Anda di halaman 1dari 4

2.

3 Penilaian
Pengukuran adalah penentuan angka satuan pengukur terhadap suatu objek untuk
menunjukkan makna tertentu objek tersebut. Objek dapat berupa barang, jasa, binatang,
tubuh manusia, dan benda atau konstruk lainnya. Makna (atribute) dapat berupa nilai, luas,
berat, volume, tinggi, umur, indeks prestasi, dan sebagainya. Di dalam akuntansi istilah
pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan karena adanya asumsi bahwa akuntansi
menggunakan unit moneter untuk mengukur makna ekonomik suatu objek, pos atau elemen.
Pengukuran biasanya digunakan akuntansi untuk menunjukan proses penentuan jumlah
rupiah yang harus dicatat untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat
untuk objek pada saat pemerolehan. Dalam penilaian suatu pos untuk tujuan penyajian,
akuntansi dapat menggunakan berbagai dasar penilaian (bases for valuation) bergantung pada
makna yang ingin direpresentasi melalui pos statemen keuangan. Penilaian pos aset
dimaksudkan untuk menentukan berapa jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada tiap pos
aset dan apa dasar penilaiannya.

a. Tujuan Penilaian Aset


Karena aset merupakan elemen pembentuk posisi keuangan sebagai informasi semantik
sebagai investor dan kreditor, tujuan penilaian aset harus berpaut dengan tujuan pelaporan
keuangan. Tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang dapat membantu
investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat dan ketidakpastian aliran kas bersih ke
badan usaha. Jadi tujuan penilaian aset adalah merepresentasi atribut pos-pos aset yang
berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai.

b. Konsep dan Basis Penilaian


Nilai yang diperoleh atas dasar pertukaran disebut dengan nilai pemasukan (input/entry
values atau exchange input values). Sedangkan yang diperoleh dari pertukaran pemanfaatan
disebut nilai keluaran (output/exit values atau exchange output values).

c. Nilai Masukan
Didasarkan atas jumlah rupiah yang harus dikeluarkan atau dikorbankan untuk memperoleh
aset atau objek jasa tertentu yang masuk dalam unit usaha. Kalau tujuan menyajikan makna
aset ini adalah untuk menunjukkan aliran kas yang akan keluar dari unit usaha (seandainya
unit usaha harus memperoleh objek jasa yang sama) maka nilai masukan merupakan
alternatif nilai keluaran untuk objek jasa bila memang tidak ada pasar objek tersebut sehingga
nilai keluaran tidak dapat diukur dengan cukup pasti dan andal. Sebagai nilai alternatif nilai
keluaran, nilai masukan menunjukkan secara konservatif nilai maksimum objek jasa atau pos
aset bersangkutan.

 Kos Historis
Kos Historis sebagai nilai masukan merupakan pengukur potensi jasa yang paling objektif
untuk pos aset yang baru diperoleh. Kos menunjukan harga pertukaran pada saat terjadinya.
Salah satu keunggulan pos historis dari sudut konsep penilaian adalah dapat di ujinya hasil
penilaian tersebut (verifiable) karena kos historis terjadi dari hasil kesepakatan dua pihak
yang independen. Karen dapat diuji validitas penilaiannya, kos historis dapat dihandalkan
sebagai informasi (reliable). Kos historis merupakan nilai kesepakatan terendah bagi pembeli
karena dianggap pembeli tidak dapat memperoleh barang/jasa yang sama ditempat lain
dengan nilai lebih rendah.
Kos Kebijaksanaan adalah kos selayaknya yang manajemen bijaksana, atau hati-hati
bersedia membayarnya untuk suatu objek. Kos ini tidak termasuk kos yang merepresentasi
ketidaknormalan atau ketidakbijaksanaan seperti pemborosan (waste), manipulasi salah urus,
atau kurang kompetennya manajemen.
Kos Standar adalah kos yang seharusnya terjadi dalam kondisi proses produksi tertentu
yang diasumsi. Walaupun kos standar lebih banyak diterapkan untuk tujuan internal
manajemen (untuk pengendalian), kos standar dapat dipertimbangkan sebagai pengukur aset
(khususnya persediaan barang) untuk merefleksi kos produksi dalam kondisi perusahaan
beroperasi pada tingkat efisiensi dan kapasitas normal.
Kos Asli merupakan kos suatu aset bagi perusahaan yang pertama kali menempatkannya
untuk digunakan dalam layanan publik. Kos asli dikenal dalam konteks layanan publik
khususnya bila perusahaan membeli aset bekas dari perusahaan layanan publik lain.
Walaupun bermanfaat untuk penetapan tarif layanan publik, kos asli tidak relevan untuk
tujuan penilaian aset karena tidak merefleksi penghargaan kesepakatan.

 Kos Pengganti
Kos Pengganti atau kos masukan sekarang menunjukan jumlah rupiah harga pertukaran atau
kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang sama
jenis dan kondisinya atau penggantinya yang setara (ekuivalen). Kos pengganti hampir sama
konsepnya dengan kos standar sekarang (current standart cost). Kos standar sekarang adalah
berapa kos yang seharusnya untuk menghasilkan suatu produk dengan kondisi harga,
teknologi, dan efisiensi sekarang. Kos pengganti berbeda dengan kos standar sekarang karena
kos pengganti hanya didasarkan pada harga sekarang tetapi masih tetap didasarkan pada
teknologi dan efisiensi masa lalu.
Nilai Penaksiran adalah nilai taksiran kos sekarang atau nilai sekarang yang ditentukan
dengan prosedur dan analisis sistematik oleh pihak independen yang kompeten. Nilai
penaksiran biasanya ditujukan untuk aset tetap perusahaan yang berjalan terus guna
menetapkan “nilai buku sekarang” yaitu kos pengganti atau reproduksi sekarang dikurangi
depresiasi sampai tanggap penaksiran.
Nilai Wajar secara umum berarti jumlah rupiah yang dapat diterima untuk suatu objek dalam
suatu transaksi antara pihak-pihak yang berkehendak bebas tanpa tekanan atau keterpaksaan.
Secara khusus, nilai wajar dimaksudkan untuk menunjuk jumlah rupiah aset untuk
menentukan agar laba yang diperoleh merepresentasi tingkat kembalian wajar (fair return)
bagi investor.
Nilai Terrealisasi bersih dikurangi laba normal adalah nilai yang diharapkan merepresentasi
kos pengganti bila data untuk menentukan kos pengganti tidak tersedia. Jadi, nilai terrealisasi
bersih / netto dikurangi laba normal merupakan cara untuk menaksir kos pengganti atau kos
sekarang.

 Kos Harapan
Secara semantik, kos harapan suatu aset adalah nilai pengorbanan ekonomik dimasa datang
seandainya potensi jasa aset tersebut diperoleh secara bagian demi bagian (piecemeal) dan
bukan sekaligus (lump sum). Untuk penilaian sekarang, kos harapan harus di diskon menjadi
kos harapan sekarang atau kos masukan masa datang diskonan (discounted future input cost).
Untuk dapat menggunakan dasar penilaian ini tentu saja harus ada alternatif pemerolehan aset
secara bagian demi bagian sebagai pembanding dan diketahui dengan pasti kos masa datang
tiap bagian tersebut.

d. Nilai Keluaran
Nilai keluaran didasarkan atas jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya (nonkas) yang
diterima suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar dari kesatuan
usaha melalui pertukaran atau konversi. Secara umum, penilaian ini lebih berpaut dengan aset
tujuannya adalah dijual atau dikonversi menjadi kas dan bukan digunakan untuk kegiatan
produksi. Ada berbagai dasar penilaian yang dapat digunakan dan tiap pos aset dapat dinilai
menurut dasar yang paling sesuai dengan tujuan pelaporan tiap pos tersebut.

 Harga Jual Masa Lalu


Harga jual masa lalu (past selling price) sebenarnya menunjukkan kas yang cukup pasti akan
diterima dari konversi suatu pos aset yang timbul karena transaksi masa lalu. Pos yang
mempunyai atribut semacam ini adalah piutang usaha karena jumlah rupiah piutang usaha
merupakan harga jual masa lalu. Oleh karena itu, harga jual masa lalu merupakan salah satu
bentuk khusus penilaian yang disebut nilai terrealisasi netto (net realizable values). Disebut
netto atau bersih karena nilai keluaran piutang atau sediaan barang tidak termasuk rugi
piutang tak tertagih atau kos kegiatan penjualan tambahan untuk mendapatkan nilai sekarang
pos-pos aset tersebut.

 Harga Jual Sekarang


Harga jual sekarang didasarkan pada anggapan bahwa perusahaan akan berlangsung terus dan
transaksi dilaksanakan dalam pasar yang normal. Bila tidak ada pasar reguler, penilaian
dapat ditentukan atas dasar nilai likuidasi (liquidation values). Nilai likuidasi hanya dapat
digunakan apabila kondisi berikut dipenuhi :
1. Bila produk atau potensi jasa lainnya telah berkurang manfaat normalnya lantaran
menjadi usang atau tidak laku lagi dipasarkan, dan
2. Bila unit usaha merencanakan untuk menutup usaha dalam waktu dekat sehingga tidak
dapat menjual seluruh potensi jasa unit usaha dalam pasar yang normal sehingga
perusahaan ada di dalam posisi tawar-menawar yang lemah (disadvantaged bargaining
power).
Nilai jual sekarang sebenarnya didasari oleh konsep setara tunai sekarang (current cash
equivalents). Nilai ini menunjukkan jumlah rupiah kas atau daya beli yang dapat direalisasi
dengan cara menjual setiap jenis aset dipasar bebas dalam kondisi perusahaan melikuidasi
(menjual) asetnya secara normal. Secara teoritis, setara kas sekarang merupakan atribut atau
properitas yang relevan untuk semua aset. Artinya, semua aset dapat menggunakan dasar
penilaian ini pada titik waktu tertentu sehingga agregasi jumlah rupiah aset menjadi
bermakna tanpa menghadapi masalah agregasi jumlah rupiah masa lalu, sekarang, dan masa
datang yang skala daya belinya berbeda. Kelemahannya adalah tidak semua aset mempunyai
pasar (untuk barang tangan kedua) dan harga pasar kutipan sehingga hasil pengukuran kurang
terandalkan.

 Nilai Terrealisasi Harapan


Secara semantik, nilai terrealisasi harapan suatu aset adalah penerimaan kas atau potensi jasa
masa datang yang jumlah dan waktunya cukup pasti. Untuk penilaian sekarang suatu aset,
nilai terrealisasi harapan harus di diskon menjadi nilai terrealisasi harapan sekarang atau
penerimaan kas / potensi jasa masa datang diskonan (discounted future cash receipts/service
potensials).
Dasar penilaian ini lebih bermanfaat dan valid untuk menilai investasi tunggal atau
perusahaan secara keseluruhan dari sudut pandang investor. Untuk penilaian aset secara
individual, dasar penilaian ini mengandung beberapa kelemahan yaitu :
1. Kalau tidak ada pasar untuk aset bersangkutan, penentuan aliran kas masa datang bersifat
subjektif sehingga sulit diverifikasi.
2. Pemilihan tarif yang cukup representatif untuk merefleksi risiko tiap aset sangat
problematik.
3. Aliran kas ke perusahaan dihasilkan oleh seluruh aset sebagai satu kesatuan dalam
menghasilkan produk yang akhirnya dijual untuk mendatangkan kas.
4. Memperkuat alasan 3 diatas, beberapa aset memang tidak terpisahkan (severable) sehingga
nilai sekarang seluruh aset (the value of the firm) tidak akan sama dengan penjumlahan
semua kas masa datang diskonan tiap pos aset.