Anda di halaman 1dari 10

Nama: 1.

Desty Isniaty
2. Indra

KASUS TOSHIBA

A. Deskripsi
1. Sejarah Toshiba Corporation
a. 1873 -1890 (Langkah Awal pendirian Toshiba)
Pada tahun 1873, Kementrian Teknik Jepang , bertanggung jawab untuk
mempromosikan modernisasi Jepang, Hisashige Tanaka ditugaskan untuk
mengembangkan peralatan telegraf. Dia membangun sebuah pabrik di Tokyo pada tahun
1875 untuk tujuan tersebut. Kemudian Tanaka Seizo-sho (Tanaka Engineering Works),
merupakan salah satu pelopor dari Toshiba.
Pada tahun 1878, Ichisuke Fujioka mengembangkan arc lamp pertama di Jepang
saat belajar di Imperial College of Engineering (sekarang Fakultas Teknik Universitas
Tokyo), di bawah asuhan dosen William Ayrton. Pada saat itu, Jepang harus mengimpor
semua lampu listriknya. Fujioka kemudian mendirikan Hakunetsu-sha Co, Ltd pada tahun
1890 untuk memproduksi arc lamp di Jepang.
b. 1891-1931 (Growth, disaster and reconstructionn)
Kedua perusahaan mempelopori pengembangan peralatan listrik di Jepang.Tanaka
Engineering Works menciptakan generator turbin bertenaga kincir air dan Hakunetsu-sha
mengembangkan pemancar radio.Pada tahun 1921, Tokyo Denki (Tokyo Electric
Company, nama ini diubah dari Hakunetsu-sha pada tahun 1899) menemukan dua coil
bola lampu listrik, kemudian diakui sebagai salah satu dari enam penemuan besar dalam
sejarah teknologi bola.
Gempa bumi besar Kanto 1923 menyebabkan kerusakan besar, menewaskan lebih
dari 100.000 orang.Tokyo Electric Company kehilangan banyak karyawan dalam
bencana.wakil presiden perusahaan membantu untuk menginspirasi upaya rekonstruksi,
terkenal dengan komentarnya, "Sebuah pabrik tanpa lembaga penelitian seperti serangga
tanpa antena." Perusahaan aktif memasuki era baru, termasuk pengembangan peralatan
medis dan perangkat radio.
c. 1932 – 1939
Pada 1932, pemerintah Jepang melarang pemakaian peralatan rumah untuk
menghemat pasokan vital besi dan baja untuk upaya perang.Sebagai member CO- Mitsui
zaibatsu, dipimpin Bank Mitsui, Shibaura Seisaku-sho (Shibaura Engineering Works,
namanya berubah dari Tanaka Engineering Works pada tahun 1893) dan Tokyo Electric
Company menjalin suatu kerja sama. Kerjasama ini sukses dan kemudian Dua
perusahaan ini bergabung pada tahun 1939 dengan membentuk Tokyo Shibaura Denki
(Tokyo Shibaura Electric Co, Ltd). Perusahaan merger ini memiliki ambisi untuk
menjadi salah satu produsen mesin listrik terkemuka di dunia.
d. 1940 – 1956
Perusahaan tumbuh pesat karena memasok kebutuhan pemerintah untuk radio,
tabung vakum dan perlengkapan militer lainnya, dan juga memproduksi generator.
Namun, kapasitas produksi lumpuh karena serangan bom pada masa perang. Karena
produksi pulih di tahun sesudah perang, perusahaan berfokus awalnya pada mesin listrik
berat dan kemudian kembali membuat peralatan listrik yang lebih kecil. Dan membentuk
anak perusahaan untuk penjualan di Asia Tenggara
e. 1957 – 1972
Ekonomi Jepang sedang booming pada paruh kedua tahun 1950-an, yang
mengarah ke pertumbuhan yang cepat untuk mesin listrik berat, elektronik dan industri
komunikasi. Penjualan dan keuntungan tumbuh bersamaan. Toshiba menciptakan produk
baru, mengembangkan teknologi asli, memperluas pabrik yang ada dan membangun
fasilitas produksi baru untuk memasok pasar yang tumbuh cepat. penjualan di luar negeri
dan perusahaan anak manufaktur didirikan untuk mengembangkan bisnis internasional.
Rasio penjualan luar negeri secara bertahap meningkat.
f. 1973 – 1983
Krisis ekonomi setelah krisis minyak pertama pada tahun 1973 menyebabkan
Toshiba untuk berinvestasi lebih banyak dalam R & D, alasannya adalah bahwa
keuntungan adalah sumber vitalitas perusahaan sementara teknologi adalah kekuatan
untuk pengembangan bisnis dengan besarnya nilai R & D yang dberikan oleh Toshiba
menyebabkan banyak temuan teknologi baru yang pertama di dunia atau yang pertama di
Jepang. inisiatif lain R & D untuk meningkatkan teknologi produksi, menjaga kualitas
tinggi, menghemat tenaga kerja dan memperpendek pengiriman. Hal ini memberikan
kontribusi terhadap laba secara signifikan lebih tinggi.
g. 1984-1999
Pada tahun 1984, nama perusahaan disingkat menjadi "Toshiba" diganti Tokyo
Shibaura Denki sebagai nama resmi perusahaan (dalam bahasa Inggris, "Toshiba
Corporation" diadopsi pada tahun 1983).
h. Since 2000
Creating World's First and World's No. 1 products and services to prevail amid
global competition. Sampai sekarang Toshiba menjadi perusahan corporasi yang
mempunyai banyak unit bisnis. Beberapa unit bisnis yang ada di Toshiba diantaranya:

Industrial Retail
Business

 Oil + Gas  POS Systems


 Computers +
 Mining + Minerals  Self Checkout
Tablets
 Utilities  ITAB Flow
 Hard Drives +
 Agribusiness Concept
Storage
 More Power +  Printers
 Document
Energy  More
Solutions
 Nuclear Power
 Printing Systems
Semiconductors
Plants (PWR)
 More
 Steam Turbines
 Hydraulic Turbines

B. Kronologis skandal akuntansi Toshiba


Kasus ini bermula atas inisiatif Pemerintahan Perdana Menteri Abe yang mendorong
transparansi yang lebih besar di perusahaan-perusahaan Jepang untuk menarik lebih banyak
investasi asing. Atas saran pemerintah tersebut, Toshiba menyewa komite investigasi
independen yang terdiri dari para akuntan dan pengacara untuk menyelidiki masalah transparansi
di Perusahaannya. Betapa mengejutkannya bahwa dalam laporan 300 halaman yang diterbitkan
tersebut mengatakan bahwa Toshiba terbukti melakukan apa yang disebut oleh Komite
Investigasi Independen sebagai ‘Pengkhianatan Kepercayaan’. Pasalnya perusahaan berusia 140
tahun itu telah membohongi publik dan investor dengan cara menggelembungkan keuntungan di
laporan keuangan. Dan itu dilakukan bukan jumlah kecil dan tidak dalam tempo setahun dua
tahun. Tiga direksi telah berperan aktif dalam menggelembungkan laba usaha Toshiba
sebesar ¥151,8 miliar (setara dengan Rp 15,85 triliun) sejak tahun 2008.
Komite Investigasi independen yang dipimpin oleh mantan jaksa top di Jepang Koichi
Ueda itu, mengatakan bahwa eksekutif perusahaan telah menekan unit bisnis perusahaan, mulai
dari unit personal computer sampai ke unit semikonduktor dan reaktor nuklir untuk mencapai
target laba yang tidak realistis. Misalnya, pada bulan September 2012, divisi produk dan layanan
digital dari Toshiba, yang mencakup bisnis komputer, mengatakan kepada wakil CEO Sasaki
bahwa akan memasukkan ¥ 248 milyar kerugian operasional untuk semester pertama tahun
fiskal. Tapi Sasaki menolak untuk menerima laporan tersebut dan menekan divisi untuk
meningkatkan keuntungan sebesar ¥ 12 milyar dalam waktu tiga hari. Manajemen biasanya
mengeluarkan tantangan target yang besar itu sebelum akhir kuartal/tahun fiskal. Hal ini
mendorong kepala unit bisnis untuk menganalisis catatan akuntansinya.Laporan itu juga
mengatakan bahwa penyalahgunaan prosedur akuntansi secara terus-menerus dilakukan sebagai
kebijakan resmi dari manajemen, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk melawannya, sesuai
dengan budaya perusahaan Toshiba.
Akibat laporan ini CEO Toshiba, Hisao Tanaka, mengundurkan diri, disusul keesokan
harinya pengunduran diri wakil CEO Toshiba, Norio Sasaki. Selain itu Atsutoshi Nishida, chief
executive dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 yang sekarang menjadi penasihat Toshiba
juga mengundurkan diri. Komite Investigasi independen tersebut mengatakan bahwa Tanaka dan
Sasaki tidak mungkin tidak tahu atas praktik manipulasi dalam laporan keuangan ini.Manipulasi
ini pasti dilakukan secara sistematis dan disengaja.
Saham Toshiba turun sekitar 20% sejak awal April 2015 ketika isu akuntansi ini
terungkap. Nilai pasar perusahaan ini hilang sekitar ¥ 1,67 triliun (setara dengan RP174 triliun).
Badan Pengawas Pasar Modal Jepang kemungkinan akan memberikan hukuman pada Toshiba
atas penyimpangan akuntansi tersebut dalam waktu dekat ini.
C. Hasil Investigasi
Guna mempercantik laporan keuangannya, Toshiba melakukan berbagai cara baik
mengakui pendapatan lebih awal atau menunda pengakuan biaya pada periode tertentu namun
dengan metode yang menurut investigator tidak sesuai dengan prinsip akuntansi,. Seperti
kesalahan penggunaan percentage-of-completion untuk pengakuan pendapatan proyek, cash-
based ketika pengakuan provisi yang seharusnya dengan metode akrual, memaksa supplier
menunda penerbitan tagihan meski pekerjaan sudah selesai, dan lain-lain.Metode tidak pantas
pada perusahaan yang bertentangan dengan PSAK diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Metode yang berhubungan dengan waktu tertunda dari recording operating
expense.
Di mana layanan yang melibatkan iklan atau logistik biaya, meminta vendor untuk
menunda penerbitan faktur sampai kuartal berikutnya untuk mencatat pengeluaran pada kuartal
berikutnya. Penundaan pencatatan jelas berdampak pada laporan keuangan dimana seharusnya
dibukukan pada bulan ini tapi perusahaan menunda pencatatan sehingga bulan terjadinya
transakti tidak nyata karena ada transaksi yang tidak terecord dan ini tidak sesuai pada PSAK 01
dan 02. Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan
untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari periode satu tahun, sebagai tambahan
terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas seharusnya mengungkapkan:
 Alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek
 Fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan
secara keseluruhan.
2. Metode yang berkaitan dengan Ketetapan
Untuk tujuan akuntansi konsolidasi toshiba, perusahaan menggunakan metode
berdasarkan cash - based meskipun accrual – based seharusnya digunakan. Dalam IFRS metode
ini sudah tidak digunakan lagi. Pada cash - based perusahaan hanya mengakui pendapatan bila
kas (atas penyerahan barang/jasa) sudah diterima.
PSAK 23 “ Akuntansi Pendapatan “
Perbedaan metode pengakuan pendapatan bisa membuat perusahaan menjadi nampak
lebih profitable atau tidak.
Mengenai besarnya pendapatan yang diakui, IAS 18 menyatakan bahwa, pendapatan diukur
pada nilai wajar piutang atau kemungkinan pendapatan yang diterima, setelah dikurangi diskon
maupun potongan (rebate) yang diberikan kepada pembeli atau pelanggan. Menurut IAS 18,”
pendapatan diakui saat risiko yang melekat pada barang/jasa (yang diperjualbelikan) berpindah
ke pembeli atau pengguna jasa.Lebih rinci, mengenai saat pengkuan pendapatan, IFRS
memberikan 2 ketentuan utama dan beberapa ketentuan tambahan”. Prinsip dan prosedur dalam
akuntansi yang kemudian dijabarkan dalam standar-standar, dibuat agar laporan keuangan
perusahaan menjadi adil bagi semua pihak yang berkepentingan .‘Fair’ dalam hal ini
mengandung makna” tidak diakali atau dimanipulasi”.
Kategori manipulasi yang dimaksud ialah :
 Pendapatan diakui lebih besar dibandingkan kenyataannya dan diakui lebih awal agar
perusahaan kelihatan lebih profitable,
 Pendapatan diakui lebih kecil dari kenyataannya dan diakui lebih belakangan agar perusahaan
kelihatan tidak profitable ,
over-riding curent profit polic, dan tekanan yang kuat untuk mencapai target anggaran di
pertemuan bulanan CEO. Presiden mengindikasikan target untuk meningkatkan pendapatan
ditetapkan sebagai challenges untuk setiap presiden perusahaan dengan saran yang kuat bahwa
mereka perlu menarik diri dari bisnis mereka jika mereka tidak meningkatkan keuntungannya.
Penerapan metode persentase penyelesaian membutuhkan estimasi "total pendapatan dari
kontrak kerja" dan "total biaya kontrak kerja" serta kuantifikasi "dikeluarkan biaya kontrak"
secara triwulanan, sementara "total pendapatan dari kontrak kerja" adalah perkiraan, yang
ditentukan oleh negosiasi dengan pelanggan, dan biaya kontrak merupakan akumulasi dari biaya
aktual yang terjadi, sehingga ada risiko salah saji yang terkait dengan "total estimasi biaya
pekerjaan kontrak "yang sebenarnya ditentukan secara internal. Jika total biaya kontrak kerja
diremehkan maka salah saji pada laporan akuntansi akan timbul.
PSAK 14 “Persediaan”
Jika barang dalam persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui
sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai
persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus
diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Selama TA
2013,semiconductor & storage company mencatat total kerugian sekitar JYP 8,0 miliar { JYP
4,5 miliar dari persediaan dijual produk untuk pelanggan tertentu / penggunaan spesifik
(persediaan ASIC), JYP 3,4 miliar pada persediaan (SRPJ persediaan) untuk bagian produsen B
(perusahaan yang memproduksi komponen untuk digunakan dalam produk akhir B berdasarkan
bagian X disampaikan oleh Toshiba)}.
Sebagian besar persediaan ini, kerugian diakui untuk tujuan akuntansi untuk pertama
kalinya diwaktu pembuangan, dan hilangnya penilaian yang tidak dicatat sebelum itu. Pencatatan
kesalahan atas persediaan juga telah terjadi pada perusahaan ini dan pihak intern sedang
melakukan penyelidikan atas kesesuaian perlakuan akuntansi yang berkaitan dengan penilaian
persediaan.
3. Metode terkait dengan recording of CR/ pengurangan biaya
Dalam kasus ini Toshiba meminta pembuat panel dan produsen ODM / OEM untuk
mengurangi harga jual mereka bagi Toshiba. Pengurangan biaya akan tercermin dalam harga
pembelian bahan dalam kasus di mana ada kemungkinan kecil untuk mencapai biaya
pengurangan.
PSAK No.25 (Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan,Kesalahan mendasar dan
perubahan kebijakan)
Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahan
dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta dan kecurangan atau
kelalaian. Dampak perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar harus
diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian kembali (restatement) untuk
periode yang telah disajikan sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum
periode sajian sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode. Pengecualian dilakukan
apabila dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain dalam ketentuan masa transisi
PSAK baru. Apabila perusahan telah mengetahui ada praktik tidak sehat dalam perusahaan
seharusnya dihentikan. Informasi tentang kinerja suatu perusahaan terutama tentang
profitabilitas, dibutuhkan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomi yang akan
dikelola oleh suatu perusahaan di masa yang akan datang.
Selain hal itu,Pihak regulator Jepang juga merekomendasikan agar KAP Ernst &Young
sebagai auditor eksternal pada perusahaan toshiba dihukum karena kesadaran akan risiko dan
kekurangan dalam audit atas Toshiba, yang sekarang terlibat dalam skandal akuntansi. Toshiba
telah melaporkan laba masa lalu ¥ 224.800.000.000 atau $1.84 milyar sebagai akibat dari
skandal itu. Asosiasi Akuntan Publik dan Audit Badan Pengawasan Jepang mengirim pemeriksa
ke beberapa perusahaan besar, termasuk Toshiba, antara pertengahan September dan awal
Desember untuk melihat ke dalam audit EYSN ini. Pemeriksaan difokuskan terutama pada isu-
isu Toshiba.
Pada saat menemukan banyak angka yang tidak biasa, KAP EYSN dianggap tidak
mengambil langkah-langkah untuk memverifikasi temuan tersebut. Pada pemeriksaan EYSN
oleh komite investigasi independen. Regulator memutuskan untuk merekomendasikan hukuman
karena temuan tersebut dan menyerukan audit EYSN ini " markedly inappropriate " dalam
laporannya. Badan Jasa Keuangan berencana akan mengeluarkan perintah perbaikan bisnis dan
juga akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan seperti denda atau membekukan
beberapa bisnis baru Toshiba. Tetapi untuk sekarang, Toshiba tidak di delisting oleh Tokyo
Stock Exchange. Namun, Perusahaan telah diberikan satu tahun untuk memperbaiki sistem
pengendalian internal dan akan melaporkan hasilnya kepada TSE. Jika perusahaan gagal untuk
memperkuat tata kelola, itu akan dihapuskan. TSE juga memberikan denda kepada Toshiba
sebesar ¥ 91.200.000

D. Alasan Fraud ini terjadi


1. Pressure untuk pencapaian target
CEO memang tidak menginstruksikan langsung untuk melakukan penyimpangan tetapi
memasang pencapaian target yang terlalu tinggi dan tekanan atas pencapaian target tersebutlah
yang menyebabkan skandal ini terjadi. Dalam akuntansi manajemen, hal ini disebut dengan
akuntansi pertanggungjawaban, yaitu bagaimana kepala unit bisnis melaporkan pencapaian
kinerjanya atas tanggung jawab yang diberikan manajemen puncak perusahaan kepadanya.
Tidak ada yang salah sebenarnya dalam praktik akuntansi pertanggungjawaban ini, malah
dianjurkan untuk menciptakan kinerja yang lebih baik, namun kesalahannya terletak pada
tumpuan penilaian kinerja semata-mata hanya pada sisi kinerja keuangan. Meskipun kita
mengenal ada empat perspektif kinerja dalam balance score card (keuangan, pelanggan, proses
bisnis internal dan pertumbuhan dan pembelajaran), namun dalam kenyataannya tetap perspektif
keuangan selalu yang didewakan.
Sebagai contoh sederhananya begini: dewan komisaris (BOC) memberikan target
pertumbuhan 10% kepada dewan direksi (BOD) perusahaan, selanjutnya BOD memberikan
target 12% kepada setiap unit bisnis dibawahnya, untuk mengamankan agar pencapaiannya yang
10% itu dapat dengan mudah dipenuhi, selanjutnya kepala unit bisnis memberikan target yang
lebih tinggi lagi misal sebesar 15% kepada manajer divisi dibawahnya lagi, demikian seterusnya.
Praktik ini sebenarnya normal terjadi, namun Tekanan dan punishment dari atasan agar target
tercapai dan ditambah budaya Toshiba yang kurang baik: tidak bisa melawan atasan. Maksudnya
melawan adalah koreksi atas kesalahan manajemen mengambil keputusan. Dalam kasus Toshiba,
bawahan tidak bisa mengkoreksi penetapan target oleh CEO yang bahkan tidak realistis dengan
kondisi bisnis dan perusahaan.
Selain itu, sistem kompensasi karyawan yang dihitung dari kinerja keuangan juga turut
andil di dalamnya. Maka muncullah ide-ide kreatif dari karyawannya untuk mencapai target
yang ditetapkan. Celakanya kreatifitas kali ini bukan dalam riset pengembangan atau pemasaran
namun dalam hal perlakuan akuntansi. Dibuatlah laporan keuangan dengan profit tinggi padahal
tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.. Cara gampangnya adalah dengan memberikan
laporan yang salah alias laporan ABS (Asal Bapak Senang) seperti pada kasus Toshiba ini.
2. Opportunity
Dalam kasus ini, Top Management serta petinggi lainnya yang menjalankan perusahaan
dan memegang kekuasaan atas perusahaan terlibat.Sehingga kesempatan untuk melakukan
tindakan manipulasi laporan keuangan sangat besar karena mereka yang mengendalikan
perusahaan. Kesempatan juga terjadi karena semua pihak yang berada dalam perusahaan tidak
ada yang mengungkapkan praktik tersebut, Penyelewengan dilakukan secara berjamaah,
sistematis dan cerdas. Sekian lapis sistem kontrol dari mulai divisi akuntansi, keuangan, internal
audit, tidak berfungsi sama sekali
Kasus akuntansi Toshiba ini tidak akan mungkin muncul ke permukaan, jika komisaris
(Chairman) Toshiba tidak melakukan inistiatif membentuk komite investigasi independen ini,
artinya jika dengan pengawasan biasa saja (internal audit atau komite audit), hal ini pasti tidak
terdeteksi. Demikian juga peran Badan Jasa Keuangannya Jepang yang tidak mampu mendeteksi
kasus ini, dengan beranekaragam regulasi yang dikeluarkan Badan jasa keuangan jepang ternyata
masih belum mampu mencegah terjadinya praktik kecurangan akuntansi pada perusahaan yang
terdaftar di bursa, ini juga patut dipertanyakan. Hal yang sama terjadi juga pada eksternal auditor
Toshiba yang juga tidak mampu menemukan kecurangan akuntansi dalam kasus ini.
E. Saran
Toshiba perlu meningkatkan reformasi struktural yang bertujuan untuk meningkatkan
pendapatan secara nyata.Toshiba juga harus mendeskripsikan langkah-langkah untuk
mereformasi budaya perusahaan yang menekan manajer untuk memenuhi target realistis, dan
untuk memperkuat fungsi pengawasan komite audit. Teknik yang digunakan oleh perusahaan
baik besar maupun sedang ialah mampu menilai dan mengatasi resiko salah saji.
Perlu dipikirkan juga cara baru pengawasan untuk mencegah hal ini terulang lagi,
mungkin semacam inspeksi dari komisaris perusahaan atau dari regulator (jika perusahaan
terbuka). Inpeksi atau pemeriksaan khusus bisa dilakukan kapan saja dengan waktu yang tidak
tentu. Pemeriksaan khusus (inpeksi) ini harus dituangkan dalam peraturan resmi (peraturan
Badan jasa keuangan atau peraturan pemerintah) agar semua perusahaan melakukannya secara
bersama, termasuk didalamnya siapa yang menanggung biaya inspeksi ini. Dengan penerapan
pengawasan berlapis ini tentunya akan tercipta laporan keuangan yang lebih accountable, good
corporate governance, dan tentunya kepercayaan para stake holder (termasuk didalamnya
investor) akan semakin tinggi.
Referensi:

https://akuntansiterapan.com/2015/07/22/toshiba-accounting-scandal-runtuhnya-etika-bangsa-jepang-
yang-sangat-diagungkan-itu/

https://www.toshiba.co.jp/worldwide/about/history.html

http://asia.nikkei.com/Politics-Economy/Economy/Regulator-advises-punishment-for-auditing-firm

https://zmauritiana.wordpress.com/2015/07/28/ada-apa-dengan-toshiba/

http://2016/03/seminar-akuntansi-keuangan-toshiba.html?m=1

http://www.japantimes.co.jp/news/2015/09/18/business/corporate-business/pressure-to-show-a-
profit-led-to-toshibas-accounting-scandal/