Anda di halaman 1dari 5

Question 1

25 Points
Baca Bab 5 Godfrey ed. 7.
Apa yang dimaksud pengukuran (measurement)? Apa beda pengukuran dengan penilaian
(valuation)?
Menurut Campbell, pengukuran merupakan penggunaan angka – angka untuk merepresentasikan
atau mewakilkan properties berdasarkan ketentuan – ketentuan atau hokum yang mengatur
mengenai properties tersebut. Properties tersebut dapat berupa panjang, lebar, tinggi maupun
volume. Selain properties, pengukuran juga dapat digunakan pada system (obyek atau peristiwa)
Pengukuran dalam aturan semantic menjelaskan penyimbolan dalam bentuk angka yang
dilekatkan pada properties atau system yang diukur. Lebih lanjut dijelaskan, sebuah properties atau
system yang diukur dilekatkan angka – angka sehingga nantinya properties atau system yang
diukur tersebut dapat berkorelasi dalam hubungan matematis. Dalam akuntansi, pengukuran dapat
dicontohkan dengan bagaimana sebuah profit diukur. Profit biasanya diukur dengan
mengurangkan pendapatan (revenue) dengan beban – bebean (expense).

Sedangkan penilaian sendiri merupakan kelanjutan dari proses pengukuran. Setelah sebuah
properties atau system tertentu selesai diukur, langkah selanjutnya adalah menentukan jumlah atau
nominal yang digunakan untuk menentukan manfaat ekonomi obyek atau peristiwa tersebut di
masa lalu, sekarang dan masa yang akan dating. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pengukuran
biasanya untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat pada saat obyek atau
peristiwa transaksi terjadi. Sedangkan penilaian biasanya digunakan untk menunjuk proses
penentuan jumlah rupiah yang harus diletakkan pada tiap elemen atau pos laporan keuangan pada
saat penyajian laporan keuangan. Jadi secara aplikatif dalam praktek pengukuran terjadi pada saat
pencatatan (jurnal) sedang penilaian pada saat penyajian.

Question 2
25 Points
Apakah Akuntansi suatu sistem pengukuran? Apa yang hendak diukur oleh akuntansi? (400-500
kata)
Menurut penulis, secara umum akuntansi tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah system
pengukuran, namun bias “dipaksakan” untuk dianggap menjadi sebuah system pengukuran. Dari
penjelasan mengenai membangun teori yang telah dibahas sebelumnya, sebuah system
pengukuran erat kaitannya dengan sebuah teori sainstifik. Pengukuran, yang dilakukan dengan
cara melekatkan angka – angka terhadap sebuah obyek atau perisitiwa, akan memudahkan ketika
nantinya dihubungkan dalam sebuah persamaan regresi. Angka – angka tersebut diikat dengan
skala pengukuran tertentu sehingga mampu menghasilkan hasil persamaan regresi secara akurat.
Berbeda dengan teori sainstifik, akuntansi lebih sesuai ketika dihubungkan dengan teori
naturalistic. Tentunya hal ini masih terus diperdebatkan oleh para ahli karena perbedaan cara
pandang mereka. Namun, ketika penulis sampai pada sebuah konklusi bahwa dalam akuntansi
dipengaruhi oleh perilaku alamiah manusianya, penulis dapat menyakini bahwa akuntansi lebih
condong kepada teori naturalistic. Teori naturalistic ini menggunakan pendekatan yang fleksibel
dan mengurangi penekanan pada analisis matematika, pemodelan, uji statistik, survei dan tes
laboratorium. Karena teori naturalistic tidak didasarkan atau tidak mengacu terhadap teori yang
dibangun sebelumnya, maka sangat diragukan ditemukan fakta – fakta empiris yang mendukung
teori tersebut.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa definisi pengukuran menurut Campbell merupakan pemberian
angka – angka terhadap karakteristik atau properties dengan mengacu kepada teori atau “hokum”
tertentu. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pengukuran hanya dapat digunakan saat ada teori
atau hokum empiris yang mendukung atau melandasi pengukuran tersebut. Berdasarkan hal
tersebut, penulis menarik simpulan bahwa secara umum akuntansi bukanlah sebuah pengukuran
karena tidak dilandasi dengan teori atau hokum yang bersifat empiris, namun hanya sampai pada
taraf penalaran secara logis.

Lalu apakah ada pengecualian terhadap hal tersebut? Di awal penulis menyatakan pendapat bahwa
akuntansi dapat “dipaksakan” untuk menjadi sebuah system pengukuran. Sebenarnya sebuah
system pengukuran dibagi menjadi dua, yaitu fundamental measurement dan derived
measurement. Namun, akuntansi tidak secara absolut menjadi bagian dari dua jenis pengukuran
itu. Terdapat satu jenis pengukuran lagi yang sifatnya adalah perintah dan sewenang – sewenang
yang disebut fiat measurement. Fiat measurement sangat khas dalam sains social. Kita ketahui juga
akuntansi juga bukan sains murni, namun lebih ke sains social. Fiat measurement sendiri dibentuk
sebagai justifikasi atas pengukuran dalam sains social. Namun karena tidak didasari dengan teori
empiris yang terkonfirmasi, maka akan memunculkan banyak cara dalam membangun skala untuk
pengukuran ini (fiat measurement). Setidaknya hal itulah yang dijabarkan oleh Torgerson. Hal ini
dapat dicontohkan dengan penentuan skala pengukuran secara sewenang – sewenang /arbitrary
daripada dengan mengacu pada teori empiris yang sudah pasti. Lalu apakah pengukuran yang
ditetapkan secara sewenang – wenang / perintah ini dapat menghasilkan pengukuran yang valid
meskipun tidak didukung dengan teori empiris yang kuat? Menurut penulis tidak, namun dalam
hal consensus maka harus ada penetapan standar dalam pengukuran akuntansi, terlepas dari valid
tidaknya pengukuran tersebut.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang hendak diukur oleh akuntansi? Yang hendak diukur oleh
akuntansi terdiri dari peristiwa atau transaksi keuangan, objek – objek perusahaan yang
didalamnya melekat properties – properties tertentu. Namun kembali lagi, dasar pengukurannya
adalah consensus bukan didasarkan atas teori empiris yang terkonfirmasi kelavidannya.

Question 3
50 Points
Apakah Akuntansi Biaya Historis memenuhi kriteria-kriteria sistem pengukuran yang baik?
Jelaskan ya atau tidak (500 - 700 kata)

Menurut penulis, akuntansi biaya historis tidak memenuhi kriteria kriteria system pengukuran
yang baik. Namun, sebelum penulis melangkah lebih jauh menjabarkan argument penulis atas
asersi tersebut, penulis akan terlebih dahulu menjelaskan kriteria – kriteria pengukuran yang baik
menurut referensi yang penulis baca.

System pengukuran yang baik harus dapat diandalkan (reliable) dan akurat (accurate). Menurut
Godfrey, system pengukuran yang dapat diandalkan adalah system pengukuran yang telah terbukti
konsistensinya baik saat proses membuahkan hasil pengukuran ataupun hasil pengukuran itu
sendiri. Kata kunci yang dapat digarisbawahi adalah konsistensi. Sejalan dengan yang disampaikan
oleh Godfrey, dalam statistic, system pengukuran yang andal menstate bahwa pengukuran tersebut
harus bersifat repeatable, sehingga konsistensinya dapat terbukti (proven). Selain konsistensi,
aspek lain yang mempengaruhi keandalan system pengukuran adalah keakurasian, presisi dan
kepastian pengukuran. Dalam hal pengungkapannya, pengukuran yang andal akan mampu
menghasilkan pengungkapan yang apa adanya / presisi (faithful representation).

Berbeda dengan system pengukuran yang andal, system pengukuran yang akurat lebih
menekankan bagaimana pengukuran tersebut dapat sedemikian rupa menghasilkan hasil
pengukuran yang mendekati “true value”. Sebuah system pengukuran dapat saja andal,
menghasilkan hasil pengukuran yang tepat, namun bias saja hasil pengukuran tersebut tidak akurat.
Untuk dapat menghasilkan pengukuran yang akurat atau dengan kata lain mendekati “true value”
, kita harus menentukan atau mengetahui atribut apa yang akan kita ukur untuk mendapatkan
tujuan dari pengukuran tersebut.

Kembali dengan pernyataan penulis pada paragraph pertama yang mana penulis berpendapat
bahwa akuntansi biaya historis bukan merupakan system pengukuran yang baik, penulis
berargumen seperti berikut ini:

Yang pertama, dari segi pengukuran yang andal, akuntansi biaya historis belum dapat disebut
sebagai system pengukuran yang handal. Seperti dijelaskan sebelumnya, pengukuran yang handal
ialah pengukuran yang konsisten dan presisi sehingga mampu menghasilkan pengungkapan yang
apa adanya. Akuntansi biaya historis secara konsisten menyajikan hasil pengukuran berdasarkan
nilai transaksinya. Namun apakah hasil pengukurannya presisi? Hal ini tentu kembali dari sudut
pandang kita menafsirkan presisi itu sendiri, presisi dari sisi nominal ataupun dari sisi
pengoperasian pengukuran. Dari segi nominal, pengukuran hasil dari akuntansi biaya historis dapat
dikatakan tidak presisi. Mengapa demikian? Penulis mencontohkan dengan pencatatan asset tetap
milik perusahaan, katakanlah tanah. Apakah tanah hasil perolehan 30 tahun lalu ketika
dijumlahkan dengan tanah hasil perolehan 10 tahun lalu mampu menghasilkan nilai asset tetap
tanah yang presisi? Tentu saja tidak. Banyak factor yang menyebabkan nilai tanah dapat berubah,
sehingga secara nominal, pengukuran akuntansi biaya historis dapat penulis simpulkan tidak
presisi. Lalu bagaimana presisi dari sisi pengoperasian pengukuran? Untuk hal ini penulis
berpendapat bahwa akuntansi biaya historis dapat dikatakan presisi. Hal ini karena pengoperasian
secara berulang atas pengukuran properties / karakteristik yang dilakukan secara konsisten.

Yang kedua, bagaimana dengan keakuratan pengukuran dari akuntansi biaya historis? Keakuratan
pengukuran jelas sangat berkaitan dengan bagaimana pengukuran dapat menghasilkan hasil yang
“true value”. Selama ini kita tahu bahwa akuntansi biaya historis gagal untuk menyajikan hasil
pengukuran yang “true value”. Penulis mencoba tarik mundur kebelakang, bagaimana akuntansi
biaya historis yang didukung dengan teori semantic sintaktik banyak ditentang oleh banyak ahli
karena kelemahan dalam menyajikan nilai sebenarnya atas asset maupun liabilitas sehingga
memunculkan system pengukuran baru yang bernama akuntansi nilai wajar. Banyak pula kritik
yang tertuju pada penerapan akuntansi biaya historis dimana akuntansi biaya historis tidak
mengakui adanya perubahan nilai atas asset dan liabilitas sehingga sangat mempengaruhi atas
kebijakan deviden. Dengan kata lain, bahwa ketika dikaitkan dengan tujuan akuntansi sendiri,
yaitu sebagai tools untuk pengambilan keputusan atau kebijakan, akuntansi biaya historis gagal
untuk memenuhinya.

Meskipun begitu, pada kondisi idealnya penulis berpendapat bahwa tidak ada system pengukuran
akuntansi yang dapat dikatakan sebagai sebuah system pengukuran yang baik karena baik
akuntansi akuntansi biaya historis maupun akuntansi nilai wajar tak pernah sekalipun didukung
dengan fakta – fakta empiris di lapangan, melainkan hanya berupa consensus yang dituangkan
dalam standar. Sehingga tingkat kebenarannya pun hanya sampai taraf rational justification.