jumlahnya lebih besar daripada
karyawan pria. Oleh karena itu Perseroan memberikan perhatian khusus untuk
karyawan wanita terutama selama periode kehamilan. Perseroan menyediakan
layanan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali dengan pemberian tablet zat besi (Fe)
selama kehamilan. Untuk menghindarkan dari risiko yang membahayakan kehamilan,
Perseroan menempatkan wanita hamil di bagian dan lokasi kerja yang aman. Bagi ibu
menyusui, Perseroan menyediakan ruang ASI yang dilengkapi dengan alat sterilisasi
botol, bilik tertutup, kursi, meja, lemari es dan label. Perseroan juga memberikan cuti
melahirkan dan cuti haid. Apabila cuti haid tidak digunakan maka karyawan tersebut
akan mendapatkan penggantian berupa uang. Jalur evakuasi : ada, ditandai dengan
simbol- simbol jalur evakuasi.
5. Ketersediaan alat kegawatdaruratan
ada, berupa APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan instalasi hydrant untuk didalam
ruangan, sedangkan yang diluar disediakan tabung saluran air pemadam air.
6. Pemeliharaan peralatan

7
ada, setiap alat yang digunakan mengalami pengecekan rutin dan service. Kebanyakan
alat perusahaan sudah berusia tua dan banyak yang belum diperbaharui.
7. Penkes tentang keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja
ada, penkes yang pernah dilakukan yaitu tentang pentingnya penggunaan APD selama
bekerja.

B. Pengkajian Lingkungan Perusahaan


1. Fisik Gedung
a. Ruang penyimpanan bahan baku
Bangunan minim ventilasi, udara panas dan kering, pintu keluar dua hanya dibuka
saat akan ada pengambilan bahan, bangunan menyerupai seperti gudang, bau
bahan baku sangat tajam, ruangan berdebu, pencahayaan kurang, radiasi tidak
ada.
b. Ruang pengemasan primer
Bangunan berbentuk persegi yang dibagi menjadi ruang-ruang kecil, minim
ventilasi alami digantikan dengan pemasangan AC, ruangan tertutup rapat,
ruangan tampak bersih, pencahayaan terpenuhi dengan baik, radiasi tidak ada.
c. Ruang pengemasan sekunder
Bangunan berbentuk persegi tanpa sekat yang dibagi dengan meja-meja untuk
tiap proses pengemasan, terdapat ventilasi yang cukup namun udara masih tetap
terasa panas dan kering, pencahayaan sedikit redup, ruangan tampak berdebu,
tidak terdapat radiasi.
d. Ruang pengemasan tertier
Bangunan berbentuk persegi tanpa sekat. Pekerjaan pengemasan tertier
dikerjakan oleh mesin. Udara di ruangan sejuk dan kelembaban cukup. Terdapat
ventilsasi yang cukup besar. Pencahayaan terpenuhi dengan baik. Tidak ada
radiasi.
e. Ruang laboratorium
Bangunan berbentuk persegi yang dibagi menjadi ruang-ruang tertentu. Ventilasi
alami tidak ada, digantikan dengan pemasangan AC, ruangan tertutup rapat,
ruangan tampak bersih, sejuk dan lembab. Pencahayaan sangat baik. Ruangan
beresiko terjadi radiasi oleh bahan kimia.
f. Ruang distribusi
Gudang tempat penyimpanan produk dibuat berpetak-petang dimana setiap
petaknya diberi alas kayu, hal ini bertujuan agar produk tidak bersentuhan
langsung dengan lantai. ruangan tertutup namun namun pencahayaan masih
cukup terhadap serangan serangga serta suhu yang sesuai dengan suhu kamar.

2. Kebersihan
Lingkungan di sekitar perusahaan tampak bersih dari sampah. Terdapat tempat
pembuangan sampah di setiap unit kerja. Perusahaan menyediakan petugas kebersihan
yang sudah terjadwal. Terdapat tempat pembuangan akhir dan pembuangan khusus.
3. Pengelolaan air limbah
Mekanisme pengolahan limbah cair di PT Sidomuncul adalah sebagai berikut:

8
a. Ekualisasi
Dalam limbah cair ini sudah tercampur secara homogen. Pencampuran secara
homogen terjadi dalam sumptank. Dalam limbah cair tersebut ditambahkan zat-
zat kimia yang dapat mengubah kotoran menjadi flok yang mengikat partikel
koloid sehingga mudah diendapkan dan disaring.
b. Bak sedimentasi I
Aliran limbah dari bak ekualisasi telah netral masuk dalam bak sedimentasi I
diharapkan partikel mengendap
c. Graviti sand filtrasi I
Air yang telah dijernihkan (terpisah dari flok-floknya) dikumpulkan secara
serempak untuk proses penyaringan
d. Air ration tank
Merupakan hasil air dari graviti sand filtrasi I yang umumnya sudah jernih. Air
yang telah disaring mengandung makanan dan oksigen sebagai energi dan
respiration dengan penghembusan udara ke blower sehingga konstentrasi zat
pencemar akan berkurang.
e. Bak sedimentasi II
Air limbah yang bercampur limbah aktif di proses untuk terjadi pemisahan
antara endapan dengan air jernihnya.
f. Graviti sand filtrasi II
Air yang telah jernih akan keluar dan menuju kolam indikator kehidupan
g. Kolam indikator kehidupan
Dalam kolam ini terdapat tanaman enceng gondok dan juga ikan-ikan sebagai
indikator bahwa air sudah layak untuk dibuang.
4. Sanitasi
Jika ditinjau dari lokasi bangunan maka PT Sidomuncul berada di daerah padat
penduduk sehingga kemungkinan besar merupakan sumber penimbunan barang
buangan serta pencemaran air melalui permukaan. Selain itu, sumber kontaminasi
berasal dari perusahaan-perusahaan yang berada disekitarnya, sebab wilayah tersebut
merupakan kawasan industri.
Sebagai upaya untuk mengatasi kemungkinan kontaminasi adalah pendirian
dinding bangunan dengan tinggi 10 meter sehingga membendung sumber kontaminasi
baik yang berupa udara ( yang merupakan sumber bau dan mikroorganisme patogen)
maupun serangga.
Sedangkan sumber kontaminan yang berupa air dapat diatasi dengan
pengguanaan air dari sumber yang terpercaya yaitu dari saluran pipa yang sudah
disterilkan.
5. Keamanan bongkar muat
Perusahaan menyediakan alat yang membantu dalam pemindahan barang.
6. Keamanan penyimpanan barang
Penyimpanan dan penempatan alat-alat atau bahan kimia menganut prinsip
sedemikian sehingga tidak menimbulkan kecelakaan pada pemakai ketika mengambil
dari dan mengembalikan alat ke tempatnya. Alat yang berat atau bahan yang
berbahaya diletakkan di tempat penyimpanan yang mudah dijangkau, misalnya di rak

9
paling bawah. Peralatan disimpan di tempat tersendiri yang tidak lembab, tidak panas
dan dihindarkan berdekatan dengan bahan kimia yang bersifat korosi. Penyimpanan
alat dan bahan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis, sifat, ukuran atau volume dan
bahaya dari masing-masing alat/bahan kimia. Kekerapan pemakaian juga dapat
dipakai sebagai pertimbangan dalam menempatkan alat.
7. Bahaya dari bahan pengelolaan
Limbah Organik merupakan limbah yang bersasal dari bahan baku, ampas hasil
ekstraksi maupun ampas hasil penyulingan munyak atsiri, serta obat tradisinal yang
kadaluarsa dan recall obat tradisional sub standart. Pengolahan limbah organik
menjadi kompos itu bisa mengatasi masalah lingkungan yang semula kotor, berbaudan
dikerumuni lalat menjadi bersih.
8. Bahaya dari proses pengelolaan
Pengolahan air limbah yang dilakukan PT. Sido Muncul secara kimia yaitu dengan
koagulasi flokulasi. Pengoperasian proses ini menghasilkan limbah lagi berupa
padatan. Jika pengolahan limbah yang dilakukan menghasilkan limbah samping maka
akan menghasilkan masalah baru.
9. Bahaya dari lingkungan pengelolaan
Secara umum buangan yang berasal dari pabrik dibagi menjadi limbah padat,
limbah organik dan non organik. Ketiga limbah tersebut dalam taraf normal dan tidak
membahayakan lingkungan sekitar pabrik.

C. Pengkajian Keselamatan Pekerja


1. Fisik
a. Beban Kerja
1) Penggunaan Alat Bantu : menggunakan mesin dalam pengolahan bahan,
mesin pengepakan sebagian menggunakan mesin, mesin forklift untuk membantu
memindahkan barang
2) Teknologi Yang Digunakan : mesin produksi, mesin pengemasan, komputer
3) Beban Tambahan : suhu dan debu dari proses produksi
4) Tingkat Pendidikan : sebagian besar pegawai rata-rata pendidikan
SMA, sebagian kecil lulusan SD
5) Bahaya dari Cara Kerja : kurang memperhatikan alat pelindung diri, salah
posisi tubuh, terganggunya panca indra akibat adanya kebisingan dll
6) Pelatihan yang Diikuti :
Sepanjang tahun 2016, Perseroan mengikutsertakan karyawan pada berbagai
program pelatihan K3 baik yang diselenggarakan sendiri (inhouse) maupun di
lembaga pelatihan eksternal. Jenis pelatihan tersebut mencakup:
a) Pesawat Uap Kelas II g) K3 Manlift
b) K3 Listrik h) K3 Excavator
c) Lift Barang i) K3 Bulldozer
d) Forklift j) Juru Las Kelas II
e) Petugas Peran Kebakaran k) P3K di tempat kerja
f) Ahli K3 Umum

Selain pelatihan, Perseroan juga menyelenggarakan program untuk meningkatkan


kualitas K3 yaitu membentuk lembaga P2K3 di setiap unit dan penambahan Ahli
K3 (AK3) Kimia dan bangunan bersertifikasi.

10
7) Jam Kerja : pukul 07.00-16.00 WIB
8) Penghasilan Pekerja : Rp. 2.300.000,-
9) Kelelahan : para pekerja mendapat jam istirahat jam 12.00
untuk ISHOMA
b. Keamanan Kerja
a) APD Yang Digunakan : Masker, Apron, sarung tangan, boots,
topi kepala/ helm
b) Seragam : baju putih, bawahan bebas
c) Keamanan Alat Terhadap Pekerja : sewaktu-waktu bisa saja terjadi
kesalahan pada alat yang dioperasikan
d) Hygiene Pekerja : toilet umum diletakan ditengah-tengah
unit-unit proses produksi, karyawan sering lupa untuk mencuci tangan pada 5
momen.
c. Lingkungan
a) Ketersediaan P3K : tidak tersedia P3K di setiap unit kerja
dan hanya tersedia obat-obatan seadanya
b) Bahan, Bangunan, Peralatan : bangunan berdinding batu-batu bata
bersemen, lantai dari semen, atap terbuat dari asbes,
d. Kapasitas Kerja
a) Perilaku Pekerja : tidak terkaji
b) Istirahat : 1 jam
c) Kesegaran Jasmani : tidak terkaji
d) Status Kesehatan : tidak terkaji
e) Usia : 18-50 tahun
2. Kecelakaan Kerja : Pernah terjadi luka ringan pada pegawai yang tidak
menggunakan alas kaki. Lingkungan pabrik yang tidak tertata rapi dan pegawai yang
tidak menggunakan APD sehingga kemungkinan cedera sangat tinggi
3. Penyakit yang Timbul dari Kerja : kerusakan pendengaran, penyakit yang
disebabkan akibat salah posisi, ISPA
4. Pencemaran yang Terjadi : Kondisi air sumur di sekitar pabrik kurang baik
5. Keluhan Kerja : tidak terkaji
6. Keluhan Warga Sekitar : tidak terkaji

D. Penanggulangan Perusahan Jika Terjadi Kecelakaan Kerja


Perseroan memiliki 1 unit mobil ambulans dan di setiap unit produksi disediakan kotak
P3K yang memadai untuk pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan kerja.
E. Pencegahan Yang Dilakukan Untuk Antisipasi Kecelakaan
Sebagai tindakan preventif menjaga kesehatan karyawan, Perseroan menyediakan nutrisi
tambahan berupa segelas susu untuk karyawan yang bertugas di lingkungan kerja yang
berisiko tinggi bagi kesehatan seperti lingkungan yang berdebu dan sebagainya.
F. Analisa Resiko Kecelakaan
1. Kerusakan Pendengaran
a. Gangguan pendengaran menunjukkan akibat pajanan kebisingan yang lama, ada
beberapa kasus bukan karena pekerjaan.
b. Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang dengan
gangguan pendengaran.
c. Dibuat rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya pendengaran.

11
d. Diagnosa yang mungkin muncul resiko gangguan pendengaran pada pekerja b/d
kurang pengetahuan, tidak digunakannya alat pengalaman kerja.
2. Gejala pada Punggung dan Sendi
a. Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan panyakit pada punggung
yang berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan.
b. Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan.
c. Atritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang tidak wajar.
d. Diagnosa yang mungkin muncul gangguan pada tulang belakang pada pekerja b/d
posisi bekerja yang tidak ergonomis, kurangnya pengaman pada posisi kerja,
kurangnya pengetahuan tentang posisi kerja

12
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keselamatan kesehatan kerja di PT.
Sido Muncul sudah berjalan cukup baik, namun masih perlu untuk selalu di lakukan
pemantauan oleh unit K3 dan tenaga kesehatan yang sudah ditunjuk. Kesehatan para pekerja
masih perlu dilakukan dengan pemeriksaan fisik secara berkala. Keselamatan dan kesehatan
pekerja tidak hanya menguntungkan bagi individu pekerja tapi dapat mendukung pada hasil
produksi perusahaan. Pengelolaan limbah sudah dimanajemen dengan baik, namun bukan
ketidakmungkinan akan adanya resiko kebocoran ke lingkungan luar perusahaan dan
berimbas pada kehidupan masyarakat disekitarnya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Potter, P.A, Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.

Brunner, Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: ECG.

14