Anda di halaman 1dari 33

BAB

PENDEKEKATAN DAN METODOLOGI


II

2.1 PENDEKATAN TEKNIS

2.1.1 Kedudukan RKT

Dalam sistem perencanaan tata ruang dan sistem perencanaan pembangunan nasional,
kedudukan RKT dapat ditunjukkan pada Gambar 2.1. sebagai berikut :

Gambar 2.1.
Kedudukan RKT dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional

RKT

RTKP

Sumber : Pedoman Penyusunan Dokumen RKT, Menakertrans : 2014

Laporan Akhir II - 1
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Rencana Kawasan Transmigrasi merupakan rencana rinci tata ruang sebagai penjabaran
RTR KSN yang disusun sesuai dengan tujuan penetapan masing-masing RTR KSProv dan
RTR KSKab. Muatan RKT ditentukan oleh nilai strategis yang menjadi kepentingan
Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan berisi aturan terkait dengan hal-hal
spesifik tentang ketransmigrasian. Kepentingan Rencana Kawasan Strategis Nasional,
Provinsi dan Kabupaten merupakan dasar pertimbangan utama dalam penyusunan dan
penetapan RKT. RKT juga menjadi acuan teknis bagi penyelenggaraan penataan ruang
SKP, KPB dan SP.

2.1.2 Isu Strategis RKT

Isu strategis RKT merupakan hal-hal yang menjadi kepentingan nasional, provinsi dan
kabupaten sehingga kawasan tersebut perlu ditetapkan sebagai Kawasan Transmigrasi.

Isu strategis Kawasan Transmigrasi ditinjau berdasarkan sudut kepentingan strategis


yaitu:
1) pertahanan dan keamanan,
2) pertumbuhan ekonomi,
3) sosial dan budaya,
4) pendayagunaan sumber daya alam (SDA), dan
5) fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

Proses merumuskan isu strategis kawasan transmigrasi dapat dilakukan melalui


pendekatan top down dan/atau bottom up. Isu strategis RKT dapat berasal dari cara
pandang pemerintah terhadap potensi maupun permasalahan di daerah yang dianggap
memiliki nilai strategis (pendekatan top down), dan/atau berdasarkan permasalahan yang
diusulkan oleh daerah yang menjadi kewenangan pemerintah untuk diangkat menjadi isu
strategis (pendekatan bottom up).

2.1.3 Ketentuan Umum Muatan RKT

Ketentuan umum penentuan muatan RKT memberikan informasi mengenai kerangka pikir
penentuan muatan RKT sesuai dengan tipologi RKT, meliputi :

a. Bentuk

Penentuan bentuk RKT didasarkan pada basis kawasan dan basis objek strategis dan
kriteria kawasan transmigrasi.

Laporan Akhir II - 2
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
b. Deliniasi RKT

Penentuan deliniasi RKT dilakukan sesuai dengan tipologi RKT dilakukan dengan
pertimbangan :
1 kondisi daya dukung fisik dasar;
2 interaksi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat;
3 potensi perekonomian kawasan; dan
4 ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

c. Fokus Penanganan/muatan RKT

Penentuan fokus penanganan RKT dilakukan dengan mempertimbangkan upaya


yang perlu diprioritaskan untuk mewujudkan fungsi kawasan berdasarkan nilai dan
isu strategis kawasan sesuai dengan tipologi RKT, meliputi :

 Tujuan, kebijakan, dan strategi pembangunan kawasan transmigrasi.


 Luasan kawasan transmigrasi;
 Rencana struktur kawasan transmigrasi;
 Rencana peruntukan kawasan transmigrasi;
 Arahan pengembangan pola usaha pokok;
 Arahan jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;
 Arahan penataan persebaran penduduk dan kebutuhan sumber daya manusia;
 Arahan indikasi program utama;
 Tahapan perwujudan kawasan transmigrasi; dan
 Ketentuan pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.

d. Skala Peta

Penentuan skala peta RKT disesuaikan dengan informasi yang dibutuhkan dalam
proses perencanaan RKT dan penggunaan RKT, serta kebutuhan muatan materi
yang akan diatur di dalam RKT yaitu kedalaman informasi 1 : 25.000 dan dilandasi
dengan Data Dasar Citra Satelit.

e. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Kawasan Transmigrasi

Penentuan tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan transmigrasi


dilakukan dengan mempertimbangkan isu strategis dan fokus penanganan RKT.

Laporan Akhir II - 3
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
f. Konsep Pengembangan

Penentuan konsep pengembangan kawasan transmigrasi dalam rangka pencapaian


tujuan RKT.

g. Arahan Pemanfaatan Kawasan Transmigrasi

Penentuan arahan pemanfaatan Kawasan Transmigrasi dilakukan dengan


mempertimbangkan perwujudan konsep pengembangan Kawasan Transmigrasi yang
dilaksanakan melalui penyusunan indikasi program utama 5 (lima) tahunan sampai
akhir tahun perencanaan (yang tahapan waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan
tahapan waktu pelaksanaan RTRW Kabupaten) beserta indikasi sumber pembiayaan.

h. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Kawasan Transmigrasi

Penentuan arahan pengendalian pemanfaatan Kawasan Transmigrasi dilakukan


dengan mempertimbangkan upaya yang diperlukan agar pemanfaatan kawasan
dilaksanakan sesuai dengan RKT.

i. Pengelolaan

Penentuan pengelolaan Kawasan Transmigrasi dilakukan dengan memperhatikan


kebutuhan penanganan kawasan sesuai dengan tipologi RKT.

Lebih jelasnya, penentuan muatan Dokumen Perencanaan RKT dapat dilihat pada Gambar
2.2.

2.1.4 Format Penyajian

Konsep Dokumen RKT disajikan dalam bentuk sebagai berikut :

1) Buku data dan analisis yang dilengkapi dengan peta-peta;

2) Buku rencana yang disajikan dalam format A4; dan

3) Album peta yang disajikan dengan skala minimal dalam format A1 yang dilengkapi
dengan peta digital yang disusun sesuai dengan ketentuan Sistem Informasi Geografis
(SIG) yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.

Laporan Akhir II - 4
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Gambar 2.2
Penentuan Muatan RKT

PENETAPAN TIPOLOGI RKT


UU No. 26 Th 2007, tentang UU 29 / 2009 tentang perubahan UU
Penataan Ruang 15 / 1997 tentang Ketransmigrasian

PP No. 15 Th 2010, tentang PP 2 /1999 Tentang Penyelenggraan


Penyelenggaraan Penataan Ruang Transmigrasi

TIPOLOGI RTR KS K

PENYUSUNAN KERANGKA MUATAN RKT

Identifikasi Bentuk DELINIASI

PENETAPAN
FOKUS Penentuan Skala Peta
PENANGANAN

Tujuan, Kebijakan Konsep


dan Strategi Pengembangan

Arah Pengendalian Arah Pemanfaatan


Kawasan Kawasan
Transmigrasi Transmigrasi

Pengelolaan
PERUMUSAN MUATAN RKT

Sumber : Pedoman Penyusunan Dokumen RKT, Menakertrans : 2014

Laporan Akhir II - 5
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
2.1.5 Masa Berlaku

Dokumen Perencanaan RKT berlaku dalam jangka waktu 15 (lima belas) tahun dan dapat
ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali dokumen perencanaan RKT
dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun apabila terjadi perubahan
strategis berupa :
a. Bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan;
b. Perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan undang-undang;
c. Perubahan batas wilayah daerah yang ditetapkan dengan undang-undang; dan/atau,
d. Perubahan RTRW Propinsi/kabupaten yang menuntut perubahan terhadap RKT.

2.1.6 Pola Pikir Perencanaan Kawasan Transmigrasi

Pola pikir perencanaan ini pada dasarnya merupakan landasan berpikir perencana sebagai
upaya untuk memahami konteks persoalan secara utuh dan menyeluruh guna
memberikan landasan berpikir sebagai masukan pada pendekatan perencanaan. Ada 7
(tujuh) hal pokok pemikiran sebagai landasan pola pikir, yakni :

1. Pemahaman terhadap karakteristik fisik, ruang dan sumber daya lingkungan


pendukung.
Setiap sistem fisik kehidupan mempunyai karakter-karakter khusus yang unik yang
dapat menjadi pendukung maupun kendala perkembangannya, sehingga upaya
untuk mengembangkan fungsi-fungsi kegiatan harus memandang keberlanjutan
daya dukungnya dalam kurun masa datang serta bagaimana memanfaatkannya
secara optimal.
2. Pemahaman terhadap karakteristik sosial, karakteristik ekonomi, karakteristik
kemasyarakatan dan aspirasinya.
Pengembangan suatu kota akan sangat berkaitan dengan bagaimana rencana tata
ruang dapat mendukung perikehidupan sosial masyarakat yang beragam.
3. Pemahaman terhadap keterkaitan timbal balik antara kinerja aktifitas kota
dengan wujud dan perwujudan ruang fisiknya.
Dalam hal ini, kinerja aktifitas yang buruk akan mewujudkan kualitas ruang fisik
kehidupan yang buruk, atau sebaliknya ruang fisik yang tidak tertata dengan baik
akan mewujudkan kinerja aktifitas yang buruk pula. Kondisi ini bersifat kumulatif
dan saling memberikan pengaruh negatif serta akan semakin menurunkan kualitas
kehidupan lingkungan fisik, sosial, ekonomi di masa yang akan datang.
Laporan Akhir II - 6
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
4. Pemahaman mengenai bagaimana mewujudkan ruang fisik yang kondusif untuk
menunjang kehidupan kota.
Upaya mewujudkan ruang bukan hanya sekedar membuat rencana tata ruang
namun terkait upaya perealisasian serta pengarahannya, dan penciptaan faktor
intensif (menstimulasi) dan disinsentif (mencegah), agar elemen, fungsi dan
infrastruktur, sistem pelayanan sosial ekonomi perkotaan dapat ada dan tumbuh
sesuai dengan harapan.
5. Pemahaman terhadap pelaku dan aktor-aktor pembangunan kota dalam
mendukung wujud ruang yang diharapkan.
Setiap rencana pembangunan termasuk rencana tata ruang akan melibatkan setiap
pelakunya sebagai subjek dan harus menjamin adanya mekanisme partisipasi
masyarakat, swasta dan pemerintah dalam mendukung program-program
pembangunan. Upaya untuk mendeseminasikan serta mensosialisasikan rencana
perlu dilakukan untuk menghindari rencana tata ruang menjadi produk yang tidak
dapat/tidak mungkin direalisasikan karena masyarakat tidak tahu, menganggap
tidak perlu atau kepentingannya tidak terakomodasi atau dianggap merugikan
kepentingannya.
6. Pemahaman terhadap aspek kelembagaan, aspek hukum dan aspek manajemen
pembangunan untuk mendukung realisasi wujud ruang yang diharapkan.
Upaya untuk menata ruang kota akan tidak terlepas dari persoalan kelembagaan
dan manajemen pembangunan yang terkait dengan upaya mengkonsolidasikan
serta mengintegrasikan berbagai perencanaan yang telah dibuat. Dalam hal lain,
upaya mengelola sumber daya dana, tenaga dan waktu juga menjadi faktor
mendukung penataan ruang kota.
7. Pemahaman terhadap aspek eksternal regional/konselasi geografis mewilayahan
sebagai faktor pengaruh terhadap eksistensi kota.
Perkembangan lingkungan eksternal dapat mempengaruhi eksistensi baik bersifat
positif maupun negatif. Pertumbuhan kota sekitar yang pesat dengan fungsi
berbeda, serta pengaruh perkembangan transportasi regional harus dijadikan
landasan makro untuk mengembangkan fungsi mikro/lokal kota secara saling
mendukung.

Laporan Akhir II - 7
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
2.1.7 Aspek Perencanaan Kawasan Transmigrasi

Aspek Perencanaan Kawasan Transmigrasi harus mempertimbangkan 3 (tiga) aspek dalam


pendekatan perencanaan tata ruang, yaitu :

1. Aspek Strategis

2. Aspek Teknis

3. Aspek Pengelolaan

Ketiga aspek tersebut selanjutnya dijabarkan dalam rangka Perencanaan Kawasan


Transmigrasi adalah sebagai berikut :

A. Aspek Strategis

Aspek strategis ini akan menyangkut penentuan fungsi kawasan, pengembangan


kegiatan kawasan dan pengembangan tata ruang kawasan. Aspek strategis ini
diintegrasikan dengan RTRW Kabupaten.

B. Aspek Teknis

Aspek teknis ini akan menyangkut upaya mengoptimalkan pemanfaatan kawasan


transmigrasi. Seperti yang telah dijelaskan dalam PP Nomor 3 Tahun 2014 Tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 Tentang Ketransmigrasian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tengang
perubahan atas Undang-Undang No 15 Tahun 1997 tengang Ketransmigrasian, bahwa
Rencana Kawasan Transmigrasi merupakan penjabaran dari RTRW yang nantinya
dapat menjadi pedoman untuk pemberian advis planning, pengaturan bangunan
setempat, penyusunan rencana kawasan dan pelaksanaan program pembangunan.

C. Aspek Pengelolaan

Aspek pengelolaan akan menyangkut administrasi, keuangan, hukum dan


perundangan agar rencana kota dapat dilaksanalkan melalui koordinasi, penelitian,
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian rencana. Sesuai dengan tingkatannya,
dimana Rencana Kawasan Transmigrasi sebagai pedoman untuk pemberian advis
planning, pengaturan penempatan dan pengembangan transmigrasi dan pelaksanaan
program pembangunan, maka kajian-kajian yang akan dilakukan menyangkut
beberapa hal, yaitu :

Laporan Akhir II - 8
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
1. Kemampuan aparat dan personalnya, dalam arti kualitas dan kuantitas sumber
daya manusianya.
2. Kemampuan pendanaan/keuangan, dalam arti mengkaji sumber-sumber dana
untuk pembangunan baik peningkatan PADS maupun sumber dana lainnya.
3. Kemampuan perangkat keras dan lunak dinas/instansi, terutama yang terkait
langsung dalam proses dan mekanisme pembangunan. Hal ini penting dalam
rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja.
4. Menyusun Rencana Kawasan Transmigrasi yang optimal sesuai dengan aspirasi
masyarakat dan kebijakan Pemerintah Daerah, sehingga dapat dijadikan pedoman
pembangunan yang diperkuat dengan kepastian hukum dalam bentuk Perda dan
pengesahan dari tingkat yang lebih tinggi.

Pada poin 4) dikatakan bahwa dalam Rencana Kawasan Transmigrasi harus


melibatkan peran serta masyarakat dalam proses penyusunannya. Hal ini
dimaksudkan untuk menampung aspirasi masyarakat, agar kepentingannya dapat
terakomodasi dalam Rencana Kawasan Transmigrasi yang akan disusun. Penegasan
keterlibatan peran serta masyarakat dalam proses penyusuanan Rencana Kawasan
Transmigrasi.

Dari berbagai praktik peran serta langsung masyarakat dalam perencanaan tata ruang
terdapat beberapa bentuk yang dapat dilaksanakan dengan segala keuntungan dan
kerugiannya masing-masing, baik yang akan dilaksanakan secara berkelompok
maupun perorangan. Berikut ini adalah kemungkinan bentuk penyelenggaraan yang
berbentuk kelompok:
1. Diskusi kelompok kecil: jumlah peserta sedikit, cenderung terarah/terfokus,
inklusif dari komunitas yang lebih luas, memerlukan waktu yang sangat panjang
(time consuming).
2. Rapat umum : jumlah pemeranserta besar, sulit untuk mengarahkan pada isu-isu
tertentu saja, cenderung mengesampingkan sektor-sektor tertentu dari
komunitas, artikulasi perorangan dan kelompok-kelompok yang berkepentingan
mungkin sangat dominan.
3. Konferensi : pemeranserta adalah kalangan terpilih, teknik pendahuluan yang baik
untuk menggambarkan isu-isu yang muncul, boros waktu bagi perencana untuk
memberikan respon dan interaksi.

Laporan Akhir II - 9
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
4. Lokakarya : dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, dapat digunakan di setiap
proses, menjanjikan keterlibatan dan kontribusi aktif.

Bentuk lainnya yang biasa muncul misalnya adalah seminar, yang relatif mirip dengan
konferensi. Satu bentuk lain yang agak radikal adalah langsung beramai-ramai terlibat
praktik dalam perancangan rencananya di studio, yang tentunya memerlukan studio
yang sangat besar.

Beberapa bentuk peran serta yang bersifat perorangan misalnya adalah :


1. Wawancara: dapat lebih terwakili langsung dan personal, akan tetapi boros waktu.
2. Pendapat tertulis atau verbal : komitmen ditunjukkan secara formal, sarana yang
baik bagi para kelompok pe-lobby.
3. Jalur khusus (hot line) telepon : lebih luwes dari segi waktu, interaksi langsung.
4. Survey Kuesioner : memberikan data/fakta tertulis, dalam hal tertentu dapat
untuk mengukur reaksi masyarakat, akan tetapi interaksi terbatas/kurang.
Bentuk lainnya untuk yang perorangan ini misalnya adalah observasi,
pameran/display, membuka kantor informasi di lapangan, dan penggunaan media
massa. So, Hand dan McDowell (1982) mengelompokkan bentuk peran serta ke dalam
kelompok besar berdasarkan tujuannya yaitu yang disebut publicity (dalam rangka
membangun dukungan masyarakat), public education (dalam rangka diseminasi
informasi), public input (dalam rangka mengumpulkan informasi), public interaction
(dalam rangka pembangunan komunikasi dua arah), public partnership (dalam rangka
mengamankan saran dan consent). Pengelompokan teknik peran serta masyarakat
tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut :

Gambar 2.3
Pengelompokan Teknik Peran Serta Masyarakat

Masukan Interaksi Kemitraan


Pendidikan
Publisitas masyarakat masyarakat masyarakat
masyarakat

Pembangunan Diseminasi Pengumpulan Pembangunan Pengamanan


dukungan Informasi Informasi Komunikasi saran dan
masyarakat dua arah persetujuan

Keterlibatan Pasif Keterlibatan Aktif

Sumber : So, Hand, dan McDowell (1986:293)

Laporan Akhir II - 10
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Bentuk Peran serta masyarakat dalam penataan ruang menurut hirarkhi rencana yang
diindikasikan dalam PP No. 69 Tahun 1996 (Pasal-Pasal di BAB III dari PP 69/96), yaitu :

- pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan.


- pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan.
- pemberian masukan dalam perumusan rencana tata ruang.
- pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam penyusunan
strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang.
- pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana.
- kerja sama dalam penelitian dan pengembangan.
- bantuan tenaga ahli.

Gambar 2.4
Keterlibatan Pelaku Pembangunan Dalam Penyusunan Rencana

Pelaksanaan
Pelaku Keterlibatan Dalam Perencanaan oleh
Pemerintah,
Swasta,
Masyarakat
Masyarakat Forum Forum
Stakeholders Stakeholders
Perangkat
Pengendalian
Pelaksanaan

P Konsultan SURVEI Analisis &


Interpretasi
Penyusunan
rencana
Rencana
tersepakati

Pemerintah
PProgram
Pemerintah
Arahan
Pemerintah
P Indikasi
Program

Sumber : Pedoman Penyusunan Dokumen RKT, Menakertrans : 2014

2.2. METODOLOGI KAJIAN

2.2.1 Pendekatan Perencanaan

Untuk memberikan hasil yang terbaik dalam Rencana Kawasan Transmigrasi ini akan
dilakukan dengan menggunakan pendekatan Menyeluruh dan Terpadu (Mixed Scanning
Planning Approach), yaitu suatu pendekatan perencanaan terpilah yang berdasar pada
suatu pertimbangan menyeluruh. Pendekatan ini sering disebut juga sebagai ‘Third
Approach’ atau ‘Pendekatan Ketiga’.

Laporan Akhir II - 11
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Pendekatan ini dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan rasional yang
menyeluruh (Rational Comprehensive Approach) dan pendekatan perencanaan yang
terpilah (Dinjointed Incremental Planning Approach).

Kajian perencanaan secara menyeluruh dan terpilah dilakukan secara bersama-sama


dengan mempertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan kondisi kawasan. Tinjauan
secara menyeluruh dalam lingkup kota yang lebih makro disederhanakan dalam lingkup
wawasan sekilas (scan) untuk mempermudah dalam menganalisa permasalahan kawasan,
sedangkan tinjauan atas bagian unsur-unsur atau sub sistem kawasan ditinjau
kedudukannya terhadap permasalahan menyeluruh kawasan.

Tata cara utama metode pendekatan ini adalah :

1. Perencanaan mengacu pada garis kebijakan umum yang ditentukan pada tingkat
yang lebih tinggi,
2. Perencanaan didasari oleh suatu wawasan menyeluruh serta mengfokuskan
pendalaman penelaahan pada unsur-unsur atau subsistem-subsistem yang
diutamakan,
3. Kajian mendalam tentang unsur-unsur atau subsistem-subsistem yang diprioritaskan
dilandasi oleh kajian sekilas tentang lingkup menyeluruh serta didasarkan kepada
wawasan sistem makro dan mikro,
4. Perumusan rencana dengan pendekatan ini dinilai sebagai usaha penghematan
waktu dan dana dalam lingkup penelaahan, analisis dan proses teknis penyusunan
rencana karena adanya penyederhanaan dalam penelaahan dan analisis makro dan
mikronya,
5. Untuk menunjang hasil ramalan dan analisis sekilas maka proses pemantauan,
pengumpulan pendapat, komunikasi serta konsultasi dengan stakeholders dilakukan
selama proses penyusunan sasaran dan tujuan rencana.
Untuk lebih jelasnya, Bagan Alir Pendekatan Perencanaan dapat dilihat pada Gambar
2.5.

2.2.2 Pendekatan Pelaksanaan

Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur


penyusunan dan penetapan RKT. Proses Penyusunan Dokumen Perencanaan RKT
meliputi :

Laporan Akhir II - 12
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
1. Persiapan penyusunan;

2. Pengumpulan data dan informasi;

3. Pengolahan dan analisis data;

4. Perumusan konsepsi rencana; dan

5. Penyusunan Indikasi Program

2.2.3 Proses Penyusunan RKT

Proses penyusunan Dokumen Perencanaan RKT dilaksanakan setelah dilakukan


identifikasi potensi kawasan sesuai dengan bagan alir pada gambar 2.5.

1. Persiapan Penyusunan

a. Persiapan Administrasi, meliputi:

 Penelaahan dan pengkajian kerangka acuan kerja dan menyusun arahan


kebijakan dan strategi pembangunan kawasan transmigrasi.

 Menyiapkan program kerja yang lebih rinci, sebagai arahan bagi pelaksanaan
penyusunan dokumen RKT.

b. Persiapan Teknis yang meliputi :

 Identifikasi informasi dan data awal kajian potensi kawasan;

 Penyiapan metodologi pendekatan pelaksanaan kegiatan;

 Penyiapan perangkat survei (checklist data yang dibutuhkan, panduan


wawancara, kuesioner, panduan observasi dan dokumentasi, dll) serta
mobilisasi peralatan dan personil yang dibutuhkan.

Laporan Akhir II - 13
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Gambar 2.5
Bagan Alir Kerangka Pemikiran
Penyusunan Dokumen Perencanaan RKT Bacan – Kabupaten Halmahera Selatan

Gambaran Umum Pengumpulan Data Studi Literatur

SURVEY
- RTRW Provinsi - Landasan Hukum
- RTRW Kab Halmahera - Materi Teknis RTRW
Selatan Kab. Halmahera Selatan
- RPJMD Kab Halmahera - Pengumpulan Data - Arahan Kebijakan
Selatan Primer Pembangunan Kab.
- Kajian-Kajian Teknis - Pengumpulan Data Halmahera Selatan
Terdahulu Sekunder - Kawasan Transmigrasi
- Pengertian Sarana,
Prasarana, Utilitas dan
Fasilitas Sosial Kawasan
Transmigrasi

Analisis Analisis Sosial Analisis Analisis Kondisi Analisis


Fisik Ekonomi Kependudukan Prasarana dan Kebutuhan
Sarana Ruang

Perumusan Arahan
Perencanaan

Konsep Perencanaan

Penjajagan
FEEDBACK
Partisipatif
Stakeholder
Penyusunan Rencana dan Program
Pelaksanaan/Indikasi Program
Sosialisasi
/Lokakarya
FEEDBACK antar
stakeholder
Sumber : Hasil Pengolahan Tim Penyusun, tahun 2014.

Laporan Akhir II - 14
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
2. Tahap Pengumpulan Data dan Informasi

a. Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi

Untuk keperluan pengenalan karakteristik kawasan dan penyusunan rencana


kawasan transmigrasi, dilakukan pengumpulan data primer dan data sekunder.
Pengumpulan data primer dapat meliputi:

1) Penjaringan aspirasi masyarakat yang dapat dilaksanakan melalui


penyebaran angket, temu wicara, wawancara orang per-orang, dan lain
sebagainya; dan

2) Pengenalan kondisi fisik dan sosial ekonomi wilayah secara langsung melalui
kunjungan ke lokasi wilayah kawasan transmigrasi.

Data sekunder yang dikumpulkan sekurang-kurangnya meliputi :

1) Peta-peta, meliputi:

 Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) atau peta topografi skala 1 : 50.000
sebagai peta dasar;

 Citra satelit untuk memperbaharui (update) peta dasar dan membuat peta
tutupan lahan; Citra satelit yang digunakan harus berumur tidak lebih dari
tiga tahun pada saat penyusunan rencana dengan menggunakan citra
satelit resolusi 10 m – 15 m.

 Peta batas wilayah administrasi;

 Peta batas kawasan hutan;

 Peta-peta masukan untuk analisis kebencanaan; dan

 Peta-peta masukan untuk identifikasi potensi sumber daya alam.

 Peta-peta jaringan jalan

2) Data dan informasi yang harus ada mampu menyajikan data spasial 1 : 25.000,
meliputi :

a) Data kebijakan penataan ruang (RTRW provinsi, RTRW kabupaten/kota,


dan rencana rincinya) serta kebijakan sektoral terkait;

b) Data kondisi fisik lingkungan dan SDA, meliputi:

Laporan Akhir II - 15
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
– Iklim dari stasiun klimatologi terdekat minimal 10 tahun

– Tanah yang telah diklasifikasikan hingga tingkat Great Group menurut


USDA

– Hidrologi dan Geologi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi Nasional


Bandung

c) Data penggunaan lahan (Hasil interpretasi citra satelit dan sudah


merupakan hasil pengecekan lapangan);

d) Data tentang kependudukan (minimal data pada tingkat kecamatan


minimal 5 tahun), meliputi; jumlah penduduk berdasarkan:

– Jenis kelamin

– Usia/umur

– jenis pekerjaan

e) Data tentang prasarana dan sarana kawasan, meliputi : sistem jaringan


transportasi, Jaringan telekomunikasi, jaringan air bersih, jaringan listrik,
pengembangan permukiman dan pengelolaan persampahan, pendidikan
dan kesehatan serta perdagangan.

f) Data tentang pertumbuhan ekonomi kawasan, meliputi:

– Produksi masing-masing sub sektor berdasarkan PDRB Kabupaten.

– PDRB kabupaten dan Propinsi minimal meliputi 22 sub sektor selama 5


tahun.

g) Data tentang kemampuan keuangan pembangunan daerah diperoleh dari


data APBD Kabupaten 5 tahun terakhir;

h) Data dan informasi tentang kelembagaan pembangunan daerah;

i) Data dan informasi tentang kebijakan penataan ruang terkait (RTRW


kabupaten, RTRW provinsi, RTRW Nasional dan RTR pulau terkait);

j) Data dan informasi tentang kebijakan pembangunan sektoral, terutama


yang merupakan kebijakan pemerintah pusat; dan

k) Peraturan-perundang undangan terkait.

Laporan Akhir II - 16
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Data dalam bentuk data statistik dan peta, serta informasi yang dikumpulkan
berupa data tahunan (time series) minimal 5 (lima) tahun terakhir dengan
kedalaman data setingkat desa. Data yang menyangkut informasi spasial
diperoleh dari informasi dengan tingkat kedalaman informasi 1 : 25.000.

Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi, dihimpun


dalam buku data dan analisis dengan waktu pelaksanaan kegiatan
pengumpulan data dan informasi adalah 2 (dua) bulan.

4. Tahap Pengolahan dan Analisa Data

a) Analisis Kebijakan Pembangunan Kawasan Transmigrasi

(1) Tujuan dan Manfaat

Pekerjaan analisis dimaksudkan untuk mengkaji daya dukung dan daya tampung lahan
lokasi perencanaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya
alam yang memiliki keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan dengan pusat
pertumbuhan dalam satu kesatuan sistem pengembangan.

(2) Prinsip Dasar

Metode yang dapat digunakan dalam analisis potensi dan masalah kawasan
perencanaan adalah dengan menggunakan prinsip analisis SWOT:

 Potensi/kekuatan; kekuatan yang dimiliki oleh indikator perkembangan kawasan


perencanaan untuk tumbuh dan berkembang, sehingga diperlukan suatu
kebijakan dan strategi peningkatan/penambahan nilai (value added) dari indikator
tersebut;

 Kelemahan/Permasalahan; kelemahan atau kekurangan yang dimiliki oleh


kawasan perencanaan sehingga menghambat kawasan perencanaan untuk
tumbuh dan berkembang;

 Kesempatan/peluang yang lebih luas yang memberikan dampak tumbuh dan


berkembangnya kawasan perencanaan seperti meningkatnya ekonomi makro,
investasi yang tumbuh cepat, terbuka akses kawasan dengan luar, sehingga
diperlukan kebijakan dan strategi penguatan akses dan kemudahan-kemudahan
bagi pengembangan kawasan;

 Ancaman; indikator eksternal yang dapat menghambat tumbuh dan

Laporan Akhir II - 17
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
berkembangnya kawasan perencanaan, sehingga diperlukan kebijakan dan
strategi penguatan koordinasi, kerjasama, dan sikronisasi pembangunan.

Setiap komponen atau variabel SWOT harus terukur secara kuantitatif, bila
kualitatif dapat menunjukan faktor keterkaitan antara data dan
kecenderungannya.

b) Analisis Struktur dan Pemanfaatan Kawasan Transmigrasi

Analisis struktur dan pemanfaatan kawasan dilakukan dengan mengamati dan


mengkaji struktur dan pemanfaatan kawasan, baik pada masa sekarang, masa lalu,
maupun kecenderungannya di masa depan, akan tetapi dalam lingkup internal
wilayah. Penentuan orde kota, skala wilayah pelayanan, dan penstrukturan wilayah
agar lebih efektif dan efisien merupakan kesimpulan yang didapat dari hasil analisis
aspek ini.

1. Prinsip analisis
 Ketentuan analisis struktur kawasan perencanaan mengikuti kebijakan yang
telah digariskan oleh RTRWN, RTRWP, dan RTRW;
 Kedudukan dan skala dari sistem pergerakan, pemusatan kegiatan, dan
peruntukan lahan;
 Arah perkembangan pembangunan kawasan;
 Memperhatikan karakteristik dan daya-dukung fisik lingkungan serta dikaitkan
dengan tingkat kerawanan terhadap bencana.

2. Analisis fungsi ruang meliputi:

a. Tujuan, membentuk pola kawasan yang terstruktur dalam peran dan fungsi
bagian-bagian kawasan, yang memperlihatkan konsentrasi dan skala kegiatan
binaan manusia dan alami.

b. Komponen analisis;

 Perkembangan pembangunan, merupakan kebijakan rencana


pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun swasta;
 Pusat-pusat kegiatan, dengan melakukan kajian terhadap pemusatan
kegiatan yang ada atau direncanakan oleh rencana diatasnya;
 Kesesuaian dan daya dukung lahan, sebagai daya tampung dan daya
hambat ruang kawasan dalam berkembang;

Laporan Akhir II - 18
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
 Pembagian fungsi ruang pengembangan, merupakan struktur kawasan
yang dibagi dalam fungsi dan peran bagian-bagian kawasan.

c. Analisis Sumberdaya dan Kemampuan Lahan

Analisis fisik dasar dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai daya


dukung lingkungan fisik. Informasi ini diperlukan di dalam merumuskan dan
menempatkan zonasi ruang di wilayah perencanaan seperti kawasan lindung
dan kawasan budidaya, hutan lindung, hutan produksi dll.

Aspek fisik dasar yang dijadikan sebagai input di dalam analisis adalah
topografi wilayah, jenis tanah, iklim, hidrologi, geologi, pola arus. Selain itu di
dalam tahap analisis juga dipertimbangkan aspek ketersediaan SDA dan Pola
Ruang yang ada (existing).

Analisis evaluasi lahan dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai


tingkat kesesuaian, tingkat kemampuan, dan tingkat ketersediaan lahan untuk
kawasan lindung dan budidaya. Teknik analisis yang dipergunakan di dalam
evaluasi lahan ini adalah teknik scoring dan teknik overlay peta yang
didasarkan kepada kriteria penetapan kawasan lindung dan budidaya. Nilai
akhir dari kesesuaian lahan diperoleh dengan operasi matematis scoring dan
overlay peta tersebut seperti pada gambar 2.6 dan dan gambar 2.7.

Gambar 2.6
Alur Analisis Aspek Fisik Dasar

Karateristik Fisik Dasar Yaitu: Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah


Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll

Analisis Kesesuaian Lahan Analisis Ketersediaan Dan Pola


Sebaran

Analisis Ketersediaan Dan Pola Potensi Pengembangan


Sebaran

Informasi Mengenai Daya Dukung Lingkungan Untuk


Berbagai Kebutuhan Pengembangan Wilayah
Sumber : Pedoman Penyusunan Dokumen RKT, Menakertrans : 2014

Laporan Akhir II - 19
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Gambar 2.7
Skema Analisis Kesesuaian Lahan

Sumber : Pedoman Penyusunan Dokumen RKT, Menakertrans : 2014

Kriteria-kriteria yang menjadi model persyaratan penggunaan lahan bagi jenis


penggunaan lahan yang dipertimbangkan melalui metoda pohon keputusan.
Pohon keputusan ini terdiri dari seperangkat persyaratan penggunaan lahan

Laporan Akhir II - 20
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
dengan masing-masing karakteristik-karakteristik pencirinya, di mana satu
sama lain (karakteristik pendiri) saling berpengaruh terhadap potensi lahan
bagi jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan.

Secara umum untuk menilai kelas kesesuaian lahan agregat (satuan lahan)
ditentukan berdasarkan faktor pembatas yang paling berat (maximum limiting
factors, FAO, 1976). Evaluasi dilakukan pada satuan lahan (skala 1 : 25.000)
sesuai dengan ketersediaan data. Masing-masing satuan lahan di wilayah
studi terdiri dari campuran dua jenis tanah atau lebih. Batasan antara dua
jenis tanah atau lebih ini tidak dapat didelineasi pada peta yang digunakan,
sehingga perlu dilakukan kajian survey pemetaan tanah lebih lanjut pada
tingkat kedetilan yang lebih tinggi. Jenis penggunaan lahan yang
dipertimbangkan berdasarkan pengelompokkan jenis komoditas yang
mempunyai kemiripan (similar land use requirements).

Stratifikasi hasil evaluasi lahan disesuaikan dengan kedalaman data yang


tersedia yaitu pada tingkat subkelas dengan disertai pencantuman faktor
pembatas masing-masing kelas :
1) Sesuai (S)
2) Sesuai bersyarat (CS)
3) Tidak bersyarat (N)

Kualitas lahan yang menjadi faktor pembatas kesesuaian diantaranya sebagai


berikut:
1) Hidrologi (h) 5) Tipe Iklim (i)
2) Elevasi (k) 6) Media perakaran (r)
3) Terrain (s) 7) Temperatur Udara (t)
4) Ketersediaan air (w) 8) Toksisitas (x)

Setiap faktor pembatas tersebut ditentukan oleh karakteristik-karakteristik


penciri masing-masing kualitas lahan dan signifikan menjadi pembatas dalam
pengembangan jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan.

d) Analisis Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi

1. Analisis Sektor dan Komoditas Unggulan

Analisis sektor dan komoditas unggulan diperlukan untuk mengetahui

Laporan Akhir II - 21
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
sumbangan/kontribusi sektor dan komoditas terhadap PDRB pada Rencana
Kawasan Transmigrasi (RKT). Sektor yang memberikan sumbangan relatif yang
cukup besar terhadap PDRB di suatu kawasan sehingga sektor tersebut
dikatakan sebagai sektor basis (dominan).

Variabel yang dapat digunakan sebagai indikator keunggulan suatu sektor


diantaranya: penyerapan tenaga kerja masing-masing sektor, luas usaha dan
produktivitas masing-masing sektor, serta kontribusi tiap-tiap sektor terhadap
PDRB di Lokasi RKT.

Dalam kajian ini untuk mengidentifikasi sektor dan komoditas unggulan


digunakan analisis Location Quotient (LQ), Analisis Surplus Pendapatan (SP),
Kuosien Spesialisasi (Ksi), dan Kuosien Lokalisasi (Loi).

a. Analisis Location Quotien (LQ)

Location Quotient (LQ) merupakan metode analisis yang digunakan untuk


menunjukkan lokasi pemusatan atau basis aktivitas dan mengetahui
kapasitas ekspor perekonomian wilayah serta tingkat kecukupan barang dan
jasa dari produksi lokal suatu wilayah. Secara umum metode LQ digunakan
untuk mengukur suatu sektor atau komoditi (misalnya sektor x atau
komoditi x) menjadi kegiatan/komoditi basis atau non basis pada suatu
wilayah tertentu (misalnya i) (Budiharsono, 2001). Nilai LQ diketahui dengan
rumus sebagai berikut :

Si Ni
LQx 
Sj Nj
Dimana :
LQx = Nilai sektor basis/non basis
Si = Jumah PDRB sektor x diwilayah i (Rp).
Sj = Jumlah PDRB total komoditi sektor x diwilayah j, dimana wilayah i
merupakan bagian dari wilayah j (Rp).
Ni = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor
pada wilayah i (Rp).
Nj = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor
pada wilayah j (Rp).

Laporan Akhir II - 22
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Berdasarkan formulasi dan asumsi yang berlaku, nilai LQ dapat bervariasi,
diantaranya:

LQx > 1 = Menunjukkan bahwa komoditi/sektor x merupakan


komoditi/sektor basis atas kegiatan ekspor.

LQx = 1 = Menunjukkan bahwa komoditi/sektor x tidak mengekspor, tetapi


mampu mencukupi permintaan lokal atau dengan kata lain komoditi/sektor
x telah mencapai tingkat swasembada.

LQx < 1 = Menunjukkan bahwa komoditi/sektor x bukan merupakan


komoditi/sektor basis ataupun kegiatan ekspor.

Menurut Kadariah (1985) bahwa metode LQ dengan kesederhanaannya


sangat tepat digunakan untuk tahap permulaan dan pemula. Meskipun
demikian metode ini memiliki beberapa kekurangan, karena sering terjadi
pelanggaran terhadap asumsi yang berlaku, diantaranya:

a. Selera dan pola pengeluaran atau pola konsumsi masyarakat berbeda tiap
daerah.
b. Tiap konsumsi rata-rata untuk masing-masing barang tidak sama di setiap
wilayah, sehingga wilayah yang konsumsinya tinggi mungkin saja
mengimpor, meskipun LQ lebih dari satu (demikian pula sebaliknya).
c. Kebutuhan impor untuk proses produksi dan produktivitas tenaga kerja
berbeda di tiap wilayah yang membutuhkan lebih banyak input, mungkin
saja mengimpor meski LQ lebih dari satu (demikian pula sebaliknya).

b. Analisis Surplus Pendapatan (SP)

Analisis surplus pendapatan digunakan untuk mengidentifikasikan adanya


surplus pendapatan dan tenaga kerja dari sektor atau komoditi tertentu dari
sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Halmahera Selatan. Formulasi
Umum dengan rumus :

 Si Ni 
SP     xSi
 Sj Nj 

Laporan Akhir II - 23
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Dimana,
SP = Besarnya surplus pendapatan dari sektortertentu dari sektor x.
Si = Pendapatan (PDRB) sektor atau komoditi x pada wilayah i.
Sj = Pendapatan (PDRB) komoditi atau sektor x pada wilayah j, dimana
wilayah i merupakan bagian wilayah j.
Ni = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor
wilayah i.
Nj = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor pada
wilayah j.

c. Kuosien Spesialisasi (Ksi)

Alat ini digunakan untuk mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu


komoditi di suatu daerah. Formulasi Umum,

 Si Ni 
Ksi    
 Sj Nj 

Dimana,

Si = Pendapatan (PDRB) sektor atau komoditi x pada wilayah i.


Sj = Pendapatan (PDRB) komoditi atau sektor x pada wilayah j, dimana
wilayah i merupakan bagian wilayah j.
Ni = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor
wilayah i.
Nj = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor pada
wilayah j.

Jika nilai kuosien spesialisasi lebih dari satu maka terdapat spesialisasi dari
komoditi di wilayah tersebut. Dan sebaliknya jika nilai kuosien spesialisasi
lebih kecil dari satu, maka tidak terjadi spesialisasi pada wilayah tersebut.

d. Kuosien Lokalisasi (Loi)

Kegiatan produksi suatu komoditi bisa menyebar atau terpusat pada suatu
wilayah. Untuk mengetahui penyebaran kegiatan suatu sektor maka dapat
digunakan kuosien lokalisasi.

Laporan Akhir II - 24
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Si Sj
Loi  
Ni Nj

Dimana,
Si = Pendapatan (PDRB) sektor atau komoditi x pada wilayah i.
Sj = Pendapatan (PDRB) komoditi atau sektor x pada wilayah j, dimana
wilayah i merupakan bagian wilayah j.
Ni = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor
wilayah i.
Nj = Pendapatan (PDRB) untuk keseluruhan komoditi ataupun sektor pada
wilayah j.

Jika nilai Loi lebih dari satu maka kegiatan produksi komoditas memusat atau
teragromerasi pada wilayah tersebut, sedangkan apabila nilai Loi lebih kecil
dari satu maka kegiatan produksi komoditi tersebut menyebar.

Dalam kajian ini analisis sektor basis deperti yang dijabarkan di atas dilakukan
pada tingkat Kabupaten Halmahera Selatan. Sedangkan untuk analisis sektor
unggulan lokasi RKT bacan Barat dan Bacan Barat Utara akan dilakukan analisis
primer dengan melihat langsung kondisi di lapangan.

2. Analisis Saluran Pemasaran

Setiap daerah/kawasan harus memenuhi mampu kebutuhan dari penduduknya.


Oleh karena itu, setiap daerah/kawasan perlu memiliki sistem pemasaran
produk yang telah dihasilkan. Pemasaran merupakan upaya untuk
mempromosikan, menginformasikan dan menawarkan kepada konsumen
mengenai sebuah produk usaha atau layanan jasa yang dikelola oleh sebuah
usaha sebagai upaya untuk meningkatkan angka penjualan dari produk yang
dihasilkan. Analisis sistem pemasaran penting dilakukan untuk
mengembangkan suatu komoditas unggulan di wilayah RKT. Peranan
pemasaran dalam pengembangan komoditas unggulan di wilayah RKT, anatara
lain:

a. Pemasaran untuk mempromosikan komoditas unggulan kepada masyarakat


sekitar wilayah RKT

b. Menjelaskan fungsi, manfaat dan keunggulan sebuah komoditas unggulan di


wilayah RKT
Laporan Akhir II - 25
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Efektivitas dan keberhasilan dari sistem pemasaran dalam arti luas harus
dievaluasi dalam hubungannya dengan tujuan masyarakat di wilayah RKT
tersebut. Pemasaran yang efektif berarti mendistribusikan barang dan jasa yang
dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen di wilayah RKT. Pendekatan yang
dapat digunakan untuk menilai keefektifan suatu saluran pemasaran produk
unggulan di kawsan RKT, yaitu: pembelian, penjualan, pengangkutan,
penyimpanan, pembuatan standar dan pengelompokkan, keuangan,
pengambilan risiko dan informasi pasar.

3. Analisis Pendapatan Komoditas Unggulan

Pada rencana sebelumnya, dalam bagian ini akan dilakukan analisis kelayakan
komoditas unggulan di lokais RKT, namun terdapat kesulitan untuk melakukan
analisis kelayakan komodutas unggulan secara komprehesif (terkait dengan
data dan responden) sehingga dalam kajian ini hanya dapat dilakukan kajian
analisis pendapatan.

Analisis pendapatan digunakan untuk mengidentifikasi pendapatan masyarakat


dari komoditas unggulan yaitu pada sektor pertanian. Pendapatan merupakan
salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat,
sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan kemajuan ekonomi suatu
masyarakat. Menurut Sukirno (2000), pendapatan individu merupakan
pendapatan yang diterima seluruh rumah tangga dalam perekonomian dari
pembayaran atas penggunaan faktor-faktor produksi yang dimilikinya dan dari
sumber lain. Menurut Sukirno (2006) pendapatan adalah jumlah penghasilan
yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode
tertentu, baik harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. Kegiatan usaha
pada akhirnya akan memperoleh pendapatan berupa nilai uang yang diterima
dari penjualan produk yang dikurangi biaya yang telah dikeluarkan.

Soekartawi (2002) menyatakan penerimaan adalah hasil kali antara produksi


yang diperoleh dengan harga jual. Mubyarto (1995); Pangandaheng (2012),
menyatakan pendapatan merupakan penerimaan yang dikurangi dengan biaya–
biaya yang dikeluarkan. Pendapatan seseorang pada dasarnya tergantung dari
pekerjaan dibidang jasa atau produksi, serta waktu jam kerja yang dicurahkan,
tingkat pendapatan perjam yang diterima.

Laporan Akhir II - 26
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
4. Analisis Potensi dan Peluang Pengembangan Wilayah RKT

Lokasi Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) memiliki potensi perkonomian


yang besar dan membutuhkan adanya dukungan dari seluruh pihak agar
potensi pekonomian dapat berjalan lancar. Hal ini mengakibatkan bahwa
potensi perekonomian suatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
dalam masa kini maupun masa depan. Salah satu daerah yang potensinya
dipengaruhi oleh berbagai keadaan yang berkembang adalah perekonomian
daerah tersebut yang secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh
fenomena-fenomena yang berkembang saat ini dan yang akan datang, baik
pada tatanan perkembangan lingkungan eksternal maupun internal.
Perkembangan lingkungan eksternal perekonomian RKT sangat dipengaruhi
oleh kebijakan perekonomian regional dan nasional.

Lingkungan internal dapat digambarkan melalui besarnya potensi


pengembangan komoditas unggulan di RKT, sedangkan lingkungan eksternal
digambarkan melalui peluang-peluang pengembangan komoditas unggulan di
RKT. Analisis faktor internal dan eksternal ini dilakukan secara deskriptif dengan
memaparkan apa yang menjadi faktor kekuatan dan kelemahan serta faktor
peluang dan ancaman di wilayah RKT Bacan, sehingga diperoleh strategi
pengembangan kawasan RKT Bacan.

Analisis SWOT pada kajian ini bertujuan untuk menghasilkan beberapa strategi
yang dapat dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis sebelumnya. Sebagai
suatu keputusan dalam kebijakan publik, pada kajian ini tidak dibandingkan
antara strategi yang satu dengan strategi lainnya untuk mendapatkan strategi
prioritas, tetapi sebagai suatu kebijakan publik, maka strategi-strategi yang
dihasilkan dapat berjalan secara bersamaan. Objek pada analisis ini adalah
daerah RKT dan sumberdaya yang ada di dalamnya.

e) Analisis Sosial dan Kependudukan

1. Analisis Sosial

Dalam upaya untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara


berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan
analisis aspek sosial dan pendudukan suatu Rencana Kawasan Transmigrasi
(RKT). Analisis sosial dan kependudukan pada hakekatnya adalah suatu upaya
Laporan Akhir II - 27
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam mengembangkan kawasan
untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada hakekatnya pengukuran indikator
sosial kependudukan tidak berdiri sendiri melainkan terkait erat dengan
kegiatan lainnya, yaitu aspek ekonomi dan kelembagaan. Seringkali sulit untuk
menemukan indikator yang sederhana dan hanya mengukur satu aspek saja
karena keberhasilan pengembangan suatu kawasan sangat ditentukan oleh
kinerja sektoral dan berbagai pelaku utama pembangunan (stakeholders)
seperti pemerintah, swasta dan masyarakat sendiri. Analisis sosial dapat
diperoleh melalui hasil pengukuran beberapa indikator sosial (urban social
indicator) yaitu berupa kualitas sumberdaya manusia.

Salah satu indikator yang dipakai pada pedoman ini adalah ‘indikator komposit
objektif’ yaitu indikator tunggal yang merupakan gabungan dari beberapa
indikator kesejahteraan rakyat dari berbagai data sensus dan survei. Indikator
komposit dipakai untuk membandingkan tingkat indikator tertentu atau tingkat
kesejahteraan rakyat antar daerah di kawasan. Indikator komposit objektif
yang digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human
Development Index (HDI) yang merupakan gabungan dari tiga indikator tunggal
yaitu angka harapan hidup (life expectancy), angka melek huruf (adult literacy
rate) dan rata-rata lamanya pendidikan yang diperoleh (mean years of
schooling). Analisis sosial dapat digunakan antara lain dengan analisis deskriptif
kuantitatif.

2. Analisis Kependudukan

Melakukan analisis potensi kependudukan di RKT. Analisis kependudukan


dilakukan untuk memperoleh gambaran potensi penduduk, sebagai acuan
dalam menentukan kebijakan penyebaran penduduk, dan untuk mendapatkan
gambaran situasi dan kondisi objektif dari perencanaan
pengembangan/pemberdayaan masyarakat. Analisis Kependudukan dapat
diperoleh melalui hasil pengukuran beberapa indikator sosial (urban social
indicator) misalnya: jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, dan kepadatan
permukiman. Analisis kependudukan dapat digunakan antara lain dengan
analisis deskriptif kuantitatif dan analisis regresi.

Laporan Akhir II - 28
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
f). Analisis Prasarana dan Sarana

Analisis kebutuhan prasarana dan sarana dilakukan untuk mengetahui jenis dan
tingkat kebutuhan prasarana dan sarana berdasarkan pekembangan kawasan.
Penilaian atas kondisi prasarana dan sarana ini dilakukan berdasarkan fungsi dan
tingkat pelayanan dari sarana yang bersangkutan. Prasarana dan sarana yang
dimaksudkan di sini adalah prasarana dan sarana transportasi, fasilitas umum dan
utilitas. Seluruh kebutuhan sarana dan prasarana ini disesuaikan dengan
kebutuhan perkembangan wilayah untuk masa 10 tahun ke depan sesuai dengan
hasil proyeksi pada aspek demografi. Alur analisis sarana dan prasarana dapat
dilihat pada gambar berikut ini.

Pada dasarnya analisis kebutuhan prasarana dan sarana akan terkait erat dengan
beberapa hal yaitu jumlah penduduk dan hasil proyeksi yang nantinya akan
dirumuskan berdasarkan standar jumlah minimal fasilitas yang dimaksud, dan
standard kebutuhan ruang untuk masing-masing standard.

g). Analisis Transportasi

Transportasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari


sarana/prasarana dan sistem pelayanan yang memungkinkan adanya pergerakan
ke seluruh wilayah. Tujuan adanya transportasi adalah :
1) Terakomodasinya mobilitas penduduk
2) Dimungkinkan adanya pergerakan barang
3) Dimungkinkannya akses ke seluruh wilayah
4) Sistem transportasi merupakan suatu bentuk keterikatan dan keterkaitan
antara penumpang/barang, sarana dan prasarana yang berinteraksi dalam
suatu operasi yang tercakup dalam suatu tatanan, baik secara alami maupun
buatan/rekayasa.

Analisis sistem prasarana transportasi yang meliputi transportasi darat, air, dan
udara dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai :
 Keterkaitan fungsional dan ekonomi antar kota, antar kawasan baik dalam
wilayah maupun antar wilayah kabupaten, dengan melihat pengumpul hasil
produksi, pusat kegiatan transportasi, dan pusat distribusi barang dan jasa;
 Kecenderungan perkembangan prasarana transportasi yang ada;
 Aksesibilitas lokasi-lokasi kegiatan di wilayah kabupaten.
Laporan Akhir II - 29
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Muatan Analisis Transportasi terdiri dari :
 Analisis Pola Pergerakan (pola pergerakan angkutan penumpang dan barang)
 Analisis Sistem Transportasi meliputi : jaringan jalan, hirarki jalan dan jaringan
non jalan.
 Analisis Sarana dan Prasarana Transportasi meliputi : kondisi jalan dan
kebutuhan pengembangan.

2.2.4 Tahap Perumusan Konsepsi Rencana

A. Tujuan, Sasaran Dan Konsep Perwujudan RKT

Rencana perwujudan Kawasan Transmigrasi digunakan sebagai dasar dalam menentukan


peruntukan tanah bagi :
a. Pembangunan SP baru
b. Pembangunan pemukiman baru sebagai bagiandari SP Pugar
c. Pembangunan prasarana dan sarana kawasan transmigrasi
d. Pengembangan investasi
e. Pemugaran pemukiman penduduk setempat sebagai bagian dari SP pugar dan/atau
f. SP tempatan

B. Luasan RKT

Kawasan Transmigrasi mencakup kawasan yang mempunyai Kawasan Inti Dan Kawasan
Penyangga atau yang tidak mempunyai Kawasan Inti Dan Kawasan Penyangga yang
penetapannya didasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau
ketentuan teknis sektoral.

Luasan RKT berdasarkan UU No. 29 Tahun 2009 dan Permen No. 3 tahun 2014 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian, yaitu minimal 3
SKP + 1 KPB, dengan ketentuan sebagai berikut :

 SKP Pusat didalam RKT adalah sebagai KPB adalah kawasan perdesaan yang
direncanakan menjadi kawasan berfungsi perkotaan dan berbasis usaha non
pertanian dengan Luasan areal KPB ini berkisar antara 400 - 1000 ha.

 SKP Hinterland dari SKP - KPB merupakan SKP berbasis Pertanian adalah SKP yang
terdiri atas beberapa Satuan pemukiman (SP) , minimal 3 SP dan maksimal 6 SP
Laporan Akhir II - 30
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
dengan daya tampung masing-masing SP antara 300 - 500 KK. Luas SP adalah 1.200 –
1.600 Ha.

 Satuan pemukiman dalam SKP dapat berupa SP baru, SP Pugar dan SP Tempatan.
Salah satu SP akan berfungsi sebagai Pusat SKP disebut Desa Utama.

C. Rencana Struktur dan Pemanfaatan Kawasan Transmigrasi


Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) adalah rencana struktur ruang dan pola ruang
kawasan transmigrasi sebagai dasar perencanaan perwujudan kawasan transmigrasi,
mencakup:
1. Rencana perwujudan kawasan transmigrasi
Rencana perwujudan kawasan transmigrasi merupakan rencana pelaksanaan
kegiatan pembangunan dan pengembangan untuk mewujudkan kawasan
transmigrasi menjadi satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah.
Rencana perwujudan kawasan transmigrasi meliputi: Rencana pembangunan
kawasan transmigrasi meliputi: Rencana pembangunan SKP; dan Rencana
pembangunan KPB;
A. Rencana pembangunan SKP
Rencana pembangunan SKP merupakan Rencana Rinci SKP. Rencana Rinci SKP
sebagai perangkat operasional RKT. Rencana Rinci SKP paling sedikit memuat
:
a. tujuan, sasaran, dan konsep perwujudan SKP;
b. luasan SKP;
c. rencana struktur SKP;
d. rencana peruntukkan SKP;
e. rencana pengembangan pola usaha pokok
f. rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;
g. rencana penataan persebaran penduduk dan kebutuhan sumber daya
manusia sesuai dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan
SKP;
h. indikasi program utama pembangunan SKP; dan
B. Rencana pembangunan KPB
Rencana pembangunan KPB merupakan Rencana Detail KPB. Rencana Detail
KPB merupakan bahan pertimbangan dalam penyusunan Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan bagi zona-zona yang pada rencana detail tata ruang
Laporan Akhir II - 31
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
ditentukan sebagai zona yang penanganannya diprioritaskan. Rencana Detail
KPB paling sedikit memuat:
i. tujuan, sasaran, dan konsep perwujudan KPB;
j. luasan KPB;
k. rencana peruntukkan KPB;
l. rencana prasarana dan sarana KPB;
m. penetapan sub bagian wilayah perencanaan KPB yang diprioritaskan
penanganannya;
n. ketentuan pemanfaatan ruang KPB;
o. rencana pola usaha pokok dan/atau pola pengembangan usaha;
p. rencana jenis transmigrasi yang dapat dilaksanakan;
q. rencana penataan persebaran penduduk dan rencana 1peningkatan
kapasitas sumber daya manusia;
r. rencana detail pembentukan, peningkatan, dan penguatan kelembagaan
sosial dan ekonomi; dan;
s. rencana program pembangunan KPB.

C. Rencana Pembangunan Prasarana Dan Sarana

Rencana pembangunan prasarana dan sarana di SKP dan KPB mencakup :


a. prasarana dan sarana pusat SKP;
b. prasarana dan sarana KPB; dan
c. prasarana intra dan antar-kawasan.

D. Rencana Sistem Transportasi


a. Rencana sistem jaringan jalan (hirarki dan kelas jalan);
b. Rencana peningkatan aksessibilitas dalam hal ini pengembangan jaringan
jalan;
c. Rencana pengembangan simpul jaringan transportasi.

E. Rencana Penataan Persebaran Penduduk


Rencana Penataan Persebaran Penduduk didasarkan kepada hasil analisis
struktur dan pemanfaatan kawasan transmigrasi serta analisis sumberdaya,
kemampuan lahan dan daya dukung lahan.

F. Rencana Pola Pengembangan Usaha Pokok

Rencana Pola Pengembangan Usaha Pokok, di dasarkan kepada hasil analisis


Laporan Akhir II - 32
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
sektor unggulan yang diarahkan untuk mempercepat keterkaitan fungsional
intra kawasan dan antarkawasan serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang
secara konsisten guna mendukung pengembangan komoditas unggulan
dengan pendekatan agroindustri dan agribisnis.

G. Indikasi Program

Tujuan Penyusunan Indikasi Program adalah untuk penanganan prasarana


lingkungan yang akan dilaksanakan dalam kawasan, baik kebutuhan akan
konservasi, pengembangan baru pemugaran atau penanganan khusus dengan
kriteria sebagai berikut :
1) Program yang dikelola pemerintah, kegiatan yang menyangkut
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia.
2) Program yang dikerjasamakan, kegiatan yang menyangkut pengelolaan
fasilitas publik.
3) Program yang dipihak ketigakan/swasta, kegiatan yang bersifat mencari
keuntungan, khususnya bagi pemerintah daerah adalah berkonstribusi
kepada APBD.
4) Sistem pembiayaan : APBD Kabupaten, APBD Propinsi, dan APBN.
5) Program yang dipihak ketigakan/swasta, kegiatan yang bersifat mencari
keuntungan, khususnya bagi pemerintah daerah adalah berkonstribusi
kepada APBD.
6) Sistem pembiayaan :

a) APBD Kabupaten, APBD Propinsi, dan APBN.

b) BOT (Build, Operate and Transfer), artinya dibangun swasta,


dioperasikan swasta dan pada suatu saat diserahkan kepada
pemerintah.

c) BOO (Build, Own, Operate), yaitu suatu cara penyertaan swasta.

d) Modifikasi.

Laporan Akhir II - 33
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi Kawasan Sedanau-Pulau Tiga-Bunguran Selatan
Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau